BAB III METODE PENELITIAN. lebih mudah untuk mendapatkan informasi-informasi dalam penelitian atau data

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian

Penelitian ini akan lebih memfokuskan pada fenomena plural yang melingkupi atau mengelilingi objek penelitian. Dengan demikian peneliti akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi-informasi dalam penelitian atau data yang harus dikumpulkan. Peneliti percaya terhadap anggapan kaum kausalitas, bahwa terjadi ketidakstabilan pada objek dipastikan karena telah terjadi “sesuatu dalam realitas”. “Sesuatu” tersebut secara kausalitas “terjadi” dan “jawabanya pun” ada dalam realitas tersebut.

…mendeskripsikan ontologinya sebagai “realitas pluralistik”, yang berarti bahwa realitas terdiri atas unit-unit kualitatif sederhana yang disebutnya

reals (hal-hal). Semua ini membentuk sintesis-sintesis, yang mengarah ke

dunia yang kita alami (Herbert, dalam Bagus, 2000: 853).

“Sesuatu” berupa hal-hal yang mengelilingi objek penelitian, berdasarkan perspektif peneliti di pandang sebagai bentuk keberagaman ilmu pengetahuan. Peneliti mencari jawaban-jawaban atas keadaan yang tidak stabil atas objek penelitian. Pengalaman peneliti dalam beberapa bulan terakhir dalam mengamati Dul Muluk sebagai objek penelitian. Hal ini dilakukan oleh peneliti untuk membentuk opini atas beberapa fenomena menjadi sintesis yang kualitatif.

Penelitian ini diarahkan pada penelitian kualitatif, karena peneliti akan menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif; seperti transkripsi, wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan lain-lain (Alwasilah , 2007: 114).

Peneliti akan mengambarkan realitas kualitatif tentang pemahaman objek yang kompleks (objek penelitian dikelilingi fenomena). Kemudian objek tersebut

(2)

dideskripsikan melalui perspektif pospositivisme maupun melalui perspektif konstruktif agar objek penelitian dapat lebih dipandang secara mudah dan dimengerti oleh peneliti. Peneliti mengambil sikap ini agar dapat menentukan arah dalam mengungkapkan pengambaran objek penelitian ini. Metode ini selain memudahkan proses penggambaran objek penelitian, juga atas alasan orisinalitas dalam mendeskripsikan hasil temuan penelitian nantinya.

Orientasi pospositivis maupun konstruktif, pemahaman tentang realitas berada pada hubungan: realitas-pengalaman-penggarapan-pemaknaan-pemahaman. Pengajuan dan pertanyaan tentang realitas itu bisa berlangsung karena peneliti memiliki bahasa yang memungkinkan peneliti menghadirkan dan menguntai butir-bitir pengalaman yang terbentuk berdasarkan berdasarkan dunia luar (Basrowi & Suwandi, 2008: 50-51).

Orientasi perspektif positivis untuk penelitian ini lebih diposisikan pada aspek faktual (fenomena) untuk memahami realitas objek sebagai ilmu pengetahuan. Persepsi posposivis dijadikan oleh peneliti sebagai pijakan untuk mengkemas objek penelitian dan mengkonstruksikan objek sebagai objek yang bergerak.

Peneliti mencoba untuk memahami konteks positivis yang kualitatif. Peneliti menggunakan perspektif kontruktif sebagai pijakan menuju posmodernis. Peneliti ingin mengkondisikan dekonstruksi untuk memasuki ke dalaman objek penelitian dan mengkritisi kondisi faktual yang mengelilinginya.

Berbeda konsep konstruktif yang mengandaikan terdapatnya akumulasi pemahaman sebagai “konstruksi”, posmodenis menyingkap pemahaman dalam kondisi dekonstruksi. Pemahaman selain bergantung pada subjek juga bergantung pada realitas yang ada sebagai hiper-reality (Brogman dalam Basrowi & Suwandi, 2008: 51).

(3)

Brogman mencontohkan realitas kejadian hiper-reality melalui kejadian atau proses pembicaraan tak langsung (telepon). Kejadian tersebut diartikan oleh Brogman sebagai kejadian yang memunculkan; makna, konsepsi, karakteristik yang berbeda-beda. Situasi tersebut menyebabkan kehadiran realitas bukan sekedar ada sebagai “itu adalah…”, melainkan mengada sebagai hiperreality yang ada dalam kesadaran yang membuahkan hyperreal logic dan hiper-activity.

Peneliti akan menjabarkan fenomena faktual yang bertebaran di sekitar objek penelitian untuk tujuan pencerapan makna faktual fenomenal. Sedangkan orientasi perspektif konstruktif diposisikan oleh peneliti sebagai cara untuk “pengumpulan nilai pemahaman” atas aspek faktual secara konstruktif. Nantinya kedua perspektif tersebut bermuara pada perspektif posmodernis.

Pemahaman, dalam konteks pospositivis (kualitatif) didudukan sebagai tujuan dan dalam perspektif konstruktif didudukan sebagai pijakan penciptaan hubungan inter-subyektif dan akumulasi pemahaman berdasarkan life-praxis, dalam konteks posmodernis hanya didudukan sebagai jembatan menuju empowerment (Basrowi & Suwandi, 2008: 51). Persepsi pospositivis untuk mengkemas objek penelitian yang faktual dan mengkonstruksikan objek penelitian. Perspektif posmodernis mengkritisi segala aspek yang mengelilingi objek penelitian. Menggambarkan realitas dalam teks (objek penelitian) dan memaknai realitas kehidupan di luar teks (kehidupan saat ini).

Penghadiran teks sebagai methodological hypothesis dan medan strategi mengemban konsepsi bahwa teks adalah presentasi dunia pengalaman dan pengetahuan mampu menggambarkan medan realitas, kemungkinan bentuk pemaknaan, dan konsepsi metodologis yang bersifat hipotesis (Basrowi & Suwandi, 2008: 63).

(4)

Pada awal proses penelitian, peneliti mengunjungi kelompok teater Dul Muluk Alun Jaya untuk melihat langsung proses latihan. Peneliti datang sebelum proses latihan dimulai, peneliti mencermati: persiapan properti dan kebutuhan lainnya untuk latihan, keakraban antar pemain, dan proses latihan. Dalam proses latihan di lapangan peneliti melihat, keseriusan berbalut canda, semangat yang menggelora, dan pertarungan kreatif antara sutradara pentas serta aktor-aktornya. Suatu keadaan yang khas dalam kajian seni pertunjukan baik seni pertunjukan modern maupun seni pertunjukan tradisi. Bahwa sutradara dan para aktornya dalam pertunjukannya harus mempunyai daya kreativitas yang tinggi, karena kreativitas adalah daya atau jalan menuju kekuatan terbesar sebagai pengerak imajinasi.

Ketika peneliti tengah asik mengamati proses latihan, ternyata terdapat kasus atau permasalahan teknis terkait dengan fenomena media komunikasi global. Peneliti ingat bahwa;

“…penelitian kualitatatif tidak berangkat tanpa teori, pengetahuan tentang topik di sekitar fenomena adalah formula untuk memunculkan desain

propositional dan tacit dalam penelitian…” (Alwasilah, 2009: 28-29).

Atas anggapan tersebut maka peneliti mengangkat kasus atau permasalahan observasi terkait dengan kunjungan peneliti. Pada proses latihan kelompok teater Dul Muluk Alun Jaya, peneliti mengklasifikasikan masalah tersebut sebagai berikut:

(5)

Tabel 3.1. Fenomena Media Komunikasi Global dalam Pertunjukan Dul Muluk. Sumber: Dokumentasi Penelitian

Dul Muluk in Action MEDIA KOMUNI Propositional/terungkap KASI GLOBAL Tacit/tidak terungkap

Aktor dan Aktris Penyampaian Kata/model

dialog, Bahasa Tubuh, Konsep Permainan

Kesragaman Pola Menyesuaikan Citra

Media Komunikasi Global

Sehingga penelitian ini lebih menekankan pada makna dan pemahaman dari dalam serta mendefinisikan suatu “situasi” tertentu. Fenomena di atas menjadi titik tolak perhatian peneliti untuk memperdalam kajian tentang topik seputar Dul Muluk yang fenomenal. Sehingga memunculkan nilai-nilai transformasi secara teoritis.

Atas anggapan bahwa action pemain (aktor) teater Dul Muluk dalam perjalanan zaman mengalami beberapa fase-fase pergeseran. Khususnya saat ini, bahwa dari hasil pengamatan peneliti terjadi fase transformasi dalam hal penyampaian kata-kata dalam berdialog atau model dialog, bahasa tubuh, dan konsep permainan. Nilai-nilai transformasi tersebut secara khusus terletak pada “pengemasan pertunjukan Dul Muluk”.

Pengemasan pertunjukan Dul Muluk adalah fase menyesuaikan diri menuju pada nilai-nilai pergeseran yang “diseragamkan”. Proses menyesuaikan diri ini adalah proses mengidentikkan diri dengan pengidentikkan yang lebih besar nilai komersilnya. Hal ini adalah proses penyesuaian “konsep” dengan apa yang

(6)

diinginkan media komunikasi global (stasiun TV) sebagai pemilik hegemoni. Persepsi ini adalah fenomena kenyataan di lapangan.

Pendekatan kualitatif berfokus pada verifikasi dalam pembentukan sebuah teori berdasarkan pada data seutuhnya di lapangan grounded theory, (Alwasilah, 2009:44).

Dalam pengumpulan data peneliti tidak terpaku dengan objek di lapangan. Penelitian ini juga melihat berbagai aspek kehidupan masyarakat di kota Palembang. Publik adalah sebagai objek pembanding penelitian dikaitkan dengan “selera”, bahwa sesuatu yang menghibur (entertainment) telah mengalami perubahan.

Selanjutnya dalam pengembangan pengumpulan data penelitian, peneliti juga menemui tokoh yang memahami seluk-beluk pertunjukan Dul Muluk. Selain itu peneliti juga mendatangi Dinas Pariwisata Propinsi Sumatera Selatan untuk melengkapi data penelitian. Sehingga data yang telah terkumpul sesuai dan dapat dipertanggung jawabkan nilai keabsahannya.

Kemudian temuan-temuan penelitian tersebut diolah dalam proses interpretasi data temuan. Peneliti memilah-milah data temuan, agar peneliti tidak kesulitan dalam menginterpretasi data penelitian yang telah terkumpul.

…display atau pajangan visual (Alwasilah, 2009: 164), bahwa display adalah cara untuk memperjelas data penelitian. Strategi analitis dalam mengolah dan menginterpretasi data kualitatif. Pajangan visual adalah sebuah konsep berpikir, membentuk representasi, mendirikan gagasan, dan menginterpretasi data. Dalam analisis data, display mempunyai tiga fungsi: (1) Mereduksi data yang kompleks menjadi tampak sederhana. (2) Menyimpulkan interpretasi peneliti terhadap data. (3) Menyajikan data sehingga data tampil secara menyeluruh (Alwasilah, 2009: 165).

Data temuan adalah tentang pengaruh pencitraan media komunikasi global yang akan dipadukan dengan data tentang struktur penyajian pertunjukan Dul

(7)

Muluk berdasarkan asal mula kemunculannya. Hal ini dilakukan sebagai strategi untuk menganalisis data. Bahwa Dul Muluk adalah sebuah konsep berpikir membentuk representasi untuk mendirikan gagasan, dan menginterpretasi data tersebut. Sehingga strategi dalam mengkritisi fase-fase transformasi Dul Muluk sebagai pertunjukan dapat terapresiasi, sebagai berikut:

Tabel 3.2. Fase Pergeseran Dul Muluk dan Pengaruh Media Komunikasi Global Sumber: Hasil analisis pada tabel ini, terkumpul dari buku tentang Dul Muluk yang diterbitkan oleh: Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kesenian Tradisional Pelembang, Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta hasil wawancara peneliti.

Dul Muluk Pengaruh Media Komunikasi Global

Ya/Tidak (1) Seni Drama Dul Muluk dalam

pementasannya melibatkan pemain

dengan dialog secara spontanitas. Seni Lawak, komedi adalah bahan utama dalam pentas Dul Muluk, lawak terutama dipakai untuk sindiran-sindiran sebagai bahasa komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada penontonnya. (2) Seni Sastra, menggunakan dialog atau bahasa yang halus, jika dirasakan seperti syair dan pantun, hal tersebut menjadi media ungkapan untuk berkomunikasi dengan penikmatnya. Bahasa ungkap tersebut mewakili tokoh yang sedang dimainkan, semua dibawakan secara improvisasi. Pemain Dul Muluk sangat kuat dalam membawakan ungkapan-ungkapan dengan nada pantun (sastra), dengan mengolah cerita-cerita rakyat berupa sastra lisan yang dikenal oleh masyarakat lama adalah merupakan modal utama bagi setiap pemain teater Dul Muluk, seperti cerita hikayat Abdul Muluk, hikayat Siti Zubaedah, hikayat Indra Bangsawan. Cerita-cerita tersebut adalah cerita paling menarik dimasanya.

(8)

(3) Seni Musik dan Seni Suara, iringan musik dalam pertunjukan teater Dul Muluk adalah terletak pada selingan pergantian babak atau adegan dan memberikan warna khas yang menarik pada pentas Dul Muluk: Musik awal sebelum pemain naik ke atas panggung diperdengarkan musik “Keso”, musik ini menjadi tanda bahwa pertunjukan akan dimulai. Ketika terdengar musik “Barnas I”, maka munculah pemain di atas pentas. Musik pengiring “dagelan” atau musik ekstra.Musik pengiring lagu dan tarian. Musik pengundang penonton, musik ini bebas atau sama sekali tidak terkait dalam isi pertunjukan yakni musik disesuaikan dengan zamannya. Musik akhir yakni musik Barnas II, sebagai tanda berakhirnya pertunjukan Dul Muluk.

(4) Seni Tari, gerak tarian digunakan dalam perpindahan adegan satu ke adegan berikutnya, geraknya selektif atau disesuaikan dan sifat tarian tidak merupakan bagian dari cerita yang sedang dipentaskan.

(5).

(6) Seni Rupa, beragam tata rias pemain, busana pemain dan dekorasi panggung adalah satu kesatuan yang keterikatannya tak dapat dipisahkan dengan pertunjukan Dul Muluk

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di sanggar-sanggar yang ada di kota Palembang. Penelitian ini akan lebih memfokuskan pada teater Dul Muluk Sanggar Seni Alon Jaya, jalan Bidar blok A. No. 20 RT 23, RW 07 Kel, Pakjo Kec, Ilir Barat I. Kampus Palembang, yang diajarkan oleh Jonhar. Sebagai pemain

(9)

Dul Muluk, bapak Jonhar juga memiliki prestasi dan pengalaman yang cukup baik sampai saat ini, selain mengajarkan Dul Muluk di sanggarnya, beliau juga sebagai tenaga pengajar luar biasa di Universitas PGRI Palembang. Kipahnya dinilai peneliti dapat memfasilitasi masa kejayaan Dul Muluk antara dahulu dan saat ini. Gambar 1. Lokasi Penelitian terletak di Kota Palembang Sumatera Selatan:

Tabel 3.3. Instrumen Penelitian

No. Jenis Instrumen Sumber Data Data

1. Pedoman wawancara -Pakar Teater Dul Muluk (Jonhar) -Budayawan

-Data objektif Dul Muluk.

-Data mengenai

(10)

(Nur Hasan) perkembangan Dul Muluk.

2. Pedoman observasi -Proses peninjauan

langsung ke lokasi latihan Dul Muluk. -Antara wacana dan realitas.

-Data objektif

mengenai pengaruh

media komunikasi

global. Data pesanan kemasan pertunjukan

yang diinginkan

masyarakat.

-Data antara Dul Muluk dahulu dan saat ini.

3. Pedoman studi dokumentasi

-Dokumentasi Dul Muluk.

-Foto latihan dan Video pertunjukan Dul Muluk.

C. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan cara antara lain melalui pencatatan data yang dilakukan dalam dua cara yaitu: observasi partisipan, dan wawancara mendalam. Diterangkan oleh peneliti sebagai berikut: 1. Observasi Partisipan

Mencari informasi tentang teater Dul Muluk dari awal mula teater tersebut ada hingga keberadaannya saat ini, peneliti melakukan:

Observasi bertujuan untuk mengamati atau mendengarkan untuk memahami, menjawab, mencari bukti terhadap fenomena sosial,…Hal ini dilakukan dengan cara mencatat, merekam, dan memotret fenomena tersebut guna penemuan dan analisis (Hasanuddin, dalam Basrowi & Suwandi, 2009: 85).

Peneliti mengamati kejadian-kejadian fenomena sosial yang secara tidak langsung terkait dengan nilai-nilai pergeseran pertunjukan Dul Muluk. Proses pengamatan ini, dilakukan secara langsung oleh peneliti dengan mendatangi lokasi penelitian.

(11)

Tabel 3.4. Panduan Observasi

Tujuan Pembatasan Penelitian Pelaksanaan Penelitian

1. Observasi ini bertujuan untuk mengamati atau mendengarkan, memahami, menjawab, mencari bukti terhadap fenomena social

Observasi ini dibatasi

pada pengamatan langsung di lokasi penelitian di kota Palembang, meliputi - Melihat langsung latihan dan pengamatan terhadap beberapa pertunjukan teater Dul Muluk di kota Palembang, khususnya pengamatan dampak media komunikasi global terhadap kelangsungan pergeseran fungsi Dul Muluk.

Observasi ini dibatasi

pada pengamatan langsung di lokasi penelitian di kota Palembang, meliputi - Melihat langsung beberapa pertunjukan teater Dul Muluk di

kota Palembang, khususnya pengamatan terhadap pergeseran fungsi pertunjukan. 2. Observasi ini dibatasi pada pengamatan langsung di lokasi penelitian di kota Palembang, meliputi - Melihat langsung

lokasi latihan dan proses latihan dan mengamati beberapa pertunjukan Dul Muluk di kota Palembang, khususnya pengamatan terhadap dampak Media Komunikasi Global. Mengamati kelompok

teater Dul Muluk Alun Jaya Palembang.

- Mendiskripsikan segala hal temuan penelitian yang terkait dengan teater Dul Muluk. Membuat kesimpulan

berdasarkan data yang diperoleh.

(12)

Dari proses tersebut atas, peneliti meyakini bahwa data akan tampil secara sistematis. Hal ini akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang berbeda dan dapat menteorikan fenomena yang terjadi di dalam pertunjukan teater Dul Muluk di kota Palembang.

2. Wawancara Mendalam

Mengadakan wawancara yang mendalam, secara langsung dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data berupa jawaban penelitian baik lisan maupun non lisan. Pusat data berasal dari informan kunci, peneliti menggunakan teknik wawancara yang tidak berstruktur. Hal ini dilakukan peneliti sebagai upaya mengurangi rasa kaku dalam berdialog dengan para narasumber. Agar terjalin suasana akrab sebagai jalan untuk membuka data yang terpendam atau terkunci. Pertanyaan-pertanyaan disesuaikan dengan keadaan informan dan mengalir seperti dalam percakapan keseharian.

Wawancara mendalam ini, dilakukan oleh peneliti dalam dua tahapan karena terdapat dua narasumber kunci. Tahapan antara keduanya adalah tahapan saling melengkapi informasi data. Hal ini dilakukan hanya untuk mengkaji nilai kebenaran data penelitian.

Tabel 3.5. Kisi-kisi Wawancara dengan Narasumber Kunci

No. Butir Pertanyaan

1. Sejarah teater Dul Muluk

2. Fase-fase perkembangan teater Dul Muluk dalam perkembangan zaman 3. Fungsi pertunjukan teater Dul Muluk dari zaman dahulu hingga saat ini

(13)

4. Fungsi secara ekonomis dari zaman dahulu dan saat ini 5. Faktor perubahan konsep pertunjukan teater Dul Muluk 6. Hubungan antara teater Dul Muluk dengan teater Bangsawan

7. Faktor antara perubahan dan pengaruh pencitraan media informasi komunikasi global

8. Respon masyarakat Palembang mengenai keberadaan dan perubahan yang terjadi pada teater Dul Muluk

9. Respon seniman, budayawan, terhadap pergeseran nilai-nilai teater Dul Muluk di kota Palembang

10. Perubahan pada penyampaian kata-kata dalam berdialog atau model dialog 11. Perubahan dalam bahasa ungkap melalui bahasa tubuh,

12. Perubahan pada konsep pengemasan permainan.

3. Analisis Data

Proses awal dalam menganalisis data peneliti mengelompokkan pengolahan keseluruhan hasil kajian wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis terhadap hasil ini memerlukan kecermatan tinggi supaya hasil analisis data mencapai target maksimal.

Tabel 3.6. Pedoman Analisis Data Dul Muluk Analisis Data pertunjukan teater Dul Muluk di kota Palembang

Data yang diperlukan:

a. Profil Media Komunikasi Global b. Data riwayat pertunjukan teater Dul

Muluk

c. Foto pertunjukan Dul Muluk

d. Video pertunjukan teater Dul Muluk

Figur

Tabel 3.1. Fenomena Media Komunikasi Global dalam Pertunjukan Dul Muluk.

Tabel 3.1.

Fenomena Media Komunikasi Global dalam Pertunjukan Dul Muluk. p.5
Tabel 3.2. Fase Pergeseran Dul Muluk dan Pengaruh Media Komunikasi Global  Sumber:  Hasil  analisis  pada  tabel  ini,  terkumpul  dari  buku  tentang  Dul  Muluk  yang  diterbitkan  oleh:  Proyek  Pembinaan  dan  Pengembangan  Kesenian  Tradisional  Pelem

Tabel 3.2.

Fase Pergeseran Dul Muluk dan Pengaruh Media Komunikasi Global Sumber: Hasil analisis pada tabel ini, terkumpul dari buku tentang Dul Muluk yang diterbitkan oleh: Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kesenian Tradisional Pelem p.7
Gambar 1.  Lokasi Penelitian terletak di Kota Palembang Sumatera Selatan:

Gambar 1.

Lokasi Penelitian terletak di Kota Palembang Sumatera Selatan: p.9
Tabel 3.4. Panduan Observasi

Tabel 3.4.

Panduan Observasi p.11
Tabel 3.5. Kisi-kisi Wawancara dengan Narasumber Kunci

Tabel 3.5.

Kisi-kisi Wawancara dengan Narasumber Kunci p.12
Tabel 3.6. Pedoman Analisis Data Dul Muluk  Analisis  Data  pertunjukan  teater  Dul  Muluk di kota Palembang

Tabel 3.6.

Pedoman Analisis Data Dul Muluk Analisis Data pertunjukan teater Dul Muluk di kota Palembang p.13

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :