• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Dasar Hukum dan Macam Macam Khi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Definisi Dasar Hukum dan Macam Macam Khi"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KHIYAR

M akalah Ini Disusun Guna M em enuhi Tugas M at a Kuliah Fiqih M ua’m alah

Dosen Pengam pu : Im am M ust ofa, S.HI., M .SI.

Disusun oleh:

M uham m ad Ridho Prayogo

141268610

S1 Perbankan Syariah

Kelas B

PROGRAM STUDY PERBANKAN SYARIAH

JURUSAN SYARIAH/ EKONOM I SYARIAH

SEKOLAH TINGGI AGAM A ISLAM NEGRI M ETRO

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena atas berkat dan limpahan rahmat dan Hidayah-Nya, maka tugas makalah mengenai “ Hukum Khiyar Dalam Jual Beli “ ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktu yang ditentukan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah sederhana ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menghanturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu terselesainya makalah ini. Penulis juga memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya konstruktif dalam perbaikan makalah kami.

Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sangat memperhatikan kebutuhan. Sebagai makhluk nsure tentu manusia memerlukan interaksi nsure (Mu’amalah) dalam hambaNya memenuhi kebutuhannya seperti makanan, minum, pakaian dan lain-lain. Dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya telah ditetapkan nsur-hukum mu’amalah, salah satunya jual beli adalah hal yang dibolehkan menurut Syara’.

Jual Beli merupakan perbuatan yang diperbolehkan atau dihalalkan oleh Agama Islam. Dalam bertransaksi ( jual – beli ) di semua kegiatan berekonomi tentunya tidak akan terlepas dari sebuah penawaran, baik yang dilakukan oleh penjual atau pembeli, dalam islam disebut dengan istilah khiyar artinya tawar – menawar.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi kami pribadi. Amiin

Mero, 22 November 2016

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...

KATA PENGANTAR...

DAFTAR ISI...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...

B. Rumusan Masalah ...

C. Tujuan ...

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Khiyar ...

B. Syarat Khiyar ...

C. Dasar Hukum dan Landasan Khiyar ...

D. Fungsi Kiyar ...

E. Macam-Mcam Khiyar ...

F. Cara Pengguguran Khiyar ...

BAB III PENUTUP

A. PENUTUP ...

B. SARAN ...

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Disadari ataupun tidak, kita sering melakukan khiyar dalam

kehidupan sehari-hari. Yakni dalam proses jual beli. Misalnya saja, kita

membeli pakaian atau barang yang lain ketika dibawa kerumah barang ini

tidak sesuai dengan kebutuhan kita atau terdapat cacat pada barangnya,

sehingga kita mengembalikan dan menukarnya kepada pedagang karena

ketika membeli kita sudah ada perjanjian dengannya apabila tidak muat

boleh dikembalikan. Hal itu adalah salah satu cntoh dari pada Khiyar.

Khiyarr adalah pemilihan di dalam melakukan akad jual beli apakah

mau meneruskan akad jal beli atau mengurungkanya/menarik kembali

kehendak untuk melakukan jual beli. Dalam pertimbangan bisnis dan

ekonomi khiyar ini menjadi penting dengan adanya khiyar. Orang yng

melakukan transaksi bisnis yang berjual beli dapat memikirkan

kemaslahatan masing-masing lebih jauh, supaya tidak akan terjadi

penyesalan dikemudian hari lantaran merasa ketipu.

B. Runusan masalah

1) Apa pengertian dan Syaat Khiyar?

2) Ada Berapa Jenis Khiyar?

3) Cara Pengguguran Khiyar?

C. Tujuan penulisan

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Khiyar

Dalam perspektif Islam, jelas bahwa acuan kejujuran dalam

berdagang harus diletakkan dalam kerangka ukuran-ukuran yang

bersumber dari ajaran Islam, yakni Al-Qur

an dan Hadis. Karena itu,

sistem nilai yang Islami yang mendasari perilaku perdagangan merupakan

masalah penting untuk diungkapkan. Dari perspektif Islam tersebut,

perdagangan ternyata memiliki dua dimensi, yakni dimensi duniawi dan

dimensi ukhrawi. Perdagangan yang dijalankan berlandaskan nilai-nilai

Islam dalam penelaahan ini dipahami sebagai yang berdimensi ukhrawi,

dan demikian sebaliknya berdimensi duniawi apabila suatu aktivitas

perdagangan terlepas dari nilai-nilai Islam yang dimaksud.

