PEROKOK DEWASA
MARYAM NABILA
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Intervensi
Jelly Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr.) terhadap Profil Lipid Pria
Perokok Dewasa adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Desember 2014
Maryam Nabila
oblongifolia Merr.) terhadap Profil Lipid Pria Perokok Dewasa. Dibimbing oleh
LEILY AMALIA FURKON dan NAUFAL MUHARAM NURDIN.
Kebiasaan merokok berhubungan kuat dengan perubahan profil lipid. Minuman fungsional seperti jelly cincau hijau dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperbaiki profil lipid. Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisis pengaruh intervensi jelly cincau hijau terhadap profil lipid pria perokok dewasa. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan pre-post test control. Subjek dibagi ke dalam empat kelompok yang terdiri atas 1) Kontrol (K) yang tidak diberikan minuman intervensi; 2) P1 yang diberikan minuman intervensi selama 14 hari; 3) P2 yang diberikan minuman intervensi selama 21 hari; dan 4) P3 yang diberikan minuman intervensi selama 28 hari. Subjek diminta untuk mengonsumsi 200 gram jelly cincau hijau per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL serta peningkatan kadar kolesterol HDL yang nyata (p<0.05) pada subjek di kelompok P1, P2, dan P3 setelah dilakukan intervensi. Hasil uji ANOVA terhadap kadar trigliserida menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap kadar trigliserida subjek antarkelompok.
Kata kunci : merokok, jelly cincau hijau, profil lipid ABSTRACT
MARYAM NABILA. Effects of Green Grass Jelly (Premna oblongifolia Merr.) Intervention on Lipid Profile of Adult Male Smokers. Supervised by LEILY AMALIA FURKON and NAUFAL MUHARAM NURDIN.
Smoking habit is strongly associated with changes in lipid profile. Functional beverages such as green grass jelly can be used as an alternative to improve lipid profile. The general objective of this study was to analyse the effect of green grass jelly intervention on lipid profile of adult male smokers. This study used an experimental with pre-post test control design. Subjects were divided into four groups, consisting of 1) Control (K) did not received any intervention; 2) P1 received intervention for 14 days; 3) P2 received intervention for 21 days; and 4) P3 received intervention for 28 days. Subjects of the intervention groups were asked to consume 200 grams of green grass jelly per day. The results showed that there was a significant reduction in total cholesterol and LDL cholesterol levels and also a significant increase in HDL cholesterol levels (p<0.05) of subjects in group P1, P2, and P3 after the intervention. The results of ANOVA test on triglyceride levels showed that there was no significant difference in triglyceride levels among subjects of all groups.
oblongifolia Merr.) TERHADAP PROFIL LIPID PRIA
PEROKOK DEWASA
MARYAM NABILA
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi
dari Program Studi Ilmu Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Pengaruh Intervensi Jelly Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr.) terhadap Profil Lipid Pria Perokok Dewasa
Nama : Maryam Nabila NIM : I14100059 Disetujui oleh Diketahui oleh Dr Rimbawan Ketua Departemen Tanggal Lulus:
dr Naufal Muharam Nurdin, S Ked Pembimbing II
Leily Amalia Furkon, STP, MSi Pembimbing I
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah profil lipid dengan judul Pengaruh Intervensi Jelly Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr.) terhadap Profil Lipid Pria Perokok Dewasa. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Leily Amalia Furkon, STP MSi selaku dosen pembimbing skripsi dan pembimbing Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang telah mencurahkan waktu dan pikiran serta mendukung dan memotivasi penulis
2. Bapak dr Naufal Muharam Nurdin, SKed selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu serta membimbing dan mendukung penulis 3. Ibu dr Karina Rahmadia Ekawidyani, SKed MGizi selaku dosen pemandu
seminar sekaligus penguji skripsi yang telah memberikan kritik dan saran terhadap penelitian penulis
4. Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang telah memberikan hibah dana 5. Ibu Dr Ir Ikeu Ekayanti, MKes selaku dosen pembimbing akademik
6. Ibu dr Karina Rahmadia Ekawidyani, SKed MGizi dan Ibu Susi yang telah meluangkan waktu dan tenaganya dalam mengambil sampel darah; Bapak Mashudi, Ibu Rizqy, dan Mba Ine selaku teknisi dan laboran yang telah membantu dan memberi saran terhadap penelitian penulis
7. Segenap staf dosen di departemen Gizi Masyarakat atas setiap ilmu, didikan, pembelajaran hidup, motivasi, serta inspirasinya
8. Ayahanda Drs H Rusdianto dan ibunda Hj Afrida Sari Daulay tercinta atas seluruh dukungan moral dan materi, motivasi, hingga do’a terbaik; abang Muhammad Habiburrahman beserta adik-adik Karimah Mahdiyyah, Muhammad Yasin Zawwad, dan Muhammad Shidqi Musyaffa atas motivasi maupun do’anya
9. Rekan-rekan satu payung PKMP (Indah Purnamasari dan Nur Khoiriyah) atas kerjasamanya, para responden penelitian atas kesediaan dan kesungguhannya, serta para pembahas seminar (Angga, Ajeng, Eryn, Yenny) atas kritik dan saran yang telah diberikan
10. Yenny Nurfajriani Arifin atas dukungan, do’a, serta kebaikannya; Fera Nur Aini atas kebersamaan, do’a, dan motivasinya; sahabat-sahabat terbaik (Asma, Mely, Deddy, Tita) atas dukungan, do’a, dan jalinan persahabatan yang tak mengenal kesudahan
11. Teman-teman seperjalanan di Gizi Masyarakat (Mimi, Occi, Raida, Gita, Dedew, Almira, Dhini, Taufiq, Faridh), teman-teman liqo di bawah naungan
murabbiyah terbaik, serta pihak lainnya atas semua kenangan dan
dukungannya selama ini
Penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat di dalam karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Desember 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ii DAFTAR GAMBAR ii DAFTAR LAMPIRAN ii PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Perumusan Masalah 2 Tujuan Penelitian 2 Manfaat Penelitian 2 METODE 3Desain, Tempat dan Waktu Penelitian 3
Jumlah dan Cara Pengambilan Subjek 3
Tahapan Penelitian 4
Jenis dan Cara Pengumpulan Data 7
Rancangan Percobaan 7
Pengolahan dan Analisis Data 8
Definisi Operasional 9
HASIL DAN PEMBAHASAN 9
Karakteristik Subjek 9
Kepatuhan Konsumsi Minuman Intervensi 10
Kebiasaan Konsumsi Pangan Sumber Lipid 11
Asupan dan Tingkat Kecukupan Gizi 12
Profil Lipid 14
SIMPULAN DAN SARAN 18
Simpulan 18
Saran 18
DAFTAR PUSTAKA 19
LAMPIRAN 22
DAFTAR TABEL
1 Variabel dan cara pengumpulan data ... 7
2 Sebaran subjek berdasarkan karakteristik antar kelompok... 10
3 Persentase kepatuhan konsumsi minuman intervensi ... 11
4 Frekuensi konsumsi pangan sumber lipid subjek per minggu ... 11
5 Asupan zat gizi subjek berdasarkan kelompok... 12
6 Tingkat kecukupan zat gizi subjek berdasarkan kelompok ... 13
DAFTAR GAMBAR
1 Prosedur pembuatan minuman intervensi ... 42 Alur pengajuan permohonan ethical clearance ... 5
3 Rata-rata dan persentase perubahan kadar trigliserida subjek ... 14
4 Rata-rata dan persentase perubahan kadar kolesterol total subjek ... 15
5 Rata-rata dan persentase perubahan kadar kolesterol HDL subjek ... 16
6 Rata-rata dan persentase perubahan kadar kolesterol LDL subjek ... 17
DAFTAR LAMPIRAN
1 Kuesioner penelitian ... 222 Informed consent ... 24
3 Food frequency questionnaire ... 28
4 Prosedur analisis profil lipid ... 28
5 Form kepatuhan konsumsi minuman intervensi ... 29
6 Uji statistik karakteristik subjek ... 30
7 Uji statistik kepatuhan konsumsi minuman intervensi subjek... 30
8 Uji statistik kebiasaan konsumsi pangan sumber lipid subjek ... 31
9 Uji statistik konsumsi zat gizi subjek ... 31
10 Uji statistik tingkat kecukupan zat gizi subjek ... 32
11 Uji statistik profil lipid subjek ... 33
12 Kadar profil lipid subjek pre dan post-intervensi ... 36
13 Ethical clearance ... 38
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lipid berperan penting dalam banyak aspek sistem biologis, diantaranya sebagai hormon ataupun prekursor hormon, penyedia energi, cadangan dan bahan bakar metabolik; sebagai senyawa fungsional dan struktural dalam membran biologis; serta membentuk insulasi yang memungkinkan terjadinya konduksi saraf atau mencegah kehilangan panas tubuh. Semua peran tersebut dipenuhi oleh lipid dalam bentuk trigliserida, kolesterol, fosfolipid, glikolipid, ataupun lipoprotein. Status berbagai jenis lipid di dalam tubuh dikenal sebagai profil lipid, meliputi trigliserida, kolesterol total, kolesterol HDL, dan kolesterol LDL.
