Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (1)

Teks penuh

(1)

Pengelolaan Terumbu Karang

LESTA TRIMISKA

Program Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Jalan WR Supratman, Kandang Limun, Bengkulu 38371 A, Indonesia

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumberdaya alam pesisir dan lautan yang sangat besar. Potensi sumberdaya alam ini perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan bangsa Indonesia dengan tetap memperhatikan dan melakukan usaha untuk menjaga kelestariannya. Pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan lautan yang baik diperlukan metode dengan pendekatan multidisplin ilmu yang meliputi berbagai aspek, seperti aspek pemanfaatan sumberdaya, kelestarian lingkungan dan aspek sosial ekonomi masyarakat. Teknologi penginderaan jauh mempunyai kemampuan untuk mengindentifikasi serta melakukan monitoring terhadap perubahan sumberdaya alam dan lingkungan wilayah pesisir dan laut.

Kata Kunci: penginderaan jauh, pesisir dan lautan PENDAHULUAN

Wilayah pesisir dan lautan merupakan daerah yang mempunyai potensi sumberdaya alam yang besar dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pembangunan. Sumberdaya di wilayah pesisir dan lautan secara garis besar terdiri dari tiga kelompok yaitu:

1. Sumber daya dapat pulih (renewable resources) meliputi hutan bakau, terumbu karang, padang lamun, rumput laut, sumberdaya perikanan laut dan bahanbahan bioaktif.

2. Sumberdaya tidak dapat pulih (nonrenewable resources) meliputi minyak bumi dan gas alam serta seluruh mineral dan geologi.

3. Jasa-jasa lingkungan, meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, media transportasi dan komunikasi, sumber energi (seperti: Ocean Thermal Energy Conversion, energi dari gelombang laut dan energi pasang surut), sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan keamanan, penampungan limbah, pengatur iklim, dan sistem penunjang kehidupan serta fungsi ekologis lainnya. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar dan beragam. Beberapa sumber daya tersebut misalnya sumber daya perikanan tangkap dan perikanan budidaya, hutan bakau yang yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai, terumbu karang yang sangat produktif dan khas terdapat di daerah tropis dan sumber daya lainnya. Perencanaan kawasan konservasi yang memerlukan banyak parameter akan memerlukan analisis yang kompleks dan tidak mudah dilakukan. Namun demikian dengan perkembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan metode analisis spasial seperti sekarang permasalahan tersebut mendapat jalan keluarnya. Misalnya dengan diperkenalkannya perangkat analisis Cell Based Modelling yang secara khusus dapat membantu dalam perencanaan kawasan konservasi laut secara cepat. Analisis Cell Based Modelling di dalam SIG ini akan sangat membantu para perencana, tenaga teknis, para pengambil kebijakan dalam mendesain, mengelola kawasan konservasi laut seperti yang mereka harapkan.

Pada awalnya konservasi dianggap sebagai suatu upaya perlindungan dan pelesatarian yang menutup kemungkinan dilakukannya pemanfaatan sumberdaya alam. Namun demikan bila suatu kawasan itu dilindungi, dirancang dan

dikelola secara tepat, dapat memberikan keuntungan yang lestari bagi masyarakat dan sebagai sumber devisa negara. Oleh karena itu konservasi memegang peranan penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi di lingkungan pedesaan dan turut menyumbangkan ekonomi pusat perkotaan serta meningkatkan kualitas hidup penghuninya.

