MAKALAH MIKROBIOLOGI
FLORA NORMAL PADA TUBUH MANUSIA
DISUSUN OLEH:
1. NUROKHAENI E0014048
2. PUNGKI FAJARWATI E0014049
3. RESTU PUTRI UTAMI E0014050
4. SINTA DWI PRISILIA E0014052
5. SITI LAILATUL KARIMAH E0014053
Tingkat : III B
Dosen Pengampu : Devi ika K, S. M.Sc.,Apt
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI
MANDALA HUSADA
SLAWI
Jl. Cut Nyak Dhien No.16, Desa Kalisapu, Kec. Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah -52416 Telp.(0283) 6197571 Fax. (0283) 6198450 Homepage website www.stikesbhamada.ac.id email
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan penulis kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Mikrobiologi” atas tersusunya makalah ini tidak lupa penulis ucapkan terimakasih yang tiada terhingga kepada semua pihak yang telah membantu dan bersedia memberikan dukungan atas terselesaikanya makalah ini.
penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Oleh karena itu segala kritikan dan saran yang sifatnya membangun akan penulis terima dengan baik. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.
Slawi, Desember 2016
Penyusun
HALAMAN JUDUL...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...3
2.1 Flora Normal Tubuh Manusia ...3
2.2 Asal Mula Mikrobiota Manusia ...3
2.3 Penggolongan Flora Normal Tubuh Manusia ...5
2.4 Peran Flora Normal Tubuh Manusia ...6
2.5 Penyebaran Flora Normal Pada Organ Tubuh Manusia ...7
2.6 Interaksi Inang-Parasit ...15
2.7 Antigen Dan Antibodi ...21
2.8 Resistensi Dan Kekebalan Inang ...24
2.9 Penerapan Diagnostik Reaksi Antigen-Antibodi ...26
BAB III PENUTUP ...31
A. Kesimpulan...31
DAFTAR PUSTAKA ...33
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Mikroorganisme adalah organisme hidup yang berukuran mikroskopis sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroorganisme dapat ditemukan di semua tempat yang memungkinkan terjadinya kehidupan, di segala lingkungan hidup manusia. Mereka ada di dalam tanah, di lingkungan akuatik, dan atmosfer (udara) serta makanan. Dan karena beberapa hal mikroorganisme tersebut dapat masuk secara alami ke dalam tubuh manusia, tinggal menetap dalam tubuh manusia atau hanya bertempat tinggal sementara. Lebih lanjut, fisiologi, gizi dan perlindungan tanaman dan hewan (termasuk manusia) adalah tergantung pada berbagai hubungan dengan mikroba. Mikroorganisme dapat hidup bebas ataupun menumpang pada tubuh makhluk hidup lain. Manusia secara konstan berhubungan dengan beribu-ribu mikroorganisme ini.
Mikroorganisme ini dapat menguntungkan inangnya tetapi dalam kondisi tertentu dapat juga menimbulkan penyakit. Untuk itu lah makalah ini disusun guna membahas mikroorganisme alami penghuni tubuh manusia, sehingga kita dapat mengetahui hubungan antara manusia dan flora normal tubuh
dan saluran pencernaan (terutama mulut dan usus besar). Di sisi lain, area tubuh seperti otak, sistem peredaran darah dan paru-paru dimaksudkan untuk tetap steril (bebas mikroba).
Selain itu juga disebutkan bahwa, flora normal adalah kumpulan mikroorganisme yang secara alami terdapat pada tubuh manusia normal dan sehat.Kebanyakan flora normal yang terdapat pada tubuh manusia adalah dari jenis bakteri. Namun beberapa virus, jamur, dan protozoa juga dapat ditemukan pada orang sehat.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa definisi dari flora normal tubuh manusia? b. Bagaimana asal mula mikrobiota manusia?
c. Bagaimana penggolongan flora normal tubuh manusia? d. Apa sajakah peran flora normal tubuh manusia?
e. Bagaimana penyebaran flora normal pada organ tubuh manusia? f. Bagaimana interaksi inang-parasit?
g. Apa definisi antigen dan antibodi?
h. Apa sajakah jenis-jenis resistensi dan kekebalan inang? i. Bagaimana penerapan diagnostik reaksi antigen-antibodi? 1.3 Tujuan
a. Dapat mengetahui definisiflora normal tubuh manusia. b. Dapat mengetahui bagaimana asal mula mikrobiota manusia.
c. Dapat mengetahui bagaimana penggolongan flora normal tubuh manusia. d. Dapat mengetahui apa sajakah peran flora normal tubuh manusia.
e. Dapat mengetahui bagaimana penyebaran flora normal pada organ tubuh manusia.
f. Dapat mengetahui bagaimana interaksi inang-parasit. g. Dapat mengetahui definisi antigen dan antibodi.
h. Dapat mengetahui apa sajakah jenis-jenis resistensi dan kekebalan inang. i. Dapat mengetahui bagaimana penerapan diagnostik reaksi
antigen-antibodi.
BAB II
2.1 Flora Normal Tubuh Manusia
Menurut Pelczar dan Chan (2005), manusia secara konstan berhubungan dengan beribu-ribu mikroorganisme. Mikrobe tidak hanya terdapat dilingkungan, tetapi juga menghuni tubuh manusia. Mikrobe yang secara alamiah menghuni tubuh manusia disebut flora normal, atau mikrobiota.
Mikroba normal tubuh manusia yang sehat perlu diketahui karena alasan-alasan berikut:
a. Diketahuinya hal ini dapat membantu menduga macam infeksi yang mungkin timbul setelah terjadinya kerusakan jaringan pada situs-situs yang khusus.
b. Hal ini memberikan petunjuk mengenai kemungkinan sumber dan pentingnya mikroorganisme yang teramati pada beberapa infeksi klinis. Sebagai contoh, E. coli tidak berbahaya di dalam usus tetapi bila memasuki kandung kemih dapat menyebabkan sistitis, suatu peradangan pada selaput lendir organ ini.
c. Hal ini dapat membuat kita menaruh perhatian lebih besar terhadap infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang merupakan mikrobiota normal atau asli pada inang manusia. Hal ini terutama penting karena terlihat adanya peningkatan timbulnya infeksi yang disebabkan oleh jasad-jasad renik ini daripada oleh sumber luar.
2.2 Asal Mula Mikrobiota Manusia
Gambar 1. Diagram skematik suatu unit isolator bebas kuman. Bagian dalamnya dapat disterilkan sebelum pelaksanaan percobaan dan dipertahankan pada
keadaan tersebut.
Walaupun seorang individu mempunyai mikrobiota yang “normal”, seringkali terjadi bahwa selama hidupnya terdapat fluktuasi pada mikrobiota ini disebabkan oleh keadaan kesehatan umum, nutrisi, kegiatan hormon, usia, dan banyak faktor lain (Pelczar dan Chan, 2005).
2.3 Penggolongan Flora Normal Tubuh Manusia
Flora normal tubuh manusia berdasarkan bentuk dan sifat kehadirannya dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous)
Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous) yaitu mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh tertentu dan pada usia tertentu. Keberadaan mikroorganismenya akan selalu tetap, baik jenis ataupun jumlahnya, jika ada perubahan akan kembali seperti semula. Flora normal/tetap yang terdapat pada tubuh merupakan organisme komensal. Flora normal yang lainnya bersifat mutualisme. Flora normal ini akan mendapatkan makanan dari sekresi dan produk-produk buangan tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau zat hasil sintesis dari flora normal. Mikroorganisme ini umumnya dapat lebih bertahan pada kondisi buruk dari lingkungannya. Contohnya : Streptococcus viridans, S. faecalis, Pityrosporum ovale, Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap) dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit dan tidak menetap. Flora sementara biasanya sedikit asalkan flora tetap masih utuh, jika flora tetap berubah, maka flora normal akan melakukan kolonisasi, berbiak dan menimbulkan penyakit (Pelczar dan Chan, 2005).
2.4 Peran Flora Normal Tubuh Manusia
faktor-faktor biologis seperti suhu, kelembapan dan tidak adanya nutrisi tertentu serta zat-zat penghambat. Keberadaan flora tersebut tidak mutlak dibutuhkan untuk kehidupan karena hewan yang dibebaskan (steril) dari flora tersebut, tetap bisa hidup.Flora yang hidup di bagian tubuh tertentu pada manusia mempunyai peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan hidup secara normal.Beberapa anggota flora tetap di saluran pencernaan mensintesis vitamin K dan penyerapan berbagai zat makanan.Flora yang menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri patogen dan mencegah penyakit akibat gangguan bakteri. Mekanisme bakteri bersifat oportunis dan bisa menjadi patogen. (Jawetz dkk, 2005)
Selain itu, diperkirakan bahwa stimulasi antigenik dilepaskan oleh flora adalah penting untuk perkembangan sistem kekebalan tubuh normal.
Streptococcus viridans, bakteri yang tersering ditemukan di saluran nafas atas, bila masuk ke aliran darah setelah ekstraksi gigi atau tonsilektomi dapat sampai ke katup jantung yang abnormal dan mengakibatkan subacute bacterial endocarditis. Bacteroides yang normal terdapat di kolon dapat menyebabkan peritonitis mengikuti suatu trauma.
banyak contoh tetapi yang penting adalah flora normal tidak berbahaya dan dapat bermanfaat bagi tubuh inang pada tempat yang seharusnya atau tidak ada kelainan yang menyertainya. Mereka dapat menimbulkan penyakit jika berada pada lokasi yang asing dalam jumlah banyak dan jika terdapat faktor-faktor predisposisi (Whidia, 2010)
2.5 Penyebaran Flora Normal Pada Organ Tubuh Manusia
Dalam tubuh manusia banyak terdapat mikroba, mikroba dapat kita jumpai pada rongga mulut, kulit, wajah, telinga, hidung, usus halus, dan anggota tubuh lainnya.
a. Kulit
Kulit secara konstan berhubungan dengan bakteri dari udara atau dari benda-benda, tetapi kebanyakan bakteri ini tidak tumbuh pada kulit karena kulit tidak sesuai untuk pertumbuhannya.
Gambar 2. Epidermis Manusia beserta lapisan lainnya
Kebanyakan bakteri kulit di jumpai pada epitelium yang seakan-akan bersisik (lapisan luar epidermis), membentuk koloni pada permukaan sel-sel mati. Kebanyakan bakteri ini adalah spesies Staphylococcus dan sianobakteri aerobik, atau difteroid.
bersifat nonpatogen pada kulit namun dapat menimbulkan penyakit saat mencapai tempat-tempat tertentu seperti katup jantung buatan dan sendi prostetik (Irianto, 2006).
Bakteri ini lebih sering ditemui pada kulit dibandingkan dengan kerabatnya yang bersifat patogen yaitu Staphylococcus aureus. Secara keseluruhan ada sekitar 103-104 mikroorganisme/cm2 yang kebanyakan terletak pada stratum (lapisan) korneum. Bakteri anaerob dan aerob sering bersama-sama menyebabkan infeksi sinergistik, selulitis dari kulit dan jaringan lunak. Timbulnya organisme ini dapat diperlihatkan pada gambar 2 yang melukiskan morfologi dan sifat-sifat mikroorganisme yang predominan didalam mikrobiota. Letak bakteri-bakteri ini pada atau di dalam kulit diperlihatkan (Irianto, 2006).
Gambar 4.Morfologi Serta Ciri-CirI Utama Spesies Mikrobe Predominan yang Merupakan Mikrobiota Normal Tubuh Manusia (Irianto, 2006).
b. Hidung dan Nasofaring
Bakteri yang paling sering dan hampir selalu dijumpai di dalam hidung ialah difteroid. Stafilokokus, yaitu Staphylococcus aureus. Umum juga ditemukan Staphylococccus epidermidis. Di dalam bagian kerongkongan hidung, dapat juga dijumpai bakteri Brauhamella catarrhalis (suatu kokus Gram negative) dan Haemophilus influenza atau suatu batang Gram negatif (Irianto, 2006).
Flora utama hidung terdiri dari korinebakteria, stafilokokus dan streptokokus. Dalam hulu kerongkongan hidung, dapat juga dijumpai bakteri Branhamella catarrhalis (suatu kokus gram negatif) dan Haemophilus influenzae (suatu batang gram negatif). Pemusnahan flora normal faring dengan penisilin dosis tinggi dapat menyebabkan over growth, bakteria negatif Gram seperti Escherichia coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas atau jamur (Agus, 2002)
c. Mulut
Pada waktu lahir, rongga mulut pada hakikatnya merupakan suatu inkubator yang steril, hangat, dan lembap yang mengandung berbagai substansi nutrisi. Air liur terdiri dari air, asam amino, protein, lipid, karbohidrat dan senyawa-senyawa organik. Jadi, air liur merupakan medium yang kaya serta kompleks yang dapat dipergunakan sebagai sumber nutrien bagi mikroba pada berbagai situs di dalam mulut. Air liur itu sendiri pada umumnya mengandung jasad-jasad renik transien artinya hanya singgah sebentar yang datang dari situs-situs lain rongga mulut, terutama dari permukaan lidah bagian atas (Irianto, 2006).
Beberapa jam sesudah lahir, terdapat peningkatan mikroorganisme sedemikian sehingga didalam waktu beberapa hari spesies bakteri yang khas menjadi mantap. Jasad-jasad renik ini tergolong kedalam genus Streptococcus, Neisseria, Veillonella, Actinomyces dan Lactobacillus. Jumlah dan macam spesies ada hubungannya dengan nutrisi bayi serta hubungan antara bayi tersebut dengan ibunya, pengasuhnya dan benda-benda seperti handuk dan botol-botol susunya. Spesies satu-satunya selalu diperoleh dari rongga mulut bahkan sedini hari, kedua setelah lahir ialah Streptococcus salivarius bakteri ini mempunyai afinitas terhadap jaringan epitel dan karena itu terdapat jumlah besar pada permukaan lidah. Sampai munculnya gigi, kebanyakan mikroorganisme di dalam mulut adalah aerob dan anaerob fakultatif. Ketika gigi pertama muncul, anaerob obligat seperti bakteriodes dan bakteri fusiform (Fusobacterium sp). Menjadi lebih jelas karena jaringan disekitar gigi menyediakan lingkungan anaerobik (Irianto, 2006).
bakteri di dalam mulut. Glikoprotein liur mampu menyatukan bakteri-bakteri tertentu dan mengikatkan mereka pada permukaan gigi. Baik Streptococcus sanguis maupun Streptococcus mutans menghasilkan polisakarida ekstraseluler yang disebut dekstran yang bekerja seperti perekat, mengikat sel-sel bakteri menjadi satu dan melekatkan mereka pada permukaan gigi. Tertahannya bakteri dapat juga terjadi karena terperangkapnya secara mekanis didalam cela-cela gusi atau di dalam lubang dan peletakan gigi. Agregasi bakteri semacam itu serta bahan organik pada permukaan gigi disebut plak (plaque). Air liur terus menerus dihasilkan dan ditelan dan oleh sebab itu bekerja sebagai pembersih (Raharja, 2010)
Sekali gigi keluar, maka mikrobiota pada bayi secara umum nampak serupa seperti yang ada pada orang dewasa. Kemudian, karena alasan-alasan yang belum begitu dipahami sekarang ini, tetapi mungkin merupakan akibat perubahan hormonal, spiroket mulut dan Bacteroides melaninogenicus membentuk koloni dicelah-celah gusi pada masa akhil balig (Irianto, 2006).
Menurut (Sofa, 2008) adanya flora normal dalam saluran cerna akan memberikan keuntungan bagi hospesnya :
1) menghambat pertumbuhan atau menimbulkan resistensi terhadap bakteri pathogen.
2) menghasilkan vitamin B kompleks dan vitamin. 3) konversi pigmen empedu dan asam empedu. 4) absorbsi zat makanan
Contohnya : B. fragilis, C. perfringens. d. Orofaring
viridans biakan yang ditumbuhkan dari orofaring juga akan memperlihatkan adanya Branhamella catarhalis, spesies Haemophilus, serta galur-galur Pneumokokus avirulen Syeptococcus pneumonia (Irianto, 2006).
Gambar 4. Penyebaran Mikrobiota Normal Tubuh Manusia Sumber: (Irianto, 2006).
e. Perut
Isi perut yang sehat pada umumnya steril karena adanya asam hidroklorat di dalam sekresi lambung. Setelah ditelannya makanan, jumlah bakteri bertambah tetapi segera menurun kembali dengan disekresinya getah lambung dan pH zat alir perut pun menurun (Irianto, 2006).
Isi perut yang sehat pada praktisnya steril karena adanya asam hidroklorat di dalam sekresi lambung. Setelah ditelannya makanan, jumlah bakteri bertambah tetapi segera menurun kembali dengan disekresikannya getah lambung dan pH zat alir perut pun menurun (Agus M, 2002).
f. Usus Kecil
difteroid. Khamir Candida albicans dapat juga dijumpai pada bagian usus kecil. Pada bagian usus kecil yang jauh (ileum), mikrobiota mulai menyerupai yang dijumpai pada usus besar. Bakteri anaerobik dan enterobakteri mulai nampak dalam jumlah besar (Irianto, 2006).
g. Usus Besar
Didalam tubuh manusia, kolon atau usus besar, mengandung populasi mikroba yang terbanyak. Telah diperkirakan bahwa jumlah mikroorganisme di dalam spesimen tinja ialah kira-kira 1012 organisme per gram. (Lima puluh atau enam puluh persen dari berat kering bahan tinja dapat terdiri dari bakteri dan mikroorganisme lain). Telah pula dihitung bahwa seorang dewasa mengekskresikan 3 x 1013 bakteri setiap harinya didalam tinja, kebanyakan dari sel-sel tersebut tidak hidup (Irianto, 2006).
Ada kira-kira 300 kali lebih banyak bakteri anaerobik dari pada bakteri anaerobik fakultatif (Seperti Escherichia coli) di dalam usus besar. Basilus Gram negatif anaerobik yang ada meliputi spesies-spesies Bacteroides (Bacteroides fragilis, Bacteroides melaninogenicus, Bacteroides oralis) dan Fusobacteriu. Basilus Gram positif diwakili oleh spesies-spesies Clostridium (termasuk Clostridium perfringens) yang mempunyai kaitan dengan kelemayuh, suatu inveksi jaringan disertai gelembung gas dan keluarnya nanah) serta spesies-spesies Lactobacillus. Spesies-spesies anaerobik fakultatif yang dijumpai di dalam usus tergolong dalam genus Escherichia, Proteus, Klebsiella, dan Enterobacter. Peptostreptokokus (Streptokokus anaerobik) juga umum, Khamir Candida albicans juga dijumpai. Harus juga diperhatikan bahwa pada diare, sebagai akibat pergerakan isi perut yang cepat, maka mikrobiota usus mengalami perubahan yang besar. Perubahan mikrobiota ini juga terjadi pada orang-orang yang menerima pengobatan antibiotic, sayangnya, organisme yang rentan dapat tergantikan oleh yang resisten (Irianto, 2006).
Pada orang sehat, ginjal, ureter (saluran dari ginjal ke kandung kemih), dan kandung kemih bebas dari mikroorganisme, namun bakteri pada umumnya dijumpai pada uretra (saluran dari kandung kemih ke luar) bagian bawah baik pada pria maupun wanita. Tetapi jumlahnya berkurang di dekat kandung kemih agaknya disebabkan oleh efek antibakterial yang dilancarkan oleh selaput lendir uretra dan seringnya epitelium terbilas oleh air seni. Ciri populasi ini berubah menurut variasi daur haid. Penghuni utama vagina dewasa ialah laktobasilus yang toleran terhadap asam. Bakteri ini mengubah glikogen yang dihasilkan oleh epitelium vagina, dan didalam proses tersebut menghasilkan asam. Penumpukan glikogen pada dinding vagina disebabkan oleh kegiatan indung telur; hal ini tidak dijumpai sebelum masa akil balig ataupun setelah menopause (berhenti haid). Sebagai akibat perombakan glikogen, maka pH di dalam vagina terpelihara pada sekitar 4,4–4,6. Mikroorganisme yang mampu berbiak pada pH rendah ini dijumpai di dalam vagina dan mencakup enterokokus, Candida albicans, dan sejumlah besar bakteri anaerobik (Irianto, 2006)
i. Mata (Konjungtiva) dan Telinga
Mikroorganisme konjungtiva terutama adalah difteroid (Coynebacterium xerosis), S.Epidermidis dan Streptokukus non hemolitik. Neiseria dan basil gram negatif yang menyerupai spesies Haemophilus (Moraxella) seringkali juga ada. Flora konjungtiva dalam keadaan normal dikendalikan oleh aliran air mata, yang mengandung lisozim. Flora liang telinga luar biasanya merupakan gambaran flora kulit. Dapat dijumpai Streptococcus pneumonia, batang gram negatif termasuk Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan kadang-kadang Mycobacterias aprofit. Telinga bagian tengah dan dalam biasanya steril (Kamaruddin, 2012).
j. Bakteri di Darah dan jaringan
ekstraksi gigi, flora komensal dari mulut dapat masuk ke jaringan atau darah. Dalam keadaan normal mikroorganisme tersebut segera dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh. Hal seperti itu dapat terjadi pula dengan flora faring, saluran cerna dan saluran kemih. Pada keadaan abnormal seperti adanya katup jantung abnormal, atau protesa lain, bakteremia di atas dapat mengarah pada pembentukan koloni dan infeksi (Staf pengajar Universitas Indonesia, 1998).
