• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Observasi IPS di SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Observasi IPS di SD"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN OBSERVASI

IMPLEMENTASI PERENCANAAN, MODEL, DAN EVALUASI PEMBELAJARAN IPS DI SDN 1 TANGGULANGIN

KECAMATAN PUNGGUR KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

T.P. 2013/2014

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Pembelajaran IPS

Dosen Pengampu: Tusriyanto, M.Pd.

Disusun Oleh:

1. Diah Woro Kurniasih 1290055

2. Fandi Israwan 1290155

3. Fathi Falaha Zauma 1290165 4. Liya Masda Mayasari 1290325 5. Novita Hidayati 1290485

Kelas: B PGMI / IV

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO

(2)

KATA PENGANTAR

Semoga berkah dan keselamatan tercurah kepada kita semua. Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang dengan berkat, rahmat, dan karunia-Nya, telah memberikan kemudahan dan kelancaran dari persiapan, proses observasi, analisis, hingga terselesaikannya penyusunan laporan observasi ini.

Kami ucapkan terimaksih kepada semua pihak yang membantu dan terlibat selama kegiatan observasi ini dilaksanakan, diantaranya Kepala SDN 1 Tanggulangin Kecamatan Punggur, beserta dewan guru yang menjadi obyek pengamatan. Tidak lupa diucapkan terimakasih kepada Bapak Tusriyanto, M.Pd selaku dosen pengampu dalam mata kuliah Metode Pembelajaran IPS yang telah memberikan bimbingan dan arahansaat sebelum pelaksanaan observasi, hingga terselesaikannya penulisan laporan kegiatan observasi ini.

Penulis berharap agar penyusunan laporan observasi ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan yang berkaitan dengan penerapan proses pembelajaran IPS di kelas, terutama untuk jenjang pendidikan dasar. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan observasi ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengundang saran, kritik, serta masukan dari pembaca sekalian.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Kegiatan Observasi ... 2

D. Ruang Lingkup Kegiatan Observasi ... 2

BAB II LANDASAN TEORI ... 3

A. Hakikat Perencanaan Pembelajaran ... 3

B. Hakikat Model Pembelajaran ... 4

C. Hakikat Evaluasi ... 10

D. Teori Pembelajaran Sosial... 11

BAB III METODE PENGAMATAN ... 12

A. Pelaksanaan Observasi ... 12

B. Metode Pengumpulan Data ... 12

BAB IV PEMBAHASAN... 15

A. Hasil Observasi ... 15

B. Deskripsi Pembelajaran IPS di Kelas IV SDN 1 Tanggulangin ... 17

C. Deskripsi Pembelajaran IPS di Kelas V SDN 1 Tanggulangin ... 21

D. Solusi yang Ditawarkan ... 24

BAB V PENUTUP... 32

A. Kesimpulan ... 32

B. Implikasi... 33

C. Saran... 33 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat menyeluruh seperti merencanakan, melaksanakan, sampai dengan monitoring dan evaluasi. Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar suatu mata pelajaran, langkah yang harus dilakukan guru adalah melakukan analisis terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga dapat dirumuskan tujuan pembelajaran dan dikembangkan bahan ajarnya, kemudian dikembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan dipilih strategi yang tepat sesuai dengan tujuan, isi serta suasanan belajar yang dihadapi peserta didik. Kemudian penutup, yang didalamnya mencakup evaluasi, baik evaluasi terhadap proses pembelajaran maupun hasil belajarnya, dan hasilnya menjadi masukan untuk perencanaan pembelajaran berikutnya.

Salah satu mata pelajaran di tingkat SD/MI yang perlu ditingkatkan kegiatan pembelajarannya oleh guru demi memenuhi kebutuhan keilmuan di bidang sosial peserta didik adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). IPS tidak dapat dilepaskan dari interaksi fungsional perkembangan masyarakat Indonesia dengan sistem dan praktis pendidikannya. Maka kini pembelajaran IPS di SD/MI adalah suatu fondasi besar yang memperkokoh IPS di sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Hanya saja dengan berbagai keterbatasan kini IPS menjadi pelajaran yang sangat tidak menarik dan membuat mengantuk. Karena pelajaran IPS diparadigmakan sebagai pembelajaran dalam sebagian ranah kognitif saja yaitu menghafal, padahal IPS adalah pengetahuan yang luas dan tidak mengandung paradigma yang sesempit itu.

(5)

Berangkat dari berbagai permasalahan yang ada dalam pelaksanaan pembelajaran maka penulis melakukan pengamatan/observasi mengenai implementasi pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Negeri 1 Tanggulangin Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2013/2014.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dijawab dalam observasi ini adalah “Bagaimanakah implementasi pembelajaran IPS di SDN 1 Tanggulangin Kecamatan Punggur?”

C. Tujuan Kegiatan Observasi

Observasi dilakukan melalui pengamatan pada saat guru melaksanakan KBM. Kegiatan observasi ini bertujuan untuk melakukan pengamatan implementasi pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Negeri 1 Tanggulangin Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2013/2014.. Hasil pengamatan didiskripsikan untuk dianalisis terkait dengan kegiatan pembelajaran serta permasalahan yang muncul.

D. Ruang Lingkup Kegiatan Observasi

(6)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Hakikat Perencanaan Pembelajaran

Murdick and Ross (1982) menyatakan ”planning is a thought that procedure the action; it involves development and selection from alternatives

as the necessary course of action to achieve an objective”. Artinya: Perencanaan merupakan pemikiran yang mendahului tindakan, mencakup pengembangan dan pemilihan alternatifalternatif tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Nana Sujana (1988) mengemukakan bahwa perencanaan pembelajaran adalah memproyeksikan tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran (PBM). Yaitu dengan mengkoordinasikan (mengatur dan menetapkan) komponenkomponen pengajaran, sehingga arah kegiatan (tujuan), isi kegiatan (materi), cara pencapaian kegiatan (metode dan teknik) serta bagaimana mengukurnya (evaluasi) menjadi jelas dan sistematis.

R. Ibrahim (1993) menyatakan secara garis besar perencanaan pengajaran mencakup kegiatan merumuskan tujuan apa yang akan dicapai oleh suatu kegiatan pengajaran, cara apa yang dipakai untuk menilai tujuan tersebut, materi bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, serta alat atau media apa yang diperlukan. Gambaran aktivitas siswa akan terlihat pada rencana kegiatan atau dalam rumusan kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang terdapat dalam perencanaan pengajaran. Kegiatan belajar mengajar yangdirumuskan oleh guru harus mengacu pada pada tujuan pembelajaran ,sehingga perencanaan pengajaran merupakan acuan yang jelas, operasional, sistematis, sebagai acuan guru dan siswa berdasarkan kurikulum yang berlaku.Tujuan perencanan pembelajaran diantaranya,

1. Menjabarkan kegiatan dan bahan yang akan disajikan guru dalam pengajaran.

2. Memberikan arah dan tugas yang harus ditempuh dan dilaksanakan guru dalam pengajaran.

(7)

4. Menumbuhkan rasa percaya diripada guru dalam melaksanakantugasnya.

5. Menjamin kontinuitas bahan pelajaran dalam pengajaran.

B. Hakikat Model Pembelajaran 1. Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajarandapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

2. StrategiPembelajaran

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Strategi dalam kegiatan pembelajaran dapat diartikan dalam pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Dalam pengertian sempit bahwa istilah strategi itu sama dengan pengertian metode yaitu sama-sama merupakan cara dalam rangka pencapaian tujuan. Dalam pengertian luas sebagaimana dikemukakan Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

a. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.

b. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.

(8)

d. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

a. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.

b. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.

c. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.

d. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Sanjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Sanjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.

Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2)

group-individual learning (Rowntree dalam Wina Sanjaya, 2008). Ditinjau

(9)

3. MetodePembelajaran

Metode merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar, sehingga bagi sumber belajar dalam menggunakan suatu metode pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis strategi yang digunakan. Ketepatan penggunaan suatu metode akan menunjukkan fungsionalnya strategi dalam kegiatan pembelajaran.

Istilah metode dapat digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, sebab secara umum menurut kamus Purwadarminta (1976), metode adalah cara yang telah teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode berasal dari kata

method (Inggris), artinya melalui, melewati, jalan atau cara untuk

memeroleh sesuatu.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas jelas bahwa pengertian metodepada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini dapat menyangkut dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, maupun keagamaan. Unsur–unsur metode dapat mencakup prosedur, sistimatik, logis, terencana dan aktivitas untuk mencapai tujuan. Adapun metode dalam pembahasan ini yaitu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar, sehingga untuk melaksanakan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam pelaksanaannya. Interaksi dalam pembelajaran tersebut dapat diciptakan interaksi satu arah, dua arah atau banyak arah. Untuk masing-masing jenis interaksi tersebut maka jelas diperlukan berbagai metode yang tepat sehingga tujuan akhir dari pembelajaran tersebut dapat tercapai.

(10)

pembelajaran mempunyai tugas cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga mempunyai tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat belajar untuk mencapai tujuan belajar secara tepat. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan metode dalam pembelajaran mempunyai ruang lingkup sebagai cara dalam:

a. Pemberian dorongan, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam rangka memberikan dorongan kepada warga belajar untuk terus mau belajar.

b. Pengungkap tumbuhnya minat belajar, yaitu cara dalam menumbuhkan rangsangan untuk tumbuhnya minat belajar warga belajar yang didasarkan pada kebutuhannya.

c. Penyampaian bahan belajar, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam menyampaikan bahan dalam kegiatan pembelajaran.

d. Pencipta iklim belajar yang kondusif, yaitu cara untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi warga belajar untuk belajar.

e. Tenaga untuk melahirkan kreativitas, yaitu cara untuk menumbuhkan kreativitas warga belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

f. Pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar, yaitu cara untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran.

g. Pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar, cara untuk untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran.

(11)

achieving something” sedangkanmetode adalah “a way in achieving something” (Wina Sanjaya, 2008). Jadi, metodepembelajarandapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikanrencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapaitujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakanuntuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2)demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7)brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

4. TeknikPembelajaran

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

(12)

taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat).

5. Model Pembelajaran

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

(13)

untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

C. Hakikat Evaluasi

Anas Sudiono mengemukakan bahwa secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris “evaluation”, akar katanya value yang artinya nilai. Jadi

istilah evaluasi menunjuk pada suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Menurut A. Fajar, evaluasi dapat diartikan sebagai usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses yang dilakukan oleh seseorang. Berdasarkan pendapat tersebut, evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam rangka pengendalian, penjaminan dan penetapan kualitas berbagai komponen berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk pertanggungjawaban peserta didik dalam melaksanakan tugas belajarnya.

Evaluasi dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio dan penilaian diri. Tes dalam kegiatan evaluasidapat dilakukan dalam dua bentuk yakni pre-test dan

post-test. Menurut jenisnya, evaluasi dibedakan menjadi evaluasi formatif dan

(14)

D. Teori Pembelajaran Sosial

(15)

BAB III

METODE PENGAMATAN

A. Pelaksanaan Observasi 1. Tempat Pelaksanaan

Kegiatan observasi dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 1 Tanggulangin Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah (lampiran

1). Kegiatan ini diawali dengan meminta izin kepada kepala sekolah yang

dilakukan pada 1 (satu) minggu sebelum pelaksanaan kegiatan observasi. Pada awalnya observer merencanakan melakukan pengamatan di Kelas I-V, dan kepala sekolah mengizinkan hal tersebut. Namun dikarenakan suatu hal, pada saat pelaksanaan kegiatan observasi hanya dapat dilakukan di 2 (dua) kelas, yaitu di Kelas IV dengan jumlah 30 siswa dan Kelas V dengan jumlah 26 siswa.

2. Waktu Pelaksanaan

Observasi dilaksanakan pada hari Jumat, 25 April 2014, selama satu kali tatap muka pada jam ke 3 dan 4, yakni pada pukul 09.10-10.30. kegiatan ini dilaksanakan pada Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.

B. Metode Pengumpulan Data 1. Metode Observasi

Dalam observasi yang dilaksanakan secara berkelompok ini pada awalnya membatasi ruang lingkup kegiatan observasi pada pengamatan pembelajaran di kelas dengan metode non partisipate obsevation, yang kemudian berkembang menjadi partisipate observation. Non partisipate

observation adalah kegiatan pengamatan, dimana observer berdiri sebagai

‘orang luar’ dalam kegiatan observasi yang dilakukan. Kelompok observer

(16)

Keterlibatan observer dalam kegiatan pembelajaran dilakukan seminimal mungkin agar tidak mempengaruhi arah proses pembelajaran yang mengacu pada teori belajar tententu. Dilihat dari porsi intensi dan eksistensi observer dengan keterlibatan observer secara minimal merupakan kategori surface observation.

Selama melakukan pengamatan, observer berpedoman pada instrumen/kisi-kisi pengamatan yang meliputi kegiatan dari awal merencanakan sampai melakukan evaluasi dan memberikan umpan balik terhadap hasil evaluasi (lampiran 2).

2. Interview/Wawancara

Suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mewawancarai secara langsung atau dengan cara tanya jawab dengan kepala sekolah, beberapa guru kelas, dan beberapa siswa kelas IV dan V mengenai pendapat mereka tentang pembelajaran IPS SD dan beberapa kendala-kendala yang dihadapi ketika proses mengajar belajar di SDN 1 Tanggulangin.

Wawancara yang digunakan termasuk jenis wawancara tidak terstruktur, dimana observer tidak menggunakan pedoman wawancara yang sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

3. Kesulitan dan Hambatan Observasi

(17)

dimiliki dan disusun oleh guru, tetapi merupakan refleksi dari hasil pengamatan yang dilakukan terhadap pembelajaran yang diobservasi.

(18)

BAB IV PEMBAHASAN

A. Hasil Observasi 1. Kurikulum

Secara umum kurikulum yang dipakai disekolah masih menggunakan copy paste dari BNSP sehingga tidak ada pengembangan sama sekali hal ini sangat merugikan sebab indicator yang seharusnya dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah namun pada kenyataanya hal itu tidak dilakukan sehingga kegiatan pembelajaran terkesan memaksakan sehingga hasilnya tidak dapat maksimal.

KTSP merupakan konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah, dalam rangka meningkatkan mutu, dan efisien pendidikan agar dapat memodifikasikan keinginan masyarakat dan menjalin kerja sama yang erat antara sekolah, masyarakat, industry dan pemerintah dalam membentuk pribadi peserta didik. KTSP member peluang kepada Kepala Sekolah, guru dan peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi disekolah berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial yang muncul dari aktivitas, kreativitas, profesionalisme yang dimiliki. Dengan otonomi sekolah diharapkan dapat melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif sehingga sekolah dituntut memiliki tanggung jawab yang tinggi baik kepada orang tua, masyarakat maupun pemerintah. KTSP merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi seperti yang digariskan dalam haluan Negara. Namun pelaksanaan KTSP mata pelajaran IPS yang diberlakukan sejak tahun 2006 menimbulkan berbagai permasalahan di lapangan. Masalah-masalah tersebut adalah: Pelaksanaan Kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdapat beberapa hal yang patut dicermati yaitu :

(19)

kendala dalam pelaksanaan KTSP belum semuanya bisa melaksanaan terkait dengan masalah pemahaman KTSP maupun tenaga kependidikan

yang kurang menguasai hal tersebut. 2. RPP

Belum semua guru dalam melakukan tugas mengajar malakukan persiapan secara maksimal terutama dalam penulisan RPP, sebagian besar masih menggunakan RPP cetakan sehingga ada kejanggalan antara Kurikulum dan RPP yang digunakan kadang tidak sama, kurangnya persiapan dalam mengajar karena belum semua guru menguasai penulisan RPP secara benar. Tuntutan KTSP yang harus memperlihatkan situasi dan kondisi sekolah atau daerah semestinya menjadi bahan dalam materi pelajaran. Hal ini terjadi dikarenakan perumusan indikator dan tujuan belum dirumuskan sendiri oleh guru. Ada kecenderungan, guru-guru membuat indikator mengcopy dari buku teks. Selain itu guru harus bisa membedakan rumusan indikator dan tujuan, sehingga tidak rancu dalam merumuskan silabus dan RPP.

3. Prosespembelajaran

Aktivitas pembelajaran kurang variatif metode yang digunakan rata-rata metode ceramah, diskusi ada kecenderungan bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran hafalan. pemahaman seperti ini berakibat pada pembelajaran yang lebih menekankan pada verbalisme. Guru dalam menerapkan metode pembelajaran lebih menekankan pada metode yang lebih menekankan pada aktivitas guru, bukan pada aktivitas siswa. Perlunya inovasi dan kreatifitas pembelajaran dari guru agar metode pembelajaran yang dilakukan hendaknya yang menuntut berbagai jenjang kemampuan siswa. Jenjang kemampuan siswa yang dituntut tidak hanya pada level yang rendah (menghafal). Berbagai keterampilan berpikir dapat dikembangkan, berpikir kritis, melakukan penelitian atau opserfasi, sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dapat berkembang. 4. Sarana Pembelajaran

(20)

IPS masih sangat minim kalau toh ada tinggkat pemanfaatanya masih relative rendah, guru masih kurang maksimal dalam memanfaatkan alat peraga yang ada, alat peraga sangat penting untuk membantu keberhasilan proses KBM karena dengan adanya sarana pembelajaran yang baik maka pembelajaran IPS dapat melihat realitas kehidupan sehari-hari yang merupakan suatu fenomena social agar pelajaran IPS tidak lagi dipahami sebagai mata pelajaran hafalan. Untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pembelajaran maka sebaiknya guru dapat menggunakan sarana pembelajaran yang ada di lingkungan sekitar. Maka model pembelajaran yang digunakan oleh guru lebih melihat kepada apa yang dapat dilihat langsung oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Model seperti ini dikenal dengan istilah Contextual Teaching Learning (CTL).

B. Deskripsi Pembelajaran IPS di Kelas IV SDN 1 Tanggulangin 1. Perencanaan Pembelajaran

Pada observasi yang saya lakukan di SDN Tanggulangin kelas IV Guru tidak memformulasikan tujuan pembelajarannya dalam RPP yang seharusnya disesuaikan dengan kurikulum/silabus dan memperhatikan karakteristik peserta didik, hal ini saya ketahui ketika saya mencoba menanyakan langsung kepada pengajar kelas empat tersebut dan beliau menjawab “Saya tidak membawa dan tidak mempersiapkan RPP dalam pembelajaran pada setiap harinya”.

Pembelajaran berlangsung dengan sederhana dan apa adanya karena guru tidak menyusun bahan ajar secara runtut, logis, kontekstual dan mutakhir, termasuk cepat lambatnya kemampuan siswapun kurang diperhatikan oleh guru padahal dalam suatu kelas kemampuan siswa pasti berbeda dari satu siswa dengan siswa yang lain.

(21)

Strategi, metode, pendekatan, media yang digunakan dalam proses pembelajaran dikelas tersebut menurut saya kurang efektif dan menarik, guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab kepada siswa dan menggunakan media gambar itupun gambaran yang digambar sendiri oleh guru mata pelajaran tersebut di papantulis. Padahal menurut saya bila pembelajaran yang berlangsung tersebut menggunakan cara pembelajaran yang lebih menarik siswa akan lebih aktif dan tertarik untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung, karena saya melihat siswa merespon pembelajaran dengan baik walaupun dengan strategi, metode, pendekatan, media yang sangat sederhana tersebut.

2. PelaksanaanKegiatan

Pada awal permulaan dimulainya pembelajaran guru tidak melakukan runtutan proses awal pembelajaran seperti apersepsi dan motivasi karena guru dari pembukaan pembelajaran langsung kepembelajaran inti yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.

Kemampuan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran IPS tersebut sudah terlihat baik, karena guru dapat menjelaskan dengan baik kepada siswa, guru dapat menguasai kelas, namun proses pembelajaran tersebut terlihat kaku dan monoton karena siswa hanya dituntut untuk mendengarkan penjelasan guru dan sesekali guru melakukan tanya jawab dengan siswa, tetapi siswa yang aktif dan pintar yang terlihat lebih menonjol dikelas sedangkan siswa yang tidak mengikuti pelajaran dengan baik dibelakang tidak diperhatikan. Guru sebenarnya sudah merespon aktif partisipasi siswa dan sudah menggunakan bahasa tulis dan bahasa lisan yang jelas saat pembelajaran.

a. Metode

(22)

b. Media

Dalam proses kegiatan belajar mengajar guru menggunakan buku paket,buku LKS,dan alat peraga yang digunakan oleh guru masih terbatas dengan menggunakan white

board.

c. PenanamanNilai

Nilai-nilai yang ditanamkan melalui pembelajaran IPS adalah:

1) Keberanian mengeluarkan pendapat/fikiran. 2) Menghargai pendapat orang lain.

3) Kejujuran.

Setiap melakukan proses belajar mengajar, guru selalu memberikan berbagai nilai-nilai moral kepada siswanya walaupun secara tersirat.Dengan adanya penanaman nilai moral yang dilakukan guru, diharapkan siswa dapat menjadi warga negara yang memiliki moral yang baik,berakhlak mulia dan berguna bagi bangsanya.

d. Sikap Guru dalam Penyampaian Materi

(23)

e. Kesulitan dalam Menyampaikan Materi IPS

Dari wawancara yang kami lakukan,banyak guru kelas yang merasa kesulitan dalam mengajar materi IPS karena ada beberapa faktor,misalnya:

1) Kurangnya buku paket IPS dan alat pendukung pembelajaran.

2) Sering berubahnya materi IPS sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

3) Mencari metode pengajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak mudah bosan pada saat berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar IPS.

4) Guru belum begitu menguasai pembuatan RPP. f. Buku Ajar

Guru menggunakan buku ajar yang sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku (KTSP). Guru menggunakan buku paket BSE yang berjudul Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IV. Buku tersebut didapat dari bantuan BOS sekolah. Setiap proses belajar mengajar, siswa mendapat buku paket setiap dua orang siswa mendapat satu buku, tapi buku paket tersebut harus dikembalikan setelah pelajaran selesai. Selain itu, guru memiliki buku pendukung seperti LKS. Guru menganjurkan setiap siswa memiliki LKS tersebut. Dalam pengamatan observer selama kegiatan KBM pembelajaran berjalan lancar, namun terkesan monoton hal ini disebabnkan inovasi dan kreativitas guru kurang berkembang ini dampak dari penggunaan RPP yang bukan buatan sendiri sehingga alur pembelajaran menjadi kurang berkembang.

g. Sarana Pembelajaran

(24)

sebagai sarana penunjang keberhasilan KBM kurang difungsikan dengan baik.

3. KegiatanPenutup

Pada kegiatan penutup guru memberikan tugas rumah kepada siswa dan telah memberikan arahan kegiatan tugas sebagi tidak lanjut dari pembejalaran setelah sebelumnya guru membahas materi secara bersama-sama dengan siswa-siswi yang ada dikelas.

C. Deskripsi Pembelajaran IPS di Kelas V SDN 1 Tanggulangin 1. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pendidikan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain.

Dalam konteks pembelajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan atau metode pengajaran, dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa satu semester yang akan datang untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

2. Proses Pembelajaran a. Pengantar/Pembukaan

(25)

Memulai pelajaran pada hari itu benar-benar sangat kacau. Sehingga ketika memasuki pelajaran baru yaitu “Proklamasi kemerdekaan Indonesia”. Mendengarnya kita pasti langsung tahu kalau itu adalah pelajaran yang berhubungan dengan Sejarah. Namun yang kami heran adalah yang dibahas selama 3 jam pelajaran IPS itu adalah mengenai tokoh-tokoh sejarah agama Budha. Kelompok kami mewawancarai 8 dari 26 anak di kelas. Waktu itu kami ingin menanyakan mengenai apakah mereka telah mempelajari tokoh-tokoh agama Hindu di pertemuan sebelumnya, namun mereka secara lantang mereka menjawab tidak pernah, pantas saja sejak awal ibu guru mereka tidak memancing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan Sejarah yang berkaitan.

Sampailah kita pada saat ibu guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada saat itu tujuan pembelajarannya adalah “menceritakan proklamasi kemerdekaan Indonesia”. Pembelajaran dimulai dengan berbagai pembahasan materi.

b. Situasi dan Kondisi Kelas

Situasi dan kondisi pada saat itu kurang lebih kurang baik. Karena hari Jumat, paginya ada senam bersama. Sebagian anak agak terlihat sedikit lelah. Belum lagi pembelajaran IPS yang bagi sebagian anak memang agak membosankan. IPS dinilai tidak lagi menjadi pelajaran yang menyenangkan. Karena terkesan monoton dan hanya semata-mata hafalan, padahal perlu juga memahaminya.

c. Kegiatan Inti

1) Membaca dalam hati.

(26)

2) Model dan Metode Pembelajaran yang digunakan

Model pembelajaran yang digunakan adalah model perseorangan. Hal ini sangat bertentangan dengan yang tertulis di RPP yaitu model pembelajaran cooperative learning dan diskusi kelompok, karena sama sekali tidak terlihat seperti itu. Metode pembelajaran juga bukan diskusi kelompok melainkan hanya menceritakan kembali setelah membaca dalam hati.

3) Proses Penguatan

Proses ini sangat erat kaitannya dengan model dan metode pembelajaran. Proses pembelajaran berlangsung cukup baik walaupun masih banyak kekurangan disana-sini. Banyak anak-anak yang masih merasa malu dan takut untuk menceritakan kembali tokoh-tokoh sejarah diatas karena mungkin tidak mengusai materi dan guru tidak segera mengadakan sesi tanya-jawab lisan, sehingga mungkin sedikit sekali pengetahuan yang terserap oleh anak.

Adapun beberapa anak yang maju ke depan dan bersedia menceritakan kembali, rata-rata bersuara sangat kecil, mungkin takut salah atau ada apalah. Maka saat itu bagi guru untuk melakukan PENGUATAN, baik secara verbal maupun nonverbal. Bisa berupa pujian atau sentuhan dan hadiah.

d. Penutup

Untuk menutup pelajaran, guru mengadakan tanya jawab kembali tentang soal-soal evaluasi yang telah diujikan serta memeriksanya. Guru memberikan satu persatu pertanyaan secara lisan, kemudian sebagai umpan balik, anak-anak menjawab secara serentak. Permasalahnya adalah guru tidak menunjuk secara spesifik siapa anak yang akan menjawab pertanyaan yang diberikan.

3. Evaluasi

(27)

“menceritakan proklamasi kemerdekaan Indonesia” karena tahap ini sebenarnya yang ditonjolkan adalah keterampilan bercerita itu sendiri. Pada tahap ini juga apabila memang sesuai dengan RPP seharusnya membahas hasil diskusi bersama-sama. Namun ternyata tidak begitu adanya. Bahkan banyak anak yang sepertinya belum terlalu mengerti.

D. Solusi yang Ditawarkan

1. Merencanakan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran meliputi rumusan tentang apa yang akan dilakukan dalam memfasilsitasi kegiatan belajar peserta didik, dan bagaimana melakukannya, serta apa yang dapat diperoleh dan diserap peserta didik setelah menyelesaikan pembelajaran. Perencanaan sangat penting artinya bagi guru, sebab tanpa perencanaan yang baik, bukan hanya peserta didik yang tidak terarah dalam kegiatan belajarnya, tetapi guru juga tidak akan dapat mengontrol kegiatan pembelajaran yang dikembangkannya.

Unsur-unsur yang sangat penting masuk dalam perencanaan pembelajaran adalah apa yang akan diajarkan, bagaimana mengajarkannya, dan bagaimana mengevaluasi hasil belajarnya. Pertanyaan apa yang akan diajarkan menyangkut berbagai kompetensi yang harus dicapai, indikator-indikatorkompetensinya, serta materi bahan ajar yang akan disampaikan untuk mencapai kompetensi tersebut. Kemudian pertanyaan bagaiamana mengajarkannya, harus dijawab dalam perencanaan pembelajaran tersebut dengan berbagai strategi yang akan dikembangkan dalam proses pembelajaran, termasuk pengembangan berbagai aktivitas opsional bagi peserta didik yang menyelesaikan tugas lebih cepat dari waktu rata-rata yang diperlukan. Sedangkan pertanyaan bagaimana mengevaluasi hasil belajar, dijawab dengan merancang evaluasi untuk mengukur daya serap peserta didik terhadap materi yang mereka pelajari dalam pembelajaran.

(28)

Pembelajaran efektif ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik secara aktif dan interaktif. Pembelajaran bukan sekedar mengingat dan recall, bukan pula sekedar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan, tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktikkan dalam kehidupan oleh peserta didik.

Perencanaan pembelajaran yang baik tidak dengan sendirinya menjadikan pembelajaran efektif karena ditentukan pula oleh berbagai faktor yang saling berpengaruh satu sama lain. Meskipun demikian, pembelajaran efektif tidak akan pernah terwujud tanpa rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik. Oleh karena itu, sebagai guru yang profesional wajib membuat dan mengembangkan RPP dengan baik, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta wajib pula mempedomaninya dalam pembelajaran. Hal ini perlu ditekankan karena banyak guru yang membuat RPP hanya untuk kepentingan administratif, dan tidak dijadikan pedoman dalam pembelajaran sehingga tidak memberikan dampak bagi peserta didik.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru agar pembelajaran dapat dilakukan secara efektif, yaitu:

a. Memulai Pembelajaran

Memulai pembelajaran merupakan kegiatan awal yang harus dilakukan guru sebelum melakukan pembelajaran yang sebenarnya. Memulai pembelajaran merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal agar mereka memusatkan diri sepenuhnya untuk belajar.

(29)

1) Pembinaan Keakraban

Pembinaan keakraban merupakan upaya yang harus dilakukan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mempersiapkan peserta didik memasuki proses pembelajaran. Suasana yang akrab akan menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru dengan peserta didik, dan antara peserta dengan peserta didik. Dalam pembinaan keakraban ini sebaiknya guru memperhatikan perbedaan individual dan karakteristik peserta didik. 2) Pre-test (Tes Awal)

Setelah pembinaan keakraban, kegiatan dilanjutkan dengan tes awal. Tes awal adalah tes yang dilaksankan sebelum kegiatan pembelajaran dan pembentukkan kompetensi dimulai, sebagai penelaahan terhadap kemampuan peserta didik terhadap pembelajaran yang akan dilaksankan.

b. Membentuk Kompetensi dan Karakter

Membentuk kompetensi dan karakter peserta didik merupakan kegiatan inti pembelajaran, antara lain mencakup penyampaian informasi tentang materi pokok serta melakukan tukar pengalaman dan pendapat dalam memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Pembentukan kompetensi dan karakter dikatakan efektif jika seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya.

(30)

tanggung jawabnya mencakup keterlibatan mereka dalam membina dan mengembangkan kegiatan belajar yang telah disepakati dan ditetapkan bersama dengan guru.

Membentuk kompetensi dan karakter peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut.

1) Doronglah peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian, dan kompetensi yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari;

2) Praktikkan pembelajaran secara langsung agar peserta didik dapat membangun kompetensi dan karakter baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari;

3) Gunakan metodologi yang paling tepat agar yerjadi perubahan kompetensi dan karakter peserta didik. 3. Hal-hal Lain yang Harus Dilakukan.

Melengkapi uraian diatas, sedikitnya terdapat lima hal yang harus diperhatika guru dalam pembelajaran agar mencapai hasil yang efektif dan efisien, yaitu sebagai berikut.

a. Membangkitkan Motivasi

Cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik, antara lain dengan membangkitkan rasa ingin tahu dan memperhatikan minat belajar peserta didik.

(31)

Oleh sebab itu, guru harus mengetahui teori-teori komunikasi yang efektif agar dapat menyampaikan materi dengan baik dan efektif kepada peserta didikdalam rangka mencapai tujuan.

c. Mendisiplinkan Peserta Didik

Dalam pembelajaran, mendisiplinkan peserta didik harus dilakukan dengan kasih sayang dan harus ditujukan untuk membantu mereka menemukan jati diri, mengatasi, mencegah timbulnya masalah disiplin, dan berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran, sehingga mereka menaati segala peraturan yang telah ditetapkan. Dalam rangka mendisiplinkan peserta didik guru harus mampu menjadi pembimbing, contoh atau teladan, pengawas, dan pengendali seluruh perilaku peserta didik.

Sebagai pembimbing, guru harus berupaya untuk membimbing untuk mengarahkan perilaku peserta didik ke arah yang positif dan menunjang pembelajaran. Sebagai contoh atau teladan, guru harus memperlihatkan perilaku disiplin yng baik kepada peserta didik. Sebagai pengawas, guru harus senatiasa mengawasi seluruh perilaku peserta didik, terutama pada saat jam efektif sekolah, sehingga jika terdapat pelanggaran dapat langsung diatasi. Sebagai pengendali, guru harus mampu mengendalikan seluruh perilaku peserta didik di sekolah. Dalam hal ini guru harus mampu secara efektif menggunakan alat pendidikan secara tepat waktu dan tepat sasaran, baik dalam memberikan hadiah maupun hukuman bagi peserta didik.

d. Mengembangkan Strategi Pembelajaran yang Efektif

(32)

harus dilatih berpikir kritis dan kreatif dengan strategi pembelajaran yang mendukung kreativitas peserta didik.

e. Mengembangkan Manajemen Kelas yang Kondusif

Manajemen kelas yang kondusif meruapakan keterampilan yang harus dimiliki guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajara. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam manajemen kelas adalah kehangatan dan keantusiasan, tantangan, bervariasi, luwes, penekanan pada hal-hal positif, dan penanaman disiplin diri. Dalam pada itu, guru juga harus mampu menjaga dan mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan kelas oleh peserta didik sendiri.

Manajemen kelas jika dilakukan secara efektif dapat memberikan hasil yang memuaskan, bahkan dapat mengurangi berbagai permasalahan yang sering dihadapi oleh peserta didik. 4. Bagaimana Mengakhiri Pembelajaran?

Dalam mengakhiri pembelajaran, guru harus berupaya untuk mengetahui pembentukan kompetensi dan pencapaian tujuan pembalajaran, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari, sekaligus menutup seluruh kegiatan pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut, guru dapat melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

a. Menarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari. b. Mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat

pencapaian tujuan dan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksankan.

c. Menyampaikan bahan-bahan pendalaman yang harus dipelajari dan tugas-tugas yang harus dikerjakan sesuai dengan pokok bahasan yang telah dipelajari.

(33)

Dalam mengakhiri pembelajaran, sedikitnya ada dua hal yang tidak boleh dilupakan guru yakni melakukan evaluasi hasil belajar serta memberi umpan balik dan penguatan.

a. Melakukan Evaluasi Hasil Belajar

Evaluasi hasil belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi yang terpenting adalah memanfaatkan hasilnya untuk memperbaiki dan menyempurnakan pembelajaran. Sistem evaluasi harus memberikan umpan balik kepada guru untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan setiap peserta didik. Oleh karena itu, fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan.

Instrumen evaluasi hasil belajar yang dikembangkan harus mencakup kepribadian peserta didik secara utuh yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan demikian, standar tes harus diorientasikan pada indikator kompetensi yang hendak dicapai dari proses pembelajaran yang mengarah kepada ketiga ranah tersebut. Meskipun terkadang instrumen tes hanya terbatas untuk indikator kognitif, untuk melakukan evaluasi pada aspek yang lain dapat menggunakan instrumen non-tes, seperti skala sikap, dan portofolio.

b. Memberi Umpan Balik dan Penguatan

Umpan balik (feedback) dab penguatan (reinforcement) merupakan respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Umpan balik dan penguatan dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal dengan prinsip kehangatan, keantusiasan, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respon yang negatif.

(34)

merangsang dan meningkatkan motivasi belajar; (3) me-ningkatkan kegiatan belajar, dan (4) membina perilaku yang produktif. Umpan balik dan penguatan dapat ditujuka kepada pribadi atau kelompok tertentu, dan kepada kelas secara keseluruhan yang pada pelaksanaannya harus dilakukan dengan segera dan bervariasi.

5. Tambahan

(35)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi dan deskripsi proses pembelajaran IPS di SDN 1 Tanggulangin Kelas IV dan V dapat disimpulan bahwa guru belum sepenuhnya menguasai teori-teori di dalam pembelajaran, apalagi menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar. Guru cenderung masih menggunakan cara lama untuk menyajikan materi pembelajaran kepada peserta didik, seperti belum ada perencanaan yang matang, dalam hal ini tidak semua guru menyiapkan RPP, metode yang digunankan belum bervariasi, masih terpaku pada ceramah dan tanya jawab, guru juga belum sepenuhnya melakukan sintak atau langkah-langkah model pembelajaran yang digunakan, serta belum ada pengembangan alat penilaian, dikarenakan evaluasi yang digunakan cenderung masih pada indikator ranah kognitif.

Namun, dari segi penguasaan materi, guru terlihat sangat menguasai materi pelajaran. Hal ini dikarenakan guru sudah berkali-kali menyampaikan materi tersebut kepada peserta didik di tahun-tahun pelajaran sebelumnya. Sisi lain yang dapat diamati adalah kemampuan menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak). Hal ini memudahkan peserta didik untuk mengembangkan arah kognitifnya untuk memahami sebuah pengertian mengenai pokok pembahasan hingga dapat dipahami konsep yang terdapat dalam pokok bahasan yang disampaikan untuk mencapai pada kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

Guru yang sudah menyiapkan RPP pun tidak secara penuh mengikuti atau berpedoman pada RPP tersebut, dapat dikatakan bahwa guru membuat RPP hanya untuk kepentingan administratif.Guru juga belum memanfatkan berbagai hasil penilaian untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik tentang kemajuan belajarnya dan bahan penyusunan rancangan pembelajaran selanjutnya.

(36)

Kenyataan bahwa pemahaman mengenai teori pembelajaran di kalangan peserta didik memang masih menjadi hal yang belum umum dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah-sekolah, tidak berarti bahwa selama ini praktek pembelajaran tidak tercakup dalam teori pembelajaran. Sebenarnya pendidik telah mengaplikasikan teori-teori tersebut dalam pembelajaran yang diampunya.

B. Implikasi

Pelaksanaan observasi tersebut telah menambah wawasan kelompok

observer mengenai pelaksanaan pembelajaran IPS di SD terkait dengan

aplikasi teori pembelajaran. Penyusunan laporan observasi ini diharapkan mampu memberikan pengaruh positif bagi banyak pihak. Selain itu diharapkan pula agar pendidik menunjukkan performa yang mantap dan penyelenggaraan pembelajaran yang optimal agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Optimalisasi dalam persiapan hingga penilaian pembelajaran harus direncanakan terlebih dahulu, sehingga pembelajaran yang dilakukan memiliki arahan dan pedoman yang jelas. Mempelajari teori pembelajaran tidak cukup dengan menguasai konsep-konsepnya saja secara teoritis, tetapi praktek untuk mengaplikasikan teori belajar dalam pembelajaran yang diampu, akan memberikan pengaruh positif dalam pelaksanaan pembelajaran.

C. Saran

Setiap pendidik agar senantiasa melakukan personal quality control

(37)

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung, 1990.

Makmun, Abin Syamsuddin. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja, 2003.

Mulyasa, E. Uji kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013.

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.

Tim Lapis PGMI. Perencanaan Pembelajaran. Surabaya: Amanah Pustaka, 2009.

(38)

Lampiran 1

PROFIL SEKOLAH

1. Nama Sekolah : SDN 1 Tanggulangin 2. Nomor Pokok Sekolah Nasional : 10802681

3. Nomor Stratistik Sekolah : 10 11 20 20 82 43 4. Nomor Regristasi : 120 8060 243

5. NPWP : 00484 460 1321 000

6. Propinsi : LAMPUNG

7. Kabupaten : Lampung Tengah

8. Kecamatan : Punggur

9. Desa/Kelurahan : Tanggulangin 10. Nama Kepala Sekolah : Drs. Giyono

11. NIP : 196308181984031006

12. Jalan : Jln. Majapahit No. 13

13. Kode Pos : 34152

14. Daerah Perkotaan Pedesaan

15. Status Sekolah Negeri Swasta

16. Kelompok Sekolah Inti Model Imbas

Terbuka

17. Akreditasi : B

18. Kegiatan Belajar Mengajar Pagi Siang Pagi & Siang 19. Bangunan Sekolah Milik Sendiri Bukan milik

sendiri 20. Luas Bangunan : 260 M2

21. Jumlah siswa : 308

(39)

Lampiran 2

INSTRUMEN OBSERVASI

NO INDIKATOR FOKUS PENGAMATAN

I PERENCANAAN PEMBELAJARAN 1. Guru memformulasikan

tujuan pembelajaran dalam RPP sesuai dengan

kurikulum/silabus dan memperhatikan karakteristik peserta didik.

a. Tujuan pembelajaran dirumuskan dan dikembangkan berdasarkan SK/KD yang akan dicapai.

b. Tujuan pembelajaran memuat gambaran proses dan hasil belajar yang dapat dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajarnya c. Tujuan pembelajaran disesuaikan dengan

kebutuhan belajar peserta didik 2. Guru menyusun bahan ajar

secara runut, logis, kontekstual dan mutakhir.

a. Bahan ajar disusun dari yang sederhana ke kompleks, mudah ke sulit dan/atau konkrit ke abstrak sesuai dengan tujuan pembelajaran b. Keluasan dan kedalaman bahan ajar disusun

dengan memperhatikan potensi peserta didik (termasuk yang cepat dan lambat,motivasi tinggi dan rendah)

c. Bahan ajar dirancang sesuai dengan konteks kehidupan dan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi.

d. Bahan ajar dirancang dengan menggunakan sumber yang bervariasi (tidak hanya buku pegangan peserta didik)

3. Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang efektif

a. Strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai /kompetensi harus dikuasai peserta didik.

b. Strategi dan metode pembelajaran yang dipilih dapat memudahkan pemahaman peserta didik c. Strategi dan metode pembelajaran yang dipilih

sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik.

d. Setiap tahapan pembelajaran diberi alokasi waktu secara proporsional dengan

memperhatikan tingkat kompleksitas materi dan/atau kebutuhan belajar peserta didik. 4. Guru memilih sumber belajar/

media pembelajaran sesuai dengan materi dan strategi pembelajaran.

a. Sumber belajar/media pembelajaran yang dipilih dapat dipakai untuk mencapai tujuan

pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai (misalnya buku, modul untuk kompetensi kognitif; media audio visual, Komputer untuk kompetensi keterampilan). b. Sumber belajar/media pembelajaran termasuk

TIK yang dipilih dapat memudahkan

pemahaman peserta didik (misalnya lidi/sempoa digunakan untuk operasi hitung matematika, lampu senter, globe, dan bola untuk

mengilustrasikan proses terjadinya gerhana). II PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG AKTIF DAN

EFEKTIF

(40)

5. Guru memulai pembelajaran dengan efektif

a. Melakukan apersepsi

b. Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dalam rencana kegiatan

B. Kegiatan Inti

6. Guru menguasai materi pelajaran

a. Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran.

b. Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan, perkembangan Iptek, dan kehidupan nyata.

c. Tingkat ketepatan pembahasan dengan materi pembelajaran.

d. Kemampuan menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak)

7. Guru menerapkan

pendekatan/strategi/ model pembelajaran yang efektif

a. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai

b. Melaksanakan pembelajaran secara runtut c. Menguasai kelas

d. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual

e. Melaksanakan pembelajaran yang

memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect)

f. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan

8. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran

a. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar/media pembelajaran

b. Menghasilkan pesan yang menarik c. Melibatkan siswa dalam pembuatan dan

pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 9. Guru memicu dan/atau

memelihara keterlibatan siswa dalam pembelajaran

a. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa melalui interaksi guru, siswa, sumber belajar

b. Merespon positif partisipasi siswa

c. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons siswa

d. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif

e. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme siswa dalam belajar

10. Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran

a. Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar

b. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar c. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai C. Kegiatan Penutup

11. Guru mengakhiri

pembelajaran dengan efektif

a. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa

b. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan

III PENILAIAN PEMBELAJARAN 12. Guru merancang alat evaluasi

untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan belajar peserta didik

a. Kesesuaian teknik dan jenis penilaian (tes lisan, tes tertulis, tes perbuatan) sesuai dengan tujuan pembelajaran.

(41)

minimal 1 kali per semester.

d. Hasil analisis penilaian sebelumnya (UH, UAS, UN) digunakan untuk keperluan program perbaikan (remedial, pengayaan, dan/atau menyempurnakan rancangan dan/atau pelaksanaan pembelajaran)

13. Guru menggunakan berbagai strategi dan metode penilaian untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik dalam mencapai kompetensi tertentu sebagaimana yang tertulis dalam RPP.

a. Menggunakan teknik penilaian otentik (kuis, pertanyaan lisan, pemberian tugas, dsb.) untuk memantau kemajuan belajar peserta didik. b. Menggunakan teknik penilaian (ulangan harian,

tengah semester, dan ulangan semester) disusun untuk mengukur hasil belajar peserta didik dalam aspek kognitif, afektif dan/atau psikomotor.

c. Menerapkan penilaian portofolio dalam bentuk berbagai tugas terstruktur

d. Menggunakan alat penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi ajar

sebagaimana disusun dalam RPP. 14. Guru memanfatkan berbagai

hasil penilaian untuk

memberikan umpan balik bagi peserta didik tentang

kemajuan belajarnya dan bahan penyusunan rancangan pembelajaran selanjutnya

a. Menggunakan hasil analisis penilaian untuk mengidentifikasi topik/kompetensi dasar yang mudah, sedang dan sulit sehingga diketahui kekuatan dan kelemahan masing-masing peserta didik untuk keperluan remedial dan pengayaan. b. Menggunakan hasil penilaian untuk

menyempurnakan rancangan dan/atau pelaksanaan pembelajaran

c. Melaporkan kemajuan dan hasil belajar peserta didik kepada orang tua, teman guru dan bagi peserta didik sebagai refleksi belajarnya. d. Memanfaatkan hasil penilaian secara efektif

(42)

Lampiran 3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )

Sekolah : SDN 1 Tanggulangin

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas I Semester : V/II

Alokasi Waktu : 9 x 35 menit

Pert. 1214 (3 minggu)

I. Standar Kompetensi

2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

II. Kompetensi Dasar

2.3 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia

III.TujuanPembelajaran**Siswa dapat

Menghargaijasadanperanantokohperjuangandalammemproklamasikankem erdekaan Indonesia

Karaktersiswa yang diharapkan : Disiplin ( Discipline ), Rasa hormat

dan perhatian (respect), Tekun (

diligence ) , Jujur ( fairnes ) dan

Ketelitian ( carefulness) IV. Materi Pokok

Proklamasi kemerdekaan Indonesia

V. Langkah-LangkahPembelajaran (Pertemuan12–14)Pendahuluan

- Mengajak siswa bertanya jawab tentang tokoh atau pahlawan yang ada pada gambar

(43)

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

Siswa dapat Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam

memproklamasikan kemerdekaan Indonesia

melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan

pembelajaran; dan

memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium,

studio, atau lapangan.

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

Menyebutkan tokoh-tokoh dalammemproklamasikan kemerdekaanMenugaskan siswa secara berkelompok untuk mengidentifikasi dua

tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan

Menceritakan jasa dan peranan tokoh dalam dalam

memprokiamasikan kemerdekaan

Mengajak siswa mencari jasa dan peranan tokoh dalam

memproklamasikan kemerdekaan

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswaGuru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan

pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan  Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

Menyimpulkan materiMemberi motivasi

Mengadakan uji kompetensi

VI. Alat Dan Sumber Bahan

Alat : Gambar

Sumber : Buku IPS kelas V

(44)

VII. Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Teknik Penilaian Bentuk

Instrumen Instrumen/ Soal

Menyebutkan

tokoh dalam memproklamasika n kemerdekaan

Menceritakan jasa

dan peranan tokoh dalam

memprokmasikan kemerdekaan

Tertulis Jawab Singkat

Sebutkan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan

Kriteria Penilaian

PRODUK(HASIL DISKUSI)

No. Aspek Kriteria Skor

1. Konsep * semua benar

* sebagian besar benar * sebagian kecil benar * semua salah

4 3 2 1

PERFORMANSI

No. Aspek Kriteria Skor

1.

2.

Pengetahuan

Sikap

* Pengetahuan

* kadang-kadang Pengetahuan * tidak Pengetahuan

* Sikap

* kadang-kadang Sikap * tidak Sikap

4 2 1 4 2 1

Kepala SDN 1 Tanggulangin

DRS. GIYONO NIP. 196308181984031006

Guru Mata Pelajaran IPS

(45)

Lampiran 4

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )

Sekolah :

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas I Semester : IV/II

Alokasi Waktu :

I. Standar Kompetensi

2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten I kota dan provinsi

II. Kompetensi Dasar

Mengenal perkembangan teknologi produksi komunikasi dan transportasi serta pengalaman menggunakannya

III.TujuanPembelajaran**

Siswa dapat Mengenal perkembangan teknologi produksi komunikasi dan

transportasi serta pengalaman menggunakannya

IV. Materi Pokok

ð Perkembangan teknologi produksi komunikasi dan transportasi

V. Kegiatan Pembelajaran (Pertemuan 9 - 13) Pertemuan 1 s/d 3

Kegiatan awal

- Mengamati gambar bermacam-macam teknologi produksi  Kegiatan inti

ð Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

(46)

 Membandingkan/membedakan jenis-jenisnya

 Menunjukkan peralatannya

 Menyebutkan macam-macamnya

 Menceritakannya di depan kelas atau kelompoknya

 Menggunakan teknologi tersebut secara sederhana

 Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

 Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

 Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

 Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

 Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;

 Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

 Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

 Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

 Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;

 Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

(47)

 Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan

Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

Membuat simpulan tentang teknologi produksi masa lalu dan masa kini VI. Alat dan Sumber Bahan

 Alat Peraga : Gambar bermacam-macam teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi

 Sumber : Buku IPS kelas IV

Buku tentang teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi

VII. Penilaian

Indikator Pencapaian Kompetensi

Teknik

Penilaian Bentuk Instrumen/ Soal

 Membandingkan/membedakan jenis teknologi produksi pada masa lalu dan masa sekarang

 Menunjukkan peralatan teknologi produksi masa lalu dan sekarang

 Menyebutkan macam-macam alat produksi masa lalu dan masa kini

 Menceritakan pengalaman menggunakan alat produksi lalu dan sekarang

 Cara menggunakan secara sederhana teknologi produksi masa lalu dan masa kini

 Membandingkan/membedakan jenis teknologi komunikasi pada masa lalu dan masa sekarang

 Menunjukkan peralatan teknologi komunikasi masa lalu dan sekarang

Tertulis uraian Jawaban singkat - Jelaskan, membandingkan, mengelompokkan , menunjukkan, membedakan dan menggunakan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi - Membuat kerupuk dengan tangan termasuk teknologi .... - Telepon yang

tidak

menggunakan kabel disebut telepon .... - Mobil, keretaapi,

Referensi

Dokumen terkait

Melihat hasil belajar (nilai ulangan harian) siswa pada pembelajaran Matematika khususnya tentang materi menentukan jaring-jaring balok dan kubus di kelas IV SDN

Penelitian ini Bertujuan untuk menghasilkan produk buku ajar IPS berbasis budaya lokal yang valid dengan tuntutan kurikulum maupun konteks lokal dan

Saya melihat beberapa staf tata usaha diberikan tugas untuk mengatur buku induk siswa agar nampak terlihat berapa yang lulus dan berapa siswa yang tidak dapat

Itu berarti skor ketuntasan siswa kelas IV hanya 34,5% dari batas minimal ketuntasan rata-rata kelas, yaitu 75% sedangkan sesudah diterapkan model Inkuiri Sosial menunjukkan

Pemanfaatan sumber belajar yang tersedia disekolah seperti buku cetak jarang digunakan oleh siswa dikarenakan selama pandemi covid-19 siswa hanya belajar dari rumah dan

Saya melihat beberapa staf tata usaha diberikan tugas untuk mengatur buku induk siswa agar nampak terlihat berapa yang lulus dan berapa siswa yang tidak dapat

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “Analisis Kesulitan dalam Mata Pelajaran IPS pada Peserta Didik Kelas IV Semester Gasal di SD Negeri Soropadan Tahun

Jurnal Pendidikan Tambusai 9436 Analisis Materi Pembelajaran IPS pada Buku Ajar Tematik Terbitan Kemendikbud di SD Kelas 1 Tema 3 Regita Puspitasari1, Tsana Nur Faridah2, Tin