BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pasal 18 Undang - Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa, Negara Kesatuan

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasal 18 Undang - Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah-daerah provinsi itu dibagi atas Kabupaten dan Kota, yang tiap-tiap provinsi, Kabupaten dan Kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur oleh Undang - Undang. Dengan demikian penyelenggaraan pemerintahan di daerah menganut asas otonomi dan tugas pembantuan, memberi kesempatan pada daerah untuk mengurus dan menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang - Undang ditentukan sebagai urusan pemerintahan pusat.

Tap MPR RI Nomor XV/MPR/1998, menyatakan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara profesional, dengan prinsip - prinsip demokrasi, meningkatkan peran serta masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas masyarakat, pemerataan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah setempat. Pemerintah desa merupakan sub sistem dari sistem penyelenggaraan pemerintah, sehingga desa memiliki kewenangan untuk mengatur

(2)

2 dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Perkembangan situasi pada akhir-akhir ini, kita sedang berada pada situasi yang tidak menentu dimana perubahan sering kali mendasar dan sulit diramalkan sebelumnya. Untuk menghadapi situasi seperti ini dibutuhkan seorang kepala desa yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi secara berkesinambungan. Pemerintah desa merupakan sub sistem Pemerintahan Republik Indonesia yang terendah, walaupun begitu desa mempunyai kedudukan yang cukup strategis, karena sebagian penduduk berada di pedesaan, sehingga pemerintah sangat memperhatikan terhadap perkembangan maupun pembangunan desa, seperti yang dikemukakan olah Suhartono (2001:9):

Orang kebanyakan (umum) memahami desa sebagai tempat dimana bermukim penduduk dengan “ peradapan” yang terbelakang ketimbang kota. Biasanya dicirikan dengan bahasa ibu yang kental, tingkat pendidikan yang relatif rendah, mata pencaharian yang umumnya di sector pertanian. Bahkan terdapat rakyat, bahwa pemahaman umum memandang desa sebagai tempat bermukim para petani. Pengertian lain, dapat dijumpai dalam kamus besar bahasa Indonesia (1993:200) yang meyebutkan bahwa desa adalah (1) Sekelompok rumah diluar kota yang merupakan kesatuan; Kampung; Dusun; (2) Udik atau dusun ( dalam arti daerah pedalaman sebagai lawan kota); (3) Tempat; tanah; daerah.

Dalam sistem pemerintahan desa, kepala desa dipilih langsung oleh penduduk desa dari calon yang memenuhi syarat serta mempunyai suara terbanyak. Sepanjang sejarah pemerintahan di Indonesia hanya kepala desa yang dipilih secara langsung

(3)

3 oleh rakyat, sedangkan Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan Undang – Undang nomor 23 Tahun 2004 baru dilaksanakan pada pemilu 2004, hal itu merupakan perkembangan baru dalam pemerintahan Indonesia. Pemilihan kepala desa memiliki sejarah sejak sebelum Undang – Undang nomor 5 Tahun 1979.

Pemilihan kepala desa yang sering disingkat dengan Pilkades mungkin bukan istilah yang asing lagi untuk saat ini. Sebagai wadah untuk menampung aspirasi politik masyarakat sekaligus sarana pergantian atau kelanjutan pemerintahan desa pilkades diharapkan mampu memenuhi keinginan dan harapan masyarakat desa tertentu, untuk mengangkat calon yang layak sebagai kepala desa. Pilkades merupakan sebuah instrumen dalam pembentukan pemerintahan modern dan demokratis. Pesta demokrasi yang dilakukan ditingkat wilayah terkecil ini pada dasarnya sudah diatur oleh peraturan perundang- undangan pemerintah tentang tata cara penyelenggaraan pilkades. Sehingga seluruh rangkaian tahapan - tahapannya mulai dari pembentukan panitia pilkades sampai pada pelantikan kepala desa terpilih

diharapkan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan1.

Namun dalam prakteknya pilkades yang sudah diatur oleh perundang- undangan pemerintah untuk saat ini sangat sulit terselenggara dengan lancar dan berkualitas karena bermainnya faktor- faktor kepentingan politik, kepentingan untuk ingin berebut kekuasaan ketimbang hakikat yang diingini oleh pilkades yaitu

(4)

4

pemerintahan desa yang legitimate 2. Disamping itu penyelenggaraan pilkades juga

tersentuh dan tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan3 masyarakat desa, sehingga

sering kali budaya sangat berperan didalamnya. Dalam pemilihan kepala desa para calon kepala desa melakukan berbagai cara dalam memperoleh suara salah satunya dengan melakukan kampanye melalui berbagai media seperti Media Cetak, Media Elektronik, Media Luar Ruangan, Media Format Kecil, Saluran Komunikasi Kelompok, Saluran Komunikasi Public, Saluran Komunikasi Social, Saluran Komunikasi Antarpribadi dan Saluran Komunikasi Tradisional.

Seperti yang terjadi pada pemilihan kepala desa di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa, dimana salah satu calon menggunakan media ritual sedekah bumi/saluran komunikasi tradisional sebagai alat dalam melakukan kampanye dalam pemilihan kepala desa. Pilkades langsung memberikan akses bagi kandidat lurah dan masyarakat untuk berkomunikasi secara langsung. Kondisi seperti ini dijadikan peluang bagi para calon lurah untuk membangun jaringan dan komunikasi politik pada setiap kelompok massa untuk memperoleh simpati dari masyarakat. Seperti yang dilakukan salah satu calon kepala desa yang bertarung pada pilkades di Desa Bejalen, Desember 2012 adalah Pak Sugih lurah periode 2006-2012 yang

2

Legitimate merupakan pemerintahan yang sah ataupun resmi dan diakui oleh masyarakat maupun secara hukum. Lihat, Haw Widjaja, Pemerintahan Desa dan Administrasi Desa, (1996). Jakarta, PT. Raja Grafindo.

3

Kebudayaan memiliki defenisi yang cukup kaya dan belum dapat dirangkumkan menjadi satu konsep, karena para ahli mengartikannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Lihat, Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi I (1990), Jakarta. UI-Press.

(5)

5 mencalonkan dirinya lagi sebagai lurah dalam pilkades periode 2012-2018, yang merupakan putra asli dari Desa Wisata Bejalen. Untuk mengejar tujuan politiknya maka dilakukan berbagai relasi dan jaringan dalam mensosialisasikan visi dan misi politiknya, salah satunya dengan melakukan kampanye melalui media ritual adat yaitu sedekah desa dengan memberikan ide-ide, bantuan dana dll.

Menurut Nimmo (2005:28), salah satu ciri komunikasi ialah bahwa orang jarang dapat menghindari dan keturutsertaan. Hanya dihadiri dan diperhitungkan oleh seorang lain pun memiliki nilai pesan. Dalam arti yang paling umum kita semua adalah komunikator, begitu pula siapa pun yang dalam setting politik adalah komunikator politik,“Komunikator politik merupakan pemimpin dalam proses opini,

dan di setiap opininya selalu ditanggapi dengan sungguh-sungguh karena dianggap sebagai opini positif yang benar-benar membangun”. Meskipun mengakui bahwa

setiap orang boleh berkomunikasi tentang politik, kita mengakui bahwa relatif sedikit yang berbuat demikian, setidak-tidaknya yang melakukannya serta tetap dan sinambung. Mereka yang relatif sedikit ini tidak hanya bertukar pesan politik; mereka adalah pemimpin dalam proses opini. Para komunikator politik ini, dibandingkan dengan warga negara pada umumnya, ditanggapi dengan lebih bersungguh-sungguh bila mereka berbicara dan berbuat.

Sebagai pendukung pengertian yang lebih besar terhadap peran komunikator politik dalam proses opini, Leonard W. Dood dalam Nimmo (2000:30) menyarankan jenis-jenis hal yang patut diketahui mengenai mereka: ”Komunikator dapat dianalisis

(6)

6 sebagai dirinya sendiri. Sikapnya terhadap khalayak potensialnya, martabat yang diberikannya kepada mereka sebagai manusia, dapat mempengaruhi komunikasi yang dihasilkannya; jadi jika ia mengira mereka itu bodoh, ia akan menyesuaikan nada pesannya dengan tingkat yang sama rendahnya”. Ia sendiri memiki kemampuan-kemampuan tertentu yang dapat dikonseptualkan sesuai dengan kemampuan-kemampuan akalnya, pengalamannya sebagai komunikator dengan khalayak yang serupa atau yang tak serupa, dan peran yang dimainkan didalam kepribadiannya oleh motif untuk

berkomunikasi 4.

Dalam konteks komunikasi politik, kampanye dimaksudkan untuk memobilisasi dukungan terhadap suatu hal atau seorang kandidat. “political

campaigns are aimed at the mobilization of support for one’s cause or candidate”

(Steven Chaffee dalam Rice,1981), sedangkan menurut Imawan (1999) kampanye adalah upaya persuasif untuk mengajak orang lain yang belum sepaham atau belum yakin pada ide-ide yang kita tawarkan, agar mereka bersedia bergabung dan mendukungnya. Termasuk didalamnya adalah komunikasi yang dilakukan melalui ritual sedekah bumi, yang tidak dapat dipungkiri tentu saja memiliki berbagai macam kelemahan maupun kelebihan.

4

Nimmo, Dan. 2000. Komunikasi Politik (Komunikator, Pesan, dan Media). Terjemahan: Tjun Surjaman. Cetakan III, Remadja Rosdakarya, Bandung.

(7)

7 Desa wisata Bejalen merupakan desa wisata yang mempunyai keunikan dari pada desa-desa wisata yang berada di Kabupaten Semarang, seperti berikut ini yang menjadi keunikan Desa Wisata Bejalen:

1. Ritual Sedekah desa yang ada di Desa Bejalen merupakan ritual yang paling tua diantara desa-desa yang berada di Kabupaten Semarang.

Table 1. Ritual Sedekah Bumi tertua di Kabupaten Semarang.

Desa Ritual Tahun

Desa Bejalen Sedekah desa Tahun 1850-an

Desa Keji Merti dhusun Diatas tahun 1900

Desa Sumowono Sedekah desa Diatas tahun 1900

2. Terdapat gunungan salak yang menjadi ciri khas dalam ritual sedelah bumi di Desa Bejalen.

3. Adanya kesenian tarian “kuda Blarak” yang menjadi ciri khas dalam ritual sedekah bumi di Desa Bejalen, bahkan tarian “Kuda Blarak” cuma ada di Desa Bejalen.

4. Adanya acara berebut ikan didalam sawah dengan tangan kosong

Dalam ritual sedekah bumi di Desa Bejalen pada tanggal 15 Desember 2012, secara tidak biasa terjadi perubahan cara ritual karena adanya pemilihan kepala desa (Pilkades), dalam perubahan-perubahan cara ritual terdapat kejanggalan-kejanggalan

(8)

8 yang mengerucut pada proses kampanye politik yang dilakukan oleh salah satu calon kepala desa. Dimana adanya keterlibatan dari salah satu calon kepala desa yaitu Pak Sugih dengan perubahan-perubahan cara ritual sedekah bumi di Desa Wisata Bejalen, untuk mengejar tujuan politiknya maka dilakukan berbagai relasi dan jaringan dalam mensosialisasikan visi dan misi politiknya, salah satunya dengan melakukan kampanye melalui media ritual adat yaitu Sedekah Bumi.

Sebagai pendukung pengertian diatas Nimmo (2005:380) komunikasi tradisional masih banyak ditemui dikalangan anggota masyarakat yang tinggal di pedalaman/pedesaan, tetapi memiliki hak-hak politik yang sama dengan warga negara lainnya. Untuk mendekati mereka diperlukan saluran-saluran komunikasi tradisional yang mereka miliki dan berkembang dikalangan masyarakat tersebut. Adapun tipe komunikasi tradisional antara lain pesta adat, upacara kelahiran, upacara kematian (berkabung), upacara perkawinan, “Pesta Panen”, upacara perdamaian dsb.

Ritual sedekah bumi baru-baru ini sering dipandang hanya sebelah mata oleh banyak orang, karena tingkat efektifitasnya kalah dengan media komunikasi lain seperti media cetak dan media televisi, akan tetapi media ritual sedekah bumi memiliki ciri khas tertentu sebagai suatu media komunikasi. Biasanya saluran komunikasi tradisional ini banyak ditemui dikalangan anggota masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman, tetapi memiliki hak-hak politik yang sama dengan

(9)

9

warga Negara lainnya5. Ritual sedekah bumi secara langsung maupun tidak langsung

tentu saja mempengaruhi proses komunikasi politik, seperti yang terjadi di pemilihan kepala desa (Pilkades) di Desa Wisata Bejalen.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji serta meneliti secara ilmiah mengenai komunikasi politik yang dilakukan oleh salah satu calon kepala desa di Desa Wisata Bejalen yaitu Pak Sugih dalam menggunakan media ritual adat Sedekah bumi sebagai media dalam berkampanye dalam pemilihan kepala desa periode 2012-2018.

1.2 Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah bagaimana komunikasi politik yang dilakukan oleh Bapak Sugih pada ritual “Sedekah Bumi” dalam pemilihan kepala desa periode 2012-2018 di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

1.3 Tujuan Penelitian.

Adapun tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam penelitian ini adalah menggambarkan komunikasi politik yang dilakukan oleh Bapak Sugih pada ritual “Sedekah Bumi” dalam pemilihan kepala desa periode 2012-2018 di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

5

Canggara Hatied.Komunikasi Politik(Konsep, Toeri, Dan Strategi). Ed.1,-1.-Jakarta:Rajawali Pers,2009. Hal 384.

(10)

10 1.4 Manfaat Penelitian.

1.4.1 Manfaat Teoritis.

 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperluas

wawasan keilmuan, khususnya dalam kajian ilmu politik/komunikasi.

1.4.2 Manfaat Praktis.

 Memberikan tambahan pengetahuan bagi masyarakat Desa Bejalen pada

umumnya terhadap pesan yang disampaikan melalui ritual adat “Sedekah Bumi”, agar masyarakat lebih kritis terhadap pesan yang disampaikan atau bentuk-bentuk komunikasi politik yang bisa digunakan dalam acara apa saja.

 Dapat menambah wawasan dan pengetahuan kepada penulis pada

khususnya dan mahasiswa lain tentang peran media ritual “Sedekah Bumi” sebagai alat komunikasi politik pada pemilihan kepala desa.

1.5 Batasan Penelitian.

Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang lebih luas, maka peneliti membuat pembatasan masalah yang akan diteliti. Fokus penelitian ini adalah komunikasi politik yang dilakukan oleh Pak Sugih pada media ritual “Sedekah Bumi” dalam pemilihan kepala desa periode 2012-2018 di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :