• Tidak ada hasil yang ditemukan

AFILIASI POLITIK DALAM PEMBANGUNAN EKONO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "AFILIASI POLITIK DALAM PEMBANGUNAN EKONO"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

AFILIASI POLITIK DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI NEGARA Oleh:

Lia Kian 13300108010020

email:[email protected]

ABSTRAK

Kesimpulan besar dari tulisan ini adalah Semakin baik kondisi politik dan keyakinan serta ketaatan dalam beragama maka akan semakin baik arah pembangunan ekonomi dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat dan sebalik semakin tidak adanya sinergistas antara politik dan agama maka akan sulit bagi suatu Negara dalam melakukan pembangunan ekonominya.

Berdasarkan kontruk teori yang diperoleh dari diskursus terhadap agama dan politik dalam tulisan ini penulis searah dengan Filetti, Andrea (2014), Laustsen Carsten Bagge (2013), Sezgin, Yüksel dan Mirjam Künkler (2014), Black Antony (2010) dan Schall, James V (1998) disimpulan religiusitas terhadap sikap politik menunjukkan bahwa agama dapat memainkan beragam peran yang lebih luas dari modernitas, antara politik dan agama dengan segala kompleksitasnya memiliki hubungan. Heterogenitas agama memiliki dampak besar pada prospek pembangunan bangsa dan demokratisasi politik dalam suatu negara. Barat memandang agama dan politik sebagai kategori yang terpisah, Muslim melihat ini akibat dari kegalan barat yang memisahkan agama dan politik. pemikiran politik Islam terutama didasarkan pada wahyu (ditafsirkan dalam berbagai cara), sementara pemikiran politik Barat didasarkan pada filosofi dan melihat pikiran dan keyakinan sekitarnya politik agama dari filsafat Aristoteles filsafat dan agama posisinya yang lebih tinggi daripada politik.

(2)

yang digunakan untuk mewujudkan tujuan politik, politik menjadi instrumen pelaksanaan praktik keagamaan.

Sumberdata yang digunakan dalam penulisan ini bersumber dari data sekunder yang diperoleh dari buku, majalah, internet dan dokumentasi lain yang berkenaan dengan kajian permasalahan dan tulisan ini. Penulisan ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan library riset.

Kata Kunci: Afiliasi, Politik, Ekonomi Negara

A. Pendahuluan

Agama dan Negara merupakan dua variabel penting yang memiliki hubungan dengan pembangunan politik dan ekonomi suatu Negara. Agama dan dan Negara mengatur semua sisi kehidupan masyakat. Agama merupakan bingkai kepercayaan terhadap Tuhan yang maha esa dalam membangun karakter dan kepribadian manusia, Negara merupakan tempat tinggal manusia hidup dimuka bumi. Negara lahir sebagai syarat lahirnya suatu pemerintahan, melalui kedaulatan politik maka Negara dan pemerintahan dapat diakui dan sejalan dengan sinergistas dengan pengakuan Agama sebagai kepercayaan ketuhanan masyarakat yang diakui oleh negara.1 Islam adalah sebuah agama yang universal, islam seringkali dipandang sekedar kepercayaan yang mengkedepankan hubungan antara manusia dan Allah, Emile Durkheim mengatakan “ide tentang agama adalah roh masyarakat.2 Beberapa kalangan berpendapat, Islam merupakan satu kesatuan yang mempunyai kesatuan sosial politik yang tidak dapat dipisahkan, pendapat ini dipertegas dengan adanya doktrin “sesungguhnya islam itu adalah agama dan negara (Inna al-islaam Din Wa Daula)”.3

Menurut Azyumardi Azra islam bersifat ilahiah berasal dari wahyu sakral dan suci sedangkan politik berkenaan dengan kehidupan profan yang terkadang melibatkan trik-trik manupulatif.4 Bahtiar Efendy juga menjelaskan bahwa islam politik

1 Penulis memandang agama dan Negara merupakan dua variable yang memiliki hubungan sinergistas dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan.

2Durkheim menyatakan bahwa fakta sosial lebih fundamental daripada fakta individual, kepentingan individu yang diutamakan akan berdampak pada keburukan sistem sosial. Daniel L. Pals, Dekontruksi kebenaran; Kritik Tujuh Teori Agama, ( Yogyakarta: IRCiSoD, 2001), 137. 3Abd Salam Sarif, “Politik Islam Antara Aqidah dan Kekuasaan” Dalam A.Maftuh Abegriel, dkk, Negara Tuhan: The Thematic Echlopedia, (Yogyakarta;SR-Ins Publishing, 2004), 6.

(3)

telah menemukan format baru yang mencakup landasan teologis, di Indonesia prakteknya secara sintetis dapat dikembangkan antara pemikiran politik islam dan negara.5 Besarnya negara yang ada dalam islam, Nabi meninggalkan Madinah yang kemudian kepimpinannya diteruskan oleh Umar Bin Khatab, dimasa Umar Bin Khatab, Islam adalah bagian imperium dunia dari pantai timur atlantik hingga sampai pada Asia Tenggara, Menurut Abdrurahman Wahid ketidakjelasan konsep, yang menjadi konseptual negara islam berukuran mendunia atau sebuah bangsa saja, dan juga tidak jelas negara bangsa (nation state) ataukah negara kota (city state).6

Konsep negara kota dalam pemikiran kenegaraan dari al-farabi yang dituangkan dalam karyanya Ara Alh Madinah al-Fadhilah merupakan konsep ini secara subtansial di ilhami atau di inspirasi atas karya plato dalam buku Republic, sehingga konsep al-Madinah al-Fadhilah, al- farabi berpendapat bahwa manusia adalah makluk sosial yang memiliki kebutuhan dalam hidup bermasyarakat atau bernegara yang juga membutuhkan dalam memenuhi tujuan hidup kebahagian dunia dan akhirat. al-Farabi memberi warna islam islam dalam pada pandangan plato dan aristoteles adalah tujuan masyarakat ukhrawi dari pembentukan negara.7

Idealisasi negara al-Farabi memandang tidak memandang realitas politik saat itu, dimana pemerintah islam berbentuk negara nasional, bagi al-Farabi sistem yang terbaik terdapat pada negara kota.8 Dimana Islam adalah agama yang menjunjung tinggi peradaban dan harkat martabat kemanusiaan yang memadukan antara aspek material dan spiritual, keduniawian dan keukhrowian. Islam bertujuan menciptakan sebuah sistem dimana prinsip keadilan berada di atas keuntungan segelintir atau sekelompok orang.9 Islam adalah agama yang menjunjung tinggi peradaban dan harkat martabat kemanusiaan. Islam selalu menjunjung tinggi

5Bahtiar Efendy, Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama, Negara dan Demokrasi, (Yogyakarta:Galang Press, 2001), 121.

6Abdurahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi (Jakarta:Wahid Institut, 2006), 83.

7Plato berpendapat tujuan negara untuk mencapai kebahagiaan, tanpa menyebut ukhrawi, Aristoteles berpendapat tujuan negara itu untuk kepentingan warganya agar hidup baik dan bahagia, Lihat Soehina. Ilmu Negara, ( Yogyakarta: Liberti, 1996), 24.

(4)

prinsip keadilan dan kemaslahatan. Islam merupakan bagian integral pemikiran gerak dalam pembangunan dalam diri manusia. Islam peradaban menentang sistem modernitas yang lebih cenderung kapitalis dan mengekploitasi sumberdaya dengan mengabaikan prinsip kemaslahatan bangsa dan negara. Masyarakat muslim di negara islam hendaknya menjalakan syariat dan tabiat islam. Tabiat dan risalah Islam, menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang yang universial dan syari’at yang komprehensif, dimana syari’at Islam tabiatnya harus memasuki seluruh aspek kehidupan, sehinggga tidak terbayangkan urusan negara diabaikan dan diserahkan kepada kaum liberalis dan atheis.10

B. Diskursus Agama dan Politik

Hubungan antara agama / religiusitas dan nilai-nilai demokrasi merupakan topik panas dalam ilmu politik. Di satu sisi, 'sekuler' memandang agama sebagai inheren yang bertentangan dengan sikap demokratis (karena dogmatisme dan tertutup pikiran) dan berpendapat bahwa religiusitas intens dapat menimbulkan hambatan bagi difusi nilai-nilai demokrasi. Di sisi lain, beberapa sarjana telah menantang keyakinan dan telah secara empiris menunjukkan bahwa agama tidak berarti dukungan yang lebih rendah untuk demokrasi. Menurut Filetti Pengaruh religiusitas terhadap sikap politik menunjukkan bahwa agama dapat memainkan beragam peran dalam konteks yang berbeda tergantung pada bagaimana orang melihat itu dalam konseptualisasi yang lebih luas dari modernitas.11 Seperti yang terjadi di Georgia dan Azerbaijan. Menurut Laustsen studi tentang politik dan agama saat ini terfragmentasi ke tingkat yang hampir tidak dapat menyebutnya sebagai salah satu bidang akademik. Ada empat pendekatan yang berbeda secara fundamental untuk studi politik dan agama yang terdiri agama politik, politik agama, agama sipil dan teologi politik, empat pendekatan tersebutu

9Suharto, Edi, Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik: Peran Pembangunan Kesejahteraan Sosial Dan Pekerjaan Sosial Dalam Mewujudkan Negara Kesejahteraan Indonesia, (Bandung:Alfabeta. 2007).

10Yusuf, Qardhawi, Menuju Pemahaman Islam Yang Kaffah: Analisis Komprehensif Tentang Pilar, Karakteristik, Tujuan dan Sumber-Sumber Acuan Islam. (Jakarta: Insan Cemerlang, 2003), 392.

(5)

memilik hubungan antara politik dan agama dengan segala kompleksitasnya.12

Di Indonesia hubungan agama dan politik telah didominasi menjadi salah satu birokratisasi-peraturan isu agama oleh Departemen Agama. kebijakan terhadap agama dari institusi pelaksana (yaitu, pengadilan atau birokrasi) dari modus delegasi (vertikal dibandingkan horizontal) yang membentuk hubungan

antara pembuat kebijakan dan lembaga

mengimplementasikannya. Heterogenitas agama memiliki dampak besar pada prospek pembangunan bangsa dan demokratisasi politik, dan pentingnya kebijakan terhadap agama, dalam proses demokrasi politik dalam suatu negara.13Menurut Vlas Natalia14 semakin pentingnya agama untuk politik, hubungan seperti itu penting untuk pemahaman yang lebih baik tentang prospek konsolidasi demokrasi sekarang dan masa depan, prasangka yang ada sesuai dengan yang Islam mengarah ke sikap otoriter berbeda dengan gereja yang memiliki peran penting yang dimainkan oleh kepuasan dengan demokrasi dan keyakinan dalam membentuk sikap demokratis lintas agama.

Agama dan politik memiliki hubungan yang erat dalam enam puluh tahun terakhir. Hal Ini dimulai dengan membangun peran agama dalam arena politik yang lebih luas. beberapa refleksi tentang masa depan agama dalam politik dalam pemilihan presiden, sebuah isu yang akan terus menjadi faktor yang signifikan dalam penentuan dukungan pemilih.15 Agama dianggap sebagai variabel diabaikan baik dalam konflik kekerasan dan politik. Agama dianggap sebagai dalih ideologis penyebab konflik dari ekonomi atau politik. Persepsi top-down tidak berlaku dalam

12Laustsen, Carsten Bagge. "Studying Politics and Religion: How to Distinguish Religious Politics, Civil Religion, Political Religion, and Political Theology." Journal Of Religion In Europe 6, no. 4 (December

2013): 428-463. Humanities International Complete,

EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

13Sezgin, Yüksel1, and Mirjam2 Künkler. "Regulation of “Religion” and the “Religious”: The Politics of Judicialization and Bureaucratization in India and Indonesia." Comparative Studies In Society & History 56, no. 2 (April 2014): 448-478. Humanities Full Text (H.W. Wilson), EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

14Vlas, Natalia, and Sergiu Gherghina. "Where does religion meet democracy? A comparative analysis of attitudes in Europe." International Political Science Review 33, no. 3 (June 2012): 336-351. Social Sciences Abstracts (H.W. Wilson), EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

(6)

banyak kasus 'politisasi agama' contoh-contoh empiris yang diambil dari Sri Lanka, Myanmar, dan Thailand. Menurut Helbardt16 Alih-alih agama yang digunakan untuk mewujudkan tujuan politik, politik menjadi instrumen pelaksanaan praktik keagamaan. Ini adalah proses yang tidak eksklusif, mereka saling mempengaruhi dan menciptakan dinamika mereka sendiri, yang mengarah yang mengarah pada konflik kekerasan.

Menurut Manglos, Nicolette tokoh agama yang aktif secara positif membentuk kepentingan politik di hampir semua negara. identitas agama dan status agama minoritas sering pada kepentingan politik. Efek agama dalam politik saling ketergantungan yang menunjukkan dalam potensi inklusif dan memecah belah.17 Politik agama di Elizabethan Inggris dengan ketidakmampuan negara untuk menegakkan ketatnya keseragaman agama, politik dan agama yang terpisah baik dalam pembenaran ditawarkan untuk penganiayaan terhadap Katolik. 18 Agama, rakyat, sektarianisme, dan gerakan sinkretis merupakan peran gerakan-gerakan melahirkan agama baru dan bentuk lain dari religiusitas alternatif dalam masyarakat Cina. Peraturan pemerintah China terhadap kehidupan beragama dan asal-usul historis dari banyak tradisi yang tidak disetujui oleh pemerintah.19 Dalam perspektif ini bukan lah melanggar dari hak azasi manusia, gerakan pembentukan agama baru yang tidak diakui oleh pemerintah.

