Halaman
ABSTRAK ……….. ... ... i
KATA PENGANTAR ………... ii
LEMBAR PERSETUJUAN... iv
DAFTAR ISI………...… ... ... v
LEMBAR PERNYATAAN……….. viii
DAFTAR GAMBAR ………... ix
DAFTAR TABEL ……… x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………... 1
B. Identifikasi Masalah……….. ... ... 8
C. Rumusan Masalah……….. ... ... 9
D. Pembatasan Masalah………... 9
E. Definisi Operasional………. ... ... 10
F. Hipotesis Penelitian………. ... ... 12
G. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12
BAB II LANDASAN TEORITIS A. Hakikat Belajar dan Pembelajaran ... 17
B. Pembelajaran Mandiri ... 26
C. Pembelajaran E-learning ... 33
D. Pembelajaran Berbasis Modular ... 48
E. Prestasi Belajar ... 56
F. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ... 63
G. Paradigma Penelitian ... 81
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitan……….. ... ... 89
E. Pengembangan Instrumen Penelitian……… ... ... 95 F. Prosedur Pengolahan Data………... 98 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Peneltian ... 99 B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 111
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan ... 128 B. Rekomendasi ... 129 DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Salah satu pasal dalam UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, tercantum bahwa pemerintah dan pemerintah daerah
berhak mengarahkan, membimbing, membantu dan mengawasi
penyelenggara pendidikan. Pembangunan pendidikan dewasa ini merujuk pada
tiga pilar pendidikan nasional, yaitu: (1) pemerataan dan peningkatan
aksesibilitas; (2) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing; dan (3) penguatan
tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.
Pembangunan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merujuk
kepada visi pendidikan menengah kejuruan, yaitu : “Terwujudnya SMK yang
dapat menghasilkan tamatan berjiwa wirausaha yang siap kerja, cerdas,
kompetitif, dan memiliki jati diri bangsa, serta mampu mengembangkan
keunggulan lokal dan dapat bersaing di pasar global”.
Dalam visi tersebut dikembangkan ke dalam Misi Direktorat Pembinaan
SMK, yaitu :
1. Meningkatkan perluasan dan pemeratan akses SMK yang bermutu untuk semua lapisan masyarakat.
2. Meningkatkan kualitas SMK melalui penerapan sikap disiplin, budi pekerti luhur, berwawasan lingkungan dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yang konstektual berorientasi TIK.
4. Menciptakan lulusan SMK yang lentur terhadap berbagai perubahan teknologi dan lingkungan bisnis pada tingkat nasional maupun internasional melalui penguatan aspek matematik terapan, sain terapan, ICT dan bahasa internasional.
5. Memperkuat tata kelola SMK melalui penerapan sistem managemen mutu berbasis ISO 9001: 2008.
6. Menciptakan citra baik SMK melalui berbagai media komunikasi.
Link and match adalah kebijakan Departemen (Kementerian) Pendidikan
dan Nasional Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan
relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yaitu relevansi dengan kebutuhan
pembangunan umumnya dan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia
industri khususnya. Beberapa prinsip yang dipakai sebagai strategi dalam
kebijakan Link and Match diantaranya adalah model penyelenggaraan Pendidikan
Sistem Ganda (PSG).
PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan
keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program
pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui
kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat
keahlian profesional tertentu. Pada hakekatnya PSG merupakan suatu strategi
yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif
yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku pendidikan di
tingkat SMK, masyarakat dan dunia usaha/industri dalam menyikapi perubahan
dinamika tersebut.
Disisi lain keberadaan siswa di dunia usaha/ industri pada saat
melaksanakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) menjadikan kendala bagi guru
Nasional (Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris), terbukti daya serap
khususnya pada mata pelajaran Matematika memiliki nilai yang jauh dari
memuaskan.
Berdasarkan data dari Pusat Penilaian Pendidikan diperoleh data untuk
mata pelajaran Matematika Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2008/2009 diperoleh
sebagai berikut :
Sumber http://www.puspendik.info/un09/laphasil/index.html
Dari data di atas, nampaklah bahwa nilai Matematika terendah 3,50,
sedangkan kalau dilihat dari norma kelulusan Ujian Nasional bahwa nilai terkceil
adalah 4,00.
Keberadaan siswa yang sedang melaksanakan Pendidikan Sistem Ganda
menjadikan jarak antara Guru dengan siswa sangat tidak memungkinkan
dilakukan pembelajaran konvensional dalam pengertian tidak terjadi tatap muka
secara langsung. Perbedaan lokasi tersebut menuntut keterampilan guru untuk
mengemas materi atau bahan ajar, sehingga meskipun tidak terjadi tatap muka
Banyak usaha yang telah dilakukan oleh sekolah, khususnya para guru
untuk membekali siswa agar belajar mandiri dalam rangka pencapaian
kompetensi, diantaranya adalah dengan memberikan modul materi pembelajaran,
baik itu berupa hard copy maupun softcopy yang dikemas melalui e-learning
maupun perpustakaan digital.
Hasil pengkajian Shadiq (2007: 48-49), menunjukkan bahwa hampir
sebagian besar guru matematika menggunakan cara - cara tradisional pada proses
pembelajarannya. Mereka masih menggunakan paradigma lama bahwa
pengetahuan sepertinya dapat dipindahkan dari otak guru ke otak siswa. Strategi
pembelajaran seperti dilakukan guru matematika seperti itu lebih menekankan
pada kemampuan mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) dan
kurang atau malah tidak menekankan kepada siswa untuk bernalar (reasoning),
memecahkan masalah (problem-solving), komunikasi (communication), ataupun
pada pemahaman (understanding) sebagaimana yang dituntut Permendiknas
No. 22 Tahun 2006. Karena itu, salah satu alternatif pemecahan masalah
pembelajaran ini adalah dengan memanfatkan TIK.
Pendapat tersebut dikuatkan oleh Salman (2008:56), mengatakan bahwa :
Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran matematika dapat menjadikan
pembelajaran menjadi lebih menarik, meningkatkan aktifitas belajar siswa yang
pada akhirnya meningkatkan hasil belajarnya, hal ini sejalan dengan pendapat
Adianto Ridwan (2009: 127) dalam tesisnya yang menyatakan :
“Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan minat belajar. Hal ini dapat dilihat dari perasaan senang siswa yang meliputi 1) siswa tidak bosan dalam menerima materi mencapai 65%, 2) siswa aktif dalam pembelajaran mencapai 73%, 3) siswa aktif dalam tanya jawab meningkat mencapai 70%. Perhatian siswa juga mengalami peningkatan meliputi aspek: 1) siswa tidak melamun selama pembelajaran mencapai 62%, 2) perhatian siswa tertuju pada proses pembelajaran mencapai 65%. Kemauan siswa juga mengalami peningkatan meliputi aspek: 1) siswa berani mengemukakan ide mencapai 78%, 2) siswa mengerjakan tugas sendiri di kelas mencapai 76%. Kesadaran siswa juga mengalami peningkatan meliputi aspek: 1) siswa tidak terlambat masuk kelas mencapai 73%, 2) kesiapan siswa dalam menerima materi mencapai 70%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran dengan memanfaatkan software Delphi dapat meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran matematika”.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pada tahap awal lebih
terkonsentrasi pada penggunaan teknologi informasi sebagai media pendukung
pembelajaran di kelas, Contoh nyata dari penerapan ini adalah pembuatan materi
ajar dengan power point, penyampaian materi ajar dikelas dengan LCD proyektor,
pengumpulan tugas melalui email, pencarian data dan informasi dengan fasilsitas
internet dan lain sebagainya. Pada prinsipnya teknologi informasi dan komunikasi
dapat dimanfaatkan lebih lanjut dengan mengadopsi konsep e-learning atau
mobile learning.
Karakteristik pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan TIK
adalah bersifat tidak tergantung terhadap waktu dan tempat, menyediakan fasilitas
konteks siswa yang sedang melaksanakan sistem ganda, diperlukan alternatif
pembelajaran yang bersifat tidak tergantung waktu dan tempat artinya dapat
dilakukan dimana saja dan kapan saja. Selain hal itu juga perlu visualisasi
pengetahuan sehingga materi pembelajaran menjadi lebih menarik dan mudah
dipahami oleh siswa. Karakteristik ini diperlukan karena mengingat fasilitas fisik
(kelas) yang rusak sehingga diperlukan kelas yang bersifat virtual/maya dan
penyampaian materi yang menarik sehingga mampu memberikan suasana
pembelajaran yang baru. Suasana baru tersebut di harapkan dapat memberi solusi
terhadap kejenuhan siswa akibat ruang kelas yang mengalami kerusakan.
Agar menghasilkan tamatan yang mempunyai kemampuan seperti yang
diharapkan pada kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan diperlukan perencanaan,
dan pengembangan pelajaran untuk penguasaan kompetensi secara sistematis dan
terpadu agar siswa menguasai kompetensi secara tuntas.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan
guru tidak lagi berperan sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran, karena
pembelajaran dapat dilakukan dengan mendayagunakan aneka ragam sumber
belajar, demikian halnya siswa harus dapat belajar dengan baik tanpa didampingi
oleh guru.
Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal siswa dituntut tidak hanya
mengandalkan diri dari apa yang terjadi di dalam kelas. Tetapi harus mampu dan
mau menelusuri aneka ragam sumber belajar yang diperlukan. Pada hakekatnya
sumber belajar yang ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan
terbatas dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari
berbagai format yang digunakan oleh guru maupun siswa. Sumber belajar akan
menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar
diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat
memanfaatkan sebagai sumber belajar.
Sumber belajar harus bisa dimanfaatkan secara efektif sehingga dapat
dipergunakan secara tepat sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan, walaupun
pada hakikatnya tidak ada satu sumber belajar pun yang dapat memenuhi segala
macam keperluan belajar mengajar.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan metode tertentu
mampu mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dan meningkatkan hasil
pembelajaran baik secara proses maupun product (nilai). Penelitian tentang
penggunaan strategi-strategi pembelajaran yang mengaktifkan siswa dilakukan
secara spesifik terhadap metode atau strategi tertentu. Berikut beberapa hasil
penelitian berdasarkan pemilihan strategi tertentu:
1. Implementasi program PSG dan motivasi belajar berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian Akuntansi (Nihayati,
Saidah. 2008), hasil penelitiannya mengungkapkan:
Dalam penelitian itu dibahas tentang pentingnya peranan PSG
terhadap Motivasi, dan rekomendasi yang disarankan adalah pengelolaan
PSG antara pihak Dunia Usaha/Dunia Industri (DUDI) serta pengelola.
2. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda (PSG) terhadap Daya Adaptif Kerja
Siswa SMK (Bawuk Supalan, 2008). Pada penelitian tersebut, peneliti
menemukan bahwa :
“(1) Evaluasi PSG ternyata kurang dilaksanakan sesuai dengan standar yang berlaku, (2) Komunikasi formal maupun non formal antara SMK dengan DU/DI perlu ditingkatkan. (3) Pengawasan dari pihak terkait dalam PSG masih perlu ditingkatkan”.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bermaksud menemukan
perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran
e-learning dengan kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis
Modular di SMK Negeri 1 Kota Serang. Dengan mengamati hasil belajar siswa
berdasarkan penelitian ini, diharapkan para pengajar di lapangan dapat memonitor
kemjuan siswa dalam pelaksanaan belajar mandiri.
B. Identifikasi Masalah
Pelaksanaan sistem ganda pada Sekolah Menengah Kejuruan dilaksanakan
pada dunia usaha dan dunia industri yang ada di sekitar sekolah. Selama siswa
mengikuti program ini pembelajaran harus tetap dilaksanakan oleh siswa, salah
satu pilihannya adalah pembelajaran jarak jauh (distance learning). Terkait hal
ini, maka dalam penelitia ini beberapa permasalahan diidentifikasi agar
memudahkan dalam memfokuskan permasalahan. Hasil identifikasi terhadap
permasalahan tersebut adalah :
2. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran jarak jauh (distance
learning) pada mata pelajaran matematika dengan menggunakan modul ?
3. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran jarak jauh (distance
learning) pada mata pelajaran matematika dengan menggunakan e-learning ?
C.Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh model pembelajaran e-learning pada mata pelajaran
Matematika terhadap peningkatan prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1
Kota Serang?
2. Bagaimana pengaruh model pembelajaran modular pada mata pelajaran
Matematika terhadap peningkatan prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1
Kota Serang ?
3. Bagimana perbedaan hasil belajar model pembelajaran e-learning dan
model pembelajaran modular pada pembelajaran matematika di SMK
Negeri 1 Kota Serang ?
D.Pembatasan Masalah
1. Penelitian bersifat analitis dengan disertai pembuatan angket, pengambilan
data, analisis serta kesimpulan penelitian.
2. Penelitian dilakukan pada Mata Diklat Matematika, yang diikuti oleh siswa
kelas XI Program Keahlian Keuangan Kompetensi Keahlian Akuntansi
E.Definisi Operasional
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah suatu model pendidikan yang ada
di SMK dimana pelaksanaan pembelajarannya dilaksanakan pada dunia usaha dan
atau dunia industri. PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan
pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron
program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh
melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu
tingkat keahlian profesional tertentu. Setiap siswa peserta PSG harus tetap
melaksanakan pembelajaran sesuai standar kompetensi lulusan yang
dipersyaratkan, salah satu model pilihan pembelajaran adalah pembelajaran jarak
jauh (distance learning), baik menggunakan e-learning maupun modular.
Menurut Allan J. Henderson, e-learning adalah pembelajaran jarak jauh
yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning
Question and Answer Book, 2003:9). Henderson menambahkan juga bahwa
e-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat
mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas.
William Horton menjelaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis
web (yang bisa diakses dari Internet).
Dalam konteks penelitian ini pembelajaran e-learning dipergunakan pada
mata pelajaran matematika siswa peserta program PSG kelas XI Kompetensi
Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Kota Serang. Setiap siswa mengikuti proses
pembelajaran, dari mulai pretes, kegiatan belajar yang meliputi Kompetensi
kompetensi tersebut. Setiap individu siwa tidak perlu tatap muka di kelas, akan
tetapi dengan mengikuti konten e-learning yang sudah disiapkan di web sekolah.
Pembelajaran modular yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu
proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara
sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai
dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. Pada penelitian ini modul yang
dimaksud memuat kompetensi dasar: baris dan deret. Modul ini diberikan pada
siswa sebelum melaksanakan Pendidikan Sistem Ganda.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses
pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi
kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan
belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat
menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk
keseluruhan kelas maupun individu. Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam hasil
belajar yaitu : (a). Keterampilan dan kebiasaan; (b). Pengetahuan dan pengertian;
(c). Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan
yang ada pada kurikulum sekolah, (Nana Sudjana, 2004:22). Sedangkan mengenai
prestasi belajar. Muray dalam Beck (1990 : 290) mendefinisikan prestasi sebagai
berikut :
“To overcome obstacle, to exercise power, to strive to do something difficult as
“Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan,
berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin”.
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan
kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi
lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal,
sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110)
bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan
psikomotorik. Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat
dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi
dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses
pembelajaran.
Dalam penelitian ini prestasi belajar diukur dari sejauhmana perubahan
perolehan skor pretes postes siswa peserta PSG setelah mengikuti pembelajaran
jarak jauh (distance learning), baik pada kelompok e-learning maupun modular
pada kompetensi (1) baris dan deret.
F. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1 = Terdapat pengaruh model pembelajaran e-learning pada mata diklat
Matematika terhadap peningkatan prestasi belajar siswa di SMK
Negeri 1 Kota Serang.
H2 = Terdapat pengaruh model pembelajaran Modular pada mata diklat
Negeri 1 Kota Serang.
H3 = Terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang
menggunakan model pembelajaran e-learning dengan kelompok siswa
yang menggunakan model pembelajaran modular.
G.Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran e-learning pada mata
pelajaran Matematika terhadap peningkatan hasil belajar siswa di SMK
Negeri 1 Kota Serang .
b. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran modular pada mata
pelajaran Matematika terhadap meningkatkan hasil belajar siswa di SMK
Negeri 1 Kota Serang .
c. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar model pembelajaran e-learning
dan model pembelajaran modular pada pembelajaran matematika di SMK
Negeri 1 Kota Serang.
2. Manfaat Penelitian
Secara teoritis penelitian ini diharapkan memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan melalui penelitian hasil pembelajaran e-learning pada pembelajaran
matematika dalam Pendidikan Sistem Ganda
Manfaat praktis yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah
a. Bagi siswa, mengoptimalkan pencapaian hasil belajar siswa melalui
sehingga dapat melalui tahap perkembangan siswa secara maksimal yang
menghargai asas perbedaan individual pada pembelajaran yang bermakna;;
b. Bagi guru, membuka wawasan para guru untuk memperluas pengetahuan dan
keterampilan dalam mengemas bahan ajar dalam bentuk modular dan
e-learning mengaktifkan siswa dalam proses pencapaian pengetahuan mereka,
sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa.
c. Bagi sekolah, meningkatkan kualitas sekolah melalui peningkatan hasil
belajar siswa.
d. Bagi pemegang kebijakan, memberikan bukti pentingnya pelatihan
kemampuan pengelolaan pembelajaran yang berbasis siswa untuk
meningkatkan hasil pembelajaran di kelas.
e. Bagi dunia pendidikan secara umum, sebagai dasar bagi penelitian
berikutnya.
f. Sebagai masukan bagi peneliti selanjutnya.
H. Paradigma Penelitian
Seiring dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman, dunia
pendidikan juga mengalami perkembangan. Perkembangan yang dimaksud adalah
sebuah pendekatan baru dalam dunia pendidikan yang menerapkan sistem
Pendidikan Jarak Jauh (Distance Learning). Pendidikan Jarak jauh dianggap
sebagai salah satu sistem pemberian layanan pendidikan yang sifatnya innovatif.
Ciri khas utamanya adalah adanya keterpisahan antara pendidik dengan peserta
Ketika siswa SMK mengikuti Program PSG, maka secara fisik mereka
tidak ada di lingkungan sekolah, akan tetapi mengikuti praktek kerja di dunia
usaha dan atau dunia industri. Untuk melaksanakan proses pembelajatran pada
beberapa mata diklat, siswa tidak diharuskan setiap harinya datang ke sekolah
untuk mengikuti pembelajaran secara klasikal. Pendidikan jarak jauh jelas
merupakan pilihan yang tepat pada kasus tersebut, model yang selama ini
dilaksanakan pada sebagian besar SMK adalah sistem modular. Dalam penelitian
ini, selain sistim modular, juga diterapkan system e-learning, dimana keduanya
diterapkan dalam mata pelajaran matematika pada siswa kelas XI Kompetensi
Keahlian Akutansi peserta PSG SMKN 1 Kota Serang. Tujuan penerapan kedua
jenis pendidikan jarak jauh ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan pada masing-masing jenis
pendidikan jarak jauh tersebut, baik e-learning maupun modular, setiap kelompok
siswa peserta PSG yang menjadi sampel penelitian ini diberikan treatment yang
berbeda, dimana pada akhirnya dilakukan pengukuran dengan instrumen yang
sama. Dengan berbagai kelebihan e-learning yang mampu meningkatkan aktivitas
belajar siswa, maka diharapkan siswa pada kelompok ini akan mendapatkan
prestasi belajar yang lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran menggunakan modul. Perbedaan gain pretes dan postes
pada kedua kelompok tersebut dibandingkan, serta dikaji untuk dijadikan bahan
pertimbangan dalam penerapan selanjutnya. Secara visual, paradigma dari
Gambar 1.1 Paradigma Penelitian
Siswa Peserta PSG
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
Pretes
Perlakuan (Treatmen)
pembelajaran matematika menggunakan
e-learning
pembelajaran matematika menggunakan
modul
Postes
89 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini dirancang secara kuantitatif dengan rancangan Kuasi
Eksperimen. Pemilihan Kuasi Eksperimen ini berdasarkan pendapat yang
menyatakan bahwa :
1. Suatu Kuasi Eksperimen adalah satu situasi yang dijadikan sebagai
eksperimen walaupun situasi tersebut tidak dirancang secara keseluruhan,
variabel independen tidak boleh dimanipulasi oleh peneliti, kelompok
penanganan dan kontrol tidak bisa secara acak atau dicocokkan, bisa jadi
tidak ada kelompok kontrol. Para peneliti dibatasi dengan apa yang dapat ia
simpulkan saja;
2. Dalam kuasi eksperimen, para peneliti tidak dapat secara langsung
memanipulasi variabel-variabel berikut: variabel subjek yang utama (umur,
jenis kelamin, berat badan, jenis penyakit, dan sebagainya).
