I
I
I
I
Peran
Pollsl
dalam Konflik Sosial-Politik
di
lndonesia
Penulis:
Eko Prasetyo, SH.
Busyro Muqqodas, SH, M.Hum.
Suparman Mazuki, SH, M.Si.
Eko Riyadi, SH. Laode Arham, SS. lmran, SH. Kata Pengantar: Adrianus Meliala, Ph.D. PUSHAM UII
,
Katalog Perpustakaan Nasional Dalam Terbitan (KDT) Peran Polisi dalam Konflik Sosial-Politik di Indonesia-Eko
Prasetyo, Busyro Muqqodas, Suparman Marzuki, Eko Riyudi, Laode Arham, dan Imran, Yogyakarta:
PUfiHAM UII, Oktober 2oo4 r9z halaman,
i-xii,
L4,S x 21 cmISBN 979-9723-14-9
Cetakan Pertama, Oktober 2oo4
Penyunting: Ririn Tri Astuti
Desain Sampul: Resist Book Design
Kompugrafi: Lantip Diterbitkan oleh: PUSHAM UII Jl. Kusumanegara No. zr8 Yogyakarta Telp./Faks. 0274-g75oo6 E-mail [email protected] Website www.pushamuii.org Dicetak oleh: Nailil Printika Telp. o274-Z4zz76r E-mail [email protected]
Daftar
lsi
t.
Polisi Berorientasi MasyarakatSebuah Pengantar
oleh Eko Prasetyo
. v
I2.
DaftarIsi
.
xi3.
Kata Pengantar:Community Policing:
Berpijak dari Inisiatif Masyarakat oleh Adrianus Meliala, Ph.D.
.
I4.
Pemolisian Berbasis MasyarakatSuatu Fokus pada Efektivitas Suatu Pendekatan Teoritis
oleh Letkol. Purn. Soekamid
o
7S..
Peran Polisi di Tengah Kompleksitas SosialMasyarakat Bali
oleh Laode Arham,
SS
.
256.
KekerasanStruktural dan Problem Etnisitas
di
Kalimantan Barat
oleh Suparman Marzukr, SH, M.Si
dan Eko Riyadi,
SH
.
6rT.
Meretas Jalan Damaidi
Bumi Ambon Manise: Sebuah Tantangan bagi Polisi dan Masyarakat oleh Busyro Muqodas, SFf, M.Humdan Imran,
SH
'
998.
Menimbang Peran Polisi di Aceh,Antara Masyarakat dan Konflik
oleh Laode Arham, SS dcn Imran,
SH o
r2gg.
Menyegarkan Kernbali Hubungan Polisi &Masyarakat
,Refleksi Pengalaman Program COP di DfY
oleh Eko
Prasetyo
.
r5710.
11.
Tentang Penulis
.
r89Mengenal PUSHAM
UII .
191v
1'-Kekerasan
Struktural
dan
Problem
Etnisitas
d
i
Kalimantan
Barat
o t e h s u p a r m
"
o!
:';i!'
ai*;,!
i,
onflik
etnis yangterjadi
di
Pontianak, atau lebih luasnya Kalimantan Barat, adalah sebuah bencanar
pasca Orde Baru.Konflik
Melayu-Madura-Dayak, menambah catatan
buram tentang
penderitaanmasyarakat
sipil di
masatransisi.
Peristiwaini
ditandai dengan serangkaiantindak
kekerasan, praktek kriminal,dan
berujung
pada kekerasan yangmassif.
Kekerasantidak saja berlangsung secara
'sinkronik',
melainkan jugamempunyai
akar-akar'diakronik'.
Terdapat
tarikan
historis dari masa pra-penjajahan, hingga masa Orde Baru.
Dalam
tulisan
ini
akan dipaparkan bagaimanakonflik
yangterjadi
adalah sebuah perpaduan antara kekerasanstruktural dan kekerasan
kultural
yang kompleks.Dalam
konteks
ini,
Pusham
UII
memilih
kotaPontianak
sebagailokasi
penelitian untuk
melihat
bagaimana kondisi masyarakat pasca
konflik.
Penelitianini
berada dalam 'bingkai' program Community Oriented Policing (COP) yang sedang dikembangkan oleh Pushamdilakukan pada Desember 2oo3, oleh Suparman Marzuki.
Responden
yang
diambil
sejumlah 65 orang
wargaPontianak, dan mewakili berbagai etnis yang ada.
COP adalah sebuah program
untuk
mpndekatkan Polisi dengan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai masalah hukumdin
sosial. Polisi dan masyalakat adalah obyek penelitian dalam studi kasusini.
Riset dan tulisanini
berada dalam garis tujuan sebagai berikut:Pertama,
ingin
melihat
bagaimana
genealogi kekerasan dankonflik
di
Pontianak (Kalimantan Barat)? Bagaimanakah relasi sosial antar etnis dan masyarakat di sana? Kedua, menjelaskan konteks ekonomi,kultural,
sosial
masyarakat
yang melahirkan
berbagai
tindak
kriminalitas? Ketiga,
bagaimanakah
peran
aparat
keamanan(Polisi)
dalam menangani problem-problemetnis dan masalah keamanan tersebut. Sekaligus apa yang
menjadi problem internal aparat juga akan disorot dalam tulisan ini.
Kota Pontianak
dipilih
sebagai daerah penelitian, didasarkan pada fakta sosial bahwa daerah tersebut pernahmengalami
konflik
sosial yangluar
biasa. Kerusuhanterjadi
antara komunitas
'pribumi',
yaitu
masyarakat Dayak-Melayu, dengan komunitas pendatangdari
PulauMadura. Pada saat yang sama aparat Kepolisian didera keterlambatan dalam menangani
konflik
tersebut.Pontianak dan Problem
Ehisitas
Pontianak,
ibu
kota
provinsi
Kalimantan
Baratmerupakan
kota
denganetnis
yang sangat beragam.' Kalimantan Barat sendirimemiliki
luas wilayah 146.76okm',
yangberarti
hampir
mencapai seperlimadari
luaspulau Kalimantan seluruhnya, atau lebih luas dari pulau Jawa bersama pulau Madura. Enam
puluh
lima
persen wilayah provinsi Kalimantan Baratterdiri
dari hutan.Itu
artinya, Kalimantan
sangat kaya akan berbagaijenis
kayu."
Sumber daya alamini
tentunya menjadi 'madu'yang menggiurkan bagi siapa saja, termasuk penguasa dan
para pemodal.
Selama ratusan tahun, etnis Dayak, Melayu dan Cina telali mendiami kawasan ini. Namun keragaman etnis dan
kekayaan
alam
kadangmenjadi
penyebab rentannyainteraksi sosial diantara mereka. Seperti
konflik
terakhiryang
terjadi
antara
Melayu-Madura-Dayak
telah
menimbulkan kerugian yang
luar
biasa. Trauma sosial harus dihadapi masyarakat dari pihak-pihak yang bertikai.Struktur
sosial yang selamaini
telah
mapan kembaliterkoyak oleh konflik. Tidak terhitung lagi nyawa manusia
yang tidak berdosa melayang, anak-anak kehilangan orang tuanya, serta semua aset yang selama
ini
telah dibangun menjadi hancur kembali.Dayo'k.
Dayak adalah
suku yang dianggap pertama
kali
mendiami
wilayahKalimantan.
Diperkirakan
sukuini
mulai datang ke pulau Kalimantan pada tahun 3ooo-15oo
SM. Mereka adalah kelompok-kelompok yang bermigrasi
dari
daerah Yunan, Cina Selatan. Kelompokini
disebut Proto-Melayu. Dari daratan Asia kelompok-kelompok kecil tersebut mengembara melalui Indocina ke SemenanjungMalaya. Berlanjut ke berbagai
pulau
di
Indonesia,
termasuk Kalimantan.
Beberapa
kelompok
lain
diperkirakan
bergerak
melalui
Hainan, Taiwan
danFilipina.
Beberapa kelompok, terutama yang kemudianmenetap
di
bagian selatanKalimantan,
kemungkinanbesar
untuk
beberapawaktu
singgahdi
Sumatera danJawa.g
Perpindahan
ini
terjadi
pada zaman glasial (zamanes), dimana permukaan laut sangat surut, sehingga dengan
perahu-perahu kecil, mereka dapat menyeberangi perairan
yang
memisahkan
pulau-pulau
itu.
Teknologi
t
tahun
l5oo
SM memungkinkan perpindahan
merekamenggunakan perahu
bercadik.
Masa bercocok tanamdiperkirakan
dimulai
sekitar
tahun
looo
SM. Beliungpersegi dan kapak persegi yang dibuat dengan teknologi perundagian ditemukan
di
Nanga Balang, Kapuas Hulu. Kehidupanreligius
pada zamanini
adalatl memuja roh nenek moyang, sesuai dengankehidupan
masyarakatzaman
Megalithikum.
Peninggalan zamanini
adalahdolmen yang ditemukan
di
Sedahan
Sukadana,Ketapang.4
Mula-mula suku
Dayak
mendiami
tepi
sungaiKapuas dan pantai-pantai Kalimantan. Tetapi kedatangan bangsa Melayu
dari
Sumatera dan Semenanjung Malayamemaksa suku Dayak berpindah ke hulu-hulu sungai.
Meloyu.
Etnis
melayu datang
ke Kalimantan
dari
PulauSumatera
dan
Semenanjung
Malaka.
Pada awalnyamereka dianggap datang dengan
tujuan
menjajah dan merampashasil hutan
yang adadi
Kalimantan. Dalam perkembanganDyo,etnis
Melayuini
kemudian menjadi besar dan akhirnyamendirikan
kerajaanyaitu
kerajaanSambas.s
Kedatangan
orang
Melayu
membawa
dampakterpinggirkannya suku Dayak, yang sebelumnya mendiami
wilayah tersebut.
Secarapendidikan dan
kemampuanmengolah alam, etnis Melanr memiliki kemampuan lebih dibandingkan etnis Dayak. Hutan-hutan yang selama
ini
dihuni etnis Dayak sedikit demi sedikit mulai dieksploitasi Eksploitasiini
dilakukan oleh masyarakat pendatang dan pemerintah, waktuitu
dengan menerbitkan HPH kepadabeberapa orang yang dekat dengan penguasa.
C[nc.
Sejak abad
ke-3, pelaut
Cina
telah berlayar
ke Indonesia untuk melakukan perdagangan. Rute pelayaranmenyusuri pantai
AsiaTimur
9ur
pulangnya
melaluiKalimantan Barat dan
Filipina
dengan mempergunakanangin
musim.6
Pada abadke-7, hubungan
Tiongkokdengan
Kalimantan Barat
sudahsering
terjadi,
tetapibelum menetap.
Imigran
dari
Cina kemudian masuk[e
Iierajaan
Sambasdan
Mempawah.Mereka
kemudian bergabung dalam kongsi sosialpolitik
yang berpusat diMonterado
dan
Bodokdalam
Kerajaan
Sambas, danMandor dalam Kerajaan Mempawah.z
Tahun
1292,pasukan
Khubilai
Khan
di
bawahpimpinan
Ike
Meso,
Shih
Pi
dan
Khau Sing
dalamperjalanannya
untuk
menghukum Kertanegara, singgahdi
kepulauan Karimata. Karena kekalahan pasukanini
dari angkatan perang Jawa dan takut mendapat hukuman
dari
Khubilai
Khan, kemungkinan besar beberapa dari mereka melarikandiri
dan menetap diIklimantan
Barat.sPada
tahun
r4o7,
di
Sambasdidirikan
Muslim/
Hanafi -Chinese
Community.
Tahun
l^469 laksamana Cheng Ho, seorangHui
dari Yunan, atas perintah Kaisar Cheng Tsu alias Jung Lo (kaisar keempatdinasti
Ming) memimpin ekspedisi pelayaran ke Nan Yang selama tujuhkali. Beberapa anak buahnya ada yang kemudian menetap
di
Kalimantan
Baratdan membaur
dengan penduduksetempat.
Merekajuga
membawaajaran Islam
yangmereka anut.s
Di
abad ke-r7 bangsa Cinahijrah
ke
KalimantanBarat
menempuhdua rute,
yakni melalui
Indocina-Malaya-Kalimantan Barat dan Borneo Utara-Kalimantan Barat. Tahun r741,orang Cina didatangkan besar-besaran
untuk
kepentingan perkongsian, karena Sultan Sambasdan
PanembahanMempawah menggunakan
tenaga orang Cina sebagaiwajib rodi.
Mereka dipekerjakan ditambang-tambang
emas.
Kedatangan
mereka
di
Monterado membentuk kongsi Taikong
(Parit
Besar) danMo.durg..
Etnis lain yang cukup berpengaruh secara ekonomi, sosial dan
kultural di
kawasan Kalimantan Barat adalahMadura. Etnis Madura
mulai
melaku,kanmigrasi
keKalimantan Barat
pada
tahun
19o2.,'Mereka datangmelalui
jalur
perdagangan garam,sapi dan
kambing.Mengetahui
kesuburan tanah Kalimantan,
generasipertama pendatang kemudian menjemput sanak keluarga
dan teman-teman mereka
di
Madura.
Mereka berlayar menggunakan perahu-perahu kecil dan mengikuti angin timur bertiup, yakni antara bulan Maret dan Oktober. Padaawalnya mereka bekerja sebagai pekerja kasar seperti; menebang kayu
di
hutan, membuka lahan pertanian danpekerjaan-pekerjaan
berat lainnya.
Pontianak, Sambasdan Ketapang adalah sasaran migrasi
dari
Madura."Arus migrasi
dari
Madura
semakin
deras pada zaman Orde Baru, setelah dibukanyajalur
angkutan laut Surabaya-Kalimantan Barat. Mereka yang bermigrasi keKalimantan Barat
rata-rata
adalah orang Madura yangberpendidikan rendah dan
buta
huruf. Di
sana merekabersedia bekerja apa saja, seperti menjadi buruh bangunan,
buruh jalan, tukang
sampahdan tukang
becak. Padatahun
1930 misalnya, ketikadi
Kalimantan Barat mulaidibangun prasarana jalan, semakin banyak orang Madura berdatangan
untuk
menjadiburuh
kasar. Migrasi orang Madura juga semakin lancar melaluijalur
transmigrasiswakarsa. Para
transmigran
swakarsatersebut
padaumumnya bermata pencaharian sebagai petani."
Bugis
Etnis Bugis herasal dari pulau Sulawesi Selatan, etnis
terkecil yang ada di wilayah Kalimantan. Kedatangan etnis Bugis secara
historis
ke Kalimantan Barat bermula dari datangnya DaengMataku
yangmenikah
dengan Ratu Malaya,yaitu
salah seorang anak Pangeran Agung dari kerajaan Sukadana. Daeng Matakuini
padatahun
r71o 66 - Peran Polisi dalam Konflik Sosial-Politik di Indonesiapernah membantu menyerang Istana Sultan Zainuddin
atas
suruhan
Pangeran
Agung,
saudara
kandungZainuddin.
Karenajasanya,
DaengMataku
diangkatmenjadi Panglima dan akhirnya keturunan Daen Mataku
ini
tersebardi
daerah Sukadana dan sekitarnya.'sDalam perkembangantrY&, orang Bugis tersebar ke
seluruh wilayah Kalimantan Barat dan membaur dengan etnis lain terutama Melayu. Di Ketapang, mereka menetap
di
Sungai
Putri,
Satong,
Siduk
Semanai,
Melinsuffi,
Sukadana, Rantao Panjang
dan
Teluk
Batang.
DiPontianak mereka ada
di
Segedong, Teluk Pakedai, BatuAmpar,
Sungai
Kakap.
Di
kota
Pontianak,
ada
duakampung Bugis besar yang berada
di
wilayah
tersebutyaitu
Bugis Dalam dan Bugis Luar. Keduanya terletak dikawasan
Tanjung
Hilir
yang bersebelahan
dengankampung Rab dan Keraton Kadariyah. Kampung Bugis
di
kota Pontianakini
sudah ada sejak zaman Kesultanan Pontianak.Dalam kesehariannya, orang Bugis dikenal sebagai
pekerja keras dan ulet. Mereka masih memegang teguh adat dan
tradisi
Bugis. Dalam interaksi sosialtrYo, orangBugis
tidak
ekslusif,
mereka
menetap
di
kampung-kampung yang juga dihuni oleh etnis
lain
seperti Melayu, Cina, Madura, Sunda, Jawa dan Dayak.'rRelasi
dan
Ketegangan
Beberapa
kajian
yangtelah dilakukan
oleh
para sosiolog dan antropolog. Beberapa kesimpulan tentangpola interaksi
antara
kelima
etnis
yang
menghuni
Kalimantan Barat tersebut cukup beragam. Salah satuciri
pokok
dari
hubungan
ini
adalah
hubungan
yang diduratkan atas persamaan agarl&, kepentingan ekonomi dan afiliasipolitik
yang sama.prof
Hendro
misalnyamenilai
bahwa hubunganI
sedangkan dengan Melayu
terjalin
sangaterat
karena persamaan agama. Berbeda dengan Madura-Dayak yangbanyak
diwarnai
sikap
prasangka
dan
persaingan.Sedangkan dengan Tionghoa lebih merupakan hubungan ekonomi karena hubungan jual beli. Sementara hubungan Tionghoa-Dayak secara umum sangat rbaik karena didasari
kesamaan nasib bahwa kedua etnis
ini
kebanyakan adalah sesama petani, meski dalam banyak hal hubungan keduaetnis
ini
lebih didasarimotif
ekonomi: tauke (majikan)-abak buah (pekerja).'sSeorang sosiolog Universitas Tanjungpura pernah
mengadakan
penelitian
yang
hasilnya
menyebutkan bahwahubungan
antara
Tionghoa
denganetnis lain
coraknya sangat beragam. Hubungan Tionghoa dengan
Melayu awalnya sangat
baik
namun
setelah
konflik
pertambangan emas,
dimana Tionghoa
memberontakmaka hubungannya menjadi
buruk.
Begitu juga denganDayak, awalnya hubungan antara Dayak-Tionghoa sangat
erat
hinggaorang
Dayak menyebut Tionghoa sebagai'sobat'. Namun sejak
1967 hubungan mereka menjadirusak
ketika
Indonesia
sedangkonfrontasi
dengan Malaysia.'6Pada
tahun
196oketika muncul
negara Malaysia, Soekarno menganggap Malaysia sebagai negara bonekaInggris. Sehingg&, sejak 1963 daerah Kalimantan Barat mulai dijadikan basis
militer
Indonesia dalam konfrontasi dengan Malaysia. Konfrontasi dengan Malaysia berakhir pada 1966, pemerintah Orde Banr mencoba menghapussemua
kantong
pro-Soekarno yang pada tahun-tahunsebelumnya
telah dibentuk
untuk
melawanNekolim
Inggris dengan menuduh kekuatan pro-Soekarno sebagaikekuatan PGRS/Paraku yang berideologi
komunis
dandidukung warga Tionghoa dan RRC.'7
Pada
Oktober l967, terjadi
konflik
besar antara Dayak versus Tionghoa, pemerintah ordebaru
melaluimiliter
yangdipimpin
Kodam Tanjung Pura melakukanmobilisasi etnik Dayak untuk'menghabisi' etnik Tionghoa terutama yang
tinggal
di
daerah perbatasan.Ironinya
Tionghoa yang dipaksa
keluar
dari
daerah perbatasan adalah mereka yangdituduh
PGRS/Paraku, yang padamasa sebelumnya dilatih oleh militer untuk berkonfrontasi
dengan
Malaysia. Orang Dayak
dimobilisasi
untuk
mengusir warga Tionghoa, maka periode
ini
dinamakan periode'demonstrasi' yang berlangsung selama tiga bulan. Ribuan warga Tionghoamati
terbunuh
pada peristiwa ini.'8Dari uraian
di
atas,tampak
bahwa
ketegangan antaretnis kerapkali dipicu oleh masalah-masalah politik,kekuasaan,
dan perebutan sumber-sumber
ekonomi.Tetapi
keteganganantaretnis, terutama
pasca'65
danmasa Orde Baru, dapat digambarkan sebagai ketegangan
yang diciptakan oleh kepentingan kekuasaan nasional. Pertikaian berskala massif
timbul
ketika digerakkan oleh kekuatan yang maha besar, dalam halini
pemerintah danmiliter.
Meskipun demikian,
perbedaan
tipikal
dankarakter
tiap-tiap
etnisjuga
menjadifaktor
mudahnyakonflik tedadi.
Salah
satu
peristiwa penting
di
masatransisi
demokrasi adalah
konflik
berdarah tiga serangkai antaraMelayu-Madura-Dayak.
Peristiwa
ini
sangatmenghebohkan,
tidak
sedikit
nyawayang
melayang.Orang
dibantai
dengancara-cara yang sadis
sepertipenggal kepala, pemerkosaan dan pembunuhan dengan cara mengeluarkan organ dalam manusia seperti jantung dan hati dari orang yang dibunuh.
Kekerasan
dari
Masa ke
Masa
ha
dornmrrscrPeniaiorhorrt.
"Secara historis,
konflik
di
daerah Kalimantan BaratI
kerajaan Melayu Sambas dan Mempawah mendatangkan
warga Tionghoa dari daratan Cina untuk mengeksploitasi emas
di
daerahKalimantan
Barat. Sentra-sentra emaspada
waktu
itu
diantara,nya adalah Monterado, Budok(Kabupaten
Sambas):
dan
Mandor
(Kabupaten
Pontianak).'e
IPopulasi Tionghoa
ini
kemudian
berkembangmenjadi
kian
besar. Padatahun
ryTo mereka membuat kongsi-kongsi sendiri dan akhirnya tidak mau tunduk dantidak
mau membayarupeti
pada kerajaan Sambas dankerajaan Mempawah.
Akhirnya
peperanganpun terjadi.Pada
tahun
r85o
peristiwa
serupa
terjadi
ketika
pemberontakan oleh kongsi Thai Kong, Sam Tiu Kiu, Mang Kit Tiu, akhirnya peperangan dimenangkan oleh kerajaan
Sambas
dan
Mempawah
setelah mereka
meminta
bantuan kepada Belanda.'oPertikaian selanjutnya
adalahpertikaian
antaraTionghoa dan Dayak. Hal ini terjadi hasil permainan
politik
kerajaan Sambas. Kerajaan Sambas menempatkanorang-orang Dayak sebagai pengaman
kongsi. Ketika terjadi
pemberontakan antar kongsi maka otomatis orang Dayak
banyak yang
terbunuh.
Pembunuhanterhadap
wargaDayak
itulah
yang
menyebabkan peperangan antaraDayak-Tionghoa, selain orang Dayak memang
tidak
mau tunduk pada kongsi. Peperangan ini tejadi pada tahun r83odan dikenal dengan istilah Perang Sungkung, yaitu perang antarsuku yang
terjadi di
daerah Kongsi Mandor, KongsiMonterado
dan
Kongsi
Budogyakni
antara Tionghoa melawan Dayak Kanayatan (Mandor), Dayak Bakati dan Dayak Sungkung."'Pasca
Kolonial.
Konflik
antara Dayak-Tionghoaini
kembali terjadipada
tahun
1967.Waktu
itu
terjadi
pengusiranbesar-besaran
orang Dayak terhadap warga Tionghoa di
pedalaman Kabupaten Sambas, Kodya Pontianak, Sangau
dan
Sintang.
Hasil catatan
Kodam
VII
Tanjungpura
menyebutkan ada 55.521 orang Tionghoa yang dipaksa keluar oleh orang Dayakdari
Pedalaman.22Tetapi pengusiran
ini
sangatterkait
dengan perandan mobilisasi
TNI
dalam 'menghancurkan'
Partai
Komunis Indonesia
(PKI). Konflik
yang
sebetulnyamerupakan
usahatentara menghabisi PKI, ditandai
dengan usaha memanfaatkan
orang
Dayak.Etnisitas
Oayak dimanfaatkan
untuk
mengusir Cina yang sudah ratusan tahun menetapdi
pedalaman.23Catatan selanjutnya adalah pertikaian antara Dayak dan Madura. Tercatat sejak tahun 1950 sampai rggg telah
terjadi
rz
kali pertikaian antara Dayak dan Madura yangkelemuanya
dipicu oleh tingkah oran8
Madura.
Pemicunya adalah karena pencurian dan pembun-uhan yang
dilikukan
orang Madura tehadap orang D-ayak."nPertikaian selanjutnya adalah antara Melayu dan Madura. Pada awalnya
,utdugur
Bugis, Melayu dan Arabmembawa
orang Madura
ke Kalimantan
Barat
untuk
dipekerjakan
sebagaiburuh
kontrakan
dengan upahmurah
bahkan ada yangtidak
dibayar. Warga Madurakemudian membuka hutan
untuk dijadikan
perkebunandan ladang. Merasa
diperlakukan
tidak adil
dantidak
manusiawi; pada tahun 1933 pekerja Madura mengadakanpemberontakan di sekitar Kerajaan Sukadana (Ketapang)'
irertikaian Melayu-Madura kembali terulang pada tahun
tggg yang berawal
dari
DesaParit
Seti. Pertikaianini
klmudian
merembet
ke
Kota
Pontianak
yangmenyebabkan - sedikitnya 2o.ooo orang menin-gg"L"u Selanjutnya adalah
pertikaian
Melayu dan Dayak.Kedatangan
orang-orang
Melayu
dari
Sumatera dansemenuniung Malaka
mendesakorang-orang
Dayakmasuk ke pedalaman sampai
hulu-hulu
sungai. Orangmelayu yang beragama
Islam
meng-Islam-kan
orangDayai<. Melayu ber[andengan dengan_Belanda menjajah
,
bawah
panembahan
Mintcoek dan
Melayu
Selimbau menyerangorang
Dayak Taman, Dayak Pekaki, Dayak Pajak dan Dayak Suhaid.Perant
Arde
Bantt
.Kondisi
itu
diperlparah pada masa pemerintahanOrde Baru, warga
etnik
Dayak
dimobilisasi
untuk
mengusir Tionghoa pada
tahun
1967. Penguasa besertaelit
politik
Jakarta
melakukan
eksploitasi
sistematisberusaha menguras habis potensi lGlimantan Barat. I(anr
hutan
'dijarah'
oleh
penguasa
yaitu
dengandimunculkannya Undang-undang No. 5
tahun
tg67
tentang
Kehutanan, sehingga penguasa dengan bebasdapat memberikan
izin
HPH
kepada orang-orang yang 'dekat' dengan penguasa.'6Eksploitasi
hasil
alam oleh pusat
pada akhirnyamenyebaban termarginalnya warga Dayak baik
dari
sisi ekonomi,politik
dan sosial budaya. Warga Dayak menjadimiskin
danterus
terbelakang karena lahan-lahan yangselama ini mereka huni'diakui'sebagai kepunyaan negara.
Masyarakat
Dayak
kehilangan
hak
penguasaan dan penggunaan tanah yang selamaini
telahdiakui
dengan berlakunya hukum adat. Upaya 'penjarahan' tanah hutanitu
dilakukan
dengan dikeluarkannya berbagai macamperaturan
perundangan
antara
lain
Undang-undangPokok Agraria, Kehutanan, Pertambangan.
Upaya lain yang dilakukan adalah pada tahun r98o
dengan
memindahkan penduduk
wilayah
pedalamanmenjadi
sebuah
komunitas yang
menetap
di
suatukawasan.2T
Dikatakan bahwa
77o/odari
4962 desadi
Kalimantan Barat berpenduduk kurang
dari roo
rumahtangga. Setelah
dilakukan
pemindahan
jumlah
desamenjadi sangat sedikit
yaitu
r2g7 desa. Tindakan tersebutdilakukan tentunya dengan maksud
untuk
memperluasdaya
jangkau
'tangan-tangan'
pusat
dalammengeksploitasi Kalimantan Barat. Dengan begitu, secara
otomatis ketika wilayah-wilayah tersebut
sudahtidak
berpenghuni, akan dengan mudah penguasa mengambilmanfaat
dari
sumber daya alamyang
ada. Atas nama pembangunan dan modernisasi, negara telah melakukan eksploitasi atas Kalimantan Barat.Orde Baru telah
mendesain
Kalimantan
Barathingga berubah
total
struktur
sosialnya.
Semula masyarakat yangdipimpin
oleh kepala adat digantikanoleh kepala desa yang sekaligus
menjadi
kepanjangantangan penguasa.
Kondisi
masyarakatmenjadi
tenang 'adem ayem', konflik mulai muncul antara Melayu-Dayak padatahun
rggg ketika orang-orang Dayak menggugat komposisi anggota MPRRI
dari
Kalimantan Barat yangdidominasi oleh orang-orang Melayu.'8
Konflik
yangterjadi
di
wilayah
Kalimantan Baratmerupakan akibat
dari
sistem sosial yang dipaksakan. Keberadaan etnis yang beragam,tidak
dibarengi denganpendidikan dan penyadaran serta komunikasi
aktif
antaretnis.
Hal inilah
yang menjadifaktor
penyebab konflik.Ekslusifisme yang dibangun oleh
tiap-tiap
etnis sangatbesar. Tionghoa misalnya,
yang menghuni
wilayah-wilayah strategis perkotaan tidak berinteraksi aktif dengan
masyarakat
lain.
Orang Dayak yang beradadi
pinggiranwilayah, bahkan
di
hutan-hutan
menyebabkan merekaterisolasi
dari
informasi
yang ada.
Sedangkan orang Madura yang mayoritas bekerja sebagai petanf dankuli
kasar, tidak mau melakukan interaksi dengan warga etnis lain. Orang Madura cenderung mengelompok dengan etnis mereka sendiri, bahkan tempat ibadah pun hanya untuk orang Madura sendiri.
Penguasa
Orde Baru mempunyai peran
dalamkonflik
yang terjadi. Upaya penyeragaman dengan dalihpersatuan dan kesatuan
telah mematikan hukum
adat yang sebelumnya menjadi acuan hidup dan pola struktur sosial yang ada. Pemaksaanpola sosial
menyebabkan adanya salah satupihak
masyarakat adat yang merasadisingkirkan
dan
kehilangan kekuasaan.Tidak
heran,kalau S. Djuweng menyebut pembangunan Orde Baru merupakan sebuah penindasan dan eksploitasi terhadap masyarakat adat
di
Kalitnantan Barat, khususnya Dayak.Serangkaian
kebijakan pemerintahan
nasional telah
diterapkan dan
diberlakukan
dengan cara represif dan pemaksaan atas nama pembangunan.2eUsaha
Resolusi
Konfliks"
Berbagai
upaya
rekonsiliasi
konflik
telah
telah
dilakukan, Namun
upaya-upayatersebut
selalu gagalkarena dianggap menguntungkan salah satu pihak. Pada
konflik
1998-1999misalnya,
Polisi
sangatlemah
danterlambat.
Mengenaiketerlambatan
aparat kepolisiandalam mengatasi konflik, diakui oleh Kapolda
lklbar
saatitu,
Kol. Pol Drs, Chaerul
Rasyid, SH bahwa
aparatkepolisian mengalami kesulitan dalam menangani konflik.
Personil
yang
sedikit dan
massa
yang
beringas
menyebabkan Polisi dalam posisi yang serba sulit.
Raden
"Wempi"
Winata
Kusumah
sebagaipemangku
adat kerajaan
Sambas sangat menyesalkankelambanan pihak..Ke-polisian dan aparat
TNI ini.
Merekadinilai sangat
tidali
cekatan dalam menentukan sikap dan keputusandala{r
menghadapipertikaian
yangterjadi.
Padahal
korban telah
banyak
berjatuhan.r'
Menurut
pemangku adat Dayak Sambas Ubertus Ahie, Polisi sangat
lamban dalam menangani
konflik ini.
Aparat Kepolisiantidak
sigap dengan mendatangi warga dan memberikanpenerangan kepada mereka.
Lemahnya
Aparat
Polisi
Kondisi
ini
diperkuat
oleh
hasil
penelitian
yangdilakukan Pusham
UII
terhadap warga
Pontianak.
Sebagian besar responden (86.1 5%\ menilai bahwa polisi
t
tidak
mampu menanganikonflik
tersebut. Detilnyalihat
tabel
r
di bawah.Kemannpuoln
poldsi
dalann tnenantgo:ni kerusu hoint
lVlarpu14o/o
Padahal, sebagian besar responden (6o"/o) sudah
menangkap akan adanya
gejala
dan
konflik
yangmembesar menjadi kerusuhan. Kepolisian, lagi-lagi dinilai tidak melakukan apa-apa. Lihat tabel
z
dan 3di
bawah.Apc'kc.h
gejala
kerusuhan
sudch
nannpo,k60% 50% 10% 3(F/c 20o/o 10/o 0%
Ya, sudah
ada
Ttdakkelihatan
Ttdak tahutanda-tandanya tanda-tandanYa
Apa
Acrngdilakukoln
Polisfsetelah
mengatohui
g ej o'la ker"usu hoin tersebut?
XC. 10,760lo r
I
A. 32,300/oI
A. Melakukan pembicaraan denga bkoh masy.I
B. Tidak melakukan apa-apaI
C. Tidak bhuPasca kerusuhan, Polisi pun tidak melakukan proses
Polisi,
secara
umum
hanyamengantisipasi
dari
jarak
yang responden kami.penyelesaian yang penting, yaitu dengan cara menggalang proses pendekatan resolusi yang berbasis pada masyarakat
dan
tokoh-tokohnya.
melakukan
patroli
'dan Jauh'. Berikut peniflaianApa
tind,akoln Poldsi setelahterjadi
kentsuho:n?lg c. 12,30%
nA. 16,92%
i
f
A. Pafoli siang malam, sambil mendabngi dan berbicara dengan warga unfuk menerangkan I: .-; g. Pafoli siang malam, bpi tdak mendabngi dan berbicara dengan w arga unUk menerangkan i
i
I
C. Tidak melakukan apa-apa iii
D. Tidak bhuPasca kerusuhan, hubungan Polisi dan masyarakat juga tidak menunjukan pola relasi yang bisa mendekatkan
mereka
ke
arah
kerjasama
yang
signifikan
untuk
menghadapi
potensi
dan
perkembangan
konflik
di
masyarakat.
Hampir
tidak
ada komunikasi daninisiatif
aparat
untuk
mengantisipasi kemungkinankonflik.
di
antara masyarakat. Secaradetil lihat
tabeldi
bawah.Kotnunikcsd
Polisi
dengornmrrsyaro'kof
setelahkerusuho,n
E Tidak bhu
60/o
i .I
Lebih seringi i
13o/on Tidak pernah
2AYo
,
I(ami juga melakukan wawancara kepada sejumlah personel polisi. Ternyata mereka juga memberi jawaban
yurrg
cukup singkron
dengan kesan
dan
persepsi*ury"takat
di
atas. Salah seorang personel mengatakan,"Tugas
Polisi
itu
standar,
yaitu
melakukan
p.nuttggulangan dan pencegah_utt Pada waktu awal-awalkejadian
kimi
sudah melakukan
langkah-langkah
p.n."gahan,
tetapi
karenawilayah Kalbar
cukup luas,r.*.tt1ara
jumlah
aparat
terbatas,
upayakami tjdak
maksimal." Tindakan pencegahan yang mereka maksud
adalah bahwa
merekamencoba
melokalisir
wilayah
konflik, menenangkan massa dan mengajak bicara
tokoh-tokoh
masyarakatdari
masing-masing suku.
Namun usahaini
gagalterbukti
dengan keadaanyang
tidak
membaik.
Beberapa personel juga menilai adanya sinyalemen
bahwa TNI berperan dalam konflik antarsuku
itu.
Denganhati-hati, salah seorang berkata, "Wah, kalau
itu
saya gaktahu, tetapi
kalau
melihat
keadaandi
medankonflik,
dimana keiua belah pihak ada yang punya senjata organikTNI,
mungkin saja halitu
ada."Peta
Persodan
COP
studi
ini,
pada
dasarnya
ditujukan
untuk
memberikan orientisi kepada aparat Kepolisian di Kalbar, dalam melakukan tugas 'patriotik'-nya dengan paradigma
baru.
ParadigmaCommunity
Oriented
Policing.
Peta persoalan masyarakatdi
Kalimantan
Barat, khususnya i,ontianak menjadi sangat penting untuk ditegaskan dalamriset ini.
Pengelundupan
Selain
permasalahan
konflik
antar
suku
di
Kalimantan
Barat, satu permasalahan besar yanglain
adalah penyelundupan kayu. Menurut sejarahnya, tempat
t
yang selama
ini
dihuni
olehkomunitas
Dayak menjadisempit
karena
terjadi
penjarahan
hutan.
Bahkan penjarahanitu
dilakukan sejumlah perusahaan HPH yang di-bac/<ing oleh aparat dan pemerintah.Salah satu kasus penyelundupan kayu terbesar yang sempat muncul phda masa reformasi adalah kasus kapal M. Klover.32 Peristiwa itu terjadi pada tanggal3r Mei 2ooo. Ketika
itu
ada kerjasama antara sebuah Lembaga SwadayaMasyarakat
dan Front
MahasiswaIndonesia
WilayahKalimantan Barat (FMIK). Aktivis
dari
LSM memberikan informasi kepada para aktivis mahasiswa bahwa ada satu kapalMotor
Clover yang mengangkut kayn ilegal sedangberlabuh
di
pelabuhan Pontianak dan rencananya akanberlayar alam harinya.
Malam harinya,
sekitar
4
sampai
S mahasiswamenuju
lokasi
untuk
melakukan investigasi
namunmereka dicegat oleh aparat dan tidak diperbolehkan masuk ke arena pelabuhan. Para
aktivis
mahasiswa kemudian pulang dan kembali ke pelabuhan dengan mengajak sekitar 35 mahasiswa. Akhirnya mereka diperbolehkan masuk kepelabuhan. Ke-gS
aktivis
mahasiswa tersebut berhasilmenduduki kapal
menunda pemberangakatan,
yangseharusnya jam
rr
malam, hingga pagi hari. Tidak petugaspelabuhan
ataupun
nahkoda
kapal, yang
dapat
menunjukkan kelengkapan dokumennya.r3
Kasus KM. Clover hanya satu diantara sekian banyak kasus
penyelundupan
kayu yangterjadi
di
pelabuhanPontianak. Sekian
tahun
mahasiswa berusahauntuk
mengungkap penyelundupan kayu
di
Kalimantan Barat,baru dalam kasus
ini
mereka mendapatkan kemenangandengan
mengungkap penyelundupan
ini.
Kasus KM. Clover hanyalah satudari
sekian banyak kasus serupa yangtelah menjadi
rahasiaumum.
Kasus penebangan kayu hutan secara ilegal telah berlangsung lama, terutama sejak orde baru berkuasa. Penebangan kayu secara ilegal merupakan fenomena sosial yang dapat dijumpai hampirsetiap saat. Datangnya era orde
baru
membawa modelbaru
dalam penebangan kayuhutan,
penguasa saatitu
secara korup telah membabat hutan dengan
dalih
demi kepentingan negara.Seringkali
pemerintah
melemparkan stigma dankebijakan
'rasis'
yangmenyebut
masyarakatlokal
di
pedalarnan sebagai suku
terasitg,
peladang perambah hutan dan istilah-istilah lain yang menggambarkan betapaterbelakangnya masyarakat
di
pedalaman Kalimantan. Bedanya antara penguasa pada eraorde
baru
dengan penebangliar
adalah bahwa penebangliar
melakukanpenebangan secara
liar
dan
ilegal
murni
tanpa
adainstrumen
pembenar yangdapat
dijadikan
legitimasi
perilakutry?, sedangkan penguasa ordebaru
melakukanpenebangan hutan dengan menggunakan kekuasaannya
sebagai instrumen legitimasi atas tindakannya. Penguasa
menggunakan segala potensi kekuasaanya baik yang ada
pada lembaga
legislatil
nrdikatif
apalagi eksekutif untukmengambil paksa kekayaan
hutan
yang adadi
wilayahKalimantan Barat.
Kuatnya birokrasi pada masa orde baru menjadikan
kasus penyelundupan kayu selama
ini
tidak dapat diusut. Semuajalan
yangdilalui
untuk
penjualan kayu
telah tertata secara rapi sehingga menyulitkan bahkan menjadipenghalang
bagi
para
pihak
yang akan
melakukan
investigasi terhadap permasalahan tersebut.
Kasus
KM.
Clover misalnya, betapapara aktivis
mahasiswa mendapatkan kesulitan luar biasa untuk dapat
menduduki kapal yang mengangkut
ribuan kubik
kayuyang akan
dijual
secara
ilegal.
Mahasiswa
harus berhadapan denganpara preman yang
disewapihak
pelabuhan yang mengakudirinya
addlahburuh
angkutpelabuhan.
Selain berhadapan denganpara
preman'mahasiswa harus berhadapan dengan aparat
birokrasi
yang dengan rapi berusahamenutup-nutupi
kasus yangAparat
kepolisian
yang
menjadi
tumpuan
masyaiakat
dalam
penegakan
hukum
pun
tidak
mendukung gerakan para mahasiswa bahkan cenderung
mendiamkan. Sampai-sampai mereka harus menyadera
para
pihak
yangberkompeten dalam
mengenai kasustersebut
di
gddungRektorat Universitas
Tanjungpura Pontianak.Dalam
penyanderaanitu,
para
mahasiswamenahan pejabat-pejabat pemerintahan
di
Pontianak dan kepala Beadan Cukai
HJ.
Namun karena menghadapiancaman serbuan oleh polisi, maka para sandera akhirnya
dibebaskan.ga
Mampukah aparat kepolisian
di
masa reformasiini
membongkar 'mafia' kayu yang melibatkan birokrasi dan aparat negaradi
Kalimantan Barat?Ma'sgilo,h
Sosio'l
dorn KeannantornSelain penyelundupan
kayu,
masih banyak
lagipermasalahan
sosial
yang ada
di
Kalimantan
Barat.berdasarkan penelitian terhadap responden, ditemukan
ada beberapa macam permasalahan sosial
lain
yang adadi
Kalimantan Barat, selengkapnya dapatdilihat
dalam tebel sebagai berikut:Pertnosorlahorn sosdct Vorng orda
di
masgatako.t
E 12,307o i C27,690/o
!A. Narkoba
[i B. Pedudian
I
C. PerampokanE D. Kerusuhan (konfrik ehis)
I
E. Perd4angan wanih, bayi, WTS, TKW llegala
Permasalahan yang sampai saat
ini
masih menjadimasalah
besar
di
Kalimantan Barat
khususnya di
Pontianak adalah perdagangan anak
dan wanita
sertakekerasan
terhadap perempuan.
Lembaga
BantuanHukun untuk
Keadilan Pontianak(LBH PIK)
mencatatdalam tahun 2oo3 terjadi 3o8 kasus kekerasan
terhadap
Ip"r.*puan
dan anak.tu Artinya hampir setiap hari terjadi Lurrrs kekerasan terhadap anak dan perempuan.Da{
3o8kasus tersebut,
r3z
kasus diantaranya kekerasan dalamrumah
tangga,
93
kasus pemerkosaan'
59
kasusp"ncubnlan, rg kutos perdagangan-anak dan perempuan serta enam kasus pelecehan seksual's6
Khusus
untuk
perdagangan manusia, kasus yang banyak terjadi adalah penjualan manusia dengan tujuanMaiaysia.-pada
awalirya
perem-puanpenganggur di
daerah-daerah Kalimantan Barat ditawari
untuk
menjadipembantu rumah
tanggaatau
sebagaipenjaga toko,
1u-u1
setelah,u*pui ai
Uutaysia
mereka kemudian diserahkan kepada calo atau germo_yang-akan menjual mereka kepada para lelaki hidung belangdl
l'lgseri Jirantersebut.
Jalur
perdaganganmereka adalah melalui
pontianak-sara*ut
. sedangkan penjualan paraTKI
ini
dilakukan
di
Kuala Lumpur dan Kuching'azPermasuluhutt
ini
dibenarkanoleh para Polisi di
Pontianak. Ketika ditanya mengenai permasalahan sosialv""g
"aa
di
Pontianak,mereka-
*"ttju*ab
bahwa secaral*i*
di
seluruh Kalimantan Barathampir
sama' yaitukriminalitas,
seperti
pembunuhan,
penganiayaan'
perkosaan,perjudiurr,
p.tuttg
tanding
antarsuku
danminum-minuman
keras.
Teiapi
kalau
di
kotamadyapontianak
yang menonjol,yaitu perjudian,
pencuriana""i""
kekerasan, pencurian kendaraanbermotor,
danminuman keras.
Para
Polisi
yan8kami
wawancarai menuturkan
bahwa latar belakang -dun
kondisi
sosial yang menonjol adalah kesenjangan.fotottti.
Di Kalimantan Barat tingkatkesenjangan
ekonomi cukup
tinggi,
dan
banyakpengangguran. Sedangkan gangguan sosial yang sjfalnya
Snnn,
dikarenakan heterogenitas suku, agama, bahasadan budaya yaTg sangat berbeda.ss
Polisi
di
maita
Masyarakat
Penelitian singkat di Pontianak ini mengangkat topik
yang
penting,
yaitu
bagaimana persepsi dan penilaian masyarakat tentangpolisi.
Citra
dan kesan masyarakat yang menjadi responden, cukup menyedihkan.Dari tabel dibawah, diperoleh data bahwa sebagian
besar masyarakat menganggap polisi belum baik. Hal
itu
terlihat
pada besarnya prosentase masyarakat
yang mengatakan bahwacitra
polisi belum baik yaitu sebesar 86.15 %. Mekanisme yang sangat birokratis danberbelit-belit
merupakan pengalaman yangburuk,
yang dialami mereka (sebesar53.84
%)ketika
berhubungan denganpolisi.
Alasanlain dari
buruknya
berhubungan {e1Sanaparat adalah harus mengeluarkan biaya yang
tidaktecil.
gahkan ada responden yang menuturkan bahwa kalau ada
polisi
mendatangi sebuahtoko
milik
orang Cinadi
Poniianak, maka
serta merta
ia
disambut
hangat, dansebuah amplopberisi rupiah sudah tersedia. Iklangan Cina
boleh dikata menjadi sumber pundi-pundi yang'vital'bagi aparat.
Pwepsi
Masgorgrkat TerhadorpPolisi
Bak
13,850/o
Peng o,lo:m'cnt tnosy a:ro,ko,t
b erhubung
an
d.engan
Polisi
tJC.21,53Yo 16,920/o
tr A. fVbnyenangkan
!
B. Birokratis dan berbelit-belitAkibatnya, sebagian besar responden, mengalami pengalaman Vu"S menjengkelkan dengan Polisi. Tabel di
t"*utt
ini,
memperlihatkan betapa menjengkelkannya Polisidi
Pontianlk.
Mereka yang merasa sedang hanyasedikit.
Kescn
lrrrorsyano,ko:tsetelah
b erhubung ant dengan
Polisi
rc1";',.-.ffi,,
\' . ' . . . ' . ' ' ' 1 i.. . '.'.'.'.'.'l tr.' .'.'. ".".".".".i\*.:i'"
I
B. tt/bnjengkelkan i !I
C. Biasa-biasa saja i FjB.76,920/oSebagai penegak
hukum, oleh
masyarakat, Polisi dirasa belum Uait dalam menangani kejahatan. Sebanyak S8.+6 % responden mengatakan bahwa Polisitidak
baik dalam menegakkan hukum. secara umum, Polisidinilai
i"g"f
dalani
menjalankan
tugasnya' sebagai penegakhukum dan
pengayom masyarakat
di
Pontianak,
Iglimantan
Baiat.Hil
itu
dapatdilihat
dari hasil pollingsebagai berikut:
n C. Keluarkan biaYa besar
Kemannpuant
Polisi
sebogoii Penego.kHukum
D. 6t15% A.
IJA. Baik
il
B. Cukup baikB C. 'hdak baik
i! D. Kurarg mampu, tidak serius, bdum muimal, buruk i
Perorn Potdsd d.o;lann Menorngolni Keiahatoln
3 e. 30.76%
I
A. lr/bnenuhi harapan rnasyarakati i B. Belum nenenuhi
I
C. Trdak nenenuhiharaPantr 8.61,5306
Kurantgnya
Pelagornan
Bagi masyarakat yang menjadi
respond.l
Pusham di Pontianak, pelayanan polisi cukup buruk. Penilaian pararespond.n
*ittcakup
bigaimana sikap dan respon polisidalim
menerima laporan masyarakat, bagaimana peranpolisi dalam menangani masalah lalu lintas.
84 - Peran Polisi dalam Konflik Sosial-Politik di Indonesia
I 8.27,690/ol i i c. 58,46% riA. 7,69%
Silccp
polisd dalam meneritna
loloorotn ICepat 9% tnccyorrakat E Sangat lanban 54o/oPercrn Potisd do,lann lm.enolttgorni
lalu
lintas
c. 18,46%IiB..73,840/o
!
A. 7.69%!
A. Sangat baikI
B. Belum baikI
C. Tdak baik sarm sekaliDari tabel di atas dapat diketahui bahwa masyarakat
menilai
bahwa Polisijuga belum
memenuhi
harapan masyarakat dalamhal
menanganikejahatan. Hal
itu
terlihat
dari
hasil polling
yang
menunjukkan
bahwa6r.ggo/o
responden mengatakan
bahwa Polisi
belum
memenuhi harapan masyarakat
dalam
menanganikejahatan. Bahkan 53.8 Qo/o responden mengatakan bahwa
Polisi
sangatlamban dalam menangani
laporan
dari
masyarakat. Dalam penanganan pelanggaranlalu
lintas,sebigian
besar masyarakatyaitu
79.84
% respondenmengatakan
bahwa
Polisi
belum
baik
dalammenanganinya.
Pencegatan
untuk
mencari
'uang tambahan'bagi oknum dan bawahan polisi Pontianak juga sering terjadi.Polisi juga
dinilai
tidak
berhasil dalam membantumasyarakat
rentan
dan
menanganiaksi
massa' hasil p"nelitian menunjukkan hal tersebut. Dapat dilihat dalam tebel berikut:Perorn
Polisi
d.o;lann tnenclftganikelompok
tento:n(ornak, wornrito, orantg co'co,t)
E c. 30,76%
I
A. Sangat baikt]B. Belum baik
I
G. TirJak bak satm sekalin B. 64,53%
Perant
potisi
dalorm rnettantganicksi
mrrsrr2 A. 9,230/o
t8c.29,230/0
!
A. Sangat baikI
B. Belum baikE C. Tkjak baik sarm sekali Ll B. 53,E4%
Dari kedua table
di
atas terlihat bahwa masyarakat merasaPolisi belum
baik
dalam menangani kelompok rentan (wanita, anak-anak, orang cacat)'yaitu
sebanyak 6+.sg % responden. Dalam menangani aksi masa, polisiluga-aianggap
belum
baik
dalam
menanganinya yaitusebanyak
-p.tu6"han
SS.8+ %.status
dari
TNI
menjadi
sipil
tidak
membawa perubahan yang signifikan pada
diri
Polisi. Hal tersebut dapat diketahui dari persepsi masyarakat bahwamasyarakat
menganggaptidak
ada perubahan
yangsignifikan
antaraPolisi
di
bawahTNI
maupun setelahlepas dari
TNI.
Sebanyak 6+.S3 % responden mengatakanhal tersebut. Tabelnya sebagai berikut. 3 A.7,690/o
Penrborhan Polisd setelah Lepors
dari
flVf
Jc.23,070/o ;A. 15,380/o
E B. 04,53%
lI A. tulisi rmkin benrt atak sipil
I
tr B. Belum
berubah
i E C. Tdak berubah sam sekafi |_--*__l
Reformasi
Polisi.
Kepada responden,
juga
dimintai
tanggapannya tentang proses rekrutmen anggotaPolri.
Hasilnya cukup-.rgagetkan,
kecenderungan KKI.Idi
tubuh Polri, dalam'kacimita'
para responden, cukup kental. Tabledi
bawahini,
tentu
akan menambahdaftar
citra buruk
aparat diKalimantan Barat.
Proses
rekruifinen
polisi
Lebih "'J;"o ^-" Ronrra,ar
-:^'::,-
I.-Z.-"rTertutu
rfspvrD E.::::l 260/0 66"/o?,
Tentu saja, sumber daya aparat yang dihasilkan dari sebuah praktek suap, akan melahirkan aparat yanq juga
bermenlal
suap-menyuap. Agendamengurangi,
kalautidak
bisa dihapus,tradisi
suap dankorupsi
di
internalKepolisian merupakan sebuah kebutuhan dan keniscayaan
unluk
dilakukan. Rasa hormat dan bangga masyarakat, dapat lahir dari keteladanan yang diberikan aparat penegakAparat
Kepolisian
juga
mengakui
bahwa hubungannya dengan masyarakat tidak baik, ketika para polisi ditanya bagaimana hubungan Polisi dan Masyarakatdi Pontianak? Mereka menjawab "Harus kami akui bahwa hubungan Polisi dan masyarakat
di
Pontianak tidak baik,saling
curigal
Barangkai
hal
ini
disebabkan
karena pandanganmasyarakat
kepadaPolisi
terlalu
negatif,sehingga kami sangat kesulitan membangun hubungan". Para Polisi
juga
mengatakan bahwa selamaini
persepsirnasyarakat
terhadap
Polisi
bahwa
Polisi
itu
sukamenganiaya, suka memeras atau melakukan pungutan
liar.
Kepada para responden, kemudian
dimintai
usulantentang
hal-hal
yang
bisa
diperbaiki
dari
institusi
Kepolisian
di
Pontianak. Hasilnya adalah seperti table di bawah.Usulan
tncrsyoro;ko:tuntuk
perbaikoincitrc
Polisi
NJ. 3,07olo i %1.7,690/o -, 1 i I N H. 3,07%
r
i i 3 A.26,'150/oi
rA.'lrdak rnau disuapij B. Rekruitnen anggota harus putra daerah
E C. Ranch narntn tetaP berw ibaw a
i::i D. Tidak diskrininatif
E E Transparan (tidak iadi backinE kejahatan)
ff F. Profesional
% G. Tidak. bergaya niliter
N;H. Trdak nelanggar FAM
z l. tvlenghorrmti hak-hak adat
v,G
Pr F. 52,30%
8 c. 36,920/o
n E. 10,76% E D. 12,30% N J. Tdak arogan
Dari tabel di atas, sebagian besar menginginkan Polisi
bertindak profesional
yaitu
52.30 o/o dan bersikap ramahyaitu
sebanyak
g6.92
%.
Selain
itu
masyarakat menginginkan agarPolisi
tidak
Sampang disogok atau bahkan meminta suap, terutama dalam menangani lalulintas (z6.t5
%).Hal
yangmenarik
lagi
adalah bahwamasyarakat menginginkan
agar
rekruitmen
Polisi
dilakukan
dengan mendahulukanputra-putra
daerah,bahkan
secaraeksplisit
mereka
mengatakan
bahwa kebanyakannol\i
masih didominasi orang Jawa.Membangun
Kerj asama
Masyarakat-Polisi
Ada baiknya,
kita
melihat komentar salah seorangresponden, yang menulis dalam kertas quisioner.
"selama
ini,
institusi
Kepolisianmenjadi
sesuatuyang menakutkan dan menjengkelkan. Sebagian besar
oknum Polisi bersikap arogan dan sok kuasa. Seringkali
oknum-oknum
ini
melanggaraturan
sendiri,
misalnyalalu
lintas, karena merasa aparat negara, seenaknya sajamelanggar
lampu merah.
Di
Pontianak,
masyarakatpaham
betul
bahwa
kalau sudah
akhir
bulan,
razia
kendaraan
bermotor
akanlebih
banyak, karenapolisi
sering
kali
cari
uang
melalui
denda
bagi
yang
tidak
membawa
SIM
atau
STNK.
Waktu
diminta
surat
tugasnya, mereka tidak dapat menujukkan. Meski begitu
ada juga Polisi yang baik."
Beberapa
personel
dan
perwira
Kepolisian di
Pontianak
juga
mengaku ada usaha-usaha yang sudah,sedang
atau
akan dilakukan
untuk
memperbaiki
hubungan Polisi dan masyarakat. Proses
ini
sesuai dengankomitmen mereka dengan paradigma
baru
Polri.
Dalamartian bahwa Polri harus menjalin kerjasama yang padu dan terbuka dengan masyarakat. Antara masyarakat dan
Polri
itu
merupakan kekuatan bersama dalam menjagakamtibmas. Hubungan atasan dan bawahan
dalam struktur Polisi tidak lagi komando seperti di TNI.Ketika ditanyakan mengenai
pola
komando yangselama
ini
dijalankan, apakah masih dijalankan atau telahdihilangkan, ada yang menjawab, "Wah menghilangkan
;
struktur TNI sehingga pengaruhnya belum kelihatan. Kita
masih
juga
memanggil DAN (Komandan)
tiap
kali
ketemu.
Kita
belum
terbiasa memanggil PAK,
dankelihatannya
Komandanjuga
gakbegitu
suka dengan,panggilan PAK. Sehingga menurut saya hubungan model;
TNI
itu
masih akan berlangsung lama, mungkin 20tahurj'
lagi baru hilang."Harapan
untuk
membangun kerjasamapolisi
danmasyarakat, memang ada. Sebagian besar responden
menginginkan kerjasama
ini,
8g%
menyatakankesanggupannya untuk membantu tugas-tugas kepolisian.
Apckoh
mcsyarckot dftibatko;n
do,lannkcntibmcs
?N Setuju
89%
CTldak setuju 11o/o
Kerjasama yang
terbuka
dan saling
mendukungmerupakan
kunci
yang utama dalam membangun COPdi
Pontianak. Halini
ditegaskan oleh 93.84o/o responden.Dari pihak
kepolisian yangditemui juga
menginginkanhubungan yang
terbuka,
dan kuncinya
komunikasi.ss Tetapi butuh waktu karenajumlah
polisi masih terbatas, masalah geografis yang sukar terjangkau.Kesimpulan
Mengacu
pada
persoalan
yang
dialami
oleh masyarakatdi
Pontianak dan Kalimantan
Barat padaumumnya,
dari
uraian
diatas,
akan ada
beberapakesimpulan yang
kami
pandang merupakan
sangatpenting
untuk dijadikan
pijakan program
CommunityOriented Policing
di
Pontianak dan Kalimantan Barat.Pertamc, problem keamanan paling mendasar yang
t
dialami
masyarakat adalah dampakkonflik
antaretnisbeberapa waktu lalu. Potensi konflik dan perkelahian massa akan bisa
timbul
sewaktu-waktu, dengan berbagai macam pemicu dan akar ySng beragam. K9nflik sosial bisa meletussetiap saat, baik dalam skala kecil maupun besar' Stigma
dan
^streotipe
ahtaretnis masih berlangsung
dalam kehidupan mereka yang tampak aman dan tenang.irdro,problem k"u*uttan
struktural, berupakonflik
vertikal antaia masyarakat adat Dayak, masyarakat lokal
Melayr,
dan p"*tuhaan-perusahaan yang beroperasidi
Kalimantan
iarat,
yangberakibat
padaisu-isu
tanah,lingkungan dan adat istiadat. Dalam banyak kasus, aparat
j"ri*
ti-alak bersikap netral, malah melakukan penyiksaanierhadap warga yang melakukan
protes.+o Problemkeamanan
strultuial liinnya
seperti kasus-kasusillegal
Iogging, penjarahan kuy,r, yang dilakukan olehperuslhaan-pJ*ruftaan
HPH, yang bekerjasama s_ecara illegal dengansejumlah pejabat
terkait,
melalui korupsi dan
s_uap-menyuap
yang
sudah mengakar
kuat
di
birokrasi
IGlimantan Barat.
Ketiga, berupa
problem
keamanankriminalitas,
seperti pencurian, perampokan perdagangan perempuan,
pe-rjudiin,
danbeibagaitindak kriminal
lainnya,
Yangdir"bubt un oleh banyakhal di antaranya karenakemiskinan
dan kesenjangan sosial.
Rekomendasi
Reformasi Polisi
di
Kalimantan Barat, khususnyaPontianak memang bukan pekerj aan mudah. Melihat uraian
panjang lebar dan kesimpulan
di
atas, setidaknya ada tigair"t
V""g menjadi rekomendasi tulisanini,
untuk programComminity
Oriented Policing di Kalimantan Barat:Pertamc, Program
coP
dapat dilaksanakan dengani
sangat
kompleks
di
Kalimantan
Barat.
Di
antaraperkembangan tersebut adalah
konflik
dan keteganganantaretnis
yang
belum tuntas
secarasosio-kultural.
Program
ini
dijalankan
dengan
berbasis
pada pengembangandan pelibatan
masyarakat secaraaktif
dalam
menanganiberbagai
masalah sosial yang adh.Pelibatan masyarakat
ini
dapatdilakukan
dengan caramelibatkan para tokoh-tokoh
masyarakat adat
yangselama
ini
telah
dipinggirkan
bahkan dihilangkan
perannya. Komunikasi yang selama
ini
dapat dikatakanterputus antara masyarakat dengan
polisi
harus dibukakembali.
Dalamhal
ini,
aparatpolisi
bisa
diposisikansebagai 'mediator' dari berbagai elemen masyarakat yang
mempunyai kecenderungan
konflik.
Dengan kata lain,COP bisa berpegang pada 'paradigma resolusi konflik' untuk aparat polisi.
Keduc, hasrat masyarakat
untuk
menghapus atau mengurangikorupsi
di
birokrasi
Kalimantan Barat, danjuga
di
internal
kepolisian,perlu
diperhatikan
denganlangkah-langkah
dan
tindakan kongkrit
aparatuntuk
berpihak
kepada mereka
dan
tidak
menunjukan
dedikasinya pada'pundi-pundi' dari berbagai praktek suap,
sogok, penjarahan hutan dan semacamnya. Kepercayaan
masyarakat terhadap aparat akan terbangun
dari
stand poinini:
Polisi sebagai salah satu aparat penegak hukum. COP dengan demikian bisa berpijak pada paradigma'Polisi-Masyarakatanti
Korupsi'.Ketiga, program
COPdi
Kalimantan
Barat jugamerupakan sarana dan alat kerjasama yang efektif untuk
menanggulangi
problem
keamanan dan kamtibmasdi
masyarakat. Kasus-kasus pidana dan hukum yang terjadibisa diselesaikan
melalui
instrumen hukum
adat, dannorma-norma
kultural
yang adadi
masyarakat. Dalam konteks ini, selain menjalankan penegakkan hukum positifyang formal, aparat Polisi juga bisa dikembangkan sebagai penegak hukum informal, yang berpihak pada masyarakat
'
luas.
Dengan
kata
lain,
COPmembutuhkan
'polisi
kultural', yakni aparat yang berperan menegakkan
norma-norma, adat-istiadat
denganpendekatan
kultural
di
masyarakat.End note
Semula kota
ini
merupakan ibukota kerajaan Pontianali yang didirikan oleh warga keturunan Arab. Komposisi penduduknya (Laporan As.Ter.Kodam XII Tanjungpurh1g8olrg8r) adalah
Melaq
(39,72 o/o), Bugis (zo,g9 o/o),Jawa (18,34 o/o),Madura (r3,o9o/o), Batak (2,48 %), Banjar
(r,S3 %), Minangkabau (1,5 o/o), Dayak (r,42 %), Sunda
(r,o9 %), Manado (o,z %), Ambon (o,r9 o/o), Bali (o,o3 %), Aceh (o,or %o) dan Sangir Talaud (o,or %). Tentunya data ini sudah berubah sekarang.
Selain kayu, propinsi
ini
mempunyai flora yang khas antara lain anggrek hutan, berbagai tanaman hias dan yang paling mencolok adalah pinang merah. Di sampingitu terdapat bermacam-macam tanaman pertanian dan perkebunan. Fauna terkenal dan dilindungi yang tinggal di hutan Kalimantan Barat antara lain orang utan, kukang, kelempiau, bekantan, rusa' burung enggang, trenggiling,
burung dara laut, bangau tongtong, harimau dahan, beruang madu dan kancil. Lihat dalam http://pontianak-online.com/ equatopedia/fisiografi/
http : I I pontianak-online.com/ equatopedia/ sej arah/
dayak.htm
rbid
http : I / p ontianak-online.co m/ equ atopedia/ sej a rah/
melayu.htm
http: / / pontianak- o nline. com / equ atopedia /sej atah/
cina.htm
rbid rbid
rbid
rbid
http : I I p ontia n ak- o nli n e. co rn / e qu ato p e di a / sej a rah
/
madura.htm
rbid
http : I I pontia n ak- o nlin e. com / equ atopedia/ sej arah
I
bugis.htm rbid 4 5 7 8 9 lo ll 12 r3
17 r8 r9 20 2t 22 4
Edi Petebang & Eri Sutrisno, Konflik Etnik
di
Sambas,hlmrr6
Hedro Suroyo Sudagung, Mengurai Pertikaian Etnis,
Migrasi Surakcrsa Etnis Madura ke Kalimantan Barat,
hlm. xix,
Edi Peteliang & Eri Sutrisno, Op. Cit- hlmr3r
Ibid. hlm. zoo
Edi Petebang & Eri Sutrisno, Op. Cit. hlm. tg8-zo4 Ibid. hlm. rg8
Ibid. hlm. r99
Ibid. hlm. zoo
John Bamba, The RoIe of
Adat
in
The Davak andMad.urese War, dalam http :
I
lvrww.dayakology'com/publications/articles-news/eng/role.html, h. 4. Pola TNI menghancurkan PKI di Kalimantan ini, persis sama dengan pola yang dilakukan di Jawa Timur, dimana NU (Banser) dimanfaatkan untuk membunuh orang-orang PKI. Di Kalbar, Orang-orang Dayak dimanfaatkan untuk mengusir dan membunuh orang-orang Cina'
Ibid. hlm. eor Ibid. hlm. zo3
Ibid. hlm. zo3
Hedro Suroyo Sudagung, OP.Ctt. hlm. xx Edi Petebang & Eri Sutrisno' Op. Cit. hlm. zo4
Lihat
S. Djuw€trg, Pembangunandan
Penindason'pelajaran dari Masyarakat Dayak,
dalam http: I/
www. dayakol o gy. co m / p ubl i cat i o n s / a rticl es-n ews / i n d
/
pembangunan.html, h. 3-+. Selama masa pemerintahan
brde Baru, apa yang disebut pembangunan kebudayaan
memiliki tiga ciri utama: pertama, budaya dipersempit
hingga menjadi seni budaya, kedua, pengembangan
budaya
harus berorientasi
kepada
dunia
bisnis(komersial), ketiga, pertunjukkan seni budaya harus
sejalan dengan kemauan pemerintah. Dengan demikian teiah terjadi pendangkalan-pendangkalan nilai, bentuk, fungsi dan mitna kebudayaan. Seiringan dengan itu telah
puli
terjadi
pasungan, pemerkosaan, dan dominasiierhadap budaya-budaya etnik di Indonesia. Di beberapa
tempat
di
Kalbar,
penyelenggaraanpesta
kawin,pelantikan belian, upacara adat harus terlebih dahulu
24 25 z6 27 z8 29