1

Secara etimologi, khiyar artinya:memilih, menyisihkan, dan

menyaring. Secara umum artinya adalah menentukan yang terbaik dari

dua hal (atau lebih) untuk dijadikan orientasi. Secara terminologis dalam

ilmu fiqih artinya: Hak yang dimiliki orang yang melakuan perjanjian usaha

untuk memilih antara dua hal yang disukainya, meneruskan perjanjian

tersebut atau membatalkannya.

Khiyar artinya boleh memilih antara dua, meeruskan akad jual beli

atau mengurungkan (menarik kembali,tidak jadi jal beli). Diadakan khiyar

oleh syara’ agarkedua orang tadi yang berjual beli dapat memikirkan

kemaslahatan masing-masing lebih jauh, supaya tidak akan terjadi

penyesalan dikemudian hari lantaran merasa tertipu.

2

Khiyar menurut pasal 20 ayat 8 Komplikasi Hukum Ekonomi

Syariah yaitu hak pilih bagi penjul dan pembeli untuk melanjutkan akad

jual beli yang dilakukan.

1

Jusmaliani dkk, Bisnis Berbasis Syariah, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hlm.14. 2

(6)

Jadi hak khiyar itu ditetapkan dalam islam untuk menjamin kerelaan

dan kepuasan timbal balik pihak-pihak yag melakukan jual beli. Dari satu

segi memang khiyar (memilih) ini tidak praktis karena mengandung arti

ketidak pastian suatu transaksi, namun dari segi kepuasan pihak yang

melakukan transaksi, khiyar ini yaitu jalan terbaik.

3

B. Syarat khiyar

a. Pendapat ulama tentang syarat khiyar dalam orang yang menjual

terhadap dirinya sendiri.

Imam Syafi’i berpendapat :

Kepemilikan mabi’ masih ditangguhkan

Berpindah kepemiikan dan jatuhnya khiyar

Kepemiikan bisa berpindah dengan terjadinya akad

Waktunya harus tiga hari

Syarat :

1) Barang yang dikhiyarkanhendaknya jelas

2) Barang yang dikhiyarkan hendaklah ditentukan harganya

3) Pembeli harus melihat barang yang dikhiyarkan

C. Dasar Hukum atau Landasan Khiyar

Berdasarkan prinsip wajib menegakkan kejujuran dan kebenaran

dalam perdagangan, maka haram bagi penjual menyembunyikan cacat

barang. Apabila dalam barang yang akan dijual itu terdapat cacat yang

diketahui oleh pemilik barang (penjual), maka wajiblah dia menerangkan

hal itu dan tidak boleh menyembunyikannya. Menyembunyikan cacat

barang dengan sengaja termasuk penipuan dan kecurangan.

4

3

DR. Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta,Prenada Media, 2013), hal. 105. 4

(7)

Khiyar hukumnya boleh berdasarkan sunnah Rasulullah saw. Diantara

sunnah tersebut adalah hadis yang diriwaytkan oleh AlBukhari dari

Abdullah bin Al-Harits:

ِع ﻋ

ﺑد ﷲ

ِب

ث

ز

اﯨ

ﺎه

:

تﻌَﺳ

ٌﻲﻧﺣ

ِب

ًازﺣ

ﺿ

ز

?

ع

ِع

ﻲﺑْﯨا

ٚﻲﺻ ﷲ

ٔﻲﯾﻋ

ٌﻲﺳ ٗ◌ ﻗ

ﺎ ه

:

ُﺎﻌﯾﺑﯨا

ز

ﯾﺎ

ﺎﯨ

ا ٍ◌

ٌى

ﻘﺎ

,

ُﺎﻓ ﺻ

دﻗ

ﺎْﯾﺑ ٗ◌ كز٘ﺑ ا ٖ◌َى ﻓ

ﻲ ا ٖ◌َﻊﯾﺑ

ُا ٗ◌

ر

ﺎَﺗﻣ ٗ◌ ح ٍ◌ ﻗ

ت

ا ٖ◌َﻊﯾﺑ

.

Artinya: Dari Abdullah bin al-harits ia berkata: saya mendengar

Hakim bin Hizam r.a dari Nabi saw beliau bersabda: “

penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar selama

mereka berdua belum berpisah. Apabila mereka berdua

benar dan jelas, maka mereka berdua diberi keberkahan

didalam jual beli mereka, dan apabila mereka berdua

berbohong dan merahasiakan, maka dihapuslah

keberkahan jual beli mereka berdua. ( HR. Al-Bukhari).

Adapun landasan khiyar sebagai berikut :

a. Al-Quran surat :

ﯾﺎ

اﯾﱠ

ﮭَﺎ

اﻟّ

ذِﯾْ

نَ

اَﻣَ

ﻧُوْ

ا

ﻻَ

ﺗَﺄْ

ﻛُﻠُ

وا

أَﻣْ

وَا

ﻟَﻛُ

مْ

ﺑَﯾْ

ﻧَﻛُ

مْ

ﺑِﺎ

ﻟْﺑَﺎ

طِ

لِ

اِ

ﻻﱠ

أَ

نْ

ﺗَﻛُ

وْ

نَ

ﺗِ

ﺟَ

رَ

ةً

ﻋَ

نْ

ﺗَ

رَ

ض

ٍ

ﻣِّﻧْ

ﻛُ

مْ

)

اﻟﻧ

ﺎء

,

4

.

9

2

(

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling

memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengaan jalan

perniagaan berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.5

b. Al-Hadist اﻟﺑَ ﯾْﻌَ ﺎ نِ ﺑِﺎ ﻟْ ﺧِ ﯾَﺎ رِ ﻣَﺎ ﻟَمْ ﯾَﺗَ ﻔَ رﱠ ﻗَﺎ , ﻓَﺎِ نْ ﺻَدﱠﻗَ ﺎ وَﺑَ ﯾﱠﻧَ ﺎ ﺑُوْ رِ كَ ﻟَﮭُ ﻣَﺎ ﻓِ ﻲْ ﺑَﯾْ ﻌِ ﮭِ ﻣَﺎ وَاِ نْ ﻛَﺗَ ﻣَﺎ وَ ﻛَ ذﱠﺑَ ﺎ ﻣُ ﺣِ ﻘﱠ تْ ﺑَ رْ ﻛَ ﺔُ ﺑَﯾْ ﻌِ ﮭِ ﻣَﺎ ) ر وا ه اﻟﺑ ﺧ ﺎ ر ي و ﻣ ﺳ ﻠم (

Artinya : “Dua orang yang melakukan jual bei boleh melakukan khiyar selama

belum berpisah. Jika kedua benar dan jelas maka keduanya diberkahi diberkahi

dalam jual beli mereka. Jika mereka menyembunyikan dan berdusta, dan akan

dimusnakanlah keberkahan jual beli mereka”.(HR.Bukhari Muslim)

(8)

c. Ijma “Ulama”

Status khiyar dam pandangan ulama Fiqh adalah di syariatkan atau

dibolehkan, karena suatu keperluan yang mendesak dalam

mempertimbangkan kemaslahatan masing-masing pihak yang

melakukan transaksi.

Di zaman sekarang yang serba canggih ini, dimana sistem jual beli yang semakin

mudah dan peraktis, masalah khiyar ini masih tetap diberlakukan, hanya tidak

menggunakan kata-kata Khiyar dalam mempromosikan barang-barang yang

dijualnya, tetapi dengan ungkapan singkat dan menarik, misalnya : “. Ini berarti

bahwa pembeli diberi hak khiyar (memilih) dengan hati-hati dan cermat dalam

menjatuhkan pilihannya untuk membeli, sehingga ia merasa puas terhadap

barang yang benar-benar ia inginkan.6

D. Fungsi Khiyar

Fungi khiyar adalah supaya kedua orang yang berjual beli dapat

memikirkan lebih lanjut mengenai dampak positif atau negatifnya bagi

mereka masing-masing. Dengan demikian diantara kedua belah pihak

tidak akan tejadi penyesalan dibelakang hari karena adanya

penipuan,kesalahan, dan paksaan.7

E. Macam-Macam Khiyar

Khiyar terbagi kepada tiga macam yaitu :

1) Khiyar Majlis

6

Amir Syarifuddin, Fiqh Muamalah, (Jakarta, Pranada Media, 2005), hal. 213. 7

(9)

Tempat transaksi, dengan demikian khiyar majlis bearti hak pelaku

transaksi untuk meneruskan atau membatalkan akad selagi mereka

berada dalam tempat transaksi dan belum berpisah.

Jadi khiyar majlis adalah khiyar yang dilkukan pada suatu tempat.

Mauqud ‘alaih (barang) menjadi sah miik penjual atau pembeli ketika

keduanya sudah berpisah.batasannya satu tempat tersebut meurut

jumhur ulama berdasarkan adat.

Seperti kejadian berikut, ronald penjual buku budi pembelinya. Di toko

ronald sudah ada tulisan, “barang tidak boleh dikembalikan sesudah

meninggalkan lokasi toko”. Dengan ketentuan di atas, jika budi jadi

membeli buku maka ronald sudah tidak bertangggung jawab terhadap

buku tersebut ketika Budi meninggalkan toko dan buku tersebut

sepenuhna milik budi. Jika budi sempat memilih buku dan akhirnya

tidak jadi membeli karena tidak sepakat harga atau lainya, maka buku

tersebut tetap milik ronald dan ia berhak menjual buku tersebut

kepada oran lain.

Khiyar Mjlis, yaitu hak pilih kedua belah pihak yang berakad untuk

mematalkan akad, selama keduanya masih brada dalam majelis akad

diruangan toko) dsn belum berpisah badan. Artinya,suatu transaksi

baru dianggap sah apabila kedua belah pihak yang melaksanakan

akad telah berpisah badan atau salah seorang di antara mereka telah

melakukan piihan untuk menjual dan atau membeli. Khiyar seperti ini

hanya berlaku dalam suatu transaksi yang bersifat mengikat kedua

belah pihak yang melaksanakan transaksi, seperti jual beli dan

sewa-menyewa.8

2) Khiyar Syarat

Kedua pihak atau salah satu nya berhak memberikan persyaratan

khiyar dalam waktu tertentu. Khiyar syarat merupakan hak yang

disyaratkan oleh seorang atau kedua belah pihak untuk membatalkan

8

(10)

suatu kontrak yangtelah diikat. Misalnya, pembeli mengatakan kepada

penjual: “saya beli barang ini dari anda, tetapi saya punya hak untuk

mengembalikan barang ini dalam tiga hari.” Begitu periode yang

diisyaratkan berakhir, maka hak yang untuk membatalkan yang

ditimbulkan oleh syarat ini tidak berlaku lagi. Sebagai dari hak ini,

maka kontrak yang pada awalnya bersifat mengikat menjadi tidak

mengikat. Hak untuk memberi syarat jal beli ini membolehkan suatu

pihak untuk menunda eksekusi kontrak itu. Tujuan dari hak ini untuk

memberikan kepada orang yang menderita kerugian untuk

membatalkan kontrak dalam waktu yang telah ditentukan. Hal ini

berupaya untuk pencegahan terhadap kesalahan, cacat

barang,ketadaan pengetahuan kualitas barang, dan kesesuain

dengan kualitas yng diinginkan. Dengan demikian, hak ini melindungi

pihak-pihak yang lemah dari kerugian.

3) Khiyar aib

Suatu hak yang diberikan kepada pembeli dalam kontrak jual beli

untuk mematalkankontrak jika si pembeli menemukan cacat dalam

barang yang telah dibelinya sehingga menurunkan nilai barang itu.

Hak ini telah digariskan oleh hukum, dan pihak-pihak yang terlibat

tidak boleh melanggarnya dalam kontrak. Kebaikan dari hak ini,

pembeli yang menemukan cacat pada barang yang dibeli mempunyai

hak untuk mengembalikan kepada penjual, kecuali dia mengetahui

tentang cacat barang itu sebelum diberikan.

Hukum kerusakan barang baik yang rusak seluruhnya atau sebagian,

sebelum akad dan sesudah akad terdapat beberapa ketentuan yaitu:

a. Barang rusak sebelum diterima pembeli

1) Barang rusak dengan sendirinya atau rusak oleh penjual, maka

jual beli batal.

