MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1
PEKERJAAN
SUPERVISOR) PEMASANGAN INSTALASI LIFT DAN
ESKALATOR (SSLE)
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN
KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK)
MODUL
SSLE – 04 :
KOMPONEN INSTALASI DAN
PENGAMANAN
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-i-KATA PENGANTAR
Salah satu modul pelatihan yang akan diberikan kepada peserta pelatihan Pengawas Lapangan (site supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator adalah mengenai Komponen Instalasi dan Pengamanan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pekerjaan pemasangan instalasi lift dan eskalator.
Penulisan dan penyusunan buku ini disesuaikan dengan posisi pelatihan, dimana Para Peserta Pelatihan Pengawas Lapangan (site supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator ini bukanlah mereka yang masih awam dalam hal pekerjaan Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator.
Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna baik ditinjau dari segi materi sistematika penulisan maupun tata bahasanya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para peserta dan pembaca semua, dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan modul ini.
-ii-Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-iii-LEMBAR TUJUAN
MODUL PELATIHAN : Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
MODEL PELATIHAN : Lokakarya Terstruktur
TUJUAN UMUM PELATIHAN :
Mampu melakukan pengawasan pekerjaan pemasangan instalasi pesawat lift dan ekskalator dalam gedung sesuai dengan spesifikasi teknis, gambar perencanaan dan mutu yang dipersyaratkan sampai diserah terimakan kepada pemilik.
TUJUAN KHUSUS PELATIHAN : Pada akhir pelatihan peserta mampu : 1. Menerapkan sistem manajemen K3.
2. Menerapkan peraturan dan standar nasional.
3. Menjelaskan pengenalan sistem transportasi vertikal.
4. Mengawasi pemasangan komponen instalasi dan pengamanan. 5. Menjelaskan Instalasi Daya, Kendali dan Proteksi
6. Menjelaskan dasar-dasar teknik kelistrikan dan mekanikal. 7. Menjelaskan metode pemasangan lift dan eskalator.
8. Menjelaskan teknik pemeriksaan dan uji coba lift dan eskalator. 9. Menjelaskan riksa uji lift dan eskalator.
10. Menjelaskan proyek dan karakteristiknya. 11. Mengendalikan proyek (PDCA).
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE) -iv-NO. DAN JUDUL MODUL : SSLE - 04 KOMPONEN INSTALASI
DAN PENGAMANAN
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah mempelajari modul, peserta mampu mengenali komponen instalasi dan pengamanan sesuai ketentuan dokumen kontrak sebagai acuan dalam pelaksanaan pekerjaan pemasangan lift dan ekskalator sesuai peraturan yang berlaku sehingga layak difungsikan.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Mengenali Komponen Diam / Tidak Bergerak 2. Mengenali Kompponen Bergerak
3. Mengenali Kompponen Pelengkap 4. Mengenali Peralatan Pengaman
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-v-DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ... i LEMBAR TUJUAN ... ii DAFTAR ISI ... ivDESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN PENGAWAS LAPANGAN (SITE SUPERVISOR) PEMASANGAN INSTALASI LIFT DAN ESKALATOR (SSLE) ... v
DAFTAR MODUL ... vi
PANDUAN INSTRUKTUR ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II KOMPONEN DIAM (STAND STILL COMPONENTS) ... 4
BAB III KOMPONEN BERGERAK ... 9
BAB IV KOMPONEN PELENGKAP ... 11 RANGKUMAN
LAMPIRAN : KATA PADANAN DAFTAR PUSTAKA
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-vi-DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL
PELATIHAN PENGAWAS LAPANGAN (Site Supervisor)
PEMASANGAN INSTALASI LIFT DAN ESKALATOR
(SSLE)
1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Pengawas
Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
(SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi
Lift dan Eskalator (SSLE) unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus
Pelatihan.
2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Pengawas Lapangan
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-vii-DAFTAR MODUL
Jabatan Kerja : Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
Nomor
Modul Kode Judul Modul
1 SSLE – 01 Sistem Manajemen (K3)
2 SSLE – 02 Peraturan dan Standar Nasional
3 SSLE – 03 Pengenalan Sistem Transportasi Vertikal
4
SSLE – 04
Komponen Instalasi Daya, Kendali dan
Proteksi
5 SSLE – 05 Instalasi Daya, Kendali dan Proteksi
6 SSLE – 06 Dasar-dasar Teknik Kelistrikan dan Mekanikal 7 SSLE – 07 Metode Pemasangan Lift dan Eskalator
8 SSLE – 08 Teknik Pemeriksaan dan Uji Coba Lift dan Eskalator 9 SSLE – 09 Riksa Uji Lift dan Eskalator
10 SSLE – 10 Proyek dan Karakteristiknya 11 SSLE – 11 Pengendalian Proyek (PDCA) 12 SSLE – 12 Teknik Pelaporan
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-viii-PANDUAN INSTRUKTUR
NAMA PELATIHAN : PELATIHAN PENGAWAS LAPANGAN (SITE SUPERVISOR) PEMASANGAN INSTALASI LIFT DAN ESKALATOR (SSLE)
KODE MODUL : SSLE - 04
JUDUL MODUL : KOMPONEN INSTALASI DAN PENGAMANAN
DESKRIPSI : Materi ini membahas pengetahuan Komponen
Diam, Komponen Bergerak, Komponen Pelengkap dan Peralatan Pengaman untuk
pelatihan Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya.
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-ix-RENCANA PEMBELAJARAN
KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG
1. Ceramah : Pembukaan/ Bab I, Pendahuluan
Menjelaskan tujuan
instruksional umum(TIU) dan Tujuan instruksional khusus (TIK)
Menjelaskan maksud dan tujuan komponen instalasi dan pengamanan
Menjelaskan pengertian komponen instalasi dan pengamanan
Waktu : 5 menit
Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif
Mengikuti penjelasan maksud dan tujuan komponen instalasi dan pengamanan
Mengikuti penjelasan pengertian komponen instalasi dan pengamanan Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
OHT
2. Ceramah : Bab II, Komponen Diam
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai Komponen Diam
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan apabila ada yang kurang jelas.
OHT
3. Ceramah : Bab III, Komponen Bergerak
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai Komponen Bergerak.
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan apabila ada yang kurang jelas.
OHT
4. Ceramah : Bab IV, Komponen Pelengkap
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai : Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan apabila ada yang kurang jelas.
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-x-KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG
5. Ceramah : Bab V, Peralatan Pengaman
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai Peralatan Pengaman:
Waktu : 10 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan apabila ada yang kurang jelas.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-1-BAB I
PENDAHULUAN
1. Ditinjau dari sistem transportasi, secara garis dasar komponen lift dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
Bagian 1 : Komponen diam / tidak bergerak a. Rel pemandu
b. Penyangga / peredam c. Mesin traski / mesin hidrolik d. Motor penggerak
e. Pintu - pintu lantai
Bagian 2 : Komponen-komponen bergerak. a. Kereta
b. Bobot imbang c. Tali baja tarik Bagian 3 : Komponen pelengkap
a. Di ruang mesin : kendali, governor pengindra kecepatan. b. Di ruang luncur : sinyal, saklar-saklar.
Bagian 4 : Peralatan pengaman a. Mekanis (safety gear) b. Elektris (switches)
Untuk menghasilkan kerja yang sempurna semua komponen saling mendukung, masing-masing menjalankan fungsinya. Tidak semua komponen akan diuraikan disini karena telah/akan dibahas pada pelajaran lain.
2. Sejarah perkembangan pesawat lift sejak 1855 telah menghasilkan banyak sekali penemuan-penemuan jenius, dan bermacam-macam paten. Sebagai contoh, rel pemandu pada masa awal lift komersil, dibuat dari kayu dan berbentuk profil bulat atau segi empat. Pada waktu itu operasi lift berangkat dan berhenti harus dilakukan oleh seorang pelayan (atendan) didalam kereta yang memutar roda kemudi. Atendan juga harus membukakan pintu secara manual jika telah sampai dan menutup pintu jika mau berangkat.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-2-3. Sejak tahun 1924 pesawat lift telah mengalami kemajuan luar biasa, karena serba electric, yaitu electric signal control, electric door operation. Seorang atendan masih diperlukan untuk menutup pintu cukup dengan menekan tombol. Atendan harus memutar roda kendali untuk memulai berangkat. Hebatnya lift telah pandai berhenti sendiri pada tiap-tiap lantai dimana ada calon penumpang, dan akan berbalik arah dengan sendirinya, jika semua perlayanan selesai.
4. Sejak tahun 1955 pesawat lift sudah dilengkapi dengan peralatan atau aparatus serba “electronic”, seperti : rectifiers, transistors, electronic vacum-tube,
semi-conductor, dan sebagainya. Secara umum “electric control” berubah menjadi
“electronically controlled” operation. Istilah - istilah berikut timbul :
a. electronic call button. b. electronic detector
c. electronic digital indicator d. electronic decoder
e. electronic chime
f. electronic speech sythesizer g. electronic display
Seorang atendan tidak diperlukan lagi, karena pesawat lift sudah tahu apa tugasnya, bahkan seorang atendan akan mengurangi kinerja lift, karena kerja lift lebih mementingkan efisiensi kelompok. Jika ada seorang atendan dipasang didalam kereta, maka dia lebih cenderung bertugas untuk mengelu-elukan tamu. Dijepang dikenal dengan nama girl starter.
5. Lift modern dilengkapi dengan aparatus yang sama sekali tidak ada hubunganya dengan operasi lift. Kalaupun ada, hanya sedikit, atau diragukan manfaatnya. Diantaranya ialah :
a. Information display b. Speech synthesizer c. Close circuit TV
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-3-6. Semua komponen lift harus diproduksi mengikuti standar nasional. Pesawat lift yang diimpor, mengikuti standar negara asalnya, umpamanya merk dagang dan USA mengikuti ASME 17.1 dari Jepang mengikuti JIS (Japanese Industrial
Standard), dari Eropa mengikuti EN.81, SNI di Indonesia dibuat berdasarkan
ASME dan BSI (British Standard Institute), isinya cukup memenuhi kebutuhan, mendukung mutu dan keselamatan.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-4-BAB II
KOMPONEN DIAM (Stand still components)
1. Rel Pemandu
Fungsi rel ada empat macam, yaitu :
a. Sebagai pemandu jalannya kereta dan bobot imbang. b. Sebagai penahan gaya-gaya reaksi saaat bongkar muat. c. Sebagai penahan gaya reaksi saat pesawat pengaman bekerja d. Sebagai tempat memasang saklar dan tuas (cam).
Rel dibuat dari baja kanal liat (ductile steel) dengan tegangan batas (yield point) maksimal 35 s/d 37 kg/mm2 biasa disebut structural steel. Pengerjaan mesin
dengan skrap (planed) pada muka bidang kepala (web) sampai kehalusan 2,0 m; pada kaki tidak di mesin. Kelurusan yang dituntut ialah penyimpangan maksimal (maximum desplacement) 0,3 mm per meter untuk kecepatan lebih rendah dari 240 m/m, sampai 0,2 mm per meter untuk kecepatan mencapai 420 m/m.
Rel-rel yang bengkok, terputir berubah bentuk dan sebagainya tidak boleh dipasang, oleh karena itu cara pengepakan dan handling selama transport harus mengikuti aturan, dan petunjuk produsennya.
Ada dua versi ukuran rel, yaitu versi Amerika mengikuti ASME dan veri Eropa mengikuti ISO, BS dan EN.81. Berikut ini ukuran fisik dengan berat per meter lari. Rel versi Eropa, mengikuti ISO 7465, perbatang = 5 meter. Contoh beberapa rel tersebut ialah sebagai berikut :
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-5-ISO Code Berat perbatang Dimensi (mm) Luas irisan (5 cm) dlm kg B H t n (cm2) T 70 - 1/A T 75- 3/A/B T82 /A/B T89 /A/B T90 /A/B T125 /B T127 - 1/B T127 - 2/B T140 - 1/B T140 - 2/B 37,35 43,15 42,75 61,50 67,50 90 89 113,5 138 168 70 75 82,5 89 90 125 127 127 140 140 65 62 68,25 62 75 82 89 89 108 102 9 10 9 16 16 16 16 16 19 28 34 30 25,4 33,4 42 42 44,5 50,8 51 51 9,51 10,99 10,90 15,70 17,20 22,90 22,60 28,90 35,10 42,90 H = tinggi badan B = dasar / kaki t = tebal
n = tinggi kepala (web)
Rel versi Amerika dari jepang = kadang-kadang perbatang 16 feet.
Kg/m B H t n (cm2) K12 T 75 K 16 K 18 125/B K 22 T127-2/B K 27 T140-1/B K 34 T140-2/B K 45 8 16,4 18 22 27 34 44,7 89 114 127 127 140 140 140 62 89 89 89 114 102 127 16 16 16 16 19 28,5 31,7 31,7 38,1 44 49 49 50,8 57 10,2 - 22,90 28,90 35,20 42,90 -
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-6-2. Penyangga dan Peredam
a. Penyangga dan peredam ialah alat penahan kemerosotan kereta atau bobot imbang yang masuk kedalam pit melewati batas seharusnya. Penyangga (bumper) berupa bahan masif kenyal (polyurethane) untuk lift berkecepatan maksimal 45 m/m, dan jarak tekan maksimal 10 cm terhadap bahan tersebut. Peredam (buffer) berupa dua macam, yaitu pegas (spring buffer) untuk lift berkecepatan maksimal 90 m/m dan oil (hydraulic) buffer untuk lift berkecepatan 90 m/m keatas, lihat gambar.
b. Peredam pegas bersifat mengumpulkan energi kinetis saat kereta / bobot imbang membentur padanya, sedangkan oil buffer bersifat menyerap energi kinetis, sehingga lebih nyaman, jika direncanakan jarak langkah torak dengan betul.
c. Jika peredam dipasang pada bagian bawah dari bobot imbang, sebagai bagian dari pemberat, maka pada dasar pit harus dipasang penyangga dari kayu sebagai penahan benturan. Juga harus diperhitungkan tinggi overhead agar bagian atasnya tidak membentur lantai ruang mesin, saat bobot imbang mencapai titik teratas.
d. Penyangga dan peredam adalah suatu keharusan dalam instalasi lift, sebagai pengaman keadaan darurat, walaupun alat ini lebih banyak diam bahkan tidak pernah bekerja.
e. Rekayasa peredam hidrolis harus mempunyai lisensi, setelah mengalami uji-coba dipabrik. Ditempat kerja peredam tersebut tidak perlu lagi mengalami uji coba. Contoh gambar rekayasa pada lampiran.
3. Mesin dan Motor
Mesin dan motor merupakan kesatuan penggerak jalannya kereta yang duduk mati diruang mesin, diatas ruang luncur atau dilantai dasar. Kesatuan komponen ini terdiri dari :
1. Motor listrik penggerak poros berputar. 2. Mesin berupa roda gigi reduksi.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-7-Catatan : Lift berkecepatan tinggi (diatas 150 m/m) tidak menggunaan roda gigi reduksi. Poros motor langsung sebagai pemutar roda puli.
a. Roda gigi reduksi : gigi ulir
Fungsi roda gigi reduksi ialah untuk mengurangi putaran poros motor oleh karena kecepatan lift rendah. Contoh pada lift dengan sistem pentalian 1 : 1 kecepatan linier tali sama dengan kecepatan kereta, umpama 60 m/m
S = D N
dimana, D adalah diameter puli
Jika D = 0,8 meter, maka N = S / D = 24 rpm
Putaran motor N = 120 f (1 - S) / P = 120 x 50 ( 1 - 0,03) / 4 = 1455 rpm
Maka diperlukan roda gigi ulir (worm gear) dengan gear ratio 1455 : 24 , sama dengan 60 : 1 (satu ulir).
Jika sistem pentalian 2 : 1, kecepatan linier tali 2 x kecepatan lift = 48 rpm, maka diperlukan roda gigi ulir dengan gear ratio 1455 : 48, atau 30 : 1 atau 60 : 2, yaitu roda gigi ulir (cacing) = 2 ulir.
Catatan : D harus dikoreksi = 0,79 m
b. Roda gigi reduksi : gigi helical
Bentuk gigi miring - spiral dan biasanya bertahap 2 kali reduksi, yaitu untuk lift-lift berkecepatan 150 m/m s/d 210 m/m. Contoh lift-lift berkecepatan 180 m/m, roping 1:1, S = D N, jika D = 0,8 meter, kecepatan 180 m/m, roping 1:1, dan S = D N, maka N = 71,6 rpm atau 72 rpm.
Gear ratio = 1455 / 72 = 25 : 1. Gigi tahap pertama gunakan ratio 45 : 10. Gigi tahap kedua gunakan ratio sama yang sama 45 : 10, lihat gambar.
c. Roda puli penarik.
Puli dibuat dari besi tuang campuran molebdenum dengan kekerasan seragam HB220 (Brinell Hardness). Diameter roda puli minimal 40 kali diameter tali baja. Jika diameter tali sama dengan 5/8 in = 16 mm, maka diameter puli minimal 40 x 16 = 640 mm. Dari segi keawetan tali baja, diameter diperbesar 10% menjadi 700 mm, sebagai diameter minimal.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-8-d. Rem mesin lift menggunakan tenaga elektromagnetik (solenoid) untuk membuka rem tiap-tiap kali lift mau berangkat, dan rem bekerja atas gaya pegas tiap-tiap kali lift berhenti. Sepatu rem dibuat dari bahan ferodo, berjumlah sepasang. Jarak celah antara sepatu rem dengan tabung rem maksimum 0,1 mm. Sedangkan jarak solenoid intimagnet antara yang kiri dan kanan kira-kira 1,0 mm, sehingga perlu perbandingan batang-batang tuas 10 : 1, untuk membuka rem. Semua dapat disetel, dan biasanya telah dilakukan di pabrik.
Kekuatan rem disetel oleh moer dibelakang pegas. Rem harus cukup kuat menahan kereta penuh beban muatan sampai 125% kapasitas angkat, tanpa merosot, jika tiba-tiba sumber tenaga listrik putus. Hal ini harus diuji coba, sebelum instalasi diserah terimakan oleh kontraktor kepada pemilik. Caranya berhentinya lift-lift modern tidak lagi dengan pengereman. Lift berhenti karena motor berhenti, setelah kereta tepat rata dengan lantai (dynamic braking) sesaat kemudian rem baru bekerja.
Lift dengan motor AC-2 speed, dimana speed control tidak menggunakan inverter, maka kecepatan lift diturunkan seperempatnya untuk kira-kira 8 detik, kemudian 2 detik sebelum berhenti rem membantu bekerja (drop hold
braking). Lihat contoh gambar dibawah ini :
1. External, permukaan luar tabung yang dipeluk sepatu rem. Tabung langsung berhubungan dengan as motor.
2. Internal, expanding brake, pada mesin gearless. Permukaan dalam tabung yang ditekan oleh sepatu rem.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-9-BAB III
KOMPONEN BERGERAK
Komponen yang senantiasa bergerak dalam sistem pesawat lift ialah : 1. Kereta, termasuk pintu kereta
2. Bobot imbang 3. Tali baja, dan 4. Pintu-pintu lantai
Keempat komponen tersebut telah diuraikan pada mata pelajaran sebelumnya, sehingga hanya akan disinggung sedikit mengenai kereta dan pintu. Lihat gambar-gambar.
1. Kereta (car, cabin) atau cab)
Banyak orang lebih suka menyebut sangkar (cage) dari pada kereta, walaupun jelas-jelas yang menggunakan lift itu manusia, bukan binatang. Berdasar penggunaannya kereta dibagi menjadi tiga jenis yaitu kereta penumpang, kereta barang dan kereta lift pelayan (dumbwaiter). Kereta penumpang (passenger cab) banyak variasinya. Ukuran yang dianjurkan seperti tersebut dalam bab pelajaran “tata letak”. Sedangkan bentuk kereta lift kaca tergantung arsitek. Tetapi semua harus memenuhi syarat luas 0,16 m2/orang (kecuali lift-lift kecil untuk perumahan
mencapai 0,2 m2 tiap orang).
Semua kereta harus dilengkapi dengan pintu, kecuali lift pelayan (dumbwaiter), walaupun pintu tidak harus otomatis (untuk lift barang dan lift perumahan dipakai pintu-pintu manual). Tinggi kereta minimal 2,0 m, tetapi tinggi yang normal dapat diterima ialah 2,2 m sampai langit-langit, dan 2,4 m sampai ke atap.
2. Pintu lantai
Pintu lantai ialah pintu yang dipasang pada ruang luncur (hoistway door, atau
landing door). Istilah “pintu luar” tidak betul. Pintu lantai pasif, hanya mau membuka
jika dibuka (ditutup) oleh pintu kereta dengan batang tuas, sedangkan pintu kereta digerakan oleh motor listrik yang dipasang diatap kereta (biasa disebut door
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-10-Semua pintu lantai harus dilengkapi dengan kunci kait (interlock) dan kontak listrik, baik yang otomatis maupun pintu manual. Bentuk atau jenis pintu yang paling populer untuk lift modern ialah sorong horisontal belah tengah (center opening
sliding door). Pintu lift service (serbaguna) harus lebih lebar, maka digunakan jenis two-speed door atau pintu teleskopik. Daun pintu yang dimuka lebih cepat (dua kali
lipat) dari kecepatan daun belakang. Gambar dibawah ini memperlihatkan lebar pintu maksimal yang dapat diperoleh dari lebar ruang luncur yang tersedia atas dasar jenis-jenisnya.
Tinggi pintu minimal 2,0 meter, tetapi tinggi yang normal dapat diterima masyarakat ialah 2,1 meter. Tinggi kereta dan tinggi pintu lift barang menyesuaikan kebutuhan atas dasar jenis barang yang diangkut. Jenis pintu ialah vertical bi-parting door dengan lebar sama dengan lebar kereta. Biasanya tidak otomatis, tetapi dapat dilengkapi dengan motor penggerak pada masing-masing unit pintu. Dengan cara menekan tombol-tombol, pintu dapat dibuka dan atau tutup.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-11-BAB IV
KOMPONEN PELENGKAP
1. Sinyal
Sinyal ialah suatu sistem petunjuk dan pertanda yang berfungsi membantu operasi lift dan eskalator mencapai tujuannya sebagaimana mestinya. Termasuk dalam sistem sinyal ialah alat pelengkap pertolongan dalam keadaan darurat, yaitu :
a. Bel tanda bahaya (alarm bell) atau tanda minta tolong. b. Interkom atau interphone
c. Monitor dengan CCTV, dan d. Pengindera (sensor, detector)
Sinyal memanfaatkan bunyi/suara spesifik, cahaya dan juga perekaman gejala.
Contoh - contoh :
a. Bell berdering untuk minta tolong karena lift macet (suatu ketetapan).
b. Bunyi buzzer (geram) untuk kereta tidak mau berangkat karena beban berlebih.
c. Juga buzzer agak lembut karena pintu ditahan terus menerus tidak dapat menutup pada hal tengganng waktu telah habis.
d. Bunyi denting satu kali jika lift tiba dilantai arah keatas. Bunyi denting dua kali, jika lift tiba, tetapi arah kebawah. Bersamaan dengan bunyi denting tersebut lampu ketibaan turut menyala yaitu warna hijau untuk arah keatas, dan merah untuk arah kebawah. Bunyi denting tersebut sekarang diganti dengan suara
electronic chime yang lebih nyaman terdengar.
e. Pijitan tombol-tombol lantai (hall call) dan tombol kereta (car call) disertai bunyi “biip” dan tombol menyala diode merah, suatu tanda bahwa panggilan atau permintaan telah “didaftar” untuk dilayani.
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-12-f. Peringatan bahwa lift akan berangkat dari lobi karena tenggang waktu telah habis, ditandai dengan suara buzzer agak geram dan pada saat yang sama lampu panah warna hijau berkedip.
Semua petunjuk dan petanda tersebut tidak ada ketetapannya, kecuali alarm bell adalah suatu keharusan, tanda dalam keadaan darurat.
Indikator posisi kereta dalam bangunan, hanya bermanfaat untuk dua lift ganda (duplex). Bagi lift-lift dalam kelompok, indikator posisi tersebut cukup dipasang didalam kereta saja, sedangkan pada tiap-tiap lantai seharusnya dipasang lampu panah ketibaan berwarna merah dan hijau dengan kombinasi suara denting. Dalam hal ini pemasangan indikator posisi hanya akan membingungkan calon penumpang yang menunggu di lobi.
Lift modern dilengkapi dengan detector penilai jumlah calon penumpang dilobi lift dilantai dasar, sebagai pemicu operasi “up peak demand”.
Lokasi lampu ketibaan sebaiknya dipasang di samping pintu sebelah kiri (lihat gambar). Alternatif dipasang diatas pintu, kecuali jika pintu memakai tingkap (transom panel) maka lampu tidak boleh dipasang pada tingkap. Hindari memilih bentuk lampu yang kurang efektif, tidak tepat guna. Jangan sampai bentuk-bentuk manis mengorbankan fungsi.
Layar info (secren display dan speech synthesizer) didalam kereta berguna terutama bagi penyandang cacat.
2. Saklar
Saklar atau kontak dapat berbentuk tombol, kunci kontak, pisau dengan handel,
automatic circuit breaker, dan saklar-saklar dengan tungkai (limit switches) untuk
pengaman. Berikut ini kode-kode dalam gambar pengawatan. tombol, (making)
tombol, (breaking) kunci kontak
saklar pisau, dua arah
saklar dengan tungkai (cam), (breaking) sama dengan diatas, (making)
kontak pintu kereta (gate contact) kontak pintu lantai (door contact)
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE)
-13-Selama lift bergerak semua saklar pengaman masuk (sambung), yaitu : a. Final limit switch, diatas dan dibawah R/L
b. Directional limit switch c. Governor switch (SO)
d. Safety overspeed switch (SOS)
e. Kontak pintu-pintu (car contact, gate contact) f. Broken tape switch
g. Emergency stop switch
Jika salah satu dari saklar-saklar tersebut lepas atau terbuka, maka lift berhenti (macet) karena semua tersambung secara seri dan masuk ke relay penggerak motor. Saklar terakhir masuk ialah kontak pintu, yaitu pada saat lift mau berangkat, pintu harus rapat menutup. Lihat gambar berikut : hubungan seri saklar-saklar.
3. Pesawat Pengaman Kereta
Sistem pengaman kereta terdiri dari pengindra kecepatan lebih, disebut governor, tali baja pemutar roda governor, mekanisme penarik alat pengaman, (linkages) dan rem pasak yang disebut safety block. Fungsi governor ialah menjepit tali governor agar berhenti jika terjadi overspeed.
Lihat gambar : penjepitan terjadi saat lift melaju melebihi batas tertentu sehingga, putaran roda governor menimbulkan gaya centrifugal kepada 2 buah bandul, yang keluar membentur pengungkit (cam) dan melepaskan kait (tripped).
Tali baja governor merupakan lingkaran tidak terputus dari ujung tuas di kereta, keatas melingkari roda governor, turun langsung ke pit melingkari roda penegang, dan kembali keatas diikat pada tuas tersebut. Jika terjadi tripped tali baja dijepit oleh rahang yang jatuh karena kaitannya lepas. Selanjutnya tali yang berhenti, menarik tuas kiri dan kanan, dan melalui rangkaian mekanis menarik keatas lifting
rod dan rem pasak (baji) yang berbentuk tirus masuk ke rumahnya (block)
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE) L-1
LAMPIRAN 1 :
KATA PADANAN
1. Selector : Selektor, alat pengatur permintaan dan panggilan, perhentian dan arah.
2. Starter and controller : Alat kendali kerja (operasi) lift dan gerak. 3. Motor Generator set : Alat pemasuk tenaga listrik DC dari sumber AC 4. Hoistrope : Tali baja penarik atau penggantung
5. Secondary sheave : Roda penyimpang
6. Governor : Alat pengindra kecepatan lebih 7. Roller guide : Roda pemandu
8. Terminal stopping switch : Saklar pemberhenti pada lantai akhir
9. Terminal stopping switch cam : Pengungkit untuk kontak saklar pemberhenti akhir 10. Final limit switch : Saklar batas lintas (sebagai pengaman)
11. Final limit cam : Tuas pembuka saklar batas 12. Door operator : Motor listrik penggerak pintu
13. Car : Kereta
14. Car Safety Device : Pesawat pengaman kereta 15. Counterweight : Bobot imbang
16. Main rails : Rel pemandu kereta
17. Counterweight rails : Rel pemandu bobot imbang
18. Compensating cable : Tali pengimbang berat dari tali baja tarik 19. Car Buffer : Peredam Kereta
Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE) R-1
RANGKUMAN
Komponen-komponen utama suatu instalasi lift ialah mesin penggerak, kereta, bobot imbang, tali baja penggantung atau penarik (suspension), pintu-pintu, pesawat pengaman, peredam, sistem kendali dan instalasi pengawatan (termasuk saklar-saklar pengaman).
Komponen lain selain dari tersebut diatas, penting juga yaitu sebagai pendukung fungsi-fungsi komponen utama, yaitu :
1. Rel pemandu dengan braketnya sepasang untuk kereta, sepasang lagi untuk bobot imbang.
2. Travelling cable.
3. Motor penggerak pintu (door operator) 4. Sepatu pemandu atau roda luncur. 5. Roda puli dan roda penyimpang. 6. Roda penegang tali governor.
7. Tali /rantai kompensasi atas berat tali baja tarik dan roda penegangnya. 8. Sinyal dan indikator.
Selain dari tersebut diatas digolongkan sebagai asesori. Asesori untuk kereta diantaranya ialah :
1. Kipas angin
2. Lampu pencahayaan
3. Interphone / interkom, bel darurat.
4. Detector bukaan kembali pintu atau photocell. 5. CCTV
6. Penayangan informasi (screen display) dan speech synthesizzer.
Bentuk-bentuk dan rupa fixtures (tombol, lampu ketibaan dan lampu indikator posisi) oleh pembuatnya dipilih atas dasar survey pada berbagai kantor interior designer, agar dapat diterima masyarakat. Pabrik selalu berpatokan bentuk dan rupa harus “functional”. Jangan sampai berbentuk manis dan cantik mengorbankan fungsi.
Pelatihan Pengawas Lapangan (Site Supervisor) Pemasangan Instalasi Lift dan Eskalator (SSLE) DP -1
DAFTAR PUSTAKA
1. SNI.03-7017-2004, Pemeriksaan dan Pengujian Lif Traksi Listrik.
2. SNI.03-2190-1999, Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang yang dijalankan dengan motor traksi.
3. SNI.03-2190.1-2000, Syarat-syarat umum konstruksi lif yang dijalankan dengan transmisi hidrolik
4. SNI-03-2190.2-2000, Syarat-syarat umum konstruksi lif pelayan (dumbwaiter) yang dijalankan dengan tenaga listrik
5. SNI.03-6247.1-2000, Syarat-syarat umum konstruksi lif pasien.
6. SNI.03-6247.2-2000, Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang khusus untuk perumahan.
7. SNI.03-6248-2000, Syarat-syarat umum konstruksi eskalator yang dijalan dengan tenaga listrik.
8. SNI.05-7052-2004, Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang yang dijalankan dengan motor traksi tanpa kamar mesin.
9. SNI.03-6573-2001, Tatacara rancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung. 10. SNI... (Nomor masih dalam perancangan BSN), Syarat-syarat umum Konstruksi
dan Keselamatan lift barang (masih berupa usulan).
11. Pola Standar Kualifikasi Keterampilan KepMen No.146/MEN/1990, Dep.Naker. 12. Pembinaan Operasi P2K3, 1998, Dep. Naker
13. PermenNakertrans No.03/MEN/1999, Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk pengangkutan orang dan barang.
14. Maintenance for Building Manager, oleh Elevator World, Inc. USA, 1990 15. Elevator Maintenance Manual, 1999, oleh Zack McCain
16. Installation Manual, oleh NEMI, Inc. New York, 1970
17. Education Package, Volume-3, oleh Elevator World, Inc. New York. 18. The Guide of Elevatoring, oleh Elevator World, Inc. New York
19. Elevator Mechanical Design, 2nd detion, oleh Lubomir Janouvsky, 1993
20. Vertical Transportation: Elevator and Escalator, oleh George R. Strackosch, ISBN 0-471-86733-0 (1982).