Modal dasar bangsa Indonesia untuk menjalankan program kemaritiman adalah keberadaan wilayah perairan laut Indonesia yang luas serta posisi Indonesia yang strategis terletak pada jalur pelayaran dunia. Dalam sejarah berdirinya Indonesia, kerajaan-kerajaan pendahulu Indonesia seperti Sriwijaya dan Majapahit merupakan kerajaan yang kuat karena memiliki armada laut yang sangat kuat. Pemanfaatan laut oleh nenek moyang kita sebagai sarana dalam membangun komunikasi dan perdagangan dengan bangsa lain juga tercatat dalam sejarah bahkan sampai ke wilayah Madagaskar di Afrika. Potensi-potensi yang mengarah pada program kemaritiman lebih mengerucut kepada segala aktifitas yang berada di lautan. Pelayaran dan perdagangan dunia yang selama ini melewati wilayah perairan Indonesia merupakan dampak dari posisi strategis Indonesia pada poros maritim dunia. Dukungan yang kuat di bidang ekonomi, politik dan hankam mutlak diperlukan untuk menunjukan pengaruh bangsa Indonesia dalam memanfaatkan potensi maritim yang ada bagi kepentingannya sendiri serta melindungi pemanfaatan dari pihak lain yang merugikan.

(2)

2

BAHAN DAN METODE Area Study

Lokasi dan objek penelitian tentang kawasan konservasi laut berada di perairan pulau Karang Lebar dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta. Lokasi penelitian terletak antara 1060 33’ –1060 38’ Bujur Timur dan 50 41’ –50 46’ Lintang Selatan. Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahap : pengolahan citra, survey lapang dan pengambilan sampling kualitas air pada tanggal 12- 18 dan analisa akhir yang dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis , Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Alat

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu : 1. Perangkat lunak image processing

2. GPS (Global Positioning System) , GPS Sounder 3. Scuba set

4. Roll meter 5. Refraktometer 6. Floating Droudge 7. DO-Meter 8. pH tester 9. Termometer 10. Secci disk

Bahan

Bahan dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. Citra satelit Formosat-2 Akusisi 29 Agustus 2007. 2. Peta Lingkungan Pantai daerah Perairan Pulau Pramuka

Kepulauan Seribu dari Bakosurtanal

3. Data kondisi ekosistem terumbu karang dan kualitas air dari survei lapang Program Insentif Riset Dasar 2008.

Procedures

Dalam penelitian ini, dilakukan integrasi data penginderaan jarak jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Alur kegiatan penelitian ini meliputi pengolahan citra awal, survei lapang, dan analisis penentuan kesesuaian KKL. Analisi spasial yang digunakan untuk penentuan kawasan potensial dijadikan KKL berdasarkan metode Cell Based Modelling, baik itu pengkelasan maupun untuk overlay setiap parameter. Tahapan-tahapan penentuan zona inti, buffer.

1. Pengolahan citra satelit 1.1 Pre-processing

Citra satelit Formosat-2 yang telah diperoleh tidak sepenuhnya digunakan dalam analisi, untuk itu perlu adanya pemotongan citra (cropping). Pemotongan citra ini bertujuan untuk membatasi daerah sesuai lokasi penelitian. Setelah pemotongan citra dilakukan pemulihan citra yang terdiri atas dua proses yaitu koreksi radiometrik dan koreksi geometrik. Koreksi radiometrik dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor yang menurunkan kualitas citra. Metode koreksi radiometrik yang digunakan adalah penyesuaian histrogram (histogram adjustment). Nilai bias adalah nilai digital minimum pada setiap band, nilai bias diasumsikan sama dengan besarnya pengaruh atmosfer terhadap gelombang cahaya. Pada metode ini ditetapkan bahwa respon spektral terendah pada setiap band nilainya adalah nol. Oleh karena itu dilakukan pengurangan nilai digital setiap piksel pada semua band sehingga nilai

minimumnya sama, yaitu nol. Koreksi geometrik bertujuan untuk memperbaiki distorsi posisi atau letak objek. Distorsi ini dihasilkan oleh faktor seperti variasi tinggi satelit, ketegakkan dan kecepatan satelit (Lillesand dan Kiefer, 1990). Koreksi geometrik dilakukan dengan dua langkah, yaitu: transformasi koordinat (transformation geometric) dan resampling. Transformasi koordinat dilakukan dengan Ground Control Point (GCP) pad output citra yang baru. GCP harus mempunyai sifat geometrik yang

tetap pada lokasi yang dapat diketahui dengantepat. Proses penerapan alih ragam geometrik terhadap data asli disebut resampling. Setelah koreksi geometri dilakukan maka didapat citra yang sesuai dengan posisi sebenarnya di bumi.