2) Barang rusak oleh pembeli, maka akad tidak batal dan

(11)

3) Barang rusak oleh orang lain, maka jual beli tidaklah batal,

tetapi pembeli harus khiyar antara melanjutkan atau membatalkan

akad jual beli.9

4) Khiyar Ru‟yah

Khiyar ru‟yah adalah hak pembeli untuk membatalkan akad atau tetap

melangsungkannya ketika ia melihat obyek akad dengan syarat ia

belum melihatnya ketika berlangsung akad atau sebelumnya ia

pernah melihatnya dalam batas waktu yang memungkinkan telah jadi

batas perubahan atasnya. Konsep khiyar ini disampaikan oleh fuqoha

Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah dan Dhahiriyah dalam kasus jual beli

benda yang ghaib (tidak ada ditempat) atau benda yang belum

pernah diperiksa. Sedangkan menurut Imam Syafi‟i khiyar ru‟yah ini

tidak sah dalam proses jual beli karena menurutnya jual beli terhadap

barang yang ghaib (tidak ada ditempat) sejak semula dianggap tidak

sah.10

Selain itu, kategori khiyar tersebut, Prof. Dr. Muhamad Tahir

Mansoori membagi khiyar kepada beberapa macam tambahannya

adalah khiyar al-ghabn (hak untuk membatalkan kontrak karena

penipuan).

Khiyar al-ghabn dapat diimplementsikan dalam situasi seperti berkut

ini:

a) Tasriyah

Tasriyah bermakna mengikat kantong susu unta betina atau

kambing supaya air susu binatang itu berkumpul dikantong

susunya untuk memberikan kesan kepada yang berniat membeli

bahwa air susunya sudah banyak. Dalam hal ini Rasulullah SAW

bersabda: “Janganlah ikat susu unta atau kambing. Jika salah

9

Rahmat Syafi‟i, Fiqh Muamalah, Bandung: Pustaka Setia, 2001, hlm. 90. 10

(12)

seorang diantara kamu membeli seekor unta betina atau kambing

yang susunya diikat, maka dia memiliki hak (setelah memerah

susunya) untuk tetap menjaganya, atau mengembalikannya

berama-sama dengan sejumlah kurma (jika susunya telah

dikonsumsi oleh pembeli)”.

Tindakan tasriyah membuat kontrak dapat dibatalkan, tergantung

pilhan pembeli yang telah menderita karna penipuan ini. Inilah

pandangan mayoritas ulama. Ulama mazhab hanafi tidak

menyetujui pembatalan kontrak. Mereka mengizinkan orang yang

ditipu itu untuk menuntut tambahan yang tidak memberatkan dari

penjual.

b) Tanajush

Tanajush bermakna menawar harga yang tinggi untuk suatu

barang tanpa niat untuk memelinya, dengan tujuan untuk

semata-mata untuk menipu orang lain yang ingin benar-benar membeli

barang tersebut.

c) Ghabn Fahisy

Ghabn Fahisy adalah kerugian besar yan diderita oleh suatu pihak

dari konrak sebagai hasil dari penggelapan atau penggambaranya

salah, atau penipuan yang dilakukan oleh pihak lain. Ulama

mahab Hanafi berpendapat bahwa kerugian besar yang diderita

oleh suatu pihak, bukan merupakan penyebab untuk membatalkan

kontrak. Kontrak hanyadapat dibatalkan jika disebabkan oeh

peipuan atau penggambaran yang salah.

Misalnya si A menjual sebuah jam tangan yang nilainya Rp

50.000,- dengan harga Rp 90.000,- kepada si B dngan mengklaim

hargabarang itu adalh Rp. 100.000,- , karena percaya pada klaim

si A, si B kemdian membeli barang tersebut dengan harga Rp.

90.000,-. Dalam hal ini si B telah menderita ghabn al-fahisy seperti

(13)

d) Talaqqi al-rukban merupakan transaksi di mana orang kota

mengambil keuntungan ketidaktahuan orang badui yang

membawa barang primer dan kebutuhan pokok untuk dijual, dan

menipunya dalam perjalanan ke tempat penjualan (pasar).

Orang-orang pasar pergi keluar kota untuk menyongsong Orang-orang Badui

dan membel barang yang dibawanya dengan harga murah,

menghilangkan kesempatan buat orang Badui untuk terlei dahulu

menyurvei harga, agar ia tau harga pasar.

Ini merpakan bentuk lain dari penipuan yang meggambarkan

keliru yang memberkan hak kepada pembeli untuk membatalkan

kontrak.11

F. Cara Pengguguran Khiyar

Cara mengugurkan khyar dngan tiga cara:

a. Menggugurkan khiyar dengan cara yang pasti (isqoth sharih) yang

dilakukan oleh orang yang berkhiyar, misalnya dengan berkhiyar

mengtakan :”saya setuju kalau khiyar ini dibatalkan”, dan

pernyataan-pernyataan lainnya yang mirip dengan ucapan itu.

Dengan adanya pernyataaan-ernyataan ini maka akad

menjaditidak terikat. Sebalikna akad akan batal engan

ucapan-ucaan seperti itu: “sudah saya batalkan atau saya gugurkan akad

ini).

b. Pengguguran dengan dilalah adalah adanya tasharruf (beraktifitas

dengan barang tersebut) dari peaku khiyar yang menunjukkan

bahwa jual beli tersebut jadi dilakukan, seperti pembeli

menghibahkan barang terseut kepada orang lain, dan

sebagainnya.

11

(14)

c. Penggugura khiya secara outomatik (keadaatan) terhadap

beberapa keadaan sebagai berikut.

1) Batas waktu khiyar habis.

2) Seseorang yang memberikan syarat meninggal.

3) Adanya hal-hal yang serupa dengan mati, seperti gila, mabuk,

dan lain-lan. Dengan demkian, jika akal seseorang karena

gila,abuk, tidur atau hal-ha lainnya maka akad enadi terikat.

4) Barang rusak ketika masa khiyar.12

12

(15)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Secara etimologi, khiyar artinya:memilih, menyisihkan, dan

menyaring. Secara umum artinya adalah menentukan yang terbaik dari

dua hal (atau lebih) ntuk dijadikan orientasi. Secara terminologis dalamlmu

fiqih artinya: Hak yang dimiliki orang yang melakuan perjanjian usaha

untuk memilih antara dua hal yang disukainya, meneruskan perjanjian

tersebut atau membtalkannya.

Secara umum artinya menentukan yang terbaik dari dua hal atau lebih untuk

dijadikan orientasi.

Khiyar terbagi beberapa jeis yang paling utama ada 3 yaitu : khiyar

Majelis, Khiyar Syarat, Khiyar Aib.

B. Saran

Kepada mahasiswa/mahasiswi dan teman-eman sekalia, etela membaca

makalah ini, bisa mengetahui dan dapat mempraktekan tentang Khiyar ini dalam

keidupan sehari-hari pada saat melakukan transaksi jual beli secara baik dan

benar-benar sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Jusmaliani dkk, Bisnis Berbasis Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)

Sulaiman Rasjid, fiqh islam, (Bandung, Sinar Baru Algesindo, 2002)

DR. Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta,Prenada Media, 2013)

Sudarsono, Pokok-pokok Hukum Islam,(Jakarta: Rineka Cipta, 1992)

Amir Syarifuddin, Fiqh Muamalah, (Jakarta, Pranada Media, 2005)

Sudarsono, Pokok-Pook Hukum Islam, (Jakarta, Rineke Cipta, 2001)

Gemala Dewi, Hukum Perikatan Islam Di Indonesia, (Jakarta, Kencana, 2007)

Referensi

Dokumen terkait

antara lain.. Dalam bab ini kita akan mempelajari statistika dan peluang, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan pengetahuan ini. Misalnya dalam suatu remedial

Pengadaan barang dan jasa dimu,lai sejak adanya pasar dim ana orang dapat membeli dan atau menjual barang. Cara atau metode yang digunakan dalam jual beli barang di

(2) Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana

Jual beli yang ada di Pasar Bambu Kuning, khususnya jual beli buah merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan para pedagang buah dengan berbagai macam buah- buahan

Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang menjadi objek jual beli yaitu: Barang yang digadaikan harus dapat diperjualbelikan; harus pada waktu akad dan dapat diserahterimakan,

Jual beli dengan hak membeli kembali Seperti yang telah dijelaskan menurut pasal 1519 KUHPerdata, kekuasaan untuk membeli kembali barang yang telah dijual diterbitkan

Meskipun sistim jual beli kredit diperbolehkan oleh beberapa kalangan, tetap saja ada hal yang harus diperhatikan dalam membeli barang dengan sistim kredit, diantaranya

Dalam proses jual beli kredit transaksi yang sering dilakukan adalah transaksi segitiga yang mana jika konsumen atau debitur ingin membeli barang contoh kendaraan