• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS MODAL KERJA TERHADAP SIKLUS OPERASIONAL PERUSAHAAN Studi kasus pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS MODAL KERJA TERHADAP SIKLUS OPERASIONAL PERUSAHAAN Studi kasus pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL ILMIAH RANGGAGADING

Volume 7 No. 2, Oktober 2007 : 111 - 118

ANALISIS MODAL KERJA TERHADAP SIKLUS

OPERASIONAL PERUSAHAAN

Studi kasus pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

Oleh

Nusa Muktiadji* dan Halida

*Dosen Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan Bogor

ABSTRACT

The purpose of this research is to find out gross working capital and net working capital, and how fast operational cycle of a firm. After to be analyzed, it can be established a policy to meet working capital need. The result of this research shows that PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor has negative net working capital and has good enough gross working capital (there is an increase every year). The best gross working capital is in 2005. The firm operational cycle has an increase every year, and more and more faster every year. Evaluation result of this research shows that net working capital and speeding up of operational cycle is not able to compensate for overdue long-run debt.

Keywords: Working capital analysis; Finance management.

PENDAHULUAN

Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasional sehari-hari dan wujud dari modal kerja tersebut adalah perkiraan-perkiraan yang ada dalam aktiva lancar yaitu kas, sekuritas yang mudah dijual, persediaan dan piutang. Aktiva ini bersifat terus menerus berputar sehingga membentuk siklus operasional perusahaan.

Bila modal kerja diatur dengan baik maka perusahaan akan berada dalam kondisi aman, sehingga perusahaan dapat membuat rencana kerja untuk masa yang akan datang dengan baik dan dapat dicapai dengan biaya modal yang minimum melalui kebijakan-kebijakan yaitu kebijakan agresif, kebijakan konservatif, dan kebijakan moderat.

Dalam melaksanakan kegiatannya PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor berusaha meningkatkan usahanya agar tumbuh dan berkembang baik dalam hal meningkatkan kualitas air minum maupun meningkatkan

pelayanan umum kepada masyarakat. Oleh karena dibutuhkan modal kerja yang cukup, untuk membiayai gaji karyawan, pembelian barang persediaan, dan sebagainya, dimana uang atau dana yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan dapat kembali masuk dalam jangka waktu yang singkat melalui hasil produksi. Kas masuk yang berasal dari penjualan produk tersebut akan segera dikeluarkan lagi untuk membiayai operasional selanjutnya. PDAM Tirta Pakuan harus dapat mengelola modal kerjanya dengan baik agar penggunaannya dapat dilakukan dengan efektif dan efisien, sehingga modal kerja yang dimiliki atau yang tersedia tidak terlalu berlebihan maupun kurang mencukupi kebutuhan. Seorang manager PDAM dihadapkan pada berbagai persoalan yang membutuhkan keputusan yang tepat, ia perlu mencari dan mengumpulkan berbagai informasi, dalam proses pengambilan keputusan. Seorang manager harus dapat mengambil keputusan sehubungan dengan sumber pembiayaan bagi

(2)

112

modal kerja sehingga dicapai biaya modal yang minimum. Ada tiga strategi pembiayaan modal kerja yaitu, strategi pembiayaan agresif, strategi konsevatif, dan strategi moderat. Sejalan dengan perkembangan sekarang ini maka di dalam perusahaan dibutuhkan modal kerja, sehingga peranan modal kerja mempunyai arti yang lebih penting.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kuantitatif analisis, yaitu metode yang menginterpretasikan data-data yang diperoleh dengan faktor-faktor dalam situasi yang diselidiki, dimana dapat menggambarkan keadaan dari perusahaan yang diteliti.

Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif, dimana pembahasan lebih banyak berhubungan dengan angka-angka yang bersumber dari laporan keuangan perusahaan.

1. Modal Kerja Bersih = Lancar g Hu Lancar

Aktiva − tan

2. Modal Kerja Kotor = Total Aktiva Lancar 3. Indeks = % 100 × Dasar Angka Keuangan Laporan Angka

Suatu metode / tehnik analisa untuk mengetahui tendensi daripada keadaan keuangannya, apakah menunjukkan tedensi tetap, naik dan turun.

