• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PENGETAHUAN SIKAP SERTA PERILAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN PENGETAHUAN SIKAP SERTA PERILAK"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP SERTA

PERILAKU IBU MENGENAI JAJANAN ANAK SD

YANG MENGANDUNG BAHAN PENGAWET DAN

PEWARNA DI KELURAHAN BERINGIN JAMBI

TAHUN 2011

Laporan penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

OLEH :

IRA RAHMANITA

NIM : 108103000014

PROGRAM STUDI PENDIDIDKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAAN KARYA

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 22 September 2011

(3)

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP SERTA PERILAKU IBU MENGENAI JAJANAN ANAK SD YANG MENGANDUNG BAHAN PENGAWET

TERLARANG DAN PEWARNA BERBAHAYA DI KELURAHAN BERINGIN KOTA JAMBI TAHUN 2011

Laporan Penelitian

Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Kedokteran (S.Ked)

Oleh :

Ira Rahmanita

NIM: 108103000014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(4)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Laporan Penelitian Berjudul HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP SERTA PERILAKU IBU MENGENAI JAJANAN ANAK SD YANG MENGANDUNG BAHAN PENGAWET TERLARANG DAN PEWARNA BERBAHAYA DI KELURAHAN BERINGIN KOTA JAMBI TAHUN 2011 yang diajukan oleh Ira Rahmanita (NIM: 108103000014), telah diujikan dalam sidang di Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada september 2011. Laporan penelitian ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S. Ked) pada Program Studi Pendidikan Dokter.

Jakarta, 22 September 2011

DEWAN PENGUJI

(5)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wara hmatullahi Wabarakatuh…

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunia yang telah diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian ini serta salawat dan salam kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat.

saya haturkan terimakasih kepada:

1) Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, SpAnd, Drs. H. Achmad Ghalib, MA, dan Dra. Farida Hamid, M.Pd selaku Dekan dan Pembantu Dekan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mendengarkan keluh kesah kami angkatan 2008 PSPD dan senantiasa memberikan semangat agar terus berjuang untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

2) Dr. dr. Syarief Hasan Lutfie, SpKFR sebagai Kaprodi PSPD dan untuk semua dosen saya, yang telah begitu banyak membimbing dan memberikan kesempatan untuk menimba ilmu selama saya menjalani masa pendidikan di PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, rasa hormat saya atas segala yang telah mereka berikan.

3) dr. Alyya Siddiqa SpFK selaku dosen pembimbing I dan dr. Witri Ardini, MGK, SpGK sebagai pembimbing II yang telah banyak menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan saya dalam penyusunan riset ini. 4) dr. Afrimal. Syafarudin, SpB(K)Onk, dr. Devy Ariany, M.Biomed, dr. Mukhtar.

Ikhsan, SpP(K), MARS selaku tim penguji yang telah memberikan saran demi menyempurnakan riset ini.

5) Ibu Silvia Nasution M.Biomed selaku penanggung jawab riset PSPD 2008 yang selalu mengingatkan kami untuk segera menyelesaikan riset.

6) Kepala kelurahan beserta seluruh staf yang telah mengizinkan saya untuk melakukan penelitian di Kelurahan Beringin Kota Jambi.

(6)

8) Kedua orang tua saya tercinta H. Ismet Marjohan dan Hj. Rohima dan nenek saya tercinta H. Jawaniar terima kasih atas cinta, kasih sayang, pengorbanan, do’a, ridho, harapan, senyuman, pelukan, air mata serta pelajaran kehidupan yang selama ini telah diberikan kepada saya sejak berada dalam kandungan sampai saya bisa seperti sekarang.

9) Semua saudara saya abang, kakak ipar dan adik saya tersayang, Briptu Apriandi, Riki Yanto. ST, Yuli Putri Ayu, Ridho Putra dan Rinda Rahmanyani serta seluruh keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang, cinta, perhatian, dan selalu setia untuk berbagi dalam suka dan duka.

10) Seluruh teman dan sahabat di: PSPD 2008-2011, dan teman-teman yang telah memberikan bantuannya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.

Semoga segenap bantuan, bimbingan dan arahan yang telah diberikan semua pihak kepada saya mendapat imbalan dari Allah SWT. Harapan saya penelitian ini dapat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan profesi kedokteran, khususnya tentang bahan pengawet terlarang dan pewarna berbahaya pada jajanan anak sekolah.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, 22 September 2011

(7)

ABSTRAK

Ira Rahmanita. Pendidikan Dokter. Hubungan Pengetahuan Sikap Dan Perilaku Ibu di Kelurahan Beringin Kota Jambi Mengenai Jajanan Anak SD Yang Mengandung Pengawet Terlarang dan Pewarna Berbahaya. 2011

Jajanan yang mengandung bahan pengawet terlarang dan bahan pewarna berbahaya akan memberikan efek negative terhadap kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu di Kelurahan Beringin Kota Jambi mengenai jajanan anak sekolah dasar yang mengandung bahan pengawet terlarang dan pewarna berbahaya. Metode penelitian bersifat studi potong lintang. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada 105 responden. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Dari hasil penelitan didapatkan sebanyak 55 (52,4%) reponden memiliki pengetahuan yang kurang, 68 (64,8%) responden memiliki sikap yang sedang, dan 69 (65,7%) responden dan memiliki perilaku yang sedang. Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap, p=0,07 dan tidak terdapat hubungan bermakna antara sikap dan perilaku p=0,592

Kata kunci: pengawet terlarang dan pewarna berbahaya, pengetahuan sikap perilaku

ABSTRACT

Ira Rahmanita. Doctor of Education Studies Program. Relationship knowledge, attitude, and behavior from mothers at Beringin village Jambi about primary school’s street food which contain prohibit preservative and danger colouring. 2011

Street food which contain prohibited preservative and danger colouring will give negative impact to consumer’s healthy. This research aims to description and related of knowledge, attitude and behavior from mothers at Beringin village Jambi about primary school’s street food which contain prohibit preservative and danger colouring. The methodology of research was cross sectional study. The data was collected with distribution questionnaire to 105 respondent. The data was analyzed using chi-square test. The research result was 55 (52,4%) respondent had low knowledge, 68 (64,8%) had medium attitude, 69 (65,7%) had medium behavior. There is no relationship between knowledge and attitude, p= 0,07 and there is no relationship between attitude and behavior, p= 0,592

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ……….……….. vii

ABSTRACT………. vii

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Jajanan…………... 4

2.2. Bahan Tambahan Pangan... 5

2.3. Batas Penggunaan Harian /Acceptable Daily Intake(ADI)... 6

2.4. Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan... 8

2.5. Bahan Tambahan Terlarang Dan Berbahaya.………... 8

2.6. Pengetahuan... 19

2.7. Sikap ... 21

2.8. Perilaku... 23

2.12. Kerangka Konsep ……….. 26

(9)

BAB III. METODE PENELITIAN ...

3.1. Desain Penelitian ... 29

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29

3.3. Populasi dan Sampel ... 29

3.4. Cara Kerja Penelitian... 31

3.5. Managemen data... 33

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 34

4.1. Keterbatasan Penelitian ... 33

4.2. Karakteristik Responden………. 35

4.3. Distribusi Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan 36 4.4. Distribusi Sebaran Responden Berdasarkan Sikap………... 45

4.5. Distribusi Sebaran Responden Berdasarkan Perilaku………. 46

4.6. Hubungan Pengetahuan Terhadap Sikap ... 47

4.7 Hubungan Sikap Terhadap perilaku... 48

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ... 51

5.1. Simpulan ... 51

5.2. Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 52

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.9. Definisi operasional ... 27

4.2.1 Karakteristik Responden berdasarkan tingkat pendidikan... 35

4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pekerjaaan... 35

4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Usia... 35

4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Jumlah Anak... 35

4.3.1. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Tujuan Pemberian Bahan Pengawet Pada makanan………. 36

4.3.2. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Tujuan Pemberian Pewarna Pada makanan... 36

4.3.3. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Jenis Pengawet Yang Biasanya Digunakan Pada Jajanan………… 37

4.3.4. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Jenis Jajanan Yang Biasanya Menggunakan Pengawet... 37

4.3.5. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan terhadap Ciri-ciri Jajanan Yang Biasanya Menggunakan Pengawet………... 38

4.3.6. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Pengaruh Jajanan Yang Menggunakan Pengawet Terhadap Kesehatan……….. 38

4.3.7. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Jenis Pewarna Yang Biasanya Digunakan Pada Jajanan... 39

4.3.8. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Jenis Jajanan Yang Biasanya Menggunakan Pewarna... 39

4.3.9. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Ciri-ciri Jajanan Yang Biasanya Menggunakan Pewarna…………. 40 4.3.10

..

(11)

Kesehatan……….

4.4. Sebaran Responden Berdasarkan Sikap……….. 41

4.5. Sebaran Responden Berdasarkan Perilaku……….. 42

4.6.1. Univariat Pengetahuan Responden……….. 43

4.6.2. Univariat Sikap Responden……….. 45

4.6.3. Univariat Perilaku Responden……….. 46

4.7.1. Hubungan Pengetahuan Terhadap Sikap……….. 48

4.7.2. Hubungan Sikap Terhadap Perilaku………. 50

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Informed consent... 54

2. Kuesioner ... 55

3. Uji validitas………... 64

. 4. Data hasil penelitian menggunakan uji chi square (SPSS 16.0) …... 67

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keunggulan jajanan adalah murah, mudah didapat serta cita rasanya enak. Namun jajanan juga berisiko terhadap kesehatan karena dalam proses pengolahannya sering kali ditambahkan pewarna seperti rhodamin B,methanil yellow dan pengawet makanan seperti formalin dan boraks.1

Penggunaan rhodamin B dan methanil yellow, pengawet formalin dan boraks dilarang karena bersifat karsinogenik kuat yang dapat menyebabkan kanker hati, kandung kemih, dan saluran cerna.2

Dari hasil analisis sampel jajanan Badan Pengawas Obat dan Makanan antara Februari 2001 hingga Mei 2003, didapatkan bahwa dari 315 sampel, 155 (49%) mengandung rhodamin B, dari 1222 sampel, 129 (11%) mengandung boraks dan dari 242 sampel, 80 (33%) mengandung formalin. Pangan yang mengandung rhodamin B di antaranya kerupuk, makanan ringan, kembang gula, sirup, biskuit, minuman ringan, cendol, dan manisan. Pangan yang mengandung formalin adalah mie ayam, bakso, dan tahu. Sedangkan pangan yang menggunakan boraks adalah bakso, siomay, lontong, dan lemper.3

Pada tahun 2006 BPOM melakukan penelitian pada jajanan anak sekolah di 478 sekolah dasar di 26 ibukota propinsi di Indonesia, dengan jumlah sampel sebanyak 2903 sampel. Pengambilan sampel dilakukan terhadap beberapa jenis jajanan, yaitu sirup, jeli, agar-agar, es mambo, lolipop, mie siap konsumsi, bakso, dan kudapan (bakwan, tahu isi, dsb). Dari penelitian ini sebanyak 6 % mie menggunakan formalin, dan kurang dari 8 % bakso menggunakan boraks.1

(13)

mengenai pengetahuan, sikap serta perilaku ibu tentang makanan jajanan yang mengandung pemanis buatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75 % responden memiliki tingkat pengetahuan sedang, sebanyak 60 % responden memiliki sikap sedang dan sebanyak 75 % responden memiliki perilaku sedang.4

Selain itu Rina Nuzulia pada tahun 2007 juga melakukan penelitian mengenai persepsi orang tua mengenai keamanan pangan jajanan anak sekolah dasar. Dari penelitian tersebut dihasilkan bahwa sebanyak 94,97% orang tua menganggap jajanan anak sekolah dasar mengandung bahan kimia berbahaya.5

Di Kelurahan Beringin Kota Jambi terdapat tiga Sekolah Dasar Negeri yang saling berdekatan dan berada diantara pemukiman penduduk. Anak-anak yang tinggal di sana sebagian besar bersekolah di salah satu SD Negeri tersebut. Di setiap sekolah banyak pedagang yang menjual berbagai macam jajanan.

Siswa sekolah selalu ingin mencoba jajanan yang dijajakan namun mereka tidak pernah memperhatikan kandungan jajanan yang mereka makan. Hal ini harus menjadi perhatian banyak pihak antara lain pemerintah, sekolah dan orang tua. Kurangnya perhatian dan pengawasan dapat mengakibatkan terjadinya penurunan dan gangguan kesehatan. Peran orang tua terutama ibu sangatlah penting karena ibu dapat menjadi informan bagi anak-anaknya. Dalam hal ini ibu harus dapat menyampaikan informasi mengenai jajanan yang mengandung bahan tambahan berbahaya dan pengaruhnya terhadap kesehatan serta ibu juga harus bisa mengarahkan anak-anak untuk dapat memilih dan mengkonsumsi jajanan sehat. Alasan inilah yang melatar belakangi penulis untuk melakukan penelitian tentang gambaran dan hubungan pengetahuan, sikap serta perilaku ibu mengenai jajanan anak SD yang mengandung bahan pengawet terlarang dan pewarna berbahaya di Kelurahan Beringin kota Jambi

1.2 Rumusan Masalah

(14)

1.3 Hipotesis

Terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap serta perilaku. Jika perilaku didasari pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui gambaran pengetahuan, sikap serta perilaku ibu terhadap jajanan anak SD yang mengandung bahan pengawet terlarang dan pewarna berbahaya

Tujuan Khusus

o Mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap ibu terhadap jajanan anak SD yang mengandung bahan pengawet terlarang dan pewarna berbahaya

o Mengetahui hubungan sikap dengan perilaku ibu terhadap jajanan anak SD yang mengandung bahan pengawet terlarang dan pewarna berbahaya

1.5 Manfaat Penelitian

Reponden

Memberikan informasi dan edukasi kepada ibu tentang jajanan anak SD mengandung bahan pengawet terlarang dan pewarna berbahaya

Peneliti

Memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti

Pemerintah

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 JAJANAN

Jajanan didefinisikan sebagai makanan yang siap untuk dimakan, sudah terlebih dahulu dimasak di tempat penjualan dan dijual dipinggir jalan atau lokasi ramai atau tempat umum. Jajanan bisa berupa minuman, makanan kecil atau makanan lengkap. Sifat dan jenis jajanan sangat beraneka ragam, mulai dari jajanan tradisional sampai dengan jajananan yang lebih modern. Jajanan umumnya digemari oleh semua lapisan masyarakat termasuk anak-anak usia sekolah dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan.6

Menurut Food and Agriculture Organization jajanan atau yang dikenal dengan street food didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang dapat langsung dimakan atau dikonsumsi. Meningkatnya jajanan di banyak Negara termasuk Indonesia adalah akibat peningkatan angka pengangguran, urbanisasi, dan turisme.7

(16)

2.2 BAHAN TAMBAHAN PANGAN

Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan. Bahan tambahan pangan ditambahkan untuk memperbaiki karakter pangan agar kualitasnya lebih baik. Bahan tambahan pangan pada umumnya merupakan bahan kimia yang telah diteliti dan diuji lama sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ada. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan berbagai aturan yang diperlukan untuk mengatur pemakaian bahan tambahan pangan secara optimal.2

Menurut peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan pada bab I pasal 1 bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan untuk mempengaruhi sifat dan bentuk pangan atau produk makanan. Bahan ini berfungsi untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, tekstur makanan, memperpanjang masa simpan, dan bukan merupakan bahan utama.1

Pemakaian bahan tambahan pangan di Indonesia diatur oleh Departemen Kesehatan. Sementara pengawasannya dilakukan oleh Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan (DIRJEN POM). Di Amerika, keduanya dilakukan oleh Food and

Drug Administration. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI

No.329/Menkes/PER/XII/76, yang dimaksud dengan bahan tambahan pangan adalah bahan pewarna, penyedap rasa, aroma, pengemulsi, pemantap, pengental, pengawet, anti oksidan, anti gumpal dan pemucat.1

(17)

dilihat, maka produsen sering kali tidak menyadari bahaya penggunaan bahan tambah an pangan yang tidak diizinkan.2

Penyimpangan atau pelanggaran mengenai penggunaan bahan tambahan pangan yang sering dilakukan produsen pangan yaitu menggunakan bahan tambahan yang dilarang dan penggunaannya melebihi dosis yang diizinkan untuk makanan. Penggunaan bahan tambahan yang beracun yang melebihi batas akan membahayakan kesehatan masyarakat dan berbahaya bagi pertumbuhan generasi yang akan datang.2

Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan adalah untuk mengawetkan makanan dengan mencegah pertumbuhan mikroba perusak pangan atau mencegah terjadinya reaksi kimia yang dapat menurunkan mutu pangan, membentuk makanan menjadi lebih baik, renyah, lebih enak di mulut, memberikan warna dan aroma yang lebih menarik sehingga mengundang selera, meningkatkan kualitas pangan, dan menghemat biaya.2

Fungsi bahan tambahan pangan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 235/MEN.KES/PER/VI/1979, yaitu sebagai (1) antioksidan, (2) antikempal, (3) pengasam, penetral, dan pendapar, (4) enzim, (5) pemanis buatan , (6) pemutih dan pematang, (7) penambah gizi (8) pengawet (9) pengemulsi, pemantap dan pengental, (10) pengeras, (11) pewarna alami dan sintetik, (12) penyedap rasa dan aroma, (13) sekusetran, serta bahan tambahan lain.8

2.3 BATAS PENGGUNAAN HARIAN /ACCEPTABLE DAILY INTAKE (ADI)

Semua bahan kimia jika digunakan secara berlebihan pada umumnya akan bersifat racun (toksik) bagi hewan dan manusia. Oleh karena itu perlu ditetapkan batas penggunaan harian bahan tambahan kimiawi untuk perlindungan kesehatan konsumen. Acceptable Daily Intake (ADI) adalah suatu batasan berapa banyak konsumsi bahan tambahan makanan yang dapat diterima dan dicerna setiap hari tanpa mengalami resiko kesehatan.9

(18)

Tetapi di Indonesia dan Negara berkembang lainnya digunakan berat badan standar sebesar 50 kg.9

ADI dinyatakan dalam satuan mg bahan tambahan pangan per kg berat badan. Nilai ADI diperoleh dari data-data toksikologi pada hewan percobaan yaitu dari dosis tanpa efek diesktrapolasikan kepada manusia dengan menggunakan suatu faktor keamanan (safety factor). Safety factor biasanya 100, sehingga ADI adalah dosis tanpa efek dibagi 100.9

Selain ADI, untuk menghitung batasan penggunaan harian dapat menggunakan TMDI (Teoritical Maximum Daily Intake) dan EDI (Estimate Daily Intake). Konsumsi maksimum sehari-hari secara teori (TMDI) dihitung dengan mengalikan rata-rata per kapita makanan yang dikonsumsi setiap hari untuk setiap bahan makanan yang atau kelompok makanan yang dikonsumsi setiap hari untuk setiap bahan makanan atau kelompok makanan dengan konsentrasi maksimum pemakaian yang diizinkan dari bahan makanan atau kelompok makanan dengan konsentrasi maksimum pemakaian yang diizinkan dari bahan tambahan berdasarkan standar codex atau oleh peraturan nasional.9

(19)

2.4 BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN

Batas maksimum penggunaan yang aman dari bahan tambahan dapat dihitung berdasarkan nilai ADI, jumlah makanan harian yang dikonsumsi yang mengandung bahan tambahan makanan, dan berat badan rata-rata dari konsumen dewasa dalam kilogram.9

Dalam penggunaan maksimum yang umum dipakai berat badan rata-rata orang dewasa yaitu 60 kg.

Rumus yang dipakai adalah :

BMP = ADI x B x 1000 (mg/kg) K

Keterangan : B = berat badan (kg) K = konsumsi makanan (g)

Batas maksimum penggunaan adalah batas penggunaan maksimum yang umum untuk orang dewasa. Anak-anak lebih peka atau mempunyai daya tahan yang lebih rendah terhadap bahan tambahan pangan dibandingkan orang dewasa. Berdasarkan kebutuhan kalori per kilogram berat badan untuk orang dewasa yaitu sekitar 40 kalori sedangkan untuk anak, sekitar 100 kalori, maka untuk anak-anak faktor keamanan yang perlu digunakan adalah 2,5, artinya dalam perhitungan batas maksimum penggunaan berat badan rata-rata orang dewasa perlu dikalikan dengan 2,5 untuk mendapatkan batas maksimum penggunaan untuk anak-anak.9

2.5 BAHAN TAMBAHAN TERLARANG DAN BERBAHAYA

(20)

salisilat dan garamnya, dietilpirokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, dan nitrofurazon.2

Menurut permenkes RI No 239/Menkes/Per/V/85, zat warna berbahaya pada pangan adalah auramin, alkanet, butter yellow, black 7984, burn umber, chrysoidine,scarlet GN, ponceau 3R, Rhodamin B, methanol yellow, oil orange SS,

citrus red, chocolate brown FB.2

2.5.1 FORMALIN

Larutan formaldehid atau larutan formalin mempunyai nama dagang formalin, formol atau mikrobisida dengan rumus molekul CH2O mengandung kira-kira 37%

gas formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan 10-15% metanol untuk menghindari polimerisasi.10

Formaldehid (formalin oxymethylene) terdapat dalam bentuk gas CH2O dalam

bentuk larutan yang digunakan sebagai antiseptic, untuk menghilangkan bau, desinfektan untuk rumah, perahu, gudang, dan kain, biasanya digunakan sebagai antiseptic untuk membunuh bakteri dan kapang, untuk mensterilkan peralatan kedokteran, atau untuk mengawetkan mayat dan specimen biologi lainnya.10

Formaldehid banyak digunakan dalam industri tekstil untuk mencegah bahan menjadi kusut dan meningkatkan ketahanan bahan tenunan. Dalam bidang farmasi formalin digunakan sebagai pendetoksifikasi toksin dalam vaksin, dan juga untuk obat penyakit kutil karena kemampuannya merusak protein.10

(21)

Dampak Terhadap Kesehatan

Berdasarkan sumbernya formaldehid untuk pengawet berasal dari hasil sintesis secara kimia. Formadehid merupakan cairan jernih yang tidak berwarna atau hampir tidak berwarna dengan bau yang menusuk. Uap formaldehid bereaksi cepat dengan selaput lendir hidung, tenggorokan, saluran cerna dan dapat menyebabkan iritasi mata. Formaldehid dapat masuk kedalam tubuh melalui inhalasi uap, kontak langsung dengan larutan yang mengandung formaldehid atau melalui makanan yang mengandung formaldehid.10

Konsentrasi 0,5 sampai 1 bpj di udara dapat dideteksi dari baunya. Konsentrasi 2 sampai 3 bpj dapat menyebabkan iritasi ringan. Sedangkan pada konsentrasi 4 sampai 5 bpj pada umumnya tidak dapat ditoleransi oleh manusia. Komposisi dan bentuk formaldehid mengandung 35-40% .10

Sedangkan efek farmakologi atau efek kesehatan formaldehid adalah sebagai berikut, berdasarkan hasil uji karsinogenik dan tumor formaldehid terhadap sejumlah tikus yang dipapari formaldehid pada konsentrasi 6-15 bpj menunjukan 1,5-43,2% mengalami kanker, sedangkan uji terhadap mencit yang dipapari formaldehid pada konsetrasi 15 bpj, 2,4% mencit mengalami tumor.10

Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia, jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi di dalam sel, menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel. Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik dan bersifat mutagen, serta orang yang mengkonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan kegagalan peredaran darah. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakan sehingga merangsang hidung, tenggorokan dan mata.10

(22)

Pemaparan formaldehid terhadap kulit menyebabkan kulit mengeras, menimbulkan kontak dermatitis dan reaksi sensitivitas, sedangkan pada sistem reproduksi wanita akan menimbulkan gangguan menstruasi, toksikemia, anemia pada kehamilan, peningkatan aborsi spontan, dan penurunan berat badan bayi yang baru lahir. Uap dari larutan formaldehid menyebabkan iritasi membran mukosa hidung, mata, dan tenggorokan apabila terhisap dalam bentuk gas pada kosentrasi 0,03-4 bpj selama 35 menit. Dapat terjadi iritasi pernfasan parah seperti batuk, disfagia, spasmus laring, bronchitis, pneumonia, udem pulmonary, dapat pula terjadi tumor hidung pada mencit.10

Formalin dapat bereaksi dengan cepat pada lapisan lendir saluran pencernaan dan pernapasan. Didalam tubuh bahan ini secara cepat teroksidasi membentuk asam formiat terutama dihati dan sel darah merah. Formalin mungkin juga menyebabkan degenerasi saraf optic, karena terbentuknya asam format dalam jumlah banyak dan asidosis inilah yang menyebabkan timbulnya gejala umum dan dapat menimbulkan kematian. Formadehid dapat diserap melalui semua jalan saluran lambung atau usus , paru-paru, dioksidasi menjadi asam fornik dan sebagian kecil menjadi metal format.11 Formalin termasuk kedalam karsinogenik golongan IIA. Golongan I adalah sudah pasti menyebabkan kanker berdasarkan uji lengkap . sedangkan golongan IIA baru taraf diduga, karena data hasil uji pada manusia kurang lengkap. Memang orang yang mengkonsumsi tahu, mie bakso atau ayam berformalin beberapa kali saja belum merasakan akibanya. Efek dari bahan makanan yang mengandung formalin baru terasa beberapa tahun kemudian. Kandungan formalin yang tinggi akan meracuni tubuh, menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinigenik dan bersifat mutagen. Formaldehid telah dibuktikan bersifat mutagen dibeberapa system invitro dan telah diklasifikasikan sebagai mutagen yang lemah. Dalam jumlah sedikit formalin sulit dideteksi keberadaannya dalam darah karena formalin akan larut dalam air serta akan dibuang keluar bersama cairan tubuh.10

(23)

bahwa pencemaran melalui inhalasi mempengaruhi squamous cell carcinoma rongga hidung pada tikus. Dari empat studi terhadap pemberian air minum yang mengandung formaldehid pada tikus menunjukan hasil yang bermacam-macam. Pertama menunjukan timbulnya peningkatan forestomach papillomas pada tikus jantan. Kedua menunjukan timbulnya gastrointestinal leiomyosarcomas pada tikus jantan dan betina. Ketiga menunjukan peningkatan timbulnya total tumor menular, limpoma dan leukemia. Keempat Formaldehid juga menujukan efek karsinogenik melalui inhalasi dan proses pencernaan.11

Efek formalin melalui inhalasi terhadap tikus juga menyebabkan timbulnya carcinoma pada rongga hidung karena iritasi pada epitel hidung dan formalin juga menyebabkan carcinoma pada lambung tikus karena adanya irtitasi pada mukosa lambung.12,13

Efek samping formalin tidak secara langsung akan telihat. Efek ini hanya terlihat secara komulatif, kecuali jika seseorang mengalami keracunan formalin dosis tinggi. Keracunan formalin bisa mengakibatkan iritasi lambung dan alergi. Formalin juga bersifat karsinogen dan mutagen. Dalam kadar tinggi formalin bisa menyebabkan kegagalan peredaran darah.1

Efek akut penggunaan formalin adalah tenggorokan dan perut terasa terbakar, tengggorokan terasa sakit untuk menelan, mual, muntah dan diare, sakit kepala, hipotensi, kerusakan hati, jantung, otak dan limpa, pamnkreas dan system saraf pusat dan ginjal. Sementara efek kronis akibat penggunaan formalin adalah iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan.1

Ciri-Ciri Makanan Yang Mengandung Formalin

(24)

dihinggapi lalat dan karena formalin berfungsi sebagai pembasmi lalat. Sedangkan tahu tanpa formalin biasanya mudah hancur dan tidak akan bertahan hanya dalam dua hari.2

Ciri-ciri makanan seperti mie basah yang mengandung formalin adalah tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius), bau agak menyengat, bau formalin tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Ciri-ciri bakso yang mengandung formalin tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius), teksturnya sangat kenyal.1

2.5.2 BORAKS

Asam boraks merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan.2

Asam borat (H3BO3) merupakan senyawa bor yang dikenal dengan nama

borax, mengandung 99,0% dan 100,5 % H3BO3, mempunyai bobot. Boraks adalah

senyawa berbentuk Kristal putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Dalam air, boraks dan berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat.10

Boraks umumnya digunakan untuk mematri logam, pembuatan gelas, enamel, sebagai pengawet kayu dan pembasmi kecoa. Namun zat ini juga sering disalah gunakan sebagai campuran untuk pembuatan bakso, kerupuk, mi basah, pisang molen, lemper, buras, siomay, lontong dan pangsit. Boraks biasanya digunakan dalam borat sebagai bahan pengawet khususnya dalam pembuatan bakso, kerupuk, pempek, pisang, molen, pangsit, tahu dan bakmi.1

Dampak Terhadap Kesehatan

(25)

dibandingkan dengan organ yang lain. Dosis fatal boraks antara 0,1-0,5 g/kg berat badan. Keracunan kronis dapat disebabkan oleh absorbsi dalam waktu lama. Akibat yang timbul diantaranya anoreksi, berat badan turun, muntah, diare, ruam kulit, alpopsia, anemia dan konvulsi. Penggunaan boraks apabila dikonsumsi terus menerus dapat mengganggu gerak pencernaan usus, kelainan saraf, depresi, kekacauan mental, rusaknya saluran pencernaan, ginjal, hati dan kulit karena boraks cepat diabsorbsi oleh saluran pernafasan dan pencernaan, kulit yang luka atau membran mukosa.1

Boraks biasanya bersifat racun bagi sel-sel tubuh, berbahaya bagi susunan saraf pusat, ginjal dan hati. Jika tertelan akan menimbulkan iritasi. Dan jika tertelan akan menimbulkan kerusakan pada usus, otak dan ginjal. Kalau digunakan berulang secara komulatif akan tertimbun dalam otak, hati dan jaringan lemak. Asam boraks ini akan menyerang sistem saraf pusat dan menimbulkan gejala mual, muntah, diare, iritasi kulit, dan gangguan sirkulasi darah.2

Daya toksisitas boraks adalah LD-50 akut 4,5-4,98 g/kg berat badan (tikus), pemakaian yang berlebihan dan berulang dapat menyebabkan toksikatau keracunan. Kematian pada orang dewasa dapat terjadi dalam dosis 15-25 gram, sedangkan pada anak dosis 5-6 gram.10

Ciri Makanan Mengandung Boraks

(26)

Penggunaan Bahan Pengawet Berbahaya

Pada Oktober 2004 BPOM Provinsi Bengkulu melakukan uji sampel sebanyak 75 sampel jajanan anak sekolah tingkat SD, SMP dan pasar panorama, dari hasil uji sampel tersebut ditemukan jajanan dan makanan mengandung boraks dan formalin. Di Lampung tim reserse Ekonomi Polda Lampung membongkar jaringan peredaran mi dan bakso berformalin dan menyita lima ton mie dan 3,4 kuintal bakso yang mengandung formalin.2

Boraks dan formalin sering kali digunakan sebagai pengawet untuk mie, bakso, tahu, saos tomat, ikan segar, ikan asin, dan ayam potong. Dari hasil uji sampling yang dilakukan pada beberapa daerah pada tahun 2005-2006, terlihat bahwa penggunaan bahan pengawet boraks dan formalin telah mencapai 60-70%.1

Pada tahun 2006 BPOM melakukan pengawasan dan pemeriksaan makanan jajanan seperti mie basah, tahu, dan ikan pada beberapa daerah di Indonesia (Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makasar, dan Mataram), dari jumlah sampel mie basah sebanyak 213 ditemukan sebanyak 137 (64,32%) sampel yang tidak memenuhi syarat dan hanya 76 sampel yang memenuhi syarat, dari jumlah sampel tahu sebanyak 290 ditemukan sebanyak 193 sampel memenuhi syarat dan sebanyak 97 (33,45%) sampel tidak memenuhi syarat, dari jumlah sampel ikan sebanyak 258 ditemukan sampel sebanyak 258 ditemukan sebanyak 190 sampel memenuhi syarat dan 68 (26,36%) sampel tidak memenuhi syarat.1

2.5.3 RHODAMIN B

Rhodamin B mempunyai banyak sinonim, antara lain D dan C Red no. 19,

(27)

menarik. Rhodamin juga digunakan di pabrik kertas untuk mewarnai kertas. Selain itu rhodamin juga digunakan sebagai pewarna makanan pada industri rumah tangga dan industri kecil.2

Zat ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang penggunaannya pada makanan melalui Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85. Rhodamin B sering digunakan pada produk seperti sirup, limun, es mambo, bakpao, es cendol, es kelapa, beberapa kue basah serta makanan kipang, kerupuk dan saus sambal.8

Berdasarkan analisis dengan metode destruksi dan metode spektrofotometri, didapatkan bahwa sifat racun Rhodamine B tidak hanya disebabkan oleh senyawa organiknya saja tetapi juga oleh senyawa anorganik yang terdapat dalam Rhodamin B itu sendiri. Bahkan jika Rhodamin B terkontaminasi oleh senyawa anorganik lain seperti timbal dan arsen, dengan terkontaminasinya Rhodamin B dengan kedua unsur tersebut, menjadikan pewarna ini berbahaya jika digunakan dalam makanan.9

Selain terdapat ikatan Rhodamin B dengan Klorin terdapat juga ikatan konjugasi. Ikatan konjugasi dari Rhodamin B inilah yang menyebabkan Rhodamin B bewarna merah. Ditemukannya bahaya yang sama antara Rhodamin B dan Klorin membuat adanya kesimpulan bahwa atom Klorin yang ada pada Rhodamin B yang menyebabkan terjadinya efek toksik bila masuk ke dalam tubuh manusia. Atom Cl yang ada sendiri adalah termasuk dalam halogen, dan sifat halogen yang berada dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan karsinogen.10

Menurut penelitian BPOM pada tahun 2003 dari 103 sampel Mie (Basah) ditemukan 50 (49%) sampel yang memenuhi syarat dan 53 (51%) sampel yang tidak memenuhi syarat. Dari 103 sampel Tahu, ditemukan 94 (78%) sampel yang memenuhi syarat, dan sebanyak 9 sampel yang tidak memenuhi syarat.6

(28)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Asterina pada tahun 2006 tentang identifikasi kadar boraks pada mie basah di kota padang didapatkan hasil penelitian bahwa dari 10 sampel.ditemukan 5 sampel mengandung boraks, kadar yang paling rendah didapatkan yaitu 334.805 ppm, sedang kadar yang tinggi yaitu sebesar 557. 14 ppm.10

2.5.4 METHANIL YELLOW

Methanil yellow juga merupakan salah satu zat pewarna yang tidak diizinkan untuk ditambahkan ke dalam bahan makanan. Methanil yellow digunakan sebagai pewarna untuk produk-produk tekstil, cat, kayu, dan cat lukis. Methanil juga biasa dijadikan indikator reaksi netralisasi asam basa.3

Zat pewarna sintesis ini berbentuk serbuk bewarna kuning kecoklatan. Zat berbahaya ini juga masih dapat ditemukan pada beberapa jenis makanan di sejumlah pasar, misalnya pada mie. Penambahan padamethanil yellowakan membuat mi basah berwarna kuning cerah. Beberapa jajanan anak-anak disekolah seperti manisan buah mangga dan kedondong juga memakai methanil yellow. Juga ditemukan pada bahan makanan kue basah, kerupuk, macam-macam jelly dan agar-agar. Pewarna ini termasuk kelompok azo dan dicurigai kuat mempunyai dampak buruk pada jaringan hati, kandung kemih, saluran pencernaan.2

Dampak Bahan Pewarna Terhadap Kesehatan

(29)

berbeda-beda yaitu tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, mutu pangan sehari-hari dan keadaan fisik.10

Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan iritasi kulit dan kemerahan bila terkena kulit, hampir mirip dengan sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur Rhodamin B. Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika dikonsumsi adalah senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa radikal adalah senyawa yang tidak stabil. Dalam struktur Rhodamin kita ketahui mengandung klorin (senyawa halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas yang tinggi maka dengan demikian senyawa tersebut karena merupakan senyawa yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita sehingga pada akhirnya akan memicu kanker pada manusia.10

Dr. kinosita telah melihat adanya efek karsinogenik, salah satu percobaannya adalah dengan cara memberi makan tikus dengan makanan yang mengandung zat warna, untuk dosis 3mg/hari pada tikus-tikus, sebagian mati sebelum 30 hari. Sisanya yang mampu bertahan sampai hari ke 150, telah terkena bermacam-macam tumor hati, dengan dosis 1 mg tikus mengalami tumor hati.10

Zat warna diabsorbsi dari dalam saluran pencernaan makanan dan sebagian dapat mengalami metabolism oleh mikroorganisme dalam usus. Dari saluran pencernaan dibawa langsung ke hati, melalui vena portal atau melalui system limfatik ke vena kava superior. Di dalam hati, senyawa ini dimetabolisme dan atau dikonjugasikan, lalu ditransportasikan ke ginjal untuk diekskresikan bersama urin.10

Ciri Makanan Yang Mengandung Pewarna

(30)

2.6 PENGETAHUAN

Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu

knowledge. DalamEncylopedia of philosophydijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sedemikian aktif sehingga subjek itu menyusun objek pada dirinya sendiri dalam kesatuan yang aktif.14,15,16,17

Pengetahuan adalah merupakan hasil “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yaitu melalui i n d era penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.14,15,16,17

Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mepunyai 6 tingkatan yaitu :

1. Tahu(know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan. menyatakan dan sebagainya.14,15,16,17

2. Memahami(Comprehention)

(31)

3. Aplikasi(Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya, aplikasi ini diartikan dapat sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.14,15,16,17

4. Analisis(Analisys)

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan, membedakan, mengelompokkan dan seperti sebagainya. Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan sebagainya.14,15,16,17

5. Sintesa (Syntesis)

Adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari informasi-informasi yang ada misalnya dapat menyusun, dapat menggunakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada.14,15,16,17

6. Evaluasi(Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifkasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responder kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita lihat sesuai dengan tingkatan-tingkatan diatas.14,15,16,17

(32)

penelitian dari subjek penelitian atau resonden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dengan tingkatan-tingkatan diatas.14,15,16,17

2.7 SIKAP

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang, tidak senang, setuju tidak setuju, baik tidak baik.17

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.14,15,16,17

Beberapa batasan lain tentang sikap ini dapat dikutip sebagai berikut:

” An individual’s social attitude is a syndrome of response consistency with

regard to social object”

“ A mental and neural state and neural of rediness, organized through expertence, exerting a directive or dynamic influenceup on the individuals responseto

all objects and situation with which it is related

Attitude entails an existing predisposition to response to social objecs which

in interaction with situation and other dispositional variables, guide and direct the

overt behavior of the individual.14,15,16,17

Dari batasan-batasan diatas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetpai hanya dapat di tafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.14,15,16,17

(33)

terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap suatu objek.14,15,16,17

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yakni :

1. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).

2. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.

3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga, misalnya seorang mengajak ibu yang lain (tetangga, saudaranya, dsb) untuk menimbang anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi adalah suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak. 4. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi. Misalnya seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapatkan tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.

Cara Pengukuran Sikap

(34)

mendukung atau memihak pada obyek sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yangfavoura ble. Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula berisi hal-hal negatif mengenai obyek sikap yang bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap obyek sikap. 14,15,16,17

Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang tidakfavourabel. Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favorable dan tidak favorable dalam jumlah yang seimbang. Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak mendukung sama sekali obyek sikap. 14,15,16,17

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat dan pernyataan responden terhadap suatu obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden melalui kuesioner.14,15,16,17

2.8 PERILAKU

Perilaku sama dengan kelakuan dan juga tingkah laku seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan.14

(35)

Pengukuran perilaku dapat dilakukan tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Pengukuran dapat juga dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden, pegukuran ini yang paling akurat dibandingkan dengan wawancara.14,15,16,17

Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S – O - R”atau Stimulus – Organisme – Respon.14,15,16,17

Skiner membedakan adanya dua proses yakni :

1. Responden respon ataureflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan – rangsangan tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation karena menimbulkan respon – respon yang relatif tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya, respon ini juga mencakup perilaku emosional misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya dengan mengadakan pesta, dan sebagainya.

2. Operan respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsangan tertentu. Perangsangan ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.

(36)

yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

 Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.

 Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :

 Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu

 Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus

 Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi

 Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru

 Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus

(37)

2.9 KERANGKA TEORI

2.10 KERANGKA KONSEP

Sikap Pengetahuan

Perilaku Faktor yang mempengaruhi

pengetahuan : 1. Usia 2. Pendidikan 3. Status ekonomi 4. Pekerjaan

5. Sumber informasi

Sikap Pengetahuan

Perilaku

(38)

2.11 DEFINISI OPERASIONAL

No Variabel Definisi Cara

Ukur

Wawancara Kuesioner Ordinal Total skor : 20

1. Baik : >75% nilai

maks

2.Sedang : 45-75% nilai

maks

Wawancara Kuesioner Ordinal Total skor : 16

1. Baik : >75% nilai

maks

2.Sedang : 45-75% nilai

maks

3.Kurang : <45%

3. Perilaku hasil dari

segala

Wawancara Kuesioner Ordinal Total skor : 20

1. Baik : >75% nilai

maks

2.Sedang : 45-75% nilai

maks

3.Kurang : <45%

4. Pendidikan Wawancara Kuesioner Ordinal 1. Rendah : Pendidikan dasar

berbentuk sekolah

(39)

madrasah

ibtidaiyah (MI)

atau bentuk lain

yang sederajat dan

madrasah

ibtidaiyah (MI)

atau bentuk lain

yang sederajat

2. Sedang : sekolah menengah pertama

(SMP) dan

madrasah

tsanawiyah (MTs),

atau bentuk lain

yang sederajat.

3. Tinggi: Pendidika tinggi merupakan

jenjang pendidikan

setelah pendidikan

dasar dan

menengah pertama

yang mencakup

sekolah menengah

atas dan program

pendidikan

diploma, sarjana,

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

3. 1. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah analitik komparatif kategorik tidak berpasangan dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional.)18,19

3. 2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Beringin Kota Jambi 3.2.2 Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – September 2011 3.3. Populasi dan sampel

3.3.1 Populasi

o Populasi target adalah seluruh ibu dari anak usia sekolah dasar

o Populasi terjangkau adalah seluruh ibu dari anak usia sekolah dasar yang ada di Kelurahan Beringin Kota Jambi

3.3.2. Jumlah sampel

Untuk menentukan besarnya sampel dalam penelitian ini digunakan rumus sebagai berikut:

( Zα ඥʹܲܳ + Zβ ඥܲͳܳͳ ൅ ܲʹܳʹ)2 ( P1-P2 )

Kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 5%, hipotesis 2 arah sehingga Zα = 1,960 Kesalahan tipe II ditetapkan sebesar 20%, maka Zβ = 0, 842

(41)

P2 = 0,4 (kepustakaan) Dengan demikian, P1 – P2 = 0,2 P1= 0,2 + 0,4 = 0,6 Q2 = 1-P2=0,6 Q1 = 1-P1=0,4

P=(P1+P2)/2 = (0,6+0,4)/2 = 0,5 Q=(Q1+Q2)/2 =(0,4+0,6)/2= 0,5

Dengan memasukkan nilai-nilai di atas pada rumus, diperoleh :

( Zα ඥʹܲܳ + Zβ ඥܲͳܳͳ ൅ ܲʹܳʹ 2

( P1-P2 )

(1,96ඥʹݔͲǡͷݔͲǡͷ+ 0,842√Ͳǡ͸ݔͲǡͶ ൅ ͲǡͶݔͲǡ͸ 2 2 (0,6-0,4)

(1,96 x (1,96 x 0,70 ) + (0,842 x0,69 ) 2 0,2

( 1,37 +0,58 ) 2 0,2

N1=N2 = 95

Untuk menjaga kemungkinan adanya drop out (DO), maka jumlah subjek ditambah sebanyak 10%. Jadi jumlah subjek adalah 95 + 9,5 = 104,5 Dibulatkan menjadi 105 sampel.18

N1 = N2 =

(42)

3.3.3. Cara pengambilan sampel

Pengambilan sampel dengan menggunakan cluster random sampling,karena secara geografis letak unit berjauhan..18,19

3.3.4. Kriteria sampel 3.3.4.1 Kriteria Inklusi

Ibu dari anak usia sekolah dasar yang ada di Kelurahan Beringin Kota Jambi yang bersedia menjadi responden dan mengisi kuesioner dengan lengkap

3.3.4.2 Kriteria Eksklusi

Ibu dari anak usia sekolah dasar yang ada di Kelurahan Beringin Kota Jambi yang bersedia menjadi responden tetapi tidak mengisi kuesioner dengan lengkap

3.4.Cara Kerja Penelitian

Ibu anak usia sekolah dasar kelurahan Beringin kota Jambi

Informed consent

Ya Tidak

Wawancara Menggunakan kuesioner

(43)

3.4.1 Alat Pengumpulan data

Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner yang terdiri dari tiga jenis kuesioner, yaitu kuesioner untuk mengidentifikasi pengetahuan yang terdiri dari 10 pertanyaan, kuesioner untuk mengidentifikasi sikap yang terdiri dari 8 pertanyaan, dan kuesioner untuk mengidentifikasi perilaku yang terdiri dari 5 pertanyaan.

Sebelum dilakukan penyebaran kuesioner kepada responden terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas.

o 3.4.1.1 Uji Validitas

Uji validitas berasal dari kata validityyang mempunyai arti sejauh mana ketepatan alat ukur dalam mengukur suatu data. Untuk mengetahui validitas suatu instrumen dilakukan dengan cara melakukan korelasi antar skor masing-masing variabel dengan skor totalnya (membandingkan r tabel dengan r hitung). Dikatakan valid jika r hitung lebih besar daripada r hasil. r tabel yang digunakan adalah 0,356

Pada penelitian ini telah dilakukan uji validitas pada 29 orang ibu anak SD di Kelurahan Cirendeu Tanggerang Selatan. Terdapat 4 pertanyaan pengetahuan yang tidak valid, 2 pertanyaan sikap yang tidak valid, dan 1 pertanyaan perilaku yang tidak valid

o 3.4.1.2 Uji Reliabilitas

(44)

pengetahuan, sikap dan perilaku pada penelian ini valid karena r hasil (r alpha) lebih besar daripada r tabel.

3.5. Managemen Data 3.5.1. Pengumpulan Data

Data primer

Data primer diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner yang dibagikan pada ibu dari anak usia sekolah dasar yang ada di Kelurahan Beringin Kota Jambi

Data sekunder

Data sekunder diperoleh dengan cara mengambil data dari arsip Kelurahan Beringin Kota Jambi yaitu berupa data kartu keluarga yang ada di Kelurahan Beringin Kota Jambi

3.5.2. Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data

(45)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada ibu yang memiliki anak usia sekolah dasar Kelurahan Beringin Kota Jambi pada bulan Januari – September 2011. Besar sampel yang dikumpulkan sebanyak 105 responden dan dipilih secara acak menggunakan cluster random sampling.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran dan hubungan antara pengetahuan terhadap sikap dan sikap terhadap perilaku. Penelitian sejenis ini belum pernah dilakukan sebelumnya di Kelurahan Beringin Kota Jambi.

Di Kelurahan Beringin Kota Jambi terdapat tiga Sekolah Dasar Negeri yang saling berdekatan dan berada diantara pemukiman penduduk yang sebagian anak-anak yang tinggal di sana bersekolah di salah satu SD Negeri tersebut. Di setiap sekolah banyak pedagang yang menjual berbagai macam jajanan. Dari hasil survey kemungkinan jajanan yang dijual di lingkungan SD tersebut mengandung bahan terlarang dan berbahaya.

4.1. KETERBATASAN PENELITIAN

(46)

4.2. KARAKTERISTIK RESPONDEN

Table 4.2.1. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan responden

Tingkat pendidikan Frekuensi Persentase

Tinggi 30 28,6

Sedang 40 39,2

Rendah 35 32,2

Tabel 4.2.2. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan responden

Pekerjaan Frekuensi Persentase

Perawat 1 1

Guru 2 1,9

Pembantu rumah tangga 17 15,4

Karyawan swasta 13 12,7

Wiraswasta 33 31,7

Ibu Rumah Tangga 39 37,3

Tabel 4.2.3. Distribusi responden berdasarkan usia responden

Usia Frekuensi Persentase

20-35 58 55,2

36-45 36 34,3

46-55 11 10,5

Tabel 4.2.4. Distribusi responden berdasarkan jumlah anak responden

Jumlah Anak Frekuensi Persentase

1 anak 27 25,7

2 anak 37 35,2

3 anak 30 28,6

4 anak 9 8,6

(47)

4.3 DATA PENGETAHUAN RESPONDEN

Tabel 4.3.1 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap tujuan pemberian bahan pengawet pada makanan

Jawaban Frekuensi Persentase

Membuat makanan lebih enak 7 6,7

Membuat makanan lebih tahan lama 86 81,1

Membuat makanan lebih lunak 6 5,7

Tidak tahu 6 5,7

Hasil penelitian pada tabel 4.1.1 menunjukan bahwa sebanyak 86 (81,1%) responden mengetahui bahwa tujuan pemberian bahan pengawet pada makanan adalah membuat makanan menjadi lebih tahan lama.

Tabel 4.3.2 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap tujuan pemberian pewarna pada makanan

Jawaban Frekuensi Persentase

Membedakan jenis makanan 15 14,3

Meningkatkan ketertarikan konsumen 75 71,4

Mengurangi pencemaran mikroba 4 3,8

Tidak tahu 11 10,5

(48)

Tabel 4.3.3 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap jenis pengawet yang biasanya digunakan pada jajanan

Jawaban Frekuensi Persentase

Formalin 45 42,9

Boraks 6 5,7

Formalin dan boraks 38 36,2

Formalin dan kalium klorat 2 1,9

Dulsin dan boraks 1 1,0

Formalin, kalium klorat, boraks 1 1,0

Formalin, boraks, dietilpirokarbonat 1 1,0

Tidak tahu 11 10,5

Hasil penelitian pada tabel 4.1.3 menunjukkan bahwa sebanyak 38 (36,2%) responden mengetahui bahwa jenis pengawet yang biasanya digunakan pada jajanan adalah formalin dan boraks.

Tabel 4.3.4. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap jenis jajanan yang biasanya menggunakan pengawet

Jawaban Frekuensi Persentase

Memilih 1 pilihan 44 41,9

Memilih 2 pilihan 22 21

Memilih 3 pilihan 18 17,1

Memilih 4 pilihan 8 7,6

Memilih 5 pilihan 1 1

Tidak tahu 12 11,4

(49)

Tabel 4.3.5. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap ciri-ciri jajanan yang biasanya menggunakan pengawet

Jawaban Frekuensi Persentase

Memilih 1 pilihan 32 30,5

Memilih 2 pilihan 31 29,5

Memilih 3 pilihan 14 13,3

Memilih 4 pilihan 11 10,5

Memilih 5 pilihan 1 1

Tidak tahu 16 14,3

Hasil penelitian pada tabel 4.1.5 menunjukkan bahwa sebanyak 48 (44,8%) responden tidak mengetahui ciri-ciri jajanan yang biasanya menggunakan pengawet. Hal ini terlihat dari responden yang hanya memilih satu pilihan jawaban dan responden yang hanya memilih jawaban tidak tahu. Pilihan Jawaban yang disediakan adalah 1. Kenyal, 2. tidak mudah hancur, 3. Tidak dihinggapi lalat, 4. Berbau khas, 5. Tahan 7 hari.

Tabel 4.3.6. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap pengaruh jajanan yang menggunakan pengawet terhadap kesehatan

Jawaban ∑ %

Memilih 1 pilihan 36 34,3

Memilih 2 pilihan 26 24,3

Memilih 3 pilihan 15 14,3

Memilih 4 pilihan 11 10,5

Memilih 5 pilihan 3 2,9

Tidak tahu 14 12,4

(50)

Merusak susunan saraf, 2. Menyebabkan muntah, 3, merusak hati, 4. Merusak ginjal, 5. Merusak pencernaan.

Tabel 4.3.7. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap jenis pewarna yang biasanya digunakan pada jajanan

Jawaban ∑ %

Memilih 1 pilihan 71 67,6

Memilih 2 pilihan 6 5,7

Memilih 3 pilihan 2 1,9

Memilih 4 pilihan 1 1

Memilih 5 pilihan 0 0

Tidak tahu 25 23,5

Hasil penelitian pada tabel 4.1.7 menunjukkan bahwa sebanyak 96 (91,1%) responden tidak mengetahui jenis pewarna yang biasanya digunakan pada jajanan. Hal ini terlihat dari responden yang hanya memilih satu pilihan jawaban dan responden yang hanya memilih jawaban tidak tahu. Jawaban yang disediakan adalah 1. Rhodamin, 2. Auramin, 3. Methanil yellow, 4. Burnt umber, 5. Ponceau 3R, 6. Citrus red.

Tabel 4.3.8. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap jenis jajanan yang biasanya menggunakan pewarna

Jawaban ∑ %

Memilih 1 pilihan 38 36,2

Memilih 2 pilihan 39 37,1

Memilih 3 pilihan 15 14,3

Memilih 4 pilihan 5 4,8

Memilih 5 pilihan 3 2,9

Tidak tahu 4 3,8

(51)

Hasil penelitian pada tabel 4.1.8 menunjukkan bahwa sebanyak 42 (40%) responden tidak mengetahui jenis jajanan yang biasanya menggunakan pewarna. Hal ini terlihat dari responden yang hanya memilih satu pilihan jawaban, responden yang hanya memilih jawaban tidak tahu dan responden yang tidak menjawab. Pilhan jawaban yang disediakan adalah 1. Kerupuk, 2. Es cendol, 3. Gulali, 4. Sirup, 5. Mie bakso.

Tabel 4.3.9. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap ciri-ciri jajanan yang biasanya menggunakan pewarna

Jawaban ∑ %

Warnanya mencolok, tidak berbau, dan warnanya meninggalkan bekas 30 28,6

Warnanya mencolok, berbau, dan warnanya meninggalkan bekas 58 55,2

Warnanya tidak mencolok, tidak meninggalkan bekas dan tampilannya tidak menarik

4 3,8

Tidak tahu 11 10,5

Tidak menjawab 2 1,9

Hasil penelitian pada tabel 4.1.9 menunjukkan bahwa hanya 30 (28,6%) responden yang mengetahui ciri-ciri jajanan yang menggunakan bahan pewarna yaitu warnanya mencolok, tidak berbau, dan warnanya meninggalkan bekas.

Tabel 4.3.10. Sebaran responden berdasarkan kategori pengetahuan terhadap pengaruh jajanan yang biasanya menggunakan pewarna terhadap kesehatan

Jawaban ∑ %

Memilih 1 pilihan 34 32,4

Memilih 2 pilihan 27 25,7

Memilih 3 pilihan 21 20

Memilih 4 pilihan 4 3,8

Memilih 5 pilihan 1 1

Tidak tahu 16 15,2

(52)

Hasil penelitian pada tabel 4.1.10 menunjukkan bahwa sebanyak 52 responden tidak mengetahui pengaruh jajanan yang biasanya menggunakan pewarna terhadap kesehatan. Hal ini terlihat dari responden yang hanya memilih satu pilihan jawaban, responden yang hanya memilih jawaban tidak tahu dan responden yang tidak menjawab. Jawaban yang disediakan adalah 1. Merusak saluran kemih, 2. Menyebabkan kanker hati, 3. Merusak saluran pencernaan, 4. Merusak ginjal, 5. Merusak kulit.

4.4. DATA SIKAP RESPONDEN

No

Pertanyaan Setuju

Kurang

Setuju Tidak setuju

% % %

1. Tujuan pemberian bahan pengawet untuk membuat makanan tahan lama

40 38,1 23 21,9 42 40

2. Jenis jajanan yang mengandung

pengawet adalah tahu 36 34,3 38 36,2 31 29,5

3. Ciri-ciri jajanan yang menggunakan pengawet adalah tidak dihinggapi lalat

49 46,7 25 23,8 31 29,8

4. Pengaruh jajanan yang

menggunakan pengawet adalah merusak ginjal

75 71,4 18 17,1 12 11,4

5. Tujuan pemberian pewarna pada jajanan untuk meningkatkan ketertarikan konsumen

44 41,9 31 29,5 30 28,6

6. Minuman yang menggunakan

pewarna adalah es cendol 39 37,1 41 39 25 23,8 7. Ciri-ciri jajanan yang menggunakan

pewarna warnanya mencolok 74 70,5 18 17,1 13 12,4 8. Pengaruh jajanan yang

menggunakan pewarna adalah kanker hati

65 61,2 17 16,2 23 21,9

(53)

responden menjawab tidak setuju terhadap tujuan pemberian bahan pengawet untuk membuat makanan tahan lama.

4.5. DATA PERILAKU RESPONDEN

No

bekal makanan 16 15,2 28 26,7 46 43,8 15 14,3

3. Membolehkan

(54)

4.6. ANALISIS UNIVARIAT

Berdasarkan hasil scoring dari jawaban responden maka pengetahuan, sikap dan perilaku dikategorikan menjadi 3 kelompok menjadi baik, sedang, kurang. Hasil pengukurannya dapat dilihat pada table dibawah ini

Tabel 4.6.1 Univariat pengetahuan responden

Kategori pengetahuan Frekuensi Persentase

Baik 3 2,9

Sedang 47 44,9

Kurang 55 52,4

Hasil penelitian pada tabel 4.5.1 sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang yaitu sebesar 55 (52,4%) reponden. Responden yang memiliki pengetahuan yang sedang sebanyak 47 (44,9%) responden. Responden yang memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 3 (2,9%) responden.

Dari beberapa pertanyaan pengetahuan yang telah diberikan kepada reponden terdapat beberapa pertanyaan yang mempunyai hasil yang sangat rendah yaitu pertanyaan pengetahuan tentang jenis pewarna yang biasanya digunakan pada jajanan. Dari hasil penelitian didapatkan sebanyak 25 responden menjawab tidak tahu dan 75 responden hanya memilih 1 pilihan jawaban. Jawaban yang paling banyak dipilih responden adalahmethanil yellow, selain itu pertanyaan pengetahuan tentang ciri-ciri pewarna yang biasanya digunakan pada jajanan sangat rendah. Hal ini terlihat dari hasil penelitian bahwa sebanyak 75 (71,4%) responden tidak menjawab dengan benar.

(55)

rendahnya tingkat pendidikan responden, kurangnya informasi baik dari media cetak mupun media elektronik.

Selama ini belum ada penelitian tentang efek bahan pengawet pada manusia namun penelitian yang telah ada adalah efek bahan pengawet pada binatang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh F. A Malek, K-U. Moritz, J. Fanghanel yang terdapat didalam jurnal of experimental animal science yang berjudul A study on spesifik behavioral effects of formaldehyde in the rat, hasil penelitian, menunjukan bahwa pencemaran melalui inhalasi mempengaruhi squamous cell carcinoma rongga hidung pada tikus. Dari empat studi terhadap pemberian air minum yang mengandung formaldehid pada tikus menunjukan hasil yang bermacam-macam. Pertama menunjukan timbulnya peningkatan forestomach papillomas pada tikus jantan. Kedua menunjukan timbulnya gastrointestinal leiomyosarcomas pada tikus jantan dan betina. Ketiga menunjukan peningkatan timbulnya total tumor menular, limpoma dan leukemia. Keempat Formaldehid juga menujukan efek karsinogenik melalui inhalasi dan proses pencernaan.11

Dari hasil penelitian ini didapatkan hanya 3 (2,9 %) responden yang memiliki pengetahuan yang baik. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Helena Sinaga pada guru SD di kota Medan. Pada penelitian tersebut tidak ada responden yang memiliki pengetahuan buruk, dan didapatkan bahwa sebanyak 65,72% responden mempunyai pengetahuan baik, dan sebanyak 34,28% responden mempunyai pengetahuan sedang.21

Hasil penelitian ini juga berbeda dengan hasil penelitian dilakukan oleh Intan Purnama Sari mengenai pengetahuan, sikap serta perilaku ibu tentang bahan pemanis tambahan pada jajanan anak sekolah dasar. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa sebanyak 75 % responden memiliki tingkat pengetahuan sedang.4

(56)

tingkat pendidikan sedang yaitu SMP, sedangkan pada penelitian Helena didapatkan bahwa tingkat pendidikan responden berada pada tingkat pendidkan tinggi yaitu S1.

Pada penelitian ini sebagian besar pekerjaan ibu adalah ibu rumah tangga sedangkan pada penelitian Helena pekerjaan responden adalah guru. Perbedaan ini mungkin akan mempengaruhi pengetahuan responden. Rendahnya pengetahuan responden mungkin dikarenakan kurangnya informasi dan sosialisasi kepada ibu baik di media cetak maupun media elektronik atau mungkin selama ini ibu kurang memperhatikan dan kurang waspada terhadap hal tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Notoadmojo bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui p an ca i n d era m an u s i a yak n i i n d era penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga, penginderaan yang baik akan meningkatkan pemahaman terhadap suatu objek atau informasi.14,15,16,17

Tabel 4.6.2. Univariat sikap responden

Kategori sikap Frekuensi Persentase

Baik 24 22,9

Sedang 68 64,8

Kurang 13 12,4

Hasil penelitian pada tabel 4.5.2 sebagian besar responden memiliki sikap sedang yaitu sebesar 68 (64,8%) reponden. Responden yang memiliki sikap baik sebanyak 24 (22,9%) responden. Responden yang memiliki sikap kurang sebanyak 13 (12,4%) responden.

(57)

terhadap jenis jajanan yang biasanya menggunakan pengawet adalah tahu, sebanyak 31 responden menjawab tidak setuju.

Namun terdapat juga sikap responden yang baik yaitu sikap terhadap efek bahan pengawet dalam jangka waktu lama, sebanyak 75 responden setuju bahwa efek bahan pengawet dalam jangka waktu lama adalah merusak ginjal. Sebanyak 65 (61,9%) responden juga setuju bahwa efek bahan pewarna adalah merusak hati.

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap sedang, hasil penelitan ini berbeda dengan hasil penelitian Helena Sinaga, pada penelitian ini didapatkan bahwa sebanyak 60 % responden mempunyai sikap baik.21

Namun hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Intan Purnama Sari, dari penelitian tersebut didapatkan bahwa sebanyak 60 % responden memiliki sikap sedang.4

Dalam penelitian ini dapat terlihat bahwa sebagian besar sikap ibu terhadap jajanan anak yang mengandung bahan tambahan pengawet dan pewarna berbahaya berada dalam kategori cukup yang artinya menandakan bahwa ibu mempunyai salah satu dari komponen sikap yaitu kepercayaan atau keyakinan terhadap stimulus atau objek. Hal ini sejalan dengan pendapat Allport bahwa komponen sikap itu terdiri dari kepercayaan atau keyakinan artinya bagaimana keyakinan atau pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.

Tabel 4.6.3 Univariat perilaku responden

Kategori perilaku Jumlah Persentase

Baik 23 21,9

Sedang 69 65,7

Kurang 13 12,4

(58)

sebanyak 23 (21,9%) responden. Responden yang memiliki perilaku kurang sebanyak 13 (12,4%) responden.

Dari hasil penelitan didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku sedang. Hasil ini terlihat dari perilaku responden selalu perilaku menyiapkan sarapan pagi yang dimasak sendiri, selalu membawakan bekal makanan, tidak pernah membolehkan membeli makanan yang warnanya mencolok, dan selalu memperhatikan jajanan yang dibeli oleh anak.

Hasil penelitian sama dengan yang dilakukan oleh Intan Purnama Sari, dari penelitian tersebut didapatkan bahwa sebanyak 75 % responden memiliki perilaku sedang.21.Namun hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Helena Sinaga, pada penelitian tersebut didapatkan bahwa sebanyak 70 % responden mempunyai perilaku baik.4

Perilaku membawakan bekal dan menyiapkan sarapan pagi ini akan berpengaruh terhadap kebiasaan jajan anak, karena faktor yang menyebabkan anak jajan disekolah adalah tidak sarapan pagi dan tidak membawa bekal makanan. Perilaku tidak membolehkan anak untuk membeli tahu, bakso dan makanan yang mempunyai warna yang mencolok serta perilaku selalu mengawasi jajanan dan makanan yang dibeli anak merupakan perilaku yang baik, hal ini menandakan tingkat pengawasan dan tingkat kepedulian orang tua juga baik.

4.7. ANALISIS BIVARIAT

Berdasarkan penelitian sebelumnya terdapat tiga kategori pengetahuan dan sikap yaitu baik, sedang, kurang. Namun setelah dilakukan uji silang dengan tiga ketegori tersebut hasilnya tidak layak untuk dilakukan uji chi square karena tidak

memenuhi syarat yaitu terdapat nilai expected yang kurang dari lima ada lebih dari

20%. Karena syarat ujichi squaretidak terpenuhi perlu dilakukan uji alternatif yaitu

penggabungan sel dari tabel 3x3 menjadi tabel 2x3.20

Peneliti menggabungkan kategori pengetahuan baik dengan kategori

Gambar

Table 4.2.1. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan responden
Tabel 4.3.1 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadaptujuan pemberian bahan pengawet pada makanan
Tabel 4.3.3Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadapjenis pengawet yang biasanya digunakan pada jajanan
Tabel 4.3.5. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadapciri-ciri jajanan yang biasanya menggunakan pengawet
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk membantu konsumen dalam memperkaya pengetahuan tentang berbagai macam makanan yang mengandung zat berbahaya misalnya jajanan sekolah seperti naget yang mengandung pewarna

Hasil penelitian didapatkan pengetahuan WUS tentang SADARI sebagian besar dengan kategori pengetahuan cukup baik yaitu sebanyak 40 responden (43%), sikap WUS dalam

Analisis bivariat antara variabel pengetahuan dan sikap pedagang makanan jajanan pasar terhadap penggunaan pewarna yang dilarang tidak dapat dilakukan uji statistik

Untuk membantu konsumen dalam memperkaya pengetahuan tentang berbagai macam makanan yang mengandung zat berbahaya misalnya jajanan sekolah seperti naget yang mengandung pewarna

makanan yang beredar dilingkungan sekitar anak mengandung zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh bahkan tergolong berbahaya, seperti halnya makan yang mengandung pengawet, pewarna

Jakarta yang sedang melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pedagang Terhadap Penggunaan Zat Pewarna Sintesis pada Makanan Jajanan

Walaupun sebagian besar data yang diperoleh mengungkap bahwa sebenarnya sikap keberagamaan peserta didik cenderung berada pada kategori cukup baik tetapi jika dilihat perindikator maka

Fokus penelitian dilakukan pada jenis pangan jajanan anak sekolah yang berada di lingkungan, tingkat pengetahuan pedagang tentang penggunaan bahan tambahan berbahaya pada makanan, dan