OBSERVASI KAPASITAS PARU PEROKOK DAN BUKAN PEROKOK DI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
Alisia Margaretha Ayakeding Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Satya Wacanaa [email protected]
Abstrak
Pengujian spirometri dapat dilakukan untuk mengetahui kapasitas paru seseorang, menentukan kekuatan fungsi dada dan mendeteksi berbagai penyakit saluran pernapasan. Pada saluran napas besar, merokok dapat menyebabkan bertambahnya mukosa. Sedangkan pada saluran napas kecil, merokok dapat menyebabkan radang ringan hingga penyempitan. Pemeriksaan auskultasi dapat mengetahui adanya sekret pada saluran napas apabila terdengar suara ronki pada saat pemeriksaan menggunakan stetoskop. Kebiasaan berolahraga dan melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat meningkatkan kapasitas pernapasan. Hal ini dikarenakan olahraga dapat mengatur berat badan, menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah, serta membantu sistem metabolisme tubuh sehingga dapat menjaga kebugaran paru.
Kata kunci: spirometri, auskultasi
PENDAHULUAN
Uji faal paru adalah pengujian fungsi paru seseorang yang berada dalam keadaan normal atau abnormal. Sejumlah gangguan dapat menyebabkan perubahan yang berbahaya di paru-paru dan saluran pernapasan. Pengujian spirometri penting untuk mendetaksi beberapa kelainan yang berhubungan dengan gangguan pernapasan. Spirometri merupakan alat skrining untuk penyakit paru dan paling sering digunakan untuk menguji fungsi paru serta mendeteksi kelainan pada saluran pernapasan. Indikasi lain penggunaan spirometri adalah untuk menentukan kekuatan dan fungsi dada, mendeteksi berbagai penyakit saluran pernapasan terutama akibat pencemaran lingkungan dan asap rokok. (Lakshman, 2012, hal. 2)
Pemeriksaan diagnosis yang digunakan untuk mendeteksi penyakit paru dapat diklasifikasikan ke dalam dua ketegori, yaitu metode morfologis, seperti pemeriksaan radiologi, bronkoskopi, serta pemeriksaan biopsi dan sputum (dahak); dan metode fisiologis, yaitu dengan melakukan pengukuran gas darah dan tes-tes fungsi ventilasi. (Somantri, 2007, hal. 17)
berbeda dengan volume cadangan ekspirasi yang merupakan jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi normal yang besarnya ±1100 ml. Volume residu, yakni volume udara yang masih tetap berada di dalam paru-paru setelah ekspirasi kuat, besarnya ±1200 ml. (Rifa’i dkk, 2013, hal. 5)
Gangguan ventilasi terdiri dari gangguan retriksi, yaitu gangguan pengembangan paru serta gangguan obstruksi berupa perlambatan aliran udara di saluran pernapasan. Parameter yang sering digunakan untuk melihat gangguan retriksi adalah kapasitas vital paru, sedangkan untuk gangguan obstruksi digunakan parameter volume ekspirasi paksa detik pertama dan rasio volume ekspirasi paksa detik pertama terhadap kapasitas paksa. (Rahmawati, 2013, hal.3)
Merokok adalah salah satu kegiatan yang mempengaruhi fungsi paru seseorang. Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi paru serta saluran pernapasan. Pada saluran napass besar terjadi pembesaran sel mukosa (hipertrofili) dan kelenjar mukus bertambah banyak. Pada saluran napas kecil terjadi peradangan ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya penumpukan lendir. (Leinelejan, 2012, hal.12)
Rokok yang dihisap oleh seorang perokok akan mengeluarkan asam yang sama sekali tidak enak baunya untuk dihirup oleh perokok. Hal tersebut dikarenakan asap rokok mengandung bahan-bahan aktif berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan. Asap yang dihembuskan perokok terbagi atas asap utama dan asap samping. Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok sedangkan asam samping adalah asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas yang akan dihirup oleh orang lain. (Irwansyah dkk, 2007, hal. 146)
Kebiasaan olahraga merupakan latihan fisik teratur yang meningkatkan kemampuan kapasitas pernapasan. Olahraga bermanfaat bermanfaat dalam mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah serta membantu sistem metabolisme tubuh sehingga aktivitas olahraga yang teratur dapat menjaga kebugaran paru dan mencegah berbagai macam penyakit. (Leinelejan, 2012, hal.12)
intensitas yang lebih keras, durasinya lebih panjang dan nadanya lebih tinggi dari suara inspirasi. Suara napas bronkovesikluler merupakan campuran antara suara napas vesikuler dan bronkial yang ditandai dengan ekspirasi lebih keras, lebih lama dan nadanya lebih tinggi dari inspirasi.
Suara napas tambahan diantaranya adalah ronki yang dihasilkan oleh aliran udara melalui saluran napas yang berisi sekret, Pleural Friction atau adanya bunyi pergeseran antara pleura parietal dan viseral, The Whispered voice yang didapat dalam keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan napas, Bronkoponi yang apabila didengarkan pada dinding torak akan terdengar kurang keras dan tidak jelas, serta Eugoponi yang merupakan suara bronkoponi yang terdengar di nasal atau hidung. (Medison dkk, 2012, hal. 10)
METODE
Pemeriksaan dilakukan pada hari Kamis, 20 Oktober 2015 bertempat di kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Pemeriksaan spirometri dilakukan dengan dicari probandus bukan perokok dan perokok yang bersedia untuk melakukan tes dengan spirometer. Probandus disiapkan dengan posisi yang nyaman serta baju yang longgar. Dipasangkan penjepit hidung dan probandus diminta menarik napas secara maksimal. Mouthpiece dimasukkan ke dalam mulut probandus dan kedua bibir dirapatkan, selanjutnya napas dihembuskan secepat dan sekuat mungkin pada spirometer. Kegiatan tersebut diulangi 3 kali untuk mendapatkan hasil yang aktual dan hasil dicatat pada laporan sementara. Perbedaan kapasitas paru perokok dan bukan perokok diidentifikasi.
Pemeriksaan auskultasi dilakukan dengan menyiapkan probandus yang digunakan dalam pemeriksaan spirometer dan dilakukan pemeriksaan auskultasi suara napas saat inspirasi dan ekspirasi dengan menggunakan stetoskop, selanjutnya suara napas ditentukan. Jika terdapat suara napas yang tidak normal, dipastikan letak stetoskop pada bagian dada mana sesuai konsep suara napas abnormal, selanjutnya hasil dicatat pada laporan sementara. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1.0. Hasil No
.
Nama Probandus Kapasitas Paru (cc)
Bunyi Napas Keterangan
1 Hendra 1. 1800
2. 1900 3. 1200 Rata-rata= 1633
2 Thomas 1. 1800 2. 2000 3. 1800 Rata-rata= 1600
Vesikuler Probandus perokok 3 batang per hari dan rajin berolahraga
Setelah dilakukan pemeriksaan fungsi paru dengan pengujian spirometri, probandus bukan perokok mendapatkan hasil rata-rata kapasitas paru sebesar 1633 cc. Bunyi napas yang terdengar adalah suara inspirasi yang lebih keras, lebih panjang dan nadanya lebih tinggi dari suara ekspirasi. Bunyi napas tersebut disebut bunyi napas vesikuler.
Pada probandus perokok, didapatkan hasil rata-rata kapasitas paru sebesar 1600 cc dengan bunyi napas vesikuler. Hal ini menunjukkan keadaan yang masih normal pada perokok. Hal tersebut dikarenakan probandus rajin berolahraga setiap harinya. Probandus merokok 3 batang per hari dan hal itu tetap bisa menyebabkan perubahan struktur dan fungsi paru serta saluran pernapasan. Pada saluran napas besar, sel mukosa mengalami pembesaran (hipertrofili) dan kelenjar mukus bertambah banyak. Pada saluran napas kecil, merokok dapat menyebabkan terjadinya radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya penumpukan lendir.
Meskipun demikian, kebiasaan olahraga yang dimiliki probandus perokok secara teratur dapat meningkatkan kapasitas pernapasan. Hal ini dikarenakan olahraga bermanfaat dalam menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah serta membantu sistem metabolisme tubuh, sehingga dengan berolahraga dapat menjaga kebugaran paru probandus. Jika hal tersebut tidak diimbangi dengan berhenti merokok, maka perlahan akan mengalami penurunan fungsi paru.
Pada saat pemeriksaan auskultasi, dapat terdengar bunyi napas dimana suara inspirasi lebih keras dari suara ekspirasi. Bunyinya juga lebih panjang dan nadanya juga lebih tinggi dari bunyi ekspirasi. Bunyi napas pada probandus perokok masih terbilang bunyi vesikuler. Bunyi yang tergolong normal tersebut dapat terjadi pada perokok karena probandus memiliki kebiasaan berolahraga yang teratur dan mengkonsumsi rokok 3 batang tiap harinya, tetapi bila kebiasaan merokok tidak dihentikan semakin lama fungsi paru akan menurun akibat kandungan zat dalam rokok meskipun diimbangi dengan olahraga.
tambahan, seperti ronki, hal tersebut menunjukkan tidak adanya pergeseran antara pleura parietal dan viseral probandus. The whispered voice juga tidak terdengar pada saat pemeriksaan karena probandus dalam keadaaan yang sangat memungkinkan untuk melakukan pemerikasaan.
KESIMPULAN
Pengujian spirometri dapat dilakukan untuk mengetahui kapasitas paru seseorang, menentukan kekuatan fungsi dada dan mendeteksi berbagai penyakit saluran pernapasan. Gangguan ventilasi dapat terjadi, salah satunya akibat merokok yang dapat mengganggu kapasitas paru maupun saluran pernapasan. Pada saluran napas besar, merokok dapat menyebabkan bertambahnya mukosa. Sedangkan pada saluran napas kecil, merokok dapat menyebabkan radang ringan hingga penyempitan.
Pemeriksaan auskultasi dapat mengetahui adanya sekret pada saluran napas apabila terdengar suara ronki pada saat pemeriksaan menggunakan stetoskop. Pada orang sehat dapat terdengar auskultasi suara vesikuler, bronkial atau trakeal dan bronkovesikuler. Jika terjadi gangguan, maka suara yang terdengar tidak pada tempatnya, seperti ronki, pleural friction, whispered voice, bronkoponi dan eugoponi.
Kebiasaan berolah raga dan melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat meningkatkan kapasitas pernapasan. Hal ini dikarenakan olahraga dapat mengatur berat badan, menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah, serta membantu sistem metabolisme tubuh sehingga dapat menjaga kebugaran paru.
DAFTAR PUSTAKA
Irwansyah, dkk. 2007. Sehat dan Tangkas Berolahraga. Jakarta: Grafindo Media Pratama Lakshman, DMP. 2012. Profil Pasien yang Menjalani Pemeriksaan Spirometri di Poli Faal
Paru dan Instalasi Diagnostik Terpadu di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan dari Periode Januari 2012 sampai Juni 2012. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38964/5/ChapterI.pdf tanggal 4 November 2015
Linelajan, F. 2012. Gambaran Fungsi Paru, Kebiasaan Merokok dan Kebiasaan Olahraga pada Nelayan di Kelurahan Bitung Karangria Kecamatan Tuminting Kota Manado. Diakses dari http://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2012/10/Francin-Linelajan.pdf pada tanggal 4 November 2015
Rahmawati, AF. 2013. Hubungan Derajat Klinis PPOK dengan Hasil Pemeriksaan Fungsi Paru Berdasarkan Spirometri. Diakses dari http://eprints.undip.ac.id/43734 pada tanggal 4 November 2015
Rifa’i, A dkk. 2013. Aplikasi Sensor Tekanan Gas MPX5100 dalam Alat Ukur Kapasitas Vital Paru-paru. Diakses dari http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upj/50229 pada tanggal 4 November 2015