• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI TENTANG LAJU RESPIRASI BIOTA PERAIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI TENTANG LAJU RESPIRASI BIOTA PERAIRAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI TENTANG LAJU RESPIRASI

BIOTA PERAIRAN

Arif Dwi Santoso

Peneliti Manajemen Kualitas Perairan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Abstract

The respiration rate of Hump back grouper (Cromileptes altivalis) and Tiger Grouper (Epinehelus fuscogutattus) were measured in the laboratory using fish-chamber to determine how deferent among them and how these were affected by body weight. Results showed body weight influenced respiration rates and there are variation of studied respiration levels between Hump back grouper and Tiger Grouper. Respiration rate of Hump back and Tiger grouper were 534,2 mgO2/h and 421,4 mgO2/h respectively. The functions for correlation between respiration of Humpback grouper and their weight was y = 0.0065x + 0.1202 while for Tiger grouper was y = 0.0038x + 0.6108.

1. PENDAHULUAN

Ikan kerapu yang termasuk dalam famili Serranidae merupakan species yang paling populer untuk komoditi ikan segar di kawasan asia pada beberapa dekade 1990-an(1). Di Indonesia sendiri, kegiatan budidaya ikan bersirip khususnya budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung atau tambak mulai berkembang sejak tahun 1999. Sejak tahun tersebut produksi budidaya ikan terus meningkat, dari sekitar 135 ribu ton menjadi sekitar 220 ribu ton pada tahun 2001(4,6).

Pada umumnya ikan kerapu di perairan Indonesia dibudidayakan dengan metode keramba jaring apung (KJA). Metode ini menggunakan kurungan jaring dengan bingkai dari kayu atau bambu. Kemudian kurungan dengan bingkai tersebut kemudian dirangkai dengan

J.Hidrosfir Vol.1 No.1 Hal. 27-31 Jakarta, April 2006 ISSN 1704-1043

pelampung agar bisa terapung di permukaan air dan dikaitkan dengan pemberat agar tidak terbawa arus. Beberapa metode budidaya lain juga telah diujicobakan, seperti ikan kerapu dibudidayakan dalam tambak-tambak air payau dengan sistem polyculture dengan ikan nila(1).

Meskipun telah berkembang selama sejak tahun 1999, kegiatan perbenihan dan budidaya ikan kerapu masih belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan(5). Tingkat kematian dari kegiatan budidaya dan perbenihan ikan kerapu masih sangat tinggi baik disebabkan oleh intern faktor seperti tingginya sifat kanibalisme(1), rendahnya informasi tentang fisiologi ikan kerapu (kebiasaan makan, pengaruh hormone, respirasi, dll.)(2) maupun karena faktor eksternal seperti pencemaran dan kondisi fisik perairan(7).

(2)

Fish chamber adalah rangkaian alat

yang terdiri dari tabung transparan 49.6 cm3 yang dilengkapi dengan DO meter dan pompa air. Pintu tabung transparan diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan ikan dapat dengan mudah masuk dan dapat ditutup dengan rapat sehingga tidak ada gelembung udara di dalam tabung. DO meter diperlukan untuk mengukur perubahan oksigen terlarut dalam tabung selama percobaan berlangsung. Sedangkan pompa berfungsi untuk mengaduk air dalam tabung sehingga konsentrasi oksigen dalam tabung sama.

Ikan kerapu yang akan digunakan sebagai bahan eksperimen sebelumnya dimasukan dalam bak terbuka 3,3 m3 dengan aerator dan dibiarkan selama 20 menit untuk mengadaptasikan ikan pada lingkungan eksperimen. Di dalam bak yang sama, alat fish chamber yang terangkai dengan DO meter dan pompa air juga disiapkan. Setelah kondisi oksigen terlarut dan suhu air dalam bak terbuka stabil, satu persatu ikan kerapu dimasukkan ke dalam alat fish chamber. Setiap ikan eksperimen akan diukur laju respirasinya dengan membandingkan

konsentrasi oksigen terlarut pada awal dan akhir eksperimen. Setelah tahap ini selesai, ikan kemudian diukur panjang dan berat tubuhnya, tahap terakhir adalah mengukur volume ikan dengan memasukkan ikan dalam tabung volume.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil eksperimen pengukuran laju respirasi dan berat dari ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) dan ikan kerapu macan (Ephelephelus fuscogutatus) tercantum dalam Tabel-1.

Persamaan laju respirasi ikan kerapu adalah seperti dalam persamaan di bawah ini:





t

DO

DO

Ln

t 0 ………....…...(1)

Persamaan (1) ditunjang oleh data dari kandungan oksigen dalam tabung yang sudah berisi ikan, DOfish dan kandungan oksigen terlarut dalam tabung tanpa ikan, DOcontrol. DOfish adalah perbandingan antar oksigen terlarut sebelum eksperimen dan kandungan oksigen terlarut setelah eksperimen, sementara DOcontrol adalah kondisi oksigen terlarut pada bak terbuka saat masa aklimatisasi. Hasil selisih antara DOfish dan DOcontrol (Adjusted ) kemudian ditetapkan sebagi persamaan (2).

Adjusted = DOfish – DOcontrol …...….(2) R =

7

*

(

1

exp

Adjusted

)

*

V

……....(3)3

Kemudian laju respirasi (R) dapat didefinisikan seperti dalam persamaan Gambar-2.Grafik korelasi laju respirasi

ikan kerapu terhadap berat badannya antara kerapu bebek

(3)

(3), dengan V adalah volume dari alat fish

chamber.

Dari data yang didapatkan dari eksperimen (Tabel-1) kemudian disubti-tusikan ke dalam persamaan (3) mengha-silkan rata-rata laju respirasi ikan kerapu bebek sebesar 534,2 mgO2/h, sedangkan rata-rata laju respirasi ikan kerapu macan sebesar 421,4 mgO2/h.

Untuk membandingkan konsumsi oksigen terlarut antara kerapu bebek dan kerapu macan dilakukan korelasi hubungan konsumsi oksigen terlarut terhadap berat badang masing-masing kerapu, hasil gambar korelasi tersebut dapat di lihat pada Gambar-2.

Korelasi hubungan antara konsumsi oksigen terlarut terhadap berat badan pada ikan kerapu bebek adalah y = 0.0065x + 0.1202 sedangkan pada ikan kerapu macan adalah y = 0.0038x + 0.6108.

Berat (g) Laju Respirasi (mgO2/min)

1 40 0.365477235 2 30 0.245091273 3 30 0.249766927 4 40 0.325085726 5 25 0.509926404 6 25 0.241650909 7 25 0.111820266 8 25 0.408927465 9 40 0.267664345 10 30 0.113872484 11 20 0.187711967 12 15 0.129453685 13 20 0.208325712 14 20 0.17449873 15 15 0.187353804 16 250 1.486773708 17 130 1.232604738 18 150 1.625626055 19 140 1.36893439 20 210 1.313079152 21 350 2.153509324 22 255 2.06192004 23 235 1.389613456 24 150 1.240628276 25 250 1.765100323

No. Kerapu Bebek

Tabel 1. Berat badan dan laju respi-rasi ikan kerapu bebek

Gambar 2.Grafik korelasi laju respirasi ikan kerapu terhadap berat badannya antara kerapu bebek

Gambar 3. Grafik korelasi laju respirasi ikan kerapu terhadap berat badannya antara kerapu macan

(4)

Dari hasil rata-rata laju respirasi dan korelasi konsumsi oksigen menunjukkan bahwa konsumsi oksigen terlarut pada kerapu bebek lebih tinggi dibanding ikan kerapu macan, dengan perbedaan laju respirasi antara keduanya sekitar 13,2 mgO2/h.

Berat (g) Laju Respirasi (mgO2/min)

1 400 2.552560591 2 140 1.230338174 3 220 1.770777477 4 160 1.697468038 5 400 2.490691344 6 125 0.888587342 7 125 1.000281214 8 300 2.316053724 9 290 1.218734924 10 500 2.470993446 11 400 2.044792701 12 150 1.252277531 13 100 0.726353816 14 100 0.821415532 15 120 0.622727947 16 500 2.101383151 17 500 1.778514706 18 400 1.708735931 19 300 1.42204801 20 650 3.611437497 21 190.5 1.812582199 22 100 1.084160837 23 190 1.428452677 24 120 0.958776568 25 100 1.123987694 No. Kerapu Macan Tabel 2. Berat badan dan laju

respirasi ikan kerapu macan (Ephelephelus fuscogutatus )

4. KESIMPULAN

Hasil utama kegiatan eksperimen ini adalah mengetahui laju respirasi ikan kerapu bebek sebesar 534,2 mgO2/h dan laju respirasi ikan kerapu macan sebesar 421,4 mgO2/h. Sedangkan korelasi hubungan antara konsumsi oksigen terlarut dan berat badan pada ikan kerapu bebek adalah y = 0.0065x + 0.1202 sedangkan pada ikan kerapu macan adalah y = 0.0038x + 0.6108.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Koji Omori dan Dr. Yuichi Hayami dari universitas Ehime, Jepang atas kebaikan asistensi dan arahan selama eksperimen dan penyusunan artikel ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmad, T0 . 1990. Status and Prospect of Marine Aquaculture in Indonesia. IARD Journal, 12(3): 47-53.

2. Chan, W. L., B. Tiensongrusmee, S. Pontjoprawiro and I. Soedjarwo. 1982. A general overview of finfish culture in floating netcage with reference to the seabass and the estuarine grouper. Seafarming workshop report, Bandar Lampung, Part II Technical Report.

3. Cushing, D.H. and Walsh, J.J. 1976. The Ecology of the Seas. Blackwell scientific publications osney mead, oxford.

(5)

4. Indonesian Centre Bureau for Statistic. 2002. Statistics of Indonesia. Biro Pusat Statistik Indonesia. 245pp.

5. Pomeroy, R., Agbayani, R., Toledo, J., Sugama, K., Slamet, B. and Tridjoko. 2002. The status of grouper culture in Southeast Asia, SPC Live Reef Fish Information Bulletin. 10:24-29.

6. Ramelan, S. H. ,2001. Present Status and Strategy of Indonesian

Mariculture Development. Directorate General of Fisheries Ministry of Sea Exploration and Fisheries. 17 pp. 7. Sugama, K., Waspada, and H.

Tanaka, 2001. Perbandingan laju pertumbuhan beberapa jenis ikan kerapu Epinephelus spp. dalam kurung-kurung apung. Scientific Report of Mariculture Research and Development Project (ATA-192) in Indonesia. Japan International Coopeartion Agency. 12: 211-219

Gambar

Tabel 1. Berat badan dan laju respi- respi-rasi ikan kerapu bebek

Referensi

Dokumen terkait

tidak memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Untuk parameter kimia seperti.. oksigen terlarut o), BOD5, pH, Bmonia total, dan H2S masih dalam

Nilai kandungan total padatan terlarut tertinggi mencapai 3.75 0 Brix pada tomat dengan perlakuan A2B1C2 (tomat tanpa pencelupan air 10 0 C yang dikemas dalam kemasan kotak

Nitrat menyebabkan kualitas air menurun, menurunkan oksigen terlarut, penurunan populasi ikan, bau busuk dan rasa tidak enak (Effendi, 2003). Konsentrasi nitat dalam

STUDI TERHADAP FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KANDUNGAN ISOTOP OKSIGEN-18 DARI SENYAWA SULFAT TERLARUT DALAM AIR TANAH DANGKAL DI DAERAH KARAWANG.. Penelitian ini dilakukan

Parameter DO juga mengalami peningkatan pada segmen ini, namun peningkatan dari kandungan oksigen terlarut dalam air justru membuat kualitas air Sungai Bringin

demand ) biasanya tinggi, (3) padatan organik dan anorganik yang mengendap di dasar perairan menyebabkab oksigen terlarut (DO) rendah, (4) mengandung bahan terapung.. dalam

Produk Fish Jelly (makanan olahan dari bahan baku ikan) merupakan suatu alternatif terobosan untuk mengolah ikan dalam bentuk yang menarik dengan rasa dan

38 Kadar oksigen terlarut DO sungai Tallo berdasarkan hasil pengamatan ini menujukkan bahwa perairan ini masih sangat layak bagi pengembangan budidaya ikan dalam KJA, dengan tidak