SYIAH MEMINJAM QUR'AN SUNNI
Kamaluddin Nurdin Marjuni
https://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/syiah-meminjam-quran-sunni.htm
Kepercayaan kepada kitab-kitab merupakan rukun iman yang ketiga. Kesemua ajaran-ajaran agama disampaikan oleh malaikat dan dicatatkan di dalam kitab-kitab dan suhuf. Dan jumlah kitab-kitab suci tidak diketahui secara pasti berapa jumlahnya. Namun sekalipun tidak diketahui secara pasti jumlah kitab-kitab tersebut, yang jelas setiap rasul dibekalkan dengan kitab suci masing-masing.
Sunni dan Syi ah meyakini bahwa dalam agama )slam kitab yang
diturunkan Allah swt kepada ummat Islam adalah al-Qur an yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Atau dengan kata lain, sunni dan syi ah sepakat dan sekata bahwa pedoman ajaran agama Islam adalah kitab al-Qur an yang dibekalkan oleh Allah untuk Nabi Muhammad saw.
Namun, perselisihan tajam terjadi ketika sebahagian kalangan syi ah
berpendapat bahawa al-Qur`an yang dipegang oleh sunnah, yaitu (Mushaf Utsmani) tidak originil alias palsu, sebab telah mengalami perubahan yang berupa penambahan dan pengurangan.
Ada dua pertanyaan perlu dijawab dalam hakikat qur an Sunni dan qur an Syiah:
Apakah Syi ah memiliki al-Qur an sendiri yang berbeza dengan al-Qur an yang dibaca oleh Ahlu Sunnah wal Jama'ah?
2) Sejauh mana pandangan ulama syi'ah terhadap al-Qur'an Mushaf Utsmani?
Dijelaskan oleh ulama hadits terkemuka syi ah )mamiyah, yaitu Abu Ja far
Muhammad bin Ya qub Al-Kulaini: dari Abu Abdullah Ja far Ash-Shadiq), ia
berkata: Sesungguhnya al-Qur an yang dibawa oleh Jibril kepada Muhammad
memiliki . ayat 1.
1 Al-Kulaini, Kitab Al-Kaafi, 2/634. (kitab ini sama kedudukannya dengan kitab shahih Bukhari disisi Ahlu
Pada tempat lain disebutkan juga teks berikut:
اسلإلا ْْلعل يطافلفح ْص للَ ْنيعل
ِ
إ "ل:ل...ل يهلي ْبعل يِألَعل ْلخ ل: اقل، ْْ يصبل يِأل ْ ع
،ل
ل ْلق
لثلإ هلُْين أْ قل ْ يمليهْييفلفح ْصمل: اقل؟ْ اسلإلا ْْلعل يطافلفح ْصملام ل:) ي إ لإل ْ قل ْ أ(
لْييفلامل إ مل ا
ل ْ يمليه
." يحإ ل ْ حلُْين أْ ق
ل
ل
Dari Abi Bashir, ia berkata, Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah, Abu Bashir bertanya: apakah Mushaf Fathimah itu? )a Abu Abdillah berkata: yaitu Mushaf yang 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-
Qur an kalian 2. Oleh karena itu, Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi menegaskan bahwa al-Qur an yang dimiliki oleh ahlu sunnah telah mengalami perubahan besar dan mengalami banyak penyimpangan dan penyelewengan3.
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan dalam kitab Biharul Anwar :
لء َْل هلا ن
ِ
إ ل،يهل ي اتيكل ْ يملء َْليهْييفلامل اسلإلا ْْلعل يطافلفح ْصم"
"ا ْْلعل ي ْلأ
ل
ل
Sesungguhnya isi kandungan Mushaf Fathimah adalah wahyu dari Allah yang langsung disampaikan kepadanya Fathimah 4.
Kesemua teks-teks riwayat di atas tidak memerlukan penjelasan lebih dalam dan rinci, sebab sudah sangat jelas maksudnya bahwa terdapat mushaf yang diturunkan khusus untuk Fathimah.
Dalam kitab Dalaai`l al-)mamah terdapat riwayat yang menggambarkan isi dan kandungan daripada mushaf Fathimah. Di antaranya adalah hal-hal
2 Al-Kulaini, Kitab al-Kaafi, 1/239-240.
3 Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi, kitab Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi
Rabbil Arbab, dinukil dari Asy-“yi ah Wal Qu a , hal. -32, karya Ihsan Ilahi Dzahir.
ghaib. Seperti pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa apa yang sudah terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat kelak, bilangan jumlah malaikat, siapa saja utusan Allah, nama-nama para )mam syi ah dua belas imam , sifat-sifat penghuni surga dan neraka, jumlah orang yang akan berjaya masuk di dalam surga dan neraka, serta banyak lagi hal-hal lain5.
Riwayat seperti ini sangat banyak ditemui dalam kitab-kitab syi ah yang
masuk dalam katagori autentik al-Mu tabarah , seperti: Bashaa`ir ad-Darajaat karangan Ibnu al-Farruukh as-Shaffar, Amaali as-Sudduuq , karangan )bnu Babwaih al-Qummi dll.
Tentunya ilustrasi-ilustrasi ghaib yang tersebut dalam kitab-kitab di atas adalah sesuatu yang tidak masuk logika. Sebab Nabi Muhammad sendiri tidak mampu bercerita kepada ummatnya tentang hal-hal demikian, sebagaimana yang diungkapkan dalam firman Allah swt;
لا
ِ
إل يبتأل ْ
ِ
إلَمل يهّ
إلُْلل قألا لبْيغْلإلَْعألا لي هّإل يئ أزخل ي نيعلُْلل قألال ق(
ِ
ل
ِ
إل حلامل
لْ قلَ
لتتلافألْ يصبْلإ ل ْْأإل ي ت ْ سيلْ ه
ل)
–
: ا نأأإ
50
-ل
ل
Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan
Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah:"Apakah sama orang yang
buta dengan orang yang melihat". Maka apakah kamu tidak memikirkan nya .
(Q.S. al-An aam: .
Di samping itu, syi ah )mamiyah berasumsi bahwa masing-masing kedua belas imam mendapatkan suhuf (lembaran-lembaran) tersendiri6, sebagaimana
yang dinyatakan dalam kitab )kmaal aL-Din :
5 Muhammad Ibnu Jarir bin Rustum at-Thabari, Dalaail al-Imamah, hal: 27-28.
6“uhuf be tuk ja a da i “hahiifah, a ti ya le ba a , e iliki bebe apa si o i dala bahasa A ab, yaitu: Wa a ah, ‘u ah, Ti su da Qi thaasu . Lihat: D‘. Ka aluddi Nu di Ma ju i, ka us
لل،ا يتاخلَعلَْثإلَعل زْنألَا ت ل ابتلهل
إ"ل:ي يِ أ ليهْيلعلهلَصل يهل ي ْ س ل ْ ع
ِ
لَعلَْثيإ
لل،يهي يتاخلَعل ام
ِ
إلُل ْْيإل، ْييَ
"يهيت ْييَل يِليهيت يص
Sesungguhnya Allah swt menurunkan membagikan cincin kepada dua
belas imam, dan bagi tiap-tiap imam dua belas diberikan lembaran masing-masing, dan pada setiap cincin tersebut tertulis nama imam, sedangkan sifatnya tersebut dalam lembaran 7.
Dengan demikian, pada dasarnya syi ah mengakui adanya kitab suci selain
al-Qur an yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yang dikenal sebagai Mushaf
Fatimah . Dan Allah membagikan shuhuf lembaran-lembaran) kepada setiap imam yang dua belas.
Bagi sunni keaslian mushaf Uthmani8 merupakan sebuah kepastian dan pegangan ideologi yang tinggi dan murni. Sebab al-Qur an dan (adits sudah cukup untuk dijadikan pedoman hidup bagi ummat, sesuai dengan firman Allah swt:
ل اتي ْلإل ْيلعلانْلزن (
ل)ني يل ْس ْليلل َْب ل ْْ ل ه لء َْليهكيهللَايْبيت
-، حنلإ
-Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri . (QS. An-Nahl: 89).
لم(
ل) َُْلْمي يهّ لَِإلُلءَْل يمل ي اتي لإل يِلانْط فلا
-ل، ا نأأإ
3
-Tiadalah Kami alpakan lalaikan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab,
kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan . QS. Al-An aam: .
7 Riwayat ini disebutkan di berbagai kitab-kitab “yi ah, lihat: al-Kulayni, al-Kaafi, 1/527-528. Ikmaal
ad-Din, Ibnu Babwaih al-Qummi, hal: 301-304.
8Mushaf Uthmani ialah versi al-Quran yang diterbitkan oleh khalifah Uthman bin Afan. "Mushaf" ialah
Rasulullah saw juga bersabda:
ل ْك ت(
)يهييبنل ن س ل،يهل اتيكل:ا ي يّلُْْ س تلاملإْ ل يضتل ْ للي ْي ْمألُْْييف
ل
Saya meninggalkan kepadamu sekalian dua perkara, kamu tidak akan
tersesat selama berpegang teguh kepadanya, yaitu: kitab Allah (al-Qur an dan Sunnah Nabi-Nya (adits . Muwatta )mam Malik, no: .
Pandangan Ulama Syi’ah Tentang Isu Penyelewengan Qur’an Sunni
Ulama syi ah berbeza pendapat tentang adanya penyelewengan dan
perubahan isi kandungan al-Qur an, baik penambahan ataupun pengurangan jumlah ayatnya.
Seorang intelektual kontemporer syi ah As-Sayyid Ali al-Husaini al-Milani
mengarang sebuah buku yang berjudul نآرقلا فيرح مدع yang artinya: Tidak ada
penyelewengan al-Qur an, beliau menegaskan bahwa sebagian ulama syi ah (minoritas) baik klasik ataupun kontemporer didapati ada yang menyanggah keyakinan bahwa al-Qur an yang di tangan sunni tidak orisinil9. Dalam artian lain, mereka mengakui bahwa Mushaf Utsmani tidak ada penyimpangan atau penyelewangan dalam isi kandungannya. Ulama tersebut adalah:
1) Syaikh as-Suduuq 10. 2) Al-Syarif al-Murtadza 11. 3) Syekh at-Thuusi12. 4) Imam at-Tabarsi13.
5) Sayyed Muhsin al-Amin 14. 6) Syekh Kasyif al-Ghita15.
9 Buku ini dicetak oleh Markaz al-Abhats al-A adiyyah. “ebuah pusat kajia syi ah di I a .
10 Lihat: al-I ti aad, .
11 Lihat: Al-Asytiyaani, Bahr al-Fawaaid Fi Syarh al-Faraaid, 99. 12 Lihat: Tafsir at-Tibyaan, 1/3.
13Lihat: Tafsi Maj a al-Bayaan, 1/15. 14Lihat: A yaa as-“yi ah, / .
7) Imam al-Khu i 16.
8) Al-Sayyed Husain Makki17.
9) Al-Sayyed Muhamad Husain al-Thabathaba i 18. 10) Syekh Muhammad Jawwad Mughniyah19.
Seorang lagi ulama Syi ah al-Sayyed Murtadza al-Ridhawi menyebutkan
dengan jelas dalam kitabnya al-Burhan Ala Adami Tahrif al-Qur an bahwa
pandangan mayoriti ulama syi ah )mamiyah adalah tiada penyelewengan dalam
al-Qur an20. Ini bermakna al-Qur an Mushaf Utsmani diterima dalam golongan
Syi ah.
Sunni menilai bahwa pengakuan sebahagian ulama syi ah terhadap mushaf Ustmani bermotifkan Taqiyyah , alias bukan sikap hakiki mereka. Sikap
ini mereka ambil hanya untuk meredakan pertikaian antara sunni dan syi ah.
Namun menurut hemat penulis, sebaiknya usaha demikian dari pihak syi ah kita tanggapi secara positif, atau dengan kata lain bersifat baik sangka (usnu ad
-Zhan terhadap mereka. Yang artinya kita merespon baik pandangan golongan
minoritas ulama syi ah )mamiyah di atas. Alangkah baiknya kalau kita mencari
persamaan dan memperkecil ruang perbezaan, apalagi sekarang ini terbukti bahwa al-Qur an yang dibaca oleh Syi ah memang al-Qur an yang sama dibaca oleh Ahlu Sunnah. Dalam hal ini telah ditegaskan sendiri oleh syekh Abdullah Darraz dalam desertasinya (Madkhal al-Qur an al-Karim): Sesungguhnya mushaf Utsmani adalah satu-satunya mushaf yang beredar di dunia Islam, bahkan mushaf tersebut yang dimiliki oleh golongan-golongan syi ah semenjak abad
lampau 21.
Dalam konteks lain, DR. Musa al-Musawi seorang intelektual syi ah kontemporer) berusaha mempersempit perbezaan antara Sunni dan Syi ah dalam masalah ini. Beliau menegaskan bahwa sebenarnya yang berpendapat
adanya Tahrif atau penyelewengan dalam mushaf utsmani adalah hanya dari golongan minoritas syi ah dan bukannya mayoritas. Namun ketegasan ini
dengan sendirinya tenggelam dengan realita dan pembuktian nyata dengan
terdapatnya mayoritas ulama syi ah meyakini adanya tahrif, bahkan beliau
16 Lihat: al-Bayan fi Tafsir al-Qu a , .
17Lihat: A idah as-“yi ah fi al-Imam as-Shadiq, 161. 18 Lihat: al-Qu a fi al-Islam, 139.
19 Lihat: al-“yi ah fi al-Mizan, 314.
sendiri meyakinkan kita bahwa imam al-Khu i dalam kitab tafsirnya al-Bayan
telah menafikan sendiri unsur Tahrif yang ditujukan pada mushaf Utsmani
oleh ulama-ulama syi ah lain, dan yang berpendapat demikian sebenarnya hanyalah orang-orang yang lemah akal pikirannya22.
Untuk melihat sejauh mana pandangan ulama syi'ah terhadap al-Qur'an Mushaf Utsmani dan unsur penyimpangan di dalamnya, ada baiknya kalau penulis sebutkan satu persatu pandangan ulama-ulama syi ah yang berpendapat demikian:
Dari pembacaan dan pengamatan penulis selama mengkaji syi ah, ada sebahagian besar ulama Syi ah yang memang nyata-nyata menuduh bahwa
al-Qur an sunni tidak lengkap dan palsu. Sehingga penulis dapat menegaskan
bahwa sebenarnya mayoriti ulama syiah tetap tidak mengakui Mushaf Utsmani 23. Di sini dapat disebut satu persatu seperti berikut:
1. Ali bin Ibrahim al-Qummy (24) 2. Ni matullah al-Jazaairi. (25). 3. Al-Faydh al-Kasani. (26). 4. Abu al-Hasan al-Aamily 27).
5. Sultan Muhammad Haedar al-Khursaani(28). 6. Muhamad bin Ya qub al-Kulayini(29).
7. Muhamad Baqir al-Majlisi. (30). 8. Syekh al-Mufied (31).
9. Mirza Habibullah al-Hasyimi al-Khuu i 32).
22 Lihat: DR. Musa al-Musawi, as-“yi ah wa at-Tashih, hal: 131-132.
Hal yang sama dilakukan juga oleh as-Sayyed Mahdi as-“awij dala buku ya Miah Mas alah Muhimmah Haula as-“yi ah , hal - . Da ya g e a ik dala sa pul buku te tulis Lastu Daa iyah Ila as-“yi ah, wa Lastu Dhiddan li as-“u ah, Bal Masaailu Tawassaltu Ilaiha aksud ya “aya tidak
e gajak o a g asuk “yi ah, da buka e usuhi Ahl “u ah, a u buku i i adalah se ata-mata
hasil ijtihad se di i .
23Lihat ketegasan ulama-ula a syi ah te ta g Tah if dala tafsi as-“haafi , i a al-Faidh al-Kaasyaa i, tafsi al-Iyasyi i a al-Iyasyi.
24Lihat: Tafsir al-Qummi, 1/36.
25Lihat: al-Anwar an-Nu aa iyah, / -358. 26Lihat: Tafsir as-Saafi,1/13.
27Lihat: Tafsir Miraat al-Anwar wa Misykaat al-Asraar, 36. 28Lihat: Tafsir Bayaan al-“a aadah fi Ma aa aat al-Ibadah, 19-20. 29Lihat: Ushul al-Kaafi, 1/284-285, 1/295, 1/492, 2/597.
30Lihat: Bihaarul Anwar, 89/66. 31Lihat: Awaail al-Maqaalat, 48-49.