1.2 Penajaman citra

Proses penajaman citra merupakan proses penggabungan informasi dari citra secara spektral melalui band ratioing (menghitung perbandingan nilai digital piksel setiap band).

1.3 Penajaman citra untuk karakteristik dasar perairan

Untuk penggambaran karakteristik perairan dangkal digunakan model algoritma yang berasal dari penurunan persamaan ’Standard Exponential Attenuation Model’ oleh Green et. all., 2001. Algoritma tersebut menggunakan band 3 dan band 2 dari citra Formosat-2 . Dasar penggunaan band 3 dan band 2 yaitu karena kedua band ini memiliki penetrasi yang baik ke dalam kolom air. Algoritma tersebut yaitu :

Y = ln K1 - ki/kj*ln K2

Keterangan : K1 = Kanal band 3 dari Formosat - 2 K2 = Kanal band 2 dari Formosat – 2

Ki/kj = Koefisien attenuasi, yang diperoleh dari

1.3 Penajaman citra untuk klorofil perairan

Klorofil merupakan indikator yang baik bagi ketersediaan makanan pada trofik level yang lebih tinggi, karena konsentrasi klorofil menentukan besarnya produktivitas primer perairan (Susilo, 2000). Dalam penentuan sebaran spasial klorofil perairan digunakan kombinasi dari band 3 dan band 4. Algoritma yang digunakan dalam penentuan konsentrasi klorofil:

C = 2,41*(K1 / K2) + 0,187

Keterangan : C = Konsentrasi klorofil-a (mg/l) K1 = Kanal band 1 dari Formosat - 2

K2 = Kanal band 2 dari Formosat – 2

1.4 Penajaman citra untuk muatan padatan tersuspensi

Informasi sebaran muatan padatan tersuspensi di perairan diperoleh menggunakan formula dalam pemetaan muatan padatan tersuspensi perairan di Situbondo. Algoritma ini menggunakan kombinasi dari band 2 dan band 1 Formosat - 2. Algoritma tersebut yaitu :

MPT(mg/l) = 100.6678 + 5.5085*K3 + 0.4563*K32 + 0.9775*K2*K3

Keterangan : MPT(mg/l) = Muatan Padatan Tersuspensi (mg/l)

K3 = Kanal band 1 dari Formosat - 2 K2 = Kanal band 2 dari Formosat – 2

1.5 Klasifikasi citra

(3)

sehingga mudah dikenali. Dalam penelitian ini klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi terbimbing (Supervised Classification) dan tak terbimbing (Unsupervised Classification).

1.6 Penilaian hasil dan analisis ketelitian data

Penelitian menggunakan metode dan data tertentu perlu dilakukan uji ketelitian atau validasi data, karena hasil uji ketelitian mempengaruhi besarnya tingkat kepercayaan pengguna terhadap setiap jenis data maupun metode analisisnya. Hal ini juga dilakukan untuk membuktikan kesesuaian antara klasifikasi citra dengan data lapangan yang didapat. Perhitungan akurasi data dilakukan dengan membuat matrix kontingensi, yang disebut confusion matrix yang didapat dengan cara membandingkan perhitungan titik sampel di lapangan (groundtruth) dengan data hasil klasifikasi citra (jumlah pixelnya). Nilai ketelitian yang diharapkan nantinya harus memenuhi syarat lebih besar dari 70 %, sehingga dari nilai yang didapatkan tersebut merupakan pembuktian

terhadap nilai kevalidan data citra.

