BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN. Pada bab ini akan dipaparkan mengenai metode penelitian yang akan

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai metode penelitian yang akan digunakan pada skripsi ini. Adapun dalam mengkaji berbagai hal yang berkaitan dengan judul “Pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal mengenai kedudukan sumber hukum dalam Agama Islam”, penulis menggunakan Metode Historis. Metode historis yang digunakan merujuk kepada yang telah didefinisikan oleh Gottschalk (1986: 32):

Bahwa metode historis adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman peninggalan masa lampau. Termasuk di dalamnya metode dalam menggali; memberi penilaian; mengartikan dan menafsirkan fakta-fakta masa lampau untuk kemudian dianalisis dan ditarik sebuah kesimpulan dari peristiwa tersebut.

Dalam rangka mempertegas pengertian metode historis yang digunakan maka akan dipaparkan pendapat beberapa tokoh lainnya. Siswojo (1987: 75) menyatakan bahwa penelitian historis atau historical research adalah suatu usaha untuk menggali fakta-fakta dan menyusun berbagai kesimpulan dari peristiwa masa lampau. Hal ini dilakukan agar penulis mampu memahami situasi saat ini dan menyikapi apa yang mungkin terjadi di masa depan. Adapun Garragham (dalam Abdurrahman, 1999: 43-44) menyatakan bahwa metode penelitian sejarah atau yang lazim disebut sebagai metode sejarah merupakan seperangkat aturan atau prinsip yang sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan menyajikan sintesa dari hasil-hasil yang dipakai dalam bentuk tertulis.

Diharapkan dengan menggunakan metode historis seperti yang telah dijelaskan tersebut penulis dapat menggali, memilih dan memberikan interpretasi terhadap berbagai fakta sejarah yang ditemukan. Berbagai fakta tersebut akan dianalis dan disimpulkan ke dalam suatu upaya penulisan yang tersusun secara sistematis. Hal

(2)

ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ismaun (1992: 125-126), bahkan diungkapkan pula bahwa terdapat beberapa langkah dalam metode historis yaitu:

1. Heuristik, yaitu kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang relevan dengan masalah atau topik kajian.

2. Kritik, yaitu kegiatan meneliti atau menyelidiki keaslian sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan mencakup kritik intern maupun kritik ekstern.

3. Interpretasi, yaitu proses penafsiran atau penilaian terhadap data dan fakta sejarah yang telah ditemukan.

4. Historiografi, yaitu tahap akhir berupa penulisan sejarah.

Tokoh lainnya seperti Kuntowijoyo (1999: 89) mengemukakan bahwa terdapat lima tahapan yang harus ditempuh dalam penulisan sejarah yang mencakup:

1. Pemilihan topik. 2. Pengumpulan sumber.

3. Verifikasi (kritik sumber untuk menilai tingkat keabsahan). 4. Menginterpretasi.

5. Penulisan.

Adapun Gray (dalam Sjamsuddin, 1996: 69) menyatakan bahwa terdapat enam tahapan yang harus ditempuh dalam melaksanakan penelitian sejarah yaitu:

1. Memilih topik yang sesuai.

2. Mengusut semua evidensi (bukti) yang relevan dengan topik yang diangkat. 3. Membuat catatan yang dianggap penting dan relevan dengan topik yang

ditemukan ketika sedang mengadakan penelitian.

4. Menevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan (kritik sumber). 5. Menyusun hasil-hasil penelitian sejarah (catatan fakta-fakta) ke dalam suatu pola

(3)

6. Menyajikan dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian dan mengkomunikasikannya kepada para pembaca sehingga dapat dimengerti sejelas mungkin.

Enam tahapan yang telah dikemukakan Gray tersebut diuraikan oleh Sjamsudin (1996: 67-68) ke dalam tiga langkah besar yaitu:

1. Heuristik, yaitu tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang relevan dengan masalah yang dikaji.

2. Kritik internal dan kritik eksternal, yaitu tahapan penulis melakukan uji kelayakan terhadap sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan. Pada tahapan ini terdapat kegiatan penelitian atau pengkajian secara mendalam terhadap sumber-sumber tersebut agar dapat terjaring menjadi fakta sejarah. Penilaian atau pengkajian ini mencakup aspek internal dan aspek eksternal. Aspek eksternal mencakup keotentikan dan integritas sumber sedangkan aspek internal mengkaji aspek di dalam sumber berupa isinya (content).

3. Penulisan dan interpretasi (historiografi) yaitu tahapan penulis mulai memberikan penafsiran atau pemaknaan terhadap fakta yang diperoleh dari berbagai sumber sejarah. Kemudian fakta-fakta tersebut disusun, dihubungkan dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan yang utuh dan sistematis.

Dari berbagai penjelasan para tokoh mengenai penelitian historis tersebut, penulis lebih cenderung untuk menggunakan metode yang telah dikemukakan oleh Kuntowijoyo dan Ismaun. Pemilihan ini berdasarkan pertimbangan bahwa meskipun kegiatan interpretasi dan penulisan merupakan dua proses yang tidak dapat dipisahkan bahkan saling berhubungan antara keduanya. Interpretasi terlebih dahulu dilakukan sebelum memulai proses penulisan. Hal ini tentunya berbeda dengan penjelasan yang

(4)

telah dikemukakan oleh Gray (dalam Sjamsuddin, 1996: 67-68) yang cenderung tidak memisahkan proses interpretasi dan penulisan.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ismaun (1996:153) bahwa tahap penulisan dan interpretasi sejarah atau sebaliknya bukanlah merupakan dua kegiatan yang terpisah melainkan bersamaan. Dalam menyusun hasil penelitan ini, penulis akan menguraikan beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan yaitu: Persiapan penelitian dan pelaksanaan penelitian. Kedua langkah tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

3.1 PERSIAPAN PENELITIAN

3. 1. 1 Penentuan dan Pengajuan Topik Penelitian.

Kegiatan ini adalah langkah paling awal dalam penelitian ilmiah. Sebelum mengikuti seminar proposal penelitian, penulis terlebih dahulu mengikuti Mata Kuliah Seminar Penulisan Karya Ilmiyah. Pada mata kuliah tersebut penulis mendapatkan bimbingan dari berbagai dosen mengenai tema yang akan dipilih dalam penulisan skripsi. Setelah melalui berbagai perkuliahan tersebut akhirnya penuils mengajukan tema sejarah intelektual dengan judul "Melawan Arus: Bantahan Imam Ahmad bin Hanbal terhadap Kedudukan Al Qur’an Menurut Aliran Mu’tazilah (813 – 847 M)". Judul tersebut dipresentasikan di depan kelas sebagai persiapan awal penulis sebelum mendaftar ke pihak Tim Pertimbangan Penulisan Skripsi (TPPS). Selain itu, setelah mempresentasikan di depan kelas penulis mendapatkan beberapa kritik dan saran menyangkut judul yang diajukan dari dosen dan berbagai rekan angkatan 2005 lainnya.

Salah satu saran tersebut diantaranya adalah jumlah sumber referensi yang kurang mencukupi, karena pada saat itu penulis hanya mencantumkan 6 sumber yang

(5)

terdiri dari lima buku dan sebuah aktikel. Adapun salah satu kritik yang didapatkan adalah menyangkut tahun yang akan diangkat yaitu 813 – 847 Masehi. Menanggapi kritik tersebut penulis akan menggunakan sumber-sumber yang sejaman meskipun tidak otentik, diantaranya adalah buku Syarh Ushulus Sunnah karya Abdurrahman bin Abdulah Jibrin (tanpa tahun). Adapun sumber referensi lainnya yaitu Ahmad Asy-Syurbasi (1979) Biografi Imam-Imam Empat Mazhab; Hanafi, Maliki, Syafe’i dan Hambali, Lois Gottschalk, (1986) Mengerti Sejarah (Terjemahan), Imam Suyuthi (2006), Tarikh Khulafa’(Terjemahan), Harun Nasution (2006) Teologi Islam: Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. dan artikel Hakikat Dakwah Salafiyah (online) karya Abu Muhammad Dzulqarnain (tanpa tahun).

