BAB IV
FASIES BATUGAMPING DAERAH PENELITIAN
Menurut Fahrudi (2004), lingkungan pengendapan dari hasil analisis fasies batugamping meliputi Reef Slope, Reef Framework, dan Proximal Talus. Fahrudi (2004) melakukan analisis sedimentasi batugamping Formasi Rajamandala daerah penelitian dengan metode measuring section dengan dua lintasan lateral yang kemudian dibuat profil dan penampang vertikal sehingga sebaran vertikalnya dapat diketahui. Deskripsi litologi fasies batugamping berdasarkan Fahrudi (2004) lebih dominan dilakukan secara megaskopis, sedangkan pembahasannya lebih banyak mengenai analisis sedimentasinya yang meliputi lingkungan, bentuk, dan mekanisme pengendapannya tetapi tidak dilakukan analisis sebaran fasies batugampingnya sehingga tidak terdapat peta sebaran fasies secara lateral.
Menurut Antoni (2007), lingkungan pengendapan fasies batugamping berdasarkan analisis mikrofasiesnya meliputi Foreslope, Organic Build up, dan Shelf Lagoon. Antoni (2007) melakukan studi fasies batugamping Formasi Rajamandala daerah penelitian dengan metode sampling dan measuring section dengan lima profil vertikalnya. Deskripsi litologi fasies batugamping berdasarkan Antoni (2007) lebih dominan dilakukan secara mikroskopis karena analisis lingkungan pengendapannya menggunakan standar mikrofasies berdasarkan Wilson (1975). sedangkan pembahasan yang dilakukan meliputi analisis sebaran fasies batugamping secara lateral sehingga dibuat peta sebaran fasiesnya, analisis lingkungan pengendapannya, porositas, dan diagenesis batugamping, tetapi tidak dibuat penampang vertikalnya sehingga kurang diketahui penyebaran vertikalnya.
Antoni (2007) dan Fahrudi (2004) merupakan acuan utama sumber bahasan studi khusus mengenai fasies batugamping daerah penelitian. Namun demikian, terdapat beberapa perbedaan metode, deskripsi, dan hasil lingkungan pengendapan fasies batugamping pada penelitian dan pembahasan penulis berikut ini. Selain itu, studi karakterisasi rekahan fasies batugamping daerah penelitian merupakan suatu nilai tambah penulis pada penelitian kali ini yang belum pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya.
4.1 Metode Penelitian Fasies
Studi fasies batugamping menggunakan metode sampling dan measuring section dengan tiga lintasan lateral yang kemudian dibuat profil dan penampang vertikalnya dan tiga lintasan vertikal. Deskripsi litologi fasies batugamping lebih dominan dilakukan secara megaskopis terutama pada singkapan yang representatif dan juga beberapa secara mikroskopis. Analisis yang dilakukan pada studi fasies batugamping meliputi analisis sebaran fasies secara lateral dan vertikal sehingga dapat dibuat peta sebaran fasies secara lateral, penampang vertikal dan model penyebarannya secara 3D, selain itu dilakukan analisis lingkungan, bentuk, dan model pengendapannya.
Selain studi fasies dilakukan studi rekahan berupa karakterisasi rekahan pada beberapa fasies batugamping daerah penelitian sehingga dapat diketahui hubungan antara rekahan dan fasiesnya, serta analisis pola rekahan sehingga dapat diketahui pola rekahan dan struktur geologi setempat. Studi karakterisasi rekahan dilakukan dengan metode scanline terutama pada beberapa fasies batugamping dengan singkapan yang representatif dalam hal ini terdapat pada lingkungan pengendapan dan struktur geologi yang sama tetapi mempunyai komposisi litologi (fasies) batugamping yang berbeda. Studi karakterisasi rekahan akan dibahas lebih lanjut pada bab V.
4.2 Klasifikasi Fasies Batuan Karbonat
Batuan karbonat merupakan batuan sedimen yang mengandung mineral-mineral karbonat lebih dari 60 %. Batuan karbonat terbagi menjadi dua jenis yaitu batugamping dan dolomite. Batuan karbonat bersifat monomineral yang terdiri dari kalsium karbonat dengan tambahan sedikit magnesium dalam pola geometris kristal. Batuan karbonat diidentifikasi dan dibedakan dari kemas dan teksturnya bukan komposisi mineralnya.
