• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Penalaran Dan Pengembangan Paragraf b.indo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Penalaran Dan Pengembangan Paragraf b.indo"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MAKALAH

BAHASA INDONESIA

BAHASA INDONESIA

(Penalaran dan Pengembangan Paragraf)

(Penalaran dan Pengembangan Paragraf)

Disusun oleh: Disusun oleh: Kelompok 3

Kelompok 3 1.

1. Chamdy Chamdy Asrori Asrori 52014120535201412053 2.

2. Agung Agung Eko Eko Setiono Setiono 52024120075202412007 3.

3. Ahmad Ahmad Fadlun Fadlun 52024120095202412009 4.

4. Zukhruf Zukhruf Al Al Falah Falah 52134120525213412052 5.

5. Evi Evi Sofiyanti Sofiyanti 54014120225401412022

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SEMARANG

SEMARANG

2013

2013

(2)

KATA PENGANTAR 

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penalaran dan Pengembangan Paragraf” ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Bahasa Indonesia .Makalah ini ditulis dari hasil  penyusunan data-data yang penulis peroleh dari buku cetak Bahasa Indonesia

yang ditulis oleh Mukh Doyin dan Wagiran serta dari beberapa situs di internet. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini, sehingga dapat diselesaikannya makalah ini. Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Pengembangan Paragraf, khususnya bagi  penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Semarang, 8 oktokber 2013  penyusun

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Pumusan Masalah ... 1 1.3 Tujuan Penulisan ... 2 BAB II ISI 2.1 Penalaran ... 3

2.1.1 Hubungan Penalaran, Pikiran, Bahasa ... 3

2.1.2 Jenis-Jenis Penalaran ... 4

2.2 Paragraf ... 7

2.2.1 Pengertian Paragrapf ... 7

2.2.2 Syarat-Syarat Paragraf ... 7

2.2.3 Macam-Macam Paragraf ... 8

2.2.4 Teknik Pengembangan Paragraf ... 10

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ... 12

3.2 Saran ... 12

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam sebuah karangan ilmiah tidak mungkin baik bila paragraf- paragraf penyusunnya tidak baik. Sama halnya dengan paragraf, tidak 

mungkin menjadi paragraf yang baik bila kalimat-kalimat penyusunnya juga tidak baik. Demikian juga dengan kalimat, tidak mungkin diperoleh kalimat yang baik bila kata-kata penyusunnya tidak tepat dan tidak sesuai.

Oleh karena itu,dalam makalah ini akan membahas tentang penalaran dalam penulisan karya ilmiah dan pengembangan paragraph dalam penulisan karya ilmiah.Materi penalaran dan pengembangan paragraph ini dimanfaatkan ketika penulis karya ilmiah sedang melaksanakan  pengembangan paragraph dan penyusunan draf karya ilmiah.Materi ini akan menuntut penulis karya ilmiah mengembangkan gagasan secara runtut,sistematis,dan bernalar sehingga gagasannya mudah dipahami.

1.2. Rumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimana hubungan antara Penalaran,Pikiran,danBahasa dalam  pengembangan penalaran?

2. Apa saja jenis-jenis penalaran? 3. Apa pengertian paragraf?

4. Apa syarat sebuah paragraf?

5. Apa saja macam-macam paragraf?

(5)

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:

1. Mengetahui hubungan antara Penalaran,Pikiran,dan Bahasa dalam  pengembangan penalaran.

2. Mengetahui jenis-jenis penalaran. 3. Mengetahui pengertian paragraf. 4. Mengetahui syarat sebuah paragraf. 5. Mengetahui macam-macam paragraf.

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Penalaran

2.1.1. Hubungan Penalaran,Pikiran,dan Bahasa

Pengembangan penalaran tidak dapat dilepaskan dari pemikiran tentang bahasa dan pikiran.Berbicara mengenai pikiran dan  bahsa,takubahnya seperti dua sisi mata uang,yakni sangat dekat jarak dan

hubungannya,dan tidak dapat dipisahkan.

Dalam hubungan dengan pikiran dan bahasa,dikenal adanya inner   speech dan external speech.inner speech merupakan suatu ujaran,yakni  pikiran yang berkaitan dengan kata.Kata-kata itu lenyap pada saat pikiran terbentuk,sedangkan external speech menerangkan bahwa pikiran itu terwujud dalam kata-kata (Dardjowidjojo 2003:284).

Hubungan antara pikiran dan bahasa pernah diteliti oleh Piaget.Menurut Piaget ada dua macam modus pikiran-pikiran terarah (directed ) atau pikiran intelegen (intelligent ) dan pikiran tak terarah atau  pikiran austitik (austitic).Keterkaitan antara bahasa dan pikiran seperti  penelitian diatas juga dilakukan pada abad 18 dan abad 19 oleh seorang Jermanis yang akhirnya dikembangkan di Amerika oleh Franz Boas dkk.Boas melihat bahwa cara berpikir seseorang dipengaruhi oleh struktur bahasa yang mereka pakai (Dardjowidjojo 2003:284).

Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa jalan pikiran seseorang sangat terlihat dari bagaimana seseorang menggunakan  bahasanya.Demikian juga,bahasa seseorang akan menunjukkan  bagaimana cara diamenggunakan pikiran atau bernalar.

Bahasa adalah sarana bernalar.Bagaimana seseorang  berbahasa,termasuk menulis,akan mencerminkan pula bagaimana orang itu menata jalan pikirannya (Akhadiah 2001).Berkenaan dengan  pengertian penalaran,Keraf (1982) dan Moeliono (1989) menegaskan

(7)

 bahwa penalaran adalah proses berpikir dengan menghubung-hubungkan  bukti,fakta,petunjuk,eviden,atau hal yang lain yang bisa dianggap sebagai bahan bukti yang dapat digunakan untuk menarik  kesimpulan.Secara umum,penalaran dapat dilakukan melalui dua cara,yakni secara induktif dan secara deduktif.

2.1.2. Jenis-Jenis Penalaran 1. Penalaran Induksi

Penalaran induksi adalah penalaran yang dimulai dari peristiwa- peristiwa yang khusus kemudian beranjak ke peristiwa yang sifatnya

umum. Secara umum penalaran induksi dibagi menjadi tiga, yaitu : a. Penalaran Generalisasi

Penarikan penalaran berdasarkan data yang sesuai dengan fakta (data). Fakta atau data dapat diperoleh melalui  penilaian, pengamatan, atau hasil survei. Jumlah data atau fakta khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili. Jenis penalaran ini dimulai dengan mengemukakan  peristiwa yang khusus kemudian menuju peristiwa- peristiwa yang umum.

 b. Penalaran Analogi

Penalaran ini membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan. Berdasarkan banyaknya kesamaan tersebut ditariklah suatu kesimpulan. Penalaran jenis ini  berdasarkan dari dua peristiwa khusus yang mempunyai kesamaan satu dengan yang lain untuk diambil kesimpulan : apakah apa yang berlaku pada satu hal itu berlaku pada sesuatu hal lainnya.

c. Penalaran Sebab Akibat

Penalaran dimulai dengan mengemukakan fakta berupa sebab kemudian disusul dengan kesimpulan yang berupa akibat. Penalaran jenis ini dimulai dengan mengemukakan

(8)

peristiwa- peristiwa sampai dengan kesimpulan peristiwa itu merupakan akibat dari suatu fenomena. Penalaran Induksi hubungan sebab akibat dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

1) Hubungan Sebab Akibat

Pertama-tama dikemukakan peristiwa-peristiwa yang menjadi sebab, sampai kemudian pada kesimpulan yang menjadi akibat.

2) Hubungan Akibat Sebab

Pada awalnya dikemukakan peristiwa yang menjadi akibat selanjutnya dikemukakan peristiwa-peristiwa yang menjadi penyebabnya.

3) Hubungan Sebab Akibat 1 – Akibat 2

Dalam hubungan ini dikemukakan sebab dapat menimbulkan lebih dari satu akibat. Akibat yang pertama dapat menjadikan sebab yang akan menimbulkan akibat yang kedua dan seluruhnya.

2. Penalaran Deduksi

Penalaran deduksi adalah penalaran yang dimulai dari peristiwa- peristiwa yang umum mengarah pada kesimpulan yang khusus. Pada dasarnya merupakan penguraian atau pembuktian sebuah kesimpulan kedalam data-data khusus. Pola penalaran ini diterapkan dalam  penulisan paragraf deduktif, yaitu pada paragraf yang kesimpulannya

ditulis pada awal. Contoh:

 Keberhasilan dunia pertanian membawa dampak pada  peningkatan kesejahteraan. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan pemuliaan tanaman. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman pangan. Usaha tersebut diterapkan pada hampir semua jenis tanaman, misalnya: padi,  palawija, buah, sayur dan tanaman hias. Padi yang ditemukan sekarang mempunyai umur singkat, batang pendek, dan butir gabah  banyak. Buah-buahan yang dijual di pasar selalu berkualitas tinggi

(9)

 begitu juga dengan sayur dan tanaman hias, semua menunjukkan kondisi baik.

3. Salah Nalar 

Salah nalar (logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses  berpikir karena keliru menafsirkan atau menarik simpulan.Kekeliruan ini dapat terjadi karena factor emosional,kecerobohan,atau ketidaktahuan (Suparno dan Yunus 2003:1.47).

Secara garis besar,salah nalar dapat dikelompokkan menjadi lima,yakni generalisasi yang terlalu luas,kerancuan analogi,kekeliruan kausalitas,kesalahan relevansi,dan penyandaran terhadap prestise seseorang.

Generalisasi yang terlalu luas merupakan salah nalar yang disebabkan oleh kurangnya data yang menjadi dasar generalisasi (penyimpulan).

Kerancuan analogi merupakan salah nalar yang terjadi karena  penggunaan analogi yang tidak tepat.Dua hal yang dibandingkan tidak 

memiliki kesamaan karakter yang esensial (pokok).Kesamaan yang terjadi hanya sebagian kecil.

Kekeliruan kausalitas merupakan salah nalar yang terjadi sebagai akibat kekeliruan menentukan gejala atau peristiwa yang menjadi sebab atau akibat.

Kesalahan relevansi merupakan jenis salah nalar yang terjadi sebagai akibat jika bukti,peristiwa,atau alas an yang diajukan tidak   berhubungan atau tidak menunjang sebuah kesimpulan,

Penyandaran pada prestise seseorang tanpa memperhatikan keahlian seseorang,jenis pernyataan,serta kebenaran pernyataan yang menjadi sandaran.Bila kita akan mengutip pernyataan seseorang tentang kondisi ekonomisebagai sebuah sandaran kesimpulan  perlumemperhatikan apakah orang tersebut memang ahl iekonomi,yang dibicarakan tentang ekonomi yang berasal dari  pemikiran yang telah teruji kebenarannya.

(10)

2.2. Paragraf 

2.2.1. Pengertian Paragraf 

Menurut Hasnah Faizah paragraf adalah suatu penuangan ide penulis melalui kalimat atau kumpulan kalimat yang satu dengan yang lain yang berkaitan dan hanya memiliki suatu topik  atau tema.

Paragraf tidak lain dari kesatuan pemikiran yang biasa terdapat pada kalimat utama ditambah dengan kalimat penjelas. Ia merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan (Nursalim, 2005: 49).

Jadi, paragraf merupakan kumpulan kalimat yang saling  berkaitan dan hanya memiliki satu tema kemudian terdapat

didalamnya kalimat utama dan kalimat penjelas. 2.2.2 Syarat-syarat paragraph

Paragraf yang baik dan efektif memenuhi syarat seperti kesatuan koherensi dan perkembangan paragraf. Nursalim  berpendapat bahwa yang termasuk syarat-syarat pembentukan  paragraf adalah:

a. Kesatuan

Kesatuan dalam paragraf adalah bahwa semua kalimat yang membina paragraf itu secara bersama-sama menyatakan suatu hal atau suatu tema tertentu.

 b. Koherensi

Koherensi adalah kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk paragraf  itu.

c. Pengembangan Paragraf 

Bagaimana kita dapat menghubungkan antara gagasan utama dengan gagasan penjelas.

(11)

2.2.3 Macam-macam paragraf 

a. Berdasarkan sifat dan tujuannya paragraf dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1) Paragraf pembuka

Paragraf pembuka merupakan paragraf yang berperan sebagai pengatur untuk sampai kepada masalah yang akan diuraikan

2) Paragraf penghubung

Paragraf penghubung ialah semua paragraf yang terdapat antara paragraf pembuka dan penutup yang berisi uraian masalah yang dibahas.

3) Paragraf penutup

Paragraf penutup ialah paragraf yang dimaksudkan untuk  mengakhiri karangan atau bagian karangan. Berdasarkan kalimat utamanya, paragraf terbagi menjadi: 4) Paragraf deduksi

Paragraf deduksi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak diawal.

5) Paragraf Induksi

Paragraf induksi adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak diakhira paragraph

6) Paragraf kombinasi (campuran)

Paragraf kombinasi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak diawal dan diakhir paragraf.

7) Paragraf deskripsi

Paragraf Deskripsi adalah paragraf yang tidak memiliki

 b. Berdasarkan isi, paragraf terbagi menjadi: 1) Paragraf narasi

Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi

(12)

suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur. Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Contoh narasi yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah  pengalaman. Contoh narasi yang berupa fiksi: novel,

cerpen, cerbung, ataupun cergam. 2) Paragraf deskripsi

Paragraf deskripsi ialah karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

3) Paragraf eksposisi

Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.

4) Paragraf argumentasi

Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu  pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/  bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan  pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

5) Paragraf persuasi

Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk   berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan

adanya sikap motorik berupa motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

(13)

2.2.4. Teknik Pengembangan Paragraf  a. Pengembangan alamiah

Pengembangan secara alamiah ini seorang penulis dapat menggunakan pola yang sudah ada pada obyek atau kajian yang dibicarakan. Penulis dapat menggunakan dua pola. Pertama, pola spesial atau urutan ruang, misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar kedalam dan sebagainya. Kedua, pola kronologis atau urutan waktu, misalnya gambaran urutan terjadinya peristiwa, perbuatan atau tindakan, tadi sekarang, nanti, besok, dan sebagainya.

b. Pengembangan klimaks dan antiklimaks

Pembuatan klimaks dilakukan dengan penampilan gagasan utama yang rinci dari persoalan yang paling rendah kedudukannya. Sementara itu pengembangan antiklimaks merupakan kebalikan dari klimaks.

c. Pengembangan Perbandingan dan Pertentangan

Paragraf perbandingan dan pertenntangan ialah cara  pengarang menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua orang , subjek atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu (Keraf dalam Mudlofar 2002: 99). Fanatisme dan semangat yang dua hari lalu sempat pudar, di  pertandingan semi final hari Kamis malam telah kembali.

Dengan modal itu pula dan teknik permainan yang lumayan  baik PSSI A maju ke final turnamen sepak bola Piala

Kemerdekaan V, setelah mendudukkan Malaysia 2-0 (1-0). Di final hari Sabtu, PSSI A menghadapi Australia yang mengalahkan Thailand 2-0. (Sumber: Kompas)

d. Pengembangan analogi

Pengembangan analogi biasanya digunakan untuk  membandingkan sesuatu yang sudah terkenal umum dengan yang tidak dikenal umum.

(14)

e. Pengembangan contoh-contoh

Gagasan yang terlalu umum sifatnya sulit dipahami. Agar   pembaca menjadi jelas diperlukan ilustrasi-ilustrasi konkret. Ilustrasi konkret inilah yang nantinya dikembangkan menjadi contoh-contoh.

f. Pengembangan Akibat -Sebab akibat

Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berupa hubungan sebab akibat dan akibat sebab. Sebab dapat  bertindak sebagai kalimat utama, sedangkan akibat merupakan kalimat penjelas. Dapat pula sebaliknya , akibat sebagai  pikiran utama dan sebab sebagai pikiran penjelas.

g. Pengembangan definisi luas

Yang dimaksud pengembangan definisi luas ialah pengarang  bermaksud memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah

istilah atau hal (keraf dalam Mudlofar 2002: 102). h. Pengembangan klasifikasi

Dalam pengembangan karangan kadang-kadang diperlukan  pengelompokan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini bekerja kedua arah yang berlawanan, yaitu pertama mempersatukan satuan-satuan kedalam satu kelompok., dan kedua, memisahkan satuan-satuan tadi dari kelompok yang lain (keraf dalam Mudlofar 2002: 103).

i. Pengembangan umum khusus-khusus umum

Cara pengembangan paragraf umum khusus-khusus umum merupakan cara yang paling umum dipakai. Paragraf umum khusus dikembangkan dengan meletakkan pikiran utama pada awal paragraf kemudian rician-rincian berada pada kalimat-kalimat berikutnya. Sebaliknya paragraf khusus umum, mula-mula dikembangkan rincian-rincian kemudian pada akhir   paragraf disampaikan generalisasinya.

(15)

BAB III

PENUTUP

2.3 KESIMPULAN

Dari pembahasan ini dapat kami tarik kesimpulan bahwa Penalaran adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan dari kalimat yang dibaca. Dalam penalaran dibagi dua yaitu secara deduktif  dan induktif.

Paragraf adalah kumpulan kalimat yang saling berkaitan dan hanya memiliki satu tema kemudian terdapat didalamnya kalimat utama dan kalimat penjelas.

Diantara tujuan penggunaan paragraf adalah memudahkan  pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dengan tema yang lain. tujuan lainnya adalah memisahkan dan menegaskan  perhentian secara wajar dan formal, untuk memungkinkan kita berhenti

lebih lama daripada perhentian kalimat terakhir.

Ada banyak jenis-jenis paragraf yang dapat kita pelajari antara lain paragraf pembuka, paragraf penghubung, paragraf penutup, dan  paragraf merata. Kemudian berdasarkan kalimat utamanya dapat

dibedakan menjadi tiga, deduktif, induktif dan campuran.

2.4 SARAN

Kami menyadari bahwa makalah ini tentunya masih banyak  terdapat kekurangan, kekeliruan dan kesalahan. Oleh karena itu kami harapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian yang sifatnya membangun, demi menuju kesempurnaan makalah-makalah kami yang akan datang. Atas kritik dan saran saudara kami ucapkan terimakasih.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Adjat Syakri. 1992. Bangun Paragraf Bahasa Indonesia. Bandung: ITB Bandung. Aleka & H. Ahmad H.P. 2010. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.

Kencana Prenada.

Doyin,Mukh,Wagiran.2012. BAHASA INDONESIA Pengantar Penulisan Karya  Ilmiah. Semarang:UNNES PRESS

Imam Syafi’I, 1990. Bahasa Indonesia Profesi. Malang: Ikip Malang

Rahman,Zikri.2012.  Paragraf Bahasa Indonesia dan Penerapannya: Pola  Penalaran (Deduktif dan Induktif). http://cicibon.blogspot.com/2012/07/paragraf- bahasa-indonesia-dan.html. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2013.

Referensi

Dokumen terkait