• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

Insentif Riset SINas 2014

Desain dan Pengujian Alat Pemanen dan Pengepras Tebu

dengan Memodifikasi

dan Memanfaatkan Tenaga

Traktor Roda Dua

RT-2014-1137

Bidang Prioritas Iptek:

10. Teknologi Pangan

10.03 Riset Pengembangan Perkebunan

(Rekayasa Alsin)

Ketua

: Syafriandi, STP., MSi

Anggota

: Hendri Syah, STP., MSi

Susi Chairani, STP,. M.Eng

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Gedung Kantor Pusat Administrasi Sayap Selatan

lt 2

Darussalam Banda Aceh 23111

Telp(fax). 06517428680

Email : [email protected]

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

PENGARUH KECEPATAN MAJU DAN SUDUT KEMIRINGAN PISAU ALAT PENGEPRAS TEBU DENGAN TENAGA TRAKTOR RODA DUA TERHADAP

KWALITAS HASIL KEPRASAN Syafriandi, Susi Chairani, Hendri Syah1

1Staf Pengajar Program Studi Teknik Pertanian

Fakultas Pertanian Unsyiah

Jalan Tgk. Hasan Krueng Kalee No.3 Kopelma Darussalam Banda Aceh Email : [email protected]

Abstract

Pengusahaan tebu dengan cara keprasan dilakukan pada pertanaman tebu karena dapat menghemat biaya produksi. Keprasan yang baik dilakukan dengan memotong sisa tanaman rata dengan tanah. Alat yang dipakai umumnya adalah cangkul dengan memakai tenaga kerja orang dan mesin stubble shaver. Program revitalisasi produksi yang menyertakan alat-alat mekanik, selain memberikan manfaat yang menguntungkan dalam usaha produksi juga ada kelemahan pada beberapa aspek. Guna meningkatkan kualitas fungsi dan efesiensi alat tersebut tentu dibutuhkan pengembangan dan perbaikan alat. Sebagai contoh yaitu usaha pengembangan dan perbaikan pada alat kepras tebu. Oleh karena itu, masih perlu diadakan penelitian mengenai mesin kepras tebu untuk meningkatkan produktivitas tebu khususnya pada budidaya tebu ratoon dengan memperbaiki mutu tunggul hasil keprasan yang tidak pecah agar tunas yang dihasilkan baik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa kecepatan maju traktor dan sudut pemotongan pada tebu ratoon.

I. PENDAHULUAN

Proses pemanenan atau penebangan tebu merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memungut hasil melalui pemotongan batang tebu pada bagian pangkal 10-20 cm dari permukaan guludan. Penebangan umumnya dilakukan secara manual menggunakan alat potong berupa golok atau sabit. Daun-daun yang kering dan klaras yang terdapat pada batang tebu dibersihkan terlebih dahulu. Selanjutnya pucuk batang tersebut dipotong, kemudian batang tebu yang telah dibersihkan ditumpuk pada satu barisan.

Pengusahaan tebu dengan cara keprasan dilakukan pada pertanaman tebu karena dapat menghemat biaya produksi. Keprasan yang baik dilakukan dengan memotong sisa tanaman rata dengan tanah. Alat yang dipakai umumnya adalah cangkul dengan memakai tenaga kerja

(8)

manual adalah ketersediaan tenaga kerja baik dari aspek kuantitas maupun kualitasnya. Sutjahjo dan Kuntohartono (1994) mengemukakan bahwa tenaga kerja yang tersedia untuk mengelola lahan tebu hanya tinggal sepertiga dari jumlah tenaga kerja pada masa sebelum tahun 1975. Hal lain yang perlu dipikirkan dalam kaitannya dengan pengeprasan manual

adalah masalah kualitas hasil keprasan Untuk menyelesaikan pekerjaan pengeprasan dengan

manual atau cangkul diperlukan 10 – 14 orang per hektar. Tujuan dari proses kepras ini adalah untuk menghasilkan tanaman tebu yang mempunyai perakaran yang dalam, sehingga tanaman tidak akan mudah roboh setelah dewasa. Tanaman kepras ini mempunyai hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan tanaman yang pertama. Hal ini berakibat tanaman tebu hanya bisa dikepras beberapa kali saja, biasanya hanya sampai tiga kali. Dimana faktor proses budidaya dan lingkungan sangat berpengaruh dalam penentuan berapa kali tanaman ini bisa di kepras.

Tebu keprasan merupakan tanaman tebu yang tumbuh kembali dari jaringan batang yang masih tertinggal dalam tanah setelah tebu ditebang dan dikepras. Pada proses pengeprasan ini, sisa-sisa tunggul dipotong pada posisi rata atau lebih rendah dari permukaan guludan (Koswara, 1988). Kebun yang akan dikepras harus dibersihkan dari kotoran bekas tebangan yang lalu. Hal ini untuk mempermudah dalam pengerjaan dan supaya alat yang digunakan bisa lebih tahan lama. Sebelum mengepras, untuk tanah yang terlalu kering

sebaiknya dialiri air terlebih dahulu agar bekas tanaman tebu yang akan dikepras tidak mudah

terbongkar (Sutardjo 1996).

Pertunasan Tebu

Umumnya tebu berkembang biak secara vegetatif, yakni dengan cara pertunasan. Pertumbuhan dimulai dari perkembangan akar pada bagian pita akar (root band) yang terdapat pada potongan batang atau bibit tebu (original cuting) yang telah ditanam. Selanjutnya, tunas pertama (primary shoot) yang diikuti dengan tunas kedua (secondary

(9)

shoot) tumbuh dari mata tunas (eye or bud) yang terdapat pada bibit tebu tersebut, sedangkan

akar-akar tunas berkembang pada bagian pita akar yang terdapat pada tunas pertama dan kedua (Gambar 1).

Gambar 1. Tunas tebu yang tumbuh dari mata tunas bibit tebu dan akar tunas baru berkembang dari pita akar (Humbert 1968)

Cadangan makanan untuk tunas-tunas baru tersebut pada awalnya disuplai oleh sistem perakaran bibit tebu, sehingga pertunasan tebu bergantung pada sistem perakaran dari bibit tersebut selama 3-6 minggu atau sampai seberapa lama akar-akar baru pada tunas dapat mencukupi kebutuhan air, oksigen, dan nutrisi yang diperlukan (Humbert 1968).

Pangkal dari batang tebu yang terdapat di bawah permukaan tanah (ground level) memiliki ruas batang yang semakin pendek dan meruncing dengan cepat (Gambar 2). Mata tunas yang terdapat pada pangkal batang pertama (primary stalk) tumbuh menjadi batang kedua (secondary stalk) dan mata tunas pada pangkal batang kedua berkembang menjadi batang ketiga (tertiary stalk). Pertumbuhan tersebut berlangsung secara berurutan, terus-menerus, dan memiliki posisi selang-seling sesuai dengan posisi mata tunas pada pangkal batang tebu.

(10)

Gambar 2. Urutan pertumbuhan batang tebu dari potongan tebu yang terdapat di bawah permukaan tanah (Humbert 1968)

Batang tebu yang masih tersisa di bawah permukaan tanah setelah penebangan dapat tumbuh kembali sebagai tebu keprasan. Cadangan makanan untuk tunas-tunas baru dari tebu keprasan tersebut pada awalnya disuplai oleh sistem perakaran tebu sebelumya. Setelah tunas-tunas tersebut tumbuh menjadi batang tebu yang memiliki sistem perakaran sendiri, maka fungsi akar lama diambil alih oleh sistem perakaran tebu yang baru. Akar-akar lama tersebut kemudian berubah warnanya menjadi gelap (kehitam-hitaman) dan tidak efektif lagi dalam melakukan suplai makanan, sehingga akar-akar tersebut akhirnya mati dan terurai dalam tanah.

Daya dan Kecepatan Pemotongan Pisau

Pemotongan adalah proses pembagian benda solid secara mekanik sepanjang garis yang diinginkan dengan menggunakan alat pemotong (Persson 1987). Dalam beberapa kasus, pemotongan mempunyai istilah lain bergantung dengan alat apa dan bagaimana pemotongan itu dilakukan. Istilah tersebut antara lain mencacah (chopping), memangkas (mowing), menggergaji (sawing), membelah (aplitting), mengiris (slicing), dan sebagainya.

Ketajaman pisau merupakan salah satu faktor penting dalam pemotongan material. Ketajaman memiliki efek yang signifikan terhadap gaya pemotongan, semakin tajam pisau yang digunakan maka gaya pemotongan yang diperlukan juga semakin rendah. Begitu juga dengan sudut mata pisau, pisau yang memiliki sudut mata pisau kecil membutuhkan gaya pemotongan spesifik maksimum yang relatif rendah.