1.7 Pengukuran faktor biofisik lapangan

Pengukuran parameter biofisik perairan di lapangan mutlak dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang dapat diturunkan dari citra satelit. Pengukuran parameter kualitas perairan dilakukan dengan pengukuran secara insitu dengan terlebih dahulu menentukan stasiun. Data-data pengukuran lapangan meliputi: suhu permukaan laut, salinitas, pH , oksigen terlarut (DO), kecerahan, dan kecepatan arus permukaan. Seluruh parameter yang diukur disimpan sebagai data atribut masingmasing stasiun yang direpresentasikan sebagai point. Untuk dapat melihat sebaran nilai parameter perairan secara spasial dilakukan interpolasi masingmasing parameter. Metode interpolasi yang digunakan adalah spline. Spline mengestimasi nilai sel berdasarkan nilai rata-rata pada hampiran antara point data masing-masing contoh. Metode ini memiliki asumsi bahwa variable yang dipetakan akan berkurang pengaruhnya ketika menjaui pont sentral. Kelebihan metode ini yaitu dapat memetakan dengan baik interpolasi beberapa point yang menyebar serta penggambaran spasial yang lebih halus. Dalam pemetaan spasial bathimetri, digunakan metode interpolasi natural neighbors. Metode ini merupakan metode interpolasi yang paling efektif jika sel input cukup banyak, sehingga akan dihasilkan peta tematik bethimetri yang mirip dengan keadaan aslinya (natural).

1.7 Survei kondisi terumbu karang dan kepadatan ikan karang

Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas terdapat di daerah tropis. Meskipun terumbu karang ditemukan di seluruh perairan dunia, tetapi hanya di daerah tropis terumbu karang dapat tumbuh dengan baik. Pegamatan habitat dasar ekosistem terumbu karang yang terdiri atas karang keras, karang lunak dan berbagai organisme lainnya, menggunakan metode transek garis menyinggung LIT (Line Intercept Transect) dan RRA (Rapid Reef Assessment). Untuk metode LIT, transek garis dibentangkan sejajar garis pantai sepanjang 10 meter menggunakan rol meter. Setiap lokasi pengamatan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali ulangan dengan interval 10 meter di antara setiap ulangan, sehingga total

transek pengamatan adalah 50 meter. Pengamatan biota pengisi habitat dasar didasarkan pada bentuk pertumbuhan (lifeform), dengan keterangan genera.

Gambar 1. Metode pengambilan data LIT

Pengamatan data ikan karang mencakup visual sensus ikan karang dan estimasi biomassa ikan target. Pengambilan data ikan karang menggunakan transek yang sama dengan transek untuk pengambilan data karang. Pengamat bergerak sepanjang transek garis dengan kecepatan konstan dan mencatat spesies ikan sejauh 2.5 meter ke kanan dan 2.5 meter ke kiri. Data yang diambil untuk data visual sensus meliputi spesies dan jumlah ikan yang teramati.

Gambar 2. Metode Visual Sensus

Informasi yang dihasilkan adalah kondisi terkini dari kondisi ekositem terumbu karang yang diamati dan koloni karang yang mendominasi di perairan ini, data habitat dasar dan ikan karang yang telah dianalisis lebih lanjut. Parameter habitat dasar yang dihitung hanya persen penutupan. Sedangkan untuk ikan karang meliputi jumlah spesies yang ditemukan dan kelimpahan ikan karang.

1.8 Persen penutupan habitat dasar

Biota habitat dasar serta panjang transisi penutupan yang ditemukan sepanjang transek garis, dikelompokkan menurut bentuk pertumbuhannya (lifeform). Kemudian bentuk pertumbuhan tersebut dihitung nilai penutupannya berdasarkan rumus berikut:

Li = x100% L ni

(4)

4 Li = Persentase penutupan biota karang ke-i

ni = Panjang total kelompok biota karang ke-i L = Panjang total transek garis

Data Analysis

Uji statistik citra hasil klasifikasi

Perhitungan akurasi citra hasil klasifikasi dilakukan dengan membuat matrik kontingensi, yang juga disebut confusion matrix . Matrix ini didapat dengan cara membandingkan antara jumlah pixel hasil klasifikasi supervised citra (Lyzenga) dengan data lapang (ground truth). Hasilnya didapatkan nilai overall accuracy, sebesar 90,12 %, producer accuracy sebesar 0,90 dan user accuracy sebesar 0,89. Hampir seluruh kelas memenuhi toleransi, sehingga proses klasifikasi supervised yang dilakukan sudah terkelaskan dengan benar

