• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMAT (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMAT (1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

Alamat email : [email protected]

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PADA

MURID KELAS IV SDI NDITO KEC. DETUSOKO

KABUPATEN ENDE TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional

Program S-I PGSD Universitas Terbuka

Disusun Oleh :

NAMA : MARIA ANGELINA JELO

NIM : 823 629 396

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TERBUKA

UPBJJ UT KUPANG

(2)

ABSTRAK

JUDUL : UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PADA MURID KELAS IV SDI NDITO KEC. DETUSOKO KABUPATEN ENDE TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

Upaya meningkatkan hasil belajar matematika dengan menggunakan alat peraga pada murid kelas IV SDI Ndito Kec. Detusoko Kabupaten Ende tahun pelajaran 2013 / 2014, merupakan salah satu alternatif penyelesaian masalah pembelajaran yang terjadi di kelas selama ini.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan ketuntasan pembelajaran matematika mengenai penjumlahan bilangan bulat.Untuk mengetahui hasil belajar murid dengan menggunakan alat peraga.

Model penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas 2 siklus. Subyek penelitian adalah murid kelas IV SDI Ndito Kec. Detusoko Kabupaten Ende tahun pelajaran 2013 / 2014 sebanyak 14 murid. Analisis data menggunakan teknik analisis diskriptif dengan membandingkan kondisi awal dengan hasil-hasil yang dicapai pada setiap siklus.

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus I nilai rata-rata murid 67,85, artinya belum terjadi perubahan yang maksimal, dari hasil belajar murid baik yang tuntas belajar maupun nilai rata-rata kelas murid. Dan dengan hasil yang belum maksimal pada siklus I dan masih banyak murid yang belum mencapai ketuntasan belajar, maka penulis merencanakan perbaikan pada siklus II, dan setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II maka diperoleh rata – rata kelas 72,85. Dengan demikian menunjukkan ada perubahan yang baik dengan hasil yang memuaskan.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan proses penyesuaian diri secara timbal balik (memberi dan menerima pengetahuan). Sasaran tugas dan fungsi pendidikan adalah manusia yang senantiasa tumbuh dan berkembang mulai dari periode kandungan ibu sampai meninggal dunia. Oleh karena itu, fungsi pendidikan adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan lancar dan mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di kelak kemudian hari dan sebagai sumber peraturan yang akan digunakan sebagai pegangan hidup dan pegangan langkah pelaksanaan oleh tenaga pendidik.

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, untuk membekali murid agar mampu berpikir logis, analisis, kritis, kreatif serta mampu bekerja sama. Pelajaran matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan pendekatan kontekstual melalui pengenalan bangun-bangun dan symbol-symbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu, memperjelas, dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penulis sebagai guru tentu harus mencari cara yang terbaik untuk meningkatkan tahap pemahaman murid dan untuk membuat efektifnya pengajaran serta berhasilnya tujuan pembelajaran itu sendiri melalui penggunaan alat peraga untuk meningkatkan hasil belajar murid.

(4)

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan refleksi tentang apa yang terjadi dan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Dari hasil diskusi dengan teman sejawat untuk mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang telah penulis laksanakan terungkap beberapa masalah antara lain :

 Guru kurang jelas dalam menyampaikan materi.

 Tidak menggunakan alat peraga

 Tidak menggunakan metode yang bervariatif

 Masih ada murid yang tidak hapal rumus.

Berdasarkan hal tersebut di atas penulis sebagai guru berkewajiban untuk mencari penyelesaian masalah sedini mungkin agar hasil belajar yang diperoleh murid lebih meningkat.

2. Analisis Masalah

Berdasarkan data dan fakta yang telah penulis uraikan dan kemukakan di atas dan didukung melalui diskusi dengan teman sejawat dapat ditentukan beberapa faktor penyebab murid kurang memahami materi matematika yang telah diajarkan adalah sebagai berikut : Tidak adanya alat peraga. Metode pengajaran tidak bervariatif Tidak memberikan contoh yang cukup. Tidak memberikan tugas rumah pada akhir pelajaran

3. Alternatif Prioritas Pemecahan Masalah

(5)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil analisis yang penulis kemukakan dalam analisis permasalahan tersebut di atas penulis dapat merumuskan masalah yaitu :” Apakah dengan adanya alat peraga, dan memberikan contoh yang cukup, dapat meningkatkan hasil belajar murid pada materi penjumlahan bilangan bulat?”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini penulis lakukan dengan tujuan untuk menerapkan suatu model perbaikan pembelajaran, agar hasil belajar murid dapat meningkat sesuai dengan hasil yang diharapkan, dan secara rinci tujuan penulis mengadakan perbaikan ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk meningkatkan ketuntasan pembelajaran matematika mengenai penjumlahan bilangan bulat.

2. Untuk mengetahui hasil belajar murid dengan menggunakan alat peraga dan metode yang bervariatif.

D. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas penulis akan memaparkan manfaat perbaikan yang penulis laksanakan dalam pelajaran matematika mengenai materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV adalah sebagi berikut :

 Bagi Peneliti :

1. Untuk mengevaluasi diri dalam memilih metode yang tepat. 2. Agar dapat mengelola pembelajaran lebih efisien dan bermakna

3. Agar dapat mengatasi kekurangan dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

 Bagi Guru :

1. Kegagalan dalam pembelajaran akan diketahui dengan baik.

(6)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat Matematika

Untuk dapat memahami bagaimana hakikatnya matematika, kita dapat memperhatikan pengertian istilah dan beberapa deskripsi yang diuraikan pada ahli berikut : Bourne juga memahami matematika sebagai kontruktivisme sosial dengan penekanannya pada knowing how, yaitu pebelajar dipandang sebagai makhluk yang aktif dalam mengkontruksi ilmu pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini berbeda dengan pengertian knowing that yang dianut oleh kaum absoluitis, di mana pebelajar dipandang sebagai makhluk yang pasif dan seenaknya dapat diisi informasi dari tindakan hingga tujuan (Romberg, T.A. 1992: 752).

Kitcher lebih memfokuskan perhatikannya kepada komponen dalam kegiatan matematika. (Jackson, 1992:753). Dia mengklaim bahwa matematika terdiri atas komponen-komponen: bahasa (language) yang dijalankan oleh para matematikawan, pernyataan (statements) yang digunakan oleh para matematikawan, pertanyaan (questions) penting yang hingga saat ini belum terpecahkan, alasan (reasonings) yang digunakan untuk menjelaskan pertanyaan, dan ide matematika itu sendiri. Bahkan secara lebih luas matematika dipandang sebagai the science of pattern.

Matematika secara umum ditegaskan sebagai penelitian pola dari struktur, perubahan, dan ruang; tak lebih resmi, seorang mungkin mengatakan adalah penelitian bilangan dan angka. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; pandangan lain tergambar dalam filosofi matematika.

(7)

1. Matematika sebagai struktur yang terorganisir. 2. Matematika sebagai alat (tool).

3. Matematika sebagai pola pikir deduktif.

4. Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking). 5. Matematika sebagai bahasa artifisal.

6. Matematika sebagai seni yang kreatif.

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : Memahami konsep matematika, menjelaskan ketkaitan agar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat , efisien dan tepat, dalam pemecahan masalah. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat , melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan masalah. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu , perhatian dan minat dalam mempelajari matermatika , serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

B. Alat Peraga

1. Pengertian Alat Peraga

Pengertian alat peraga adalah suatu alat yang dapat memperjelas dan mempermudah murid dan guru dalam memahami materi pembelajaran. Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang alat peraga, terlebih dahulu kita harus memahami pengertian atau definisi alat peraga itu sendiri.

(8)

Berikut pendapat para ahli pendidikan yang menjelaskan pengertian alat peraga:

 Gagne menempatkan alat peraga sebagai komponen sumber, dia mendefinisikan alat peraga sebagai: “Komponen sumber belajar di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar”.

 Briggs berpendapat bahwa harus ada sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar, karena itu dia mendefinisikan alat peraga sebagai “Wahana fisik yang mengandung materi pembelajaran”.

 Yusuf Hadi Miarso melihat alat peraga secara makro dalam keseluruhan sistem pendidikan sehingga definisinya berbunyi “Segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar”.

 Wilbur Schram melihat alat peraga dalam pendidikan sebagai suatu teknik untuk menyampaikan pesan. Oleh sebab itu dia mendefinisikan alat peraga sebagai berikut: “Alat peraga adalah teknologi pembawa informasi atau pesan pembelajaran ”.

2. Tujuan dan Fungsi Alat Peraga

Setelah kita mengetahui pengertian alat peraga secara luas diatas, disini kita hanya akan membicarakan pengertian alat peraga dalam pengertian terbatas, yaitu sebagai alat pengajaran. Ini berarti alat bantu yang digunakan oleh guru bertujuan untuk:

a. Menjelaskan informasi atau pesan pembelajaran. b. Memberikan tekanan pada bagian-bagian yang penting. c. Memperjelaskan struktur pengajaran.

d. Memotivasi belajar.

(9)

Dalam hal ini, kedudukan alat peraga dalam proses belajar mengajar tidaklah berdiri sendiri. Alat peraga dimanfaatkan oleh guru dalam pembelajaran, tujuannya agar materi dapat dengan mudah diterima siswa.

Sadiman (1984) mengemukakan ada tiga tahap yang harus diikuti dalam pemanfataannya, yaitu:

1) Tahap Persiapan, yaitu tahap awal sebelum alat peraga dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.

a) Pemilihan alat peraga disesuaikan dengan materi pembelajaran. b) Pemilihan alat peraga harus memperhatikan:

 Kesederhanaan, hal ini diperhatikan agar siswa mudah memahami materi yang dipelajari.

 Ukuran.

 Warna.

2) Tahap Pelaksanaan, yaitu tahap pemanfataan alat peraga dalam kelas.

a) Cara memperhatikan alat peraga, usahakan agar seluruh siswa dapat melihat.

b) Setiap alat peraga harus mempunyai tujuan tertentu.

c) Jumlah alat peraga yang ditampilkan kepada siswa harus dibatasi, yaitu dengan memperlihatkan secara satu persatu sesuai dengan materi yang dijelaskan.

(10)

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subyek, Tempat dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu 1. Subyek

Yang menjadi subyek dalam kegiatan perbaikan pembelajaran adalah murid kelas IV SDI Ndito Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende dengan jumlah murid : 14 orang dengan rincian 10 orang murid laki – laki dan 4 orang murid perempuan.

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Adapun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, penulis mengadakan penelitian di SDI Ndito Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan pada bulan Mei, dengan rincian jadwal sebagai berikut :Siklus I, Senin, 12 Mei 2014 dan Siklus II, Rabu, 14 Mei 2014

3. Pihak yang Membantu

Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran dibantu oleh :

 Martinus Angi,S.Pd.SD selaku teman sejawat atau supervesor 2

 Willy Wesa,S.Sos selaku supervesor 1. B. Desain Prosedur Perbaikan Penelitian

1. Siklus I 1) Rencana

Hasil diskusi dengan teman sejawat diperoleh bahwa perlu dilakukan perbaikan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan langkah-langkah yang sesuai dengan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ). Dengan demikian perlu disusun kegiatan siklus 1 dan siklus 2 yang terdiri dari rencana, pelaksanaan, pengamatan/pengumpulan data, instrumen dan refleksi. Adapun prosedur pelaksanaan perbaikan pembelajaran Matematika pada murid kelas IV SDI Ndito sebagai berikut :

 Menyusun RPP didasarkan permasalahan yang diperoleh pada saat pra siklus.

 Menyiapkan alat peraga yang sesuai dengan materi pelajaran

 Menyiapkan perangkat tes

(11)

Prosedur pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilakukan dengan kolaborasi dengan teman sejawat untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam pembelajaran. Kemudian mendiskusikan cara pemecahan yang terjadi dalam pembelajaran Matematika. Langkah – langkah kegiatan pada tahap pelaksanaan dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Menyiapkan apersepsi dan pemberian motivasi

 Menyampaikan kompetensi dasar yang akan dilakukan

 Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan

 Tanya jawab dengan murid tentang materi pelajaran

 Memberikan tugas kepada tiap-tiap kelompok

 Membimbing kelompok tanya jawab

 Setiap kelompok membuat laporan hasil diskusi

 Mengevaluasi hasil belajar murid

 Membuat kesimpulan

 Memberikan penguatan kepada murid

 Memberikan tugas pekerjaan rumah

3) Observasi

 Melakukan observasi terhadap pembelajaran sesuai dengan kesepakatan

 Mengamati kegiatan murid selama proses perbaikan pembelajaran 4) Refleksi

 Melakukan refleksi terhadap pembelajaran

 Melakukan refleksi terhadap hasil belajar murid

2. Siklus II

1) Perencanaan

 Menganalisis hasil perbaikan pertama (siklus I)

 Membuat RPP perbaikan siklus II

 Menyiapkan alat peraga yang akan digunakan

(12)

 Menyiapkan apersepsi dan pemberian motivasi

 Menyampaikan kompetensi dasar yang akan dilakukan

 Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan

 Menyajikan materi

 Tanya jawab dengan murid tentang materi pelajaran

 Memberikan tugas kepada tiap-tiap kelompok

 Membimbing kelompok tanya jawab

 Setiap kelompok membuat laporan hasil diskusi

 Mengevaluasi hasil belajar murid

 Membuat kesimpulan dan rangkuman

 Memberikan penguatan kepada murid

 Memberikan tugas pekerjaan rumah

3) Observasi

 Keaktifan murid

 Kerjasama kelompok

 Keadaan kelas

 Hasil belajar murid

4) Refleksi

 Melakukan refleksi terhadap pembelajaran siklus II

 Melakukan refleksi terhadap hasil belajar murid siklus II

C. Teknik Analisa Data

Analisis data hasil penelitiaan yang tergolong data kuantitatif dilakukan secara deskriptif, yakni dengan menghitung ketuntasan klasikal dengan rumus sebagai berikut:

(13)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran 1. SIKLUS I

Dari hasil pengamatan teman sejawat pada pembelajaran matematika siklus1 diperoleh nilai rata-rata murid 67,85 dan pada siklus 2 nilai rata-rata murid menjadi 72,85 artinya terjadi peningkatan hasil belajar baik dari jumlah murid yang tuntas belajar maupan nilai rata-rata murid. Perbaikan pembelajaran yang dilakukan penulis dalam menerapkan pembelajaran matematika dengan penjumlahan bilangan bulat adalah sebagai berikut :

1) Menjelaskan materi dengan jelas

2) Menggunakan alat peraga yang sesuai dan menarik

3) Melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran dengan memberi contoh yang cukup

4) Memberi latihan-latihan yang cukup

Tabel 4.1. Hasil Belajar Murid Pra Siklus dan Siklus I Pembelajaran Matematika

No Nama Murid Nilai Pra Siklus Siklus I Ket

1. Afrensia Y.Pati 50 50

2. Albertus R.Woge 65 70

3. Aldolfus S.Rago 70 80

4. Alexius Mite 76 80

5. Elias Bhato 56 60

6. Fidelis F.Gabe 55 55

7. Kristina Delo 56 50

8. Maria M.Postania 50 55

(14)

12. Salomo Tei 70 90

13. Valentines Ralo 70 80

14. Viktorianus Benge 70 80

Jumlah 864 950

Rata – rata 61, 71 67,85

Berdasarkan hasil diskusi dengan sejawat dan supervisor, maka dari data yang diperoleh dari perbaikan pembelajaran pra siklus dan siklus I yang dilaksanakan belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Hal ini ditunjukkan dengan adanya nilai rata-rata murid belum mencapai ketuntasan hasil belajar dengan rata-rata 67,85.

Dari hasil nilai sebelum diadakan perbaikan pembelajaran matematika diperoleh nilai rata-rata 61,71. Dan setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus I nilai rata-rata murid 67,85, artinya belum terjadi perbaikan yang maksimal, dari hasil belajar murid baik yang tuntas belajar maupun nilai rata-rata kelas murid. Dan dengan hasil yang belum maksimal pada siklus I dan masih banyak murid yang belum mencapai ketuntasan belajar, maka penulis merencanakan perbaikan pada siklus II.

2. SIKLUS II

Berdasrkan hasil evaluasi belajar siklus I dimana di peroleh hasil yang masih jauh dari harapan sehingga peneliti dengan berkolaborasi bersama teman sejawat merencanakan untuk melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus II, dengan penekanan pada penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran. hal ini di pandang perlu agar konsep Matematika yang abstrak akan menjadi konkrit jika dikaitkan dengan kehidupan murid secara langsung.

(15)

Tabel 4.2. Hasil Belajar Murid Perbaikan Pembelajaran Matematika Siklus II

No Nama Murid Siklus II Ket

1. Afrensia Y.Pati 60

2. Albertus R.Woge 70

3. Aldolfus S.Rago 80

4. Alexius Mite 80

5. Elias Bhato 70

6. Fidelis F.Gabe 65

7. Kristina Delo 60

8. Maria M.Postania 75

9. Martinus Fua 70

10. Rosa Dalima Mude 70

11. Stefanus Maku 70

12. Salomo Tei 90

13. Valentines Ralo 80

14. Viktorianus Benge 80

Jumlah 1020

Rata – rata 72,85

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus I nilai rata-rata murid 67,85, artinya belum terjadi perubahan yang maksimal, dari hasil belajar murid baik yang tuntas belajar maupun nilai rata-rata kelas murid. Dan dengan hasil yang belum maksimal pada siklus I dan masih banyak murid yang belum mencapai ketuntasan belajar, maka penulis merencanakan perbaikan pada siklus II, dan setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II maka diperoleh rata – rata kelas 72,85. Dengan demikian menunjukkan ada perubahan yang baik dengan hasil yang memuaskan.

(16)

dinyatakan belum tuntas. Pembelajaran dinyatakan tuntas apabila hasil penguasaan murid > 70%. Penulis sebagai pendidik merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki hasil belajar murid yang tidak memuaskan tersebut.

Pada perbaikan pembelajaran siklus 2, penulis menggunakan alat peraga yang tepat dan menarik, ternyata hasil nilai yang diperoleh murid pada pembelajaran siklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat pada tabel dan grafik diatas. Dalam proses belajar mengajar di kelas yang efektif, guru harus memperhatikan faktor-faktor yang saling mempengaruhi, antara lain : penyampaian materi harus jelas dan mudah, pemilihan metode mengajar yang tepat dan bervariatif, pemilihan media belajar yang tepat, mudah didapat atau mudah dikenal murid, penggunaan bahasa yang mudah, jelas, dan lugas, sehingga dapat mudah dimengerti oleh murid, penampilan guru yang menarik dan tidak membosankan, kondisi kelas harus hidup, tidak statis tapi dinamis.Sebelum perbaikan nilai yang diperoleh murid sangat tidak memuaskan atau dapat dikatakan bahwa tidak ada murid yang mencapai ketuntasan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya media gambar atau alat peraga yang digunakan, sehingga tidak adanya penunjang dalam pembelajaran.

Pada siklus I belum terjadi perubahan yang maksimal pada nilai murid dan masih sebagian besar murid belum mencapai ketuntasan. Selain itu pada siklus I juga belum terdapat media gambar atau alat peraga.

(17)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari perbaikan yang telah dilaksanakan dapat ditarik beberapa kesimpulan dimana dalam proses belajar mengajar di kelas yang efektif, guru harus memperhatikan faktor-faktor yang saling mempengaruhi, antara lain :

 Penyampaian materi harus jelas dan mudah

 Pemilihan metode mengajar yang tepat dan bervariatif

 Pemilihan media belajar yang tepat, mudah didapat atau mudah dikenal murid

 Penggunaan bahasa yang mudah, jelas, dan lugas, sehingga dapat mudah dimengerti oleh murid

(18)

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Matematika adalah :

1. Memilih strategi pembelajaran yang lebih menarik dengan menggunakan metode yang bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan pembelajaran menjadi lebih berarti.

2. Memberikan latihan-latihan soal untuk di rumah, agar siswa lebih terampil dalam menghitung luas segi banyak yang merupkan gabungan dari dua bangun datar sederhana.

3. Demikian juga, guru perlu bekerja sama dengan baik terhadap orng tua siswa, agar selalu mendukung kegiatan belajar siswa di rumah.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Muhsetyo dkk. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta.

Heryanto dan H.M. Akib Hamid. (2004). Statistik Dasar Universitas Terbuka. Jakarta. Tim Bina Karya Guru. (2006). Terampil Berhitung Matematika Untuk SD Kelas IV Jakarta: Erlangga

(19)

Gambar

Tabel 4.1. Hasil Belajar Murid Pra Siklus dan Siklus I
Tabel 4.2. Hasil Belajar Murid Perbaikan PembelajaranMatematika  Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Pada tindakan siklus II dengan penerapan metode demonstrasi diperoleh nilai rata-rata kelas semakin meningkat yaitu 67, jumlah siswa yang tuntas juga semakin meningkat

teori dan kerangka berfikir diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah penggunaan Anak sulit memahami materi mata pelajaran matematika sehingga hasil belajar tidak mencapai

Pada akhir siklus ketiga diperoleh nilai rata-rata kelas adalah 67, jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 11 siswa, dengan ketuntasan kelas sebesar 57,9%. Aktifitas guru

Dari analisis data tentang hasil belajar siswa melalui ulangan harian mengalami peningkatan pada data awal yaitu 61,5 siklus I dengan rata-rata nilai siswa 67 dan siklus

berdasarkan hasil pengamatan yang telah dibuat, data hasil nilai rata-rata hasil belajar pada aspek afektif atau sikap pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:..

Hasil Belajar pada Pra siklus, Siklus I, dan Siklus II Keterangan Pra siklus Siklus I Siklus II Rata-rata hasil belajar 60,30 72,87 83,90 Sumber: Data diolah 2021

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1 terjadi peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan siklus I rata-rata nilai 58,87 dengan persentase 32,26% dan siklus II

Hasil refleksi siklus III antara lain: 1 Persentase rata-rata skor aktivitas belajar sebesar 67,76%, ini artinya berada dalam kategori baik dan rata- rata skor persepsi mahasiswa