BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Pengetahuan Menstruasi

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2005).

Pengetahun menstruasi yang diberikan yaitu meliputi: a. Pengertian Menstruasi

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai pelepasan endometrium (Sarwono, 1999).

Menstruasi bukanlah suatu penyakit. Menstruasi merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda ia sudah mampu hamil (Manuaba, 1999).

Menstruasi adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita secara alami, tanpa suatu sebab dan pada waktu tertentu (Darul Qosim, 2005).

(2)

b. Fisiologi Menstruasi

Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali yang sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil. Namun perlu diingat bahwa jiwa remaja masih belum stabil dan belum mampu mandiri secara ekonomi maupun sosial. Jadi ia belum siap untuk hamil, yang terbaik adalah remaja putri mempersiapkan diri untuk mandiri, mencapai tingkat pendidikan yang diwajibkan yaitu paling sedikit 9 tahun, memasuki pernikahan yang direstui orang tua dan masyarakat, kemudian merencanakan kehamilan pada usia 20-30 tahun. Usia remaja putri saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum (Sarwono, 2005).

Kejadian menstruasi dipengaruhi beberapa faktor yang mempunyai sistem tersendiri yaitu sistem susunan saraf pusat dengan panca inderanya, sistem hormonal aksis hipotalamo-hipofisis-ovarial, perubahan yang terjadi pada ovarium, perubahan yang terjadi pada uterus sebagai organ akhir, dan rangsangan estrogen dan progesteron pada panca indera, langsung pada hipotalamus, dan melalui perubahan

(3)

Selain estrogen dan progesteron, hormon-hormon yang berpengaruh terhadap terjadinya proses menstruasi yaitu hormon perangsang folikel (FSH), berfungsi merangsang folikel primordial yang dalam perjalanannya mengeluarkan hormon estrogen untuk pertumbuhan tanda seks sekunder wanita, luteinizing hormon (LH) yang berfungsi merangsang indung telur (Manuaba, 1999).

Proses menstruasi diawali dengan ovulasi (pelepasan sel telur) yang ditandai dengan peningkatan produksi estrogen, menyebabkan menebalnya dinding dalam rahim (fase poliferasi). Estrogen tersebut menekan hormon FSH tetapi juga merangsang LH, sehingga LH merangsang folikel Graaf melepas sel telur. Sel telur ditangkap oleh rumbai fallopii dan dibungkus oleh korona radiata. Folikel Graaf yang mengalami ovulasi berubah menjadi korpus rubrum dan segera menjadi korpus luteum dan mengeluarkan hormon estrogen juga progesteron. Estrogen menyebabkan endometrium atau dinding dalam rahim menebal dan mengalami fase sekresi, dimana pembuluh darah dominan mengeluarkan cairan. Karena tidak terjadi pembuahan, korpus luteum mati menyebabkan tidak mampu menahan endometrium, oleh karena estrogen dan progesteron berkurang sampai menghilang (fase vasokontriksi atau pengerutan pembuluh darah). Akhirnya endometrium kekurangan aliran darah diikuti vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan pelepasan atau peluruhan endometrium berupa darah dalam bentuk menstruasi (Sarwono, 2005).

(4)

c. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi adalah jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya. Panjang siklus menstruasi yang normal atau dianggap sebagai siklus menstruasi yang klasik ialah 28 hari ditambah atau dikurangi 2–3 hari (Sarwono, 2005).

Pada dasarnya siklus menstruasi pada setiap wanita bervariasi, karena kadar hormon estrogen yang diproduksi oleh setiap tubuh wanita berbeda. Menarche diikuti menstruasi yang sering tidak teratur karena folikel Graaf belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. Tetapi lama-lama sekitar 4 sampai 6 tahun sejak menarche, pola menstruasi sudah terbentuk dengan siklus menstruasi menjadi teratur (Llewellyn-Jones, 1997).

Lama menstruasi biasanya antara 3–5 hari, ada yang 1–2 hari diikuti darah sedikit-sedikit kemudian ada yang 7–8 hari. Pada setiap wanita biasanya lama menstruasi itu tetap. Jumlah darah yang keluar rata-rata ± 16 cc, bila lebih 80 cc dianggap patologik (Sarwono, 2005).

Fase-fase dalam siklus menstruasi adalah sebagai berikut: 1) Fase menstruasi

Berlangsung sekitar 3 sampai 5 hari. Dalam fase ini lapisan stratum kompakta dan spongiosa endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai perdarahan. Hanya tertinggal lapisan

(5)

aglutinasi, sel-sel epitel dan stroma yang mengalami disintegrasi dan otolisis, dan sekret dari uterus, serviks, dan kelenjar-kelenjar vulva.

2) Fase regenerasi

Fase ini dimulai pada hari ke empat menstruasi, luka bekas pelepasan endometrium sebagian besar berangsur-angsur sembuh dan ditutup kembali oleh epitel selaput lendir endometrium. Sel basalis mulai berkembang, mengalami mitosis dan kelenjar endometrium mulai tumbuh kembali.

3) Fase proliferasi

Berlangsung sejak hari ke 5 sampai 14, pada fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm.

Pada fase regenerasi sampai proliferasi, endometrium dipengaruhi oleh hormon estrogen dan sejak ovulasi korpus luteum mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron yang mempengaruhi terjadinya fase sekresi.

4) Fase sekresi

Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke –14 sampai ke-28. Dalam fase ini tebal endometrium tetap, hanya kelenjarnya lebih berkelok-kelok dan mengeluarkan sekret. Sel endometrium mengandung banyak glikogen, protein, air dan mineral untuk persiapan menerima implantasi dalam memberikan nutrisi pada zigot. Umur korpus luteum hanya berlangsung 8 hari

(6)

dan setelahnya mengalami kematian sehingga tidak lagi mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron kemudian menimbulkan iskemia stratum kompakta dan stratum spongiosa diikuti vaso dilatasi pembuluh darah yang menyebabkan pelepasan lapisan endometrium dalam bentuk perdarahan menstruasi dan siklus menstruasi berulang kembali (Manuaba, 1999).

Siklus menstruasi juga dipengaruhi oleh stress, kelelahan fisik, pikiran dan penggunaan obat untuk sakit jangka panjang (misal : hipertensi, diabetes, asma). Hal-hal tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi pembuatan zat-zat hormon seksual seperti estrogen dan progesteron, sehingga menyebabkan gangguan pada siklus menstruasi. Namun biasanya tidak akan berlangsung lama karena tubuh bisa segera beradaptasi dengan faktor pemicu tersebut. Jadi jika baru terjadi pertama kali, tidak ada yang perlu dikhawatirkan namun sebaiknya pantau terus di bulan-bulan berikutnya. Bila terjadi sampai 3 bulan berturut-turut sebaiknya segera konsultasikan ke dokter kandungan agar dapat ditemukan penyebab dan solusinya (Llewellyn-Jones, 1997).

(7)

d. Gejala yang Timbul Pada Saat Menstruasi

1) Ketegangan Pramenstruasi (Premenstrual tension)

Ketegangan Pramenstruasi adalah keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya menstruasi dan menghilang setelah menstruasi datang walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai menstruasi berhenti. Faktor kejiwaan, masalah dalam keluarga, masalah sosial memegang peranan penting dalam ketegangan pramenstruasi. Yang lebih mudah menderita ketegangan pramenstruasi adalah wanita yang lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus menstruasi dan terhadap faktor-faktor psikologis (Manuaba, 2001).

Selama dua hari sebelum menstruasi dimulai, banyak wanita merasa tidak enak badan, mereka mengalami pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersinggung. Hal ini terjadi karena hormon estrogen dan progesteron mengalami kekacauan keseimbangan menjelang menstruasi (Llewellyn Jones, 1997). 2) Dismenore

Dismenore adalah nyeri menstruasi menjelang dan selama menstruasi sampai membuat wanita tersebut tidak dapat beraktifitas seperti biasa. Nyeri sering bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala dan mudah marah (Manuaba, 2001).

(8)

Mungkin juga mereka merasakan tekanan di daerah panggul dan sakit perut. Ini disebabkan kontraksi rahim untuk mengeluarkan endometrium juga dipengaruhi oleh hormon prostaglandin. Bila sakitnya masih bisa ditahan, bisa disebut normal. Tapi bila diikuti pingsan atau sakit yang luar biasa hingga sampai mengganggu aktivitas, itu sudah harus segera diperiksakan ke dokter. Pada umumnya gejala-gejala tersebut di atas hilang ketika menstruasi dimulai (Manuaba, 2001).

Selama menstruasi mungkin timbul rasa nyeri pada pinggang dan panggul, akibat peregangan otot rahim. Tapi biasanya rasa nyeri itu tidak terlalu hebat dan cepat menghilang. Namun nyeri menstruasi dapat berlebihan bila dipengaruhi oleh faktor psikis dan fisik seperti stress, shock, penyempitan pembuluh darah, penyakit menahun, kurang darah, dan kondisi tubuh yang menurun. Darah berbentuk gumpalan yang keluar pada saat menstruasi bukanlah hal yang berbahaya. Hal tersebut disebabkan karena darah tidak langsung keluar dari vagina tetapi tertampung dahulu sementara di vagina sehingga berkumpul dan akhirnya menggumpal. Sebenarnya selama perdarahan menstruasi tidak terlalu banyak atau mengganggu dirinya, setiap gadis yang menstruasi boleh tetap melakukan kegiatan yang diingini (Llewellyn Jones, 1997).

(9)

Bila seorang anak gadis mengalami menarche sebelum usia 8 tahun (menstruasi precox) atau belum juga mendapat menstruasi sedangkan usianya sudah 16 tahun. Sebaiknya segera konsultasi ke dokter ahli kebidanan untuk mencari sebab-sebab tidak datangnya menstruasi tersebut. Demikian juga terjadi gangguan menstruasi seperti kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan, kelainan siklus, perdarahan di luar menstruasi yang dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genital atau oleh kelainan fungsional, gangguan lain yang ada hubungan dengan menstruasi.

Untuk pengobatan gangguan menstruasi tergantung penyebabnya. Beberapa cara pengobatan yang mungkin diterapkan adalah: mengobati penyakit/kelainan yang ada misalnya : diabetes, infeksi, asma, terapi hormonal, tindakan operasi, terapi psikis berkaitan dengan masalah gangguan menstruasi dan ketidakmampuan reproduksi (Yunizaf, 2005).

e. Kebersihan Diri Saat Menstruasi

Secara umum menjaga kesehatan berawal dari menjaga kebersihan diri, terutama menjaga kebersihan organ reproduksi. Udara panas cenderung lembab dan berkeringat membuat tubuh menjadi lembab, terutama daerah alat reproduksi yang menyebabkan bakteri mudah berkembang biak, sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap dan mudah menimbulkan penyakit (Siswono, 2001).

(10)

Menurut Siswono (2001), cara dalam menjaga kebersihan diri disaat menstruasi adalah sebagai berikut :

1) Harus selalu bersih. 2) Rutin mandi dan keramas

3) Membasuh vagina dari arah depan (vagina) ke belakang (anus) secara hati-hati menggunakan air bersih yang lembut (mild). Jika alergi dengan sabun, cukup gunakan air hangat.

4) Membersihkan bekas keringat dengan tissu atau handuk agar tidak lembab.

5) Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah mengganti pembalut.

6) Menggunakan pembalut yang bersih dan berbahan yang lembut, menyerap dengan baik serta tidak membuat alergi dan merekat dengan baik pada celana dalam.

7) Mengganti pembalut sesering mungkin sekitar 4-5 kali dalam sehari untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang berkembang biak pada pembalut serta menghindari bakteri masuk ke vagina. 8) Memilih celana dalam dari bahan alami (katun) dan tidak ketat,

sehingga dapat menyerap keringat.

9) Mengganti celana dalam 2 kali sehari untuk menjaga kelembaban yang berlebihan.

(11)

11) Bila ada kelainan misalnya terlalu banyak darah keluar dan tidak teratur, periksakanlah ke dokter.

f. Hal yang Mempengaruhi Kebersihan Diri Saat Menstruasi

Tampon dan pembalut wanita sangat mempengaruhi kebersihan saat menstruasi. Hampir semua gadis lebih suka memakai pembalut saat menstruasi karena mudah penggunaannya, sehingga tidak perlu memasukkannya ke dalam vagina. Selain itu juga pembalut sangat efektif. Pembalut umumnya diproduksi dengan alat penyerap untuk menjaga agar tidak menyebabkan infeksi pada vagina, maka hendaknya mengganti pembalut 4 atau 5 kali dalam sehari (Solin, 2000).

Untuk jenis tampon, hanya sedikit wanita yang dapat menyangkal bahwa mereka lebih lupa ketika memakai tampon dibandingkan dengan jika memakai pembalut. Bila tampon dibiarkan terlalu lama dalam vagina, gulungan serat-seratnya dapat menjadi tempat persemaian infeksi vagina. Tampon sebisa mungkin harus diganti setiap 4 jam sekali karena tampon lebih cenderung memberikan efek kering yang tidak alamiah pada vagina, sehingga membuat vagina peka terhadap infeksi (Solin, 2000).

(12)

g. Cara Untuk Menghindari Alergi Kulit Organ Intim Saat Menstruasi (Dwikarya, 2005).

1) Ganti jenis atau merek pembalut jika terjadi alergi atau iritasi kulit, mungkin saja iritasi tersebut karena pembalut yang digunakan. 2) Saat mandi, daerah radang atau iritasi jangan dibilas dengan air

ledeng, pakailah air aquadest.

3) Hindari pemakaian sabun untuk sementara waktu hingga radang atau iritasi mereda.

4) Pilihlah sabun lunak yang ber-PH rendah.

5) Gunakan sabun cuci pakaian yang lembut untuk mencuci celana dalam dan oleskan krim anti alergi dengan lembut dan hati-hati. 6) Jangan menggaruk daerah iritasi jika terasa gatal. Sebagai ganti

garukan, kompres dengan menggunakan handuk yang dicelup air es pada bagian yang gatal.

7) Hindari penyebab alergi dan iritasi.

h. Hal-Hal yang Dilarang Pada Saat Menstruasi (Suharti, 2008)

1) Berhubungan Seksual

Hubungan seksual yang dilakukan ketika perempuan sedang menstruasi secara tegas dilarang dalam ajaran agama. Namun terlepas

(13)

sedang haid tidak disarankan. Beberapa alasan medis yang menyertainya antara lain:

a) Tidak steril

Pada saat menstruasi jaringan luar rahim mengalami pelepasan. Peristiwa ini diikuti dengan membukanya pembuluh darah di daerah tersebut. Kondisi ini menyebabkan organ reproduksi perempuan menjadi tidak steril, sehingga tidak aman bila berhubungan seksual.

b) Menyebabkan infeksi

Bersama dengan perdarahan yang terjadi dimungkinkan munculnya kuman. Kuman-kuman ini bisa jadi akan menyebabkan infeksi kalau si perempuan melakukan hubungan seksual.

c) Bahaya sudden death

Hal terburuk yang mungkin terjadi adalah sudden death atau kematian mendadak. Pada saat menstruasi banyak pembuluh darah yang membuka. Hubungan intim bisa berakibat terbawanya udara dari luar masuk melalui pembuluh darah yang terbuka sampai ke jantung. Ini berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.

(14)

d) Perasaan tidak nyaman

Tak bisa dipungkiri hubungan seksual terkait erat dengan suasana hati. Saat menstruasi banyak perempuan yang merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini akan terbawa dan mengganggu suasana hatinya. Bila dipaksakan untuk berhubungan seksual, alih-alih merasakan kepuasan, yang didapat justru perasaan tidak nyaman itu tadi.

2) Olahraga berat

Banyaknya pembuluh darah arteri yang terbuka pada saat haid dapat menyebabkan perlukaan. Seorang perempuan yang sedang menstruasi dan melakukan olahraga dikhawatirkan akan mengalami pendarahan berat. Memang tidak semua olahraga akan menyebabkan hal tersebut, tapi sebaiknya sesuaikan olahraga yang dipilih dengan kondisi tubuh. Perempuan dengan kondisi tertentu bisa jadi akan mengalami perdarahan berat ketika memaksakan diri bersenam aerobik saat haid.

Secara umum pun, perempuan yang sedang menjalani siklus bulanannya akan merasa lebih lemas, dan beberapa bahkan menderita nyeri perut, mual, pinggang pegal-pegal, pening, bahkan ada yang

(15)

olahraga yang cukup berat atau sebaiknya pilih saja olahraga ringan seperti jalan santai.

3) Terbelenggu Mitos

Larangan memotong rambut, menggunting kuku, dan keramas selama haid tidak memiliki penjelasan secara medis, khususnya larangan keramas. Perempuan yang sedang menstruasi justru harus menjaga kebersihan anggota tubuhnya.

4) Berenang

Secara teori, pembuluh darah yang membuka dapat mengecil ketika kontak dengan air. Contoh yang gampang adalah seringkali anak yang jatuh dan terluka dikompres dengan batu es untuk menghentikan perdarahannya. Bedanya, walau darah yang dikeluarkan saat menstruasi hanya sekitar 30 cc, tapi kontak dengan air tidak akan menyebabkan darah tersebut terhenti.

Kontak dengan air yang dimaksud di sini di antaranya berenang, menyelam, berendam di bath tub, whirlpool, dan sejenisnya. Ini penting untuk diketahui, sebab banyak beredar anggapan yang salah, yaitu perempuan yang sedang menstruasi darahnya akan berhenti ketika berada dalam air. Selain itu tidak ada yang dapat memastikan apakah air yang digunakan untuk berendam itu steril. Bisa jadi air kolam renang atau air laut mengandung banyak kuman yang dapat

(16)

menyebabkan infeksi. Apalagi bila si perempuan ini berendam dalam waktu lama.

2. Remaja

Remaja merupakan usia muda atau mulai dewasa (Ahmad & Santoso, 1996). Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat (www.bkkbn.go.id, 2005).

Remaja adalah usia transisi, seorang individu telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun masyarakat. Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya (Drajat & Willis, 1994).

Remaja dalam mengalami perubahan-perubahannya akan melewati perubahan fisik, perubahan emosi dan perubahan sosial. Yang dimaksud dengan perubahan fisik adalah pada masa puber berakhir, pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna dan akan sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja.

Perubahan emosi pada masa remaja terlihat dari ketegangan emosi dan tekanan, tetapi remaja mengalami kestabilan dari waktu ke waktu sebagai

(17)

merupakan salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit, yaitu berhubungan dengan penyesuaian sosial pada perubahan sosial ini, remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Drajat & Willis, 1994).

Ciri remaja pada anak wanita biasanya ditandai dengan tubuh yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak lahir. Perubahan yang cukup mencolok terjadi ketika remaja memasuki usia antara 9-15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya tubuh menjadi lebih tinggi dan besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-perubahan di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau keturunan. Perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi pada anak perempuan. Datangnya menstruasi pertama tidak sama pada setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut salah satunya adalah karena gizi. Saat ini ada seorang anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama di usia 8-9 tahun. Namun pada umumnya adalah sekitar 12 tahun. Remaja perempuan, sebelum menstruasi akan menjadi sangat sensitif, emosional, dan khawatir tanpa alasan yang jelas (www.bkkbn.go.id, 2005).

(18)

3. Faktor Keluarga (Informasi dari Ibu, Kakak Perempuan, dan Saudara Perempuan Lain)

Pada umumnya remaja putri belajar tentang menstruasi dari ibunya, tapi tidak semua ibu memberikan informasi yang memadai kepada putrinya bahkan sebagian enggan membicarakan secara terbuka sampai putrinya mengalami menstruasi. Sehingga hal ini menimbulkan kecemasan bagi anak, bahkan sering tumbuh keyakinan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tidak menyenangkan atau serius. Dengan kata lain, dia mengembangkan sikap negatif terhadap menstruasi. Ia mungkin merasa malu dan melihatnya sebagai suatu penyakit. Khususnya jika ketika mengalaminya ia merasa letih atau terganggu (Manuaba, 1998).

Peran kakak perempuan juga sangat penting dalam memberikan pengetahuan tentang menstruasi kepada remaja putri. Biasanya remaja putri lebih enggan bertanya tentang menstruasi kepada ibunya, maka di sinilah kakak perempuan seharusnya berperan. Mereka bisa bertanya tentang apa itu menstruasi, bagaimana mengatasi kepanikan dalam menghadapi menstruasi, bagaimana cara menggunakan pembalut, bagaimana cara mengatasi nyeri saat menstruasi. Selain itu, informasi tentang menstruasi dapat diperoleh dari saudara perempuan lain seperti bibi, sepupu, dan lain-lain (Kadarusman,2004).

(19)

perempuan atau saudara perempuan lain dalam memberikan pengetahuan tentang menstruasi.

Pengetahuan yang harus diberikan kepada anak tentang menstruasi yaitu tentang pengertian menstruasi, fisiologi menstruasi, gangguan menstruasi, menjaga kebersihan alat kelamin saat menstruasi, dan informasi-informasi lain tentang menstruasi yang diperlukan oleh remaja putri (Kadarusman, 2004).

(20)

B. Kerangka Teori Modifikasi Mahfoedz, I, dkk (2005) Paparan Informasi: -TV -Radio -Majalah -koran -Buku -Internet -Iklan -Jurnal -Paper Pengetahuan: -Pendidikan -Paparan media massa -Ekonomi -Hubungan sosial -Pengalaman -Akses layanan kesehatan Pengetahuan menstruasi remaja putri Domain kognitif -Tabu -Memahami -Aplikasi -Analisis -Sintesis -Evaluasi Kategori: Baik cukup Kurang -Pengertian menstruasi -Fisiologi Menstruasi -Siklus menstruasi -Gejala yang timbul

saat menstruasi -Kebersihan diri saat

menstruasi -Hal yang

mempengaruhi kebersihan diri saat menstruasi

-Cara untuk

menghindari alergi kulit organ intim saat menstruasi -Hal-hal yang dilarang saat menstruasi Faktor keluarga: - faktor kakak perempuan - informasi dari ibu - informasi dari saudara perempuan lain

(21)

C. Kerangka Konsep

Pentingnya pengetahuan remaja putri tentang menstruasi karena masih banyak remaja putri yang belum mendapat informasi yang jelas tentang menstruasi . Untuk lebih jelasnya kerangka konsep penelitian dapat dilihat pada bagan di bawah ini :

Variabel bebas Variabel terikat

Gambar 2.2 Skema Kerangka Konsep Penelitian

D. Hipotesis Penelitian

“Ada hubungan faktor keluarga dengan pengetahuan menstruasi remaja putri.”

Pengetahuan menstruasi remaja putri Faktor keluarga

- Informasi dari ibu

- Faktor kakak perempuan - Informasi dari saudara

Figur

Gambar 2.2 Skema Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.2

Skema Kerangka Konsep Penelitian p.21

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :