• Tidak ada hasil yang ditemukan

Margo P, M Heri P, M Ashari, Zaenal P A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Margo P, M Heri P, M Ashari, Zaenal P A"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pemodelan Dynamic Voltage Restorer (DVR) berbasis fuzzy logic controller

dengan blocking urutan nol untuk mengatasi tegangan kedip akibat gangguan

balance dan unbalance

Margo P, M Heri P, M Ashari, Zaenal P A

Jurusan Teknik Elektro - FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Kampus ITS, Keputih - Sukolilo, Surabaya – 60111

Abstrak: Gangguan kedip tegangan merupakan salah satu

masalah power quality. Gangguan kedip tegangan dapat berdampak buruk pada konsumen terlebih bagi pihak industri. Karena dapat berakibat miss operation pada beberapa peralatan industri yang sensitif terhadap kedip tegangan. Masalah tersebut dapat diatasi dengan metode injeksi tegangan menggunakan peralatan elektronika daya yaitu Dynamic Voltage Restorer(DVR)

Dalam makalah ini akan dibahas penggunaan Fuzzy Logic Controller (FLC) sebagai sistem kendali dari DVR. Sistem bloking urutan nol mengunakan transformer belitan delta pada sisi sumber. DVR diharapkan mampu memulihkan kedip tegangan akibat gangguan balance maupun unbalance. Simulasi DVR menggunakan kendali FLC mendapatkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan hasil pemulihan tegangan menggunakan DVR kendali PI.

Kata Kunci: Kedip tegangan , DVR, FLC

1. PENDAHULUAN

Seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap hasil produksi maka produsen berusaha memenuhi permintaan tersebut. Kelancaran didalam proses produksi tidak lepas dari energi listrik sebagai sumber energi utama didalam menjalankan peralatan-peralatan produksi. Energi listrik yang digunakan harus memenuhi kualitas daya listrik yang telah ditentukan. Tegangan, baik itu magnitudo, bentuk gelombang dan frekuensi merupakan salah satu faktor dari kualitas daya listrik. Kedip tegangan didefinisikan sebagai fenomena penurunan amplitudo tegangan terhadap nilai efektif (RMS), berbeda dengan harmonisa yang bersifat kontinyu, tegangan kedip terjadi secara acak dan berdampak sangat besar terutama terhadap konsumen industri yang menggunakan peralatan sensitive. Dengan adanya penurunan tegangan (kedip tegangan), mengakibatkan peralatan industri (beban sesitif terhadap kedip tegangan) tidak bisa bekerja secara normal bahkan tidak berjalan sama sekali, misal alat elektronik yang dipakai sebagai sistem kontrol mesin-mesin produksi.

Dua karakteristik utama yang menjelaskan tentang kedip tegangan adalah magnitudo dan durasi kedip tegangan[1]. Besar dan durasi yang drop tegangan yang dapat dikatakan sebagai kedip tegangan adalah tegangan dengan nilai 0,1-0,9 pu selama interval waktu t (0,5cycle-1 menit)[2]. Klafisikasi besar dan durasi kedip tegangan yang digunakan pada makalah ini berdasarkan standar IEEE std 1159-1995. Lama

dari durasi kedip tegangan tergantung kinerja dari peralatan pengaman.

Umumnya metoda injeksi tegangan pada DVR adalah dengan mengkompensasi perbedaan tegangan antara saat sag dan pre-sag menggunakan tegangan AC secara seri [3], [4]. Metoda ini digunakan pada saat tegangan simetri maupun tak simetri, sehingga membutuhkan kapasitas energi storage yang besar. Metoda yang lain adalah menginjeksi tegangan sefasa dengan tegangan sumber saat sag [5]. Keuntungan metoda ini adalah menggunakan energi storage yang hemat, tetapi mempunyai kelemahan terjadinya pergeseran fasa dengan pre-sag

Pada kasus voltage sag asimetri, sumber tegangan dapat dipisahkan menjadi urutan positif, negatif dan nol. Injeksi pada urutan negatif dan nol dapat diabaikan sehingga hanya dilakukan injeksi urutan positif saja [6],[7]. Mengingat pentingnya penghematan pada energi storage, maka metoda injeksi tegangan dengan phase advance telah dilakukan [8]. Keuntungan metoda-metoda tersebut adalah penggunaan energi storage menjadi lebih hemat, namun tidak mampu menghilangkan ketidaksimetrian daya yang ke beban.

Sag tegangan yang diakibatkan oleh gangguan 3 phasa simetri dapat diatasi dengan DVR yang menggunakan teknik kontrol Backpropagation Neural Network (NN) [9], dan Fuzzy Logic Controller [10]. Metoda yang digunakan adalah DVR menginjeksikan tegangan 3 phasa melalui Boost transformer yang terhubung delta (∆). Magnitudo output, bentuk gelombang output dan frekuensi tegangan output selama terjadi gangguan dapat diatasi dengan baik. Namun untuk sag tegangan sebesar 40 – 50 %, bentuk gelombang output mengalami pergeseran phasa. Dan jika terjadi sag tegangan akibat Gangguan Unbalance, DVR dengan konfigurasi (∆) ini tidak dapat mengkompensasi sag tegangan dengan baik. Menggunakan kontrol yang sama, penyempurnaan dilakukan dengan cara mengubah konvigurasi boost transformer menjadi hubungan bintang dan melakukan pembelajaran ulang pada sistem kontrolnya [11]. Hasil yang diperoleh cukup memuaskan, tetapi membutuhkan waktu yang lama.

Dalam makalah ini, metode yang digunakan untuk me-ngatasi gangguan kedip tegangan adalah dengan pemasangan DVR antara beban dan penyulang. Dengan menggunakan in-verter yang nilai output dari inin-verter di kendalikan oleh FLC diharapkan mendapat hasil injeksi tegangan yang tepat.

(2)

2. DYNAMIC VOLTAGE RESTORER 2.1. Pemodelan Sistem Kelistrikan Industri dengan DVR

Pada gambar 2.1 menunjukkan suatu sistem kelistrikan industri yang terdiri 2 beban dengan 1 sumber tenaga. DVR dipasang antara feeder penyulang dengan beban 2 (beban sensitif). Energy Storage Kontrol VSI 3 fasa Beban 2 T1 Dynamic Voltage Restorer Beban 1 Trafo 2 Trafo 1 Sumber Trafo Pengukuran

Gambar 2.1. Sistem kelistrikan industri dengan DVR

Dynamic Voltage Restorer adalah peralatan elektronika daya dipasang seri melalui trafo booster diantara beban 2 dengan penyulang (trafo 2) [3]. Gangguan kedip tegangan diakibatkan oleh hubung singkat yang terjadi pada beban 1. Pada saat terjadi gangguan kedip tegangan, diharapkan DVR mampu memberikan injeksi tegangan dengan besar yang sama dengan drop tegangan yang terjadi dengan waktu yang tepat.

Kedip tegangan yang disimulasikan akibat dari hubung singkat 1 fasa ke tanah, dua fasa ke tanah, dan tiga fasa ke ta-nah. Dalam simulasi ini DVR hanya mengompensasi urutan positif dan negatif sedangkan urutan nol diabaikan, sehingga untuk menghilangkan pengaruh urutan nol, trafo yang digunakan memakai hubungan delta wye.

2.2. Pemodelan Dynamic Voltage Restorer (DVR)

Gambar 2.2 menunjukkan pemodelan DVR, meliputi : inverter tiga fasa, transformator tegangan (VT) untuk mendeteksi gangguan kedip tegangan yang terjadi di beban, control block sebagai kendali tegangan injeksi dari DVR, booster transfomer.

Gambar 2.2. Pemodelan DVR berbasis Fuzzy Logic Controller

Cara pengontrolan keluaran inverter dengan space vector PWM dijelaskan pada[4][5][6], dan prinsip kerja DVR dije-laskan pada[7][8].

3. FUZZY LOGIC CONTROLLER

Pada penerapan umum, Fuzzy Logic Controller diguna-kan sebagai pengganti PI[3]. Untuk mediguna-kanisme fuzzy dijelaskan pada[9]. Blok diagram FLC yang digunakan pada makalah ini ditunjukkan pada gambar 3.1.

Tampak pada blok diagram dibawah (gambar 3.1), bahwa FLC terdiri dari fuzzifikasi, pengambilan keputusan, defuzzifikasi. Ada 3 masukan untuk FLC yaitu error d, error q, dan delta error d, sedangkan keluaran dari FLC (sinyal kontrol) terdiri dari dua variabel yaitu tegangan d dan tegangan q. Setiap masukan dan keluaran FLC memiliki fungsi keanggotaan yang sendiri-sendiri.

Fuzzyfikasi error d Fuzzyfikasi delta error d Fuzzyfikasi error q Error d Error q Pengambilan keputusan Defuzzyfikasi error d Defuzzyfikasi error q keluaran d keluaran q dq to alpa beta SVPWM Switching Device Energy Storage tegangan injeksi 1 Z Vd ref Vq ref abc to dq Vabc Fuzzy Logic Controller

Gambar 3.1. Blok Diagram Voltage Regulator

Himpunan fuzzy dari masukan error d terdiri dari 8 himpunan fuzzy (variabel linguistik)yaitu: Negatif (N), Zero (Z), Kecil Positif (KP), Agak Kecil Positif (AKP), Sedang Positif (SP), Agak Besar Positif (ABP), Besar Positif (BP), dan Sangat Besar Positif (SBP). Setiap parameter dari himpunan fuzzy untuk error d ditunjukkan pada gambar 3.2.

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9

Z KP AKP S ABP BP SBP

-0.1 N

Gambar 3.2. Variabel linguistik dari masukan error d

Untuk masukan error q terdiri dari 9 himpunan fuzzy (variabel linguistik) yaitu: Sangat Besar Negatif (SBN), Besar Negatif (BN), Agak Besar Negatif (ABN), Sedang Negatif (SN), Agak Kecil Negatif (AKN), Kecil Negatif (KP), Sangat Kecil Negatif (SKN), Zero (Z), dan Positif (P). Ke sembilan himpunan fuzzy tersebut dapat disusun sebagai berikut:

P

-0.7 -0.6 -0.5 -0.4 -0.3 -0.2 -0.1 0 0.1

BN SN KNSKNZ

SBN ABN AKN

Gambar 3.3. Variabel linguistik dari masukan error q

Untuk masukan delta error memiliki 2 himpunan fuzzy (variabel linguistik) yaitu: Negatip (N) dan Positip (P). Kedua himpunan fuzzy tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

-0.1 0 0.1

N P

(3)

Pada proses defuzzzier terdapat dua buah variabel keluaran, untuk keluaran tegangan d memiliki 13 himpunan fuzzy (variabel linguistik) yaitu: Negatif (N), Zero (Z), Kecil Positif 1 (KP1), Kecil Positif 2 (KP2), Agak Kecil Positif 1 (AKP1), Agak Kecil Positif 2 (AKP2), Sedang Positif 1 (SP1), Sedang Positif 2 (SP2), Agak Besar Positif 1 (ABP1), Agak Besar Positif 2 (ABP2), Besar Positif 1 (BP1), Besar Positif 2 (BP2), dan Sangat Besar Positif (SBP). Ke tiga belas himpu-nan fuzzy tersebut dapat disusun sebagai berikut:

-0.3 Z 0 0.05 0.7 0.8 0.9 1 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 3 3.1 SP1 AKP2 AKP1 KP1 KP2 SP2 ABP1 ABP2 BP1 BP2 SBP -0.5 -0.4 -0.05 N

Gambar 3.5. Variabel linguistik dari keluaran tegangan d

Sedangkan keluaran tegangan q memiliki 9 himpunan fuzzy (variabel linguistik) yaitu: Sangat Besar Negatif (SBN), Besar Negatif (BN), Agak Besar Negatif (ABN), Sedang Negatif (SN), Agak Kecil Negatif( AKN), Kecil Negatif (KP), Sangat Kecil Negatif (SBN) Zero (Z), dan Positif (P). Gambar 3.6 menunjukkan ke sembilan himpunan fuzzy tersebut

Z P

SBN BN ABN SN AKN KN SKN

-2 -1.9 -1.8 -1.7 -1.6 -1.5 -1.4 -1.3 -1.2 -1.1 -1 -0.9 -0.8 -0.1 0 0.1 0.2 0.3

Gambar 3.6. Variabel linguistik darikeluran tegangan q

Pada proses pengambilan keputusan terdapat aturan-aturan dasar (rule base) yang merelasikan antara masukan error d, delta error d dengan keluaran tegangan d (terlihat pada tabel 3.1), dan aturan dasar yang merelasikan antara error q dengan keluaran tegangan q (terlihat pada tabel 3.2).

Tabel 3.1. Aturan dasar tegangan d

Tabel 3.2. Aturan dasar tegangan q

Tampak pada tabel 3.1 dan 3.2 aturan dasar tegangan d terdiri dari 16 aturan, sedangkan aturan dasar tegangan q terdiri 9 aturan dasar, jumlah aturan dasar sesuai dengan jumlah kon-disi dari masukan.

4. SIMULASI DAN ANALISA 4.1 Simulasi sistem tanpa DVR

Pada simulasi ini gangguan kedip tegangan pada sistem kelistrikan industri tersebut diperoleh dengan melakukan gangguan hubung singkat di beban 1 sehingga pada beban 2

akan merasakan kedip tegangan. Gangguan hubung singkat yang diterapkan di beban 2 untuk menghasilkan kedip tega-ngan ada tiga macam yaitu 1 fasa ketanah, 2 fasa ketanah, 3 fasa ketanah.

Ada 2 level kedip tegangan yang diterapkan pada beban 2 untuk tiap gangguan yaitu kedip tegangan 70% dan kedip tegangan 50%. Dari gambar 4.1 sampai dengan gambar 4.3 terlihat pada saat terjadi gangguan hubung singkat pada beban 1, yang mengakibatkan terjadi kedip tegangan pada beban 2 sebesar 50%. Nilai penurunan tegangan tergantung dari jenis gangguan.

1.Kedip tegangan akibat gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah

Gambar 4.1. Voltage sag akibat gangguan 1 fasa ke tanah

2. Kedip tegangan akibat gangguan hubung singkat 2 fasa ke tanah

Gambar 4.2. Voltage sag akibat gangguan 2 fasa ke tanah

3. Kedip tegangan akibat gangguan hubung singkat 3 fasa

Gambar 4.3. Voltage sag akibat gangguan 3 fasa

Untuk besar tegangan tiap fasa, tiap gangguan kedip tegangan dapat dilihat pada tabel 4.1

Tabel 4.1. Kedip tegangan (voltage sag) di beban 2 (%)

Jenis gangguan Persentase kedip tegangan (%) Tegangan fase a(%) Tegangan fase b (%) Tegangan fase c (%) 1 fasa ketanah 70 50 70,28 49,95 100,1 100,1 84,67 71,64 2 fasa ketanah 70 87,92 69,98 83,18 50 74,33 49,91 77,71 3 fasa 70 70,56 69,95 70,19 50 50,07 51,57 50,7 Tegangan base = 11kV

Untuk semua simulasi gangguan kedip tegangan (voltage sag) terjadi pada periode 0.03-0.07 detik

Dari tabel 4.1, untuk kedip tegangan untuk gangguan 1 fasa ketanah (fasa a) dan 2 fasa ketanah (fasa bc), terlihat bahwa tegangan yang turun pada beban 2 tidak hanya fasa a E

DE N Z KP AKP SP ABP BP SBP

N N Z KP1 AKP1 SP1 ABP1 BP1 SBP P N Z KP2 AKP2 SP2 ABP2 BP2 SBP

Error SBN BN ABN SN AKN KN SKN Z P

(4)

saja dan fasa bc saja, namun tegangan pada beban 2 untuk semua fasa ikut turun, hal ini dikarenakan oleh belitan trafo yang digunakan untuk menyuplai beban 2 memiliki konfi-gurasi delta wye, sehingga tegangan yang terdapat pada beban 2 akan mengalami pergeseran fasa, sehingga bentuk dari tegangan beban 2 saat gangguan kedip tegangan tidak seim-bang.

4.2. Simulasi Sistem dengan DVR

Dalam simulasi kali ini akan ditambahkan pemulih tegangan DVR pada sistem kelistrikan industri dibeban 2, sehingga diharapkan pada saat terjadi gangguan kedip tegangan, DVR mampu untuk menginjeksi tegangan sebesar drop tegangan yang timbul. Untuk mengontrol output dari DVR agar menginjeksi tegangan sesuai dengan gangguan kedip tegangan, pada makalah ini mencoba menggunakan kendali fuzzy logic controller. Untuk mengetahui performansi kinerja dari DVR kendali FLC, didalam pemulihan tegangan beban 2 maka akan dibandingkan dengan DVR yang memakai kendali PI.

Dari gambar 4.4 sampai dengan gambar 4.9 terlihat pada saat terjadi gangguan hubung singkat pada beban 1, maka pada tegangan beban 2 mengalami penurunan, seketika itu juga DVR sebagai pemulih tegangan menginjeksikan tegangan sebesar penurunan dari tegangan beban 2,

1. Tegangan beban saat gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah (50%)

Gambar 4.4. Tegangan referensi injeksi DVR FLC, dan tegangan referensi injeksi DVR PI

Gambar 4.5. Tegangan beban setelah diinjeksi dengan DVR kendali FLC dan tegangan beban setelah diinjeksi dengan DVR

kendali PI

2. Tegangan beban saat gangguan hubung singkat 2 fasa ke tanah (50%)

Gambar 4.6. Tegangan referensi injeksi DVR FLC serta tegangan referensi injeksi DVR PI

Gambar 4.7. Tegangan beban setelah diinjeksi dengan DVR kendali FLC dan tegangan beban setelah diinjeksi dengan DVR

kendali PI

3. Tegangan beban saat gangguan hubung singkat 3 fasa (50%)

Gambar 4.8. Tegangan beban saat gangguan dan tegangan referensi injeksi DVR FLC serta tegangan referensi injeksi DVR

kendali PI

Gambar 4.9. Tegangan beban setelah diinjeksi dengan DVR kendali FLC dan tegangan beban setelah diinjeksi dengan DVR

(5)

Besar gangguan kedip tegangan dan tegangan injeksi dari DVR untuk setiap fasa bagi setiap kasus dapat dilihat pada tabel 4.2 sampai tabel 4.4

Tabel 4.2. Perbandingan hasil injeksi tegangan antara DVR FLC dengan DVR PI saat gangguan hubung singkat 1 fasa ke

tanah

Tabel 4.3. Perbandingan hasil injeksi tegangan antara DVR FLC dengan DVR PI saat gangguan hubung singkat 2 fasa ke

tanah

Tabel 4.4. Perbandingan hasil injeksi tegangan antara DVR FLC dengan DVR PI saat gangguan hubung singkat 3 fasa

Dari hasil simulasi pemulihan tegangan menggunakan DVR yang ditunjukkan pada tabel 4. sampai 4. DVR mampu menginjeksi tegangan sehingga pada tegangan beban 2 saat gangguan masih dalam range yang diijinkan (5%).Untuk gangguan kedip tegangan 70% dan 50% perbedaan hasil pemulihan tegangan dengan DVR kendali FLC dengan DVR kendali PI memiliki selisih yang kecil, bahkan bisa dianggap tidak ada, hal ini berhubungan dengan bagaimana kita bisa menentukan parameter yang baik bagi kedua kendali. Jika parameter yang dipilih tepat maka didapat hasil yang bagus. 4. Kedip tegangan 20% dan 10%

Pada level kedip tegangan Vsag yang lebih rendah yaitu 0,2

dan 0,1 pu pada beban 2 yang diakibatkan karena gangguan hubung singkat 3 fasa pada beban 1, diperoleh hasil simulasi yang berbeda antara pemulih tegangan DVR kendali FLC dengan DVR kendali PI. Untuk durasi kedip tegangan 1 cycle dapat dilihat pada tabel 4.5

Tampak pada tabel 4.5. untuk kedip tegangan 0,2 dengan durasi 1 cycle hasil pemulihan tegangan oleh DVR kendali FLC lebih tinggi dibandingkan dengan DVR kendali PI sekitar 0,7% sedangkan untuk kedip tegangan sebesar 0,1 pemulihan tegangan dengan DVR kendali FLC lebih tinggi 0,6% dibandingkan pemulihan tegangan yang dihasilkan oleh DVR kendali PI

Tabel 4.5. Perbandingan hasil injeksi tegangan antara DVR FLC dengan DVR PI untuk durasi kedip tegangan 1 cycle

4.3 Analisa Data

Dengan menggunakan persamaan tegangan sistem saat gangguan sebagai berikut:

Vsistem = Vinjeksi + Vsisa ... (1)

Nilai referensi tegangan yang diinjeksikan oleh DVR dan tegangan sisa pada simulasi ini diambil pada saat gangguan terjadi (0.03-0,07s). Tegangan injeksi DVR sendiri

diperoleh dengan memanfaatkan persamaan:

) 2 ...( 2 . DC injeksi M V V

Dengan M = indeks modulsi yang sama dengan magnitudo dari tegangan referensi dari inverter.

Didapat selisih antara tegangan beban 2 hasil pengu-kuran dengan hasil perhitungan seperti pada tabel 4.6.

Tabel 4.6. Perbandingan antara tegangan beban hasil perhitu-ngan deperhitu-ngan hasil pengukuran simulasi

5. KESIMPULAN

1. Dynamic Voltage Restorer tidak hanya mampu memu-lihkan kedip tegangan (< 5%), tetapi juga mengatasi pergeseran sudut fasa akibat gangguan kedip tegangan. 2. Untuk kedip tegangan sebesar 50% dan 70%, DVR

kendali FLC memiliki pemulihan gangguan kedip tegangan yang sama dengan DVR PI yaitu 99,4%. 3. Untuk kedip tegangan 20%, hasil pemulihan kedip

tegangan oleh Dynamic Voltage Restorer kendali FLC Kedip tegangan Sebelum injeksi (%) Injeksi DVR FLC (%) Injeksi DVR PI (%) A B C A B C A B C 70% 70,2 100,1 84,6 99,5 100,2 100,3 99,6 99,9 100,2 50% 49,9 100,1 71,6 98,9 100,3 100,1 98,7 99,8 100 Kedip tegangan Sebelum injeksi (%) Injeksi DVR FLC (%) Injeksi DVR PI (%) A B C A B C A B C 70% 87,9 70 83,2 100,2 99,7 99,8 100,1 99,9 99,7 50% 74,3 49,9 77,7 100,1 99,4 99,7 100,2 99,4 99,5 Kedip tegangan Sebelum injeksi (%) Injeksi DVR FLC (%) Injeksi DVR PI (%) A B C A B C A B C 20% 20 20 20 98,8 98,8 98,8 98,2 98,1 98,1 10% 10 10 10 98,3 98,3 98,3 97,7 97,7 97,8 Kedip tegangan Sebelum injeksi (%) Injeksi DVR FLC (%) Injeksi DVR PI (%) A B C A B C A B C 70% 50,1 51,2 50,7 99,8 99,7 99,8 99,8 99,7 99,7 50% 70,7 70 70,2 99,5 99,6 99,5 99,3 99,3 99,4 Jenis

gangguan Vsag Fasa

Perhitungan Pengukuran Error

(%)

Mag sudut Mag sudut

1 fasa ketanah 70% A B 1.017 -108.5 1.002 -108.3 1.02 14.36 0.955 11.5 6.46 6.47 C 0.974 133.8 1.003 131.3 2.84 50% A B 1.023 14.98 1.036 -108.5 1.003 -108.1 0.99 11.6 3.35 3.32 C 0.988 130.2 1.001 131 1.32 2 fasa ketanah 70% A B 1.017 1.001 -106.4 0.997 -108.5 11.9 1.002 11.6 1.56 0.43 C 1.035 134.1 0.998 131.7 3.72 50% A B 1.015 1.027 -103.1 0.994 -108.3 14.2 1.001 11.7 1.46 3.32 C 1.055 135.9 0.997 132 5.88 3 fasa ketanah 70% A 1.01 14 0.998 11.8 1.26 B 0.995 -106.2 0.997 -108.4 0.19 C 1 134.4 0.998 131.6 0.17 50% A 1.02 17.44 0.995 11.95 2.59 B 1.03 -102 0.996 -108.1 3.07 C 1.03 138.2 0.996 131.9 3.07

(6)

mencapai 98,8%, hasil ini lebih tinggi 0,7% jika dibandingkan dengan hasil pemulihan kedip tegangan dengan DVR kendali PI yang hanya mencapai 98,1%.

7. DAFTAR PUSTAKA

[1] Zhang, Lidong, Math H.J.Bollen, “Charateristic of Voltage Dips (Sags) in Power System”, IEEE Transaction on Industrial Electronic, February 2004 [2] Math H.J.Bollen, “Understanding Power Quality

Problem”, New York :IEEE, 2000.

[3] T Wunderlin, P. Dahler, D. Amhof, and H. Gruning, “Power Supply quality improvement with a dynamic voltage restorer (DVR) in Proceedings of EMPD ’98, Singapore, Mar. 3-5, 1998.

[4] A. Arora, K. Chan, T. Jauch, A. Kara, and E. Wirth, ”Innovative system solutions for power quality enhancement”, ABB Review 3/1998

[5] N. Abi-Samra and A. Sundaram,”The distribution system dynamic loads”, Westinghouse Electric Corporation, Technical Report.

[6] K. Haddad and and G. Joos,”Distribution system voltage regulation under fault conditions using static series regulators”, in Proc. Conf. 1997 Annual Meeting, IEEE Ind. Appl. Soc.m 1997. pp. 1383-1389.

[7] A. Campos and G Joos et al.,”Analysis and design of a series voltage unbalance compensator based on three-phase VSI operating with unbalanced switching function”, IEEE Trans. On Power Electronics, vol. 9 no. 3, pp.269-274, May 1994.

[8] Francisco Jurado ”Neural Network Control For Dyanamic Voltage Restore” IEEE Transaction on Industrial Electronic. Vol 51,No.3, June 2004

[9] Meisaputra M Iqbal, M Herry P and Margo Pujiantara, “Dynamic Voltage Restorer Dengan Kontrol Backpropagation Neural Network” Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI – ITS, Agustus 2005

[10] Fransisco Jurado, manuel Valverde :Voltage Correction By Dynamic Voltage Restorer Based on Fuzzy Logic Controller”: IEEE Transaction on Indutrial Electronics, may 2003.

[11] Margo Pujiantara, M Herry P, M Ashari and Imanda, “Dynamic Voltage Restorer Menggunakan Boost Transformer Terhubung Bintang Dengan Kontrol Backpropagation Neural Network Untuk Pemulihan Tegangan Kedip” SMELDA, Januari 2006

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Margo Pujiantara, lahir 18 Maret 1966

di Pasuruan. Lulus S1 dari Jurusan Teknik Elektro ITS tahun 1989 dan S2 dari ITB tahun 1995. Saat ini meneruskan studi S3 di Jurusan Teknik Elektro – ITS. Penulis saat ini bekerja sebagai Dosen di Jurusan Teknik Elektro ITS. Penulis juga terlibat dalam penelitian khususnya dalam bidang Industrial Electrical.

<Contact person [email protected]>

Abu Abdillah Zaenal Panutup Aji bin Muhamad bin

Sarmun bin Keni, penulis dilahirkan di Magetan tanggal 27

juli 1983 merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. Setelah tamat dari SMUN 1 Magetan pada tahun 2002 penulis langsung melanjutkan jenjang pendidikan di Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, jurusan Teknik Elektro bidang studi Teknik Sistem Tenaga.

Referensi

Dokumen terkait

Dewan Pengawas Syariah (DPS) telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance, dengan memberikan nasihat dan saran

Berdasarkan hal tersebut, penyusun tertarik untuk membuat simulasi pengawasan tangki harian bahan bakar menggunakan aplikasi LabView yang menampilkan visualisasi

Lahat: Sapagkat sa pamamagitan ng iyong Mahal na Krus at Muling Pagkabuhay, iniligtas mo ang

Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa umpan limbah pH 6, tekanan operasi -200 mBar don kecepatan putaran labu pemanas /4 rpm ada/ah kondisi operasi terbaik untuk

Pemerintah Daerah melaksanakan pengendalian daerah sepadan sumber air sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 ayat (2) huruf c, untuk mengamankan dan mempertahankan fungsi

Selanjutnya untuk mewujudkan tata kelola program bantuan yang baik (good) dan bersih (clean), terbuka (transparant), dan bertanggungjawab (accountable) telah

Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah apakah prestasi belajar matematika kelompok peserta didik internal locus of control tidak lebih tinggi atau

Belgia (secara resmi disebut -era%aan Belgia adalah sebuah negara yang terletak di bagian  barat  benua 'ropa.   9egara ini merupakan negara anggota  pendiri /ni 'ropa