Penelitian Arslan et al. (2008) menunjukkan bahwa tembakau berhubungan erat dengan perubahan profil lipid. Menurut Anwar (2004), merokok dapat meningkatkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida serta menurunkan kadar kolesterol HDL dalam darah. Rokok menyebabkan penurunan kadar HDL dengan menurunkan kadar enzim lecithin-cholesterol acyl-transferase dalam proses esterifikasi kolesterol bebas (Gepner et al. 2011). Nikotin pada rokok merangsang aktivitas saraf simpatis yang menyebabkan pelepasan katekolamin sehingga terjadi lipolisis, peningkatan kadar asam lemak bebas, dan penurunan fraksi kolesterol HDL dalam plasma (Afrin et al. 2010).
Nikotin mengakibatkan peningkatan sekresi asam lemak bebas dan trigliserida di dalam hati (Neki 2002). Radikal bebas yang dihasilkan secara fisiologis juga dapat mengoksidasi kolesterol LDL akibat meningkatnya aktivitas myeloperoksidase yang bertindak sebagai katalis. Enzim myeloperoksidase yang disekresi oleh fagosit mengoksidasi protein lipid dan komponen aktioksidan dari kolesterol LDL yang selanjutnya dapat menginisiasi atherosklerosis (Exner et al. 2004).
Kandungan bioaktif dalam sayuran ataupun dedaunan seringkali dikaitkan dengan manfaatnya dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit jantung koroner (PJK). Penelitian Kusharto et al. (2008) menunjukkan bahwa daun cincau mempunyai kadar klorofil tertinggi (1709 ppm) dibandingkan daun murbei (844 ppm), daun katuk (1509 ppm), dan daun pegagan (832 ppm). Bagian fitol pada struktur klorofil dapat menyebabkan penurunan timbunan lemak dalam darah sekaligus mencegah penyumbatan pembuluh darah. Klorofil juga memiliki kandungan fitokimia saponin yang diketahui dapat mengikat dan mencegah penyerapan kolesterol (Limantara 2009).
Komponen utama cincau hijau yang membentuk gel adalah polisakarida pektin (Artha 2001). Pektin termasuk jenis serat pangan larut air dan mudah difermentasi oleh mikroflora usus besar. Di dalam saluran pencernaan, serat larut air mengikat asam empedu yang merupakan produk akhir dari kolesterol dan kemudian dikeluarkan bersama feses. Hal tersebut diduga dapat menyebabkan terjadinya penurunan kadar kolesterol di dalam tubuh (Gallaher 2000).
Penelitian mengenai pengaruh klorofil daun cincau terhadap profil lipid kelinci menunjukkan bahwa ekstrak klorofil daun cincau hijau mampu menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida secara signifikan, meningkatkan kadar kolesterol HDL, namun tidak menurunkan kadar kolesterol
LDL secara signifikan (Nurdin et al 2008). Penelitian Budiyono (2013) dan Astirani (2012) juga memberikan hasil bahwa pemberian sari daun cincau hijau dengan dosis 5.4 ml pada tikus mampu menurunkan kadar trigliserida serta meningkatkan kadar kolesterol HDL secara bermakna.
Penelitian pemanfaatan daun cincau umumnya dilakukan dalam bentuk ekstrak daun cincau. Hingga saat ini, pemanfaatan daun cincau dalam bentuk jelly masih terbatas. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, peneliti bermaksud menganalisis pengaruh intervensi daun cincau hijau dalam bentuk jelly terhadap profil lipid pria perokok dewasa. Cincau diolah dalam bentuk jelly dengan harapan dapat memberikan manfaat yang lebih besar karena memiliki daya simpan yang lebih lama. Perokok dipilih sebagai subjek penelitian karena diduga memiliki risiko terhadap gangguan profil lipid sehingga pemberian jelly cincau hijau diharapkan dapat memperbaiki profil lipid perokok.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan permasalahan yang akan menjadi fokus penelitian yaitu “Bagaimana pengaruh
intervensi jelly cincau hijau terhadap profil lipid pria perokok dewasa?”
Tujuan Penelitian Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh intervensi jelly cincau hijau terhadap profil lipid pria perokok dewasa.
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi karakteristik subjek
2. Menganalisis konsumsi pangan sehari subjek
3. Menganalisis frekuensi konsumsi pangan sumber lipid subjek
4. Menganalisis asupan dan tingkat kecukupan energi dan zat gizi subjek
5. Menganalisis pengaruh pemberian jelly cincau hijau terhadap profil lipid subjek
6. Membandingkan pengaruh pemberian jelly cincau hijau terhadap profil lipid subjek di antara kelompok perlakuan
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta menambah wawasan bagi civitas akademika dan masyarakat mengenai pemanfaatan jelly cincau hijau (Premna oblongifolia Merr.) sebagai minuman fungsional untuk memperbaiki profil lipid.
METODE
Desain, Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan pre-post
test control design. Pembuatan dan pemberian minuman intervensi dilakukan di
Institut Pertanian Bogor. Pengambilan darah dan analisis profil lipid subjek dilakukan di Laboratorium Biokimia, Departemen Gizi Masyarakat, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan sejak bulan Maret hingga Juni 2014. Penelitian ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian (PKM-P) tahun 2013/2014 yang berjudul ‘Potensi Jelly Cincau dalam Menurunkan Kadar Malondialdehid (MDA) dan C-Reactive Protein (C-RP) Serta Memperbaiki Profil Lipid Darah’. Penelitian ini telah mendapatkan surat keterangan kelaikan etik yang dikeluarkan oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro dengan diterbitkannya
Ethical Clearance No. 105/EC/FKM/2014 (Lampiran 13).
Jumlah dan Cara Pengambilan Subjek
Perlakuan pada penelitian ini merupakan variasi lama pemberian jelly cincau hijau. Subjek dikelompokkan ke dalam empat kelompok yakni kontrol (K), kelompok intervensi selama 14 hari (P1), intervensi selama 21 hari (P2), dan intervensi selama 28 hari (P3). Penentuan jumlah ulangan yang digunakan untuk mengukur peubah respon dilakukan melalui pendekatan dengan menggunakan rumus Lemeshow et al. (1997). Penggunaan ragam kadar dan perkiraan penurunan kadar profil lipid merujuk kepada penelitian Makaryani (2014) yang menunjukkan bahwa pemberian intervensi cincau hijau memberikan penurunan kadar malondialdehid (MDA) yang lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan profil lipid. Berikut ialah rumus yang digunakan dalam menentukan jumlah subjek penelitian.
𝑛 =(Zα + Zβ) 2𝜎² δ² Ho : μ = μo H₁ : μ = μo + Power test = 95%
Keterangan: n = jumlah ulangan Zα = 1.96 (α = 5%) Zβ = 1.32 (β = 5%)
𝜎² = ragam kadar MDA adalah 0.252 (Makaryani 2014)
δ² = perkiraan penurunan kadar MDA plasma dari pemberian
jelly cincau hijau adalah 0.78 (Makaryani 2014)
Berdasarkan rumus tersebut, diperoleh jumlah ulangan (n) untuk setiap kelompok perlakuan sebanyak 2.2 orang (dibulatkan menjadi 3 orang). Penelitian ini melibatkan empat kelompok sehingga subjek yang dibutuhkan adalah 12 subjek. Pengalokasian subjek dilakukan secara acak (random allocation). Peneliti
menuliskan kode di atas kertas yang berbeda-beda untuk setiap subjek kemudian peneliti mengacak kertas-kertas tersebut untuk menentukan kelompok subjek.
Tahap awal dalam mencari subjek penelitian adalah melakukan wawancara langsung dan menyebarkan kuesioner kebiasaan merokok kepada 30 calon subjek yang merupakan civitas akademika IPB (Lampiran 1). Dari 30 calon subjek tersebut, hanya 14 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Akan tetapi, terdapat subjek yang drop-out di akhir penelitian karena kesulitan dalam pengambilan darah post-intervensi sehingga jumlah subjek akhir dalam penelitian ini adalah 12 orang. Teknik pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria inklusi subjek penelitian sebagai berikut:
1. Pria
2. Berusia 19-35 tahun
3. Memiliki IMT normal, yaitu 18.5-22.9 kg/m2 4. Terbiasa merokok minimal satu tahun 5. Bersedia mengonsumsi jelly cincau hijau
6. Sehat dan tidak sedang menjalani pengobatan dari dokter
7. Bersedia mengisi informed consent dan berpartisipasi dalam penelitian
Tahapan Penelitian 1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan dalam penelitian ini adalah pembuatan minuman intervensi. Bahan yang digunakan dalam membuat minuman intervensi adalah daun cincau hijau perdu, air, karagenan (gelling agent), kalium sitrat, perisa melon, sukralosa, dan garam. Minuman intervensi yang diberikan kepada subjek penelitian ini dipilih berdasarkan formulasi terbaik dari hasil uji organoleptik. Berikut prosedur pembuatan minuman intervensi.
