• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masril . Keywords: Professional Teacher Competency, PTK Report, CLCK mentoring based mentoring model

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Masril . Keywords: Professional Teacher Competency, PTK Report, CLCK mentoring based mentoring model"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

595

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DALAM MENYUSUN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS MELALUI MODEL PEMBINAAN

CLCK (CONTOH, LATIHAN, CONTROL, KERJA MANDIRI) BERBASIS MENTORING DI SMAN 10 PADANG

Masril

Email. [email protected]

ABSTRACT

This study aims to describe and obtain information about the improvement of professional competence of teachers in preparing classroom action research reports through CLCK development model (Example, Exercise, Control, Self Employment) based mentoring in SMAN 10 Padang. This research is a school action research with research procedure including planning, action, obeservasi and reflection. This study consists of two cycles with four meetings. The subjects consisted of 13 teachers of SMAN 10 Padang. Research data was collected using obeservation sheets. Data were analyzed using percentages. The results showed that mentoring model based on CLCK can improve teacher ability in preparing class action research report in SMAN 10 Padang. Analysis on the quality of PTK reports made by teachers indicates that the professional competence of teachers in preparing classroom action research reports increases from cycle I to cycle II. Teacher professional competence in preparing class action research report on cycle I is 77,69 (enough) increase to 84,69 (good) in cycle II with increase of equal to 7.00 points.

Keywords: Professional Teacher Competency, PTK Report, CLCK mentoring based mentoring model ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mendapatkan informasi tentang peningkatan kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas melalui model pembinaan CLCK (Contoh, Latihan, Control, Kerja Mandiri) berbasis mentoring di SMAN 10 Padang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah dengan prosedur penelitian meliputi perencanaan, tindakan, obeservasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dengan empat kali pertemuan. Subjek penelitian terdiri 13 orang guru SMAN 10 Padang. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan lembaran obeservasi. Data dianalisis dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan model pembinaan CLCK berbasis mentoring dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas di SMAN 10 Padang. Analisis terhadap kualitas laporan PTK yang dibuat oleh guru menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas meningkat dari siklus I ke siklus II. Kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas pada siklus I adalah 77,69 (cukup) meningkat menjadi 84,69 (baik) pada siklus II dengan peningkatan sebesar 7,00 poin.

Kata Kunci: Kompetensi Profesional Guru, Laporan PTK, model pembinaan CLCK berbasis mentoring

PENDAHULUAN

Sebagai konsekuensi dari jabatan profesional, guru harus senantiasa mengembangkan dirinya. Hal itu sejalan dengan pedoman kenaikan pangkat guru

dengan sistem angka kredit. Untuk setiap kenaikan pangkat bagi guru, selain persyaratan yang lain, guru harus

memenuhi persyaratan unsur

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN

(2)

596 (PKB). Terdapat tiga jenis kegiatan

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang dapat dilakukan guru, yaitu Pengembangan Diri (PD), Publikasi Ilmiah (PI), dan Karya Inovatif (KI). Dari berbagai kegiatan pengembangan profesi tersebut, kegiatan menyusun karya tulis/karya ilmiah di bidang pendidikan banyak diminati oleh para guru.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, salah satu jenis karya tulis ilmiah yang banyak diminati oleh para guru adalah penelitian, khususnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas, guru diharapkan dapat memperbaiki kegiatan pembelajaran yang dilakukannya dalam rangka peningkatan kualitas hasil pembelajaran. Dengan semakin seringnya guru melaksanakan PTK diharapkan tingkat keprofesionalan guru semakin meningkat. Peningkatan profesional guru diharapkan berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas pendidikan. Oleh sebab itu, sudah selayaknya jika guru-guru yang profesional akan mendapatkan peluang kenaikan pangkat yang diidam-idamkan serta akan mendapatkan tunjangan profesi yang cukup mengggembirakan

Berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi kepala sekolah, penulis menyimpulkan bahwa kompetensi profesional guru yang berkaitan dengan penulisan karya tulis ilmiah masih sangat rendah. Di SMAN 10 Padang, banyak guru yang selalu berupaya untuk melakukan berbagai perbaikan dalam proses belajar mengajar baik dalam hal penggunaan sumber belajar, metode pembelajaran maupun strategi pembelajaran. Upaya yang dilakukan oleh guru tersebut memberikan dampak positif dalam hal peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini berarti guru telah berupaya untuk memperbaiki proses pembelajaran. Secara tidak langsung, guru telah melaksanakan tugasnya dengan baik serta dapat dianggap telah melakukan penelitian tindakan.

Namun, sayangnya semua kegiatan yang telah dilakukan oleh guru tersebut belum disusun dalam sebuah penelitian yang terstuktur dalam belum ditulis dalam sebuah karya tulis. Akhirnya, tindakan yang dilakukan oleh guru tersebut tidak ada bukti konkretnya dalam hal laporan penelitian tindakan ataupun karya tulis ilmiah.

Mesikipun terdapat guru yang membuat laporan penelitian tindakan kelas, namun kualitas laporan tersebut masih sangat jauh dari apa yang diharapkan. Apabila dirata-ratakan, maka kuliatas laporan PTK yang dibuat oleh guru tersebut hanya berkisar pada skor 70.

Fenomena yang terdapat di SMAN 10 Padang adalah banyak guru yang melakukan pengembangan pembelajaran, namun semua tindakan pengembangan pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut tidak ditulis dalam bentuk sebuah penelitian tindakan kelas. Sehingga banyak guru yang angka kreditnya tidak mengalami peningkatan. Hal ini juga terlihat dari banyak guru yang mengalamani stagnansi dalam hal kepangkatan. Banyak guru yang sudah bertahun-tahun masih berada pada golongan/pangkat yang sama yang dikarenakan angka kredit yang tidak cukup untuk naik pangkat.

Fenomena ini disebabkan karena

ketidakmampuan guru dalam

melaksanakan dan menyusun sebuah penelitian tindakan kelas. Berdasarkan wawancara dengan beberapa orang guru, penulis menyimpulkan bahwa kebanyakan guru masih bersifat awam dengan penulisan penelitian tindakan kelas. Kebanyakan guru belum mengerti dengan pelaksanaan dan penulisan penelitian tindakan kelas.

Berdasarkan fenomena diatas, maka kepala sekolah perlu melakukan sebuah upaya dalam hal meningkatkan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan

JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 02. No 03 th.2017 596

(3)

597 oleh kepala sekolah dalam meningkatkan

kemampuan profesional guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas adalah dengan melakukan pembinaan terhadap guru.

Rohani (2004:72) mengungkapkan bahwa “pembinaan guru adalah serangkaian bantuan yang berwujud layanan profesional yang diberikan oleh orang yang lebih ahli (kepala sekolah, pengawas, ahli lainnya) kepada guru dengan maksud agar dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar, sehingga tujuan pendidikan yang direncanakan dapat tercapai”.

Salah satu model pembinaan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas adalah model pembinaan CLCK. CLCK adalah singkatan dari contoh, latihan, control, kerja mandiri. CLCK merupakan sebuah pola perbuatan membina sesuatu yang disediakan untuk ditiru/diikuti dari hasil berlatih dengan pengawasan dalam kegiatan melakukan sesuatu sehingga tidak bergantung pada orang lain.

Berdasarkan latar belakang tersebut agar kemampuan profesional guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas dapat meningkat, maka penulis melaksanakan sebuah penelitian tindakan dengan judul Peningkatan kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas melalui model pembinaan CLCK (Contoh, Latihan, Control, Kerja Mandiri) Berbasis Mentoring Di SMAN 10 Padang.

KAJIAN TEORI

Kata kompetensi berasal dari bahasa Inggris yaitu competent yang berarti memiliki kemampuan. Usman dalam Kunandar (2007:51) menyatakan kompetensi sebagai sesuatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Menurut Syah (2000:230) kompetensi adalah

kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhui syarat menurut ketentuan hukum. Kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.

Selanjutnya, kompetensi profesional guru terdapat dalam Depdiknas (2004:9) “kompetensi profesional meliputi pengembangan profesi, pemahaman wawasan, dan penguasaan bahan kajian akademik”. Pengembangan profesi meliputi mengikuti informasi perkembangan iptek yang mendukung profesi melalui berbagai kegiatan ilmiah, mengalihbahasakan buku pelajaran/karya ilmiah, mengembangkan berbagai model pembelajaran, menulis makalah, menulis/menyusun diktat pelajaran, menulis buku pelajaran, menulis modul, menulis karya ilmiah, melakukan penelitian ilmiah (action research), menemukan teknologi tepat guna, membuat alat peraga/media, menciptakan karya seni, mengikuti pelatihan terakreditasi, mengikuti pendidikan kualifikasi, dan mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum. Pemahaman wawasan meliputi memahami visi dan misi, memahami hubungan pendidikan dengan pengajaran, memahami konsep pendidikan dasar dan menengah,

memahami fungsi sekolah,

mengidentifikasi permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar sekolah.

Tugas utama guru, selain mendidik adalah mengajar sebagai pengajar, guru dihadapkan pada tuntutan profesi untuk melakukan upaya perbaikan atas

kekurangan-kekurangan dalam

melaksanakan tugasnya. Secara empiris, guru yang berpengalaman mengajar secara tidak disadari telah melakukan sejumlah kegiatan tambahan yang tidak tercantum

JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 02. No 03 th.2017

(4)

598 dalam satuan pelajaran tetapi ia telah

melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian tindakan kelas atau disebut PTK adalah penelitian yang mengangkat masalah-masalah yang aktual yang dilakukan oleh para guru yang merupakan pencermatan kegiatan belajar yang berupa tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional (Taniredja, Pujiati dan Nyata, 2010:16-17).

Zainal Aqib (2006:18) menyebutkan bahwa manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas itu terkait dengan komponen pembelajaran, antara lain inovasi pembelajaran, pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas dan peningkatan profesionalisme guru. Selanjutnya, pembinaan adalah salah satu cara meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas.

Menurut Gaffar (Prihatin, 2005:40) bahwa : “pembinaan guru merupakan suatu keharusan untuk mengatasi permasalahan tugas di lapangan.” Pembinaan guru menekankan kepada pertumbuhan profesional dengan inti keahlian teknis serta perlu ditunjang oleh kepribadian dan sikap profesional. UU No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Bab IV Bagian kelima Pasal 32 tentang pembinaan dan pengembangan guru menyatakan: “Pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan dan pengembangan profesi dan karir.”

Model Pembinaan CLCK (Contoh, Latihan, Control, Kerja Mandiri) adalah pola perbuatan membina sesuatu yang disediakan untuk ditiru/diikuti dari hasil berlatih dengan pengawasan dalam kegiatan melakukan sesuatu sehingga tidak bergantung pada orang lain (kamus Pelajar SLTP, 2003 : 751).

Selanjutnya, Mentor artinya pembimbing atau pengasuh (biasanya untuk mahasiswa). Secara bahasa, mentoring berasal dari bahasa Inggris

mentor yang artinya penasehat. Mentor adalah seorang yang penuh kebijaksanaan, pandaimengajar, mendidik, membimbing, membina, melatih, dan menangani oranglain, maka perkataan mentor hingga kini digunakan dalam kontekspendidikan, bimbingan, pembinaan, dan latihan.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang dilaksanakan dengan menerapkan desaian penelitian tindakan (action research) dengan empat tahapan dalam tiap siklus diantaranya: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observer, dan 4) refleksi. Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan sebanyak dua siklus. Hasil refleksi siklus pertama dijadikan sebagai bahan masukan untuk siklus kedua. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2015/2016 di SMAN 10 Padang dengan subjek penelitian berjumlah 13 orang.

Data dalam penelitian ini bersumber dari guru SMAN 10 Padang yang diperoleh dari penilaian terhadap laporan penelitian tindakan kelas yang dibuat oleh guru dan observasi dari setiap tindakan pembinaan.

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penilitian tindakan sekolah adalah studi dokumentasi, observasi dan wawancara. Alat pengumpul data yang digunakan adalah lembar studi dokumentasi, lembar observasi dan pedoman wawancara.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan penelitian ini dimulai dari penyusunan perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian yang berlangsung dari bulan Februari sampai Juli 2016. Tahap perencanaan pelaksanaan siklus 1 dilaksanakan peneliti pada minggu pertama Februari 2015. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini dapat dilihat pada tabel pelaksanaan kegiatan dibawah ini.

Tabel 1 Tahap Perencanaan Siklus 1 No Tanggal

Pelaksanaan Jenis Kegiatan

1 22 Februari a. Mengidentifikasi jumlah

JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 02. No 03 th.2017 598

(5)

599

2016 guru yang telah

melaksanakan penelitian tindakan kelas

b. Mengumpulkan laporan PTK yang sudah dibuat oleh guru

2 25 Februari 2016

a. Mengundang guru untuk berkumpul di ruang kepala sekolah

b. Menentukan permasalahan yang dihadapi oleh guru c. Menetapkan strategi

pemecahan masalah d. Membuat kesepakatan

dengan guru tentang strategi pemecahan yang akan dilaksanakan

3 27 Februari 2016

a. Mengundang instruktur dan mentor untuk membahas tentang tindakan yang akan dilaksanakan

b. Penetapan jadwal pelaksanaan tindakan secara bersama-sama oleh intruktur, kepala sekolah dan guru

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan pada 5 dan 19 Maret 2016 di aula SMAN 10 Padang. Berikut ini uraian masing-masing pertemuan dan materi untuk setiap pertemuan pada siklus I.

Tabel 2 Ringkasan Pelaksanaan Tindakan Pada Siklus I Siklus ke Hari/tanggal Materi I Sabtu, 5 Maret 2016 1. Konsep dasar PTK 2. Prosedur PTK

3. Konsep Dasar Variabel Penelitian dan Variabel Tindakan

4. Membuat kerangka berfikir 5. Konsep Dasar metodologi

penelitian dan membuat rancangan teknik pengolahan data 6. Pendampingan penulisan bab I 7. Pendampingan penulisan bab II 8. Pendampingan penulisan bab III Sabtu, 19 Maret 2016 1. Membuat laporan penelitian (teknik analisis temuan dan pembahasan) dan kesimpulan

2. Membuat artikel penelitian 3. Pendampingan Penulisan

bab IV dan V

Pada pertemuan I siklus I, kegiatan diawali dengan membuka mindset guru bahwa meneliti itu mudah. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan seperti yang terangkum dalam tabel 2. Kegiatan pembinaan dimulai dengan membagi guru kedalam dua kelompok. Masing-masing kelompok terdapat satu orang mentor. Pada pertemuan I, guru diminta untuk menulis BAB I, II dan III dengan membuat kerangka penelitian yang akan mereka tulis sesuai dengan judul penelitian yang telah mereka tetapkan dengan mendiskusikannya kepada mentor yang telah ditunjuk. Kemudian, setiap guru diminta untuk melajutkan dan menyelesaikan penulisan bab I, II dan III. Revisi penulisan bab I, II dan III ini akan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya untuk dinilai.

Pada pertemuan II siklus I, diawali dengan memberikan materi tentang membuat laporan penelitian dengan terlebih dahulu guru diminta untukmengumpulkan bab I, II dan III yang telah mereka buat. Kemudian, instruktur memberikan contoh bab IV kepada guru dengan mengemukakan poin-poin penting yang terdapat pada bab IV. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh penulisan bab V. Kegiatan dilanjutkan dengan pembimbingan.

Model CLCK yang diterapkan yaitu guru mencatat tentang materi dan mengerjakan latihan membuat laporan PTK, kemudian dikontrol oleh intruktur dengan sistem mentoring dan dalam menyusun laporan tersebut guru bekerja secara mandiri.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa proses pembinaan terhadap guru masih belum berjalan secara efektif. Masih banyak guru yang kurang berkonsentrasi saat penyampaian materi dilakukan. Selain itu, guru kurang aktif dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh instruktur. Guru pun juga kurang aktif bertanya JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN

(6)

600 kepada mentor tentang penelitian tindakan

yang akan dilaksanakannya.

Untuk menentukan kemampuan guru dalam menyusun laporan PTK maka dilakukan analisis terhadap laporan PTK yang dibuat guru.

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa kualitas penulisan laporan PTK yang dibuat oleh guru pada siklus II berada pada rata-rata 77,69 dengan kateori baik. Skor tertinggi adalah 80 dan skor terendah adalah 75. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata capaian kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK masih di bawah standar yang telah ditetapkan. Untuk itu, di perlukan lanjutan pelaksanaan pembinaan dengan menggunakan model pembinaan CLCK berbasis mentoring pada siklus 2.

Selanjutnya, pada Siklus II, kegiatan perencanaan yang dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3 Tahap Perencanaan Siklus 2 No Tanggal

Pelaksanaan

Jenis Kegiatan 1 30 April 2016 Menyusun perencanaan siklus 2 2 30 April 2016 Menganalisis laporan PTK guru yang telah direvisi oleh guru 3 30 April 2016 Menetapkan jadwal pembinaan

selanjutnya

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilaksanakan pada 2 dan 16 April 2016 di aula SMAN 10 Padang. Pertemuan dan materi untuk setiap pertemuan pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. Ringkasan Pelaksanaan Tindakan Pada Siklus II Siklus ke Hari/tanggal Materi II Sabtu, 2 April 2016 1. Pendampingan penulisan bab I 2. Pendampingan penulisan bab II 3. Pendampingan

penulisan bab III Sabtu, 16

April 2016

1. Pendampingan Penulisan bab IV dan V Kegiatan pembinaan pada siklus II diawali dengan menajikan sebuah laporan PTK lewat proyektor. Kemudian guru

dibagi dalam dua kelompok sesuai dengan mentor masing-masing dalam pertemuan sebelumnya. Kemudian, masing-masing guru dipanggil satu persatu untuk melakukan bimbingan dengan mentor terkait dengan laporan penelitian tindakan kelas yang telah mereka buat. Dalam melaksanakan bimbingan, setiap guru diberikan contoh dan diminta untuk berlatih memperbaiki laporan PTK yang telah meraka buat dengan tetap berada dalam pengawasan dan komunikasi dengan mentor.

Guru mendapatkan pendampingan yang intensif karena mereka dibimbing satu persatu sehingga permasalahan yang mereka hadapi dalam penulisan laporan PTK dapat mereka kemukakan secara lebih terbuka. Kemudian guru diminta untuk membuat sebuah laporan penelitian tindakan kelas secara utuh berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakannya pada semester sebelumnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa pembinaan dengan model CLCK berbasis mentoring berlangsung dengan baik karena guru sudah terlihat aktif dalam mengikuti kegiatan pembinaan. Selain itu, guru terlihat sudah berkonsentrasi dalam mengikuti kegiatan pembinaan. Disisi lain, analisis terhadap laporan hasil penelitian yang yelah direvisi oleh guru menunjukkan bahwa mereka sudah memahami penulisan laporan penelitian tindakan kelas.

Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan PTK yang dibuat guru, maka dapat diketahui bahwa kualitas penulisan laporan PTK yang dibuat oleh guru pada siklus II berada pada rata-rata 84,69 dengan kategori baik. Skor tertinggi adalah 88 dan skor terendah adalah 83.

Pada tindakan siklus II model pembinaan CLCK berbasis mentoring sudah menujukkan hasil yang signifikan terlihat dari kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK atau kualitas laporan PTK yg dibuat oleh guru

JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 02. No 03 th.2017 600

(7)

601 berada diatas standar yang telah

ditetapkan. Peningkatanyang terjadi dari siklus I ke Siklus II sudah mulai signifikan dan mengalami peningkatan sebesar 7 dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan yang terjadi sudah mulai sempurna dan sesuai dengan yang diharapkan.

Perkembangan kemampuan guru dalam menulis laporan PTK pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada data berikut ini.

Tabel 5 Perkembangan Kualitas Laporan PTK antara Siklus I dan Siklus II

No Siklus Kualitas Laporan

PTK Kategori

1 I 77,69 Cukup

2 II 84,69 Baik

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatkan kualitas lapoaran PTK pada siklus I dan siklus II. peningkatan kualitas laporan PTK ini menunjukkan adanya peningkatan kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas. Dimana rata-rata kualitas PTK yang dibuat oleh guru pada siklus I adalah 77,69 meningkat menjadi 84,69 pada siklus II. hal ini dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan sebesar 7,00 .

Dari hasil analisis data tentang kualitas laporan PTK yang dibuat oleh pada siklus II dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan kualitas laporan PTK yang dibuat oleh guru. Hal ini mengisyaratkan adanya peningkatan kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan penelitian tindakan kelas. Oleh sbab itu, target ditentukan telah tercapai, maka penelitian ini dihentikan dan tidak di lanjutkan siklus III. Peningkatan kualitas laporan PTK yang dibuat oleh guru dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1 Peningkatan Kualitas PTK yang dibuat oleh guru (Perbandingan Siklus I

dan Siklus II)

Berdasarkan hasil pengolahan data sebelum model ini digunakan, ditemukan bahwa kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK pada rata-rata 70. Namun setelah penggunaan model pembinaan CLCK berbasis mentoring, rata-rata kualitas PTK yang dibuat oleh guru pada siklus I adalah 77,69 meningkat menjadi 84,69 pada siklus II. hal ini dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan sebesar 7,00 .

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembinaan CLCK berbasis mentoring dapat meningkatkan kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK di SMAN 10 Padang.

Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rohani (2004:72) bahwa pembinaan guru adalah serangkaian bantuan yang berwujud layanan profesional yang diberikan oleh orang yang lebih ahli (kepala sekolah, pengawas, ahli lainnya) kepada guru dengan maksud agar dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar, sehingga tujuan pendidikan yang direncanakan dapat tercapai.

Pembinaan guru pada prinsipnya merupakan kegiatan membantu dan melayani guru agar diperoleh guru yang lebih bermutu yang selanjutnya diharapkan terbentuk situasi proses belajar mengajar yang lebih baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Menurut Gaffar (Prihatin, 2005:40) bahwa : “pembinaan guru merupakan suatu keharusan untuk mengatasi permasalahan tugas di

77.69 84.69 70.00 75.00 80.00 85.00 90.00 Kualitas PTK

Peningkatan Kualitas PTK yang dibuat Guru

Siklus I Siklus II

JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 02. No 03 th.2017

(8)

602 lapangan.” Pembinaan guru menekankan

kepada pertumbuhan profesional dengan inti keahlian teknis serta perlu ditunjang oleh kepribadian dan sikap profesional. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa model pembinaan CLCK berbasis mentoring dapat meningkatkan kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK di SMAN 10 Padang. Kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK dari siklus I ke siklus II. kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK pada siklus I adalah 77,69 (cukup) meningkat menjadi 84,69 (Baik) dengan peningkatan sebesar 7,00.

Oleh sebab itu, diharapkan kepada kepala sekolah dapat menggunakan model pembinaan CLCK berbasis mentoring cocok digunakan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru dalam menyusun laporan PTK yang selama ini masih menjadi hal yang sangat sulit dirasakan oleh guru. Untuk pengawas diharapkan dapat memberikan masukan yang lebih jelas dan terarah dalam pembinaan terhadap guru.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zanal. 2009. Penelitian Tindakan kelas. Bandung : Yrama Widya

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Pegawai. Prihatin, T. (2005). “Peningkatan Mutu

Pendidikan Melalui Implementasi Pembinaan Guru di Era Otonomi Daerah.” Jurnal Pendidikan. 14, (1), 37- 47.Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Rohani, N.K. (2004). “Pengaruh Pembinaan Kepala Sekolah dan Kompensasi Terhadap Kinerja Guru SLTP Negeri di Kota Surabaya”. Jurnal Pendidikan Dasar. 5, (1),

71-78. [Online]. Tersedia:

www.dikdas.jurnal.unesa.ac.id.

Satori, Djam’an. 2008. Profesi Kepegawaian. Jakarta: Universitas Terbuka

Syaiful Sagala. 2009. Kemampuan Profesional Pegawai dan Tenaga Kependidikan. Bandung: AlfaBeta. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

Tentang Sistem Pendidikan Nasional Usman, Uzer, 2005. Menjadi Pegawai

Profesional. Bandung : Remaja Rosda karya.

UU No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

Zainal Aqib dan Elham Rohmanto. 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung: Yrama Widya.

JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 02. No 03 th.2017 602

Gambar

Tabel 5 Perkembangan Kualitas Laporan  PTK antara Siklus I dan Siklus II  No  Siklus  Kualitas Laporan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil belajar biologi siswa di kelas eksperimen yang menggunakan SAVI dalam pembelajaran lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah,

Hak-hak asasi manusia merupakan jaminan yang diberikan oleh fihak kuat kepada fihak lemah dalam masyarakat: meskipun kau tidak punya kekuatan, tetapi kau tetap akan

Alasannya adalah permasalahan penelitian ini bersifat holistik (menyeluruh), kompleks, bermakna dan dinamis. Obyek penelitian berupa pengembangan model media

gender dalam Al-Qur’an adalah seperti yang tercermin dari surat An-Nahl:97 yang artinya: “ Barangsiapa yang mengerjakan amal Saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan

As Figure 1-1 shows, six functional areas are associated with effective HRM: staffing, human resource development, performance management, compensation, safety and health, and

konseli mengkonsumsi narkoba dan minuman keras. Teknik self control diberikan karena dirasa mampu membantu remaja dewasa untuk menghilangkan kebiasaannya

Dalam penulisan Tugas Akhir ini model regresi dibentuk dari faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya penderita gizi buruk di Jawa Tengah berdasarkan Kabupaten/Kota tahun

dukung pondasi pada tanah lereng, serta untuk mengetahui jumlah lapis perkuatan dan jarak antarlapis vertikal perkuatan geotekstil yang menunjukan hasil maksimum