Tradisi keagamaan termasuk penyiksaan dapat diartikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Sama halnya dalam hal penyiksaan oleh masyarakat religius cenderung menjadi produk orientasi interpretatif. Berkaitan dengan agama, moral hak asasi

16Helbardt, SaschaHellmann-Rajanayagam, DagmarKorff, Rüdiger. "Religionisation of Politics in Sri Lanka, Thailand and Myanmar." Politics, Religion & Ideology 14, no. 1 (March 2013): 36-58. Religion and Philosophy Collection, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

17Sejak 1980-an, sub-Sahara Afrika (SSA) telah mengalami gelombang besar demokratisasi, dan ekspansi bersamaan Kristen independen dan Reformis Islam. Manglos, Nicolette D., and Alexander A. Weinreb. "Religion and Interest in Politics in Sub-Saharan Africa." Social Forces 92, no. 1 (September 2013): 195-219. Education Research Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

18Collinson, Patrick. "The politics of religion and the religion of politics in Elizabethan England."Historical Research 82, no. 215 (February 2009): 74-92. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

(7)

manusia telah membuatnya menjadi sulit untuk mengakui bahwa agama bisa mentolerir tindakan kekerasan.20 "moralitas kepentingan" pikiran filosofis Mencius dan Xunzi. berusaha keras untuk (kembali) membangun tatanan politik sipil yang terbaik bisa melayani kesejahteraan rakyat dengan menolak dikotomi ketatnya moralitas dan sistem bunga dalam berusaha yang dartikan ren (kebajikan) dan yi (kebenaran) dan dimanfaatkan oleh li (ritual Konghucu).21 Begitu juga Agama sipil Amerika (ACR) dimulai pada tahun 1967, dan telah secara berkala dihidupkan kembali sebagai sumber wawasan analitik dan harapan normatif sejak saat itu. ACR tidak hanya universalis, keyakinan kenabian, juga merupakan ekspresi identitas kesukuan yang ascribes karakter tertentu dan tujuan kepada rakyat Amerika. ACR, atau politik yang melibatkan imigrasi dan presiden Barack Obama yang dapat dipahami sepenuhnya tanpa mempertimbangkan perhubungan identitas agama-ras nasional.22

Pemahaman agama dan politik membatasi kapasitas ulama dan aktor keagamaan sama-sama untuk merasakan pengaruh yang signifikan akan tindakan dan ritual keagamaan dalam ranah politik. kegiatan didominasi agama, seperti shalat, zakat dan perhotelan untuk orang asing, dapat memiliki implikasi politik yang signifikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang hal demikian sebagai tindakan keagamaan mengambil makna politik.23 Hubungan antara agama sekuler di Australia sangat kompleks dan tidak ada transisi sederhana dari masyarakat agama yang sekuler. munculnya perintah moral dari perdebatan ekonomi dimulai pada paruh kedua abad kesembilan belas, di Australia di mana perdagangan bebas didasarkan pada teologi

20An-Na῾im, Abdullahi Ahmed. "Critical Reflections on Torture, Religion and Politics." Muslim World 103, no. 2 (April 2013): 259-266. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

21Sungmoon, Kim. "Politics And Interest In Early Confucianism." Philosophy East & West 64, no. 2 (April 2014): 425-448. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

22Williams, Rhys H. "Civil Religion and the Cultural Politics of National Identity in Obama's America."Journal For The Scientific Study Of Religion 52, no. 2 (June 2013): 239-257. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

(8)

natural optimis berjuang dengan keyakinan yang memiliki akar kuat dalam bentuk sekuler Calvinisme.24

Pemikir Muslim, dimulai dengan al-Mawardi (974-1058), berusaha untuk mengembalikan subsumption politik dalam agama, terutama selama revolusi Syiah abad keenam belas di Iran. Sementara hari ini, Barat memandang agama dan politik sebagai kategori yang terpisah, Muslim melihat ini akibat dari kegalan barat yang memisahkan agama dan politik. pemikiran politik Islam terutama didasarkan pada wahyu (ditafsirkan dalam berbagai cara), sementara pemikiran politik Barat didasarkan pada filosofi.25 Schall melihat pikiran dan keyakinan sekitarnya politik agama dari filsafat Aristoteles. filsafat dan agama posisinya yang lebih tinggi daripada politik.26

Pengaruh agama dan politik dan sebaliknya tidak lagi menjadi sumber kontroversi akademis. Namun, kebanyakan ilmuwan politik dan sosiolog mengeksplorasi hubungan ini dengan berfokus pada suatu negara, di seluruh dunia dan di seluruh waktu untuk menjelajahi sifat dari hubungan antara agama dan politik.27 Seperti komentar Haynes: "Gagasan sekularisasi dapat dipahami untuk menjadi baik anti-agama atau netral ke arah itu" istilah "sekularisme" membutuhkan definisi yang lebih luas. Untuk masyarakat multi-budaya dan multi-agama, sekularisme bukan merupakan pilihan ideologis tapi strategi politik.28 Teori politik Perancis Benjamin Constant (1767-1830), kekuasaan pemerintah atau kepemimpinannya dari pihak liberal yang muncul dalam Restorasi era politik Perancis, Rosenblatt menegaskan bahwa sejarah liberalisme Constant juga harus menekankan ide agamanya Protestan dan tanggapan untuk debat agama Eropa

24Melleuish, Gregory. "A Secular Australia? Ideas, Politics and the Search for Moral Order in Nineteenth and Early Twentieth Century Australia." Journal Of Religious History 38, no. 3 (September 2014): 398-412. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

25Black, Antony. "Religion and Politics in Western and Islamic Political Thought: A Clash of Epistemologies?." Political Quarterly 81, no. 1 (March 2010): 116-122. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

26 Schall, James V. "Aristotle: Religion, Politics, and Philosophy." Perspectives on Political Science 27, no. 1(Winter, 1998): 5-12.

http://search.proquest.com/docview/194693743?accountid=25704. 27 Wilcox, Clyde. "Politics & Religion." Political Science Quarterly

119, no. 2 (Summer, 2004): 357-8,

http://search.proquest.com/docview/208280623?accountid=25704.

28 Kumaraswamy, P. R. "Religion in Third World Politics." Domes 5,

no. 4 (Oct 31, 1996): 26,

(9)

antara tahun 1780-an dan 1820-an.29 agama di dunia dan memiliki pengaruh politik dan kehidupan publik hal ini menunjukan pentinnya keterlibatan agama dalam politik dunia.30 perlunya dibangun bagi kebebasan sipil dan kebebasan beragama.31

Ensiklopedia di Amerika Politik Landscape Series direktori organisasi yang terlibat dalam agama dan politik, dan batas waktu dimulai dengan 1787 ratifikasi Konstitusi AS dan berakhir pada tahun 1998. John Barat yang memberikan gambaran yang sangat baik dari pengaruh agama dalam politik Amerika, meskipun ia melompat atas isu-isu agama diangkat oleh Perang Dunia II.32 Hal ini seirng dengan buku Sharkansky yang menganalisis pola-pola konflik peran agama dalam politik Israel. kontroversi agama dan negara di Israel memiliki sifat ritual. Ini adalah konflik yang sedang berlangsung di mana pihak yang terlibat berusaha untuk menghindari keputusan yang jelas, dan tak satu pun dari mereka mencapainya.33

Di Hungaria, menurut salah satu pengamat, "gereja tidak siap untuk runtuhnya komunisme", sedangkan di Jerman, yang lain bersikeras, lembaga Protestan "tidak cukup dilengkapi dengan baik untuk kebutuhan baru dari populasinya".34 Marty, editor senior Century Kristen dan profesor emeritus di University of Chicago School of Divinity, meneliti hubungan agama dan politik berpendapat lembaga-lembaga keagamaan tradisional memiliki

29 Kramer, Lloyd. "Liberal Values: Benjamin Constant and the Politics of Religion." French Politics, Culture & Society 29, no. 1 (Spring, 2011): 130-4.

http://search.proquest.com/docview/871493298? accountid=25704.

30 Williams, Rhys. "The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics." Sociology of Religion 62, no. 1 (Spring,

2001): 131-2, http://search.proquest.com/docview/216768923?

accountid=25704.

31 Niose, David. "The Stillborn God: Religion, Politics, and the Modern West." The Humanist 68, no. 1 (Jan, 2008): 45-6.

http://search.proquest.com/docview/235313465?accountid=25704. 32 Crawford, Gregory A. "Encyclopedia of Religion in American Politics." Reference & User Services Quarterly 38, no. 4 (Summer, 1999): 412-3,

http://search.proquest.com/docview/217917263?accountid=25704. 33 Don-Yehiya, Eliezer. "Rituals of Conflict: Religion, Politics and Public Policy in Israel." The American Political Science Review 92, no. 2 (06, 1998): 492-3, http://search.proquest.com/docview/214401909? accountid=25704.

34Christiano, Kevin J. "Politics and Religion in Central and Eastern Europe: Traditions and Transitions." Sociology of Religion 57, no. 3 (Fall,

1996): 332-3, http://search.proquest.com/docview/216768189?

(10)

pengaruh politik yang kuat saat ini.35 Gottlieb, seorang profesor humaniora, mengakui politik sayap kiri sendiri dan perspektif agama saat ia mengambil untuk tugas liberal dan konservatif, religius dan sekuler, dan pemikir sosial dan kebijakan dalam melihat ini menyerap pada penggabungan agama dan politik dalam menangani isu-isu sosial dalam menangani berbagai isu, termasuk hak asasi manusia, lingkungan, globalisasi, dan kemiskinan dunia.36 Dalam perspektif ekonomi Hubungan antara politik negara dan diri dalam tindakan agama, ketidak terpisahan dari sekuler dan sakral dalam konstitusi kehidupan masyarakat Asia Tenggara dan membuat kontribusi penting untuk antropologi simbolik dengan penentuan kontradiksi dalam bangsa ideologi negara sebagai logika alternatif membentuk simbolisme agama dari eksploitasi kapitalis atau komoditisasi.37

Fenomena masyarakat Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah yang modern dilihat dari beberapa fenomena yang saling terkait: pertama, Islam sebagai teologi; Kedua, Islam sebagai sejarah; dan, ketiga, Islam politik. Fenomena tersebut merupkan faktor dalam masyarakat Islam klasik dan modern. Hal ini dibuktikan dengan adanya serangan tragis di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, yang disebut "terorisme Islam."38 Memperhatikan bahwa Islam politik merupakan fenomena modem, sebuah "penemuan tradisi" karena tidak pernah ada negara Islam dan tidak ada dalam konsep seperti dalam Quran, Kerangka intelektual dalamn diri negara-negara Islam" (Arab Saudi dan Iran); negara menghadapi ideologi dan pragmatis Islamisms (Mesir dan Pakistan); Demokrasi Muslim (Turki dan Indonesia); dan gerakan perlawanan nasional Islam (Hamas dan Hizbullah).39

35 Nixon, C. R. "Politics, Religion, and the Common Good." Library Journal

125, no. 7 (Apr 15, 2000): 97,

http://search.proquest.com/docview/196742984?accountid=25704. 36Bush, Vanessa. "Joining Hands: Politics and Religion Together for Social Change." The Booklist 98, no. 21 (07, 2002): 1800,

http://search.proquest.com/docview/235472670?accountid=25704. 37Beng-Lan Goh. "SPIRITED POLITICS: Religion and Public Life in Contemporary Southeast Asia." Pacific Affairs 79, no. 2 (Summer, 2006):

348-9, http://search.proquest.com/docview/217699678?

accountid=25704.

38Abu-Rabi, Ibrahim. "Religion and State: The Muslim Approach to Politics." The Muslim World 93, no. 2 (04, 2003): 327-31.

http://search.proquest.com/docview/216433528?accountid=25704. 39 Springborg, Robert. "The Many Faces of Political Islam: Religion and Politics in the Muslim World." Middle East Policy 15, no. 1 (Spring,

2008): 166-70, http://search.proquest.com/docview/203673508?

(11)

Islam politik adalah fenomena modern, dengan akar dalam kondisi sosial politik dari negara-negara Muslim di abad kesembilan belas dan kedua puluh. Ini adalah produk dari interaksi masyarkat muslim, militer, politik, ekonomi, budaya, dan intelektual - dengan Barat selama dua ratus tahun terakhir, periode ketika kekuasaan Barat telah dalam kekuasaan dan Muslim telah menjadi objek, bukan subyek, dari sejarah.40 Pemimpin politik Muslim telah menegaskan prinsip dan tujuan demokrasi, good governance, kemakmuran ekonomi, keadilan sosial-ekonomi, hak asasi manusia dan pluralisme sebagai tujuan Islam tersebut. Dengan penetapan kebijakan mereka pada tujuan ini mereka juga telah menarik konstituen yang lebih luas yang mencakup Muslim dan non-Muslim, sekuler dan Islamis, dan telah mereda beberapa kekhawatiran pemerintah Barat telah dengan Islam dalam politik Islam.41 I

Dalam rangka untuk mencari jalan tengah untuk pengaturan Indonesia pada periode pasca-Soeharto, 'akomodasi parsial' kekhawatiran Muslim moderat sebagai pilihan yang layak untuk hubungan yang lebih abadi antara Islam dan negara.42 Krisis Islam kontemporer digambarkan dalam buku Muhammad Iqbal, Dominasi Barat dan Islam Politik memberi kita gambaran yang kaya sejarah intelektual seluruh periode modern islam modern, Bin Sayeed melihat tantangan Barat tidak murni politik (meskipun tentu memiliki aspek politik).43 Politik Islam di Eropa, Asia Tengah dan terakhir Tengah, sejak tahun 1970-an, telah dilengkapi bukti arti penting etnisitas sebagai prinsip oigainizing untuk aksi politik, dan memaksa sejumlah ulama untuk berpikir ulang model konseptual tentang hubungan antara identitas etnis dan agama dan kewarganegaraan.44 Negara Asia Tengah menghadapi

40 Ayoob, Mohammed. "Political Islam: Image and Reality." World Policy Journal 21, no. 3 (Fall, 2004): 1-14,.

http://search.proquest.com/docview/232587911?accountid=25704. 41 Rane, Halim. "The Impact Of Maqasid Al-Shari'ah On Islamist Political Thought: Implications For Islam-West Relations." Islam and Civilisational Renewal 2, no. 2 (01, 2011): 337,357,432-433.

http://search.proquest.com/docview/1314480578?accountid=25704. 42 Effendy, Bahtiar. "Islam And The State In The Indonesian Experience." Islam and Civilisational Renewal 2, no. 1 (10, 2010): 126,144,225.

http://search.proquest.com/docview/1315154209?accountid=25704. 43 Weiss, Bernard G. "Western Dominance and Political Islam: Challenge and Response." Domes 5, no. 2 (Apr 30, 1996): 15.