Batuan karbonat menunjukkan lingkungan pengendapan yang khusus yaitu lingkungan pengendapan laut dangkal yang hangat, dan jernih. Batuan karbonat
matahari yang cukup. Batuan karbonat laut dalam yang ada terbatas pada batugamping pelagis. Produksi karbonat terutama dikontrol oleh temperature, salinitas, dan intensitas cahaya serta kadar oksigen, masuknya klastik, predasi, dan suplai nutrisi. Pabrik karbonat terletak pada break, slope, dan elevasi lainnya dengan ciri turbulensi yang tinggi, rendahnya arus turbidit, dan kedalaman dangkal.
Sedimentasi karbonat dikontrol oleh persamaan reaksi kimia tunggal, yaitu: H+ + HCO3- + Ca2+ CaCO3+ H2O + CO2
Meningkatnya konsentrasi CO2 dalam larutan akan membawa persamaan reaksi bergerak ke kiri, menghasilkan disolusi atau pelarutan kembali kalsium karbonat. Meningkatnya konsentrasi CO2mungkin dikarenakan oleh peningkatan kedalaman (PCO2). Masuknya air meteorik atau CO2 menyebabkan peluruhan material organik. Sedangkan penurunan konsentrasi CO2 akan membawa persamaan bergerak ke kanan, menghasilkan endapan karbonat. Penurunan CO2 mungkin disebabkan oleh evaporasi, peningkatan temperatur akibat pemanasan air laut oleh cahaya matahari, khususnya di laut dangkal. CO2 ditangkap oleh organisme khususnya alga untuk fotosintesis.
Pengendapan dan pelarutan kalsium karbonat dikontrol oleh kosentrasi ion Ca++ dan konsentrasi ion CO3-. Saturasi atau kejenuhan ion Ca++ dikontrol oleh evaporasi dan temperatur. Saturasi ion CO3- dikontrol oleh tekanan parsial, temperatur, atmosfer, dan aktivitas biogenis khususnya fotosintesis. Mineral karbonat larut pada kedalaman tertentu yang disebut ACD (Aragonite Compensation Depth) dan CCD (Calcite Compensation Depth).
Proses pengendapan karbonat antara lain: Sekresi (komponen kerangka organik) Akresi (komponen bukan kerangka organik) Aggregasi (kerangka dan bukan kerangka organic) Partikulasi (bukan kerangka organik)
Akumulasi karbonat dikontrol oleh: Perubahan muka laut (eustasi) Penurunan cekungan (subsidence) Produktivitas karbonat
Gambar 4.1 Model pertumbuhan reef modern (James & Bourque, 1992 dengan modifikasi) Fasies adalah suatu tubuh batuan berdasarkan kombinasi litologi, struktur fisik, kimia atau biologi dalam kesamaan waktu. Dua tubuh batuan yang diendapkan pada waktu yang sama dikatakan berbeda fasies jika kedua batuan tersebut berbeda ciri fisik, kimia atau biologinya (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Fasies merupakan tubuh batuan yang dicirikan terutama oleh sifat fisik, biologi, dan kimia (Tucker dan Wright, 1990). Fasies dapat didefinisikan suatu satuan khusus dari atribut sedimen; karakteristik litologi, tekstur, rangkaian struktur sedimen, kandungan fosil, warna, dan yang lainnya (Tucker dan Wright, 1990). Tekstur dan komposisi faises batuan karbonat menunjukkan proses dan lingkungan pengendapannya.
Dalam batuan karbonat dapat hadir berbagai macam fasies dan diperlukan identifikasi yang cermat dalam pengamatannya. Penentuan fasies pada penelitian ini didasarkan pada pengamatan komponen penyusun (biota, mikrit, semen), tekstur, struktur dan porositas, melalui pengamatan. Penamaan fasies batuan karbonat pada penelitian ini berdasarkan pengamatan secara megaskopis dan mikroskopis menggunakan asosiasi klasifikasi Dunham (1962) dan klasifikasi Embry & Klovan (1971).
Klasifikasi Dunham (1962) (Gambar 4.2) berdasarkan tekstur batuan karbonat yaitu proporsi dari butiran terhadap matriks, antara lain mudstone, wackestone, packestone, grainstone, boundstone, dan crystalline carbonate.
