PUTUSAN Nomor 23 PK/N/1999
============================= DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
MAHKAMAH AGUNG
memeriksa permohonan Peninjauan Kembali perkara niaga telah mengambil putusan sebagai berikut dalam perkara kepailitan dari:
Tuan TEKMAN KUNTJORO NJOTO alamat di Jalan Moh. Yamin, SH. RT.007-RW.05 No.21 Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat dalam hal ini diwakili oleh kuasanya ADJIZ GUNAWAN WIBOWO, SH. DKK. Advokat/Pengacara pada kantor Adjiz Gunawan Wibowo, SH. & Partners beralamat di Jalan Rangkah 1/59 Surabaya, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 15 September 1999.
Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Termohon Kasasi/ Termohon Pailit/Debitur; Melawan
PT. MUSTIKA BUKIT KENCANA berkedudukan di Jalan Teluk Betung No. 6 Menteng, Jakarta Pusat dalam hal ini diwakili oleh kuasanya METIAWATI, SH. dan DARYO M, SH. Para Advokat/Pengacara pada DEA LAW FIRM beralamat di Jalan Pintu Air Raya No. 8 Pasar Baru, Jakarta 10710 berdasarkan surat kuasa khusus ` tanggal 27 September 1999.
Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Kasasi/ Pemohon Pailit/Kreditur; Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan ;
Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata bahwa Pemohon Peninjauan kembali dahulu sebagai Termohon Kasasi/Termohon Pailit telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap putusan Mahkamah Agung tanggal 26 Juli 1999 Nomor 018 K/N/1999 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali, dahulu sebagai Pemohon Kasasi/Pemohon Pailit dengan posita perkara sebagai berikut:
Bahwa Pemohon adalah suatu Perseroan Terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Notaris Ny. Etief Moesa Sutjipto Nyoto, SH. tanggal 8 Nopember 1995 Nomor : 15 yang telah memperoleh pengesahan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : 02-2952.HT.01.TH.96 (bukti P.la, P.lb dan P.lc, P.2a, P.2b);
Bahwa sesuai dengan Akta Pernyataan Nomor : 6 yang dibuat dihadapan Ny. Etief Mousa Sutjipto Njoto, SH., tanggal 8 April 1999 Termohon telah menerima uang dari Pemohon sebesar Rp.7.308.726.156,21 (tujuh milyar tiga ratus delapan tujuh ratus dua puluh enam ribu seratus lima puluh enam rupiah dua puluh satu sen) sesuai dengan bukti transfer pada PT. Bank: Central Asia Kantor Cabang Pembantu Jakarta Puri lndah. Tertanggal 8 April 1999 Nomor: AJ245586 dan AJ245587 dengan janji dalam tujuh hari kerja dijamin para Direksi dan seluruh pemegang
saham PT. Akhates Plywood menandatangani Draf Perjanjian Penyerahan seluruh hasil produksi Logs (kayu bulat) dari Areal HPH milik PT. Akhates Plywood kepada Pemohon (bukti P-3, P-4 dan P-5);
Bahwa setelah jangka waktu terlampau ternyata Termohon tidak menyerahkan kayu-kayu Logs dan saham-saham PT. Akhates Plywood kepada Pemohon dan juga tidak mengembalikan uang Pemohon, baik secara langsung maupun sesuai Pernyataan, yaitu dengan setoran kepada PT. Bank Central Asia Nomor Rekening 2623002578 maupun secara langsung kepada Pemohon, sehingga pada tanggal 16 April 1999 masa pengambilan uang Termohon kepada Pemohon telah jatuh tempo atau dapat ditagih dengan beban bunga keterlambatannya sebesar 2,5% (dua koma lima persen) sebulan, sesuai dengan somasi terakhir dari pihak Pemohon tertanggal 3 Mei 1999 (bukti P-6);
Bahwa disamping sebagai Debitur dari Pemohon tersebut diatas, ternyata dapat diketahui oleh Pemohon bahwa Termohon juga Debitur dari PT. Bank International Indonesia berkedudukan di Jalan M.H. Thamrin Kav-22 Jakarta Pusat yang telah jatuh tempo dan telah dipermasalahkan di persidangan umum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam Perkara Nomor: 530/Pdt.G/1998/PN.Jkt.Pst. (bukti P-7);
Bahwa oleh karena Termohon mempunyai 2 (dua) Kreditur dan tidak membayar sedikitnya 1 (satu) utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, maka Termohon dapat dinyatakan Pailit dengan Putusan Pengadilan (Pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 4 tahun 1998);
Bahwa dengan ini Pemohon mengajukan permohonan kiranya dapat diletakkan penyitaan jaminan atas barang-barang milik Termohon berupa:
1. Sebidang tanah Hak Guna Bangunan NO. 3767/Menteng seluas 942 M2 berikut dengan bangunan yang didirikan di atas tanah tersebut, setempat dikenal dan terletak di Jalan Prof. Mohamad Yamin, SH. No.19-A dan No.20 Menteng, Jakarta Pusat;
2. Sebidang tanah Hak Guna Bangunan No.3616/Menteng seluas 929 M2 berikut dengan bangunan yang didirikan diatas tanah tersebut, setempat dikenal dan terletak di Jalan Prof. Mohamad Yamin, SH. No. 21 Menteng, Jakarta Pusat;
3. 2 (dua) buah bangunan di Permata SAPHIRE Blok W No.907 dan 909 Apartemen SAPHIRE REGENCY, berikut dengan hak atas tanahnya, Permata Hijau, Jakarta Selatan; Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Pemohon mohon agar Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memberikan putusan sebagai berikut:
- Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
- Menyatakan sah dan berharga penyitaan jaminan yang telah diletakkan tersebut; - Menyatakan Tuan Tekman Koentjoro Njoto, Pailit;
- Mengangkat Balai Harta Peninggalan DKI Jakarta sebagai Kurator dari Tuan Tekman Koentjoro Njoto tersebut;
- Biaya perkara menurut hukum;
Menimbang, bahwa amar putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tanggal 15 Juni 1999 Nomor 30/Pailit/1999/PN.Niaga/ Jakarta Pusat adalah sebagai berikut;
- Menghukum Pemohon membayar semua biaya perkara yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah)
Menimbang, bahwa amar putusan Mahkamah Agung tanggal 26 Juli 1999 No.018 K/N/1999 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:
- Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PT. MUSTIKA BUKIT KENCANA, dalam hal ini diwakili oleh kuasanya: METIAWATI, SH. dan DARYO M, SH. tersebut;
- Membatalkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tanggal 15 Juni 1999 No.30/Pailit/1999/PN.Niaga/Jkt.Pst.;
Mengadili Sendiri:
- Mengabulkan permohonan Pemohon:
- Menyatakan Tuan TEKMAN KOENTJORO MOTO dalam keadaan paint; - Memerintahkan Ketua Pengadilan Niaga Jakarta Pusat untuk:
- Mengangkat Hakim Pengawas; - Mengangkat Kurator;
- Menentukan biaya Kurator;
- Membebankan semua biaya perkara baik yang jatuh pada Pengadilan Niaga sebesar Rp.5.000.000,00 (lima juta rupiah) maupun dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp.2.000.000,00 (dua juta rupiah) kepada Pemohon;
Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut in casu putusan Mahkamah Agung tanggal 26 Juli 1999 Nomor 018 K/N/1999 diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan kembali pada tanggal 2 September 1999 kemudian dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 15 September 1999 diajukan permohonan Peninjauan Kembali secara tertulis dikepaniteraan Pengadilan Niaga tersebut pada tanggal 24 September 1999 permohonan mana disertai dengan memori yang memuat alasan-alasan permohonannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Niaga tersebut pada hari itu juga; Menimbang, bahwa tentang permohonan Peninjauan Kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama pada tanggal 27 September 1999 kemudian terhadapnya oleh pihak lawan telah diajukan jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tanggal 4 Oktober 1999;
Menimbang, bahwa oleh karena itu sesuai dengan pasal 286, 287, 288 PERPU Nomor 1 tahun 1998 yang telah ditetapkan menjadi Undang-undang Nomor 4 tahun 1998, permohonan Peninjauan Kembali a quo beserta alasan-alasannya yang diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara-cara yang ditentukan Undang-Undang, maka oleh karena itu formil dapat diterima; Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan-alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Bahwa telah terdapat kesalahan berat dalam penerapan hukum.
Bahwa dalam pertimbangan hukum putusannya pada halaman 16 alinea 2 dan 3 Mahkamah Agung menimbang bahwa meskipun Termohon asal menyangkal sebagai Debitur dari Bank
International Indonesia (BII) namun berdasarkan bukti-bukti K II-1 sampai dengan K II-4 terbukti bahwa Bank International Indonesia (BII) adalah Kreditur Termohon asal. Padahal selama dalam persidangan bukti K II-1 sampai dengan K II-4 tidak pernah diajukan dan tidak pula pernah dicocokkan dengan aslinya, sehingga bukan merupakan suatu alat bukti yang sah dan oleh karena itu pula tidak dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk membatalkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Selain itu, Bank International Indonesia (BII) bukanlah Kreditur Termohon asal/Pemohon Peninjauan Kembali sebab sebelum gugatan Pailit diajukan antara Bank International Indonesia (BII), dengan Termohon asal/Pemohon Peninjauan Kembali sudah dalam tahap perundingan pelunasan dan pada saat pertimbangan dan putusan Mahkamah Agung tersebut diucapkan hutang-hutang Termohon asal/Pemohon Peninjauan Kembali sudah lunas (vide bukti PK 1 sampai dengan PK 7c).
2. Bahwa telah terdapat kesalahan berat dalam penerapan hukum.
Bahwa dalam pertimbangan hukum putusannya pada halaman 12 alinea 1 mengenai pertimbangan atas keberatan-keberatan kasasi ad.l dan ad.2 disebut sebagai dasar pertimbangan syarat-syarat Debitur dapat dinyatakan Pailit dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang Nomor 14 tahun 1998, sedangkan Pemerintah Republik Indonesia tidak pernah membuat Undang-Undang Nomor 14 tahun 1998 yang mengatur syarat-syarat tentang Debitur dapat dinyatakan Pailit. 3. Bahwa demikian pula mengenai pertimbangan hukum pada halaman 14 alinea 2 yang
menimbang bahwa ternyata Draft Akta tersebut tidak ditandatangani oleh Direktur Utama serta tidak mendapat persetujuan dari para Pemegang Saham, maka uang yang telah diterima oleh Termohon menjadi tanggung jawab pribadi Termohon untuk mengembalikan uang tersebut kepada Pemohon;
Bahwa karena Termohon tidak mengembalikan uang tersebut kepada Pemohon, maka uang tersebut menjadi utang Termohon pada Pemohon.
Bahwa bukti draft akta yang dijadikan dasar pertimbangan tersebut selama persidangan sampai dengan putusan nomor 30/Pailit/1999/PN.Niaga/Jkt.Pst. diucapkan, tidak pernah diajukan oleh Pemohon asal dan tidak pula pernah dicocokkan dengan aslinya.
Selain itu sebagai draft akta jelas belum ditandatangani, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan bukan alat pembuktian yang sah.
Disamping itu Termohon asal/Pemohon Peninjauan Kembali secara pribadi tidak pernah menerima/menikmati uang sebesar Rp.7.308.776.156,21 sebagaimana dalam pertimbangan Mahkamah Agung tersebut. Hal mana nyata-nyata bertentangan dengan bukti P.4 dan P.5 dimana uang tersebut justru merupakan kewajiban Pemohon asal/Termohon Peninjauan Kembali yang timbul akibat bukti T.1 untuk transfer pembayaran DR/IHH pada Rekening Menteri Kehutanan dan hal mana bukan merupakan hutang PT. Akhates Plywood dan bukan juga hutang pribadi Termohon asal/Pemohon Peninjauan Kembali.
Disamping hal tersebut Undang-undang Perseroan Terbatas Nomor 1 tahun 1995 pasal 3 (1) jo Pasal 28 (1) jo pasal 50 disebutkan pemegang saham secara pribadi tidak bertanggung jawab atas ikatan yang dibuat Perseroan, dan hutang Perseroan tidak bisa begitu saja dirubah statusnya menjadi hutang pribadi hanya karena draff tidak ditandatangani oleh Direktur Utama sebagaimana pertimbangan tersebut.
4. Bahwa kesalahan berat lainnya adalah pada pertimbangan putusan Mahkamah Agung pada halaman 14 alinea 3 mengenal pengertian utang. Bahwa pertimbangan Majelis Kasasi mengenai pengertian utang in casu adalah sama dengan pengertian utang baik yang timbul karena Undang-Undang maupun karena perikatan; yaitu segala bentuk kewajiban Debitur yang dapat dinilai dengan sejumlah uang tertentu, hal mana bertentangan dengan bukti P.4 dan P.5 dimana uang sejumlah Rp.7.308.776.156.21 nyata-nyata bukan hutang pribadi, dan tidak pula dinikmati secara pribadi oleh Pemohon Peninjauan Kembali.
Selain itu sebagaimana diakui sendiri oleh Mahkamah Agung bahwa Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tidak memberi pengertian tentang utang sehingga menimbulkan perbedaan penafsiran sehingga terbukti bahwa pertimbangan tersebut hanya didasarkan pada penafsiran yang keliru dan salah penerapan hukum.
Menimbang, bahwa atas alasan-alasan Peninjauan Kembali tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:
mengenai alasan-alasan ad.1 sampai dengan ad.4
bahwa alasan-alasan ini tidak dapat dibenarkan, karena tidak ada bukti-bukti tertulis baru dan kesalahan-kesalahan berat dalam penerapan hukum yang dilakukan oleh Hakim Kasasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 286 ayat 2 PERPU Nomor 1 tahun 1998 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang dengan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1998;
Menimbang, bahwa berdasarkan hal-hal yang dipertimbangkan diatas, maka permohonan Peninjauan Kembali tersebut adalah tidak beralasan, sehingga harus ditolak;
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan Peninjauan Kembali ditolak, maka Pemohon Peninjauan Kembali dihukum untuk membayar biaya perkara dalam Peninjauan Kembali ini; Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 jo Undang-undang Nomor 35 tahun 1999, Undang-undang Nomor 14 tahun 1985 dan PERPU Nomor 1 tahun 1998 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 4 tahun 1998 serta Undang-Undang lain yang bersangkutan;
Mengadili
Menolak permohonan Peninjauan Kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali : Tuan TEKMAN KUNTJORO NJOTO, yang diwakili oleh kuasanya ADJIZ GUNAWAN WIBOWO, SH. Dkk. Para Advokat/Pengacara tersebut;
Menghukum Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam Peninjauan Kembali ini yang ditetapkan sebesar Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah);
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari SENIN, tanggal 8 Nopember 1999 dengan SARWATA, SH. Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Sidang, H. ZAKIR, SH. Ketua Muda Mahkamah Agung dan TH. KETUT SURAPUTRA, SH. Wakil Ketua Mahkamah Agung masing-masing sebagai Hakim-Hakim Anggota dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Sidang tersebut, dengan dihadiri oleh H. Zakir, SH. dan TH. KETUT SURAPUTRA, SH. Hakim-Hakim Anggota, SIRANDE PALAYUKAN, SH. Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh kedua belah pihak.
Hakim-Hakim Anggota Ketua ttd. ttd H. ZAKIR, SH SARWATA, SH. ttd TH. KETUT SURAPUTRA, SH. Panitera Pengganti ttd. SIRANDE PALAYUKAN, SH Biaya-biaya 1. Meterai Rp. 2.000,- 2. Redaksi Rp. 1.000,- 3. Administrasi Peninjauan Kembali Rp. 2.497.000,-
JumIah Rp. 2.500.000,-
Untuk Salinan
MAHKAMAH AGUNG R.I.
a.n. PANITERA/SEKRETARIS JENDERAL DIREKTUR PERDATA NIAGA I GDE KETUT SUKARATA, SH.