Daun cincau hijau dicuci dengan air bersih ↓
Disiram dengan air mendidih selama 20 detik kemudian ditiriskan ↓
Ditambahkan air matang kemudian diremas-remas hingga daun hancur dan air perasan berwarna hijau pekat
↓
Ditambahkan karagenan, sukralosa, kalium sitrat, dan garam ↓
Dipanaskan sambil diaduk perlahan hingga suhu 700C (diukur dengan menggunakan termometer air raksa)
↓
Dituangkan ke dalam cup plastik sebanyak 200 gram ↓
Dilapisi dengan plastic wrap lalu didinginkan sampai jelly terbentuk Gambar 1 Prosedur pembuatan minuman intervensi
Tahapan selanjutnya ialah melakukan analisis proksimat untuk melihat kandungan gizi minuman intervensi. Uji proksimat memberikan hasil bahwa kadar air minuman intervensi 98.54% dikarenakan tingginya kandungan air terikat dalam produk gel dari cincau yang merupakan kandungan hidrokoloid. Menurut Fardiaz (1989), hidrokoloid umumnya mengandung air sebesar 99.9%. Kadar protein minuman intervensi adalah 0.13%, lemak 0.10%, dan karbohidrat 0.95%. Dengan demikian, jelly cincau hijau yang dikembangkan oleh peneliti dapat dikatakan rendah kalori dan bebas lemak. Kandungan serat minuman intervensi ialah 2% atau setara dengan 4 gram serat dalam tiap 200 gram minuman intervensi.
2. Penelitian Utama
a. Persiapan sebelum intervensi
Tahap awal dalam melakukan penelitian utama adalah pengajuan
Ethical Clearance (EC) (Lampiran 13). Seperti yang tersurat dalam PP
39/1995 tentang penelitian dan pengembangan kesehatan, penelitian kesehatan yang mengikutsertakan subjek manusia wajib memperhatikan kesehatan dan keselamatan manusia, keluarga, dan masyarakat yang bersangkutan. Alur pengajuan permohonan Ethical Clearance dijabarkan dalam Gambar 2.
Protokol penelitian dan berkas permohonan Ethical Clearance diajukan oleh institusi penelitian
↓
Berkas permohonan diserahkan kepada sekretariat Komisi Etik ↓
Apabila berkas yang diajukan lengkap, hasil review berkas akan diterbitkan Ethical Clearance
Gambar 2 Alur pengajuan permohonan ethical clearance
Selain Ethical Clearance (EC), peneliti juga membuat Informed
Consent yakni surat persetujuan penelitian dengan judul “Potensi Jelly
Cincau dalam Menurunkan Kadar Malondialdehid (MDA) dan C-Reactive
Protein (CRP) serta Memperbaiki Profil Lipid Darah”. Informed Consent
diberikan dan dijelaskan kepada subjek penelitian sebelum ikut serta dalam penelitian. Di akhir penjelasan, subjek yang bersedia mengikuti kegiatan penelitian menandatangani Informed Consent tersebut (Lampiran 2).
b. Pengambilan darah
Subjek diambil darahnya sebanyak dua kali yakni sehari sebelum intervensi (hari ke-0 intervensi) dan sehari setelah intervensi (sehari setelah hari ke-14, hari ke-21, dan hari ke-28 intervensi) sesuai dengan kelompok perlakuan subjek. Alat yang digunakan untuk pengambilan darah adalah spuit, jarum suntik ukuran 22G, tourniquet, plester, alcohol
swab, kapas, tabung plain 5 ml, dan tabung EDTA 5 ml. Pengambilan
darah subjek dilakukan oleh tenaga medis yang diminta secara khusus. Subjek diharuskan berpuasa selama 10 jam sebelum pengambilan darah
dan hanya diperbolehkan untuk mengonsumsi air putih selama waktu tersebut.
Darah yang digunakan untuk melakukan analisis profil lipid diambil dari vena cubiti dengan menggunakan spuit ukuran 5 cc dan jarum suntik 22G. Darah dimasukkan ke dalam tabung EDTA agar darah tidak membeku dan ditempatkan di dalam cooler box sebelum disentrifugasi. Darah yang telah diambil dari subjek kemudian disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Cairan plasma darah yang telah terpisah dari bagian padat darah segera dipindahkan ke dalam microtube untuk selanjutnya digunakan dalam analisis profil lipid.
c. Intervensi jelly cincau hijau
Pemberian minuman intervensi dilakukan dua hingga tiga hari sekali namun subjek diminta untuk mengonsumsi 200 gram minuman intervensi setiap hari (Makaryani 2014). Minuman intervensi diberikan kepada subjek di kantin Departemen Ilmu Gizi dan di sekitar kampus IPB.
d. Monitoring kepatuhan
Monitoring kepatuhan dilakukan oleh peneliti dengan mengawasi kepatuhan subjek dalam mengonsumsi minuman intervensi. Kepatuhan subjek yang dimonitor adalah jumlah minuman intervensi yang dikonsumsi subjek dan jumlah hari mengonsumsi minuman intervensi.
Form kepatuhan subjek terdapat pada Lampiran 5.
e. Pengumpulan data konsumsi pangan
Konsumsi pangan subjek selama intervensi dikumpulkan dengan metode food recall 1x24 jam sebanyak tiga kali pengambilan. Data konsumsi pangan dikumpulkan dengan teknik wawancara langsung kepada subjek menggunakan kuesioner (Lampiran 1). Wawancara dilakukan bersamaan dengan monitoring kepatuhan subjek. Kebiasaan konsumsi pangan sumber lipid selama satu bulan sebelum intervensi dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan metode Food
Frequency Questionnaire (FFQ) (Lampiran 3).
f. Analisis profil lipid
Uji profil lipid yang dilakukan meliputi analisis kadar trigliserida, kolesterol total, dan kolesterol HDL saat pre-intervensi dan post-intervensi. Alat yang digunakan untuk analisis profil lipid adalah
microtube, cooler box, tabung reaksi Hach, gelas piala, rak tabung, pipet
mikro 100 μL, pipet mikro 1000 μL, sentrifuge, vorteks, penangas air, kuvet, spektrofotometer, yellow tip, blue tip, stopwatch, sarung tangan, masker, dan tissue.
Bahan yang digunakan untuk analisis profil lipid adalah plasma darah, reagen kit kolesterol, reagen kit trigliserida, dan reagen kit HDL
precipitant merk DiaSys (Diagnostic Systems GmbH) serta aquades bebas
ion. Pembacaan absorbansi larutan dilakukan pada panjang gelombang 500 nm (Lampiran 4). Uji kolesterol LDL tidak dilakukan secara langsung
melainkan menggunakan metode indirect dengan rumus Friedewald (2001). Perhitungan kadar profil lipid dapat dilihat pada rumus berikut ini. Trigliserida = absorbansi sampel x konsentrasi standar (mg/dl)
absorbansi standar
Kolesterol total = absorbansi sampel x konsentrasi standar (mg/dl) absorbansi standar
Kolesterol HDL = absorbansi sampel x konsentrasi standar (mg/dl) absorbansi standar
Kolesterol LDL = kolesterol total – (HDL + 1/5 trigliserida)
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Seluruh data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang terdiri atas data karakteristik subjek, pola konsumsi pangan subjek, konsumsi minuman intervensi subjek, dan kadar profil lipid subjek. Variabel dan cara pengumpulan data yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Variabel dan cara pengumpulan data
No. Variabel Data Jenis
data Cara Pengumpulan 1. Karakteristik subjek - Usia - Pekerjaan - Lama merokok - Banyak rokok sehari
Primer Wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner 2. Pola konsumsi pangan
- Jenis dan jumlah
konsumsi pangan sehari - Frekuensi konsumsi
pangan sumber lipid selama sebulan terakhir
Primer Food recall 1
X 24 jam sebanyak 3 kali Food Frequency Questionnaire (FFQ) 3. Konsumsi minuman intervensi - Ketaatan konsumsi minuman intervensi Primer Form kepatuhan 4. Profil lipid - Profil lipid sebelum
intervensi
- Profil lipid setelah intervensi
Primer Uji
laboratorium
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan Yij = μ + τi + ɛij dimana:
Yij = hasil pengamatan perlakuan ke-i (dari intervensi jelly cincau hijau selama 14, 21 dan 28 hari)
μ = rerata umum
τi = penyimpangan hasil dari nilai μ yang disebabkan oleh pengaruh perlakuan ke-i (dari intervensi jelly cincau hijau selama 14, 21, dan 28 hari)
ɛij = pengaruh acak yang masuk ke dalam percobaan
Pengolahan dan Analisis Data
Tipe perokok dan lama merokok. Berdasarkan jumlah rokok yang dihisap per hari, perokok dibedakan menjadi tiga kategori yakni perokok ringan (kurang dari 10 batang per hari), perokok sedang (10–20 batang per hari), dan perokok berat (lebih dari 20 batang per hari). Lama menghisap rokok diklasifikasikan menjadi kurang dari 10 tahun dan lebih dari 10 tahun (Bustan 2000).
Konsumsi pangan. Data konsumsi pangan diolah dan dikonversi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) sehingga diperoleh data asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat subjek. Kebutuhan zat gizi ditentukan berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2013 dengan pengaturan berat badan aktual dan berat badan standar. Data asupan energi dan zat gizi tersebut dibandingkan dengan AKG untuk mendapatkan nilai tingkat kecukupan energi dan zat gizi dengan menggunakan rumus tingkat kecukupan zat gizi yaitu:
TKG = (K/AKGi) x 100% Keterangan:
TKG : Tingkat kecukupan zat gizi K : Konsumsi zat gizi
AKGi : Angka kecukupan zat gizi subjek
Penggolongan tingkat kecukupan energi dan protein menurut Depkes (1996) yaitu: (1) defisit tingkat berat (<70% AKG); (2) defisit tingkat sedang (70-79% AKG); (3) defisit tingkat ringan (80-89% AKG); (4) normal (90-119% AKG); dan (5) lebih (≥120% AKG). Tingkat kecukupan lemak digolongkan menjadi (1) kurang (<20% AKE); (2) normal (20-30%); dan (3) lebih (>30%). Penggolongan tingkat kecukupan karbohidrat yaitu (1) kurang (<50% AKE); (2) normal (50-65% AKE); dan (3) lebih (>65% AKE) (Kemenkes 2014).
Konsumsi pangan sumber lipid. Data konsumsi pangan sumber lipid diperoleh dengan menggunakan metode Food Frequency Questionnaire (FFQ). Data frekuensi konsumsi pangan sumber lipid subjek dikonversi ke dalam satuan kali/minggu.
Data profil lipid. Perubahan kadar profil lipid merupakan selisih kadar profil lipid post-intervensi dengan pre-intervensi. Klasifikasi kadar trigliserida ialah optimal (<150 mg/dl), diinginkan (150-199 mg/dl) dan tinggi (200-499 mg/dl). Kadar kolesterol total dibedakan menjadi optimal (<200 mg/dl), diinginkan (200-239 mg/dl), dan tinggi (>240 mg/dl). Kadar kolesterol HDL tinggi adalah ≥60 mg/dl. Klasifikasi kadar kolesterol LDL dibedakan menjadi optimal (<100 mg/dl), mendekati optimal (100-129 mg/dl), diinginkan (130-159 mg/dl), tinggi (160-189 mg/dl), dan sangat tinggi (≥190 mg/dl) (NCEP ATP III).
Analisis Data. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan statistik inferensia. Analisis deskriptif dilakukan terhadap data pekerjaan sedangkan analisis statistik inferensia dilakukan terhadap data usia, banyak merokok sehari, lama merokok, kebiasaan konsumsi pangan sumber lipid, konsumsi pangan sehari, tingkat kepatuhan konsumsi minuman intervensi, asupan zat gizi, tingkat kecukupan gizi, serta kadar profil lipid. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0 for Windows. Uji Paired Samples T dilakukan untuk mengetahui beda kadar profil lipid antara sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing kelompok. Uji One-Way
Analysis of Variance (ANOVA) dilakukan untuk melihat perubahan kadar profil
lipid antara sebelum dan sesudah intervensi antarkelompok. Analisis dilanjutkan dengan uji Duncan apabila uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang nyata.
Definisi Operasional
Subjek adalah civitas akademika baik dosen, mahasiswa, maupun pegawai di Institut Pertanian Bogor yang berjenis kelamin laki-laki, merupakan seorang perokok dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini yang dinyatakan secara tertulis melalui informed consent.
Minuman intervensi adalah jelly cincau hijau berbahan dasar daun cincau hijau (Premna oblongifolia Merr.), air, karagenan (gelling agent), kalium sitrat, perisa melon, sukralosa, dan garam.
Profil lipid adalah status lipid dalam darah yang diketahui dengan menilai kadar trigliserida, kolesterol total, kolesterol HDL, dan kolesterol LDL dalam plasma. Satuan analisis adalah mg/dl.
Pangan sumber lipid adalah pangan maupun olahannya yang mengandung lipid seperti gorengan, daging sapi, sate, ayam goreng dan lainnya.
Konsumsi pangan adalah jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi dan diukur menggunakan kuesioner food recall 1x24 jam yang dilakukan sebanyak tiga kali wawancara.
Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok individu dalam memilih dan mengonsumsi pangan sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologi, psikologi, dan sosial budaya yang diukur menggunakan Food Frequency
Questionnaire (FFQ).
Intervensi adalah pemberian jelly cincau hijau kepada subjek selama 14, 21, maupun 28 hari sesuai dengan kelompok perlakuan masing-masing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Subjek
Subjek penelitian terdiri atas mahasiswa dan pegawai di Institut Pertanian Bogor. Sebanyak 75% subjek merupakan mahasiswa dan 25% sisanya merupakan pegawai. Rata-rata usia subjek adalah 21±3.2 tahun. Usia subjek termasuk ke dalam kelompok usia dewasa awal (early adulthood) karena berada pada rentang
usia 19-35 tahun (Greca et al. 1992). Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada usia subjek antarkelompok (p>0.05). Sebaran subjek berdasarkan karakteristik antarkelompok dapat dilihat pada Tabel 2.
Sebanyak 91.7% subjek merupakan perokok sedang dan 8.3% subjek merupakan perokok berat. Rata-rata jumlah rokok yang dihisap subjek per hari adalah 11.8±4.4 batang. Sebanyak 91.7% subjek merupakan perokok dengan lama merokok kurang dari 10 tahun dan 8.3% subjek merupakan perokok dengan lama merokok lebih dari 10 tahun. Lama merokok rata-rata subjek adalah 6.1±2.1 tahun. Uji ANOVA menunjukkan bahwa lama merokok dan jumlah rokok yang dihisap subjek sehari tidak berbeda nyata antarkelompok (p>0.05). Hasil uji statistik terhadap keseluruhan karakteristik subjek tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh subjek pada penelitian ini memiliki karakteristik yang sama atau homogen (Lampiran 6).
Tabel 2 Sebaran subjek berdasarkan karakteristik antarkelompok Karakteristik Kelompok K P1 P2 P3 Total n % n % n % n % n % Pekerjaan Mahasiswa 3 100.0 3 100.0 2 66.7 1 33.3 9 75 Pegawai 0 0.0 0 0.0 1 33.3 2 66.7 3 25 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Usia (tahun) 19-23 3 100.0 3 100.0 3 100.0 1 33.3 10 83.3 24-28 0 0.0 0 0.0 0 0.0 2 66.7 2 16.7 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Mean±SD 20.7±2.1 19.3±0.6 19.3±0.6 24.7±4.9 21±3.2 Lama merokok (tahun) <10 3 100.0 3 100.0 3 100.0 2 66.7 11 91.7 >10 0 0.0 0 0.0 0 0.0 1 33.3 1 8.3 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Mean±SD 5.7±2.9 6.0±1.7 5.0±0.0 7.7±2.5 6.1±2.1 Banyak merokok (batang/hari) 1-4 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 5-14 2 66.7 3 100.0 3 100.0 3 100.0 11 91.7 ≥15 1 33.3 0 0.0 0 0.0 0 0.0 1 8.3 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Mean±SD 13.7±9.8 11.3±1.2 11.0±1.0 11.3±1.2 11.8±4.4
Kepatuhan Konsumsi Minuman Intervensi
Konsumsi minuman intervensi dipantau dan dicatat dengan menggunakan
form kepatuhan berdasarkan monitoring terhadap subjek. Kepatuhan subjek dalam
mengonsumsi minuman intervensi disajikan pada Tabel 3. Mengacu kepada Briawan (2008), tingkat kepatuhan rata-rata subjek pada masing-masing kelompok dalam tergolong tinggi karena persentase kepatuhan subjek >80% selama mengonsumsi minuman intervensi. Selain mencatat kepatuhan subjek,
peneliti juga menanyakan dan mencatat kealpaan maupun keluhan subjek selama mengonsumsi minuman intervensi. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, tidak terdapat keluhan apapun dari subjek selama mengonsumsi minuman intervensi. Konsumsi minuman intervensi yang dilewatkan oleh subjek antara lain karena alasan lupa maupun adanya kegiatan di luar kampus. Hasil uji ANOVA tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada kepatuhan konsumsi minuman intervensi subjek antarkelompok (p>0.05).
