• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBARAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LEMBARAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2008"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBARAN DAERAH

PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2008

No. Urut : 09

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 9 TAHUN 2008

TENTANG

RETRIBUSI TERA DAN TERA ULANG ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT

Menimbang : a. bahwa untuk menciptakan tertib alat Ukur, Takar, Timbang

dan Perlengkapannya (UTTP) perlu dilaksanakan Tera dan atau Tera Ulang guna melindungi kepentingan umum (Konsumen dan Produsen) yang pada gilirannya memberikan kontribusi positif dalam sektor pembangunan industri dan perdagangan dalam rangka memperkuat daya saing produk Indonesia khususnya bagi daerah Propinsi Sumatera Barat di pasar global;

b. bahwa jasa pelayanan umum penggunaan atat UTTP merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Propinsi Sumatera Barat untuk memantapkan Otonomi Daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan b, perlu membentuk Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tentang Retribusi Tera dan Tera Ulang Alat Ukur, Takar, Tirnbang dan Pertengkapannya.

Mengigat : 1. Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1646) Jo Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1979;

2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metroogi Legal (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3193);

3. Undang-Undang Nomor 18. Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3686) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor. 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821);

5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4139); 6. Undang-Undang Nomor. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor. 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1983 tentang Tarif Biaya Tera (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Nomor 03257); sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor. 16 Tahun 1986 (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3329);

8. Peraturan Pemerintah Nomor. 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (embaran Negara Tahun 1981 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor.3258);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1985 tentang Wajib dan Pembebasan untuk Ditera dan atau Ditera Ulang serta Syarat-Syarat bagi Alat Ukur, Takar, Timbang dan Pertengkapannya (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3283);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1987 tentang Satuan Turunan, satuan Tambahan, dan satuan lain yang berlaku (Lembaran Negara Tahun 1987 Nomor .7);

(2)

11. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1989 tentang Standar Nasional untuk satuan Ukuran (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3388);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standarisasi Nasional (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 199, Tambahan Lembaran Negara Nomor 40201);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor. 4048);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Propinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);

16. Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1997 tentang Badan Standarisasi Nasional;

17. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 61/MPP/Kep/2/ 1988tentang Penyelenggaraan Kemetrologian; 18. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 731/MPP/ Kep/10/ 2002 tentang Pengelolaan Kemetrologian dan Pengelolaan Laboratorium Kemetrologian;

19. Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2000 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat;

20. Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Propinsi Sumatera Barat.

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PROVINSI SUMATERA BARAT DAN

GUBERNUR SUMATERA BARAT MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TENTANG RETRIBUSI TERA DAN TERA ULANG ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG, DAN PERLENGKAPANNYA.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang diimaksud dengan : 1. Daerah adalah Propinsi Sumatera Barat;

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi Sumatera Barat;

3. Kepata Daerah yang selanjutnya disebut Gubernur adalah Gubernur Sumatera Barat;

4. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang betlaku; 5. Dinas/Badan/Kantor adalah Dinas/Badan/Kantor Propinsi Sumatera Barat; 6. Metrologi adalah ilmu pengetahuan tentang ukur-mengukur secara luas; 7. Metrologi Legal adalah Metrologi yang mengelola satuan-satuan ukuran,

metode-metode pengukuran dan alat-alat ukur yang menyangkut persyaratan teknik dan peraturan berdasarkan undang-undang yang bertujuan melindungi kepentingan umum dalam hal kebenaran pengukuran;

8. Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Metrologi selanjutnya disebut UPTD adalah Unit Pelaksana Teknis Metrologi pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat;

9. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Metrologi adalah Kepala Unit Pelaksana Teknis Metrologi pada Dinas yang membidangi perindustrian dan perdagangan di Propinsi Sumatera Barat;

10. Pegawai yang berhak adalah Pegawai Negeri Sipil yang bertugas pada unit Metrologi Legal yang telah lulus Pendidikan dan Pelatihan Kemetrologian dan telah diberi Hak oleh Pejabat yang berwenang; 11. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi Perseroan

Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama bentuk apapun, Persekutuan, Perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi, Yayasan atau Organisasi yang sejenis, Lembaga dan Dana Pensiun, bentuk Usaha tetap serta bentuk Usaha lainnya;

12. Tera adalah hal menandai dengan tanda Tera sah atau dengan tanda Tera Batal yang berlaku atau memberikan keterangan-keterangan tertulis yang bertanda Tera sah atau tanda Tera Batal yang berlaku, dilakukan oleh Pegawai-pegawai yang Berhak melakukannya berdasarkan pengujian yang dijalankan atas alat ukur, takar, timbang dan pertengkapannya (UTTP) yang belum dipakai;

13. Tera Ulang adalah hal menandai berkala dengan tanda-tanda Tera sah atau dengan tanda Tera Batal yang berlaku atau memberikan keterangan-keterangan tertulis yang bertanda Tera sah atau tanda Tera

310

309

(3)

Batal yang berlaku, dilakukan oleh Pegawai-pegawai yang berhak melakukannya berdasarkan pengujian yang dijalankan atas alat UTTP yang telah ditera;

14. Alat Ukur adalah alat yang diperuntukkan atau dipakai bagi pengukuran kuantitas dan atau kualitas;

15. Alat Takar adalah alat yang diperuntukkan atau dipakai bagi pengukuran kuantitas atau penakar;

16. Alat Timbang adalah alat yang diperuntukkan atau dipakai bagi pengukuran massa atau penimbangan;

17. Alat Perlengkapan adalah alat yang diperuntukkan atau dipakai sebagai pelengkap atau tambahan pada alat Ukur, takar atau timbang, yang menentukan hasil pengukuran, penakaran atau penimbangan;

18. Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan; 19. Retribusi Tera dan Tera Ulang atau disebut Jasa Pelayanan Umum

Penggunaan Alat UTTP Metrologi Legal adalah Pembayaran atas fasilitas yang disediakan Pemerintah Daerah kepada Wajib Retribusi guna melindungi kepentingan umum dalam sektor pembangunan industri dan perdagangan;

20. Biaya Tambahan adalah biaya yang harus dibayar oleh pemilik / pemakai / pemegang kuasa alat UTTP yang dilakukan Petugas Tera dan Penguji pada suatu lokasi yang ditentukan sendiri oleh karena sudah dilaksanakan Tera atau Tera Ulang atas alat UTTP pemilik /pemakai/ pemegang kuasa alat UTTP;

21. Wajib Rebibusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang-Undangan Retribusi, diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi;

22. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dari Pemerintah;

23. Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SPORD, adalah surat yang digunakan oleh Wajib Retribusi untuk melaporkan Objek Retribusi dan Wajib Retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran Retribusi yang terutang menurut Peraturan Perundang-undangan Retribusi Daerah;

24. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang disingkat dengan SKRD adalah Surat Ketetapan Retribusi yang menentukan besamya pokok Retribusi dan sekaligus berfungsi sebagai alat pembayaran atau tanda syah pembayaran setelah divalidasi /cap pembayaran;

25. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan Retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda;

26. Kas Daerah adalah Kas Propinsi Sumatera Barat;

27. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengelola data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi dan tujuan lain, dalam rangka melaksanakan ketentuan Peraturan Perundang-undangan Retribusi;

28. Penyidikan Tindak Pidana di bidang Retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang Retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

BAB II

ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA ( UTTP )

Pasal 2

Alat UTTP yang digunakan dalam bidang Metrologi Legal wajib untuk ditera dan atau ditera ulang agar dalam pemakaian tidak merugikan pemakai atau pihak yang dilayani oleh alat-alat tersebut.

Pasal 3

(1) Alat UTTP yang secara langsung atau tidak langsung digunakan atau disimpan dalam keadaan siap pakai wajib ditera dan atau ditera ulang guna menentukan hasil pengukuran, penakaran atau penimbangan untuk :

a. Kepentingan umum; b. Usaha;

c. Menyerahkan atau menerima barang; d. Menentukan pungutan atau upah; e. Menetukan produk akhir perusahaan;

f. Melaksanakan Peraturan Perundang-undangan;

(2) Alat UTTP yang khusus diperuntukkan atau dipakai untuk keperluan rumah tangga dibebaskan dari Tera dan Tera Ulang;

(3) Semua alat UTTP yang dipakai atau diperuntukkan dalam penelitian, pengamatan atau kontrol di dalam proses kegiatan merupakan alat ukur yang wajib ditera dan dapat dibebaskan dari Tera Ulang;

(4) Tata cara pembebasan Tera dan atau Tera Ulang seperti yang dimaksud Pasal 3 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.

(4)

Pasal 4

(1) Semua alat UTTP yang pada waktu ditera dan atau ditera ulang ternyata tidak memenuhi syarat dan tidak mungkin dapat diperbaiki lagi harus dirusak sampai tidak berfungsi lagi oleh Pegawai yang diberi hak oleh Pejabat yang berwenang;

(2) Tata cara pengrusakan alat UTTP yang menyangkut Pelaksanaan Teknis dan Khusus, maka pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.

Pasal 5

Dilarang mempunyai, menaruh, memamerkan, memakai atau menyuruh memakai alat UTTP yaitu :

a. yang bertanda Tera Batal;

b. yang tidak bertanda Tera sah yang berlaku atau tidak disertai keterangan pengesahan yang berlaku, kecuali dibebaskan dari Tera dan atau Tera Ulang sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku; c. tanda Teranya rusak;

d. apabila setelah dilakukan perbaikan atau perubahan yang dapat mempengaruhi panjang, isi, berat atau penunjukannya menyimpang dari nilai yang seharusnya diizinkan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

e. alat UTTP yang panjang, isi, berat atau penunjukannya menyimpang dari nilai yang seharusnya dari Pada yang diizinkan;

f. mempunyai tanda khusus yang memungkinkan orang menentukan ukuran, takaran atau timbangan menurut dasar dan sebutan lain dari pada yang ditentukan oleh Peraturan Perundang-undangan yang berlaku; g. untuk keperluan lain yang dimaksud dalam Pasal 5 huruf a sampai dengan f, atau berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

di tempat usaha, ditempat untuk menentukan ukuran atau timbangan untuk kepentingan umum, di tempat melakukan penyerahan-penyerahan, di tempat menentukan pungutan atau upah yang didasarkan pada ukuran atau timbangan.

Pasal 6

Dilarang menawarkan untuk dibeli, menjual, menawarkan untuk disewa, menyewakan, mengadakan persediaan untuk dijual, diserahkan atau memperdagangkan alat UTTP, yang :

a. bertanda Tera Batal;

b. tidak bertanda Tera sah yang berlaku, atau tidak disertai keterangan pengesahan yang berlaku, kecuali dibebaskan dari Tera dan atau Tera Ulang sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku; c. tanda jaminannya rusak.

Pasal 7

(1) Dilarang memasang alat ukur, alat penunjuk atau alat lainnya sebagai tambahan pada alat UTTP yang sudah ditera atau yang sudah ditera ulang;

(2) Alat UTTP yang diubah atau ditambah dengan cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) diperlakukan sebagai tidak ditera atau ditera ulang.