Gambar 4.2 Klasifikasi batuan karbonat berdasarkan teksturnya (Dunham, 1962)
Klasifikasi Embry & Klovan (1971) (Gambar 4.3) berdasarkan tekstur secara megaskopis dan terdapatnya lumpur karbonat diantara kerangka atau pecahan-pecahan kerangka, antara lain: framestone (terdiri seluruhnya dari kerangka organik seperti koral, bryozoa, ganggang dengan matriks <10%),
bindstone (terdiri dari kerangka/pecahan kerangka organik seperti koral, yang
telah diikat kembali oleh kerak lapisan-lapisan (encrusting) gamping yang dikeluarkan oleh ganggang merah), bafflestone (terdiri dari kerangka organik seperti koral dalam posisi tumbuh dan diselimuti oleh lumpur gamping), rudstone (hasil rombakan suatu terumbu dan terkumpul setempat atau ditransport oleh gaya berat, tanpa adanya lumpur gamping diantara fragmen-fragmennya), dan
floatstone ( terdiri dari potongan-potongan kerangka organik yang mengambang
dalam lumpur gamping).
Gambar 4.3 Klasifikasi batuan karbonat berdasarkan tekstur secara megaskopis dan terdapatnya lumpur karbonat (Embry & Klovan, 1971).
4.3 Fasies Batugamping Daerah Penelitian
Penamaan fasies batugamping daerah penelitian ini berdasarkan pengamatan secara megaskopis dan mikroskopis menggunakan asosiasi klasifikasi Dunham (1962) dan klasifikasi Embry & Klovan (1971).
Fasies
Foto 4.1. Singkapan batugamping berlapis, dip ke selatan, lintasan vertikal paling utara LY-1
Fasies Rudstone
Fasies ini mempunyai komponen utama berupa bioklas dari pecahan-pecahan moluska, koral, alga, dan foraminifera. Fasies rudstone, berwarna abu – abu terang kebiruan, terpilah buruk, kemas terbuka, fragmen > 10 % dengan ukuran > 2mm, terdiri dari material rombakan, bentuk tidak utuh, patah-patah, tidak dalam posisi tumbuh, mempunyai komponen utama berupa pecahan – pecahan moluska dan koral (berupa head massive coral, platy coral, branching coral) serta komponen lain berupa foraminifera dan alga, dengan kelimpahan fragmen jauh lebih dominan dibandingkan lumpur karbonatnya. Fasies ini ditemukan di beberapa lokasi antar lain KN-7, KN-11, KN-12, LY-1, LY-3, CK-3. Beberapa fasies dapat terbagi menjadi subfasies yang ditemukan berdasarkan komponen paling dominan antara lain coral rudstone dan molusca rudstone (Foto 4.2).
Berdasarkan pengamatan secara mikroskopis, pada fasies rudstone ini diperoleh mikrofasies berupa boundstone dan foraminifera packstone, yang memperlihatkan tekstur grain supported, terpilah buruk, kemas terbuka, terdiri dari fragmen fosil berupa foraminifera, alga, koral, moluska, dan echinodermata; berbentuk utuh dan pecah-pecah; berukuran 0,3 – 2.5 mm, berbentuk menyudut, tertanam dalam matriks mikrit dan semen umumnya sparry calcite hingga mikrospar yang mengisi rongga-rongga dalam batuan, porositas yang teramati berupa porositas interpartikel, moldic, dan vuggy. Moluska berbentuk utuh hingga pecah-pecah berupa gastropoda dan bivalve. Foraminifera besar yang terlihat pada sayatan antara lain Miogypsina s.p., Lepidocyclina sp., Spiroclypeus sp. Foraminifera kecil yang ditemukan berupa Globigerina, Globigerinoides, dan Milliolidae.
Fasies rudstone merupakan material rombakan yang umumnya menunjukkan suatu endapan gravitasi akibat adanya perbedaan lereng. Fasies rudstone biasanya menunjukkan lingkungan berenergi sedang-tinggi seperti pada lingkungan pengendapan slope (fore reef) dan ditemukan pada paparan laut dangkal dekat dengan pertumbuhan reef atau di sekitar patch reef. Apabila memiliki energi yang cukup tinggi fasies ini dapat hadir pada bagian belakang dari platform atau di belakang barrier reef yang dekat dengan reef crest dan umumnya berasosiasi dengan fasies packtone-grainstone.
