i
BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SD N 01
TEGALREJO MUSI RAWAS
SKRIPSI
Oleh :
LILISMAWATI
NPM A1G007109
UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2009
ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI
SKRIPSI
Oleh :
LILISMAWATI
NPM. A1G007109
Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji
Pembimbing I
Dra. Nani Yuliantini, M.Pd NIK. 19600709 198603 2 003 Pembimbing II Drs, Lukman, M.Ag NIK. 19580210 198603 1 003 Mengetahui Ketua Prodi SI PGSD Dr. Daimun Hambali, M.Pd NIK. 195610041984031004
iii
SKRIPSI
Oleh:
LILISMAWATI
NPM A1G007109
Skripsi ini Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji pada
tanggal 30 Oktober 2009
Penguji Nama Dosen Tanda Tangan Tanggal
1 Dra. Nani Yuliantini, M.Pd NIK. 19600709 198603 2 003 Ketua Penguji 2 Drs. Lukman, M.Ag NIK. 19580210 198603 1 003 Anggota Penguji 3 Dr. Daimun Hambali, M.Pd NIK. 195610041984031004 Anggota Penguji 4 Drs. Herman Lusa, M.Pd NIK. 196005101987101001 Anggota Penguji Bengkulu, Oktober 2009
Dekan FKIP Ketua Jurusan
Prof. Safnil, MA.Ph.d Dr. Puspa Djuwita, M.Pd NIP. 131 577 385 NIP. 131459605
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO♣ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Q.S. Al Insyirah 5-7)
♣ Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyu (Q.S Al Baqarah 45)
♣ Berusaha dengan sungguh-sungguh dengan disertai do’a dan tanpa mengenl putus asa akan menghasilkan hasil yang luar biasa (lilismawati)
PERSEMBAHAN
Telah ku tempuh perjalanan panjang yang penuh liku-liku dan cobaan, untuk meraih cita-cita, namun kesungguhanku mengantarkan aku untuk terus melangkah. Dengan seizin Allah SWT, satu kudapatkan di sini. Kebahgiaan ini tak ingin kumiliki sendiri, tapi tak lupa juga kupersembahkan untuk :
♣ Ibunda Rohana dan Ayahanda Mahwat
♣ Kakak-kakakku Sulastri, Efriyanti, Firdaus dan Yesi ♣ Almamaterku
v
Allah SWT karena berkat dan rahmat-Nya, Penelitian Tindakan Kelas ini yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Apresiasi Cerpen Dengan Menggunakan
Model Taba (Inductive Thinking) Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD N 01 Musi Rawas ” dapat diselesaikan dengan baik tepat pada
waktunya.
Penelitian ini tidak dapat terwujud tanpa adanya bantuan dari pihak lain. Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Dr. Daimun Hambali, M.Pd., selaku Ketua Prodi SI PGSD Universitas Bengkulu dan selaku dosen Penguji yang telah banyak memberikan arahan, masukan, kritik dan saran kepada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini. 2. Dra. Nani Yuliantini, M.Pd., selaku dosen Pembimbing Utama yang dengan
sabar membimbing, mengarahkan dan memotivasi penulis dalam penyusunan skripsi ini.
3. Drs. Lukman, M.Ag., selaku dosen Pembimbing Pendamping yang telah banyak membimbing, mengarahkan, dan memotivasi penulis dalam penyusunan skripsi ini..
4. Drs, Herman Lusa M.Pd., selaku dosen Penguji yang telah memberikan arahan, masukan, kritik dan saran kepada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini.
5. Ibunda Rohana dan Ayahanda Mahwat yang sangat kucintai dan kusayangi, yang selalu menyayangiku dan memimbingku dengan sabar dan tabah,
vi
berkorban demi segalanya dan memberikan do’a yang tulus demi keberhasilanku.
6. Kakak-kakakku dan Keponakanku Ade,salwa yang telah lama menantikan kesuksesan dalam perkuliahanku terima kasih atas kasih sayangnya, motivasi serta do’anya dan seluruh keluargaku yang telah memberikan bantuannya. 7. Rekan-rekan mahasiswa SI PGSD Ikatan Dinas dan Berasrama yang selalu
membantu dalam suka dan duka, sebagai tempatku berteduh saat sedih dan bahagia dalam perjuanganku selama kuliah dan penyelesaian skripsi ini.
Akhir kata, semoga amal ibadah yang telah diberikan berupa bantuan, saran, bimbingan, motivasi kepada penulis mendapat Rahmat dan Hidayah dari Allah. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan penalaitian ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun demi tercapainya kesempurnaan laporan penelitian ini sangat diharapkan. Akhirnya semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Bengkulu, Okteber 2009
vii
Penulis dilahirkan di kota Lubuklinggau Sumatra Selatan pada tanggal 05 Februari 1986 dari ayah yang bernama Mahwat dan ibu bernama Rohana. Penulis merupakan anak Bungsu dari lima bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri No.01 Lubuklinggau pada tahun 1991 dan lulus pada tahun !997. Kemudian Penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri No. 2 Lubuklinggau dan tamat pada tahun 2000. Penulis melanjutkan pendidikannya di SMU Negeri No. I Lubuklinggau dan lulus pada tahun 2003.
Setelah tamat SMU, penulis hijrah ke propinsi Bengkulu dan diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi DII PGSD dan Tamat tanggal 24 Desember tahun 2006. Pada bulan Juli tahun 2006, penulis melanjutkan pendidikannya dan diterima di SI PGSD Ikatan Dinas dan Berasrama FKIP UNIB.
Pada tanggal I Juli 2008 sampai 31 Agustus 2008, penulis menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Bengkulu di Desa Serdang Indah Kabupaten Kaur. Selanjutnya, penulis malaksanakan Praktek Program Lapangan (PPL) di SD Negeri 07 Kota bengkulu.
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN PERSETUJUAN ... iiHALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI ... v
KATA PENGANTAR ... vi
RIWAYAT HIDUP ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Defenisi Operasional ... 4
BAB II KERANGKA TEORITIS A. Pengertian Apresiasi Cerpen ... 6
B. Hakikat Pengajaran Apresisi Cerpen ... 7
C. Kemampuan Memahami Cerpen ... 8
1. Memahami isi bacaan ... 8
2. Memahami maksud penulis ... 9
D. Pengertian Cerpen ... 9
E. Model Taba dalam Pembelajaran ... 11
1. Pembentukan Konsep ... 13
2. Interprestasi Data ... 14
3. Pengambilan Kesimpulan ... 14
F. Penerapan Model Taba dalam Pembelajaran Apresiasi Cerpen 15 1. Tema ... 15 2. Alur ... 16 3. Penokohan ... 17 4. Latar ... 18 5. Amanat ... 19 6. Gaya Bahasa ... 20
ix
D. Instrumen Penelitian ... 29 E. Teknik Pengumpulan Data ... 29 F. Teknik Pengolahan Data ... 33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Studi Orientasi /Gambaran Awal ... 43 B. Deskripsi Per Siklus ... 44 C. Pembahasan ... 55 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 59 B. Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Daftar Nilai Hasil Apresiasi Cerpen Siswa Kelas V ... 63
2. Nama Anggota Kelompok Diskusi Kelas V ... 64
3. Silabus Siklus I... 66
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Siklus I) ... 67
5. Soal Evaluasi ... 73
6. Lembar Diskusi Siswa (Siklus I) ... 74
7a. Lembar Observasi Guru (Siklus I) ... 75
7b. Lembar Observasi Guru (Siklus I) ... 76
8. Indikator Lembar Observasi Guru (Siklus I) ... 77
9a. Lembar Observasi Siswa (Siklus I) ... 81
9b. Indikator dan Indikator Lembar Observasi Siswa ... 82
10. Hasil Nilai Apresiasi Cerpen... 85
11. Analisis Data Hasil Apresiasi Cerpen (Siklus I) ... 87
12. Analisis Data Hasil Observasi (Siklus I)... 88
13. Silabus Siklus 2 ... 90
14. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Siklus II) ... 91
15. Soal Evaluasi ... 96
16. Lembar Diskusi Siswa (Siklus II) ... 97
17. Lembar Observasi Guru (Siklus II) ... 98
18. Lembar Observasi Guru (Siklus II) ... 99
xi
22. Hasil Nilai Apresiasi Cerpen Siswa (Siklus II) ... 108
23a. Analisis Data Hasil Apresiasi Cerpen Siswa (Siklus II) ... 110
23b. Analisis Data Hasil Apresiasi Cerpen Siswa (Siklus II) ... 111
24a. Analisis Data Hasil Observasi (Siklus II) ... 112
24b. Analisis Data Hasil Observasi (Siklus II) ... 114 25. Rekapitulasi Daftar Nilai Apresiasi Cerpen Siswa Siklus I dan Siklus II 116
xii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Sebaran soal ... 32 2. Bobot penilaian ... 34
3. Interval tingkat penguasaan dengan menggunakan perhitungan persentase skala lima ... 42
4. Data hasil observasi terhadap aktivitas guru pada siklus I ... 44
5. Data hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus I ... 46
6. Persentase ketuntasan belajar siswa siklus I ... 48
7. Data hasil observasi terhadap aktivitas guru pada siklus II ... 51
8. Data hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus II ... 52
9. Persentase ketuntasan belajar siswa siklus II ... 53
10. Persentase ketuntasan belajar siswa dan kategori pada aktivitas guru dan siswa pada siklus I dan siklus II ... 55
11. Rata-rata skor observasi terhadap aktivitas guru dan aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II ... 56
12. Persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I dan siklus II ... 57
xiii
Lilismawati. 2009. Peningkatan kemampuan memahami apresiasi cerpen dengan
menggunakan model Taba (Inductive Thinking) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SD N 01 Tegalrejo Musi rawas, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu. Pembimbing I Dra. Nani Yuliantini, M.Pd, pembimbing II, Drs. Lukman, M.Ag
Kata Kunci: Apresiasi Cerpen, Model Taba, Pembelajaran Bahasa Indonesia. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu Apakah dengan penerapan model Taba (Inductive thinking) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami Cerpen pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan Apresiasi Cerpen dengan menggunaan model Taba (Inductive thinking) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 01 Musirawas. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas V SD Negeri 01 Musirawas tahun ajaran 2008/2009 dengan jumlah 34 siswa yang terdiri dari 11 laki-laki dan 23 perempuan. Adapun instrumen penelitian yang digunakan adalah Lembar Observasi, Lembar Tes. Analisis data observasi menggunakan rata-rata skor, skor tertinggi, skor terendah dan kisaran nilai untuk tiap kriteria sedangkan data nilai akhir siswa menggunakan persentase ketuntasan belajar. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu pada siklus I rata-rata skor observasi guru 28 dengan kriteria baik, rata-rata skor observasi siswa 23 dengan kriteria cukup dan persentase ketuntasan belajar meningkat menjadi 44,12 %. Pada siklus II diperoleh rata-rata skor observasi guru 36,5 dengan kriteria baik, rata-rata skor observasi siswa 28 dengan kriteria baik dan untuk persentase ketuntasan belajar meningkat menjadi 91,18%. Dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model Taba dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 01 Musi Rawas.
1
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam upaya turut memperbaiki kualitas pendidikan agar relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa di masa yang akan datang, pemerintah perlu mengupayakan suatu pembaharuan terhadap sistem pendidikan. Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran penting di SD saat ini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaanya. Bahasa Indonesia tersebut merupakan mata pelajaran yang penting guna menumbuh kembangkan zaman, karena Bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan dan sebagai bahasa resmi yang telah disepakati bersama oleh seluruh bangsa Indonesia sejak tanggal 28 Oktober 1928 dalam ikrar yang disebut “Sumpah Pemuda”.
Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah adalah agar siswa mampu menguasai empat keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis serta apresiasi sastra. Penguasaan keempat keterampilan dan apresiasi sastra yang diajarkan tersebut merupakan keterampilan dasar.
Materi sastra tidak dapat diabaikan begitu saja oleh guru karena sastra di samping perlu dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan untuk pengembangan kepribadian siswa, juga digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan berbahasa . Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran sastra yaitu agar siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk
mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bahasa (Depdikbud, 1996)
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa tujuan pembelajaran sastra bukanlah untuk mencetak para siswa menjadi orang yang mampu mencipta sastra, akan tetapi agar siswa memiliki pemahaman, dan dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan norma-norma dalam lingkungan masyarakatnya. Khususnya SDN 01 Tegalrejo Kabupaten Musi Rawas sampai saat ini masih sangat sulit dalam memahami karya sastra. Kemampuan siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi sastra dirasakan masih rendah . Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata anak yang kurang. Hal ini terlihat pada hasil dan prestasi belajar siswa yang masih rendah dengan nilai rata-rata siswa hanya mencapai 5,73 (wawancara dengan guru Bahasa Indonesia). Pada saat melakukan observasi langsung Kelas V SD N 01 Tegalrejo Musi Rawas
Berdasarkan informasi yang di dapat diketahui bahwa rendahnya nilai siswa tersebut disebabkan oleh proses pembelajaran yang dilakukan guru selama ini masih bersifat konvensional sehingga kurang menarik minat siswa dalam pembelajaran bahasa dan sastra terutama pada pembelajaran memahami cerpen. Padahal idealnya pembelajaran sastra itu haruslah sangat menarik bagi siswa karena semestinya dengan pembelajaran sastra terutama memahami cerpen, siswa dapat mengalami pembelajaran yang menarik .
Berdasarkan penjelasan di atas, maka untuk memperbaiki kemampuan siswa dalam memahami cerpen, penulis tertarik untuk menerapkan model
3
pembelajaran Taba yang diharapkan penggunaan model pembelajaran Taba ini dapat membantu siswa dalam memahami apresiasi sastra dengan mudah.
Satu hal yang menjadi sumber kelemahan bagi guru dalam pembelajaran adalah menjelaskan teori yang berhubungan dengan sastra untuk diapresiasikan. Oleh karena itu, penulis mengangkat model pembelajaran baru yang dapat memperbaiki pemahaman dan penguasaan siswa terhadap sastra, yaitu model Taba (Inductive Thinking).
Taba, mengemukakan adanya berpikir induktif (Inductive Thinking model) dalam pembelajaran. Model ini untuk membentuk model berpikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik dan pembentukan teori Taba, (dalam Wirawan, 1998). Sehubungan dengan model ini, kepada siswa diberikan sastra (cerpen, puisi ataupun drama), untuk kemudian diberikan kesempatan bagi mereka dalam merespon isi sastra tersebut sesuai dengan kemampuan dan pemahaman mereka masing-masing. Misalnya anak dengan semangat dan antusias dalam menanggapi isi sastra yang diberikan, dari sekian 30 siswa yang memberi respon tersebut, guru bersama siswa memberikan kesimpulan mengenai isi sastra yang sedang dibahas. Melalui model pembelajaran semacam ini, penulis berharap apresiasi cerpen terhadap siswa dapat ditingkatkan.
Untuk mengetahui peningkatan kemampuan dalam apresiasi sastra melalui model Taba akan dilakukan penelitian tindakan di kelas. Penelitian ini diberi judul “ Peningkatan Kemampuan Memahami Cerpen dengan model Taba Pada siswa kelas V SDN 01 Tegalrejo Kabupaten Musi Rawas
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada Penelitian Tindakan ini adalah:
1. Apakah dengan penerapan model Taba (Induktive Thinking) dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memahami unsur-unsur cerpen pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SD N 01 Tegalrejo Musi Rawas?
2. Apakah dengan penerapan model Taba (Induktive Thinking) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami unsur-unsur cerpen pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SD N 01 Tegalrejo Musi Rawas?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dan siswa kelas V SDN 01 Tegalrejo Kabupaten Musi Rawas dalam memahami cerpen dengan menggunakan model Taba dalam pembelajaran apresiasi cerpen.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Bagi Guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan tolak ukur dalam evaluasi mengenai manfaat penerapan model Taba pembelajaran bahasa indonesia khususnya apresiasi sastra untuk peningkatan kemampuan siswa dalam mengapresiasi sastra.
5
2. Bagi Siswa, pembelajaran cerpen dapat dijadikan wahana untuk mengembangkan kreativitas dan pola pikir sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.
3. Bagi Peneliti, sebagai masukan dalam memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas khususnya Bahasa Indonesia.
6
A. Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Abdul Chaer (2006: 1-2)) mengartikan bahasa adalah suatu lambang berupa bunyi, bersifat arbitree, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Sebagai sebuah sistem, maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan kaidah, atau pola-pola tertentu, baik dalam bentuk tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat. Selanjutnya bahasa terbagi 2 yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan, adapun bahasa tulisan adalah rekaman visual, dalam bentuk-bentuk huruf-huruf dan tanda-tanda baca dari bahasa lisan.
Selanjutnya menurut Keraf dalam (http//wismasastra.wordpress.com, 2009/05/25,
apa-bahasa-itu-sepuluh-pengertian-bahasa-menurut-para-ahli.htm) memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Lain halnya menurut Wibowo dalam (http//wismasastra.wordpress.com, 2009/05/25,
apa-bahasa-itu-sepuluh-pengertian-bahasa-menurut-para-ahli.htm) menjelaskan bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat
7
berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Adapun menurut kurikulum KTSP 2006 (2007: 3) mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan.
2. Menghargai dan bangga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kesatuan negara.
3. Memahami Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
4. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
5. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Dengan demikian tujuan pendidikan Bahasa Indonesia pada jenjang sekolah dasar tersebut adalah memberikan penekanan pada pengembangan kemampuan menyimak, membaca, berbicara, menulis dan apresiasi sastra.
Atar Semi (1990: 96) menjelaskan bahwa sasaran pengajaran Bahasa Indonesia pada semua jenjang pendidikan adalah membimbing siswa agar mampu memfungsikan Bahasa Indonesia dalam bentuk komunikasi dengan segala aspeknya. Sejalan dengan itu Syafe”ie (1992: 1) mengemukakan bahwa melalui pengajaran Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang efektif dan efisien.
Selanjutnya dalam kurikulum Bahasa Indonesia SD kurikulum 1994 dikatakan pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi dengan Bahasa Indonesia, baik secara
lisan maupun tulisan (Depdikbud, 1994). Oleh karena itu pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar untuk memperluas wawasan pengetahuan siswa.
Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di SD bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar.
B. Pengertian Apresiasi Cerpen
Kata apresiasi dalam Bahasa Indonesia ialah makna penghargaan, secara gramatikal kata penghargaan itu dapat diberi makna atau di jelaskan sebagai proses hal yang memberi harga atau menghargai. Arsyad, (dalam Eka, 2003) Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Effendi (dalam Eka, 2003) bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran dan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra adalah usaha atau kegiatan menikmati, memahami, penghargaan secara kritis suatu cipta sastra sehingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan dan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
Pengajaran apresiasi sastra di sekolah harus ditekankan pada apresiasinya. Hal ini sebagai dasar dalam upaya pemahaman unsur-unsur
9
yang ada dalam karya sastra, kegiatan mengapresiasi ini akan terjadi bila siswa mengerti dan paham apa yang di maksud oleh apresiasi sastra itu. Secara harfiah kata apresiasi berarti pengertian, pengetahuan atau penghargaan terhadap sesuatu, penghargaan yang dimaksud adalah penghargaan terhadap karya sastra yang didasari pada pemahaman
Menurut Effendi (dalam Eka, 2003) Menyatakan apresiasi sastra adalah kegiatan memahami cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta atau karya sastra.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan apresiasi sastra adalah kegiatan aktif dalam memahami cipta sastra untuk mencari untuk mencari dan menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
C. Hakikat Pengajaran Apresiasi Cerpen
Hakikat pengajaran sastra tidak terlepas dari faktor atau sistem pengajaran. Faktor-faktor dalam pengajaran mencakup faktor guru, kurikulum, bahan dan sarana pelajaran yang memungkinkan tujuan pengajaran itu tercapai dengan hasil yang optimal. Menurut Jabrohim (dalam Eka, 2003) mengemukakan bahwa tujuan pengajaran apresiasi sastra adalah membawa siswa ke arah pengalaman sastra.
Berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa pada hakikatnya pengajaran apresiasi sastra adalah kegiatan memahami cipta
sastra secara sungguh-sungguh, hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra atau karya sastra.
Menurut Gani, (dalam Eka, 2003) mengemukakan bahwa tujuan pengajaran apresiasi sastra adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh pengalaman sastra, sehingga sasaran akhirnya dalam wujud pembinaan apresiasi sastra dapat tercapai. Ini berarti bahwa setelah selesai mengikuti kegiatan belajar mengajar sastra diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengapresiasi sastra, yaitu mampu mengenal, memahami, menghayati, dan menghargai karya sastra Indonesia secara kreatif.
Melalui tujuan pengajaran sastra inilah kita dapat melihat sejauh mana tujuan pengajaran yang telah dilaksanakan. Walaupun demikian, guru harus memperhatikan tujuan pengajaran apresiasi sastra yang terdapat dalam kurikulum 2004 khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Tujuan umum pengajaran apresiasi sastra adalah siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatan pengetahuan dan kemampuan bahasa. Sedangkan, tujuan khusus pengajaran sastra disajikan dalam tiga komponen yaitu kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
11
Kemampuan memahami merupakan kegiatan yang di dalamnya terdapat proses berpikir. Dalam kegiatan memahami cerpen ada dua hal yang akan pembaca lalui, yakni memahami isi bacaan dan memahami maksud penulis yakni siswa mampu mengapreiasikan cerpen.
1. Memahami Isi Bacaan
Menurut Oka, (dalam Deri, 2006) membaca adalah memahami tuturan tertulis yang dibacanya, baik isi pokok maupun isi bagiannya. Untuk memahami isi suatu bacaan perlu memperhatikan hal-hal yang dapat membantu memahami isi bacaan. Sejalan dengan pendapat di atas Utari (1993) menyatakan bahwa untuk memahami bacaan perlu latihan sebagai berikut :
“Mencari fakta-fakta eksplisit dan implisit. Mencari makna (informasi) Minta evaluasi mengenai bacaan. Menyelesaikan bacaan yang belum ada akhirnya, misalnya paragrap, kalimat dan frase yang terakhir. Mencari unsur-unsur kata. Frase, atau kalimat mengandung makna berlebihan”.
Berdasarkan pendapat dari pakar pendidikan di atas disimpulkan bahwa yang harus diperhatikan dalam memahami bacaan adalah mencari fakta, dan hal-hal yang mendukung isi bacaan.
2. Memahami Maksud Penulis
Untuk memahami pesan yang ingin disampaikan oleh penulis pemahaman terhadap kosakata sangat memegang peranan penting. Menurut pendapat Djiwandono (dalam Deri, 2006) mengatakan bahwa pemahaman
yang tepat terhadap pesan yang disampaikan melalui bahasa, ditentukan oleh pemahaman terhadap kosakata yang digunakan dalam bacaan.
E. Pengertian Cerpen
Cerpen merupakan sebuah cerita fiksi yang disampaikan pengarang berdasarkan realitas pengarang menuangkan idenya dalam cerita yang dijalin sepenuh hati dengan pemikiran yang serius sehingga ceritanya merupakan perenungan bagi pembacanya, seperti yang dikemukakan oleh Mursal Esten, (dalam Sinta, 2006) bahwa cerpen adalah pengungkapan suatu pesan yang hidup dari fragmen manusia. Hoerip (1997) Cerpen yaitu karakter yang dijabarkan lewat rentetan kajian secara satu-persatu. Apa yang terjadi di dalamnya lazim merupakan pengalaman atau penjelajahan. Sedangkan Rosidi (dalam Sinta, 2006) memberi batasan bahwa cerpen adalah cerita pendek yang di dalamnya terdapat suatu kebulatan ide. Cerpen merupakan proses kreatif yang memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu lukisan peristiwa atau kejadian dari tokoh cerita.
Dari beberapa pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita pendek, baik waktu pembacaanya maupun peristiwa yang disajikan, singkat, lengkap, memiliki kebulatan ide serta mengandung suatu kesatuan yang mendalam.
Cerpen merupakan sebuah karya sastra yang tergolong fiksi, yang terjadi di dalam cerpen hanya merupakan daya imajinasi pengarang, bukan cerita atau narasi yang argumentatif (tidak benar-benar terjadi, tetapi dapat
13
terjadi dimana saja), serta relatif pendek. Menurut suminto A dan Sayuti bahwa cerpen merupakan cerita fiksi yang dibaca selesai dalam sekali duduk dan cerita dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca. Dengan kata lain sebuah kesan tunggal dapat diperoleh dalam sebuah cerpen yang sekali baca. (Suminto, 1997)
Berdasarkan pengertian di atas, cerpen dapat diartikan sebuah cerita fiksi yang singkat yang hanya melukiskan satu peristiwa atau kejadian penting yang dialami oleh tokoh ceritanya. Dalam sebuah cerpen akan tergambar dan tersaji secara mendalam sebuah peristiwa pokoknya terfokus, kebenaran yang ditampilkan diperkokoh dengan kemampuan imijinasi pengarang.
Dalam sebuah cerpen akan tergambar dan tersaji cecara mendalam sebuah peristiwa pokoknya terpokus yang kebenarannya diperkokoh dengan kemampuan imajinasi pengarang. Menurut Semi, (dalam Sinta, 2006) mengemukakan cerpen menyajikan kebenaran yang diciptakan, dipadatkan, digayakan, dan diperkokoh oleh kemampuan imajinasi pengarang.
Berdasarkan pengertian di atas cerpen dapat diartikan cerita atau narasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif atau tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi di mana saja serta relatif pendek.
F. Model Taba dalam pembelajaran
Model pembelajaran berpikir induktif merupakan karya besar Hilda Taba. Suatu strategi mengajar yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengolah informasi. Secara singkat model ini
merupakan strategi mengajar untuk mengembangkan ketermpilan berpikir siswa. Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut : 1) Kemampuan berpikir dapat diajarkan
2) Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam setting kelas, bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu. Dalam setting tersebut, siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep, yaitu (a) menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut, (b) menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang telah diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis, dan (c) memprediksi dan menjelaskan suatu fenomena tertentu. Guru, dalam hal ini dapat membantu proses internalisasi dan konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut. 3) Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan. Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karena itu, konsep tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut a. Prosedur Pembelajaran
Postulat yang diajikan Taba di atas menyatakan bahwa keterampilan berpikir harus diajarkan dengan menggunakan strategi khusus. Menurut Hilda Taba berpikir induktif melibatkan tiga tahapan dan karenanya ia mengembangkan tiga strategi cara mengajarkannya. Strategi
15
pertama adalah pembentukan konsep sebagai strategi dasar; kedua interpretasi data, dan ketiga adalah penerapan prinsip
b. Aplikasi
Model pembelajaran ini ditujukan untuk membangun mental kognitif. Karenanaya sangat sesuai untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Namun demikian, strategi ini sangat membutuhkan banyak informasi yang harus digali oleh siswa. Kelebuhan dari model ini adalah selain sangat sesuai untuk social study, juga dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Satu hal lagi yang tidak kalah penting, model ini juga secara tidak langsung dapat mengembangkan kemampuan berpikir induktif
Model Taba atau Model berpikir induktif (Inductive Thinking) adalah model pembelajaran yang dikemukakan oleh Taba. Menurut Taba keterampilan berpikir harus diajarkan melalui strategi pengajaran yang khusus didesain untuk menjadikan siswa terampil berpikir. Menurut Wirawan (1998), maksud atau tujuan model Taba adalah terutama untuk membentuk berpikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik dan pembentukkan teori.
Berdasarkan kutipan yang dikemukakan oleh beberapa tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa model Taba (Inductive Thinking) merupakan keterampilan berpikir untuk menjadikan siswa menjadi terampil berpikir, sehingga perlu diterapkan dengan terencana supaya hasil dari penelitian yang dilaksanakan dapat terarah dan hasil dari penelitian dapat tercapainya peningkatan kualitas pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.
Taba yang dikutip oleh Sumantri (1999), dalam pelaksanaanya model ini meliputi tiga tahapan yaitu pembentukan konsep, interprestasi data, dan generalisasi.
1. Pembentukkan konsep
Tahap ini meliputi kegiatan-kegiatan :
a. Menemukan data (kata, frase, atau kalimat) yang menunjukkan alur, penokohan, setting, dan gaya bahasa.
b. Mengelompokan data berdasarkan kesamaan
c. Membentuk kategori dari kelompok-kelompok tersebut. 2. Interprestasi data
a. Menemukan perbedaan butir-butir dalam termuat dalam satu kelompok, misalnya kelompok penokohan: dibedakan antara tokoh utama dan tokoh pembantu(bawahan).
b. Menentukan hubungan sebab akibat dari masing-masing data yang telah dikelompokan. Misalnya hubungan tokoh utama dengan bawahan, hubungan setting yang satu dengan setting yang lain. c. Menarik kesimpulan dari ciri-ciri yang ditumukan . Misalnya, dari
ciri-ciri tokoh utama, bagaimana kesimpuan mengenai watak tokoh tersebut?
3. Pengambilan Kesimpulan
Pada tahap ketiga siswa dituntut untuk menarik kesimpilan akhir dari konsep-konsep yang telah diperolehnya. Misalnya, perbedaan nasib antara tokoh utama dan tokoh yang lain, perbedaan setting utama dengan
17
setting bawahan, perbedaan bahasa yang digunakan masing-masing tokoh.
G. Penerapan Model Taba dalam Pembelajaran Apresiasi Cerpen
Apresiasi cerpen adalah kegiatan menilai atau memahami cerpen. Mulyono, dkk (dalam Nurlenda, 1998) mengatakan apresiasi adalah penilaian atau pemahaman. Apresiasi cerpen yang dimaksud dalam konsep ini adalah kegiatan dalam menilai atau memahami unsur-unsur intrinsik yang termuat dalam cerpen yang meliputi tema, alur, penokohan, latar, pusat pengisahan, dan gaya bahasa.
Yang dimaksud dengan unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Seperti yang dikemukakan oleh (Nurgiantoro, 1995) unsur intrinsik sebuah cerpen merupakan unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita, kepaduan antar inilah yang membuat cerpen terwujud.
Berikut ini akan diuraikan satu-persatu unsur intrinsik cerpen yaitu :
1. Tema
Tema adalah sesuatu yang menjadi pokok pikiran, atau ide yang dominan dalam karya sastra. Tema merupakan unsur yang sangat penting dalam mewakili pemikiran pusat, pemikiran dasar atau tujuan utama penulis dalam karya sastra.
Mencari arti sebuah cerpen pada dasarnya adalah mencari tema yang terkandung dalam cerpen tersebut. Jelas bahwa pengarang tidak
menekan secara jelas tema karangannya, tetapi menyatu dalam semua unsur cerpen, dan dengan hal itu pengarang akan menghasilkan cerpen yang lebih baik. Menurut Ibrahim, (dalam Deri, 2006) menegaskan bahwa tema suatu cerita merupakan pokok pikiran yang dikembangkan oleh pengarang hingga menjadi sebuah cerita. Tema dapat menimbulkan kesan yang hidup bagi pembaca apabila pembaca dapat menguraikan dengan hidup.
Tema adalah ide pokok, ide sentral, atau ide yang dominan dalam karya sastra, Sukada (dalam, Nurlenda, 1998) mengatakan bahwa tema mewakili pemikiran pusat, pemikiran dasar, atau tujuan utama penulis suatu hasil karya sastra.
Berdasarkan kutipan dari para ahli di atas maka tema sebuah karya sastra adalah ide pokok atau persoalan pokok dalam membuat karya sastra(cerpen). Tema yang baik adalah tema yang disajikan secara tidak jelas oleh pengarang, namun pembacalah yang akan menemukan tema itu dengan cara membaca semua cerita.
2. Alur
Alur adalah urutan peristiwa sambung sinambung dalam sebuah cerita atau kejadian. Alur atau plot dalam sebuah karya sastra (cerpen) merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapa-tahapan peristiwa, sehingga menjadi sebuah cerita yang dihadirkan para pelaku dalam sebuah cerita. Intisari alur atau plot memang konflik, tetapi suatu konflik dalam cerpen tidak dapat dipaparkan begitu saja, maka dari itu plot dapat
19
dibagikan dalam elemen-elemen berikut : pengenalan, timbulnya konflik, konflik memuncak klimaks, dan pemecahan persoalan. Hal ini didukung oleh Nurgiantoro sebagai berikut :
“Plot sebuah cerita bagaimana pun tentulah mengandung unsur urutan, baik dikembangkan secara eksplisit maupun imlisit. Oleh sebabitu dalam sebuah teks naratif, tentulah ada awal kejadian, kejadian-kejadian berikutnya, dan ada pula akhirnya (Nurgiantoro, 1995)” dengan adanya plot di atas pembaca dibawa dalam suatu kedaan yang menegangkan, dan alur atau plot adalah alur yang mampu menggiring pembaca menyelasai cerita sebuah cerpen secara keseluruhan.
Alur atau plot dengan jalan cerita memang tak terpisahkan, tetapi harus dibedakan. Struktur plot dalam cerita fiksi strukturnya terbuka, menurut Aminuddin, (dalam Nurlenda, 1998) alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.
3. Penokohan
Penokohan adalah gambaran watak tokoh-tokoh yang dimunculkan pengarang dalam cerita. Sebuah cerpen menceritakan kehidupan para pelakunya, inilah yang disebut tokoh cerita. Menurut Hutagalung, (dalam Deri, 2006) menyatakan bahwa penokohan merupakan proses perwujudan kualitas individual sebuah peran tertentu dalam karya sastra, peran itu akan terlihat dalam aktivitas para tokoh. Menurut Suryadi Permana tokoh adalah pelaku-pelakuu dari sebuah cerita, sedangkan penokohan adalah
penampilan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga menyebabkan terjadinya peristiwa.
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat dikatakan bahwa penokohan merupakan tingkah laku, tindak tanduk, perbuatan pelaku dalam sebuah cerita.
Peristiwa dalam sebuah karya sastra selalu diperankan oleh pelaku-pelaku yang mendukung suatu cerita. Pelaku-pelaku-pelaku itu disebut tokoh sedangkan watak, perwatakan dan karakteristik menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Karakteristik sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan, menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita (Nurgiantoro, 1995)
Masalah penokohan dan perwatakan ini merupakan salah satu hal yang kehadirannya dalam sebuah cerita fiksi sangat menentukan, karena tidak akan mungkin ada suatu karya fiksi tanpa danyan tokoh yang bergerak pad akhirnya membentuk alur cerita. Tokoh dan perwatakan merupakan struktur pola. Ia memiliki fisik dan mental secara bersama-sama membentuk totalitas pelaku yang bersangkutan. Semi, (dalam Deri 2006)
4. Latar
Latar adalah lingkungan atau tempat kejadian suatu peristiwa. Setting atau latar mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Nurgiantoro,1995). Untuk mengetahui latar (setting) adalah dengan
21
mengetahui waktu terjadinya peristiwa tersebut, menentukan kebiasaan-kebiasaan pelaku dan latar belakang alam tempat terjadinya peristiwa tersebut.
Latar adalah segala ketenangan, petunjuk, pengacuan, yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasan terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Secara terperinci latar meliputi penggambaran lokasi geografis, termasuk topografi, pemandanagan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruanagan; pekerjaan atau kesibikan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya lingkungan agam, moral, intelektual, sosial,dan emosional para tokoh. Kenney, (dalam Deri, 2006 )
Jadi jelas bahwa setting dapat membentuk tema dan alur tertentu, setting dapat berarti banyak yaitu tempat tertentu, daerah, orang-orang tertentu dengan watak-watak tertentu akibat situasi lingkukngan atau zamannya, cara hidup dan cara berfikir tertentu.
5. Amanat
Amanat dalam sebuah cerita atau yang sering disebut dengan pesan, merupakan hal penting yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Amanat sebuah cerpen biasa terdapat secara imlisit dan eksplisit. Imlisit biasanya disampaikan lewat tingkah laku tokoh-tokohnya, secra eksplisit bila di tengah atau di akhir cerita, pengarang menyampaikan pesan-pesan, saran, nasehat, maupun pemikiran yang mengandung nilai pendidikan.
6. Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah majas atau ungkapan-ungkapan yang dikemukakan pengarang dalam membangun keindahan karya sastra yang ditulisnya.
Kajian mengenai Apresiasi cerpen seperti yang dikemukakan di atas berhubungan langsung dengan penemuan teori setelah siswa membaca cerpen. Dengan demikian, model Taba dapat diterapkan dalam pembelajaran apresiasi cerpen.
23
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk peningkatan pembelajaran melalui serangkaian tindakan yang diikuti dengan refleksi. Kemudian mencobakan dan mempraktekkan secara sistematis mengenai permasalahan di dalam kelas secara reflektif dan berkolaborasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar siswa (Wardani, 2006).
B. Subyek Penelitian
Subyek yang diteliti adalah guru dan siswa kelas V SD Negeri 01 Tegalrejo Kabupaten Musi Rawas yang berjumlah 34 orang, yang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 23 orang siswa perempuan.
C. Prosedur Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus yang melalui empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi, dan tahap refleksi. Keempat tahap dalam penelitian tindakan kelas tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun yang kembali ke langkah semula (Arikunto, 2006).
Sebelum melakukan perbaikan, peneliti melakukan observasi terhadap penyelenggaraan pembelajaran, khususnya di kelas-kelas tinggi SD Negeri 01 Tegalrejo Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas. Hasil observasi tersebut menemukan bahwa pembelajaran memahami cerpen pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kurang efektif, sehingga menyebabkan kemampuan memahami cerpen siswa kelas V SD Negeri 01 Tegalrejo Kabupaten Musi Rawas tersebut sangat rendah. Dengan nilai rata-rata siswa hanya mencapai 5, 73 (wawancara dengan guru Bahasa Indonesia). Kemudian dianalisis yang menghasilkan simpulan bahwa penyebabnya yaitu guru kurang mampu menerapkan strategi yang inovatif yang sesuai dengan kebutuhan siswa belajar bermakna. Kemudian peneliti melakukan refleksi bersama guru Bahasa Indonesia kelas V SD Negeri 01 Tegalrejo Kabupaten Musi Rawas dan memutuskan solusi pemecahan yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Taba (Inductive Thinking). Strategi ini mempunyai banyak keunggulan sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran bermakna
Ada pun tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (Wardani, 2004)
Perencanaan
Refleksi Tindakan
25
Pada setiap siklus secara rincinya adalah sebagai berikut :
1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini disusun rencana yang akan dilakukan dalam penerapan model TABA (Inductive Thinking) dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia.
Adapun rencana yang akan dilakukan antara lain :
1) Mempersiapkan perangkat mengajar seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Merumuskan tujuan pembelajaran.
3) Mempersiapkan media pembelajaran yang tepat untuk membantu menjelaskan konsep yang diajarkan.
4) Membuat kisi-kisi soal
5) Membuat lembar observasi guru dan lembar observasi siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung
b. Tahap Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dirumuskan. Penerapan model pembelajaran TABA dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :
1) Guru membagi siswa kedalam 6 kelompok yang heterogen dengan jumlah setiap kelompok 6 orang
3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 4) Guru memberikan motivasi
5) Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari
6) Guru membagi tugas pada setiap kelompok untuk memahami cerpen sesuai dengan tema yang diberikan.
7) Guru mengamati kerja kelompok siswa. 8) Siswa mendiskusikan hasil kerja kelompoknya. 9) Membahas dan menyimpilkan hasil diskusi c. Tahap Observasi
Pada pelaksanaan siklus 1 dilaksanakan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Selama kegiatan pembelajaran observasi dilakukan oleh dua orang pengamat yaitu rekan mahasiswa dan guru kelas V. Pengamat memberikan tanda (√) terhadap aspek yang diamati berdasarkan indikatornya.
d. Tahap Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap seluruh hasil penilaian baik yang menyangkut penilaian proses maupun hasil. Hasil penelitian tersebut digunakan sebagai bahan untuk melakukan refleksi. Hasil refleksi digunakan sebagai pedoman untuk menyusun rencana pada siklus II.
27
2. Siklus II
Pada perlakuan siklus II ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran siklus I, urutan-urutan kegiatannya adalah sebagai berikut : a. Tahap Perencanaan
Perencanaan pada tahap siklus II ini kegiatan pembelajarannya berdasarkan hasil dari refleksi siklus I, adapun tahapan dalam kegiatan ini meliputi :
1) Mempersiapkan perangkat mengajar seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Merumuskan tujuan pembelajaran.
3) Mempersiapkan media pembelajaran yang tepat untuk membantu menjelaskan konsep yang diajarkan.
4) Membuat kisi-kisi soal
5) Membuat lembar observasi guru dan lembar observasi siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung
b. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini dilakukan penerapan model Taba sesuai dengan rencana. Adapun langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini adalah sebagai berikut:
1) Guru membagi siswa kedalam 6 kelompok yang heterogen dengan jumlah setiap kelompok 6 orang
2) Guru mengadakan apersepsi
3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 4) Guru memberikan motivasi
5) Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari
6) Guru membagi tugas pada setiap kelompok untuk memahami cerpen sesuai dengan tema yang diberikan.
7) Guru mengamati kerja kelompok siswa. 8) Siswa mendiskusikan hasil kerja kelompoknya. 9) Membahas dan menyimpilkan hasil diskusi
10) Mengadakan evaluasi pada akhir pembelajaran untuk dikerjakan secara individu.
c. Tahap Observasi
Pada pelaksanaan siklus II dilakukan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Selama kegiatan pembelajaran observasi dilakukan oleh dua orang pengamat yaitu dua orang guru. . Pengamat memberikan tanda (√) terhadap aspek yang diamati berdasarkan indikatornya.
d. Tahap Refleksi
Tahap ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali tentang tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus II. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap hasil observasi. Hasil dari analisis tersebut dijadikan sebagai acuan atau pedoman bagi peneliti untuk melaksanakan tindakan selanjutnya dan memperbaiki kekurangan pada pembelajaran tersebut.
29
D. Instrumen Penelitian
Adapun Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 yaitu: 1. Lembar observasi
Lembar observasi merupakan lembar yang digunakan untuk mengamati aktifitas siswa dan guru selama proses pembelajaraan berlangsung. Observasi ini dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Lembar observasi terdiri dari lembar observasi guru dan lembar observasi siswa.
2. Pedoman alat tes
Lembar tes yang digunakan adalah tes tertulis dalam bentuk tes essay, tes dilaksanakan setelah proses belajar mengajar berakhir, dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kecapaian (hasil belajar) siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk pengumpulan data, teknik yang digunakan adalah : 1. Observasi atau pengamatan
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa, dalam observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi atem-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi (Arikunto, 2006).
Alat evaluasi observasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa check list (daftar cek). Observasi pada penelitian ini dengan menggunakan
lembar observasi aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar untuk menentukan kisaran kategori penilaian aktivitas guru dan siswa. 2. Wawancara
Yang dimaksud wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden dengan menggunakan alat yang dinamakan panduan wawancara (Nazir, 2005).
Sebelum dilakukan penelitian tindakan terlebih dahulu dilakukan wawancara terstruktur dengan guru Bahasa Indonesia kelas V SD Negeri 01 Tegalrejo Kabupaten Musirawas untuk memperoleh informasi tentang proses pembelajaran Bahasa Indonesia terutama pada pembelajaran memahami cerpen yang telah dilaksanakan selama ini dan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian. Di samping itu wawancara juga ditujukan pada siswa guna untuk mengetahui cara-cara yang dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia. Data ini akan digunakan sebagai refleksi awal.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2006).
Dokumentasi ini dikumpulkan untuk memperoleh data tentang nilai siswa pada pemahaman cerpen sebelum di adakan penelitian
31
4. Tes
Menurut Arikunto (2006) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan untuk mengukur keterampilan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tes yang dilakukan dengan menggunakan alat yang berupa soal essay.
Untuk memperoleh data yang diperlukan dan data yang akurat, maka penulis menggunakan teknis teks. Arikunto, (2006) mengatakan: “tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperleh data –data atau keteranagan-keteranaganyang diinginkan tentang sseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.” Selain itu Nur Kencana dan Sumartana (1993) mengemukakan sebagai berikut:
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penelitian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yag hanya dikerjakan oleh anak sehinngga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai-nilai standar yang ditetapkan. Tes yang dilakukan berupa tes essay, tes ini digunakan untuk mendapatkan data tentang tingkat kemampuan memahami usur intrinsik dan ekstrinsik cerpen dari seluruh subjek sumber data. Materi yang diteskan sesuai dengan kurikulum dan GBPP SD Bidang Studi Bahasa Indonesia pokok bahasan membaca cerpen berdasarkan tema.
Teknik pengumpulan data ini dapat dilaksanakan dengan cara membuat alat ukur ( tes essay) sebagai berikut :
1. Kemampuan memahami perwatakan atau karakter tokoh, dengan skor maksimum 10
2. Kemampuan memahami latar, dengan skor maksimum 10 3. Kemampuan memahami alur, dengan skor maksimum 10 4. Kemampuan memahami tema, dengan skor maksimum 10 5. kemampuan memahami amanat, dengan skor maksimum 10
6. Kemampuan memahami unsur-unsur pendidikan, dengan skor maksimum 10
7. Kemampuan memahami unsur-unsur moral, dengan skor maksimum 10 8. Kemampuan memahami sikap tokoh dan menanggapi persoalan –
persoalan yang dihadapi tokoh cerita, dengan skor maksimum 15
9. Kemampuan memahami hubungan antar unsur-unsur yang terkandung dalam cerpen, dengan skor maksimum 15
(Nurgiantoro, 1995)
Tabel 1 Sebaran Soal
Aspek yang dinilai No. soal
1. Memahami perwatakan karakter tokoh
2. Memahami latar 3. Memahami alur 4. Memahami tema 5. Memahami amanat
6. Memahami unsur-unsur pendidikan
1 2 3 4 5 6
33
7. Memahami unsur-unsur moral 8. Memahami sikap dan menaggapi
persoalan-persoaln yang dihadapi tokoh cerita
9. Memahami hubungan antar unsur-unsur yang terkandung dalam cerpen
7 8
9
(Nurgiantoro, 1995)
F. Teknik Pengolahan data 1. Teknik penilaian
Untuk memberikan penilaian hasil kemampuan siswa dalam memahami unsur cerpen, terlebih dahulu diberikan skor atau bobot pada masing-masing aspek yang dinilai. Dalam memberikan bobot itu sebaiknya, diberikan pada tingkat dari masing-masing unsur cerpen, dengan demikian unsur yang lebih penting diberi bobot yang lebih tinggi (Nurgiyantoro, 1995). Pembobotan ini tidak bersipat mutlak. Tiap guru dapat membuat atau memilih model yang dianggap paling sesuai baik yang menyangkut pengkategorian aspek-aspeknya maupun besarnya bobot masing-masing aspek itu. Pembobotan tersebut maksimum 100 (Nurgiyantoro, 1995). Adapun bobot penilaian dari masing-masing aspek cerpen dalam penelitian ini dapat dilihat dari tabel 2 berikut ini :
No soal Unsur penelitian Skor Kisi-kisi
1 Memahami
perwatakan atau karakter tokoh
7-10 Jawaban siswa sudah
memenuhi unsur ketepatan sesuai dengan pernyataan dan isi bacaan
3-6 Jawaban siswa kurang memenuhi unsur ketepatan, tetapi masih ada hubungannya dengan isi bacaan
0-2 Jawaban siswa tidak
memenuhi unsur ketepatan atau tidak sesuai dengan isi.
2 Memahami latar atau setting
7-10 Jawaban siswa memenuhi unsur ketepatan sesuai dengan pertanyaan dan isi bacaan
3-6 Jawaban siswa kurang
memenuhi unsur ketepatan, tetapi masih ada hubungannya dengan isi bacaan
35
0-2 Jawaban siswa tiadak
memenuhi unsur ketepatan atau tidak sesuai dengan isi bacaan
3 Memahami alur 7-10 Jawaban siswa memenuhi unsur ketepatan sesuai dengan pertanyaan dan isi bacaan
3-6 Jawaban siswa kurang
memenuhi unsur ketepatan, tetapi masih ada hubungannya dengan isi bacaan
0-2 Jawaban siswa tidak
memenuhi unsur ketepatan atau tidak sesuai dengan isi bacaan
4 Memahami tema 7-10 Tema yang disampaikan
siswa memenuhi unsur ketepatan, sesuai dengan isi bacaan
3-6 Tema yang disampaikan siswa ada, tetapi cara penyampaiannya kurang memenuhi unsur ketepatan
0-2 Tema yang disampaikan
siswa tidak memenuhi unsur ketepatan atau tidak sesuai dengan isi bacaan
5 Memahami amanat 7-10 Amanat yang disampaikan memenuhi unsur ketepatan, sesuai dengan pertanyaan dan berhubungan dengan isi bacaan.
3-6 Amanat yang disampaikan
kurang memenuhi unsur ketepatan, tetapi masih berhubungan dengan pertanyaan dan isi bacaan.
0-2 Amanat yang disampaiakan tidak memenuhi unsur ketepatan dan tidak berhubungan dengan pertanyaan dan isi bacaan.
37
6 Memahami nilai-nilai pendidikan
7-10 Nilai-nilai pendidikan yang disampaikan memenuhi unsur ketepatan, dan berhubungan dengan yang terkandung dalam isi bacaan
3-6 Nilai-nilai pendidikan yang
disampaikan kurang memenuhi unsur ketepatan,
dan masih berhubungan dengan yang terkandung dalam isi bacaan
0-2 Nilai-nilai pendidikan yang
disampaikan tidak memenuhi unsur ketepatan, dan tidak berhubungan dengan yang terkandung dalam isi bacaan 7 Memahami nilai-nilai
moral
7-10 Nilai-nilai moral yang disampaikan memenuhi unsur ketepatan, dan berhubungan dengan yang terkandung dalam isi bacaan
3-6 Nilai-nilai moral yang disampaikan kurang memenuhi unsur ketepatan,
dan masih berhubungan dengan yang terkandung
dalam isi bacaan
0-2 Nilai-nilai moral yang
disampaikan tidak memenuhi unsur ketepatan, dan tidak berhubungan dengan yang terkandung dalam isi bacaan 8 Memahami sikap dan
menanggapi
persoalan-persoalan tokoh
10-15 Siswa mampu memahami sikap tokoh dan menanggapi persolan-persoalan yang dengan jelas dan sempurna dengan isi bacaan.
5-9 Siswa kuarang mampu
memahami sikap tokoh dan menanggapi persoalan-persolan denagan jelas dan sempurna sesuai dengan isi bacaan.
39
0-4 Siswa tidak mampu
memahami sikap tokoh dan menanggapi persoalan-persoalan dengan jelas dan sempurna sesuai dengan isi bacaan
9 Memahami hubungan unsur-unsur yang terkandung dalam cerpen
10-15 Siswa mampu memahami hubungan antar unsur-unsur terkandung dalam cerpen dengan jelas dan sempurna sesuai dengan isi bacaan.
5-9
0-4
Siswa kuarang mampu memahami hubungan antar unsur-unsur terkandung dalam cerpen dengan jelas dan sempurna sesuai dengan isi bacaan
Siswa tidak mampu memahami hunungan antar unsur-unsur terkandung dalam cerpen dengan jelas dan sempurna sesuai dengan isi bacaan
2. Teknik Analisis Data
Data diolah dengan menganalisis semua hasil penelitian yang diperoleh dari tindakan pertama dan kedua yang termuat dalam lembar observasi pada aspek keaktifan siswa dengan menerapkan teknik persentase. Data observasi dianalisis dengan menghitung rata-rata skor pengamatan. Data yang diperoleh tersebut digunakan untuk merefleksi tindakan yang telah dilakukan dan diolah dengan menghitung.
a. Data observasi
Data hasil observasi dengan menggunakan lembar observasi guru dan siswa untuk setiap aspek yang diamati. Kategori yang digunakan adalah kurang (K), cukup (C), dan baik (B) (Sudjana, 2006: 27).
Data observasi yang diperoleh digunakan untuk merefleksi tindakan yang telah dilakukan dan diolah secara deskriptif dengan menghitung:
a. Rata-rata skor =
observer Jumlah
skor Jumlah
b. Skor Tertinggi = Jumlah aspek observasi x skor tertinggi tiap aspek observasi c. Skor Terendah = Jumlah aspek observasi x skor terendah tiap aspek observasi d. Selisih skor = Skor tertinggi – skor terendah
e. Kisaran nilai untuk tiap kriteria =
penilaian kriteria Jumlah skor Selisih (Sudjana, 2006: 27)
41
1) Lembar Observasi Aktivitas Guru
Pada lembar observasi guru terdapat 13 aspek observasi yang dinilai dan skala penilaian yaitu antara 1 sampai dengan 3. Dengan menggunakan rumus di atas akan didapat hasil sebagai berikut:
a) Skor tertinggi yaitu 39 b) Skor terendah yaitu 13 c) Selisih skor yaitu 26
d) Kisaran nilai untuk tiap kriteria 8,6
Skor ini bisa dikonversikan ke dalam bentuk standar 100
a) Skor tertinggi = 39 39 x 100 = 100 b) Skor terendah = 39 13 x 100 = 33,3 c) Selisih skor = 39 26 x 100 = 66,6
d) Kisaran nilai untuk tiap kriteria = 39
6 ,
8 x 100 = 22,1
Hasil skor yang digunakan dengan interval kriteria penilaian. Tabel 3.1a. Interval Kategori Penilaian Aktivitas Guru
No Rentang Nilai Interprestasi Penilaian 1 2 3 13 – 21,6 21,7 – 30,3 30,4 – 39 Kurang Cukup Baik Tabel 3.1b. Konversi Interval Penilaian Aktivitas Guru
No Rentang Nilai Interprestasi Penilaian 1 2 3 33,3 – 55,4 55,6 – 77,7 77,9 – 100 Kurang Cukup Baik
2) Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Pada lembar observasi siswa terdapat 10 aspek observasi yang dinilai dan skala penilaian yaitu antara 1 sampai dengan 3. Dengan menggunakan rumus di atas akan didapat hasil sebagai berikut:
a) Skor tertinggi yaitu 30 b) Skor terendah yaitu 10 c) Selisih skor yaitu 20
d) Kisaran nilai untuk tiap kriteria 6,6
Skor ini bisa dikonversikan ke dalam bentuk standar 100
a) Skor tertinggi = 30 30 x 100 = 100 b) Skor terendah = 30 10 x 100 = 33,3 c) Selisih skor = 30 20 x 100 = 66,6
d) Kisaran nilai untuk tiap kriteria = 30
6 ,
6 x 100 = 22
Hasil skor yang digunakan sesuai dengan interval kriteria penilaian. Tabel 3.2a. Interval Kategori Penilaian Aktivitas Siswa
No Rentang Nilai Interprestasi Penilaian 1 2 3 10 – 16,6 16,7 – 23,3 23,4 – 30 Kurang Cukup Baik
43
Tabel 3.2b. Konversi Interval Kategori Penilaian Aktivitas Siswa No Rentang Nilai Interprestasi Penilaian
1 2 3 33,3 – 55,3 55,6 – 77,6 78 – 100 Kurang Cukup Baik
b. Data Hasil Tes
Setelah diketahui skor tiap subjek, kemudian menghitung jumlah persentase skor seluruh subjek dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
X = N
X
∑ x 100%
Keterangan :
X = Nilai rata-rata siswa ∑X = Jumlah nilai
N = Jumlah siswa
(Nurgiantoro, 1995)
Setelah diperoleh nilai rata-rata persentase kemampuan memahami unsur intrinsik cerpen, kemudian dikonsultasikan pada kriteria interval persentase skala lima. Maksudnya untuk mengetahui gambaran secara umum kemampuan memahami unsur cerpen “ siswa kelas V SD Negeri 01 Tegalrejo Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas . Adapun kriteria yang digunakan terlihat pada tabel 3 berikut ini
Tabel 3. Interval tingkat penguasaan dengan mengunakan perhitungan perentase skala lima.
Interval Persentase
Tingkat Penguasaan
Nilai Ubah Skala
Keterangan 0-4 E-A 85 % - 100 % 75 % - 84 % 60 %- 74 % 40 % -59 % 0 % - 39 % 4 3 2 1 0 A B C D E Baik sekali Baik Cukup Kurang Gagal (Nurgiyantoro, 1995).
45
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Studi Orientasi/Gambaran Awal
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Teglrejo Musi Rawas
sebanyak 2 siklus. Penelitian dilaksanakan terhadap siswa kelas V dengan jumlah siswa sebanyak 34 orang, yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 23 orang siswa perempuan.
Sebelum melaksanakan siklus pertama dilakukan pengamatan awal terlebih dahulu dengan cara mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas dan mengamati nilai siswa pada saat mengapresiasi sastra dapat dikategorikan rendah yang terlihat dari nilai rata-rata hanya mencapai 5,73. Untuk mengatasi masalah ini, guru dan peneliti perlu dilakukan penjelasan secara terperinci dan pemberian tugas secara berstruktur terhadap materi sastra. Salah satu metode yag dapat diterapakan untuk menjelasakan materi sastra dan apresiasi sastra secara berstruktur adalah dengan menerapakan model Taba.
Model Taba dalam pembelajaran bertujuan untuk memperoleh respon siswa terhadap materi yang sedang dipelajarinya. Dari respon tersebut, guru bersama siswa mengambil kesimpulan secara induktif. Dengan kata lain, melalui model Taba ini, guru lebih banyak memancing aktifitas dalam pembelajaran. Tugas guru lebih bersipat pengarahan atau bimbingan kepada siswa dalam menanggapi sastra yang sedang diapresiasi. Jadi proses pembelajaran lebih didominasi oleh peranan siswa bukan otoritas guru.
Melalui model Taba ini diharapakan siswa aktif tidak merasa dirinya sebagai objek pengajaran sastra, tetapi mereka akan merasa bahwa dirinya sebagai sumber dari apresiasi sastra. Mereka tidak merasa digurui tetapi pada diri mereka diharapkan tumbuh kepercayaan untuk menemukan sendiri atau mempunyai pendapat sendiri terhadap sastra yang sedang dibacanya.
B. Deskripsi Persiklus 1. Siklus I
a. Deskripsi Observasi Terhadap Aktivitas Guru.
Pada silkus I dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, dari data observasi yang dilakukan oleh pengamat (observer) rata-rata skor 28 dengan kriteria baik, yang diperoleh dari hasil analisis data berikut ini : .
Rata-rata skor = observer Jumlah skor Jumlah Observasi guru a. Observer 1 : 27 b. Observer 2 : 29 + Jumlah = 56 2 Rata – rata skor = 28 Seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. data hasil observasi terhadap aktivitas guru pada siklus I
NO Pengamat Skor Konversi Skor
1 I 27 69,2
2 II 29 74,4
Total Skor 56 143,6
Rata – rata skor 28 71,8
47
Hasil observasi aktivitas guru di atas telah menunjukan kriteria baik, namun pada aspek penilaian yang dilakukan oleh pengamat (observer) ternyata masih terdapat beberapa aspek yang pelaksanaannya belum berjalan dengan baik (dengan kategori cukup) yaitu :
1). Guru memberikan motivasi (guru memberikan motivasi namun tidak sesuai dengan materi).
2). Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian yang harus dicapai siswa (guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian yang harus dicapai siswa tidak terinci).
3). Guru mengarahkan dan membimbing siswa dalam melakukan pengamatan (guru mengarahkan dan membimbing siswa dalam melakukan pengamatan hanya pada kelompok yang aktif saja).
4). Guru membimbing siswa dalam melaksanakan diskusi (guru membimbing siswa dalam melaksanakan diskusi namun hanya siswa tertentu saja yang aktif).
5). Guru membimbing siswa dalam menarik kesimpulan dan merefleksi hasil pembelajaran (guru membimbing siswa dalam menarik kesimpulan dan merefleksi hasil pembelajaran dengan ditulis di papan tulis namun tidak dijelaskan).
Selain itu terdapat kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran yang harus diperbaiki (dengan kategori kurang) antara lain :
1). Guru membimbing siswa menyajikan hasil pengamatan. 2). Guru memberikan evaluasi.
b. Deskripsi Observasi Terhadap Aktivitas Siswa
Dari hasil data observasi terhadap siswa pada siklus I dalam proses pembelajaran apresiasi cerpen yang dilakukan oleh pengamat diperoleh rata–rata skor observasi 23, yang diperoleh dari analisis data hasil observasi siswa berikut ini : Observasi siswa
a. Observer 1 : 23 b. Observer 2 : 23+
Jumlah = 46 Rata – rata skor = 46 2
= 23
dengan kriteria cukup jika dikonversikan ke dalam skor 100, maka akan diperoleh skor 76,7 dengan kriteria cukup. Hal ini dapat terlihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5. Data Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Siswa pada Siklus I
NO Pengamat Skor Konversi Skor
1 I 23 76,6
2 II 23 76,6
Total Skor 46 153,2
Rata – rata skor 23 76,6
Kriteria cukup cukup
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada proses pembelajaran berada pada kategori cukup. Namun dilihat dari hasil observasi yang dilakukan masih ditemukan beberapa aspek yang pelaksanaannya belum berjalan dengan baik (dengan kriteria cukup) antara lain:
49
Dari tabel di atas, ternyata aktivitas siswa yang dilakukan oleh pengamat (observer) memperoleh nilai rata-rata 23 dengan kategori cukup. Namun dilihat dari hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat (observer) masih ditemukan beberapa aspek yang pelaksanaannya belum berjalan dengan baik (dengan kategori cukup) antara lain :
1). Siswa menyimak penjelasan guru (hanya 2 kelompok yang selalu menyimak penjelasan guru).
2). Siswa mengerjakan LKS sesuai langkah-langkahnya (hanya 4 kelompok yang megerjakan LKS sesuai langkah-langkahnya).
3). Siswa bekerja sama dalam kelompoknya (hanya 3 kelompok yang bekerja sama).
4). Siswa menyajikan data hasil pengamatan (hanya 2 kelompok yang menyajikan data hasil pengamatan dengan baik).
Selain itu terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki pada siklus berikutnya (dengan kategori kurang) antara lain :
1). Siswa berpartisipasi dalam diskusi (hanya 1 kelompok yang aktif berdiskusi).
2). Siswa menarik kesimpulan dan merefleksi hasil pembelajaran (hanya 1 kelompok yang mampu merefleksi hasil pembelajaran).
3). Siswa mengerjakan evaluasi
4). Siswa mencatat hasil pengamatan dalam LKS (hanya I kelompok saja yang mencatat).