• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASTER PLAN PENETAPAN FREKUENSI KANAL RADIO SIARAN FM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MASTER PLAN PENETAPAN FREKUENSI KANAL RADIO SIARAN FM"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

MASTER PLAN PENETAPAN FREKUENSI

KANAL RADIO SIARAN FM

DITJEN POSTEL – DEPKOMINFO

JAKARTA, JULI 2005

(2)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

1. LATAR BELAKANG

Sejarah penggunaan frekuensi Radio Siaran FM di Indonesia dimulai sekitar akhir tahun

1960-an sampai dengan awal tahun 1970-an.

Dengan dibolehkannya Radio Siaran Non Pemerintah / Radio Swasta untuk berdiri sejak

tahun 1970 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 tentang Radio

Siaran Non Pemerintah, maka terdapat dua instansi pemerintah yang mengatur Radio

Siaran, yaitu

a) Ditjen Postel-Dephub/Depparpostel, mengatur frekuensi Radio Siaran Non

Pemerintah;

b) Ditjen RTF-Deppen, mengatur frekuensi RRI

Pengaturan teknis untuk radio siaran yang dibuat Ditjen Postel-Dephub hanya ditujukan

kepada Radio Siaran Non Pemerintah. Sedangkan pengaturan teknis untuk RRI tidak

pernah dibuat. Koordinasi antara kedua institusi Ditjen Postel dan Ditjen RTF-Deppen

kurang optimal. Padahal frekuensi yang digunakan adalah sama. Hal ini akan

menimbulkan banyak kesulitan dalam perkembangan selanjutnya.

Pada tahun 1971 berdasarkan S.K. Menhub No.25/T/1971, alokasi frekuensi yang

diperkenankan adalah 100 – 108 MHz. Saat itu teknologi yang masih ada adalah FM

Mono dengan bandwidth 180 kHz dengan daya pancar maksimum 25 Watt.

Pada tahun 1982 diatur mengenai penggunaan FM Stereo dengan bandwidth 250 kHz

dengan daya pancar maksimum 100 Watt berdasarkan Kep. Menhub

No.KM.262/PT.307/Phb-82. Keputusan Menhub tahun 1982 itu pun menetapkan

penggunaan spasi kanal 350 kHz dari 100.2 – 107.8 sebanyak 22 kanal.

Pada tahun 1994 berdasarkan Kep. Menparpostel No.KM.73/PT.102/MPPT/94,

penggunaan alokasi frekuensi diperluas menjadi 87 – 108 MHz. Hal ini untuk

menampung semakin banyaknya permintaan Radio Siaran FM.

Dalam perencanaan frekuensi radio siaran, pendekatan yang diambil selama ini keliru.

Tidak ada suatu perencanaan matang yang memperhitungkan daerah cakupan,

frequency reuse, pengkanalan yang baik, dst. Pemberian izin frekuensi radio siaran non

pemerintah dilakukan “first come first served”, seakan-akan frekuensi ini masih banyak

tersedia. Akibatnya di beberapa kota besar frekuensi FM untuk Radio Siaran sudah

habis.

Selain itu para penyelenggara Radio Siaran FM sering melebihi batas daya pancar 100

Watt, indeks modulasi, untuk memperluas jangkauan siarannya. Menara dan antenna

pemancar pun seringkali dipasang sendiri-sendiri di lokasi yang berlainan. Hal ini

dengan sendirinya menurunkan kualitas penerimaan siaran Radio FM secara

keseluruhan, sehingga tidak dapat diterima dengan baik di tiap lokasi dalam wilayah

layanannya.

(3)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

Dengan diberlakukannya UU No.22 Tahun 1999 dan PP No.25 Tahun 2000 mengenai

kewenangan pemberian izin frekuensi Radio Siaran Lokal dan TV Siaran Lokal oleh

Pemerintah Daerah sangat menyulitkan penataan frekuensi secara optimal. Pengaturan

frekuensi tidak dapat dibagi-bagi kepada sejumlah banyak Pemerintah Daerah,

mengingat rambatan gelombang radio tidak dapat dibatasi batas administratif.

Desakan RUU Penyiaran yang diprakarsai DPR untuk mengakomodasi radio komunitas,

tekanan dari Pemerintah Daerah yang menuntut kewenangan pemberian izin frekuensi

terhadap Radio Siaran Lokal, serta keinginan untuk memperbaiki kualitas layanan radio

siaran FM, menyebabkan Ditjen Postel harus bekerja keras untuk melakukan revisi

terhadap ketentuan teknis.

Pada bulan Mei s/d Juni 2002, bekerjasama dengan ITU Regional Office Area, Jakarat,

Ditjen Postel bekerjasama dengan expert ITU, Mr. S. Razavi, melakukan penelitian dan

pembenahan kembali perencanaan frekuensi FM. Saat itu ditemukenali bahwa

pengaturan yang dilakukan Ditjen Postel selama ini kurang tepat.

Hal yang utama adalah penggunaan spasi kanal 350 kHz tersebut sebetulnya menyalahi

rekomendasi ITU-R dan menyulitkan masyarakat pendengar, karena tidak semua

pesawat penerima memiliki kemampuan menyetel frekuensinya sampai orde 50 kHz

(0.05 MHz). Selain itu kualitas penerimaan akan sulit memenuhi standar rekomendasi

ITU-R.

Ditemukenali pula bahwa di kota-kota besar di pulau Jawa dan Sumatera, seperti

Jabotabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan Medan, pemberian izin

frekuensi Radio Siaran FM sudah melebihi kapasitas, sehingga perlu untuk dikurangi.

Hal ini menimbulkan kesulitan dan dampak yang cukup besar, sehingga dalam

implementasinya memerlukan langkah transisi yang hati-hati.

Sampai tulisan ini dibuat, Ditjen Postel masih melakukan diskusi dengan Asosiasi Radio

Siaran untuk mencari solusi transisi frekuensi dan batasan teknik yang terbaik.

Secara umum, bahwa untuk kota-kota di pulau Jawa dan Medan, akan digunakan

pengkanalan frekuensi 400, sedangkan untuk di luar daerah tersebut akan digunakan

pengkanalan 800 kHz untuk daerah layanan yang sama.

Dokumen ini memberikan dasar-dasar teori perencanaan frekuensi FM berdasarkan

standard dan rekomendasi ITU-R untuk mengatasi permasalahan FM di Indonesia.

(4)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

2. DASAR

TEKNIS

2.1. PROTECTION RATIO

Dalam perencanaan FM, protection ratio merupakan salah satu faktor yang sangat

penting. Protection ratio dihitung dari selisih dalam dB dari field strength di lokasi

penerima dari pemancar yang diinginkan dikurangi dengan field strenght di lokasi

penerima dari pemancar yang mengganggu.

Tx1

Tx2

f1

f2

E1

E2

Rx

PR = E wanted - E unwanted

∆f = f2 - f1

Berikut ini adalah tabel nilai protection ratio berbeda untuk beberapa selisih frekuensi.

∆f (kHz)

Steady Troposhperic

0 36 28

100 12 12

200 6

6

300 -7 -7

350 -15 -15

400 -20 -20

500 -40 -40

(5)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

2.2.

LOCAL OSCILLATOR IF

Jika terdapat dua pesawat penerima radio yang terletak berdekatan (sekitar 2 s/d 5

meter), misalkan untuk kasus pesawat radio di dua kamar yang berdekatan, maka efek

local oscillator harus diperhitungkan. Local Oscillator IF (LO IF) pada pesawat penerima

yang berdekatan tersebut dapat bertindak sebagai pemancar dengan frekuensi LO IF

(10.7 MHz) yang mempengaruhi pesawat penerima di sebelahnya.

Rx1

Rx2

d (jarak)

2 s/d 5 m

Tune pada

f + 10.7

Tune pada

f

Pengaruh LO IF

seakan menjadi Tx

pada f + 10.7 MHz

Dalam perencanaan frekuensi Radio Siaran FM, harus dicegah selisih 10.7 + 0.1 MHz

(10.6 MHz, 10.7 MHz, dan 10.8 MHz). Karena jika hal ini terjadi diperlukan protection

ratio sebesar 33 dB.

Hal ini mempengaruhi jarak antar kanal (space channeling) di suatu wilayah layanan

yang dapat diterima. Tabel berikut ini memperlihatkan perhitungan pemilihan spasi kanal

untuk menghindari pengaruh LO IF.

Spasi (MHz)

Hasil bagi

10.7 MHz : Spasi

Sisa (∆f)

Protection

Ratio

Keterangan

0.3 36 0.1

12

dB

Jelek

0.35 31 0.15

9

dB

Sedang

0.4 27 0.1

12

dB

Jelek

0.45 24 0.1

12

dB

Jelek

0.5 21 0.2

6

dB

Baik

0.6 18 0.1

12

dB

Jelek

0.7 15 0.2

6

dB

Baik

0.8

13

0.3

-7 dB

Sangat Baik

0.9 12 0.1

12

dB

Jelek

1

11

0.3

-7 dB

Sangat Baik

(6)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

Kesimpulan:

1. Spasi 0.8 MHz dan 1 MHz, memberi perlindungan pengaruh LO IF terbaik

(∆f = 0.3 MHz)

2. Spasi 0.7 MHz dan 0.5 MHz, memberi perlindungan pengaruh LO IF baik

(∆f = 0.2 MHz)

3. Spasi 0.35 MHz, memberi perlindungan pengaruh LO IF sedang

(∆f = 0.15 MHz)

4. Spasi 0.3, 0.4, 0.45, 0.6, 0.9MHz, memberi perlindungan pengaruh LO IF jelek

(∆f = 0.1 MHz)

Referensi Channel Spacing dapat dilihat pada Rec. ITU-R BS.412-9.

2.3. MINIMUM USABLE FIELD STRENGTH

E min (Kuat Medan Minimum) merupakan persyaratan nilai field strength minimum yang

harus dipenuhi suatu pemancar di dalam wilayah layanannya. Dalam perencanaan

frekuensi Radio Siaran FM, diasumsikan bahwa sistem antenna penerima yang

digunakan masyarakat adalah omni directional. Pada kasus Radio FM, Minimum Usable

Field Strengh (Eu) dibagi menjadi daerah large cities, urban dan rural.

Tabel berikut ini menjelaskan mengenai Eu (dBµV/m) berdasarkan pengelompokan

daerah lokasi pesawat penerima.

Jenis daerah

Mono (dBµV/m) Stereo

(dBµV/m)

Rural 48

54

Urban 60

66

Large Cities

70

74

2.4. PROPAGASI

Untuk menghitung field strength dari suatu pemancar dengan daya pancar dan tinggi

antenna tertentu, dapat digunakan Rec. ITU-R P.370 untuk kurva band VHF (Annex-1

dokumen ini).

Selain itu berdasarkan Rec. ITU-R P.370 tersebut, perlu diperhatikan correction faktor

dari terrain irregularity (

∆h), serta attenuation faktor dari clearance angle. Faktor-faktor

tersebut terkait dengan topografi permukaan bumi di daerah layanan suatu pemancar.

Sebagai catatan untuk propogasi melalui laut (kasus di Indonesia adalah warm sea)

menyebabkan masalah yang lebih tinggi. Propagasi melalui laut memberikan redaman

yang lebih rendah dibandingkan propagasi di darat, akibatnya potensi interferensi dari

pemancar lain jadi lebih tinggi.

(7)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

Beberapa catatan perhitungan field strength yang dapat dijadikan referensi adalah

sebagai berikut:

1) Untuk perhitungan coverage area di darat, digunakan kurva normal 1 kW ERP, land,

50% time, 50% location, h2 = 10m, ∆h = 50m, (Fig. 1a).

2) Untuk perhitungan coverage area di laut, digunakan kurva normal 1 kW ERP, warm

sea, 50% time, 50% location, h2 = 10m, ∆h = 50m, (Fig. 1b).

3) Untuk perhitungan interferensi, digunakan sebagai berikut:

a) Untuk jarak jauh, digunakan kurva normal 1 kW ERP, land, 1% time, 50%

location, h2 = 10m, ∆h = 50m (Fig. 4a) dan Troposheric Protection Ratio.

b) Untuk jarak dekat (< 5 km), digunakan kurva normal 1 kW ERP, land, 50% time,

50% location, h2 = 10m, ∆h = 50m (Fig. 1a) dan Steady Protection Ratio.

c) Untuk kasus propagasi melewati laut, gunakan kurva warm sea yang sesuai.

2.5. ANALISA INTERFERENSI

Analisa interferensi dilakukan dengan menghitung Nuisance Field (En/NF) di suatu

lokasi akibat pengaruh pemancar lainnya (unwanted transmitter).

Nuisance Field dihitung sebagai berikut:

NF = E + PR

E adalah field strength pesawat penerima di lokasi tertentu, dengan menghitung daya

pancar, tinggi antenna dan jarak dari pemancar (unwanted transmitter) ke penerima.

Nilai field strength yang diambil menggunakan perhitungan interferensi.

PR adalah Protection Ratio yang dibutuhkan tergantung dari selisih kanal frekuensi.

Suatu aplikasi stasiun pemancar baru di lokasi tertentu dapat ditetapkan frekuensinya,

jika memenuhi syarat sebagai berikut:

Eu > NF

Eu (Minimum Usable Field Strength), yang diambil nilainya berdasarkan pengelompokan

daerah layanan (service area) dari pemancar yang dimaksud. Jika wilayah layanan

termasuk large cities, maka Eu adalah 74 dBµV/m. Jika wilayah layanan termasuk rural,

maka Eu adalah 66 dBµV/m dst.

NF adalah nuisance field akibat pengaruh pemancar lain yang menginterferensi field

strength pemancar yang diinginkan.

2.6. COVERAGE AREAS DAN SERVICE AREAS

Konsep coverage areas (wilayah jangkauan) dan service areas (wilayah layanan)

seringkali membingungkan. Bila ditinjau dari segi analisa interferensi maka dapat

dijelaskan dengan cukup sederhana sebagai berikut.

(8)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

Tx Service Area Coverage Area Coverage Area Service Area

Service area adalah suatu wilayah layanan pemancar tertentu di mana di dalam wilayah

tersebut dijamin sinyalnya dapat diterima dengan baik. Secara perhitungan, nilai field

strength minimum pada ujung/batas service area (Eu) dijamin melebihi dari Nuisance

Field (NF). Service area biasanya dikaitkan pula dengan izin wilayah layanan yang

diberikan. (Misalkan wilayah Jabotabek).

Coverage area adalah suatu wilayah jangkauan dari suatu pemancar sejauh mana

sinyalnya dapat diterima dengan baik, tanpa memperhatikan pengaruh interferensi

stasiun pemancar lainnya.

Sebagaimana diketahui, bahwa nilai field strength akan berkurang dengan semakin

besarnya jarak pemancar dan penerima. Jika diasumsikan bahwa suatu pemancar

diletakkan di pusat kota besar, sinyal dapat mencapai daerah rural di mana Eu nilainya

lebih kecil daripada Eu di kota besar (large cities). Sehingga coverage areas dapat

mencapai sekitar 60 s/d 70 km untuk high power transmitter.

Jika hanya terdapat satu pemancar yang tidak diganggu oleh pemancar lain di wilayah

yang bersebelahan (adjacent areas), maka service area bisa sama dengan coverage

area. Bila terdapat suatu pemancar lain di wilayah yang bersebelahan dengan service

area suatu pemancar, dengan selisih frekuensi tertentu (co-channel, adjacent, 2

nd

adjacent, dsb), maka dapat menimbulkan Nuisance Field tertentu di sebagian coverage

areas. Hal tersebut dapat mengurangi kualitas sinyal tertentu. Dengan konsepsi service

areas, maka walaupun di wilayah sekitar (adjacent areas) ditempatkan beberapa stasiun

pemancar dengan selisih frekuensi tertentu, tetap dijamin dalam service areanya

kualitas penerimaan dapat memenuhi standar.

Dalam draft master plan frekuensi FM ini, service area untuk ibu kota propinsi dihitung

berdasarkan Eu = 74 dBmV/m (large cities), service areas untuk kota kabupaten dihitung

berdasarkan Eu = 66 dBmV/m (urban). Selain itu perhitungan service area juga

memperhatikan kondisi topografi di sekitar lokasi pemancar, serta coverage area dari

pemancar lain di daerah yang bersebalahan. Berdasarkan hal tersebut, didapat suatu

batasan power dan tinggi antenna tertentu untuk setiap kota di pulau Jawa dan Bali.

(9)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

2.

7 SPASI KANAL DALAM WILAYAH LAYANAN YANG SAMA

2.

7.1 DAERAH YANG MELEBIHI KAPASITAS

Kondisi jumlah radio siaran FM eksisting di Indonesia saat ini untuk beberapa kota besar

di pulau Jawa dan Sumatera, seperti Jabotabek, Bandung dan sekitarnya, Semarang

dan sekitarnya, Yogyakarta dan sekitarnya, Surabaya dan sekitarnya, Medan dan

sekitarnya, jumlah stasiun radio eksisting sudah melebihi kapasitas dengan spasi kanal

350 kHz (lebih dari 40-an stasiun radio eksisting). Tabel berikut ini memberikan

penjelasan mengenai jumlah kondisi radio siaran eksisting di daerah tersebut di atas.

No Kota dan daerah sekitarnya

Jumlah stasiun radio

eksisting

1. Jabotabek

60

2.

Bandung (+Cimahi, Soreang)

53

3.

Surabaya (+Sidoarjo, Gresik)

45

4.

Semarang (+Muntilan, Demak)

40

5.

Yogyakarta (+ Magelang,

Sleman, Klaten)

45

6.

Medan (+ Deliserdang, Binjai,

Pematang Siantar)

37

Untuk daerah-daerah tersebut, spasi kanal dalam wilayah layanan yang sama diambil

400 kHz. Pemilihan spasi kanal 400 kHz tersebut diambil berdasarkan pertimbangan

untuk mengambil suatu spasi kanal minimum yang dapat memberikan proteksi

interferensi baik, dengan resiko pengurangan jumlah stasiun radio yang paling minimum.

Sebagai ilustrasi, dengan spasi kanal 400 kHz dalam layanan yang sama, maka

maksimum dapat digunakan paling maksimum di suatu daerah layanan yang sama 48

kanal frekuensi.

Manfaat lain dari perubahan pengkanalan tersebut di atas adalah memberikan jatah

kanal frekuensi bagi low power transmitter, yaitu frekuensi 107.7, 107.8 dan 107.9 MHz

yang dapat direuse di berbagai tempat. Penggunaan kanal khusus ini untuk low power

transmitter dapat memenuhi keperluan Radio Komunitas ataupun Radio Kampus yang

bermunculan dewasa ini.

Penggunaan kanal frekuensi 107.6, 107.7, 107.8 dan 107.9 MHz dibatasi untuk low

power transmitter, untuk mencegah interferensi dengan pita frekuensi penerbangan

(107-120 MHz) bagai kepentingan komunikasi sistem instrumen pendaratan pesawat

(ILS).

(10)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

2.

7.2 DAERAH YANG BELUM TERLALU PADAT

Sebetulnya yang spasi kanal 800 kHz dalam wilayah layanan yang sama lebih baik

dalam memberikan kemungkinan distribusi kanal yang lebih banyak di berbagai lokasi.

Selain itu pemilihan spasi kanal 800 kHz memberikan proteksi terhadap interferensi LO

IF terbaik. Hanya saja, mengingat kapasitas maksimum yang dapat diberikan dalam

satu wilayah layanan yang sama tidak sebanyak spasi kanal 400 kHz seperti disebutkan

terdahulu, maka potensi pengurangan jumlah stasiun radio akan menjadi permasalahan

yang lebih besar lagi.

Jika jumlah stasiun radio di kota-kota yang saat ini sudah melewati kapasitas dapat

dikurangi secara bertahap sampai kurang lebih hanya sekitar 21-an di suatu wilayah

layanan yang sama, penggunaan spasi kanal 800 kHz lebih menguntungkan.

Tabel berikut ini memberikan perbandingan antara pemilihan spasi kanal 500 kHz, 800

kHz.

Spasi kanal

dalam suatu

wilayah

layanan sama

Proteksi

terhadap

interferensi LO.

IF

Kapasitas jumlah

frekuensi

maksimum

Potensi

Pengurangan

stasiun di

Bandung ++

400 kHz

12 dB

48 *

2

800 kHz

-7 dB

26

27

Catatan :

++ Saat ini di Bandung dan sekitarnya ada 53 stasiun radio eksisting

* Jika tidak memperhitungkan daerah dan jatah radio komunitas sekitar bisa mencapai

51

Untuk kota-kota di luar pulau Jawa dan Bali, serta provinsi Sumatra Utara bagian timur

(Medan dan sekitarnya), maka penggunaan spasi kanal 800 MHz digunakan.

Selain itu untuk daerah perbatasan dengan Negara lain, seperti Batam dan sekitarnya,

serta perbatasan Kalimantan dengan Serawak dan Sabah, dibutuhkan koordinasi

frekuensi perbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Sebagai informasi bahwa

Singapura dan Malaysia telah memiliki perjanjian tersendiri mengenai pengaturan

frekuensi perbatasan. Oleh karena itu, Indonesia pun seharusnya memiliki perjanjian

tersendiri dengan kedua Negara tersebut, dan sebaiknya memperhatikan pola

pengaturan frekuensi yang telah diterapkan kedua Negara tersebut.

(11)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

3. PERHITUNGAN INTERFERENSI DAN COVERAGE AREA

Berdasarkan Rekomendasi ITU-R P.370, coverage area merupakan fungsi dari tinggi

antenna, daya pancar relatif terhadap nilai normal, serta field strength minimum yang

dibutuhkan untuk coverage area tersebut. Relasi antara parameter-parameter di atas

dapat dilihat pada kurva propagasi VHF/UHF Broadcasting P.370.

Kurva yang biasanya dipilih dari Rekomendasi ITU-R P.370 untuk kondisi suatu wilayah

pelayanan siaran di darat adalah 50% time, 50% location, land (Fig.1a), 1 kW ERP.

3.1 CONTOH PERHITUNGAN FIELD STRENGTH

Sebagai ilustrasi dapat digambarkan berikut ini:

ERP Pemancar Radio Siaran sebesar 2kW tetap, dengan nilai tinggi antena berbeda

(300 m dan 150 m), nilai Field strength (E) pada jarak 20 km dan 40 km dari pemancar

adalah sbb:

ERP

Pemancar

Tinggi

antenna

Field strength pada

jarak 20 km dari

Pemancar

Field strength pada

jarak 40 km dari

Pemancar

2 kW

300 m

71 dBµV/m 56

dBµV/m

2 kW

150 m

64 dBµV/m 48

dBµV/m

Untuk ERP Pemancar Radio Siaran berbeda (1 kW dan 50 kW) dengan tinggi antenna

adalah 75 m tetap, nilai Field strength (E) pada jarak 20 km dan 40 km dari pemancar

adalah sbb:

ERP

Pemancar

Tinggi

antenna

Field strength pada

jarak 20 km dari

Pemancar

Field strength pada

jarak 40 km dari

Pemancar

1 kW

75 m

64 dBµV/m 48

dBµV/m

50 kW

75 m

74 dBµV/m 58

dBµV/m

3.2 PERBANDINGAN POWER DAN FIELD STRENGTH

Nilai Power dan Field Strength sebanding kenaikan dalam dB. Walaupun demikian

pengertiannya berbeda. Secara sederhana dapat diperlihatkan berikut ini:

Power

Field Strength

+ 3 dB di dalam P

+ 3 dB di dalam P

2 x di dalam P

√2 di dalam P

(12)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

3.3 KEUNTUNGAN ANTENA YANG TINGGI

Keuntungan antena yang tinggi adalah sbb:

• Mengurangi efek shielding karena bangunan tinggi

• Daya yang dibutuhkan untuk menjangkau suatu wilayah layanan/jangkauan

relatif lebih rendah.

• Permasalahan Local Oscillator di pesawat penerima tidak akan terjadi.

Jika terdapat dua pemancar berdaya pancar tinggi, maka tidak dimungkinkan

menggunakan combiner (penggabung) sistem antena dan menara yang sama.

3.4 PERHITUNGAN GAIN ANTENNA

Untuk antenna dipole, G = 0 dB (referensi)

JUMLAH ANTENNA ARRAY

GAIN ANTENNA

1 -3

dB

2 0

dB

4 3

dB

8 6

dB

16 9

dB

32 12

dB

Jika Gain 1 buah antenna -3 dB, maka Gain 24 antenna adalah 10 dB. Rumusan

sederhananya adalah sebagai berikut:

Gain Antenna = -3 dB (satu antenna array) + 10 log (jumlah antenna array).

Jarak antara dua antenna array harus sama dengan jarak λ / 2. Hal ini disebabkan pada

beda fasa λ / 2 terjadi gain maksimum antenna tersebut.

3.5 PERHITUNGAN COVERAGE

Sebagai suatu contoh perhitungan coverage, diketahui suatu pemancar memiliki Power

10 kWatt dengan gain antena 10 dB.

Untuk daerah urban, field strength minimum yang diperlukan adalah sbb:

E = 54 dBµV/m

ERP = P (dB kW) + G (dB) – Loss feeder

L feeder = 1 dB

ERP ≈ 10 log 10 + 10 – 1 = 19 dB (kW)

E = 53 dBµV/m

E

o

= 54 – 19 = 35 dBµV/m

Dengan mengacu kepada gambar 1a, Rec. 370:

Pada E

o

= 35 dBmV/m, h

1

= 100 m, maka d ≈ 60 km

(13)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

Terrain irregularities

∆h adalah besarnya derajat ketidakseragaman topografi di sekitar

pemancar dihitung dari jarak 10 km s/d 50 km dari lokasi pemancar ke arah yang

ditentukan.

Untuk kasus Jakarta dan sekitarnya di mana relatif tidak ada gunung atau bukit

yang berarti, maka biasanya digunakan nilai ∆h = 10 m.

Pengaruh terrain irregularities ∆h akan memberikan attenuation factor sesuai

Fig.7, hal.18, Rec.ITU-R P.370-7. Untuk kasus Jakarta dan sekitarnya, di mana

∆h = 10 m, maka Attenuation factor didapat sebesar –7 dB.

Maka setelah dihitung pengaruh ∆h, didapat nilai Field Strengh E

o

’ sebagai

berikut:

E

o

’ = 35 – 7 = 28 dBµV/m

Sehingga dengan menggunakan kurva propagasi Rec. ITU-R P.370-7, dengan

tinggi antenna 100 m, didapat jarak coverage area sbb:

d ≈ 80 km.

Jika kasus yang sama diterapkan pada kota besar, di mana Field Strength minimum

adalah 74 dBµV/m, maka perhitungan coverage area adalah sebagai berikut:

E = 74 dBµV/m

E

o

’ = 74 – 19 = 55 dBµV/m

d ≈ 25 km.

Untuk kasus yang sama diterapkan pada suatu daerah Urban di mana Field Strength

minimum adalah 66 dBµV/m, maka perhitungan coverage area adalah sebagai berikut:

E = 66 dBµV/m

E

o

’ = 66 – 19 = 47 dBµV/m

d ≈ 35 km.

Untuk kasus yang sama jika diambil terrain irregularity ∆h = 50m, maka didapat nilai

attenuation factor sebesar –5 dB. Maka perhitungan coverage area berubah sebagai

berikut:

E

o

’ = 47 – 5 = 42 dBµV/m

d’ ≈ 45 km.

3.6 PERHITUNGAN INTERFERENSI

Perhitungan interferensi sangat penting dalam penentuan apakah suatu permohonan

izin pemancar radio siaran FM dapat diberikan atau tidak. Penetapan frekuensi

dilakukan dengan menghitung interferensi dari rencana pemasangan pemancar di suatu

lokasi dibandingkan pengaruh pemancar-pemancar lain di daerah sekitarnya.

(14)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

Untuk menghitung interferensi pada jarak yang jauh (lebih dari 80 km dari pemancar),

akan lebih baik jika menggunakan Fig 4a, 1% of time, 50% of location, Rec.ITU-R

P.370-7.

E

o

= 12 dBµV/m

h1 = 100 m

d’ ≈ 300 km.

E

i

= E

o

+ ERP = 31 dBµV/m

Dengan mengacu kepada Tabel 3, Co-Channel Protection Ratio = 37 dB

(tropospheric interference), maka didapat Usable Field Strength (E

u

) sebagai

berikut:

E

u

= 37 + 31 = 68 dBµV/m

Bandingkan dengan menggunakan steady interference (Fig 1a, 50% of time):

E

o

= -7 dBµV/m

E

i

= E

o

+ ERP = -7 + 19 = 12 dBµV/m

PR = 45 dB (steady interference)

E

u

= 45 – 7 = 38 dBµV/m

Jika ada kasus seperti ini, dipilih nilai yang paling tinggi dari kedua metoda tersebut

apakah stead atau trophosperic interference.

Sebagai acuan, dapat digunakan pedoman sebagai berikut:

• untuk jarak jauh (lebih dari 80 km), digunakan Trophosperic Protection Ratio dan

kurva propagasi 1% time, 50% location.

• untuk jarak dekat (kurang dari 80 km), digunakan Steady Protection Ratio dan kurva

propagasi 50% time, 50% location.

Nilai aggregate E

u

merupakan Nuisance Field Strength (NF) yang kemudian

dibandingkan dengan nilai minimum field strength Eu penerimaan standard baik di

daerah metropolitan, urban atau rural seperti dibahas pada bagian 2.5.

Suatu aplikasi stasiun pemancar baru di lokasi tertentu dapat ditetapkan frekuensinya,

jika memenuhi syarat sebagai berikut:

(15)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

ANNEX-1

KURVA PROPAGASI TV-UHF

REC. ITU-R P.370

(16)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

10

20

50

100

200

400

600

800

1 000

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0

– 10

– 20

– 30

– 40

– 50

h = 150 m

1

h = 75 m

1

h = 1 200 m

1

h = 600 m

1

h = 300 m

1

h = 37.5 m

1

FIGURE 1a

Field strength (dB( µV/m)) for 1 kW e.r.p.

F

ie

ld s

tr

eng

th

(dB

V/

m

))

Logarithmic scale

Linear scale

Distance (km)

Free space

2

30-250 MHz (Bands I, II and III); land; 50% of the time;

50% of the locations; h = 10 m;

∆ h = 50 m

Frequency:

(17)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0

– 10

– 20

– 30

– 40

– 50

h = 150 m

1

h = 75 m

1

h = 1 200 m

1

h = 600 m

1

h = 300 m

1

10

20

50

100

200

400

600

800

1 000

h = 37.5 m

1

FIGURE 1b

Field strength (dB(

µ V/m)) for 1 kW e.r.p.

F

ie

ld s

tre

ng

th (

dB

V/

m

))

Logarithmic scale

Linear scale

Distance (km)

Free space

2

30-250 MHz (Bands I, II and III); sea; 50% of the time;

50% of the locations; h = 10 m

Frequency:

(18)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0

– 10

– 20

– 30

– 40

– 50

10

20

50

100

200

400

600

800

1 000

h = 1 200 m

1

h = 600 m

1

h = 300 m

1 1

h = 75 m

h = 150 m

1

h = 37.5 m

1

FIGURE 4a

Field strength (dB(

µ V/m)) for 1 kW e.r.p.

F

ie

ld s

tr

eng

th

(

dB

V/

m

))

Logarithmic scale

Linear scale

Distance (km)

Free space

2

30-250 MHz (Bands I, II and III); land; 1% of the time;

50% of the locations; h = 10 m; ∆ h = 50 m

Frequency:

(19)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

30

25

20

15

10

5

0

– 5

– 10

50

100

150

200

250

300

10

10

20

30

50

80

100

150

300

500 ∆ h (m) =

A

tt

enu

at

ion

c

or

re

ct

ion

f

act

or

(

dB

)

Distance, d (km)

FIGURE 7

Attenuation correction factor as a function of the distance d (km) and

∆h

(20)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

20

10

0

– 10

– 20

– 30

– 40

– 20

– 15

– 10

– 5

0

5

FIGURE 17

Terrain clearance angle correction factor

UHF

VHF

C

orr

ec

tio

n (d

B

)

Clearance angle, θ (degrees)

D27

FIGURE 18

Effective clearance angle

3 km

9 km

15 km

D28

h

α

effective terrain clearance angle

α:

(21)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

θ

θ

FIGURE 19

Terrain clearance angle

16 km

10 m

10 m

θ negative

θ positive

D29

(22)

Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM

Tim Ditjen Postel-Dephub

1. Nurhaedah

2.

Dodik Sudiyono

3. Syaharuddin

4. Iskandar

5. Denny Setiawan

Editor:

Denny Setiawan

Referensi:

1. ITU-R Rec. P.370-7, VHF and UHF Propagation Curves for the frequency

range from 30 MHz To 1 000 MHz, Broadcasting Services

2.

ITU-R Rec BS.412-9.

3. Database Pengguna RRI, Pusbinsartek, Ditjen RTF-Deppen

4. Database Pengguna Radio Swasta, Ditjen Postel-Dephub

5. Peta Laut Bakosurtanal (skala 1 : 500.000)

(23)

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN

NOMOR : KM. 15 TAHUN 2003

TENTANG

RENCANA INDUK (MASTER PLAN) FREKUENSI RADIO

PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI KHUSUS UNTUK KEPERLUAN

RADIO SIARAN FM (FREQUENCY MODULATION)

MENTERI PERHUBUNGAN,

Menimbang : a.

bahwa untuk meningkatkan kualitas penerimaan pancaran siaran

radio, perlu dilakukan pengkanalan frekuensi radio siaran FM

(frequency modulation);

b. bahwa untuk mengatur pengkanalan frekuensi radio siaran FM

yang sesuai dengan ketentuan Internasional dan proporsional

untuk setiap wilayah, perlu ditetapkan Rencana Induk

(Master Plan) frekuensi radio penyelenggaraan telekomunikasi

khusus untuk keperluan radio siaran FM dengan Keputusan

Menteri Perhubungan;

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi

(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 154 Tambahan Lembaran

Negara Nomor 3881);

2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran

(Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 139 Tambahan Lembaran

Negara Nomor 4252);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang

Penyelenggaraan Telekomunikasi

(Lembaran

Negara

Tahun 2000 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 3980);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang

Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit

(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 108, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3981);

(24)

5. Keputusan

Presiden

Nomor

102 Tahun 2001 tentang Kedudukan,

Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja

Departemen sebagaimana telah diubah dengan Keputusan

Presiden Nomor 45 Tahun 2002;

6. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit

Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen sebagaimana telah

diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 47 Tahun 2002;

7. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 24 Tahun 2001

tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan

sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri

Perhubungan Nomor KM. 91 Tahun 2002;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG RENCANA

INDUK (MASTER PLAN) FREKUENSI RADIO PENYELENGGARAAN

TELEKOMUNIKASI KHUSUS UNTUK KEPERLUAN RADIO SIARAN

FM (FREQUENCY MODULATION).

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :

1. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan

atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda,

isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui kawat, optik,

radio, atau sistem elektromagnetik lainnya;

2. Pemancar radio adalah alat telekomunikasi yang menggunakan

dan memancarkan gelombang radio;

3. Stasiun radio adalah satu atau beberapa perangkat pemancar

atau penerima atau gabungan dari perangkat pemancar dan

penerima termasuk alat perlengkapan yang diperlukan di satu

lokasi untuk menyelenggarakan komunikasi radio;

4.

Spektrum frekuensi radio adalah kumpulan pita frekuensi radio;

5. Pita frekuensi radio adalah bagian dari spektrum frekuensi radio

yang mempunyai lebar tertentu;

6. Kanal frekuensi radio adalah satuan terkecil dari spektrum

frekuensi radio yang ditetapkan untuk suatu stasiun radio;

(25)

7. Alokasi frekuensi radio adalah pencantuman pita frekuensi

tertentu dalam tabel alokasi frekuensi untuk penggunaan oleh

satu atau lebih dinas komunikasi radio terestrial atau dinas

komunikasi radio ruang angkasa atau dinas astronomi

berdasarkan persyaratan tertentu. Istilah alokasi ini juga berlaku

untuk pembagian lebih lanjut pita frekuensi tersebut di atas untuk

setiap jenis dinasnya;

8. Penetapan

(assignment) pita frekuensi radio atau kanal frekuensi

adalah otorisasi yang diberikan oleh suatu administrasi, dalam hal

ini Menteri kepada suatu stasiun radio untuk menggunakan

frekuensi radio atau kanal frekuensi radio berdasarkan

persyaratan tertentu;

9. Effective Radiated Power (ERP) adalah hasil kali dari daya yang

diberikan ke antena dengan penguatan (gain) relatif terhadap

antena dipole setengah gelombang;

10. Effective Hight Above Average Terrain (EHAAT) adalah

ketinggian efektif suatu antena pemancar yang dihitung dari

rata-rata permukaan tanah yang berada diantara 3 s/d 15 km dari

lokasi pemancar;

11. Wilayah layanan (service area) adalah wilayah penerimaan

stasiun radio yang diproteksi dari gangguan/interferensi sinyal

frekuensi radio lainnya;

12. Menteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan

tanggungjawabnya di bidang telekomunikasi;

13. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pos dan

Telekomunikasi;

14. Direktorat Jenderal adalah Direktorat Jenderal Pos dan

Telekomunikasi.

BAB II

KETENTUAN TEKNIS

Pasal 2

Setiap penyelenggaraan radio siaran FM wajib memenuhi ketentuan

teknis sebagai berikut :

a. Rentang pita frekuensi radio yang digunakan adalah 87,5 – 108

MHz;

b. Pengkanalan frekuensi yang digunakan adalah kelipatan

100 kHz;

(26)

c.

Penyimpangan frekuensi (frequency deviation) maksimum adalah

± 75 kHz pada 100% modulasi;

d. Toleransi frekuensi pemancar (transmitter frequency tolerance)

sesuai dengan Appendix Radio Regulation adalah sebesar

2000 Hz;

e.

Level Spurious emisi minimum 60 dB di bawah level mean power;

f.

Lebar pita (band width) untuk deviasi maksimum ± 75 kHz dan

100% modulasi maksimum 372 kHz;

g. Osilator

(oscilator) harus mempunyai stabilitas frekuensi tengah

(centre frequency stability) sebesar maksimum (+) 200 Hz dan

maksimum (-) 200 Hz dari frekuensi tengah.

Pasal 3

(1) Stasiun radio siaran publik dan stasiun radio siaran swasta dapat

diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kelas sebagai berikut :

a. Kelas A dengan ERP antara 15 kW sampai dengan 63 kW,

dengan wilayah layanan maksimum 30 km dari pusat kota;

b. Kelas B dengan ERP antara 2 kW sampai dengan 15 kW,

dengan wilayah layanan maksimum 20 km dari pusat kota;

c. Kelas C dengan ERP maksimum 4 kW, dengan wilayah

layanan maksimum 12 km dari pusat kota.

(2) Stasiun radio komunitas digolongkan dalam kelas D dengan ERP

maksimum 50 W, dengan wilayah layanan maksimum 2,5 km dari

lokasi stasiun pemancar.

(3) Kuat medan (fieldstrength) pada daerah terluar dari wilayah

layanan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) di atas

dibatasi maksimum 66 dBµV/m.

(4) Ketentuan ERP maksimum dan EHAAT maksimum untuk setiap

kelas diatur sebagaimana tercantum dalam Lampiran I

Keputusan ini.

Pasal 4

(1) Radio siaran kelas A sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3

ayat (1) huruf a diperuntukkan bagi radio siaran di Daerah

Khusus Ibu Kota Jakarta.

(2) Radio siaran kelas B sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3

ayat (1) huruf b diperuntukkan bagi radio siaran di Daerah

Khusus Ibu Kota Jakarta atau di Ibu Kota Propinsi.

(27)

(3) Radio siaran kelas C sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3

ayat (1) huruf c diperuntukkan bagi radio siaran di kota selain

sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

(4) Radio siaran kelas D sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 3

ayat (2) diperuntukan bagi radio siaran komunitas sepanjang

secara teknis memungkinkan.

Pasal 5

(1) Berdasarkan ketentuan teknis sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 2 huruf a dan b ditetapkan perencanaan kanal (channeling

plan) sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Keputusan ini.

(2) Perencanaan kanal frekuensi radio sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) digunakan sebagai berikut :

a. Kanal 1 s/d 201 untuk radio penyiaran publik dan radio

penyiaran swasta;

b.

Kanal 202, 203 dan 204 untuk radio penyiaran komunitas.

Pasal 6

(1) Pemetaan kanal frekuensi radio dalam satu wilayah layanan

harus dengan jarak antar kanal minimum 800 kHz.

(2) Khusus untuk wilayah yang jumlah penyelenggara radio siaran

yang sudah ada melebihi kanal yang tersedia yaitu di wilayah

layanan D.K.I. Jakarta, Kota Bogor, Kota Bandung, Kota

Semarang, Kota Surabaya dan Kota Medan, pengkanalannya

diberikan jarak spasi antar kanal minimum 400 kHz.

Pasal 7

Rasio proteksi (protection ratio) penyelenggaraan radio siaran FM

yang digunakan harus sesuai dengan Rekomendasi ITU-R BS.412-9

sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Keputusan ini.

BAB III

PENGKANALAN FREKUENSI RADIO FM

Pasal 8

Setiap penyelenggaraan radio siaran FM wajib mengikuti pemetaan

kanal frekuensi radio siaran FM sebagaimana tercantum dalam

Lampiran IV Keputusan ini.

(28)

Pasal 9

Kota/wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga atau cakupan

pemancarnya dapat menjangkau negara lain, maka penetapan kanal

harus terlebih dahulu dilakukan koordinasi oleh Direktorat Jenderal

dengan Administrasi Telekomunikasi negara tetangga yang berkaitan.

Pasal 10

(1) Izin stasiun radio untuk keperluan penyiaran publik dan penyiaran

swasta diberikan berdasarkan pengkanalan yang diatur dalam

Pasal 5 ayat (2) butir a.

(2) Untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

dilakukan survey lapangan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT)

Monitoring Spektrum Frekuensi radio dan Orbit Satelit Direktorat

Jenderal yang meliputi clearance frekuensi dan pengukuran teknis.

(3) Tata cara survey lapangan diatur oleh Direktur Jenderal.

Pasal 11

(1) Izin stasiun radio untuk keperluan penyiaran komunitas diberikan

berdasarkan pengkanalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5

ayat (2) butir b.

(2) Izin stasiun radio untuk keperluan pernyiaran komunitas terlebih

dahulu melalui analisa teknis dari Direktorat Jenderal.

(3) Ketentuan analisa teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

diatur oleh Direktur Jenderal.

Pasal 12

Kota/wilayah yang belum tercantum dalam rencana induk ini akan diatur

dalam keputusan tersendiri.

BAB IV

PENGALIHAN KANAL

Pasal 13

Tata cara pengalihan dan penetapan pengalihan kanal frekuensi radio

bagi penyelenggara radio siaran FM yang sudah ada saat ini, akan

diatur dengan keputusan tersendiri.

(29)

BAB V

SERTIFIKASI PERANGKAT

Pasal 14

Setiap perangkat radio yang digunakan untuk keperluan pembangunan

dan pengoperasian stasiun radio, wajib mendapat sertifikasi

alat/perangkat radio dari Direktorat Jenderal.

BAB VI

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN TEKNIS

Pasal 15

(1) Direktur Jenderal melaksanakan Pengawasan dan Pengendalian

teknis terhadap pelaksanaan Keputusan ini.

(2) Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian teknis sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis

(UPT) Monitoring Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit

Direktorat Jenderal bekerjasama dengan instansi pemerintah

terkait.

BAB VII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 16

Dengan berlakunya Keputusan ini, maka penggunaan kanal frekuensi

radio dalam penyelenggaraan radio siaran FM yang telah memiliki izin

stasiun radio dari Direktorat Jenderal sebelum ditetapkannya Keputusan

ini, wajib menyesuaikan dengan selambat-lambatnya 2 (dua) tahun

terhitung mulai diberlakukannya Keputusan ini.

Pasal 17

(1) Penggunaan jarak spasi antar kanal minimum 400 kHz

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) diberikan untuk

jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak diberlakukannya Keputusan

ini.

(2) Setelah jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

berakhir, pengkanalan frekuensi radio di wilayah sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib memenuhi ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1).

(3) Untuk memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)

akan diadakan penilaian kinerja radio siaran sebagai sarana untuk

melalukan proses seleksi sehingga jumlah radio siaran di kota

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat memenuhi

ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1).

(30)

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 18

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : JAKARTA

Pada tanggal : 1 APRIL 2003

---

MENTERI PERHUBUNGAN

ttd

AGUM GUMELAR, M.Sc

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada :

1.

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan;

2. Menteri

Koordinator Bidang Perekonomian;

3. Menteri

Koordinator

Bidang Politik dan Keamanan;

4.

Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara;

5.

Menteri Dalam Negeri;

6.

Menteri Luar Negeri;

7. Menteri

Pertahanan;

8.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral;

9.

Menteri Negara Komunikasi dan Informasi;

10. Sekretaris

Negara;

11. Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, Para Direktur Jenderal dan Kepala

Badan di Lingkungan Departemen Perhubungan;

12. Para Kepala Biro dan Kepala Pusat di lingkungan Sekretariat Jenderal

Departemen Perhubungan.

SALINAN Keputusan ini sesuai dengan aslinya

Kepala Biro Hukum dan KSLN

KALALO NUGROHO,SH

NIP. 120105102

(31)

LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN

NOMOR

:

KM. 15 TAHUN 2003

TANGGAL :

1 April 2003

---

BATAS DAYA PANCAR RADIO SIARAN FM

A. KELAS A

EHAAT (m)

ER

P (

kW

)

15

30

45

60

50

75

100

125

150

KURVA MAKSIMUM

ERP vs EHAAT

B. KELAS B

EHAAT (m)

ERP (kW)

5

10

15

50

60

70

80

90

100

KURVA MAKSIMUM

ERP vs EHAAT

9

(32)

C. KELAS C

ER

P (

kW

)

1

2

3

4

10

20

40

50

60

EHAAT (m)

80

30

70

KURVA MAKSIMUM

ERP vs EHAAT

D

. KELAS D

ERP (Wat

t)

10

20

30

40

5

10

15

20

EHAAT (m)

50

KURVA MAKSIMUM ERP vs EHAAT

MENTERI PERHUBUNGAN

AGUM GUMELAR, M.Sc.

(33)

LAMPIRAN II KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN

NOMOR

: KM. 15 TAHUN 2003

TANGGAL : 1 April 2003

---

PERENCANAAN KANAL (CHANNELLING PLAN) FREKUENSI RADIO FM

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

87,6 1

94,4 69

101,2

137

87,7 2

94,5 70

101,3

138

87,8 3

94,6 71

101,4

139

87,9 4

94,7 72

101,5

140

88,0 5

94,8 73

101,6

141

88,1 6

94,9 74

101,7

142

88,2 7

95,0 75

101,8

143

88,3 8

95,1 76

101,9

144

88,4 9

95,2 77

102,0

145

88,5 10

95,3 78

102,1 146

88,6 11

95,4 79

102,2 147

88,7 12

95,5 80

102,3 148

88,8 13

95,6 81

102,4 149

88,9 14

95,7 82

102,5 150

89,0 15

95,8 83

102,6 151

89,1 16

95,9 84

102,7 152

89,2 17

96,0 85

102,8 153

89,3 18

96,1 86

102,9 154

89,4 19

96,2 87

103,0 155

89,5 20

96,3 88

103,1 156

89,6 21

96,4 89

103,2 157

89,7 22

96,5 90

103,3 158

89,8 23

96,6 91

103,4 159

89,9 24

96,7 92

103,5 160

(34)

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

90,0 25

96,8 93

103,6 161

90,1 26

96,9 94

103,7 162

90,2 27

97,0 95

103,8 163

90,3 28

97,1 96

103,9 164

90,4 29

97,2 97

104,0 165

90,5 30

97,3 98

104,1 166

90,6 31

97,4 99

104,2 167

90,7 32

97,5 100

104,3 168

90,8 33

97,6 101

104,4 169

90,9 34

97,7 102

104,5 170

91,0 35

97,8 103

104,6 171

91,1 36

97,9 104

104,7 172

91,2 37

98,0 105

104,8 173

91,3 38

98,1 106

104,9 174

91,4 39

98,2 107

105,0 175

91,5 40

98,3 108

105,1 176

91,6 41

98,4 109

105,2 177

91,7 42

98,5 110

105,3 178

91,8 43

98,6 111

105,4 179

91,9 44

98,7 112

105,5 180

92,0 45

98,8 113

105,6 181

92,1 46

98,9 114

105,7 182

92,2 47

99,0 115

105,8 183

92,3 48

99,1 116

105,9 184

92,4 49

99,2 117

106,0 185

92,5 50

99,3 118

106,1 186

92,6 51

99,4 119

106,2 187

92,7 52

99,5 120

106,3 188

92,8 53

99,6 121

106,4 189

92,9 54

99,7 122

106,5 190

(35)

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

FREKUENSI

(MHz)

NO.

KANAL

93,0 55

99,8 123

106,6 191

93,1 56

99,9 124

106,7 192

93,2

57 100,0 125

106,8 193

93,3

58 100,1 126

106,9 194

93,4

59 100,2 127

107,0 195

93,5

60 100,3 128

107,1 196

93,6

61 100,4 129

107,2 197

93,7

62 100,5 130

107,3 198

93,8

63 100,6 131

107,4 199

93,9

64 100,7 132

107,5 200

94,0

65 100,8 133

107,6 201

94,1

66 100,9 134

107,7 202

94,2

67 101,0 135

107,8 203

94,3

68 101,1 136

107,9 204

MENTERI PERHUBUNGAN

AGUM GUMELAR, M.Sc.

(36)

LAMPIRAN IV KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN

NOMOR

:

KM. 15 TAHUN 2003

TANGGAL :

1 APRIL 2003

---

PEMETAAN KANAL FREKUENSI (ALLOTMENT)

RADIO SIARAN FREKUENSI MODULASI (FM)

I.

PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

A. RADIO SIARAN KELAS B

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KOTA BANDA ACEH

3, 11, 19, 27, 35, 43, 51, 70, 78, 86, 94, 102, 110, 118,

137, 145, 153, 161, 169, 177, 185

B. RADIO SIARAN KELAS C

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KAB. BIREUN

a.

BIREUN

34, 42, 50, 58, 101, 109, 117, 125, 168, 176, 184, 192

2

KAB. ACEH BESAR

a.

JANTHO

7, 15, 23, 31, 74, 82, 90, 98, 141, 149, 157, 165

3

KAB. ACEH TENGGARA

a.

KUTACANE

32, 40, 48, 99, 107, 115, 166, 174, 182

4

KAB. ACEH TIMUR

a.

LANGSA

44, 52, 60, 111, 119, 127, 178, 186, 194

5

KOTA LANGSA

Idem No. 4.a

6

KAB. ACEH UTARA

a.

LHOK SEUMAWE

2, 10, 18, 26 69, 77, 85, 93, 136, 144, 152, 160

b. LHOK SUKON

6, 14, 73, 81, 140, 148

7

KOTA LHOK SEMAUWE

Idem No. 6.a

8

KAB. ACEH BARAT

a.

MEULABOH

4, 12, 20, 28, 71, 79, 87, 95, 138, 146, 154, 162

(37)

10

KAB. PIDIE

a.

SIGLI

39, 47, 55, 63, 106, 114, 122, 130, 173, 181, 189, 197

11

KAB. SIMEULEU

a.

SINABANG

37, 45, 53, 61, 104, 112, 120, 128, 171, 179, 187, 195

12

KAB. ACEH TENGAH

a.

TAKENGON

31, 39, 47, 55, 98, 106, 114, 122, 165, 173, 181, 189

13

KAB. ACEH SELATAN

a.

TAPAKTUAN

6, 14, 22, 30, 73, 81, 89, 97, 140, 148, 156, 164

14

KAB. ACEH TAMIANG

a.

KUALA SIMPANG

4, 28, 38, 71, 95, 105, 138, 162, 172

15

KAB. ACEH BARAT DAYA

a.

BLANG PIDIE

35, 43, 51, 59, 102, 110, 118, 126, 169, 177, 185, 193

16

KAB. ACEH SINGKIL

a.

SINGKIL

31, 39, 47, 55, 98, 106, 114, 122, 165, 173, 181, 189

17

KAB. GAYO LUES

a.

BLANG KEJEREN

1, 9, 17, 25, 68, 76, 84, 92, 135, 143, 151, 159

18

KAB. ACEH JAYA

a.

CALANG

25, 33, 41, 49, 92, 100, 108, 116, 159, 167, 175, 183

b. LAMNO

1, 9, 17, 68, 76, 84, 135, 143, 151

19

KAB. NAGAN RAYA

a.

JEURAM

8, 16, 24, 32, 75, 83, 91, 99, 142, 150, 158, 166

II.

PROPINSI SUMATERA UTARA

A. RADIO SIARAN KELAS B

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KOTA MEDAN

5, 9, 13, 17, 21, 25, 29, 33, 41, 49, 57, 68, 72, 76, 80,

84, 88, 92, 96, 100, 108, 116, 124, 135, 139, 143,

147, 151, 155, 159, 163, 167, 175, 183, 191

(38)

B. RADIO SIARAN KELAS C

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KAB. DELI SERDANG

a. LUBUK

PAKAM

1

b.

DELITUA/ TG. MORAWA/

NAMORAMBE/

PATUMBAK

37, 53, 104, 171

c. SIBOLANGIT

198

2

KOTA BINJAI

45, 112, 179

3

KOTA TEBING TINGGI

60, 127, 194

4

KAB. KARO

a. KABANJAHE

64

b. BERASTAGI

131

5

KAB. LANGKAT

a. STABAT

61,

128,

195

b.

PANGKALAN SUSU

11, 78, 145

6

KAB. ASAHAN

a. KISARAN

27, 35, 51, 59, 94, 102, 118, 126, 161, 169, 185,

193

b. INDRAPURA

44,

111,

178

7

KOTA TANJUNG BALAI

39, 47, 55, 63, 106, 114, 122, 130, 173, 181, 189,

197

8

KAB. SIMALUNGUN

a. PEMATANG

SIANTAR

3, 11, 19, 70, 78, 86, 137, 145, 153

b.

PRAPAT

37, 45, 104, 112, 171, 179

c. PERDAGANGAN

120

9

KOTA PEMATANG SIANTAR

Idem No. 8.a

10

KAB. TAPANULI TENGAH

a.

SIBOLGA

6, 14, 22, 30, 73, 81, 89, 97, 140, 148, 156, 164

b.

SORKAM

36, 44, 103, 111, 170, 178

11

KOTA SIBOLGA

Idem No. 10.a

12

KAB. TAPANULI SELATAN

(39)

13

KOTA PADANG SIDEMPUAN

Idem No. 12.a

14

KAB. TAPANULI UTARA

a.

TARUTUNG

2, 10, 18, 26, 69, 77, 85, 93, 136, 144, 152, 160

15

KAB. TOBA SAMOSIR

a.

BALIGE

49, 57, 65, 116, 124, 132, 183, 191

16

KAB. NIAS

a.

GUNUNG SITOLI

4, 12, 20, 28, 71, 79, 87, 95, 138, 146, 154, 162

17

KAB. DAIRI

a.

SIDIKALANG

7, 15, 23, 74, 82, 90, 141, 149, 157

18

KAB. MANDAILING NATAL

a.

PENYABUNGAN

1, 9, 17, 25, 68, 76, 84, 92, 135, 143, 151, 159

19

KAB. LABUHAN BATU

a.

RANTAU PRAPAT

7, 15, 23, 31, 74, 82, 90, 98, 141, 149, 157, 165

III.

PROPINSI SUMATERA BARAT

A. RADIO SIARAN KELAS B

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KOTA PADANG

1, 9, 17, 25, 33, 41, 49, 68, 76, 84, 92, 100, 108, 116,

135, 143, 151, 159, 167, 175, 183

B. RADIO SIARAN KELAS C

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KAB. AGAM

a.

BUKIT TINGGI

6, 14, 22, 30, 73, 81, 89, 97, 140, 148, 156, 164

a. LUBUK

BASUNG

34, 42, 50, 58, 101, 109, 117, 125, 168, 176, 184,

192

2

KOTA BUKIT TINGGI

Idem No. 1.a

3

KAB. PASAMAN

a.

LUBUK SIKAPING

2, 10, 18, 26, 69, 77, 85, 93, 136, 144, 152, 160

4

KAB. SAWAH LUNTO /

SIJUNJUNG

(40)

5

KOTA SAWAH LUNTO

41, 49, 57, 65, 108, 116, 124, 132, 175, 183, 191

6

KOTA PADANG PANJANG

36, 44, 52, 60, 103, 111, 119, 127, 170, 178, 186,

194

7

KAB. PESISIR SELATAN

a. PAINAN

37, 45, 53, 61, 104, 112, 120, 128, 171, 179, 187,

195

8

KAB. PADANG PARIAMAN

a.

PARIAMAN

5, 13, 21, 29, 72, 80, 88, 96, 139, 147, 155, 163

b.

LUBUK ALUNG

64, 131, 198

9

KOTA PARIAMAN

Idem No. 8.a

10

KAB. LIMAPULUH KOTA

a. PAYAKUMBUH

40, 48, 56, 64, 107, 115, 123, 131, 174, 182, 190,

198

11

KOTA PAYAKUMBUH

Idem No. 10.a

12

KOTA SOLOK

4, 12, 20, 28, 71, 79, 87, 95, 138, 146, 154, 162

13

KAB. TANAH DATAR

a.

BATU SANGKAR

8, 16, 24, 32, 75, 83, 91, 99, 142, 150, 158, 166

14

KAB. KEPULAUAN

MENTAWAI

a.

TUA PEJAT

35, 43, 102, 110, 169, 177

b.

P. SIBERUT

3, 11, 70, 78, 137, 145

c.

KEP. PAGAI

51, 59, 118, 126, 185, 193

IV.

PROPINSI RIAU

A. RADIO SIARAN KELAS B

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KOTA PEKANBARU

1, 9, 17, 25, 33, 41, 49, 68, 76, 84, 92, 100, 108, 116,

135, 143, 151, 159, 167, 175, 183

B. RADIO SIARAN KELAS C

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KAB. BENGKALIS

(41)

2

KOTA DUMAI

39, 47, 55, 106, 114, 122, 130, 173, 181, 189, 197

3

KAB. SIAK

a.

SIAK

37, 45, 104, 112, 120, 171, 179, 187

b. MANDAU

61,

128,

195

4

KAB. ROKAN HILIR

a.

UJUNG TANJUNG

3, 11, 19, 27, 70, 78, 86, 94, 137, 145, 153, 161

5

KAB. KAMPAR

a.

BANGKINANG

5, 13, 21, 29, 72, 80, 88, 96, 139, 147, 155, 163

6

KAB. PELALAWAN

a.

PANGKALAN KERINCI 3, 11, 19, 27, 70, 78, 86, 94, 137, 145, 153, 161

7

KAB. ROKAN HULU

a. PASIR

PENGAIRAN

35, 43, 51, 59, 102, 110, 118, 126, 169, 177, 185,

193

8

KAB. INDRAGIRI HULU

a.

RENGAT

7, 15, 23, 31, 74, 82, 90, 98, 141, 149, 157, 165

9

KAB. INDRAGIRI HILIR

a.

TEMBILAHAN

51, 59, 102, 110, 118, 126, 169, 177, 185, 193

10

KAB. KUANTAN SENGINGI

a.

TELUK KUANTAN

43, 51, 59, 67, 110, 118, 126, 134, 177, 193

V.

PROPINSI KEPULAUAN RIAU

A. RADIO SIARAN KELAS C

1

KAB. KEPULAUAN RIAU

a. TANJUNG PINANG

1, 11, 46, 108, 157, 178

b. P. SINGKEP

19, 27, 70, 78, 86, 94, 137, 145, 153, 161

2

KOTA TANJUNG PINANG

Idem No. 1.a

3

KOTA BATAM

5, 34, 42, 132, 140, 148, 186, 195

4

KAB. NATUNA

(42)

VI.

PROPINSI JAMBI

A. RADIO SIARAN KELAS B

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KOTA JAMBI

2, 10, 18, 26, 34, 42, 50, 69, 77, 85, 93, 101, 109,

117, 136, 144, 152, 160, 168, 176, 184

B. RADIO SIARAN KELAS C

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KAB. MUARA JAMBI

a.

SENGETI

55, 63, 122, 130, 189, 197

2

KAB. BATANG HARI

a.

MUARA BULIAN

30, 38, 97, 105, 164, 172

b.

MUARA TEMBESI

46, 113, 180

3

KAB. TANJUNG JABUNG

TIMUR

a.

MUARA SABAK

6, 14, 22, 73, 81, 89, 140, 148, 156

4

KAB. TANJUNG JABUNG

BARAT

a.

KUALA TUNGKAL

32, 40, 48, 56, 99, 107, 115, 123, 166, 174, 182, 190

5

KAB. TEBO

a.

TEBO

4, 12, 20, 28, 71, 79, 87, 95, 138, 146, 154, 162

6

KAB. BUNGO

a. MUARA

BUNGO

36, 44, 52, 60, 103, 111, 119, 127, 170, 178, 186,

194

7

KAB. MERANGIN

a. BANGKO

40, 48, 56, 64, 107, 115, 123, 131, 174, 182, 190,

198

8

KAB. SAROLANGUN

a.

SAROLANGUN

8, 16, 24, 32, 75, 83, 91, 99, 142, 150, 158, 166

9

KAB. KERINCI

a.

SUNGAI PENUH

1, 9, 17, 25, 68, 76, 84, 92, 135, 143, 151, 159

(43)

VII.

PROPINSI SUMATERA SELATAN

A. RADIO SIARAN KELAS B

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KOTA PALEMBANG

1, 9, 17, 25, 33, 41, 49, 68, 76, 84, 92, 100, 108, 116,

135, 143, 151, 159, 167, 175, 183

B. RADIO SIARAN KELAS C

NO WILAYAH

NOMOR

KANAL

1

KAB. OGAN KOMIRING ILIR

a.

KAYU AGUNG

5, 13, 21, 29, 72, 80, 88, 96, 139, 147, 155, 163

2

KOTA PRABUMULIH

37, 45, 57, 104, 112, 124, 171, 179, 191

3

KAB. MUSI BANYU ASIN

a.

SEKAYU

4, 12, 20, 28, 71, 79, 87, 95, 138, 146, 154, 162

4

KAB. MUSI RAWAS

a.

LUBUK LINGGAU

1, 9, 17, 25, 68, 76, 84, 92, 135, 143, 151, 159

b.

MUARA LAKITAN

36, 44, 103, 111, 170, 178

c.

RUPIT

52, 60, 119, 127, 186, 194

5

KOTA LUBUK LINGGAU

Idem No. 4.a

6

KAB. LAHAT

a.

LAHAT

3, 11, 19, 27, 70, 78, 86, 137, 145, 153

b.

TEBING TINGGI

39, 47, 106, 114, 173, 181

7

KOTA PAGAR ALAM

35, 43, 102, 110, 169, 177

8

KAB. OGAN KOMERING ULU

a.

BATU RAJA

22, 30, 39, 47, 89, 97, 106, 114, 156, 164, 173, 181

b.

MARTAPURA

51, 59, 118, 126, 185, 193

c.

MUARA DUA

4, 12, 71, 79, 138, 146

9

KAB. MUARA ENIM

a.

MUARA ENIM

32, 50, 66, 91, 99, 117, 133, 158, 166, 184

b.

GUNUNG MEGANG

7, 15, 74, 82, 141, 149

Gambar

Tabel berikut ini menjelaskan mengenai Eu (dBµV/m) berdasarkan pengelompokan  daerah lokasi pesawat penerima
Tabel berikut ini memberikan perbandingan antara pemilihan spasi kanal 500 kHz, 800  kHz
FIGURE  18 Effective clearance angle
FIGURE 19 Terrain clearance angle

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis bobot badan dengan Anova pada signifikansi 5% menunjukkan bahwa suplemen teh kombucha, kayu manis dan atau kombinasinya berpengaruh nyata terhadap

Berdasarkan data statistik, meskipun arus kontainer konvensional di Terminal Berlian mengalami peningkatan yang signifikan sekitar 6.77% per tahun, namun terlihat

terhadap Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan industri (Y 3 ) di Kota Purwakarta menunjukan bahwa hubungan tersebut sangat rendah karena mempunyai nilai r 0,06. Hal ini disebabkan

Klon TS-2, FBA-4, dan MF-II merupakan klon yang diminati industri dengan nilai kerusakan hasil goreng hanya 1% untuk klon TS-2 dan 9% untuk MF-II sementara varietas

PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR DALAM PEMBUATAN PAVING STONE GEOPOLMER BERBAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO DAN ABU TERBANG TERHADAP KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS

Game Wayang Fighter dapat mengenalkan Cerita Mahabharata kepada pengguna yang dibuktikan dengan hasil kuesioner yaitu sebesar 66% pengguna mengatakan setuju setelah

Gambaran umum lanjutan dari gambaran umum aplikasi keseluruhan adalah gambaran umum proses yang merupakan gambaran hasil yang diharapkan dari sebuah proses Rancang

anggota keluarga; (9) Fungsi VIIIa Seorang anggota keluarga kekurangan sesuatu/ingin dapat sesuatu; (10) fungsi IX Malapetaka atau kekurangan diberitahukan