• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hama-Hama Dominan Jati (Tectonia grandis)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hama-Hama Dominan Jati (Tectonia grandis)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Hama-Hama Dominan Jati

(Tectonia grandis)

Oleh :

Ameilia Zuliyanti Siregar, S.Si, M.Sc 132307219

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2008

(2)

Hama-Hama Dominan Jati (Tectonia grandis)

Ameilia Zuliyanti Siregar, SSi, MSc

Departemen HPT Fakultas Pertanian USU

zuliyanti@yahoo.com, Ameilia@usu.ac.id

Jati (Tectona grandis) dikenal sebagai kayu yang berkualitas dengan kondisi kelas kuat dan kelas awet yang tinggi. Jadi jati banyak dibutuhkan untuk berbagai keperluan seperti untuk bahan bangunan, furniture (perabotan rumah tangga), maupun barang kerajinan. Walaupun harganya tergolong tinggi, jati tetap banyak dicari. Kebutuhan jati pertahun terus meningkat. Untuk memenuhi permintaan tersebut upaya penanaman kembali sangat diperlukan karena penebangan yang tidak diikuti dengan penanaman kembali (Sulaksana & Dadang, 2002).

Dengan kondisi kelas hutan dan kelas tinggi, kayu jati hingga saat ini masih banyak dibutuhkan dalam industri property seperti kayu lapis, rangka, kusen, pintu maupun jendela. Selain itu, dengan profil yang ditunjukkan dengan garis lingkar tumbuh yang unik dan bernilai artistic tinggi, jati dibutuhkan banyak seniman pahat dan pengrajin industri furniture untuk dijadikan berbagai bentuk barang jadi. Selain itu, jati memiliki daya tahan terhadap berbagai bahan kimia maka secara teknis kayu jati digunakan sebagai wadah berbagai jenis produk industri kimia (Widyastuti & Sumardi, 2004).

Tanaman jati tergolong juga sebagai tanaman berkhasiat obat. Bunga jati dapat digunakan sebagai obat bronchitis, biliousness, dan obat untuk melancarkan dan membersihkan kantong kencing. Bagian buah atau benihnya dapat digunakan sebagai obat diuretik. Selain berfungsi sebagai tanaman obat, daun jati dapat digunakan sebagai bahan pewarna kain. Tidak hanya bagian tanaman saja yang berguna, limbah produksi berupa cabang dan serbuk gergaji pun dapat diproses menjadi briket arang yang memiliki kalori tinggi. Entomologi hutan merupakan satu diantara beberapa komponen dalam perencanaan dan pelaksanaan perlindungan dan kesehatan hutan. Pengetahuan tentang sistem interaksi hutan dengan agen penyebab penyakit sangat diperlukan untuk menggali informasi dasar sebagai unsur sistem pengelolaan penyakit hutan (Sumarna, 2001).

(3)

1.1. Botani Tanaman Tectonia grandis

Tanaman jati yang tumbuh di Indonesia berasal dari India. Tanaman ini mempunyai nama ilmiah Tectona grandis Linn.f. Secara historis, nama tectona berasal dari bahasa Portugis yaitu tekton yang berarti tumbuhan yang memiliki kualitas tinggi. Di Negara asalnya, tanaman jati ini dikenal dengan banyak nama daerah. Tanaman ini dalam bahasa Jerman dikenal dengan nama teak (Widyastuti & Sumardi, 2004). Dalam sistem klasifikasi, tanaman jati mempunyai penggolongan sebagai berikut:

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Lamiales Famili : Verbenaceae Genus : Tectona

Species : Tectona grandis linn.f

Selain Tectona grandis linn.F., family Verbenaceae juga memiliki 2 species lain yang seperti jati di Indonesia, yaitu Tectona hamiltonianna Wall, yang tumbuh didaerah kering Myanmar dan Tectona philippinensis Benth & Hooker yang tumbuh di daerah hutan Batangas dan Mindoro (Pulau Hing), Filipina. Tectona grandis mempunyai kualitas yang paling baik dari tanaman kayu dan bernilai ekonomis.

Secara morfologis, tanaman jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30 – 45 meter. Dengan pemangkasan, batang-batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 15 – 20 meter. Diameter batang dapat mencapai 220 cm. Kulit kayu berwarna kecoklatan atau abu-abu yang mudah terkelupas. Pangkal batang berakar papan pendek dan bercabang sekitar 4 daun berbentuk opposite (berbentuk jantung yang bulat dan ujung meruncing), berukuran panjang 20 – 50 cm dan lebar 15 – 40 cm, permukaannya berbulu. Daun muda (petiola) berwarna hijau kecoklatan. Sedangkan daun tua ke abu-abuan (Sulaksana & Dadang, 2002).

(4)

Bunga jati bersifat majemuk yang berbentuk dalam malai bunga (inflorence) yang tumbuh terminal di ujung atau di cabang. Panjang malai antara 60 – 90 cm dan lebar antara 10 – 30 cm. Bunga jantan (benang sari) dan betina (putik) berada dalam sate bunga (monoceus). Bunga bersifat asitimerfik, berwarna putih, berukuran 4 – 5 mm (lebar) dan 6 – 8 mm (panjang). Kelopak bunga (calyx) berjumlah 5 – 7 dan berukuran 3 – 5 mm. Mahkota bunga (corolla) tersusun melingkar sekitar 10 mm. Tangkai putik (stamen) berjumlah 5 – 6 buah dengan filamen berukuran 3 mm, antenna memanjang berukuran 1 – 5 mm, ovarium membula berukuran sekitar 2 mm. Bunga yang terjadi akan menghasilkan buah 1-1,5 cm (Sumarna, 2001).

Syarat Tumbuh Tanaman Jati

☺ Iklim

Secara umum, tanaman membutuhkan iklim dengan curah hujan minimum 750 mm per tahun, optimum 1000-1500 mm per tahun dan maksimum 2500 mm per tahun (walaupun demikian, jati masih dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 3750 mm per tahun). Suhu udara yang dibutuhkan tumbuhan jati minimum 13-170C. pada suhu optimal, 32-420C , tanaman jati akan menghasilkan kualitas kayu yang baik. Adapun kondisi kelembapan lingkungan tanaman jati yang optimal sekitar 80% untuk fase vegetatif dan antara 60-70 % untuk fase generatif (Sumarna, 2001).

Curah hujan secara fisik dan fisiologis berpengaruh berpengaruh terhadp sifat gugurnya daun decidous dan kualitasnya produk kayu. Di daerah dengan misim kemarau panjang, jati akan menggugurkan daunnya dan lingkaran tahun yang berbentuk tampak artistic. Kayu ini memiliki teras yang lebih kuat sehingga dikelompokkan dalam jenis kayu mewah (fancy wood) atau kelas pertama, jati seperti ini banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah (Cepu, Jepara) dan Jawa Timur (Bondowoso, Situbondo). Pada daerah yang sering turun hujan atau curah hujannya tinggi (>1500 mm/th), jati tidak menggugurkan daun dan lingkaran tahun kurang menarik sehingga produk kayunya tergolong kelas II-III, misalnya jati yang ditanam di Sukabumu Jawa Barat (curah hujan >2500 mm/th) (Sumarna, 2001).

(5)

☺ Tanah

Secara geologis, tanaman jati tumbuh ditanah dengan bantuan induk berasal dari formasi lincestone, granite, gueis, mica scait, sandstone, quartzte, conglomerate, shale dan clay. Pertanaman jati akan lebih baik pada lahan dengan kondisi fraksi lempung berpasir, atau pada lahan liat berpasir. Sesuai sifat fisiologisnya untuk menghasilkan pertumbuhan optimal jati memerlukan kondisi solum lahan yang dalam dan keasaman tanah atau pH opimum sekitar 6.0. Namun kasus pada beberapa kawasan jati dengan tingakt pH rendah (4-5), dijumpai tanaman jati dengan pertumbuhan yang baik. Karena tanaman jati sensitif terhadap nilai rendahnya nilai pertukaran oksigen dalam yanah maka pada lahan yang berporositas dan memiliki draenase baik akan menghasilkan pertumbuhan baik pula karena kan mudah menyerap unsur hara (Widyastuti & Sumardi, 2004).

Kondisi kesuburan lahan juga akan berpengaruh terhadap perilaku fisiologis tanaman yang ditunjukkan oleh perkembangan riap tumbuh (tinggi dan diameter). Unsur kimia pokok (macroelemen) yang penting dalm mendukug pertumbuhan sebagai berikut : kalsium (Ca), posfor (P), kalium (K), dan nitrogen (N) (Sumarna, 2001).

Menurut Jumar (2000), Lilies (1991), Pracaya (2000), serta Widyastuti & Sumardi (2004), hama-hama hutan tanaman jati adalah sebagai berikut.

1.2. Biologi Hama

♣ Sistematika Hyblaea puera

Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Lepidoptera Famili : Noctuidae Genus : Hyblaea

(6)

1.3. Siklus Hidup

A. Telur

Telur hama berbentuk bulat berwarna putih diletakkan di atas tanah yang lembab(Gambar 5), kadang bertelur rata-rata 1500 butir. Telur diletakkan di pangkal batang tanaman.

Gambar 5. Telur Hyblaea puera

B. Larva

Awalnya berwarna abu-abu kehijauan, kemudian berubah menjadi kelabu kecoklatan dan akhirnya coklat tua kehitaman, berambut jarang, agak pendek dan kaku seperti terlihat pada Gambar 6 berikut ini.

(7)

C. Pupa

Pupa terletak dalam tanah dan bentuknya sederhana, berwarna coklat tua, masa hidup generasi + 5-6 minggu (Gambar 7).

Gambar 7. Pupa Hyblaea puera

D. Imago

Berwarna coklat kelabu dengan bercak bebentuk ginjal. Bentangan sayap dapat mencapai 40-50 m (Gambar 8).

(8)

1.4. Gejala Serangan

Ulat ini sering memotong tanaman yang masih muda, dan yang besarnya bisa menarik potongan tanaman yang baru saja tumbuh kedalam persembunyiannya di tanah (Gambar 9). Pada siang hari ulat bersembunyi di dalam tanah, bila malam hari ulat keluar dari dalam tanah mencari makan. Ham ini dapat dilihat saat tanaman muda yang baru tumbuh terpotong atau terputus dengan bekas yang halus dan berlendir. Ulat ini dalam jumlah yang besar dapat mengganggu proses perkembangan tanaman karena daun muda sangat cepat habis, dan apabila tidak dilakukan pengendaliannya, maka tanaman akan mati.

Gambar 9. Gejala tanaman terserang Hyblaea puera

1.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Kompetisi dan interferensi antar pohon penyusun tegakan walaupun dapat melemahkan atau mematikan pohon-pohon di dalam hutan, tidak digolongkan sebagai faktor-faktor penyebab kerusakan hutan. Hal ini disebabkan karena faktor-faktor tersebut dapat diperkirakan dan pengelola dapat mengendalikan atau menghilangkan faktor-faktor tersebut hanya dengan melalui pengaturan kerapatan dan komposisi dalam tegakan. Sebaliknya faktor-faktor biotik dan abiotik penyebab kerusakan pohon-pohon penyusun hutan merupakan faktor-faktor yang tidak dapat diperkirakan, karena selalu berubah dari waktu ke waktu. Apabila kerusakan itu terjadi pada areal yang luas dan mematikan

(9)

seluruh pohon-pohon di dalam tegakan, maka akan menimbulkan kerusakan yang disebut katastropi. Kerusakan-kerusakan yang non katastropi biasanya hanya berpengaruh pada individu pohon, namun dalam jangka panjang mungkin dapat juga menyebabkan kerusakan yang fatal dari segi ekonomi. (Widyastuti dan Sumardi, 2004).

Tanaman kehutanan tidak luput dari gangguan penyakit, hingga menyebabkan kehilangan hasil dan penurunan mutu hasil yang tidak sedikit. Masalh penyakit tanaman dipandang sebagai fenomena yang berdiri sendiri yang sangat sulit diatasi dengan mengaplikasikan pestisida terhadap penyakit busuk akar. Pestisida dipandang sebagai “obat-obat” pertanian yang akan menyembuhkan tanaman dari akibat serangan penyakit dengan membunuh pathogen yang terdapat di dalam tanaman. Sampai saat ini sangat sulit menemukan cara mengatasi penyakit akar seperti busuk daun. Dimana sebenarnya penyakit ini sangat cepat membunuh tanaman dan beresiko sangat tinggi (Widyastuti & Sumardi, 2004).

♣ Persentase kerugian yang ditimbulkan di lapangan

Masalah penyakit busuk akar pada tanaman jati, sampai saat ini belum bisa mengatasinya dengan baik. Peyerangan patogen ini sangat sulit untuk di ketahui di lapangan karena kondisi kualitas batang kayu yang kuat, sehingga sulit untuk melihat akibat serangan pathogen tersebut apakah dalam skala besar atau kecil (Pracaya, 2000).

♣ Pengendalian yang paling efektif

Sulit mendeteksi kapan terjadi menginfeksi. Kondisi ini menyebabkan pengendalian kurang efektif dengan menggunakan cara apapun unutk menyelamatkan tanaman yang terserang pathogen. Penyelamatan yang dilakukan bukan pada tanaman itu sendiri melainkan pada tanaman yang lain yang dekat dengan pathogen supaya tidak menular dan mencegah lebih dahulu mulai dari penanaman dan pemeliharaan yang baik, seperti menggunakan bibit uggul dan bebas penyakit (Sulaksana & Dadang, 2002).

(10)

Daftar Pustaka

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Lilies C. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kanisius, Yogyakarta.

Pracaya. 2000. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sumarna Y. 2001. Budi Daya Jati. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sulaksana dan Dadang. 2002. Kemuning dan Jati Belanda. Penebar Swadaya. Jakarta.

Widyastuti SM dan Sumardi. 2004. Dasar – Dasar Perlindungan Hutan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Gambar

Gambar 5. Telur Hyblaea puera
Gambar 7. Pupa Hyblaea puera
Gambar 9. Gejala tanaman terserang Hyblaea puera

Referensi

Dokumen terkait

Jenis-jenis hama yang menyerang pada tanaman jati di wilayah Desa Talaga adalah Rayap pohon, Rayap kayu kering, Kutu daun, Semut hitam dan Oleng-oleng.. Pada kriteria

Pohon aren termasuk suku palem- paleman yang memiliki berbagai fungsi antara lain fungsi konservasi dan fungsi ekonomis, sebab hampir semua bagian tanaman akar,

Serangga golongan Cerambycidae biasanya merupakan pemakan tanaman berkayu mulai dari tanaman hidup sampai tanaman yang sudah mati, baik tanaman hutan, perkebunan, maupun

Untuk mengetahui kelayakan usaha hutan tanaman jati secara finansial serta pengaruh penambahan nilai karbon terhadap kelayakan usaha hutan tanaman jati dilakukan analisis biaya

Pohon aren termasuk suku palem- paleman yang memiliki berbagai fungsi antara lain fungsi konservasi dan fungsi ekonomis, sebab hampir semua bagian tanaman akar,

(3) Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dilakukan dalam rangka penyelamatan penderita dengan pendekatan pelayanan

Tanaman ini lebih dikenal sebagai bunga chrysan, banyak ditanam dipekarangan (taman) dan juga sebagai obat mata. Tanaman ini mulai banyak digunakan sebagai pestisida

Percobaan penggunaan cocomulsa pada tanaman jati dapat memengaruhi tingkat partumbuhan tanaman jati, dimana hasil visual di lapangan terlihat tanaman jati dengan