3. Kuasi eksperimen: menggambarkan bahwa kekurangan yang ada pada setiap
kontrol berpengaruh kepada percobaan (penelitian) yang sesungguhnya
a. "suatu penelitian menggambarkan bahwa prosedur dalam penelitian telah
diterapkan namun seluruh variabel ekstra yang ada di dalamnya tidak
dikontrol "
Satu tujuan yang ditekankan dalam melakukan penelitian kuasi eksperimen
adalah untuk mempersingkat periode waktu yang lama dan memangkas sejumlah
kejadian-kejadian yang berbeda untuk dijadikan sebagai kontrol terhadap berbagai
macam penanganan demi valitidas dan realitas. Harapannya adalah bahwa desain
tersebut dapat menggeneralisasikan keseluruhan secara baik, menemukan hal-hal
yang realistis dan menyatakan kepada kita mengenai dampak dari waktu itu
sendiri, kenyataannya, pada serial waktu yang tidak terpotong, biasanya variabel
bebasnya adalah waktu itu sendiri, seperti contoh jika anda mengamati naik
turunnya angka kejahatan yang berdampak pada perubahan dalam masayarakat
setiap saat, hampir semua kuasi eksperimen dimaksudkan sebagai apapun bentuk
kreatvitas kegiatan atau kegiatan yang tidak biasa yang mereka lakukan yang
dapat berdampak sebagai penyebab sesuatu terjadi, ini menjadi suatu peristiwa
karena kita tidak menggunakan ekperimen yang sesungguhnya pada saat kita
memanipulasi beberapa variabel bebas untuk mendapatkan sebab akibat tersebut
(kausalitas), jika tidak kita harus memiliki data-data statistik dan beberapa
inventarisasi yang dapat secara alami dicocokan (seperti halnya passage of law)
atau yang dibuat oleh peneliti (seperti halnya beberapa kampanye hubungan
masyarakat)
B. Desain Penelitian
Desain yang digunakan adalah The Matching Only Pretest-Postest Control
Group (Fraenkel & Wallen, 1993: 243). Desain penelitian ini digambarkan
Gambar 3.1 Desain Penelitian
Keterangan:
O : Pengukuran awal (pre test) dan pengukuran akhir (post test)
M : Matching subjects untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen
XA : Perlakuan pembelajaran di kelas eksperimen
XB : Perlakuan pembelajaran di kelas kontrol
Sesuai dengan pendapat Fraenkel & Wallen (1933:243) the matching
subjects adalah subjek penelitian ini yang tidak di tetapkan secara acak tetapi
dengan cara mencocokkan subjek yang berada dalam kelompok eksperimen
dengan kelompok kontrol pada variabel penelitian. Pencocokan ini dilakukan
untuk meyakinkan bahwa kedua kelompok ekuivalen dan homogen dalam
variabel tersebut. Anggota dari masing-masing pasangan yang dicocokan
kemudian ditetapkan menjadi kelompok eksperimen dan kontrol secara mekanis.
Dengan kata lain, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperbolehkan
setelah siswa diberi perlakuan prates yang berhubungan dengan variabel dependen
penelitian. Berikut ini hasil ujian homogenitas kedua kelompok berdasarkan skor
prates mereka, dimana berdasarkan uji tersebut tampak bahwa kedua kelompok
homogen sampai tingkat 0.029, yang berarti kedua kelompok dapat dikatakan
homogen dengan tingkat kepercayaan 97.1%. Ini berarti kedua kelompok dapat Treatment group O M XA O
dijadikan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada penelitian dengan
tingkat kepercayaan 95%.
Tahap awal penelitian dilakukan kajian terhadap pembelajaran yang
umumnya berlangsung di sekolah dan hasil belajar siswa berupa nilai yang
terkumpul ketika di akhir semester.
Langkah berikutnya adalah mempersiapkan penelitian dengan menyiapkan
instrumen penelitian untuk mengumpulkan data. Data yang terkumpul kemudian
diolah dengan menggunakan SPSS untuk mengolah data hasil belajar siswa, serta
meneliti perbedaan proses pembelajaran yang berlangsung pada kelas kontrol dan
kelas eksperimen.
Hasil pengolahan data dilaporkan sebagai laporan penelitian yang
memberikan sejumlah rekomendasi logis.
C. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di SMK Negeri 1 Kota Serang Populasi
penelitiannya adalah siswa SMK Negeri 1 Kota Serang dengan sampel penelitian
adalah siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Akuntansi pada sekolah tersebut.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kota Serang memiliki
infrasturktur yang memadai, terdapat akses internet dengan lebar pita jaringan 4,5
MBPs yang terdiri dari 2 jalur masing2 MBPS akses speedy dan 0,5 MB akses
Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). Memiliki Unit Kegiatan Information
Communication Technology (ICT) Kabupaten dan Kota Serang sebagai simpul
jaringan Internet Pendidikan, sehingga pemilihan sekolah ini juga dengan
maka akan memberikan imbas pada SMK Aliansi yang menjadi binaan SMK
Model. Selain itu, peneliti bekerja pada SKMN 1 Kota Serang.
Ruang Lingkup bahan kajian Matematika SMK untuk Kompetensi
Keahlian Akuntansi Standar Kompertensi Menerapkan konsep barisan dan deret
dalam pemecahan masalah, dengan :
D. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Tes adalah
serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok. Jenis tes yang digunakan adalah tes prestasi atau
achievement test , yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian
seseorang setelah mempelajari sesuatu. Tes prestasi diberikan sesudah orang yang
dimaksud mempelajari hal-hal yang sesuai dengan yang akan diteskan. Sebagai
instrumen penelitiannya digunakan butir-butir soal tes yang masing-masing
mengukur satu variabel.
Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini adalah data mengenai hasil
tes awal siswa sebelum diberi perlakuan pembelajaran, data pelaksanaan
perlakuan, dan data hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan.
Data kemampuan awal siswa didapat dengan memberikan tes awal atau
pretest sebelum pembelajaran dilaksanakan. Kemampuan yang dimaksud adalah
kemampuan pada ranah kognitif dengan variasi tingkatannya. Instrumen yang
digunakan berupa butir-butir soal. Butir butir soal yang sama diberikan untuk
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pemberian tes awal ini dimaksudkan untuk
mengetahui kemampuan awal siswa sebagai titik tolak pembelajaran.
Data pelaksanaan perlakuan diperlukan untuk memonitor perbedaan
aktivitas siswa dalam pembelajaran pada kelompok kontrol dan pembelajaran
pada kelompok eksperimen. Hal ini penting untuk membuktikan perbedaan yang
datanya melalui observasi pada saat pelaksanaan pembelajaran, wawancara
dengan guru sebelum dan sesudah pelaksanaan, serta mewawancarai beberapa
siswa.
Data kemampuan hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan berupa
posttest dengan soal yang sama yang digunakan pada pretest. Pengumpulan data
dilakukan setelah proses pembelajaran pada kelas kontrol dan kelas eksperimen
selesai dilaksanakan. Pengumpulan data hasil belajar siswa setelah perlakuan
belajar dimaksudkan untuk mendapatkan perbedaan pencapaian nilai dari titik
awal mereka mulai pada saat pre test.
E. Pengembangan Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen berbentuk tes untuk mendapatkan
data, yaitu data kemampuan awal dan akhir siswa (pre test dan post test).
Pemberian tes awal dan tes akhir diberikan secara nyata dan disadari oleh siswa
sebagai sebuah situasi tes.
Sebelum memberikan tes, peneliti menyusun kisi-kisi, yaitu sebuah tabel
yang menunjukkan hubungan antara konsep-konsep yang ingin dicapai dengan
butir soal yang sesuai. Penyusunan kisi-kisi ini dimaksudkan agar :
1. Peneliti memiliki gambaran yang jelas dan lengkap tentang jenis instrumen
dan isi dari butir-butir soal yang akan disusun.
2. Peneliti mendapat pedoman dalam penulisan butir tes.
3. Instrumen yang disusun menjadi sistematis.
4. Peneliti mendapatkan “peta perjalanan” pengumpulan data.
Setelah penyusunan kisi-kisi, peneliti menyusun instrumen penelitian
dengan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1. Perencanaan, meliputi perumusan tujuan dan pembuatan tabel spesifikasi.
2. Penulisan butir soal.
3. Penyuntingan.
4. Uji coba.
5. Analisis hasil uji coba.
6. Mengadakan revisi terhadap item tes yang tidak valid dan reliabel.
Uji coba dilakukan untuk mendapatkan item tes yang memenuhi standar
validitas dan reliabilitas, sehingga data yang didapat akan merupakan data yang
valid dan reliabel. Validitas dan reliabilitas dalam penelitian merupakan
penggambaran variabel yang diteliti, dan berfungsi sebagai alat pembuktian
hipotesis. Instrumen yang memenuhi standar validitas dan reliabilitas akan
menghasilkan data yang valid dan reliabel yang akhirnya akan memberikan
kesimpulan yang sesuai dengan kenyataan.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen yang valid mampu mengukur apa
yang diinginkan dan dapan mengungkap data yang tepat dari variabel yang
diteliti. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data
yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang
dimaksud. Untuk memperoleh instrumen yang valid, peneliti mengikuti
langkah-langkah penyusunan instrumen, yakni memecah variabel menjadi sub variabel dan
Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup
dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data. Instrumen
yang baik tidak akan memiliki sifat tendensius yang akan mengarahkan responden
untuk memilih jawaban tertentu. Instrumen yang reliabel akan menghasilkan data
yang reliabel juga. Jika data yang dihasilkan sesuai dengan kenyataannya, maka
meski beberapa kali dat itu diambil dengan instrumen yang sama, hasilnya akan
tetap sama. Reliabilitas merujuk pad tingkat keterandalan sesuatu.
Pada kelas eksperimen, yaitu kelas yang melaksanakan pembelajaran
konvensional, peneliti tidak memberikan pedoman berupa scenario pembelajaran
kepada guru. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran konvensional yang biasa
berjalan, tetap berjalan seperti biasanya. Pada kelas kontrol, yaitu kelas yang
melaksanakan pembelajaran eksperimen, peneliti memberikan pedoman bagi guru
berupa skenario pembelajaran.
Instrumen hasil tes awal siswa berwujud butir-butir soal kognitif dengan
memperhatikan klasifikasi taksonomi Bloom yaitu: pengetahuan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Jumlah item tes direncanakan 20 butir
soal. Pedoman penilaian yang digunakan berupa kunci jawaban yang benar
dengan skor setiap nomor soal.
Sebelum data diolah lebih lanjut dipastikan bahwa data yang diperoleh
melalui instrumen pengumpulan data adalah valid dan reliabel maka dilakukan uji
coba soal. Uji validasi dan reliabilitas butir soal dilakukan di sekolah. Kelas yang
digunakan untuk uji coba validitas dan reliabilitas ini, sudah mendapatkan materi
butir-butir soal. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan, perbedaan waktu
mengajarkan suatu materi menjadi otonomi dan pertimbangan guru kelas dan
sekolah yang bersangkutan.
F. Prosedur Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif yang
diperoleh dari hasil pre test dan post test. Pengolahan data dilakukan terhadap
skor yang diperoleh siswa tanpa melakukan konversi terhadap nilai dalam skala
1-10. Pengubahan skor terhadap skala nilai akan mengubah normalitas data, seperti
yang diungkapkan oleh Endi Nugraha (1993:20) bahwa dalam meneliti suatu
perlakuan, data yang diperoleh jangan diubah ke sistem nilai lain dengan
menggunakan skala sigma.
Adapun pengujian yang dilakukan untuk menganalisis data hasil tes adalah
dengan cara : uji normalitas distribusi, uji homogenitas varians dan uji t.
Sedangkan untuk menguji pengaruh, peneliti menggunakan uji statistik dengan
menggunakan pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software SPSS
128 BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Setelah mengadakan penelitian mengenai pembelajaran e-learning pada
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa,
diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut :
1. Pembelajaran Matematika pada siswa Kelas XI Kompetensi Keahlian
Akuntansi SMK Negeri 1 Kota Serang Tahun Pelajaran 2009/2010 yang
mengikuti program PSG dengan menggunakan e_learning berpengaruh
terhadap peningkatan prestasi belajarnya. Peningkatan prestasi belajar ini
ditunjukan oleh hasil belajar yang menunjukkan peningkatan signifikan
ditinjau dari gain antara skor pre test dan post test. Nilai rata-rata pre tesnya
adalah 4,85 dan nilai rata-rata post testnya adalah 7,95. Data ini menunjukkan
ada peningkatan hasil belajar rata-rata sebesar 38,99 %. Peningkatan signifikan
ini ditunjukkan dengan rata-rata gain yang mencapai angka 3,1. Perbedaan
antara skor pre test dan post test yang sangat jauh ini dipengaruhi oleh proses
pembelajaran menunjang poses kemandirian siswa. Siswa lebih banyak pilihan
dalam menemukan berbagai sumber belajar yang sesuai tuntutan kompetensi
yang harus dikuasi pada berbagai situs pendidikan yang ada.
2. Pembelajaran Matematika pada siswa Kelas XI Kompetensi Keahlian
Akuntansi SMK Negeri 1 Kota Serang Tahun Pelajaran 2009/2010 yang
peningkatan prestasi belajarnya. Peningkatan prestasi belajar ini ditunjukan
oleh hasil belajar yang menunjukkan peningkatan, jika ditinjau dari perubahan
nilai yang didapatkan siswa pada pre test dan post test. Nilai rata-rata pre
tesnya adalah sebesar 5,55, sedangkan nilai rata-rata post testnya adalah 7,00
sehingga didapatkan gain rata-rata sebesar 1,45. Data ini menunjukan ada
peningkatan hasil belajar rata-rata sebesar 20,71 %. Peningkatan ini
dikarenakan terstrukturnya kegiatan pembelajaran yang dikemas dalam modul
tersebut. Siswa diarahkan unuk menguasai materi sesuai urutan pembelajaran
yang ada.
3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar pada kelompok yang
menggunakan e_learning dengan kelompok siswa yang menggunakan modul.
Hasil pembelajaran pada kelompok yang menggunakan e_learning mampu
memberikan hasil belajar yang jauh lebih baik dibandingkan hasil belajar pada
kelompok yang menggunakan Modul. Dengan kata lain tingkat kemandirian
pada kelompok yang menggunakan e_learning lebih baik jika dibandingkan
dengan kelompok siswa yang melakukan pembelajaan matemaka
menggunakan modul.
B. Rekomendasi
Belajar mandiri memposisikan siswa sebagai subyek, pemegang kendali,
pengambil keputusan atau pengambil inisiatif atas belajarnya sendiri. Dengan
demikian, kemampuan dalam mengendalikan atau mengarahkan belajarnya
sendiri merupakan sarat utama bagi pebelajar. Kemampuan dalam mengendalikan
kontinum. Grow (1991) mengklasifikasikan kontinum tersebut kedalam empat
tahap: 1) pebelajar yang tergantung (dependent learner), 2) pebelajar yang tertarik
(interested learner), 3) pebelajar yang terlibat (involved learner) dan 4) pebelajar
mandiri (independent learner).
Dari bebagai kajian teoiis dan hasil-hasil penelitian, ada beberapa
rekomendasi yang disampaikan unuk bebeapa pihak, terkait e_learning,
pembelajaan modular dan belajar mandiri. Adapun rekomendasi yang
dimaksudkan adalah sebagai berikut:
1. Siswa hendaklah menjadi subyek dalam pembelajaran yang berkeinginan
untuk maju dan berkembang serta memiliki potensi untuk memperoleh
pengetahuan melalui proses pembelajaran yang aktif;
2. Guru hendaknya terpacu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang
mereka rancang agar mampu mengoptimalkan pencapaian pengetahuan
siswa, menguasai teknologi informasi yang bekaitan dengan pembelajaran
serta mengaktifkan siswa secara keseluruhan dalam proses pembelajaran;
3. Sekolah hendaknya memfasilitasi dengan berbagai infrastruktur yang
menunjang kearah pembelajaran mandiri, seperti fasilitas internet,
modul-modul pada setiap kompetensi yang haus dikuasai siswa serta berbagai
media dan sumber belaja yang menunjang kearah pembelajaan mandiri.
4. Para pemegang kebijakan hendaknya memberi kesempatan kepada para
guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam
penguasaan teknologi informasi yang menunjang peningkatan kualitas
5. Hasil penelitian ini hendaklah menjadi dasar bagi penelitian berikutnya
demi kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, dan
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. dan Prasetya, Joko Tri. (1987). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Alkitson, Rita. L. dan Atkinson, Richard C. dan Smith, Edward. E. dan Bem, Darly. J. (1987). Pengantar Psikologi. Batam Centre: Interaksara.
Arikunto, S. (1995). Manajemen Penelitian. Jakrta: Rineka Cipta.
... (2006). Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Baynham, M. (1995). Literacy Practicies: Investigation Literacy in Social Context. New York: Longman Group Limited.
Carilah. (2000). Pembelajaran dngan Pendkatan Pemecahan Masalah Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematika Siswa SMA di Bandung. Tesis: tidak diterbitkan.
Cohen, A.D. (1994). Assessing Language Ability in the Classroom. Boston: Heinle & Heinle Publisher.
Coleman, L.J. (1985). Schooling The Gifted. Knoxvile: Addison-Wesley.
Cooper, J.D. (1993). Literacy: Helping Children Construct Meaning. Boston Toronto: Hougton Miffin Company.
Costa, A.L. (1985). DevelopingMinds: A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandria. Virginia: The Association for Supervicion and Curriculum Development.
Creswell, J.W. (1994). Research Design Qualitative & Quantitative Approaches New Delhi: Sage Publications.
Dahar, R.W. (1991). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Dahlan, M.D. (1990). Model-model Mengajar. Bandung: Diponegoro.
Degeng, I.N.S. (1989). Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta: Depdikbud.
Djamarah, Syaiful Bahri. (1997). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Dophan,N.J. (1994). Classroom Assesment: What Teachers Need to Know. Los Angeles: University of California.
Erliza, Raja. (2005) Efektivitas Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Sejarah (Kuasi Eksperimen di kelas VII SMP Lab School UPI Bandung). Tesis: tidak diterbitkan.
Experimental and Quasi-Experimenyal Research Design. Http://faculty.ncwc.edu/toconnor/308/308lect06.com
Feldhusen, J.F. dan D.J. Treffinger. (1986). Creative Thnking and Problem Solving in Gifted education. Lowa: Kendall/Hunt Publ. Co.
Frankel, J.R. & Wallen, N.E. (1993). How to Design and Evaluate Research in Education. Toronto: McGraw – Hill Inc.
Gagne, Robert, M. dan Briggs, Leslie. J. dan Wager, Walter. W. (1992). Principles of Instructional Design. USA: Harcourt Brace Jovanovich College Publishers
Hamalik, O. (1991). Strategi Pelajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Heriyanto, Tedi ([email protected]). (2002). Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kuantitatif. http://tedi.heriyanto.net/papers/aplikasi-stat.html
Isaac, S. dan Michael, W.B. (1981). Hand Book in Research and Education. San Siego: Robert R. Knap Publisher.
Jacobs, H.L., dkk. (1981). Testing ESL Composition: A Practial Approach. Rowley, Massachusetts: Newbury House Publisher, Inc.
Jailani. (2005). Pembelajaran Suhu dan Kalor Berbasis Inkuiri untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Proses Sains Siswa MTs. Tesis: tidak diterbitkan
Jarolimek, J. 1967). Social Study in Elementary Education. London: McMillan Co, Inc.
Joyce B. dan Weil, M. dan Calhoun, E. (2000). Models of Teaching. Bidton London: Allyn and Bacon.
……… (1996). Models of Teaching. Second Edition. Englewood New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Kertiasa, N. (1984). Perkembangan Intelektual Anak Didik. Bandung: P3G IPA.
Kilty, Kevin. (2002). Design Your experiments Part XIV: Quasi Experiments. http//:www.sas.org/E-Bulletin/2002-03-15/features/body.html
Lemlech, Johanna Kasin. (1977). Classroom Management. New York: Harper & Row Publisher.
Makmun, Abin Syamsudin. (2004). Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Miller, J.P. dan Seller, W.(1985). Curriculum Perspective and Practice. New York: Longman.
Munandar, S. C. U. (2002). Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreativitas dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Nasution, S. (2003). Asas-asas Kurikulum.Jakarta:Bumi Aksara
Nitko, A. J. (1996). Educational Assessment of Students. New Jersey: Merrill, an Imprint of Pretice hall.
Oliva, A. dan Balas, Ben. dan Kemp, Charles. (2005). Fall 2005 Lecture 12 Quasi-experiment Designs, Laboratory in Cognitive Science. Dari internet
Oliva, Peter. F. (1992). Developing the Curriculum. USA: Harper Collins Publishers
Parera, J.D.(1982). Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga.
Quasi – Experimental Research. UCD Centre for Teaching and Learning. http://www.ucd.ie/taeching/t&IreasearchMethodologigies_sub/quasi_res...
Research Methods, Quasi Experimental Design.
http://allpsych.com/researchmethods/quasiexperimentaldesign.html.
Roestiyah. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rineka Cipta
Sanjaya, Wina. (2005). Pembelajaran Dalam Implementasi kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Soekamto, T. & Winaputra, U.S. (1994). Teori Belajar dan model-model Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Stern, H.H. (1983). Fundamental Concepts of language Teaching. Oxford: Oxford University Press.
Stinggins, R.J. (1994). Student-Centered Classroom Assessment. New York: Macmillan College Publishing Company.
Sudjana, N. (1996). Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sudjana, N. dan Suwariyah, W. (1991). Model-model Mengajar CBSA. Bandung: Sinar Baru Offset.
Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung:Sinar Baru Algensindo Offest.
... (1989). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya
Sudjana. (1992). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
…….... (1996). Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung: Tarsito.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (1997). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: remaja Rosda Karya.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Program Pascasarjana UPI dan Remaja Rosda Karya.
Suparlan, Asep. (2004). Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Mengembangkan Kemampuan Pemahaman dan Representasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama (Studi Eksperimen pada Siswa Salah Satu SMP di Cirebon). Tesis: tidak diterbitkan.
Suparman, M. Atwi. (2001). Desain Instruksional. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.
Surya, Muhammad (2003). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Jakarta: CV.Mahaputra Adidaya.
Writing Guides Conducting Experiments, Differences Between Experimental and
Quasi-Experimental Research.
Yustami. (2005). Penerapan Keterampilan Proses Sains untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fluida Statik pada Siswa Kelas II SMA. Tesis: tidak diterbitkan.