• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hand Hygiene dalam Menerapkan Perilaku Hidup Sehat Pada Anak Usia 4-5 Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hand Hygiene dalam Menerapkan Perilaku Hidup Sehat Pada Anak Usia 4-5 Tahun"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Hand Hygiene dalam Menerapkan Perilaku Hidup

Sehat Pada Anak Usia 4-5 Tahun

Eka Setiawati1

1Stkip Setia Budhi Rangkasbitung, Lebak-Banten , Indonesia *[email protected]

Abstract

Gerakan hand hygiene merupakan suatu tindakan yang membentuk perilaku mandiri anak untuk menjaga kesehatannya. Peran aktif orang tua terhadap penerapan perilaku hidup sehat hand hygiene pada anak sangat diperlukan, peran aktif tersebut yang dimaksud adalah usaha langsung terhadap anak seperti membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak. Penerapan perilaku hidup sehat hand hygiene di sekolah merupakan kebutuhan mutlak seiring munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak, yang ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS, khususnya berkaitan dengan praktek mencuci tangan (hand hygiene). Tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan kesadaran anak-anak terhadap kebersihan tangannya melalui kegiatan 5 hari gerakan hand hygiene di Keamatan Sajira. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan analisis datanya menggunakan model Milles & Hubberman. Sempel penelitian sebanyak 12 responden yang diambil dari 5 lembaga sekolah yang ada di Kecamatan Sajira. Teknik pengumpulan data dengan lembar obeservasi, catatan wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua dan sekolah sangatlah penting dalam penerapan perilaku hidup sehatKata

Keywords

hand hygiene, peran orang tua, peran sekolah

1. Introduction

Penyakit pada dasarnya ditimbulkan oleh empat faktor, yaitu lingkungan, perilaku, genetik, dan akses pada tempat pelayanan kesehatan. Perilaku sehari-hari dapat memberi pengaruh sangat besar terhadap kondisi sehat seorang anak, salah satu perilaku yang mempengaruhi kondisi sehat tersebut adalah perilaku mencuci tangan. Bibit penyakit akan mudah masuk kedalam tubuh apabila tangan dalam keadaan kotor yang dapat mengakibatkan beberapa penyakit, seperti; diare, ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), cacingan, dan demam tifoid. Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Sajira dalam periode satu tahun pada tahun 2019 pada anak usia 1-5 tahun yang terjangkit ISPA sebanyak 914 anak, terjangkit diare 210 anak, terjangkit derma sebanyak 170 anak, serta 131 anak terjangkit pebris. Data tersebut merupakan jumlah penyakit yang terbanyak yang di alami oleh anak di kecamatan sajira.

Cuci tangan merupakan suatu tindakan yang membentuk perilaku mandiri anak untuk menjaga kesehatannya. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan mengenai Standar Pendidikan Anak Usia Dini usia golden age seperti itu sudah dapat diajarkan pendidikan kesehatan mengenai cuci tangan sesuai dengan tingkat pencapaian perkembangan menjaga diri sendiri dari lingkungan. Hampir semua orang mengerti pentingnya cuci tangan menggunakan sabun, namun tidak membiasakan diri untuk melakukannya dengan benar pada saat yang penting. Mencuci tangan pakai sabun di lakukan pada beberapa waktu, misalnya pada saat sebelum dan sesudah mengolah makanan, sebelum dan sesudah makan, sesudah buang air besar dan buang air kecil, sesudah menyentuh binatang, serta setelah memegang benda atau fasilitas umum.

2. Materials and Methods

2.1. Perilaku hidup sehat dan bersih

Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personale yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Personal hygiene adalah upaya yang dilakukan oleh individu untuk menjaga kebersihan pribadinya agar terhindar dari penyakit. Pemenuhan personal hygiene dipengaruhi berbagai faktor seperti faktor budaya, nilai sosial individu atau keluarga, pengetahuan tentang personal hygiene serta persepsi terhadap perawatan diri. Alimul (Asthiningsih, dkk. 2019:85). Perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting).

Menurut Syahreni (Novitasari, dkk. 2018:226) perilaku adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu (seseorang), baik yang diamati (dilihat) secara langsung maupun tidak langsung. Sehat adalah suatu kondisi atau keadaan yang baik, mencakup fisik, mental dan sosial, jadi bukan hanya terbebas dari penyakit saja. Sehingga perilaku sehat adalah tindakan

(2)

seseorang atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang, baik secara langsung, maupun tidak langsung, untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya serta mencegah resiko penyakit. Kesehatan menurut Undang-Undang Republik Indonesia tentang Kesehatan (No. 36 Tahun 2009) adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial dan ekonomis. Selaras dengan Undang-Undang definisi sehat yang dikemukakan oleh World Health Organization (WHO) menyatakan kesehatan adalah keadaan sejahtera jasmani, jiwa dan sosial yang sempurna dan bukan hanya keadaan tanpa penyakit. Jadi, sehat secara menyeluruh melibatkan faktor fisik, mental dan sosial.

Berdasarkan dari pengertian di atas disimpulkan bahwa perilaku sehat adalah suatu sikap seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan, sakit dan penyakit, makanan dan minuman, serta lingkugan, sehingga seseorang harus mendapatkan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhannya, melakukan olahraga secara rutin, memiliki waktu tidur atau istirahat yang cukup, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, supaya terhindar dari berbagai macam penyakit. Salah satu program perilaku hidup bersih dan sehat yang tepat dan bermanfaat yang dapat dilakukan untuk anak usia dini yaitu mencuci tangan dengan sabun setelah selesai melakukan kegiatan didalam ruangan, maupun setelah bermain diluar ruangan.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang di praktekkan atas dasar kesadaran sebagai upaya agar dirinya sehat dan aktif membantu kesehatan masyarakat disekitarnya. Wiguna (dalam Setiawati, dkk. 2017: 1). PHBS merupakan salah satu program prioritas pemeritah yang dilaksanakan melalui puskesmas. PHBS disekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS dan berperan serta aktif dalam mewujudkan sekolah sehat (Kemenkes, 2011). Penanaman PHBS disekolah merupakan kebutuhan mutlak dan dapat dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Maryunani (dalam Setiawati, dkk. 2017: 1).

2.2. Kebersihan tangan (hand hygine)

Hand Hygiene (kebersihan tangan) merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengendalian

infeksi. Tujuan hand hygiene untuk membuang kotoran dan organisme yang menempel di tangan dan untuk mengurangi jumlah mikroba total pada saat itu. Kebersihan tangan (Hand Hygiene) adalah suatu upaya atau tindakan membersihkan tangan, baik dengan menggunakan sabun antiseptik di bawah air mengalir atau dengan menggunakan handrub berbasis alkohol dengan langkah-langkah yang sistematik sesuai urutan, sehingga dapat mengurangi jumlah bakteri yang berada pada tangan. Hand hygiene (kebersihan tangan) merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (Potter & Perry, 2003). Menurut Van dan Enk (2006), hand hygiene adalah cara yang paling efektif untuk mencegah infeksi nosokomial.

Priyono (Novitasari, dkk. 2018:226) menjelaskan mencuci tangan adalah kegiatan membersihkan bagian telapak, punggung tangan, jari dan kuku jari, tujuannya agar lebih bersih dari kotoran dan membunuh kuman penyebab penyakit yang dapat merugikan kesehatan. Selain itu Kemenkes Republik Indonesia menjelaskan bahwa mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Dari pengertian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa kebersihan tangan (hand hygiene) adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun yang bertujuan untuk mengurangi dan mencegah berkembangnya mikroorganisme yang ada di tangan.

Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu dari personal hygiene yang perlu diajarkan kepada anak sejak dini. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit, hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi pembawa mikroorganisme dan menyebabkan mikroorganisme ini dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung maupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan- permukaan lain seperti handuk, gelas, dan dan lain sebagainya). Berdasarkan data WHO, mencuci tangan terbukti bisa menurunkan resiko terkena penyakit diare 45%. Tak sampai di situ, masih ada penyakit lain yang bisa dicegah hanya dengan mencuci tangan yaitu kecacingan, infeksi saluran pernafasan, infeksi mata, dan hepatitis. Walau begitu, agar mendapatkan manfaat yang optimal, cuci tangan harus dilakukan dengan benar. Pawenrusi (Asthiningsih, dkk. 2019:86).

Tujuan mencuci tangan adalah mencegah terkena kuman penyakit. Anak- anak merupakan masa yang rentan terhadap penyakit, karena anak mulai aktif dan beraktivitas diluar rumah, Soetjiningsih (Setiawati, dkk. 2017:7). Salah satu cara mencegah penyakit pada anak-anak dengan cara mencuci tangan yang benar, Wilson (Setiawati, dkk. 2017:7). Mencuci tangan wajib dilakukan dan dibiasakan karena tangan adalah salah satu sumber berbagai penyakit pada anak. Dengan rajin mencuci tangan, akan meminimalisir kuman dan bakteri untuk masuk ke dalam tubuh anak. Pasalnya tangan adalah anggota tubuh yang paling sering bersentuhan dengan benda lain yang tidak tahu kebersihannya, apakah banyak mengandung kuman, bakteri ataupun virus. Berikut beberapa manfaat dalam mencuci tangan.

1. Mencegah berbagai kuman penyakit yang rentan terhadap anak seperti sakit perut, diare, dan masih banyak lagi. 2. Mencegah infeksi pada mata karena tangan yang kotor. Tidak hanya penyakit-penyakit di atas, begitupun dengan

mata bisa fatal ketika tangan anak tidak bersih. Tanpa disadari, tangan kotor si kecil mengusap mata dan pada akhirnya menyebabkan berbagai penyakit mata. Salah satunya adalah infeksi pada mata yang berakibat mata merah dan iritasi.

(3)

biak.

4. Mengajarkan anak disiplin dan menjaga kebersihan. Membiasakan mencuci tangan pada anak ternyata membangun gaya hidup sehat pada anak. Di tambah anak akan menjadi disiplin kepada dirinya karena tidak malas mencuci tangannya. Walaupun terlihat sepele, dengan mencuci tangan, anak sadar bahwa dia telah menjaga kesehatan dirinya dengan baik

Waktu mencuci tangan

1. Sebelum dan sesudah mengolah makanan

2. Sebelum dan sesudah makan

3. Sesudah buang air besar

4. Sesudah menyentuh binatang

5. Sesudah memengang benda atau fasilitas umum

Cara mencuci tangan yang benar memakai sabun

(4)

Mengingat pentingnya mencuci tangan, maka setiap tanggal 15 Oktober dicanangkan sebagai hari cuci tangan sedunia. Biasakan diri dan keluarga anda untuk mencuci tangan sekarang juga. Mencuci tangan adalah cara mudah untuk mencegah infeksi, memahami kapan harus mencuci tangan anda, cara benar menggunakan pembersih tangan dan bagaimana untuk mendapatkan anak-anak kedalam kebiasaan. Ketidak tahuan anak dalam mencuci tangan dengan baik dan benar atau tidak mencuci tangan sama sekali. Merupakan salah satu jalan yang cepat bagi kuman untuk memasuki tubuhnya, akibatnya anak akan mudah terkena beberapa penyakit. Berikut beberapa penyakit yang terjadi akibat tidak mencuci tangan. (Diare, Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA), Influenza, Pneumonia, Demam Tifoid (Tifus)

2.4. Karakteristik hidup sehat pada anak usia 4-5 tahun

Bredekamp (dalam Fadillah. 2012:18-19) membagi anak usia dini menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok bayi hingga 2 tahun, kelompok 3 hingga 5 tahun, dan kelompok 6 hingga 8 tahun. Berdasarkan keunikan dan perkembangannya, anak usia dini terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu masa bayi lahir sampai 12 bulan, masa balita (toodler) usia 1-3 tahun, masa prasekolah 3-6 tahun, dan masa kelas awal 6-8 tahun. Pendapat lainnya menyebutkan bahwa anak usia dini ialah kelompok anak yang berbeda dalam proses pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. (Fadillah. 2012:19)

Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-8 tahun. Para ahli memandang masa usia dini adalah masa yang paling fundamental bagi perkembangan anak selanjutnya. Selain itu, masa ini juga di pandang sebagai masa keemasan (golden age), masa sensitif atau masa peka, masa inisiatif dan berprakarsa, dan masa pengembangan diri (Syaodih & Mubiar. 2013:2.15). Anak usia dini adalah anak yang sedang berada dalam proses perkembangan, baik perkembangan fisik-motorik, kognitif, sosial-emosional maupun bahasa. Setiap anak memiliki karakteristik tersendiri dan perkembangan setiap anak berbeda- beda baik dalam kualitas maupun tempo perkembangannya. Dalam proses perkembangannya kemudian, kemungkinan ada anak yang mengalami berbagai permasalahan yang akan menghambat perkembangannya. (Syaodih & Mubiar. 2013:2.1).

Menurut Notoatmojo (dalam Astuti. 2016:267) beberapa hal yang perlu diajarkan pada anak untuk mengembangkan perilaku sehat, yaitu menjaga kebersihan diri maupun kebersihan lingkungan dan menjauhkan hal-hal yang berbahaya untuk kesehatan. Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat kerja atau bermain, dan sarana umum. Anak dapat diajarkan tentang kebersihan lingkungan ini sejak dini. Kegiatan paling sederhana yang dapat dilakukan anak adalah membuang sampah pada tempatnya, meletakkan peralatan makan dan minuman yang kotor pada tempatnya, membersihkan mainan, menutup mulut pada saat batuk dan bersin, menjauhi asap rokok, asap pembakaran sampah, asap kendaraan, serta buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) di WC. Selain itu orang tua dapat melibatkan anak dalam kegiatan- kegiatan terkait dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan seperti membersihkan mainan, menyapu rumah, mengepel rumah, menyapu halaman, dan lain-lain.

2.5. Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Bogdam taylor (dalam Moleong. 2018: 4) metodelogi kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati

Tabel 1. Pedoman Observasi Gerakan Hand Hygiene

Untuk Pener apan Perila ku Hidup Sehat Pada Anak Usia 4-5 Tahun No

Variabel Aspek Indikator

1. Perilaku Anak a. NAM

1. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan 2. Membiasakan diri berperilaku baik

b. Fisik Motorik Kasar 3. Terampil menggunakan tangan kanan dan kiri

4. Melakukan kegiatan kebersihan diri c. Kesehatan dan Perilaku

Keselamatan 5. Menggunakan toilet (penggunaan air, membersihkan diri)

2. Peran Orang Tua a. Pemahaman orang tua

6. Menjelaskan arti mencuci tangan

7. Mengingatkan pentingnya mencuci tangan 8. Dampak tidak mencuci tangan

b. Fungsi mencuci tangan

9. Menjelaskan fungsi mencuci tangan 10. Mengingatkan manfaat mencuci tangan 11. Menghindari berbagai macam penyakit

(5)

3. Keadaan sekolah

a. Lingkungan sekolah 12. Lokasi yang am an dari kendaraan

13. Lingkungan kumuh

14. Lokasi berdekatan dengan pemukiman warga 15. Lokasi berdekatan dengan kandang hewan peliharaan

warga 16. Terawatt b. Sarana mencuci tangan

17. Toilet

18. Keran air didepan kelas 19. Tersedia sabun mencuci tangan

2.6. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil observasi Pentingnya pihak sekolah dalam membiasakan anak untuk mencuci tangan pakai sabun dengan cara yang benar sangat di perlihatkan dari hasil observasi bahwa, ada beberapa sekolah yang dalam proses belajar mengajar guru tidak menyadarkan anak akan pentingnya mencuci tangan, tidak juga mengajarkan anak bagaimana langkah-langkah mencuci tangan pakai sabun yang baik dan benar itu seperti apa. Guru hanya perfokus pada pembelajaran di hari itu saja. Guru tidak mencontohkan anak-anaknya untuk mencuci tangan dengan baik. Saat waktu istirahat tiba anak-anak langsung keluar kelas dan mulai aktivitas yang anak sukai, ada anak yang langsung memakan bekalnya tidak dengan mencuci tangan terlebih dahulu dan gurunya tidak menghiraukan hal tersebut, ada anak yang langsung bermain dengan temannya di luar kelas dan banyak lagi kegiatan anak yang lainnya. Waktu istirahat selesai pun anak-anak masuk kedalam kelas tanpa mencuci tangannya terlebih dahulu, entah anak itu sudah memegang banyak barang, memegang uang, bahkan ada anak yang sehabis bermain tanah tidak mencuci tangannya terlebih dahulu. Kejadian yang berlangsung itu terjadi akibat tidak adanya pembiasaan awal yang diterapkan dan pemahaman bagaimana pentingnya mencuci tangan tersebut. Faktor lainnya yaitu, sekolah belum ada sarana pendukung untuk kegiatan mencuci tangan ini. Masih ada beberapa sekolah yang belum menyediakan keran air di depan kelas, bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki keran air, tidak adanya juga poster untuk mengajak anak melakukan gerakan mencuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah di temukan bahwa ada beberapa orang anak yang sadar akan mencuci tangannya namun belum dengan langkah-langkah mencuci tangan yang baik dan benar. Menurut kepala sekolah, mengajarkan dan membiasakan anak mencuci tangan pakai sabun sejak dini itu sangat penting, namun kami sebagai dewan guru terhambat oleh sarana yang mendukung untuk kegiatan mencuci tangan ini, bahkan gurunya sekalipun belum terbiasa juga mencuci tangan dengan benar. Pihak sekolah juga belum melaksanakan gerakan mencuci tangan dengan baik dan benar kami hanya mengajak anak mencuci tangan biasa saja. Belum adanya sosialisasi dari pihak kesehatan ataupun puskesmas terdekat untuk mensosialisasikan kegiatan mencuci tangan ini. Mungkin ada bidan setempat yang mendatangkan sekolah bukan untuk mensosialisasikan mencuci tangan, namun untuk memeriksa berat badan anak dan tinggi badan, kadang juga sesekali memeriksa kesehatan gigi anak

Berdasarkan hasil dokumentasi tentang bagaimana keadaan sekolah untuk mendukung kegiatan gerakan mencuci tangan pakai sabun ini terlihat bahwa ada beberapa sekolah juga yang belum adanya ketersediaan keran air bahkan kamar mandi di sekolahnya, serta kurangnya poster-poster gerakan mencuci tangan pakai sabun di sekolah sebagai ajakan anak-anak untuk mencuci tangan. Dilihat dari letak sekolah yang berdekatan dengan kandang hewan peliharaan warga juga yang membuat lingkungan sekitar menjadi kurang sehat dan mengharuskan anak untuk menjaga perilaku hidup bersih nya dengan mencuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar

3. Kesimpulan

(6)

bahwa Ada hubungan antara ketersediaan sarana cuci tangan pakai sabun di sekolah dengan praktek cuci tangan pakai sabun disekolah. Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana, atau prasarana yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Untuk teradinya praktek cuci tangan pakai sabun di sekolah perlu ada sarana air yang mengalir, kain lap yang kering dan bersih bagi setiap siswa serta bila perlu aturan yang mengikat siswa untuk melakukan cuci tangan pakai sabun dengan cara yang benar dan pada saat yang diperlukan.

2. Peran orang tua dalam penerapan perilaku hidup sehat mencuci tangan pakai sabun dengan benar dapat disimpulkan

bahwa peran orang tua dalam membiasakan anak adalah kategori peran yang sangat baik.

3. Proses gerakan hand hygiene untuk menerapkan perilaku hidup sehat pada anak usia 4-5 tahun di Kecamatan Sajira

dapat disimpulkan bahwa dalam menerapkan perilaku hidup sehat pada anak yang menerapkan kebiasaan mencuci tangan akan dapat terjadi karena adanya usaha dari orang tua untuk membiasakan anak mencuci tangan. Kebiasaan mencuci tangan yang dilakukan anak akan dapat terjadi dengan berbagai cara yang dapat dilakukan oleh orang tua yaitu untuk membiasakan anak mencuci tangan seperti dengan memberikan keteladanan serta menyiapkan sarana dan prasarana untuk mencuci tangan serta pendidikan dan pemahaman pentingnya kesehatan bagi anak. Hasil dari kegiatan yang telah dilakukan, terlihat anak menjadi lebih tau bagaimana gerakan hand hygiene dengan baik itu seperti apa serta lebih menyadari akan pentingnya menjaga kebersihan tangan.

REFERENCES

[1] N. W. W. & T. W. Asthiningsih, “Edukasi Personal Hygiene Pada Anak Usia Dini dengan G3CTPS,” Pesut, 2019, [Online]. Available: https://journals.umkt.ac.id/index.php/pesut/article/view/285.

[2] D. Setiawati, Santun, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Poltekkes Kemenkes Jakarta, 2017.

[3] Novitasari, Yesi, dkk “Penyuluhan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Melalui Kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun Pada Pendidikan Anak Usia Dini,” urnal Pengabdi. Masy. Multidisiplin, vol. Vol 2 (3):, 2018, [Online]. Available: https://www.neliti.com/id/publications/317854/penyuluhan-program-perilaku-hidup-bersih-dan-sehat-phbs-melalui-kegiatan-cuci-ta.

[4] M. Fadillah, Desain Pembelajaran PAUD. yogyakarta: Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2012.

[5] Syaodih. E & Mubiar. A, Bimbingan Konseling Untuk Anak Usia Dini. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2013. [6] J. Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda Bandung, 2018.

Gambar

Tabel 1. Pedoman Observasi Gerakan Hand Hygiene   Untuk  Pener apan  Perila ku  Hidup  Sehat  Pada  Anak  Usia  4-5  Tahun No

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini, sesuai dengan penelitian yang dilakukan Risna (2010) mengenai pengaruh pendidikan kesehatan mencuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan pada

Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah

Adapun media yang digunakan adalah PowerPoint Presentation (PPT) yang berisi materi tentang pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan cara mencuci tangan

wawasan dan pengetahuan masyarakat meningkat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Mencuci Tangan Pakai Sabun. Masyarakat dapat mengetahui secara jelas

Tujuan yang ingin dicapai dari penyuluhan tentang mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir diberikan kepada orangtua dan anak ini adalah meningkatkan

Program pengabdian masyarakat dalam bentuk edukasi kesehatan pentingnya perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) di Panti Asuhan Al-Mukhtariyah Palembang

PHBS Strata Utama STRATA PALING BAIK  Menggunakan jamban bersih dan sehat  enggunakan air bersih  Mencuci tangan dengan air mengalir dan memakai sabun  Membuang sampah

Rincian Kegiatan Fun Day Proggramme No Indikator Hasil Observasi Kegiatan 1 Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun Didapat 70% siswa yang mengetahui cara