Setelah mendapatkan berbagai sumber baru sesuai dengan judul yang diajukan pada Mata Kuliah Seminar Penulisan Karya Ilmiyah penulis mendaftarkan judul tersebut pada Tim Pertimbangan Penulisan Skripsi (TPPS). Pengajuan judul tersebut dilaksanakan pada bulan Juni 2009 dan ditindaklanjuti dengan pembuatan proposal penelitian yang terdiri dari:

A. Judul Penelitian.

B. Latar Belakang Masalah.

C. Rumusan dan Batasan Masalah. D. Tujuan Penelitian.

E. Sistematika Penulisan. F. Daftar Pustaka.

3. 1. 2 Penyusunan Rancangan Penelitian

Proposal penelitian yang telah disusun kemudian diserahkan kepada Tim Pertimbangan Penulisan Skripsi (TPPS). Pada tahap ini, terdapat beberapa aspek

(6)

dalam proposal tersebut yang harus diperbaiki dan disesuaikan dengan kriteria penulisan karya ilmiah. Setelah dinilai dapat memenuhi syarat dalam standar kriteria penulisan karya ilmiah, penulis mengajukan proposal tersebut pada seminar proposal skripsi tanggal 17 Juni 2009 di ruangan Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Indonesia.

Setelah melalui seminar proposal skripsi tersebut didapatkan berbagai saran dan kritik menyangkut judul yang diajukan. Diantaranya adalah pergantian judul dari yang semula "Melawan Arus: Bantahan Imam Ahmad bin Hanbal terhadap Kedudukan Al Qur’an Menurut Aliran Mu’tazilah (813 – 847 M)" menjadi “Pengaruh Pemikiran Imam Ahmad terhadap Aliran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (813 – 847 M)”. Bahkan setelah menghubungi calon pembimbing I ketika itu, judul tersebut kembali mengalami perubahan menjadi “Pemikiran Ahmad bin Hanbal Mengenai Sumber Hukum Agama Islam (813 – 847 M)”.

Berbagai perubahan itu terjadi karena pada judul yang pertama terdapat beberapa kekurangan diantaranya adalah tema yang diangkat dianggap terlalu sempit karena hanya mengangkat permasalahan kedudukan al Qur'an. Adapun kekurangan yang terdapat pada judul yang kedua adalah konsep Aliran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang terlalu luas. Maksudnya adalah setiap Organisasi Masyarakat (ORMAS) Islam khususnya di Indonesia seperti Nadhatul Ulama (NU), Muhammadiyyah dan Persatuan Islam (PERSIS) memiliki definisi yang berbeda-beda mengenai pengertian terhadap konsep Ahlus Sunnah Wal Jama'ah .

3. 1. 3 Bimbingan

Proses bimbingan dilaksanakan untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dalam pelaksanaan penelitian ini. Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis

(7)

dibimbing oleh dua orang pembimbing dari jurusan pendidikan sejarah yaitu: Dr. Agus Mulyana, M. Hum. sebagai pembimbing I; dan Moch. Eryck Kamsori S.Pd. Sebagai pembimbing II. Selama proses bimbingan tersebut, dilakukan revisi secara intensif terhadap pelaksanaan dan penulisan hasil penelitian.

Kedua pembimbing tersebut memiliki tugas yang berbeda-beda sebagaimana yang dijelaskan dalam Buku Pedoman Karya Ilmiah UPI (2008: 16). Dari pembimbing I penulis mendapatkan beberapa masukan khususnya mengenai berbagai materi yang berkaitan dengan pembahasan materi mencakup:

1. Arahan mengenai rumusan akhir usul penelitian, sistematika dan materi skripsi.

2. Saran dan rekomendasi mengenai pengumpulan data yang akan digunakan. 3. Persetujuan akhir terhadap naskah skripsi yang akan diajukan ke sidang ujian. Adapun dari pembimbing II penulis mendapatkan beberapa masukan khususnya mengenai sistematika dan teknis dalam penulisan skripsi mencakup:

1. Menilai dan memperkaya usulan penelitian.

2. Pertimbangan, tanggapan dan saran mengenai prosedur yang digunakan serta sistematikanya.

3. Persetujuan terhadap naskah akhir terhadap naskah skripsi yang akan diajukan ke sidang ujian setelah skripsi disetujui oleh pembimbing I.

