31
4.1 Gambaran Umum Subyek dan Pelaksanaan Peneltian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mangunsari 01 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2011/2012. SD Negeri Mangunsari 01 beralamatkan di Jalan Hasanudin nomor 85 Salatiga. SD ini terletak dalam satu bidang tanah dengan SDN mangunsari 05 Salatiga, bahkan ketika melaksanakan upacara benderapun seluruh siswa SDN Mangunsari 01 dan Mangunsari 05 berada dalam satu halaman yang sama.
Unit penelitian ini adalah kelas V SD Mangunsari 01 Salatiga yang terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas VA dan kelas VB. Jumlah siswa kelas VA adalah 30 orang yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan sedangkan jumlah siswa kelas VB adalah 20 orang yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan, jadi subyek pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN Mangunsari 01 yang berjumlah 50 siswa.
Sesuai dengan hasil observasi yang dilaksanakan oleh peneliti, dalam kegiatan pembelajaran matematika, guru adalah sosok sentral yang menjadi pusat dalam pembelajaran. Guru mengajar dengan menggunakan metode konvensional yang membuat siswa hanya banyak mendengar tanpa melakukan kegiatan yang membuat aktif dalam menemukan konsep matematika. Guru hanya menjelaskan materi tanpa memperlihatkan contoh benda nyata kepada siswa. Padahal bagi siswa SD dengan melihat contoh benda nyata dalam pembelajaran akan lebih mempermudah mereka dalam menjelaskan suatu konsep yang baru dikenalnya. Oleh karena itu peneliti memilih melaksanakan penelitian di kelas V SD Negeri Mangunsari 01 Salatiga untuk mengetahui pengaruh penggunaan pendekatan keterampilan proses terhadap hasil belajar siswa.
4.2 Deskripsi Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen untuk membandingkan akibat dari suatu perlakuan. Pembelajaran pada kelas kontrol menggunakan metode konvensional dan kelas eksperimen menggunakan pendekatan keterampilan proses yang diterapkan pada mata pelajaran matematika. Model pembelajaran dengan pendekatan keterampilan
proses dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran, memberi motivasi kepada siswa serta memberikan gambaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan materi pelajaran. Memasuki kegiatan inti pembelajaran, guru melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai contoh benda di dalam kelas yang termasuk bangun ruang, kemudian memberikan tugas kepada siswa untuk mengklasifikasikan benda ruang tersebut sesuai dengan nama-nama berbagai jenis bangun ruang. Setelah siswa mengetahui berbagai macam jenis bangun ruang, guru menunjukkan contoh bangun ruang yaitu rubik untuk dicari jumlah sisi, rusuk, titik sudut serta bangun datar apa saja yang membentuk bangun ruang tersebut. Kemudian guru membagi siswa kedalam kelompok. Masing-masing kelompok dibagikan berbagai macam jenis bangun ruang yaitu balok, limas, prisma, kerucut dan tabung. Tugas siswa selanjutnya adalah mengerjakan LKS tentang menentukan jumlah sisi, rusuk, titik sudut serta bangun datar apa saja yang membentuk bangun-bangun ruang tersebut. Kegiatan berikutnya siswa menuliskan dan mempresentikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Memasuki kegiatan akhir pembelajaran, guru membimbing siswa untuk bersama-sama membuat kesimpulan dan melakukan evaluasi pembelajaran.
4.3 Analisis Data 4.3.1Uji Validitas
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes hasil belajar. Sebelum soal tes hasil belajar diberikan kepada siswa kelas V SDN Mangunsari 01 Salatiga yang berjumlah 50 siswa untuk pretest dan posttest. Soal tes hasil belajar di uji cobakan kepada siswa kelas V SDN Rembes 02 Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang yang berjumlah 30 siswa. Uji coba instrumen penelitian dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas butir-butir soal.
Peneliti menguji cobakan 35 soal pilihan ganda di SD Negeri Rembes 02 dan hasilnya terdapat 25 soal yang valid dan 10 soal yang tidak valid. Di bawah ini tabel validitas instrumen yang perhitungannya dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.1 Validitas Instrumen
Tujuan Pembelajaran No Soal Tidak Valid
Setelah melakukan tanya jawab dengan guru, siswa dapat menyebutkan minimal 7 jenis bangun ruang dengan benar
Setelah melakukan pengamatan, siswa dapat menyebutkan 3 contoh benda yang termasuk bangun ruang dengan benar Setelah melakukan percobaan, siswa
dapat menyebutkan sifat-sifat bangun ruang dengan benar
1, 2, 3, 7, 17, 21, 23 5, 6, 15, 29, 33, 35 4, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 18, 19, 20, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 31, 32, 34 23 6, 15 10, 19, 20, 24, 27, 32, 34
Jumlah 25 Soal 10 Soal
4.3.2Uji Reliabilitas
Instrumen yang digunakan dalam penelitian selain harus valid juga harus reliabel. Setelah diketahui terdapat 25 soal yang valid maka langkah selanjutnya adalah menghitung realibilitas ke-25 soal tersebut. Di bawah ini disajikan tabel hasil uji reliabilitas instrumen sebelum penelitian.
Tabel 4.2 Reliabilitas Instrumen Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .828 25
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pada Cronbach’s Alpha menunjukan 0,828 yang artinya instrumen dari 25 item soal menunjukkan indeks realibilitas bagus.
4.3.3Tingkat Kesulitan Butir Soal
Tingkat kesulitan butir soal menunjukkan besarnya proporsi peserta tes yang menjawab benar pada suatu butir soal. Terdapat 25 item soal yang dianalisis sesuai dengan tingkat kesulitannya yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.3
Tingkat Kesulitan Butir Soal No kesulitanTingkat
butir soal Jumlah Soal nomor
1 Mudah 12 soal 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 10, 14, 16, 21, dan 22
2 Sedang 11 soal 9, 11, 12, 13, 15, 18, 19, 20, 23, 24 dan 25
3 Sulit 2 soal 6 dan 17
4.3.4Uji homogenitas
Uji homogenitas yang dipakai adalah nilai raport semester 1 kelas VA (kelas kontrol) dan VB (kelas eksperimen) tahun ajaran 2011/2012. Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok yang dijadikan penelitian merupakan kelompok kelas yang homogen (seimbang).
Tabel 4.4
Uji Homogenitas Nilai Raport Test of Homogeneity of Variance
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
Raport Based on Mean .069 1 48 .793
Based on Median .346 1 48 .559
Based on Median and with
adjusted df .346 1 41.268 .559
Berdasarkan hasil uji homogenitas dengan statistik Based on Mean diperoleh signifikasi 0,793, jauh melebihi 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kedua kelas tersebut merupakan kelas yang homogen.
Uji homogenitas juga dilakukan pada nilai pretest sebelum melaksanakan perlakuan pada kelompok kontrol dan eksperimen, karena syarat sebelum memberikan perlakuan adalah nilai pretest kedua kelas tidak boleh ada perbedaan secara signifikan.
Tabel 4.5
Uji Homogenitas Nilai Pretest Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Pretest Based on Mean .000 1 48 1.000
Based on Median .000 1 48 1.000
Based on Median and with
adjusted df .000 1 47.747 1.000
Based on trimmed mean .000 1 48 1.000
Statistik Based on Mean diperoleh signifikasi 0,1000 > 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kedua kelas tersebut merupakan kelas yang homogen dan menunjukkan bahwa hasil pretest tidak ada perbedaan yang signifikan.
4.3.5Uji Normalitas
Untuk mengetahui data yang dianalisa berdistribusi normal atau tidak, uji normalitas perlu dilakukan. Syarat suatu data dikatakan berdistribusi normal jika signifikansi atau nilai ρ > 0,05.
Uji normalitas data variable yang digunakan adalah teknik One Sample Kolmogorov Smirnov Test dihitung dengan menggunakan program SPSS 16.0. Penghitungan uji normalitas menggunakan nilai posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen siswa SD Negeri Mangunsari 01 Salatiga. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.6
Uji Normalitas Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kelas Kontrol EksperimenKelas
N 30 20
Normal Parametersa Mean 63.7333 76.1000
Std. Deviation 14.77867 10.59245
Most Extreme
Differences AbsolutePositive .093.093 .151.151
Negative -.067 -.099
Kolmogorov-Smirnov Z .508 .674
Asymp. Sig. (2-tailed) .958 .754
a. Test distribution is Normal.
Dari data yang sudah ditunjukan pada tabel diatas kelas kontrol memiliki Asym. Sig. tailed) besarnya 0,958 > 0.05 sedangkan kelas eksperimen memiliki Asym. Sig. (2-tailed) besarnya 0.754 > 0.05 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua kelas tersebut berdistribusi normal dan sudah memenuhi syarat untuk dilakukan uji t.
Di bawah ini adalah gambar kurva kenormalan kedua kelas tersebut:
Gambar 4.2 Kurva Kenormalan Kelas Eksperimen 4.4 Analisis Deskriptif Variabel Peneltian
4.4.1 Analisis Deskriptif Pretest Kelas Kontrol dan Eksperimen
Hasil analisis data deskriptif melalui program SPSS 16.0 (Statistic Product and Service Solution) tentang pretest dari kelas eksperimen dan kontrol.
Tabel. 4.7
Hasil Pretest Kelas Kontrol Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Sum Mean DeviationStd. Pretest Kelas
Kontrol 30 52.00 24.00 76.00 1604.00 53.4667 13.37969
Valid N
(listwise) 30
Dari tabel 4.7 di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata dari 30 siswa yang mengikuti pretest adalah 53,47. Nilai maksimal hasil pretest kelas kontrol adalah 76 sedangkan nilai minimal atau nilai terendah adalah 24. Dari tabel diatas juga dapat dilihat bahwa jumlah dari semua nilai siswa adalah 1604.
Tabel. 4.8
Hasil Pretest Kelas Eksperimen Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Sum Mean DeviationStd. Pretest Kelas
Kontrol 20 48.00 32.00 80.00 1120.00 56.0000 13.10685
Valid N
(listwise) 20
Dari tabel 4.8 di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata dari 20 siswa yang mengikuti pretest adalah 56. Nilai maksimal hasil pretest kelas eksperimen adalah 80 sedangkan nilai minimal atau nilai terendah adalah 32. Dari tabel 4.8 juga dapat dilihat bahwa jumlah dari semua nilai siswa adalah 1120.
Dari hasil pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol tersebut, dapat diketahui bahwa selisih rata-rata kedua kelas adalah 2,53. Selisih rata-rata nilai pretest di gambarkan dengan diagram batang sebagai berikut:
Gambar 4.3 Rata-Rata Pretest Kelas Kontrol dan Eksperimen 53.47 56 52 52.553 53.554 54.555 55.556 56.5 Kontrol Eksperimen
Pretest
4.4.2 Analisis Deskriptif Posttest Kelas Kontrol dan Eksperimen
Setelah kelas kontrol mendapat perlakuan dalam mengikuti pembelajaran matematika menggunakan metode konvensional, siswa diberikan tes akhir atau posttest untuk mengukur indikator yang telah dicapai. Berikut adalah tabel hasil analisis deskriptif posttes kelas kontrol.
Tabel. 4.9
Hasil Posttest Kelas Kontrol Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Sum Mean DeviationStd. Posttest Kelas
Kontrol 30 60.00 28.00 88.00 1912.00 63.7333 14.77867
Valid N
(listwise) 30
Dari tabel 4.9 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata dari 30 siswa yang mengikuti posttest adalah 63,73. Nilai maksimal hasil posttest kelas kontrol adalah 88 sedangkan nilai minimal atau nilai terendah adalah 28. Jumlah keseluruhan nilai dari 30 siswa adalah 1912.
Sesuai dengan hasil penelitian, terdapat 9 siswa yang nilai postest kurang dari batas KKM, sedangkan 21 siswa lainnya mendapat nilai di atas KKM yaitu 60. Daftar nilai posttest kelas kontrol dapat dilihat pada lampiran.
Tabel. 4.10
Hasil Posttest Kelas Eksperimen Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Sum Mean DeviationStd. Posttest Kelas
Eksperimen 20 40.00 56.00 96.00 1522.00 76.1000 10.59245 Valid N
Dari tabel 4.10 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata dari 20 siswa yang mengikuti posttest adalah 76,1. Nilai maksimal hasil posttest kelas eksperimen adalah 96 sedangkan nilai minimal atau nilai terendah adalah 56. Jumlah keseluruhan nilai dari 20 siswa adalah 1522.
Sesuai dengan hasil penelitian, terdapat 1 siswa yang nilai posttest kurang dari batas KKM, sedangkan 19 siswa lainnya mendapat nilai di atas KKM yaitu 60. Daftar nilai posttest kelas eksperimen dapat dilihat pada lampiran.
Selisih nilai rata-rata antara kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah diberikan perlakuan menurut hasil posttest adalah 12,36. Berikut ini adalah gambar diagram yang menunjukkan selisih nilai rata-rata antara kelas kontrol dan eksperimen setelah diberi perlakuan.
Gambar 4.4 Rata-Rata Posttest Kelas Kontrol dan Eksperimen 4.4.3 Perbandingan Pretest-Posttest Kelas Kontrol Dan Eksperimen
Sesuai dengan hasil analisa dengan pretest dan posttest terlihat jelas perbedaan nilai rata-rata kelas kontrol sebelum dan setelah mendapat perlakuan. Dapat dilihat bahwa nilai rata-rata pretest kelas kontrol sebelum mendapat perlakuan adalah 53,47. Setelah mendapat perlakuan dengan pembelajaran secara konvensional nilai rata-rata posttest
63.73 76.1 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 78 Kontrol Eksperimen
Posttest
meningkat menjadi 63,73. Peningkatan rata-rata nilai dari pretest ke posttest kelas kontrol adalah 10,26 dan dapat dilihat pada gambar 4.5.
Gambar 4.5 Diagram Batang Pretest-Posttest Kelas Kontrol
Pada kelas eksperimen nilai rata-rata pretest kelas eksperimen sebelum mendapat perlakuan adalah 56. Setelah mendapat perlakuan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 76,10. Peningkatan rata-rata nilai pretest ke posttest pada kelas eksperimen adalah 20,10 dan dapat dilihat pada gambar 4.6.
Gambar 4.6 Diagram Batang Pretest-Posttest Kelas Eksperimen
Perbandingan nilai rata-rata hasil belajar Matematika pretest-posttest antara kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat melalui diagram batang sebagai berikut :
53.47 63.73 45 50 55 60 65 Pretest Posttest
Kelas Kontrol
56 76.1 0 20 40 60 80 Pretest PosttestKelas Eksperimen
Gambar 4.7 Diagram Batang Peningkatan Pretest-Postest Kelas Eksperimen dan Kontrol
Dari gambar 4.7 terlihat jelas perbandingan nilai rata-rata antara pretest - posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol.
4.4.4 Ketuntasan KKM
Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan hasil postest pada mata pelajaran matematika di kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Jika siswa mendapat nilai di bawah KKM (nilai < 60) maka siswa tersebut hasil belajarnya tidak tuntas, dan apabila siswa mendapat nilai lebih besar atau sama dengan KKM (nilai ≥ 60) maka siswa tersebut dikatakan hasil belajarnya tuntas.
Tabel penyajian ketuntasan KKM hasil posttest dari kelas kontrol dan eksperimen: Tabel. 4.11
Ketuntasan KKM Nilai posttest
Skor KKM
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
Frekuensi Prosentase (%) Frekuensi Prosentase (%) (N) (N) ≥ 60 Tuntas 21 70% 19 95% < 60 TuntasTidak 9 30% 1 5% Jumlah 30 100% 20 100% 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 53.47
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
Gambar 4.7 Diagram Batang Peningkatan Pretest-Postest Kelas Eksperimen dan Kontrol
Dari gambar 4.7 terlihat jelas perbandingan nilai rata-rata antara pretest - posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol.
4.4.4 Ketuntasan KKM
Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan hasil postest pada mata pelajaran matematika di kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Jika siswa mendapat nilai di bawah KKM (nilai < 60) maka siswa tersebut hasil belajarnya tidak tuntas, dan apabila siswa mendapat nilai lebih besar atau sama dengan KKM (nilai ≥ 60) maka siswa tersebut dikatakan hasil belajarnya tuntas.
Tabel penyajian ketuntasan KKM hasil posttest dari kelas kontrol dan eksperimen: Tabel. 4.11
Ketuntasan KKM Nilai posttest
Skor KKM
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
Frekuensi Prosentase (%) Frekuensi Prosentase (%) (N) (N) ≥ 60 Tuntas 21 70% 19 95% < 60 TuntasTidak 9 30% 1 5% Jumlah 30 100% 20 100% 1 2 53.47 56 63.73 76.1 Pretest Posttest
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
Gambar 4.7 Diagram Batang Peningkatan Pretest-Postest Kelas Eksperimen dan Kontrol
Dari gambar 4.7 terlihat jelas perbandingan nilai rata-rata antara pretest - posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol.
4.4.4 Ketuntasan KKM
Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan hasil postest pada mata pelajaran matematika di kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Jika siswa mendapat nilai di bawah KKM (nilai < 60) maka siswa tersebut hasil belajarnya tidak tuntas, dan apabila siswa mendapat nilai lebih besar atau sama dengan KKM (nilai ≥ 60) maka siswa tersebut dikatakan hasil belajarnya tuntas.
Tabel penyajian ketuntasan KKM hasil posttest dari kelas kontrol dan eksperimen: Tabel. 4.11
Ketuntasan KKM Nilai posttest
Skor KKM
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
Frekuensi Prosentase (%) Frekuensi Prosentase (%) (N) (N) ≥ 60 Tuntas 21 70% 19 95% < 60 TuntasTidak 9 30% 1 5% Jumlah 30 100% 20 100% Pretest Posttest
Dari tabel 4.11, disajikan gambaran visual menggunakan diagram lingkaran hasil ketuntasan nilai posstest kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Gambar 4.8 Diagram Lingkaran Ketuntasan KKM 4.5 Analisis Hasil Penelitian
Hasil pretest pada kelompok kontrol yang berjumlah 30 siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 53,47. Sedangkan untuk kelompok eksperimen dari jumlah 20 siswa nilai rata-ratanya adalah 56. Selisih nilai rata-rata pretest kedua kelompok tersebut adalah 2,53. Hasil pretest pada kelompok kontrol nilai tertinggi adalah 76 dan nilai terendah adalah 24, sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 32.
Hasil posttes pada kelompok kontrol yang berjumlah 30 siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 63,73. Sedangkan untuk kelompok eksperimen dari jumlah 20 siswa nilai rata-ratanya adalah 76,10. Selisih nilai rata-rata posttes kedua kelompok tersebut adalah 12,36. Hasil posttes pada kelompok kontrol nilai tertinggi adalah 88 dan nilai terendah adalah 28, sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi adalah 96 dan nilai terendah adalah 56.
Peningkatan rata-rata nilai dari pretest ke posttest kelas kontrol adalah 10,26 dan peningkatan rata-rata nilai pretest ke posttest pada kelas eksperimen adalah 20,10.
Menurut hasil posttest yang diperoleh kedua kelompok tersebut, dari jumlah 30 siswa pada kelompok kontrol terdapat 21 siswa yang nilainya berada di atas KKM dan 9 siswa lain nilainya berada dibawah KKM, sedangkan dari jumlah 20 siswa pada kelompok
70% 30%
Kelas Kontrol
Dari tabel 4.11, disajikan gambaran visual menggunakan diagram lingkaran hasil ketuntasan nilai posstest kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Gambar 4.8 Diagram Lingkaran Ketuntasan KKM 4.5 Analisis Hasil Penelitian
Hasil pretest pada kelompok kontrol yang berjumlah 30 siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 53,47. Sedangkan untuk kelompok eksperimen dari jumlah 20 siswa nilai rata-ratanya adalah 56. Selisih nilai rata-rata pretest kedua kelompok tersebut adalah 2,53. Hasil pretest pada kelompok kontrol nilai tertinggi adalah 76 dan nilai terendah adalah 24, sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 32.
Hasil posttes pada kelompok kontrol yang berjumlah 30 siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 63,73. Sedangkan untuk kelompok eksperimen dari jumlah 20 siswa nilai rata-ratanya adalah 76,10. Selisih nilai rata-rata posttes kedua kelompok tersebut adalah 12,36. Hasil posttes pada kelompok kontrol nilai tertinggi adalah 88 dan nilai terendah adalah 28, sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi adalah 96 dan nilai terendah adalah 56.
Peningkatan rata-rata nilai dari pretest ke posttest kelas kontrol adalah 10,26 dan peningkatan rata-rata nilai pretest ke posttest pada kelas eksperimen adalah 20,10.
Menurut hasil posttest yang diperoleh kedua kelompok tersebut, dari jumlah 30 siswa pada kelompok kontrol terdapat 21 siswa yang nilainya berada di atas KKM dan 9 siswa lain nilainya berada dibawah KKM, sedangkan dari jumlah 20 siswa pada kelompok
70%
Kelas Kontrol
Tuntas Tidak Tuntas 95% 5%Kelas Eksperimen
Dari tabel 4.11, disajikan gambaran visual menggunakan diagram lingkaran hasil ketuntasan nilai posstest kelas kontrol dan kelas eksperimen.Gambar 4.8 Diagram Lingkaran Ketuntasan KKM 4.5 Analisis Hasil Penelitian
Hasil pretest pada kelompok kontrol yang berjumlah 30 siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 53,47. Sedangkan untuk kelompok eksperimen dari jumlah 20 siswa nilai rata-ratanya adalah 56. Selisih nilai rata-rata pretest kedua kelompok tersebut adalah 2,53. Hasil pretest pada kelompok kontrol nilai tertinggi adalah 76 dan nilai terendah adalah 24, sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 32.
Hasil posttes pada kelompok kontrol yang berjumlah 30 siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 63,73. Sedangkan untuk kelompok eksperimen dari jumlah 20 siswa nilai rata-ratanya adalah 76,10. Selisih nilai rata-rata posttes kedua kelompok tersebut adalah 12,36. Hasil posttes pada kelompok kontrol nilai tertinggi adalah 88 dan nilai terendah adalah 28, sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi adalah 96 dan nilai terendah adalah 56.
Peningkatan rata-rata nilai dari pretest ke posttest kelas kontrol adalah 10,26 dan peningkatan rata-rata nilai pretest ke posttest pada kelas eksperimen adalah 20,10.
Menurut hasil posttest yang diperoleh kedua kelompok tersebut, dari jumlah 30 siswa pada kelompok kontrol terdapat 21 siswa yang nilainya berada di atas KKM dan 9 siswa lain nilainya berada dibawah KKM, sedangkan dari jumlah 20 siswa pada kelompok
Kelas Eksperimen
Tuntas Tidak Tuntas
eksperimen terdapat 19 siswa nilainya di atas KKM dan 1 orang siswa nilainya berada di bawah KKM.
4.6 Hasil Uji Hipotesis
Uji hipotesis antara kelompok eksperimen dengan pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses dan kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional menggunakan Uji t. Uji t atau uji beda digunakan untuk mencari perbedaan nilai antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
Tabel. 4.12
Uji Perbedaan Nilai Post Test Kelas Eksperimen dan Kontrol Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed ) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Nila i Equal variances assumed 1.656 .204 -3.226 48 .002 -12.36667 3.83371 -20.07486 -4.65847 Equal variances not assumed -3.444 47.691 .001 -12.36667 3.59031 -19.58667 -5.14666
Berdasarkan hasil perhitungan uji beda rerata dari tabel 4.12, nilai sig (2-tailed) sebesar 0.002 < 0,05 atau berdasarkan kriteria pengujian t hitung < t tabel (3,226 < -1,677), maka Ho ditolak, berarti ada perbedaan yang signifikan antara nilai posttes kelas kontrol dengan nilai posttes kelas eksperimen. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar secara positif dan signifikan siswa kelas V SDN Mangunsari 01 Salatiga tahun ajaran 2011/2012.
4.7 Pembahasan Hasil Penelitian
Sebelum melaksanakan penelitian di SDN Negeri Mngunsari 01 Salatiga, peneliti menguji cobakan 35 soal pilihan ganda untuk mengetahui valid dan reliabelnya instrument penelitian. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan oleh bantuan SPSS 16. Uji coba instrumen dilaksanakan di SD Negeri Rembes 02 Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang dan hasil dari 35 soal yang di ujikan terdapat 25 soal yang valid dan 10 soal yang tidak valid. Kemudian, dari 25 soal yang sudah valid dilakukan uji reliabilitas. Uji realibilitas sesuai dengan output SPSS 16.0 pada Cronbach’s Alpha menunjukan 0,828 yang artinya instrumen dari 25 item soal menunjukkan indeks realibilitas bagus.
Berdasarkan hasil uji homegenitas yang dilakukan sebelum penelitian dengan menggunakan nilai raport semester 1 siswa kelas VA dan VB SDN Mangunsari 01 Salatiga, menunjukkan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal karena nilai signifikasi 0,793 > 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kedua kelas tersebut merupakan kelas yang homogen.
Uji homogenitas juga dilakukan pada nilai pretest sebelum melaksanakan perlakuan pada kelompok kontrol dan eksperimen, karena syarat sebelum memberikan perlakuan adalah nilai pretest kedua kelas tidak boleh ada perbedaan secara signifikan. Diketahui bahwa kedua kelompok setelah diberikan soal pretest nilai signifikasi 0,1000 > 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kedua kelompok tersebut merupakan kelas yang homogen dan membuktikan bahwa hasil pretest tidak ada perbedaan yang signifikan.
Dalam proses kegiatan belajar mengajar pada siswa kelas VA SDN Mangunsari 01 Salatiga yang berjumlah 30 siswa dengan pengajaran menggunakan pendekatan konvensisonal, siswa cenderung lebih pasif meskipun ada beberapa siswa yang bertanya kepada guru. Siswa kurang bersemangat dalam mengikuti pembelajaran karena peran guru yang sangat dominan dalam pembelajaran.
Sedangkan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses yang dilaksanakan di kelas VB SDN Mangunsari 01 Salatiga yang berjumlah 20 siswa, siswa sangat aktif dalam pembelajaran karena mengalami sendiri proses pembelajaran dengan melihat contoh benda nyata mengenai sifat-sifat bangun ruang. Dengan siswa bisa mengalami dan melihat contoh benda kongkrit dari materi yang dipelajari, siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses ini juga menumbuhkan keterampilan mengamati, mengklasifikasi, mengukur, mengkomunikasikan serta menyimpulkan bagi siswa. Dengan melaksanakan keterampilan-keterampilan tersebut, siswa dapat menemukan sendiri fakta dan konsep matematika tentang sifat-sifat bangun ruang. Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati dan Mudjiono (2006: 139) yang mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah:
a. Wahana penemuan dan pengembangan fakta, konsep dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri siswa.
b. Fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan siswa berperan pula menunjang pengembangan keterampilan proses pada diri siswa.
c. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan fakta, konsep, serta prinsip ilmu pengetahuan, pada akhirnya akan mengembangkan sikap dan ilmuwan pada diri siswa.
Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Mangunsari 01 Salatiga secara positif dan sisgnifikan. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata posttest kelas eksperimen yang jauh meningkat dibandingkan nilai posttes kelas kontrol.
Hasil nilai pretest dan posttes siswa kelas V SDN Mangunsari 01 adalah: 1. Hasil nilai pretest
a) kelompok kontrol dengan jumlah siswa 30 orang, rata-rata nilai mencapai 53,47. Nilai tertinggi adalah 76 dan nilai terendah adalah 24.
b) kelompok eksperimen dengan jumlah siswa 20 orang, rata-rata nilai mencapai 56. Nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 32.
2. Hasil nilai posttest
a) kelompok kontrol dengan jumlah siswa 30 orang, rata-rata nilai mencapai 63,73. Nilai tertinggi adalah 88 dan nilai terendah adalah 28.
b) kelompok eksperimen dengan jumlah siswa 20 orang, rata-rata nilai mencapai 76,10. Nilai tertinggi adalah 96 dan nilai terendah adalah 32.
Dari hasil uji normalitas dengan menghitung nilai posttest kelas kontrol diketahui bahwa Asym. Sig. (2-tailed) adalah 0,958 > 0,05, sedangnkan hasil uji normalitas kelas eksperimen menunjukkan Asym. Sig. (2-tailed) besarnya 0,754 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai kedua kelas tersebut berdistribusi normal dan memenuhi syarat untuk dilakukan uji t.
Hasil analisis uji beda nilai rata-rata posttes kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu 63,73 dan 76,10, nilai signifikasinya adalah 0,002 dan berdasarkan kriteria pengujian -t hitung < -t tabel (-3,226 < -1,677). Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata yang signifikan antara kelas kontrol dan eksperimen. Dapat disimpulkan bahwa setelah diberi perlakuan nilai hasil belajar kelompok eksperimen yang menggunakan pendekatan keterampilan proses jauh meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ruti Hapsari dengan judul “Pengaruh Pendekatan Keterampilan Proses Terhadap Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SDN Kaliguwo 01 Wonosobo 2010/2011”. Hasil penelitian Ruti Hapsari menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen yang menggunakan pendekatan keterampilan proses hasilnya lebih baik dari pada kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran secara konvensional. Nilai rata-rata hasil belajar kelompok kontrol adalah 63,10 dan nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 75,70 dengan hasil uji beda yang menunjukkan hasil signifikasi 0,000.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses hasil belajar siswa meningkat secara positif dan signifikan di bandingkan kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini dikarenakan pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses membuat siswa lebih aktif dalam menemukan fakta dan konsep pelajaran dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.