• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KERANGKA KONSEP dan DEFINISI OPERASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 KERANGKA KONSEP dan DEFINISI OPERASIONAL"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

KERANGKA KONSEP dan DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Variabel independen Variabel dependen

3.2. Definisi Operasional 3.2.1 Definisi

a. Pengetahuan pengguna lensa kontak adalah hasil dari tahu dan pengalaman orang yang menggunakan penutup dari kaca atau plastik yang melengkung digunakan langsung di atas kornea mata untuk mengoreksi kesalahan refraksi mata.

b. Tingkat stambuk adalah jenjang pendidikan seseorang dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.

d. Dampak negatif adalah segala hal yang bersifat merugikan dalam menggunakan lensa kontak.

3.2.2. Cara Ukur: wawancara

3.2.3. Alat Ukur: kuesioner, pertanyaan yang diajukan sebanyak 10 pertanyaan dengan beberapa pilihan jawaban:

a. Jawaban yang benar diberi skor 1 b. Jawaban yang salah diberi skor 0 3.2.4. Kategori

Tingkat pengetahuan akan dikategorikan sebagai berikut (Pratomo, 1990): a. Pengetahuan baik (skor jawaban responden > 75% dari nilai tertinggi) b. Pengetahuan sedang (skor jawaban responden 40-75% dari nilai tertinggi)

Pengetahuan pengguna lensa kontak berdasarkan tingkat stambuk

Dampak Negatif Penggunaannya

(2)

c. Pengetahuan kurang (skor jawaban responden < 40% dari nilai tertinggi) 3.2.5. Skala Pengukuran: ordinal

(3)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan rancangan studi cross-sectional yaitu mengetahui tingkat pengetahuan pengguna lensa kontak terhadap dampak negatif penggunaannya pada Mahasiswa FK USU stambuk 2007-2009.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, penelitian dilakukan selama bulan Maret-November 2010, sedangkan pengambilan dan pengumpulan data dilakukan pada bulan September-November 2010.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi

Populasi yang digunakan untuk penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2007, 2008, dan 2009 yang menggunakan lensa kontak.

4.3.2. Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified random sampling. Adapun kriteria inklusi adalah mahasiswa yang menggunakan lensa kontak, sedangkan kriteria eksklusi pada sampel ini adalah mahasiswa yang tidak bersedia menjawab kuesioner.

4.3.3. Besar Sampel

Besar sampel ditentukan dengan rumus populasi < 10.000 (Notoatmodjo, 2005):

(4)

Keterangan: n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi

d = Tingkat kepercayaan, pada penelitian ini dipakai d = 0,1 Perhitungan:

Dari hasil perhitungan diatas, didapati besar sampel mehasiswa yang menggunakan lensa kontak di FK USU sebanyak 52,83 orang sebagai sampel minimal. Dalam penelitian ini, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 57 orang.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Pada awal penelitian diperlukan data primer berupa data umum populasi Mahasiswa FK USU stambuk 2007, 2008, dan 2009 yang menggunakan lensa kontak dari setiap kelas tutorial. Terlebih dahulu kuesioner telah dilakukan uji validitas untuk mengetahui apakah kuesioner yang digunakan menggambarkan tujuan dari penelitian tersebut (valid). Uji validitas dilakukan dengan uji korelasi antara setiap skor tiap-tiap pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Untuk menguji validitas kuesioner menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution). Untuk tiap-tiap pertanyaan yang tidak valid harus dibuang atau tidak dipakai sebagai instrumen pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas, maka didapati pertanyaan yang valid untuk tingkat pengetahuan.

4.5. Metode Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan program SPSS.

(5)

BAB 5

HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

Proses Pengambilan data untuk penelitian ini telah dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner yang telah diisi oleh responden di tempat tanpa dibawa pulang ke rumah. Hasil kuesioner yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis, sehingga dapat disimpulkan hasil penelitian dalam paparan dibawah ini.

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini diadakan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang berlokasi di jalan dr. Mansyur No. 5 Medan, Indonesia dimana fakultas ini merupakan salah satu fakultas kebanggaan di Universitas Sumatera Utara. Fakultas Kedokteran USU dibuka pada tanggal 20 Agustus 1952 oleh Yayasan Universitas Sumatera Utara, yang berlokasi di Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru dengan batas wilayah:

a. Batas Utara : Jalan dr. Mansyur, Padang Bulan b. Batas Selatan : Fakultas Kesehatan Masyarakat USU c. Batas Timur : Jalan Universitas, Padang Bulan d. Batas Barat : Fakultas Psikologi USU

Kampus ini memiliki luas sekitar 122 Ha, dengan zona akademik seluas sekitar 100 Ha yang berada di tengahnya. Fakultas ini memiliki berbagai ruangan yaitu kelas kuliah dan tutorial, ruang administrasi, ruang laboratorium, ruang skills lab, ruang seminar, perpustakaan, pendopo, mushola, kedai mahasiswa, ruang PEMA, ruang POM, kantin, kamar mandi, tempat fotokopi dan parkir. Fakultas ini menerima mahasiswa baru lebih dari 400 orang setiap tahunnya yang dapat masuk melalui jalur PMP, UMB Kemitraan, UMB-SPMB, SNMPTN, Mandiri, dan Internasional dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pihak Universitas.

(6)

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden

Pada penelitian ini jumlah jenis kelamin laki-laki dan perempuan, serta umur tidak di batasi. Karena dalam penelitian ini, peneliti hanya ingin melihat tingkat pengetahuan pengguna lensa kontak terhadap dampak negatif penggunaannya, dan peneliti tidak membandingkan pengetahuan tentang dampak negatif penggunaan lensa kontak berdasarkan jenis kelamin dan umur.

Tabel 5.1.

Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur Variabel Frekuensi (n) Persen (%)

Jenis Kelamin Laki-laki 2 3,5 Perempuan 55 96,5 Umur 17 3 5,3 18 6 10,5 19 15 26,3 20 16 28,1 21 12 21,1 22 1 1,8 23 2 3,5 24 1 1,8 25 1 1,8 Total 57 100,0

Mayoritas responden yang menggunakan lensa kontak adalah berjenis kelamin perempuan yaitu 55 orang (96,5%) dan responden laki-laki hanya 2 orang (3,5%). Pengguna lensa kontak yang terbanyak berumur 20 tahun (28,1%) dan hanya 1,8 % berusia 22 tahun, 24 tahun, dan 25 tahun.

(7)

Tabel 5.2.

Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Stambuk Stambuk Frekuensi (n) Persen (%)

2007 19 33,3

2008 18 31,6

2009 20 35,1

Total 57 100,0

Dari data diatas, mayoritas responden yang menggunakan lensa kontak adalah stambuk 2009 sebanyak 20 orang (35,1%), stambuk 2007 sebanyak 19 orang (33,3%), dan paling sedikit adalah stambuk 2008 berjumlah 18 orang (31,6%).

5.1.3. Hasil Analisis Data

Tingkat pengetahuan dalam penelitian ini dibedakan menjadi 3 kategori yaitu baik, sedang, dan kurang. Seorang responden akan dikatakan baik jika menjawab 8-10 pertanyaan dengan benar, sedangkan seorang responden dikatakan berpengetahuan sedang jika menjawab 4-7 pertanyaan dengan benar dan dikatakan berpengetahuan kurang jika hanya menjawab lebih kecil sama dengan 3 dari pertanyaan dengan benar.

Tabel 5.3.

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persen (%)

Baik 21 36,9

Sedang 36 63,1

Kurang 0 0

Total 57 100

Dari data tabel 5.3., terdeskripsi bahwa tingkat pengetahuan responden tentang dampak negatif penggunaan lensa kontak dengan kategori sedang memiliki persentasi yang paling besar yaitu 63,1%, untuk berpengetahuan kategori baik sebesar 36,9% dan tingkat pengetahuan kategori kurang yaitu 0%.

(8)

Tabel 5.4.

Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Tingkat Stambuk

Tingkat Stambuk

Tingkat Pengetahuan

Total

Baik Sedang Kurang

n % n % n %

2007 12 63.2 7 36.8 0 0 19

2008 12 66.7 6 33.3 0 0 18

2009 12 60 8 40 0 0 20

Dari tabel 5.4. diatas, didapati bahwa responden stambuk 2007 memiliki pengetahuan baik sebesar 63,2% dan berpengetahuan sedang sebesar 36,8% dari 19 responden, responden stambuk 2008 yang memiliki pengetahuan baik sebesar 66,7% dan berpengetahuan sedang 33,3% dari 18 responden, dan responden stambuk 2009 yang memiliki pengetahuan baik sebersar 60% dan pengetahuan sedang 40% dari 20 responden, sedangkan berpengetahuan kategori kurang dari setiap stambuk 0%.

(9)

Tabel 5.5.

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Pengetahuan Responden Pada Variabel Pertanyaan

No Pertanyaan

Jawaban Responden Benar Salah

n % n %

1 Fungsi dasar lensa kontak 50 87,7 7 12,3

2 Retardasi mental 39 68,4 18 31,6

3 Sebelum menggunakan dan melepaskan lensa kontak 57 100,0 0 0 4 Aktivitas yang melepaskan lensa kontak 56 98,2 1 1,8 5 Perawatan lensa kontak yang benar 27 47,4 30 52,6 6 Efek samping penggunaan lensa kontak 9 15,8 48 84,2 7 Komplikasi dari penggunaan lensa kontak 54 94,7 3 5,3 8 Penyebab komplikasi tersebut 25 43,9 32 56,1 9 Mikroorganisme penyebab komplikasi tersebut 31 54,4 26 45,6 10 Perawatan mata dari penggunaan lensa kontak 57 100,0 0 0

Berdasarkan tabel 5.5. diatas, pertanyaan-pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan benar adalah pertanyaan pada nomor 1, 3, 4, 7, dan 10 dengan persentasi sebesar 87,7%, 100%, 98,2%, 94,7%, dan 100%. Sedangkan pertanyaan yang paling banyak dijawab salah adalah pertanyaan nomor 6 yaitu sebesar 84,2%.

5.2. Pembahasan

Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan pengalaman seseorang dalam melakukan penginderaan terhadap suatu rangsangan tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 2003). Dalam penelitian ini, telah dilakukan pembagian kuesioner yang telah valid untuk mengukur pengetahuan responden pada tingkat pengetahuan, yaitu tahu.

(10)

Dari hasil kuesioner penelitian, diperoleh sebanyak 50 responden (87,7%) telah memiliki pengetahuan yang baik bahwa fungsi dasar penggunaan lensa kontak adalah sebagai pengoreksi penglihatan untuk memperindah penampilan. Kemudian, sebanyak 39 responden (68,4%) memiliki pengetahuan yang baik bahwa penderita retardasi mental tidak diperbolehkan menggunakan lensa kontak, seperti yang dikemukakan oleh Kharuna (2007) bahwa penderita retardasi mental dikontraindikasikan untuk menggunakan lensa kontak.

Semua, 57 responden (100%) memiliki pengetahuan yang baik tentang mencuci tangan sebelum menggunakan dan melepaskan lensa kontak, dan sebanyak 56 responden (98,2%) mengetahui bahwa mandi/berenang adalah aktivitas yang sebaiknya melepaskan lensa kontak. Ini berdasarkan American Optometric Association bahwa mencuci tangan sebelum menggunakan dan melepaskan lensa kontak, dan melepaskan lensa kontak ketika mandi/berenang adalah sebagai prevensi untuk tidak terjadinya komplikasi akibat penggunaan lensa kontak. Disini terdeskripsi bahwasanya pengetahuan responden akan pemahaman dasar pemakaian lensa kontak sangat baik.

Selain itu, masih berdasarkan American Optometric Association, membersihkan lensa kontak dengan jari-jari tangan dengan rutin, membilas lensa kontak dengan air bersih, dan menyimpannya di kotak penyimpanan merupakan perawatan lensa kontak yang benar, sedangkan merendam lensa kontak dengan alkohol merupakan perawatan lensa kontak yang salah, dimana sebanyak 27 responden (47,7%) yang berpengetahuan baik tentang ini. Ini terlihat bahwa pengetahuan responden akan perawatan dasar pemakaian lensa kontak masih minim.

Menurut Ventocilla (2010) bahwa banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan lensa kontak seperti mata merah, berair, gatal, fotopobia, panas, nyeri, pergerakan bola mata yang berlebihan, dll, sedangkan berkabut seperti ada awan pada lensa mata merupakan efek samping dari penggunaan kacamata, dimana hanya 9 responden (15,8%) yang berpengetahuan baik tentang dampak negatif ini. Pada kuesioner ini, terdeskripsi bahwa

(11)

ditimbulkan. Responden belum mamahami dan mengetahui dengan benar gejala klinis yang timbul akibat penggunaan lensa kontak.

Sebanyak 54 responden (94,7%) yang memiliki pengetahuan baik bahwa infeksi mata merupakan komplikasi yang sering timbul akibat penggunaan lensa kontak. Seperti yang dikemukan oleh Seal (1999) dalam Moriyama (2008) dan Dart (1999) bahwa komplikasi yang sering timbul akibat penggunaan lensa kontak adalah infeksi mata dan mikroorganisme yang sering menyebabkan terjadinya komplikasi tersebut adalah bakteri (Moriyama, 2008), dimana 31 responden (54,4%) berpengetahuan baik tentang penyebab mikroorganisme tersebut. Dan juga menurut Dart (1999) bahwa penyebab terjadinya infeksi mata dikarenakan hipoksia yaitu berkurangnya aliran oksigenasi ke mata, sebanyak 25 responden (43,9%) yang memiliki pengetahuan baik tentang gangguan oksigenasi pada mata sebagai penyebab komplikasi tersebut. Pengetahuan responden untuk penyebab mikrooragnisme dan penyebab terjadinya infeksi mata yang paling sering timbul akibat penggunaan lensa kontak masih minim.

Berdasarkan American Optometric Association bahwa jika ingin melakukan perawatan mata sedang/setelah menggunakan lensa kontak atau mengalami efek samping/komplikasi akibat dari penggunaan lensa kontak, maka sebaiknya pengguna lensa kontak memeriksakannya ke dokter mata, dimana semua responden (100%) memiliki pengetahuan yang baik bahwa perawatan mata sebaiknya dilakukan/diperiksakan ke dokter mata.

Secara keseluruhan diperoleh sebanyak 21 responden (36,9%) yang berpengetahuan baik, 36 responden (63,1%) yang berpengetahuan sedang, dan tidak ada responden (0%) yang berpengetahuan kurang. Tetapi, pada kuesioner 5, 6, 8, 9 terdeskripsi bahwa pengetahuan responden masih dibawah rata-rata.

Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan informasi sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang semakin banyak pula informasi yang didapatkan. Pada penelitian ini, pendidikan responden berdasarkan tingkat stambuk, dan didapati tingkat pengetahuan responden berdasarkan tingkat stambuk adalah responden stambuk 2007 memiliki pengetahuan baik sebesar

(12)

63,2% dan berpengetahuan sedang sebesar 36,8% dari 19 responden, responden stambuk 2008 yang memiliki pengetahuan baik sebesar 66,7% dan berpengetahuan sedang 33,3% dari 18 responden, dan responden stambuk 2009 yang memiliki pengetahuan baik sebersar 60% dan pengetahuan sedang 40% dari 20 responden, sedangkan berpengetahuan kategori kurang dari setiap stambuk 0%. Dari hasil penelitian sebelumnya, dikatakan tingkat pengetahuan Mahasiswa FK USU stambuk 2006, 2007, dan 2008 yang memiliki pengetahuan baik sebesar 41%, berpengetahuan sedang sebesar 50%, dan yang berpengetahuan kurang sebesar 8% dari 100 responden yang diteliti (Jaafar, 2009). Disini terlihat tingkat pengetahuan Mahasiswa FK USU baik yang menggunakan lensa kontak maupun yang tidak menggunakan lensa kontak memiliki pengetahuan sedang.

Dan responden dari penelitian ini, stambuk 2007 ada 19 responden (33,3%) telah mendapatkan topik kuliah tentang lensa kontak, dan stambuk 2008 18 responden (31,6%) sedang dalam proses pemberian topik kuliah tersebut, sedangkan stambuk 2009 20 responden (35,1%) belum mendapatkan topik kuliah tersebut. Meskipun sebagian responden telah mnedapatkan kuliah tentang lensa kontak, tetapi masih banyak responden belum mengenali efek samping, penyebab tersering infeksi mata, dan penyebab mikroorganisme utama akibat penggunaan lensa kontak, serta perawatan pemakaian lensa kontak yang benar.

(13)

BAB 6

KESIMPULAN dan SARAN

6.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian, didapati bahwa responden stambuk 2007 memiliki pengetahuan baik sebesar 63,2% dan berpengetahuan sedang sebesar 36,8% dari 19 responden, responden stambuk 2008 yang memiliki pengetahuan baik sebesar 66,7% dan berpengetahuan sedang 33,3% dari 18 responden, dan responden stambuk 2009 yang memiliki pengetahuan baik sebersar 60% dan pengetahuan sedang 40% dari 20 responden, sedangkan berpengetahuan kategori kurang dari setiap stambuk 0%.

Secara keseluruhan diperoleh sebanyak 21 responden (36,9%) yang berpengetahuan baik, 36 responden (63,1%) yang berpengetahuan sedang, dan tidak ada responden (0%) yang berpengetahuan kurang.

Dari hasil data tersebut, terdeskripsi bahwa mayoritas tingkat pengetahuan Mahasiswa FK USU pengguna lensa kontak terhadap dampak negatif penggunaannya pada stambuk 2007, 2008, dan 2009 berada pada kategori sedang.

6.2. Saran

Masukan kepada Bagian Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara agar menambahkan topik kuliah tentang lensa kontak secara keseluruhan terutama efek samping, komplikasi, penyebab tersering infeksi mata, dan penyebab mikroorganisme utama akibat penggunaan lensa kontak, serta perawatan pemakaian lensa kontak yang benar agar mahasiswa benar-benar memahami dan mengenali gejala klinis dan simptom akibat penggunaan lensa kontak dan mahasiswa dapat memberikan pengetahuan tersebut ke masyarakat luas khususnya pengguna lensa kontak.

Masukan untuk penelitian berikutnya agar membuat penelitian tentang sikap dan tindakan pengguna lensa kontak dalam mencegah dan menanggulangi dampak negatif akibat penggunaan lensa kontak.

(14)

Masukan untuk responden agar mencari informasi yang lengkap tentang dampak negatif akibat penggunaan lensa kontak terutama efek samping, komplikasi, penyebab tersering infeksi mata, dan penyebab mikroorganisme utama akibat penggunaan lensa kontak, serta perawatan pemakaian lensa kontak yang benar.

Referensi

Dokumen terkait

S tentang diet dan gaya hidup tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi. Risiko tinggi terhadap

Penelitian dari jurnal Kartika Esthiningtyas (2010) dari jurusan ilmu Komunikasi Undip yang berjudul “ Hubungan Daya Tarik Kreatif Iklan dan Store Atmosfer terhadap

Satu hal yang perlu digarisbawahi mengenai efek psikis dari kekerasan seksual pada anak ini terlepas apapun dampak yang terlihat merupakan hasil dari berubahnya

Nilai tersebut memberikan langsung tiga jenis pemanfaatan yang ada gambaran bahwa keberadaan sumber daya didaerah itu, yaitu perikanan, pertanian dan perairan

Pada hasil penelitian diatas masih belum memperoleh ZSM-5 dengan persen kristalinitas yang tinggi, oleh karena itu peneliti akan melakukan penelitian lebih lanjut dengan

Selanjutnya Menteri Dalam Negeri menerbitkan Keputusannya tanggal 25 Januari 1992 Nomor 16 Tahun 1992 tentang Pedoman Organisasi dan Tatakerja Kantor Pengolahan Data

Dalam penelitian ini data primer diperoleh dari memberikan daftar pertanyaan atau angket kepada pelaku bisnis di pasar Ngunut sebagai objek penelitian yang

Ungkapan-ungkapan konsisten sejumlah organisasi masyarakat sipil (OMS) mendorong reformasi sektor keamanan (RSK) dalam konteks transisi demokrasi Indonesia memang