10. Miytsam al-Bahrani(33).
11. Muhamad bin Mas ud al-)yaasyi 34). 12. Abu Ja far al-Shaffar(35).
13. Sayyed Adnan al-Bahraani (36). 14. Yusuf al-Bahrani(37).
15. Al-Nuriy al-Tabrasi(38).
16. Mulla Muhamad Taqi al-Kaasyaani(39). 17. Agha Barzak al-Tahrani(40).
18. Al-Ardabiliy(41).
19. Karim al-Karamani(42). 20. Daldaar(43).
Dari sederetan nama-nama ulama Syi ah di atas beserta kitabnya yang menyatakan unsur pengurangan dalam Mushaf Utsmani, sehingga pihak Sunni
menilai bahwa masalah Tahrif adalah pandangan mayoriti golongan syi ah
Imamiyah . Seperti yang ditegaskan oleh syekh al-Zahabi dalam bukunya al -Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur an 44.
Qur’an Versi Syiah
Berikut contoh-contoh Qur an versi Syiah:
1) Surah Al-Fatihah, ayat 7, disebutkan dalam kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 253):
Sunni: َنِ لاضلا َََو ْمِهْيَلَع ِبوُضْغَمْلا َِْْغ ْمِهْيَلَع َتْمَعْ نَأ َنيِذلا َطاَرِص
33Lihat: Muqaddimah Syarh Nahj al-Balagha.
34Lihat: Tafsir al-Iyaasyi, / . 35 Lihat: Bashaair al-Darajaat, 213.
36 Lihat: Masyaariq al-Syumuusy al-Dariih, 126. 37 Lihat: al-Durar al-Najfih, 298.
38 Lihat: Muqaddimah Fashl al-Khitab dan beberapa halaman berikut: 25-26, 35, 357. 39 Lihat: Hidayat al-Talibin, 368.
40 Lihat: Nuqabaa al-Basyr ketika menulis biografi imam al-Nuuri al-Tabrizi. 41 Lihat: Hadiqat al-“yi ah, -119.
2) Surah Al-Baqarah, ayat 23, disebutkan dalam 2 kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 254. Al-Kafi, Al-Kulaini, 1/317):
Sunni: ِهِلْثِم ْنِم ٍةَروُسِب اوُتْأَف ََِدْبَع ىَلَع اَْلزَ ن ا ِِ ٍبْيَر ِِ ْمُتْ ُك ْنِإَو
Syiah: ِهِلْثِم ْنِم ٍةَروُسِب اوُتْأَف ٍ يِلَع ِِْ اَْلزَ ن ا ِِ ٍبْيَر ِِ ْمُتْ ُك ْنِإَو
3) Surah Al-Baqarah, ayat 58, disebutkan dalam kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 256):
Sunni: اًدَغَر ْمُتْ ئِش ُثْيَح اَهْ ِم اوُلُكَف َةَيْرَقْلا ِِذَه اوُلُخْدا اَْلُ ق ْذِإَو
Syiah: اًدَغَر ْمُتْ ئِش ُثْيَح اَهْ ِم اوُلُكَف َةَيْرَقْلا ِِذَه اوُلُخْدا ُمُكِفَاْسَِِ اَْلُ ق ْذِإ َ لْيِئاَرْسِإ َِِب ََ اْوُرُكْذُا
4) Surah Al-Baqarah, ayat 59, disebutkan dalam kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 254. Al-Kafi, Al-Kulaini, 1/423):
Sunni: َنوُقُسْفَ ي اوُناَك اَِِ ِءاَمسلا َنِم اًزْجِر اوُمَلَظ َنيِذلا ىَلَع اَْلَزْ نَأَف ْمََُ َليِق يِذ لا ََْْغ ًَْوَ ق اوُمَلَظ َنيِذلا َلدَبَ ف
Syiah:
اوُناَك اَِِ ِءاَمسلا َنِم اًزْجِر ْمُهق َح ٍدمَُُ ِلآ اوُمَلَظ َنيِذلا ىَلَع اَْلَزْ نَأَف ْمََُ َلْيِق يِذلا ََْْغ ًَْوَ ق ْمُهقَح ٍدمَُُ ِلآ اوُمَلَظ َنيِذلا َلدَبَ ف َنوُقُسْفَ ي
5) Surah Al-Baqarah, ayat 87, disebutkan dalam kitab (Al-Kafi, Al-Kulaini, 1/418):
Sunni: َنوُلُ تْقَ ت اًقيِر َفَو ْمُتْ بذَك اًقيِرَفَ ف ََُُْْْكَتْسا ُمُكُسُفْ نَأ ىَوََْ ََ اَِِ ٌلوُسَر ْمُكَءاَج اَملُكَفَأ
Syiah: َنوُلُ تْقَ ت اًقيِرَفَو ْم ُتْ بذَك ٍدمَُُ ِلآ ْنِم اًقيِرَفَ ف ََُُْْْكَتْساَف ٍ يِلَع ِةََاَوُِِ ُمُكُسُفْ نَأ ىَوََْ ََ اَِِ ٌدم َُُ ْمُكَءاَج اَملُكَفَأ
6) Surah Al-Baqarah, ayat 238, disebutkan dalam kitab kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 258):
Sunni: َنِتِناَق ِِّ اوُموُقَو ىَطْسُوْلا ِة َاصلاَو ِتاَوَلصلا ىَلَع اوُظِفاَح
Syiah: َنِتِناَق ِِّ اوُموُقَو ِرْصَعْلا ِةَاَصَو ىَطْسُوْلا ِة َاصلاَو ِتاَوَلصلا ىَلَع اوُظِفاَح
7) Surah al-Nisa , , disebutkan dalam kitab kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 274):
Sunni: اًميِظَع اًك ْلُم ْمُهاَْ يَ تآَو َةَمْكِْْاَو َباَتِكْلا َميِهاَرْ بِإ َلآ اَْ يَ تآ ْدَقَ ف ِهِلْضَف ْنِم ُّا ُمُهََآ اَم ىَلَع َسا لا َنوُدُسََْ ْمَأ
Syiah:
8) Surah Al-Nisa , ayat , disebutkan dalam kitab kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 274):
Sunni:
ِِ ْمُتْعَزاََ ت ْنِإَف ْمُكِْم ِرْمَِْا ِِوُأَو َلوُسرلا اوُعيِطَأَو َّا اوُعيِطَأ اوَُمآ َنيِذلا اَه يَأ ََ َلِإ ُودُرَ ف ٍءْيَش
َنوُِمْؤُ ت ْمُتْ ُك ْنِإ ِلوُسرلاَو ِّا ِِِّ ًايِوََْ ُنَسْحَأَو ٌَْْخ َكِلَذ ِرِخ ْْا ِمْوَ يْلاَو
Syiah:
َلِإ ُودُرَ ف ٍءْيَش ِِ ْمُتْعَزاََ ت ْنِإ َف ْمِهْيَلَع ِه ُتاَوَلَص ٍدمَُُ ِلآ ْنِم ْمُكِْم ِرْمَِْا ِِوُأَو َلوُسرلا اوُعيِطَأَو َّا اوُعيِطَأ اوَُمآ َنيِذلا اَه يَأ ََ ًايِوََْ ُنَسْحَأَو ٌَْْخ َكِلَذ ِرِخ ْْا ِمْوَ يْلاَو ِِِّ َنوُِمْؤُ ت ْمُتْ ُك ْنِإ ِلوُسرلاَو ِّا
9) Surah al-Nisa , ayat , disebutkan dalam kitab kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 276):
Sunni: اًميِلْسَت اوُمِ لَسُيَو َتْيَضَق ا ِِ اًجَرَح ْمِهِسُفْ نَأ ِِ اوُدََِ ََ ُُ ْمُهَ ْ يَ ب َرَجَش اَميِف َكوُمِ كََُ ََح َنوُِمْؤُ ي ََ َكِ بَرَو َاَف
Syiah:
اًميِلْسَت اوُمِ لَسُيَو ٍدمَُُ ِلآَو ٌدم َُُ ىَضَق ا ِِ اًجَرَح ْمِهِسُفْ نَأ ِِ اوُدََِ ََ ُُ ْمُهَ ْ يَ ب َرَجَش اَميِف َكوُمِ كََُ ََح َنوُِمْؤُ ي ََ َكِ بَرَو َاَف
10) Surah Al-Syuura , ayat , disebutkan dalam kitab kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 318):
Sunni: َنوُبِلَقْ َ ي ٍبَلَقْ ُم يَأاوُمَلَظ َنيِذلا ُمَل ْعَ يَسَو اوُمِلُظ اَم ِدْعَ ب ْنِم اوُرَصَتْ ناَو اًِْثَك َّا اوُرَكَذَو ِتاَِْاصلا اوُلِمَعَو اوَُمآ َنيِذلا َِإ
Syiah:
َنوُبِلَقْ َ ي ٍبَلَقْ ُم يَأ ٍد مَُُ ِلآ اوُمَلَظ َنيِذلا ُمَلْعَ يَسَو اوُمِلُظ اَم ِدْعَ ب ْنِم اوُرَصَتْ ناَو اًِْثَك َّا اوُرَكَذَو ِتاَِْاصلا اوُلِمَعَو اوَُمآ َنيِذلا َِإ
11) Surah Al-Jin, ayat 23, disebutkan dalam kitab kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 340):
Sunni: اًدَبَأ اَهيِف َنيِدِلاَخ َم َهَج َرََ ُهَل نِإَف ُهَلوُسَرَو َّا ِصْعَ ي ْنَمَو
Syiah: اًدَبَأ اَهيِف َنيِدِلاَخ َم َهَج َرََ ُهَل نِإَف ٍ يِلَع ِةَيَِِو ِِْ ُهَلوُسَرَو َّا ِصْعَ ي ْنَمَو
12) Surah Al-Kausar, ayat 1-3, disebutkan dalam kitab kitab (Faslul Khitab, Husein al-Nur al-Tabarsi, 350):
Sunni: ََُْبَِْا َوُه َكَئِناَش نِإ ْرَْْاَو َكِ بَرِل ِ لَصَف َرَ ثْوَكْلا َكاَْ يَطْعَأ َِإ
Syiah: ََُْبَِْا َوُه ُصاَعْلا ِنْب وُرْمَع َكَئِناَش نِإ ْرَْْاَو َكِ بَرِل ِ لَصَف َرَ ثْوَك ْلا ُدمَُُ ََ َكاَْ يَطْعَأ َِإ
Imamiah, sebab kitab ini dianggap kitab yang kontroversi, di antara kitab bantahan ke atasnya seperti berikut:
Kitab (ifzu al-Kitab al-Sharif An Syubhah al-Qaul bi Al-Tahrif , dikarang oleh shekh Muhammad Husein al-Shahrastani.