(11)

Torsi pemotongan merupakan hasil antara gaya yang diperlukan oleh mata pisau untuk melakukan pemotongan dan jari-jari putaran mata pisau. Selanjutnya, parameter torsi pemotongan tersebut dapat digunakan untuk menentukan besarnya gaya dan daya pemotongan (Lisyanto 2007).

II. METODE PENELITIAN Analisis Rancangan

Rancangan Alat dilakukan di laboratorium Perbengkelan dan Alat mesin pertanian dan pengujian dilakukan diperkebunan tebu rakyat. Untuk memenuhi fungsinya maka Unit pisau pengepras dirancang untuk dapat memotong tunggul tebu dan digandengkan traktor serta mentransmisikan tenaga putar mesin ke pisau pengepras. Pemotongan tunggul dirancang menggunakan pisau pemotong tipe rotari. Analisis yang dilakukan pada rancangan pisau pemotong adalah sebagai berikut.

1. Jumlah mata pisau diupayakan cukup banyak tetapi disesuaikan dengan tempat pegangan mata pisau yang tersedia pada piringan.

2. Jumlah mata pisau, kecepatan maju mesin dan kecepatan putar pisau pemotong dirancang dengan dasar pitch pemotongannya kecil agar tidak memecahkan tunggul tebu.

3. Kecepatan putar pisau diupayakan tinggi untuk mendapatkan pitch pemotongan yang kecil dan disesuaikan dengan kecepatan putar poros PTO.

Untuk analisis pisau pemotong yang dipasang pada plat piringan pemegang, di mana jari-jari mata pisau R=f(n,Ro,γ,θ), n adalah kecepatan putar pisau (rpm), Ro adalah diameter luar pisau (m)= AC, Ri=BC, R adalah jari-jari kelengkungan mata pisau arah radial (m) dan γ adalah sudut kemiringan piringan. Pergerakkan posisi mata pisau (x,y,z) dianalisis dengan persamaan berikut :   /30).cos sin( .t Ri nt v x  ………(1)   /30).sin cos( 1 ( nt Ri y  ……….(2)

(12)

) 30 / sin( nt Ri y  .………(3) Metode Pengujian

Pada saat uji kinerja beberapa peubah yang divariasikan dalam pelaksanan pengujian adalah:

1. Kecepatan maju pengeprasan (V1= 0,3 m/s, V2= 0,5 m/s dan V3= 0,7 m/s)

2. Sudut kemiringan piringan pisau (L= 15o dan 30o)

Pengukuran jumlah persentase tunggul yang utuh, tunggul yang pecah dan tunggul tidak terpotong dan terbongkar dilakukan secara manual dan kamera. Pengamatan pertumbuhan dengan menghitung jumlah tunas yang tumbuh, setelah 1 minggu pengeprasan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Potongan Tunggul yang Utuh (%)

Perlakuan dengan kecepatan laju pengeprasan dan sudut kemiringan pisau dilakukan analisis regresi dimana dari hasil hubungan antara perlakuan kecepatan laju pengeprasan dan kemiringan pemotongan terhadap tunggul yang terpotong utuh dapat dilihat pada Gambar grafik 3. Berdasarkan grafik, jika dilihat secara umum perlakuan dengan sudut kemiringan

pisau 15o dengan berbagai kecepatan laju pengeprasan yang sama menghasilkan persentase

potongan tunggul yang utuh lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan sudut kemiringan

30o. Hasil pengujian persentase potongan tunggul tebu yang utuh tertinggi berada pada

kecepatan laju pengeprasan 0,5 m/s dengan sudut 15o yaitu sebesar 73,64% dan terendah

(13)

Gambar 3. Hubungan antara perlakuan kecepatan laju pengeprasan dan sudut kemiringan pisau terhadap tunggul yang utuh

Pengaruh kecepatan dan sudut kemiringan pisau terhadap persentase parameter ini berdasarkan garis regresi linear didapatkan persamaan sebagai berikut:

Y15 = -1,015x + 6,17 (R2 = 0,018)

Y30 = -2,248x + 48,23 (R2 = 0,102)

Dari persamaan diatas dapat dilihat kombinasi perlakuan yang tinggi pengaruhnya

terhadap persentase potongan tunggul yang utuh berada di linear sudut 30o sebesar 10,2%

sedangkan pada linear sudut 15o lebih kecil pengaruhnya yaitu sebesar 1,8%.