(12)

tantangan menanggapi kedua keprihatinan orang percaya, yang merasa tertindas, dan pendukung negara sekuler, yang takut munculnya norma-norma Islam dalam masyarakat etnis dan agama yang beragam. Penguasa komunis era-Nazarbayev dan Karimov mungkin akan meminta tuntutan peran yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat Islam di dua negara yang paling padat penduduknya di kawasan itu, terutama di Uzbekistan, di mana sentimen keagamaan paling kuat. Untuk Tajikistan dan Kirgistan, kegagalan negara untuk memberikan keamanan dan layanan dasar bagi warga negara memberikan pembukaan yang jelas untuk kelompok agama subversif, baik asing atau didanai oleh negara, sementara kecenderungan totaliter Turkmenistan untuk mendewakan kepalanya negara tetap menjadi sumber kekhawatiran.45

Kekuatan religio-politik yang siap untuk mengambil kepemilikan kursi kekuasaan di sejumlah negara Arab mayoritas kursi parlemen di Tunisia, Mesir, dan Maroko. Sentris dan modernis dan menerima aturan dan prosedur permainan yang demokratis, dalam membentuk lintasan politik masa depan masyarakat mereka. Sebaliknya, Salafi dan Islam ultrakonservatif pada umumnya, yang percaya bahwa Islam mengontrol semua bidang sosial dan mengatur seluruh kehidupan manusia, kekuatan Islamis untuk masa depan Timur Tengah dan hubungan internasional di kawasan yang akan mempengaruhi transisi dari otoritarianisme ke pluralisme.46 negara adalah suatu bentuk asosiasi politik, dan asosiasi politik itu sendiri hanya salah satu bentuk asosiasi manusia, sementara asosiasi lain berkisar dari perusahaan bisnis untuk gereja. Manusia berhubungan satu sama lain, bagaimanapun, tidak hanya dalam asosiasi tetapi juga dalam pengaturan kolektif lainnya, seperti keluarga, lingkungan, kota, agama, budaya, masyarakat, dan bangsa.47 Islam sebagai sistem kepercayaan ilahi dan negara Islam sebagai sistem politik manusiawi yang berkembang.48 Islam politik akan mengikuti contoh dari Marxisme, yang tersebar dari Barat untuk berbagai

391-410.

45 "Faith States - Central Asia's Challenge to Political Islam." Jane's Islamic Affairs Analyst 14, no. 4 (Apr 01, 2014).

http://search.proquest.com/docview/1509957914?accountid=25704. 46 Gerges, Fawaz A. "The Islamist Moment: From Islamic State to Civil Islam?" Political Science Quarterly 128, no. 3 (Fall, 2013): 389-426. http://search.proquest.com/docview/1438010055?accountid=25704.

47 Qadoos, Abdul, Abdul Ghaffar, Neghat Rukhsana, Saqib Shehzad, and Syed Naeem Bad Shah. "State and the Chief of State in Islam." Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business 3,

no. 6 (10, 2011): 816-26,

(13)

nasionalisme lokal dan menciptakan upaya yang manjur untuk menggulingkan rezim.49 Sebagai cara untuk mengacu pada berbagai gerakan dan ide-ide yang telah menjadi semakin penting bagi kehidupan publik dan adegan politik banyak negara di dunia Muslim selama 30 tahun terakhir, istilah "fundamentalisme Islam" menyiratkan bahwa advokasi banyak Muslim dari dasar-dasar iman dari tradisi agama yang besar. Dilihat dari sudut ini, tuntutan fundamentalis Islam serupa dari banyak orang Kristen, Hindu, Sikh dan Yahudi.50

C. Sinergisitas Agama dan Politik dalam Pembangunan Ekonomi

Berdasarkan kontruk teori yang diperoleh dari diskursus terhadap agama dan politik dalam tulisan ini penulis searah dengan pendapat Beng-Lan Goh (2006), Wilson Erin K (2014), dan Melleuish Gregory (2014) yang menjelaskan ideologi negara sebagai logika alternatif membentuk simbolisme agama dari eksploitasi kapitalis atau komoditisasi, perlu nya membangun tatanan politik sipil yang terbaik yang bisa melayani kesejahteraan rakyat dengan menolak dikotomi ketatnya moralitas dan sistem bunga dalam berusaha serta pemahaman agama dan politik membatasi kapasitas ulama dan aktor keagamaan sama-sama untuk merasakan pengaruh yang signifikan akan tindakan dan ritual keagamaan dalam ranah politik. Seperti kegiatan didominasi agama, seperti shalat dan zakat dan munculnya perintah moral dari perdebatan ekonomi.51 Di dunia Islam, Meneliti sistem politik yang telah disampaikan oleh Ibnu Khaldun tanpa tergantung pada pikiran theoratic mutlak yang lebih dikenal dengan Konsep Negara, Metode administrasi ideal sebagai kebijakan theoratic berbasis

48 Lawrence, Bruce. "Between the State and Islam / the Islamic Quest for Democracy, Pluralism, and Human Rights." The Middle East

Journal 56, no. 2 (Spring, 2002): 354-7,

http://search.proquest.com/docview/218495362?accountid=25704. 49 Mamdani, Mahmood. "Whither Political Islam?; the War for Muslim Minds: Islam and the West." Foreign Affairs 84, no. 1 (Jan, 2005): 148.

http://search.proquest.com/docview/214306133?accountid=25704. 50 Denoeux, Guilain. "The Forgotten Swamp: Navigating Political Islam." Middle East Policy 9, no. 2 (06, 2002): 56-81

(14)

Khilafah atau Imamah.52Dalam sejarah politik islam dimana daerah Balkan sebagai salah satu pusat budaya dan seni yang paling penting di Kekaisaran Ottoman. Kekaisaran Ottoman memberikan perhatian khusus dalam pengembangan wilayah ini dan membuat setiap investasi untuk membuatnya menjadi pusat politik dan budaya.53 Efek dari kebangkitan Islam di seluruh dunia dalam persaingan kekuasaan politik yang secara langsung dan tidak langsung memberikan kontribusi terhadap perkembangan Islam dalam politik. Periode awal Islam di daerah Malaysia, yang saat ini dikenal sebagai Malaysia Barat, berbeda dengan di Nusantara. Muslim telah tiba di Nusantara pada abad kelima akibat kegiatan perdagangan.54

Negara Umayyah merupakan negara Islam pertama di Zaman Abbasiyah. Sejak pendiriannya penguasa kebijakan negara memandang secara politik negara telah menjadi faktor yang paling penting. Masyarakat yang dinamis dan sehat dapat menyebabkan hidup dalam memenuhi tugas negara, Ide ini diadopsi sebagai langkah Abbasiyah sebelum Umayyah hilang dari panggung sejarah.55 Kegagalan judicial review di negara-negara Muslim dengan tidak adanya pemeriksaan yang efektif pada kekuasaan penguasa oleh peradilan yang juga disebabkan faktor politik dalam suatu negara.56 Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh Politik, dimana politik berpengaruh terhadap kebijakan ekonomi dan begitu juga sebaliknya bahwa ekonomi berpengaruh terhadap politik.57 Begitu juga dengan konsep ekonomi politik islam. Konsep ekonomi politik islam telah

52Çiftçi, Ali, and Nihat Yilmaz. "Ibn Haldun'un Siyaset Teorisi Ve Siyasal Sistem Siniflandirmasi. (Turkish)." Electronic Turkish Studies 8, no. 7 (Summer2013 2013): 83-93. (accessed September 5, 2014).

53Özcan, Nurgül. "Şuara Tezkirelerine Göre Selanikli Divan Şairleri. (Turkish)." Journal Of International Social Research 6, no. 26 (Spring2013 2013): 414-427. (accessed September 5, 2014).

Sejarah Turki dibesarkan pada masa pemerintahan Ottoman,Banyak kota-kota seperti Uskup, Prizren, Pristine, Bosnia, Yenişehir Fenar, Salonica host. Di kota yang menjadi tuan rumah mosaik budaya dengan budaya yang berbeda hidup bersama, tokoh politik yang tak terhitung banyaknya, pejabat negara, mistikus agama, intelektual dan penyair.

54Bin Hassan, M 2007, 'Explaining Islam's Special Position and the Politic of Islam in Malaysia', (Muslim World, 97, 2,) 287-316, viewed 5 September 2014.

55Hawting, Gerald R. "Bölüm: VIII Emevî Halifeliğinin Yikilişi. (Turkish)." Dinbilimleri Journal 13, no. 2 (March 2013): 243-258. (accessed September 5, 2014).

(15)

terdapat beberapa karya-karya yang telah dihasilkan melalui proses pengumpulan karya-karya ekonomi politik islam dengan melalui penelitian. Karya ekonomi politik islam seperti “ Islamic Political Economy in Capitalist-Globalization”.58 Menurut Choudhury pengaplikasian ekonomi politik islam berkaitan dengan negara dan sub sistem pasarnya. Menurut Mohd Syakir Mohd Rosidi ekonomi politik islam sebenarnya berasal dari dua bidang yang utama yaitu bidang politik islam dan bidang ekonomi islam.59 Kosugi menyatakanbahwa ekonomi politik islam diantaranya tentang pembiayaan ekonomi, penjagaan alam sekitar, instituisi islam, perspektif global, sosio ekonomi dalam islam dan ekonomi islam.60

Politik sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dikarenakan faktor pertama kebijakan-kebijakan tertentu yang dilakukan oleh pemerintah dalam berbagai periode dapat memperbesar dan memperkecil pertumbuhan dan faktor kedua politik dapat membentuk iklim politik yang dapat mewarnai faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi.61 Menurut Yusuf al-Qaradhawi sistem politik islam ialah semua peraturan yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan keputusan dan kebijaksanaan untuk menjaga kepentingan manusia.62 Tanggapan yang menyatakan politik kotor hanyalah pengalaman politik kotor

57Jan Erik Lane dan Svante Ersson, Ekonomi Politik Komparatif: Demokrasi dan Pertumbuhan Benarkah Kontradiktif, (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2002), 222.

58Penyuntingan Karya penelitian tersebut dilakukan oleh Masudul Alam Choudhury, Muhammad Syukri Salleh dan Abdad (1997), Choudhury, M.A.et al, Islamic Political Economy in Capitalist-Globalization , (Universiti Sains Malaysia: Publication and Distrutors Sdn.Bhd dan International Project on Islamic Political Economy (IPIPE), 1997).

Karya-karya yang lain, seperti Ghost (1997:41-56) tentang ontologi dalam ekonomi politik islam, Mikailu (1997:191-215) tentang implikasi peleburan langsung korporat multinasional di Negeria, Mohamed Ariff (1997:261-278) tentang ekonomi politik keuangan islam di Malaysia, Usman Bugaje (1997:399-416) tentang gerakan islam dan politik di Afrika, Ahmad Gusau (1997:417-438) tentang peranan gerakan politik islam dalam perekonomi di Nigeri dan M. Nejatullah Siddiqi (1997:529-534) tentang sifat dan kaedah ekonomi politik islam.

59Mohd Syakir Mohd Rosdi, “Dr. Burhanuddin Al-Helmi dan Pembangunan Ekonomi Politik Islam di Malaysia (Universiti Sains Malaysia: Disertasi Non Publikasi, 2010).

60Prof. Kosugi Yasushi dianugerahkan Doktor Honoris Causa dalam bidang peradaban islam, sidang ketujuh Konvokesyen ke-40 Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tanggal 23 Oktober 2012, Ketika Kosugi Yasushi menjabat sebagai pengarah Global Area Studies-Graduate School of Asian and African Area Studies, di Kyoto University.

(16)

yang digunakan oleh pihak barat sebagai bahan manipulasi dan bahan eksploitasi, pihak barat telah melakukan serangan psikologi politik untuk membiasakan umat islam dengan pendekatan pemisahan politik dan Agama, Pemisahan politik dengan agama ini turut diperbicangkan oleh para ulama, seorang ulama bermazhab Syafi’i pernah berkata “Tidak boleh ada politik, kecuali yang sesuai dengan syariat”.63

Ketimpangan pembangunan wilayah antara desa dan kota, antara jawa dan luar jawa, antara pengusaha asing dan nasional harus direstruktur secara politik perlunya campur tangan pemerintah agar daulat pasar agar tidak menggusur daulat rakyat.64Stabilitas politik negara tetap dijaga dan dipelihara karena menurut al-Mawardi stabilitas politik merupakan faktor penting dalam peningkatan hasil produksi dalam kemajuan ekonomi dan peluang investor asing dalam menanamkan modalnya, welfare state menurut al-Mawardi juga dilihat dari stabilitas nasional untuk memberikan rasa aman bagi investor.65 Model design pembangunan yang diajarkan oleh Tuhan berupa bukti yang agung, yang luas dan hakiki yaitu proses penciptaan (al-taski>r), pengaturan (al-tadbir), perputaran (al-tadwi>r), pengorganisasian (al-tanz}i>m), pensucian (al-tanz}i>f) dan penugasan kesaksian (al-musha>hadah).66 integration, interaction dan evolution merupakan proses pengetahuan yang berhubungan dengan Tawhidi String Relationship, hubungan Circular Causation 67 yang memiliki hubungan dengan perilaku dalam pembangunan social ekonomi masyarakat yang diterjemahkan dalam agama dan politik bagi pemangku kepentingan.

62Yusuf al-Qaradhawi, Fiqh Kenegaraan, (Kuala Lumpur: Angkatan Belia Islam Malaysia, 2002)

63Yusof al-Qaradhawy, Politik dan Agama, (Kuala Lumpur: Angkatan Belia Islam Malaysia, 2009, 30.

64Sri-Edi Swasono, “Paradigma Baru Ilmu Ekonomi” Pidato Workshop Nasional Arsitektur Ilmu Ekonomi Islam: Upaya Akselerasi Sistem Ekonomi Islam di Indonesia, 20-23

65Francis Abraham, Perspective on Moderanization: Toward a General Theory of Third World Development, Rusli Karim, Modernisasi di Dunia Ketiga: Suatu Teori Umum Pembangunan, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 1991), 971-24.

66Bediuzzaman Said Nursi, Al-A>yat al-Kubra>, Menemukan Tuhan Pada Wajah Alam Semesta (Jakarta: Anatolia, 2009), 20.

67Masudul Alam Choudhury, “The Nature Of Business Social Ethics In Heterodox Epistemological Worldviews” (Sovremenna, Ekonomika, Vol.9:2, 2013)

(17)

D. Kesimpulan

Politik dan agama merupakan faktor penting dalam pembangunan nasional suatu bangsa begitu juga di Indonesia. Kedua variable ini merupakan variable eksternal dalam mempengaruhi kebijakan dan arah pembangunan ekonomi Negara Indonesia. Semakin baik kondisi politik dan keyakinan serta ketaatan dalam beragama maka akan semakin baik arah pembangunan ekonomi dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat dan sebalik semakin tidak adanya sinergistas antara politik dan agama maka akan sulit bagi suatu Negara dalam melakukan pembangunan ekonominya.

Pentingnya dua variable ini tetap menjadi fokus perhatian bagi semua komponen bangsa Indonesia tanpa terkecuali pemerintah, akan tetapi masyarakat, pengusaha dan stakeholder lainnya bekerjasama dalam berafiliasi untuk menjalankan politik demokrasi yang baik dan terhormat yang selalu mengkedapan norma-norma dan aturan yang berlaku dengan dasar agama yang diyakini. Agama merupakan suatu keyakinan dengan aturan yang harus ditaati bagi pemeluknya, bagi agama islam Al-quran dan hadist merupakan pinjakan dan pedoman dalam membangun bangsa dan Negara. Afiliasi dan singergistas dari konteks politik dan agama akan memberikan kontribusi positif dalam pembangunan suatu bangsa, pinjakan politik dan keyakinan agama yang baik maka Indonesia akan maju dalam mengembangkan dan melaksanakan program pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkeadilan yang didasari dasar Negara Pancasila yang juga mengatur tentang ketuhanan yang maha esa.

E. Daftar Pustaka

Abu-Rabi, Ibrahim. "Religion and State: The Muslim Approach to Politics." The Muslim World 93, no. 2 (04, 2003): 327-31.

http://search.proquest.com/docview/216433528?accountid=25704. An-Na῾im, Abdullahi Ahmed. "Critical Reflections on Torture, Religion and Politics." Muslim World 103, no. 2 (April 2013): 259-266. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Ayoob, Mohammed. "Political Islam: Image and Reality." World Policy

Journal 21, no. 3 (Fall, 2004): 1-14,.

http://search.proquest.com/docview/232587911?accountid=25704. Azra, Azyumardi. Islam subtantif: Agar Umat Tidak Jadi Buih, (Bandung:

Mizan, 2000), 144.

Bediuzzaman Said Nursi, Al-A>yat al-Kubra>, Menemukan Tuhan Pada Wajah Alam Semesta (Jakarta: Anatolia, 2009), 20.

(18)

2006): 348-9, http://search.proquest.com/docview/217699678? accountid=25704.

Bin Hassan, M 2007, 'Explaining Islam's Special Position and the Politic of Islam in Malaysia', (Muslim World, 97, 2,) 287-316, viewed 5 September 2014.

Black, Antony. "Religion and Politics in Western and Islamic Political Thought: A Clash of Epistemologies?." Political Quarterly 81, no. 1 (March 2010): 116-122. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Bush, Vanessa. "Joining Hands: Politics and Religion Together for Social Change." The Booklist 98, no. 21 (07, 2002): 1800,

http://search.proquest.com/docview/235472670?accountid=25704. Christiano, Kevin J. "Politics and Religion in Central and Eastern Europe: Traditions and Transitions." Sociology of Religion 57, no. 3 (Fall, 1996): 332-3, http://search.proquest.com/docview/216768189? accountid=25704.

Çiftçi, Ali, and Nihat Yilmaz. "Ibn Haldun'un Siyaset Teorisi Ve Siyasal Sistem Siniflandirmasi. (Turkish)." Electronic Turkish Studies 8, no. 7 (Summer2013 2013): 83-93. (accessed September 5, 2014).

Collinson, Patrick. "The politics of religion and the religion of politics in Elizabethan England."Historical Research 82, no. 215 (February

2009): 74-92. Humanities International Complete,

EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Crawford, Gregory A. "Encyclopedia of Religion in American Politics." Reference & User Services Quarterly 38, no. 4 (Summer, 1999):

412-3, http://search.proquest.com/docview/217917263?

accountid=25704.

Daniel L. Pals, Dekontruksi kebenaran; Kritik Tujuh Teori Agama, ( Yogyakarta: IRCiSoD, 2001), 137.

Denoeux, Guilain. "The Forgotten Swamp: Navigating Political Islam." Middle East Policy 9, no. 2 (06, 2002): 56-81.

http://search.proquest.com/docview/203766901?accountid=25704. Don-Yehiya, Eliezer. "Rituals of Conflict: Religion, Politics and Public Policy in Israel." The American Political Science Review 92, no. 2 (06, 1998): 492-3, http://search.proquest.com/docview/214401909? accountid=25704.

Edi, Suharto. Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik: Peran Pembangunan Kesejahteraan Sosial Dan Pekerjaan Sosial Dalam Mewujudkan Negara Kesejahteraan Indonesia, (Bandung:Alfabeta. 2007).

Efendy, Bahtiar. Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama, Negara dan Demokrasi, (Yogyakarta:Galang Press, 2001), 121.

Effendy, Bahtiar. "Islam And The State In The Indonesian Experience." Islam and Civilisational Renewal 2, no. 1 (10, 2010): 126,144,225. http://search.proquest.com/docview/1315154209?

accountid=25704.

(19)

219-238. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Francis Abraham, Perspective on Moderanization: Toward a General Theory of Third World Development, Rusli Karim, Modernisasi di Dunia Ketiga: Suatu Teori Umum Pembangunan, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 1991), 971-24.

"Faith States - Central Asia's Challenge to Political Islam." Jane's Islamic Affairs Analyst 14, no. 4 (Apr 01, 2014).

Gerges, Fawaz A. "The Islamist Moment: From Islamic State to Civil Islam?" Political Science Quarterly 128, no. 3 (Fall, 2013): 389-426.

http://search.proquest.com/docview/1438010055? accountid=25704.

Glavanis, Pandeli M. Political Islam within Europe: A contribution to the analytical framework Innovation11.4 (Dec 1998): 391-410.

Gonzalez, Michelle A. "Religion And The Us Presidency: Politics, The Media, And Religious Identity." Political Theology 13, no. 5 (October 2012): 568-585. Religion and Philosophy Collection, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Hawting, Gerald R. "Bölüm: VIII Emevî Halifeliğinin Yikilişi. (Turkish)." Dinbilimleri Journal 13, no. 2 (March 2013): 243-258. (accessed September 5, 2014).

Helbardt, SaschaHellmann-Rajanayagam, DagmarKorff, Rüdiger. "Religionisation of Politics in Sri Lanka, Thailand and Myanmar." Politics, Religion & Ideology 14, no. 1 (March 2013): 36-58. Religion and Philosophy Collection, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

http://search.proquest.com/docview/1509957914?accountid=25704.

http://search.proquest.com/docview/871493298?accountid=25704. Jan Erik Lane dan Svante Ersson, Ekonomi Politik Komparatif: Demokrasi

dan Pertumbuhan Benarkah Kontradiktif, (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2002), 222.

Jan Erik Lane dan Svante Ersson, Ekonomi Politik Komparatif: Demokrasi dan Pertumbuhan Benarkah Kontradiktif, 309.

Kramer, Lloyd. "Liberal Values: Benjamin Constant and the Politics of Religion." French Politics, Culture & Society 29, no. 1 (Spring, 2011): 130-4.

Kumaraswamy, P. R. "Religion in Third World Politics." Domes 5, no. 4 (Oct 31, 1996): 26, http://search.proquest.com/docview/205061070? accountid=25704.

Laustsen, Carsten Bagge. "Studying Politics and Religion: How to Distinguish Religious Politics, Civil Religion, Political Religion, and Political Theology." Journal Of Religion In Europe 6, no. 4 (December

2013): 428-463. Humanities International Complete,

EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Lawrence, Bruce. "Between the State and Islam / the Islamic Quest for Democracy, Pluralism, and Human Rights." The Middle East Journal

56, no. 2 (Spring, 2002): 354-7,

(20)

Mamdani, Mahmood. "Whither Political Islam?; the War for Muslim Minds: Islam and the West." Foreign Affairs 84, no. 1 (Jan, 2005): 148.

http://search.proquest.com/docview/214306133?accountid=25704. Manglos, Nicolette D., and Alexander A. Weinreb. "Religion and Interest in Politics in Sub-Saharan Africa." Social Forces 92, no. 1 (September

2013): 195-219. Education Research Complete,

EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Masudul Alam Choudhury, “The Nature Of Business Social Ethics In Heterodox Epistemological Worldviews” (Sovremenna, Ekonomika, Vol.9:2, 2013)

Masudul Alam Choudhury, Muhammad Syukri Salleh dan Abdad (1997), Choudhury, M.A.et al, Islamic Political Economy in Capitalist-Globalization , (Universiti Sains Malaysia: Publication and Distrutors Sdn.Bhd dan International Project on Islamic Political Economy (IPIPE), 1997).

Melleuish, Gregory. "A Secular Australia? Ideas, Politics and the Search for Moral Order in Nineteenth and Early Twentieth Century Australia." Journal Of Religious History 38, no. 3 (September 2014): 398-412. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Melleuish, Gregory. "A Secular Australia? Ideas, Politics and the Search for Moral Order in Nineteenth and Early Twentieth Century Australia." Journal Of Religious History 38, no. 3 (September 2014): 398-412. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Mohd Syakir Mohd Rosdi, “Dr. Burhanuddin Al-Helmi dan Pembangunan Ekonomi Politik Islam di Malaysia (Universiti Sains Malaysia: Disertasi Non Publikasi, 2010).

Niose, David. "The Stillborn God: Religion, Politics, and the Modern West."

The Humanist 68, no. 1 (Jan, 2008): 45-6.

http://search.proquest.com/docview/235313465?accountid=25704. Nixon, C. R. "Politics, Religion, and the Common Good." Library Journal

125, no. 7 (Apr 15, 2000): 97,

http://search.proquest.com/docview/196742984?accountid=25704. Özcan, Nurgül. "Şuara Tezkirelerine Göre Selanikli Divan Şairleri.

(Turkish)." Journal Of International Social Research 6, no. 26 (Spring2013 2013): 414-427. (accessed September 5, 2014). Qadoos, Abdul, Abdul Ghaffar, Neghat Rukhsana, Saqib Shehzad, and

Syed Naeem Bad Shah. "State and the Chief of State in Islam." Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business 3,

no. 6 (10, 2011): 816-26,

http://search.proquest.com/docview/907118918?accountid=25704. Qardhawi, Yusuf. Menuju Pemahaman Islam Yang Kaffah: Analisis Komprehensif Tentang Pilar, Karakteristik, Tujuan dan Sumber-Sumber Acuan Islam. (Jakarta: Insan Cemerlang, 2003), 392. Rane, Halim. "The Impact Of Maqasid Al-Shari'ah On Islamist Political

Thought: Implications For Islam-West Relations." Islam and Civilisational Renewal 2, no. 2 (01, 2011): 337,357,432-433.

(21)

Sambo, Abdulfatai, Kadouf, Hunud Abia.” A judicial review of political questions under Islamic law” Intellectual (University of Ilorin, Nigeria:Discourse. 2014, Vol. 22 Issue 1), 33-52.

Sarif, Abd Salam. “Politik Islam Antara Aqidah dan Kekuasaan” Dalam A.Maftuh Abegriel, dkk, Negara Tuhan: The Thematic Echlopedia, (Yogyakarta;SR-Ins Publishing, 2004), 6.

Schall, James V. "Aristotle: Religion, Politics, and Philosophy." Perspectives on Political Science 27, no. 1(Winter, 1998): 5-12.

http://search.proquest.com/docview/194693743?accountid=25704. Sezgin, Yüksel1, and Mirjam2 Künkler. "Regulation of “Religion” and the “Religious”: The Politics of Judicialization and Bureaucratization in India and Indonesia." Comparative Studies In Society & History 56, no. 2 (April 2014): 448-478. Humanities Full Text (H.W. Wilson), EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Soehina. Ilmu Negara, ( Yogyakarta: Liberti, 1996), 24.

Springborg, Robert. "The Many Faces of Political Islam: Religion and Politics in the Muslim World." Middle East Policy 15, no. 1 (Spring, 2008): 166-70, http://search.proquest.com/docview/203673508? accountid=25704.

Sri-Edi Swasono, “Paradigma Baru Ilmu Ekonomi” Pidato Workshop Nasional Arsitektur Ilmu Ekonomi Islam: Upaya Akselerasi Sistem Ekonomi Islam di Indonesia, 20-23

Sungmoon, Kim. "Politics And Interest In Early Confucianism." Philosophy East & West 64, no. 2 (April 2014): 425-448. Humanities International Complete, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Vlas, Natalia, and Sergiu Gherghina. "Where does religion meet democracy? A comparative analysis of attitudes in Europe." International Political Science Review 33, no. 3 (June 2012): 336-351. Social Sciences Abstracts (H.W. Wilson), EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Wahid, Abdurahman. Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi (Jakarta:Wahid Institut, 2006), 83.

Walton, Jonathan. "Old-Time Religion in New New China: Alternative Religious Movements in the Post-Mao Era." Cross Currents 64, no. 2 (June 2014): 262-281. Humanities Full Text (H.W. Wilson), EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Walzer, Richard. al-farabi on The Perfect State: Abu Nasr al-Farabi’s Mabadi Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah,( Newyork: Oxford University, Press, 1985), 228.

Weiss, Bernard G. "Western Dominance and Political Islam: Challenge and Response." Domes 5, no. 2 (Apr 30, 1996): 15.

http://search.proquest.com/docview/205040280?accountid=25704. Wilcox, Clyde. "Politics & Religion." Political Science Quarterly 119, no. 2

(Summer, 2004): 357-8,

(22)

Williams, Rhys. "The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics." Sociology of Religion 62, no. 1 (Spring, 2001):

131-2, http://search.proquest.com/docview/216768923?

accountid=25704.

Wilson, Erin K. "Theorizing Religion as Politics in Postsecular International Relations." Politics, Religion & Ideology 15, no. 3 (September 2014): 347-365. Religion and Philosophy Collection, EBSCOhost (accessed September 24, 2014).

Yusof al-Qaradhawy, Politik dan Agama, (Kuala Lumpur: Angkatan Belia Islam Malaysia, 2009, 30.

Referensi

Dokumen terkait

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan malware WannaCry tersebut pada komputer end client yang menggunakan sistem operasi Windows

Rupanya, perjalanan singkat ini seperti liburan untuk kami, dan melalui perjalanan ini kami juga bisa belajar banyak tentang Batam dan punya banyak kesempatan untuk berlatih

Dari hasil pengolahan data penelitian, variabel hedonic shopping berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel pembelian impulsif yang berarti semakin tinggi perilaku

Dikarenakan poli(amino amid) merupakan suatu bahan yang mempunyai sifat fleksibilitas yang tinggi Pemanfaatan pelat bipolar jenis ini berpotensi mereduksi biaya produksi PEMFC

Tulisan ini merupakan Skripsi dengan judul “Pengaruh Komposisi Resin Poliester Berpengisi Serbuk Kulit Kerang Terhadap Sifat Fisik Dan Mekanik Papan Partikel”, berdasarkan

Diharapkan dari proses kominusi ini dapat dilangsungkan didalam suatu media fluida seperti air, sehingga dapat sekaligus menghasilkan partikel skala nano yang

Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki pengaruh teknik pembuatan lubang dengan variasi diameter yang berbeda terhadap optimasi kekuatan bahan komposit hibrid yang

Berdasar pada latar belakang di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih dalam mengenai akuntabilitas dan transparansi yang dilakukan Pemerintah