• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL TRO DUALITAS DAN SENSITIVITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODUL TRO DUALITAS DAN SENSITIVITAS"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

STMIK Kaputama Binjai

MODUL 3

DUALITAS DAN SENSITIVITAS

a. DUALITAS

Teori dualitas merupakan salah satu konsep programa linier yang penting dan menarik ditinjau dari segi teori dan praktisnya. Ide dasar yang melatarbelakangi teori ini adalah bahwa setiap persoalan program linier mempunyai suatu program linier lain yang saling berkaitan yang disebut “dual”, sedemikian sehingga solusi pada persoalan semula (yang disebut "primal”) juga memberi solusi pada dualnya. Pendefinisian dual ini akan tergantung pada jenis pembatas, tanda - tanda variabel, dan bentuk optimasi dari persoalan primalnya. Akan tetapi, karena setiap persoalan programa linier harus dibuat dalam bentuk standar lebih dahulu sebelum modelnya dipecahkan , maka pendefinisian dibawah ini akan secara otomatis meliputi ketiga hal di atas.

Dalam sebuah pemodelan Pemrograman Linear, terdapat dua konsep yang saling berlawanan. Konsep yang pertama disebut Primal dan yang kedua Dual. Bentuk Dual adalah kebalikan dari bentuk Primal. Hubungan Primal dan Dual sebagai berikut:

Masalah Primal (atau Dual) Masalah Dual (atau Primal) Koefisien fungsi tujuan ……… Nilai kanan fungsi batasan Maksimumkan Z (atau Y) …………... Minimumkan Y (atau Z)

(2)

STMIK Kaputama Binjai

Bila masalah primal dan dual dibandingkan, terlihat beberapa hubungan sebagai berikut: 1. Koefisien fungsi tujuan primal menjadi konstan sisi kanan masalah dual, sebaliknya,

konstan sisi kanan primal menjadi koefisien fungsi tujuan dual. 2. Tanda pertidaksamaan batasan dibalik.

3. Tujuan diubah dari minimalisasi (maksimalisasi) dalam primal menjadi maksimalisasi (minimalisasi) dalam dual.

4. Setiap kolom pada primal berhubungan dengan suatu baris (batasan) dalam dual, sehingga banyaknya batasan dalam dual sama dengan banyaknya variable primal. 5. Setiap baris (batasan) pada primal berhubungan dengan suatu kolom dalam dual,

sehingga ada satu variable dual untuk setiap batasan primal. 6. Bentuk dual dari dual adalah bentuk primal.

Mencari Solusi Optimum Bentuk Dual

(3)

STMIK Kaputama Binjai

Dual

Maksimalkan: W = 40Y1 + 50Y2 Batasan: 2Y1 + 3Y2 ≤ 3

4Y1 + 2Y2 ≤ 2.5

Bentuk standar simpleks:

Maksimalkan: W = 40Y1 + 50Y2 Batasan: 2Y1 + 3Y2 + Y3 = 3

4Y1 + 2Y2 + Y4 = 5/2

Tabel solusi optimum simpleks

(4)

STMIK Kaputama Binjai

Analisis sensitivitas merupakan analisis yang berkaitan dengan perubahan diskrit parameter untuk melihat berapa besar perubahan dapat ditolerir sebelum solusi optimum nulai kehilangan optimalitasnya. Jika suatu perubahan kecil dalam parameter menyebabkan perubahan drastic dalam solusi, dikatakan bahwa solusi sangat sensitive terhadap nilai parameter tersebut. Sebaliknya, jika perubahan parameter tidak mempunyai pengaruh besar terhadap solusi dikatakan solusi relative insensitive terhadap nilai parameter itu.

Analisis sensitivitas adalah analisis yang dilakukan untuk mengetahui akibat/pengaruh dari perubahan yang terjadi pada parameter - parameter Program Linear terhadap solusi optimal yang telah dicapai.

(5)

STMIK Kaputama Binjai

1. Perubahan koefisien fungsi tujuan untuk variabel nonbasis. 2. Perubahan koefisien fungsi tujuan untuk variabel basis. 3. Perubahan pada ruas kanan suatu pembatas.

4. Perubahan kolom untuk suatu variabel nonbasis. 5. Penambahan suatu variabel atau aktivitas baru. 6. Penambahan suatu pembatas baru.

Contoh :

1. Fungsi Tujuan:

Maksimumkan : Z = 150.000 X1 + 100.000 X2 2. Fungsi Pembatas:

Bahan A : X1 + X2<= 600 Bahan B : 2 X1 + X2<= 1000 Syarat Non negative : X1, X2 >= 0

Model Simpleks Primal 1. Fungsi Tujuan :

Z = 150.000 X1 + 100.000 X2 + 0 S1 + 0 S2 Z – 150.000 X1 – 100.000 X2 – 0 S1 – 0 S2 = 0 2. Fungsi Pembatas : X1 + X2 + S1 = 600

2 X1 + X2 + S2 = 1000 X1, X2, S1, S2 >=0

Tabel Simpleks Iterasi-0

(6)

STMIK Kaputama Binjai

Tabel solusi optimum

Untuk melakukan perubahan-perubahan parameter dalam analisis sensitivitas, perlu diperhatikan matriks invers A (A-1) pada table solusi optimum di atas, yaitu :

Matrik A-1 disebut Matrix Starting Solution yang dijadikan pedoman dalam melakukan perubahan parameter :

1. Perubahan koefisien fungsi tujuan (Cj)

Pada solusi optimum : (C2 C1) kalikan dengan matyrix starting solution, maka

G = 600 (9) + 1.000 (3) = 8.400

2. Perubahan kapasitas sumberdaya bi (NK) :

Pada solusi optimum, kapasitas sumberdaya bi (NK) yang dipergunakan adalah

Z = 150.000 X1 + 100.000 X2 = 150.000 (400) + 100.000 (200) = 60.000.000 + 20.000.000 = 80.000.000

(7)

STMIK Kaputama Binjai

Jadi :

X1 = 300, X2 = 400 dan Z = 150.000 X1 + 100.000 X2 = 150.000 (300) + 100.000 (400)

Gambar

Table simpleks optimum:
Tabel solusi optimum simpleks
Tabel Simpleks
Tabel solusi optimum

Referensi

Dokumen terkait

Diding Sukmadi (58320122): Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap Tingkat Produktivitas Usaha Kecil (Penelitian Pada BMT El-Fajar Jalaksana-Kuningan) BMT El-Fajar adalah

Menambahkan variabel Inside Shareholders, pemegang saham dari pihak luar, profitability, sales growth, age, log asset, firm age, Segmen Dummy variable dan firm size sebagai

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, dengan ini menyetujui untuk memberikan ijin kepada pihak Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus

Agar pelaksanaan fungsi pelayanan kesehatan dapat terlaksana secara optimal, maka kepada pengguna jasa pelayanan kesehatan akan dipungut Retribusi sebagai pembayaan atas

Contoh: Pelanggan yang dalam kurun waktu seminggu melakukan transaksi lebih dari 5 kali di tempat yang sama akan memperoleh diskon untuk semua produk di tempat

Penelitian model APT yang dilakukan oleh Roll dan Ross (1984) yang menjadi rujukan dalam penelitian ini menggunakan 4 (empat) variabel makro ekonomi yang

Selanjutnya menguasa berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling, seperti psikodinamik, perilaku, CBT, SFBT, humanistik- fenomenologi, REBT dan berbagai teknik

5) Menerima pinjaman dari bank lain atau lembaga non bank atas persetujuan Dewan Komisaris. Menerapkan Tata Kelola pada setiap kegiatan usaha BPR di seluruh tingkatan atau