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan awal citra

Citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Formosat -2 akuisisi 29 Agustus 2007 level 2A dimana telah terkoreksi radiometrik dan geometrik tanpa GCP (Ground Control Point). Citra Formosat dipilih penulis dalam penentuan model konservasi, karena satelit ini merupakan satelit observasi bumi yang memiliki resolusi spasial cukup tinggi yaitu sebesar 8 x 8 m untuk multi spectral dan 2 x 2 m untuk pankromatik sehingga satuan piksel tersebut cukup merepresentasikan spot - spot zona kawasan konservasi laut sebagai dasar dari Cell Based Modelling dan resolusi temporal 1 hari yang dapat memonitor perubahan situasi keseharian dengan cepat . Citra Formosat-2 yang diperoleh dari Laboratorium Penginderaan Jauh Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam (TISDA) – BPPT, Jakarta. Koreksi radiometrik dilakukan untuk menghilangkan faktor – faktor yang menurunkan kualitas citra. Metode koreksi radiometrik yang digunakan adalah penyesuaian histogram (histogram adjustment) tetapi untuk penelitian kali ini koreksi radiometrik tidak dilakukan lagi oleh peneliti karena citra Formosat merupakan citra high resolution satellite dan telah terkoreksi radiometrik.

Diskusi

Setiap metode atau teknologi selalu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan teknologi penginderaan jauh. Oleh karena itu maka penggunaan teknologi ini harus disesuaikan dengan tujuan. Teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu metode alternatif yang sangat menguntungkan jika dimanfaatkan pada suatu negara dengan wilayah yang sangat luas seperti Indonesia. Beberapa keuntungan penggunaan teknologi penginderaan jauh, antara lain yaitu:

1. Citra menggambarkan obyek, daerah dan gejala di permukaan bumi dengan wujud dan letak obyek yang mirip dengan wujud dan letaknya di permukaan bumi, relative lengkap, permanen dan meliputi daerah yang sangat luas.

2. Karakteristik obyek yang tidak tampak dapat diwujudkan dalam bentuk citra, sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya

3. Jumah data yang dapat diambil dalam waktu sekali pengambilan data sangat banyak yang tidak akan tertandingi oleh metode lain.

4. Pengambilan data di wilayah yang sama dapat dilakukan berulang-ulang sehingga analisis data dapat dilakukan tidak saja berdasarkan variasi spasial tetapi juga berdasarkan variasi temporal. 5. Citra dapat dibuat secara tepat, meskipun untuk

daerah yang sulit dijelajahi secara teresterial. 6. Merupakan satu-satunya cara untuk memetakan

daerah bencana.

Periode pembuatan citra relatif pendek Adapun kelemahan teknologi penginderaan jauh yaitu:

1. Tidak semua parameter kelautan dan wilayah pesisir dapat dideteksi dengan teknologi penginderaan jauh. Hal ini disebabkan karena gelombang elektromagnetik mempunyai keterbatasan dalam membedakan benda yang satu dengan benda yang lain, tidak dapat menembus benda padat yang tidak transparan, daya tembus terhadap air yang terbatas.

2. Akurasi data lebih rendah dibandingkan dengan metode pendataan lapangan (survey in situ) yang disebabkan karena keterbatasan sifat gelombang elektromagnetik dan jarak yang jauh antara sensor dengan benda yang diamati.

Keterlindungan wilayah

Keterlindungan merupakan parameter yang turut berpengaruh dalam pembangunan sebuah Marine Protected Area. Agar kondisi ekologi wilayah ini terlindung dari ancaman faktor oseanografi yang ekstrim seperti arus dan gelombang, maka lokasi kawasan konservasi laut sebaiknya berada di lokasi terlindung. Penentuan keterlindungan wilayah dilakukan melalui interpretasi secara visual dari citra komposit, kemudian lakukan training area berdasarkan komposit citra. Kelas baru didapat dari klasifikasi supervised area. Daerah terlindung terdapat pada gosong dan goba. Perairan Kepulauan Seribu memiliki banyak pulau – pulau kecil dan gosong-gosong karang. Dari peta keterlindungan lokasi (Gambar 17) dapat dilihat bahwa perairan Karang Lebar dan Karang Congkak merupakan wilayah yang potensial untuk dijadikan kawasan lindung. Perairan dalam gosong dan goba secara alamiah akan melindungi lokasi konservasi dari hempasan gelombang dan arus yang kuat, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Perairan lepas pantai sangat tidak sesuai dalam pembuatan kawasan konservasi laut.

Suhu

Suhu merupakan salah satu parameter biofisik yang menentukan keberadaan ikan. Ikan karang mempunyai karakter yang menyukai suhu perairan tertentu. Suhu juga merupakan salah satu factor pembatas bagi keberadaan ekosistem terumbu karang. Karang akan tumbuh secara optimal pada kisaran suhu rata-rata tahunan 23-25 °C. Toleransi suhu sampai dengan 36-40 °C . Sebaran suhu perairan Karang Lebar dan Karang Congkak dapat dilihat pada Gambar 18. Nilai sebaran suhu permukaan laut berkisar antara 28,6 – 32,49 0C. Kondisi ini ideal bagi pertumbuhan terumbu karang. Semakin ke laut lepas suhu semakin berkurang, hal ini disebabkan pengaruh panas dari daratan dimana pada siang hari darat lebih cepat menerima panas dibandingkan dengan lautan.

(5)

Salinitas adalah kadar gram garam yang terkandung dalam 1 kilogram air laut. Salinitas merupakan salah satu faktor biofisik perairan yang berpengaruh dalam penentuan zona perlindungan laut, dimana salinitas juga merupakan salah satu faktor pembatas bagi petumbuhan terumbu karang. Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal 32-35 ‰. Sebaran nilai salinitas dapat dilihat pada Gambar 19. Dari gambar tersebut terlihat bahwa sebaran salinitas di perairan Karang Lebar dan Karang Congkak secara horizontal cocok untuk pertumbuhan terumbu karang yaitu 32-35‰. Semakin ke arah laut lepas salinitas meninkat, hal ini disebabkan tidak adanya masukan air tawar (run off ) dari daratan. Potential of Hydrogen (pH) adalah konsentrasi ion hidrogen di dalam air. Secara umum, tingkat kemasaman atau kebasaan (pH) perairan Karang Lebar dan Karang Congkak adalah normal, dengan nilai berkisar 8,3 – 8,6. Sebaran spasial pH hasil pengukuran dapat dilihat pada Gambar 20. Dari sebaran spasial ini terlihat bahwa pada daerah tempat terjadinya percampuran antara air laut dan air tawar pH relative lebih rendah yaitu daerah dekat darat.

Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen-DO) adalah jumlah oksigen yang terlarut dalam air, yang diukur dalam unit satuan miligram per liter (mg/l). Komponen oksigen ini di dalam air sangat kritis untuk kelangsungan hidup ikan dan organisme laut lainnya, tetapi bila kadarnya berlebihan juga dapat menyebabkan kematian. Oksigen terlarut menggambarkan besarnya tingkat produktivitas primer perairan. Semakin tinggi kandungan oksigen yang terlarut di perairan dapat mengindikasikan tingginya tingkat produktivitas primer.

Produktivitas primer merupakan hasil dari proses fotosintesis. Sebaran oksigen terlarut diperoleh dari hasil interpolasi dari titik pengambilan sampel di lapangan sebanyak 25 titik yang menyebar diperairan Karang Lebar dan Karang Congkak. Berdasarkan Gambar 21 terlihat bahwa sebaran oksigen terlarut diperairan Karang Lebar dan Karang Congkak berkisar antara 5,01 – 8,6 mg/l. Kadar oksigen cenderung meningkat kearah laut lepas.

