• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel PTK ANTI GALAU DAN STAD STUDENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Artikel PTK ANTI GALAU DAN STAD STUDENT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANTI GALAU DAN STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DEVISION) SUATU MODEL PEMBELAJARAN BERKARAKTER KEBANGSAAN SEBAGAI UPAYA

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI SOSIALISASI KELAS X SEMESTER 2 SMA NEGERI 1 PANINGGARAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh : Luluk Wulandari (SMA 1 Paninggaran)

Pengampu Sosiologi

ABTRAK

(2)

yang selama ini guru gunakan, tidak kondusif apalagi untuk materi ilmu sosial yang banyak analisis dan konsep pemahaman, guru mudah lelah dan siswa banyak yang mengantuk. Kata kunci: STAD, ANTI GALAU, karakter kebangsaan, belajar

PENDAHULUAN

Banyak pelajar menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan, duduk berjam-jam dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada suatu pokok bahasan, baik yang sedang disampaikan guru maupun yang sedang dihadapi di meja belajar. Kegiatan ini hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya aktif untuk memperdalam ilmu.

Mereka tidak menemukan kesadaran untuk mengerjakan seluruh tugas-tugas sekolah. Banyak diantara siswa yang menganggap, mengikuti pelajaran tidak lebih sekedar rutinitas untuk mengisi daftar absensi, mencari nilai, melewati jalan yang harus ditempuh, dan tanpa diiringikesadaran untuk menambah wawasan ataupun mengasah ketrampilan.

Menurunnya gairah belajar, selain disebabkan oleh ketidaktepatan metodologis, juga berakar pada paradigma pendidikan konvensional yang selalu menggunakan metode pengajaran klasikal dan ceramah, tanpa pernah diselingi berbagai metode yang menantang untuk berusaha. Termasuk adanya penyekat ruang struktural yang begitu tinggi antara guru dan siswa.

(3)

melibatkan seluruh siswa dikelas, tidak hanya siswa yang pintar secara akademik saja. Anti Galau diterapkan pada kegiatan STAD, dan kepanjangan dari Anti Galau merupakan sifat-sifat karakter bangsa Indonesia dan unsur sifat-sifat-sifat-sifat modern dalam pendidikan misalnya atraktif. Diharapkan dengan model ini siswa tetap menghormati karakter budaya bangsa dengan tetap up to date mengikuti arus globalisasi, mampu berdiskusi dan menghargai pendapat melalui metode STAD dan menjadi insan yang memiliki nilai-nilai dan kepribadian yang luhur.

LANDASAN TEORI

Pada bab pendahuluan telah disampaikan bahwa model ANTI GALAU adalah singkatan dari Aktif, Nasionalis, Terampil, Inspiratif, Gotong-royong, Atraktif, Luhur, Adil dan Ulet. Penulis menerapkan model ini sebagai pendamping pembelajaran cooperative learning tipe STAD. Sebelumnya, penulis telah mencoba menggunakan tipe STAD dalam pembelajaran. Tetapi, sebagai upaya menambah semangat siswa dalam kegiatan belajar mengajar, penulis menambahkan unsur-unsur karakter bangsa Indonesia kemudian dirangkai menjadi sebuah gagasan yang masih “in” dikalangan siswa yang notabene merupakan usia remaja dan dikehidupan sehari-hari seringkali mengucapkan kata-kata gaul. Galau adalah salah satunya, dan penulis berharap siswa tidak merasakan galau ketika mengikuti pelajaran sosiologi yang selama ini dianggap pelajaran membosankan karena banyak hafalan dan analisis yang berparadigma ganda.

Adapun kepanjangan dan arti kata dari anti galau peneliti dapatkan dari website artikata.com. Peneliti juga mengambilnya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata-kata tersebut antara lain:

a. Aktif, 1. 1 giat (bekerja, berusaha): ia -- di bidang olahraga. 2 lebih banyak penerimaan dp pengeluaran: neraca pembayaran. 3 dinamis atau bertenaga (sbg lawan statis atau lembam);4 mampu beraksi dan bereaksi: nitrogen --; 5 Dok mempunyai kecenderungan menyebar atau berkembang biak (tt penyakit, sel, dsb): dia mengidap penyakit tuberkulosis --; meng·ak·tif·kan v menjadikan aktif; menggiatkan; peng·ak·tif n 1 yg membuat aktif; 2 Kim sesuatu, biasanya suatu katalis, yg menyebabkan zat atau

sistem menjadi aktif;

peng·ak·tif·an n 1 proses, cara, perbuatan menjadikan aktif; 2 Kim pengubahbentukan enzim yg tidak aktif menjadi enzim aktif; ke·ak·tif·an n kegiatan; kesibukan

(4)

c. Terampil, cakap dl menyelesaikan tugas; mampu dan cekatan; me·ne·ram·pil·kan v membuat menjadi terampil; memberikan keterampilan; ke·te·ram·pil·an n kecakapan untuk menyelesaikan tugas; ~ bahasa Ling kecakapan seseorang untuk memakai bahasa dl menulis, membaca, menyimak, atau berbicara; ~ tematis Ling kesanggupan pemakai bahasa untuk menanggapi secara betul stimulus lisan atau tulisan, menggunakan pola gramatikal dan kosakata secara tepat, menerjemahkan dr satu bahasa ke bahasa lain, dsb

d. Inspiratif, ilham; meng·in·spi·ra·si v menimbulkan inspirasi; mengilhami: mudah-mudahan acara historis itu dapat ~ kita untuk tujuan yg lebih mulia dan besar; meng·in·spi·ra·si·kan v menjadikan inspirasi; ter·in·spi·ra·si v telah diinspirasi; terilhami e. Gotong-royong, 1. bekerja bersama-sama (tolong- menolong, bantu-membantu):

masyarakat berhasil membangun sebuah masjid yg megah secara --; pasir, batu kali, dan material lainnya untuk membuat jalan itu dikumpulkan secara -- oleh warga desa; ber·go·tong ro·yong v bersama-sama mengerjakan atau membuat sesuatu; ke·go·tong·ro·yong·an n perihal bergotong royong: cara kerja yg rasional dan efisien akan dibina tanpa meninggalkan suasana ~

f. Atraktif, . mempunyai daya tarik; bersifat menyenangkan: pameran itu sangat--sehingga selalu dipenuhi pengunjung

g. Luhur, . tinggi; mulia: demi cita-cita yg -- , kami bersedia mengorbankan jiwa dan raga; me·lu·hur·kan v menganggap (memandang dsb) luhur; memuliakan; menghormati: ~ nusa dan bangsa; ke·lu·hur·an n kemuliaan; kebesaran: terkenang akan ~ tanah airnya; ~ budinya membuat setiap orang meng hor matinya; ~ jiwa kemuliaan atau kebesaran jiwa: ~ jiwa seseorang dapat diketahui dr tingkah lakunya

h. Adil, 1 sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak: keputusan hakim itu --; 2 berpihak kpd yg benar; berpegang pd kebenaran; 3 sepatutnya; tidak sewenang-wenang: para buruh mengemukakan tuntutan yg --; meng·a·dili v memeriksa, menimbang, dan memutuskan (perkara, sengketa); menentukan mana yg benar (baik) dan mana yg salah (jahat): hakim ~ perkara pembunuhan; ter·a·dil a paling (sangat)

adil; ter·a·dili v dapat diadili;

(5)

hakim itu; 4 sidang hakim ketika mengadili perkara: di depan ~ terdakwa memungkiri perbuatannya; 5 rumah (bangunan) tempat mengadili perkara: rumahnya terletak di depan kantor ~ negeri; ~ agama badan peradilan khusus untuk orang yg beragama Islam yg memeriksa dan memutus perkara perdata tertentu sesuai dng peraturan perundang-undangan yg berlaku; ~ militer badan peradilan khusus yg berkuasa memeriksa dan memutus perkara tindak pidana yg dilakukan oleh anggotaTNI; ~ negeri badan peradilan pd tingkat pertama yg berkuasa mengadili semua perkara penyelewengan hukum dl daerah hukumnya; ~ tinggi badan yg berkuasa mengadili perkara banding yg berasal dr pengadilan negeri dl daerah hukumnya; ke·a·dil·an n sifat (perbuatan, perlakuan, dsb) yg adil: dia hanya mempertahankan hak dan ~ nya; Pemerintah menciptakan ~ bagi masyarakat;

~ sosial kerja sama untuk menghasilkan masyarakat yg bersatu secara organis sehingga setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yg sama dan nyata untuk tumbuh dan belajar hidup pd kemampuan aslinya; ber·ke·a·dil·an v mempunyai keadilan.

i. Ulet, 1 liat; kuat (tidak mudah putus, tidak getas): talinya sangat -- , terbuat dr kulit waru; 2 tidak mudah putus asa yg disertai kemauan keras dl berusaha mencapai tujuan dan cita-cita: musuhnya -- , perlu dilawan dng senjata yg ampuh; ke·u·let·an n perihal ulet: krn ~ nya, ia berhasil lulus ujian sarjana.

Pembelajaran cooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran cooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran cooperatif. Pembelajaran cooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut:

1. Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.

2. Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerjasama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.

(6)

Keadaan

sekarang Perlakuan Hasil

Penjelasan pembelajaran kooperatif Pelatihan pembelajaran sistem STAD dan model anti galau Simulasi

pembelajaran dengan sistem STAD dan anti galau

Guru mampu menerapkan pembelajaran dengan sistem STAD dan model anti galau Kualitas KBM meningkat Hasil KBM meningkat KBM berjalan monoton Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat Metode yang digunakan konvensional Rendahnya kualitas PBM Rendahnya hasil PBM Diskusi Pemecahan

masalah Penerapan Model Anti Galau dan Metode STAD

Evaluasi Awal

Evaluasi Akhir Efek Evaluasi

4. Peningkatan skor individu. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok.

5. Penghargaan kelompok. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi, diberikan penghargaan.

Berdasarkan pengamatan dilapangan nampak bahwa pada umumnya proses belajar mengajar Sosiologi dikelas masih berjalan monoton, konvensional, kualitas pembelajaran, dan prestasi siswa untuk pembelajaran Sosiologi rendah. Melihat situasi yang demikian, perlu menggalang partisipasi siswa dalam KBM baik partisipasi kontribusi maupun inisiatif. Sistem STAD dan model ANTI GALAU diharapkan mampu memecahkan masalah ini. Metode yang digunakan tidak lagi konvensional akan tetapi lebih bersifat variatif dan partisipatoris, kualitas pembelajaran sosiologi meningkat, dan prestasi siswa untuk mata pelajaran sosiologi meningkat.

Dengan demikian, gambaran pola pemecahannya tahapan ditunjukkan pada gbr. Berikut :

(7)

Gbr 1. Kerangka Pemecahan Masalah

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitaif. Data nilai ulangan harian siswa dihitung sebagai landasan apakah metode yang diterapkan berhasil atau tidak dilihat dari peningkatan nilai siswa dalam beberapa siklus. Metode kualitatif digunakan dengan teknik wawancara untuk mengetahui seberapa minat siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar guru ketika menggunakan model pembelajaran ini. Setting penelitian ini dalah SMA 1 Paninggaran dengan subyek yaitu siswa kelas X. Materi sosiologi yang digunakan ketika penelitian ini berlangsung adalah kurikulum 2006.

HASIL PENELITIAN

Peneliti menyadari bahwa mengubah mental yang sudah membudaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tugas guru tidak hanya mengajar ilmu akademik, tetapi lebih dari itu guru juga tidak boleh menutup mata mengenai keadaan peserta didiknya dari segi apapun, ekonomi, budaya, sosial, dan lainnya. Melalui mata pelajaran sosiologi, peneliti berusaha mendekati siswa dengan tanpa kekerasan (non Koersif). Jika siswa mulai senang dan berminat terhadap sebuah ilmu, maka akan ada sugesti yang akan diterima siswa dari pengampu mata pelajaran tersebut, hal itulah yang sedang peneliti lakukan. Materi sosialisasi dipilih karena materi ini pada dasarnya mengajarkan tentang proses belajar, membiasakan sebuah pengetahuan apapun kepada sebuah generasi yang baru.

(8)

Tabel 1. Nilai Ulangan Harian Pra siklus, Siklus I, dan Siklus II

NILAI ULANGAN HARIA

N PRA

SIKLU S

SIKLUS I SIKLUS II

Rata-rata 58,68 71,06 75,12

Nilai Tertinggi 82 87 92

Nilai Terendah 41 53 59

Persentase

Ketuntasan 21,8% 62,6% 90,62%

Persentase Ketidaktuntasa

n 78,1% 37,5% 9,37%

Kriteria Ketuntasan Minimal siswa mengalami peningkatan dari prasiklus, siklus I dan siklus II . Hal tersebut ditandai dengan nilai rata rata prasiklus 58,68 meningkat pada siklus I dengan rata rata 71,06 dan meningkat menjadi 75,12 pada siklus II sehingga memenuhi KKM sebesar 70.

. Tabel 2. Hasil Analisis Pengamatan Diskusi.

No. Jumla

h Siswa

Aktivitas Peserta Sangat

Baik

Baik Cukup

1 32 Kemampuan bertanya 43% 47% 25%

2 32 Kemampuan

mengemukakan pendapat

46% 28% 25%

3 32 Keaktifan diskusi 59% 21% 18%

4 32 Kerjasama 46% 34% 18%

Hasil analisis pengamatan diskusi menunjukkan bahwa target penelitian sudah tercapai. Untuk kemampuan bertanya 43%, kemampuan mengemukakan pendapat, 46% , keaktifan diskusi 59% , dan kerjasama siswa dalam berdiskusi 46% dikategorikan baik (78 s.d. 90).

PENUTUP

(9)

Penggunaan metode ceramah yang selama ini guru gunakan, tidak kondusif apalagi untuk materi ilmu sosial yang banyak analisis dan konsep pemahaman, guru mudah lelah dan siswa banyak yang mengantuk.

1) Penerapan model Anti Galau pembelajaran Coperative learning model STAD di kelas X.2 sebagai alternatif dalam rangka mengembangkan pembelajaran cooperatif (kerjasama kelompok) untuk mata pelajaran Sosiologi.

2) Kriteria Ketuntasan Minimal siswa mengalami peningkatan dari prasiklus, siklus I dan siklus II . Hal tersebut ditandai dengan nilai rata rata prasiklus 58,68 meningkat pada siklus I dengan rata rata 71,06 dan meningkat menjadi 75,12 pada siklus II sehingga memenuhi KKM sebesar 70.

3) Pembelajaran model Anti Galau dan Coperative learning model STAD dirasakan oleh siswa m menyenangkan dan membuat siswa aktif dalam berdiskusi dan berpendapat.

DAFTAR PUSTAKA

Hopkins, D. 1993. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Philadelphia: Open University Press.

Ibrahim, M. et, all. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negri Surabaya Press.

Jarolimek, J. & Foster, C.D. 1976. Teaching and Learning in The Elementary School. London: Macmillan Publishing Co., Inc.

Johnson & Johnson. 1994. Cooperatuive Learning in The Classroom. Virginia, Kosasih,

Lie, Anita. 2005. Cooperative learning, mempraktekkan Cooperative Learning di ruang-ruang kelas. Jakarta.Grasindo.

Sharan, Y. & Sharan, S. 1990. Group Invetigation Expands Cooperative Learning. Educational Leadership 46(4): 17-21.

(10)

Gambar

Tabel 1. Nilai Ulangan Harian Pra siklus, Siklus I, dan Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

+kode_ikan: string +nama_ikan: string +harga_dasar: string +harga_jual: string +stok: int +hitung_harga_jual(): void +ubah(): void +tambah(): void +simpan():

Roundtable is one of the teaching techniques that expected to make the students active in learning and can help the students to more active in writing, because the students

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmad serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Terapan yang berjudul “Metode Pelaksanaan Pembangunan

Halaman Dashboard Admin merupakan tampilan utama admin yang berfungsi untuk mengelola menu atau tampilan lainnya yang terdapat didalam sistem. Tampilan menu utama

[r]

174.999.200,- ( Seratus tujuh puluh empat juta sembilan ratus. sembilan puluh sembilan ribu dua

Taksiran bawah dilakukan dengan caramenaksir hasil operasi hitung dengan membulatkan semua. suku dalam operasi hitung kedalam pembulatan tertentu yang ada dibawahnya, baik

Selanjutnya setelah dilakukan tindak lanjut pada siklus II, peserta didik yang tuntas (•) Tingkat Pencapaian Perkembangan (TPP) ada 14 peserta didik atau 82,4%. Kondisi ini