• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH (PUTM) PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH (PUTM) PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

H

H

U

U

K

K

U

U

S

S

T

T

U

U

D

D

I

I

K

K

O

O

M

M

P

P

A

A

L

L

-

-

M

M

A

A

Q

Q

D

D

Diajukan Kepada Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Pimpinan

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH (PUTM)

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

U

U

M

M

M

M

A

A

S

S

U

U

K

K

P

P

A

A

R

R

L

L

E

E

M

M

E

E

N

N

P

P

A

A

R

R

A

A

T

T

I

I

F

F

A

A

N

N

T

T

A

A

R

R

A

A

A

A

B

B

Ū

Ū

M

M

U

U

A

A

M

M

D

D

I

I

S

S

Y

Y

D

D

A

A

N

N

Y

Y

Ū

Ū

S

S

U

U

F

F

A

A

L

L

-

-

Q

Q

A

A

R

R

A

A

W

W

RISALAH

Kepada Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Kelulusan

Oleh: Lina Normayanti

NIM. 09060130

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH (PUTM)

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

YOGYAKARTA

2012

M

M

M

M

A

A

D

D

Y

Y

Kepada Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

(2)

H

H

U

U

K

K

U

U

S

S

T

T

U

U

D

D

I

I

K

K

O

O

M

M

P

P

A

A

L

L

-

-

M

M

A

A

Q

Q

D

D

Diajukan Kepada Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Pimpinan

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH (PUTM)

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

i

U

U

M

M

M

M

A

A

S

S

U

U

K

K

P

P

A

A

R

R

L

L

E

E

M

M

E

E

N

N

P

P

A

A

R

R

A

A

T

T

I

I

F

F

A

A

N

N

T

T

A

A

R

R

A

A

A

A

B

B

Ū

Ū

M

M

U

U

A

A

M

M

D

D

I

I

S

S

Y

Y

D

D

A

A

N

N

Y

Y

Ū

Ū

S

S

U

U

F

F

A

A

L

L

-

-

Q

Q

A

A

R

R

A

A

W

W

RISALAH

Kepada Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Kelulusan

Oleh: Lina Normayanti

NIM. 09060130

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH (PUTM)

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

YOGYAKARTA

2012

M

M

M

M

A

A

D

D

Y

Y

Kepada Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

(3)

NOTA DINAS PEMBIMBING

Yogyakarta, 15 Juli 2012

Kepada Yth.

Mudir PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) di

Yogyakarta

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan baik dari segi isi, bahasa, maupun teknik penulisan, dan setelah membaca risalah mahasiswa tersebut di bawah ini:

Nama : Lina Normayanti

NIM : 09060130

Judul Risalah : Hukum Masuk Parlemen ‘Studi komparatif antara Abū

Muḥammad al-Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy’ Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa risalah tersebut sudah layak diajukan untuk dimunaqosahkan.

Wassalamu’alaikum wb. wb.

Pembimbing,

Dra. Hj. Akif Khilmiyah, M. Ag. NBM. 558 603

(4)

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH Kampus I : Jln. Kaliurang

Sleman, Yogyakarta Telp/Fax.

Risalah dengan judul: Muḥammad al-Maqdisīy dan Diajukan oleh:

1. Nama 2. NIM

Telah dimunaqosahkan pada hari: sabtu

dinyatakan sah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

Ketua Sidang

Dr. Muhammad Ichsan, Lc., MA NBM. 1201-6506

iii

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH Kampus I : Jln. Kaliurang Km. 23,3 Ngipiksari, Hargobinangun, Pakem,

Sleman, Yogyakarta Telp/Fax. (0274) 895457. Kampus II : Tundan, Ngrame, Tamantirto Utara, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Telp. (0274) 6528545.

PENGESAHAN

NOMOR: IN/I/PUTM/PPM/2012

Risalah dengan judul: Hukum Masuk Parlemen ‘Studi komparatif antara Abū Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy’

: Lina Normayanti : 09060130

kan pada hari: sabtu, tanggal 23 Juni 2012 dan telah dinyatakan sah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan.

PANITIA UJIAN MUNAQOSAH

Ketua Sidang

Dr. Muhammad Ichsan, Lc., MA 6506-981116

Sekretaris Sidang/Penguji I

Ghoffar Ismail, S. Ag., M. NBM. 1201-7296 Penguji II Drs. Waharjani, M.Ag. NBM. 541 546 Yogyakarta, 25 Sya’ 15 Jul Mudir

Prof. Drs. H. Sa’ad Abdul Wahid NBM. 548

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

PENDIDIKAN ULAMA TARJIH MUHAMMADIYAH Km. 23,3 Ngipiksari, Hargobinangun, Pakem,

(0274) 895457. Kampus II : Tundan, Ngrame, Tamantirto Utara, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

‘Studi komparatif antara Abū

Juni 2012 dan telah kelulusan. Sekretaris Sidang/Penguji I Ag., M. Ag 7296-796137 Yogyakarta, 25 Sya’ban 1433 H 15 Juli 2012 M Mudir

Prof. Drs. H. Sa’ad Abdul Wahid NBM. 548 443

(5)

MOTTO

{ ُراﱠﺪﻟَا ُﻪَﺟَﺮْﺧَأ

ِّﲏْﻄُﻗ

}

ِﻪْﻴَﻠَﻋ

ﻰَﻠْﻌُـﻳ َﻻَو

ْﻮُﻠْﻌَـﻳ

ُم َﻼْﺳِْﻹَا

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

(6)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Risalah ini penulis persembahkan kepada:

Bapak, Ibu dan kakak tercinta yang telah mencurahkan segala kasih sayangnya, memberikan supportnya hingga penulis bisa menyelesaikan Risalah ini,

Kedua pamong asrama PUTM Putri selama penulis berada di Asrama, Orang-orang yang telah banyak berjasa; dosen-dosenPendidikan Ulama Tarjih

MuhammadiyahPutri,

Thalabah dan Thalibah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah,

(7)

ﻢﻴﺣﺮﻟا ﻦﻤﺣﺮﻟا ﷲا ﻢﺴﺑ

KATA PENGANTAR

ﺎَﺌﱢﻴَﺳ ْﻦِﻣَو ﺎَﻨِﺴُﻔْـﻧَأ ِروُﺮُﺷ ْﻦِﻣ ِﷲﺎِﺑ ُذﻮُﻌَـﻧَو ُﻩُﺮِﻔْﻐَـﺘْﺴَﻧَو ُﻪُﻨﻴِﻌَﺘْﺴَﻧَو ُﻩُﺪَﻤَْﳓ ِﻪﱠﻠِﻟ َﺪْﻤَْﳊا ﱠنإ

ِﺪْﻬَـﻳ ْﻦَﻣ ﺎَﻨِﻟﺎَﻤْﻋَأ ِت

ُﻪَﻟ َيِدﺎَﻫ َﻼَﻓ ْﻞِﻠْﻀُﻳ ْﻦَﻣَو ُﻪَﻟ ﱠﻞِﻀُﻣ َﻼَﻓ ُﷲا

,

َﺪْﺣَو ُﷲا ﱠﻻإ َﻪَﻟإ َﻻ ْنَأ ُﺪَﻬْﺷَأ

ُﻪَﻟ َﻚﻳِﺮَﺷ َﻻ ُﻩ

،

ﱠنَأ ُﺪَﻬْﺷَأَو

ُﻪُﻟﻮُﺳَرَو ُﻩُﺪْﺒَﻋ اًﺪﱠﻤَُﳏ

.

Segala puji hanya bagi Allah swt, penguasa alam semesta, yang telah menurunkan petunjuk untuk manusia sehingga manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada utusan Allah swt, Nabi Muhammad saw, yang telah menghibahkan hidupnya di jalan Allah swt, dan juga kepada orang-orang yang senantiasa berjuang di jalan-Nya hingga akhir zaman.

Syukur alhamdulillah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan risalah yang berjudul Hukum Masuk Parlemen ‘Studi komparatif antara Abū Muḥammad

al-Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy, guna memenuhi salah satu syarat

kelulusan di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) PP Yogyakarta. Selesainya risalah ini tentunya tidak terlepas dari peran serta dari berbagai pihak yang memberikan bimbingan dan bantuan kepada penulis. Oleh karena itu dengan rasa hormat dan terima kasih penulis sampaikan kepada:

(8)

vii

1. Bapak Prof. H. Drs. Sa’ad Abdul Wahid, selaku Mudir Pendidikan Ulama

Tarjih Muhammadiyah dan bapak Muhajir, Lc. MA selaku wakil Mudir Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah.

2. Ibu Dra. Hj. Akif Khilmiyah, M. Ag. Selaku pembimbing penulis dalam

penulisan risalah ini.

3. Bapak Humaidi dan Ibu Duroh, yang telah banyak membimbing dan

mengurus kami selama di asrama PUTM Putri.

4. Kedua orang tua dan kakak tercinta yang senantiasa mendo’akan dan sebagai

motivasi utama bagi kehidupan penulis.

5. Ibu Farida selaku TU yang telah banyak membimbing dan memberi kami

ilmu dan Musyrifah PUTM Putri, ustadzah Fitria Sari yang telah membantu penulis dalam mengoreksi dan memperbaiki risalah ini.

