• Tidak ada hasil yang ditemukan

12 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "12 Universitas Kristen Petra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua orang. Apabila jumlah orang dalan kelompok itu sedikit yang berarti kelompok itu kecil, komunikasi yang berlangsung disebut komunikasi kelompok kecil. Namun apabila jumlahnya banyak berarti kelompoknya dinamakan komunikasi kelompok besar (Effendy,2003,p.75-76).

Pengertian Komunikasi Kelompok juga dinyatakan oleh Mulyana (2005,p.177) sebagai sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.

Pada dasarnya komunikasi kelompok mempelajari pola-pola interaksi antar individu dengan titik berat tertentu, misalnya pengambilan keputusan. Hal ini bisa terjadi karena adanya keyakinan bahwa pengambilan keputusan pribadi berbeda dengan pengambilan keputusan yang harus dibuat secara bersama-sama dalam suatu kelompok (Pawito,2007,p.7).

Diantara semua definisi yang menjabarkan definisi komunikasi kelompok, peneliti memilih perspektif yang dikemukakan oleh Deddy Mulyana bahwa komunikasi kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Hal ini sesuai dengan fenomena komunikasi yang terjadi di Kampung Kapasan Dalam dimana kelompok yang akan diteliti adalah kelompok yang memiliki tujuan untuk berinteraksi yaitu untuk berbagi informasi dan menjalin hubungan satu sama lain.

(2)

Mereka juga saling mengenal satu sama lain dan menganggap satu sama lain sebagai anggota kelompok.

2.2 Kelompok Kecil

Devito (1997,p.303) mengatakan bahwa kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil kira-kira terdiri dari 5 – 12 orang yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka.

Proses transaksional menggunakan perilaku simbolik untuk mencapai tujuan bersama antara anggota kelompok selama periode waktu tertentu, juga dinyatakan sebagai definisi komunikasi kelompok oleh Haris dan Sherblom (2005,p4). Sedangkan Liliweri (2007,p.21) menyatakan bahwa komunikasi kelompok kecil dapat terjadi diantara 4-20 orang.

Berbeda dengan pandangan yang diberikan oleh Goldhaber 1979 (J. dan Rothwell,2010,p.33) yang menyatakan bahwa kelompok kecil adalah sebuah sistem komunikasi manusia yang terdiri atas tiga atau lebih individu, berinteraksi untuk mencapai beberapa tujuan bersama yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masing-masing individu.

Penelitian ini mengambil fokus pada kelompok kecil dan memilih Kampung Kapasan Dalam sebagai lokasi penelitian. Individu dalam kelompok ini memiliki keterikatan yang erat antara satu dengan yang lain. Tujuan dari kelompok ini adalah berbagi informasi dan menjalin relasi dimana jalinan relasi yang mereka bangun dapat dipengaruhi dan mempengaruhi oleh masing-masing individu. Semakin erat hubungan antara individu dalam kelompok tersebut, maka tujuan dari kelompok tersebut dapat dicapai. Semakin renggang hubungan individu didalamnya, maka tujuan dari kelompok tersebut dapat dikatakan gagal.

(3)

Penjelasan diatas selaras dengan pendapat yang diajukan Goldhaber bahwa kelompok kecil adalah sebuah sistem komunikasi manusia yang terdiri atas tiga atau lebih individu, berinteraksi untuk mencapai beberapa tujuan bersama yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masing-masing individu.

2.3 Karakteristik Unik Komunikasi Kelompok Kecil

Ada 9 karakteristik unik yang dimiliki oleh komunikasi kelompok kecil (Cragan, Kasch & Wright, 2009,p.9-18) :

a. Communication (komunikasi) : Dalam sebuah kelompok kecil akan terjadi

komunikasi verbal maupun nonverbal antara anggota kelompok-kelompok kecil tersebut. Keberadaan pertukaran oesan verbal dan nonverbal menunjukkan eksistensi dari kelompok kecil tersebut. Dalam kelompok kecil, komunikasi tidak terjadi secara acak melainkan terarah dengan tujuan untuk meraih tujuan kelompok hingga membangun kesatuan dari kelompok tersebut. Dalam kelompok kecil, komunikasi terjadi dengan tujuan untuk memecahkan masalah, role playing, membangun kelompok dan membangun hubungan dalam kelompok kecil tersebut. Komunikasi awal yang bida dilakukan dalam memulai interaksi di kelompok kecil adalah memulai pembicaraan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada anggota kelompok lain. Untuk memahani proses sebuah kelompok kecil, seseorang harus memperhatikan frekuensi komunikasi yang terjadi antar anggota. Seseorang juga harus memperhatikan isi dan arti dari komunikasi dalam interaksi kelompok kecil tersebut.

b. Space (ruang): Komunikasi kelompok kecil menyatakan bahwa kelompok kecil merupakan sekumpulan beberapa individu yang saling berinteraksi melalui satu pertemuan atau beberapa kali pertemuan tatap muka. Kini proses tatap muka dan saling berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya

(4)

bisa digantikan melalui media komunikasi seperti : email, discussion board, chatting online, handphone sellular hingga instant message.

c. Time (waktu) : Sekumpulan orang yang saling berkomunikasi sebelum akhirnya

mereka menjadi atau tergabung dalam sebuah kelompok. Situasi darurat dapat mengurangi waktu yang diperlukan oleh sebuah kelompok untuk terbentuk. Kelompok kecil yang para anggotanya tinggal dalam lokasi geografis yang berbeda memiliki karakteristik waktu dan ruang yang unik saat para anggota kelompok tersebut berinteraksi.

d. Group Size (ukuran kelompok) : Kelompok kecil harus mengandung karakteristik dari ukuran kelompok / jumlah anggota kelompok. Kelompok kecil minimal terdiri dari 3 orang dan maksimal 13 orang. Jumlah anggota yang optimal atau ideal bagi sebuah kelompok kecil dalam mencpai tujuan adalah 5 hingga 7 orang. Semakin banyak anggota kelompok maka semakin terpecah menjadi sub-sub kelompok.

e. Interdependence (keadaan saling tergantung) : Salah satu karakter utama dari sebuah kelompok kecil adalah para anggotanya yang saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Adanya tujuan yang harus diraih menumbuhkan ketergantungan dalam kelompok mereka.

f. Norms (norma) : Norma yang dianut oleh sebuah kelompok kecil mencakup nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, perilaku dan prosedur yang berkaitan dengan tujuan kelompok yang disepakati bersama.

g. Structured patterns of talk (pembicaraan yang terstruktur) : Ada 4 bentuk komponen dalam pembicaraan terstruktur sebuah kelompok kecil :

1. Untuk memecahkan masalah

2. Conciousness raising talk dimana para anggota suatu kelompok kecil dengan yang lainnya saling memberikan motivasi dengan tujuan memberi semangat 3. Role talk, dimana masing anggota menjalankan perannya

(5)

4. Relational Talk merupakan komunikasi antar anggota kelompok untuk saling bisa mengenal pribadi, guna menumbuhkan kepercayaan, empati, inisiatif dan hubungan diantara mereka.

h. Goals (tujuan) : Anggota kelompok kecil saling terikat satu dengan yang lainnya karena mereka saling membutuhkan untuk mencapai tujuan. Adanya kohesivitas dalam sebuah kelompok kecil akan meningkatkan intensitas komunikasi, penetapan peran masing-masing anggota, kestabilan norma kelompok hingga produktifitas kelompok yang positif.

i. A perceived shared identity (identitas kelompok) : Seseorang tergabung kedalam sebuah kelompok kecil, individu harus percaya bahwa orang tersebut memiliki identitas baru yaitu sebagai anggota sebuah kelompok kecil tempatnya bergabung. 2.4 Klasifikasi Kelompok

Rakhmat (2008,p.142) membedakan kelompok menjadi empat dikotomi, yakni : 1. Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder

a. Kelompok Primer : Kualitas komunikasi bersifat dalam dan meluas. Dalam artinya menembus kepribadian kita yang tersembunyi atau menyingkap unsur-unsur backstage. Meluas artinya hanya sedikit kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Dalam kelompok primer, kita menentukan hal-hal bersifat pribadi dengan menggunakan berbagai lambang, bahasa verbal maupun nonverbal. Sedangkan Kelompok Sekunder, komunikasi bersifat dangkal (menembus permukaan luar dari kepribadian kita) dan terbatas (hanya berkatian dengan hal tertentu saja). Kebanyakan menggunakan komunikasi verbal dan jarang sekali melibatkan komunikasi nonverbal.

b. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal. Point utama dalam berkomunikasi adalah siapa dia bukan apakah dia. Kualitas hubungan dapat dikatakan jelas dan pasti apabila sifatnya tak dapat dipindahkan. Hubungan ini terikat pada individu tertentu yang tak dapat diduplikasikan.

(6)

c. Dalam kelompok primer, komunikasi lebih ditekankan pada aspek hubungan dengan anggota daripada aspek isi. Komunikasi dilakukan untuk memelihara hubungan baik.

d. Kelompok Primer bersifat ekspresif dan informal. 2. Ingroup dan Outgroup

Ingroup adalah kelompok kita sedangkan Outgroup adalah kelompok mereka. Ingroup dapat berbentuk kelompok primer ataupun sekunder. Dalam membedakan Ingroup atau Outgruoup, diperlukan batasan dalam menentukan siapa yang termasuk orang dalam dan siapa yang termasuk orang luar. Batasan-batasan tersebut dapat berupa lokasi geografis, suku bangsa, pandangan atau ideology, pekerjaan atau profesi, bahasa, status sosial dan kekerabatan. Anggota yang masuk dalam lingkaran Outgroup akan merasa terikat dalam semangat “kekitaan” dan biasanya disebut kohesi kelompok.

3. Kelompok Keanggotaan dan Kelompok Rujukan

Kelompok Keanggotaan adalah kelompok dimana ada komunitas tergabung didalamnya, sehingga kelompok tersebut menjadi bagian dalam dirinya. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai diri sendiri atau dalam membentuk sikap. Misalnya, seseorang menggunakan kelompok itu sebagai teladan untuk bersikap, artinya kelompok itu menjadi kelompok rujuan positif. Jika digunakan sebagai teladan untuk tidak bersikap, berarti kelompok tersebut menjadi kelompok rujukan negative.

4. Kelompok Deskriptif dan Kelompok Preskriptif

Kelompok deskriptif adalah kelompok yang proses pembentukannya secara alamiah. Sedangkan kelompok preskriptif adalah kelompok menurut langkah-langkah rasional yang harus dilewati oleh anggota kelompok dalam mencapai tujuannya (Cragan dan Wright,1980 dalam Rakhmat, 2008).

(7)

2.5 Elemen Komunikasi Kelompok

Michael Burgoon dan Ruffner dalam bukunya Human Communication, A Revisian of Aproaching Speech/Communication, memberi batasan komunikasi kelompok yaitu interaksi secara tatap muka yang dilakukan lebih dari tiga individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagi informasi, pemeliharaan diri hingga pemecahan masalah sehingga anggota kelompok dapat menumbuhkan karakteristik pribadi.

Ada empat element dalam Komunikasi Kelompok, antara lain :

1. Tatap Muka : Setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya. Makna tatap muka berkaitan erat dengan adanya interaksi diantara semua anggota kelompok.

2. Jumlah partisipan harus berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan melebihi 20 orang maka interaksi dimana setiap kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya sangat minim terjadi. Sehingga nantinya kurang tepat jika dikatakan sebagai komunikasi kelompok.

3. Maksud atau tujuan : Tujuan atau maksud dari sebuah kelompok akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok.

Tujuan Kelompok terbagi menjadi 3, yaitu :

a. Berbagi informasi : komunikasi yang dilakukan guna menanamkan pengetahuan bagi anggota kelompoknya

b. Pemeliharaan diri : Memusatkan perhatian kepada anggota kelompok. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah keupasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri.

c. Pemecahan masalah : Melibatkan pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

(8)

4. Menumbuhkan karakteristik personal anggota lainnya secara akurat : Anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan satu dengan yang lain dengan tujuan/maksud kelompok yang telah di definisikan dengan jelas. Disamping itu, identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen.

2.6 Unsur-Unsur Komunikasi Kelompok

Unsur-Unsur komunikasi kelompok menurut teori Cartwright dan Zanden antara lain: (Gurning,2012,p.5).

1. Pelaku komunikasi dalam komunikasi kelompok

Pelaku komunikasi kelompok yaitu siapa yang berperan sebagai sumber atau dapat dikatakan pula sebagai penyampai pesan. Peranan sumber tersebut adalah siapa yang menyampaikan informasi kepada para anggota kelompok lain, dan penyampai informasi apa saja yang dianggap penting bagi kelangsungan kelompok.

2. Pesan-pesan yang dipertukarkan dalam komunikasi kelompok

Pesan adalah apa yang di komunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat symbol verbal atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadii.

3. Interaksi yang terjadi di dalam proses komunikasi kelompok

Interaksi adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana perilaku individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Dalam interaksi, apabila seseorang tertarik pada orang lain, maka ia akan mengadakan interaksi dengan orang yang bersangkutan. Sebaliknya, jika seseorang tidak tertarik, maka ia tidak tertarik akan mengadakan interaksi. Dengan demikian unsur ketertarikan seseorang akan ikut menentukan terjadinya interaksi. Atau dengan kata lain, ketertarikan secara tidak langsung berpengaruh pada kohesi kelompok yaitu melalui interaksi.

(9)

Pada anggota kelompok dengan kohesi tinggi, komunikasi antar anggota tinggi dan interaksinya beorientasi positif, sedangkan antar anggota dalam kelompok kohesi rendah kurang komunikatif dan komunikasinya lebih berorientasi negative. Anggota kelompok dengan kohesi tinggi bersifat kooperatif dan pada umumnya mempertahankan dan meningkatkan integrasi kelompok, sedangkan pada kelompok dengan kohesi rendah lebih independen dan kurang memperhatikan anggota lainnya.

Goldberg dan Larson (1985,p.56) menyatakan bahwa interaksi komunikasi pada kelompok terbagi menjadi tiga dalam teori Activity

Interaction Sentiment antara lain:

a. Kegiatan

Kegiatan yang dilaksanakan di dalam sebuah kelompok merupakan salah satu cara yang dilakukan dalam upaya menjaga efektivitas kelompok.

b. Interaksi

Setiap kelompok terdiri dari sejumlah orang dengan satu tujuan yang sama namun terdiri dari latar belakang berbeda mampu mempengaruhi interaksi sesame anggota kelompok.

c. Perasaan

Interaksi dengan intensitas yang tinggi dapat menimbulkan suatu kesatuan perasaan.

4. Kohesivitas yang terjadi di dalam proses komunikasi kelompok

Kohesi kelompok adalah bagaimana anggota kelompok saling menyukai dan saling mencintai satu sama lain. Tingkatan kohesivitas akan menunjukkan seberapa baik kekompakan dalam kelompok bersangkutan. Menurut Forsyth (1999) sebuah kelompok dapat dikatakan kohesif apabila memiliki cirri-ciri antara lain:

a. Masing-masing anggota timbul keterdekatam, sehingga dapat mempengaruhi satu sama lainnya. Perasaan saling memiliki antar anggota dapat mempengaruhi kerekatan suatu kelompok.

(10)

b. Rasa toleransi antar anggota dalam kelompok.

c. Saling mendukung terutama dalam menghadapi masalah. d. Saling berbagi.

e. Kerekatan hubungan antar anggota.

f. Saling tergantung untuk tetap tinggal di dalam kelompoknya.

g. Rasa saling percaya sehingga timbul suasana nyaman (merasa aman dalam bekerja, untuk mengungkapkan pendapat dan berinteraksi, saling pengertian) 5. Norma kelompok yang diterapkan

Norma di dalam kelompok mengidentifikasikan anggota kelompok itu berprilaku. Penyesuaian anggota kelompok dengan norma tersebut adalah bagian dari harga yang harus dibayar sebagai hasil dari diterima menjadi anggota kelompok tersebut.

2.7 Pluralisme

2.7.1 Definisi Pluralisme

Pengertian Pluralisme dalam Oxford Advanced Learner’s Discttionary of Current English (1948) adalah suatu prinsip bahwa kelompok-kelompok berbeda tersebut dapat hidup bersama dalam kedamaian dalam suatu masyarakat. Pluralisme merupakan pengakuan terhadap integritas setiap agama dalam keseluruhan bagian-bagiannya yang khas berbeda. Pengertian pluralisme lainnya menurut Imam Subkan dalam buku Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme di Yogya adalah suatu kerangla interaksi tempat setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleransi satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran) (Imam,2007,p.28).

Pengertian pluralisme tidak hanya menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan, namun perlu adanya keterlibatan aktif dan interaksi positif terhadap kenyataan majemuk itu. Dengan kata lain, setiap pemeluk agama tidak hanya dituntut untuk mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi juga terlibat dalam usaha

(11)

Madjid menyatakan bahwa pluralisme tidak cukup hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi juga harus disertai dengan sikap yang tulus untuk menerima kenyataan itu sebagai sebuah nilai positif. Pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (Effendi,2009,p.119).

2.7.2 Asal Usul Pluralisme

Asal-usul kata pluralisme berasal dari bahasa latin plures yang berarti “beberapa” dengan makna perbedaan. Dalam bahasa inggris pluralisme berarti pluralism yang berasal dari kata plural (kemajemukan dan keragaman) dan isme yang berasal dari bahasa latin yang berarti paham (Hidayat,1998). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pluralisme adalah suatu paham dimana sebuah komunitas terdiri dari berbagai macam aspek yang berbeda satu sama lain dan kemudian hidup dan berinteraksi membentuk suatu keserasian dan keharmonisan bersama. Keserasian yang dimaksud adalah bagaimana kerukunan antar sesame terbentuk karena adanya toleransi di dalamnya. Adapula pandangan R.J Mouw dan S.Griffon dari Inggris mengenai asal mula pluralisme yang berasal dari kata plural (jamak) dalam arti ada keanekaragaman dalam masyarakat, ada banyak hal lain diluar kelompok kita yang harus diakui. Sedangkan kata “ism” yang berarti aliran mengenai pluralitas (Syamsul,2005,p.11)

2.7.3 Hubungan Pluralisme dengan multikulturalisme

Pluralisme merupakan dasar dan berhubungan erat dengan multikulturalisme. Masyarakat plural menjadi awal terbentuknya masyarakat multicultural. Pluralisme bukan apa-apa tanpa multikultural. Namun selalu ada kesenjangan antara pengakuan pluralisme dengan pelaksanaan multikulturalisme. Pluralisme sendiri lebih merujuk pada kondisi apa adanya sebagai suatu realitas dalam masyarakat, sedangkan multikulturalisme adalah karakter atau kondisi normative yang seharusnya dilakukan oleh anggota masyarakat yang plural (Hasibuan,2008,p.94). Hasibuan, Muhammad Umar Syadat. (2008). “Revolusi Politik Kaum Muda”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

(12)

2.7.4 Aspek Positif Pluralisme dan Multikulturalisme

Menurut Prof.Andi Faisal Bakti, Ph.D sebagai guru besar Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Ada beberapa hal positif dari pluralisme dan multikulturalisme:

1. Mengajak warga negara untuk memiliki sifat menghargai antara satu ras dengan ras lainnya, antara etnik atau suku yang satu, dengan suku lainnya, antara pengikut agama yang satu dengan agama lainnya, antara golongan yang satu dengan lainnya.

2. Setiap warga dengan etnik, dan ras dan penganut agama tertentu, dapat mengembangkan kultur, nilai-nilai ajarannya, serta tradisinya tanpa halangan. Hal ini karena warga dilindungi oleh undang-undang, yang berdasarkan kesepakatan dan persetujuan warga secara keseluruhan. Dengan demikian, setiap warga dapat hidup tanpa merasa tertekan, dikontrol, serta diawasi oleh warga lain yang berbeda budaya.

3. Setiap warga memiliki hak untuk hidup dan maju, bahkan mengembalikan tradisi dan budaya lama yang menjadi ajaran atau anutan pada warga itu. Semakin banyak institusi dan pranata sosial dan kulural bermunculan tanpa ada halangan dan tantangan. Hubungan budaya yang sama dapat dibangun semaksimal dan sedekat mungkin, tanpa ada batas-batas hierarki dan birokrasi, hingga batas Negara sekalipun.

2.7.5 Aspek Negatif dari Pluralisme dan Multikulturalisme

Adapun aspek negatif dari Pluralisme dan Multikulturalisme, antara lain: 1. Susahnya menjalankan aspek menghargai dan pembiaran budaya berjalan

secara bersamaan dan berimbang secara terus menerus, karena pasti salah satu diantaranya akan menguat dan menajam.

2. Setiap budaya tertentu yang mendapat tempat dalam Negara sama dengan lainnya, termasuk budaya mayoritas dapat memperkuat budaya mereka sendiri

(13)

sama sekali tidak diperbolehkan melakukan serangan ataupun gangguan atas eksistensi budaya lainnya.

2.8 Interaksi Sosial

Suryawati memaparkan bahwa Interaksi Sosial adalah bentuk umum dari proses sosial, dimana individu dan kelompok mengembangkan cara-cara berhubungan dengan individu dan kelompok lain. Selain itu interaksi sosial hanya berlangsung jika terjadi aksi dan reaksi dari kedua belah pihak, baik antarindividu, individu dan kelompok atau antarkelompok (2006,p.58). Syarat untuk terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan komunikasi. Jika hanya terjadi kontak namun tidak ada komunikasi didalamnya, maka tidak dapat dikatakan sebagai interaksi sosial.

Salah satu pendekatan yang biasa digunakan untuk mempelajari interaksi sosial adalah interaksionisme simbolik. Kata simbolik mengacu pada penggunaan symbol-simbol dalam interaksi. Simbol adalah sesuatu yang diberi nilai dan makna oleh pengguna nya. Dengan demikian, symbol yang sama dapat memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang. Makna sendiri muncul dari adanya interaksi sosial. Makna tidak langsung diberikan atau ditanggapi begitu saja oleh seseorang, namun melalui proses penafsiran lebih dulu.

Pengertian interaksi sosial lainnya menurut Yulianti adalah hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar perorangan, antar kelompok-kelompok manusia dan antar orang dengan kelompok-kelompok-kelompok-kelompok masyarakat. Interaksi terjadi apabila dua orang atau kelompok saling bertemu dan pertemuan individu dengan kelompok dimana komunikasi terjadi diantara kedua belah pihak (2003,p.91).

Adapula pemaparan lainnya milik Ahmadi yang menyatakan bahwa Interaksi Sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena itu tanpa adanya interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan bersama. Interkasi sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antar individu dengan golongan dengan tujuan untuk memecahkan persoalan yang diharapkan dan mencapai tujuan mereka (2004,p.100)

(14)

Dari ketiga perspektif mengenai pengertian Interaksi Sosial, peneliti memilih perspektif yang dinyatakan oleh Suryawati yang menekankan terjadinya komunikasi diantara pelaku interaksi sebagai syarat terjadinya interaksi sosial. Pemilihan perspektif milik Suryawati dikarenakan penelitian ini adalah penelitian dalam ranah komunikasi yang menekankan pada komunikasi yang terjadi antara anggota dengan kelompok, sehingga perspektif Suryawati mengenai interaksi sosial yang menekankan terjadinya komunikasi dapat dijadikan perspektif peneliti ketika berada dilapangan ketika melakukan observasi.

2.9 Konflik Sosial

Konflik merupakan salah satu esensi dari kehidupan dan perkembangan manusia yang mempunyai karakteristik yang beragam. Konflik adalah perbedaan persepsi mengenai kepentungan yang terjadi ketika tidak terlihat adanya alternative. Selama masih ada perbedaan, konflik tidak dapat dihindari dan selalu akan terjadi hingga memuaskan aspirasi kedua belah pihak (Wirawan,2010,p.1-2)

Karl Max mengatakan bahwa konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Sedangkan Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik di masyarakat. Menurut Ralf, di dalam setiap asosiasi yang ditandai oleh pertentangan terdapat ketegangan diantara mereka yang ikut dalam struktur kekuasaan dan yang tunduk pada struktur itu (Waluya,2007,p.57)

2.9.1 Tahapan konflik

Ada 5 tahapan konflik menurut Liliweri : (2005,p.293)

Tahap 1 : Potensi oposisi atau keadaan pendorong – kondisi anteseden/yang mendahului konflik:

 Komunikasi

 Struktur

 Variabel personal

(15)

 Konflik perasaan

Tahap III: Penyelesaian-penanganan konflik

 Membiarkan dua pihak bersaing

 Dua pihak kolaborasi

 Dua pihak saling menjauhi

 Dua pihak akomodasi

 Dua pihak kompromi

Tahap IV : Perilaku konflik yang jelas

 Perilaku pihak-pihak terlibat

 Reaksi pihak lain Tahap V : Hasil

 Meningkatkan tampilan kelompok

 Menurunkan tampilan kelompok

2.10 Studi Kasus

Studi Kasus adalah studi yang mendalam terhadap berbagai orang, organisasi event ataupun proses event. Studi Kasus digunakan untuk memaparkan data yang mendetail dan penjelasan yang lengkap terhadap suatu bidang yang diteliti (Stack,2002,p.71). Studi Kasus digunakan untuk memahami teori namun diaplikasikan dalam situasi tertentu.

Keuntungan terbesar dari metode studi kasus adalah apa yang sedang diteliti merupakan hal yang telah ada sebelumnya. Sehingga melalui studi kasus, kita melihat kembali apa yang terjadi dan memberikan penjelasan melalui observasi. Observasi tersebut menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi (Stack,2002,p.72).

Studi Kasus adalah peneltian yang mendalam mengenai suatu fenomena yang khusus sehingga tidak sesuai apabila digunakan untuk meneliti populasi yang besar (Stack,2002,p.72). Kelemahan utama Studi Kasus adalah ketidakmampuannya untuk

(16)

menggeneralisasikan penemuannya. Ada tiga pendekatan yang digunakan dalam studi kasus (Stack,2002,p.73-74), yaitu :

a. Kasus yang diteliti unik. Kasus ini mendemostrasikan hal yang baik atau buruk dalam praktisi relasi public yang terikat ruang dan waktu dan menggunakan perspektif.

b. Sebuah kasus merupakan gambaran dari sebuah proses relasi public dan kasus tersebut dapat diterapkan untuk memberikan solusi pada kasus yang serupa.

c. Studi Kasus adalah menggabungkan dua pendekatan sebelumnya menjadi satu dan diaplikasikan pada struktur yang formal tetapi tetap menunjukkan sebuah teori baru.

Studi Kasus adalah peneltian yang mendalam mengenai suatu fenomena yang khusus sehingga tidak sesuai apabila digunakan untuk meneliti populasi yang besar (Stack,2002,p.72). Kelemahan utama Studi Kasus adalah ketidakmampuannya untuk menggeneralisasikan penemuannya. Stake (1995) membedakan studi kasus menjadi tiga (Creswell,2007,p.74) :

1. Single Instrumental : Peneliti fokus pada sebuah kasus dan kemudian memilih sendiri batasan masalahnya untuk menjelaskan kasus tersebut. 2. Collective Instrumental : Fokus pada sebuah kasus, namun didalam kasus

tersebut ada beberapa kasus lagi untuk mengilustrasikan kasus tersebut. 3. Intrinsic : Fokus pada kasus itu sendiri karena kasus tersebut

menghadirkan hal yang tidak biasa atau situasi yang unik (Seperti : Evaluasi sebuah program).

Penelitian studi kasus menurut K.Yin menunjukkan bahwa penelitian harus berisi pengembangan teori dan kemudian menunjukkan bahwa pemilihan kasus dan definisi ukuran yang spesifik merupakan langkah-langkah penting dalam desain dan proses pemilihan datanya (Yin,2002,p.62). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan single instrumental case study dikarenakan peneliti hanya berfokus

(17)

pada Komunikasi Kelompok yang ada di Kampung Kapasan Dalam dan memilih sendiri batasan masalah yang akan diteliti

2.11 Nisbah Antar Konsep

Kelompok merupakan sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Didalam sebuah kelompok terjadi komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua orang hal ini yang dinamakan Komunikasi Kelompok. Apabila jumlah orang dalan kelompok itu sedikit yang berarti kelompok itu kecil, kelompok kecil biasanya terdiri dari 5 – 12 orang.

Ada 9 karakteristik unik komunikasi kelompok kecil, antara lain : Komunikasi, Ruang, Waktu, Ukuran Kelompok, Keadaan saling tergantung, Norma, Pembicaraan yang struktur, Tujuan dan Identitas Kelompok. Rakhmat membagi kelompok menjadi empat bagian diantaranya adalah kelompok primer dan sekunder, Ingroup dan Outgroup, Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan serta Kelompok Deskriptif dan kelompok preskriptif.

Kelompok-kelompok sosial apabila digabungkan akan membentuk substansi yang lebih besar yaitu masyarakat-masyarakat yang beranekaragam. Dimana masyarakat-masyarakat ini tinggal di Kota, Desa maupun Kampung. Salah satu bentuk Komunikasi Kelompok yang terjadi adalah di sebuah Kampung Kapasan Dalam Surabaya. Kampung ini merupakan kampung Pecinan pada awal mulanya, namun saat ini sudah banyak pendatang beretnis Jawa dan Madura tinggal didalamnya.

Hubungan antar warga Tionghoa, Jawa dan Madura bisa dikatakan rukun. Warga Kampung Kapasan Dalam secara sukarela memberikan sumbangan kepada warga kampung jika ada anggota keluarganya yang meninggal. Sumbangan ini diberikan secara sukarela tanpa melihat agama, ras dan etnik apa keluarga yang mengalami musibah tersebut. Tak jarang warga Jawa turut membantu kegiatan yang

(18)

diselenggarakan di Klenteng Boen Bio yang merupakan bagian dari Kampung tersebut.

Warga-warga Jawa, Madura dan Tionghoa di Kampung Kapasan Dalam biasanya berkumpul disebuah warung makan untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Warga-warga yang bertemu secara tatap muka akhirnya lama-kelamaan tanpa disadari membentuk kelompok. Dalam berkomunikasi, kelompok ini menggunakan bahasa Jawa Suroboyo sehari-hari sebagai bahasa utama mereka. Namun tak jarang warga Tionghoa dalam kelompok ini menggunakan bahasa mandarin ketika berkomunikasi dengan warga Jawa dan Madura. Begitu juga dengan warga Jawa dan Madura yang menggunakan bahasa daerah mereka ketika berinteraksi dengan warga Tionghoa.

Rivers menyatakan bahwa Komunikasi adalah pembawa proses sosial. Ia adalah alat yang manusia miliki untuk mengatur, menstabilkan dan memodifikasi kehidupan sosialnya. Proses sosial bergantung pada penghimpunan, pertukaran dan penyampaian pengetahuan. Pengetahuan bergantung pada komunikasi. Tentunya diperlukan sikap toleransi yang tinggi dalam menghadapi perbedaan tersebut sehingga komunikasi terus bisa berlangsung dan menciptakan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari di kampung tersebut. Suatu kerangka interaksi tempat setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleransi satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran/pembiasan) disebut Pluralisme.

(19)

2.8 Kerangka Pemikiran

Sumber : Olahan Peneliti 2014 Komunikasi Kelompok dalam menjaga Pluralisme yang terjadi di Kampung Kapasan

Dalam

Kampung Kapasan Dalam merupakan Kampung PeTionghoan yang saat ini ditinggali oleh warga Madura dan Jawa. Hingga saat ini warga Tionghoa, Jawa dan Madura hidup rukun didalam kemajemukan yang ada. Mereka sering bertemu langsung disebuah warung makan untuk berinteraksi dan berkomunikasi yang tanpa mereka sadari mereka membuat sebuah Kelompok. Kelompok ini terdiri

dari 8 orang dan bertemu setiap hari sekitar pukul 17.00 hingga 19.00

Pluralisme pada Kampung kapasan Dalam

Studi Kasus

Mengertinya warga Jawa dan Madura akan bahasa mandarin yang digunakan oleh warga Tionghoa,serta mengertinya warga Tionghoa akan bahasa Jawa dan Madura dalam kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan adanya pertukaran pengetahuan di dalam kelompok di Kapasan Dalam dimana pengetahuan bergantung pada komunikasi.

Unsur-unsur komunikasi kelompok :

1. Pelaku komunikasi dalam komunikasi kelompok 2. Pesan-pesan yang dipertukarkan dalam komunikasi

kelompok

3. Interaksi yang terjadi di dalam proses komunikasi kelompok

4. Kohesivitas yang terjadi di dalam proses komunikasi kelompok

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis penelitian ini ialah (1) perlakuan kombinasi boron + (AgNO 3 +Na 2 SO 4 ) di lapangan dapat meningkatkan produksi dan viabilitas polen tanaman tetua jantan melon

Pengelolaan Wisata Pantai Berbasis Konservasi Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pangumbahan Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Dibimbing oleh FREDINAN YULIANDA dan

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang skema pemberian ipteks kepada mitra, berikut ini diagram alir dari (1) Sosialisasi pelaksanaan pelatihan, (2) Pelatihan

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: Dalam melaksanakan penanganan perkara tindak pidana korupsi, Kejaksaan Negeri Bojonegoro

Perencanaan bantaran Kali Jagir menjadi RTH dengan konsep yang jelas bagi kelestarian lingkungan dan peningkatan pengetahuan masyarakat, dapat menjadi model

Bahwa jenis pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara bermotor dibawah umur yang terjadi di wilayah hukum Polresta Mataram yaitu: (a) Pelanggaran tidak

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak

Karena hukum awal dari tindakan ekonomi yang dilakukan oleh tiap individu masyarakat adalah bebas (diperluas) akan tetapi apabila individu melakukan kegiatan yang