Tugas : Makalah Kelompok Sejarah dan Politik Hukum Dosen : Dr. Abdul haris Hamid,S.H.,M.H.
PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA
Disusun oleh
Kelompok ll
FAKULTAS HUKUM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berjudul “Perlindungan Konsumen di Indonesia’’. Di dalam pembuatan makalah ini, kami berusaha menguraikan dan menjelaskan tentang perlindungan terhadap konsumen.
Akhir kata kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangannya, oleh karena itu kami mengharapkan saran, kritik dan petunjuk dari berbagai pihak untuk pembuatan makalah ini menjadi lebih baik dikemudian hari. Semoga makalah yang telah kami buat ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan informasi pada masa yang akan datang.
BAB l
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah perlindungan konsumen semakin gencar dibicarakan. Permasalahan ini tidak akan pernah habis dan akan selalu menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Selama masih banyak konsumen yang dirugikan, masalahnya tidak akan pernah tuntas. Oleh karena itu, masalah perlindungan konsumen perlu diperhatikan.
Hak konsumen yang diabaikan oleh pelaku usaha perlu dicermati secara seksama. Pada era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini, banyak bermunculan berbagai macam produk barang/pelayanan jasa yang dipasarkankepada konsumen di tanah air, baik melalui promosi, iklan, maupun penawaran barang secara langsung. Jika tidak berhati-hati dalam memilih produk barang/jasa yang diinginkan, konsumen hanya akan menjadi objek eksploitas dari pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab. Tanpa disadari, konsumen menerima begitu saja barang/jasa yang dikonsumsinya.
dikonsumsi. Perkembangan globalisasi dan perdagangan besar didukung oleh teknologi informasi dan telekomunikasi yang memberikan ruang gerak yang sangat bebas dalam setiap transaksi perdagangan, sehingga barang/jasa yang dipasarkan bisa dengan mudah dikonsumsi.
Permasalahan yang dihadapi konsumen tidak hanya sekedar bagaimana memilih barang, tetapi jauh lebih kompleks dari itu yang menyangkut pada kesadaran semua pihak, baik pengusaha, pemerintah maupun konsumen itu sendiri tentang pentingnya perlindungan konsumen. Pengusaha menyadari bahwa mereka harus menghargai hak-hak konsumen, memproduksi barang dan jasa yang berkualitas, aman untuk digunakan atau dikonsumsi, mengikuti standar yang berlaku, dengan harga yang sesuai. Pemerintah menyadari bahwa diperlukan undang-undang serta peraturan-peraturan disegala sektor yang berkaitan dengan berpindahnya barang dan jasa dari pengusaha ke konsumen. Pemerintah juga bertugas untuk mengawasi berjalannya peraturan serta undang-undang tersebut dengan baik.
Perlindungan Konsumen diharapkan upaya perlindungan konsumen di indonesia dapat lebih diperhatikan.
Pada penulisan makalah ini kita akan membahas mengenai bagaimana perlindungan terhadap konsumen serta apa saja hak dan kewajiban konsumen. Dalam makalah ini kami juga akan menjelaskan tentang prinsip ,asas-asas dan tujuan perlindungan konsumen yang mungkin akan berguna bagi pembaca khususnya mahasiswa dimasa yang akan datang.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah hak dan kewajiban serta perlindungan konsumen di Indonesia ?
2. Bagaimanakah hak dan kewajiban serta tanggung jawab pelaku usaha terhadap konsumen di Indonesia ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Sejarah dan Politik Hukum
2. Memberikan penjelasan mengenai Hukum Perlindungan Konsumen
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Konsumen
Konsumen secara harfiah memiliki arti, orang atau perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu, atau sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang. Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mendefinisikan konsumen sebagai setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Berdasarkan dari pengertian tersebut, yang dimaksud konsumen orang yang berstatus sebagai pemakai barang dan jasa.
Pengertian Konsumen Menurut UU Perlindungan Konsumen sesungguhnya dapat terbagi dalam tiga bagian, terdiri atas:
1. Konsumen dalam arti umum, yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat barang dan/atau jasa untuk tujuan tertentu.
2. Konsumen antara, yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat barang dan/atau jasa untuk diproduksi (produsen) menjadi barang /jasa lain atau untuk memperdagangkannya (distributor), dengan tujuan komersial. Konsumen antara ini sama dengan pelaku usaha; dan
keluarga atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan kembali.
Sedangkan pengertian Konsumen Menurut pengertian Pasal 1 angka 2 UU PK, “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain.dan.tidak.untuk.diperdagangkan.”
Jadi, Konsumen ialah orang yang memakai barang atau jasa guna untuk memenuhi keperluan dan kebutuhannya. Dalam ilmu ekonomi dapat dikelompokkan pada golongan besar suatu rumah tangga yaitu golongan Rumah Tangga Konsumsi (RTK), dan golongan Rumah Tangga Produksi (RTP).
2.2 Hukum Perlindungan Konsumen
Perlindungan konsumen adalah perangkat yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak sebagai contoh para penjual diwajibkan menunjukka tanda harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen. Dengan kata lain, segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan
seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah:
Undang Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. 3821.
Undang Undang No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Usaha Tidak Sehat.
Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian Sengketa.
Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen.
Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag Prop/Kab/Kota.
Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 795 /DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen.
Menurut Undang- undang no. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen:
Pasal 1 butir 1,2 dan 3 :
1. Perlindungan Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan
3. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan taua badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun buka badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
2.3 Hak dan Kewajiban Konsumen
Pada era globalisasi dan perdagangan bebass dewasa ini, sebagai dampak kemajuan teknologi dan informasi, memberdayakan konsumen semakin penting, untuk pemberdayaan itu di Negara kita telah dibuat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dalam hal ini ada dua pasal yang perlu diperhatikan, yaitu yang mengatur hak-hak konsumen, disamping kewajiban yang harus dilakukan.
a. Hak Konsumen (Pasal 4)
Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang,atau jasa
Hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar kondisi serta jaminan yang dijanjikan
Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan
Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut
Hak untuk pembinaan dan pendidikan konsumen
Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi atau penggantian apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya
Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan b. Kewajiban Konsumen
Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang atau jasa demi keamanan dan keselamatan
Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang atau jasa
Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati
Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen.
keua belah pihak saling memperhatikan hak dan kewajibannya masing-masing. Apa yang menjadi hak konsumen merupakan kewajiban bagi produsen. Sebaliknya apa yang menjadi kewajiban konsumen merupakan hak bagi produsen. Dengan saling menghormati apa yang menjadi hak maupun kewajiban masing-masing, maka akan terjadilah keseimbangan (tawazun) sebagaimana yang diajarkan dalam ekonomi islam. Dengan prinsip keseimbangan akan menyadarkan kepada setiap pelaku bisnis agar segala aktivitasnya tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, namun juga harus memperhatikan kepentingan orang lain.
Salah satu wujud perlindungan pada orang lain, kepada produsen dituntut agar setiap produk yang dihasilkan aman bahan bakunya , benar prosesnya dan halal zatnya. Yakni untuk siapakah barang dan jasa dihasilkan, dan bagaimana cara menghasilkannya?. Mampu menjawab dan mempraktikkan pernyataan-pernyataan ini maka berarti para pelaku bisnis (produsen) telah melindungi kepentingan konsumen sesuai yang di inginkan.
2.4 Azas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Perlindungan konsumen ini adalah jaminan yang seharusnya didapatkan oleh para konsumen atas pada setiap produk bahan makanan yang dibeli oleh produsen atau pelaku usaha .
a. Azas Perlindungan Konsumen
Dalam Pasal 2 UU No. 8/ 1999, tentang asa perlindungan konsumen : “Perlindungan konsumen berdasarkan manfaat, keadilan, keseimabangan, dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum”.
Azas Manfaat
Mengamatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan ini harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
Azas Keadilan
Partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara ,aksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melekukan kewajibannya secara adil.
Azaz Keseimbangan
Meberikan keseimbangan atas kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual.
Azas Keamanan dan Keselamatan Konsumen
Memberikan jaminan keamana dan keselamatan kepada konsumen dan pengguanaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikomsumsi atau digunakan.
Azas Kepastian Hukum
Baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.
b. Tujuan Perlindungan Konsumen
Sedangkan Pasal 3 UU 8/ 1999, tentang tujuan Perlindungan Konsumen :
Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari akse negatif pemakaina barang dan/ atau jasa;
Mengingkatkan pemberdayan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;
Meningkatkan kualitas barang dan/ atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen;
2.5 Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha
Pasal 8
Adapun perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha yaitu :
a. Pelaku usaha dilarangmemperdagangkan barang dan/atau jasa yang :
Tidak sesuai dengan :
Standar yang dipersyaratkan;
Peraturan yang berlaku;
Ukuran,takarantimbangan dan jumlah yang sebenarnya.
Berat bersih;
Isi bersih dan jumlah dalam hitungan;
Kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran;
Mutu, tingkatan, komposisi;
Proses pengolahan;
Gaya, mode atau penggunaan tertentu;
Janji yang diberikan.
Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan dalam label.
Tidak memansang label/membuat penjelasan yang emuat;
Nama barang;
Ukuran,berat/isi bersih, komposisi;
Tanggal pembuatan;
Aturan pakai;
Efek samping;
Nama dan alamat pelaku usaha;
Keterangan penggunaan lain yang menurut ketentuan harus dipasang atau dibuat.
Rusak, cacat atau bekas dan tercemar (teruatama sediaan Farmasi dan Pangan)
b. Dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan barang dan/atau jasa:
Telah memenuhi standar mutu tertentu, potongan harga khusus, gaya/mode tertentu, sejarah atau kegunaan.
Dalam keadaan baik/baru, tidak mengandung cacat berasal dari daerah tertentu, merupakan kelengkapan dari barang tertentu.
Seara tidak benar dan seolah-olah barang dan/atau jasa tersebut;
Telah mendapatkan/memiliki sponsor, persetujuan, perlengkapan tertentu, keuntungan tertentu, ciri-ciri kerja atau aksesoris tertentu.
Dibuat perusahaan sponsor, persetujuan/afilasi.
Telah tersedia bagi konsumen.
Langsung/tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain.
Menggunakan kata-kata berlebihan, secara aman, tidak berbahaya, tidak mengandung resiko/efek samping tanpa keterangan lengkap.
Menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.
Dengan harga/tariff khusus dalam waktu dan jumlah tertentu, jika bermaksud tidak dilaksanakan.
Dengan menjanjikan hadiah Cuma-Cuma, dengan maksud tidak memberikannya atau memberikan tetapi tidak sesuai dengan janji.
Dengan menjanjikan hadiah barang dan/atau jasa lain, untuk obat-obat tradisional, suplemen makanan, alat kesehatan dan jasa pelayanan kesehatan.
Harga/tarif potongan harga atau hadia menarik yang ditawarkan.
Kondisi, tanggungan, jainan, hak/ganti rugi atas barang dan/atau jasa.
Kegunaan dan bahaya penggunaannya.
d. Dalam menawarkan barang dan/atau jasa untuk diperdagangkan dengan memberikan hadiah dengan cara undian dilarang;
Tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yag dijanjikan.
Mengumumkan hasilnya tidak melalui media massa.
Memberikan hadiah tidak sesuai janji dan/atau menggantikannya dengan hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan.
e. Dalam menawarkan barang dan/atau jasa, dilarang melakukan cara pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan keada konsumen baik secara fisik maupun psikis.
f. Dalam hal penjualan melalui obral atau lelang, dilarang menyesatkan dan mengelabui konsumen denga;
Menyatakan barang atau jasa tersebut seolah-olah memenuhi stndar mutu tertent dan tidak mengandung cacat tersembunyi.
Tidak berniat menjual barang yang ditawarkan, melainkan untuk menjual barang lain.
Tidak menyediakan barang dan/atau jasa dalam jumlah tertentu/cukup dengan maksud menjual barang lain.
Menaikkan harga sebelum melakukan obral.
pembeli , berapakah harga sebenarnnya. Permainan harga semacam ini pada prinsipnnya merupakan bagian dari permainan penjual yang memanfaatkan keawaman calon pembeli tentang harga barang yang akan dibeli.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, sanksi dikenakan pada pelaku usaha secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu administrative dan pidana.
1. Sanksi Administartive (Pasal 60)
1) Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen berwenag menjatuhkan sanksi administrative terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20, Pasal 25, dan Pasal 26;
2) Sanksi administrative merupakan penetapan ganti rugi paling banyak Rp200.000.000.00 (Dua Ratus Juta Rupiah);
3) Tata cara penetpan sanksi administrative sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan.
2. Sanksi Pidana
3. Pasal 61 berkaitan dengan sanksi pidana menegaskan bahwa penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/ atau pengurusnya. Selanjutnya dalam pasal 62 secara eksplisit dipertegas apa saja bentuk sanksi pidana tersebut.
2) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 (1), Pasal 14, Pasal 16, Pasal 17, ayat (1) huuruf d dan huruf f dipidana dengan pidana penjara paling lam 2 tahun atau pidana denda paling banyak Tp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).
3) Terhadap pelanggaran yang mengakibatkan luka berat, sakit berat, cacat tetap, atau kematian, diberlakukan ketentuan pidana yang berlaku.
Berikut Pasal 63, dikatakan:
Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud, dapat dijtuhkan hukuman tambahan, berupa:
a. Perampasan barang tertentu b. Pengumuman keputusan hakim c. Pembayaran ganti rugi
d. Perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian konsumen
BAB lll
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan adanya UU Perlindungan Konsumen ini sudah cukup representatif apabila telah dipahami oleh semua pihak, karena di dalamnya juga memuat jaminan adanya kepastian hukum bagi konsumen, meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen,meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri,mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa, meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih,menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. Factor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat kesadaran konsumen akan haknya masih rendah. Hal ini terutama disebabkan oleh rendahnya pendidikan konsumen.
B. SARAN
1. Pemenuhan hak-hak konsumen sebagai salah satu pelaku usaha sehingga tercipta kenyamanan dalam transaksi perdagangan.
3. Pemerintah bertanggungjawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, 2004, Hukum Perlindungan Konsumen, Devisi Buku Perguruan Tinggi PT. Raja Grafindo Persada:Jakarta.
Husni Syawali & Neni Sri Imaniyati. 2000. Hukum Perlindungan Konsumen. Bandung : CV. Mandar Maju.