Tabel 3 Persentase kepatuhan konsumsi minuman intervensi
Kelompok Konsumsi minuman intervensi (%) p*
P1 85.7 0.726 P2 90.5 P3 89.3 Rata-rata 88.5 *signifikan pada p<0.05
Kebiasaan Konsumsi Pangan Sumber Lipid
Food Frequency Questionnaire (FFQ) bertujuan untuk menyediakan data
pola konsumsi pangan secara deskriptif kualitatif dan bertujuan untuk menilai frekuensi pangan atau kelompok pangan yang dikonsumsi pada selang waktu tertentu (Gibson 2005). Pengisian Food Frequency Questionnaire (FFQ) dilakukan dengan cara meminta subjek untuk memberi tanda pada daftar makanan yang tersedia mengenai frekuensi konsumsi pangan sumber lipid selama sebulan terakhir. Frekuensi konsumsi pangan sumber lipid subjek terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4 Frekuensi konsumsi pangan sumber lipid subjek per minggu
Makanan Frekuensi (per minggu)
Kontrol P1 P2 P3 Rata-rata Ayam goreng 2.33 2.67 2.08 7.67 3.69 Gorengan 0.00 8.00 3.00 2.33 3.33 Bakso 0.31 1.08 2.33 3.57 1.82 Mie goreng 0.16 0.31 0.49 5.33 1.57 Es krim 0.00 1.67 2.08 0.00 0.94 Kue manis 0.00 0.33 2.33 0.00 0.67 Nugget 0.00 1.00 0.08 1.00 0.52 Daging sapi 0.00 1.39 0.33 0.33 0.51 Sate 0.64 0.23 0.41 0.00 0.32 Soto bersantan 0.41 0.41 0.08 0.33 0.31 Martabak manis 0.00 0.08 0.74 0.33 0.29 Sosis 0.00 0.08 0.33 0.67 0.27 Martabak telur 0.00 0.16 0.74 0.00 0.23 Jeroan 0.00 0.00 0.08 0.00 0.02
Pangan sumber lipid yang paling sering dikonsumsi subjek secara berturut-turut ialah ayam goreng (3.69 kali/minggu), gorengan (3.33 kali/minggu),
dan bakso (1.82 kali/minggu). Makanan selingan berupa es krim dikonsumsi 0.94 kali/minggu, kue-kue manis 0.67 kali/minggu, martabak manis 0.29 kali/minggu, dan martabak telur 0.23 kali/minggu. Uji statistik menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi pangan sumber lipid per minggu subjek tidak berbeda nyata antarkelompok (p>0.05).
Asupan dan Tingkat Kecukupan Gizi
Asupan zat gizi seseorang dapat diketahui berdasarkan konsumsi pangannya. Menurut Supariasa (2002), survei konsumsi pangan dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya metode food recall 24 jam. Prinsip metode
food recall 24 jam ialah mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang
dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Jumlah makanan yang dikonsumsi oleh subjek ditanyakan dengan menggunakan alat ukur rumah tangga (URT) untuk mendapatkan data kuantitatif.
Food recall 24 jam dilakukan sebanyak tiga kali kepada subjek selama
intervensi pada hari yang berbeda-beda. Hal ini mengacu pada Supariasa (2002) yang menyatakan bahwa food recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut (Supariasa 2002). Selain itu, menurut Sanjur (1997) dalam Supariasa (2002), minimal dua kali recall 24 jam pada hari yang tidak berturut-turut dapat memberikan gambaran yang lebih optimal tentang asupan zat gizi serta memberikan variasi yang lebih besar tentang asupan harian individu. Asupan zat gizi subjek dapat dilihat pada Tabel 5.
Berdasarkan rata-rata, kelompok P1 memiliki asupan energi tertinggi (2024±346.6 kkal) sedangkan asupan energi terendah terdapat pada kelompok K (1923±31.5 kkal). Uji ANOVA menunjukkan bahwa rata-rata asupan energi subjek antarkelompok tidak berbeda nyata (p>0.05). Rata-rata asupan protein tertinggi terdapat pada kelompok P1 (59.9±12.1 gram) sedangkan rata-rata asupan protein terendah terdapat pada kelompok P2 (51.3±3.5 gram). Berdasarkan uji ANOVA, rata-rata asupan protein subjek antarkelompok juga tidak berbeda nyata (p>0.05).
Tabel 5 Asupan zat gizi subjek berdasarkan kelompok
Zat gizi Kelompok
K P1 P2 P3 p* Energi (kkal) 1923±31.5 2024±346.6 1938±178.9 1933±190.6 0.934 Protein (g) 58.4±4.9 59.9±12.1 51.3±3.5 55.0±7.1 0.554 Lemak (g) 63.3±9.0 84.8±31.8 54.9±16.8 66.7±15.5 0.378 KH (g) 346.8±142.4 314.9±136.7 426.3±146.3 272.0±18.9 0.509 *signifikan pada p<0.05
Rata-rata asupan lemak tertinggi terdapat pada kelompok P1 (84.8±31.8 gram) sedangkan rata-rata asupan lemak terendah terdapat pada kelompok P2 (54.9±16.8 gram). Uji ANOVA menunjukkan bahwa rata-rata asupan lemak subjek antarkelompok tidak berbeda nyata (p>0.05). Rata-rata asupan karbohidrat tertinggi terdapat pada kelompok P2 (426.3±146.3 gram) sedangkan rata-rata asupan karbohidrat terendah terdapat pada kelompok P3 (272±18.9 gram).
Berdasarkan uji ANOVA, diperoleh bahwa rata-rata asupan karbohidrat subjek antarkelompok tidak berbeda nyata (p>0.05).
Data asupan energi dan zat gizi subjek kemudian dibandingkan dengan Angka Kebutuhan Gizi (AKG) untuk mendapatkan nilai tingkat kecukupan energi dan zat gizi subjek. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi subjek dapat dilihat pada Tabel 6. Sebanyak 50% subjek memiliki tingkat kecukupan energi yang tergolong defisit sedang. Hal ini dapat diduga karena umumnya subjek hanya mengonsumsi makanan sepinggan di dua waktu makan dan hanya mengonsumsi makanan selingan di pagi hari. Hal serupa juga didapat dari penelitian-penelitian lain yang dilakukan oleh Puspitasari (2006), Sari (2011), dan Rahmariza (2012) yang memberikan hasil bahwa tingkat kecukupan energi orang dewasa sebagian besar tergolong defisit.
Tabel 6 Tingkat kecukupan zat gizi subjek berdasarkan kelompok Kategori Kelompok K P1 P2 P3 Total n % n % n % n % n % Energi Defisit berat 0 0.0 1 33.3 0 0.0 1 33.3 2 16.7 Defisit sedang 3 100.0 0 0.0 2 66.7 1 33.3 6 50.0 Defisit ringan 0 0.0 2 66.7 1 33.3 1 33.3 4 33.3 Normal 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Di atas kebutuhan 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Rata-rata (%) 75.3±1.2 79.7±13.6 76±7.0 76±7.5 76.7±7.5 Protein Defisit berat 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Defisit sedang 0 0.0 1 33.3 0 0.0 0 0.0 1 8.3 Defisit ringan 0 0.0 0 0.0 2 66.7 1 33.3 3 25.0 Normal 3 100.0 2 66.7 1 33.3 2 66.7 8 66.7 Di atas kebutuhan 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Rata-rata (%) 97.7±8.2 99.7±20 86±5.7 91.7±11.6 93.7±12.2 Lemak Kurang 1 33.3 1 33.3 1 33.3 1 33.3 4 33.3 Normal 2 66.7 0 0.0 2 66.7 2 66.7 6 50.0 Lebih 0 0.0 2 66.7 0 0.0 0 0.0 2 16.7 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Rata-rata (%) 22.5±3.2 29.9±11.2 19.4±5.9 23.5±5.5 23.8±7.2 Karbohidrat Kurang 1 33.3 2 66.7 1 33.3 3 100.0 7 58.3 Normal 2 66.7 0 0.0 1 33.3 0 0.0 3 25.0 Lebih 0 0.0 1 33.3 1 33.3 0 0.0 2 16.7 Total 3 100.0 3 100.0 3 100.0 3 100.0 12 100.0 Rata-rata (%) 54.4±22.3 49.4±21.4 66.9±22.9 42.7±2.9 53.3±18.9
Tingkat kecukupan protein subjek (66.7%) termasuk ke dalam kategori normal. Hal ini dikarenakan subjek biasa mengonsumsi pangan hewani yang merupakan sumber protein seperti telur ayam dan ikan. Sebagian besar (50%) subjek memiliki tingkat kecukupan lemak pada kategori normal sedangkan tingkat
kecukupan karbohidrat subjek berada pada kategori kurang (58.3%). Hal ini dapat diduga karena umumnya subjek hanya mengonsumsi makanan sepinggan di dua waktu makan dan hanya mengonsumsi makanan selingan di pagi hari. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa tingkat kecukupan energi dan zat gizi subjek antarkelompok tidak berbeda nyata (p>0.05) (Lampiran 10).
