KEMAMPUAN PEMEROLEHAN KATA BAHASA INDONE

Teks penuh

(1)

KEMAMPUAN PEMEROLEHAN KATA BAHASA INDONESIA ANAK USIA TIGA TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK NEGERI II

PADANG ENDRI YANTI

NIM 17330016

Mahasiswa Program Magister Universitas Negeri Padang Email:endriyanti.spd.2013@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian dilatar belakangi sebagai berikut. Kemampuan Pemerolehan Kata Bahasa Indonesia Anak Usia Tiga Tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang ternyata pemerolahan bahsa anak hanya sebatas berkata ( a. ii.. uu.. ) atau bisa di bilang tidak bisa menggunakan bahsa Indonesia yang baik. Pemerolehan bahasa kurang maksimal. Hal itu disebabkan oleh hal-hal berikut. Pertama, kurangnya pemahaman guru. Kedua, anak sangat sulit untuk berdiskusi sebab anak kebanyakkan diam. Ketiga, tidak adanya metode pelatihan penerimaan bahasa. Seharusnya orang tua, guru mengajak anak berbicara sehingga ank bisa menerima atau mengisi kosa kata bahasanya terutama bahasa persatuan. Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan menggunakan Metode Deskrptif. Sampel merupakan sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel penelitian ini adalah Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang.yang berjumlah 15 anak. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, menentukan skor yang dilihat dari penggunaan kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang dengan menggunakan format rubrik penilaian. Kedua, mengubah skor kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang menjadi nilai. Ketiga, mencari rata-rata kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang berdasarkan rata-rata hitung (M). Keempat, kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang berdasarkan skala 10. Kelima, menguraikan hasil analisis data dengan cara mendeskripsikan kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang. Keenam, menuliskan histogram hasil penelitian. Ketujuh, meyimpulkan hasil penelitian.

(2)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Bahasa dipengaruhi oleh faktor biologis dan faktor lingkungan. Faktor biologis yaitu anak lahir dalam keadaan normal dan dibekali dengan organ-organ tubuh yang cukup seperti kaki, tangan, mata, hidung, mulut, telinga dan lain-lain. Dengan kata lain, anak tidak mengalami cacat fisik, seperti tuli, bisu, gagap, lemah mental dan lain sebagainya. Sedangkan faktor sosial adalah interaksi anak dengan orang-orang yang berada di lingkungannya dalam proses memperoleh bahasa.

Selain itu, pemerolehan bahasa anak juga dipengaruhi oleh kesediaan orangtua membimbing anaknya. Pada awal pemerolehan bahasa, seorang anak lebih banyak menyimak dan memperhatikan apa-apa saja yang didengarnya tanpa memberikan reaksi ucapan. Menurut Dadan Suryana. (2017:4) setelah usianya bertambah, pertumbuhan alat ucapnya pun bertambah baik. Pertumbuhan alat ucap anak tersebut dapat diketahui dengan bertambah sempurnanya ucapan-ucapan yang dihasilkan oleh anak.

Pemerolehan bahasa anak sejalan dengan pertumbuhannya. Menurut Dadan Suryana. (2017:3)

kemampuan anak dapat

dikembangkan walaupun tidak sesuai

dengan usia anak, namun tetap sesuai dengan kemampuan maksimal anak. Jadi, setiap kegiatan pembelajaran anak harus disesuaikan dengan kesiapan umur anak. Pemerolehan bahasa anak dimulai pada rentang usia 0;0-5;0. Pada masa ini, anak perlu mendapat perhatian khusus terutama oleh orang tuanya. Pada awalnya pemerolehan bahasa, seorang anak akan lebih banyak memperhatikan dan menyimak. Kemudian anak akan berusaha untuk menerima dan menirukan kata-kata yang pernah didengarnya baik dari orang tuanya, keluarga, maupun lingkungan sekitarnya.

Ditinjau dari segi semantiknya, pada rentang usia 0;0-5;0, anak mulai mengerti dan paham dengan lambang-lambang bahasa (fonologi, sintakasis, dan semantik). Pemahaman tersebut secara berangsur-angsur terus berlanjut hingga akhirnya pemahaman semantik anak semakin sempurna. Pemerolehan semantik anak usia tiga tahun (3;0) berada pada tahap medan semantik. Pada tahap ini, anak akan memberikan makna sebenarnya. Pada usia 3;0 anak sudah banyak menguasai kosa kata, anak telah mampu berkomunikasi dengan menggunakan kosa kata yang dimilikinya.

(3)

dengan seorang guru Taman kanak-kanak dan juga saya sendiri Kemampuan Pemerolehan Kata Bahasa Indonesia Anak Usia Tiga Tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang ternyata pemerolahan bahsa anak hanya sebatas berkata ( a. ii.. uu.. ) atau bisa di bilang tidak bisa menggunakan bahsa Indonesia yang baik. Pemerolehan bahasa kurang maksimal. Hal itu disebabkan oleh hal-hal berikut. Pertama, kurangnya pemahaman guru. Kedua, anak sangat sulit untuk berdiskusi sebab anak kebanyakkan diam. Ketiga, tidak adanya metode pelatihan penerimaan bahasa. Seharusnya orang tua, guru mengajak anak berbicara sehingga ank bisa menerima atau mengisi kosa kata bahasanya terutama bahasa persatuan.

Menurut Suryana, Dadan (2013:55). ada beberapa Negara yang memulai pendidikan anak usia dini lebih awal yaitu pada usia 2 tahun, dan ada Negara lain yang mengakhiri pendidikan anak usia dininya lebih lambat yaitu sampai usia 6 tahun. National Association for the Education of Young Children (NAEYC) menyebutkan bahwa program anak usia dini adalah program pusat atau lembaga lain yang memberikan layanan bagi anak sejak lahir sampai usia 8 tahun. Program NAEYC ini meliputi penitipan anak di masyarakat dan pada keluarga (untuk kelompok anak usia 0-3 tahun), pendidikan

prasekolah swasta dan negeri (untuk anak usi 3-5 tahun), serta TK dan SD (untuk usia 6-8 tahun).

Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian tentang pemerolehan nomina, verba, adjektiva, karena anak berada pada tahap medan semantik ini lebih banyak menggunakan jenis nomina, verba, dan adjektiva dalam ujarannya daripada jenis kata lain yang diucapkan anak usia tiga tahun. Usia tersebut merupakan salah satu tahap dari masa praoperasional, pada usia ini pemerolehan semantik anak masih terus berlangsung.

Rumusan Masalah

Rumusan permasalahan penelitian ini adalah kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang.

Tujuan Penulisan

Mendeskripsikan mendeskripsikan kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang yang terdiri dari (1) nomina, (2) verba, (3) adjektiva yang diperoleh anak usia tiga tahun (3;0) dan menganalisis pemaknaan kata-kata yang diperolehnya.

KAJIAN TEORITIS

(4)

sadar bersifat implisit dan informal. Implisit yaitu pemerolehan bahasa berlangsung tidak secara sadar semuanya terjadi tidak disengaja, sedangkan informal yaitu pemerolehan bahasa berlangsung secara alamiah tanpa waktu khusus, tempat khusus, untuk menguasainya, semuanya terjadi saat si anak berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Selain itu, Chaer (2003:167), menyatakan bahwa pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika ia memeperoleh bahasa pertama atau bahasa ibunya. Selanjutnya, Chomsky (dalam Chaer, 2003:222) menyatakan bahwa anak yang dilahirkan dibekali ’alat pemerolehan bahasa’ (Language Acquisition Device atau LAD). Alat ini merupakan pemberian biologis yang sudah diprogramkan untuk merinci butir-butir yang mungkin dari suatu tata bahasa. LAD dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk memproses bahasa.

Pemerolehan Bahasa Pertama Menurut Subyakto-N (1998:66), pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila anak yang belum pernah belajar bahasa apapun. Pemerolehan bahasa anak dipengaruhi oleh perkembangan kognitif anak, perkembangan sosial anak, alat pemerolehan bahasa yang dibawa sejak lahir, dan urutan bahasa

anak. Selain itu, Dardjowidjojo (2005:241), menyatakan bahwa bahasa pertama anak adalah bahasa yang dikenal anak sejak lahir atau disebut dengan bahasa ibu, maka bahasa yang pertama yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak adalah bahasa ibu.

Pemerolehan Semantik

Pemerolehan semantik merupakan pemerolehan bahasa dalam mengkaji makna terhadap lambang bahasa. Pada masa pemerolehan semantik ini, anak mulai mengerti dengan apa yang diucapkan orang-orang disekitarnya. Biasanya, bentuk ekspresi ini hanya dimengerti oleh orang yang dekat dengannya. Pemerolehan semantik ini dimulai sejak anak baru lahir dan berkembang sesuai dengan perkembangan kognitifnya. Dari satu tahap ke tahap berikutnya, anak semakin memahami makna dari sebuah lambang bahasa yang dilambangkan.

(5)

Jadi yang dimaksud dengan kucing atau meong adalah semua binatang yang berkaki empat, termasuk kambig dan kerbau. Ketiga, medan semantik (2;6-5;0). tahap kanak-kanak mulai mengelompokkan kata-kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantik, misalnya kata kambing hanya berlaku untuk kambing saja. Keempat, generalisasi (5;0-7;0), tahap kanak-kanak mulai mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi, bahwa benda-benda mempunyai fitur-fitur semantik yang sama.

Pemerolehan semantik

seorang anak bukanlah

menggabungkan kata-kata yang diucapkan secara sewenang-wenang, melainkan melalui aturan tertentu, yakni konteks. Seorang anak berangsur-angsur mengetahui konteks dan dengan konteks itulah anak mulai menyusun kata-kata mulai dari penyempitan kata sampai kata-kata yang digunakan orang dewasa. Dari hal ini disimpulkan bahwa pemerolehan semantik merupakan pemerolehan tata bahasa yang dilahirkan oleh anak.

Kata yang dilahirkan atau diucapkan oleh anak setiap hari dalam kehidupannya memiliki dua makna (dwimakna) contohnya, anak mengatakan ’Pa main’. Dari ujaran tersebut dapat diartikan bahwa anak minta untuk dibawa bermain. Dari contoh ini, jelaslah bahwa dengan adanya pemerolehan kata kita bisa

memperoleh makna. dalam pemerolehan semantik akan dijelaskan dua macam makna antara lain: (1) makan denotatif, dan (2) makna konotatif.

1) Makna Denotatif

Menurut Manaf

(2008:67), makna denotatif adalah makna satuan bahasa yang sesuai dengan acuannya tanpa mengandung nilai rasa, baik nilai rasa positif maupun negatif. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna satuan bahasa sesuai dengan acuannya yang dapat kita amati atau kita rasakan dengan indra kita tanpa disertai dengan nilai rasa, baik nilai rasa positif maupun nilai rasa negatif.

Berdasarkan pendapat di atas, disimpulkan bahwa makna denotatif adalah makna satuan bahasa sesuai dengan acuannya yang dapat kita amati atau disebut dengan makna dasar, makna asli, atau makna sebenarnya.

2) Makna Konotatif

(6)

negatif adalah nilai rasa yang berisi ketidakbaikkan, misalnya kasar, kurang ajar, kotor, cabul, jelek, khianat, kejam nista, dan lain-lain.

Tahap-tahap Perkembangan Bahasa

Tahap perkembangan kognitif anak berjalan sesuai dengan tahap normal, maka selanjutnya anak akan

mengalami tahap-tahap

perkembangan bahasa. Ada beberapa teori yang membagi tahap-tahapan perkembangan bahasa ini. Di antaranya (1) Chaer, yang membagi tahap perkembagan bahasa menjadi tiga tahap, (2) Tarigan yang membagi tahapan perkembangan bahasa menjadi empat tahap, dan (3) Maksan, merumuskan enam tahap perkembangan bahasa.

Menurut Chaer (2003:230-238), perkembangan bahasa dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, perkembangan artikulasi (0;0-1;2). Pada usia ini, semua bayi mampu mengucapkan bunyi-bunyi vokal dengan maksud untuk menyatakan perasaannya. Kedua, perkembangan kata dan kalimat (1;2-5;0). Pada usia ini, anak telah mampu mengucapkan kata, kalimat sederhana dan kalimat yang lebih sempurna. Namun, penguasaannya secara berjenjang dan dalam jangka waktu tertentu. Ketiga, menjelang sekolah (5;0-6;0). Pada usia ini, anak-anak sudah menguasai hampir semua kaidah dasar gramatikal bahasa. Anak sudah dapat membuat kalimat berita, kalimat

tanya, dan sejumlah kontruksi lain. Namun, anak masih mendapat kesulitan membuat kalimat pasif.

Selanjutnya Tarigan (1985:265-268), membagi perkembangan anak empat tahap. Pertama, holofrastik (dimulai pada masa usia satu tahun sampai menjelang dua tahun), merupakan tahap satu kata. Pada masa ini anak menyatakan makna keseluruhan kalimat dalam satu kata yang diucapkannya. Misalnya, kata susu, dapat berarti bahwa ia ingin minum susu atau susunya tumpah. Kedua, tahap-tahap dua kata, yang dimulai menjelang umur dua tahun. Anak-anak memasuki tahap ini dengan mengucapakan dua holofrasa dalam rangkaian yang cepat. Tahapan ini berisi untaian morfem leksikal atau kata isi, yaitu kata yang mengandung banyak isi semantik, biasanya nomina dan verba. Misalnya kucing papa, Andi main bola. Ketiga, pengembangan tata bahasa. Pada masa ini panjang kalimat mereka bertambah. Namun, semakin rumit karena penggunaan keterangan waktu dan kata tugas mulai muncul. Keempat, tata bahasa menjelang dewasa. Pada masa ini struktur bahasa lebih rumit dan lebih banyak melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana dengan komplementasi, relativisasi dan konjungsi.

(7)

menjadi enam tingkat sebagai berikut. Pertama, tingkat membabel (0;0-1;0). Masa ini dibagi dua tingkatan, yaitu mendekut dan membabel. Masa mendekut yang berkisar dari usia 0;0-0;6 anak membunyikan bunyi bahasa sedunia, sedangkan masa membabel yang berkisar dari usia 0;6-1;0, anak mencoba mengucapkan pola suku kata konsonan vokal. Kedua, masa holofrasa (1;0-2;0). Masa ini merupakan masa di mana anak-anak mengucapkan satu kata dengan maksud sebenarnya menyampaikan sebuah kalimat. Contohnya, mam (makan) dapat berarti saya mau makan nasi. Ketiga, masa mengucapkan dua kata (2;0-2;5), contohnya ma num (dapat berarti ma ambilkan adek minum). Keempat, masa permulaan tata bahasa ( 2;5-3;0). Kalimat yang diucapkan hanya berisi kalimat inti tanpa kata tugas, contoh: pa dek ndi (papa saya mau mandi). Kelima, masa menjelang tata bahasa dewasa (3;0-4;0). Keenam, masa kecakapan penuh (4;0-5;0).

Perkembangan Kognitif

Sehubungan dengan

pemerolehan bahasa pertama anak, perkembangan kognitif anak memegang peranan penting dalam pemerolehan bahasa. Bloom (dalam Pateda, 1990:49) menyatakan anak belajar struktur dalam dan bukan struktur luar bahasa berupa urutan kata. Hal ini didukung oleh teori kognitif yang beranggapan bahwa

struktur serta proses linguistik yang abstrak mendasari produksi dan komprehensif ujar. Pertolongan proses kognitif yang terjadi di otak, menjadikan setiap orang dapat mengatur dan mengerti

peristiwa-peristiwa nyata dalam

lingkungannya. Persepsi dan komprehensif para pemakai bahasa terhadap ujaran dianggap sebagai hasil interaksi yang rumit antara interen dan eksteren. Stimulus merupakan masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada otak kiri terjadi mekanisme internal yang diatur oleh pengatur kognitif yang kemudian keluar sebagai hasil pengolahan kognitif.

Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan perkembangan kognitif anak seperti berfikir, membentuk konsep, serta mengingat erat kaitannya dengan pemerolehan bahasa. Perkembangan bahasa merupakan refleksi dari perkembangan kognitif, dan perkembangan kognitiflah yang menuntun kemahiran berbahasa seseorang. Dengan kata lain, Bila seorang anak perkembangan kognitifnya maju, lancar dan normal. Maka pemerolehan bahasa dan

pemerolehan

kemampuan-kemampuan yang lainnya akan normal.

Hakikat Kata

(8)

komponen-komponen yang disebut morfem. Satuan yang disebut morfem dalam hierarki gramatikal merupakan satuan terkecil, dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui proses morfologis. Kata merupakan unsur yang paling penting dalam bahasa. Tanpa kata, mungkin tidak ada bahasa; sebab kata itulah yang merupakan perwujudan bahasa. Setiap kata mengandung konsep makna dan mempunyai peran di dalam pelaksanaan bahasa. Konsep dan peran apa yang dimiliki tergantung dari jenis serta penggunaannya di dalam kalimat.

Jenis Kata

Dalam penelitian ini yang menjadi pokok penelitian adalah jenis kata nomina, verba, dan adjektiva. Jenis kata tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Nomina (Kata Benda)

Menurut Alwi, dkk. (2003:213), nomina sering juga disebut sebagai kata benda. Nomina dapat dikatakan kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah nomina.

Jenis Nomina a)

Nomina Kekerabatan yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan orang.

Contoh: ayah, ibu, kakak, adik.

b)

Nomina Hewan yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan hewan atau binatang.

Contoh: kuda, burung, monyet, kupu-kupu.

c)

Nomina Tumbuhan yaitu kata yang digunakan untuk sebutan tumbuh-tumbuhan. Contoh: pohon kelapa, pohon jambu, pohon mangga.

d)

Nomina Alat yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan alat.

Contoh: pena, penggaris, piring, gelas.

Verba (Kata Kerja)

Menurut Alwi, dkk. (2003:88), verba adalah semua perbuatan yang dapat dipakai dalam kalimat perintah. Misalnya, dari verba lari dapat dibentuk perintah Lari, atau Larilah. Namun, dari verba meledak tidak dapat dibentuk kalimat perintah Meledak(lah), kecuali dalam kasus-kasus khusus seperti dalam pertunjukan sulap ketika penyulap, misalnya, memerintahkan topinya untuk meledak.

Jenis Verba

a) Verba

(9)

digunakan sebagai sebutan perbuatan.

Contoh: loncat-loncat, berenang, duduk.

b) Verba

Proses yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan proses.

Contoh: jatuh, mati, terantuk.

c) Verba

Keadaan yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan keadaan.

Contoh: suka, duka.

Menurut Keraf (1980:63), kata kerja atau verba adalah semua kata yang menyatakan perbuatan atau laku yang digolongkan dalam kata kerja. Bila suatu kata kerja menghendaki adanya suatu objek, disebut kata kerja transitif. Sebaliknya bila kata tersebut tidak memerlukan suatu objek maka disebut kata intransitif.

Adjektiva (kata sifat)

Menurut Alwi, dkk. (2003:171), adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang suatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina berfungsi atributif. Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan itu ialah kecil, berat, merah, bundar, gaib, dan ganda. Jenis Adjektiva

a)

Adjektiva pemberi sifat yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan pemberi sifat.

Contoh: pintar, cantik, ngantuk, rakus.

b)

Adjektiva ukuran yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan ukuran.

Contoh: besar, kecil, sempit, luas.

c)

Adjektiva warna yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan warna.

Contoh: hijau, kuning, merah, putih, hitam, biru, ungu.

d)

Adjektiva waktu yaitu kata yang digunakan sebagai sebutan waktu.

Contoh: tadi, cepat, lambat, nanti, sekarang.

Kosa Kata

(10)

Keempat, dalam linguistik, seluruh morfem yang ada dalam suatu bahasa. Kelima, daftar sejumlah kata dan frasa dari suatu bahasa yang disusun secara alfabetis disertai dengan keterangan dan batasan.

Menurut Dardjowidjojo (2005:241), pemerolehan kosa kata dapat diamati pada masa satu tahun sampai lima tahun. Pemerolehan kosa kata diartikan sebagai suatu penguasaan yang tidak hanya menyangkut kemampuan pelafalan tetapi juga penguatan antara bentuk dan makna. Selain itu, (Dardjowidjojo, 2005:39), juga menyatakan dua kriteria yang harus dikembangkan dalam pemerolehan kosa kata pada anak diantaranya: (1) anak telah dapat memproduksi bentuk yang paling tidak dekat bunyinya dengan bentuk orang dewasa, contohnya kata mobil bisa saja [be], [obe], [mobe], (2) anak telah dapat mengaitkan bentuk dengan makna secara konsisten. Jadi, meskipun bentuknya baru [be] tetapi anak telah secara konsisten mengaitkan bentuk ini dengan referen mobil. Pemerolehan kosa kata adalahsuatu proses yang terjadi pada anak-anak dalam menguasai perbendaharaan kata suatu bahasa.

Hakikat Anak

Menurut Aziz Mushofa (2009:33), anak adalah makhluk ciptaan Allah swt, yang hadir di tengah keluarga atas dasar fitrah

yang menjadi kebahagian keluarga, yang harus dijaga.

Peran orang tua adalah sebagai penyelamat anak dunia dan akhirat, khusunya dalam menumbuhkan akhlak mulia. Pertumbuhan, fisik, intelektual, emosi, dan sikap sosial anak harus diukur dengan kesesuain nilai-nilai agama melalui jalan yang diridhoi Allah swt. Oleh sebab itu, orang tua perlu menumbuhkan kepribadian anak memfokuskan diri pada sifat dan sikap akhlak mulia. Salah satu manfaat memberikan perhatian kepada anak adalah membuat anak merasa senang sehingga ia termotivasi untuk mengulanginya kembali tindakan positif tersebut. Tanpa perhatian orangtua maka anak akan merasakan bahwa hidupnya hampa. Anak akan merasa bahwa dirinya tidak berarti dan tidak penting. Jika sudah demikian, anak akan mencari dan bergabung dengan orang-orang yang dianggap biasa membahagiakan, mendengarkan, dan mengerti apa yang sedang ia butuhkan.

Anak Berdasarkan Kelompok Umur

(11)

yang datang. Ia akan menangis bila merasa lapar. Kedua, reaksi sirkuler primer atau primary circular reaction (usia 1-4 bulan). Hal ini demikian karena dua hal: (a) anak melakukan gerak refleks terhadap anggota badannya (primary), (b) anak kemudian mengulangi gerak tersebut (circular). Contoh anak secara tidak sengaja memasukkan jempol tangannya ke dalam mulut. Hal ini kemudian diulanginya sampai menjadi prilaku. Ketiga, reaksi sirkuler sekunder atau secondary reation (usia 4-8 bulan). Tahap ini anak mulai menaruh perhatian tidak saja pada anggota badannya, tetapi ia juga menaruh perhatian terhadap benda-benda di sekelilingnya

(secondary). Ia mulai

memperhatikan wajah ibunya, suara ibunya dan memperhatikan botol susu. Keempat, koordinasi skema sekunder atau coordination of secondary schemata (8-12 bulan). Tahap ini anak mulai menggunakan memori hasil pengalaman sebelumnya untuk bereakasi terhadap suatu rangsangan. Hal ini tentu dimulai dari rangsangan yang sama atau yang pernah dikenalnya. Ia mulai memperhatikan prilaku orang lain dan belajar menirukannya. Contoh ia akan melambaikan tangan jika orang lain melambaikan tangan ke padanya.

Anak Berdasarkan Ciri

Kebahasaan

Menurut Suyanto (2005:73-74), anak memulai perkembangan

ciri kebahasaannya dari menangis untuk mengekpresikan responnya. Selain itu anak mulai memeram (cooing), yaitu melafalkan bunyi-bunyi yang tidak ada artinya secara berulang yang sedang dibunyikan. Setelah itu, anak belajar kalimat dengan satu kata seperti ’mam’ yang artinya minta makan dan ’cu’ yang artinya minta minum susu. Perkembangan bahasa anak diarahkan pada kemampuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis (simbolis). Untuk memahami bahasa simbolis anak perlu belajar membaca dan menulis.

Metodologi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dikatakan kuantitatif karena data yang akan dikumpulkan berupa angka-angka dan dianalisis dengan rumus statistik. Menurut Arikunto (2002:10) dikatakan penelitian kuantitatif karena banyak menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya.

(12)

tipe permasalahan deskriptif hanya menyatakan satu variabel atau satu konsep yang akan diteliti (Martono, 2011:37). Metode deskriptif digunakan untuk mengungkapkan gambaran atau tulisan secara sitematis, faktual, dan akurat mengenai fakta objek yang akan di teliti. Serta menganalisis data sehingga dapat diketahui gambaran tentang kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang. Sampel merupakan sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Populasi penelitian ini adalah Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang.yang berjumlah 15 anak.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dua/tiga kali pertemuan. Pertemuan terakhir melakukan isian lembaran yang telah sesuai format dengan cara memperhatikan aspek kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang. Perincian pertemuan tersebut sebagai berikut. Pertama, pada pertemuan

pertama guru mengamati

pemerolehan bahsa anak, dan guru mencoba untuk bercerita dan berbincang-bincang dengan anak atau berdiskusi. Kedua, setelah anak diberikan semacam perlakuan anak diberikan sepacam benda-benda atau sifat-sifat dari orang seperti jahat, cantic, baik dan memperkenalkan kata-kata yang mengarah

keperkerjaan seperti mengapus, menjahit. Ketiga, anak melakukan kegiatan yang diberikan guru guru menyiapkan bahahan yang bisa nak melakukan kegiatan berbicara misalkan mengelompokkan benda, memperlihatkan gambar marah, senyum, gembira, senang dan melihatkan gambar atau secacam kegiatan untuk mepekenalkan kata kerja.. Kelima, setelah selesai, angket di diperiksa sesuai dengan aspek yang diteliti. Pelaksanaan angket dengat satu-persatu anak yang diteliti.

Data yang telah terkumpul dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, menentukan skor yang dilihat dari

penggunaan kemampuan

pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang dengan menggunakan format rubrik penilaian. Kedua, mengubah skor kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang menjadi nilai, dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

N=SM

SI ×Smax Keterangan:

N = Tingkat penguasaan

SM = Skor yang diperoleh

(13)

S max = Skala yang digunakan

Ketiga, mencari rata-rata kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang berdasarkan rata-rata hitung (M). Untuk mencari nilai rata-rata digunakan rumus sebagai berikut:

M=

fx N Keterangan:

M = Mean (rata-rata hitung) f = Frekuensi

x = Skor (nilai yang diperoleh anak)

N = Jumlah anak (sampel)

Keempat, kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang berdasarkan skala 10. Kelima, menguraikan hasil analisis data dengan cara mendeskripsikan kemampuan pemerolehan kata bahasa Indonesia anak usia tiga tahun Di Taman kanak-kanak Negeri II Padang. Keenam, menuliskan histogram hasil penelitian. Ketujuh, meyimpulkan hasil penelitian.

PENUTUP SIMPULAN

Perkembangan bahasa dibagi menjadi tiga tahap. Pertama,

perkembangan artikulasi (0;0-1;2). Pada usia ini, semua bayi mampu mengucapkan bunyi-bunyi vokal dengan maksud untuk menyatakan perasaannya. Kedua, perkembangan kata dan kalimat (1;2-5;0). Pada usia ini, anak telah mampu mengucapkan kata, kalimat sederhana dan kalimat yang lebih sempurna. Namun, penguasaannya secara berjenjang dan dalam jangka waktu tertentu. Ketiga, menjelang sekolah (5;0-6;0). Pada usia ini, anak-anak sudah menguasai hampir semua kaidah dasar gramatikal bahasa. Anak sudah dapat membuat kalimat berita, kalimat tanya, dan sejumlah kontruksi lain. Namun, anak masih mendapat kesulitan membuat kalimat pasif.

Saran

Saran yang dapat peneliti berikan setelah melakukan penelitian ini adalah :

1. Diharapkan dengan adanya rancangan penelitian ini, diharapkan guru lebih memperhatikan pola bahasa anak mualai dari lahir hingga usia benar-banar bisa berbicara. 2. Dengan adanya rancangan ini

para guru teliti terhadap perkembangan bahasa anak di dalam ruang lingkup kanak-kanak.

KEPUSTAKAAN

(14)

Bahasa dan Sastra Indonesia”. Buku Ajar. Padang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. . Chaer. Abdul. 2003. Psikolinguistik

Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Surabaya Airlangga University Press.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta : Grasindo.

Dadan Suryana. 2013.

Profesionalisme Guru Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Peraturan Menteri N0. 58 Tahun 2009. Pedagogi. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume XIII No.2 November 2013.

Dadan Suryana. 2017. Pengetahuan

Tentang Strategi

Pembelajaran, Sikap, Dan Motivasi Guru. Universitas Negeri Padang, Kampus UNP Jl.Prof Hamka Air Tawar Padang. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume 6.

Dadan Suryana. 2014. Jurnal Cendekia Jilid I No. 2,

Januari. Volume XI No.5 November 2014

Kridalaksana, Harimurti.1996. Pembentukkan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Ende: Nusa Indah.

Maksan, Marjusman. 1995. ”Psikolinguistik”. Padang: IKIP Padang Pres.

Martono, Nanang. 2011. “Metode Penelitian Kuantitatif”. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Mushova Aziz, 2009. Aku Anak Hebat Bukan Anak Nakal. Diva Press (Anggota IKAPI)

Oka dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan

Tinggi Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Soedjito. 1992. Kosa Kata Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia. Suyanto, Slamet. 2005. Konsep

Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan

Pendidikan Tenaga

(15)

Ketenagaan Perguruan Tinggi.

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...