VARIASI BAHASA: SAMBORI DAN MASYARAKAT MBOJO KONTEMPORER Ariani Rosadi, Lubis Hermanto
Program Studi Ilmu Komunikasi
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Mbojo Bima [email protected]
ABSTRAK
Artikel ini mengkaji tentang perbedaan mendasar dari dialek masyarakat adat desa sambori kecamatan lambitu kabupaten bima dengan masyaraka mbojo pada umumnya. Bahasa merupakan alat seseorang dalam mengenal dunia dan memahami kehidupannya. Seseorang tidak dapat hidup tanpa adanya komunikasi. Pola komunikasi khususnya pada bahasa verbal merupakan sebuah khazanah ilmu pengetahuan yang harus tetap dicari arti dan maknanya. Hakikat dalam komunikasi itu sendiri adalah mencari makna dari segala sesuatu yang ada di alam ini, baik secara verbal maupun non verbal. Daerah Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat, sungguh banyak memiliki keanekaragaman budaya khusunya dalam keanekaragaman bahasa aslinya. Salah satu suku yang masih kental dengan penggunaan bahasa asli ibunya adalah suku sambori. Sambori adalah wajah lama Bima yang memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah Bahasa (Dialek) yang dituturkan warganya yang berbeda dengan bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Bahasa Sambori menyebar di sejumlah kampung dan Desa yang ada di gugusan pegunungan La Mbitu di tenggara Kota Bima seperti di Desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Kalodu, Sambori, Kadi dan Kuta. Desa-desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan pemekaran La Mbitu. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data penelitian antara lain: observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Kemudian teknik analisa data dengan menggunakan reduksi data, display data dan pengambilan kesimpulan (verifikasi). Kata Kunci: Dialek, Bahasa, Fonologi, Sambori
ABSTRACT
This article examines the fundamental differences of the dialect of the indigenous people of Sambori Village, Lambitu Subdistrict, Bima Regency with the Mbojo Community in general. Language is someone's tool in getting to know the world and understanding its life. One cannot live without communication. The pattern of communication, especially in verbal language, is a treasure of knowledge that must still be searched for meaning and meaning. The essence of communication itself is to look for the meaning of everything that exists in nature, both verbally and non-verbally.Bima District, West Nusa Tenggara Province, has a lot of cultural diversity, especially in the diversity of the original language. One tribe that is still thick with the use of its mother's native language is the Sambori tribe. Sambori is the old face of Bima that has its own uniqueness both in terms of history and culture. One of the uniqueness is Language (Dialect) which is spoken by its citizens who are different from Bima or Nggahi Mbojo. Sambori language spreads in a number of villages and villages in the La Mbitu mountain range in the southeast of Bima City, such as Tarlawi, Kaboro, Teta, Kalodu, Sambori, Kadi and Kuta. These villages are included in the La Mbitu division. The research method uses descriptive qualitative research with data collection techniques, among others: observation, interviews and documentation studies. Then the data analysis technique uses data reduction, data display and conclusions (verification).
Keywords: Dialect, Language, Phonology, Sambori
PENDAHULUAN
Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk komunikasi dan berinteraksi atar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama. Sistem dalam bahasa adalah sistem yang terdiri dari simbol-simbol. Sistem simbol lisan yang arbitrer ini dipakai oleh masyarakat bahasa tersebut, yakni masyarakat yang memiliki bahasa itu. Orang dari masyarakat bahasa lain tentunya tidak dapat memakai sistem ini. Pemakai bahasa menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama mereka, tetapi dalam berinteraksi itu mereka secara tidak sadar dikendala oleh budaya yang mereka pangku (Soejono Dardjowidjojo, 2012 :17-18).
Istilah dialek berasal dari kata Yunani dialektos. Pada mulanya dipergunakan dalam hubungannya dengan keadaan bahasa. Di Yunani terdapat perbedaan-perbedaan kecil di dalam bahasa yang dipergunakan pendukungnya masing-masing, tetapi hal tersebut tidak sampai menyebabkan mereka merasa mempunyai bahasa yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak mencegah mereka untuk secara keseluruhan merasa memiliki satu bahasa yang sama. Oleh karena itu, ciri utama dialek adalah perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan (Meillet, 1967:69-70). Dialek adalah logat berbahasa. Dialek adalah perlambangan dan pengkhususan dari bahasa induk. Menurut Weijnen yang dikutip oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) dialek adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan oleh satu masyarakat untuk membedakan dari masyarakat lain.
Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983), pertumbuhan
dan perkembangan dialek sangat ditentukan oleh faktor kebahasaan dan faktor luar bahasa. Keadaan alam, misalnya mempengaruhi ruang gerak penduduk setempat, baik dalam mempermudah penduduk berkomunikasi dengan dunia luar maupun mengurangi adanya kemungkinan itu (Guiraud, 1970). Sejalan dengan adanya batas alam tersebut, dapat dilihat pula adanya batas-batas politik yang menjadi jembatan terjadinya pertukaran budaya. Hal itu menjadi salah satu sarana terjadinya pertukaran bahasa. Demikian pula halnya dengan ekonomi, cara hidup dan sebagainya. Tercermin pula di dalam dialek yang bersangkutan (Guiraud, 1970).
Desa Sambori adalah sebuah Desa yang berada di atas dataran tinggi pegunungan Lambitu dan termasuk wilayah Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima. Desa Sambori hanyalah sebuah Desa yang sangat kecil dengan kehidupan yang masih tergolong tradisional. Walaupun merupakan Desa terpencil, namun potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Bima khususnya Desa Sambori merupakan aset yang sangat potensial untuk bisa dikembangkan dan akan bermanfaat bagi masyarakat banyak, khususnya masyarakat Sambori sebagai Desa Pariwisata.
Pakaian adat masyarakat Sambori berbeda dengan pakaian adat suku Bima-Dompu pada umumnya. Masyarakat Sambori tampil berbeda, yang terlihat dalam pakaian sehari-hari. Laki-laki dewasa biasanya memakai Sambolo (ikat kapala) yang terbuat dari kain kapas tenunan dengan hiasan kotak-kotak berwarna hitam atau putih. Dipadu dengan baju Mbolo Wo’oatau, yaitu baju tanpa kerah yang terbuat dari kain katun berwarna hitam atau putih.
Orang Sambori memakai sarung yang disebut Tembe Me’e (sarung hitam) khas Sambori dipintal dan ditenun dari bahan kapas berwarna hitam. Dipakai dengan cara dililit pada bagian perut. Kemudian mereka memakai aksesoris Weri atau Bala (kain ikat pinggang) yang diselempangkan melingkar pada bagian perut sampai di atas paha, yang berrfungsi untuk menguatkan lilitan sarung.
Sedangkan para perempuan dewasa, memakai baju Poro Me’e, yang terbuat dari kain katun dengan bentuk menyerupai baju Poro pada pakaian adat masyarakat Bima umumnya. Sarung memakai Tembe Me’e, dibuat agak panjang karena cara memakainya yaitu dengan cara dimasukkan secara lurus melalui kepala atau kaki. Kemudian dibiarkan lepas sampai ke betis, sekedar pelengkap mereka mengenakan Kababu, yang diselempangkan pada bahu. Untuk rambut ditata dengan membuat semacam ikatan yang dibentuk meninggi di atas kepala yang disebut Samu’u Tu’u. Masyarakat Desa Sambori mayoritas memeluk agama Islam. Menurut mereka agama Islam masuk ke dalam masyarakat Sambori, dibawah oleh seorang ulama dari Ternate yang bernama “Syekh Subuh”. Karena ulama ini tiba di Sambori pada saat Subuh. Maka Syekh inipun dikenal dengan nama Syekh Subuh. Makam Syekh Subuh berada di atas puncak gunung Sambori, yang dianggap sebagai kuburan keramat.
Masyarakat Sambori memiliki kebiasaan mengunyah daun sirih. Kebiasaan ini dikarenakan suhu dan udara di Desa Sambori sangat dingin, sehingga untuk melawan udara dingin, mereka mengunyah daun sirih yang dicampur dengan beberapa ramuan sehingga badan menjadi hangat. Orang Sambori dikelompokkan ke dalam bagian suku Bima, tetapi ada anggapan bahwa orang Sambori termasuk bagian dari suku Donggo. Apabila dilihat dari kebiasaan, tata kehidupan, budaya dan bahasa, sepertinya orang Sambori bisa
dikatakan sebagai etnis tersendiri, yang berbeda dengan etnis-etnis lain di Nusa Tenggara Barat ini. Tetapi sampai saat ini orang Sambori lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Bima.
Desa Sambori memiliki karakteristik yang berbeda dengan Desa-desa atau tempat lain di Bima, baik itu secara aktifitas masyarakat, karakter alam dan budaya yang dimiliki masyarakatnya. Potensi tersebut bisa dikatakan luar biasa, baik itu budaya, adat istiadat, maupun panorama alam yang tersaji.
Orang Sambori memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah bahasa yang dituturkan berbeda dengan bahasa Bima. Dikatakan unik, bahwa orang Sambori sendiri disebut juga sebagai suku Bima, tetapi memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima pada umumnya. Orang Sambori berbicara dalam bahasa Sambori, yang dikatakan merupakan dialek bahasa Bima, tapi bisa dikatakan dialek apabila terdapat persamaan 50% sampai 80%, tapi bahasa Sambori justru perbedaannya yang mencapai 80% dengan bahasa Bima. Jadi bisa dikatakan bahasa Sambori adalah bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima. Bahasa Sambori menyebar di sejumlah kampung dan Desa yang ada di gugusan pegunungan La Mbitu di tenggara Kota Bima seperti di Desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Kalodu, Sambori, Kadi dan Kuta. Desa-desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan pemekaran La Mbitu, kecuali Desa Tarlawi yang masuk dalam wilayah Kecamatan Wawo karena jaraknya sekitar 7 km dari Wawo serta Desa Kalodu yang masuk wilayah Kecamatan Langgudu.
Masyarakat di Desa-desa di atas dalam sejarah Bima dijuluki dengan Dou Donggo Ele. Sedangkan masyarakat dan Desa yang berada di gugusan pegunungan Soromandi di sebelah barat teluk Bima disebut Dou Donggo Ipa. Apakah bahasa mereka juga sama dengan
Bahasa Donggo Ele. Sebab dari penuturan masyarakat di sana, terdapat sedikit perbedaan antara bahasa Donggo Ele dan bahasa Donggo Ipa. Ada yang berpendapat bahasa Sambori adalah merupakan bahasa asli suku Bima, atau
merupakan bahasa nenek moyang suku Bima, yang sekarang masih tersimpan dalam masyarakat Sambori.
Gambar 1. SDN Inpres Sambori Gambar 2. Mushola Sambori Lama
TINJAUAN PUSTAKA
Asal-Usul Dan Perkembangan Dialek Menurut Guiraud (1970: 26) yang dikutip oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) terjadinya ragam dialek itu disebabkan oleh adanya hubungan dan keunggulan bahasa yang terbawa ketika terjadi perpindahan penduduk, penyerbuan atau penjajahan. Hal yang tidak boleh dilupakan ialah peranan dialek atau bahasa yang bertetangga di dalam proses terjadinya suatu dialek itu. Dari dialek dan bahasa yang bertetangga itu, masuklah anasir kosakata, struktur, dan cara pengucapan atau lafal. Setelah itu kemudian ada di antara dialek tersebut yang diangkat menjadi bahasa baku, maka peranan bahasa baku itu pun tidak boleh dilupakan. Proses perkembangan dialek bermula pada kelompok yang berpendidikan. Dwibahasawan mereka mempergunakan koine, yaitu ungkapan-ungkapan bahasa baku sebagai bahasa budaya, dan dialek sebagai bahasa praja. Koine mereka pergunakan untuk sesama mereka, dan dialek mereka pergunakan jika berkomunikasi dengan penduduk setempat,
petani dan kelompok sederhana lainnya. Sementara itu penduduk sendiri adalah ekabahasawan. Walaupun mereka mengagumi koine, tapi mereka hanya mempergunakan dialek saja. Pada tahap berikutnya, masyarakat berpendidikan itu menjadi ekabahawasan. Mereka menghindari pemakaian dialek yang sudah kehilangan dasar-dasar kaidahnya. Sejak itu penduduk bahasanya menjadi dwibahasawan. Pada mulanya mereka belum memenuhi semua persyaratan bahasa baku tersebut, tergantung kepada taraf pendidikan mereka. Di samping itu mereka tetap mempergunakan dialek di antara sesama mereka saja (Gairaud, 1970: 7-8, di kutip oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1983).
Dialek adalah logat berbahasa. Dialek adalah perlambangan dan pengkhususan dari bahasa induk. Menurut Weijnen, dkk yang dikutip oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) dialek adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan oleh satu masyarakat untuk membedakan dari masyarakat lain. Menurut Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa (1983), ada 2 (dua) ciri yang dimiliki dialek, yaitu :
1. Dialek ialah seperangkat bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda, yang memiliki ciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip sesamanya dibandingkan dengan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sama.
2. Dialek tidak harus mengambil semua bentuk ujaran dari sebuah bahasa. (Meillet 1967: 69).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini memerlukan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari pengumpulan berbagai informasi dari informan dan catatan kondisi lapangan yang diperoleh melalui pengamatan dengan menggunakan pedoman wawancara. Sedangkan data sekunder adalah data yang digunakan sebagai pendukung data primer. Data primer yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah informasi atau data yang mencakup tentang perbedaan penggunaan dialek antara masyarakat adat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima dengan masyarakat Bima pada umumnya. Sampel diambil secara purposif atau atas tujuan tertentu.
Adapun data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen maupun publikasi-publikasi tentang perbedaan ciri khas dialek masyarakat Desa Sambori dengan dialek masyarakat Mbojo umumnya ditulis oleh peneliti lain. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga macam cara yaitu : observasi parsipatif, wawancara tak terstruktur dan studi dokumentasi.
Observasi Pengumpulan data dilakukan dengan cara berperan serta, hal ini dilakukan agar dapat berinteraksi dengan subyek penelitian, mengamati apa yang mereka lakukan, mendengarkan apa yang mereka lakukan dan mencari informasi lainnya
disekitar mereka selama jangka waktu tertentu. Jenis observasi berperan serta aktif dimana peneliti seorang peneliti yang sedang melakukan penelitian. Dan juga observasi yang dilakukan peneliti ini termasuk observasi terbuka yaitu pengamat (peneliti) secara terbuka diketahui oleh subjek, sedangkan subjek dengan suka rela memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati peristiwa yang sedang terjadi dan mereka menyadari bahwa ada orang yang mengamati hal yang dilakukan mereka.
Wawancara tak terstruktur disebut juga dengan wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif dan wawancara terbuka (open-ended interview) dan wawancara etnografis (Mulyana, 2001 : 180). Wawancara tak terstruktur dilakukan dengan informan pangkal dan informan kunci untuk menggali informasi dan persepsi tentang fokus penelitian. Dalam wawancara ini peneliti menggunakan catatan dan alat rekam untuk membantu kelancaran proses wawancara.
Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menggali data sekunder yang diperlukan guna menunjang arah penelitian ini yaitu dokumen-dokumen, buku, perpustakaan dan lain sebagainya maupun publikasi-publikasi tentang perbedaan ciri khas dialek masyarakat Desa Sambori dengan dialek masyarakat Mbojo umumnya yang pernah diteliti oleh orang lain.
PEMBAHASAN
Sejarah Singkat Objek Penelitian Desa Sambori
Desa Sambori terletak di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat yang memiliki sejarah, budaya, dan dialek yang berbeda dengan masyarakat Bima pada umumnya. Populasi orang Sambori diperkirakan sekitar 800 orang. Orang Sambori memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari
keunikan itu adalah bahasa yang dituturkan berbeda dengan bahasa Bima. Dikatakan unik, bahwa orang Sambori sendiri disebut juga sebagai suku Bima, tetapi memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima pada umumnya. Orang Sambori berbicara dalam bahasa Sambori, yang dikatakan merupakan dialek bahasa Bima, tapi bisa dikatakan dialek apabila terdapat persamaan 50% sampai 80%, tapi bahasa Sambori justru perbedaannya yang mencapai 80% dengan bahasa Bima. Jadi bisa dikatakan bahasa Sambori adalah bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima.
Kondisi Geografi Desa Sambori
Desa Sambori berada di dataran tinggi dengan ketinggian berkisar 800 m dpl. Sebagian Desa Sambori berupa perbukitan dan berlereng. Secara geografis, Desa Sambori berada di Donggo Ele (timur). Sedangkan secara administratif, Desa Sambori termasuk dalam wilayah Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima. Pemukiman Sambori dibagi dalam dua kelompok, yaitu: Sambori Ntoi (Sambori dalam/lama) dan Sambori Bou (Sambori Lama/luar). (Haris, 1996). Desa Sambori berada pada tempat tertinggi diantara desa-desa sekitarnya. Ada empat desa yang membatasi administrasi Desa Sambori :
Sebelah Utara : Desa Kuta Sebelah Selatan : Desa Kawuwu Sebelah Barat : Desa Cenggu Sebelah Timur : Desa Tarlawi
Keempat desa ini merupakan tempat bermukimnya masyarakat asli Bima yang dahulunya berasal dari daerah Teluk Bima. Secara umum, Desa Sambori merupakan daerah perbukitan dan berhawa sejuk. Kondisi alam perbukitan seperti ini mendorong penduduk setempat mendirikan pemukiman di lereng-lereng bukit dengan rumah khas setempat, uma lengge dan rumah panggung. Kondisi alam seperti ini pula yang
mempengaruhi pola bercocok tanam masyarakat Sambori. Penduduk Sambori membuka lahan di lembah-lembah dan di lereng-lereng perbukitan dengan frekuensi satu sampai dua kali musim tanam.
Selain tanaman hutan, ada dua vegetasi yang dapat dijumpai di sekitar Desa Sambori, yaitu vegetasi pekarangan dan sawah atau ladang. Vegetasi pekarangn berupa nangka, mangga, jeruk, pisang, cabe, dan sebagainya. Sedangkan vegetasi sawah atau ladang didominasi oleh padi, bawang, kacang-kacangan, labu, jagung, dan lain-lain. Vegetasi perkebunan yang pernah diperkenalkan adalah kopi dan vanili. Umumnya tanaman palawija dan perkebunan jarang ditanami oleh penduduk.
Kondisi Demografi Desa Sambori
Di Desa Sambori, yaitu di puncak Gunung Lambitu , bermukim 1.538 jiwa penduduk Sambori atau 391 KK diantaranya 625 laki-laki dan 913 perempuan (1996). Sebagian besar diantaranya bertempat tinggal di Sambori Lama yang merupakan perkampungan lama Desa Sambori. Kepadatan perkampungan lama mendorong sebagian mereka membangun perkampungan sambori Baru. Hampir semua penddudk bermata penccaharian sebagai petani. Hanya terdapat 12 penduduk yang bekerja sebgai PNS. Sebagian besar merupakan tenaga pengajar SD dan SMP. Lainnya aparat desa sebanyak 12 orang dan pedagang kios 2 orang. Kegiatan merantau penduduk Sambori cukup kuat, tertama kaum laki-laki. Kegiatan meranta penduduk Sambori mulai banyak dilakukan sejak tahun 1980-an. Motivasi mereka biasanya sekolah atau mencari lapangan kerja. Setelah tamat sekolah atau bekerja, mereka kebanyakan menetap di luar desa. Biasanya mereka merantau setelah lls SLTA atau SLTP, bahkan diantaranya baru lulusan Sekolah Dasar. Sampai saat ini diperkirakan jumlah perantau tidak kurang dari
pendduk yang kini masih menetap di sambori. Ada beberapa daerah yang menjadi tujuan mereka, kebanyakan ke Kalimantan, Jakarta, Ujung Pandang, Lombok, dan ke berbagai daerah lain di Indonesia.
Sebelum Sambori didatangi oleh pendatang, desa ini sudah dijumpai masyarakat asli yang mendiami sambori. Mereka berasal dari keluarga Ncuhi Tuki dan pendampingnya Ncuhi De. Mereka bermukim dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki ikatan kekeluargaan. Hal ini dapat dilihat dari adanya pembagian wilayah-wilayah kecil di Kampung sambori Lama, diantaranya Sengari Me’e, Due, Mundu, dan Kakeru yang merupakan perkampungan lama. Di sambori juga dijumpai bekas perkampungan-perkampungan kecil yang dihuni oleh satan keluarga, seperti Torosakeko, Sambi, Panggi, Jena dan Bedi. Kondisi Infrastruktur Desa Sambori
Desa ini dapat disusuri lewat jalan beraspal kasar dari terminal Tente ke Desa terdekat Kuta. Dari Desa Kuta ke Desa Sambori dihubungkan jalan setengah beraspal berjarak sekitar 1 Km sampai Kampung Sambori Baru. Selanjutnya perjalanan melewati jalan tanah menuju perkampungan Sambori Lama. Di Desa Sambori tidak terdapat pasar, untuk kegiatan jual beli barang dan kebutuhan pokok sehari-hari mereka lakukan di pasar Tente. Namun ada pula beberapa penduduk luar yang bertandang ke Desa Sambori untuk memperjualbelikan barang, seperti kebutuhan sehari-hari, buah-buahan, kunyit, bawang, dan sebagainya. Sejak tahun 1995 penduduk Sambori dan desa-desa sekitarnya dapat menikmati penerangan listrik. Adanya sarana listrik memungkinkan penduduk lebih banyakmendapatkan informasi, tertama dari televisi dan radio yang sebelumnya menggunakan aki. Untuk mendukng kegiatan sosial bdaya di Desa Sambori tersedia dua sarana gedung SD Negeri dan SD Inpres. Sedangkan bangunan sekolah SLTP berada di
Desa Kuta untuk menampung siswa dari Desa Sambori, Kuta, Teta, Cenggu, dan desa lainnya. Sedangkan untuk kegiatan keagamaan tersedia sarana peribadatan dua buah mesjid, masing-masing di sambori Lama dan Sambori Baru.
Di bidang kesehatan tersedia sarana kesehatan yang ada di Sambori berupa satu Puskesmas Pembantu dan Polindes dengan jumlah tenaga medis masing-masing satu orang. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, telah dibangun bak-bak penampungan dan saluran air bersih yang diambil dari sumber air. Meskipun sarana air bersih belum menjangkau semua warga masyarakat.
Setelah melalui pengumpulan data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan studi dokumen dan dianalisis, perbedaan dialek antara masyarakat adat desa Sambori dan masyarakat Bima pada umumnya cukup signifikan bahkan dapat dikatakan masyarakat adat desa sambori memiliki bahasa tersendiri meskipun terdapat beberapa kosa kata yang mempunyai kemiripan dengan bahasa Bima pada umumnya. Diantara kosa kata tersebut, terselip beberapa perubahan bunyi yang tidak sampai membedakan makna atau mengubah identitas fonem. Perubahan ini disebut perubahan fonem karena bunyi-bunyi tersebut merupakan alofon atau varian bunyi dari fonem yang sama. Jenis perubahan bunyi yang dicatat oleh peneliti pada saat wawancara dengan salah satu informan peneliti ialah Simplifikasi yang mengalami voiced menjadi voiceless, obstruant menjadi continuant. Untuk lebih lengkanya, peneliti akan membahas keseluruhan dari rangkaian perbedaan dialek masyarakat adat desa sambori ini dengan masyarakat Mbojo pada umumnya secara berurut sebagai berikut: a. Warisan Bahasa ( a Heritage Language) Suku ini mewariskan bahasa yang berbeda dengan masyarakat bima pada umumnya. Berdasarkan Oleh Mahsun (2008), bahasa ini disebut Bahasa Bima Dialek Tarlawi
karena kebetulan respondennya berasal dari Tarlawi. Namun, bagi orang Bima pada umumnya bahasa Sambori merupakan bahasa tersendiri karena mereka tidak mengerti satu kata pun yang diucapkan dan terdengar seperti Bahasa Jawa. Yusra (2011) menunjukkan bahwa kesamaan bahasa Sambori engan bahasa Bima dalam hal kosa kata kurang dari 10 % dan layak disebut sebagai bahasa tersendiri dan kesamaan yang dominan hanyalah pada penggunaan klitik (penanda subjek) na-, ku-, mu- dan ta-. Oleh karena itu, bahasa ini masih harus dikaji lebih mendalam lagi melalui penelitian yang lebih intensif. Untuk menambah wawasan tentang warisan bahasa ini, peneliti berusaha untuk menggali berbagai macam kata yang mungkin belum sempat dibahas oleh peneliti sebelumnya di daerah sambori tentang dialektologi. Adapun tujuan peneliti membahas lebih dalam tentang heritage language ini supaya generasi milenial lebih menyadari dan menghargai suatu perbedaan yang memang sudah tercipta dari dahulu kala dan tidak menjadikan hal ini menjadi suatu pembatas antara pergaulan “anak gunung” atau “dou doro” dengan “anak kota”. Tetapi, dapat mengangkat nama sambori menjadi aset kearifan lokal yang dimiliki oleh umumnya masyarakat kabupaten atau kota Bima, khususnya untuk maskarakat Sambori sendiri.
Pada penelitian lanjutan dari Yusra (2016), melalui uji leksikostatik yang dilakukannya guna mengetahui hubungan dialektologis bahasa Sambori dengan bahasa Bima dan mengingat bahasa Sambori berada terisolasi di puncak gunung, maka dapat diasumsikan bahwa (a) bahasa ini lebih tua usianya dari bahasa Bima di pesisir terutama dialek Sera Suba yang dijadikan acuan dalam analisis ini, dan (b) perubahan bunyi terjadi dari bahasa Sambori sebagai bahasa Bima lama menjadi bahasa Bima kontemporer (baca: dialek Sera Suba).
Namun, perubahan ini tidak menjadi masalah yang cukup signifikan bagi masyarakat sambori meskipun mereka berada di punak gunung lambitu untuk saling berkomunikasi. Ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan pemekaran wilayah yang membuat mereka mudah mengamati dan memahami prilaku interaksi dan komunikasi masyarakat luar daerahnya. Beberapa temuan dari hasil wawancara pada penelitian ini ialah baik masyarakat usia tua maupun muda sekarang ini sudah mampu memahami bahkan berbicara bahasa bima kontempor karena menurut mereka bahasa bima pada umumnya mereka peroleh dari para pendatang baik itu guru, pedagang, penceramah yang datang ke daerah sambori. Bahkan, tidak sedikit generasi muda mereka yang berhasil mengenyam bangku perguruan tinggi di daerah kota Bima.
Berdasarkan penelitian sebelumnya dan hasil penelitian ini mengarahkan bahwa suku sambori ini harus dilestarikan bahasanya sebagai warisan bahasa sekaligus budaya yang patut untuk dipertahankan agar tidak pengalami kepunahan. Banyaknya masyarakat sambori yang semakin sadar akan teknologi dan perkembangan pendidikan membuat generasi baru dari suku ini lebih banyak mengalami perubahan baik dari segi pemikiran, life style, berbahasa dan lain sebagainya. Meskipun, hal tersebut terjadi tanpa perubahan yang berarti, tetapi tetap saja kemungkinan punah bisa dialami jika mereka tidak dibekali dengan kesadaran untuk menjaga dan mencintai eksistensi bahasa suku mereka.
b. Perbedaan dialek masyarakat adat desa sambori dengan masyarakat mbojo pada umunya
Diperoleh dari definisi beberapa ahli dialektologi, pada umumnya dialektologi dipandang sebagai suatu kajian dalam bidang ilmu linguistik interdisiplener yang membahas kajian variasi bahasa yang berkaitan tentang
geografi, sejarah, antropologi, sosiologi, dan sosiolinguistik, bahkan untuk menafsirkan kata-kata tertentu dapat memanfaatkan filologi, kajian tentang naskah lama. Haryadi (2015) menyebutkan dialek dalam Kamus Linguistik adalah variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai. Pemakai yang dimaksud orang yang berada di lingkungan tertentu dengan ciri khasnya masing-masing dari setiap daerah. Untuk mendeskripsikan perbedaan unsur-unsur kebahasaan yang ada dapat dilihat dari segi fonologi, morfologi, dan leksikon. Yusra (2016) menemukan ada beberapa hal yang berkaitan tentang dialektologis masyarakat mbojo pada umumnya dan masyarakat sambori sebagai berikut: a) Bahasa Sambori dan Bima memiliki unsur linguistik yang serupa walaupun dalam beberapa hal terdapat variasi yang terpola, (b) secara dialektologis, bahasa Sambori dan Bima merupakan dialek berbeda dari bahasa yang sama. Dari analisis leksikostatistik ditemukan bahwa terdapat perbedaan kosakata dasar sekitar 61.2% dan disimpulkan bahwa bahasa Sambori merupakan dialek berbeda dari dialek Sera Suba yang digunakan untuk mewakili bahasa Bima.
Sehubungan dengan salah satu definisi dialek yaitu mengkaji tentang variasi bahasa, maka unsur bahasapun memberikan kontribusi besar dalam menggambarkan adanya suatu variasi bahasa tersebut. Unsur bahasa yang terlibat antaralain fonologi, morfologi dan leksikan. Secara umum pada ilmu fonologi, simplifikasi atau penyerderhanaan dibedakan menjadi dua yaitu structural simplification dan Systemic simplification.Untuk systemic simplification secara sistematis mengubah jenis bunyi ujaran tertentu dan menggantinya dengan bunyi ujaran lain. Systemic simplifying processes dapat dibagi menjadi dua yaitu subtitution dan assimilation. Ada banyak jenis penyederhanaan sistemik yang diamati dalam percakapan yang biasanya berkembang.
Beberapa yang lebih umum dipaparkan sebagai berikut: fronting, backing, stopping, denasalisation, frication, gliding, labialization, vowel harmony, consonant harmony, voicing change, feature synthesi.
Untuk perubahan bunyi, ditemukan systemic simplification bagian voicing change. Berdasarkan Williamson (2016) definisi voicing change ialah “ replacing voiceless consonants with voiced consonants and voiced consonants with voiceless consonants. And, the voicing of the affected consonant ‘anticipates’ the immediately following voicing of the vowel. Or it called regressive asimilation or anticipatory assimilation. Another term can be mentioned as anticipatory context-sensitive voicing.”
For example :
(1) Tea /ti/
(stop voiceless)→/di/ (stop voiced) Anticipatory context-sensitive voicing termasuk sebagai berikut.
Examples:
(2) Jeruk /Tungga/ (stop voiceless) → /Dungga/ (stop voiced) (3) Melihat / Eta/ (stop voiceless) → / Eda/ (stop voiced) Perubahan muncul pada kosa kata jeruk (a) Tungga dituturkan oleh orang sambori sedangkan dungga dituturkan oleh masyarakat bima apada umumnya. dan Melihat (b) Eta dituturkan oleh orang sambori sedangkan Eda dituturkan oleh masyarakat bima apada umumnya hal ini disebut dengan regressive/ anticipatory assimilation. Data-data hasil temuan yang lain dapat dilihat pada tabel 2 pada halaman 14. Adapun terdapat istilah voiced mengarah pada getaran pita suara saat suara sedang dibuat. Sedangkan voiceless diterapkan pada suara yang dibuat tanpa getaran pita suara.
Kedua istilah ini didefinisikan berdasarkan Bowen (2011) yang berbunyi “the term 'voiced' refers to the vibration of the vocal cords while the sound is being made. The term 'voiceless' is applied to sounds that are made without vocal cord vibration. The terms fricative, glide, stop, nasal, liquid and affricate refer to the way the sounds are made, or the "manner of articulation."
Dari segi morfologi, suku sambori mengenal awalan {pa} sedangkan suku mbojo pada umumnya mengenal awalan {ka). Seperti contoh dibawah ini.
(4) a. Paraso b. Karaso PRE-bersih PRE-bersih bersihkan bersihkan
Berdasarkan (4 a), awalan {Pa} pada kata dasar raso merupakan awalan (prefiks) yang biasa digunakan oleh masyarakat sambori, sedangkan
pada (4b) prefiks {Ka} biasa digunakan oleh masyarakat bima pada umumnya.
Adapun dari segi leksikologi, artinya yang menyangkut pembendaharaan kata atau leksikon, tentunya terjadi beberapa perbedaan. Misalnya seperti dibawah ini:
(5) a. Uta moro b. Uta mbeca Sayur
(6) a. Manu b. Janga Ayam
(7) a. Rau b. Dana Tanah
Bagian (lihat 5 a,6a, dan 7a) adalalah pembendaharaan kata yang dimiliki oleh masyarakat sambori dan bagian (lihat 5b,6b,dan 7b) merupakan leksikon dari masyarakat bima pada umumnya. Adapun tabel 1. konsonan Bahasa Sambori dan tabel 2. Hasil identifikasi perbedaan dari variasi bahasa Mbojo pada umunya dan Sambori yang dapat diidentifikasi lebih lanjut sebagai berikut:
Tabel 1. Konsonan dalam bahasa Sambori
Tabel 2. Hasil identifikasi perbedaan dari variasi bahasa Mbojo pada umunya dan Sambori
NO DATA
Identifikasi perbedaan
Indo Sambori Bima Ket
1 Fonologi Jeruk Mata Batu Telaga kecil Padi Jamur Pura-pura Gelap Berani Payung Kuburan Panci Tujuh Basah Lidah Pipi Mangga Bayam Manis Sapi Tungga Eta Watu Tiwu Pare Sasoro Soro-soro Rundu Dusa Hadu Rate Loa Pitu Mpisa Rera Lawe Pou Natu Masi Sopi Dungga Eda Wadu Diwu Fare Cacoro Coro-coro Rindi Disa Paju Rade Roa Pidu Mbeca Lera Rawe Fo’o Nadu Maci Cafi Stop consonant : Voiceless /t/ menjadi voiced /d/ Obstruent / sonorant} menjadi [-continuant] Atau voiceless fricative /s/ menjadi voiceless affricative /c/ [+sonorant] lateral liquid / ɭ / menjadi retroflex Liquid / ɽ͡/ Voiceless Bilabial stop /p/ menjadi voiceless labiodental fricative /f/ 2 Morfologi bersihkan Berpikir Memakan Mencuci Berlari Takut Pepaya Paraso Pawara Manga’a Manu’ba Palai Manta’u Kapaja karaso Kawara Ngaha Du’ba Rai Dahu Panja Biasa menggunakan {Pa }dan {ma} untuk sambori dan {Ka}untuk bima umumnya pada (bv,av, adj) bv : Behavioral av : action verb adj : adjective
3 Penanda Arah Ini
di sini itu Di sana Nde e Ndia ne tiwa ake ta ake ede ta aka Dem:loc:spatial:proxi mal;
Dem:loc:spatial:S-distal 4 Leksikon Sayur Ayam Tanah Uta moro Manu Rau Uta mbeca Janga Dana Merubah arti
Sumber : Hasil observasi, wawancara dan studi dokumen
Penelitian Terkait
Untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis perbedan-perbedaan yang menjadi identitias etnis kedua masyarakat diatas, maka peneliti melakukan studi dokumen yang berkaitan dengan hal – hal yang akan diteliti. Terbatasnya penelitian tentang dialektologis di Nusa Tenggara Barat ini membuat para peneliti bahasa lokal SASAMBO (Sasak Samawa Mbojo) ataupun dialeknya sedikit bekerja keras dalam mencari ataupun menggali referensi yang cukup mendalam. Hal ini disebabkan karena referensi seperti jurnal online yang sangat mudah diakses untuk dijadikan rujukan penelitian tersebut jumlahnya cukup minim. Namun, terdapat salah satu penelitian tentang dialek bahasa bima (Nggahi Mbojo) baru-baru ini yang dapat dijadikan rujukan sangat akurat yaitu dari Yusra (2016) pada jurnal Masyarakat Indonesia yang berjudul “ Kedudukan Dialektologis Bahasa Sambori Dalam Masyarakat Bima Kontemporer”. Berdasarkan data yang dianalisis secara linguistik dengan pendekatan leksikostatistik dan ditemukan bahwa bahasa Sambori adalah dialek yang berbeda dengan bahasa Bima kontemporer dengan perbedaan pada tataran kosakata dengan perubahan bunyi konsonan dan vokal terpola secara baik.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang bisa diperoleh berdasarkan hasil analisis ini ialah menariknya berbagai macam perbedaan dalam variasi bahasa yang dapat dipahami melalui unsur-unsur linguistik dan turut menjadikan kedua masyarakat ini mempunyai keunikan tersendiri. Terlebih, bagi masyarakat sambori yang berada di atas gunung yang bernama Lambitu ini merupakan kekayaan suatu warisan bahasa (a heritage language). Hadirnya perbedaan pada fonologi yang mengalami proses simplifikasi yang terjadi pada jenis konsonan, morfologi yang meliputi awalan (prefiks), leksikon (baik itu kata penanda arah, kata benda, kata kerja, behavioral verb, action verb) menjadikan masyarakat sambori tidak hanya memiliki variasi bahasa (dialek), namun memiliki bahasa tersendiri yang berbeda dengan Nggahi Mbojo atau bahasa bima yang berkembang saat ini (kontemporer).
DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Abdullah. 1986. Intisari Tata Bahasa Indonesia. Bandung : Djatnika.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2012. Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Guntur, Henry.1989. Pengajaran Kompetensi Bahasa Indonesia. Bandung : Angkasa. Haryadi, Dwi. 2015. Pemetaan Bahasa Jawa di Kabupaten Purbalingga (Kajian Dialektologi) Mackey, W.F. 1986. Analisis Bahasa. Surabaya : Usaha Nasional.
Mulyatiningsih, Endang. 2010. Bahasa Indonesia untuk penyusunan KTI. Program Studi Pendidikan Teknik Boga Fakultas Teknik UNY, Yogyakarta.
Santoso, K. B.1990. Problematika Bahasa Indonesia. Bandung : Angkasa.
Smaradhipa, Galih. Bertutur dengan Tulisan diposting dari situs http://www.rayakultura.com. 12/05/2005.
Soejono, A.G.1983. Metode Khusus Bahasa Indonesia. Bandung : C.V. Ilmu.
Stiawan, Yasin. Perkembangan Bahasa diposting dari situs. http://www.siaksoft.com. 16/01/2006. Tarigan.
Syamsuddin, A.R.1986. Sanggar Bahasa Indonesia. Jakarta : Universitas Terbuka Jakarta. Pangabean, Maruli.1981. Bahasa Pengaruh dan Peranannya. Jakarta : Gramedia.
Walija. 1996. Bahasa Indonesia dalam Perbincangan. Jakarta : IKIP Muhammadiyah Jakarta Press. Wibowo, Wahyu. 2001. Manajemen Bahasa. Jakarta : Gramedia.
Williamson, Graham. 2016. https://www.sltinfo.com/phon101-voicing-change/ . diakses pada 25 november 2018
Williamson, Graham. 2016https://www.sltinfo.com/systemic-simplifications/. diakses pada 25 november 2018