Kecerahan

Intensitas cahaya matahari yang menembus ke dalam suatu perairan mempengaruhi kehidupan sebagian besar organisme perairan. Selain penting, sinar matahari juga membatasi kehidupan organisme tersebut. Intensitas sinar (masukan energi) yang mengenai lapisan autotrofik mengendalikan seluruh ekosistem melalui pengaruhnya pada produksi primer. Oleh karena itu, tingkat kecerahan perairan perlu diketahui untuk mengetahui produktivitas primer yang dapat terjadi di perairan tersebut. Kecerahan juga salah satu faktor

pembatas bagi pertumbuhan terumbu karang.

KESIMPULAN

Pembentukan sebuah model konservasi khususnya konservasi laut (DPL) perlu mengintegrasikan faktor biofisik perairan, jarak dari kawasan konservasi dan jarak dari aktivitas manusia agar pengoptimalan kegiatan konservasi serta pengawasan bisa maksimal. Parameter tersebut diantaranya substrat dasar, kedalaman perairan,

jenis ikan karang, kelimpahan ikan karang jarak dari jalur pelayaran, dan jarak dari pemukiman (pantauan). Parameter lingkungan lain seperti klorofil, mpt, suhu, salinitas, ph, DO, dan kecepatan arus tidak digunakan dalam penentuan kawasan konservasi laut karena tidak memberikan hasil yang berbeda nyata dalam penentuan kawasan ini. Analisis spasial pada data raster merupakan dasar dari Cell Based Modelling karena setiap sel memiliki nilai tertentu sehingga akan memudahkan dalam analisis spasial, terlebih data-data raster dapat diturunkan melalui transformasi algoritma pada citra satelit. Parameter yang diturunkan dari citra satelit adalah substrat dasar, padatan tersuspensi, konsentrasi klorofil serta pemetaan kawasan mangrove. Resolusi satelit yang tinggi yaitu 8 x 8 m menambah keakuratan dari hasil pengolahan data raster ini.

DAFTAR PUSTAKA

Afif, M. A. 2008. Analisi Spasial Kualitas Ekosistem Terumbu Karang Sebagai Dasar Penentuan Kawasan Konservasi Laut Dengan Metode Cell Based Modelling Di Karang Lebar Dan Karang Congkak Kepulauan Seribu, Dki Jakarta. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

Fachruddin, S. A. 2010. Penginderaan Jauh dan Aplikasinya di Wilayah Pesisir dan Lautan. Jurnal Kelautan. 3(1):18-28

Sulistyo B, 2007, Uji ketelitian identifikasi penyebaran

terumbu karang berdasarkan Landsat TM Studi

Kasus di Pulau Enggano, Kab. Bengkulu Utara.

Majalah Geografi Indonesia 212: 191-203

Sulistyo, B. 2007. Uji Ketelitian Identifikasi Penyebaran Terumbu Karang Berdasarkan Landsat TM. Artikel Majalah demografi Indonesia. 21(2):191-203

Sulistyo, B., 2017, The Accuracy of The Outer

Boundary Delineation of Coral Reef Area

Derived From The Analyses of Various

Vegetation Indices of Satellite Landsat

Thematic Mapper, Biodiversitas, 18, 351-358

Winarso, G., M. R. Khomarudin., S. Budhiman dan M.

Figur

Gambar 1. Metode pengambilan data LIT Pengamatan data ikan karang mencakup visual

Gambar 1.

Metode pengambilan data LIT Pengamatan data ikan karang mencakup visual p.3
Gambar 2. Metode Visual Sensus Informasi yang dihasilkan adalah kondisi terkini

Gambar 2.

Metode Visual Sensus Informasi yang dihasilkan adalah kondisi terkini p.3

Referensi

Memperbarui...