BAB III

TANDA TERA Pasal 8 (1) Jenis-jenis tanda tera adalah :

1. Tanda sah; 2. Tanda Batal; 3. Tanda Jaminan; 4. Tanda Daerah;

5. Tanda Pegawai yang Berhak.

(2) Pengaturan mengenai ukuran, betuk, jangka waktu berlakunya, tempat pembubuhan dan cara membubuhkan tanda-tanda Tera sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Gubernur sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 9

Tanda-tanda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dibubuhkan atau dipasang pada :

1. Tanda sah dibubuhkan dan atau dipasang pada alat UTTP yang disahkan pada waktu ditera atau ditera ulang;

2. Tanda Batal dibubuhkan pada alat UTTP yang dibatalkan pada waktu ditera atau ditera ulang;

3. Tanda jaminan dibubuhkan dan atau dipasang paela bagian-bagian tertentu dari alat UTTP yang sudah disahkan untuk mencegah penukaran dan atau perubahan;

4. Tanda Daerah dan Tanda Pegawai yang Berhak dibubuhkan pada alat UTTP agar dapat diketahui di mana dan oleh siapa penerapan dilakukan;

314

313

(5)

5. Tanda sah dan Tanda Batal yang tidak mungkin dibubuhkan pada alat UTTP diberikan surat keterangan tertulis sebagai penggantinya.

BAB IV

NAMA, OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI Pasal 10

Dengan nama Retribusi Tera, Tera Ulang Alat UTTP, dipungut Retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan Tera dan atau Tera Ulang Alat UTTP.

Pasal 11

Objek Retribusi adalah Pelayanan Tera, Tera Ulang Alat UTTP yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Ukuran Panjang;

2. Ukuran Panjang dengan Alat Hitung (Counter Meter); 3. Alat Ukur Permukaan Cairan (Level Gauge) :

a. Mekanik; b. Elektronik.

4. Takaran (Basah /Kering ); 5. Tangki Ukur :

a. Bentuk Silinder Tegak; b. Bentuk Silinder Datar; c. Bentuk Bola dan Speroidal. 6. Tangki Ukur Gerak :

a. Tangki Ukur Mobil dan Tangki Ukur Wagon;

b. Tangki Ukur Tongkang, Tangki Ukur Pindah, Tangki Ukur Apung dan Kapal.

7. Alat Ukur dari Gelas :

a. Labu Ukur, Buret dan Pipet; b. Gelas Ukur.

8. Bejana Ukur (takaran );

9. Meter Taksi ( alat ukur meter taksi ); 10. Speedometer (alat ukur kecepatan ); 11. Meter Rem (alat ukur uji rem ); 12. Tachometer ( alat ukur kelembaban ); 13. Thermometer (alat ukur suhu );

14. Densimeter (alat ukur massa jenis zat cair); 15. Viskometer (alat ukur kekentalan zat cair); 16. Alat Ukur Luas;

17. Alat Ukur Sudut;

18. Alat Ukur Cairan Minyak : a. Meter Bahan Bakar Minyak;

b. Meter Induk ( standar meter BBM ); c. Meter Kerja ( meter untuk transaksi BBM ); d. Pompa Ukur ( pompa di SPBU ).

19. Alat Ukur Gas :

a. Meter Induk (meter untuk standar penguji ); b. Meter Kerja (meter untuk transaksi );

c. Meter Gas Orifice dan sejenisnya (suatu sistem unit alat ukur gas); d. Perlengkapan Meter Gas Orifice (alat perlengkapan meter gas ); e. Pompa Ukur Bahan Bakar Gas (BBG), LPG ( Pompa BBG di SPBBG ); f. Tabung Gas LPG atau Gas lainnya.

20. Meter Air :

a. Meter Induk (standar meter);

b. Meter Kerja ( meter untuk transaksi ). 21. Meter Cairan Minuman selain Air :

a. Meter Induk ( meter untuk standar); b. Meter Kerja ( meter untuk transaksi ).

22. Pembatas Arus Air ( pembatas otomatis kapasitas air ); 23. AJat Kompensasi Suhu (ATC) / Tekanan / Kompensasi lainnya; 24. Meter Prover (meter standar BBM kapasitas besar );

25. Meter Arus Massa (alat penghitung massa zat);

26. Alat Ukur Pengisi (Filling Machine) ( alat ukur pengisi otomatis ); 27. Meter Listrik (Meter kWh) :

a. Meter Induk (standar meter);

b. Meter Kerja Kelas 2 (meter dengan kesalahan + 2 %);

c. Meter Kerja Kelas 1 dan Kelas 0,5 ( meter dengan kesalahan ± 1 % dan ± 2 % ).

28. Meter Energi Listrik lainnya ( kWh meter);

29. Pembatas Arus Listrik ( MCB = pembatas arus Listrik ); 30. Stop Watch ( alat ukur waktu );

31. Alat Ukur Kesehatan dan Lingkungan Hidup; 32. Anak Timbangan :

a. Ketelitian sedang dan biasa (Kelas M2 dan M3); b. Ketelitian Halus (Kelas F2 dan Ml);

c. Ketelitian Khusus (Kelas E2 dan F1). 33. Timbangan :

a. Sampai dengan 3.000 kg :

 Ketelitian sedang dan biasa (Kelas III dan lV);

 Ketelitian Halus (Kelas II);

 Ketelitian Khusus (Kelas I). b. Lebih dari dengan 3.000 kg :

(6)

 Ketelitian Halus dan Khusus. c. Timbangan Ban Berjalan;

d. Timbangan dengan dua skala (Multi Range) atau lebih; 34. Dead Weight Tester Machine ( alat ukur gaya tekan mesin ); 35. Alat Ukur Tekanan Darah ( Tensi meter );

36. Manometer Minyak ( alat ukur tekanan minyak ); 37. Pressure Calibrator (alat ukur tekanan );

38. Pressure Recorder (alat ukur perekam tekanan ); 39. Pencap Kartu ( Printer /Recorder) Otomatis; 40. Meter Kadar Air;

a. Untuk biji-bijian tidak mengandung minyak; b. Untuk biji-bijian mengandung minyak; c. Untuk kayu dan komoditi lain.