Kitab Kashf al-)rtiyab An Tahrif al-Kitab , dikarang oleh shekh Mahmoud Al-Mu arrab al-Tahrani.
Kitab Tafsir Aala al-Rahman fi Tafsir al-Qur an dikarang oleh shekh Muhammad Jawwad al-Balagi.
Apapun halnya, sesungguhnya syi ah )mamiyah saat ini mempercayai bahwa al-Qur'an yang ada sekarang ini atau mushaf Utsmani adalah benar dan
mereka beramal dengannya. Dan inilah yang mendorong ulama syi ah bernama
al-Sayyed Murtadha al-Ridawi membuat sebuah buku khusus untuk membantah pandangan-pandangan ulama syi ah yang tidak mengakui mushaf Utsmani. Bahkan dari segi judul dengan jelas beliau mencantumkan al-Burhan Ala
Adami Tahrif al-Qur an yang bermakna peniadaan tahrif al-Qur an Mushaf Utsmani). Dan bukti lain di Iran, syi ah membaca dan memperdengarkan ayat al-Qur an yang sama dengan sunni yang dikenal dengan Mushaf Uthmani, di samping itu al-Qur an inilah yang dipertandingkan dalam peringkat internasional di Iran, baik dalam Musabaqah Hifdzi al-Qur an (afalan al
-Qur an ataupun Musabaqah Tarannum (Lagu al-Qur an .
Motif Ulama Syi’ah Yang Berpendapat Tahrif Kepalsuan Qur’an Sunni
Setelah meneliti secara seksama pandangan ulama syi ah yang bersikeras
mengatakan adanya penyelewengan dalam al-Qur an, sebenarnya apa yang menjadi faktor dan motif utama mereka sehingga mereka tidak mengakui Mushaf Utsmani? Secara garis besarnya dapat dilihat kepada dua motif, seperti berikut:
Pertama: Kekecewan yang mendalam dikalangan ulama syi ah dengan tidak
disebutkannya masalah Imamah (Kepemimpinan Politik Ahlul Bayt) dalam
al-Qur an.
Permasalahan imamah merupakan faktor utama yang menyebabkan perselisihan di kalangan umat Islam sampai saat ini, sehingga terpecah ke berbagai aliran, sekte dan mazhab. Dan konflik antar sekte Islam sepeninggalnya Nabi saw didasarkan pada peralihan politik untuk merebut tampuk
yang digunakan sunni adalah (al-Khilafah), dan pada zaman modern saat ini dikenal dengan istilah (ar-Riasah . Dalam pandangan politik syi ah dikatakan bahwa Imamah bukanlah masalah kepentingan pribadi yang diberikan kepada pilihan publik, tetapi adalah salah satu pilar agama atau asal-usul dan dasar perinsip agama (Arkan ad-Din) dimana iman seseorang tidaklah sempurna kecuali percaya dengan Imamah. Oleh karena itu Imam Ali merupakan pelanjut Nabi saw yang sah dengan penunjukan langsung dari Nabi saw (bukannya Abu Bakar). Dan para Imam memiliki kedudukan yang setara dengan Nabi saw. Berdasarkanpandangan diatas maka dalam setiap syi ah memiliki pendirian bahwa hak politik adalah mutlak hanya dimiliki oleh kalangan ahlul bayt.
Pada dasarnya konsep politik ahlu sunnah didasari oleh tiga hal. Yaitu dengan cara pemilihan (ikhtiar) yang dibangun di atas syuraa, Ijma dan bay ah.
Adapun konsep politik syi ah dilandaskan oleh penentuan yang dalam istilah syi ah selalu disebut sebagai Nash . Disamping itu penyifatan )shmah maksum imam. Sifat ishmah ini tidak dapat dipisahkan dengan kepimpinan syi ah.
Di sisi lain sunni menyerukan peralihan berdasarkan seleksi dan pilihan yang dilakukan oleh rakyat yang diwakili oleh Ahlul Halli wa al-Aqdi dalam memilih kelayakan seorang pemimpin atau presiden.
Di antara bukti-bukti teks ucapan syi ah imamiyah yang menunjukkan bahwa imamah masuk ke dalam dasar (rukun) agama adalah perkataan Ibnu al-Muthahhir al-Hulli al-Imami45 dalam mukaddimah kitabnya Minhaj al
-Karamah : amma ba du, maka ini adalah sebuah risalah yang mulia, dan
maqalah yang lembut, yang mencakup beberapa unsur yang paling penting dalam dasar agama, dan yang paling mulia di antara berbagai permasalahan kaum muslimin. Yaitu masalah imamah yang terbentuk dengan sebab dia mencapai derajat yang mulia, yang merupakan salah satu rukun iman, yang karena sebabnya orang yang memiliki hak untuk menjadi imam akan kekal
berada di surga dan terbebas dari kemurkaan Yang Maha Pengasih 46.
Sedangkan seorang ulama syi ah )mamiyah modern Syaikh Muhammad Ridha al-Muzhaffar berkata: kami memiliki keyakinan bahwa imamah
45 Dia adalah Jamaluddin Yusuf bin al-Hasan bin Ali yang mempunyai julukan Ibnu al-Muthahhir al-Hully, seo a g syaikh da ahli fi h syia ah i a iyah. Dia lahi di kota al-Hullah, yang merupakan sebuah kota besar yang terletak di antara Kufah dan Bagdad.
termasuk salah satu dasar agama, yang keimanan seseorang tidak akan sempurna
kecuali dengan meyakininya 47.
Sedangkan teks ucapan syi ah )sma iliyah Batiniyah yang berkaitan dengan imamah adalah sebagaimana yang dipetik dari perkataan seorang ulamanya Hamiduddin al-Karamani al-Bathini, yaitu: sesungguhnya imamah adalah salah satu dasar islam, dan dia adalah dasar yang paling mulia dan paling
afdhal, sehingga dasar ini tidak akan dapat sempurna tanpanya 48.
Apapun halnya, sesungguhnya imamah menurut aliran syi ah bukan
sebuah permasalahan maslahat yang tunduk dengan pilihan dan aspirasi umum. Akan tetapi dia adalah sebuah permasalahan dasar dalam agama (ushuli), yang masuk ke dalam salah satu rukun agama, yang tidak boleh diabaikan dan diacuhkan oleh Rasulullah saw, atau diserahkan pemilihannya kepada masyarakat umum. Oleh karena itu, maka syarat untuk bergabung kepada aliran
syi ah adalah berkeyakinan bahwa imamah merupakan bagian dari dasar rukun
agama.
Berdasarkan hal ini, syi ah memberikan perhatian yang besar bagi
permasalahan imamah, serta berbicara panjang lebar mengenainya. Dan semua aliran serta kelompok syi'ah yang berbeza memberikan perhatian yang besar kepadanya49.
Oleh karena itu, semenjak dari masa kekhilafahan khulafa`urrasyidin sehingga saat ini terjadi perselisihan di antara berbagai aliran Islam mengenai siapakah di antara kaum muslimin yang paling berhak dalam memegang pucuk imamah atau kekhilafahan.
Pengaruh dari kehebatan perkara imamah ini, maka para ahli sejarah kajian aliran-aliran dan perbandingan agama telah mengisyaratkan keistimewaan dan keperluan imamah dalam sebuah Negara. Dan ia merupakan awal perselisihan dan perdebatan dalam Islam sepeninggalnya Rasulullah saw. Sebagaimana yang dikatakan oleh imam al-Asy ari:
47 Al-Muzhaffa , Muha ad ‘idha, A a`id al-Imamiyyah, hal 65.
48 Ar-Risalah al-Kafiyah, hal 181.
49 Musthafa Helmi, 1988M, Nizham al-Khilafah Bayna Ahli as-Sunnah wasy-Syi'ah, hal 153, Dar
لْخياإل ي يمل حلامل أ(
)ي مام
ِ
اإل يِلْمهفايتْخْإلَس لهيلعلهلَصلْمي يهْيبنل ْ بل ْني يل ْس ْلإل ْنبل ي ايت
ل
ل
Maksudnya: Perselisihan pertama yang timbul di antara kaum muslimin setelah kematian Nabi saw adalah perselisihan mengenai imamah 50. Dan
asy-Syahrastani memberikan penegasan bahwa ini adalah persoalan utama yang paling besar yang terkonsentrasi kepada pertikaian dalam bidang politik praktis antara kaum muslimin:
ليا ْس
ِاإل يِلفْي سل سلاملْ ِإل،ي مامِاإل ايخلي مأإل ْنبل ايخلم ْعأ (
ل
ل سلامل يمل يينْحي ل يعاقلَع
) ام ل يهُل يِلي مام
ِ
اإلَع
ل
ل
Ucapan ini menunjukkan bahwa Perselisihan yang paling besar di antara
umat adalah perselisihan mengenai imamah, karena di dalam islam tidak pernah ada pedang yang terhunus dalam perselisihan mengenai kaidah agama
sebagaimana yang terjadi dalam persoalan imamah pada semua masa 51.
Hal ini juga ditegaskan oleh Nisywan al-Humyari az-Zaidi dengan
perkataannya: sesungguhnya perselisihan pertama yang terjadi di antara umat
setelah kematian Nabi saw dan keluarganya adalah perselisihan dalam
permasalahan imamah pada peristiwa saqifah Bani Sa idah 52.
Dari teks-teks yang dipaparkan oleh para sejarawan aliran-aliran Islam di atas ini dapat dilihat dengan jelas bahwa perselisihan utama di antara umat islam bukanlah perselisihan pemikiran ataupun aliran, akan tetapi hanya semata-mata perselisihan politik. Kerana perselisihan yang timbul di antara umat Islam setelah kematian Rasulullah saw hanya terbatas kepada pucuk kekhilafahan dan kepemimpinan negara. Promotor desertasi saya/Prof. DR. Muhammad
al-Jalayand memberikan komentar mengenai hal ini: Sesungguhnya perselisihan
mengenai persoalan imamah pada masa awal sejarah islam ini bukanlah perselisihan pemikiran ataupun aliran, akan tetapi perselisihan fanatisme yang
50 Al-Asy a i, Ma alatu al-Islamiyyin, hal 2.
51 Asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, 1/24.
ditimbulkan oleh rasa fanatik keturunan dan aliran darah 53. Dan barangkali
perselisihan inilah yang dikatakan sebagai perselisihan yang berat bagi umat Islam oleh salah seorang imam syi ah zaidiyah Ahmad bin al-Hasan ar-Rashshash, dalam perkataannya: dan tidak diragukan lagi bahawa imamah
termasuk perkara yang berat dan meletihkan 54.
Dengan demikian, sesungguhnya imamah adalah titik utama yang menjadi perpecahan umat Islam kepada golongan ahlu sunnah dan syi ah. Dan sensitivitasnya lebih terasa pada aliran syi ah dibandingkan dengan berbagai aliran Islam yang lain. Kerana segala sesuatu di dunia ini mereka kembalikan kepada imamah dan berbagai perangkatnya. Oleh kerana itu, mereka jadikan imamah sebagai dasar akidah mereka. Sedangkan ahlu sunnah menjadikan
imamah sebagai bagian masalah fur iyyah berdasarkan dalil-dalil yang ada.
Berdasarkan hal ini, maka para ulama ilmu kalam terpaksa memasukkan
materi imamah dalam kitab akidah atau yang dikenal dengan ilmu ushuluddin
sebagai reaksi terhadap tindakan syi ah yang menjadikannya sebagai salah satu persoalan agama yang paling penting, sampai mereka memasukkannya sebagai salah satu rukun imam. Hal ini telah disinyalir oleh imam Shalih al-Muqbali dengan ucapannya, imamah adalah masalah fiqhiyyah, akan tetapi para ulama kalam telah memasukkannya ke dalam pembahasan mereka akibat besarnya
polemik antara mereka syi ah dan sunni . Sebagaimana halnya sebagian ulama asy ariyyah telah menjadikan persoalan membasuh di atas kasut sebagai salah
satu masalah ilmu kalam 55.
Kedua: Mereka berpendapat bahawa tahrif bertujuan menyingkirkan kontradiksi antara al-Qur`an dan hadits-hadits riwayat mereka yang menyudutkan para sahabat.
Golongan-golongan syi ah saling berselisih pendapat mengenai definisi sahabat. Di mana syi'ah Zaidiyah membatasi sahabat hanya kepada golongan muhajirin dan anshar saja, artinya, orang yang menemani Rasulullah saw dalam masa yang lama56.
53 Al-Jalayand, Muhammad as-Sayyid, 1981 M, Qadhiyyatu al-Khair wasy-Syarr Fi al-Fikri al-Islami, hal
, Kai o, Mathba ah al-Halabi.
54 Ahmad bin al-Hasan ar-Rashshash, al-Khilafah an-Nafi ah, hal . 55 Al-Muqbili, al-Ilmi asy-Syamikh, hal 11.
Sedangkan syi ah )mamiyah dan syi'ah )sma iliyah Batiniyah mempersempit pemahaman mengenai sahabat, kerana mereka membatasi sahabat hanya kepada orang-orang yang mendukung perjuangan imam Ali bin Abi Thalib saja57.
Seorang ulama syi'ah Zaidiyah bernama al-Qasim bin Muhammad
berkata dalam mendefinisikan sahabat: mazhab kami adalah yang
benar…sesungguhnya kami berkata: sahabat adalah yang menemani Nabi saw dalam masa yang lama, dan yang juga mengikuti beliau. Definisi ini dikenal dan diakui oleh orang yang mengerti bahasa. Kapan masanya orang-orang yang murtad yang berasal dari Bani Hunaifah menjadi sahabat Nabi saw? Dan kapan masanya orang-orang tersebut dekat dan dicintai oleh Nabi saw? Dan kapan masanya para sahabat Nabi saw menjadi seumpama punuk onta? Golongan muhajir dan anshar telah mencapai jumlah yang hanya dengan sebagiannya saja mampu untuk mengalahkan orang-orang yang murtad 58.
Definisi sahabat juga telah diungkapkan oleh imam Muhammad bin
al-(adi: sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw adalah orang-orang yang melaksanakan agama, mereka berada dalam keimanan yang hakiki, dan mereka
ikuti Nabi saw dengan penuh ketaatan dan ihsan 59.
Jika demikian, maka standart ukuran keadilan dan ketidak adilan sahabat dalam pandangan syi ah Imamiyah dan syi'ah )sma iliyah Batiniyah terfokus kepada sikapnya terhadap ahlul bait. Maka orang yang loyal kepada mereka adalah orang yang adil, seperti Salman al-Farisi, Abu Dzarr al-Ghiffari, Ammar bin Yasir, Jabir bin Abdullah, Bilal bin Rabbah, Miqdad bin Aswad, dan Huzaifah bin al-Yaman. Mereka itu adalah orang-orang yang loyal kepada ahlul bait.
