• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan Kapasitas Paru (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hasil dan Pembahasan Kapasitas Paru (2)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Identitas Responden

a. Nama : Siti Dely Farhani b. Berat Badan : 46,5 kg

c. Tinggi Badan : 154 cm d. Umur : 21 tahun

2. Hasil Pengukuran Kapasitas Fungsi Paru (dengan 3x percobaan) a. Percobaan Ke-1

 FVC = 3,21 liter = 3210 ml  FEV1= 68%

 PEF = 350 b. Percobaan Ke-2

 FVC = 3,53 liter = 3530 ml  FEV1 = 60%

 PEF = 337 c. Percobaan Ke-3

 FVC = 3,02 liter = 3020 ml  FEV1 = 67%

 PEF = 323

3. Hasil Perhitungan Nilai Rata-rata a. Nilai FVC

= 3250 ml/2784 ml x 100% = 116%

b. Nilai FEV1 = 65% c. Nilai PEF

= 336,7

B. PEMBAHASAN

Forced Vital Capacity (FVC) merupakan volume udara maksimal yang dapat dihembuskan secara paksa setelah inspirasi maksimal.

Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan kapasitas fungsi paru dengan menggunakan spirometer manual diketahui nilai FVC sebesar 116%. Hasil perhitungan ini diperoleh berdasarkan nilai FVC rata-rata sebesar 3250 ml dibagi dengan nilai standar berdasarkan tabel ... yakni sebesar 2784 ml. Nilai FVC sebesar 116% dapat diinterpretasikan dalam keadaan fungsi kapasitas paru yang normal. Berdasarkan hasil

(2)

untuk umur dan jenis kelamin yang sama. Menurut Tabel Fungsi Paru (FVC) Berdasarkan Umur dan Tinggi Badan, FVC disebut normal apabila nilai prediksinya lebih dari 80%, dan hasil perhitungan menunjukan nilai prediksi sebesar 116% yang berarti nilai FVC perhitungan normal.

Kapasitas fungsi paru pada manusia dapat mengalami penurunan, hal ini dapat dissebabkan karena beberapa faktor, yakni faktor internal (umur, jenis kelamin, status gizi, dan riwayat penyakit) dan faktor eksternal (kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, masa kerja,

penggunaan APD, dan riwayat pekerjaan). Pengukuran kapasitas fungsi paru biasanya dilakukan kepada pekerja di perusahaan-perusahaan. Hal ini dikarenakan dalam lingkungan tempat kerja terdapat adanya faktor resiko yang lebih besar. Beberapa penelitian mengenai kapasitas fungsi paru juga biasanya dikaitkan terhadap paparan udara di lingkungan kerja sesuai dengan jenis produksinya. Tempat kerja yang memiliki resiko tinggi dalam menurunkan kapasitas fungsi paru pekerjanya diantaranya adalah produksi semen, produksi meubel, produksi kayu, dan sebagainya (Hiperkes, 2005). Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja (SE/Men/1997), Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja sebesar 10 mg/m3. Praktikum yang dilakukan menggunakan responden yang

merupakan mahasiswa dan bukan pekerja serta tidak dalam lingkungan kerja. Hasil pengukuran FVC yang melebihi nilai 80% tersebut dapat diinterpretasikan bahwa kapasitas fungsi paru responden yang merupakan mahasiswa tidak mengalami gangguan fungsi paru, baik gangguan

obstruksi maupun restruksi. Hal ini dapat terjadi karena responden dalam kesehariannya tidak terpapar faktor resiko seperti halnya para pekerja di perusahaan-perusahaan. Responden juga memiliki status gizi yang baik saat pengukuran berlangsung serta usia responden yang tergolong muda dan masih memiliki fungsi paru yang optimal sehingga hasil pengukuran yang dilakukan menghasilkan nilai FVC yang normal.

(3)

perbandingan nilai FEV1 tidak memakai nilai absolut akan tetapi menggunakan perbandingan dengan FVCnya yaitu FEV1/FVC dan bila didapatkan nilai kurang dari 75% dianggap abnormal. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan nilai rata-rata FEV1 adalah 65%.

Perbandingan nilai FEV1/FVC pengukuran adalah 56%. Hal ini

menunjukan bahwa nilai FEV1/FVC pengukuran kurang dari 75% yang berarti bahwa terdapat gangguan obstruksi pada responden.

Fase detik pertama ini (FEV1) dikatakan lebih penting dari fase-fase selanjutnya. Adanya obstruksi pernapasan didasarkan atas besarnya volume pada detik pertama tersebut. Responden yang menjadi objek pengukuran kapasitas fungsi paru ini memiliki riwayat penyakit paru berupa bronkitis saat berusia 12 tahun. Hal ini dapat menjadi penyebab nilai FEV1/FVC yang kurang dari 75%. Adanya riwayat penyakit bronkitis pada responden menjadikan responden diprediksi masih mungkin

mengalami gangguan faal paru berupa bronkitis. Bronkitis menambah resistensi jalan udara, karena proses peradangan dan sekret yang menyempitkan jalan udara. Kerusakan karena emfisema dinding septa tidak hanya mengurangi rekoil elastik dari paru tetapi juga disertai oleh penyakit jalan udara kecil (Amin, 2000).

Gangguan faal paru yang berdasarkan pada pengukuran termasuk ke dalam gangguan obstruktif, yaitu hambatan pada aliran udara yang ditandai dengan penurunan FEV1/ FVC.

(4)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

1. Pengukuran kapasitas fungsi paru menghasilkan nilai FVC sebesar 116%, nilai FEV1/FVC sebesar 56% dan nilai PEF 336,7 ml/detik. 2. Nilai prediksi FVC lebih besar dari 80% yang termasuk kedalam

kategori FVC normal.

3. Nilai FEV1/FVC kurang dari 75% dan terdapat gangguan obstruksi pada responden berupa riwayat penyakit bronkitis.

B. Saran

1. Sebelum dilakukan pengukuran kapasitas fungsi paru sebaiknya dilakukan latihan berulang dalam mengeluarkan napas agar hasil pengukuran valid.

2. Perhitungan nilai prediksi baik untuk FVC maupun FEV1/FVC sebaiknya diperhatikan satuannya agar tidak terjadi kesalahan. 3. Praktikum kapasitas fungsi paru sebaiknya dilakukan dengan

menggunakan spirometer autometic agar lebih mudah dalam interpretasi hasil pengukuran.

(5)

Amin.M. 2000. Penyakit Paru Obstruksif Kronik. Laboratorium-SMF Penyakit Paru. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD DR. Sutomo. Surabaya.

Hiperkes. 2005. Laporan Hasil Kegiatan Pemantauan Lingkungan Pada PT. Semen Tonasa Sulawesi Selatan. Seksi Hiperkes. Yogyakarta.

Mengkidi, Dorce. 2006. Gangguan Fungsi Paru dan Faktor-Faktor yang

Referensi

Dokumen terkait

Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara lama paparan dengan penurunan kapasitas fungsi paru responden dan hasil uji korelasi menunjukkan

Pada pengukuran nilai Kapasitas Vital Paksa (KVP) Paru pada kelompok bukan perokok dengan menggunakan alat spirometri didapatkan responden yang mempunyai KVP terendah berjumlah

Pekerja yang mengalami gangguan kapasitas paru memiliki usia diatas 35 tahun, masa kerja diatas 5 tahun, status gizi yang kurang baik, memiliki riwayat penyakit dan seluruhnya

hal ini juga sejalan dengan hasil dari pengukuran kapasitas paru yang diketahui terdapat 30 responden (85,7%) yang kapasitas parunya tidak normal

Hasil penelitian yang dilakukan Adha menyatakan bahwa kadar debu anorganik yang melebihi ambang batas akan menimbulkan gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen

Distribusi Pekerja Pengecatan Mobil Menurut Penggunaan Masker dan Kapasitas Paru Tabel 3 menggambarkan bahwa pekerja yang mengalami kapasitas paru tidak normal menurut

Pada umumnya segala bentuk metode pelatihan dapat meningkatkan kapasitas vital paru- paru namun besar kecilnya peningkatan kapasitas vital paru-paru seseorang

Kapasitas residu fungsional yaitu volume udara yang tertinggal dalam paru-paru setelah ekspirasi volume tidal