KELOMPOK B
SIMPOSIUM NASIONAL
PENELITIAN DAN INOVASI PENDIDIKAN 2009
JAKARTA 4-6 AGUSTUS 2009
PUSAT PENELTIIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Abstrak Makalah Simposium Puslitjaknov 2009
Pengembangan Model Pembelajaran Kajian Cerpen Berciri Lokal Melalui Pendekatan Integratif Dalam Upaya Memberdayakan Pembelajaran Sastra Di
SMA Jawa Timur
Dr. Ekarini Saraswati, M.Pd, Drs. Ajang Budiman, M.Hum Dra. Ribut Wahyu Erliyanti, M.Si, M.Pd
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi: 1) kegiatan belajar mengajar apresiasi sastra di SMA Jawa Timur, 2) sejumlah cerpen Indonesia mutakhir hasil seleksi peneliti dan praktisi yang sesuai dengan kapasitas mental siswa, yang berlatar budaya Jawa, dan yang dapat dikritisi dari segi budaya yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah, 3) keefektifan model
pembelajaran kajian cerpen dengan pendekatan integrative: Respons pembaca, inkuiri, kajian budaya, dan pedagogi kritik di SMA Jawa Timur.
Cerpen yang terpilih berjumlah 15 buah yang terdiri dari (1) Mbok Jah karya Umar Kayam, (2) Dinding Anak karya Danarto, (3) Pulang karya Ratna Indraswari Ibrahim, (4) Godlob karya Danarto, (5) Burung Bangau karya Ratna Indraswari Ibrahim, (6) Sukab dan Sepatu karya Seno Gumira Adjidarma, (7) Ibu karya Sumartono, (8) Keris karya Purnawan Tjondronegoro, (9) Komponis Tua karya B Sularto, (10) Keningnya Berkeringat karya Sl Supriyanto, (11) Air Mata Tua karya Motinggo Busye, (12) Teko Jepang karya Jasso Winarto, (13) Dilarang Mencintai Bunga -bunga karya Kuntowijoyo, (14) Hati Ibunda karya Bambang Indra Basuki dan Becaaak karya Marselli.
Makalah Simposium Puslitjaknov 2009
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KAJIAN CERPEN BERCIRI LOKAL MELALUI PENDEKATAN INTEGRATIF DALAM UPAYA MEMBERDAYAKAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA JAWA TIMUR
Oleh
Dr. Ekarini Saraswati, M.Pd Drs. Ajang Budiman, M.Hum Dra. Ribut Wahyu Erliyanti, M.Si, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
DAFTAR ISI
Daftar Isi
I. Pendahuluan ... 4
A. Permasalahan ... 4
B. Tujuam Penelitian ... 5
C. Pentingnya Penelitian ... 6
II. Kajian Teori ... 7
A. Model Pembelajaran Sastra dengan Empat Pendekatan ... 7
III. Hasil dan Pembahasan ... 12
A. Kelemahan Pembelajaran Sastra di SMA Jawa Timur ... 12
B. Faktor-faktor Penyebab Kelemahan Pembelajaran Sastra di SMA Jawa Timur ... 13
C. Pengembangan Pedoman Guru dan Buku Ajar Pembelajaran Sastra ... 24
D. Hasil Uji Coba ... 29
IV. Simpulan dan Saran ... 35
I. Pendahuluan A. Permasalahan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Taufiq Ismail (Suara Muhammadiyah, 2002 ) pengajaran sastra di SMA di Indonesia sudah lama tergusur ke pinggir oleh pengajaran tata bahasa dengan perbandingan 10-20% berbanding 90-80%. Begitu juga kewajiban membaca buku sastra terperosok dari 25 buku di Algemeene Middelbare Achool (AMS) Hindia Belanda tahun 1942, menjadi nol buku di SMA kini, yang sudah terjadi 60 tahun sejak 1943-2003.Jika siswa SMA di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku selama tiga tahun, sementara di Jepang dan Swiss 15 buku, serta siswa SMA di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra.
Berdasarkan evaluasi Depdiknas (2000) tentang pelaksanaan pembelajaran sastra selama ini diketahui bahwa terdapat beberapa kendala, yakni (1) Muatan sastra dalam kurikulum Bahasa Indonesia sangat sedikit; (2) EBTA/EBTANAS masih
menitikberatkan pengetahuan faktual dan belum menjangkau apresiasi sastra; (3) Kurangnya kemampuan guru dalam memakai GBPP Bahasa Indonesia termasuk sastra; (4) Kurangnya pemahaman guru Bahasa Indonesia tentang kebermaknaan belajar sastra bagi siswa; (5) Kurangnya kemampuan guru bahasa (secara rata-rata) untuk menyajikan pembelajaran sastra yang menarik; (6) Kurangnya buku-buku sastra di perpustakaan sekolah.
Sejalan dengan itu berdasarkan gambaran hasil penelitian oleh Asri, Mahardi dan Suryatin (dalam Mulyana, 2000:8) menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap hasil pembelajaran sastra terlihat pada komponen sistem Proses Belajar Pembelajaran (PBM) sastra, kurangnya pengakraban pengajar dan siswa terhadap karya sastra dan kurangnya minat baca, pengetahuan kemampuan menelaah, dan pengalaman mengapresiasi karya sastra siswa.
sastrawan saja. Keadaan seperti itu harus segera dicari upaya pemecahannya sehingga pembelajaran sastra tidak semakin terpuruk dan jauh ketinggalan dari pembelajaran mata pelajaran lain.
Upaya-upaya telah dilakukan oleh berbagai kalangan di antaranya upaya yang telah dilakukan oleh Taufik Ismail (Suara Muhammadiyah, 2002) yang bekerjasama dengan Ford Fondation untuk melakukan beberapa program terobosan dalam
meningkatkan kualitas guru, terutama mahasiswa calon guru dalam mengapresiasi karya sastra. Upaya itu di antaranya: pertama, menerbitkan KakiLangit, sisipan untuk anak SMA/SMK/MAN/SLTP di majalah Horison; kedua, pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra); ketiga, SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya); keempat, SBMM (Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca); kelima, LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra); LMCP (Lomba Menulis Cerita Pendek) untuk guru-guru; dan keenam SSSI (Sanggar Sastra Siswa Indonesia). Kegiatan tersebut berlangsung sejak Februari 1999 hingga Oktober 2002, program MMAS sudah berlangsung sebanyak 30 angkatan. Materi pelatihan yang disusun Horison dan dilaksanakan di pusat pendidikan dan pelatihan guru (PPPG) di 11 kota itu melibatkan sekitar 1.500 guru dari berbagai daerah di Tanah Air, kecuali guru-guru dari daerah konflik (Aceh, Papua, dan Maluku). Para guru dilatih oleh tenaga yang kompeten di bidangnya selama 6-7 hari, terutama tentang bagaimana meningkatkan minat siswa membaca dan kemampuan mengarang. Dalam forum itu mereka juga berkesempatan berdiskusi langsung dengan sejumlah sastrawan seputar karya-karya mereka. (Kompas, ) Kegiatan ini diikuti 1500 guru
seluruh tanah air. Adapun hasilnya berupa rekomendasi pelaksanaan pembelajaran sastra di SMA yang di antaranya pembelajaran sastra hendaknya bersifat aplikatif, berorientasi pada empat keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra, buku sastra yang wajib dibaca siswa sebanyak 15 judul, dan EBTANAS tidak hanya pilihan ganda, melainkan juga berbentuk esai
B. Tujuan
pelaksanaan pembelajaran sastra berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi. Secara khusus penelitian ini bertujuan:
1. mengidentifikasi kegiatan belajar mengajar apresiasi sastra di SMA Jawa Timur,
2. memilih sejumlah cerpen Indonesia mutakhir hasil seleksi peneliti dan praktisi yang sesuai
dengan kapasitas mental siswa, yang berlatar budaya Jawa, dan yang dapat dikritisi dari segi
budaya yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah,
3. mengujicobakan keefektifan model pembelajaran kajian cerpen dengan pendekatan integratif:
Respons pembaca, inkuiri, kajian budaya, dan pedagogi kritik di SMA Jawa Timur.