Profil Lipid Trigliserida
Trigliserida adalah asam lemak dan merupakan jenis lemak yang paling banyak di dalam darah. Rata-rata kadar trigliserida masing-masing kelompok disajikan pada Gambar 3. Rata-rata trigliserida seluruh kelompok berada pada kategori optimal (<150 mg/dl) baik saat pre-intervensi maupun post-intervensi. Rata-rata trigliserida pre-intervensi tertinggi terdapat pada kelompok P2 (149.79 mg/dl) sedangkan rata-rata terendah terdapat pada kelompok K (133.82 mg/dl). Rata-rata trigliserida pre-intervensi tidak berbeda antarkelompok (p>0.05).
Rata-rata trigliserida post-intervensi tertinggi terdapat pada kelompok P1 (138.32 mg/dl) sedangkan rata-rata terendah terdapat pada kelompok P2 (129.67 mg/dl). Kelompok K mengalami peningkatan kadar trigliserida sebesar 1.38% sedangkan ketiga kelompok perlakuan intervensi mengalami penurunan dengan persentase penurunan terbesar terdapat pada kelompok P2 (13.4%).
Gambar 3 Rata-rata dan persentase perubahan kadar trigliserida subjek Terdapat perubahan kadar trigliserida antara keadaan pre dengan post-intervensi namun menurut uji T perubahan tersebut tidak signifikan (p>0.05) sehingga dapat dikatakan tidak terjadi peningkatan maupun penurunan kadar trigliserida pada keadaan pre dan post-intervensi di tiap kelompok. Uji ANOVA juga tidak memperlihatkan adanya perbedaan yang nyata pada selisih rata-rata trigliserida di seluruh kelompok antara pre dengan post-intervensi (p>0.05). Hasil tersebut diduga disebabkan kadar trigliserida pre-intervensi subjek sudah tergolong optimal sehingga pemberian minuman intervensi tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar trigliserida post-intervensi subjek.
Kolesterol Total
Kolesterol dalam tubuh berfungsi sebagai komponen struktural membran sel dan lebih dari 90% kolesterol dalam tubuh berada di dalam sel. Kolesterol
1.38% - 1.88% - 13,4% - 1,13%
menjadi berbahaya ketika menumpuk pada dinding arteri yang akan menjadi atherosklerosis (Whitney dan Rolfes 2008). Rata-rata kadar kolesterol total masing-masing kelompok disajikan pada Gambar 4.
Kadar kolesterol total optimal adalah <200 mg/dl. Rata-rata kolesterol total pre-intervensi pada kelompok P1, P2, dan P3 tergolong tidak optimal (Gambar 4). Rata-rata kolesterol total pre-intervensi tertinggi terdapat pada kelompok P1 (236.31 mg/dl) sedangkan rata-rata terendah terdapat pada kelompok K (173.12 mg/dl). Hasil ini sejalan dengan penelitian Waloya (2013) yang menunjukkan bahwa kadar kolesterol total pada pria perokok dewasa termasuk pada batas tinggi (hiperkolesterolemia). Rokok merupakan salah satu penyebab radikal bebas yang dapat menyebabkan terjadinya penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol total (Page 1981).
Gambar 4 Rata-rata dan persentase perubahan kadar kolesterol total subjek Terjadi penurunan kadar kolesterol total di keempat kelompok dengan persentase penurunan terbesar terdapat pada kelompok P1 (31.3%). Rata-rata kolesterol total post-intervensi tertinggi terdapat pada kelompok P3 (171.52 mg/dl) sedangkan rata-rata terendah terdapat pada kelompok P2 (160.00 mg/dl). Penelitian dari Lipid Research Clinics Coronary Primary Prevention Trial (LRCCPPT) di Amerika memperlihatkan hubungan antara penurunan kolesterol dengan pengurangan risiko penyakit jantung koroner, yaitu setiap penurunan 1% kolesterol darah dapat mengurangi 2% risiko penyakit jantung koroner (Fodor et
al. 2000).
Uji ANOVA terhadap rata-rata kolesterol total pre-intervensi pada ketiga kelompok perlakuan intervensi tidak berbeda nyata (p>0.05). Uji T menunjukkan bahwa kelompok P1, P2, dan P3 memiliki rata-rata kolesterol total yang berbeda nyata antara pre dengan post-intervensi (p<0.05; p=0.004, p=0.016, dan p=0.023). Uji ANOVA terhadap selisih rata-rata kolesterol total berbeda nyata antarkelompok (p<0.05, p=0.00). Uji lanjut Duncan memperlihatkan bahwa perubahan kadar kolesterol total pada kelompok P1 berbeda nyata dengan kelompok P2 dan P3 sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian minuman intervensi selama 14 hari telah mampu menurunkan kadar kolesterol total subjek secara nyata.
Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Nurdin et al. (2008) yang menunjukkan bahwa pemberian 16.7 mg (per kg berat badan kelinci) ekstrak klorofil daun cincau hijau pada kelinci mampu menurunkan kadar kolesterol total
14.7% 56.4% 43.8% 35.4%
secara signifikan. Penurunan tersebut diduga dipengaruhi oleh kandungan serat dan klorofil pada minuman intervensi. Cincau hijau mengandung serat larut air yang dapat mengikat asam lemak bebas ketika masih dalam saluran pencernaan dan mengeluarkannya melalui feses (Gallaher 2000). Menurut Lanfer et al. (2005), cincau hijau juga mengandung klorofil yang merupakan salah satu antioksidan yang dapat menghambat proses oksidasi lipid.
Kolesterol HDL
Kolesterol HDL merupakan α-lipoprotein yang mengandung 52% protein dan 48% lemak, merupakan lipoprotein terkecil dibentuk di dalam sel-sel hati dan sel-sel usus kecil. Fungsi utama HDL ialah mengangkut kolesterol dan fosfolipid dari jaringan perifer ke hati untuk dirombak sehingga mencegah penumpukan kolesterol di jaringan perifer. Kolesterol HDL yang tinggi dikatakan sebagai faktor protektif fisiologis atau faktor antiaterogenik (Mayes 2003 dan Ross 1995). Rata-rata kolesterol HDL masing-masing kelompok dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Rata-rata dan persentase perubahan kadar kolesterol HDL subjek Kadar kolesterol HDL tinggi adalah ≥60 mg/dl. Rata-rata kolesterol HDL subjek pre-intervensi di seluruh kelompok tergolong tinggi (Gambar 5). Rata-rata kolesterol HDL tertinggi terdapat pada kelompok K (71.59 mg/dl) dan rata-rata terendah terdapat pada kelompok P1 (49.97 mg/dl). Uji ANOVA terhadap rata-rata kolesterol HDL pre-intervensi tidak berbeda nyata antar kelompok (p>0.05). Kadar kolesterol HDL post-intervensi pada kelompok K menurun sebesar 14.7% sedangkan pada ketiga kelompok perlakuan intervensi mengalami peningkatan dengan persentase terbesar terdapat pada kelompok P1 (56.4%).
Uji T menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada kadar kolesterol HDL pre dengan post-intervensi di kelompok P1 (p<0.05; p=0.013). Berdasarkan uji ANOVA, selisih kadar kolesterol HDL antara pre dengan post-intervensi berbeda nyata antar kelompok (p<0.05, p=0.004). Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Nurdin et al. (2008) yang menunjukkan bahwa pemberian 16.7 mg (per kg berat badan kelinci) ekstrak klorofil daun cincau hijau pada kelinci selama dua bulan mampu meningkatkan kadar kolesterol HDL secara signifikan.
Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa perubahan kadar kolesterol HDL antara ketiga kelompok perlakuan intervensi tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa lama waktu pemberian minuman intervensi selama 14, 21, maupun 28 hari memberikan peningkatan yang relatif sama terhadap kadar kolesterol HDL subjek.
2.95% 64.2% 55.7% 53.6%
Kandungan flavonoid pada daun cincau mampu mencegah pelengketan sel darah merah dan kerusakan kolesterol HDL (Harlinawati 2006). Intervensi jelly cincau hijau juga diduga dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL karena kandungan saponin pada daun cincau hijau (Heyne 1987). Menurut Riesanti et al. (2012) saponin dapat meningkatkan HDL dengan meningkatkan apoprotein A1 yang merupakan protein pembentuk kolesterol HDL.
Kolesterol LDL
Kolesterol LDL mengandung 22% protein dan 78% lemak yang merupakan sumber utama kolesterol yang terikat dengan apoprotein. Kolesterol LDL berperan dalam transpor lemak dari hati menuju jaringan perifer melalui jalur endogen (nondietetik) dan dibentuk melalui peran lipase pada partikel prekursor. Merokok menyebabkan peningkatan kolesterol LDL teroksidasi dan penurunan kolesterol HDL (Tanuwidjojo 2003).
Gambar 6 Rata-rata dan persentase perubahan kadar kolesterol LDL subjek Rata-rata kolesterol LDL pre-intervensi tertinggi terdapat pada kelompok P1 (158.14 mg/dl) sedangkan rata-rata terendah terdapat pada kelompok K (74.77 mg/dl). Uji ANOVA terhadap rata-rata kolesterol LDL pre-intervensi tidak berbeda nyata antarkelompok (p>0.05). Rata-rata kolesterol LDL post-intervensi tertinggi terdapat pada kelompok K (76.98 mg/dl) sedangkan rata-rata terendah terdapat pada kelompok P2 (50.42 mg/dl). Kadar kolesterol LDL subjek pada kelompok K meningkat sebesar 2.95% sedangkan pada ketiga kelompok perlakuan intervensi mengalami penurunan dengan persentase penurunan terbesar terdapat pada kelompok P1 (64.2%).
Uji T menunjukkan bahwa rata-rata kolesterol LDL saat pre dengan post-intervensi berbeda nyata pada kelompok P1, P2, dan P3 (p<0.05; p=0.00, p=0.020, p=0.046). Uji ANOVA juga memperlihatkan adanya perbedaan yang nyata pada selisih rata-rata kolesterol LDL pre dengan post-intervensi di seluruh kelompok (p<0.05, p=0.000). Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa perubahan kadar kolesterol LDL pada kelompok P1 berbeda nyata dengan kelompok P2 dan P3.
Penurunan kolesterol LDL pada kelompok perlakuan intervensi diduga disebabkan kandungan serat yang terdapat pada daun cincau hijau. Menurut Untoro (1985), daun cincau hijau memiliki kadar serat sebesar 4.33%. Komponen utama cincau hijau yang membentuk gel adalah polisakarida pektin yang merupakan serat larut air (Artha 2001). Menurut Krithchevsky (1990), asupan serat dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL dalam berbagai
- - -
mekanisme yaitu memperlambat pengosongan lambung, mengganggu kerja enzim pencernaan, dan menghambat biosintesis kolesterol.
Selain itu, pemberian minuman intervensi diduga dapat menurunkan kadar kolesterol LDL karena adanya zat saponin pada cincau hijau yang dapat menghambat oksidasi kolesterol LDL dengan mengurangi Reactive Oxygen
Species (ROS). Lemak berlebih dalam darah dapat diangkut menuju usus dan
dibuang melalui feses sehingga tidak menimbulkan inisiasi lemak pada tunika adventisia (Riesanti et al. 2012).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Subjek terdiri atas mahasiswa (75%) dan staf pegawai (25%) di Institut Pertanian Bogor. Rata-rata usia subjek adalah 21±3.25 tahun. Sebagian besar subjek (91.7%) merupakan perokok sedang dengan rata-rata merokok sebanyak 11.8±4.4 batang per hari dan rata-rata lama merokok selama 6.1±2.1 tahun. Tidak terdapat perbedaan yang nyata pada karakteristik subjek antarkelompok (p>0.05). Pangan sumber lipid yang paling sering dikonsumsi subjek ialah ayam goreng (3.69 kali/minggu), gorengan (3.33 kali/minggu), dan bakso (1.82 kali/minggu). Tingkat kecukupan energi subjek (50%) tergolong defisit sedang dan tingkat kecukupan protein subjek (66.7%) tergolong normal. Tingkat kecukupan lemak subjek (50%) tergolong normal sedangkan tingkat kecukupan karbohidrat subjek (58.3%) berada pada kategori kurang. Frekuensi konsumsi pangan sumber lipid, asupan energi dan zat gizi, serta tingkat kecukupan energi dan zat gizi subjek antarkelompok tidak berbeda nyata (p>0.05).
Pemberian minuman intervensi dapat mempengaruhi kadar profil lipid. Uji T terhadap rata-rata trigliserida pre dengan post-intervensi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p>0.05). Rata-rata kolesterol total pada ketiga kelompok intervensi mengalami penurunan yang signifikan (p>0.05) setelah pemberian minuman intervensi. Terdapat perubahan yang signifikan (p>0.05) pada rata-rata kolesterol HDL dan kolesterol LDL antara pre dengan post-intervensi. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa pemberian satu takaran saji minuman intervensi selama 14 hari telah mampu memperbaiki kadar kolesterol total, kolesterol HDL, dan kolesterol LDL secara bermakna.
Saran
Perlu dilakukan screening profil lipid di awal penelitian sehingga dapat dipilih subjek dengan kadar profil lipid pre-intervensi yang relatif sama. Variabel lain seperti pangan sumber lipid, jenis rokok, dan aktivitas fisik sebaiknya dianalisis agar pengaruhnya terhadap profil lipid dapat diketahui. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memodifikasi durasi maupun dosis pemberian minuman intervensi agar diperoleh perbaikan profil lipid yang lebih optimal.
DAFTAR PUSTAKA
[Depkes] Departemen Kesehatan. 1996. Pedoman Praktis Pemantauan Gizi Orang Dewasa. Jakarta (ID): Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
__________________________. 2006. Gizi dalam Angka. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
[Kemenkes] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Pedoman Gizi
Seimbang. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu
dan Anak.
[NCEP ATP III] The National Cholesterol Education Program. 2002. Third
Report of NCEP Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). New York
(US): Department of Health and Human Services.
Afrin et al. 2010. Effect of cigarette smoking on HDL-C in adolescent.
Bangladesh Medical Journal. 39(2):1.
Anwar TB. 2004. Dislipidemia sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner. Medan (ID): Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Arslan E, Yakar T, Yavasoglu I. 2008. The effect of smoking on mean platelet volume and lipid profile in young male subjects. Anadolu Kardiyol Derg
Journal. 8(6):422.
Artha N. 2001. Isolasi dan karakterisasi sifat fungsional komponen pembentuk gel daun cincau (Cyclea barbata L. Miers) [disertasi]. Bogor (ID): Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Astirani AE. 2012. Pengaruh pemberian sari daun cincau hijau (Premna
oblongifolia Merr.) terhadap kadar kolesterol hdl dan kolesterol ldl tikus
(sprague dawley) dislipidemia [artikel penelitian]. Semarang (ID): Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Briawan D. 2008. Efikasi suplementasi besi-multivitamin terhadap perbaikan status besi remaja wanita [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Budiyono W dan Candra A. 2013. Perbedaan kadar kolesterol total dan trigliserida
sebelum dan setelah pemberian sari daun cincau hijau (Premna
oblongifolia Merr.) pada tikus dislipidemia. Journal of Nutrition College.
Volume 2 (1): 118-125.
Bustan MN. 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta (ID): PT Rineka Cipta.
Devaranavadgi et al. 2012. Effect of cigarette smoking on blood lipids-a study in belgaum, northern Karnataka, india. Global Journal of Medical Research. 12 (6). USA: Global Journals Inc Publisher.
Fodor JG, Frohlich JJ, Genest JG, McPherson PR. 2000. Recommendations for the management and treatment of dyslipidemia. eMedicine Journal.
Gallaher D. 2000. Dietary fiber and its physiological effect in essential of functional food. Maryland: Aspen Publication.
Gepner et al. 2011. Effects of smoking and smoking cessation on lipids and lipoproteins: outcomes from a randomized clinical trial. Am Heart J. 161(1): 145-151.
Gibson RS. 2005. Principles of Nutrition Assessment 2nd Edition. New York (US):
Oxford University Press.
Handayani DM. 2000. Mempelajari pengaruh ekstrak cincau hijau (Cyclea
barbata L. Miers) terhadap produksi radikal bebas makrofag peritoneal
mencit secara in vitro [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Harlinawati Y. 2006. Terapi Jus untuk Kolesterol dan Ramuan Herbal. Jakarta (ID): Puspa Swara.
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Jakarta (ID): Yayasan Sarana Wana Jaya.
Krithchevsky D. 1990. Dietary Fiber: Chemistry, Physiology, and Health Effects. New York (USA): Plenum Press.
Kusharto CM, Tanziha I, Januwati M. 2008. Produk ekstrak klorofil dari berbagai daun tanaman untuk meningkatkan respon imun dan aplikasinya sebagai anti-aterosklerosis. Bogor (ID): Laporan Penelitian LPPM IPB Bogor. Lanfer MUM, Barros RMC, Sinnecker P. 2005. Antioxidant activity of
chlorophylls and their derivatives. Food Research International. 38 (8/9): 885-891.
Lemeshow S dan David WH. 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan (terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Limantara L dan Kusumaningtyas RS. 2009. The isomerization and oxidation of carotenoid compounds in the oil palm fruit during productions of CPO.
Indo J. Chem. 9(1):48-53.
Mahan K dan S Escott-Stump. 2008. Krause’s Food Nutrition and Therapy. (USA): Elsevier.
Makaryani I. 2014. Pengaruh Pemberian Pangan Antioksidan terhadap Kadar Malondialdehid dan Profil Lipid Darah pada Mahasiswi Pengonsumsi Gorengan [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Mayes PA. 2003. Pengangkutan dan Penyimpanan Lipid. Dalam: Muray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. Biokimia Harper. ed-25 (terjemahan). (USA): Appleton & Lange.
Neki NS. 2002. Lipid profile in chronic smokers: a clinical study. JIACM. 3(5):1-4.
Nurdin, Khomsan A, Marliyati S, et al. 2008. Pengaruh pemberian bubuk ekstrak cu-turunan klorofil daun cincau (Premna oblongifolia Merr.) terhadap profil lipid darah kelinci. Media Gizi dan Keluarga. 32 (1): 104-114.
Page SD. 1981. Principles of Biological Chemistry. (terjemahan). Surabaya: Universitas Airlangga.
Puspitasari M. 2006. Pola konsumsi pangan pria dewasa di pedesaan dan perkotaan bogor, kaitannya dengan faktor risiko penyakit jantung koroner. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rahmariza E. 2012. Tingkat kecukupan gizi karyawan dan penyelenggaraan makanan di pangansari utama catering tambang senakin kalimantan selatan [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Riesanti DG, Padaga MC, Herawati. 2012. Kadar hdl, kadar ldl dan gambaran histopatologi aorta pada hewan model tikus (Rattus norvegicus) hiperkolesterolemia dengan terapi ekstrak air benalu mangga (Dendrophthoe pentandra) [skripsi]. Malang (ID): Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya.
Ross R. 1995. Arteriosclerosis: An Overview. Dalam: Haber E. Molecular
Cardiovascular Medicine. New York (USA): Scientific American.
Sari DM. 2011. Gaya hidup, intake zat gizi dan morbiditas orang dewasa yang berstatus gizi obes dan normal [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Supariasa IDN et al. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta (ID): Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tanuwidjojo S. 2003. Recent development in pathogenesis of atherosclerosis. Dalam: Tanuwidjojo S, Rifqi S. Atherosklerosis from theory to clinical practice. Cardiology-Update: 13-18.
Untoro A. 1985. Mempelajari beberapa sifat dasar dalam pembentukan gel dari cincau hijau Premna oblongifolia Merr. [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Waloya T. 2013. Hubungan antara konsumsi pangan dan aktivitas fisik dengan kadar kolesterol darah pria dan wanita dewasa di bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner penelitian Kode Subjek:
KUESIONER PENELITIAN
PENGARUH INTERVENSI JELLY CINCAU
HIJAU TERHADAP PROFIL PRIA PEROKOK
DEWASA
Nama Enumerator :
Nama Subjek :
Tanggal Wawancara :
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
A. Karakteristik Subjek
1. Nama Lengkap :
2. Tempat Tanggal Lahir : 3. Jenis Kelamin : 4. Umur : 5. No. Telp/HP : 6. Berat Badan : 7. Tinggi Badan : 8. Riwayat penyakit :
B. Food Recall 3 X 24 Jam Tanggal wawancara: Waktu Nama makanan Jenis bahan makanan URT (satuan) Berat (gram) Keterangan Pagi Selingan 1 Siang Selingan 2 Malam
Lampiran 2 Informed consent
JUDUL KEGIATAN: POTENSI JELLY CINCAU DALAM MENURUNKAN KADAR MALONDIALDEHID (MDA) DAN
C-REACTIVE PROTEIN (CRP) SERTA
MEMPERBAIKI PROFIL LIPID DARAH
INSTANSI PELAKSANA: DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT, FEMA IPB
NASKAH PENJELASAN PENELITIAN Rekan Mahasiswa yang kami hormati,
Kami adalah tim peneliti yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Ilmu Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor akan melakukan kegiatan penelitian mengenai “Potensi Jelly Cincau Dalam Menurunkan Kadar Malondialdehid (MDA) dan C-Reactive Protein (CRP) serta Memperbaiki Profil Lipid Darah”.
Kami mengundang Saudara untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Informasi berikut ini disediakan untuk membantu Saudara dalam membuat keputusan keikutsertaan setelah mendapat penjelasan. Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk disampaikan.
Latar Belakang Penelitian
Penyakit degeneratif semakin banyak ditemukan di masyarakat, seperti kanker, Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke, dan beberapa Penyakit Tidak Menular (PTM) lainnya. PJK merupakan penyebab utama kematian di dunia (WHO 2011). Prevalensi penderita PJK di Indonesia mencapai 31.9%, penderita
stroke 15.4%, dan hipertensi 6.8% (RISKESDAS 2007). Penyakit degeneratif
tersebut terutama disebabkan oleh jumlah kolesterol dan trigliserida yang berlebih dalam darah, atau dikenal dengan hiperkolesterolemia dan hiperlipidemia. Hal ini dibuktikan dengan data penduduk dengan berat badan lebih dan obesitas di Indonesia mencapai 21.7% (RISKESDAS 2007).
Jumlah lemak yang berlebih memungkinkan terjadinya proses oksidasi oleh radikal bebas semakin meningkat (Damayanthi 2013). Salah satu produk oksidasi lemak yang dapat diukur sebagai penanda adanya radikal bebas dalam tubuh adalah malondialdehyde (MDA). Proses oksidasi akibat adanya radikal bebas dapat dicegah dengan senyawa antioksidan (Winarsi 2007).
Konsentrasi MDA darah dapat diturunkan dengan intervensi cincau. Penurunan MDA dengan intervensi cincau menunjukkan hasil lebih baik dibanding dengan intervensi teh, pepaya, dan tomat (Makaryani 2013). Menurut Koessitoresmi (2002), aktivitas antioksidan cincau dapat meningkatkan kapasitas antioksidan limfosit (in vitro). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa cincau mengandung zat anti kanker (Ananta 2000) dan dapat menurunkan jumlah radikal bebas (Handayani 2000).
Oleh karena itu, penelitian ini kami susun untuk melanjutkan penelitian sebelumnya tentang antioksidan pada cincau. Penelitian kami akan membuat formulasi jelly cincau hijau yang bermanfaat bagi kesehatan dan diharapkan dapat diterima baik oleh masyarakat.
Lama Penelitian dan Jumlah Subjek Penelitian
Penelitian akan dilakukan kurang lebih 23 hari, yaitu 1 hari diawal untuk proses pemilihan sampel, yaitu dengan wawancara; penjelasan mengenai penelitian; pengambilan darah sebelum sebelum intervensi, pemberian minuman intervensi, dan pengambilan darah setelah intervensi. Jumlah subjek yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 15 mahasiswa, yang akan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan.
Perlakuan terhadap Subjek
Penelitian ini diawali dengan penyebaran kuesioner kepada mahasiswa calon subjek yang bersedia menjadi subjek penelitian. Selanjutnya akan dipilih 15 mahasiswa terpilih yang akan diberikan minuman intervensi berupa jelly cincau sesuai kelompok perlakuan baik selama 14 hari, 21 hari, maupun 28 hari. Perlu dilakukan pengambilan darah subjek sebanyak 2 kali, yaitu sebelum dan setelah intervensi. Darah diambil sebanyak 7 ml dari vena cubiti, yaitu di bagian tengan lengan tubuh.
Kemungkinan Risiko Kesehatan
Dalam masa pemberian intervensi, kecil kemungkinan untuk menimbulkan risiko terhadap kesehatan karena bahan pangan yang diberikan adalah bahan pangan yang biasa dikonsumsi.
Penjelasan Kompensasi bagi Subjek
Bagi subjek yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian hingga pengambilan darah sebelum dan setelah intervensi, peneliti telah menyediakan kompensasi uang sebesar (Rp 50.000,-) serta informasi kesehatan yaitu gambaran mengenai tingkat oksidatif dan profil lipid masing-masing subjek.
Penjelasan Terjaminnya Subjek
Selama masa sebelum, saat, dan setelah intervensi, keamanaan dan kesehatan subjek dijamin oleh peneliti.
Pengobatan Medis dan Ganti Rugi apabila diperlukan
Apabila dalam masa keikutsertaan subjek mengalami keluhan kesehatan yang diakibatkan oleh kegiatan penelitian ini, peneliti bersedia menanggung biaya pengobatan dan memberikan ganti rugi kepada subjek secara proporsional.
Nama Jelas dan Alamat Penanggung Jawab Medis
Peneliti bekerjasama dengan dokter yang akan menjadi penanggung jawab medis jika terjadi keluhan kesehatan akibat penelitian ini. Dokter tersebut merupakan rekan kerja peneliti utama, yaitu dr Karina Rahmadia, SKed MGizi, yang juga merupakan staf pengajar dari PS Gizi Masyarakat, FEMA-IPB; beralamat di Perum Griya Melati 2, Kelurahan Bubulak, Kotamadya Bogor.