Sedangkan orang yang melawan mereka adalah orang yang tercela dan hina, seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik, sayyidah Aisyah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan yang lainnya. Karena dalam tuduhan mereka, mayoritas sahabat, dan terutamanya tiga khulafa`urrasyidun telah menyeleweng dari garis
57 Lih, Shubhi, Ahmad Mahmud, Juni 1992 M, Nahwa Ilmi Kalam Jadid, hal 46-47, bagian dari riset yang
diajukan kepada al-ja iyyah al-Falsafiyyah al-Mishriyyah, dan diterbitkan oleh Markaz al-Kitab lin-Nasyr, Kairo, no 1/1.
58 Al-Jawab al-Mukhtar, hal 50.
ahlul bait, oleh karena itu mereka tidak mengakui keadilannya, menolak untuk mengikutinya, dan tidak mau menerima riwayat mereka60.
Ada satu hal yang sangat berbahaya dalam sikap syi ah terhadap para
sahabat. Yaitu mengenai sikap syi ah Imamiyah dan syi'ah )sma iliyah terhadap kepemimpinan (imamah) para sahabat. Di mana mereka menuduh para sahabat dengan tuduhan yang tidak dapat diterima. Seperti tuduhan bahwasanya para sahabat tidak adil, khianat, pendusta dan sebagainya. Tuduhan ini sangat berbahaya, sebab akan menimbulkan suatu keragu-raguan terhadap agama, sebab para sahabat tersebutlah yang telah meriwayatkan hadits-hadits Nabi saw. Dan memang inilah tujuan yang ingin dicapai oleh orang-orang yang melakukan propaganda mengenai akidah imamah dan sifat ma'shum imam.
Karena manakala timbul keraguan dalam diri kaum muslimin terhadap para sahabat dalam agama mereka, maka keraguan terhadap apa yang mereka riwayatkan dari Rasulullah saw lebih besar lagi. Dan dengan rasa keraguan ini hilanglah kewibawaan agama dari dalam diri manusia, kerana tidak ada periwayat yang jujur, dan tidak ada riwayat yang dapat dipercayai. Dari celah ini, maka kelompok rafidhah dari syi ah Imamiyah dan syi'ah )sma iliyah dapat menyebarkan racun mereka dalam barisan kaum muslimin, yang membuat mereka selalu memiliki rasa keraguan terhadap kaum muslimin terdahulu serta agama Islam61.
Berbagai macam tohmahan dan tuduhan yang tidak ada landasan ilmiahnya mereka lemparkan, sehingga al-Qur an yang asli tidak pernah wujud
dan dibaca oleh pemeluk Syi ah sendiri sampai saat ini. Kesemuanya ini
dilakukan hanya semata-mata ingin menghindarkan diri dari mengaku akan kemuliaan para sahabat yang dijelaskan dan dibentangkan luas dalam al-Qur an. padahal mempelajari dan menyelidiki sifat dan karakteristik dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan suatu bukti bahwa al-Qur an sebenarnya sebuah kitab yang sangat perhatian dalam pembentukan karakter bagi umat manusia sesuai apa yang digambarkan dari kehidupan Rasulullah dan para sahabat-sahabat yang ikut mulia disisinya.
Sebenarnya apabila membaca dan merenungi al-Qur an serta memahami secara mendalam arti dan makanya, maka pasti akan ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan dan menerangkan kebesaran dan keutamaan para
60 Lih, Shalih al-Wardani, 1995 M, Aqa`id as-Sunnah Wa Aqa`id asy-“yi ah, hal dst, Kai o, Madbuli
ash-Shaghir.
sahabat, serta ridha Allah pada mereka, disamping janji Allah untuk memasukkan mereka dalam surga.
Di antara firman Allah swt mengenai kehebatan para sahabat Rasulullah saw dan balasan-balasan di atas jasa mereka adalah:
لْم ْْعلهل يِ ل اسْحِيِلُْْ بتانْحيَإ لي اصْنأإ ل ْيي يجاه ْلإل يمل ْل أإل ْ يباسلإ
لعلإ ُ ل
لهْن
ل
ل عأ
ل
لْمهل
ل ا ج
ل
لْيي ْلإل ْ ْلإل يِ لإ بألا ْْيفل ْيي يِاخل ا ْْأإلا يَِْل ي َْ
ل
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya, itulah
kemenangan yang besar QS. At-Taubah: 100)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
ْييَإ
لهللا حل ْني يمْؤ ْلإلُل يئل ألإ َْن إ ْ آنْحيَإ ليهلي ْييبسل يِلإْ هاج لإ ْ جاه لإْ م أ
لْغملْم
ل ي
لل
ل ْ ي
لْيي ك
ل
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang
mulia. QS. Al Anfal : 74 )
Firman Allah yang lain :
ل ْني يمْؤ ْلإل ي علهل يِ ل ْ ل
لي جشلإل َْل نْ يحابحلْ ِإ
لْمَّأ لْمي ْْلعل نْيي سلإل زْنآفل ْمي يّْ لقل يِلامل يَ ف
ابْحي قلاحْتف
ل
yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat
waktunya . QS. Al- Fath : 18 )
Begitupun dalam banyak hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw menghargai jasa para sahabatnya, bahkan beliau mencintai para sahabatnya, seperti hadits-hadits berikut:
ل:َس ليهْيلعلّإلَصليّإل س ل اقل: اقل غمل ي ْبليّإل ي ْبعل ْ ع
لّإل يِا َْأل يِلّإلّإ"
ل يِلّإل
لغْبأل يِْغبيبفلْمهضغْبألْ م لْمَحأل يهّحيبفلْمَحأل ْ فل ي ْ بلاُ غلُْ ي تتلال يِا َْأ
للْمهض
ل ْ م ل يّإ ألْ فلُْإ أل ْ م
لْ م لّإل ألْ فل يّإ أ
ل
" خْآحل ْ أل يش حلّإل أ
ل
Dari Abdullah bin Mughaffal dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya"62.
لقل: اقلهْنعلّإل يِ ل يه ي ْ ْلإل يي سل يِأل ْ ع
لْلفل يِا َْألإ ب ستلا"ل:َس ليهْيلعلّإلَصل يّنلإل ا
ل أل
"ه ي يصنلا لْ يُي حأل مل لبلاملابه ل حأل ْ يمل ْنألُْ حأ
ل
Dari Abu Sa'id al-Khudriy ra yang berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebanyak bukit uhud, tidak akan ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorangpun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya"63.
Itulah diantara ayat-ayat dan hadist-hadist yang menunjukkan keutamaan, kemuliaan dan kebesaran para sahabat dalam memberikan
62 Sunan at-Tirmizi, no: 3797.
pengorbanan tinggi dan tak terhingga untuk menegakkan agama Allah al-)slam di muka bumi. Sehingga dapat disimpulkan dari ayat dan hadits di atas:
1) Pujian untuk para sahabat atas segala jasa yang disumbangkan.
2) Sahabat adalah pendamping Rasulullah saw dalam masa senang dan
susah, dalam suasana damai dan perang.
3) Ancaman dari Allah dan Rasul-Nya bagi siapa saja yang memusuhi dan
mencaci mereka.
4) Allah menjanjikan surga untuk para sahabat sebagai balasan penghargaan
tertinggi dari-Nya.
Perlu juga penulis sebutkan sesuatu hal yang sangat penting berkaitan jasa para sahabat, iaitu merekalah sebagai perawi hadits, dan khususnya hadits yang berkaitan dengan syahadat yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
ليهل ْ س ل ْ يَ"ل:ل اقلا ْْعلهل يِ ل ي اطخْلإلي ْبل ْلي ْبليهلي ْبعلي ْْ لإلي ْبعل يِأل ْ ع
لهلَصل
لسَْلَعل ا ْس
اْإل يِب"ل:ل ْ حلَس لهيلع
ِ
:
لْ أل اهش
ل
لءاتْح
ِ
إ لي اصلإل اق
ِ
إ ليهل ْ س لإ حمل أ لهلاِإلِِإلا
" اضم ل ْ ص ل ي ْيبْلإل ح لي َزلإ
ل
ل
Dari )bnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Islam dibangun atas lima dasar: persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah"64.
Dari sekian ayat dan hadits yang memaparkan jasa para sahabat terhadap perujuangan )slam, maka amat mengherankan jika golongan syi ah memandang sebelah mata kedudukan tiga khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bahkan mereka alergi dan sangat membenci para sahabat dengan tuduhan takfir.
Di Manakah Keberadaan Qur’an Syi’ah Saat Ini?
Jika Qur an syi'ah dan Mushaf Fatimah itu memang ada, lalu di mana ia
berada?
Pada realitanya di Iran Qur'an yang dibaca adalah sama dengan Qur'an yang dibaca oleh ahlu sunnah. Al-Qur'an cetakan Iran sama dengan al-Qur'an cetakan negara-negara Islam lain, seperti negara-negara timur tengah, Saudi Arabia, Mesir, Irak. Begitu juga sama dengan yang dicetak oleh negara-negara Asean, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai dll.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa al-Qur an yang dibaca oleh syi'ah adalah milik ahlu sunnah. Kaena seluruh perawi al- Qur an tersebut adalah dari kalangan ahlu sunnah dan bukan dari kalangan syiah. Kerana syi'ah tidak mampu membuktikan urutan perawi al-Qur'an sendiri. Dan hal ini berbeza dengan ahlu sunnah, terutama para sahabat Nabi saw. Sebagaimana yang sudah diketahui bahawa pengumpulan al- Qur an dalam satu jilid seperti yang ada saat ini adalah hasil usaha para sahabat dan khalifah Utsman bin Affan. Begitu juga dari sejumlah sahabat lain yang berperan aktif menyebarkan dan mengajarkan al-Qur an kepada para tabi in, seperti Abu Abdul Rahman Al-Sulami, yang
menjadi sumber bagi riwayat (afs dari 'Ashim, yang merupakan riwayat Qur an
yang dibaca oleh mayoritas muslim saat ini. Begitu juga riwayat qira'at lainnya, yaitu yang dikenal dengan qira ah sab ah, seluruh perawinya adalah dari kalangan Ahlu Sunnah.
Namun sekali lagi timbul pertanyaan, kenapa al-Qur'an yang dipromosikan kewujudannya oleh sebagian ulama syi'ah sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab klasik mereka tidak wujud sampai saat ini?
Imam al-Kulayni telah menjawab pertanyaan di atas dalam kitabnya "al-Kaafi" 65, Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin Husein, dari Abdurrahman bin Abu Hasyim, dari Salim bin Salamah, mengatakan: seseorang membacakan pada Abu Abdullah dan saya mendengar huruf-huruf al-Qur an yang tidak seperti yang dibaca oleh orang banyak, lalu Abu Abdullah berkata:
jangan baca dengan bacaan ini, bacalah al-Qur`an seperti orang lain sampai datangnya al-Qa`im, jika al-Qa`im –alaihissalam telah datang, dia akan membaca Kitab Allah dengan benar, dan mengeluarkan mushaf yang ditulis oleh Ali Alaihissalam dan [Abu Abdullah] mengatakan: Ali memperlihatkan al-Qur`an itu pada manusia setelah selesai menuliskannya, dan berkata pada mereka: inilah kitab Allah seperti yang diturunkan oleh Allah pada Muhammad saw. Telah kukumpulkan menjadi satu jilid. Lalu mereka berkata: kami juga memiliki kitab al-Qur`an, kami tidak perlu al-Qur`an yang kau bawa. Ali berkata: sungguhnya demi Allah kalian tidak akan melihatnya setelah hari ini, aku hanya memperlihatkannya pada kalian setelah selesai kukumpulkan, agar kalian membacanya. Riwayat ini jelas menyebutkan adanya al-Qur`an lain yang dikumpulkan oleh Ali, yang isinya berbeza dengan al-Qur`an yang ada di tangan para sahabat saat itu. Dan ketika Ali memperlihatkan pada para sahabat, mereka menolaknya. Lalu Ali pun menyembunyikan al-Qur`an yang berisi petunjuk jalan yang lurus, agar tidak dibaca oleh para sahabat, dan hanya diedarkan di kalangan para imam dan pengikutnya saja. Hingga akhirnya para sahabat tidak berkesempatan untuk melihat Qur`an yang asli, dan berpegang teguh pada al-Qur`an yang palsu, yang ada di tangan para sahabat. Ketika ada pengikut imam yang membaca isi al- Qur`an asli, maka oleh imam diingatkan dan diperintahkan untuk membaca al-Qur`an yang tidak asli sampai nanti munculnya al-Qa`im.
Di manakah al-Qur`an syi ah saat ini , maka ulama syi ah lain yang mengatakan adanya penyelewangan dalam Mushaf Utsmani berusaha memberikan jawaban dan pembelaan kewujudan al-Qur`an mereka, namun sangat disayangkan jawaban mereka dengan mudah dapat dipatahkan
Inilah jawaban-jawaban dari ulama syi ah:
1) Abu al-Hasan al-Aamili, mengatakan:
ل
ل
ل ي ح ل) (لٌ يِعله َلامل،َا تلهلِزْنألا يلل يفإ ْلإل يك لاْل ْ ْح ْلإل أْ ْلإل ِإ"
لل ْ ألَ
إله
ِ
لَ
ِ
إل ص
لسحْلإليهينْبإ
"يهْيلعليهل إ لصل ْنيعل ْ يْلإل ه ل" ي ْه ْلإ"ل) (لي يِا ْلإلَِإل ص لْ ألَِإلإ ه ل،) (ل
ل
(Muhammad bin al-Hasan), sebab saat ini al-Qur`an tersebut dalam penjagaan
beliau 66.
Ni matullah al-Jazaa iri, mengatakan:
ل اسلإلمي ْْلعل ْمْألي ابْخأإل يِل ي "
ل،اهيْغ لي اصلإل يِل أ لإل يمل ْ جْ ْلإلإ هلي ءإ ي يبلْمِ ْي ي شلإْ يمأ
لَ
ِ
إل ي انلإل ي ْحأل ْ يمل أ لإلإ هل ي تْْفل ي امزلإلبيحاصلَا ْ مل ه ْ حلَحليهيمَْحآيبل ي ْلإ
لَْ ليءا سلإل
ل أ لإل
ليَإ
"يهيمَْحآيبل ْ ح لأ ْ يفل) (ل ْني يمْؤ ْلإل ْْيمأله لأل
Dalam akhbar riwayat syi ah , mereka diserukan membaca al-Qura an yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) baik dalam melaksanakan shalat atau dalam merealisasikan kandungan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, sampailah nanti kedatangan sahibu al-Zaman (Imam al-Mahdi) menghapus Mushaf Utsmani yang tengah dipakai oleh masyarakat dan digantikan dengan al-Qur`an syi ah yang disusun sendiri oleh imam Ali ra, dan inilah al-Qur`an yang dibaca dan diamalkan ketika itu 67.
3) al-Haj Karim Khan al-Karamani, mengatakan:
ل لإل هليه ل،إ هل ْ يل ْس ْلإلاُأل ْ يفل، أ ْلإلإ لْتحل ي ْ هظل ْ بل ي ْه ْلإل ام
ِ
اإل
ِ
إ"
لحْلإل أ
ل يَإل ي ْيي
لَعلهلِزْنأ
" يه ب ل يه حل يَإ ل حم
ل
Sesungguhnya )mam Mahdi setelah menampakkan dirinya akan
membacakan sebuah al-Qur`an, seraya berkata: wahai sekalian umat Islam, inilah al-Qur`an hakiki yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw yang selama ini diselewengkan dan dirubah 68.
Dari keterangan para ulama syi ah di atas, dapat kita simpulkan sebuah
keanehan ideologi, yaitu kenapa mereka tetap membaca Mushaf Utsmani kalau memang ada al-Qur`an sendiri yang akan turun dan di bawa sendiri oleh imam kedua belas Muhammad bin al-Hasan yang dijadikan sebagai imam Mahdi
66Mi atul A wa wa Misykaatul As a , .
mereka. Bukankah sebaiknya mereka bersabar (tidak membaca al-Qur`an) sambil menunggu kedatangan pembawa al-Qur`an imam tersebut. Dari sini dapat dilihat dengan jelas bahwa sebenarnya al-Qur`an Sunni atau Mushaf Utsmani adalah al-Qur`an yang murni tanpa terdapat penambahan dan
pengurangan di dalamnya. Sehingga syi ah dengan rela membaca dan
menghafalnya untuk meraih pahala bacaan al-Qur`an yang telah dijanjikan oleh Allah swt. Kerana setelah turunnya imam Mahdi yang membawa al-Qur`an versi mereka tersebut tentunya mereka tidak sempat untuk membaca dan mengamalkannya, sebab saat itu adalah masa penghujung umur dunia ini atau masa kiamat.
لهلَأل ْ ملا
إل ْ نبلا ل امل ْنحلال ْ ح
ِ
لْييلسلبْل يبل
ل
yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih . Q.S. Asy Syu ara : 88-89)
Fakta-fakta ini telah membuktikan bahwa hari ini syi ah sebenarnya tidak memiliki al-Qur`an versi mereka yang asli, sehingga mereka menumpang
membaca Mushaf Utsmani yang dibaca oleh ahlu sunnah wal jama ah.
Rujukan:
Al-Kulaini, Kitab Al-Kaafi, 2/634. (kitab ini sama kedudukannya dengan kitab shahih Bukhari disisi Ahlu Sunnah).
Al-Kulaini, Kitab al-Kaafi, 1/239-240.
Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi, kitab Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, dinukil dari Asy-Syi ah Wal
Qur an, hal. -32, karya Ihsan Ilahi Dzahir. Biharul Anwar, 26/42.
Muhammad Ibnu Jarir bin Rustum at-Thabari, Dalaail al-Imamah, hal: 27-28.
Suhuf bentuk jama dari Shahiifah, artinya lembaran, memiliki beberapa sinonim dalam bahasa Arab, yaitu: Waraqah, Ruq ah, Tirsun dan
Qirthaasun. Lihat: DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni, kamus
Syawarifiyyah , Sinonim Arab-Indonesia, hal: 368.
Riwayat ini disebutkan di berbagai kitab-kitab Syi ah, lihat: al-Kulayni, al-Kaafi, 1/527-528. Ikmaal ad-Din, Ibnu Babwaih al-Qummi, hal: 301-304. Mushaf Uthmani ialah versi al-Quran yang diterbitkan oleh khalifah
harfiah, bermaksud "kulit", iaitu kulit buku, tetapi digunakan dalam konteks ini untuk merujuk kepada senaskah kitab al-Quran. Mushaf ini disepakati oleh sekitar 12.000 sahabat atas keotentikan penulisannya. Buku ini dicetak oleh Markaz al-Abhats al-Aqadiyyah. Sebuah pusat
kajian syi ah di )ran.
Lihat: al-) tiqaad, .
Lihat: Al-Asytiyaani, Bahr al-Fawaaid Fi Syarh al-Faraaid, 99.
Lihat: Tafsir at-Tibyaan, 1/3.
Lihat: Tafsir Majma al-Bayaan, 1/15.
Lihat: A yaan as-Syi ah, / .
Lihat: Aslu al-Syi ah wa Usuliha, .
Lihat: al-Bayan fi Tafsir al-Qur an, .
Lihat: Aqidah as-Syi ah fi al-Imam as-Shadiq, 161.
Lihat: al-Qur an fi al-Islam, 139.
Lihat: al-Syi ah fi al-Mizan, 314.
Lihat: al-Burhan Ala Adami Tahrif al-Qur an, hal: . Madkhal al-Qur an al-Karim, DR. Abdullah Darraz, hal: 39.
Lihat: DR. Musa al-Musawi, as-Syi ah wa at-Tashih, hal: 131-132.Hal yang sama dilakukan juga oleh as-Sayyed Mahdi as-Sawij dalam bukunya Miah
Mas alah Muhimmah (aula as-Syi ah , hal -20. Dan yang menarik dalam
sampul buku tertulis Lastu Daa iyah )la as-Syi ah, wa Lastu Dhiddan li
as-Sunnah, Bal Masaailu Tawassaltu )laiha maksudnya Saya tidak mengajak orang masuk Syi ah, dan bukan memusuhi Ahl Sunnah, namun buku ini
adalah semata-mata hasil ijtihad sendiri .
Lihat ketegasan ulama-ulama syi ah tentang Tahrif dalam tafsir as
-Shaafi , imam al-Faidh al-Kaasyaani, tafsir al-)yasyi imam al-)yasyi. Lihat: Tafsir al-Qummi, 1/36.
Lihat: al-Anwar an-Nu maaniyah, / -358. Lihat: Tafsir as-Saafi,1/13.
Lihat: Tafsir Miraat al-Anwar wa Misykaat al-Asraar, 36.
Lihat: Tafsir Bayaan al-Sa aadah fi Maqaamaat al-Ibadah, 19-20. Lihat: Ushul al-Kaafi, 1/284-285, 1/295, 1/492, 2/597.
Lihat: Bihaarul Anwar, 89/66. Lihat: Awaail al-Maqaalat, 48-49.
Lihat: Minhaaj al-Baraa ah fi Syarh Nahjil Balaghah, -219. Lihat: Muqaddimah Syarh Nahj al-Balagha.
Lihat: Tafsir al-)yaasyi, / . Lihat: Bashaair al-Darajaat, 213.
Lihat: Masyaariq al-Syumuusy al-Dariih, 126. Lihat: al-Durar al-Najfih, 298.
Lihat: Muqaddimah Fashl al-Khitab dan beberapa halaman berikut: 25-26, 35, 357.
Lihat: Hidayat al-Talibin, 368.
Lihat: Nuqabaa al-Basyr ketika menulis biografi imam al-Nuuri al-Tabrizi. Lihat: Hadiqat al-Syi ah, -119.
Lihat: Istiqshaa al-Afhaam, 1/11. Lihat : Footnote hal: 53.
Dia adalah Jamaluddin Yusuf bin al-Hasan bin Ali yang mempunyai julukan Ibnu al-Muthahhir al-(ully, seorang syaikh dan ahli fiqh syia ah imamiyah. Dia lahir di kota al-Hullah, yang merupakan sebuah kota besar yang terletak di antara Kufah dan Bagdad.
Lih, hal , (, Mu`assasah Asyura lit-Tahqiqat wBuhuts
al-)sma iliyyah, Qum-Iran.
Al-Muzhaffar, Muhammad Ridha, Aqa`id al-Imamiyyah, hal 65. Ar-Risalah al-Kafiyah, hal 181.
Musthafa Helmi, 1988M, Nizham al-Khilafah Bayna Ahli as-Sunnah wasy-Syi'ah, hal 153, Dar ad-Da'wah, Iskandariah-Mesir.
Al-Asy ari, Maqalatu al-Islamiyyin, hal 2. Asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, 1/24.
Nasywan al-Humairi, Syarh Risalah al-Hur al-Ain, hal 212.
Al-Jalayand, Muhammad as-Sayyid, 1981 M, Qadhiyyatu al-Khair wasy-Syarr Fi al-Fikri al-)slami, hal , Kairo, Mathba ah al-Halabi.
Ahmad bin al-Hasan ar-Rashshash, al-Khilafah an-Nafi ah, hal . Al-Muqbili, al-Ilmi asy-Syamikh, hal 11.
Lih, as-Sayyid Yahya bin Abdul Karim al-Fudhail, 1424 H-2003 M, Man Hum az-Zaidiyyah, hal , Shan a-Yaman, Mu`assasah al-Imam Zaid bin Ali ats-Atsaqafiyyah.
Lih, Shubhi, Ahmad Mahmud, Juni 1992 M, Nahwa Ilmi Kalam Jadid, hal 46-47, bagian dari riset yang diajukan kepada al-jam iyyah al-Falsafiyyah al-Mishriyyah, dan diterbitkan oleh Markaz al-Kitab lin-Nasyr, Kairo, no 1/1.
Al-Jawab al-Mukhtar, hal 50.
Muhammad bin al-Hadi, Kitab al-Ushul, hal 46.
Lih, Shalih al-Wardani, 1995 M, Aqa`id as-Sunnah Wa Aqa`id asy-Syi ah, hal 200 dst, Kairo, Madbuli ash-Shaghir.
Lih, al-Jalayand, Muhammad as-Sayyid, Qadhiyyatu al-Khair wasy-Syarr fil-Fikri al-Islami, hal 342.
Sunan at-Tirmizi, no: 3797. Sahih Bukhari, no: 3397.
Sahih Bukhari, no: 8. Sunan at-Tirmizi, no: 2534.
Al Kafi, 2/633, riwayat no 23.
Mir atul Anwar wa Misykaatul Asrar, .