Fasies rudstone ini biasanya ditemukan pada daerah paparan laut dangkal dekat dengan pertumbuhan terumbu dan lingkungan berenergi sedang-tinggi seperti pada lingkungan pengendapan bagian foreslope facies (Antoni, 2007).
Fasies Floatstone
Fasies ini umumnya mempunyai komponen utama yang hampir sama dengan fasies rudstone, tetapi lumpur karbonat yang terdapat dalam fasies ini jauh lebih dominnan sehingga butiran tampak mengambang dalam matriks lumpur karbonat. Fasies ini berwana abu-abu terang, matrix-supported, dengan komponen fragmen > 10% tetapi lebih sedikit dari rudstone dengan ukuran > 2 mm, terdiri dari material rombakan dari berupa dominan fragmen moluska (gastropoda dan bivalve), echinoid, dan foraminifera; disertai pecahan koral dan alga.
Pada sayatan tipis diperoleh foraminifera grainstone, packstone, dan wackestone, yang memperlihatkan tekstur mud-grain supported, terpilah buruk, kemas terbuka, terdiri dari fragmen fosil berupa foraminifera, moluska, echinoid, koral, brachiopoda, dan alga; berbentuk utuh dan pecah-pecah; berukuran 0,1 – 2.5 mm, berbentuk menyudut, tertanam dalam matriks mikrit dan semen umumnya sparry calcite hingga mikrospar yang mengisi rongga-rongga dalam batuan, porositas yang teramati berupa porositas interpartikel, moldic, stylolite, dan vuggy. Moluska berbentuk utuh hingga pecah-pecah berupa gastropoda dan bivalve. Foraminifera besar yang terlihat pada sayatan antara lain Lepidocyclina sp., Spiroclypeus sp.,dan Operculina sp.
Fasies floatstone (Foto 4.3) merupakan material rombakan yang umumnya menunjukkan lingkungan berenergi sedang-tinggi seperti dan ditemukan pada paparan laut dangkal dekat dengan pertumbuhan reef.
Fasies Branching Coral Bafflestone
Fasies ini berwarna putih - abu-abu terang, terdiri dari koral pada posisi tumbuh (branching coral) namun ada yang pecah, di antara antar koral terisi oleh matriks lumpur karbonat. Fasies branching coral bafflestone (Foto 4.4) menunjukkan suatu lingkungan berenergi tinggi dengan kedalaman antara 20 – 50 m, dengan pencahayaan tebatas, dan mewakili lingkungan reef front.
Fasies Platy Coral Bindstone
Fasies ini berwarna putih kecoklatan hingga keabu-abuan, terdiri dari platy coral, massive coral, dan encrusted algae. berbentuk memanjang hampir sejajar perlapisan, yang diantaranya dilingkupi oleh lumpur karbonat (Foto 4.5). Pada sayatan tipis ditemukan platy-coral wackestone dan boundstone. Fasies ini menunjukkan lingkungan berenergi tinggi dengan kedalaman ± 20 – 50 m. Fasies ini menunjukkan lingkungan berenergi tinggi, mewakili lingkungan reef front atau reef crest.
Fasies Head-Massive Coral Framestone
Fasies ini berwarna abu-abu terang, terdiri dari head-massive coral, boundstone, dan sedikit pecahannya, yang diantaranya terisi oleh matriks lumpur karbonat (Foto 4.6). Fasies framestone menunjukkan lingkungan dengan sirkulasi air baik, berenergi tinggi, mewakili lingkungan reef crest.
Fasies Wackestone
Fasies wackestone (Foto 4.7), mud-supported, terdiri dari fragmen komponen penyusun berupa lumpur karbonat > 15 % lebih banyak dari grainstone, dengan fragmen foraminifera, moluska, pecahan red algae, pecahan koral, echinoderm,
Foto 4.6 Singkapan batugamping fasies head-massive coral framestone
terpilah buruk, kemas terbuka, ada urat kalsit, butiran terdiri dari fragmen fosil berupa moluska, koral, alga. utuh dan pecah-pecah, matriks berupa lumpur karbonat, mulai terkristalisasi menjadi mikrit, semen berupa spari kalsit hingga mikrospar, Foraminifera besar berupa Borelis sp., Spiroclypeus sp. Foraminifera kecil, utuh sampai pecah-pecah, kamar mulai terisi oleh kalsit. Foraminifera kecil berupa Globigerina, Catapsydrax, Milliolidae, Nodosari, Bolivina, Uvigerina. Moluska bentuk pecah-pecah, berupa bivalve, kamar mulai terisi oleh kalsit Brachiopoda bentuk utuh – pecah-pecah, kamar terisi kalsit.
Fasies ini menunjukkan lingkungan berenergi lemah – sedang, dan mewakili lingkungan lagoonal (platform interior) dicirikan dengan melimpahnya komponen foraminifera terutama Milliolidae.
Fasies Packstone
Fasies packestone (Foto 4.8), berwarna putih keabu-abuan, grain-supported, terdiri dari fragmen komponen penyusun berupa lumpur karbonat > 10 %, dengan fragmen foraminifera, moluska, pecahan red algae, pecahan koral, echinoderm, brachiopoda, padat, keras, kompak. Pada sayatan tipis didapatkan Foraminifera Packstone, tekstur klastik, terpilah buruk, kemas terbuka, fragmen terdiri dari pecahan alga, foraminifera, koral, echinodermata, dan moluska. Foraminifera berupa foraminifera besar, utuh sampai pecah-pecah, kamar mulai terisi oleh kalsit. Foraminifera besar berupa Miogypsina sp., Spiroclypeus sp. Alga berbentuk memanjang, pecah-pecah, jenis red algae, koral bentuk utuh sampai pecah-pecah. Echinoderm bentuk utuh hingga pecah-pecah.
Fasies ini menunjukkan lingkungan berenergi lemah – sedang, yang terdapat di sekitar pertumbuhan reef.
Fasies Grainstone
Fasies grainstone (Foto 4.9), berdasarkan pengamatan mikroskopis, grain-supported, terdiri dari fragmen komponen penyusun berupa lumpur karbonat < 10 %, dengan fragmen foraminifera besar, foraminifera kecil, red algae, dan sedikit moluska, padat, keras, kompak. Pada sayatan tipis diperoleh Alga grainstone dan Foraminifera grainstone, tekstur klastik, terpilah sedang, kemas terbuka, ada urat kalsit, fragmen terdiri dari pecahan alga, foraminifera, dan pecahan moluska. Foraminifera berupa foraminifera besar dan kecil, utuh sampai pecah-pecah, kamar mulai terisi oleh kalsit. Foraminifera besar berupa Lepidocyclina sp. Foraminifera kecil berupa foraminifera bentos antara lain Milliolidae. Alga berbentuk memanjang, pecah, berupa red algae. Moluska bentuk pecah-pecah, berupa bivalve kamar terisi kalsit.
Fasies ini merupakan material rombakan yang menunjukkan lingkungan berenergi sedang–lemah, dengan lingkungan pengendapan di sekitar pertumbuhan reef.
Fasies Boundstone
Berdasarkan pengamatan mikroskopis, sayatan tipis fasies ini terdapat pada lokasi KN-5, KN-6, KN-7, terdiri dari komponen kerangka terutama koral dan alga dalam posisi tumbuh, terpilah buruk, kemas terbuka, butiran terdiri dari fragmen fosil berupa, alga, koral, foraminifera, bryozoa, brachiopoda, dan echinodermata; utuh dan pecah-pecah, ukuran pasir sedang – kasar (0.8-2.5 mm), matriks berupa lumpur karbonat yang mulai terkristalisasi menjadi mikrit, semen mikrospari kalsit, porositas vuggy dan interpartikel.
Foraminifera berupa foraminifera besar dan kecil, utuh sampai pecah-pecah, kamar mulai terisi oleh kalsit. Foraminifera besar berupa Lepidocyclina sp., Spiroclypeus sp., dan Miogypsina sp. Alga berbentuk memanjang, utuh hingga pecah-pecah, jenis red algae dan green algae. Koral berbentuk pecah-pecah, berupa head coral, pada posisi tumbuh, mulai terisi kalsit, bryozoa berupa koloni. Matriks lumpur karbonat hadir mengikat butiran/fragmen, coklat keruh, terekristalisasi menjadi mikrokristalin kalsit. Semen berupa mikrospari kalsit, mengisi ruang antar butir/fragmen, bentuk kristal subhedral-anhedral.
4.4 Asosiasi Fasies
Penulis menyederhanakan pengelompokan fasies dalam pemetaan penyebarannya menjadi asosiasi fasies karena keterdapatan jenis fasies yang beragam dan kompleks. Penyederhaan menjadi asosiasi fasies tersebut berdasarkan persebaran, asosiasi, ciri fisik, dan lingkungan pengendapannya. Asosiasi fasies tersebut antara lain asosiasi fasies wackstone-packstone, asosiasi fasies boundstone-floatstone, asosiasi fasies framestone-bafflestone-bindstone, asosiasi fasies rudstone-floatstone.
Asosiasi fasies wackstone-packstone terdapat di bagian paling selatan dari satuan batugamping yang memanjang NE-SW ditunjukkan dengan warna hijau pada peta sebaran fasies (Lampiran H), terdiri dari dominan fasies wackestone dan packstone, disertai fasies grainstone.
Asosiasi fasies boundstone-floatstone terdiri dari fasies boundstone dan floatstone, terdapat di bagian tengah satuan batugamping di sebelah utara fasies wackstone-packstone,yang memanjang NE-SW ditunjukkan dengan warna merah muda pada peta sebaran fasies (Lampiran H).
Asosiasi fasies framestone-bafflestone-bindstone terdapat di bagian tengah satuan batugamping di sebelah utara fasies boundstone-floatstone yang memanjang NE-SW, ditandai dengan warna jingga pada peta sebaran fasies (Lampiran H), terdiri dari dominan fasies head-massive coral, fasies branching coral bafflestone dan fasies platy coral bindstone, disertai fasies boundstone, fasies molusca rudstone (molusca dan coral rudstone) , fasies floatstone (molusca floatstone), fasies grainstone, fasies foraminifera packstone, fasies coral packstone, alga packstone, wackestone .
Asosiasi fasies rudstone-floatstone terdiri dari dominan fasies rudstone dan floatstone, disertai fasies branching coral bafflestone, fasies foraminifera packstone, fasies foraminifera grainstone, dan fasies wackstone. Asosiasi fasies ini terdapat memanjang NE-SW di bagian paling utara satuan batugamping, ditandai dengan warna biru pada peta sebaran fasies daerah penelitian (Lampiran
4.5 Penyebaran Fasies Batugamping Daerah Penelitian
Untuk mengetahui penyebaran fasies batugamping daerah penelitian, penulis melakukan measuring section pada tiga lintasan lateral (Gambar 4.4, Gambar 4.6, Gambar 4.8) dan tiga lintasan vertikal (Gambar 4.10, Gambar 4.11, Gambar 4.12). Lintasan lateral akan menunjukkan penyebaran fasies secara lateral (Gambar 4.13) dan penyebaran vertikal melalui penampangnya. Sedangkan lintasan vertikal pada beberapa singkapan dapat menunjukkan penyebaran vertikal dan bentuk pengendapan terutama berdasarkan korelasinya (Gambar 4.14).
Lintasan Lateral KN (Karangnangge) (Gb. 4.4, Gb. 4.5)
Gambar 4.4 Lintasan Lateral KN (KarangKarangnangge) pada peta (tanpa skala)
Gambar 4.6 Lintasan Lateral KG (KarangKaranggantung) pada peta (tanpa skala)
Gambar 4.7 Profil (kiri) dan Penampang (kanan) dari Lintasan Lateral KG
PETA SEBARAN FASIES
4.6 Lingkungan Pengendapan
Model lingkungan pengendapan fasies batugamping daerah penelitian dapat digambarkan berdasarkan jenis fasies, pola distribusi penyebaran fasies serta asosiasinya secara 3D (Gambar 4.15). Model lingkungan pengendapan yang digunakan dalam studi kali ini adalah model pengendapan shelf carbonate platform reefal (platform karbonat paparan terumbu), model pengendapan berdasarkan distribusi fasies dalam reef margin atau shelf-margin oleh James dan Bourque (1992) maupun Nichols (1999). Menurut model shelf carbonate platform reefal, daerah penelitian terdapat pada lingkungan pengendapan shelf, shelf-margin, dan slope. sedangkan menurut model James dan Bourque (1992) maupun Nichols (1999), daerah penelitian mempunyai empat lingkungan pengendapan antara lain lagoon, back reef, reef core, dan fore reef (Gambar 4.17). Morfologi platform karbonat daerah penelitian berupa morfologi rimmed platform dengan geometri progradasi (Gambar 4.16). Berdasarkan Antoni (2007), lingkungan pengendapan yang ditemukan di daerah penelitian berupa shelf lagoon, organic build up, dan foreslope yang merujuk pada model paparan karbonat Wilson (1975). Sedangkan berdasarkan Fahrudi (2004), lingkungan pengendapan daerah penelitian meliputi Proximal Talus, Reef Framework, dan Reef Slope yang merujuk pada pemodelan Longman (1981).
Lagoon
Secara umum tipe endapan lagoon dicirikan oleh adanya endapan bioklastik halus yang diwakili oleh asosiasi fasies wackstone- packstone (Foto 4.10) pada daerah penelitian dan melimpahnya komponen foraminifera terutama Milliolidae. Lagoon memiliki ukuran yang bervariasi dari yang kecil hingga area yang luas di belakang barrier reef (Tucker dan Wright, 1990). Lagoon merupakan bagian dari platform interior (shelf), berada di bagian belakang back reef dan reef crest yang mempunyai sistem energi lemah – sedang.
Lingkungan pengendapan lagoon diwakili asosiasi litofasies SMF-9, SMF-10 menurut Antoni (2007) yang merujuk pada klasifikasi mikrofasies Wilson (1975) dengan fasies Lepidocyclina packstone sebagai penciri lingkungan pengendapannya.
Back Reef
Back reef diwakili oleh asosiasi fasies boundstone-floatstone (Foto 4.11) pada daerah penelitian. Back reef masih merupakan bagian dari platform interior atau shelf-margin, berada di bagian belakang reef crest, yang mempunyai sistem energi sedang, terlindung dari sistem energi tinggi.
Reef Core
Reef core merupakan bagian dari reef margin atau shelf margin yang terdiri dari reef crest dan reef front. Pada daerah penelitian, reef core diwakili oleh asosiasi fasies framestone-bafflestone-bindstone (Foto 4.12). Fasies reef core terdiri dari boundstone terutama framestone, bindstone, dan bafflestone; sedangkan rudstone dan floatstone merupakan hasil rombakannya.
Foto 4.12 Singkapan batuan asosiasi fasies framestone-bafflestone-bindstone Foto 4.11 Singkapan batuan asosiasi fasies boundstone-floatstone
Lingkungan pengendapan Reef core sebanding dengan lingkungan pengendapan Organic build up yang mengacu pada lingkungan pengendapan berdasarkan Antoni (2007) . Menurut Antoni (2007), lingkungan organic build up merupakan asosiasi mikrofasies dari SMF-7 dengan SMF-11, dan SMF-12 berdasarkan Wilson (1975) dengan fasies berupa coral boudstone seperti massive framestone, platy coral boundstone, dan bafflestone.
Lingkungan pengendapan Reef core dapat disebandingkan juga dengan lingkungan Reef framework pada lingkungan pengendapan berdasarkan Fahrudi (2004) yang merujuk pada model pengendapan Longman (1981). Menurut Fahrudi (2007), lingkungan Reef framework terdiri dari asosiasi fasies Framestone dan Packstone.
Fore Reef
Pada daerah penelitian, lingkungan pengendapan Fore reef diwakili oleh asosiasi fasies rudstone – floatstone (Foto 4.13). Fore reef merupakan suatu lingkungan tempat akumulasi runtuhan atau jatuhan dari material reef core, berupa karbonat breksi yang secara umum dicirikan oleh fasies rudstone. Fasies rudstone merupakan endapan hasil rombakan yang membentuk endapan talus akibat adanya perbedaan lereng atau pengaruh gravitasi. Fore reef menunjukkan lingkungan slope, yang terletak di depan reef core.
Lingkungan pengendapan Fore reef sebanding dengan lingkungan pengendapan Foreslope yang mengacu pada lingkungan pengendapan berdasarkan Antoni (2007) . Menurut Antoni (2007), lingkungan pengendapan
Foto 4.13 Singkapan batuan asosiasi
berdasarkan klasifikasi mikrofasies Wilson (1975), yang diwakili juga oleh lapisan massive coral rudstone debris.
Lingkungan pengendapan Fore reef dapat disebandingkan juga dengan lingkungan Reef Slope pada lingkungan pengendapan berdasarkan Fahrudi (2004) yang merujuk pada model pengendapan Longman (1981). Menurut Fahrudi (2007), lingkungan Reef Slope terdiri dari asosiasi fasies Rudstone, Packstone, dan Grainstone.