6. Seluruh dosen dan staf karyawan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

yang senantiasa membimbing dan membantu selama penulis belajar.

7. Teman-teman seperjuangan yang senantiasa memberi dukungan dan inspirasi

pada penulis, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Teriring do’a semoga jasa-jasa dan kebaikan mereka mendapatkan imbalan yang lebih baik dari Allah swt. Amiin.

Dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman, penulis menyadari jika masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan risalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi penyempurnaan risalah ini.

(9)

Yogyakarta, 25 Sya’ban 1433 H 15 Juni 2012 M

Penulis

Lina Normayanti NIM. 09060130

(10)

ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – LATIN

Transliterasi yang digunakan dalam risalah ini adalah transliterasi yang telah menjadi keputusan bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 158 tahun 1987, yang ringkasnya sebagai berikut:

1. Konsonan

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan

أ alif - Tidak dilambangkan

ب ba b be

ت ta t te

ث ṡa ṡ es (dengan titik di atas)

ج Jim J Je

ح ḥa ḥ ha (dengan titik di bawah)

خ kha kh ka dan ha

د dal d de

ذ żal ż zet (dengan titik di atas)

(11)

ز zai z zet

س sin s es

ش syin sy es dan ye

ص ṣad ṣ es (dengan titik di bawah)

ض ḍad ḍ de (dengan titik di bawah)

ط ṭa ṭ te (dengan titik di bawah)

ظ ẓa ẓ zet (dengan titik di bawah)

ع ‘ain ‘... koma tebalik di atas

غ gain g ge ف fa f ef ق qaf q ki ك kaf k ka ل lam l el م mim m em ن nun n en و wau w we ه ha h ha

(12)

xi

ء hamzah ... apostrof

ي ya y ye

2. Vokal

a. Vokal Tunggal

Tanda Nama Huruf Latin Nama

َ___ _ _ fathah A a __ِ___ kasrah I i ُ___ _ _ ḍammah U u b. Vokal Rangkap

Tanda dan Huruf Nama Huruf Latin Nama

.َ...

ي

fathah Ai a dan i

.

َ..

.

و

kasrah au a dan u Contoh:

َﺐَﺘَﻛ

Ditulis Kataba

(13)

َﻞَﻌَـﻓ

Ditulis fa’ala

َﺮِﻛُذ

Ditulis żukira

ُﺐَﻫْﺬَﻳ

Ditulis yażhabu

َﻞِﺌُﺳ

Ditulis su’ila

3. Maddah

Harakat dan huruf Nama Huruf dan tanda Nama

. َ...

ا

.

. َ...

ى

fathah dan alif

atau ya

Ā a dan garis di atas

ِ....

.

ى

Kasrah dan ya Ī i dan garis di

bawah

. ُ....

و

ḍammah dan

wau

Ū u dan garis di atas

Contoh:

َلﺎَﻗ

Ditulis qāla

(14)

xiii

َﻞْﻴِﻗ

Ditulis Qīla

ُلْﻮُﻘَـﻳ

Ditulis Yaqūlu

4. Ta Marbutah

Transliterasi untuk ta marbutah ada dua yaitu: 1. Ta marbutah hidup

2. Ta marbutah yang hidup atau mendapat harkat fathah, kasrah, dan dammah, transliterasinya adalah /t/

3. Ta marbutah yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah /h/

Jika pada kata yang terakhir dengan ta marbutah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta marbutah itu transliterasinya ha.

Contoh:

لﺎَﻔْﻃَﻷْا ُﺔَﺿْوَر

ditulis rauḍah al-aṭfāl

ةَرَﻮَـﻨُﳌْا ُﺔَﻨْـﻳِﺪَﳌْا

ditulis al-madīnah al-munawwarah

(15)

5. Syaddah (tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam system tulisan arab dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tanda tasydid, dalam transliterasi tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf sama dengan huruf yang diberi tanda tasydid. Contoh:

ﺎَﻨﱠـﺑَر

Ditulis Rabbanā

َلﱠﺰَـﻧ

Ditulis Nazzala

ﱡِﱪﻟْا

Ditulis al-birru

ﱡﺞَﳊْا

Ditulis al-ḥajju

َﻢﱢﻌُـﻧ

Ditulis nu’’ima 6. Kata sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf alif lam

(لا). Namun dalam transliterasi ini kata sandang dibedakan atas kata sandang yang

diikuti oleh huruf syamsiyyah dan kata sandang yang diikuti oleh huruf

(16)

xv

1. Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyyah ditransliterasikan sesuai bunyinya, yaitu huruf /1/ diganti dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu.

2. Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Baik diikuti oleh huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyyah kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan tanda sandang. Contoh:

ُﻞُﺟﱠﺮﻟا

Ditulis ar-rajulu

ُةَﺪﱢﻴﱠﺴﻟا

Ditulis as-sayyidatu

ُﺲﻤﱠﺸﻟا

Ditulis asy-syamsu

ُﺮَﻤَﻘﻟْا

Ditulis al-qamaru

ُﻊْﻳِﺪَﺒﻟْا

Ditulis al-badī’u

ُلَﻼَﳉْا

Ditulis al-jalālu 7. Hamzah

Dinyatakan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan apostrof. Namun hanya berlaku bagi hamzah yang terletak ditengah dan diakhir kata. Bila hamzah

(17)

itu terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif. Contoh:

ﱠﻨﻟا

ُءﻮ

Ditulis an-nau’u

ٌءْﻲَﺷ

Ditulis syai’un

ﱠنِإ

Ditulis Inna

ِﻣُأ

ُتْﺮ

Ditulis Umirtu

َﻞَﻛَأ

Ditulis Akala 8. Penulisan kata

Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim maupun harf, ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harkat yang dihilangkan, maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata yang lain yang mengikutinya.

Contoh:

َﻮَُﳍ َﷲا ﱠنِإَو

َْﲔِﻗِزاﱠﺮﻟا ُﺮْـﻴَﺧ

ditulis -Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqīna.

(18)

xvii

-Wa innallāha lahuwa

khairur-rāziqīna.

َﻜْﻟا اْﻮُـﻓْوَﺄَﻓ

َناَﺰْـﻴِﻤْﻟاو َﻞْﻴ

ditulis -Fa aufū al-kaila wa al-mīzāna. -Fa auful-kaila wal-mīzān.

ﺎَﻬَﺳْﺮُﻣَو َﺎﻫِﺮَْﳎ ِﷲا ِﻢْﺴِﺑ

ditulis Bismillāhi majrēhā wa mursāhā

َو

َعﺎَﻄَﺘْﺳا ِﻦَﻣ ِﺖْﻴَـﺒْﻟا ﱡﺞِﺣ ِسﺎﱠﻨﻟا ﻰَﻠَﻋ ِﷲ

َﻼْﻴِﺒَﺳ ِﻪْﻴَﻟِإ

ditulis -Wa lillāhi ‘alan-nāsi hijju al-baiti

man-istaṭā’a ilaihi sabīlā.

-Wa lillāhi ‘alan-nāsi ḥijjul-baiti manistaṭā’a ilaihi sabīlā.

9. Huruf kapital

Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital dikenal, namun dalam transliterasi ini huruf tersebut dipergunakan huruf kapital seperti apa yang berlaku dalam EYD, di antaranya:

Huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri dan permulaan kalimat. Bila nama diri itu didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf yang nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.

(19)

ﺎَﻣَو

ٌلْﻮُﺳَر ﱠﻻِإ ٌﺪَﻤَُﳏ

ditulis Wa mā Muhammadun illā rasūlun

َلﱠوَأ ﱠنِإ

ﱡو ٍﺖْﻴَـﺑ

ِسﺎﱠﻨﻠِﻟ َﻊِﺿ

َﻟ

َﺔَﻜَﺒِﺑ ْيِﺬﱠﻠ

ُﻣ

ﺎًﻛَرﺎَﺒ

ditulis Inna awwala baitin wuḍi’a linnāsi

lallażi bi Bakkata mubārakan

َر ُﺮْﻬَﺷ

َلِﺰْﻧٌأ ْيِﺬﱠﻟا َنﺎَﻀَﻣ

ُنَأْﺮُﻘْﻟا ِﻪْﻴِﻓ

ditulis -Syahru Ramaḍāna al-lazī unzila fīh

al-Qur’ānu

-Syahru Ramaḍānal-lazī unzila fīhil-Qur’ānu

َر ْﺪﻘَﻟَو

َءا

ِْﲔِﺒُﻤْﻟا ِﻖُﻓُْﻷﺎِﺑ ُﻩ

ditulis -Wa laqad ra’āhu bi ufuq

al-mubīni

-Wa laqad ra’āhu bil-ufuqil-mubīni.

ُﺪْﻤَْﳊَا

ّﻠِﻟ

َْﲔِﻤَﻟﺎَﻌْﻟا ﱢبَر ِﻪ

ditulis Alḥamdulillāhi rabbi al-‘ālamīna

(20)

xix

ABSTRAK

Islam adalah agama yang lengkap dan mencakup semua aspek kehidupan. Allah swt tidak menjadikan urusan agama ini sebagai sebuah etika internal khusus untuk orang-orang suci yang hanya berada di dalam sebuah tempat ibadah dan terputus dengan dunia luar, bahkan ayat-ayat al-Qur’an al-Karīm sangat banyak berbicara mengenai aturan hidup manusia dan syarī’at yang harus ditegakkan. Dan mustahil untuk menegakkan ajaran Islam secara kāffah bila tidak menguasai dunia politik. Duduknya seorang Muslim di parlemen adalah sebuah upaya untuk meresmikan hukum Allah swt agar bisa diakui oleh masyarakat sebagai hukum positif. Misi seorang Muslim adalah bagaimana menjadikan ayat-ayat al-Quran dan as-Sunnah resmi diakui sebagai undang-undang negara. Bila belum bisa semua secara sekaligus, tentu harus satu persatu. Hal ini mengingat bahwa negara Indonesia ini secara resmi tidak mengakui hukum Islam secara total, kecuali hanya beberapa bagian kecil saja. Oleh karena itu pentingnya ada seorang Muslim atau jama’ah Islam yang komitmen bergabung di dalamnya. Namun, dalam perjalanannya terdapat beberapa pendapat yang menginterpretasikan berbeda, ada yang mengharamkan dan ada yang pula yang membolehkan. Mengkaji pendapat Abū Muḥammad al-Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen sangat menarik karena keduanya sama-sama mengalami pergolakan politik pada masanya. Oleh karena itu, penulis bermaksud menuliskan risalah

mengenai hukum masuk parlemen untuk mengetahui hukumnya dan

menggambarkan pendapat Maqdisīy dan Qarḍawīy agar dapat mengetahui pendapat keduanya dan juga mengetahui persamaan dan perbedaan pendapat di antara keduanya.

Metode yang digunakan dalam penulisan risalah ini adalah metode pustaka

(library research). Sumber data terbagi menjadi sumber primer dan sekunder.

Diantara sumber primer adalah buku-buku dan makalah karya Maqdisīy dan Qarḍawīy, sedangkan sumber sekunder adalah buku-buku pendukung yang berkaitan dengan risalah ini. Jika data telah terkumpul, dilakukan analisis data dengan cara menghimpun lalu menganalisa data yang sudah ada (content

analysis).

Risalah ini berkesimpulan, Abū Muḥammad al-Maqdisīy berpendapat bahwa hukum masuk parlemen ialah haram berdasarkan dalil-dalil yang qath’īy, sedangkan Yūsuf al-Qarḍawīy menggabungkan antara mengharamkan dan membolehkan masuk parlemen. Persamaan antara pendapat Maqdisīy dan Qarḍawīy ialah keduanya sama-sama berpendapat tidak membolehkan masuk parlemen, namun Qarḍawīy menggabungkan antara melarang dan membolehkan, dan Qarḍawīy membolehkannya dengan beberapa syarat. Dan tidak terdapat perbedaan di antara pendapat Maqdisīy dan Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen, keduanya hanya berbeda dalam hal pergerakan, yang mana Qarḍawīy ikut terlibat dalam pergerakan Ikhwānul Muslimin sedangkan Maqdisīy dalam pergerakan Salafi Jihadīy yang lebih meruju’ pada menjahrkan dakwah para Nabi dan Rasul.

(21)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

NOTA DINAS PEMBIMBING...ii

PENGESAHAN RISALAH...iii

MOTTO ...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ...vi

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ...ix

ABSTRAK...xix

DAFTAR ISI... xx

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan...4

D. Tinjauan Pustaka ... 5

E. Metode Penulisan ... 6

F. Sistematika Pembahasan ...8

BAB II BIOGRAFI KEDUA ULAMA ... 9

(22)

xxi

2. Riwayat pendidikan ... 9 3. Kondisi sosial ... 9 4. Karya tulis Maqdisīy ...10 B. Biografi Yūsuf Qarḍawīy ... 11

1. Latar belakang ... 11 2. Riwayat pendidikan ...11 3. Kondisi sosial ... 12 4. Karya tulis Qarḍawīy ... 12 BAB III PENDAPAT MAQDISῙY DAN QARḌAWῙY MENGENAI HUKUM MASUK PARLEMEN... 15

A. Pendapat Abū Muḥammad al-Maqdisīy ... 15 B. Pendapat Yūsuf al-Qardhawīy ... 19

C. Perbandingan Pendapat antara Maqdisīy dan Qarḍawīy ...30

1. Persamaan Pendapat ... 34 2. Perbedaan Pendapat ... 35 3. Bagan Persamaan dan Perbedaan Pendapat Kedua Ulama ... 36 BAB IV PENUTUP ... 37 A. Kesimpulan ... 37 B. Saran ... 38 DAFTAR PUSTAKA ... 39 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 40

(23)

1

B

BAABBII

P

PEENNDDAAHHUULLUUAANN

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang lengkap dan mencakup semua aspek kehidupan. Allah swt tidak menjadikan urusan agama ini sebagai sebuah etika internal khusus untuk orang-orang suci yang hanya berada di dalam sebuah tempat ibadah dan terputus dengan dunia luar, bahkan ayat-ayat al-Qur’an al-Karīm sangat banyak berbicara mengenai aturan hidup manusia dan syarī’at yang harus ditegakkan. Dan mustahil untuk menegakkan ajaran Islam secara kāffah bila tidak menguasai dunia politik.1

Karena hakikat Islam itu adalah memimpin peradaban manusia, baik bagi yang beriman kepada Allah swt maupun yang tidak. Sebagaimana firman Allah swt:

ﻰَﺳﻮُﻣَو َﻢﻴِﻫاَﺮْـﺑِإ ِﻪِﺑ ﺎَﻨْـﻴﱠﺻَو ﺎَﻣَو َﻚْﻴَﻟِإ ﺎَﻨْـﻴَﺣْوَأ يِﺬﱠﻟاَو ﺎًﺣﻮُﻧ ِﻪِﺑ ﻰﱠﺻَو ﺎَﻣ ِﻦﻳﱢﺪﻟا َﻦِﻣ ْﻢُﻜَﻟ َعَﺮَﺷ

ْنَأ ﻰَﺴﻴِﻋَو

ُﻗﱠﺮَﻔَـﺘَـﺗ َﻻَو َﻦﻳﱢﺪﻟا اﻮُﻤﻴِﻗَأ

ِﻪﻴِﻓ اﻮ

...

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya….2

1

Harmen Hadi, Implementasi Hukum Islam pada Era Otonomi Daerah di Kabupaten 50 kota ‘Studi atas Peran Parlemen Nagari atau BPAN’, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga) hlm. 23.

(24)

2

Duduknya jama’ah Islam atau seorang Muslim di parlemen adalah sebuah upaya untuk meresmikan hukum Allah swt agar bisa diakui oleh masyarakat sebagai hukum positif. Misi seorang Muslim adalah bagaimana menjadikan ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah menjadi resmi diakui sebagai undang-undang negara. Bila belum bisa semua secara sekaligus, tentu harus satu persatu.

Semua itu adalah sunnatullah dan ciri khas dakwah para nabi dan Rasul, serta contoh nyata perjuangan para salafush-shalih, yang tidak pernah meninggalkan perjuangan untuk menerapkan syarī’at Islam hanya karena umatnya belum mau menerima langsung sepenuhnya.

Hal ini mengingat bahwa negara Indonesia ini secara resmi tidak mengakui hukum Islam secara total, kecuali hanya beberapa bagian kecil saja. Jika kita masih mengakui eksistensi negara ini, maka kewajiban kita adalah memperjuangkan secara resmi dan penuh dengan legitimasi agar lebih banyak lagi hukum Islam yang bisa diakui dan berlaku di negara ini.

Namun sebaliknya, bila kita beranggapan tidak boleh memperjuangkan tegaknya hukum Islam di dalam konstitusi negara, konsekuensinya kita pun tidak boleh mengakui keberadaan negara ini.3Sebuah sikap yang tidak konsekuen dengan realita yang ada. Sebab Rasulullah saw pun bisa melihat realitas bahwa di sekelilingnya ada banyak negara besar yang tidak menjalankan hukum Allah. Bahkan secara resmi

(25)

3

Rasulullah saw berkirim surat kepada para penguasa dunia lengkap dengan stempel resmi kenabian. Artinya, beliau saw mengakui keberadaan negara-negara kafir itu.

Sementara, negara kita sebenarnya tidak seratus persen kafir, sebab mayoritas penduduknya muslim dan para pemegang tampuk kekuasaannya pun orang-orang Islam. Bahkan tidak semua hukum Islam ditolak, meski yang tertampung di dalam hukum positif negeri ini terlalu sedikit.4

Kalau pun terdapat seorang muslim yang belum mampu berjuang menegakkan Islam lewat kesempatan masuk parlemen, minimal orang tersebut tidak boleh menghalangi niat orang lain yang sudah mempunyai kesempatan. Sebaliknya, orang tersebut justru harus mendo’akan perjuangan seorang muslim yang ikut terlibat di dalamnya agar berhasil berdiplomasi untuk semakin banyak memasukkan syarī’at Islam di negeri ini.

Mengkaji pendapat Abū Muḥammad al-Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen sangat menarik karena keduanya sama-sama mengalami pergolakan politik pada masanya. Karena itulah di dalam risalah ini penulis akan mendeskripsikan pendapat Maqdisīy dan Qarḍawīy dan menganalisa latar belakang pemikirannya dengan pendekatan sosio-politik. Kemudian mendeskripsikan secara analitik bagaimana pandangan Maqdisīy dan Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen.

4Abdul Rahman, “Kuota Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen di Indonesia Perspektif

(26)

4

Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk mengangkat pembahasan mengenai hukum masuk parlemen yaitu karena ketidaktahuan umat tentang hakikat hukum tersebut, serta adanya perbedaan pendapat mengenai hukum masuk parlemen.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, terdapat beberapa hal yang menjadi pokok masalah dalam penulisan ini, antara lain:

1. Bagaimana pendapat Abū Muḥammad al-Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen ?

2. Apa persamaan dan perbedaan pendapat antara Maqdisīy dan Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan 1. Tujuan penulisan

Tujuan dalam penulisan ini adalah:

a. Menggambarkan pendapat Abū Muḥammad Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen.

b. Menemukan persamaan dan perbedaan antara pendapat Maqdisīy dan Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen.

2. Kegunaan Penulisan

Manfaat yang dapat diambil dari penulisan ini adalah: a. Secara teoritis

(27)

5

Penulisan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi tentang penentuan sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang Muslim mengenai masuk ke dalam parlemen.

b. Secara Praktis

Penulisan ini diharapkan dapat menjadi manfaat bagi seorang Muslim yang akan masuk parlemen, khususnya bagi orang Islam yang telah terlibat di dalamnya.

D. Tinjauan Pustaka

Pembahasan mengenai Parlemen telah banyak dibahas dan dikaji, di antara buku dan skripsi yang membahas tentang masuk parlemen, ialah:

Buku yang berjudul “Islam dan Parlementarisme” yang ditulis oleh Z. A. Ahmad, dalam buku ini membahas tentang pentingnya prinsip-prinsip Islam diterapkan dalam pemerintahan non Islam. Dalam buku ini berkesimpulan bahwa hendaklah umat Islam mengejar ketinggalan yang sudah 1000 tahun lamanya. Mengenang “Islam-glory” semata-mata tidak akan ada gunanya jika kita sendiri yang hidup di dalam zaman yang serba modern ini tidak bersungguh-sungguh untuk mengobar-ngobarkan kembali pengajaran musyawarah yaitu memperjuangkan Ulil Amri dan menerapkan syari’at Islam ke dalam Parlemen.5

Skripsi yang ditulis oleh Harmen Hadi yang berjudul “Implementasi Hukum

Islam pada Era Otonomi Daerah di Kabupaten 50 kota ‘Studi atas Peran Parlemen

(28)

6

Nagari atau BPAN’”. Skripsi ini membicarakan tentang mencermati perkembangan

penerapan hukum Islam dalam Parlemen.6

Skripsi yang berjudul “Kuota Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen di

Indonesia Perspektif Hukum Islam”, dalam skripsi ini membahas tentang bolehnya

masuk parlemen termasuk di dalamnya wanita.7

Perbedaannya dengan risalah yang penulis susun, dalam skripsi yang telah disebutkan di atas hanya menjelaskan tentang bolehnya masuk parlemen saja tanpa menyebutkan pendapat ulama dan mengkomparasikannya, sedangkan tulisan ini mengungkapkan pendapat antara Abū Muḥammad Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy dan mengkomparasikan antara pendapat keduanya.

E. Metode Penulisan

1. Jenis dan Sifat Penulisan

Penulisan ini termasuk jenis penulisan pustaka (library research), yaitu penulisan yang menggunakan buku-buku sebagai sumber datanya. Sedangkan sifat penulisan ini adalah deskriptif studi perbandingan.8

6 Harmen Hadi, Implementasi Hukum Islam pada Era Otonomi Daerah di Kabupaten 50 kota

‘Studi atas Peran Parlemen Nagari atau BPAN’, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga) hlm. 80.

7 Imam Abdul Rahman, “Kuota Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen di Indonesia

(29)

7

2. Pengumpulan Data

Karena kajian ini adalah kajian kepustakaan, maka sumber datanya adalah karya yang dihasilkan oleh Maqdisīy dan Qarḍawīy, atau disebut juga dengan data utama (primer). Adapun karya-karya dalam kategori tersebut adalah buku yang berjudul Millah Ibrāhim Dakwah Para Nabi dan Rasul9 dan buku yang berjudul

Min Fiqh ad-Daulah fil Islam10, sedangkan sumber bantuan atau tambahan

(sekunder) adalah Buku yang berjudul “Islam dan Parlementarisme”11 skripsi yang berjudul Implementasi Hukum Islam pada Era Otonomi Daerah di

Kabupaten 50 kota ‘Studi atas Peran Parlemen Nagari atau BPAN’12dan skripsi

yang berjudul Kuota Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen di Indonesia

Perspektif Hukum Islam.13

3. Analisis Data

8

Deskriptif studi komparatif merupakan bentuk penelitian deskriptif yang mengkomparatifkan antara dua atau lebih dari dua situasi, kejadian, kegiatan, program atau lainnya yang sejenis atau hampir sama.

9 Abū Muḥammad al-Maqdisīy, Millah Ibrahim Dakwah Para Nabi dan Rasul, (Tangerang: Ar

Rahmah Media, 2007) hlm. 1.

10 Dr. Yūsuf al-Qarḍawīy, Fiqh ad-Daulah fil Islam, (Kairo: Dzar asy-Syurūq) hlm. 1. 11A. Ahmad, Islam dan Parlementarisme, (Jakarta: Pustaka Aida, 1952) hlm. 1.

12 Harmen Hadi, Implementasi Hukum Islam pada Era Otonomi Daerah di Kabupaten 50 kota

‘Studi atas Peran Parlemen Nagari atau BPAN’, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga) hlm. 1.

13 Imam Abdul Rahman, “Kuota Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen di Indonesia

(30)

8

Jika data telah terkumpul, dilakukan analisis data dengan cara menghimpun lalu menganalisa data yang sudah ada (content analysis).14

4. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan historis, yaitu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui latar belakang sosio-kultural seorang ulama dan sosio-politik seorang ulama, karena pendapat seorang ulama merupakan hasil interaksi dengan lingkungannya itu.15

Metode sosio-historis dimaksudkan sebagai suatu metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, agama atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan dan lingkungan dimana kepercayaan, ajaran dan kejadian tersebut muncul.

F. Sistematika Pembahasan

Penulisan risalah ini disusun dengan menggunakan uraian yang sistematis untuk memudahkan pengkajian dan pemahaman terhadap persoalan yang ada.

Adapun sistematika dalam penulisan risalah ini sebagai berikut:

14Sukmadinata, Nana Syaodih, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rosda, cetakan ke

2, Juli 2006) hlm. 9.

15Atho Muzdhar, Membaca Gelombang Ijtihad antara Tradisi dan Liberasi, (Yogyakarta: Titian

(31)

9

Bab I adalah pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah yang akan dianalisis, tujuan dan kegunaan penulisan, tinjauan pustaka, metode penulisan serta sistematika pembahasan untuk mengarahkan pembaca kepada substansi penulisan ini.

Bab II berisi tentang biografi ulama, meliputi sketsa biografi, kondisi sosial, latar belakang keluarga dan pendidikan Abū Muḥammad Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy.

Bab III berisi tentang pendapat Abū Muḥammad Maqdisīy dan Yūsuf al-Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen. Dan Penulis menganalisis dan mengkomparasikan antara pendapat Maqdisīy dan Qarḍawīy mengenai hukum masuk parlemen.

BAB IV merupakan penutup yang mencakup kesimpulan dan saran. Pada bagian akhir disertakan daftar pustaka.

(32)

9

BAB II

BIOGRAFI KEDUA ULAMA

A. Biografi Abū Muḥammad al-Maqdisīy 1. Latar belakang

Nama lengkap Abū Muḥammad al-Maqdisīy adalah Abū Muḥammad ‘Ashīm bin Muhammad bin Ṭahir al-Barqawīy, masyhurnya Maqdisīy, nasabnya al ‘Utaibīy, dari desa Barqa wilayah Nahlas di Yordania, Maqdisīy dilahirkan di desa tersebut tahun 1378 H.1

2. Riwayat Pendidikan

Maqdisīy meninggalkan daerahnya setelah tiga atau empat tahun bersama keluarganya menuju ke Kuwait, di sana Maqdisîy menetap dan menyelesaikan studi SMU-nya di sana, kemudian ia studi keilmuan di universitas Mosul di utara Irak atas dasar keinginan ayahnya. Dan di sana Maqdisîy berhubungan dengan banyak jama’at dan harakat Islamiyyah yaitu pergerakan Salafi Jihadīy.2

3. Kondisi Sosial

Pada tahun 1994 M Maqdisīy ditangkap bersama sejumlah ikhwan muwahhidin yang telah diberi fatwa oleh Maqdisīy akan kebolehan melakukan

1 Abu, Biografi syeikh Abu Muḥammad Al Maqdisi, <http://okitoink.multiply.com/journal

/item/47?& show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem> diakses pada tanggal 15 Mei 2012.

(33)

10

operasi (jihad) melawan penjajahan zionis di Palestina dengan bahan-bahan peledak.

Maqdisīy melanjutkan dakwahnya di dalam penjara, dan menulis banyak risalah-risalahnya di sana. Dan di antara yang paling pertama ditulis di penjara adalah silsilah “Yā Shāhibay as-Sijn, Arbābun Mutafarriqūna Khairun am Allah al-Wahīd al-Qahhār” dan dimuatlah di dalamnya materi-materi yang beraneka ragam seputar Tauhid, Millah Ibrāhim, Ibadah serta Syirik sehingga dakwah ini tersebar di kalangan orang-orang yang ditahan dengan karunia Allah.

Maqdisīy mendekam beberapa tahun di penjara-penjara Yordania, kemudian dibebaskan setelah itu, walaupun Maqdisīy tetap terus dipersempit geraknya. Dan Maqdisīy melanjutkan tulisan-tulisan dan dakwahnya kemudian diciduk kembali setelah itu oleh pihak dinas intelijen Yordania berkali-kali dalam waktu-waktu yang terbatas setiap setelah kegiatan di negeri ini.3

4. Karya tulis Maqdisīy

Abū Muḥammad al-Maqdisīy memiliki kurang lebih 154 karya, diantara karya-karyanya adalah:

a. Millah Ibrāhim wa Dakwah al-Anbiyā’ wa al-Mursalīn

b. Ar-Risālah ats-Tsalātsiniyyah fī at-Tahdzīr min Ghulluw fī at-Takfīr c. Al-Qaul an-Nafīs fī at-Tahdzīr min Khādī‘ati Iblis

d. Ad-Dimuqrāthiyyah Dīn

(34)

11

e. Kasyfu Syubuhāt al-Mujādilin ‘an Asākir asy-Syirk f. Lā Tahzan Inna Allah Ma’anā

g. Masyrū’ asy-Syarqīy al-Ausath al-Kabīr

h. Al-Kawāsyif al-Jaliyyah fī Kufri Daulah as-Su‘udiyyah i. Imta‘un Nazhar fī Kasyf Syubuhat Murji‘ah al-‘Ashri j. Tabṣarul ‘Uqula bi Talbisat Ahli Tajahhumi wal Irja’.4

B. Biografi Yūsuf Qarḍawīy 1. Latar belakang

Di berbagai negara di dunia, nama Dr. Yūsuf Qarḍawīy sangat populer. Qarḍawīy dikenal sebagai ulama yang berani dan kritis. Pandangannya sangat luas dan tajam. Karena itu, banyak pihak yang merasa 'gerah' dengan berbagai pemikirannya yang seringkali dianggap menyudutkan pihak tertentu, termasuk pemerintah Mesir.5

2. Riwayat Pendidikan

Qarḍawīy menyelesaikan pendidikannya di Ma'hād Thantha dan Ma'hād Tsanawīy. Setelah itu, Qarḍawīy kemudian melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin, dan lulus tahun 1952.6

4

Ibid.

5Hidayatullah, Biografi Dr. Yusuf Qardhawi, <

http://tokoh-muslim.blogspot.com/2009/01/dr-yusuf-qardhawi.html> diakses pada tanggal 15 Mei 2012.

(35)

12

3. Kondisi Sosial

Saat berusia 23 tahun, Qarḍawīy muda harus mendekam di penjara akibat keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwānul Muslimīn saat Presiden Mesir masih dijabat Raja Faruk tahun 1949. Setelah bebas dari penjara, Qarḍawīy kembali menyuarakan kebebasan. Karena khutbah-khutbahnya yang keras, dan mengecam ketidakadilan yang dilakukan rezim berkuasa, Qarḍawīy harus berurusan dengan pihak berwajib. Bahkan Qarḍawīy sempat dilarang untuk memberikan khutbah di sebuah Masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu.

Akibatnya, pada bulan april tahun 1956 Qarḍawīy kembali ditangkap saat terjadi Revolusi di Mesir. Setelah beberapa bulan, pada Oktober 1956, Qarḍawīy kembali mendekam di penjara militer selama dua tahun. Setelah berkali-kali mendekam dibalik jeruji besi, Qarḍawīy akhirnya meninggalkan Mesir tahun 1961 menuju Qatar. Di Qatar ini, Qarḍawīy lebih leluasa mengungkapkan pemikiran-pemikirannya.7

4. Karya tulis Qarḍawīy

a. Dalam bidang Fiqh dan Usul Fiqh

Sebagai seorang ahli fiqh, Qarḍawīy telah menulis sedikitnya 14 buah buku, baik Fiqh maupun Ushūl Fiqh. Antara lain, Halāl wa Harām fī Islam,

(36)

13

Ijtihād fī al-Sharī'at al-Islamiyyah, Fiqh al-Siyām, Fiqh al-Tahārah, Fiqh al-Ghina' wa al-Musiqā.

b. Ekonomi Islam

Dalam bidang ekonomi Islam, buku karya Qarḍawīy antara lain, Fiqh Zakat, Bay'u al-Murābahah li al-Amri bi al-Shirā (Sistem jual beli al-Murābah), Fawā'id al-Bunuk Hiya al-Riba al-Harām (Manfaat Diharamkannya Bunga Bank), Dawr al-Qiyām wa al-Akhlāq fī al-Iqtishād al-Islāmi (Peranan nilai dan akhlak dalam ekonomi Islam), serta Dur al-Zakāt fī alaj al-Musykilāt al-Iqtiṣādiyyah (Peranan zakat dalam Mengatasi Masalah ekonomi).

c. Pengetahuan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah.

Qarḍawīy menulis sejumlah buku dan kajian mendalam terhadap metodologi mempelajari al-Qur’an, cara berinteraksi dan pemahaman terhadap al-Qur’an maupun as-Sunnah. Buku-bukunya antara lain al-Aql wa al-Ilm fi al-Qur’an (Akal dan Ilmu dalam al-Quran), al-Sabru fi al-Quran (Sabar dalam al-Qur’an), Tafsir Surah al-Ra'd dan Kayfa Nata'āmal ma'a al-Sunnah al-Nabawiyyah (Bagaimana berinteraksi dengan sunnah).

(37)

14

d. Akidah Islam

Dalam bidang ini Qarḍawīy menulis sekitar empat buku, antara lain Wujud Allah (Adanya Allah), Haqiqat at-Tauhīd (Hakikat Tauhid), Iman bi Qadr (Keimanan kepada Qadar).

Selain karya diatas, Qarḍawīy juga banyak menulis buku tentang Tokoh-tokoh Islam seperti al-Ghazali, Para Wanita Beriman dan Abū Hasan al-Nadwi. Qarḍawīy juga menulis buku Akhlak berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, Kebangkitan Islam, Sastra dan Syair serta banyak lagi yang lainnya.8

8

(38)

15

BAB III

PENDAPAT MAQDISῙY DAN QARḌAWῙY MENGENAI HUKUM MASUK PARLEMEN

A. Pendapat Abū Muḥammad al-Maqdisīy

Dalam pandangan Abū Muḥammad al-Maqdisīy, setiap negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah swt dan juga tidak mengamalkan hukum-hukum-Nya, maka tidak boleh bagi seorang muslim ikut serta menjadi anggota pada majelis negara tersebut ataupun parlemennya. Dan Maqdisīy menyebutkan bahwa parlemen merupakan jalan kekafiran, karena seandainya seorang Muslim bergabung di dalamnya dan ikut serta dalam membuat undang-undang maka hal itu tidak akan menjadi hukum Allah, akan tetapi hal itu adalah hukum undang-undang, hukum rakyat, dan hukum mayoritas. Tidak akan menjadi hukum Allah kecuali saat adanya berserah diri dan menerima sepenuhnya firman Allah, lapang dada untuk menerima syari'at-Nya dan untuk menghambakan diri kepada-Nya swt.1

Dalam bukunya Demokrasi sesuai ajaran Islam?2, Maqdisīy juga menjelaskan bahwa saat menerima penuh ajaran demokrasi, syari'at undang-undang, dan hukum rakyat serta hukum mayoritas, maka itu adalah hukum thaghut meskipun pada saat yang bersamaan sesuai dengan hukum Allah dalam beberapa bentuknya, karena Allah swt telah berfirman:

1 Abū Muḥammad al-Maqdisīy, Millah Ibrāhim Dakwah Para Nabi dan Rasul, (Tangerang:

Ar-Rahmah Media, 2007) hlm. 154.

2 Abū Muḥammad al-Maqdisīy, Demokrasi Sesuai dengan Ajaran Islam?, (Tangerang:

(39)

16

ِﻪﱠﻠِﻟ ﱠﻻِإ ُﻢْﻜُْﳊا ِنِإ

“Keputusan (hukum) itu hanyalah milik Allah.”3

Allah tidak mengatakan: “Keputusan itu hanyalah milik manusia," dan Allah swt juga berfirman:

ُﻪﱠﻠﻟا َلَﺰْـﻧَأ ﺎَِﲟ ْﻢُﻬَـﻨْـﻴَـﺑ ْﻢُﻜْﺣا ِنَأَو

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.”4

Allah tidak berfirman: “menurut seperti apa yang Allah turunkan," atau "dan hendaklah putuskan di antara mereka menurut apa yang ditegaskan oleh hukum dan undang-undang buatan," justru itu adalah ucapan kaum musyrikin dari kalangan budak-budak demokrasi dan para penyembah undang-undang bumi.5

Oleh karena itu Maqdisīy berpendapat bahwa tidak ada manfaatnya bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam hukum yang tidak diturunkan oleh Allah, karena dampak keikutsertaan ini tidak memberikan manfaat secara konkrit, karena menurut Maqdisīy biasanya kelompok kecil yang ingin menegakkan syariat ini suaranya dikalahkan oleh kelompok lain yang pada akhirnya orang Islam tidak memperoleh apa-apa kecuali fitnah bagi dirinya sendiri.6

Maqdisīy dengan tegas menyatakan “apa yang telah diisyaratkan kepadanya, yaitu lembaga-lembaga yang didirikan oleh para thaghut, seperti parlemen (MPR/DPR/DPRD) majelis-majelis umat (MPR) dan yang serupa dengannya. Supaya di dalamnya mereka mengumpulkan lawan-lawan mereka dari kalangan para du’at dan yang lainnya, mereka duduk bersama-sama, berdampingan serta berbaur

dengannya sehingga mereka membancikan (mengaburkan/memandulkan)

permasalahan itu di antara mereka, akhirnya masalah itu tidak lagi menjadi masalah

3 Yūsuf (12) : 40. 4 Al-Mā’idah (5) :49.

5 Abū Muḥammad al-Maqdisīy, Demokrasi Sesuai dengan Ajaran Islam?, (Tangerang:

Ar-Rahmah Media, 2007) hlm. 107.

6 Abū Muḥammad al-Maqdisīy, Millah Ibrāhim Dakwah Para Nabi dan Rasul, (Tangerang:

(40)

17

baru dari mereka atau kufur terhadap UU dan UUD mereka atau mencabut diri dari kebatilan mereka seluruhnya, namun yang terjadi adalah ta’awun, saling bergandeng tangan, saling menasehati, duduk di meja rembukan dalam rangka kepentingan negeri, ekonominya, keamanannya dan demi kepentingan tanah air yang dikendalikan oleh thaghut dan diatur berdasarkan keinginan-keinginannya dan kekafiran-kekafirannya. Ini adalah penyimpangan fatal yang mana kami mengetahui orang-orangnya dan kami melihat mayoritas mereka itu dari kalangan yang mengaku bermanhaj salaf atau orang-orang yang sering merujuk perkataan Sayyid Quthub dan yang semisalnya, namun demikian setelah mereka itu jatuh di dalam penyimpangan ini, mereka sekarang bertepuk tangan untuk para thaghut, berdiri untuk mereka sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan.”7

Maqdisīy menggunakan dasar dalam firman Allah swt mengenai strategi-strategi orang kafir bahwa Allah memberikan kepada kaum muslimin solusi dan obat dan membimbing kepada jalan yang benar, sebagaimana firman Allah swt:

َنﻮُﻨِﻫْﺪُﻴَـﻓ ُﻦِﻫْﺪُﺗ ْﻮَﻟ اوﱡدَو

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap

lunak (pula kepadamu).”8

َﲔِﺑﱢﺬَﻜُﻤْﻟا ِﻊِﻄُﺗ َﻼَﻓ

“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).”9

Dan semisal hal itu adalah firman-Nya swt:

ْﻟا َﻚْﻴَﻠَﻋ ﺎَﻨْﻟﱠﺰَـﻧ ُﻦَْﳓ ﺎﱠﻧِإ

ًﻼﻳِﺰْﻨَـﺗ َنآْﺮُﻘ

)

23

(

اًرﻮُﻔَﻛ ْوَأ ﺎًِﲦآ ْﻢُﻬْـﻨِﻣ ْﻊِﻄُﺗ َﻻَو َﻚﱢﺑَر ِﻢْﻜُِﳊ ِْﱪْﺻﺎَﻓ

)

24

(

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran kepadamu (hai Muhammad)

dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan

7

Ibid, hlm. 154.

8

Al-Qalam (68) : 9.

(41)

18

Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.”10

Maqdisīy juga mengatakan dalam penyebutan al-Qur’an dan karunia Allah swt atas Nabinya dengan diturunkannya kepadanya sebelum larangan dari mena’ati orang-orang kafir yang banyak dosa, di dalamnya terdapat penjelasan akan jalan dakwah yang shahih, sesungguhnya jalan ini tidaklah dipilih oleh seorang Muslim dari dirinya sendiri, dan mereka tidak memiliki hak untuk menggariskannya atau menentukan batasan-batasannya sesuai keinginan atau pilihannya, namun itu adalah Millah Ibrahim dan dakwah para Nabi dan Rasul yang disebutkan dengan terperinci dalam al-Qur’an ini. Setelah itu Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan kepada kaum kafirin:

ْﻢُﻜُﻟﺎَﻤْﻋَأ ْﻢُﻜَﻟَو ﺎَﻨُﻟﺎَﻤْﻋَأ ﺎَﻨَﻟ

“Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.”11

Dan seperti itu pula firman-Nya kepada Nabi-Nya :

َـﻳ َﻻ َﻦﻳِﺬﱠﻟا َءاَﻮْﻫَأ ْﻊِﺒﱠﺘَـﺗ َﻻَو ﺎَﻬْﻌِﺒﱠﺗﺎَﻓ ِﺮْﻣَْﻷا َﻦِﻣ ٍﺔَﻌﻳِﺮَﺷ ﻰَﻠَﻋ َكﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ ﱠُﰒ

َنﻮُﻤَﻠْﻌ

)

18

(

َﻚْﻨَﻋ اﻮُﻨْﻐُـﻳ ْﻦَﻟ ْﻢُﻬﱠـﻧِإ

َﲔِﻘﱠﺘُﻤْﻟا ﱡِﱄَو ُﻪﱠﻠﻟاَو ٍﺾْﻌَـﺑ ُءﺎَﻴِﻟْوَأ ْﻢُﻬُﻀْﻌَـﺑ َﲔِﻤِﻟﺎﱠﻈﻟا ﱠنِإَو ﺎًﺌْﻴَﺷ ِﻪﱠﻠﻟا َﻦِﻣ

)

19

(

”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari

urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya

orang-10 Al-Insān (76) :23-24. 11 Asy-Syūra (42) :15.

(42)

19

orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.”12

Menurut Maqdisīy, sesungguhnya ayat-ayat ini menentukan jalan aktivitas dakwah dan membatasinya, serta di dalamnya sudah mencukupi lagi tidak membutuhkan ucapan, komentar atau perincian, sesungguhnya ini adalah syarī’at yang satu, dan yang selainnya adalah hawa nafsu yang bersumber dari kejahilan. Wajib atas pembawa panji dakwah untuk mengikuti syarī’at saja dan meninggalkan hawa nafsu seluruhnya.

B. Pendapat Yūsuf al-Qarḍawīy

Yūsuf al-Qarḍawīy mengatakan, hukum dasar masuk parlemen ialah larangan bagi orang Muslim untuk bergabung kecuali dalam pemerintahan yang membuatnya sanggup menerapkan syarī’at-syarī’at Allah, dengan menduduki jabatan pemimpin atau menteri, tidak menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya, harus tunduk kepada-Nya sesuai dengan tuntutan imannya.13Sebagaimana firman Allah swt:

ِﻫِﺮْﻣَأ ْﻦِﻣ ُةَﺮَـﻴِْﳋا ُﻢَُﳍ َنﻮُﻜَﻳ ْنَأ اًﺮْﻣَأ ُﻪُﻟﻮُﺳَرَو ُﻪﱠﻠﻟا ﻰَﻀَﻗ اَذِإ ٍﺔَﻨِﻣْﺆُﻣ َﻻَو ٍﻦِﻣْﺆُﻤِﻟ َنﺎَﻛ ﺎَﻣَو

َﻪﱠﻠﻟا ِﺺْﻌَـﻳ ْﻦَﻣَو ْﻢ

ﺎًﻨﻴِﺒُﻣ ًﻻ َﻼَﺿ ﱠﻞَﺿ ْﺪَﻘَـﻓ ُﻪَﻟﻮُﺳَرَو

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan

yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.”14

12 Al-Jātsiyah (45) : 18-19.

13 Dr. Yūsuf al-Qarḍawīy, Fiqh ad-Daulah fil Islam, (Kairo: Dzar asy-Syurūq) hlm. 178. 14 Al-Aḥzāb (33) : 36.

(43)

20

ْﻨِﻣ َنﻮُﻠﱠﻠَﺴَﺘَـﻳ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ُﻪﱠﻠﻟا ُﻢَﻠْﻌَـﻳ ْﺪَﻗ ﺎًﻀْﻌَـﺑ ْﻢُﻜِﻀْﻌَـﺑ ِءﺎَﻋُﺪَﻛ ْﻢُﻜَﻨْـﻴَـﺑ ِلﻮُﺳﱠﺮﻟا َءﺎَﻋُد اﻮُﻠَﻌَْﲡ َﻻ

ِرَﺬْﺤَﻴْﻠَـﻓ اًذاَﻮِﻟ ْﻢُﻜ

ٌﻢﻴِﻟَأ ٌباَﺬَﻋ ْﻢُﻬَـﺒﻴِﺼُﻳ ْوَأ ٌﺔَﻨْـﺘِﻓ ْﻢُﻬَـﺒﻴِﺼُﺗ ْنَأ ِﻩِﺮْﻣَأ ْﻦَﻋ َنﻮُﻔِﻟﺎَُﳜ َﻦﻳِﺬﱠﻟا

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan

sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”15

Dalam hal ini Qarḍawīy sependapat dengan Maqdisīy yaitu jika pemerintahan itu bukan Islam, dengan pengertian tidak mempunyai komitmen untuk menetapkan syarī’at Islam dan hukum-hukumnya dalam segala sektor kehidupan, baik perundang-undangan, pendidikan, peradaban, media massa, ekonomi, politik, administrasi atau pun pemerintahan, tetapi merujuk kepada sumber-sumber selain Islam, mengimpor dari Barat atau dari Timur, dari kiri atau kanan, dari filsafat liberalis atau Marxis, atau pun lainnya, atau merujuk kepada Islam dan menggabungnya dengan sumber-sumber selain Islam, yang terkadang justru lebih mementingkan selain Islam dari pada Islam sendiri, maka semua ini ditolak dalam pandangan Islam. Sebab Islam mengharuskan orang-orang Muslim untuk berhukum kepada apa yang diturunkan Allah, tidak boleh mengambil sebagian dan meniggalkan sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah kepada Rasul-Nya:

(44)

21

ﺎَﻣ ِﺾْﻌَـﺑ ْﻦَﻋ َكﻮُﻨِﺘْﻔَـﻳ ْنَأ ْﻢُﻫْرَﺬْﺣاَو ْﻢُﻫَءاَﻮْﻫَأ ْﻊِﺒﱠﺘَـﺗ َﻻَو ُﻪﱠﻠﻟا َلَﺰْـﻧَأ ﺎَِﲟ ْﻢُﻬَـﻨْـﻴَـﺑ ْﻢُﻜْﺣا ِنَأَو

َلَﺰْـﻧَأ

ْنِﺈَﻓ َﻚْﻴَﻟِإ ُﻪﱠﻠﻟا

ȂÉǬÊLJƢÈǨÈdzʲƢċǼdz¦ÈǺÊǷ¦ÅŚÊưÈǯċÀʤÈÂÌǶÊÊđȂÉǻɯÊǒÌǠȺƦÊƥÌǶÉȀȺƦȈÊǐÉȇÌÀÈ¢ÉǾċǴdz¦ÉƾȇÊǂÉȇƢÈċŶÈ¢ÌǶÈǴÌǟƢÈǧ¦ÌȂċdzÈȂȺƫ

َن

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang

diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”16

Qarḍawīy mengambil contoh dalam al-Qur’an ketika mencela kaum Fir’aun:

...

ِناَوْﺪُﻌْﻟاَو ِْﰒِْﻹا ﻰَﻠَﻋ اﻮُﻧَوﺎَﻌَـﺗ َﻻَو ىَﻮْﻘﱠـﺘﻟاَو ﱢِﱪْﻟا ﻰَﻠَﻋ اﻮُﻧَوﺎَﻌَـﺗَو

...

“...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan

jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..”17

Tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa ada tingkatan-tingkatannya, yang satu tidak sama dengan yang lain. Allah swt berfirman:

ﱠﻨﻟا ُﻢُﻜﱠﺴَﻤَﺘَـﻓ اﻮُﻤَﻠَﻇ َﻦﻳِﺬﱠﻟا َﱃِإ اﻮُﻨَﻛْﺮَـﺗ َﻻَو

َنوُﺮَﺼْﻨُـﺗ َﻻ ﱠُﰒ َءﺎَﻴِﻟْوَأ ْﻦِﻣ ِﻪﱠﻠﻟا ِنوُد ْﻦِﻣ ْﻢُﻜَﻟ ﺎَﻣَو ُرﺎ

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai

16 Al-Mā’idah (5) : 49. 17 Al-Mā’idah (5) : 2.

(45)

22

seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”18

Jadi menurut Qarḍawīy tidak diperkenankan bagi orang Muslim untuk cenderung kepada orang-orang yang zhalim, agar dia tidak disentuh api neraka pada hari kiamat, hingga dia tidak mendapat pertolongan dari Allah.19

1. Dasar Pertimbangan Penentuan Hukum

Menurut Yusuf al-Qarḍawīy apa yang telah disebutkan tentang pengharaman tolong menolong dengan orang-orang yang berbuat zhalim ini merupakan hukum dasar atau kaidah yang umum. Pengertian lebih jauh, di sana ada kondisi-kondisi tertentu yang membuatnya keluar dari hukum dasar ini karena beberapa pertimbangan yang masih diakui syarī’at20

, di antara pertimbangan-pertimbangan menurut Qarḍawīy adalah:

a. Tuntutan meminimalkan kejahatan kezhaliman menurut kesanggupan.

Bagi yang sanggup meminimalkan kezhaliman, keburukan dan kejahatan dengan cara apa pun, maka seorang Muslim harus melakukannya. Seorang Muslim harus menolong orang yang tertindas, membantu orang yang dizhalimi,

18 Hūd (11) : 113.

19 Dr. Yūsuf al-Qarḍawīy, Fiqh ad-Daulah fil Islam, (Kairo: Dzar asy-Syurūq) hlm. 180. 20 Dr. Yūsuf al-Qarḍawīy, Fiqh ad-Daulah fil Islam, (Kairo: Dzar asy-Syurūq) hlm. 181.

(46)

23

menguatkan orang yang lemah, mempersempit kawasan dosa dan kejahatan. Allah swt telah berfirman:

ِﻪِﺴْﻔَـﻧ ﱠﺢُﺷ َقﻮُﻳ ْﻦَﻣَو ْﻢُﻜِﺴُﻔْـﻧَِﻷ اًﺮْـﻴَﺧ اﻮُﻘِﻔْﻧَأَو اﻮُﻌﻴِﻃَأَو اﻮُﻌَْﲰاَو ْﻢُﺘْﻌَﻄَﺘْﺳا ﺎَﻣ َﻪﱠﻠﻟا اﻮُﻘﱠـﺗﺎَﻓ

ُﻢُﻫ َﻚِﺌَﻟوُﺄَﻓ

َنﻮُﺤِﻠْﻔُﻤْﻟا

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan

dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu[1480]. dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”21

Rasulullah saw bersabda:

ُﻪْﻨِﻣ اْﻮُـﺗْﺄَﻓ ٍﺮْﻣَﺄِﺑ ْﻢُﻜُﺗْﺮَﻣَأ اَذِإ

ْﻢُﺘْﻌَﻄَﺘْﺳا ﺎَﻣ

“Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka laksanakanlah

perintah itu menurut kesanggupan kalian.”22

b. Melakukan madharat yang paling ringan.

Ada kaidah yang diakui syarī’at, yaitu melakukan mudharat yang paling ringan dan keburukan yang paling remeh untuk menyingkirkan mudharat dan

21 At-Thagābun (64) : 16.

22 Abū Bakar Ahmad bin Husain bin ‘Ali al-Baihaqīy ,edisi Muhammad ‘Alīy Baidun (Dzar

(47)

24

keburukan yang paling besar, atau meninggalkan kemaslahatan yang terendah untuk mendapatkan kemaslahatan yang tertinggi.

Oleh karena itu para fuqahā’ memperbolehkan mendiamkan kemungkaran. Sebab jika tidak, bisa menyeret kepada kemungkaran yang lebih besar lagi. Rasulullah saw meninggalkan sesuatu yang dilihatnya sebagai suatu kewajiban, karena dikhawatirkan bisa memicu cobaan dengan adanya perubahan dalam pembangunan Ka’bah dan mereka tidak berpijak secara mantap di atas Islam di kemudan hari.

c. Melepaskan nilai yang paling tinggi lalu turun ke kenyataan yang terendah

Di sana ada nilai-nilai luhur yang telah dipancangkan syarī’at untuk insan Muslim, supaya kedua mata tertuju kepadanya, hatinya terpaut kepadanya, dan supaya semua aktifitasnya terararah kepadanya. Tetapi kehidupan praktis seringkali mengalahkan nilai luhur ini, sehingga tidak bisa dicapai olehnya dan terpaksa melepasnya untuk beralih ke yang lain. Hal ini bisa terjadi karena tekanan keterpaksaan dan mencari kemungkinan yang paling mudah, setelah tidak sanggup naik ke nilai yang sulit dicapainya.

Dari sinilah Qarḍawīy menetapkan kaidah-kaidah yang terkenal, seperti:

1)

ُتا

َر

ُﻈ ْﻮ

ْﺤ

ْﻟا َﻤ

ُﺢ

ُﺗ ِﺒ ْﻴ

ُتا

ُﺮ ْو َر

َﻀﻟا

(48)

25

2)

ْـﻴ ُﺮ

ْﻴ ِﺴ

ﱠـﺘﻟا

ُﺐ

َْﲡ ِﻠ

ﱠﻘ ُﺔ

َﺸﳌا

“Kesulitan bisa mendatangkan pilihan yang mudah.”

3)

َراَﺮِﺿ

َﻻ

و

َر َ

َﺿ َﺮ

َﻻ

“Tidak ada bahaya bagi diri sendiri dan bagi orang lain.”

4) جﺮﳊا ﻊﻓَر

“Kesalahan yang dimaafkan.”

Bagi yang membaca al-Qur’an dan menelaah as-Sunnah, tentu akan mendapatkan kejelasan mengenai hal ini. al-Qur’an telah menjelaskan bahwa Allah menegakkan hukum-hukum syarī’at-Nya pada asas kemudahan dan bukan pada kesulitan, pada asas keringanan dan bukan pada keberatan, pada asas kepedulian terhadap kondisi-kondisi yang meringankan, keterpaksaan yang tidak bisa dihindari dan kebutuhan yang amat mendesak. Allah swt berfirman:

ُﻴْﻟا ُﻢُﻜِﺑ ُﻪﱠﻠﻟا ُﺪﻳِﺮُﻳ

َﺮْﺴُﻌْﻟا ُﻢُﻜِﺑ ُﺪﻳِﺮُﻳ َﻻَو َﺮْﺴ

(49)

26

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran

bagimu...”23

ﺎًﻔﻴِﻌَﺿ ُنﺎَﺴْﻧِْﻹا َﻖِﻠُﺧَو ْﻢُﻜْﻨَﻋ َﻒﱢﻔَُﳜ ْنَأ ُﻪﱠﻠﻟا ُﺪﻳِﺮُﻳ

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan

bersifat lemah.”24

Dalam hadits shahih disebutkan:

اْوُﺮﱢﻔَـﻨُـﺗ َﻻَو اْوُﺮﱢﺸَﺑَو اْوُﺮﱢﺴَﻌُـﺗ َﻻَو اْوُﺮﱢﺴَﻳ

“Permudahlah dan janganlah mempersulit, sampaikanlah kabar gembira dan

jangan buat mereka lari.”25

ﻢُﺘْﺜﻌُﺑ ﺎَﱠﳕِإ

َﻦْﻳِﺮﱢﺴَﻴُﻣ

َو

َﻦْﻳِﺮﱢﺴَﻌُﻣ اْﻮُـﺜَﻌْـﺒُـﺗ َْﱂ

“Sesungguhnya kalian diutus menjadi orang-orang yang membuat kemudahan

dan tidak diutus menjadi orang-orang yang menjadi orang-orang yang membuat kesulitan.”26

23Al-Baqarah (2) : 185. 24 An-Nisā’ (4) : 28.

25Shahīh Bukhāri, Kutubu as-Sittah, edisi Raid ibnu Shabarī ibnu Abī ‘Ulfah (Riyād: Maktabah

ar-Rusydi, 1426/2005), 1: 24, hadis no. 69.

26Sunan Tirmidzi, Kutubu as-Sittah, edisi Raid ibnu Shabarī ibnu Abī ‘Ulfah (Riyād: Maktabah

(50)

27

d. Penahapan

Sesungguhnya Allah swt mempunyai sunnah yang berlaku di kalangan makhluk-Nya dan kita tidak bisa melalaikannya begitu saja, yaitu sunnah penahapan.

Segala sesuatu berangkat dari yang kecil kemudian menjadi besar, dari lemah menjadi kuat. Menggapai tujuan penerapan hukum Islam secara menyeluruh merupakan tujuan yang besar. Hal ini tidak perlu disangsikan lagi, dan harus menjadi sasaran pokok. Tetapi untuk mencapai tujuan ini bukanlah perkara yang mudah, dapat dicapai dengan sekali tepuk. Tidak ada salahnya seseorang menggapai sebagian di antaranya selagi memiliki kesanggupan, agar orang tersebut bisa memberikan contoh kepada orang lain dan memungkinkan baginya untuk menegakkan kebenaran, menyebarkan keadilan dan kebaikan, lalu dapat membuka pintu bagi orang lain dan mendorongnya untuk berbuat seperti apa yang diperbuatnya.

2. Beberapa Syarat Masuk Parlemen

Menurut Qarḍawīy ada beberapa syarat yang harus dipenuhi tatkala bergabung dengan kekuasaan bukan Islam. Jika syarat-syarat ini tidak dipenuhi,

(51)

28

maka hukumnya kembali kepada hukum dasar, yaitu larangan untuk bergabung.27

Syarat-syarat itu ialah:

a. Gabungan itu harus dilakukan secara nyata, bukan sekedar isapan jempol dan bualan. Orang yang bergabung tidak hanya menjadi alat di tangan orang lain yang bisa memanfaatkan dirinya menurut kemauannya sendiri. Sementara seorang Muslim juga tidak berusaha untuk melakukan perbaikan dan perlawanan secara rasional, yang memungkinkan baginya untuk menegakkan keadilan, menyingkirkan kezhaliman, membenarkan yang benar dan membatilkan yang batil, sebatas lingkup yang ditanganinya, sekalipun hanya berupa gambaran parsial. Jika syarat ini tidak dipenuhi, maka tidak ada artinya penggabungan itu.

b. Kekuasaan itu tidak boleh menjadi simbol kezhaliman dan kesewenang-wenangan, dikenal suka menginjak-injak hak manusia. Yang dituntut dari orang Muslim dan merubahnya dengan cara-cara yang memungkinkan, dengan menggunakan tangan atau lidahnya, minimal menggunakan hatinya, sekalipun ini merupakan gambaran iman yang paling lemah. Keterlibatannya dalam kekuasaan ini bukan untuk mendukung dan bersekutu di dalamnya.

Maka menurut Qarḍawīy, orang Muslim atau jama’ah Islam yang komitmen tidak boleh bergabung dalam kekuasaan diktator, yang suka menjerat leher rakyat, entah kekuasaan itu secara mutlak berada di tangan

(52)

29

seseorang atau pun merupakan kekuasaan militer yang merata. Keterlibatan seorang Muslim dalam kekuasaan boleh dilakukan hanya dalam kekuasaan yang demokratis dan menghormati hak-hak manusia.

c. Dia harus mempunyai hak agar bisa menentang apa-apa yang secara jelas bertentangan dengan Islam, atau minimal menjaga Islam. Bisa saja seorang menteri menegakkan keadilan di lingkup kementeriannya. Tetapi di Majlis Kementerian, yang salah seorang anggotanya adalah dia, maka dia dituntut untuk menunjukkan penentangan terhadap ketetapan hukum yang tidak sesuai dengan syariat Islam, atau minimal bisa menjaga Islam.

Jika di sana banyak perkara yang kontroversial dan harus ditentang, besar pengaruhnya dan bisa fatal akibatnya, maka tidak cukup hanya dengan berjaga-jaga diri dan menunjukkan penentangan, tapi harus keluar dari sistem kekuasaan itu. Sebab sejarah kita tidak pernah menuturkan adanya orang Muslim atau Jama’ah Islam yang melibatkan diri dalam dosa yang terlihat nyata.

Gambaran yang paling jelas pada zaman sekarang adalah bekerja sama dengan Israel, mengakui pencaplokan mereka terhadap tanah Palestina, membiarkan Jerussalam dikuasai Israel, lalu menyatakan di mana-mana bahwa Jerussalam adalah ibukota negara Israel, tanpa mempedulikan nasib sekian juta anak-anak Palestina yang terusir dari kampung halamannya,

(53)

30

sementara pada saat yang sama dia membiarkan orang-orang Israel yang datang dan menduduki beberapa wilayah Palestina.

d. Harus meluruskan orang-orang yang ikut terlibat dalam kekuasaan itu, meminta mereka untuk memilih atau mundur serta mencari kejelasan kepada mereka.28

C. Perbandingan Pendapat Antara Maqdisīy dan Qarḍawīy

Penulis memandang bahwa keharaman masuk parlemen adalah azīmah (hukum asal) dan dibolehkannya masuk perlemen adalah rukhshah (hukum pengecualian) dalam kondisi-kondisi tertentu, karena ikrāh (terpaksa) sebagaimana firman Allah swt:

ِإ ِﺪْﻌَـﺑ ْﻦِﻣ ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ َﺮَﻔَﻛ ْﻦَﻣ

َو ِنﺎَﳝِْﻹﺎِﺑ ﱞﻦِﺌَﻤْﻄُﻣ ُﻪُﺒْﻠَـﻗَو َﻩِﺮْﻛُأ ْﻦَﻣ ﱠﻻِإ ِﻪِﻧﺎَﳝ

ِﺮْﻔُﻜْﻟﺎِﺑ َحَﺮَﺷ ْﻦَﻣ ْﻦِﻜَﻟ

ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻌَـﻓ اًرْﺪَﺻ

ٌﻢﻴِﻈَﻋ ٌباَﺬَﻋ ْﻢَُﳍَو ِﻪﱠﻠﻟا َﻦِﻣ ٌﺐَﻀَﻏ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat

kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”29

28

Ibid, 185.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar RPP dasar sejarah Uraian materi:  Prinsip sebab- akibat dalam kajian sejarah.  Prinsip

3.2 KEGIATAN KERJA PRAKTEK Setelah melakukan analisis terhadap kondisi kerja instansiMajelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta

Skripsi ini menjabarkan bahwa RSU Tangerang Selatan belum sepenuhnya menerapkan Fatwa Nomor 18 tahun 2020 tentang pedoman pengurusan jenazah muslim yang terinfeksi Covid-19.9 Dalam