2.6 Interaksi Inang-Parasit
a. Patogenisitas, virulensi, dan infeksi
Patogenesitas ialah kemampuan organisme untuk untuk menimbulkan penyakit. Bila mikroorganisme menyerang inang yaitu bila mereka memasuki jaringan tubuh dan berkembang biak disitu, maka terjadilah infeksi. Respons inang terhadap infeksi ialah terganggunya fungsi tubuh, ini disebut penyakit. Jadi pathogen ialah mikroorganisme atau makroorganisme mana saja yang mampu menimbulkan penyakit. Cacing trichinella menyebabkan trikinosis, suatu penyakit parasitic yang menyerang jaringan otot, dan merupakan pathogen.
Untuk dapat menimbulkan penyakit menular, suatu patogen harus dapat mencapai hal–hal berikut :
1) Harus dapat memasuki inang
2) Harus dapat bermetabolisme dan berkembang biak di dalam jaringan inang
3) Harus dapat menahan pertahanan tubuh inang
4) Harus dapat merusak inang (Pelczar dan Chan, 2005). b. Faktor- faktor virulensi microbe
1) Toksin
Beberapa mikroorganisme menghasilkan zat beracun yang dikenal sebagai toksin. Kemampuan suatu mikroorganisme untuk menghasilkan suatu toksin yang mempunyai efek buruk terhadap inang dan kemampuan toksin tersebut merupakan faktor penting di dalam kemampuan organisme tersebut untuk menyebabkan penyakit. Banyak bakteri belum teramati menghasilkan toksin.Hal ini mungkin disebabkan karena tidak adanya metode untuk mempertunjukkan adanya beberapa jenis toksin atau karena kegagalan untuk cukup memahami masalahnya. Toksin yang dihasilkan mikroorganisme mungkin diekskresikan ke medium di sekitarnya (eksotoksin) atau disimpan didalam selnya (endotoksin) sebagai bagian dari sel tersebut.
a) Eksotoksin
Eksotoksin dapat berdifusi dan diekskresikan dari sel mikrobe yang menghasilkan ke dalam medium biakan atau kedalam sistem peredaran dan jaringan inang. Eksotoksin adalah protein.Toksisitasnya akan hilang bila dipanaskan atau diberi perlakuan dengan zat kimia. Fenol formal dehide, β-propiolakton, dan berbagai asam dapat memodifikasi eksotoksin secara kimiawi sehingga toksisitasnya lenyap, dalam hal demikian maka disebut toksoid.
b) Endotoksin
Banyak mikroorganisme, terutama bakteri gram negative, tidak mengeksresikan toksin terlarut dari sel yang utuh lagi hidup, tetapi menghasilkan endotoksin, yang dilepaskan hanya bila selnya hancur (Pelczar dan Chan, 2005).
Ciri Eksotoksin Endotoksin Dosis letal Sangat sedikit Jauh lebih banyak
dibandingkan dengan aksotoksin
2) Enzim ekstraselular
Enzim Kerjanya Contoh Bakteri yang yang membantu merekatkan sel-sel hidup menjadi satu.
b) Lesitinase
Lesitinase ialah suatu enzim yang menghancurkan berbagai sel jaringan dan terutama aktif melisis sel-sel darah merah.
c) Kolagenase
Menghancurkan kolagen, yaitu serabut jaringan yang dijumpai pada otot, tulang serta tulang rawan, dan membentuk semacam jalan tempat-tempat terletaknya sel-sel jaringan itu.
d) Koagulase
suatu activator, di dalam plasma untuk mengubah fibrinogen
Hemosilin ialah substansi yang melisis sel-sel darah merah, membebaskan hemoglobinnya (Pelczar dan Chan, 2005).
c. Faktor-faktor selain virulensi yang mempengaruhi jaringan infeksi
1) Afinitas jaringan
Beberapa protozoa seperti parasit malaria, dapat menghancurkan eritrosit, namun demikian pada stadia tertentu didalam daur hidupnya parasit tersebut tumbuh didalam sel-sel darah merah manusia. Pada stadia lain, parasit yang sama mempunyai afinitas terhadap jaringan nyamuk, didalamnya ia berkembang tanpa menyebabkan penyakit yang jelas dan dari satu parasit tersebut dapat dipindah sebarkan melalui gigitan kepada manusia. Hewan-hewan lain, terutama serangga berlaku sebagai penyebar banyak penyakit karena adanya afinitas jaringan semacam itu.
Jadi kini telah diketahui bahwa beberapa mikroorganisme mempunyai afinitas tertentu terhadap sel dan jaringan tertentu, yang dapat dirusak dan dihancurkannya. Diganggunya proses normal suatu sel atau jaringan mempengaruhi organisme secara keseluruhan, maka penyakitpun timbul. Bagi beberapa pathogen, kita ketahui alasan mengaopa terdapat afinitas jaringan. Sebagai contoh, bakteri brusela menyebabkan bruselois (mengakibatkan keguguran) pada hewan ternak, kambing, biri-biri, dan babi. Plasenta (tembumi atau ari-ari) hewan-hewan ini mengandung gula eritriol yang dibutuhkan oleh bakteri brusela tersebut untuk pertumbuhannya yang lebih baik.
2) Gerbang masuk
mereka harus masuk melalui rute tertentu yang di sebut gerbang masuk ini berbeda–beda bagi berbagai organisme, bergantung kepada kemampuannya untuk menyerang organ atau bagian tertentu tubuh. Saluran pencernaan merupakan gerbang masuk bagi organisme-organisme tifoid, disentri, dan kolera, kesemuanya ini mampu menahan kerja enzim di dalam air liur serta cairan pencernaan lainya dan mengatasi kemasaman alamiah perut. Beberapa mikroorganisme mempunyai afinitas khusus terhadap saluran pernafasan dan dapat menyebabkan infeksi pada bronki (cabang tenggorok ) dan paru-paru, organisme tuberkolosis dan difteri masuk melalui gerbang ini. untuk menyebabkan pneumonia lobar, terlepas dari virulensinya pneumokokus harus memasuki paru-paru melalui saluran pernafasan. 3) Pemindahan sebaran
Terlepas dari tngkat virulensi suatu organisme-organisme tersebut tidak dapat menimbulkan penyakit pada sejumlah orang atau menyebabkan epidemi, kecuali bila ia dapat menemukan inang-inang yang rentan untuk di infeksi.suatu pathogen yang sangat virulen membawa kehancuran bagi dirinya sendiri bila membunuh inang yang menghidupinya atau dengan cara merangsang resistensi kekebalan inang yang menghancurkanya karena alasan inilah maka semua epidemic sifatnya membatasi diri yaitu inang yang resistensinya rendah menjadi lenyap dan anggota-anggota populasi yang sangat resisten serta kebal akan bertahan hidup.
Penyebaran atau penularan bergantung pada 2 faktor penting : lepasnya pathogen dari inangnya dan masuknya pathogen itu kedalam inang yang rentan.biila ada jarak waktu diantara 2 kejadian tersebut, maka organisme tersebut harus dapat bertahan hidup di suatu lingkungan yang kurang menguntungkan (Pelczar dan Chan, 2005).
Antigen ialah suatu substansi yang bila memasuki inang vertebrata, menimbulkan respon kekebalan yang membawa kepada terbentuknya kekebalan dapatan. Respons kekebalan ini mengakibatkan pembentukan antibody spesifik yang beredar didalam aliran darah (imunitas humoral) atau merangsang peningkatan jumlah sel-sel reaktif khusus yang disebut limfosit (imunitas yang diperantarai sel atau “cell-mediated immunity”) atau keduanya. Limfosit ini telah memperoleh kemampuan yang lebih tinggi untuk menghancurkan atau menteralkan mikroorganisme penyerang ataupun toksinnya. Ini merupakan jalur utama pertahanan internal tubuh terhadap microbe patogenik.
b. Sifat-sifat antigen
Pada umumnya makin asing komposisi kimiawi dan stuktur antigen terhadap individu yang diimunisasi maka makin efektif antigen tersebut dalam merangsang suatu respons kekebalan.
Hanya ada dua kelompok senyawa yang dijumpai secara alamiah yang jelas bersifat imunogenik, artinya mempunyai kemampuan untuk merangsang respons kekebalan. Senyawa yang dimaksud ialah protein dan polisakaride. Protein pada umumnya lebih efektif dalam merangsang pembentukan antibody dibandingkan dengan polisakaride. Namun, polisakaride kompleks berukuran besar, seperti polisakride kompleks berukuran besar, seperti polisakaride pada kapsul pneumokokus, merupakan antigen yang baik karena menimbulkan reaksi kekebalan yang kuat. Oligosakaride, lipid, dan asam-asam nukleat tidak merangsang pembentukan antibody bila berdiri, tetapi dapat melakukannya bila bergabung dengan protein. Mereka ini disebut hapten, yaitu substansi yang bila berdiri sendiri tidak bersifat antigenic, tetapi bila digabungkan erat-erat kepada molekul pembawa seperti protein, dapat berfungsi sebagai gugusan antigenic yang mengarahkan spessifisitas respons kekebalan. Sekali terbentuk, hapten akan bergabung dengan antibody yang spesifik.
biasanya lebih ampuh dari pada antigen yang dapat larut (Baratawidjaja, 2010)
Tanpa pengecualian, antigen adalah substansi yang mempunyai berat molekul tinggi. Suatu senyawa dengan berat molekul tinggi. Suatu senyawa dengan berat molekul kurang dari 6.000 dalton jarang sekali dapat bekerja sendiri sebagai antigen. Kebanyakan antigen memiliki berat molekul 10.000 dalton atau lebih.
c. Determinan antigenic
Virus, bakteri, atau sel tubuh, yang bekerja sebagai antigen, mempunyai sejumlah situs reaktif atau determinan antigenik.
d. Ajuvan
Ajuvan ialah substansi yang bila disuntikkan bersama-sama dengan antigen akan menambah produksi antibody. Berbagai macam substansi dengan komposisi kimiawi yang berbeda-beda telah dijumpai memiliki efek ajuvan. Substansi semacam itu meliputi alum dan garam-garam aluminium lainnya, atrium alginate, endotoksin bakteri, dan suspense air-dalam-minyak dengan atau tanpa mikobakteri yang telah dimatikan. Sebagai contoh, ajuvan freund adalah yang paling banyak dipelajari serta paling banyak digunakan dalam percobaan. Ajuvan freund terdiri dari minyak mineral, zat pengemulsi dan bacillus tuberculosis yang telah dimatikan.
e. Antibodi
Antibodi telah di definisikan sebagai suatu subtansi khusus yang di bentuk oleh tubuh yang di respons terhadap stimulasi antigenetik. Semua molekul antibody termasuk kedalam kelas khusus protein serum yang di sebut globulin, meskipun tidak semua globulin serum merupakan antibody. Jadi antibody di sebut juga iminoglobulin (di singkat sebagai ig).
f. Kelas kelas imonoglobulin (anti bodi)
2.8 Resistensi dan Kekebalan Inang
Parasit menggunakan berbagai cara untuk menimbulkan infeksi inang memiliki sejumlah mekanisme pertahanan diri untuk mencegah infeksi.
a. Resistensi alamiah : 1. Resistensi spesies
Resistensi atau kerentanan terhadap infeksi oleh suatu patogen tertentu dapat berbeda–beda dari satu spesies hewan ke yang lain. Sebagai contoh, manusia pada umumnya rentan terhadap infeksi oleh gonokokus yang menyebabkan penyakit yang ditularkam secara seksual (venerik) .
2. Resistensi rasial
Resistensi terhadap malaria ( disebabkan oleh Plasmodium vivax ) pada hampir semua orang negro Afrika dan pada 70 % orang negro yang ada di Amerika. Kebanyakan orang kulit putih rentan terhadap parasit ini. Resistensi terhadap organisme ini disebabkan oleh tidak hanya reseptor spesifik pada sel – sel darah merah inang yang resisten ; parasit itu harus terikat pada reseptor ini untuk mencegah penyakit . 3. Resistensi perorangan
Beberapa faktor yang jelas berkaitan dengan resitensi perorangan ialah usia, keadaan gizi, keberhasilan pribadi, kesehatan, seks, dan pekerjaan.
4. Rintangan mekanis dan kimiawi resistensi
Rintangan mekanis meliputi kulit, dan selaput lendir yang utuh (tidak sobek) yang pada umumnya mencegah masuknya mikroorganisme. Namun, cendawan tertentu dapat dengan mudah menimbulkan infeksi kulit bila kulit lembab dan lunak .
5. Peradangan
6. Fagositosis
Proses fagositosis mensyaratkan melekatnya mikrobia terlebih dahulu kepada sel fagositik . Sel fagositik mempunyai afinitas khusus terhadap mikroorganisme yang terbungkus antibodi. Bila pada permukaan mikrobe juga terdapat komplemen, maka terdapat reseptor– reseptor komplemen pada sel fagositik yang menyediakan tenaga pelekatan tambahan.
b. Imunitas Khusus Dapatan
2.9 Penerapan Diagnostik Reaksi Antigen-Antibodi
Antibodi tidak dapat dilihat dengan mata bugil tetapi adanya antibodi diketahui melalui hal – hal yang dilakukanya . Imunitas humoral dapat diamati pada hewan laboratorium dengan cara menentukan besarnya jumlah mikroorganisme yang perlu ditambahkan untuk timbulnya suatu infeksi pada hewan yang diimunisasi dan membandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk menimbulkan infeksi pada hewan yang tidak diimunisasi .
Kegunaan reaksi antigen-antibody terapan : Uji serologis yang terpenting dan digunakan paling luas mencangkup reaksi-reaksi aglutinasi, presipitasi dan fiksasi komplemen .
a. Uji aglutinasi
jembatan untuk membentuk jaringan kisi-kisi antibodi dan antigen partikulat sehingga membentuk gumpalan.
Uji aglutinasi ini tidak hanya dapat digunakan untuk diagnosis penyakit menular tertentu yang reaksi aglutinasi antigen-antigennya yang telah diketahui oleh serum penderita, tetapi juga dapat digunakan untuk mengetahui mikroorganisme atau bakteri yang belum diketahui. Hal ini dapat diketahui karena kemampuan spesifik serum yang telah diketahui untuk menggumpalkan suspensi sel-sel yang yang belum diketahui tersebut, sehingga mikroorganisme atau bakteri yang belum
diketahui tersebut dapat diidentifikasi.
Uji aglutinasi terhadap bakteri dapat diklakukan dalam tabung-tabung reaksi kecil atau sebuah kaca objek.Kebanyakan uji bakteri dilakukan dengan pengenceran antiserum secara serial di dalam tabung yang kedalamnya ditambahkan antigen dalan jumlah yang konstan. Setelah diinkubasi, pengamatan dapat dilakukan secara visual, kemudian ditentukan titernya. Titer antiserum adalah suatu nilai nisbi dan berbanding terbalik dengan pengenceran tertinggi yang memiliki gumpalan sel dan antibodi. Titer yang lebih tinggi menunjukkan adanya konsentrasi antibodi yang lebih tinggi pula. b. Uji presipitin
tiga zone reaksi antigen-antibodi pada uji presipitin : zone kelebihan antibodi, zone setara, dan zone kelebihan antigen. Pada zone kelebihan antibodi, semua antigen telah bereaksi dengan antibodi dan telah diendapkan (tidak ada antigen bebas di dalam supernatan). Sebaliknya di dalam zone kelebihan antigen, semua antibodi telah bereaksi dengan antigen (tidak ada antibodi di dalam supernatan), tetapi kompleks yang terbentuk tetap dapat larut karena banyaknya kelebihan antigen mengikat antibodi menjadi kompleks yang berukuran kecil yang tidak terikat saling membentuk agregat besar yang kasat mata.di dalam zone setara terjadi presipitasi antigendan antibodi secara maksimum (tidak terdapat antigen bebas maupun antibodi bebas di dalam supernatan) karena keduanya terdapat dalam proporsi optimum sehingga dapat membentuk kisi-kisi antigen dan antibodi yang menjadi kasat mata dan tidak dapat larut. Karena alasan ini, maka uji presipitin akan paling bermanfaat bila memungkinkan reaktan berdifusi sampai konsentrasi optimumnya tercapai.
1. Uji cincin
Uji cincin adalah uji presipitin yang paling sederhana. Kedalam sebuah tabung bermulut kecil diletakkan larutan antigen diatas larutan serum yang mengandung antibodi. Kedua larutan tersebut akan berdifusi sampai keduanya mencapai konsentrasi optimum untuk terjadinya presipitasi, pada titik tersebut munculah suatu zona rapat atau cincin endapan diantara kedua larutan tersebut.
2. Metode difusi agar
Ketepatan yang lebih tinggi dan pemisahan komponen di dalam campuran antigen dan antibodi dapat diperoleh dengan cara membiarkan reaktan-reaktan tersebut berdifusi bersama-sama dalam di dalam suatu gel agar.
3. Radioimunoasai
c. Uji Fiksasi Komplemen
Uji fiksasi (penambatan) komplemen didasarkan pada adanya antibodi penambatan komplemen di dalam serum. Adanya komplemen menyebabkan antibodi ini melisis sel-sel. Tujuan uji fiksasi komplemen adalah untuk menentukan ada atau tidaknya antibodi spesifik di dalam serum. Uji ini terdiri dari dua sistemyaitu sebagai berikut:
1. Sistem penambatan komplemen
Dalam sistem ini serum, suspense bakteri (antigen lain), dan komplemen dicampurkan. Bila antigen dan antibodi dari dalam serum itu bergabung, maka komplemen itu dinyatakan tertambat.
2. Sistem indikator hemolitik
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
a. Flora normal adalah kumpulan mikroorganisme yang secara alami terdapat pada tubuh manusia normal dan sehat. Mikroorganisme yang secara tetap terdapat pada permukaan tubuh bersifat komensal.
b. Awal mula tubuh manusia mulai ditempati oleh flora normal sejak Mikroba diperoleh melalui kontak permukaan, penelanan atau penghisapan. Mikrobe-mikrobe ini segera disertai oleh mikrobe-mikrobe lain dari banyak sumber yang langsung berada di sekeliling bayi yang baru lahir tersebut.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehadiran flora normal pada tubuh manusia adalah nutrisi, kebersihan seseorang (berapa seringnya dibersihkan), kondisi hidup, penerapan prinsip-prinsip kesehatan. Flora normal biasanya ditemukan di bagian-bagian tubuh manusia yang kontak langsung dengan lingkungan misalnya kulit, hidung, mulut, usus, saluran urogenital, mata, dan telinga . Organ-organ dan jaringan biasanya steril. d. Antigen ialah suatu substansi yang bila memasuki inang vertebrata,
menimbulkan respon kekebalan yang membawa kepada terbentuknya kekebalan dapatan. Sedangkan Antibodi ialah suatu subtansi khusus yang di bentuk oleh tubuh yang di respons terhadap stimulasi antigenetik. e. Resistensi inang dapat berupa resistensi alamiah atau resistensi khusus.
Resistensi alamiah bergantung kepada sejumlah faktor.Faktor–faktor resistensi yang dibawa sejak lahir adalah spesies, ras, dan perorangan.Imunokompetensi inang bergantung kepada berfungsinya sistem kekebalan yang melibatkan baik imunitas diperantarai sek maupun imunitas humoral.
f. Penerapan diagnostic reaksi antigen-antibodi yaitu melaluiuji aglutinasi, uji presipitin, dan fiksasi komplemen.
3.2 SARAN
miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depannya.
DAFTAR PUSTAKA
Baratawidjaja, Karnen Garna. 2010.Imunologi Dasar.Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedoketeran Universitas Indonesia.
Irianto, Koes. 2006.Mikrobiologi.Bandung: Yrama Widya.
Ismail, Elza. 2012. Flora Normal Tubuh Manusia. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Jawetz, Melnick and Adelberg’s, 2005.Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology).Jakarta: Salemba Medika.
Kamaruddin, F.A., 2012. Gambaran Penggunaan Lensa Kontak Pada Mahasiswa FK USU Dikaitkan Dengan Resikonya Terjadinya Keratitis.Fakultas Kedokteran Universitas sumatera Utara.
Michael J. Pelczar and E.C.S Chan. 2005.Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2.
Jakarta: UIPress.
Raharja, Budi. 2010. Mikrobiologi Untuk Tehnisi Kesehatan: Flora Normal Manusia.Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Staf pengajar Universitas Indonesia. 1998. Buku Ajar Mikro Biologi Kedokteran. Jakarta: Bina Rupa Aksara.