IMPLEMENTASI AKAD ISTISHNA’ PADA PRODUK KPR
INDEN iB DI BANK BTN SYARIAH KC TANGERANG
DITINJAU BERDASARKAN FATWA DSN NO.
06/DSN-MUI/IV/2000 TENTANG AKAD ISTISHNA’
Martavevi Azwar1
Ikval Moris Maulana2
ISSN: Accepted: 15.10.2020
DOI: Type: Reseach Article
Abstrak
The purpose of this study is to determine the implementation of the istishna’ contract on Inden KPR products at Branch Office of Bank BTN Syariah in Tangerang City and to figure out the suitability of applying the istishna’ contract to Inden KPR products at Bank BTN Syariah Syariah Branch Office in Tangerang City with Fatwa DSN MUI No. 06 / DSN-MUI / IV / 2000 regarding the istishna’ contract. The research methodology used is descriptive qualitative, which is, the research will describes the studied object based on the facts, distinctness and deep meaning. The results of the research on the implementation of the istishna' contract on the KPR Inden iB product at Bank BTN Syariah KCS Kota Tangerang were reviewed based on the Fatwa DSN MUI No. 06 / DSN-MUI / IV / 2000, in practice of the istishna’ contract on the Inden iB KPR products is in accordance with the MUI DSN Fatwa.
Keyword: Implementation of The Istishna’, Inden KPR Products, Fatwa DSN MUI
PENDAHULUAN
Rumah merupakan kebutuhan dan sebuah tempat tinggal yang tidak murah untuk dijangkau oleh semua anggota masyarakat, maka kepemilikan rumah sangat mudah dapat ditempuh melalui proses kredit perumahan yang dikenal luas dengan sebutan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). KPR merupakan produk perbankan atas pembiayaan pembelian rumah yang ready stock. Rumah yang ready stock adalah rumah yang telah siap di bangun, siap huni dan telah terpasang instalasi berikut meteran listrik dan airnya, sedangkan rumah inden adalah rumah yang segera dibangun setelah ada pembelinya yang dikerjakan oleh kontraktor melalui perintah dari pengembang perumahan (developer). Keputusan pembelian rumah secara KPR sepertinya sudah menjadi keputusan yang benar bagi masyarakat, karena dapat mempermudah anggota masyarakat yang menginginkan tempat tinggal nyaman dan spesifik. Sebagian besar pembelian rumah merupakan pembelian dalam proses KPR. Keputusan pembelian rumah secara KPR ini sangat banyak dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari tawaran perbankan, promosi developer, hubungan perbankan dengan nasabah, hubungan kerabat dengan kerabat dan lain sebagainya. Satu hal yang paling banyak mempengaruhi keputusan pembelian rumah secara KPR adalah dari suku bunga perbankan yang berlaku (Isra Kusnadi 2018, 1).
*STES Islamic Village, SE., ME, Tangerang. Telp. 081319637959, [email protected], ORCID: https://jurnal.stesislamicvillage.ac.id/index.php/JURNAL
**STES Islamic Village, SE, Tangerang. Telp. 089607327055 [email protected], ORCID:
Bank Tabungan Negara (BTN) merupakan bank yang terkenal menyalurkan dana dalam bentuk produk kredit perumahan rakyat (KPR). Produk tersebut sejalan dengan visi dari BTN itu sendiri yaitu “menjadi bank yang terdepan dalam pembiayaan perumahan”. Produk KPR Inden iB BTN adalah fasilitas pembiayaan kepemilikan rumah pesanan dari nasabah dengan kondisi rumah belum terbangun atau sedang dalam tahap pembangunan (Ridha Clasnita Thulusia 2018, 2-3). Terdapat perkembangan pembiayaan nasabah KPR Inden iB BTN dari tahun 2016 jumlah nasabah KPR 558, 2017 jumlah nasabah KPR 567, 2018 jumlah nasabah KPR 623, 2019 jumlah nasabah KPR 919 dan jumlah keseluruhan dari tahun 2016-2019 sebanyak 2667 nasabah KPR Inden. Dari pihak Bank BTN Syariah terdapat suatu pemasaran dan komunikasi yang baik kepada nasabah atau calon nasabah baru, sehingga meningkatnya jumlah pembelian rumah secara KPR dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2019.
Berdasarkan pemaparan di atas dalam latar belakang masalah maka Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul dan meneliti mengenai “Implementasi Akad
Istishna pada Produk KPR Inden iB di Bank BTN Syariah Kantor Cabang Kota
Tangerang ditinjau berdasarkan Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang Akad
Istishna.”
Tujuan Penelitian
Penulis mempunyai tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Adapun beberapa tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penerapan akad istishna pada produk KPR Inden iB di Bank BTN Syariah Kantor Cabang Syariah Kota Tangerang.
2. Untuk mengetahui kesesuaian penerapan akad istishna pada produk KPR Inden iB di Bank BTN Syariah Kantor Cabang Kota Tangerang dengan Fatwa DSN MUI No.06/DSN-MUI/IV/2000 tentang istishna.
TINJAUAN LITERATUR
Akad IstishnaKata istishna’ dalam bahasa arab berarti membuat sesuatu, dalam ensiklopedi hukum
islam “istishna” adalah akad yang mengandung tuntunan agar shani’ membuat sesuatu
pesanan dengan ciri-ciri khusus dan harga tertentu. Secara istilah, istishna’ akad dimana seorang produsen mengerjakan sesuatu yang dinyatakan dalam perjanjian, yaitu akad untuk membeli sesuatu yang dibuat oleh seorang produsen dan barang serta pekerjaan dari pihak produsen tersebut. Menurut Muhammad Syafi’i Antonio, istishna’ adalah transaksi bai’ istisna’ merupakan kontrak antara penjual, pembelian dan pembuat barang. Dengan kontrak ini pembuat barang menerima pesanan dari pembeli dan pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah di sepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga yang telah disepakati bersama serta sistem pembayaran, apakah pembayaran dilakukan dimuka melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang (Azis Ichwan 2018, 38-39).
Menurut Fatwa DSN No. 06/DSN MUI/IV/2000 tentang jual beli istishna’, istishna’ merupakan kontrak penjualan antara mustashni’ (pembeli) dan shani’ (penjual) dimana pihak penjual menerima pesanan dari pembeli menurut spesifikasi tertentu. Pihak penjual berusaha melalui supplier (orang ketiga) untuk membeli atau membuat barang dan menyampaikannya kepada pemesan (Moh Mukhsinin Syu’aibi dan ifdlolul Maghfur 2019, 142). Pembayaran dapat dilakukan di muka, cicilan atau ditangguhkan hingga waktu tertentu. Landasan hukum syariah akad istishna’ terdapat dalam Qur’an QS.
ِنْيَدِب ْمُتْنَياَدَتاَذِاآ ْوُنَما َنْيِذَّلااَهُّيَاي
....ُُۗه ْوُبُتْك اَف ىًّمَسُّم ٍلَجَا ىلِا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu´amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya….”
Dalam prakteknya transaksi istishna’ ini perlu dijalankan dengan ketat yang memenuhi rukun dan syarat sebagai berikut: (Ainun Nurfadillah dan Asrul 2019, 104) 1. Produen/pembuat (shani’)
2. Pemesan/pembeli (mustashni’) 3. Barang/jasa yang dipesan (mashnu’) 4. Harga (tsaman)
5. Ijab Qabul (shigat); dan syarat akad istishna’ 6. Kriteria objek harus jelas.
7. Objeknya itu sendiri sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 8. Jangka waktu pesanan harus jelas.
Syarat jual beli istishna’ Adapun syarat jual beli istishna’, yaitu:
a. Kedua pihak yang melakukan transaksi akad jual beli istishna’ haruslah yang berakal, dan mempunyai kekuasaan dalam melakukan jual beli.
b. Kedua pihak harus saling ridha tidak saling mengingkari janji.
c. Barang yang akan dibuat harus jelas, misalnya seperti: jenis, macam, ukuran, mutu, dan sifatnya, karena barang yang akan diperjual belikan harus diketahui dengan jelas. Fatwa DSN MUI tentang Akad Istishna
Fatwa DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia) bahwa jual beli istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu yang disepakati antara pemesan (pemesan, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’) (Muhammad Rizki Hidayah, Kholil Nawawi, dan Suyud Arif 2018, 5).
1. Ketentuan tentang Pembayaran
a. Alat pembayaran harus jelas diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaatnya.
b. Pembayaran yang dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak, dan
c. Dalam pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang. 2. Ketentuan tentang Barang
a. Harus dapat dijelaskan ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang. b. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
c. Penyerahannya barang dapat dilakukan kemudian.
d. Waktu dan tempat penyerahan pada barang harus ditetapkan berdasarkan suatu kesepakatan.
e. Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
f. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang yang sejenis sesuai dengan kesepakatan.
g. Dalam hal jika terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan atau dengan pesanan, maka pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.
3. Ketentuan lainnya
a. Dalam hal pesanan yang sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat.
b. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna’.
c. Jika salah satu pihak terdapat tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah (BAS) setelah tidak tercapainya kesepakatan melalui musyawarah bersama.
Implementasi Akad Istishna
Berikut ini adalah skema pembiayaan Akad Istishna, sebagai berikut:
Gambar 1.1
Skema Pembiayaan Akad Istishna’ Keterangan berdasarkan gambar di atas: (Andri Soemitro 2019, 90) 1. Pembeli memesan barang kepada penjual berdasarkan spesifikasinya.
2. Negosiasi dan persyaratan antara penjual dan pembeli berdasarkan kesepakatan (Akad
Istishna).
3. Penjual membuatkan barang yang sudah dipesan berdasarkan spesifikasi yang sudah disepakati.
4. Penjual selanjutnya setelah barang sudah dibuat lalu barang segera dikirimkan kepada pembeli beserta dokumen-dokumehn tersebut.
5. Setelah tahapan 1-4 selesai pembeli membayarkan secara diangsuran kepada penjual. Implementasi akad istishna dalam perbankan syariah:
1. Bank menjual barangnya kepada nasabah dengan spesifikasi, kualitas, jumlah, jangka waktu, tempat, dan harga yang telah disepakti oleh kedua belah pihak.
2. Pembayaran oleh nasabah kepada bank tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang nasabah kepada bank (KPR).
3. Alat pembayaran harus diketahui jumlah dan bentuknya sesuai berdasarkan kesepakatan; dan
4. Pembayaran oleh nasabah suatu pembeli barang kepada bank dilakukan secara bertahap atas sesuai kesepakatan yang telah disetujui.
Produk KPR Inden iB
KPR Inden adalah fasilitas untuk memiliki rumah berdasarkan pesanan karena rumahnya belum jadi atau belum dibangun tetapi nasabah sudah melihat bentuk fisik rumah tersebut dari sebuah foto atau gambar dan mengetahui spesifikasi rumah tersebut. Adapun manfaat dan fitur yang diperoleh adalah sebagai berikut: (Nia Hayuniati 2019, 5-6) 1. Terdapat pilihan angsuran berupa fixed atau berjenjang.
2. Jangka waktu pembiayaan sampai dengan 20 tahun.
3. RPC (Remote Prosedur Call) maksimal 70 (persen) dari penghasilan bersih. 4. Margin kompetitif dan dilindungi asuransi jiwa serta kebakaran.
Penelitian Terdahulu yang Relevan
Terdapat beberapa penelitian terdahulu terkait implementasi akad istishna’, seperti yang dilakukan oleh Sundari dan M Mujtaba Mitra Zuana (2018) dengan judul penelitian “Analisis Implementasi Akad Istishna Pembiayaan Rumah (Studi Kasus Perumahan Alam Desa Ketidur Mojokerto)”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa akad yang digunakan adalah akad istishna dengan terbebas dari riba/bunga, menganut konsep tidak menerapkan suku bunga atau riba, tidak ada denda, tidak menjamin barang yang bukan milik pembeli, dan harga kredit yang ditentukan berlaku tetap hingga lunas.
Muhammad Rizki Hidayah, Kholil Nawawi, dan Suyud Arif (2018) dengan judul penelitian “Analisis Implementasi Akad Istishna Pembiayaan Rumah (Studi Kasus
Developer Property Syariah Bogor)”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa akad
istishna dengan terbebas dari riba/bunga, menganut konsep tidak menerapkan suku bunga atau riba, tidak ada denda, tidak menjamin barang yang bukan milik pembeli, dan harga kredit yang ditentukan berlaku tetap hingga lunas.
Erdi Marduwira (2015) dengan judul penelitian “Akad Istishna dalam Pembiayaan Rumah pada Bank Syariah Mandiri (Studi Kasus pada Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Cinere)”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Bank Syariah Mandiri mengalami pembiayaan bermasalah hal ini disebabkan oleh karakter nasabah dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah (krisis moneter).
Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1
METODE PENELITIAN
Metode kualitatif berusaha memahami dan menjelaskan tentang makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. Penelitian yang menggunakan penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami obyek yang diteliti secara mendalam (Farida Nugharani 2015, 61) . Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, penelitian yang digunakan ini menggambarkan serta memahami implementasi akad istishna’ pada produk KPR Inden iB berdasarkan Fatwa DSN MUI No. 06 dan hasil dari penelitian ini hanya mendeskripsikan mengkonstruksikan wawancara-wawancara terhadap subjek penelitian sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kesesuaian implementasi akad istishna dalam fatwa dsn-mui pada produk KPR Indent.
Teknik Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Suwerda 2018, 144). Selain itu, dalam penelitian kualitatif terdapat beberapa uji keabsahan data di antaranya: (Sugiyono 2016, 246)
1. Uji Kredibilitas (Credibility) 2. Uji Keteralihan (Transferability) 3. Uji Kebergantungan (Dependability) 4. Uji Kepastian (Confirmability)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Implementasi Akad Istishna’ pada Produk KPR Inden iB di Bank BTN Syariah KCS Kota Tangerang dengan Fatwa DSN MUI No. 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli
Istishna’
1. Ketentuan tentang Pembayaran
Pertama: “Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang,
atau manfaatnya”. Dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang
sudah sesuai penerapannya, karena pembayaran KPR dilakukan dengan transfer ke rekening penjual setelah dilakukan akad pembiayaan.
Kedua: Pembayaran dilakukan bertahap ke rekening penjual sesuai dengan progress pembangunan dilapangan dan kesepakatan sebelum akad pembiayaan,”Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan”dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang sudah sesuai penerapannya berdasarkan Fatwa pertama point kedua.
Ketiga: “Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang”, dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang sudah sesuai penerapannya, mencegah terjadinya resiko seperti: kredit macet atau nasabah (debitur) menghilang. Karena akad jual beli dengan akad istishna’ antara bank (penjual) dan nasabah (pembeli) hukumnya mengikat.
2. Ketentuan tentang Barang
Pertama: KPR Indent barang (rumah) posisi rumah belum tersedia, namun pihak bank sudah menjelaskan barang (rumah) berdasarkan ciri-ciri dan spesifikasinya, mulai dari luas tanah, luas bangunan, model (bentuk) dan gambar (foto) rumah tersebut, dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang sudah sesuai penerapannya berdasarkan Fatwa kedua point pertama, “Harus jelas
ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang”.
Barang harus dengan spesifikasi yang jelas dan durasi (waktu) yang jelas, untuk rumah luas bangunan kemudian untuk plafonnya kayu atau baja ringan
harus jelas, kemudian lantai menggunakan keramik super atau kw1 (satu) harus sesuai berdasarkan perjanjian atau kesepakatan (Irwan Maulana 2020). Kedua: KPR Indent barang (rumah) posisi rumah belum tersedia, namun pihak bank sudah menjelaskan barang (rumah) berdasarkan ciri-ciri dan spesifikasinya, mulai dari luas tanah, luas bangunan, model (bentuk) dan gambar (foto) rumah tersebut, dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang sudah sesuai penerapannya berdasarkan Fatwa kedua point kedua, “Harus dapat
dijelaskan spesifikasinya”.
Barang harus dengan spesifikasi yang jelas dan durasi (waktu) yang jelas, untuk rumah luas bangunan kemudian untuk plafonnya kayu atau baja ringan harus jelas, kemudian lantai menggunakan keramik super atau kw1 (satu) harus sesuai berdasarkan perjanjian atau kesepakatan (Irwan Maulana 2020). Ketiga: “Penyerahan dilakukan dikemudian” dalam penyerahannya dilakukan dikemudian hari perlu waktu 4 bulan dari akad selesai dan dibuktikan dengan adanya BAST (Berita Acara Serah Terima) atas pesanan rumah yang telah selesai pembangunannya, dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang sudah sesuai penerapannya berdasarkan bunyi Fatwa kedua point ketiga.
Keempat: Barang (rumah) waktu dan tempat penyerahannya biasanya dilakukan di lokasi proyek tersebut, agar nasabah bisa cek atau melihat langsung atas rumah yang telah selesai pembangunannya berdasarkan kesepakatan,
“Waktu dan Tempat penyerahannya barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan” dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang sudah
sesuai dengan penerapannya dengan Fatwa ketiga point keempat.
Barang harus dengan spesifikasi yang jelas dan durasi (waktu) yang jelas, untuk rumah luas bangunan kemudian untuk plafonnya kayu atau baja ringan harus jelas, kemudian lantai menggunakan keramik super atau kw1 (satu) harus sesuai berdasarkan perjanjian atau kesepakatan (Irwan Maulana 2020). Kelima: “Pembeli (mustashni) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya” berdasarkan KPR barang (rumah), tidak boleh menjual barangnya yang belum dimilikinya. Dalam praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang sudah sesuai dengan penerapannya.
Keenam: “Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai
kesepakatan” boleh menukar barang (rumah) sejenis sesuai dengan
kesepakatan sebelum dilakukan pembiayaan akad istishna’ praktiknya sudah sesuai dengan penerapannya di Bank BTN Syariah KCS Tangerang. Ketujuh: “Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan,
pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad” Barang (rumah) jika terdapat cacat atau tidak sesuai
maka pemesan tidak boleh membatalkan akad, karena akad sudah dilakukan sebelum barang jadi, yang bisa dilakukan adalah nasabah meminta agar barang (rumah) tersebut diperbaiki sesuai spesifikasi yang diperjanjikan diawal, dalam praktiknya sudah sesuai penerapannya di Bank BTN Syariah KCS Tangerang.
Khiyar adalah opsi untuk meneruskan atau tidak (Irwan Maulana 2020). 3. Ketentuan tentang Lainnya
Pertama: “Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya
mengikat” pesanan rumah yang sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan
barang sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati diawal, Bank BTN Syariah KCS Tangerang dalam praktiknya sudah sesuai dengan penerapannya.
Kedua: Untuk ketentuan jual beli salam yang tidak sebutkan berlaku dalam jual beli
stishna’ di BTN Syariah tidak ada akad salam, jadi tidak ada penjelasan
mendetail terkait dengan akad tersebut “Semua ketentuan dalam jual beli
salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna”
sudah sesuai dengan praktiknya Bank BTN Syariah KCS Tangerang kurang memahami dalam hal akad-akad syariah.
Akad salam dan akad istishna sistemnya sama, purchasing (pemesanan) yang berbeda ada 2 (dua) aspek: Pertama dalam segi barang, akad salam adalah komoditas seperti peternakan, perikanan, dan perkebunan sedangkan akad istishna dalam segi barang adalah manufaktur misalnya seperti bangku, alat rumah dan alat kantor. Kedua dalam sistem pembayaran, akad salam dalam pembayaran full diawal tidak boleh diakhir karena akan terjadi pengakhiran pembayaran maka jadi hutang atas hutang karena jual beli hutang dengan hutang tidak perbolehkan, hutang di atas hutang itu tidak boleh hukumnya haram kemudian akad istishna dalam sistem pembayarannya lebih fleksibel diawal, diakhir, dipertengahan, dan ditempo diperbolehkan, karena terkait akan jasa. Dengan catatan akad salam dan akad istishna dengan ikatan spesifikasi yang jelas berdasarkan kesepakatan (Irwan Maulana 2020).
Ketiga: “Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalu Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah” Jika terjadi suatu perselisihan dan tidak bisa diselesaikan
dengan musyaawarah dalam KPR Indent iB di Bank BTN Syariah KCS Tangerang saat ini dipengadilan agama, hal tersebut dilakukan setelah tahap musyawarah terlebih dahulu dan tidak mencapai kesepakatan, dalam praktiknya sudah sesuai dengan penerapannya.
Berdasarkan legal disview ada beberapa tahapan:
Pertama, dengan melakukan isllah bukan musyawarah kalau musyawarah adalah mencari mufakat dan isllah adalah mencari tau, bertabbayyul aspek apa yang menjadi perbedaan pendapat. Dalam isllah memiliki nilai positif dan negative, positifnya tidak berbiaya dan negatifnya hasil dari isllah tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat (planding) kemudian memiliki kelemahan atau negative berlanjut kepada fase kedua.
Kedua, BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional) memiliki biaya kemudian hanya mencari titik point perbedaan pendapat dalam menafsirkan hukum, sama dengan isllah. Ada pembayaran denda (ghoromah) dan jika terjadi pihak yang tersalahkan tidak mau membayar denda sebesar yang telah ditentukan maka basyarnas tidak memiliki keputusan, keputusan basyarnas tidakkuat maka selanjutnya kepada fase terakhir.
Ketiga pengadilan agama, keputusan pengadilan agama adalah memutus pengadilan dengan skema perbankan syariah. Pengadilan agama memiliki biaya operasional dan keputusannya mengikat (Irwan Maulana 2020).
Berdasarkan penjelasan dari hasil penelitian yang sudah dituangkan dalam bentuk deskriptif diatas tersebut adalah implementasi akad istishna’ pada produk KPR Inden iB berdasarkan Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000 sudah sesuai penerapannya di Bank BTN Syariah KCS Kota Tangerang, diperjelas dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 4.1
Implementasi Akad Istishna’ pada Produk KPR Indent iB BTN Syariah KCS Tangerang dengan Fatwa DSN MUI tentang Akad Jual Beli Istishna’
Ketentuan Fatwa Aplikasi Catatan
Ketentuan tentang Pembayaran.
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat.
Sesuai Karena pembayaran KPR dilakukan dengan transfer ke rekening penjual setelah dilakukan akad pembiayaan.
2. Pembayaran dilakukan sesuai dengan
kesepakatan.
Sesuai Pembayaran dilakukan bertahap ke rekening penjual sesuai dengan progress pembangunan dilapangan dan kesepakatan sebelum akad pembiayaan. 3. Pembayaran tidak boleh berbentuk pembebasan hutang.
Sesuai Mencegah terjadinya resiko seperti: kredit macet atau nasabah (debitur) menghilang. Karena akad jual beli dengan akad istishna’ antara bank (penjual) dan nasabah (pembeli) hukumnya mengikat.
Ketentuan tentang Barang.
1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang
Sesuai KPR Indent barang (rumah) posisi rumah belum tersedia, namun pihak bank sudah menjelaskan barang (rumah) berdasarkan ciri-ciri dan spesifikasinya, mulai dari luas tanah, luas bangunan, model (bentuk) dan gambar (foto) rumah tersebut.
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
Sesuai KPR Indent barang (rumah) posisi rumah belum tersedia, namun pihak bank sudah menjelaskan barang (rumah) berdasarkan ciri-ciri dan spesifikasinya, mulai dari luas tanah, luas bangunan, model (bentuk) dan gambar (foto) rumah tersebut.
3. Penyerahannya dilakukan dikemudian.
Sesuai Perlu waktu 4 bulan dari akad selesai dan dibuktikan dengan adanya BAST (Berita Acara Serah Terima) atas pesanan rumah yang telah selesai pembangunannya.
4. Waktu dan Tempat
penyerahan
Sesuai Barang (rumah) waktu dan tempat penyerahannya biasanya dilakukan di lokasi proyek tersebut, agar nasabah bisa cek atau melihat langsung atas
barang harus ditetapkan.
rumah yang telah selesai pembangunannya berdasarkan kesepakatan. 5. Pembeli (musthasni) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
Sesuai Tidak boleh menjual barangnya yang belum dimilikinya. 6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
Sesuai Boleh menukar barang (rumah) sejenis sesuai dengan kesepakatan sebelum dilakukan pembiayaan akad
istishna’. 7. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.
Sesuai Barang (rumah) jika terdapat cacat atau tidak sesuai maka pemesan tidak boleh membatalkan akad, karena akad sudah dilakukan sebelum barang jadi, yang bisa dilakukan adalah nasabah meminta agar barang (rumah) tersebut diperbaiki sesuai spesifikasi yang diperjanjikan diawal. Ketentuan tentang Lainnya. 1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat.
Sesuai Pesanan rumah yang sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan adalah hukumnya mengikat karena salah satu syarat jual beli istishna’ adalah barang sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati diawal.
2. Semua
ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna.
Sesuai Di BTN Syariah tidak ada akad salam, jadi tidak ada penjelasan mendetail terkait dengan akad tersebut.
3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan
Sesuai Saat ini dipengadilan agama, hal tersebut dilakukan setelah tahap musyawarah terlebih dahulu dan tidak mencapai kesepakatan.
diantara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
TEMUAN PENELITIAN
Point Fatwa tentang ketentuan lainnya no. 02 yang berbunyi “Semua ketentuan
dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna”
ternyata tidak di pahami oleh narasumber yang mengetahui hal ini terdapat pada hasil wawancara oleh MCFUH (Mortgage & Consumer Financing Unit Head) dan Financing
Administrasi baik secara teoritis maupun praktisi. Hal ini mengganjal berdasarkan
pemahaman atau pengetahuan narasumber Bank BTN Syariah yang terkait dengan akad syariah yang di gunakan pada KPR Syariah.
KESIMPULAN
Implementasi akad istishna’ pada produk KPR Indent iB di Bank Tabungan Negara Syariah Kantor Cabang Syariah Tangerang terdiri dari beberapa tahapan mulai dari pengajuan pembiayaan, pemeriksaan berkas, input data, prinsip analisa, appraisal, akad, pencairan dana, dan periode angsuran.
Pembiayaan akad istishna’ produk KPR Indent iB di Bank Tabungan Negara Syariah KCS Kota Tangerang pada dasarnya sudah sesuai dengan ketentuan Fatwa DSN MUI No. 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang akad istishna’. Hasil penelitian ini diperjelas oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Syafira Khoirun Nisa judul penelitian implementasi akad
istishna’ pada produk pembiayaan di Bank BTN Syariah KC Malang, menyatakan bahwa
dalam penelitiannya Fatwa tentang lainnya point kedua berbunyi “Semua ketentuan dalam
jual beli salam yang tidak disebutkan diatas berlaku pula pada jual beli istishna” dalam
Bank BTN Syariah Malang “semua ketentuan yang terdapat di jual beli salam kami terapkan juga di dalam jual beli istishna”, di Bank BTN Syariah Malang sudah sesuai Fatwa ketentuan lainnya point kedua.
SARAN
PT. Bank Tabungan Negara Syariah Kantor Cabang Syariah Tangerang sebaiknya mempertahankan produk KPR Inden iB dikarenakan perkembangan nasabah KPR Inden iB dalam setiap tahunnya dan mempertahankan produk-produk yang sudah sesuai syarah agar tetap menjadi bank syariah terbaik dan terpercaya.
Penerapan dalam teori dan prakteknya sudah cukup baik sesuai dengan syariah namun pada Fatwa ketiga point kedua belum selesai dikarenakan tidak cukup penjelasan mengenai akad tersebut, dalam hal pemahaman atau penjelasan sebaiknya bank syariah sebagai “agent of change” memiliki pemahaman yang luas terkait dengan akad-akad syariah. Akad yang digunakan maupun tidak digunakan dalam bank tersebut, Bertujuan untuk meningkat kualitas perbankan syariah dalam aspek perbankan berdasarkan syariah islam. Untuk peneliti selanjutnya data informan atau data berupa dokumen-dokumen,
menggali lebih mendalam pemahaman yang perbankan syariah kuasai, dan informasi-informasi secara signifikan dilengkapi guna mempermudah dan menjelaskan untuk penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Nugrahani, Farida. Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa, Solo, Indonesia: Cakra Books, 2015.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabet, 2016. J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Roksadakarya,
2014.
Soemitro, Andri. Hukum Ekonomi Syariah dan Fiqh Muamalah di Lembaga Keuangan dan
Bisnis Kontemporer. Jakarta: Kencana 1 ed. 1, 2019.
Gunawan, Imam. Metode Kualitatif, Universitas Negeri Malang, Jakarta: Bumi Aksara 2013.
Abib, Agus Saiful, Arif, Rochman. “Tinjauan Hukum Islam terhadap Sistem Transaksi
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank Tabungan Negara Syariah (BTN Syariah) Semarang, Volume No. 3 Desember." Humani (Hukum Dan Masyarakat Madani),
(2017).
Gunawan, Arie Indra, dan Fitry, Cahyanti. “Pengaruh Pembiayaan KPR Syariah Terhadap
Proses Keputusan Pembelian Rumah dikota Cirebon (Survey Terhadap Pembelian Rumah Secara KPR di BNI Syariah Kota Cirebon).” Edunomic," (2014): 96.
Hayuniati, Nia. “Diii Manajemen Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Institut Agama Islam Negeri (Iain) Purwokerto,” (2019): 21.
Ichwan, Azis. “Analisis Hukum Islam terhadap Praktek Akad Istisna’ di Konveksi Iqtom
Collection Pucanggading Kecamatan Mranggen Demak,” (2018): 38-39.
Khurrotul, Ain, Atiiq. “Analisis Akad Jual Beli Istishna‟ dan Mudharabah Pada Produk
Pembiayaan KPR (Studi Kasus pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Kantor Cabang Syari‟Ah Malang).” Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen,
(2015): 2.
Kurniawan, Afit. “Tinjauan Kepemilikan dalam KPR Syariah: Antara Murabahah, Ijarah
Muntahiyyah Bittamlik, dan Musyarakah Mutanaqisah, Volume, No.2, Desember.”
Equilibrium, (2017): 280.
Kusnadi, Isra. “Perlindungan Hukum Bagi Bank Terhadap Pembelian Rumah Indent
Secara Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Melalui Developer Perumahan (Studi pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Loan Centre Medan),” (2018): 1.
Marduwira, Erdi. “Akad Istishna’ dalam Pembiayaan Rumah pada Bank Syariah Mandiri
(Studi Kasus Pada Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Cinere),”
(2015): 28.
Marsum. “Implementasi Pembiayaan Akad Istisna’ dalam Transaksi Jual Beli Alat
Bangunan di Mibel Barokah Pademawu Pamekasan.” El-Furqonia, (2017): 9.
Musthofa, Zainal. “Analisis Terhadap Praktik Jual Beli Istishna’ pada Produk Kerajinan
Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 06/Dsn-Mui/Iv/2000 (Studi Kasus di Sentra Kerajinan Kasongan Daerah Istimewa Yogyakarta.” Fakultas Agama
Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, (2017): 3.
Nurfadillah, Ainun, Dan Andi, Asrul. “Fatwa Dsn-Mui Tentang Salam dan Istishna’.” Institut Agama Islam Negeri Parepare, Indonesia," (2019): 104.
Rizal, Aji. “Implementasi Mekanisme Pencairan Dana Kredit Pemilikan Rumah (Kpr)
Sundari, Sundari, dan Muhammad Mujtaba Mitra Zuana. “Analisis Implementasi Akad
Istishna’ Pembiayaan Rumah.” Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics (IIJSE) 1, no. 1). (2018): 49-59.
Suyud Arif, dan Hidayah, Muhammad, Rizki. “Analisis Implementasi Akad Istishna
Pembiayaan Rumah (Studi Kasus Developer Property Syariah Bogor).” Jurnal
Ekonomi Islam, Volume, Nomor 1 (2018): 5.
Syafira Khoirun, Nisa. “Implementasi Akad Istishna’ pada Produk Pembiayaan Di Pt.
Bank Tabungan Negara Syariah Kantor Cabang Malang Menurut Fatwa Dsn-Mui,”
(2015): 20.
Syu’aibi, Moh Mukhsinin, Dan Ifdlolul, Maghfur. 2019. “Implementasi Jual Beli Akad
Istishna’ Dikonveksi Duta Collection’s Yayasan Darut Taqwa Sengonagung.” Malia (Terakreditasi) 11, No. 1 (2019): 139-50.
Verawati, Devi. “Perspektif Hukum Islam terhadap Perjanjian Jual Beli Perumahan
Syariah di PT.Medina Reality Indonesia Cabang Palembang,” (2017): 62.
Thulusia Clasnita, Ridha, “Prudencial Principle pada Analisis Pembiayaan Murabahah
(Studi Produk KPR Indent BTN iB di Bank Tabungan Negara Kantor Cabang Syariah Malang)”, (Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang), (2018): 2-3
Agus Budi Santoso, 2020. "Wawancara Dengan Mortgage & Consumer Financing Unit
Head BTN Syariah KCS Kota Tangerang."
Ferry Agusta Putra, 2020. "Wawancara Nasabah KPR Bank BTN Syariah KCS Kota Tangerang."
Taufiq Anwar, 2020. "Wawancara Dengan Financing Administrasi BTN Syariah KCS Kota Tangerang."
Irwan Maulana, 2020. "Wawancara Dengan DPS BPRS Berkah Ramadhan dan BPRS At-Taqwa."