Berdasarkan Hasil sidik ragam rata-rata persentase tunggul tebu yang terpotong akibat pengaruh hasil keprasan dengan menggunakan tenaga penggerak hand traktor menunjukkan bahwa interaksi kecepatan laju pengeprasan hand traktor dan derajat kemiringan pisau kepras tidak berpengaruh nyata, akan tetapi secara faktor tunggal berpengaruh nyata pada derajat kemiringan pisau kepras dan tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan laju pengeprasan hand traktor. Rata-rata hasil keprasan pada tunggul tebu yang terpotong utuh pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata persentase hasil keprasan tunggul tebu yang terpotong utuh

Kecepatan laju hand traktor (m/s) Derajat kemiringan pisau kepras (o) Rata-rata BNT (0,05) = 24,21 L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 61,91 42,15 52,03 A V2 (0,5 m/s) 73,64 51,41 62,53 A V3 (0,7 m/s) 59,88 37,65 48,77 A Rata-rata 65,15 b 43,73 a - Y15 = -1,015x + 67,17 R² = 0,018 Y30 = -2,248x + 48,23 R² = 0,102 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 0.3 0.5 0.7 Tu n gg u l y an g u tu h (% )

Kecepatan maju pengeprasan (ms-1)

15 derajat

(14)

BNT (0,05) = 19,77

Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT0,05. Huruf kecil dibaca

horizontal, sedangkan huruf besar dibaca vertikal

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada setiap perlakuan kecepatan laju hand traktor, hasil keprasan tidak mempengaruhi tebu yang terpotong utuh secara nyata dari kecepatan 0,3 m/s sampai dengan kecepatan 0,7 m/s, akan tetapi terjadi pengaruh tunggal pada sudut

kemiringan pisau kepras 15o berpengaruh nyata terhadap tebu yang terpotong utuh dan jika

sudut kemiringan pisau kepras ditingkatkan menjadi 30o maka hasil potongan tunggul tebu

tersebut cendrung menurun kembali. Uji beda nyata terkecil (BNT0,05) menunjukkan

bahwa semakin rendah derajat kemiringan mata pisau kepras yang dicobakan maka hasil keprasan yang terjadi pada tunggul tebu yang terpotong tersebut semakin meningkat.

Hasil Potongan Tunggul yang Pecah (%)

Berdasarkan grafik pada gambar 4, menunjukan persentase tunggul yang terpotong pecah tertinggi pada perlakuan kecepatan laju pengeprasan 0,5 m/s dengan sudut

pemotongan 30o sebesar 40,51% dan yang terendah pada perlakuan kecepatan laju

pengeprasan 0,5 m/s dengan sudut pemotongan 15o sebesar 17,60%.

Gambar 4. Hubungan antara perlakuan kecepatan laju pengeprasan dan sudut kemiringan pisau terhadap tunggul yang pecah

Perlakuan dengan kecepatan laju pengeprasan dan sudut kemiringan pisau dilakukan analisis regresi dimana dari hasil hubungan antara perlakuan kecepatan laju

Y15 = 1,200x + 21,56 R² = 0,045 Y30 = -0,585x + 37,51 R² = 0,025 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 0.3 0.5 0.7 Tu n gg u l y an g p e cah (% )

Kecepatan maju pengeprasan (ms-1)

15 derajat

(15)

pengeprasan dan kemiringan pemotongan terhadap tunggul yang terpotong yang pecah dapat dilihat pada Gambar 4 bahwa bentuk hubungan antara kecepatan laju pengeprasan dengan sudut kemiringan pisau terhadap tinggi persentase tunggul yang pecah mengikuti garis regresi linear dengan persamaan:

Y15 = 1,200x + 21,56 (R2 = 0,045)

Y30 = -0,585x + 37,51 (R2 = 0,025)

Dari persamaan di atas dapat dilihat kombinasi perlakuan yang tinggi pengaruhnya

terhadap persentase potongan tunggul yang pecah berada di linear sudut 15o sebesar 4,5%

sedangkan pada linear sudut 30o lebih kecil pengaruhnya yaitu sebesar 2,5%. Berdasarkan

Hasil sidik ragam rata-rata persentase tunggul tebu yang pecah akibat pengaruh sudut kemiringan pisau dengan menggunakan tenaga penggerak hand traktor menunjukkan bahwa interaksi kecepatan laju hand traktor dan sudut kemiringan pisau kepras tidak berpengaruh nyata, akan tetapi secara faktor tunggal berpengaruh nyata pada derajat kemiringan pisau kepras dan tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan laju hand traktor. Rata-rata hasil keprasan pada tunggul tebu yang pecah dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata persentase hasil keprasan pada tunggul tebu yang pecah

Kecepatan laju hand traktor (m/s)

Derajat kemiringan

pisau kepras (0) Rata-rata

BNT (0,05) = 15,06 L1 (15) L2 (30) V1 (0,3 m/s) 25,94 34,85 30,40 A V2 (0,5 m/s) 17,60 40,51 29,06 A V3 (0,7 m/s) 28,34 33,68 31,01 A Rata-rata BNT (0,05) = 12,30 23,96 a 36,34 b -

Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT0,05. Huruf kecil dibaca

horizontal, sedangkan huruf besar dibaca vertikal

Tabel 2 menunjukkan bahwa pada setiap perlakuan kecepatan laju hand traktor, hasil keprasan tidak terjadi interaksi yang dapat mempengaruhi tunggul tebu yang pecah secara nyata dari kecepatan 0,3 m/s sampai dengan kecepatan 0,7 m/s, akan tetapi terjadi

(16)

tebu yang pecah dan jika sudut kemiringan pisau kepras diturunkan menjadi 15o maka hasil

potongan tunggul tebu tersebut cendrung membaik. Uji beda nyata terkecil (BNT0,05)

menunjukkan bahwa semakin tinggi derajat kemiringan mata pisau kepras yang dicobakan maka hasil keprasan yang terjadi pada tunggul tebu yang pecah tersebut semakin meningkat.

Pertumbuhan Tunas (%)

Hasil sidik ragam rata-rata Pertumbuhan tunas tebu pada minggu pertama akibat pengaruh interaksi kecepatan laju hand traktor dan kemiringan sudut mata kepras dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata persentase pertumbuhan tunas tebu pada minggu pertama

Kecepatan laju hand

traktor (ms-1) Derajat kemiringan pisau kepras (o) L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 47,40 a A 29,46 a A V2 (0,5 m/s) 74,94 b B 22,54 a A V3 (0,7 m/s) 44,45 a A 33,20 a A BNT (VxL) 0,05 = 24,17

Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT0,05. Huruf kecil dibaca

vertikal, sedangkan huruf besar dibaca horizontal

Tabel 3 menunjukkan rata-rata persentase pertumbuhan tunas tebu tertinggi setelah

keprasan pada perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,5 ms-1 dengan sudut kemiringan

pisau kepras 15o yang mempunyai nilai 74,94% sedangkan persentase pertumbuhan

terendah pada perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,5 ms-1 dengan sudut kemiringan

pisau kepras 30o dengan nilai 22,54%. Uji BNT

0,05 (Tabel 4) menunjukkan bahwa pada

perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,3 ms-1 dan 0,7 ms-1 tidak berpengaruh nyata

terhadap pertumbuhan tunas tebu dengan sudut kemiringan pisau kepras 15o dan 30o,

(17)

sudut kemiringan pisau hand traktor 15o berpengaruh nyata terhadap persentase pertumbuhan tunas tebu setelah keprasan.

Hasil sidik ragam rata-rata persentase pertumbuhan tunas tebu pada minggu kedua akibat pengaruh sudut kemiringan pisau dengan menggunakan tenaga penggerak hand traktor menunjukkan bahwa interaksi kecepatan laju hand traktor dan sudut kemiringan pisau kepras tidak berpengaruh nyata, akan tetapi secara faktor tunggal berpengaruh nyata pada derajat kemiringan pisau kepras dan tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan laju hand traktor. Rata-rata hasil keprasan pada tunggul tebu yang pecah pada Tabel 4. Tabel 4. Rata-rata persentase pertumbuhan tunas tebu pada minggu kedua

Kecepatan laju hand traktor (m/s)

Derajat kemiringan

pisau kepras (0) Rata-rata

BNT (0,05) = 28,76 L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 89,24 61,71 75,47 A V2 (0,5 m/s) 123,08 64,10 93,59 A V3 (0,7 m/s) 95,51 63,29 79,40 A Rata-rata BNT (0,05) = 23,48 102,61 b 63,03 a -

Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT0,05. Huruf kecil dibaca

horizontal, sedangkan huruf besar dibaca vertikal

Tabel 4 menunjukkan bahwa pada setiap perlakuan kecepatan laju hand traktor ms-1

hasil keprasan tidak terjadi interaksi yang dapat mempengaruhi persentase pertumbuhan

tunas tebu secara nyata dari kecepatan 0,3 ms-1 sampai dengan kecepatan 0,7 ms-1, akan

tetapi terjadi pengaruh tunggal pada sudut kemiringan pisau kepras 15o berpengaruh nyata

terhadap pertumbuhan tunas tebu dan jika sudut kemiringan pisau kepras ditingkatkan

menjadi 30o maka persentase pertumbuhan tunas tebu tersebut cendrung menurun. Uji beda

nyata terkecil (BNT0,05) menunjukkan bahwa semakin rendah derajat kemiringan mata

pisau kepras yang diujikan maka hasil keprasan yang terjadi untuk tingkat persentase pertumbuhan tunas tebu semakin membaik.

Hasil sidik ragam rata-rata persentase pertumbuhan tunas tebu pada minggu ketiga dan keempat akibat pengaruh sudut kemiringan pisau dengan menggunakan tenaga

(18)

penggerak hand traktor menunjukkan bahwa secara faktor tunggal dan interaksi antara perlakuan kecepatan laju hand traktor dengan sudut kemiringan pisau kepras tidak berpengaruh nyata. Rata-rata hasil keprasan terhadap pertumbuhan tunas dilihat pada Tabel 5 dan 6.

Tabel 5. Rata-rata persentase pertumbuhan tunas tebu pada minggu ketiga

Kecepatan laju hand traktor (m/s) Derajat kemiringan pisau kepras (o) L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 87,32 98,59 V2 (0,5 m/s) 96,82 80,89 V3 (0,7 m/s) 75,17 96,53

Tabel 5 menunjukkan bahwa pada minggu ketiga dengan perlakuan kecepatan

laju 0,3 m/s dan 0,7 m/s dengan sudut kemiringan pisau kepras 15o dan 30o

menghasilkan persentase rata-rata pertumbuhan tunas tebu sebesar 87,32% dan 75,17%

terjadi peningkatan persentase pertumbuhan pada sudut kemiringan 30o sebesar 98,59%

dan 96,53%, akan tetapi pada kecepatan laju 0,5 m/s dengan sudut kemiringan pisau

kepras 15o menghasilkan persentase rata-rata pertumbuhan tunas tebu sebesar 96,82%

terjadi penurunan pada sudut kemiringan 30o sebesar 80,89%.

Tabel 6. Rata-rata persentase pertumbuhan tunas tebu pada minggu keempat

Kecepatan laju hand traktor (m/s) Derajat kemiringan pisau kepras (o) L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 103,25 98,76 V2 (0,5 m/s) 91,64 60,57 V3 (0,7 m/s) 84,26 87,91 .

Sedangkan pada minggu keempat dengan perlakuan kecepatan laju 0,3 m/s dan

0,5 m/s dengan sudut kemiringan pisau kepras 15o dan 30o (Tabel 6) menghasilkan

persentase rata-rata pertumbuhan tunas tebu sebesar 103,25% dan 91,64% terjadi penurunan persentase pertumbuhan pada sudut kemiringan 30 derajat sebesar 98,76 %

(19)

dan 60,57%, akan tetapi pada kecepatan laju 0,7 m/s dengan sudut kemiringan pisau

kepras 15o menghasilkan persentase rata-rata pertumbuhan tunas tebu sebesar 84,26%

terjadi peningkatan pada sudut kemiringan 30o sebesar 87,91%.

Pertumbuhan Tinggi Tunas

Hasil sidik ragam rata-rata tinggi tunas pada tunggul tebu yang telah dikepras pada minggu pertama, kedua dan ketiga akibat pengaruh interaksi kecepatan laju hand traktor dan kemiringan sudut mata kepras berpengaruh nyata dilihat pada Tabel 7,8 dan 9.

Tabel 7. Rata-rata tinggi tunas tebu pada minggu pertama Kecepatan laju hand

traktor (m/s) Derajat kemiringan pisau kepras (o) L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 12,87 a A 17,10 a A V2 (0,5 m/s) 17,85 b A 13,86 a A V3 (0,7 m/s) 15,59 ab A 17,12 a A BNT (VxL) 0,05 = 4,94

Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT0,05.

Huruf kecil dibaca vertikal, sedangkan huruf besar dibaca horizontal Tabel 8. Rata-rata tinggi tunas tebu pada minggu kedua

Kecepatan laju hand traktor (m/s) Derajat kemiringan pisau kepras (o) L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 19,61 a A 22,66 a A V2 (0,5 m/s) 24,22 a B 18,07 a A V3 (0,7 m/s) 20,36 a A 21,71 a A BNT (VxL) 0,05 = 5,94

Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT0,05.

Huruf kecil dibaca vertikal, sedangkan huruf besar dibaca horizontal

(20)

Tabel 9. Rata-rata tinggi tunas tebu pada minggu ketiga Kecepatan laju hand

traktor (m/s) Derajat kemiringan pisau kepras (o) L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 21,77 a A 24,84 a A V2 (0,5 m/s) 26,51 a B 21,17 a A V3 (0,7 m/s) 24,84 a A 25,81 a A BNT (VxL) 0,05 = 5,02

Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT0,05. Huruf kecil dibaca

vertikal, sedangkan huruf besar dibaca horizontal

Tabel 7 menunjukkan rata-rata tinggi tunas tebu terendah pada minggu pertama setelah keprasan pada perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,3 m/s dengan sudut

kemiringan pisau kepras 15o yang mempunyai nilai 12,87 cm sedangkan persentase

pertumbuhan tertinggi pada perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,5 m/s dengan sudut

kemiringan pisau kepras 15o dengan nilai 17,85 cm, akan tetapi pada Tabel 8 dan 9

menunjukkan rata-rata tinggi tunas tebu terendah pada minggu kedua dan ketiga setelah keprasan pada perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,5 m/s dengan sudut kemiringan

pisau kepras 30o yang mempunyai nilai 18,07 cm dan 21,17 cm sedangkan rata-rata tinggi

tunas tertinggi pada perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,5 m/s dengan sudut

kemiringan pisau kepras 15o dengan nilai 24,22 cm dan 26,51 cm

Uji BNT0,05 pada Tabel 8 dan 9 menunjukkan bahwa pada perlakuan kecepatan

laju hand traktor 0,3 m/s dan 0,7 m/s tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas

tebu dengan sudut kemiringan pisau kepras 15o dan 30o, akan tetapi terjadi interaksi

berpengaruh nyata pada perlakuan kecepatan laju hand traktor 0,5 m /s dengan sudut

kemiringan pisau 15o berpengaruh nyata terhadap rata-rata tinggi tunas pada tunggul

tebu setelah keprasan.

Hasil sidik ragam tinggi rata-rata tunas tebu setelah keprasan pada minggu keempat akibat pengaruh sudut kemiringan pisau dengan menggunakan tenaga penggerak hand traktor menunjukkan bahwa secara faktor tunggal dan interaksi antara perlakuan kecepatan

(21)

laju hand traktor dengan sudut kemiringan pisau kepras tidak berpengaruh nyata. Rata-rata tinggi tunas tebu setelah keprasan dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Rata-rata tinggi tunas tebu (cm) pada minggu keempat

Kecepatan laju hand traktor (m/s) Derajat kemiringan pisau kepras (o) L1 (15o) L2 (30o) V1 (0,3 m/s) 35,27 31,67 V2 (0,5 m/s) 33,96 24,72 V3 (0,7 m/s) 29,35 32,18

Tabel 11 menunjukkan bahwa pada minggu keempat dengan perlakuan

kecepatan laju 0,3 m/s dan 0,5 m/s dengan sudut kemiringan pisau kepras 15o dan 30o

menghasilkan tinggi rata-rata tunas tebu sebesar 35,27 cm dan 33,96 cm terjadi

penurunan tinggi tunas tebu pada sudut kemiringan 30o sebesar 31,67 cm dan 24,72 cm,

akan tetapi pada kecepatan laju 0,7 m/s dengan sudut kemiringan pisau kepras 15o

menghasilkan tinggi rata-rata tunas tebu sebesar 29,35 cm terjadi peningkatan pada

sudut kemiringan 30o sebesar 32,18 cm.

KESIMPULAN

1. Interakasi kecepatan laju dan sudut kemiringan pisau memberikan pengaruh tidak nyata terhadap tunggul terkepras utuh dan pecah, begitu juga perlakuan tunggal kecepatan laju, tetapi perlakuan tunggal sudut kemiringan pisau memberi pengaruh nyata terhadap tunggul terkepras utuh dan pecah.

2. Interaksi kecepatan laju dan sudut kemiringan pisau memberikan pengaruh nyata terhadap persentase pertumbuhan tunas pada minggu pertama, tetapi pada minggu kedua hanya dipengaruhi sudut kemiringan pisau, sedangkan pada minggu ketiga dan keempat masing-masing perlakuan memberikan pengaruh tidak nyata.

(22)

3. Interaksi kecepatan laju dan sudut kemiringan memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tunas pada minggu pertama, kedua dan ketiga, tetapi pada minggu keempat memberikan pengaruh tidak nyata.

Saran

Memperbesar diameter piringan pisau dan memvariasikan jumlah mata pisau agar dihasilkan tunggul tebu yang dikepras sedikit pecah 5-10 cm sehingga mendapatkan mutu keprasan yang baik

DAFTAR PUSTAKA

Humbert RP. 1968. The Growing of Sugar Cane. Amsterdam: Elsevier Publishing Company

Koswara, E. 1989. Pengaruh kedalaman kepras terhadap pertunasan tebu. Prosiding Seminar Budidaya Tebu Lahan Kering, Pasuruan, 23-25 November 1989. P3GI. hlm 332-344.

Lisyanto, 2007. Evaluasi Parameter Desain Bajak Piring yang Diputar Untuk Pengeprasan Tebu Lahan Kering [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Fakultas Teknologi Pertanian.

Persson, S. 1987. Mechanics of Cutting Plant Material. Michigan: American Society of Agricultural Engineers.

Sutardjo E, 1996. Budidaya Tanaman Tebu, Bumi Aksara, Jakarta

Sutjahyo GI dan Kuntohartono T. 1994. Penyusutan dan peningkatan kualitas tenaga kerja di kebun tebu. Majalah Gula Indonesia 2: 14-16.

Gambar

Gambar 1.  Tunas tebu yang tumbuh dari mata tunas bibit tebu dan   akar tunas baru berkembang dari pita akar (Humbert 1968)
Gambar 2. Urutan pertumbuhan batang tebu dari potongan tebu yang   terdapat di bawah permukaan tanah (Humbert 1968)
Gambar 3. Hubungan antara perlakuan kecepatan laju pengeprasan dan   sudut kemiringan pisau terhadap tunggul yang utuh
Tabel  1  menunjukkan  bahwa  pada  setiap  perlakuan  kecepatan  laju  hand  traktor,  hasil keprasan tidak mempengaruhi tebu  yang terpotong utuh  secara nyata dari kecepatan  0,3 m/s sampai dengan kecepatan 0,7 m/s, akan tetapi terjadi pengaruh tunggal

Referensi

Dokumen terkait

seperti tampilan gridline, formula bar, lembar kerja, dan tampilan beberapa jendela, dan h) Tab Developer: tombol yang berhubungan dengan Macro, pembuatan kon- trol-kontrol form dan

Keberhasilan pemberdayaan yang dilakukan sekolah perempuan desa Sumberejo terihat dari penerapan setelah melakukan srangkaian kegaiatan dan materi yang berkaitan

Hasil penelitian ini menemukan bahwa bentuk solidaritas pedagang kaki lima (PKL) di pasar paddys terdiri atas 8 bentuk solidaritas yaitu : 1) Pemberian bantuan modal usaha;

Koefisien regresi untuk variabel NFA/TA sebesar 5.9774 dan bertanda positif, yang menunjukkan bahwa variabel NFA/TA berpengaruh positif terhadap financial distress

Kinerja pengeboran delineasi dan pengembang- an baik untuk minyak dan gas tercapai sampai akhir 2008. Kinerja produksi minyak berhasil mencapai target sebesar 45 BOPD,

digunakan untuk membentuk cara berkomunikasi yang baik dari ketiga fungsi bisnis sales, marketing dan customer service antara pelanggan dengan Adela Cakes sehingga

Selain itu, penyakit lainnya untuk mendeskripsikan pola sebaran spesies tikus disebabkan oleh virus, rickettsia , bakteri, protozoa, habitat pasar berdasarkan

Raudhatul Hasanah Medan agar lebih efektif berpartisipasi dalam pelaksanaan program pengabdian pada masyarakat ini untuk peningkatan produksi dan produktivitas lahan sekolah mereka