Cabe rawit merupakan salah satu jenis cabe yang sangat populer untuk di budidayakan. Cabe rawit atau “Capsicum frutescens” ini sangat cocok sekali di tanam di daerah tropis ya itu di sekitar garis khatulistiwa. Syarat tumbuh cabe rawit antara ketinggian 0-500 mdpl. Namun dari hasil uji lapangan tanaman ini dapat tumbuh di ketinggian 1000 mdpl, namun dengan ketinggian tempat akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam berproduksi, biasanya dalam pembentukan buah yang tidak maksimal.
Di indonesia sendiri banyak sekali jenis cabe budidaya yang sampai saat ini menjadi kebutuhan masyarakat luas. Jenis cabe dari keluarga
“capsicum” ini menghasilkan parian dengan kebutuhanya masing-masing, jenis cabe budidaya yaitu :
Jenis cabe besar (Capsium annum L)
Cabe merah besar
Cabe merah keriting (Capsicum Annum var longum)
Cabe hijau
Jenis cabe rawit (Capsium frutescens)
Jenis cabe hibrida
Untuk lebih jelasnya anda dapat baca artikel : Mengenal macam macam jenis cabe
Di dalam budidaya cabe rawit anda harus mengetahui bagaimana sifat dan karakter cabe. Biasanya jenis cabe apapun hampir sama dalam
daerah yang di sukainya sehingga bobot pada buah cabe rawit akan berkurang “ ringan “.
Tanaman ini sangat unik sekali karena banyak sekali manfaatnya untuk penkonsumsinya. Melalui penelitian yang dilakukan di laboraturium inggris, pada buah cabe rawit dapat mencegah kangker, meningkatkan nafsu
makan, untuk memperlambat penuaan, mengatasi struk, menjaga dan merawat jantung, untuk mengatasi nyeri pada sendi dan merawat tubuh anda.
Di daerah yang berbeda tentu cara penyebutkanya berbeda.
Indonesia Cabai, cabe merah, lombok gede, cabe. Inggris chili pepper
Pilipina Siling Haba Cina la jiao
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas Asteridae
Ordo Solanales
Famili Solanaceae (suku terung-terungan) Genus Capsicum
Jika anda ingin membudidayakan cabe rawit, sebenarnya sangat mudah sekali jika anda sudah mengetahui sayarat tumbuhnya, karena di
bandingkan dengan cabe besar yang cenderung banyak sekali resikonya. Jika ke duanya di budidayakan dengan serentak, kemungkinan pada hama dan penyakit yang beradi di tanaman cabe besar dapat menyerang cabe rawit. Di sarankan anda tidak membudidayakan dengan sekaligus dari dua jenis ini.
Langkah Awal Budidaya Cabe Rawit
Hal pertamakali yang anda harus lakukan untuk budidaya tanaman ini, anda harus memilih varietas apa yang cocok di daerah anda. Di sarankan anda menggunakan varietas :
Bara
Pelita F1
Taruna
Dewata F1
Juwita F1
Pemilihan Benih Cabe Rawit
Banyak sekali jenis cabe rawit untuk budidaya dengan jenis dan
keunggulannya masing-masing, anda dapat memilih jenis hibrida seperti jenis cabe rawit di atas. Perhitungan untuk modal utama anda di ukur dan di jumlah terlebih dahulu berapa kebutuhan bibit cabe rawit untuk luas lahan. Jika anda ingin menekan biaya, kami sarankan untuk membuat penyeleksian benih cabe secara manual “ membuat benih cabe sendiri “ yang di perkirakan cocok untuk kondisi lahan and, benih yang di hasilkan biasanya di dapat dari tanaman yang sebelumnya setelah masa dormansi selesai, di sarankan benih yang di hasilkan dari panen ke 4 sampai ke 6 untuk ke 6 ke atas, kami sarankan jangan gunakan lagi, karena hasilnya akan lebih buruk jika di paksakan dan tidak optimal.
yang di hasilkan akan meningkat lebih banyak tetapi kecil – kecil. Untuk memilih benih cabe rawit yang baik, pilih beberapa tanaman yang sehat dan terlihat kuat. Dari tanaman tersebut pilih buah yang bentuknya sempurna, bebas dari serangan penyakit dan hama. Kemudian biarkan buah tersebut menua pada pohon. Kalau memungkinkan biarkan buah hingga mengering di pohon.
Setelah buah di ambil buahnya, potong dengan arah membujur pada kulit buah. Pisahkan kulit buah dan biji yang terdapat pada ujung-ujung buah untuk di ambil bagain tengah buah, karena di dalam buah bagaian tengah biasanya lebih berkualitas di bandingkan dengan biji yang terdapat pada ujung buah.
Rendam semua biji seleksi anda pada larutan air bersih, tujuanya agar biji dapat di pastikan bersih dari kotoran yang menempel. Dengan merendam biji cabe rawit di dalam air, anda dapat melihat biji yang benar-benar baik, di tandai dengan tenggelamnya biji biasanya itu lah biji yang berkualitas. Buang semua biji yang mengapung di air, kemudian siapkan tampan “ wadah untuk menjemur biji “ untuk di jemur selam 3 hari.
Berbeda lagi dengan sasaran untuk organik, biasanya untuk yang organik di bedakan dengan proses perendaman yang menggunakan fungisida tujuanya agar biji dapat terhindar dari jamur.
Kita dapat mengukur dari kandungan air atau kadar air pada biji, hal ini sangat penting untuk tujuan kita, jika anda ingin menyimpan biji ini dengan jangka waktu yang panjang kadar air yang di gunakan harus benar-benar kering, jika kering kemungkinan anda sudah berhasil untuk membuat biji dengan proses dormansi “ dormansi adalah proses masa tidur tanaman “ dan bisa di simpan lebih dari 2 tahun dalam penyimpanan.
Benih yang baik anda bisa menggunakan pengecekan “ uji kecambah “ biji cabe rawit dapat tumbuh hingga 80 % ke atas. Jika anda mengecek daya kecambah kurang dari 50 % lebih baik jangan di tanam.
Ada beberapa faktor di dalam pertumbuhan, saya sarankan anda membaca panduan ini : 4 Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman
Persemaian benih cabe rawit
sinar matahari langsung, kesetabilan suhu, menghindari dari hujan, kelembaban yang terjaga dan terpaan angin.
Siapkan polybag ukuran 5×10 cm, untuk di isi tanah semai hingga ¾ bagian. Untuk membuat media persemaian, anda dapat membuat sendiri dengan campuran tanah, arang sekam dan kompos perbandinganya 1: 1 : 1. Media semai harus memiliki setruktur yang gembur dan halus bertujuan untuk mempermudah perakaran benih, untuk mencapai setruktur tersebut anda perlu mengayak semua bahan di atas.
Semua bahan sudah siap, kemudian langkah selanjutnya anda harus merendam biji yang tadi anda keringkan dalam air hangat selama 6 jam tujuanya agar menghilangkan proses dormansi biji cabe rawit. Kemudian tanam biji ke dalam polybag sedalam 0,5 cm, tutup biji dengan tanah semai.
Kemudian kita lakukan perawatan dengan penyiraman secara teratur setiap pagi dan sore. Untuk menghindari kucuran air yang terlalu deras, di sarankan menggunakan penutup bagian atas benin dengan kertas koran. Kemudian siram menggunakan gembor jika menggunakan gembor, air yang turun akan jatuh pada polybag secara berlahan dan kesetabilan kelembaban akan terjaga karena kertas koran tersebut.
Setelah dua minggu dapat di pastikan bibit siap tanam. Tapi biasanya pada hari ke-7 bibit sudah mulai tumbuh. Bibit cabe rawit baru bisa dipindahkan ke lahan terbuka setelah berdaun 4-6 helai atau kira-kira berumur 1 hingga 1,5 bulan.
Pengolah lahan dan penanaman cabe rawit
Bibit yang kita siapkan sudah benar-benar siap untuk di tanam, kemudia anda siapkan lahan untuk penanaman, pengolahan lahan bisa kita
gunakan dengan cara membjaknya dengan kedalam 40 cm.
Kita ukur ph tanah, jika lahan terlalu asam anda bisa menetralkan dengan menambahkan kapur dolomit, biasanya di berikan dengan kisaran 1-4 ha/ton tergantung dari tingkat ke asaman pada lahan.
Jika anda ingin menambah kualitas produktivitas kami sarankan agar menggunakan mulsa hitam perak, namun anda harus mempertimbangkan dengan segi biaya, karena menggunaka mulsa hitam perak biaya lumayan besar. Karena jika di lihat dari pasaran cabe rawit di pasaran agak kurang jika di bandingkan dengan cabe besar, jika di kolkulasikan akan rugi.
Berbicara tentang mulsa, sebenarnya ada alternatif lain untuk menghemat biaya yang kita keluarkan oleh petani. Anda dapat menggunakan mulsa organik dengan memanfaatkan jerami dan potongan batang jagung halus. Buat lubang tanam dengan pola zig-zag dengan ukuran 50-60 cm, lubang tanam dibuat dalam dua baris dalam satu bedengan dengan jarak antar baris 60 cm. Pembuatan lubang dibuat zig-zag tidak sejajar. Hal ini
berguna untuk meningkatkan penetrasi sinar matahari dan sirkulasi udara. Kemudian tahap transplanting “ pemindahan bibit dari polybag ke lahan “, sobek bagain polybag kemudian masukan kedalam lubang tanam dan tutup perakaran menggunakan tanah. Di sarankan anda melakukan transplanting pada saat pagi hari atau sore hari. Dan usahakan anda menanam dengan cepat dan rapi dalam satu hamparan 1 ha sehari sudah berse dengan serentak.
Prawatan dan pemeliharaan cabe rawit
Dalam pemeliharaan tanaman cabe rawit cukup mudah, penyiraman bisa di lihat dari kelembaban tanaman, bila tanah mengering kita siram
menggunakan air dengan kelembaban kisaran 70% dari keseluruhan. Di dalam pengiran anda bisa menggunakan sistem leb bedengan “ merendam semua bedengan dengan ketinggian setengah dari bedengan “ namun metode ini jika di daerah anda banyak tersedia air.
Pemupukan sususlan
Setelah di pupuk yang pertamakali, anda harus menambahkan pupuk susulan kisaran umur tanaman cabe rawit 1 bulan selanjutnya setiap panen secara terus menerus di berikan pupuk susulan. Pemupukan bisa
menggunakan pupuk organik atau kompos atau dengan pupuk cair.
Tambahkan pupuk cair yang sudah di larutkan dengan perbandingan 100ml / tanaman. Jika anda menggunakan pupuk kompos berikan 500-700
gram/tanaman. Atau menggunakan pupuk NPK dan urea.
Dari kebanyak pembudidaya cabe rawit sangat di jarangkan menggunakan mulsa, sehingga penyiangan harus secara rutin di lakukan, untuk
menghindari pertumbuhan gulma.
Pengendalian hama dan penyakit cabe rawit
Untuk tanaman cabe rawit biasanya tanaman ini sangat kuat menghadapi hama dan penyakit. Namun bukan tidak mungkin terserang hama dan penyakit, kita harus mengantisifasi sebelum tenaman kita sakit.
Pengendalian penyakit cabe rawit
Hama pada tanaman cabe rawit yang umum di temukan :
Aphis
Lalat buah ” Untuk mengandalikanya kami sarankan baca : ” Cara mengendalikan lalat buah “
Kapik
Yang umum terjadi pada bagian buah cabe rawit terkena penyakit patek yang di sebabkan oleh sejenis serangga yang menanamkan larpa
menimbulkan penyakit. Namun bukan hanya penyakit patek ada beberapa penyakit cabe rawit yang harus anda ketahui yaitu Keriting daun biasanya timbul saat musim hujan, di karenakan ph asam basa dari air hujan yang menempel pada daun cabe rawit.
Pemanenan cabe rawit
Panen dapat di lakukan pada umur 2,5 – 3 bulan di hitung sejak tanam. Pemanenan bisa di lakukan hingga tanaman cabe mencapai umur 6 bulan bahkan bisa lebih, umur maksimal cabe rawit adalah 24 bulan. Fase panen hingga 15-18 kali dalam sekali tanam. Perhitunganya pada umur yang tua hasil panen akan berkurang dan kualitas cabe akan menurun sehingga tidak ekonomis lagi. Hasil yang di dapat jika anda berhasil
membudidayakanya bisa mencapai 30 ton/ha bahkan bisa lebih dari jumlah itu.
dan dihargai lebih tinggi di pasar dibanding buah yang besar namun kopong.
Potensi Produktivitas Cabai
Merah, Komoditas Hortikultura
“Eksklusif” di Indonesia
08/03/2017
Kebutuhan akan cabai terus meningkat sejalan dengan tingginya permintaan masyarakat, termasuk permintaan di off season yaitu musim hujan. Padahal saat musim hujan, budidaya tanaman cabai lebih beresiko dibandingkan dengan musim kemarau karena
tanaman cabai tidak tahan terhadap hujan lebat yang terus-menerus. Kelembaban udara yang tinggi meningkatkan
penyebaran dan perkembangan penyakit tanaman, terutama dari golongan jamur. Balai Penelitian Tanaman Sayuran melaporkan, prediksi kebutuhan dalam negeri akan cabai merah sebesar 720.00 – 840.000 ton/ha, sedangkan produksi nasional dengan luas panen 126.790 ha sebanyak 1.061.428 ton/ha. Produksi tanaman cabai merah sudah dapat mencukupi kebutuhan
tahunan, namun fluktasi produksi sepanjang tahun menyebabkan terjadinya lonjakan harga yang berimbas pada inflasi
Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jendral Hortikultura.
Bisa dilihat bahwa potensi produktivitas cabai merah terus
meningkat. Padahal areal panen berkurang dari 128.734 ha pada tahun 2014 menjadi 120.847 ha di tahun 2015 (BPS). Hasil
tersebut masih rendah apabila dibandingkan dengan potensinya yang dapat mencapai lebih dari 20 ton/ha. Oleh karena itu perlu diadakan upaya peningkatan produksi cabai dengan
memperhatikan dan mengusahakan teknik budidaya yang benar agar mendapat hasil optimum dan mutu yang baik.
Menurut Syukur dkk. dalam buku Budidaya Cabai Panen Setiap Hari, rendahnya produktivitas cabai dapat disebabkan oleh
serangan penyakit antraknosa dan penyakit daun keriting kuning. Penyakit tersebut sudah sangat meluas di Indonesia dan
fungisida saat benih dan pembibitan dapat mencegah infeksi penyakit. Sedangkan menurut Hardiansyah pada penelitannya yang berjudul Pengaruh Pemberian Pyraclostrobin terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L), untuk mengurangi dampak penyakit daun keriting kuning oleh infeksi Gemini virus dapat dilakukan penanaman tanaman barrier yaitu tanaman jagung manis atau hibrida disekeliling lahan dengan jarak tanam rapat. Jagung ditanam 3 minggu sebelum pindah tanam tanaman cabai.
Penggunaan varietas unggul sangat penting. Sebaiknya pilih varietas – varietas yang telah dirilis Kementerian Pertanian.
Cermati deskripsi varietas sebelum menanam, sesuaikan dengan lahan yang akan ditanami. Misalkan lahan terletak diketinggian 500 mdpl, saat ini curah hujan cukup tinggi sehingga
membutuhkan varietas yang toleran terhadap iklim basah terutama toleran genangan, jenis tanah andisol. Maka, cabai keriting merah Varietas Kencana dapat menjadi pilihan, seperti yang dikatakan Setiawan pada penelitian Sumbangsih cabai keriting Varietas Kencana dalam menghadapi kebijakan
swasembada cabai. Selain menyeseuaikan lahan, menurut Syukur dkk., kita dapat menduga hasil produksi berdasarkan informasi dari deskripi varietas. Misalkan Varietas PM 999 berat buah 5-6 gram, potensi produktivitas 0,8 – 1,2 kg. Apabila lahan yang ditanami seluas 500m2 dengan populasi 1000 tanaman, maka
produktivitas dapat ditaksir sebesar 1000 kg/m2 jika dikonversi ke
ha maka dihasilkan 20 ton/ha.
seperti hama dan penyakit yang menyerang serta penggunan benih yang belum sesuai. Budidaya pertanian yang dilakukan sebaiknya sesuai dengan SOP, didampingi oleh Penyuluh
Pertanian Lapangan, sehingga perencanaan dan harapan produksi dapat tercapai.
Cabai rawit (Capsicum frutescens), biasa disebut cabai kecil dengan ukuran panjang antara 2–4 cm, mempunyai rasa pedas dan warnanya bervariasi, yaitu hijau, merah, kuning dan oranye.
Tanaman cabai rawit termasuk dalam famili solanaceae (terong-terongan) yang dapat tumbuh di daerah rendah maupun di dataran tinggi, umurnya panjang dan berbuah sepanjang tahun
sampai 2-3 tahun jika dipelihara dengan baik serta kebutuhan haranya tercukupi.
Cabai rawit salah satu komoditi yang penting karena sehari-hari digunakan oleh masyarakat sebagai sambal, bumbu masak, lalapan (teman makan tahu goreng, bakwan, bakmi, dan lain-lain). Selain itu juga digunakan sebagai bahan industri sambal dan cabai bubuk. Sebagai
Pada tahun 2015 sentra utama produksi cabai rawit terdapat di 6 (enam) wilayah, yaitu: 1) Wilayah Jawa dengan produksi berjumlah 517.874 ton yang tersebar di 5 (lima) kabupaten (Cianjur, Garut, Boyolali, Blitar dan Jember); 2) Wilayah Sumatera dengan produksi berjumlah 156.335 ton yang tersebar di 6 (enam) kabupaten (Bener Meriah, Aceh Tengah, Simalungun,
Tapanuli Utara, Rejang Lebong); 3) Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat dengan produksi berjumlah 101.600 ton yang tersebar di 5 (lima) kabupaten (Karang Asem, Klungkung, Buleleng, Lombok Timur, Bima); 4) Wilayah Sulawesi dengan produksi berjumlah 66.404 ton yang tersebar di 3 (tiga) kabupaten (Gowa, Enrekang dan Tojo Una Una) serta Provinsi Gorontalo; 5) Wilayah
Kalimantan dengan produksi berjumlah 22.616 ton yang tersebar di 5 (lima) kabupaten/kota (Kutai Kartanegara, Kapuas, Kota Balikpapan, Hulu Sungai Selatan, Lamandau); dan Wilayah Maluku dan Papua dengan produksi berjumlah 11.972 ton yang tersebar di 4 (empat) kabupaten/kota (Kep. Sula, Buru, Halmahera Tengah, Maluku Tengah, Halmahera Barat).
Untuk peningkatan produksi dan produktivitas tersebut, pada tahun 2016 Kementerian Pertanian akan melakukan upaya khusus pengembangan cabai termasuk cabai rawit dengan sasaran kualitatif sebagai berikut: 1) berkembangnya usaha agribisnis cabai pada daerah sentra produksi dalam bentuk kawasan; 2) pemenuhan kebutuhan dalam negeri baik cabai segar maupun cabai
olahan untuk bahan baku industri sepanjang waktu; 3) pengurangan impor, terutama cabai olahan; 4) peningkatan daya saing untuk ekspor, terutama cabai olahan; dan 5) stabilitas harga di dalam negeri. Sedangkan sasaran kuantitatif cabai rawit tahun 2016 sampai dengan tahun 2019, berturut-turut 890.222 ton, 916.929 ton, 944.437 ton dan 972.770 ton.
Strategi yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut, yaitu:
1. Meningkatkan produktivitas, produksi, kualitas dan daya saing, melalui kegiatan: a) Pengembangan dan penumbuhan kawasan pada sentra produksi dengan penekanan pada pengembangan berbasis pada kelompok tani dan unit terkecil dalam pengembangan kawasan seluas 15 ha; b) Peningkatan kapabiltas petani melalui SLPHT, SLGAP, SLGHP dan lain-lain dan c) Penerapan sistem jaminan mutu pada proses produksi.
2. Pengelolaan sistem produksi merata sepanjang tahun, melalui kegiatan: a) Produksi “off-season’’ di sentra utama yang didukung oleh teknologi pengairan dan budidaya
“off-season”; b) Menambah sentra produksi di luar Pulau Jawa dan c) Pengaturan pola produksi.
3. Peningkatan usaha penanganan pascapanen, pengolahan hasil dan pemasaran produk, melalui kegiatan: a) Fasilitasi sarana pascapanen dan pengolahan hasil (packing
house, kontainer plastik, pengolahan hasil skala home industry); b) Fasilitasi toko tani; dan c) Fasilitasi kemitraan dan jaringan usaha.
5. Sinergisme penelitian dan pengembangan, melalui dukungan kegiatan: a) Penelitian off
season; b) Penelitian dan studi kelayakan usaha dan c) Kebijakan dan pengembangan di
daerah.
6. Dukungan kebijakan lintas sektoral dan akses permodalan, resiko usaha serta jaringan pasar, melalui dukungan kegiatan: a) Penciptaan iklim usaha yang kondusif; b) Fasilitasi jaringan distribusi; c) Fasilitasi akses permodalan dan d) Jaringan pasar dan distribusi produk.
Adapun rencana aksi pengembangan cabai rawit tahun 2016, meliputi: 1) Pengaturan pola
produksi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan permintaan; 2) Fasilitasi bantuan saprodi, penyediaan sarana budidaya dan pascapanen; 3) Pengembangan budidaya aneka cabai off
season di sentra utama; 4) Menumbuhkan sentra produksi di luar Pulau Jawa dan khususnya
wilayah Indonesia timur untuk cabai rawit merah; 5) Penyebaran areal produksi ke daerah baru
dengan agroklimat berbeda, sebagai penyangga penyediaan pada musim penghujan; 6) Meningkatkan gerakan pengendalian OPT ramah lingkungan untuk mengurangi penggunaan pestisida; 7) Sosialisasi pemakaian pupuk organik; 8) Percontohan penerapan GAP/SOP budidaya; 9) Pengembangan desa organik berbasis cabai; 10) Manajemen produksi, untuk
pemerataan dan keseimbangan luas panen sepanjang tahun; 11) Temu usaha antara kelompok tani/Gapoktan dan pelaku usaha; 12) Pengembangan varietas asal lokal untuk memperkaya keragaman hayati; 13) Peningkatan ketersediaan benih sumber dari varietas-varietas yang diminati konsumen; 14) Peningkatan peran serta BUMN dalam penguatan modal dan
pemberdayaan kelompok tani; 15) Sosialisasi pemanfaatan benih bersertifikat dan 16) Perbaikan sistem informasi supply/demand benih.
Dukungan Penyuluhan Pertanian
Berdasarkan sasaran, strategi, rencana aksi pengembangan cabai rawit tahun 2016 tersebut di atas, Direktorat Jenderal Hortikultura perlu dukungan dari penyuluhan pertanian di lapangan,
antara lain: 1) Melakukan demplot cabai rawit dengan teknologi spesifik lokasi yang mutakhir (seperti teknologi irigasi tetes, shading/border net/plastik, agens hayati, dll); 2) Memberikan
penyuluhan intensif terkait teknologi budidaya dan pascapanen cabai rawit sesuai SOP/GAP (sejak persiapan benih, penanaman, pengendalian OPT, pemupukan, panen yang tepat hingga teknologi pascapanen); 3) Penumbuhan dan penguatan kapasitas kelembagaan tani untuk peningkatan produksi cabai rawit secara modern; 4) Melakukan pendampingan untuk menjalin
S Dukungan yang diharapkan tersebut dapat direalisasikan melalui kegiatan-kegiatan dengan Dana Dekonsentrasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Tahun 2016, antara lain:
1. Pengawalan dan Pendampingan Penyuluh di Lokasi Sentra Pangan;
2. Peningkatan Kapasitas BP3K, khususnya kegiatan Latihan dan Kunjungan;
3. Diklat Tematik di BP3K yang akan dilaksanakan, yaitu untuk daerah sentra pemantapan produksi cabai dilatihkan: Diklat GAP, Diklat Pengendalian OPT, Diklat GHP dan Diklat Budidaya Cabai di luar musim. Sedangkan untuk daerah sentra pengembangan cabai dilatihkan: Diklat Budidaya Cabai, Diklat Penanganan Pascapanen, Diklat Budidaya di Musim Kemarau dan Diklat Budidaya Cabai organik.
Semoga, pengembangan cabai rawit yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dapat mewujudkan
swasembada yang ditargetkan pada tahun 2017 mendatang.
(SUSILO ASTUTI H. – Penyuluh Pertanian Pusluhtan/ dari beberapa sumber)