3. 2 PELAKSANAAN PENELITIAN

Agar penulisan hasil penelitian ini sistematis, penulis menggunakan tahapan-tahapan penulisan sejarah yaitu: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Langkah-langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

(8)

3. 2. 1 Heuristik

Pada tahap ini, penulis mencari sumber yang berkaitan dengan masalah penelitian. Penelitian ini bersifat studi literatur sehingga penulis hanya mencari dan mengunakan sumber-sumber buku, jurnal, artikel-artikel, baik dari internet ataupun karya tulis lainnya yang relevan. Penulis mendapatkan sumber-sumber bahan penelitian ini diantaranya berasal dari Perpustakaan UPI Bandung, koleksi pribadi penulis maupun koleksi pribadi teman-teman penulis.

Dari perpustakaan UPI Bandung penulis mendapatkan beberapa buku penunjang dan beberapa sumber yang sebelumnya belum penulis miliki. Sumber-sumber buku tersebut mencakup buku-buku tentang aqidah, ushul fiqh, sejarah peradaban Islam, sejarah madzab-madzab hukum dalam Islam dan sejarah Hukum Islam. Adapun dari koleksi pribadi penulis terdapat buku-buku yang dikategorikan sebagai buku-buku aqidah; ushul fiqh, sejarah peradaban Islam serta buku-buku beberapa karya Imam Ahmad bin Hanbal.

Berbagai sumber buku lainnya penulis dapatkan dari koleksi pribadi teman-teman penulis khususnya di UPI Bandung dan di Ma'had Adhwa us-Salaf Cileunyi Kabupaten Bandung. Dari koleksi pribadi teman-teman di UPI Bandung penulis mendapatkan berbagai sumber buku meliputi buku-buku sejarah peradaban Islam dan pengantar ilmu fiqh dan metodologi sejarah. Adapun dari koleksi pribadi teman-teman di Ma'had Adhwa us-Salaf Cileunyi Kabupaten Bandung penulis mendapatkan berbagai sumber buku meliputi buku-buku tentang aqidah, ushul fiqh, sejarah peradaban Islam serta buku-buku karya Imam Ahmad bin Hanbal yang berbahasa Arab.

Dari internet khususnya pada situs www.kitabklasik.co.cc penulis mendapatkan beberapa sumber buku. Dari situs tersebut penulis mendapatkan

(9)

beberapa sumber buku yang mengkaji permasalahan fikih khususnya pada Madzab Hanbali. Selain sumber buku dari Internet tersebut, penulis mendapatkan beberapa jurnal ilmiah yang mengkaji mengenai Hukum Islam dan pemikiran-pemikiran Imam Ahmad. Sumber internet yang berbentuk artikel bebas dan tidak pernah diterbitkan di jurnal atau media cetak, oleh penulis tidak dijadikan sumber utama, melainkan hanya dijadikan sebagai pelengkap. Beberapa sumber tersebut sudah dimiliki penulis sejak lama, sebagian didapatkan pada tahun 2008, namun ada juga yang baru didapatkan pada tahun 2009.

3.2.2 Kritik

Tahapan berikutnya dalam penyusunan karya ilmiah setelah heuristik adalah kritik sumber. Baik kritik internal maupun kritik eksternal. Kritik internal adalah cara pengujian terhadap sumber-sumber yang ada dengan melihat isinya. Sementara kritik eksternal adalah cara melakukan verifikasi terhadap aspek-aspek luar dari sumber sejarah (Sjamsuddin, 1996:104).

Tahap kritik secara tidak langsung sudah penulis lakukan pada saat tahap pengumpulan sumber. Topik yang penulis ajukan walaupun bercorak intelektual, namun objeknya adalah Hukum Agama Islam. Karena alasan-alasan tertentu maka masyarakat pada umumnya menolak membahas agama dengan prinsip “bebas nilai”. Termasuk beberapa sumber yang penulis miliki beberapa diantaranya menunjukan kecenderungan tersebut.

Fokus kritik penulis lebih ditekankan pada aspek-aspek tertentu khsususnya subjektifitas. Selain itu fokus kritik dalam karya ilmiah ini meliputi kejelasan-kejelasan informasi dari sebuah sumber; kelengkapan informasi dari sumber-sumber; identifikasi dan kategorisasi hingga kontradiksi yang muncul pada berbagai sumber

(10)

tersebut. Dalam hal ini penulis hanya akan memverifikasikan sumber berdasarkan kontribusinya terhadap penelitian ini.

Dari semua sumber yang penulis miliki, seluruhnya tidak dapat memberikan kontribusi informasi pada penelitian ini secara keseluruhan. Diantara berbagai sumber tersebut terdapat beberapa sumber yang hanya menjelaskan secara faktual mengenai informasi-informasi yang dibutuhkan. Seperti pada beberapa buku Aqidah Islam yang penulis miliki. Fakta-fakta tersebut tidak secara mendalam diinterpretasikan. Misalnya mengenai Imam Ahmad, buku-buku tersebut hanya mencantumkan beberapa kutipan mengenai perkataan, biografi, karya dan pemikiran Imam Ahmad. Sebaliknya, terdapat beberapa buku yang hampir seluruhnya bersifat interpretasi. Buku-buku itu diantaranya adalah karya Imam Abi Daud As Sijistany yang berjudul Masa'il al Imam Ahmad dan karya Imam Ahmad bin Hanbal yang berjudul Ar Radd 'ala Az Zindiqah wa Jahmiyyah.

Pada kedua sumber tersebut, interpretasi terhadap konsep al Qur'an dan Hadits telah dipaparkan, namun tidak terlalu menekankan pada fakta-fakta sejarah. Dengan demikian, penulis harus menggabungkan keduanya dengan sumber yang lain untuk mendapatkan informasi dan interpretasi yang lebih mendalam. Adapun mengenai subjektifitas sebuah sumber, maka penulis akan mengajukan sumber tersebut bersama sumber-sumber lain sebagai pembanding.

Terdapat beberapa penulis buku yang cenderung bersikap subjektif pada penulisan hasil karyanya. Misalnya pada pada buku Madzab Syafi'i karya Siradjuddin 'Abbas yang menunjukkan subjektifitas terhadap Madzab Syafi'i. Hal ini tampak pada salah satu pernyataan Siradjuddin 'Abbas dalam salah satu kesimpulannya mengenai perbandingan madzhab; "Madzab Imam Syafi'i lebih agung walaupun dibandingkan dengan ketiga madzab lainnya". (Siradjuddin 'Abbas, 1972: 104). Meskipun

(11)

demikian, penulis menggunakannya sebagai pelengkap dari sumber lainnya. Beberapa sumber tersebut penulis komparasikan dan hubungkan agar mendapatkan informasi yang lebih mendalam.

Penulis tidak terlalu menekankan validitas sumber dalam kritik ekstern. Namun jika terdapat suatu sumber yang cenderung diragukan kevaliditasannya, maka penulis akan memprioritaskan menggunakan informasi dari sumber lain yang dianggap lebih terpercaya. Misalnya pada berbagai karya tulis Imam Ahmad seperti az Zuhd, al Musnad dan ar Radd 'ala Jahmiyyah wa Zanadiqah didapakan oleh penuis dalam bentuk buku cetakan tahun 2001 sampai 2005 dan bukan dalam bentuk manuskrip aslinya. Meskipun demikian terdapat pernyataan dari pihak penerbit buku-buku tersebut berupa jaminan mengenai keaslian isi buku-buku dan tidak terdapat perubahan yang signifikan dari manuskrip aslinya. Beberapa perubahan yang diberikan seperti penambahan catatan kaki berupa keterangan surat al Qur'an, takhrij hadits dan keterangan lainnya yang dianggap perlu. Penilaian penulis tentang sumber-sumber tersebut tidak dicantumkan dalam bab ini, melainkan diterapkan langsung dalam penulisan.

3.2.3 Interpretasi

Interpretasi adalah menafsirkan keterangan dari sumber-sumber sejarah berupa fakta yang terkumpul dengan cara dirangkai dan dihubungkan sehingga tercipta penafsiran sumber sejarah yang relevan dengan permasalahan. Tahap Interpretasi dapat diartikan juga sebagai pemberian makna terhadap data dan atau fakta yang sebelumya sudah dikumpulkan.

Dalam tahap interpretasi penulis menggunakan ilmu bantu selain Ilmu Sejarah. Ilmu bantu yang dimaksud diantaranya adalah, Ilmu Agama, Ilmu Politik dan Ilmu

(12)

Hukum. Hal ini dilakukan karena tema yang dipilih berkaitan dengan bidang-bidang ilmu tersebut. Penggunaan cabang-cabang ilmu pengetahuan tersebut diharapkan akan membuat pemaparan menjadi lebih utuh dan menyeluruh.

Dalam buku-buku sumber yang penulis kritik, terdapat beberapa diantaranya yang memiliki interpretasi yang berbeda-beda terhadap sebuah peristiwa. Misalnya, dalam buku the History of Arabs karya Phillip K. Hitti dikemukakan bahwa penulis mengutip pendapat Ibnu Khalikan yang menyatakan Hukum Islam terpengaruh oleh hukum Romawi-Byzantium khususnya di daerah Suriah, Palestina dan Mesir. "Hingga akhir abad ke 6 (Suriah) masih menjadi pusat perkembangan madzab Hukum Romawi dan hampir membentuk madzab Hukum Islam kelima" (Hitti, 2002: 501). Sedangkan pada artikel yang berjudul Tarikh Tasyri': Sejarah Perkembangan Mazhab karya Munawar Khalil yang menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor dalam Agama Islam yang mengakibatkan munculnya berbagai madzab dalam Hukum Islam. Salah satu faktor tersebut adalah semakin meluasnya wilayah kekuasaan Islam. Hal ini tentunya mengakibatkan Hukum Islam menghadapi berbagai macam masyarakat yang berbeda-beda tradisinya. Maka dibutuhkan penyelesaian masalah hukum yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. (Khalil, Munawar, 2008: http://moenawar.multiply.com/journal/item/12/TARIKH_TASYRI_Sejarah_perkemb angan_mazhab_).

Baik Phillip K. Hitti maupun Munawar Khalil keduanya sependapat bahwa faktor ekstern mempengaruhi perkembangan Hukum Islam namun keduanya berbeda pendapat mengenai objek yang mempengaruhinya tersebut. Sehingga kedua pernyataan tokoh tersebut sebenarnya dapat dirangkaikan dan tidak bertentangan. Berbeda dengan berbagai sumber lainnya yang terdapat pertentangan yang cukup signifikan.

(13)

Dalam satu konsep, terdapat beberapa sumber memiliki interpretasi sendiri sesuai dengan sudut pandang yang dipilihnya misalnya ketika Abdul Wahhab Khallaf (1989:47) menafsirkan Sunnah sebagai berbagai hal yang datang dari Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Salam baik ucapan, perbuatan ataupun pengakuan (taqrir). Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal (2008:43) menyatakan bahwa sunnah adalah atsar-atsar Rasulullah yang berfungsi sebagai pentafsir terhadap berbagai dalil yang ada pada al Qur'an. Bahkan terkadang Sunnah diartikan sebagai al aqa'id dan perkara-perkara yang berhubungan dengan Tauhid (Teologi) dan Manhaj .

Perbedaan pengertian konsep sunnah tersebut mencerminkan perbedaan yang terjadi antara ulama masa kini (khalaf) yaitu Abdul Wahhab Khallaf dengan ulama terdahulu (salaf) yaitu Imam Ahmad bin Hanbal. Hal ini dapat dimaklumi karena Abdul Wahhab Khallaf berada pada jiwa jaman yang berbeda dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Pengertian Sunnah menurut Imam Ahmad tersebut lahir pada saat kondisi kekhalifahan Abbasiyyah yang sedang terpengaruhi oleh berbagai pemikiran Filsafat Yunani. Tentunya faktor tersebut sangat mempengaruhi keyakinan kaum muslimin khususnya terhadap agamanya sendiri.

Pemikiran Imam Ahmad berada pada masa munculnya rasionalitas yang di bawa oleh kaum mu'tazilah diresmikan sebagai doktrin resmi kekhalifahan Abbasiyyah. Hal ini terjadi sejak kepemimpinan al Ma'mun, al Mu'tashim hingga al Watsiq (813-232 Hijriyah) yang dipandang sebagai sesuatu yang menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wa salam. Maka dengan hal tersebut, Imam Ahmad lebih mengedepankan pengertian Sunnah kepada pemurnian ajaran Islam itu sendiri.

Kedua interpretasi diatas merupakan beberapa contoh yang penulis lakukan terhadap sebuah tema dan konsep yang menggunakan pendekatan sosial dan

(14)

psikologis. Beberapa tema lain dapat diinterpretasikan dengan pendekatan politik atau agama. Namun interpretasi tersebut hanya beberapa yang dijelaskan secara detail, penjelasan mengenai interpretasi sebuah tema akan dijelaskan secara mendetail jika berhubungan dengan interpretasi lain atau memang sangat dibutuhkan untuk penelitian ini. Sedangkan beberapa interpretasi lain yang dianggap kurang berkontribusi terhadap tema ini hanya akan dicantumkan hasilnya saja agar pembahasan dalam penelitian ini tetap fokus.

3.2.4 Historiografi

Historiografi adalah: “kisah masa lampau yang direkonstruksi oleh sejarawan berdasarkan fakta yang ada” (Heriyono, 1995: 102). Dengan kata lain, histroriografi adalah penulisan hasil penelitian sebagai proses yang dilakukan setelah sumber-sumber sejarah yang ditemukan selesai dianalisis dan ditafsirkan. Historiografi merupakan tahap paling akhir dalam penelitian sejarah.

Stromberg (dalam Kuntowijoyo, 2003: 189) mengungkapkan bahwa sejarah intelektual atau pemikiran adalah “the study of the role of ideas in historical events and process”. Dengan demikian, melalui metode sejarah ini penulis berusaha merekonstruksi berbagai data dari aktivitas berpikir yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal mengenai sumber hukum dalam Agama Islam. Pada tahapan historiografi ini penulis akan membagi skripsi ini menjadi lima Bab.

Bab I yaitu pendahuluan yang berisi beberapa faktor yang mendorong penulis untuk mengangkat pemikiran Imam Ahmad mengenai sumber hukum utama dalam agama Islam sebagai tema utama dalam penyusunan skripsi ini. Bab II yaitu tinjauan pustaka yang berisi hasil kajian penulis dari berbagai sumber yang digunakan dalam

(15)

penulisan skripsi ini. Kajian tersebut berupa pemaparan kelebihan, kekurangan terhadap berbagai sumber hingga perbandingan disertai dengan alasan-alasannya.

Bab III yaitu metode penelitian yang merupakan penjelasan lebih rini tentang metode penelitian yang secara garis besar telah disingung pada Bab I. Penjelasan tersebut berupa prosedur dan tahapan yang ditempuh dalam penelitian ini sejak persiapan penelitian hingga penelitian berakhir. Bab IV yaitu pembahasan pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal mengenai sumber hukum dalam Islam. Pada Bab ini penulis membaginya ke dalam beberapa sub bab.

Sub Bab 4.1 dan Sub Bab 4.2 merupakan penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal baik dari faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternalnya yaitu kondisi intelektual Islam pada masa Imam Ahmad bin Hanbal (Sub Bab 4.1). adapun faktor internalnya yaitu latar belakang kehidupan Imam Ahmad bin Hanbal (Sub Bab. 4.2). Pembahasan pada sub Bab 4.3, 4.4, 4.5, dan 4.6 merupakan bagian khusus yang mengkaji pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal mengenai kedudukan al Qur’an As Sunnah, ijma', Qiyas dan Ijtihad sebagai sumber hukum dalam Agama Islam.

Bab V yaitu kesimpulan berupa bagian akhir yang di dalamnya terdapat intisari terhadap hasil penelitian yang telah diperoleh. Bagian akhir ini berupa pemaparan dalam bentuk essai.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :