1
I-1
PENDAHULUAN
RENSTRA DINAS PERTANIAN PROVINSI BANTEN 2017-2022
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi daerah dan nasional, khususnya di Provinsi Banten. Besarnya kontribusi yang diberikan oleh sektor pertanian dalam penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, penyumbang devisa, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat menjadikan sektor pertanian ini begitu penting bagi pembangunan nasional dan daerah, khususnya Provinsi Banten.
Sektor pertanian merupakan salah satu potensi ekonomi yang cukup tinggi bagi Provinsi Banten. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang terus bertambah, tuntutan kebutuhan hidup yang meninggi, disertai dengan daya beli yang semakin meningkat khususnya di Provinsi Banten, maka laju konsumsi masyarakat akan produk-produk pangan dan pertanian terus semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan upaya penyediaan produk-produk pangan dan pertanian yang memadai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat menjadi hal yang sangat krusial, termasuk di Provinsi Banten.
NAWACITA yang merupakan agenda prioritas Kabinet Kerja 2014-2019 mengarahkan pembangunan pertanian ke depan untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan, agar Indonesia sebagai bangsa dapat mengatur dan memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara berdaulat. Kedaulatan pangan diterjemahkan dalam bentuk kemampuan bangsa dalam hal: (1) mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, (2) mengatur kebijakan pangan secara mandiri, serta (3) melindungi dan menyejahterakan petani sebagai pelaku utama usaha pertanian pangan. Dengan kata lain, kedaulatan pangan harus dimulai dari swasembada pangan yang secara bertahap diikuti dengan peningkatan nilai tambah usaha pertanian secara luas untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Mengingat pentingnya sektor pertanian bagi pembangunan skala nasional maupun daerah, khususnya Provinsi Banten, maka peran dan kontribusi Dinas Pertanian Provinsi Banten menjadi penting dan strategis. Penetapan kebijakan dan perencanaan pertanian merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan kinerja dan capaian Dinas Pertanian Provinsi Banten. Kebijakan daerah dan perencanaan dalam sektor pertanian tersebut salah satunya dirumuskan,
disusun dan ditetapkan melalui Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian Provinsi Banten Tahun 2017-2022 yang nantinya dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja Dinas Pertanian selama 5 (lima) tahun (2017-2022) dan rencana kerja tahunan dalam pelaksanaan pembangunan pertanian di Provinsi Banten.
Renstra Dinas Pertanian Provinsi Banten Tahun 2017-2022 adalah dokumen perencanaan jangka menengah Dinas Pertanian Provinsi Banten untuk periode 5 (lima) tahun. Renstra Dinas Pertanian Provinsi Banten disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Organisasi Perangkat Daerah (Peraturan Gubernur Banten Nomor 83 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi, Susunan
Bab
1
I-2
Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Banten) serta berpedoman pada RPJMD Provinsi Banten Tahun 2017-2022, Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2015-2019, serta hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan sektor pertanian di Provinsi Banten.
Dalam penyusunan Renstra Dinas Pertanian telah menempuh beberapa tahapan yaitu: (1) Persiapan penyusunan Renstra Dinas Pertanian dengan menetapkan Tim Penyusun Renstra Dinas Pertanian 2017-2022 melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten dan menyusun agenda kerja Tim Penyusun Renstra; (2) Penyusunan rancangan awal Renstra yang dibahas pada Forum Organisasi Perangkat Daerah; (3) Penyusunan rancangan akhir Renstra Dinas Pertanian melalui Rapat Verifikasi Renstra Organisasi Perangkat Daerah; (4) Penetapan Renstra melalui Keputusan Gubernur tentang Rencana Kerja Strategis Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Banten 2017-2022.
Dokumen Renstra ini disusun berdasarkan analisis strategi atau potensi, peluang, permasalahan mendasar dan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian, sehingga seyogyanya dokumen ini dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pertanian di Provinsi Banten selama 5 tahun mendatang (2017-2022) yang komprehensif dan terpadu.
1.2. Landasan Hukum
Dasar hukum penyusunan Rencana Strategis Dinas Pertanian Provinsi Banten adalah sebagai berikut:
- Undang-Undang nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten
- Undang-Undang nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
-
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahun2005-2025
- Undang-Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
- Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pem-bangunan Daerah;
- Peraturan Menteri Pertanian nomor 19 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Pertanian Pertanian Tahun 2015-2019;
- Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 Tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian Dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Perda Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah;
- Peraturan Daerah Provinsi Banten nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Banten Tahun 2005-2025
- Peraturan Daerah Provinsi Banten nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Banten Tahun 2010-2030;
- Peraturan Daerah Provinsi Banten nomor 4 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Banten Tahun 2017-2022;
I-3
- Peraturan Gubernur Banten nomor 83 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Banten.
1.3. Maksud dan Tujuan
Dokumen Rencana Strategis Dinas Pertanian Provinsi Banten Tahun 2017-2022 ditetapkan dengan maksud untuk memberikan arahan sekaligus menjadi pedoman penyelenggaraan pembangunan pertanian selama periode 5 (lima) tahun ke depan terutama bagi pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan masyarakat pertanian di Provinsi Banten.
Adapun tujuan penyusunan Rencana Strategis Dinas Pertanian Provinsi Banten Tahun 2017-2022 adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan dan kegiatan pembangunan pertanian
jangka menengah;
2. Menetapkan pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja (Renja) pembangunan pertanian dan
perencanaan penganggaran pada Dinas Pertanian Provinsi Banten serta kabupaten/kota se Provinsi Banten;
3. Mewujudkan perencanaan pembangunan pertanian yang sinergis dan terpadu antara perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan pertanian nasional, provinsi dan kabupaten/kota;
4. Mewujudkan efektivitas dan efisiensi alokasi berbagai sumberdaya dalam pembangunan pertanian.
1.4. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian Provinsi Banten tahun 2017– 2022 adalah sebagai berikut :
Bab I : PENDAHULUAN, berisi tentang Latar Belakang, Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan, dan Sistematika Penulisan.
Bab II : GAMBARAN PELAYANAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH, berisi tentang Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi Perangkat Daerah, Sumberdaya Organisasi Perangkat Daerah, Kinerja Pelayanan Organisasi Perangkat Daerah dan Peluang Pengembangan Pelayanan Organisasi Perangkat Daerah
Bab III : ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI, berisi tentang Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Organisasi Perangkat Daerah, Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih, Telaahan Renstra K/L dan Renstra Organisasi Perangkat Daerah, Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dan Penentuan Isu-isu Strategis.
Bab IV : TUJUAN DAN SASARAN berisi tentang Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah
Organisasi Perangkat Daerah
Bab V : STRATEGI DAN KEBIJAKAN berisi tentang rumusan pernyataan strategi dan
arah kebijakan Perangkat Daerah dalam lima tahun mendatang
Bab VI : RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR SERTA PENDANAAN
I-4
Indikatif.
Bab VII : KINERJA PENYELENGGARAAN BIDANG URUSAN, berisi indikator kinerja
Organisasi Perangkat Daerah yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD
Bab VIII : PENUTUP, berisi kesimpulan atas substansi Renstra secara menyeluruh, harapan
3.1.2.2. Tantangan dan Permasalahan Sub sistem Pasca Panen
Secara umum permasalahan pada sub sistem pasca panen dalah:
1. Kualitas SDM masih rendah dan
2. Terbatasnya komitmen agroindustri pasca pangan terhadap program berbagai
pengembangan SDM;
3. Wahana dan ketersediaan program-program pendidikan dan pelatihan profesional di bidang
agroindustri pasca panen masih terbatas/sedikit;
4. Ketersediaan dan aplikasi teknologi tepat guna masih rendah/terbatas;
5. Investasi dan permodalan masih terbatas;
6. Masih kurangnya kesadaran, kepedulian dan kepatuhan produsen dan konsumen tentang
mutu dan keamanan pangan;
7. Masih terbatasnya pembinaan terhadap pengembangan bidang agroindustri atau pasca
panen;
1. ta
2.
3. Belum diterapkannnya sistem standar mutu (Good Agricultural Practices (GAP), Good
Manufacturing Practices (GAP) Good Handling Practices (GHP) Good Distribution
Practices (GDP), Keamanan pangan (HACCP) serta Sanitary and Phytosanitary (SPS))
secara meluas untuk komoditi
1. yang l
III-1
ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS
DAN FUNGSI
RENSTRA DINAS PERTANIAN PROVINSI BANTEN 2017-2022
3.1. Identifikasi Permsalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan OPD
Berdasarkan identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan menghasilkan beberapa permasalahan utama yang dihadapi oleh Dinas Pertanian Provinsi Banten diantaranya (Tabel 3.1):
1. Kualitas dan kuantitas SDM masih rendah sehingga kinerja dinas pertanian belum optimal 2. Pengelolaan aset dinas pertanian belum optimal sehingga menyebabkan banyak aset yang tidak
layak pakai dan diperlukan biaya lagi untuk pembelian aset
3. Ketersediaan data dan informasi masih terbatas akibatnya sulitnya untuk mendapatkan data dan informasi, dan seringkali data tidak up to date
4. Lemahnya perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi sehingga realisasi target pembangunan pertanian tidak sepenuhnya tercapai
5. Koordinasi, sinkronisasi dan sinergisme antar bidang maupun sektor masih lemah diakibatkan inisiatif dari masing-masing bidang maupun sektor masih kurang
6. Luasan lahan pertanian semakin menurun dikarenakan kebijakan pemerintah daerah yang kurang tegas dalam perlindungan lahan pertanian
7. Masih kurangnya fasilitas irigasi diakibatkan dukungan dana untuk pembangunan fasilitas irigasi masih terbatas
8. Ketersediaan input pertanian (benih, pupuk dan alsintan) belum memadai dikarenakan penyaluran input pertanian ke petani belum merata
9. Masih rendahnya penggunaan teknologi tepat guna yang aplikatif dikarenakan kurangnya komitmen pemerintah dalam memberikan arahan dan memfasilitasi teknologi tepat guna
10. Rendahnya posisi tawar menawar harga ditingkat petani karena masih lemah kebijakan pemerintah terkait penetapan harga dasar
11. Lemahnya permodalan bagi petani karena kurangnya peran dan dukungan pemerintah dalam memfasilitasi kredit petani
12. Masih minimnya teknologi pasca panen untuk meningkatkan nilai tambah yang dikarenakan masih kurangnya dukungan dan komitmen pemerintah dalam membantu petani untuk mengolah hasil panenya
Bab
3
3.1.2.2. Tantangan dan Permasalahan Sub sistem Pasca Panen
Secara umum permasalahan pada sub sistem pasca panen dalah:
1. Kualitas SDM masih rendah dan
2. Terbatasnya komitmen agroindustri pasca pangan terhadap program berbagai
pengembangan SDM;
3. Wahana dan ketersediaan program-program pendidikan dan pelatihan profesional di bidang
agroindustri pasca panen masih terbatas/sedikit;
4. Ketersediaan dan aplikasi teknologi tepat guna masih rendah/terbatas;
5. Investasi dan permodalan masih terbatas;
6. Masih kurangnya kesadaran, kepedulian dan kepatuhan produsen dan konsumen tentang
mutu dan keamanan pangan;
7. Masih terbatasnya pembinaan terhadap pengembangan bidang agroindustri atau pasca
panen;
1. ta
2.
3. Belum diterapkannnya sistem standar mutu (Good Agricultural Practices (GAP), Good
Manufacturing Practices (GAP) Good Handling Practices (GHP) Good Distribution
Practices (GDP), Keamanan pangan (HACCP) serta Sanitary and Phytosanitary (SPS))
secara meluas untuk komoditi
1. yang l
III-2
Tabel 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan OPD
Aspek Kajian
Kondisi Saat ini Standar yang Digunakan
Faktor yang Mempengaruhi Permasalahan Pelayanan OPD
Internal Eksternal
1 2 3 4 5 6
Tata Kelola
Pemerintah Kualitas dan kuantitas SDM masih rendah Kualifikasi dan tingkat pendidikan SDM • Program rekruitmen oleh dinas atau pemerintah • Program peningkatan
kompe-tensi atau pendidikan
• Menurunnya minat masya-rakat untuk bekerja di bidang pertanian
Belum optimalnya kinerja dinas pertanian
Pengelolaan aset dinas
pertanian belum optimal Legal audit aset • Penilaian, pengawasan dan pemeliharaan aset • Kurangnya rasa tanggung jawab terhadap pemeliharaan aset
• Banyak aset yang rusak karena tidak terpelihara
• Kekurangan dan perlu penambahan aset karena banyak aset yang sudah tidak layak
Ketersediaan data dan
informasi masih terbatas Kemudahan data dan informasi akses • Penyimpanan data dan informasi • Update data dan informasi di
website
Sulitnya mendapatkan data dan informasi karena prosedur yang rumit
• Terbatasnya akses data dan informasi Lemahnya perencanaan,
pelaksanaan,monitoring dan evaluasi
Renstra, roadmap • Menyusun rencana pemba-ngunan pertanian
• Menetapkan target
• Melakukan program moni-toring dan evaluasi secara berkala
• Pelaksanaan kegiatan ter-kadang diluar jalur yang sudah di rencanakan di renstra ataupun roadmap
• Belum terealisasinya target pembangunan pertanian
Koordinasi, sinkroniasi dn sinergisme antar bidang dan sektor masih lemah
• Kerjasama antar bidang maupun sector
• Kegiatan/pertemuan secara
berkala • Lemahnya kontribusi bidang maupun lintas sektor • Masing-masing bidang maupun sektor berjalan sendiri-sendiri • Belum optimalnya
keterpaduan dan sinergi kegiatan (antar sektor, sub sektor, pusat-daerah Masih kurangnya
fasi-litas irigasi Sumberdaya air ter-cukupi • Pembangunan dan pemeliharaan fasilitas irigasi • Swadaya masyarakat dalam pembangunan dan pemeliharaan irigasi
• Dukungan dana untuk pembangunan fasilitas irigasi masih kurang
III-3
AspekKajian
Kondisi Saat ini Standar yang Digunakan
Faktor yang Mempengaruhi Permasalahan Pelayanan OPD
Internal Eksternal
1 2 3 4 5 6
Ketersediaan benih
unggul masih rendah Kecukupan benih unggul • Sertifikasi benih unggul • Program bantuan benih unggul • Swadaya masyarakat dala m penangkaran benih unggul
• Penyaluran benih unggul secara merata ke petani belum optimal Ketersediaan pupuk
subsidi masih rendah Kecukupan pupuk subsidi • Penyaluran dan pengawasan pupuk subsidi • Adanya permainan dari oknum-oknum tertentu dalam pengadaan dan penya-luran pupuk ke petani
• Penyaluran pupuk subsidi secara merata ke petani belum optimal Ketersediaan alsintan
masih belum memadai Kecukupan pemakaian alsintan • Program bantuan alsintan • Adanya permainan dari oknum-oknum tertentu dalam pengadaan dan penya-luran alsintan ke petani
• Penyaluran bantuan aslintan ke petani belum optimal Budidaya
pertanian Masih rendahnya apli-kasi teknologi tepat guna Peningkatan teknologi tepat guna yang aplikatif
• Penyuluhan atau sosialiasi teknologi tepat guna yang aplikatif
• Petani cenderung lebih senang menggunakan teknologi kon-servatif dan enggan meng-gunakan teknologi tepat guna
• Kurangnya komitmen pemerintah dalam mem-berikan arahan dan memfasilitasi tekno-logi tepat guna • Produksi pertanian
tidak masksimal Kesejahtera
an petani Rendahnya posisi tawar menawar harga ditingkat petani
NTP atau harga dasar komoditas yang diterima petani
• Fasilitas kemitraan untuk petani • Promosi untuk produk pertanian
dari petani
• kebiajakan penetapan harga dasar
• Rantai sistem tata niaga yang masih panjang
• Posisi tawar menawar harga masih dikendalikan tengkulak • Adanya perdagangan bebas
• Kebijakan pemerin-tah terkait penetapan harga dasar masih lemah
Lemahnya permodalan
bagi petani • Fasilitas kredit pertanian • Penghubung antara lembaga keungan dan petani
• Pemahaman petani program kredit masih lemah
Upaya pemerintah dalam menghubungkan antara lembaga keuangan dan petani masih kurang Masih minimnya teknologi
pasca panen sehingga belum meningkatkan nilai tambah
• Program penyuluhan/sosialisasi teknologi pasca panen
• Memfasilitasi program kemitraan
• Masih banyak petani yang enggan mengolah hasil pertanianya sehingga menjualnya dalam bentuk komoditas primer
Dukungan dan komit-men pemerintah dalam membantu petani untuk mengolah hasil panenya masih lemah
3.1.2.2. Tantangan dan Permasalahan Sub sistem Pasca Panen
Secara umum permasalahan pada sub sistem pasca panen dalah:
1. Kualitas SDM masih rendah dan
2. Terbatasnya komitmen agroindustri pasca pangan terhadap program berbagai
pengembangan SDM;
3. Wahana dan ketersediaan program-program pendidikan dan pelatihan profesional di bidang
agroindustri pasca panen masih terbatas/sedikit;
4. Ketersediaan dan aplikasi teknologi tepat guna masih rendah/terbatas;
5. Investasi dan permodalan masih terbatas;
6. Masih kurangnya kesadaran, kepedulian dan kepatuhan produsen dan konsumen tentang
mutu dan keamanan pangan;
7. Masih terbatasnya pembinaan terhadap pengembangan bidang agroindustri atau pasca
panen;
1. ta
2.
3. Belum diterapkannnya sistem standar mutu (Good Agricultural Practices (GAP), Good
Manufacturing Practices (GAP) Good Handling Practices (GHP) Good Distribution
Practices (GDP), Keamanan pangan (HACCP) serta Sanitary and Phytosanitary (SPS))
secara meluas untuk komoditi
1. yang l
III-4
3.1. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah Terpilih
3.2.1. Visi Provinsi Banten
Visi pembangunan daerah Provinsi Banten berdasarkan gubernur terpilih untuk periode
2017-2022 adalah “BANTEN YANG MAJU, MANDIRI, BERDAYA SAING, SEJAHTERA DAN
BERAKHLAQUL KARIMAH”, sehingga diharapkan seluruh stakeholder di Provinsi Banten
secara bahu membahu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk meningkatkan dan mewujudkan seluruh masyarakat Banten agar lebih sejahtera.
3.2.2. Misi Provinsi Banten
Sesuai dengan harapan “BANTEN YANG MAJU, MANDIRI, BERDAYA SAING,
SEJAHTERA DAN BERAKHLAQUL KARIMAH”, maka ditetapkan “Misi Pembangunan
Provinsi Banten 2017-2022” sebagai upaya dalam mewujudkan visi, sebagai berikut: 1. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (goodgovernance);
2. Membangun dan meningkatkan kualitas infrastruktur; 3. Meningkatkan akses dan pemerataan pendidikan berkualitas;
4. Meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan berkualitas; 5. Meningkatkan kualitas pertumbuhan dan pemerataan ekonomi
Dari ke lima misi gubernur tersebut, dukungan Dinas Pertanian masuk ke dalam Misi 5, yakni meningkatkan kualitas pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dengan uraian sebagai berikut : 1. Penciptaan Iklim Investasi melalui Perbaikan Perizinan,Infrastruktur, Regulasi Tenaga Kerja,
Fasilitasi Sumber Energi dan Menciptakan Keamanan dan Ketertiban untuk Meningkatkan Daya Saing Daerah;
2. Pengendalian Inflasi Daerah;
3. Pemberdayaan Ekonomi bagi Masyarakat Miskin Khususnya Petani dan Nelayan; 4. Pengembangan Kawasan Ekonomi yang Berbasis Ekonomi Kreatif dan Pariwisata;
5. Peningkatan Tata Kelola APBD untuk Meningkatkan Kapasitas Fiskal Daerahdalam rangka Mendukung Pembangunan Daerah serta Fungsi APBD dalam Hal Distribusi dan Alokasi;
6. Peningkatan Kemampuan Angkatan Kerja untuk Memasuki Dunia Kerja melalui Peningkatan
Fungsi Balai Latihan Kerja dan Fungsi Pendidikan Formal lainya
Secara keseluruhan telaah Visi dan Misi Kepala Daerah Provinsi Banten 2017-2022 disajikan pada Tabel 3.2.
III-5
VISI : BANTEN YANG MAJU, MANDIRI, BERDAYA SAING, SEJAHTERA DAN BERAKHLAQUL KARIMAH
Misi Tujuan Permasalahan
Pelayanan Penghambat Faktor Faktor Pendorong
Pemberdayaan Ekonomi bagi Masyarakat Miskin Khususnya Petani dan Nelayan Pemberdayaan Ekonomi bagi Masyarakat Miskin Khususnya Petani dan Nelayan a. Kualitas SDM masih rendah dan belum cukup penguasaan teknologi untuk peng-olahan pasca panen b. Berkurangnya luasan
lahan pertanian akibat konversi lahan ke non pertanian c. Masih rendahnya
dan masih terbatas nya ketersediaan teknologi tepat guna yang aplikatif d. kondisi fasilitas
infra struktur pertanian, subsidi input perta-nian, maupun alsintan yang belum memadai e. Lemahnya fungsi
kelem-bagaan di tingkat petani f. Rendahnya posisi tawar menawar menyebabkan harga di tingkat petani dikendalikan oleh tengkulak g. Lemahnya permodalan petani, terbatasnya ketersediaan kredit dari lembaga keuangan pemerintah untuk petani akibatnya petani masih terperangkap sistem ijon
a. SDM yang ber- pendidikan tinggi cenderung bekerja di luar bidang pertanian b. Pembangunan lebih
terpusat ke sektor non pertanian seperti industri, jasa dan lain nya c. Petani cenderung
lebih senang meng-gunakan teknologi konservatif dan enggan meng-gunakan teknologi tepat guna d. Masih kurangnya fasilitas infrastruktur pertanian, subsidi input pertanian, mau pun alsintan e. Kurang adanya pembinaan dari pemerintah f. Kurang terbukanya akses/jaringan pemasaran g. Keterbatasan petani
dalam hal akses modal usaha tani
a. Pemberian insentif kepada petani oleh pemerintah sehingga meningkat kan minat petani b. Adanya dukungan
kebijakan dan komit-men pemerintah terkait perlindungan lahan pertanian c. Pemerintah
berko-mitmen untuk mem-berikan arahan peng-gunaan dan mem-fasilitasi teknologi tepat guna d. Dukungan dan
komit-men pemerintah ter-kait pembangunan infrastruktur, penye-diaan input dan alsintan
e. Dukungan dan komit-men pemerintah terkait pembinaan kelembagaan ting-kat petani f. Adanya kerjasama petani, pemerintah dengan investor dan kemitraan serta promosi produk pertanain g. Adanya kebijakan pemerintah untuk memfasilitasi pro-gram kredit pertanian
Tabel 3.2. Telaah Visi, Misi dan Program Kepala Daerah Terpilih 2017-2022
III-6
3.3. Telaahan Renstra K/L
3.3.1. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis
Dalam rangka mendukung visi kabinet kerja pemerintah yang mempunyai Visi “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”, maka Kementerian Pertanian menyusun Visi yang selaras, yakni :
3.3.1.1. Visi
“Terwujudnya Sistem Pertanian-Bioindustri Berkelanjutan yang Menghasilkan Beragam Pangan Sehat dan Produk Bernilai Tambah Tinggi Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani”
Telaah pokok-pokok Visi Kementerian Pertanian disajikan pada Tabel 3.3 dan Tabel 3.4.
3.3.1.2. Misi
Berdasarkan visi diatas maka misi dari Kementerian Pertanian adalah: 1. Mewujudkan kedaulatan pangan
2. Mewujudkan sistem pertanian bioindustri berkelanjutan. 3. Mewujudkan kesejahteraan petani.
4. Mewujudkan reformasi birokrasi.
3.3.1.3. Tujuan
Tujuan dari pembangunan pertanian periode 2015-2019 adalah
1. Meningkatkan ketersediaan dan diversifikasi untuk mewujudkan kedaulatan pangan. 2. Meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pangan dan pertanian.
3. Meningkatkan ketersediaan bahan baku bioindustri dan bioenergi 4. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani
5. Meningkatkan kualitas kinerja aparaturpemerintah bidang pertanian yang amanah dan profesional
III-7
3.3.1.4. Sasaran Strategis
Sasaran strategis pembangunan pertanian berdasarkan tujuan yang akan dicapai adalah:
1. Swasembada padi, jagung dan kedelai serta peningkatan produksi daging dan gula 2. Peningkatan diversifikasi pangan
3. Peningkatan komoditas bernilai tambah, berdaya saing dalam memenuhi pasar ekspor dan substitusi impor
4. Penyediaan bahan baku bioindustri dan bioenergi
5.
Peningkatan pendapatan keluarga petani6.
Akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah yang baikTabel 3.3. Pokok-Pokok Visi Kementerian Pertanian
Pokok-pokok Visi Makna Visi
Sistem pertanian bioindustri
Menyediakan bahan baku industri dengan meningkatkan pemanfaatan biomassa sebagai bagian upaya meningkatkan manfaat dan diversifikasi produk turunan
Berkelanjutan Melanjutkan kebijakan, program dan kegiatan utama dari rencana strategis
sebelumnya, dengan memperhatikan aspek kelestarian daya dukung lahan maupun lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensi
Beragam Mengoptimalkan pemanfaatan keanekaragaman sumberdaya,
mengoptimal-kan peluang pasar, mengurangi potensi dampak resiko, memenuhi meningkatnya preferensi konsumen akibat kenaikan pendapatan dan selera
Pangan sehat Menyediakan produk yang aman, sehat dan halal
Produk bernilai tambah tinggi
Menciptakan produk pertanian yang mensejahterakan pelaku/petani, mendorong dihasilkannya aneka produk segar, produk olahan, produk turunan, produk samping, produk ikutan dan limbah
Sumberdaya Local
Mengoptimalkan pemanfaatan keunggulan kompetitif dan komparatif wilayah dan komoditas, meningkatkan efisiensi
Kedaulatan Pangan
Hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya local
Kesejahteraan Petani
III-8
VISI :
Terwujudnya Sistem Pertanian-Bioindustri Berkelanjutan yang Menghasilkan
Beragam Pangan Sehat dan Produk Bernilai Tambah Tinggi Berbasis Sumberdaya
Lokal untuk Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani
Misi Tujuan Permasalahan Faktor Penghambat Faktor Pendorong a. Mewujudkan Kedaulatan Pangan Meningkatkan ketersediaan dan diversifikasi untuk mewujudkan kedaulatan pangan a. Berkurangnya luasan lahan pertanian akibat konversi lahan ke non pertanian
b. Kesuburan tanah yang rendah
c. Masih rendahnya dan masih terbatasnya keter-sediaan teknologi tepat guna yang aplikatif d. kondisi fasilitas infra
struktur pertanian, subsidi input pertanian, maupun alsintan yang belum memadai e. Belum optimalnya
peng-gunaan benih unggul oleh petani, khususnya kacang tanah dan kedelai
f. Perubahan iklam global (El-Nino dan El Nina) g. Erosi dan perusakkan
daerah tangkapan air h. Sarana dan prasarana
irigasi primer rusak dan tidak berfungsi optimal i. Petani belum mampu
mengatasi tingginya intensitas serangan hama penyakit
j. Penggunaan pupuk belum berimbang dan sesuai kebutuhan
k. Masyarakat petani masih terfokus pada pengemba-ngan tanaman papengemba-ngan khususnya padi, semen-tara tanaman pertanian lainya belum/tidak begitu diperhatikan
a. Pembangunan lebih terpusat ke sektor non pertanian seperti industri, jasa dan lainnya b. Pemupukan yang
kurang dan tidak berimbang c. Petani cenderung
lebih senang meng-gunakan teknologi konservatif dan enggan menggunakan teknologi tepat guna d. Masih kurangnya
fasilitas infrastruktur pertanian, subsidi input pertanian, maupun alsintan e. Akses petani untuk
mendapatkan benih unggul masih terbatas f. Adanya anomali iklim g. Bencana dan serangan
OPT
h. Terjadinya kelangkaan pupuk dan akses petani terhadap pupuk terbatas i. Tingginya konsumsi
masyarakat akan beras sehingga daya jual padi lebih tinggi dibanding komoditi pertanian lainnya
a. Adanya dukungan kebi-jakan dan komitmen peme- rintah terkait perlindu-ngan lahan pertanian b. Pemeliharaan dan
per-baikan kesuburan dan produktivitas tanah c. Pemerintah
berkomit-men untuk memberikan arahan penggunaan dan memfasilitasi teknologi tepat guna
d. Dukungan dan komitmen pemerintah terkait pem-bangunan infrastruktur, penyediaan input dan alsintan
e. Adanya dukungan dan komitmen dari pemerintah untuk menyediakan benih unggul
f. Kerjasama kementerian pertanian dan BMKG untuk mengantisipasi anomali iklim
g. Pembuatan tim pengen-dalian hama penyakit serta pemerintah mem-fasilitasi obat-obatan pengendalian hama penyakit yang bermutu h. Pemerintah mengawasi proses distribusi pupuk subsidi hingga sampai ke petani
i. Adanya sosialisasi mengenai konsumsi pangan lokal
Tabel 3.4. Telaah Visi, Misi Renstra K/L
III-9
b. Mewujud-kan sistem pertanian bioindustri berkelanju tan a. Meningkat-kan nilai tambah dan daya saing produk pangan dan pertanian a. Masih kurangnya fasilitas teknologi pasca panen di tingkat petani akibat harganya tergolong mahal b. Mayoritas petanitidak sabar untuk menjual hasil tani nya akibat desakan kebutuhan sehari- hari c. Masih kurangnya fasilitas teknologi penyimpanan di tingkat petani d. Kurang terbuka nya akses/jaringan pemasaran
a. Perlu adanya subsidi peme-rintah terkait fasilitas teknologi pasca panen b. Adanya sosialisasi penyada-
ran dari pemerintah kepada petani untuk tidak menjual hasil taninya dalam bentuk mentah (produk primer)
c. Perlu adanya subsidi peme- rintah terkait fasilitas teknologi penyimpanan d. Adanya kerjasama petani,
pemerintah dengan inves-tor dan kemitraan serta promosi produk pertanian
b. Meningkat-kan keterse-diaan bahan baku bioindustri dan bioenergi a. Masyarakat petani masih banyak yang menganggap limbah pertanian merupa-kan sesuatu yang tidak terpakai lagi dan dibuang b. Temuan atau
pene-litian mengenai tekno-logi dan inovasi ten- tang limbah perta-nian masih sedikit
a. Adanya sosialisasi untuk masyarakat mengenai manfaat limbah pertanian b. Koordinasi pemerintah dan
lembaga penelitian/ pergu-ruan tinggi untuk mencip- takan suatu teknologi atau inovasi mengenai peru-bahan limbah pertanian menjadi bioindustri dan bioenergi c. Mewujudkan Kesejahteraan Petani a. Meningkat-kan penda-patan dan kesejahteraan petani
a. Akses petani ter-hadap permodalan sangat terbatas b. Karena adanya
permainan harga dari tengkulak
a. Peran dan dukungan lem-baga keuangan yang optimal untuk membantu keterba-tasan permodalan petani b. Rantai sistem tata niaga
yang pendek, petani dapat menjual produk nya kepada pembeli akhir
(end buyer) dengan rantai
penjualan yang pendek dan dengan harga yang memadai
3.1.2.2. Tantangan dan Permasalahan Sub sistem Pasca Panen
Secara umum permasalahan pada sub sistem pasca panen dalah:
1. Kualitas SDM masih rendah dan
2. Terbatasnya komitmen agroindustri pasca pangan terhadap program berbagai
pengembangan SDM;
3. Wahana dan ketersediaan program-program pendidikan dan pelatihan profesional di bidang
agroindustri pasca panen masih terbatas/sedikit;
4. Ketersediaan dan aplikasi teknologi tepat guna masih rendah/terbatas;
5. Investasi dan permodalan masih terbatas;
6. Masih kurangnya kesadaran, kepedulian dan kepatuhan produsen dan konsumen tentang
mutu dan keamanan pangan;
7. Masih terbatasnya pembinaan terhadap pengembangan bidang agroindustri atau pasca
panen;
1. ta
2.
3. Belum diterapkannnya sistem standar mutu (Good Agricultural Practices (GAP), Good
Manufacturing Practices (GAP) Good Handling Practices (GHP) Good Distribution
Practices (GDP), Keamanan pangan (HACCP) serta Sanitary and Phytosanitary (SPS))
secara meluas untuk komoditi
1. yang l
III-10
d. Mewujudkan reformasi Birokrasi a. Meningkat-kan kualitas kinerja apara-tur pemerintah bidang perta-nian yang amanah dan professionala. Kinerja aparatur pemerintah dalam membangun pertanian masih belum sepenuhnya optimal
b. Lemahnya kerjasama dan koordinasi antar lembaga/ instansi
a. Profesionalitas dan kredibilitas aparatur negara dalam memba-ngun pertnian belum optimal
b. Masih kurang harmonis nya kerjasama antar lembaga/intstansi terkait pembangunan pertanian
a. Adanya optimalisasi kinerja aparatur negara dalam membangun pertanian
b. Perlu diperkuat kerja sama antar lembaga/ instansi
3.3.2. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional Bidang Pertanian
Dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik disusun 7 sub agenda prioritas sebagai berikut: (i) Peningkatan Kedaulatan Pangan; (ii) Peningkatan Ketahanan Air; (iii) Peningkatan Kedaulatan Energi; (iv) Melestarikan Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana; (v) Pengembangan Ekonomi Maritim dan Kelautan; (vi) Penguatan Sektor Keuangan; dan (vii) Penguatan Kapasitas Fiskal Negara. Salah satu tugas bidang pertanian dalam agenda prioritas tersebut adalah peningkatan kedaulatan pangan. Sesuai yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019, arah kebijakan umum ketahanan pangan adalah: (i) pemantapan ketahanan pangan menuju kemandirian pangan dengan peningkatan produksi pangan pokok; (ii) stabilisasi harga bahan pangan; (iii) perbaikan kualitas konsumsi pangan dan gizi masyarakat; (iv) mitigasi gangguan terhadap ketahanan pangan; serta (v) peningkatan kesejahteraan pelaku usaha pangan terutama petani, nelayan, dan pembudidaya ikan. Arah kebijakan pemantapan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi pangan pokok dilakukan dengan 4 strategi utama, sebagai berikut:
1. Peningkatan kapasitas produksi padi dalam negeri:
a. Secara bertahap mengamankan lahan padi beririgasi teknis didukung dengan pengendalian konversi salah satunya melalui penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) diiringi dengan kebijakan harga serta perbaikan ketepatan sasaran subsidi berdasarkan data petani. Perluasan sawah baru seluas 1 juta ha di luar Pulau Jawa;
b. Pemanfaatan lahan terlantar, lahan marjinal, lahan di kawasan transmigrasi, lahan perkebunan, dan lahan bekas pertambangan untuk mendukung peningkatan produksi padi; c. Peningkatan produktivitas dengan: (i) meningkatkan efektivitas dan ketersambungan
jaringan irigasi dan sumber air serta pembangunan jaringan baru, termasuk jaringan irigasi untuk tambak ikan dan garam; (ii) revitalisasi penyuluhan sekaligus untuk meningkatkan layanan dan penerapan teknologi serta perbaikan penentuan sasaran dukungan/subsidi
III-11
produksi padi; (iii) revitalisasi sistem perbenihan nasional dan daerah yang melibatkan lembaga litbang, produsen benih serta balai benih dan masyarakat penangkar termasuk pengembangan 1.000 desa berdaulat benih; (iv) Pemulihan kualitas kesuburan lahan yang air irigasinya tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga;
d. Pengembangan produksi pangan oleh swasta dan korporasi terutama BUMN pangan; e. Peningkatan teknologi melalui kebijakan penciptaan sistem inovasi nasionaldan pola
penanganan pasca panen dalam menugrangi susut panen dan kehilangan hasil.
f. Perlindungan kepada petani yang mengalami kegagalan panen melalui asuransi pertanian
sehingga petani dapat kembali melanjutkan kegiatan produksi pertanian dalam rangka menuju tercapainya target produksi nasional.
2. Peningkatan produksi bahan pangan lainnya, dengan melakukan:
a. Pengamanan produksi gula konsumsi melalui: (i) peningkatan produktivitas dan rendemen tebu masyarakat; (ii) revitalisasi pabrik gula yang ada; dan (iii) pembangunan pabrik gula baru beserta perkebunan tebunya;
b.
Peningkatan produksi daging sapi dan non sapi dalam negeri melalui: (i) penambahan populasi bibit induk sapi dan inseminasi buatan; (ii) pengembangan kawasan peternakan sapi dengan mendorong investasi swasta dan BUMN dan peternakan sapi rakyat termasuk salah satunya melalui integrasi sapi-sawit; (iii) peningkatan kapasitas pusat-pusat pembibitan ternak untuk menghasilkan bibit-bibit unggul, penambahan bibit induk sapi,penyediaan pakan yang cukup dan pengembangan padang penggembalaan, serta
memperkuat sistem pelayanan kesehatan hewan nasional untuk pengendalian penyakit, khususnya zoonozis; (iv) pengembangan produksi daging non sapi dengan meningkatkan produktivitas melalui perbaikan bibit, pakan, dan kesehatan hewan;
c. Peningkatan produksi tanaman pangan lainnya, kebun, dan hortikultura berbasis sumber daya lokal melalui peningkatan luas tanam termasuk di lahan kering seluas 1 juta ha di luar Pulau Jawa dan Bali dan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura terutama jagung, kedelai, sagu, cabai, bawang yang adaptif terhadap kondisi iklim serta pengembangan 1.000 desa pertanian organik;
d. Peningkatan akses petani terhadap sumber-sumber pembiayaan dan penyempurnaan skim kredit yang didukung Pemerintah melalui kemudahan prosedur bagi petani, penyediaan jaminan resiko dan pembayaran subsidi bunga yang tepat waktu serta pendirian unit perbankan atau lembaga pembiayaan untuk pertanian, UMKM dan Koperasi;
e. Peningkatan kemampuan petani, organisasi petani dan pola hubungan dengan pemerintah, terutama pelibatan aktif perempuan petani/pekerja sebagai tulang punggung kedaulatan pangan;
III-12
f. Penciptaan daya tarik sektor pertanian bagi petani/tenaga kerja muda melalui peningkatan investasi dalam negeri di pedesaan terutama dalam industrialisasi dan mekanisasi pertanian; g. Penciptaan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas komoditas pertanian
terutama melalui kerjasama antara swasta, Pemerintah dan Perguruan Tinggi;
h. Pengembangan kawasan sentra produksi komoditas unggulan yang diintegrasikan dengan model pengembangan techno park dan science park, dan pasar tradisional serta terhubung dengan tol laut;
i. Penguatan sistem keamanan pangan melalui perkaran-tinaan dan pengendalian zoonosis;
j. Pengembangan pola produksi ramah lingkungan dan sesuai perubahan iklim dengan
penerapan produksi organik, bibit spesifik lokal yang bernilai tinggi, pertanian hemat air dan penggunaan pupuk organik.
3. Peningkatan produksi Perikanan, melalui:
a. Ekstensifikasi dan Intensifikasi Produksi Perikanan untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Gizi
b. Penguatan Faktor Input dan Sarana Prasarana Pendukung Produksi, c. Penguatan keamanan produk pangan perikanan
4. Peningkatan layanan jaringan irigasi, melalui:
a. Pembangunan jaringan irigasi baru khususnya di luar pulau Jawa dan peningkatan fungsi jaringan irigasi, yang mempertimbangkan ketersediaan air dan kesiapan petani penggarap dan pembudidaya ikan baik secara teknis maupun kultural;
b. Rehabilitasi 3 juta Ha jaringan irigasi rusak dan 50 bendungan terutama pada daerah utama penghasil pangan dan mendorong keandalan jaringan irigasi kewenangan daerah melalui penyediaan Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun bantuan pengelolaan dari pemerintah pusat; c. Optimalisasi layanan irigasi melalui operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi;
d. Pembentukan manajer irigasi sebagai pengelola pada satuan daerah irigasi;
e. Peningkatan peranpetani secara langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan daerah irigasi termasuk operasi dan pemeliharaan seperti melalui sistem out-contracting; f. Peningkatan efisiensi pemanfaatan air irigasi dengan teknologi pertanian hemat air seperti
System of Rice Intensification (SRI), penggunaan kembali air buangan dari sawah (water re-use),
dan pengembangan konsep pemanfaatan air limbah yang aman untuk pertanian (safe use of
wastewater in agriculture);
g. Internalisasi pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi partisipatif (PPSIP) dalam dokumen perencanaan daerah; dan
III-13
h. Pengelolaan lahan rawa berkelanjutan melalui pengelolaan lahan rawa yang dapat mendukung peningkatan produksi pangan secara berkelanjutan dengan meminimalkan dampak negatif dari kegiatan pengelolaan tersebut terhadap kelestarian lingkungan hidup. Arah Kebijakan Peningkatan Stabilisasi Harga Melalui Peningkatan Kualitas Distribusi Pangan dan Aksesibilitas Masyarakat Terhadap Pangan dilakukan melalui :
1. Peningkatan kualitas distribusi: (i) Pembangunan gudang dengan fasilitas pengolahan pasca panen di tiap sentra produksi; (ii) peningkatan penyediaan dan sinergi fasilitas transportasi seperti penyediaan fasilitas kapal pengangkut ternak dan hasil pertanian lainnya, penguatan sistem logistik nasional untuk input produksi dan produk pangan serta perikanan, termasuk wilayah-wilayah terpencil; (iii) pengawasan gudang-gudang penyimpanan, pemantauan perkembangan harga pangan dan pengendalian fluktuasi harga antara lain melalui operasi pasar; (iv) pemetaan dan membangun ketersambungan rantai pasok komoditi hasil pertanian dengan industri pangan diantaranya melalui pembangunan pasar dan memperkuat kelembagaan pasar; (v) pengendalian atas impor pangan antara lain melalui pemberantasan terhadap “mafia” impor; 2. Peningkatan aksesibilitas pangan: (i) penguatan cadangan pangan pokok terutama beras, kedelai
dan gula; (ii) peningkatan peranan Perum Bulog atau BUMN Pangan untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok; (iii) harmonisasi kebijakan impor bahan pangan terkait dengan stabilisasi pasokan dan harga pangan; (iv) penyediaan dan penyaluran bahan pangan bersubsidi bagi masyarakat yang kurang mampu; (v) mendorong peran Pemerintah daerah dalam pengembangan cadangan pangan lokal, penyediaan pangan lokal bersubsidi, dan stabilisasi harga pangan.
Arah Kebijakan Perbaikan Kualitas Konsumsi Pangan dan Gizi Masyarakat, dilakukan melalui: 1. Penguatan advokasi terkait diversifikasi konsumsi: (i) diversifikasi penyediaan dan konsumsi
pangan non beras bermutu, sehat dan halal; (ii) pendidikan gizi seimbang untuk keluarga melalui posyandu; (iii) peningkatan konsumsi protein hewan (daging dan telur); (iv) Peningkatan konsumsi sayur dan buah serta peningkatan pemanfaatan lahan pekarangan melalui pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), serta (v) peningkatan pola konsumsi pangan masyarakat yang berbasis sumber daya dan budaya lokal;
2. Peningkatan Advokasi dan Konsumsi Makan Ikan: melalui (i) penguatan promosi, advokasi dan kampanye publik untuk konsumsi ikan dan produk olahan berbasis ikan, melalui gerakan ekonomi kuliner rakyat kreatif dari hasil laut, bazaar, lomba inovasi menu ikan, pengembangan pusat promosi dan pemasaran hasil perikanan; (ii) peningkatan peran serta berbagai pemangku kepentingan dalam upaya penggalakkan minat dan konsumsi makan ikan di masyarakat, (iii) pengembangan sistem informasi produk perikanan dan harga ikan yang mudah diakses masyarakat, (iv) pemenuhan ketersediaan komoditas perikanan yang berkualitas, mudah dan terjangkau di masyarakat dalam rangka mendukung ketahanan pangan; (v) dan diversifikasi konsumsi produk olahan perikanan;
III-14
3. Peningkatan peran industri dan Pemerintah daerah dalam ketersediaan pangan beragam, aman, dan bergizi: (i) peningkatan komposisi bahan pangan lokal dalam industri pangan; (ii) pengembangan “beras” yang menggunakan bahan tepung-tepungan lokal non beras dan non terigu didukung fortifikasi mikronutrien penting (misalnya vitamin A dan E, zat besi); (iii) penguatan pengawasan peredaran bahan pangan berbahaya dalam rangka keamanan pangan. Arah Kebijakan Mitigasi Gangguan Terhadap Ketahanan Pangan dilakukan terutama meng-antisipasi bencana alam dan dampak perubahan iklim dan serangan organisme tanaman dan penyakit hewan, melalui:
1. Penyediaan dan penyaluran bantuan input produksi bagi petani dan pembudidaya ikan yang terkena puso atau banjir serta kompensasi bagi nelayan yang terkena dampak ekstrim perubahan iklim;
2. Pelaksanaan dan pengembangan instrumen asuransi pertanian untuk petani dan nelayan yang diawali dengan pilot project;
3. Pengembangan benih unggul tanaman pangan dan jenis/varietas ikan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dan penerapan kalender tanam; dan
4. Perluasan penggunaan teknologi budidaya pertanian dan perikanan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Arah Kebijakan Peningkatan kesejahteraan pelaku utama penghasil bahan pangan, dilakukan melalui: 1. Perlindungan petani melalui penyediaan dan penyempurnaan sistem penyaluran subsidi input,
pengamanan harga produk hasil pertanian di tingkat petani dan pengurangan beban resiko usaha tani;
2. Pemberdayaan petani, nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam melalui pendataan usaha petani, peningkatan keterampilan, dan akses terhadap sumber-sumber permodalan; 3. Peningkatan akses dan aset petani,nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam terhadap
lahan melalui distribusi hak atas tanah petani dengan land reform dan program penguasaan lahan untuk pertanian terutama bagi petani gurem dan buruh tani.
3.3.3. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Pertanian
Visi pembangunan dalam RPJM 2015-2019 adalah “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”. Visi tersebut dijabarkan menjadi Tujuh Misi serta Sembilan Agenda Prioritas (NAWA CITA). Dalam aspek ideologi, PANCASILA 1 JUNI 1945 dan TRISAKTI menjadi ideologi bangsa sebagai penggerak, pemersatu perjuangan, dan sebagai bintang pengarah.
III-15
Berdasarkan dari Sembilan Agenda Prioritas (Nawa Cita), maka agenda prioritas di bidang pertanian terdiri dari dua hal, yaitu: (1) Peningkatan Agroindustri, dan (2) Peningkatan Kedaulatan Pangan.
Peningkatan Agroindustri, sebagai bagian dari agenda 6 Nawa Cita (Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional). Sasaran dari peningkatan agroindustri adalah: a. meningkatnya PDB Industri Pengolahan Makanan dan Minuman serta produksi komoditas
andalan ekspor dan komoditas prospektif,
b. meningkatnya jumlah sertifikasi untuk produk pertanian yang diekspor, dan c. berkembangnya agroindustri terutama di perdesaan.
Komoditi yang menjadi fokus dalam peningkatan agroindustri diantaranya kelapa sawit, karet, kakao, teh, kopi, kelapa, mangga, nenas, manggis, salak, kentang. Untuk mencapai sasaran pokok peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditi pertanian yang telah ditetapkan tersebut, maka arah kebijakan difokuskan pada: (1) peningkatan produktivitas dan mutu hasil pertanian komoditi andalan ekspor, potensial untuk ekspor dan substitusi impor; dan (2) mendorong pengembangan industri pengolahan terutama di perdesaan serta peningkatan ekspor hasil pertanian. Untuk itu strategi yang akan dilakukan meliputi:
a. Revitalisasi perkebunan dan hortikultura rakyat,
b. Peningkatan mutu, pengembangan standardisasi mutu hasil pertanian dan peningkatan kualitas pelayanan karantina dan pengawasan keamanan hayati,
b. Pengembangan agroindustri perdesaan,
c. Penguatan kemitraan antara petani dengan pelaku/pengusaha pengolahan dan pemasaran,
d. Peningkatan aksesibilitas petani terhadap teknologi, sumbersumberpembiayaan serta informasi pasar dan akses pasar
e. Akselerasi ekspor untuk komoditas-komoditas unggulanserta komoditas prospektif.
Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaranmaka Kementerian Pertanian menyusun dan melaksanakan Tujuh Strategi Utama Penguatan Pembangunan Pertanian untuk Kedaulatan
Pangan (P3KP) sebagai berikut:
1. Peningkatan ketersediaan dan pemanfaatan lahan 2. Peningkatan infrastruktur dan sarana pertanian 3. Pengembangan dan perluasan logistik benih/bibit 4. Penguatan kelembagaan petani
5. Pengembangan dan penguatan pembiayaan pertanian 6. Pengembangan dan penguatan bioindustri dan bioenergi 7. Penguatan jaringan pasar produk pertanian
III-16
Selain tujuh strategi utama, terdapat Sembilan Strategi Pendukung sebagai berikut :
1. Penguatan dan peningkatan kapasitas SDM pertanian 2. Peningkatan dukungan perkarantinaan
3. Peningkatan dukungan inovasi dan teknologi 4. Pelayanan informasi publik
5. Pengelolaan regulasi
6. Pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi 7. Pengelolaan perencanaan
8. Penataan dan penguatan organisasi 9. Pengelolaan sistem pengawasan
3.4. Telaah Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup
Strategis
3.4.1. Telaah Rencana Tata Ruang Wilayah
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional. Wilayah Kerja Pembangunan yang selanjutnya disingkat WKP adalah suatu strategi perangkaan perwilayahan dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan daerah jangka panjang melalui pengembangan potensi ungulan daerah secara menyeluruh, terarah, dan terpadu, yang memungkinkan terjadinya penyebarluasan pembangunan dan hasil-hasilnya ke seluruh pelosok Provinsi Banten.
Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Rencana Pola Ruang adalah rencana distribusi peruntukan ruang wilayah daerah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan budi daya sampai dengan akhir masa berlakunya RTRW Provinsi Banten yang memberikan gambaran pemanfaatan ruang wilayah daerah hingga 20 (dua puluh) tahun mendatang;
Lingkup Wilayah RTRW Provinsi Banten merupakan wilayah Daerah seluas 966.292,00 (sembilan ratus enam puluh enam ribu dua ratus sembilan puluh dua koma nol nol) hektar yang terdiri atas: a. WKP I meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan;
b. WKP II meliputi Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon; dan c. WKP III meliputi Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
III-17
Sedangkan arahan fungsi dan peranan ketiga WKP tersebut meliputi:
a. WKP I diarahkan untuk pengembangan kegiatan industri, jasa, perdagangan, pertanian, permukiman atau perumahan, dan pendidikan;
b. WKP II diarahkan untuk pengembangan kegiatan pemerintahan, pendidikan, kehutanan, pertanian, industri, pariwisata, jasa, perdagangan, dan pertambangan; dan
c. WKP III diarahkan untuk pengembangan kegiatan kehutanan, pertanian, pertambangan, pariwisata, kelautan, perikanan, industri dan perkebunan.
Beberapa kawasan dan pengertiannya yang terkait dengan pengembangan dan pembangunan sektor pertanian di Provinsi Banten adalah:
• Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya;
• Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi;
• Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi;
• Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudi dayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan;
• Kawasan Strategis Provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup Daerah terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan;
• Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia;
• Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut;
• Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang selanjutnya disingkat LP2B adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional;
Kebijakan pembangunan kewilayahan di Banten tentu tidak terlepas dari kebijakan kewilayahan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008
III-18
tentang RTRW Nasional, Pemerintah telah menetapkan Kawasan Strategis Nasional di Banten, yaitu :
1. Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda dan Kawasan Strategis Taman Nasional Ujung Kulon;
2. Kawasan Strategis Nasional Jabodetabekpunjur di wilayah Provinsi Banten meliputi Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.
Kawasan Strategis dari sudut kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup
a) Kawasan strategis nasional meliputi Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang; b) Kawasan strategis provinsi meliputi:
• Cagar Alam Rawa Danau (kurang lebih 2.500 Ha) di Kabupaten Serang;
• Cagar Alam Gunung Tukung Gede (kurang lebih 1.700 Ha) di Kabupaten Serang;
• Kawasan AKARSARI (Gunung Aseupan, Gunung Karang, dan Gunung Pulosari) di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang;
• Kawasan Penyangga Bandar Udara Soekarno-Hatta.
Adapun Kawasan Strategis dari sudut kepentingan yang terkait dengan bendungan: a) Bendungan Pasir Kopo di Kabupaten Lebak;
b) Bendungan Cilawang di Kabupaten Lebak; c) Bendungan Tanjung di Kabupaten Lebak; d) Bendung Ranca Sumur di Kabupaten Tangerang; e) Bendung Ciliman di Kabupaten Lebak;
f) Bendungan Sindang Heula di Kabupaten Serang; g) Bendung Pamarayan di Kabupaten Serang; h) Waduk Krenceng di Kota Cilegon;
i) Puspiptek di Kota Tangerang Selatan.
Di samping penanganan kawasan strategis cepat tumbuh, di Provinsi Banten masih terdapat 2 (dua) kabupaten tertinggal sebagaimana tertuang dalam Kepmeneg PDT Nomor 001/Kep/M-PDT/II/2005 tentang Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal. Di wilayah selatan Provinsi Banten terdapat sebanyak 40 Kecamatan 289 desa tertinggal yang tersebar pada:
1) Kabupaten Pandeglang terdapat 141 desa tertinggal dari 335 desa/kelurahan, di 12 kecamatan dari 35 kecamatan,
III-19
Fokus pembangunan wilayah dan kawasan pada tahun 2017-2022 akan diarahkan pada pengembangan kawasan strategis nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Sinergi pembangunan pusat dan daerah dengan membagi peran strategis pembangunan kewilayahan dan memperhatikan kebutuhan kawasan yang secara fungsional dapat berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan itu sendiri dan kawasan sekitarnya. Secara umum, kebijakan pembangunan kewilayahan pada RPJMD ini adalah sebagai berikut:
1) Pemerataan pembangunan melalui pengembangan wilayah yang terencana dan terintegrasi dengan seluruh pembangunan sektor dan tertuang dalam suatu rencana tata ruang. Selanjutnya encana tata ruang tersebut digunakan sebagai acuan kebijakan spasial bagi pembangunan di setiap sektor agar pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi dan berkelanjutan;
2) Percepatan pembangunan wilayah tertinggal agar ketertinggalan wilayah tersebut tidak terlalu besar bahkan dapat sejajar dengan wilayah lain yang telah lebih dulu berkembang. Untuk itu akan dilakukan percepatan pembangunan wilayah tertinggal melalui pendekatan peningkatan manusianya maupun sarana dan prasarananya;
3) Keseimbangan pembangunan hulu-hilir perkotaan dan perdesaan melalui keterkaitan kegiatan ekonomi antara perkotaan dan perdesaan. Pembangunan perkotaan diarahkan agar dapat menjadi pusat koleksi dan distribusi hasil produksi di wilayah perdesaan. Sedangkan pembangunan perdesaan diarahkan pada pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan yang akan menjadi pusat produksi agroindustri/agropolitan dan sektor lainnya sesuai dengan ketersediaan tenaga kerja, peningkatan sumber daya manusia di perdesaan khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya.;
4) Pengembangan kawasan pusat pertumbuhan guna menciptakan sinergitas dan integrasi wilayah serta efektivitas dalam pengelolaannya, khususnya di kawasan metropolitan dan pengembangan Kawasan Strategis Nasional dan Kawasan Strategis Provinsi. Kerjasama antar daerah diarahkan dalam rangka efisiensi pelayanan publik maupun pembangunan lainnya melalui kerjasama pembiayaan, ataupun pemeliharaan dan pengelolaan sarana dan prasarana sehingga dapat berbagi manfaat diantara daerah yang bekerjasama;
5) Kerjasama pembangunan antar daerah merupakan salah satu unsur perekat hubungan antar daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan menggalang kerjasama dapat disepakati kebijakan bersama dalam penyelesaian masalah antar daerah, mengantisipasi konflik antar daerah dan meningkatkan pembangunan bersama bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
III-20
Sedangkan terkait dengan berbagai kerjasama untuk pembangunan daerah mencakup : a) Kerjasama Pembangunan Antar Daerah
• Kerjasama Pembangunan Wilayah Perbatasan (Musrenbangtas) Banten – Jawa Barat • Kerjasama Pembangunan Wilayah Perbatasan (Rakortas) Banten – Lampung • Kerjasama Pembangunan Antar Daerah Jabodetabekjur
• Kerjasama Pembangunan Antar Daerah Mitra Praja Utama (MPU)
b) Kerjasama Pembangunan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten mencakup kawasan perkotaan, kawasan andalan dan kawasan strategis.
c) Kerjasama Pembangunan Strategis di Provinsi Banten dengan pola kerjasama pemerintah dan `swasta.
• Bandara Banten Selatan, Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang
• WTP Bendungan Sindang Heula, Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang
• Penyediaan Air Bersih Bendungan Karian pada Kecamatan Sajira, Kecamatan Cimarga, Kecamatan Maja dan Kecamatan Rangkasbitung
• Pelabuhan Bojonegara, Kabupaten Serang ;
• Rencana Jalan Tol Serang Panimbang
Sedangkan menurut Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2011 tentang RTRW Provinsi Banten Tahun 2010-2030 memuat Kawasan Strategis Provinsi Banten. Mengacu pada Permen Nomor 29 Tahun 2008 tentang Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) Pemerintah Daerah melakukan pengembangan kawasan strategis cepat tumbuh yang merupakan bagian dari kawasan strategis yang meliputi:
a) Kawasan agropolitan terpadu (termasuk agrowisata); • Kabupaten Tangerang;
• Kabupaten Serang; • Kabupaten Lebak; • Kabupaten Pandeglang;
b) Kawasan agropolitan lainnya yang disepakati bersama. c) Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil;
• Kabupaten Tangerang, • Kabupaten Serang, • Kabupaten Pandeglang, • Kabupaten Lebak • Kota Cilegon. • Kota Serang.
III-21
Pola ruang Kawasan Budi Daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b Raperda RTRW Provinsi Banten dengan luas lebih kurang 672.145,28 (enam ratus tujuh puluh dua ribu seratus empat puluh lima dua delapan) hektar, meliputi :
a. Kawasan peruntukan hutan produksi; b. Kawasan peruntukan pertanian; c. Kawasan peruntukan perkebunan; d. Kawasan peruntukan perikanan; e. Kawasan peruntukan pertambangan;
f. Kawasan peruntukan industri;
g. Kawasan peruntukan pariwisata; h. Kawasan peruntukan permukiman; dan
i. Kawasan peruntukan lainnya.
Lebih lanjut, pola ruang kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) huruf b pada Raperda RTRW Provinsi Banten meliputi;
(1). Kawasan budi daya tanaman pangan diarahkan di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Serang dan Kota Cilegon seluas lebih kurang 196.482 (seratus sembilan puluh enam ribu empat ratus delapan puluh dua) hektar;
(2). Kawasan budi daya hortikultura diarahkan di wilayah: a. Kabupaten Serang;
b. Kabupaten Tangerang; c. Kabupaten Pandeglang; d. Kabupaten Lebak; dan e. Kota Tangerang Selatan.
(3). Kawasan budi daya peternakan diarahkan di wilayah: a. Kabupaten Serang;
b. Kabupaten Tangerang; c. Kabupaten Pandeglang; d. Kabupaten Lebak; dan e. Kota Serang;
(4). Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (P2B) terdiri dari Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan lahan cadangan di Daerah;
(5). Kawasan agropolitan diarahkan di wilayah: a. Kabupaten Serang;
III-22
c. Kabupaten Lebak; dan d. Kabupaten Tangerang.
(6). Kawasan Sistem Pertanian Terpadu diarahkan di wilayah Kota Serang;
(7). Kawasan peruntukan perkebunan meliputi kawasan budidaya lahan kering seluas lebih kurang 177.433,35 (seratus tujuh puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh tiga tiga lima) hektar yang diarahkan di wilayah:
a. Kabupaten Serang; b. Kota Serang; c. Kabupaten Tangerang; d. Dihapus; e. Dihapus; f. Kabupaten Pandeglang;
g. Kabupaten Lebak; dan h. Dihapus.
Pada zonasi sistem jaringan energi dan zonasi sistem sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (2) Raperda RTRW Provinsi Banten masih diijinkan untuk pengembangan pertanian dan RTH asalkan di luar zona inti.
Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (2) huruf g Raperda RTRW Provinsi Banten meliputi:
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian meliputi: a. diizinkan untuk aktivitas pendukung pertanian;
b. diizinkan untuk mendirikan rumah tunggal dengan syarat tidak mengganggu fungsi pertanian dengan intensitas bangunan berkepadatan rendah;
c. larangan mendirikan bangunan pada kawasan sawah irigasi yang terkena saluran irigasi; d. larangan aktivitas budi daya yang mengurangi luas kawasan sawah irigasi, kecuali untuk
jaringan prasarana utama dan kepentingan umum sesuai dengan peraturan peundang-undangan;
e. larangan aktivitas budidaya yang mengurangi atau merusak fungsi lahan dan kualitas tanah untuk pertanian;
f. penyelenggaraan bangunan pengolahan hasil pertanian, dan balai pelatihan teknis nelayan; g. pengembangan sarana dan prasarna pengembangan produk pertanian;
h. pengembangan saluran irigasi; i. pengembangan waduk dan embung;
III-23
j. pengembangan lumbung desa modern; dan
k. saluran irigasi tidak boleh disatukan dengan drainase dan tidak boleh diputus. (2) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan LP2B meliputi:
a. diizinkan untuk aktivitas pendukung budi daya di LP2B;
b. diizinkan untuk mendirikan rumah tunggal dengan syarat tidak mengganggu fungsi LP2B dengan intensitas bangunan berkepadatan rendah;
c. larangan mendirikan bangunan pada kawasan LP2B;
d. larangan aktivitas budi daya yang mengurangi luas kawasan LP2B, kecuali untuk jaringan prasarana utama dan kepentingan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. larangan aktivitas budi daya yang mengurangi atau merusak fungsi lahan dan kualitas tanah untuk LP2B;
f. pengembangan sarana dan prasarna pengembangan produk pertanian; g. pengembangan saluran irigasi; dan
h. pengembangan waduk dan embung
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perkebunan meliputi:
a. diizinkan untuk mendirikan perumahan dengan syarat tidak mengganggu fungsi perkebunan;
b. diizinkan untuk aktivitas pendukung perkebunan, misalnya penyelenggaraan aktivitas pembenihan; dan
c. larangan aktivitas budi daya yang mengurangi atau merusak fungsi lahan dan kualitas tanah untuk perkebunan.
Terkait rencana pembangunan sarana dan prasarana pendukung untuk pembangunan pertanian adalah sebagai berikut:
(1) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf c diarahkan untuk mendukung air baku dengan mengoptimalkan peruntukan sumber air permukaan dan sumber air tanah.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air meliputi: a. Pengembangan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak;
b. Pengembangan Bendungan Sindangheula di Kabupaten Serang dan Kota Serang;
c. Pengembangan Bendungan Cidanau di Kabupaten Serang;
d. Pengembangan Bendungan Pasir Kopo di Kabupaten Lebak; e. Pengembangan Bendung Ciliman di Kabupaten Lebak;
III-24
f. Pengembangan Bendung Cibaliung di Kabupaten Pandeglang; g. Pengembangan Bendung Pamarayan di Kabupaten Serang; h. Pengembangan Bendung Ranca Sumur di Kabupaten Tangerang; i. Pengembangan Bendung Pasar Baru di Kota Tangerang;
j. Pengembangan Bendung Cisadane Pintu Sepuluh di Kota Tangerang; k. Pemeliharaan CAT Rawa Danau di Serang-Pandeglang;
l. Pemeliharaan CAT Serang-Tangerang; m. Pemeliharaan CAT Labuhan;
n. Pemeliharaan CAT Malimping; o. Pemeliharaan CAT Jakarta;
p. Pemeliharaan situ, waduk, danau, dan rawa yang terdapat di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kota Cilegon sebagai kolam penyimpanan;
q. Pengembangan sumber air baku dari aliran sungai di Daerah dengan mempertimbangkan daya dukung sumberdaya air;
r. Pembangunan infrastruktur pengendalian banjir di wilayah Provinsi Banten; dan s. Pemanfaatan air laut sebagai sumber air bersih di seluruh wilayah Provinsi Banten. (1) Pengelolaan daerah irigasi di Daerah seluas lebih kurang 30.666 (tiga puluh ribu enam ratus
enam puluh enam) hektar diarahkan untuk kebutuhan pertanian terdiri atas:
a. Daerah Irigasi Cicinta di Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak, seluas lebih kurang 1.334 (seribu tiga ratus tiga puluh empat) hektar;
b. Daerah Irigasi Cibanten di Kota Serang, seluas lebih kurang 1.289 (seribu dua ratus delapan puluh sembilan) hektar;
c. Daerah Irigasi Cipari/Ciwuni di Kabupaten Serang, seluas lebih kurang 1.644 (seribu enam ratus empat puluh empat) hektar;
d. Daerah Irigasi Cisangu Atas di Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak, seluas lebih kurang 446 (empat ratus empat puluh enam) hektar;
e. Daerah Irigasi Cisangu Bawah di Kabupaten Serang, seluas lebih kurang 1.436 (seribu empat ratus tiga puluh enam) hektar;
f. Daerah Irigasi Ciwaka Bawah di Kabupaten Serang dan Kota Serang, seluas lebih kurang
1.210 (seribu dua ratus sepuluh) hektar; g. Dihapus;
h. Daerah Irigasi Cisata di Kabupaten Pandeglang, seluas lebih kurang 2.112 (dua ribu seratus dua belas) hektar;