C. Pentingnya Penelitian
Pembelajaran cerpen bukan merupakan pembelajaran teoritis karena cerpen merupakan hasil karya seni yang dalam pelaksanaan pembelajaran perlu adanya
kebebasan memaknai. Pembelajaran yang dibutuhkan pembelajaran yang menyenangkan dan memberikan kesempatan siswa untuk menemukan sendiri makna dalam sebuah cerpen. Pendekatan reader response (respons pembaca) merupakan pendekatan
memaknai cerpen berdasarkan wawasan yang dimiliki siswa. Siswa diberi kebebasan di dalam memaknai sebuah cerpen sesuai dengan kapasitas pengetahuan mereka.
Pendekatan inquiry (inkuiri) merupakan pendekatan yang mempola siswa dalam suatu kondisi penemuan berdasarkan urutan pemikiran ilmiah. Pendekatan ini dapat
memberikan kebebasan siswa untuk menemukan makna dalam sebuah cerpen berdasarkan pemikiran ilmiah.
memberikan suatu terobosan baru dalam mengkaji sebuah cerpen dan diharapkan dapat menggairahkan pembelajaran sastra pada umumnya.
Pembelajaran sastra yang selama ini begitu memprihatinkan, karena belum adanya model pembelajaran yang efektif digunakan, maka model pembelajaran ini dapat
memberikan kontribusi yang positif sehingga mengurangi beban pembelajaran sastra yang selama ini mulai terabaikan.
II. Kajian Teori
A. Model Pembelajaran Sastra dengan Empat Pendekatan
Model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kajian cerpen berciri lokal dengan pendekatan integratif. Pendekatan yang digunakan secara integratif adalah pendekatan pembelajaran hasil modifikasi dari empat pendekatan pembelajaran, yakni pendekatan respons pembaca, inkuiri, kajian budaya dan pedagogi kritis.
1. Pendekatan Respons Pembaca
Respons pembaca merupakan suatu teori yang menekankan pentingnya peranan pembaca di dalam penerimaan teks sastra. Sebuah teks sastra tidak berarti apa-apa tanpa adanya keterlibatan pembaca di dalamnya. Teks sastra akan berubah dari sebuah artefak yang tidak memiliki makna menjadi sesuatu yang bernilai estetis setelah pembaca memberi makna terhadapnya. Hal ini disebabkan karena di dalam kegiatan membaca terjadi interaksi yang aktif dan dinamis antara pembaca dan teks. Ketika pembaca melakukan kegiatan membacanya, pembaca tidak berada dalam keadaan kosong dari konsep-konsep. Menurut Teeuw (1984: 201) pengalaman hidup, pengetahuan, pendidikan merupakan bekal awal yang dimiliki pembaca dalam menetapkan suatu karya yang dihadapinya menjadi karya sastra.
hypothesizing (perumusan hipotesis), exploring (eksplorasi), dan synthesizing(sintesis).
Yang paling penting dalam pembelajaran dengan pendekatan respons pembaca adalah siswa dapat memaknai teks sastra berdasarkan latar budaya yang mereka miliki. Mereka memaknai teks sebagai pembaca berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki dari teks bacaan ataupun pengalaman hidup sehari-hari.
Dalam kelas respons pembaca siswa menjadi aktif karena mereka secara mandiri memaknai teks sastra dan mempertanggungjawabkan penilaian mereka. Manfaat dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan respons pembaca menjadikan siswa lebih kaya dalam penafsiran juga lebih toleran terhadap pendapat teman yang lain. Yang pasti pembelajaran respons pembaca menjadikan siswa pembaca yang kritis. Sementara itu hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dalam penerapan pendekatan respons pembaca dalam pembelajaran kajian cerpen, antara lain dapat digambarkan sebagai berikut: 1)Agnes J Webb (Barr, dkk. 1991: 471) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pendekatan yang berdasarkan resepsi tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan sastra atau kedewasaan kognitif siswa, tetapi pendekatan resepsi tersebut secara signifikan memberikan pengaruh positif pada sikap siswa terhadap sastra. 2) Temuan M. Price (Barr, dkk. 1991: 471) lebih meyakinkan lagi dengan
kesimpulannya bahwa siswa tingkat pertama yang menerima pembelajaran kajian cerpen dengan menggunakan pendekatan resepsi menghasilkan kajian cerpen yang lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan siswa yang menerima pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan tradisional.
2. Pendekatan Inkuiri
berdasarkan pengalaman yang mereka alami dalam kenyataan sehari-hari. Dalam pembelajaran inkuiri guru bertindak sebagai pasilitator yang membimbing siswa dalam proses penemuan dan menghubungkan penemuan sebelumnya dengan penemuan hasil pengalaman siswa.
3. Pendekatan Kajian Budaya
Berkelindan dengan inkuiri di atas berikut ini akan diuraikan tentang kajian budaya dan pedagogi kritis. Pendekatan kajian budaya (The Expanding Canon: Teaching Multicultural Literature in High School,2004) di dalam pembelajaran dilaksanakan dengan mengkombinasikan membaca dan analisis sosial dan sejarah. Di dalam kegiatan membaca siswa berupaya memahami karya sastra secara mendalam bagaimana keadaan sejarahnya, kebiasaan masyarakat, dan media yang bersama-sama menciptakan
lingkungan budaya yang di dalamnya terkandung kepercayaan sebagai penguatan dan pertanyaan. Bersamaan dengan kegiatan membaca siswa menganggap teks sastra itu sebagai suatu produk sosial dengan sejarah khusus dan agenda yang teliti.
4. Pedagogi Kritik
Pedagogi kritik merupakan pendekatan yang memaknai teks sastra sebgai anggota kelompok yang sadar secara politik. Salah satu prinsip utama pedagogi kritik adalah garis besar yang dikemukakan Paulo Freire (The Expanding Canon: Teaching Multicultural Literature in High School,2004) tentang kemapanan kelas yang
Model pembelajaran cerpen dengan pendekatan integratif dapat digambarkan
Skema 2.1 Model Pembelajaran Apresiasi Cerpen dengan Pendekatan Integratif (Respons Pembaca, Inkuiri, Kajian Budaya dan Pedagogi Kritik )
Keterangan 1) Strategi
a) Fase kesatu: siswa menerima informasi tentang prosedur inkuiri dalam
mengkaji cerpen. Siswa menyerap informasi tentang strategi respons pembaca, yakni (1) menyertakan, (2) merinci, (3) memahami, (4) menghubungkan, (5) menafsirkan, dan (7) menilai. Setelah itu siswa dihadapkan pada
pertanyaan-PENGARANG
FASE KE-1 MENGHADAPKAN PD MASALAH (BENTUK & ISI CERPEN, BUDAYA, PEDAGOGI KRITIK)
FASE KE-2 MEMVERIFIKASI DATA FASE KE-3 MENGANALISIS FASE KE-4 MEMFORMULASI FASE KE-5 MENGANALISIS PROSES
pertanyaan cerpen.
b) Fase kedua: siswa menilai data informasi terutama tentang budaya Jawa yang terdapat dalam cerpen serta kritik terhadap kebijakan pemerintah terhadap budaya yang diangkat.
c) Fase ketiga: siswa mengkaji kemungkinan pemecahan masalah yang ada dalam cerpen dengan mengidentifikasi variabel yang relevan, hubungan sebab akibat dan mendiskusikannya.
d) Fase keempat: siswa merumuskan hasil kajian dan menuliskannya dalam bentuk tulisan argumentasi
e) Fase kelima: siswa mengkaji kembali strategi inkuiri serta memberikan
penguatan dan pengayaan terhadap langkah-langkah dan hasil pengkajian yang telah dilakukan.
2) Sistem Sosial
Model ini menuntut siswa untuk memiliki keterbukaan dalam menerima pendapat orang lain dan memiliki semangat untuk bekerja sama. Suasana
pengembangan intelektual harus terbuka, termasuk komuniaksi intelektual antara guru dengan para siswa. Pengaturan ruangan harus mendukung stimulus dan kebebasan siswa untuk mencari, menemukan, dan memecahkan masalah kajian cerpen
3) Prinisp-prinsip Reaksi
Reaksi dari guru terutama dibutuhkan pada fase kedua dan ketiga. Tugas guru pada fase kedua dan ketiga adalah membantu siswa dalam mencari, menemukan dan memecahkan masalah. Guru menjaga agar keiatan tetap pada proses mengkaji cerpen.
kajian yang tentatif yang terbuka uyntuk sebuah perbaikan; dan (d) guru harus dengan bijaksana dapat menganjurkan kepada para siswa untuk mengubah hasil kajiannya.
4) Sistem Penunjang
Penunjang secara optimal dapat berdampak positif pada pelaksanaan model ini ialah bahan yang mempunyai muatan problematik cukup memadai untuk tingkatan siswa SMA. Diharapkan enam cerpen yang diajukan dapat mewakili bahan penunjang
diharapkan.
5. Berciri Lokal
Yang dimaksud dengan berciri lokal artinya materi pembelajaran yang digunakan adalah cerpen yang berasal dari kebudayaan Jawa. Karya fiksi yang dapat dijadikan bahan pembelajaran yang menggambarkan kehidupan orang Jawa di antaranya karya Pramudya Ananta Toer, N.H. Dini, Danarto, Umar Kayam (Mulder) dan Seno Gumira Adji Darma. Cerpen-cerpen yang sarat dengan kebudayaan Jawa di antaranya cerpen karya Danarto yang menggambarkan manunggaling kawula Gusti, Seno Gumira Adji Darma yang sarat dengan kehidupan sehari-hari orang Jawa.
III. Hasil dan Pembahasan
A. Kelemahan Pembelajaran Sastra di SMA Jawa Timur
0. 00% 10. 00% 20. 00% 30. 00% 40. 00% 50. 00% 60. 00%
sedang kurang kurang sekali
prest asi
prest asi
S
Seeddaanngg 1155,,0099%% K
Kuurraanngg 5588,,4499%% K
Kuurraannggsseekkaallii2266,,4422%%
Grafik 3.1 Kelemahan Pembelajaran Sastra di SMA Jawa Timur
dari Kota Malang terdiri dari SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7, SMAN 8, SMAN 9, SMAN 10, SMAN 11, dan SMAN 12. SMAN dari Kota Surabaya terdiri dari SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7, SMAN 8, SMAN 9, SMAN 10, SMAN 11, SMAN 12, SMAN 13, SMAN 14, SMAN 15, SMAN 16, SMAN 17, SMAN 18, SMAN 19, SMAN 20, SMAN 21 dan SMAN 22 dari Kabupaten Mojokerto SMA 10 November, SMK Raden Patah, SMA Manbaul Ulum, Kabupaten Lamongan: MAN Babat, SMA Ta’miriyah, SMK NU, Kabupaten Ngawi: SMAN 2, SMAN 1, Kabupaten Sidoarjo: SMA Antartika, Kabupaten Tuban: SMA PGRI, MA Maibit, Kabupaten Ponorogo: SMA Bakti
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan jumlah kelas bahasa rata-rata hanya satu kelas pada tiap SMA. Jumlah rata-rata siswa satu kelas antara 15 hingga 25 orang. Fasilitas yang tersedia buku teks tersedia di perpustakaan sekolah. Jumlah guru bahasa Indonesia mulai dua hingga empat orang. Media majalah hanya tersedia di satu sekolah SMAN 4 Malang. Sastra Indonesia mulai diajarkan kelas dua di jurusan bahasa. Proporsi siswa dengan buku tidak memadai. Mereka ke perpustakaan apabila ada tugas dari sekolah. Cerpen-cerpen yang diberikan di jurusan bahasa bervariasi bergantung pada pemilihan yang dilakukan guru.
Tabel 3.1 SMA di Jawa Timur yang Dijadikan Sumber Data
3 (SMA PGRI, MA Maibit, SMA Rengel) Tuban
3 (MAN Babat, SMA Ta’miriyah, SMK NU)
Lamongan 6.
3 (SMA 10 November, SMK Raden Patah, SMA Manbaul Ulum)
Kebijakan kepala sekolah lebih banyak dilakukan berdasarkan visi dan misi yang telah digariskan oleh sekolah itu sendiri di samping kecenderungan pandangan yang dianut warga setempat. Kebijakan yang digariskan kepala sekolah SMAN di Kabupaten Bangkalan didasarkan pada visi dan misi sebagian masyarakat di sana yang sebagian besar warganya yang masih memegang teguh ajaran agama Islam sehingga ada
pandangan bahwa Kabupaten Bangkalan antipendidikan. Penggambaran antipendidikan mengakibatkan adanya hukum haram terhadap pelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu, pembelajaran sastra di SMAN Kabupaten Bangkalan kurang berkembang.
Kebijakan kepala sekolah SMAN di Kabupaten Jember tidak secara eksplisit menggariskan adanya penggalakkan pembelajaran sastra di sekolah. Dari tiga SMAN yang diteliti tidak ada kebijakan kepala sekolah yang memberikan perhatian khusus pada bidang sastra.
porsi pembelajaran sastra cukup tinggi. Dari 12 SMAN yang ada di Kota Malang 10 SMAN membuka jurusan Bahasa, hanya dua yang tidak, yakni SMAN 3 dan SMAN 10. Dengan adanya perbedaan penjurusan di sekolah dapat diketahui kebijakan yang
digariskan kepala sekolah SMAN masing-masing.
Di Kota Surabaya tidak semua SMAN membuka jurusan Bahasa. SMAN yang membuka jurusan Bahasa di antaranya SMAN 3, SMAN 8 dan SMAN 21. gambaran ini cukup memprihatinkan karena yang tidak membuka jurusan Bahasa merupakan SMAN favorit.
Yang menentukan pembelajaran sastra di sekolah 100% kepala sekolah, yang mengajarkan sastra 100% guru bahasa Indonesia. Guru sastra Indonesia ditentukan berdasarkan kecenderungan guru itu sendiri yang berminat terhadap sastra.
Pembelajaran sastra tidak termasuk ke dalam tujuan umum sekolah yang diarahkan ke bidang sains. Kendala yang dihadapi karena sastra tidak memberikan masa depan yang jelas. Upaya yang dilakukan kepala sekolah untuk pembelajaran sastra di antaranya dengan mengirim guru pada pelatihan-pelatihan. Pengadaan ekstrakurikuler sastra di sekolah. Fasilitas buku masih sedikit. Pembelajaran sastra sebaiknya yang bermanfaat bagi kelangsungan anak dan menciptakan manusia yang berbudaya.
2. Guru
Ditinjau dari segi latar belakang pendidikan guru yang ada di 34 SMA berasal dari Program Bahasa Indonesia (95%) dan non-Bahasa Indonesia (5%). Latar pendidikan yang dimiliki guru sebagian besar S1 (80%), Pascasarjana (15%) dan SMA (5%). Guru yang berstatus pegawai negeri (85%), honorer (10%) dan guru bantu (5%). Mengingat latar pendidikan yang dimiliki, maka kelayakan mereka sebagai pengajar sudah
0%
Grafik 3.2 Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Mengajar Guru
3. Fasilitas
Fasilitas pembelajaran yang tersedia untuk menunjang pembelajaran sastra terutama perpustakaan dimiliki semua SMAN. Namun, yang jadi permasalahan penyediaan buku sastra serta majalah sastra tidak memadai bagi semua siswa. Di
Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Jember, Kota Malang buku sastra yang tersedia terdiri dari buku-buku lama dan itu tidak bisa dijadikan bahan pembelajaran sastra di sekolah. Keadaan di Kota Surabaya tidak berbeda dengan keadaan di Kota Malang yang menjadi permasalahan adalah penyediaan buku karya sastra. Buku sastra yang tersedia di
Buku sastra
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12%
Jumlah
Buku sastra
Grafik 3.3 Fasilitas Buku Sastra di Sekolah
4. Ekstrakurikuler
Penyelenggaraan ekstrakurikuler yang menunjang pembelajaran sastra misalnya teater hanya terdapat di beberapa sekolah. Di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Jember tidak ada ekstrakurikuler teater, sedangkan di Kota Malang dan Kota Surabaya hanya beberapa SMAN. Di Kota Malang yang menyelenggarakan ekstrakurikuler teater di antaranya SMAN 4, SMAN 8 dan SMAN 9, sedangkan di Kota Surabaya SMAN 16 dan SMAN 21.
5. Prestasi
puisi, yakni SMAN 8 sedangkan di Surabaya SMAN 21.
6. Pendekatan Pembelajaran Sastra
Dari 34 SMA yang diteliti secara umum guru telah berupaya melakukan
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
Jumlah
Jumlah 98% 42% 42% 82% 68%
Mengacu GBPP Sesuai dengan prinsip pengajaran sastra
Tidak sesuai dengan prinsip pengajaran
sastra
Mengumpulkan materi dari berbagai
sumber
Media tv/vcd
Grafik 3.4 Pendekatan Pembelajaran yang Digunakan di Sekolah
Jumlah
68% 74% 74%
89% 84% 42%
5% 5%
demonstrasi bermain peran memberikan pertanyaan dialog memberi tugas simulasi menyanyi tugas diskusi
Jumlah
Grafik 3.5 Teknik Pembelajaran yang Digunakan
84% 95% 89% 89%
0% 50% 100% 150% 200% 250% 300% 350% 400% Jumlah
menyimak berbicara membaca 89% menulis
Grafik 3.6 Keterampilan Berbahasa yang Digunakan
Tabel 3.1 Buku Teks Bahasa dan Sastra yang Digunakan
No Judul Buku Pengarang Penerbit
1. Bahasa dan Sastra Indonesia
Drs. Haris Sunardi Universitas Negeri Malang
2. Mahir Berbahasa Indonesia
FX. Surana Yudistira
3. Sastra Indonesia Moch Ali Armico
4. Semenjana Laminuddin dan Euis Tiga Serangkai
5. Angkatan 66 Prosa Puisi H.B. Jassin Pustaka Jaya
6. Pengantar Apresiasi Sastra
Tengsoe Tjahjono UNS University
7. Kajian Prosa Fiksi Ian Sukasworo Armico
8. Terampil Berbahasa Indonesia
Imam Syafi’i Balai Pustaka
9. Bahasa Indonesia, Berbahasa dan Bersastra Indonesia, LKS S
Sugiyantoro Piranti Grafindo
Sebagian besar guru (68%) menyarankan agar pembelajaran sastra diberikan sebagai mata palajaran khusus dan hanya 11% menyatakan tidak perlu. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran sastra sangat penting untuk diperhatikan karena memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi perkembangan kerpibadian siswa.
Kendala yang dihadapi para guru dalam mengajarkan sastra Indonesia
a. Buku-buku literatur sastra sangat sulit didapat 68%, anak sulit memahami 26%, 10% pengetahuan sastra guru kurang sisanya karena jam pelajaran sastra yang kurang alat peraga kurang, banyak berteori, belum ada LKS khusus untuk pelajaran sastra. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan tersebut? Di antaranya dengan mencari sumber bacaan di perpustakaan daerah, sekalipun koleksinya terbatas 42%/ dibantu dengan media lain 21%, guru keluar dari paradigma teori 16%, sisanya diputarkan VCD, memberikan karya sastra dari kolega
contoh-contoh CD yang menarik, diberi waktu khusus, sering adakan lomba penulisan sastra, droping buku sastra ditambah, pengajaran sastra harus dipisahkan dari bahasa, kreativitas guru sangat penting, bentuk-bentuk sastra temanya lebih humanis, pendidik harus keluar dari paradigma yang membosankan, yang hanya berteori, perlu komunitas guru, mengikuti saja kurikulum KBK, karya-karya dari luar negeri dan dalam negeri seimbang.
Adapun pandangan siswa terhadap pembelajaran sastra 41% menganggap sangat perlu dan 59% menganggap perlu. 53% menganggap pelajaran sastra Indonesia mudah dan 47% menganggap pelajaran sastra Indonesia kurang mudah. 82% menganggap senang belajar sastra dan 18% senang sekali. 76% siswa menyatakan dalam belajar sastra Indonesia tidak digunakan buku sastra Indonesia dan 24% menyatakan
7. Keakraban Guru dan Siswa dengan Cerpen Indonesia Mutakhir yang Berlatar Budaya Jawa
Guru dan siswa mengenal beberapa pengarang yang berasal dari budaya Jawa, yakni Umar Kayam (79%) , Danarto (42%), Ratna Indraswari Ibrahim (37%), Seno Gumira Aji Darma (37%) namun mereka masih kesulitan di dalam memahami isi cerpen tersebut terutama Danarto. Untuk karya Umar Kayam mereka mengenal novel Para Priyayi, cerpen Sri Sumarah, cerpen Bawuk, untuk karya Danarto Godlob, Rintrik, Berhala, Adam Ma’rifat untuk karya Ratna Indraswari Ibrahim cerpen Rambut Juminten, Menjelang Pagi, Senja di Malang dan untuk karya Seno Gumira Aji Darma Saksi Mata
dan Manusia Kamar.
8. Potensi yang Ada di Lingkungan Sekolah
Potensi yang dimiliki Jawa Timur terutama di bidang sastra cukup tinggi di antaranya para sastrawan, Taman Budaya, penyelenggaraan lomba yang berkaitan
dengan sastra. Para sastrawan yang dimiliki daerah Jawa Timur yang sudah diakui secara nasional di antaranya dari Malang cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim, dan dari Surabaya Bonari, Zoya Herawati. Perlombaan menulis cerpen sering diadakan hampir tiap tahun oleh Taman Budaya Surabaya juga Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang.
9. Data Tambahan
Selain keempat kota dan kabupaten di Jawa Timur yang telah disebutkan di atas terdapat beberapa kota/kabupaten yang dapat dijadikan mitra untuk penelitian
berikutnya. SMAN kota/kabupaten lain tersebut yang dipilih memiliki fasilitas serta perhatian terhadap ekstrakurikuler sastra. Adapun SMAN kota/kabupaten tersebut di antaranya SMAN 1 Bojonegoro, SMAN 2 Jombang, SMAN 1 Nganjuk, SMAN 1 Rengel Tuban, SMAN Tulungagung Kedungwaru, dan SMAN Sidoarjo.
C. Pengembangan Pedoman Guru dan Buku Ajar Pembelajaran Sastra
dimasukkan adalah sebagai berikut: Tujuan pengajaran
Kompetensi dasar yang akan dicapai Isi atau materi
Metode atau Kegiatan Belajar Mengajar
Prosedur pengembangan yang sifatnya pengembangan proses melalui beberapa tahap memerlukan cukup banyak waktu. Proses pengembangan melalui tahap-tahap berikut:
1. Pengumpulan informasi
2. Seleksi informasi dari hasil pengumpulan butir 1 3. Memformulasikan tujuan pembelajaran
4. Memilih, menyeleksi dan mengembangkan bahan ajar.
5. Menentukan kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan dan bahan ajar serta dengan pembelajaran.
6. Penulisan manuskrip
7. Melakukan evaluasi dan revisi
8. Penulisan usulan model pembelajaran
Sebagaimana telah diuraikan pada bab tinjauan pustaka pembelajaran sastra tidak dapat dilakukan hanya dari segi kognitif, tetapi dari emotif sehingga pembaca dapat menikmati dan terlibat di dalam karya sastra itu. Pengembangan model pembelajaran sastra dengan pendekatan integratif (inkuiri, respons pembaca, kajian budaya, dan pedagogi kritik) yang mendekati sastra dari segi kognitif dan emotif dapat merupakan alternatif pendekatan pembelajaran sastra yang kondusif. Untuk pengembangan model pembelajaran tersebut tidak terlepas dari rambu-rambu Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pengembangan model pembelajaran sastra ini sesuai dilaksanakan di kelas XII.
penanganan pemerintah terhadap daerah terpencil (Pacitan), Pulang karya Ratna Indraswari Ibrahim, tentang ketoprak perbedaan penanganan kesenian rakyat di daerah.
Godlob karya Danarto, kajian budaya tentang pahlawan, pedagogi kritik terhadap penanganan pemerintah terhadap pahlawan nasional, Burung Bangau karya Ratna Indraswari Ibrahim, kajian budaya tentang pergaulan pria dan wanita di daerah.
Penanganan pemerintah terhadap pergaulan bebas. Cerpen Godlob karya Seno Gumira Aji Darma, kajian budaya tentang kesetiaan. Pedagogi kritik tentang kesetiaan terhadap tanah air
1. Hasil Analisis Pakar
Untuk menganalisis kelayakan buku diperlukan para pakar yang benar-benar kompeten di bidangnya. Adapun para pakar yang dianggap layak untuk dijadikan konsultan berasal dari Universitas Negeri Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang. Untuk bidang sastra pakar yang dijadikan konsultan yakni Dr.Djoko Saryono, untuk pakar di bidang budaya Dr.Arief Budiwuryanto sekaligus merupakan pakar di bidang pendidikan, pakar di bidang ilmu pemerintahan yakni Deden Faturahman, M.A dan pakar di bidang ilustrasi yakni Dra.Yenny M.Si.
2. Ketepatan Isi
Beranjak dari ketepatan isi yang disusun menggambarkan bahwa unsur sastra yang terdapat dalam buku teks dapat mewakili karya sastra Indonesia. Cerpen-cerpen yang diambil memiliki kriteria sebagai karya sastra karena menggunakan bahasa yang tertata baik serta menggambarkan adanya pergulatan batin. Demikian juga dengan pengarang yang dipilih dapat mewakili sastrawan Indonesia. Cerpen yang dipilih
berjumlah 15 buah yang terdiri dari (1) Mbok Jah karya Umar Kayam, (2) Dinding Anak
Dilarang Mencintai Bunga-bunga karya Kuntowijoyo, (14) Hati Ibunda karya Bambang Indra Basuki dan Becaaak karya Marselli
Mbok Jah karya Umar Kayam menceritakan seorang perempuan yang bernama Mbok Jah yang berstatus sebagai pembantu. Keeratan hubungan antara pembantu dengan majikan tergambar ketika keluarga majikan merasa kehilangan karena pembantu itu sudah lama tidak mengunjungi mereka setelah pembantu itu berhenti bekerja.
Dinding Anak karya Danarto menceritakan pergulatan batin seorang Ayah tidak dapat menerima apabila anak kesayangannya diambil Yang Kuasa. Berbagai upaya dia lakukan untuk menghindarkan anaknya dari takdir yang telah digariskan. Pulang karya Ratna Indraswari Ibrahim menceritakan pergulatan batin seorang perempuan yang telah lama hidup di kota untuk pulang kembali ke daerahnya tempat dia dibesarkan oleh kehidupan panggung sebagai pemain ketoprak yang digeluti kedua orang tuanya. Godlob karya Danarto yang menceritakan ambisi seorang ayah yang ingin mendudukkan anaknya sebagai pahlawan sehingga setiap kali terjadi peperangan dia membunuh anak-anaknya demi sebuah penghargaan. Burung Bangau karya Ratna Indraswari Ibrahim menceritakan keingintahuan seorang anak tentang hadirnya seorang adik. Dia hanya mengetahui bahwa adiknya diberikan kepada ibunya melalui burung bangau. Sukab dan Sepatu karya Seno Gumira Adjidarma yang menceritakan kesetiaan seorang lelaki terhadap sepatunya sekalipun sepatunya itu telah jelek. Ibu karya Sumartono
menceritakan perasaan kehilangan kasuh saya seorang ibu karena ibu yang selama ini tinggal di rumahnya bukan ibu kandungnya sendiri. Keris karya Purnawan
Tjondronegoro menceritakan tentang keris sebagai tanda pusaka keluarga dan hanya anak kesayangan ayahnya yang akan dapat warisan itu bagi anak yang tidak menurut kepada ayahnya tidak akan mendapatkan. Komponis Tua karya B Sularto menceritakan seorang laki-laki tua yang memiliki idealisme politik sehingga dia berani berdebat dengan para politikus dari aliran komunis. Keningnya Berkeringat karya Sl Supriyanto menceritakan kesetiakawanan seorang suami terhadap tetangganya yang akan
cucunya semua hartanya habis oleh cucunya dan dia diperlakukan tidak baik oleh cucunya itu. Teko Jepang karya Jasso Winarto menceritakan seorang suami yang senantiasa mengkhayal bahwa dia akan menjadi kaya dengan Teko Jepang yang dia punyai karena dia tidak mampu menghidupi keluarganya dengan layak. Dilarang Mencintai Bunga-bunga karya Kuntowijoyo menceritakan seorang anak laki-laki yang dididik untuk bekerja keras oleh bapaknya dan diajari mencintai bunga-bunga oleh seorang kakek yang menganggap bahwa dengan mencintai bunga-bunga hidup akan tenang. Becaaak karya Marselli menceritakan seorang laki-laki yang tega
mempertahankan harga naik becak yang selisihnya tidak begitu jauh dari harga yang ditawakan tukang becak. Dia menyadari beratnya bekerja sebagai tukang becak setelah ibunya menyuruh dia untuk suatu hari membayangkan menjadi tukang becak.
Dari unsur pendidikan cerpen-cerpen yang dipilih sudah sesuai dengan
perkembangan mental anak Berdasarkan Beach (1991) cerita yang dipilih untuk anak SMA memiliki plot yang tidak terlalu rumit, tokoh yang unik menampilkan hubungan sosial dan masalah sosial yang tidak terlalu kompleks. Mbok Jah menceritakan
hubungan yang harmonis antara majikan dan pembantunya, Dinding Anak, Pulang,
Godlob, Burung Bangau dan Becaak menceritakan hubungan kasih sayang antara orang tua dan anaknya. Sukab dan Sepatu menceritakan perasaan cinta terhadap benda
kesayangan, Ibu dan Keris menceritakan hubungan kakak beradik, Teko Jepang dan Hati Ibunda menceritakan hubungan kasih sayang suami istri. Komponis Tua dan Keningnya Berkeringat menceritakan hubungan sosial di dalam masyarakat
Ditinjau dari segi pendekatan pembelajaran yang digunakan menunjukkan adanya pengkondisian kegiatan belajar yang terfokus pada siswa. Ini terlihat dari pendekatan inkuiri yang memungkinkan siswa dapat berperan aktif memecahkan masalah yang diberikan guru. Model ini juga dapat meningkatkan kreatifitas anak terutama dalam bidang menulis argumentasi.
Dari unsur kebudayaan sudah menggambarkan kehidupan di lingkungan suku Jawa. Mbok Jah menggambarkan sekatenan, Dinding Anak menggambarkan tentang konsep pasrah, Pulang tentang ketoprak, Godlob tentang kepahlawanan, Burung Bangau
Jawa, Keris tentang keris Jawa, Komponis Tua rasa bebas, Keningnya Berkeringat
pergaulan, Air Mata Tua ngilmu kesempurnaan, Teko Jepang senang susah, Dilarang Mencintai Bunga-bunga mengatasi keinginan, Hati Ibunda rasa abadi, dan Becaak
mawas diri. Pedagogi: pelestarian cagar budaya, teknologi nuklir untuk mengatasi krisis air di Gunung Kidul, perhatian pemerintah tentang ketoprak, penghargaan pemerintah terhadap pahlawan nasional, kebijakan pemerintah terhadap pornografi, kesetiaan pada negara, Kebijakan pemerintah terhadap anak kecil, pelestarian benda pusaka, royalti bagi seniman, kebijakan pemerintah terhadap ibu hamil, tentang manula, kebijakan
pemerintah terhadap harta karun, bunga potong, guru, dan rakyat kecil.
3 Ketepatan Bahasa
Bahasa yang digunakan sudah menunjukkan penggunaan kalimat yang koheren artinya menunjukkan adanya hubungan antar kalimat, memiliki kohesi yang
menunjukkan adanya kesatuan hubungan makna antar kalimat dan sesuai dengan konteks yang digunakan. Bahasa yang digunakan untuk siswa SMA tidak terlalu rumit tapi cukup jelas menunjukkan adanya muatan pengetahuan. Kalimat-kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang tetapi diupayakan jelas.
4 Ketepatan Ilustrasi
Beberapa komponen yang menggambarkan ilustrasi di antaranya ukuran buku, jenis hurufjilid buku. Ukuran buku yang digunakan 16,5 x 24 cm, ukuran huruf menggunakan Times New Roman 12 dan ilustrasi gambar disajikan pada setiap teks cerpen.
D. Hasil Uji Coba
Peristiwa yang tidak masuk akal bagi siswa saat seseorang memakai sepatu berusia 17 tahun, saat sepatu sepasang sepatu saling berbicara. Konsep kesetiaan bagi siswa berpegang teguh pada prinsip. Sebagian besar siswa beranggapan apabila jadi Sukab tidak ambil pusing dengan sepatu Tidak terlalu ambil pusing hanya karena masalah sepatu . Segi bahasa: mudah/ menarik, mudah dipahami/ cukup dimengerti/ bisa dimengerti walau banyak kiasan/ seperti bahasa sehari-hari. Secara emosi siswa
merasakan bingung, ceritanya tidak dilanjutkan sehingga pembaca tidak mengetahui apa yang akan dipilih Sukab, bagus.
Strategi membaca yang digunakan siswa sudah pada taraf memahami dan
menerangkan. Artinya siswa sudah dapat memahami alur, tokoh, latar, bahasa dan gaya yang digunakan pengarang dan dapat menerangkan kejadian dibalik unsur-unsur tersebut. Di antararanya siswa dapat menerangkan mengapa aeorang ayah membunuh anaknya, mengapa seorang ibu memarahi anaknya dan mengapa seorang teman wanita memperhatikan tokoh Sukab. Dari segi emosi yang dikemukakan siswa sudah dapat mengemukakan perasaannya dengan disertai alasan.
2. Pola Penerimaan Cerpen Godlob karya Danarto
Siswa pada umumnya sudah dapat merumuskan peristiwa-peristiwa yang ada di dalam cerpen. Pada peristiwa pertama pada umumnya terdapat tiga peristiwa yang berbeda yang dikemukakan siswa, yakni 1) tentang keadaan sesudah perang di sebuah padang yang luas, 2) tentang seorang ayah yang kecewa, 3) tentang gerombolan burung gagak yang memakan bangkai prajurit.
Pada peristiwa kedua tergambar: 1) burung gagak yang memakai bangkai, 2) tentang ayah yang membunuh anaknya, 3) tentang ayah yang menggotong mayat anaknya.
Pada peristiwa ketiga: 1) terbunuhnya seorang anak di tangan ayahnya, 2)
kedatangan seorang Ibu yang membawa mayat anaknya, 3) Anaknya dianggap seorang pahlawan oleh masyarakat dan pembesar.
yang telah membunuh anak-anaknya.
Peristiwa kelima: 1) pembunuhan seorang istri kepada suaminya
Untuk pertanyaan yang berkenan dengan peristiwa logis dan tidak logis. 90% siswa mengatakan peristiwa yang ditampilkan dapat diterima akal, karena pembunuhan seorang anak oleh ayahnya dianggap biasa pada masa ini.
Latar tempat yang siswa ungkapkan meliputi: padang pasir yang luas di sebuah padang yang luas yang tidak ditumbuhi pepohonan. Di jalan yang terletak di tengah-tengah kota, di negara yang sedang dilanda perang, di medan perang, di sebuah kota, di suatu kota yang sedang mengalami perang. Bangunannya berupa tembok-tembok kusam bermatel tua, di sebuah kota di dekat padang pasir yang tandus, kota yang senang akan pertempuran, di padang gundul dan tempat pemakaman jenazah pahlawan, di masa perang, di sebuah tanah lapang yang luas dengan tumbuhan alang-alang
Seratus persen siswa tidak mengetahui istilah godlob, karena baru pertama kali mereka mendengar istilah tersebut. 70% menganggap bahasa yang digunakan sulit karena terlalu banyak menggunakan majas dan puisi
80% siswa tidak setuju dengan konsep pahlawan yang digambarkan dalam cerpen. Menurut mereka pahlawan merupakan orang yang berjasa bagi masyarakat bukan hanya orang yang gugur di medan perang. Tidak, karena pahlawan adalah seseorang yang meninggal
Tokoh Ibu merupakan pilihan kedua (40%) karena menurut mereka sangat berani dan cerdas dan rela menyerahkan semua anaknya untuk dijadikan pahlawan. Alasan yang mereka kemukakan. 1) Sebagai Ibu yang baik dia rela anak-anaknya ikut membela tanah air ini tanpa mengharapkan imbalan dan ikhlas merelakan kepergian anaknya. 2) Karena sangat pemberani dan cerdas (bisa tahu kalau anaknya dibunuh). 3) Karena Ibu berani membuka kebohongan yang terjadi dalam cerita tersebut. 4) Karena sang Ibu rela menggali kuburan anaknya dan membeberkan penipuan suaminya di depan semua orang
20% memilih ayah karena dia telah berlaku kritis untuk menyadarkan pembesar yang egois dengan membunuh anaknya sendiri. karena ia memiliki pemikiran yang kritis dan ia rela membunuh anaknya sendiri. Untuk tegaknya keadilan di negara tersebut dan menyadarkan para pembesar yang egois. Karena keinginannya yang sangat besar untuk menjadikan anak bungsunya sebagai pahlawan.
Pendapat mereka tentang gaya penceritaan di antaranya berpendapat menarik, menampilkan cerita yang jarang ditemui pada cerita lain. 50% merasa jengkel karena cerita tidak berakhir bahagia. Karena seorang Ayah tega membunuh anaknya. Karena ayahnya sendiri tega membunuh anaknya hanya karena ingin diberi gelar pahlawan.
3. Perbedaan hasil belajar Pengkajian Cerpen Siswa .SMA Negeri I Malang antara Kelomlok eksperimen dan Kelumpok Kontrol
Perbedaan liasil belajar pengkajian cerpen siswa SMA Negeri I antara kelompok eksperimen (MMI) dengan kelompok kontrol (MMK) adalah signifikan. Temuan ini berdasarkan hasil uji t test dan uji ANAVA yang menunjukkan terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar pengkajian cerpen antara MMI dengan MMK. Artinya, MMI lebih meningkatkan hasil betajar siswa dibandingkan dengan MMK. Jadi, MMI dapat meningkatkan liasil belajar pengkajian cerpen siswa.
Dengan kata lain, kemampuan siswa dalam mengkaji cerpen dari yang tidak bisa menjadi bisa atau dari yang kurang menjadi baik. Penjelasan yang lebih rinci mengenai unsur-unsrrr yang meningkat dalam kemampuan siswa mengkaji cerpen ini secara lengkap diuraikan dalam sub bab Fi. I, yaitu tentang keterpahaman unsur-unsur kajian cerpen oleh siswa kelompok MMI dan f{.2 untuk kelompok h1MMK. Misalnya, sebagian besar siswa kelompok eksperimen (MMI) mampu memahami tingkat informasi dalam jenjang ingatan, yaitu mengingat judul-judul cerpen yang berkaitan dengan pengarang cerpen “Godlob” Pada jenjang pemahaman kemampuan siswa tentang amanat dari aku lirik masih kurang. Artinya, tingkat infonnasi pada jenjang pemahaman ini menjadi titik lemah siswa dalam memahami cerpen “Godlob”
Perbedaan kemampuan siswa dalam mengkaji cerpen setelah MMI ini dapat dilihat dari hasil uji perbedaan dua rata-rata antara pretes dengan postes. lni pun dapat dibuktikan karena perbedaannya sangat signifikan dengan tng(14,95) >(2,617) pada p < 0,01 dalam df = 76. Hasil uji perbedaan ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa mengkaji cerpen sesudah proses belajar MMI lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan sebelum proses belajar MMI.
Selain diuji perbedaan antara hasil pretes dan postes, juga diuji perbedaan antara hasil postes mengkaji cerpen antara kelompok eksperimen (MMI) dengan kelompok kontrol (MMK). Hasil uji ini pun membuktikan bahwa perbedaannya signifikan, karena tng (13,46) > t4,b., (2,686) pada p < 0,01 dalam df = 80. Data ini pun menunjukkan
bahwa kemampuan siswa dalam mengkaji cerpen dengan menggunakan MMI lebih tinggi'dibandingkan dengan MMK.
Untuk lebih lengkapnya, pengujian perbedaan kedua variabel ini diuji dengan ANAVA. Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa perbedaan peningkatan hasil belajar antara kelompok eksperimen (MMI) dengan kelompok kontrol (MMK) signufikan, karena Fig(349,49) > FL,t(7,35) pada p < 0,01.
Temuan penelitian di atas sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh M. Price ( Barr dkk., 1991:471), yaitu siswa tingkat pertama yang menerima pengajaran pengkajian cerpen dengan menggunakan pendekatan respons pembaca menghasilkan kajian cerpen yang lebih tinggi kualitas meresponsnya, dibandingkan dengan siswa yang menerima pengajaran dengan menggunakan pendekatan
tradisional. Di samping itu, hasil penelitian yang lain menunjukkan pula bahwa pendekatan respons pembaca ini secara signifikan memberikan pengaruh positif pada sikap siswa terhadap sastra (Webb dalam Barr dkk., 1971:471). Teori yang
menunjang hasil penelitian ini telah dikemukakan pula oleh Apes J. Webb (Cooper, 1985 :274) bahwa respons pembaca yang menurut istilah Louise M. Rosssenblatt ialah tran.cactive response : Transactive response to literature asserts that the reading of workks is not merely the communication of a massage to a passive receiver; the
transaction is an interna l a ctivity in which the rea der recrea tes the text a nd confers
mea ning on the work.
Dengan demikian, temuan penelitian ini yang menyebutkan bahwa.MMI lebih
meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan MMK telah sesuai dengan teori dan hasil penelitian sebelumnya, yang berarti temuan penelitian ini telah memperkuat hasil-hasil penelitian sebelumnya. Temuan penelitian ini telah lebih merinci lay hasil penelitian sebelumnya dengan cara mengkaji perbedaan peningkatan hasil belajar, keterkaitan dan detenninasi hasil belajar sebelum dan sesudah perlakuan MMI dan MMK, keterpahaman cerpen oleh siswa, serta kualitas proses belajar menbajar pengkajian cerpen.
Di bawah ini dibahas perbedaan peningkatan hasil belajar pengkajian cerpen antara MMI dan MMK cerpen .“Sukab dan Sepatu” yang diajarkan
seperti “Sukab dan Sepatu” dapat meningkatkan hasil belajar pengkajian cerpen siswa. Hasil pengujian rata-rata pretes dan postes mengkaji cerpen “Sukab dan Sepatu”; kelompok MMI menunjukkan bahwa rata-rata pretes 47,72 dan rata-rata postes 60,89. Dilihat dari perbedaan rata-ratanya, kemampuan siswa dalam mengkaji cerpen “Sukab dan Sepatu” dengan MMI meningkat dari rata-rata 47,72 menjadi 60,89. Hasil pengujian rata-rata prztes dan postes kemampuan mengkaji cerpen "Sukab dan Sepatu" kelompok kontrol (MMK) juga meningkat dari 47,12 menjadi 56,60. Apabila rata-rata hasil postes kelompok MMI dibedakan dengan rata-rata hasil postes kelompok MMK, maka
perbedaannya kecil yakni 4,29. Hal ini pun dibuktikan berdasarkan hasil uji perbedaan dua rata-rata postes kelompok MMI dengaii kelompok MMK tidak ada perbedaan yang berarti karena t,(1,75) < tut(2,686) pada p < 0,01 dalam d f= 80.
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara MMI dan MMK dalam mengajarkan cerpen “Sukab dan Sepatu” disebabkan karakteristik jenis cerpen ini lebih mudah dipahami bila dibandingkan dengan cerpen “Godlob”. Cerpen-cerpen yang memiliki ciri cerpen naratif, deskriptif, atau diafan dapat diberikan dengan MMI dan M1MSS.
Cerpen yang berkarakteristik polos atau transparan dan menggunakan diksi yang tidak terlalu memiliki muatan imajinatif akan mudah dipahami oleh siswa. Dengan
menggunakan model mengajar apa pun, misalnya MMI dan MMK, pembelajaran cerpen seperti di atas akan meningkatkan hasil belajar siswa.
I. Simpulan dan Saran 1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan: Pertama, Pembelajaran sastra di SMA Jawa Timur masih lemah dilihat dari Nem hasil ujian akhir di bidang mata pelajaran sastra yang kurang. Dari 106 SMA jurusan Bahasa menunjukkan 16 sekolah atau 15,09 % memiliki kualitas sedang, 62 sekolah atau 58,49% memiliki kualitas kurang dan 28 sekolah atau 26,42% memiliki kualitas kurang sekali. Jadi, sebagian besar penguasaan siswa terhadap sastra kurang.
kepala sekolah sehingga tidak setiap SMA memiliki jurusan bahasa karena berdasarkan tujuan yang telah digariskan sekolah. Yang menentukan pembelajaran sastra di sekolah 100% kepala sekolah, yang mengajarkan sastra 100% guru bahasa Indonesia. Guru
sastra Indonesia ditentukan berdasarkan kecenderungan guru itu sendiri yang berminat terhadap sastra. Pembelajaran sastra tidak termasuk ke dalam tujuan umum sekolah yang diarahkan ke bidang sains. Kendala yang dihadapi karena sastra tidak memberikan masa depan yang jelas.
Ketiga, fasilitas yang tersedia kurang memadai terutama penyediaan buku sastra yang dapat digunakan sebagai bahan penunjang pembelajaran sastra. Ini yang
merupakan bagian yang harus menjadi perhatian berbagai pihak. Untuk itu diperlukan penyediaan buku teks sastra yang memadai.Buku ajar sastra yang ditujukan untuk siswa SMA disusun dengan memerlukan kecermatan dalam memilih materi cerpen karena dalam kesusastraan Indonesia saat ini belum banyak materi cerpen yang tersedia. Materi cerpen yang tersedia sebagian besar merupakan hasil ekspresi pengarang tanpa adanya muatan pendidikan di dalamnya.
Keempat, pendekatan pembelajaran sastra yang mampu menciptakan kegiatan belajar yang kondusif bagi siswa SMA perlu memikirkan perkembangan mental mereka. Di satu pihak kegiatan belajar harus dapat menciptakan kreatifitas berpikir siswa dan di lain pihak kondisi tersebut harus sesuai dengan tingkat mental siswa.. Untuk
meningkatkan pembelajaran sastra yang diharapkan perlu dilakukan berbagai penelitian dengan berbagai pendekatan. Perlu ada semacam terobosan dengan menjalin kerja sama dengan luar negeri.
Kelima, Pada umumnya penerimaan siswa terhadap ketiga cerpen yang diberikan menunjukkan pemahaman yang cukup. Dari segi intelektual mereka sudah dapat
mengungkapkan struktur sastra yang terdapat di dalam cerita. Pada cerpen Godlob
Pada aspek emosional mereka merasa jengkel terhadap cerpen Godlob karena tidak diakhiri dengan happy ending. Pada cerpen Burung Bangau mereka merasa jijik dengan cerita yang ditampilkan dan pada cerpen Sukab dan Sepatu mereka merasa bingung dengan akhir cerita.
Kemampuan penerimaan siswa terhadap cerpen Indonesia mutakhir tidak terlepas dari kemampuan guru bahasa Indonesia yang mampu menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan, sekalipun fasilitas buku sastra yang tidak memadai.
Perbedaan hasil belajar pengkajian cerpen siswa SMA Negeri I antara kelompok eksperimen (MMI) dengan kelompok kontrol (MMK) adalah signifikan. Temuan ini berdasarkan hasil uji t test dan uji ANAVA yang menunjukkan terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar pengkajian cerpen antara MMI dengan MMK. Artinya, MMI lebih meningkatkan hasil betajar siswa dibandingkan dengan MMK. Jadi, MMI dapat meningkatkan liasil belajar pengkajian cerpen siswa.
2. Saran
Untuk meminimalisasi kelemahan pembelajaran sastra diperlukan kesiapan kepala sekolah yang berwawasan sastra yang baik perlu dilakukan penataan bagi para kepala sekolah. Diperlukan fasilitas yang menunjang terutama buku.
Kemampua mengajar guru sasta perlu ditingkatkan. Dengan dilaksanakan berbagai pelatihan,
Kemampuan penerimaan teks cerpen siswa sudah memadai, daya nalar mereka berjalan sekalipun fasilitas perpustakaan minim. Pembelajaran sastra perlu
ditingkatkan dengan pengadaan buku sastra yang memadai dan menciptakan kondisi yang dapat meningkatkan minat siswa terhadap sastra misalnya: lomba kegiatan sastra yang dilakukan secara terus menerus
Buku ajar sastra yang ditujukan untuk siswa SMA disusun dengan memerlukan kecermatan dalam memilih materi cerpen karena dalam kesusastraan Indonesia saat ini belum banyak materi cerpen yang tersedia. Materi cerpen yang tersedia sebagian besar merupakan hasil ekspresi pengarang tanpa adanya muatan pendidikan di dalamnya.
kondusif bagi siswa SMA perlu memikirkan perkembangan mental mereka. Di satu pihak kegiatan belajar harus dapat menciptakan kreatifitas berpikir siswa dan di lain pihak kondisi tersebut harus sesuai dengan tingkat mental siswa.
Daftar Pustaka
Ajidarma, Seno Gumira. 2001. “Sukab dan Sepatu” dalam kumpulan cerpen Dunia Sukab. Jakarta: Kompas
Barliana, N.R. Mengajarkan Sastra yang Menarik. Pikiran Rakyat 5 September 2003 http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0903/05/0803.htm, diakses 11 Maret 2004 Barr, Rebecca, et.al. 1991. Handbook of reading Research. Volume II. New York:
Longman.
Beach, Richard W & Marshall. 1991 Teaching Literature in the Secondary School. USA: Harcourt Brace Javanovich. Inc.
Cooper, C. ed. 1985. Researching Response to Literature and the Teaching of Literature.
New Jersey: Allex Pub. Corporation
Danarto. 1987. “Godlob” dalam kumpulan cerpen Godlob. Jakarta: Grafiti Pers. Danarto. 1987. “DindingAnak” dalam kumpulan cerpen Berhala. Jakarta: Pustaka
Firdaus.
Gafar, Irfan Abdul D.M. 2002. Pengembangan Paket Pembelajaran Mata Kuliah
Perancangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di STAIN Datokarama Palu. Malang: Universitas Negeri Malang. Disertasi
Gagne, R.M. & Briggs, L.J. 1979. Principles of Instructional Design. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Herusatoto, Budiono. 2000. Simbolisme da la m Buda ya J a wa. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia
Ibrahim, Ratna Indraswari. 2001. “Burung Bangau” dalam kumpulan cerpen Namanya Massa. Yogyakarta: LKiS
Kayam, Umar. 1996. “Mbok Jah” dalam Kumpulan Cerpen Parta Krama. Jakarta: Gramedia
Ismail, Taufik, “Menyembuhkan Bangsa yang Rabun Membaca”, Suara Muhammadiyah, No. 22/Th. Ke-87/16-30 November 2002
Mulyana, Yoyo. 2000. Keefektifan Model Pembelajaran Estetika resepsi dalam Pembelajaran Kajian puisi. Disertasi