Untuk mengukur perputaran piutang dalam satu tahun, yaitu dengan membagi total penjualan dengan piutang rata-rata.

4. Lamanya Piutang = g Piu rata Rata Penjualan tan −

Selanjutnya angka perputaran piutang dapat digunakan untuk membagi 360 hari guna mendapatkan rata-rata hari pengumpulam piutang, atau sering disebut sebagai rata-rata periode pengumpulan piutang.

5. Jumlah hari piutang = g Piu Lamanya tahun Per Hari Jumlah tan

Untuk mengukur cukup tidaknya suatu persediaan, denagn membandingkan jumlah persediaan dengan jumlah rata-rata persediaan, untuk mendapatkan perputaran persediaan 6. Lamanya Persediaan = Persediaan rata Rata Penjualan −

Jumlah hari yang diperlukan untuk menjual seluruh persediaan setiap kali atau sering dikenal sebagai rata-rata periode penjualan dapat dihitung dengan membagi 360 hari dengan angka perputaran persediaan.

7. Jumlah hari perdediaan = Persediaan Lamanya Pertahun Hari Jumlah 8. Siklus Operasional = Penagihan Periode rata Rata Persediaan Umur rata Rata − + −

9. Siklus Konversi Kas

= Bayar Periode rata Rata Operasi Siklus − −

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisa Kecenderungan Modal Kerja

PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor Arti pentingnya modal kerja bagi perusahaan adakah sejumlah dana yang tertanam dalam aktiva lancar yang benar – benar tertanam untuk membiayai operasi perusahaan yang sudah dikurangi besarnya hutang lancar.

Agar dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan berhasil diperlukan sejumlah modal yang cukup, namun dalam kenyataannya perusahaan yang berhasil dalam pelaksanaan kegiatan operasinya adalah perusahaan yang mempunyai modal kerja lebih cukup, artinya bahwa perusahaan tersebut dapat menjalankan operasi sehari – hari seekonomis mungkin dan tidak akan mengalami kesulitan karena kurangnya modal kerja yang tersedia untuk melakukan kegiatannya untuk mengetahui besarnya perubahan modal kerja dapat dihitung dengan trend.

(3)

113

Untuk dapat menghitung trend yang dinyatakan dalam persentase ini diperlukan dasar pengukurnya atau tahun dasarnya. Biasanya data atau laporan keuangan dari tahun yang paling awal dalam deretan laporan keuangann yang dianalisa tersebut dianggap sebagai tahun dasar. Pemilihan tahun yang paling awal sebagai tahun dasar ini bukan merupakan keharusan, karena tahun yang paling awal tersebut belum tentu menunjukkan keadaan yang normal atau representatif. Sedapat mungkin periode atau laporan keuangan yang digunakan sebagai tahun dasar adalah tahun yang paling normal di antara tahun – tahun yang dianalisa tersebut.

Tiap – tiap pos yang terdapat dalam laporan keuangan yang dipilih sebagai tahun dasar diberikan angka index 100, sedang pos – pos yang sama dari periode – periode yang dianalisa dihubungkan dengan pos yang sana dalam laporan keuangan tahun dasar dengan cara membagi jumlah rupiah tiap – tiap pos dalam periode yang dianalisa dengan jumlah rupiah dab pos yang sama dalam laporan tahun dasar.

Data keuangan yang dipakai adalah laporan keuangan neraca. Data keuangan ini dipakai untuk mengetahui trend atau kecenderungan modal kerja yaitu modal kerja bersih dan modal kerja kotor. Laporan keuangan yang digunakan untuk menganalisa adalah 5 tahun : tahun 2001, tahun 2002, tahun 2003, tahun 2004, dan tahun 2005. Dari perhitungan trend PDAM Tirta Pakuan nampak dari neraca tahun 2001, 2002, 2003, 2004 dan 2005 dengan menggunakan tahun dasar 2001 dapat diketahui bahwa telah terjadi perubahan – perubahan atau kecenderungan – kecenderungan baik yang menguntungkan

maupun tidak menguntungkan bagi perusahaan.