41. UTTP yang memiliki konstruksi tertentu;

a. Timbangan milisimal, sentisimal, desimal, bobot ingsut dan timbangan pegas;

b. Timbangan cepat, pengisi (curah ), dan timbangan pencampuran untuk semua kapasitas;

c. Timbangan Elektronik untuk semua kapasitas. 42. UTTP yang memerlukan Pengujian tertentu; 43. UTTP yang ditanam;

44. UTTP yang mempunyai sifat dan atau konstruksi khusus; 45. UTTP, termasuk anak timbangan yang ditanam;

46. UTTP, termasuk anak timbangan yang tidak ditanam. Pasal 12

Subjek Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh jasa Pelayanan Tera dan atau Tera Ulang Alet UTTP wajib membayar Retribusi.

BAB V

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 13

Retribusi biaya Tera dan atau Tera Ulang Alat UTTP digolongkan sebagai Retribusi Jasa Umum.

BAB VI

CARA MENGUKUR UNGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 14

Tingkat penggunaan Jasa Tera dan atau Tera Ulang Alat UTTP dihitung berdasarkan tingkat kesulitan, karakteristik, jenis, kapasitas dan peralatan pengujian yang digunakan;

BAB VII

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKlUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI

Pasal 15

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi pada dasarnya untuk menutupi sebagian atau seluruh dari biaya penyelenggaraan kegiatan Tera dan atau Tera Ulang alat UTTP; (2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : biaya operasional,

biaya perawatan dan pemeliharaan. BAB VIII

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 16

(1) Struktur dan besarnya tarif digolongkan berdasarkan pada standar satuan ukuran yang dipergunakan dan tingkat kesulitan alat UTTP; (2) Struktur dan besarnya tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) sebagaimana tercantum pada Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini;

(3) Tarif dan jenis Retribusi yang belum tercantum dalam Pasal 16 ayat (2) dan atau tidak sesuai lagi perkembangan harga pasar sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali oleh Gubernur sambil menunggu adanya perubahan Peraturan Daerah tentang Retribusi Tera dan Tera Ulang.

BAB IX

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 17

Masa Retribusi Tera dan Tera Ulang Alat UTTP diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.

Pasal 18

Saat Retribusi terutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB X

SURAT PENDAFTARAN Pasal 19

(1) Orang Pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 wajib mendaftar dengan mengisi SPORD;

(2) SPORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditanda-tangani oleh orang pribadi atau pimpinan badan / kuasa;

318

317

(7)

(3) Bentuk, isi dan tata cara pengisian serta penyampaian SPORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Gubernur.

BAB XI

WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 20

Retribusi yang terutang dlpungut di wilayah daerah tempat pemberian pelayanan dan tempat pelaksanaan atas pekerjaan Tera dan atau Tera Ulang Alat UTTP.

BAB XII

PENETAPAN RETRIBUSI Pasal 21

(1) Retribusi terutang ditetapkan dengan menerbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan;

(2) Bentuk Isi dan format blanko SKRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dan ditetapkan dalam suatu Peraturan Gubernur.

BAB XIII

TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 22

(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan;

(2) Pungutan Retribusi tidak dapat diborongkan;

(3) Tata cara pemungutan Retribusi ditetapkan oleh Gubernur. BAB XIV

TATA CARA PEMBAYARAN, PENYETORAN DAN TEMPAT PEMBAYARAN

Pasal 23

(1) Pembayaran Retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus;

(2) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran Retribusi diatur dan ditetapkan dengan suatu Peraturan Gubernur.

BAB XV

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 24

(1) Dalam hal orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 tidak membayar kewajibannya berupa Retribusi yang tidak tepat pada waktunya atau kurang bayar, dikenakan sanksi administrasi berupa

bunga 2 % (dua persen) setiap bulan dari Retribusi yang terutang atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan STRD;

(2) Tata cara penetapan sanksi administrasi diatur dan ditetapkan dengan suatu Peraturan Gubernur.

BAB XVI

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRlBUSI Pasal 25

(1) Gubernur dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan Retribusi terhutang dengan mempertimbangkan kemampuan Wajib Retribusi;

(2) Tata cara dan prosedur pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan Retribusi terhutang diatur dan ditetapkan dengan suatu Peraturan Gubernur.

BAB XVII KEBERATAN

Pasal 26

(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB;

(2) Keberatan yang diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas;

(3) Dalam hal Wajib Retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan Retribusi, Wajib Retribusi harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan Retribusi tersebut;

(4) Keberatan yang harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB diterbitkan kecuali apabila Wajib Retribusi tersebut dapat menunjukkan bukti bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya;

(5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) tidak dianggap sebagai surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan;

(6) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi dan pelaksanaan penagihan Retribusi.

Pasal 27

(1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan;

(8)

(2) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian menolak atau menambah besarnya Retribusi yang terhutangi;

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberikan suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.

BAB XVIII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 28

(1) Atas kelebihan pembayaran Retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Kepala Daerah;

(2) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan;

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Kepala Daerah tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian kelebihan Retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus ditebitkan dalam angka waktu paling lama 1 (satu) bulan; (4) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud

ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu 2 (dua) bulan sejak diterbitkan SKRDLB;

(5) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan seteleh jangka waktu 2 (dua) bulan Kepala Daerah memberikan imbalan bungan 2 % (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi.

Pasal 29

(1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi diajukan secara tertulis kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjukan dengan sekurang-kurangnya menyebutkan :

a. Nama dan alamat Wajib Retribusi; b. Masa Retribusi;

c. Besarnya kelebihan pembayaran; d. Alasan yang singka dan jelas.

(2) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi disampaikan secara langsung atau melalui pos terdekat;

(3) Bukti penerimaan kelebihan oleh Pejabat Daerah atau bukti pengiriman pos tercatat merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Kepala Daerah.

Pasal 30

(1) Pengembalian kelebihan Rebibusi dilakukan dengan menerbitkan surat perintah Membayar Kelebihan Rebibusi;

(2) Apabila kelebihan pembayaran Retribusi lainnya sebagaimana dimaksud dengan Hutang Retribusi lainnya sebagaimana dengan Pasal 18, pembayaran dilakukan dengan cara pemindahbukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran.

BAB XIX PENYIDIKAN

Pasal 31

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Rebibusi Daerah, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana;

(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau

laporan berkenaan dengan tindak pidana dl bidang Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas; b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenal orang

pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi;

c. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi;

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan barang bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Rebibusi;

g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi; i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan dlperiksa

sebagai tersangka atau saksi; j. Menghentikan penyidikan;

322

321

(9)

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi menurut hukum yang berlaku. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan

dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum meialui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

BAB XX

KETENTUAN PIDANA Pasal 32

(1) Setiap orang yang melanggar Pasal 5, dan Pasal 6 diancam dengan Pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dengan tidak merampas barang tertentu untuk Daerah, kecuali jika ditentukan dalam Peraturan Perundang-undangan;

(2) Orang Pribadi atau badan sebagalmana dimaksud dalam Pasal 12 yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, sehingga merugikan keuangan Daerah diancam Pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah Retribusi terutang;

(3) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah merupakan tindak Pidana Pelanggaran.

Pasal 33

Petugas yang dengan sengaja melakukan tindakan yang nyata-nyata merugikan Pemerintah Daerah dikenakan tindakan sesuai Peraturan Perundang-undangan yang belaku.

BAB XXI

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 34

Pembinaan dan Pengawasan atas pelaksanaan Peraturan Daerah ini dilaksanakan oleh Gubernur atau pejabat yang ditunjuk.

BAB XXII

INTENSIFIKASI DAN EKSTENSIFIKASI Pasal 35

(1) Instansi terkait dan Instansi Pemungut Retribusi wajib melakukan Intensifikasi dan ekstensifikasi Pendapatan Daerah di bidang Retribusi;

(2) Intensifikasi dan ekstensifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaplikasikan dalam bentuk program kerja masing-maslng Dinas / Badan /Kantor /Instansi Pemungut dan pelaksanaannya diatur oleh Gubernur.

BAB XXIII

KETENTUAN PERAUHAN Pasal 36

Alat UTTP yang telah ditera dan atau ditera ulang sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini, dinyatakan masih berlaku sampai masa Tera dan atau Tera Ulangnya berakhir.

BAB XXIV KETENTUAN PENUTUP

Pasal 37

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.

Pasal 38

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Sumatera Barat.

Ditetapkan di Padang

Pada tanggal 10 September 2008 GUBERNUR SUMATERA BARAT dto

GAMAWAN FAUZI Diundangkan di Padang

Pada tanggal 10 September 2008

PLT. SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT

dto

DRS. ASRUL SYUKUR Pembina Utama Muda, Nip. 010072648

(10)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH SUMATERA BARAT TENTANG

RETRIBUSI TERA DAN TERA ULANG ALAT UKUR, TIKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA PENJELASAN UMUM

Bahwa dalam rangka menunjang penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan Daerah sehubungan dengan Pelaksanaan Otonomi Daerah, perlu dilakukan usaha-usaha untuk pertindungan hukum bagi masyarakat dan untuk meningkatkan Penerimaan Daerah melalui penggalian sumber-sumber pendapatan baru dengan cara mendayagunakan fasilitas-fasilitas yang ada pada Pemerintah Daerah untuk dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan.

Upaya Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud di atas dengan cara menyediakan fasilitas yang ada untuk melaksanakan Pengujian dan Pemeriksaan Alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) yang mana tujuannya untuk melindungi kepentingan umum, sehingga perlu adanya jaminan kebenaran pengukuran serta adanya ketertiban dan kepastian hukum dalam metode pengukuran alat-alat tersebut.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana dimaksud di atas, maka dalam rangka tertib pelaksanaan pengelolaan dan pemungutan Retribusi Tera dan atau Tera Ulang bagi Alat UTTP Metrologi Legal, perlu dibentuk dengan Peraturan Daerah.

PASAL DEMI PASAL : Pasal 1 : cukup jelas

Pasal 2 : Yang dimaksud wajib ditera adalah suatu keharusan bagi Alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) untuk ditera.

Yang dimaksud wajib ditera ulang adalah suatu keharusan bagi Alat UTTP untuk ditera ulang.

Pasal 3 : - Secara langsung adalah alat UTTP yang sudah beredar digunakan secara langsung untuk kepentingan Konsumen atau Pelaku Usaha.

