LAPORAN PRATIKUM AGENT PENYAKIT
LAPORAN PRATIKUM AGENT PENYAKIT
“PEMERIKSAAN FESES”
“PEMERIKSAAN FESES”
Di susun oleh : Di susun oleh :
Nama
Nama : Auli: Aulia Rakhma Rakhmanan NIM
NIM : N 201 12 018: N 201 12 018 K
Keelloommppookk : : 11
PROGRAM STUDI ILMU
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKA
KESEHATAN MASYARAKAT
T
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
UNIVERSITAS TADULAKO
2013
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
1.1 LataLatar Belar Belakangkang
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia dan merupakan terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya.
hidup dan cara penularannya.
Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva dan juga membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Bahan yang akan di periksa tergantung dari yang mungkin dikira suatu parasit. Bahan yang akan di periksa tergantung dari jen
jenis is parasitnyparasitnya, a, untuk untuk cacincacing g atau atau protoprotozoa zoa usus usus maka maka bahan bahan yanyang g akan akan didi periksa adal
periksa adalah tinjah tinja atau feses,a atau feses,
Di 50 negara pada tahun 2008 terdapat 496 juta orang yang menderita Di 50 negara pada tahun 2008 terdapat 496 juta orang yang menderita peny
penyakit akit yanyang g diakidiakibatkan batkan oleh oleh cacincacing. g. Di Di IndonesiIndonesia a sendisendiri ri pada pada tahun tahun 20082008 sebanyak 11.699 kasus ditemukan di 378 kabupaten/kota. Berdasarkan sebanyak 11.699 kasus ditemukan di 378 kabupaten/kota. Berdasarkan pemetaan
pemetaan didapatkan didapatkan prevalprevalensi ensi mimikrofilkrofilaria aria di di IndonesiIndonesia a sebesar sebesar 19 19 persen,persen, yang berarti 40 juta orang yang tubuhnya membawa mikrofilaria sedangkan yang berarti 40 juta orang yang tubuhnya membawa mikrofilaria sedangkan pada tahun 2009, j
pada tahun 2009, jumlumlah kasus kroniah kasus kronis fils filariasis sariasis sudah sebanudah sebanyak 11.914 kyak 11.914 kasus.asus. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Infeksi ini lebih banyak ditemukan pada anak-anak menimbulkan gejala ringan. Infeksi ini lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang sering bermain di tanah yang telah terkontaminasi, sehingga mereka lebih yang sering bermain di tanah yang telah terkontaminasi, sehingga mereka lebih mudah terinfeksi oleh cacaing-cacing tersebut. Biasanya hal ini terjadi pada mudah terinfeksi oleh cacaing-cacing tersebut. Biasanya hal ini terjadi pada daerah di mana penduduknya sering membuang tinja sembarangan sehingga daerah di mana penduduknya sering membuang tinja sembarangan sehingga lebih mudah terjadi penularan. Berdasarkan uraian diatas maka yang lebih mudah terjadi penularan. Berdasarkan uraian diatas maka yang mel
pada feses manusi
pada feses manusia maupun hewan dengan bena maupun hewan dengan bentuk tuk seperti telur seperti telur atau atau larva yanlarva yangg menyebabkan penyakit pada tubuh.
menyebabkan penyakit pada tubuh. 1.2
1.2 TujTujuanuan
Adapun tujuan dilaksanakan pratikum pemeriksaan feses ini adalah : Adapun tujuan dilaksanakan pratikum pemeriksaan feses ini adalah :
1.
1. Untuk Untuk menmengetahgetahui tekui tekninik pemk pemerikeriksaan saan fesfeses.es. 2.
2. Untuk mUntuk mengetahui engetahui dan mdan mengamengamati adanyati adanya parasit ya parasit yang ada daang ada dalam lam sampelsampel feses kambing, feses kuda, feses manusia dewasa, feses anjing, feses sapi feses kambing, feses kuda, feses manusia dewasa, feses anjing, feses sapi dan feses anak kecil.
dan feses anak kecil. 2.3
2.3 ManManfafaatat
Adapun manfaat sehingga dilaksanakan pratikum pemeriksaan feses ini Adapun manfaat sehingga dilaksanakan pratikum pemeriksaan feses ini yaitu untuk mengetahui parasit apa saja yang terdapat pada feses manusia yaitu untuk mengetahui parasit apa saja yang terdapat pada feses manusia maupun feses hewan. Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat nantinya bisa maupun feses hewan. Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat nantinya bisa dilakukan sosialisasi kepada masyarakat dan tindakan pencegahan penyakit dilakukan sosialisasi kepada masyarakat dan tindakan pencegahan penyakit yang disebabkan oleh parasit-parasit dan cacing pada feses manusia maupun yang disebabkan oleh parasit-parasit dan cacing pada feses manusia maupun feses hewan tersebut.
BAB II
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
2
2.1.1 PPeemmeerrikikssaaan Fan Feesseess
Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa f
periksa fesesnyesesnya (Gandahusa (Gandahusada, 2000).ada, 2000).
Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada didalam usus metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada didalam usus (Kadarsan, 1983).
(Kadarsan, 1983). 2
2..22 KOKOH 1H 100% % ddaan En Eoossiinn
Larutan KOH 10% merupakan larutan berbentuk cair dengan warna Larutan KOH 10% merupakan larutan berbentuk cair dengan warna putih j
putih jernihernih dan mdan mempunempunyai yai komposikomposisi krisi kristal KOH 10-20 gram stal KOH 10-20 gram dan aquadestdan aquadest 100 ml
100 ml. . Larutan inLarutan ini berfi berfungsi ungsi untukuntuk melmelihat secara namihat secara nampak telur parasit padapak telur parasit pada feses hewan apakah berben
feses hewan apakah berbentuk larva attuk larva atau telur au telur (Rich(Richard, 2008).ard, 2008).
Larutan Eosin berfungsi untuk mempermudah membedakan antara Larutan Eosin berfungsi untuk mempermudah membedakan antara telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Larutan ini mempunyai telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Larutan ini mempunyai komposi
komposisi yaisi yaitu, eotu, eosin 2%, aseton dan aquadest sin 2%, aseton dan aquadest (Soedarto(Soedarto, 2003)., 2003). 2.3
2.3 StronStrongyloigyloides des sterstercorcoralisalis A.
A. MMororffolologogii
Larva Rabditiform Panjangnya ± 225 mikron, ruang mulut Larva Rabditiform Panjangnya ± 225 mikron, ruang mulut terbuka, pendek dan lebar. Esophagus dengan 2 bulbus, ekor runcing, terbuka, pendek dan lebar. Esophagus dengan 2 bulbus, ekor runcing, larva filariform. Bentuk infektif, panjangnya ± 700 mikron, langsing, larva filariform. Bentuk infektif, panjangnya ± 700 mikron, langsing,
tanpa sarung, ruang mulut tertutup, esophagus menempati setengah tanpa sarung, ruang mulut tertutup, esophagus menempati setengah panj
panjang ang badanbadan, , bagibagian an ekor ekor berujuberujung ng tumpul tumpul berlekukberlekuk. . CacinCacing g dewasadewasa betina y
betina yang hiang hidup bebas panjdup bebas panjangnyangnya ± 1 mm, esophagus pendek dena ± 1 mm, esophagus pendek dengan 2gan 2 bul
bulbus, bus, uterus uterus berisi berisi telur telur dengan dengan ekor ekor runcinruncing. g. CacinCacing g dewasa dewasa janjantantan yang hidup bebas panjangnya ± 1 mm, esophagus pendek dengan 2 yang hidup bebas panjangnya ± 1 mm, esophagus pendek dengan 2 bul
bulbus, ekor melbus, ekor meliningkar dengan spgkar dengan spikulikulum (Hium (Hillllyer, 2005).yer, 2005). B.
B. SiSiklklus us HiHidudupp Men
Menurut (Murut (Mubaubarak, rak, 20052005),), sisiklklus hus hiduidup dp dariari StrongyloidesStrongyloides stercoralis
stercoralis adalah sebagai berikut :adalah sebagai berikut :
Cara berkembang biak secara partenogenesis Mempunyai 3 macam siklus Cara berkembang biak secara partenogenesis Mempunyai 3 macam siklus hidup:
hidup:
Siklus langsung, sesudah 2 – 3 hari di tanah, larva rabditiformSiklus langsung, sesudah 2 – 3 hari di tanah, larva rabditiform
berubah men
berubah menjadi larva filjadi larva filarifariform, orm, bibila larva la larva fifilarilariform menemform menembus kulitbus kulit manusia, larva tumbuh dan masuk ke dalam peredaran darah vena dan manusia, larva tumbuh dan masuk ke dalam peredaran darah vena dan kemudian melalui jantung kanan sampai ke paru, dari paru parasit kemudian melalui jantung kanan sampai ke paru, dari paru parasit yang mulai menjadi dewasa menembus alveolus, masuk ke trakea dan yang mulai menjadi dewasa menembus alveolus, masuk ke trakea dan laring. Sesudah sampai
laring. Sesudah sampai di ldi laring reflek aring reflek batuk, sehingga parasitbatuk, sehingga parasit tertelan, kemudian sampai diusus halus bagian atas dan menjadi tertelan, kemudian sampai diusus halus bagian atas dan menjadi dewasa.
dewasa.
SiklSiklus tidus tidak lak langsunangsung,g, larva larva rabditirabditiform form berubah berubah menjmenjadi adi cacincacingg
jan
jantan tan dan dan betinbetina a bentuk bentuk bebas, bebas, sesudah sesudah pembpembuahan, uahan, cacincacing g betinabetina menghasilkan telur yang menetas menjadi larva rabditiform, larva menghasilkan telur yang menetas menjadi larva rabditiform, larva rabditiform dalam waktu beberapa hari dapat menhasilkan larva rabditiform dalam waktu beberapa hari dapat menhasilkan larva fil
filariform yang infektif dan masuk kariform yang infektif dan masuk kedalam hospes.edalam hospes.
Autoinfeksi, larva rabditiform menjadi larva filariform di usus atau diAutoinfeksi, larva rabditiform menjadi larva filariform di usus atau di
daerah sekita
daerah sekitar anus (perianal) bilr anus (perianal) bila larva fia larva filariform lariform menembmenembus mukosaus mukosa atau kulit perianal, mengalami suatu lingkaran perkembangan di atau kulit perianal, mengalami suatu lingkaran perkembangan di dalam hospes. Auto infeksi menerangkan adanya Strongyloidiasis dalam hospes. Auto infeksi menerangkan adanya Strongyloidiasis
yang persisten, mungkin selama 36 tahun, di dalam penderita yang yang persisten, mungkin selama 36 tahun, di dalam penderita yang hidup di derah non endemik.
hidup di derah non endemik. C.
C. KlKlasasiififikakasisi
Menurut
Menurut (Carneval(Carnevale, e, 2005),2005), klasiklasififikasikasi Strongyloides stercoralisStrongyloides stercoralis adalah sebagai berikut :
adalah sebagai berikut : K
Kiinnggddoomm : A: Anniimmaalliiaa Phylum
Phylum : : NematoNematodada Class
Class : : SecernenteaSecernentea Ordo
Ordo : : RhabditidaRhabditida Famil
Family y : : StrStrongyloididaeongyloididae Genus
Genus : : StrStrongyloidesongyloides Spesies :
Spesies : StronStrongyloigyloidesdes stercostercoralisralis D.
D. EpEpiidedemmiiolologogii
Strongyloides stercoralis
Strongyloides stercoralis endemik di daerah tropis dan subtropis endemik di daerah tropis dan subtropis dan terjadi secara sporadis di daerah beriklim sedang, sedangkan didaerah dan terjadi secara sporadis di daerah beriklim sedang, sedangkan didaerah yang beriklim dingin jarang ditemukan. Di daerah tropis dan subtropis yang beriklim dingin jarang ditemukan. Di daerah tropis dan subtropis prevalen
prevalensi si daerah daerah secara secara keseluruhkeseluruhan an dapat dapat melmelebiebihi hi 25 25 persen. persen. TingTingkatkat infeksi tertinggi di Amerika Serikat adalah di antara penduduk dari infeksi tertinggi di Amerika Serikat adalah di antara penduduk dari negara-negara tenggara dan di antara individu-individu yang telah di negara-negara tenggara dan di antara individu-individu yang telah di daerah endemik ( termasuk imigran, pengungsi, wisatawan dan personil daerah endemik ( termasuk imigran, pengungsi, wisatawan dan personil militer) (Possey, 2007).
militer) (Possey, 2007). E
E.. EtEtiiolologogii
Strongyloides stercoralis
Strongyloides stercoralis sangat umum terdapat di seluruh duniasangat umum terdapat di seluruh dunia pada
pada mukosa mukosa usus usus halhalus us anjanjing ing ,kucin,kucing, g, manmanusia usia dan dan berbagai berbagai mammamalialiaa lain. Penyebab penyakit
lain. Penyebab penyakit StrongyloidiasisStrongyloidiasis adalah cacingadalah cacing StrongyloidesStrongyloides stercoralis.
stercoralis. Bila larva filariform dalam jumlah besar menembus kulit Bila larva filariform dalam jumlah besar menembus kulit timbul kelainan kulit yang disebut creeping eruption yang disertai dengan timbul kelainan kulit yang disebut creeping eruption yang disertai dengan rasa gatal yang hebat. Cacing dewasa menyebabkan kelainan pada rasa gatal yang hebat. Cacing dewasa menyebabkan kelainan pada mukosa usus muda. Infeksi sedang dapat menyebabkan rasa sakit seperti mukosa usus muda. Infeksi sedang dapat menyebabkan rasa sakit seperti
tertusuk-tusuk didaerah epigastrium tengah dan tidak menjalar. Mungkin tertusuk-tusuk didaerah epigastrium tengah dan tidak menjalar. Mungkin ada mun
ada muntah, diare tah, diare saling saling bergantian. Pada strobergantian. Pada strongilngiloidiasis oidiasis adaada kemungkinan terjadi autoinfeksi atau hiperinfeksi. Pada hiperinfeksi kemungkinan terjadi autoinfeksi atau hiperinfeksi. Pada hiperinfeksi cacing dewasa yang hidup sebagai parasit dapat ditemukan diseluruh cacing dewasa yang hidup sebagai parasit dapat ditemukan diseluruh traktus digestivus dan larvanya dapat ditemukan diberbagai alat dalam traktus digestivus dan larvanya dapat ditemukan diberbagai alat dalam (paru,
(paru, hati, kandunhati, kandung empedu) (Hubner, 2001).g empedu) (Hubner, 2001). F
F.. ViVirurullenensisi Cacing
Cacing Strongyloidiasis stercoralisStrongyloidiasis stercoralis dewasa bebas yang telah dewasa bebas yang telah dibuahi dapat mengeluarkan telur yang segera mentas dan melepaskan dibuahi dapat mengeluarkan telur yang segera mentas dan melepaskan larva non infektif rhabditiform yang kemudian dalam 24-36 jam berubah larva non infektif rhabditiform yang kemudian dalam 24-36 jam berubah menjadi larva infektif filariform. Kadangkala pada orang-orang tertentu, menjadi larva infektif filariform. Kadangkala pada orang-orang tertentu, larva rhabditiform dapat langsung berubah menjadi larva filariform larva rhabditiform dapat langsung berubah menjadi larva filariform sebelum meninggalkan tubuh orang itu dan menembus dinding usus atau sebelum meninggalkan tubuh orang itu dan menembus dinding usus atau menembus kulit di daerah perianal yang menyebabkan auotinfeksi dan menembus kulit di daerah perianal yang menyebabkan auotinfeksi dan dapat
dapat berlanberlangsung bertahun-tahun (Possey, 2007).gsung bertahun-tahun (Possey, 2007). G.
G. PePenncecegagahhanan
Sanitasi pembuangan tinja, melindungi kulit dari tanah yang Sanitasi pembuangan tinja, melindungi kulit dari tanah yang terkontaminasi, misal dengan memakai alas kaki. Penerangan kepada terkontaminasi, misal dengan memakai alas kaki. Penerangan kepada masyarakat mengenai cara penularan, dan cara pembuatan serta masyarakat mengenai cara penularan, dan cara pembuatan serta pemakai
pemakaian jaman jamban (Mubban (Mubarakarak , 2005)., 2005). H.
H. PePenngogobbataatann
Tiabendazol, dosis 25 mg per kg berat badan, 1 atau 2 kali sehari Tiabendazol, dosis 25 mg per kg berat badan, 1 atau 2 kali sehari selama 2 atau 3 hari. Albendazol 400 mg, 1 atau 2 kali sehari selama 3 selama 2 atau 3 hari. Albendazol 400 mg, 1 atau 2 kali sehari selama 3 hari, merupakan obat pilihan. Mebendazol 100 mg 3 kali sehari selama 2 hari, merupakan obat pilihan. Mebendazol 100 mg 3 kali sehari selama 2 atau 4 minggu. Perhatian pada pembersihan daerah sekitar anus, dan atau 4 minggu. Perhatian pada pembersihan daerah sekitar anus, dan menghindari konstipasi (Carnevale, 2001).
menghindari konstipasi (Carnevale, 2001). 2.4
2.4 DranDrancunccunculus ulus medinemedinensisnsis A.
A. MMororffolologogii
Cacing ini
Cacing ini berbentuk silindris dan berbentuk silindris dan memanjmemanjang ang sepertseperti benani benang.g. Permukaan tubuh berwarna
Ujung
Ujung anteranterior berbentuk ior berbentuk bulat tumpul bulat tumpul sedangkan sedangkan ujung ujung postposterior erior melengkung membentuk kait. Memiliki mulut yang kecil dan ujung melengkung membentuk kait. Memiliki mulut yang kecil dan ujung anteriornya dikelilingi paling sedikit 10 papila. Cacing jantan panjangnya anteriornya dikelilingi paling sedikit 10 papila. Cacing jantan panjangnya 12-40 mm dan lebarnya 0,4 mm Cacing betina panjangnya 120 cm dan 12-40 mm dan lebarnya 0,4 mm Cacing betina panjangnya 120 cm dan lebarnya1-2 mm (Hilly
lebarnya1-2 mm (Hillyer, er, 2005)2005) B.
B. SiSiklklus us HiHidudupp
Bila manusia meminum air mentah mengandung
Bila manusia meminum air mentah mengandung cyclopscyclops yang yang telah te
telah terinfeksi oleh lrinfeksi oleh larva cacing ini arva cacing ini menetas lalu menemmenetas lalu menembus dindibus dinding ususng usus menuju jaringan bawah kulit,
menuju jaringan bawah kulit, jantung ajantung atau tau otaotak. k. SetaSetahun kemudian,hun kemudian, cacing yang telah dewasa akan bereproduksi dan bergerak menuju cacing yang telah dewasa akan bereproduksi dan bergerak menuju permukaan
permukaan kulikulit t (umum(umumnynya a tangan tangan atau atau kaki), kaki), janjantan tan akan akan mati mati setelahsetelah 3-7 bulan setelah infeksi. Betina yang akan bereproduksi akan 3-7 bulan setelah infeksi. Betina yang akan bereproduksi akan menimbulkan bercak merah yang terasa sangat panas lalu menimbulkan menimbulkan bercak merah yang terasa sangat panas lalu menimbulkan luka terbuka pada anggota badan tersebut. Pada saat bagian tubuh yang luka terbuka pada anggota badan tersebut. Pada saat bagian tubuh yang terluka itu direndam air (untuk mengurangi rasa panas yang ditimbulkan) terluka itu direndam air (untuk mengurangi rasa panas yang ditimbulkan) cacing betina dewasa akan keluar (dapat dilihat dengan mata) dari luka cacing betina dewasa akan keluar (dapat dilihat dengan mata) dari luka ter
tersebut dan sebut dan melepaskan melepaskan larva larva muda muda kemudian kemudian larva mlarva muda muda mencariencari Cyclops
Cyclops dan dan siklus siklus kembali kembali terterulang. ulang. setelah proses ini setelah proses ini terterselesaikan,selesaikan, betina
betina akan akan mati, mati, apabiapabila la tidak tidak dapat dapat keluar keluar dari dari tubuh tubuh maka maka cacincacingg tersebut akan terkristalisasi didalam tubuh inangnya. Luka terbuka yang tersebut akan terkristalisasi didalam tubuh inangnya. Luka terbuka yang diakibatkan oleh penetrasi cacing ini memiliki potensi yang besar terkena diakibatkan oleh penetrasi cacing ini memiliki potensi yang besar terkena infeksi bakteri sekunder (bakteri tetanus, bakteri pemakan daging) apabila infeksi bakteri sekunder (bakteri tetanus, bakteri pemakan daging) apabila tidak diobati secara tepat (Nor
tidak diobati secara tepat (Normanman, 1994)., 1994). C.
C. KlKlasasiififikakasisi
Menurut Subronto (2006), klasifikasi
Menurut Subronto (2006), klasifikasi Dracunculus Dracunculus medinensismedinensis adalah sebagai berikut :
adalah sebagai berikut : K
Kiinnggddoomm : A: Anniimmaalliiaa P
Phhyylluumm : : NNeemmaaththeellmmiinnththeess C
Cllaassss : : NNeemmaattooddaa O
F
Faammiillyy : : DDrraaccuunnccuulliiddaaee G
Geennuuss :: Dracunculus Dracunculus S
SppeessiieeSS :: Dracunculus medinensis Dracunculus medinensis D.
D. EpEpiidedemmiiolologogii
Dracunculus
Dracunculus medinensismedinensis ditemukan di sebagian besar wilayah ditemukan di sebagian besar wilayah Afrika dan Timur Tengah, Asia Tengah dan Selatan.
Afrika dan Timur Tengah, Asia Tengah dan Selatan. Dracunculus Dracunculus medinensis
medinensis endemik di daerah tropis (Kosasih, 1999). endemik di daerah tropis (Kosasih, 1999). E
E.. EtEtiiolologogii
Dracunculus
Dracunculus medinensismedinensis adalah adalah suatu suatu nematoda nematoda yangyang menyebabkan dracunculiasis. Dracunculiasis, juga dikenal sebagai menyebabkan dracunculiasis. Dracunculiasis, juga dikenal sebagai peny
penyakit akit cacincacing g guinguinea, ea, yanyang g disebdisebabkan abkan oleholeh Dracunculus Dracunculus medinensismedinensis betina (Hen
betina (Hendrix,199drix,1995).5). F
F.. ViVirurullenensisi
Dalam waktu setahun cacing ini perlahan-lahan mengeluarkan diri Dalam waktu setahun cacing ini perlahan-lahan mengeluarkan diri dari tubuh manusia yang dihuninya dengan menjulurkan kepala terlebih dari tubuh manusia yang dihuninya dengan menjulurkan kepala terlebih dahulu di bagian bawah kaki atau lengan manusia yang menjadi korban. dahulu di bagian bawah kaki atau lengan manusia yang menjadi korban. Proses ini menyebabkan nyeri luar biasa. Luka bekas lubang keluarnya Proses ini menyebabkan nyeri luar biasa. Luka bekas lubang keluarnya cacing ini akan membesar sesentimeter demi sesentimeter dan begitu cacing ini akan membesar sesentimeter demi sesentimeter dan begitu menyakitkan. Sering kali penderita terburu-buru mencari sumber air menyakitkan. Sering kali penderita terburu-buru mencari sumber air untuk merendam luka mereka, padahal tindakan ini adalah salah untuk merendam luka mereka, padahal tindakan ini adalah salah (Subronto, 2006).
(Subronto, 2006). G.
G. PePenncecegagahhanan
Menurut Subronto (
Menurut Subronto (2006). Pencegahan2006). Pencegahan Dracunculus medinens Dracunculus medinensisis yaitu :yaitu :
Penyaringan air minum melalPenyaringan air minum melalui kain katui kain kat un tun tipis.ipis.
Merebus air hinMerebus air hingga mendidigga mendidih sebelum h sebelum digunakan.digunakan.
MeminMeminum air berum air berklorin membantu mencegahklorin membantu mencegah dracunculiasisdracunculiasis..
H.
H. PePenngogobbataatann
Biasanya, cacing dewasa pelan-pelan diangkat lebih dari sehari Biasanya, cacing dewasa pelan-pelan diangkat lebih dari sehari sampai seminggu dengan memutarnya pada sebuah batang. Cacing sampai seminggu dengan memutarnya pada sebuah batang. Cacing tersebut bisa diangkat dengan cara operasi setelah bius lokal digunakan, tersebut bisa diangkat dengan cara operasi setelah bius lokal digunakan,
tetapi pada banyak daerah, metode ini tidak tersedia. Orang yang juga tetapi pada banyak daerah, metode ini tidak tersedia. Orang yang juga mengalami infeksi bakteri kadangkala diberikan metronidazole untuk mengalami infeksi bakteri kadangkala diberikan metronidazole untuk men
mengurangi pgurangi peradanganeradangan (Kosasih(Kosasih, 1999)., 1999). 1. 1. 2. 2. 2.1. 2.1. 2.2. 2.2. 2.3. 2.3. 2.4. 2.4. 2.5. Fasciola hepatica 2.5. Fasciola hepatica A.
A. MoMorfrfolologogii
Pada spesies
Pada spesies Fasciola Fasciola hepaticahepatica,, ccacing dewasa berwarna coklatacing dewasa berwarna coklat abu-abu dengan bentuk seperti daun, pipih, melebar dan lebih melebar abu-abu dengan bentuk seperti daun, pipih, melebar dan lebih melebar keanterior dan berakhir dengan tonjolan berbentuk conus. Ukuran tubuh keanterior dan berakhir dengan tonjolan berbentuk conus. Ukuran tubuh cacing dewasa dapat mencapai panjang 30 mm dan lebarnya 13 mm. cacing dewasa dapat mencapai panjang 30 mm dan lebarnya 13 mm. Mempunyai batil isap mulut (oral sucker) dan batil isap perut (ventral Mempunyai batil isap mulut (oral sucker) dan batil isap perut (ventral sucker) yang besarnya hampir sama (Estuningsih dkk., 2004).
sucker) yang besarnya hampir sama (Estuningsih dkk., 2004). B.
B. SiSiklklus us HiHidudupp
Telur keluar ke alam bebas bersama feces sapi. Bila menemukan Telur keluar ke alam bebas bersama feces sapi. Bila menemukan habi
habitat tat basahbasah telur menetas dan mtelur menetas dan menjadenjadi larvi larva bersila bersilia, yania, yang disebg disebutut Mirasi
Mirasidiumdium.. MirasiMirasidium dium masuk ke dalmasuk ke dalam tubuh siam tubuh siput Lymput Lymnea akannea akan tumbuh
tumbuh menmenghasighasilkan lkan Sporokista.Sporokista. Sporokista secara partenogenesis akanSporokista secara partenogenesis akan menghasilkan Redia. Redia secara paedogenesis akan membentuk menghasilkan Redia. Redia secara paedogenesis akan membentuk serkaria. Serkaria meninggalkan tubuh siput menempel pada rumput dan serkaria. Serkaria meninggalkan tubuh siput menempel pada rumput dan berubah
berubah menmenjadi jadi metaserkaria.metaserkaria. Metaserkasria Metaserkasria termakan termakan oleh oleh hewanhewan ternak berkembang menjadi cacing muda yang selanjutnya bermigrasi ke ternak berkembang menjadi cacing muda yang selanjutnya bermigrasi ke saluran empedu pada hati inang yang baru untuk memulai daur hidupnya saluran empedu pada hati inang yang baru untuk memulai daur hidupnya (Sadarman dkk., 2007).
(Sadarman dkk., 2007). C.
C. KlKlasasiiffiikakasisi Menurut Sada
K
Kiinnggddoomm : : AAnniimmaalliiaa P
Phhyylluumm : : PPllaatytyhheellmmiinntthheess C
Cllaassss : : TTrreemmaattooddaa O
Orrddoo : : EEcchhiinnoossttoommiiddaa F
Faammiillyy : : FFaasscciioolliiddeeaa G
Geennuuss :: Fasciola Fasciola S
Sppeessiieess :: Fasciola hepatica Fasciola hepatica D.
D. EpEpiidedemmiiolologiogi
Penyakit ini ditemukan tersebar di dunia. Di Indonesia ditemukan Penyakit ini ditemukan tersebar di dunia. Di Indonesia ditemukan ham
hampir di pir di seluruh seluruh daerah, terutama di daerah, terutama di daerah ydaerah yang bang basah.asah. TingTingkatkat morbi
morbiditas diditas dilaporkan 5laporkan 50-75 %, rata-rata 30 %.0-75 %, rata-rata 30 %. DilDilaporkan bahaporkan bahwa 2,5wa 2,5 juta
juta orang orang telah telah terinfterinfeksi eksi di di 61 61 negara negara terutama terutama dari dari BoliBoliviavia, , Peru,Peru, Mesir, Iran, Portugal, dan Perancis, dan bahwa lebih dari 180 juta orang Mesir, Iran, Portugal, dan Perancis, dan bahwa lebih dari 180 juta orang beresik
beresiko (Esto (Estuniuningsingsih dkk., 2004).h dkk., 2004). E
E.. ViVirurulleennsisi
Pertama ialah ikut bersama aliran darah, kemudian menembus Pertama ialah ikut bersama aliran darah, kemudian menembus kapiler darah, terus ke vena porta dan akhirya sampai ke hati.Kedua, dari kapiler darah, terus ke vena porta dan akhirya sampai ke hati.Kedua, dari lambung (abomasum) menembus mucosa usus (duodenum), ke saluran lambung (abomasum) menembus mucosa usus (duodenum), ke saluran empedu dan akhirnya sampai ke parenkhim hati.Ketiga, yang umum empedu dan akhirnya sampai ke parenkhim hati.Ketiga, yang umum terjadi adalah setelah menembus usus menuju peritonium, lalu menembus terjadi adalah setelah menembus usus menuju peritonium, lalu menembus kapsula hati yang akhimya sampai ke hati. Selain itu, habitat lain dari kapsula hati yang akhimya sampai ke hati. Selain itu, habitat lain dari cacing hati ini adalah pada kaki siput, namun yang paling umum adalah cacing hati ini adalah pada kaki siput, namun yang paling umum adalah terdapat pada hati hewan ruminansia seperti domba, sapi, kambing, dan terdapat pada hati hewan ruminansia seperti domba, sapi, kambing, dan juga dapat me
juga dapat menginginfeksnfeksi kedali kedalam tubuh am tubuh manmanusia (Estuniusia (Estuningsingsih dkk., 2004).h dkk., 2004). F
F.. PePenncecegagahhanan
Pencegahan yang dilakukan adalah tidak memakan sayuran Pencegahan yang dilakukan adalah tidak memakan sayuran mentah, jika tetap harus mengkonsumsi sayuran mentah, sebaiknya mentah, jika tetap harus mengkonsumsi sayuran mentah, sebaiknya sayuran tersebut dicuci terlebih dahulu dengan larutan cuka atau larutan sayuran tersebut dicuci terlebih dahulu dengan larutan cuka atau larutan potassium
menghindari konsumsi selada air yang mentah dan memasak makanan menghindari konsumsi selada air yang mentah dan memasak makanan hingga benar-benar matang (Muchlis, 1985).
hingga benar-benar matang (Muchlis, 1985). G.
G. PePenngogobbatatanan
Bila upaya pencegahan sudah dilakukan namun tetap terinfeksi Bila upaya pencegahan sudah dilakukan namun tetap terinfeksi fasciolosis, maka kasus ini dapat diobati dengan beberapa macam fasciolosis, maka kasus ini dapat diobati dengan beberapa macam anthelmintik, seperti Bithionol, Hexachloro-para-xylol, Niclofolan, anthelmintik, seperti Bithionol, Hexachloro-para-xylol, Niclofolan, Metronidazole dan Triclabendazole. Namun dari semua obat cacing Metronidazole dan Triclabendazole. Namun dari semua obat cacing tersebut di atas, hanya Triclabendazole yang paling efektif untuk tersebut di atas, hanya Triclabendazole yang paling efektif untuk menyembuhkan fasciolosis pada manusia, dengan dosis 10 mg/kgBB menyembuhkan fasciolosis pada manusia, dengan dosis 10 mg/kgBB yang diberikan 2 kali per oral dengan interval pemberian selama 12 hari. yang diberikan 2 kali per oral dengan interval pemberian selama 12 hari. Emetin HCl, diklorofenol, prazikuantel. Obat yang sering digunakan Emetin HCl, diklorofenol, prazikuantel. Obat yang sering digunakan dalam membasmi cacing
dalam membasmi cacing Fasciola Fasciola hepaticahepatica dan sampai saat ini masih dan sampai saat ini masih menjadi pilihan utama dalam pengobatan infeksi cacing Trematoda adalah menjadi pilihan utama dalam pengobatan infeksi cacing Trematoda adalah prazikuan
prazikuantel (Muchltel (Muchlis, 1985.).is, 1985.).
BAB III
BAB III
METODOLOGI
METODOLOGI
3 3 4 4 4.14.1 WakWaktu dan Temtu dan Tempatpat
Adapun waktu dan tempat
Adapun waktu dan tempat dildilaksanakanaksanakan pratikum pempratikum pemeriksaan feses ineriksaan feses ini adalahi adalah ::
H
Haarrii//TTaannggggaall : S: Saabbtutu, 2, 25 5 MMeei i 22001133.. W
Tempat
Tempat : : LaboratLaboratorium orium TerpadTerpadu u FKIK FKIK UNTAD.UNTAD. 4.
4.22 AlAlatat dadan Ban Bahahann
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada pratikum pemeriksaan feses Adapun alat dan bahan yang digunakan pada pratikum pemeriksaan feses ini adalah :
ini adalah : 4.
4.2.2.11 AlAlatat 1
1.. MMiikkrroosskkopop 2
2.. GeGellas as KKiimmiiaa 3
3.. ObObjjek ek glglasasss 4
4.. DDeecck k ggllaassss 5
5.. HaHanndsdsprprayayer er 5.
5..2.222 BaBahahann 1.
1. SamSampel pel FeFeses ses KaKambmbiningg 2.
2. SaSammpepel l FeFeseses s KuKudada 3.
3. SamSampel pel FeFeses ses ManManusiusia Dea Dewaswasaa 4.
4. SamSampel pel FeFeses ses AnAnjijingng 5.
5. SaSammpepel Fl Feseses Ses Sapapii 6.
6. SamSampel pel FeFeses Ases Ananak-Ak-Ananak 8-10 tak 8-10 tahuhunn 7.
7. AAququadadesest st steteririll 8.
8. LaLarurutatan n KKOH OH 1010%% 9.
9. LaLarurutatan n EoEosisin n 2%2% 10.
10. LiLidi di sterilsteril 11.
11. AlAlkohol kohol 70%70% 12.
12. HanHandskdskunun 13.
13. MasMasker ker 1
133..33 PPrroosseedduur r KeKerrjaja
Adapun prosedur kerja pada saat melakukan pratikum pemeriksaan feses Adapun prosedur kerja pada saat melakukan pratikum pemeriksaan feses ini adalah:
ini adalah: 1.
2.
2. MensterilMensterilkan kan tangan tangan dengan dengan menmenggunakan ggunakan alkohol alkohol 70% secara 70% secara merata dimerata di telapak tangan.
telapak tangan. 3.
3. MengamMengambibil sl sampel ampel feses feses menmenggunakan ggunakan lilidi di steril.steril. 4.
4. MemMemasukasukkan sakan sampmpel fel feses ke geses ke gelaelas kis kimimia.a. 5.
5. MenamMenambahkan bahkan aquadest steril aquadest steril pada gelpada gelas kias kimimia secukua secukupnypnya.a. 6.
6. MenMengengencerkan lcerkan larutan farutan feses dan eses dan aquadaquadest hiest hinggngga homa homogenogen.. 7.
7. MembMembuat pembuat pembatas yanatas yang berbg berbentuk bentuk bulatan ulatan untuk muntuk meletakkan eletakkan sampelsampel.. 8.
8. MengamMengambibil enl endapan dapan feses dfeses dan man mengolesengoleskan padkan pada kaja a kaja objek objek sesuaisesuai pemb
pembatas.atas. 9.
9. Meneteskan Meneteskan KOH 1KOH 10% pada sam0% pada sampel fpel feses kameses kambibing, kuda,anng, kuda,anjijing dan ng dan sapisapi dan meneteskan eosin 2% pada sampel feses anak-anak dan manusia dan meneteskan eosin 2% pada sampel feses anak-anak dan manusia dewasa secukupnya.
dewasa secukupnya. 10.
10. Menutup denMenutup dengan dgan deck gleck glass.ass. 11.
11. MengamMengamati dengan mati dengan mikroskop pada pembesaran 10xikroskop pada pembesaran 10x100.100.
BAB IV
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. 1.
2. 2. 3. 3. 4. 4. 4.1.
4.1. Hasil Hasil PenPengamagamatantan
Adapun hasil Pengamatan yang diperoleh pada saat melakukan pratikum Adapun hasil Pengamatan yang diperoleh pada saat melakukan pratikum pemeri
pemeriksaan fksaan feses ineses ini adali adalah :ah : No
No SampelSampel Gambar Gambar Nama Spesies Nama Spesies H
Haassiil l PPeennggaammaattaann LLiitteerraattuur r
1 1 FesesFeses Kambing Kambing Dracunculus Dracunculus medinensis medinensis (telur) (telur) 2 2 FesesFeses Kuda Kuda Strongyloides Strongyloides stercoralis stercoralis (telur) (telur) 3 3 Feses Feses Manusia Manusia Dewasa Dewasa Echinococcus Echinococcus granulosus granulosus (telur) (telur)
4 4 FesesFeses Anjing Anjing Gnathostoma Gnathostoma spinigerum spinigerum (telur) (telur) Dracunculus Dracunculus medinensis medinensis (larva) (larva) Metagonimus Metagonimus sp. (telur) sp. (telur) Echinostoma Echinostoma sp. (Telur) sp. (Telur)
5 5 FesesFeses Sapi Sapi Dracunculus Dracunculus medinensis medinensis (larva) (larva) Fasciola Fasciola hepatica hepatica (larva) (larva) Taenia Taenia saginata saginata (larva) (larva) 6 6 Feses Feses Anak-An Anak-An ak ak Ascaris Ascaris lumbricoides lumbricoides (telur) (telur)
4.2
4.2 PemPembahasbahasanan
Pemeriksaan feses adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui Pemeriksaan feses adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk men
juga di maksudkan untuk mendiagndiagnosa osa tingkat inftingkat infeksi cacing parasit usus eksi cacing parasit usus padapada orang yang di periksa fesesnya. Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan orang yang di periksa fesesnya. Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif.
metode kualitatif dan kuantitatif.
Pada percobaan kali ini, yang dilakukan adalah memakai masker dan Pada percobaan kali ini, yang dilakukan adalah memakai masker dan handskun agar tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme yang terdapat pada handskun agar tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme yang terdapat pada sampel feses, tangan harus disterilkan menggunakan alkohol 70% yang sampel feses, tangan harus disterilkan menggunakan alkohol 70% yang disemprotkan ke seluruh permukaan tangan, selanjutnya mengambil sampel disemprotkan ke seluruh permukaan tangan, selanjutnya mengambil sampel feses dengan menggunakan lidi steril dan dipindahkan ke dalam gelas kimia, feses dengan menggunakan lidi steril dan dipindahkan ke dalam gelas kimia, gelas kimia berfungsi sebagai tempat untuk menghomogenkan antara sampel gelas kimia berfungsi sebagai tempat untuk menghomogenkan antara sampel feses dengan larutan aquadest. Larutan aquadest berfungsi sebagai pengencer feses dengan larutan aquadest. Larutan aquadest berfungsi sebagai pengencer dari sampel feses. Pengenceran sampel kemudian diletakkan pada objek glass dari sampel feses. Pengenceran sampel kemudian diletakkan pada objek glass yang telah ada pembatas berbentuk bulatan, dipindahkan dengan menggunakan yang telah ada pembatas berbentuk bulatan, dipindahkan dengan menggunakan lidi yang runcing. Sampel kemudian diteteskan dengan larutan KOH 10% untuk lidi yang runcing. Sampel kemudian diteteskan dengan larutan KOH 10% untuk sampel feses pada hewan yang berfungsi untuk melihat secara nampak telur sampel feses pada hewan yang berfungsi untuk melihat secara nampak telur parasit pada
parasit pada feses hewan apakah berbentuk larva atfeses hewan apakah berbentuk larva atau tau telur. Komposisi lelur. Komposisi larutanarutan KOH 10% adalah kristal KOH 10-20 gram dan aquades 100 mL. Eosin yang KOH 10% adalah kristal KOH 10-20 gram dan aquades 100 mL. Eosin yang digunakan untuk sampel feses manusia yang berfungsi untuk mempermudah digunakan untuk sampel feses manusia yang berfungsi untuk mempermudah membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Kompisisi Eosin membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Kompisisi Eosin adalah yaitu eosin, aseton, aquadest, alkohol 70%. Sampel kemudian ditutup adalah yaitu eosin, aseton, aquadest, alkohol 70%. Sampel kemudian ditutup dengan deck glass dan dilakukan pengamatan dengan menggunkan mikroskop. dengan deck glass dan dilakukan pengamatan dengan menggunkan mikroskop. Dari hasil pengamatan yang telah didapatkan pada sampel feses kambing Dari hasil pengamatan yang telah didapatkan pada sampel feses kambing yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan literatur yang ditemukan adalah yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan literatur yang ditemukan adalah telur cacing spesies
telur cacing spesies Dracunculus medinensis Dracunculus medinensis juga terdapat juga terdapat di sapi dan di sapi dan domba.domba. Untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh parasit ini adalah Untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh parasit ini adalah dengan cara menyaring air minum melalui kain katun tipis, merebus air hingga dengan cara menyaring air minum melalui kain katun tipis, merebus air hingga mendidi
membantu mencegah
membantu mencegah dracunculiasisdracunculiasis. Penyakit yang diakibatkan. Penyakit yang diakibatkan Dracunculus Dracunculus medinensis
medinensis adalah dracunculiasis.adalah dracunculiasis.
Pada sampel feses kuda yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan Pada sampel feses kuda yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan literatur yang ditemukan adalah telur cacing spesies
literatur yang ditemukan adalah telur cacing spesies Strongyloides stercoralisStrongyloides stercoralis.. Bila dibandingkan dengan literatur
Bila dibandingkan dengan literatur Strongyloides stercoralisStrongyloides stercoralis juga terdapat pada juga terdapat pada mukosa usus halus anjing, kucing, manusia dan berbagai mamalia lain. Untuk mukosa usus halus anjing, kucing, manusia dan berbagai mamalia lain. Untuk pencegah
pencegahannyannya a yaiyaitu tu dengan dengan sanisanitasi tasi pembpembuangan uangan tinjtinja, a, melmelindindungi ungi kulikulit t daridari tanah yang terkontaminasi, misal dengan memakai alas kaki. Penerangan tanah yang terkontaminasi, misal dengan memakai alas kaki. Penerangan kepada masyarakat mengenai cara penularan, dan cara pembuatan serta kepada masyarakat mengenai cara penularan, dan cara pembuatan serta pemakai
pemakaian jamban jamban. Penyakian. Penyakit t yanyang diakibatkang diakibatkan Strongyloides stercoralis Strongyloides stercoralis adalah adalah Strongyloidiasis
Strongyloidiasis dandan kelaikelainan pada mnan pada mukosa usus muda.ukosa usus muda.
Pada sampel feses manusia dewasa yang dilihat dengan mikroskop, Pada sampel feses manusia dewasa yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan li
berdasarkan literatur teratur yanyang ditemukan adalah telur cacing spesiesg ditemukan adalah telur cacing spesies Echinococcus Echinococcus granulosus
granulosus. Bila dibandingkan literatur . Bila dibandingkan literatur Echinococcus granulosus Echinococcus granulosus juga terdapat juga terdapat pada feses anj
pada feses anjinging, domba dan sapi, domba dan sapi. Cara pencegahann. Cara pencegahannya terhadap inya terhadap infeksi feksi cacingcacing Echinococcus
Echinococcus granulosusgranulosus dengan menghindari kontak dengan tinja anjing,dengan menghindari kontak dengan tinja anjing, terutama pada anak-anak dan meningkatkan kesadaran higienis dan sanitasi air. terutama pada anak-anak dan meningkatkan kesadaran higienis dan sanitasi air. Menjaga kebersihan dan kesehatan hewan piaraan terutama anjing dan kucing. Menjaga kebersihan dan kesehatan hewan piaraan terutama anjing dan kucing. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing
Penyakit yang diakibatkan oleh cacing Echinococcus granulosus Echinococcus granulosus adalah kistaadalah kista hidatid.
hidatid.
Pada sampel feses anjing yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan Pada sampel feses anjing yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan literatur yang ditemukan adalah telur cacing spesies
literatur yang ditemukan adalah telur cacing spesies Gnathostoma spinigerum, Gnathostoma spinigerum, Metagonimus
Metagonimus sp, dan sp, dan Echinostoma Echinostoma sp. Ditemukan juga larva cacing yaitu sp. Ditemukan juga larva cacing yaitu Dracunculus medinensis.
Dracunculus medinensis. Bila dibandingkan literatur Bila dibandingkan literatur Gnathostoma spinigerum Gnathostoma spinigerum juga
juga terdapat terdapat pada pada feses feses kucinkucing, g, ikan, ikan, katak katak dan dan ular. ular. Cara Cara pencegahpencegahannyannyaa terhadap infeksi cacing
terhadap infeksi cacing Gnathostoma spinigerumGnathostoma spinigerum dengan menghindari kontak dengan menghindari kontak dengan tinja anjing, terutama pada anak-anak dan meningkatkan kesadaran dengan tinja anjing, terutama pada anak-anak dan meningkatkan kesadaran higienis dan sanitasi air. Menjaga kebersihan dan kesehatan hewan piaraan higienis dan sanitasi air. Menjaga kebersihan dan kesehatan hewan piaraan terutama anjing. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing
terutama anjing. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing Gnathostoma Gnathostoma spinigerum
Pada sampel feses sapi yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan Pada sampel feses sapi yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan literatur yang ditemukan adalah larva cacing spesies
literatur yang ditemukan adalah larva cacing spesies Dracunculus medinensis, Dracunculus medinensis, Fasciola
Fasciola hepatica,hepatica, dandan Taenia saginata.Taenia saginata. Bila dibandingkan literatur Bila dibandingkan literatur Fasciola Fasciola hepatica
hepatica juga terdapat pada feses domba, kambing dan terkadang manusia. juga terdapat pada feses domba, kambing dan terkadang manusia. Cara pencegahannya terhadap infeksi cacing
Cara pencegahannya terhadap infeksi cacing Fasciola Fasciola hepaticahepatica dengan tidak dengan tidak memakan sayuran mentah, jika tetap harus mengkonsumsi sayuran mentah, memakan sayuran mentah, jika tetap harus mengkonsumsi sayuran mentah, sebaiknya sayuran tersebut dicuci terlebih dahulu dengan larutan cuka atau sebaiknya sayuran tersebut dicuci terlebih dahulu dengan larutan cuka atau laru
larutan potassitan potassium permum permangaanganat sebenat sebelum lum dikdikonsuonsumsmsi,i, konskonsumumen haruen haruss menghindari konsumsi selada air yang mentah dan memasak makanan hingga menghindari konsumsi selada air yang mentah dan memasak makanan hingga benar-ben
benar-benar ar matang. Penyakimatang. Penyakit t yanyang g diakidiakibatkan obatkan oleh cacingleh cacing Fasciola hepatica Fasciola hepatica adalah
adalah rusaknyrusaknya lia liver atauver atau hati.hati.
Pada sampel feses anak-anak yang dilihat dengan mikroskop, Pada sampel feses anak-anak yang dilihat dengan mikroskop, berdasarkan
berdasarkan liliteratur teratur yanyang g ditemukditemukan an adalah adalah telur telur cacincacing g spesiesspesies Ascaris Ascaris lumbricoides.
lumbricoides. Bila dibandingkan literatur Bila dibandingkan literatur Ascaris lumbricoides Ascaris lumbricoides juga terdapat juga terdapat pada
pada feses feses manmanusia usia dewasa. dewasa. Cara Cara pencegahpencegahannyannya a terhadap terhadap ininfeksi feksi cacincacingg Ascaris
Ascaris lumbricoideslumbricoides dengan menjaga anak-anak agar tidak bermain ditanah, dengan menjaga anak-anak agar tidak bermain ditanah, memakai alas kaki saat berjalan diatas tanah, menjaga sanitasi lingkungan, dan memakai alas kaki saat berjalan diatas tanah, menjaga sanitasi lingkungan, dan menajaga keheginesan makanan. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing
menajaga keheginesan makanan. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing Ascaris Ascaris lumbricoides
lumbricoides adalah pneumonia, sindrom Loeffler adalah pneumonia, sindrom Loeffler ,, muntah-muntah, diare,muntah-muntah, diare, konstipasi,
BAB V
BAB V
PENUTUP
PENUTUP
5 5 6 6 6.16.1 KesimKesimpulapulann
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah: Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1.
1. TekniTeknik pemk pemeriksaan eriksaan feses mfeses menggunenggunakan makan metode natif etode natif untuk pemuntuk pemeriksaaneriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat. Metode ini dilakukan dengan secara cepat dan baik untuk infeksi berat. Metode ini dilakukan dengan cara menggunakan larutan KOH 10% untuk sampel feses hewan dan Eosin cara menggunakan larutan KOH 10% untuk sampel feses hewan dan Eosin untuk sampel feses manusia. Larutan NaCl fisiologis Berfungsi untuk untuk sampel feses manusia. Larutan NaCl fisiologis Berfungsi untuk melihat secara nampak telur parasit pada apakah berbentuk larva atau telur melihat secara nampak telur parasit pada apakah berbentuk larva atau telur dan Eosin yang berfungsi untuk mempermudah membedakan telur-telur dan Eosin yang berfungsi untuk mempermudah membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya.
cacing dengan kotoran disekitarnya. 2.
2. Parasit yParasit yang dang ditemukitemukan pada an pada masimasing-mng-masinasing fesg feses berbes berbeda, pada seda, pada sampelampel feses kambing ditemukan adalah telur cacing spesies
feses kambing ditemukan adalah telur cacing spesies Dracunculus Dracunculus medinensis
medinensis. Pada sampel feses kuda ditemukan telur cacing spesies. Pada sampel feses kuda ditemukan telur cacing spesies Strongyloides stercoralis.
Strongyloides stercoralis. Pada sampel feses manusia dewasa ditemukanPada sampel feses manusia dewasa ditemukan telur cacing spesies ditemukan
telur cacing spesies ditemukan Echinococcus granulosus Echinococcus granulosus. Pada sampel. Pada sampel feses anjing ditemukan telur cacing spesies
feses anjing ditemukan telur cacing spesies Gnathostoma spinigerum, Gnathostoma spinigerum, Metagonimus
Metagonimus sp, dan sp, dan Echinostoma Echinostoma sp. Ditemukan juga larva cacing yaitu sp. Ditemukan juga larva cacing yaitu Dracunculus
Dracunculus medinensis.medinensis. Pada sampel feses sapi ditemukan larva cacingPada sampel feses sapi ditemukan larva cacing spesies
spesies Dracunculus medinensis, Fasciola Dracunculus medinensis, Fasciola hepatica,hepatica, dandan Taenia saginata.Taenia saginata. Pada sampel feses anak-anak ditemukan telur cacing spesies
Pada sampel feses anak-anak ditemukan telur cacing spesies Ascaris Ascaris lumbricoides.
lumbricoides. 2.2
2.2 SarSaranan
Adapun saran yang diberikan oleh penulis adalah sebaiknya dalam Adapun saran yang diberikan oleh penulis adalah sebaiknya dalam melakukan percobaan, di perlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan, serta melakukan percobaan, di perlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan, serta
ada baiknya alat dan bahan yang akan digunakan lebih dilengkapi, sehingga ada baiknya alat dan bahan yang akan digunakan lebih dilengkapi, sehingga menunjang proses kerja pada saat melakukan praktek.
menunjang proses kerja pada saat melakukan praktek.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Carnevale, 2001.
Carnevale, 2001. Immunodiagnosis Immunodiagnosis dari dari Fascioliasis Fascioliasis ManusiaManusia dengan Assaydengan Assay Enzyme-Linked
Enzyme-Linked Immunosorbent Immunosorbent (ELISA) (ELISA) dan dan Mikro-Elise Mikro-Elise Clin Clin DiagnoseDiagnose Lab
Lab Immunol Immunol . Dikutip oleh Mochamad Iqbal.. Dikutip oleh Mochamad Iqbal. Pemeriksaan Pemeriksaan Feses Feses PadaPada Manusia
Manusia. 2012. Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas. 2012. Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto. Jendral Soedirman. Purwokerto.
((http://e-journal.unicen.ac.id/index.php/jbp/article/view/73http://e-journal.unicen.ac.id/index.php/jbp/article/view/73).). Diakses pada Diakses pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 19.32 WITA.
tanggal 27 Mei 2013 pukul 19.32 WITA. Estuningsih dkk., 2004.
Estuningsih dkk., 2004. Pengembangan Pengembangan Teknik Teknik Diagnosa Diagnosa Fasciolosis Fasciolosis Pada Pada SapiSapi Dengan
Dengan Antibody Antibody Monoclonal Monoclonal Dalam Dalam Capture Capture ELISA ELISA Untuk Untuk DeteksiDeteksi Antigen
Antigen. Dikutip oleh Ari Puspita Dewi.. Dikutip oleh Ari Puspita Dewi. Kejadian Kejadian Infeksi Infeksi Cacing Cacing HatiHati (Fasciola
(Fasciola sp)sp) Pada Sapi Potong di Kabupaten Kebume Pada Sapi Potong di Kabupaten Kebumen.n. 2011. Universitas2011. Universitas
Gajah Mada.
Gajah Mada.
Yogyakarta.(http://www.ejournal.undip.ac.id/index.php/ijms/article/view/1 Yogyakarta.(http://www.ejournal.undip.ac.id/index.php/ijms/article/view/1 409). Diakses hari Rabu, 29 Mei 2013. Pukul 15.34 WITA.
409). Diakses hari Rabu, 29 Mei 2013. Pukul 15.34 WITA. Gandahusada, 2006.
Gandahusada, 2006. Parasitologi Parasitologi KedokteranKedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesi
Indonesia. Jakarta. Jakarta.a. Hendrix JE. 1995.
Hendrix JE. 1995. Assimilate Transport and Partitioning I Assimilate Transport and Partitioning In Hanbook of n Hanbook of Plantand Plantand Crop Physiology
Crop Physiology. Dikutip oleh Oemijati .. Dikutip oleh Oemijati . Masalah Masalah Penyakit Penyakit Parasit Parasit DiDi Indonesia
Indonesia. 2008. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.. 2008. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. (http://usupress.usu.ac.id/fi
(http://usupress.usu.ac.id/files/Siles/Sistem%20Teknstem%20Teknik%20Indik%20Industri%20Vol_%20ustri%20Vol_%20 6%20No_%203%20Jul
6%20No_%203%20Juli%20200i%202005.pdf#page=15.pdf#page=107). 07). Diakses pada Diakses pada tanggal 27tanggal 27 Mei 2013 pukul 19.43 WITA.
Mei 2013 pukul 19.43 WITA. Hillyer, 2005,
Hillyer, 2005, antigen Fasciola sebagai vaksin terhadap fascioliasis danantigen Fasciola sebagai vaksin terhadap fascioliasis dan schistosomiasis
schistosomiasis. Dikutip oleh Noerhayati.. Dikutip oleh Noerhayati. Beberapa Beberapa Segi Segi Infeksi Infeksi Cacing Cacing Tambang di Indonesia
Tambang di Indonesia. 2011. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.. 2011. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. (http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JIN/article/viewFile/768/711
(http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JIN/article/viewFile/768/711 ).). DiaksesDiakses pada tanggal 27 Mei
pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 2013 pukul 19.25 WITA.19.25 WITA. Hubner,2001,
Hubner,2001, Diagnosis of the Diagnosis of the early phase of early phase of larval toxocariasis using IgG larval toxocariasis using IgG avidit avidit y.
y. Epidemiol Epidemiol Mikrobiol Mikrobiol Imunol.Imunol. Dikutip oleh Perlita Kamilia. Dikutip oleh Perlita Kamilia. Beberapa Beberapa Segi Infeksi Blastocytosis
((http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JIN/article/viewFile/768/711). http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JIN/article/viewFile/768/711). DiaksesDiakses pada tanggal 27 Mei
pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 2013 pukul 20.00 WITA.20.00 WITA. Kosasih, 1999.
Kosasih, 1999. Perbandinga Perbandingan n penghitungan penghitungan jumlah jumlah telur telur cacing cacing per per gram gram (tpg)(tpg) feses antara alat
feses antara alat hitung Universal dengan Mc Master hitung Universal dengan Mc Master . Dikutip oleh Zaenal. Dikutip oleh Zaenal Ikram.
Ikram. Metode Metode Uji Uji Apung Apung Sebagai Sebagai Teknik Teknik Pemeriksaan Pemeriksaan Telur Telur Cacing Cacing Nematoda Dalam Tinja Hew
Nematoda Dalam Tinja Hewan.an. 2004. Universitas Airlangga. Surabaya.2004. Universitas Airlangga. Surabaya. Mubarak, 2005.
Mubarak, 2005. Pengantar Kepera Pengantar Keperawatan Kwatan Komunitas I omunitas I . Sagung Seto. Jakarta.. Sagung Seto. Jakarta. Muchlis, 1985.
Muchlis, 1985. Identitas Identitas Cacing Cacing Hati Hati (Fasciola (Fasciola sp.) sp.) dan dan Daur Daur Hidupnya Hidupnya didi Indonesia.
Indonesia. Dikutip oleh Ari Puspita Dewi. Dikutip oleh Ari Puspita Dewi. Kejadian Kejadian Infeksi Infeksi Cacing Cacing HatiHati (Fasciola
(Fasciola sp)sp) Pada Sapi Potong di Kabupaten Kebume Pada Sapi Potong di Kabupaten Kebumen.n. 2011. Universitas2011. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Gajah Mada. Yogyakarta. Norman,
Norman, 1994.1994. Buku Buku Pelajaran Pelajaran Parasitologi Parasitologi Veteriner Veteriner . Gadjah Mada University. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Press. Yogyakarta. Possey, 2007.
Possey, 2007. Prinsip-Prinsip Prinsip-Prinsip Ilmu Ilmu Penyakit Penyakit Dalam Dalam Volume Volume 22. Buku. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Kedokteran EGC. Jakarta. Richard, 2008.
Richard, 2008. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan LaboratoriumTinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. EGC. Jakarta.. EGC. Jakarta. Sadarman dkk., 2007.
Sadarman dkk., 2007. Infestasi Infestasi Fasciola Fasciola sp. sp. pada pada sapi sapi Bali Bali dengan dengan sistemsistem pemeliharaan
pemeliharaan yang yang berbeda berbeda di di Desa Desa Tanjung Tanjung Rambutan Rambutan KecamatanKecamatan Kampar.
Kampar. Dikutip oleh Agus Dermawan.Dikutip oleh Agus Dermawan. Tingkat Kerentanan FasciolaTingkat Kerentanan Fasciola hepatica Pada Sapid an Kerbau di Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh hepatica Pada Sapid an Kerbau di Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar.
Besar. 2012. 2012. Universitas SyUniversitas Syiah iah Kuala. AKuala. Aceh.ceh. Soedarto, 2003.
Soedarto, 2003. Zoonosis Kedokteran Zoonosis Kedokteran. Universitas Airlangga. Surabaya.. Universitas Airlangga. Surabaya. Subronto, 2006,
Subronto, 2006, Penyakit Penyakit Infeksi Infeksi Parasit Parasit dan dan Mikroba Mikroba pada pada Anjing Anjing dan dan Kucing Kucing ,, Gadjah MadaUniversity Press. Yogyakarta.
LEMBAR ASISTENSI LEMBAR ASISTENSI
Nama
Nama : Auli: Aulia Rakhma Rakhmanan NIM
NIM : N 201 12 018: N 201 12 018 Kel
Kelompok ompok : : 1 1 (Satu)(Satu) Kelas
Kelas : : BB Asisten
Asisten : : AhmAhmad ad TarmisiTarmisi
No No ..
H