2. Analisa Siklus Operasional Perusahaan pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

Untuk menghitung siklus operasional perusahaan dibutuhkan data laporan keuangan dari neraca dan rugi – laba. Laporan keuangan yang digunakan tahun 2001, 2002, 2003, 2004, dan 2005. Berikut ini perhitungan siklus operasional perusahaan:

2.1 Lamanya Piutang

Piutang yang dimiliki suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan penjualan kredit. Posisi dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut, yaitu dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut, yaitu dengan membagi total penjualan dengan piutang rata – rata makin tinggi ratio (turn over) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau ratio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang sehingga memerlukan analisa lebih lanjut, mungkin karena bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif atau mungkin ada perubahan dalam kebijaksanaan pemberian kredit untuk mengetahui lamanya perputaran piutang pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, diperlukan analisa. Berikut ini adalah hasil perhitungan lamanya kas :

Tabel 1. Lamanya dan Jumlah hari Piutang Keterangan Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 Lamanya Piutang 7,79 kali 7,54 kali 9,29 kali 7,78 kali 10,01 kali Jumlah Hari piutang 46,21 hari 47,74 hari 38,92 hari 46,27 hari 35,96 hari

Dari tabel diatas, maka tahun 2005 adalah tahun yang paling bagus atau yang paling cepat dalam perputaran piutang yaitu 10,01 kali dan jumlah hari piutang 35,96 hari. Dari tahun ke tahun perputaran

piutang semakin cepat. Dalam kondisi itu berarti makin baik pula PDAM dalam mengelola modal kerja yang dimilikinya.

(4)

114

2.2 Lamanya Persediaan

Dalam mengevaluasi posisi persediaan, maka prosedur yang sama seperti mengevaluasi piutang dapat digunakan yaitu dengan menghitung turn over atau tingkat perputaran dari persediaan. Turn over persediaan adalah merupakan ratio antara jumlah penjualan dengan nilai rata – rata persediaan yang dimiliki perusahaan.

Turn over ini menunjukkan berapa kali jumlah persediaan di ganti dalam satu tahun (dijual). Tingkat perputaran persediaan mengukur perusahaan dalam memutar barang dagangnya, dan menunjukkan hubungan antara barang yang diperlukan untuk menunjang atau mengimbangi tingkat penjualan yang

ditentukan. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan tersebut maka jumlah modal kerja yang dibutuhkan (terutama yang harus di investasikan dalam persediaan) semakin rendah. Untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi, maka harus diadakan perencanaan dan pengawasan persediaan secara teratur dan efisien. Semakin cepat atau semakin tinggi tingkat perputaran akan memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkan karena penurunan harga atau karena perubahan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut. Berikut hasil Perhitungan tingkat perputaran persediaan pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Tabel 2. Lamanya dan Jumlah hari persediaan

Keterangan Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 Lamanya Persediaan 62 ,07 kali 65,77 kali 63,61 kali 89,57 kali 66,75 kali Jumlah Hari persediaan 5,79 hari 5,48 hari 5,66 hari 4,02 hari 5,39 hari

Dari tabel diatas, maka perputaran dan jumalah hari persediaan tahun 2004 adalah tahun yang paling bagus atau yang paling cepat dalam perputaran persediaan yaitu 89,57 kali dan jumlah hari persediaan 4,02 hari. Dari tahun ke tahun perputaran persediaan semakin cepat. Dalam kondisi itu berarti makin baik pula PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dalam mengelola modal kerja yang dimilikinya.

a. Siklus Operasional

Siklus operasional ini juga penting bagi perusahaan, karena menunjukkan berapa lama uang perusahaan terikat pada kegiatan operasional perusahaan. Berikut ini Hasil perhitungan siklus operasional perusahaan :

Lama Siklus Operasional : Periode Persediaan + Periode Piutang a. lamanya SO 2001 = 5,79 hari + 46,21 hari = 52 hari b. lamanya SO 2002 = 5,48 hari + 47,74 hari = 53,22 hari c. lamanya SO 2003 = 5,66 hari + 38,92 hari = 44,58 hari d. lamanya SO 2004 = 4,02 hari + 46,27 hari = 50,25 hari e. lamanya SO 2005 = 5,39 hari + 35,96 hari = 41,35 hari

Dari perhitungan diatas, maka SO yang paling bagus adalah SO tahun 2005, karena SO ini menunjukan perputaran yang paling cepat dibandingkan dengan tahun 2001,2002,2003,dan tahun 2004. Itu artinya uang perusahaan yang terkait pada kegiatan operasional hanya 41,35 hari.

b. Siklus Konversi Kas

Suatu perusahaan ideal seandainya mempunyai siklus konversi kas negatif artinya rata – rata periode bayar melebihi siklus operasional. Biasanya perusahaan manufaktur tidak akan mempunyai siklus konversi kas yang negatif terkecuali perusahaan memperpanjang rata–rata periode bayar untuk waktu yang panjang Perusahaan yang bukan manufaktur lebih mungkin untuk mempunyai siklus konversi kas

(5)

115

negatif sebab biasanya perusahaan mempunyai jumlah persediaan lebih kecil dan perputarannya cepat serta sering menjual barangnya secara tunai. Dengan siklus operasional yang

pendek maka rata–rata periode bayar dapat melebihi siklus operasional sehingga menghasilkan siklus konversi kas negatif. Berikut ini perhitungan siklus konversi kas. Tabel 3. Hasil Perhitungan Siklus Konversi Kas

Tahun Utang Dagang Harga Pokok Penjualan Jumlah Hari Utang Dagang 2001 Rp. 666.369.988 Rp. 9.891.097 24,25 hari 2002 Rp. 369.910.684 Rp. 12.462.284.793,35 10,69 hari 2003 Rp. 373.605.880 Rp. 14.296.159.553,29 9,41 hari 2004 Rp. 352.788.704 Rp. 17.836.245.291,01 7,12 hari 2005 Rp. 236.211.393 Rp. 20.950.444.636 4,06 hari Rumus Jumlah hari Utang dagang

per-tahun : hari HPP g U 360 / tan Lamanya Siklus Konversi kas =

bayar periode l operasiona Siklus − a. lamanya SKK 2001 = 52 hari – 25 hari = 27 hari b. lamanya SKK 2002 = 53 hari – 11 hari = 42 hari c. lamanya SKK 2003 = 45 hari – 9 hari = 36 hari d. lamanya SKK 2004 = 50 hari – 7 hari = 43 hari e. lamanya SKK 2005 = 41 hari – 4 hari = 37 hari

Bedasarkan perhitungan diatas siklus konversi kas PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang paling cepat adalah tahun 2001 yaitu 27 hari.

3. Kebijakan Manajemen Modal Kerja Dalam Pemenuhan Kebutuhan SO Berikut ini kebijakan yang paling sesuai dengan kebutuhan modal kerja pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, berdasarkan hasil perhitungan diatas.

Tabel 4. Kebijakan Manajemen Modal Kerja

Tahun Modal Kerja Kotor Modal Kerja Bersih SO SKK Kecenderungan Kebijakan 2001 Rp. 7.230.541.300 Rp. 1.007.558.487 52 hari 27 hari Kebijakan Konservatif 2002 Rp. 5.512.265.871 Rp. -3.114.551.784 53 hari 42 hari Tidak ada kebijakan 2003 Rp. 6.252.102.712 Rp. -2.868.424.357 45 hari 36 hari Tidak ada kebijakan 2004 Rp. 9.495.090.738 Rp. -1.697976.513 50 hari 43 hari Tidak ada kebijakan 2005 Rp. 9.824.735.061 Rp. -4.120.127.994 41hari 37 hari Tidak ada kebijakan

Dari tabel diatas maka PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dapat memilih kebijakan konservatif.

Peningkatan penjualan biasanya akan diikuti oleh penambahan Current Asset. Meningkatkan Current Asset diperlukan adanya penambahan modal. Modal dapat diperoleh dari modal sendiri dan dari hutang,

baik hutang jangka pendek ataupun hutang jangka panjang.

Dengan berkembangnya penjualan, maka aktiva juga mengalami perkembangan walaupun sebagian dari aktiva tersebut berfluktuasi secara musiman. Permodalan permanen digunakan untuk membiayai aktiva tetap. Aktiva lancar permanen dan sebagian aktiva lancar temporer. Sewaktu sedang sepi

(6)

116

dimana piutang dan persediaan rendah, perusahaan akan membeli surat berharga. Sewaktu penjualannya meningkat, perusahaan menjual surat-surat berharga tersebut guna membiayai piutang dan persediaan yang semakin meningkat. Apabila dengan dana yang tersedia masih belum cukup, perusahaan baru mencari pinjaman jangka pendek.

Keuntungan kebijaksanaan ini apabila perusahaan mendapatkan kesulian untuk memperoleh hutang jangka pendek, perusahaan susah mampu memenuhi sebagian kebutuhan modal kerja temporer.

4. Hubungan Modal Kerja Dan Siklus Operasional 0 2000000000 4000000000 6000000000 8000000000 10000000000 12000000000 TAHUN M O D A L K E R J A K O T O R

Modal Kerja Kotor 7,320,541,300 5,512,265,871 6,252,102,712 9,495,090,738 9,824,735,061

Uraian 2001 2002 2003 2004 2005

2001 2002 2003 2004 2005

Gambar 1. Modal Kerja Kotor Modal kerja kotor PDAM TIRTA

PAKUAN Kota Bogor yang paling besar adalah tahun 2005 sebesar Rp. 9.824.735.061 dan yang paling kecil adalah tahun 2002

sebesar Rp. 5.512.265.871. Kecenderungan modal kerja PDAM Kota Bogor meningkat, hal ini diakibatkan oleh kas dan bank pada aktiva lancer mengalami peningkatan.

-5000000000 -4000000000 -3000000000 -2000000000 -1000000000 0 1000000000 2000000000 TAHUN M O D A L K E R J A B E R S IH Modal Bersih 1,007,558,487 -3,114,551,784 -2,868,424,357 -1,697,976,513 -4,120,127,994 Uraian 2001 2002 2003 2004 2005 2001 2002 2003 2004 2005

(7)

117

Modal kerja bersih PDAM TIRTA PAKUAN Kota Bogor yang paling bagus adalah tahun 2001 sebesar Rp. 1.007.558.487 dan yang paling minus adalah tahun 2004

sebesar (Rp. 4.120.127.994), hal ini diakibatkan oleh hutang jangka panjang sudah masuk jatuh tempo, artinya hutang jangka pendeknya semakin besar. 0 10 20 30 40 50 60 TAHUN S IK L U S O P E R A S IO N A L ( H A R I) HARI 52 53 45 50 41 2001 2002 2003 2004 2005

Gambar 3. Siklus Operasional Siklus Operasional PDAM TIRTA

PAKUAN Kota Bogor yang paling rendah perputarnya alah tahun 2002, yaitu 53 hari dan

yang paling bagus atau yang paling tinggi perputarannya dalah tahun 2005 yaitu 41 hari.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 TAHUN S IK L U S K O N V E R S I K A S HARI 27 42 36 43 37 1 2 3 4 5

Gambar 4. Siklus Konversi Kas Siklus konversi kas PDAM Kota Bogor

yang paling cepat adalah tahun 2001 yaitu (27)

hari dan yang paling lambat perputarannya pada tahun 2002 yaitu (42) hari.

(8)

118

KESIMPULAN

Berdasarkan analisa maka dapat dikemukakan beberapa simpulan yaitu :

1. Besar kecil modal kerja tidak berpengaruh terhadap Siklus Operasional pada PDAM Kota Bogor.

2. Cepat lambat Siklus Operasional tidak bepengaruh terhadap besar (+) dan kecil (-) Modal Kerja Bersih pada PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.

3. Kedua terjadi karena kenaikan Modal Kerja dan Siklus Operasional tidak menandingi percepatan hutang jangka panjang yang sudah jatuh tempo dan hutang lancar lain-lain.

4. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor pada tahun 2001 menggunakan kebijakan Konservatif, pada tahun 2002, 2003, 2004 dan 2005 tidak ada kebijakan manajemen modal kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Dewi. 2005. Manajemen Keuangan Perusahaan, Ghalia Indonesia, Jakarta. Fatah, Nur. 1992. Manajemen Keuangan Seri 2,

Cv Asona, Jakarta.

Harahap, Sofyan Syarif. 2004. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan, PT Raja Grafindo Persasi. Jakarta.

Munawir. 2004. Analisa Laporan Keuangan, Liberty, Yogyakarta.

P. Tampubolon, Manahan. 2004. Manajemen Keuangan, Ghalia Indonesia, Jakarta. Rahardjo, Budi. 2003. Laporan Keuangan

Perusahaan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sawir, Agnes. 2005. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Standar Akuntasi Keuangan Per 1 April 2002,

Ikatan Akuntasi Indonesia.

Sugiarso G., dan Winarni E. 2005. Manajemen Keuangan (Pemahaman Laporan Keuangan, Pengelolaan Aktiva, kewajiban, dan Modal serta Pengukuran Kinerja Perusahaan), Media Pessindo, Yogyakarta.

Sundjaja, Ridwan S., dan Barlian, Inge. 2001. Manajemen Keuangan, PT Prenhallindo, Jakarata.

Sutojo, Siswanto. 2000. Neraca Perusahaan, Damar Mulia Pustaka, Jakarta.

Van Horne, James C, dan Jr, John M. Wachowicz. 1995. Alih Bahasa Heru Sutojo, Salemba Empat, Jakarta. Weston, J Fred dan Brigham, Egugene F.

1991.Alih Bahasa A. Q, Erlangga. Jakarta.

Gambar

Tabel 1. Lamanya dan Jumlah hari Piutang
Tabel 3. Hasil Perhitungan Siklus Konversi Kas  Tahun  Utang Dagang  Harga Pokok
Gambar 1. Modal Kerja Kotor  Modal  kerja  kotor  PDAM  TIRTA
Gambar 3. Siklus Operasional  Siklus  Operasional  PDAM  TIRTA

Referensi

Dokumen terkait

Customer Satisfaction Index (CSI) digunakan untuk menentukan tingkat kepuasan pelanggan secara menyeluruh dengan pendekatan yang mempertimbangkan tingkat kepentingan

Hal ini diketahui dari hasil perhitungan perputaran unsur-unsur modal kerja yaitu kas, piutang, dan persediaan menggunakan metode least square diperoleh nilai b positif,

Inventory turnover mengukur berapa kali dana yang tertanam dalam persediaan berputar setahun. Semakin tinggi perputaran persediaan maka semakin bagus kinerja

Tingkat perputaran modal kerja yang tercepat tersebut disebabkan karena pada tahun 2002 total periode perputaran modal kerja yang terdiri dari periode perputaran

Dari pembahasan maka dapat dismpulkan bahwa perputaran modal kerja yaitu yang terdiri dari perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan jika dibandingkan

Maka semakin lunak kebijakan kredit yang ditetapkan perusahaan maka semakin lama masa terikatnya modal kerja dalam piutang atau tingkat perputaran piutang rendah selama

PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor lebih memperhatikan tingkat kepentingan dan kepuasan pelanggan terhadap atribut kualitas pelayanan dan penanganan keluhan agar alokasi

Berdasarkan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t pada penyimpangan anggaran operasional tahun 2006, maka diperoleh kesimpulan bahwa penyimpangan total