- Secara tak langsung adalah alat UTTP yang sudah berada pada pengusaha / pemakai, tetapi belum dimanfaatkan untuk kepentingan Konsumen.

Pasal 4 :

Ayat (1) : Alat UTTP yang tidak memenuhi syarat sehingga tidak dapat diperbaiki lagi, perlu dirusak untuk menghindari kemungkinan alat UTTP tersebut dipakai atau dijual sehingga akan merugikan orang lain.

Ayat (2) : Cukup jelas

Pasal 5 : Maksud adanya larangan ini ialah untuk melindungi agar tidak ada pihak yang dirugikan akibat dari pemakaian alat UTTP yang tidak memenuhi kebenaran, kepekaan dan ketepatan penunjukannya.

Pasal 6 : Tujuan adalah untuk melindungi pembeli, penyewa atau pemakai agar tidak mendapatkan atau memperoleh alat UTTP yang tidak memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 7 :

Ayat (1) : Cukup Jelas

Ayat (2) : Pemasangan alat –alat baru atau tambahan pada alat UTTP yang sudah ditera ulang akan mempengaruhi keasliannya dan juga memungkinkan adanya penyimpangan-penyimpangan dari syarat teknis. Berhubung dengan adanya penambahan ini, maka alat tersebut diperlukan sebagai ditera atau tidak ditera ulang.

Pasal 8 : Cukup jelas Pasal 9 :

Ayat (1) : Maksud pemberian tanda sah itu ialah untuk menunjukkan bahwa alat UTTP telah memenuhi persyaratan yang diatur berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Ayat (2) : Maksud pemberian tanda batal itu ialah untuk menunjukkan bahwa alat UTTP tidak memenuhi persyaratan yang diatur berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Ayat (3) : Cukup jelas Ayat (4) : Cukup jelas Ayat (5) : Cukup jelas Pasal 10 s/d 38 : cukup jelas

326

325

(11)

LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2008

TANGGAL : 10 SEPTEMBER 2008

TENTANG : RETRIBUSI TERA DAN TERA ULANG ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA

NO NAMA ALAT - ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA SATUAN

TERA PENGUJIAN/ PENGESAHANI PEMBATALAN TERA ULANG PENGUJIAN/ PENGESAHAN/ PEMBATALAN 1 2 3 4 5 A 1 2 3 4 5

Biaya Tera dan Tera Ulang

UKURAN PANJANG

a. Sampai dengan 2 m b. Lebih dari 2 m s/d 10 m

c. Lebih dari 10 m, biaya hurut b angka ini ditambah untuk setiap 10 m bagiannya. d. Ukuran Panjang sejenis

- Salib Ukur - Blok Ukur - Mikrometer - Jangka Sorong - Alat Ukur tinggi orang

- Counter Meter (Ukuran Panjang dengan alat hitung - Roll Tester

- Komparator

ALAT UKUR PENGUKURAN CAIRAN (LEVEL GAUGE) a. Mekanik b. Elektronik TAKARAN (BASAH/KERING) a. s/d 2 liter b. > 2 L sampai 25 L c. >25L d. Pemanas TANGKI UKUR

a. Bentruk Silinder Tegak 1) s/d 500 kl 2) > 500 kl dihitung sbb : - 500 kl pertama - > 500 s/d 1.000 kl, setiap 10 kl - > 1000 s/d 2000 kl, setiap 10 kl - > 2000 s/d 10.000 kl, setiap 10 kl - > 10.000 s/d 20.000 kl, setiap 10 kl - > 20.000 kl, setiap 10 kl

Bagian-bagian dari 10 kl dihitung 10 kl b. Bentuk Silinder Datar

1) s/d 10 kl

2) > 10 kl dihitung sbb : - 10 kl pertama - > 10 s/d 50 kl, setiap kl - > 50 kl, setiap kl

Bagian-bagian dari kl dihitung 1 (satu) kl c. Bentuk Bola dan Speroidal

1) s/d 500 kl

2) > 500 kl dihitung sbb : - 500 kl pertama

- > 500 s/d 1.000 kl, setiap 10 kl - > 1.000 kit setiap 10 kl

TANGKI UKUR GERAK

a. Tangki Ukur Mobil dan Wagon 1) s/d 5 kl Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah buah 2,000 5,000 5,000 4,000 5,000 6,000 6,000 5,000 10,000 50,000 50,000 62,500 125,000 500 1,000 2,000 200 100,000 100,000 1,500 1,000 800 300 200 200,000 200,000 2,000 1,000 200,000 200,000 3,000 2,000 40.000 1,000 2,500 2,500 2,000 5,000 3,000 3,000 2,500 10,000 50,000 50,000 62,500 125,000 500 1,000 2,000 200 100,000 100,000 1,500 1,000 800 300 200 200,000 200,000 2,000 1,000 200,000 200,000 3,000 2,000 20.000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2) > 5 kl dihitung sbb : - 5 kl pertama - > 5 kl, setiap kl

Bagian-bagian dari kl dihitung 1 (satu) kl

b. Tangki Ukur Tongkang, Pindah, Apung dan Kapal 1) s/d 50 kl 2) > 50 kl dihitung sbb : - 50 kl pertama - > 50 s/d 75 kl, setiap kl - > 75 sid 100 kl, setiap kl - > 100 s/d 250 kl, setiap kl - > 250 s/d 500 kl, setiap kl - > 500 sid 1.000 kl, setiap kl - > 1.000 kl, setiap kl

Tangki Ukur Gerak yang mempunyai dua kompartemen atau lebih, setiap kompartemen dihitung satu alat ukur

ALAT UKUR DARI GELAS

a. labu ukur, Buret dan Pipet b. Gelas Ukur BEJANA UKUR a. sid 50 L b. > 50 s/d 200 L c. > 200 s/d 500 L d. > 500 s/d 1.000 L

e. > 1.000 L, biaya pada huruf d angka 7 ini ditambah tiap 1.000 L

Bagian dari 1.000 L dihitung 1.000 L

METER TAKSI SPEEDOMETER METER REM TACHOMETER THERMOMETER DENSIMETER VISKOMETER ALAT UKUR LUAS ALAT UKUR SUDUT

ALAT UKUR CAIRAN MINYAK

A. Meter Induk / Media Uji 1) Meter Induk / Media Uji

a. s/d 25 m3/h b. > 25 m3/h dihitung sbb : - 25 m3/h pertama - > 25 - 100 m3/h per m3/h - > 100 - 500 m3/h per m3/h - > 500 m3/h per m3/h

Bagian dari m3/h dihitung 1 m3/h

2) Meter Kerja / Media Uji a. s/d 15 m3/h b. > 15 m3/h dihitung sbb: - 15 m3/h pertama - > 15 -100 m3/h per m3/h - > 100 - 500 m3/h per m3/h - > 500 m3/h per m3/h

3) Pompa Ukur/Badan Ukur Untuk setiap badan Ukur

ALAT UKUR GAS

1) Meter Induk a. s/d 100 m3/h b. > 100 m3/h dihitung sbb: - > 100 m3/h pertama - > 100 - 500 m3/h, setiap 10 m3/h - > 500 -1.000 m3/h, setiap 10 m3/h Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah 40,000 8,000 80,000 80,000 1,200 1,000 700 500 200 50 10,000 6,000 10,000 20,000 30,000 40,000 10,000 20,000 15,000 15,000 30,000 10,000 10,000 10,000 10,000 10,000 60,000 60,000 2,500 1,500 1,000 30,000 30,000 2,000 1,000 500 30,000 30,000 30,000 1,500 1,000 20,000 6,000 80,000 80,000 1,200 1,000 700 500 200 50 10,000 6,000 10,000 20,000 30,000 40,000 10,000 20,000 15,000 15,000 30,000 10,000 10,000 10,000 10,000 10,000 60,000 60,000 2,500 1,500 1,000 30,000 30,000 2,000 1,000 500 30,000 30,000 30,000 1,500 1,000

(12)

1 2 3 4 5 19 20 21 22 23 24 25 - > 1.000 - 2.000 m3/h, setiap 10 m3/h - > 2.000 m3/h, setiap 10 m3/h

Bagian daM 10 m3/h dihitung 10 m3/h

2) Meter Kerja a. s/d 50 m3/h b. > 50 m3/h dihitung sbb : - 50 m3/h pertama - > 50 - 500 m3/h, setiap 10 m3/h - > 500 -1.000 m3/h, setiap 10 m3/h - > 1.000 - 2.000 m3/h, setiap 10 m3/h - > 2.000 m3/h, setiap 10 m3/h

Bagian dari 10 m3/h dihitung 10 m3/h

3) Meter Gas Orifice dan sejenisnya (merupakan satu system / unit alat ukur) 4) perlengkapan Meter Gas Orifice (jika diuji

tersendiri) per alat perlengkapan

5) Pompa ukur Bahan bakar Gas, Elpiji, per badan ukur

METER AIR 1) Meter Induk a. s/d 10 m3/h b. > 10 -100 m3/h c. > 100 m3/h 2) Meter Kerja a. s/d 10 m3/h b. > 10 -100 m3/h c. > 100 m3/h

METER CAIRAN MINUM SELAIN AIR

1) Meter Induk a. s/d 15 m3/h b. > 15 - 100 m3/h c. > 100 m3/h 2) Meter Kerja a. s/d 15 m3/h b. > 15 - 100 m3/h c. > 100 m3/h

PEMBATAS ARUS AIR

ALAT KOMPENSASI SUHU (ATC / TEKANAN / KOMPENSASI LAINNYA)

METER PROVER

a. s/d 2.000 L b. > 2.000 s/d 10.000 L c. > 10.000 L

Meter Prover yang mempunyai 2 (dua) Seksi atau lebih, maka setiap seksi dihitung 1 alat ukur

METER ARUS MASSA

a. Meter kerja / jenis media uji 1) s/d 10 kg/min

2) > 10 kg/min dihitung sbb : - 10 kg/min pertama

- > 10 -100 kg/min setiap kg/min - > 100 - 500 kg/min setiap kg/min - > 500 - 1.000 kg/min setiap kg/min - > 1.000 kg/min setiap kg/min

Bagian-bagian dari kg/min dihitung satu kg/min

ALAT UKUR PENGISI/ JENIS MEDIA (FILLING MECHINE)

a. s/d 4 alat pengisi (AP)

b. > 4 alat pengisi (AP), setiap alat pengisi

Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah 500 200 2,000 2,000 200 150 100 50 150,000 30,000 30,000 30,000 60,000 75,000 750 6,000 15,000 45,000 75,000 115,000 3,000 7,500 15,000 1,500 15,000 100,000 200,000 300,000 60,000 60,000 500 200 100 50 30,000 5,000 500 200 2,000 2,000 200 150 100 50 150,000 30,000 30,000 30,000 60,000 75,000 500 3,000 7,500 45,000 75,000 115,000 3,000 7,500 15,000 1,500 15,000 100,000 200,000 300,000 60,000 60,000 500 200 100 50 30,000 5,000 1 2 3 4 5 26 27 28 29 30 31

METER LISTRIK (kWh)/METER ENERGI LISTRIK

a. Kelas 0,2 atau kurang (meter induk): - 3 (tiga) Phasa

- 1 (satu) Phasa b. Kelas 0,5 atau Kelas 1 :

- 3 (tiga) Phasa - 1 (satu) Phasa c. Kelas2 :

- 3 (tiga) Phasa - 1 (satu) Phasa

Meter Energi Listrik lainnya, biaya pemeriksaan peng-ujian,peneraan/Tera Ulang dihitung sesuai kapasitas manurut tarif pada angka 26 huruf a, b, dan c

PEMBATAS ARUS L1STRIK STOP WATCH

METER PARKIR ANAK TIMBANGAN

a. Ketelitian sedang dan biasa (Klas M2 dan M3) - s/d 1 kg

- > 1 kg s/d 5 kg - > 5 kg s/d 50 kg

b. Ketelitian halus (Klas F2 dan M1) - s/d 1 kg

- > 1 kg s/d 5 kg - > 5 kg s/d 50 kg

c. Ketelitian khusus (Klas E2 dan F1) - s/d 1 kg

- > 1 kg s/d 5 kg - > 5 kg s/d 50 kg

TIMBANGAN

a. s/d 3.000 kg

1. Ketelitian sedang dan biasa (Klas III dan IV) - s/d 25 kg

- > 25 s/d 150 kg - > 150 s/d 500 kg - > 500 s/d 1.000 kg - > 1.000 s/d 3.000 kg 2. Ketelitian halus (Klas II)

- s/d 1 kg - > 1 s/d 25 kg - > 25 s/d 100 kg - > 100 s/d 1.000 kg - > 1.000 s/d 3.000 kg 3. Ketelitian khusus (Klas I) b. > 3.000 kg

- Ketelitian sedang dan biasa, setiap ton - Ketelitian khusus dan halus, setiap ton c. Timbangan Ban Berjan

- s/d 100 ton / h - > 100 s/d 500 ton /h

- >500 ton/h

Timbangan dengan dua skala (multi range)atau lebih, dan dengan sebuah alat penunjuk yang

penunjukannya dapat diprogram untuk penggunaan setiap skala timbang, biaya, pengujian, peneraan atau peneraulangannya dihitung sesuai dengan jumlah lantai timbangan dan kapasitas masing-masing serta menurut tarif pada angka 32 a, b, dan c.

Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah 55,000 17,000 7,000 2,500 4,200 1,400 1,400 3,000 6,000 1,000 1,500 2,000 2,000 3,000 8,000 8,000 16,000 25,000 5,000 8,000 10,000 15,000 25,000 20,000 25,000 30,000 50,000 60,000 70,000 10,000 14,000 250,000 350,000 500,000 55,000 17,000 7,000 2,500 4,200 1,400 1,400 3,000 6,000 1,000 1,500 2,000 2,000 3,000 8,000 8,000 16,000 25,000 5,000 8,000 10,000 15,000 25,000 20,000 25,000 30,000 50,000 60,000 70,000 10,000 14,000 250,000 350,000 500,000

329

330

(13)

1 . 2 3 4 5 32 33 34 35

ALAT UKUR TEKANAN

a. Dead Weight Testing Machine - s/d 100 kg/cm2

- > 100 s/d/1.000 kg/cm3

- > 1.000 kg/cm3

b. 1. Alat UkurTekanan darah 2. Manometer Minyak - s/d 100 kg/cm2 - > 100 sid 1.000 kg/cm2 - > 1.000 kg/cm2 3. Pressure Calibrator 4. Pressure Recorder - sid 100 kh/cm2 - > 100 sid 1.000 kg/cm2 - > 1.000 kg/cm2

PENCAP KARTU OTOMATIS (Printer / Recorder) METER KADAR AIR

a. Biji-bijian tidak mengandung minyak per komoditi

b. Biji-bijian mengandung minyak, kalapa dan tekstil, per komoditi

c. Kayu dan komoditi lain / komoditi

Selain UTTP angka 1 - 34 atau benda / biirang bukan UTTP atas permintaan untuk diukur, ditakar, ditimbang dihitung berdasarkan/lamanya pengujian dengan minimal 2 jam, setiap jam. Bagian dari 1 jam dihitung 1 jam.

Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah 5,000 10,000 15,000 7,500 7,500 10,500 15,000 30,000 7,500 15,000 22,500 15,000 15,000 22,500 30,000 5,000 5,000 10,000 15,000 7,500 7,500 10,500 15,000 30,000 7,500 15,000 22,500 10,000 10,000 15,000 15,000 5,000

GUBERNUR SUMATERA BARAT dto

Referensi

Dokumen terkait

bahwa untuk memberikan perlindungan kepada individu, masyarakat dan lingkungan dari bahaya asap rokok, perlu mengatur Kawasan Tanpa Rokok sesuai dengan ketentuan Pasal 115 ayat

24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor. 94, Tambahan Lembaran Negara

(1) Dalam rangka melakukan pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65, Pemerintah Daerah dapat memberikan penghargaan kepada badan hukum, badan usaha,

Pengembangan dan pengelolaan lebih lanjut kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dilakukan

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2018 dijelaskan bahwa, “Tera adalah hal menandai dengan tanda tera sah atau tanda tera batal yang

Di Provinsi Sumatera Barat dalam kenyataannya masih diakui adanya tanah-tanah dalam Iingkungan masyarakat hukum adat yang pengurusan, penguasaan dan penggunaannya

Undang Undang Dasar 1945 Pasal 28H pada prinsipnya telah menyatakan secara eksplisit bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, ini berarti

bahwa berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan