• Tidak ada hasil yang ditemukan

METABAHASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METABAHASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

METABAHASA

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

METABAHASA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Journal homepage: http://journal.stkipyasika.ac.id/index.php/metabahasa

Journal Email: [email protected]

KAJIAN INTERTEKSTUAL NOVEL AYAT-AYAT CINTA

KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DENGAN

NOVEL KETIKA TUHAN JATUH CINTA KARYA WAHYU SUJANI

(Sebagai Alternatif Bahan Ajar Membaca Novel di SMA kelas XI)

HENDRY SUGARA

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka E-mail: [email protected]

ABSTRACT

Literary instruction has a lot of advantages to students. Initially, the students read literary works is simply for spending their time or for entertaining. Unfortunately, if the students realize, many advantages that can be taken through reading literary works. One of them is enriching their knowledge. The students are often feeling bored as they only focus on analyzing the intrinsic and extrinsic elements of a novel. According to this penomenon, the researcher is interested to do the researh in finding the interesting learning material for students through investigating intertextual study on the novel of Ayat- Ayat Cinta written by Habiburrahmman El Shirazy and the novel of Ketika Tuhan Jatuh Cinta written by Wahyu Sujani. The method applied is descriptive research. After analysing the two novels, it can be concluded that theme intertextual, plot intertextual, character intertextual, message intertextual from the two novels shows the similarity and the differences. Both novel intertextual study has also fulfilled the criteria and can be used as the learning material for reading novel at Senior High School.

Key Words: intertextual study, intrinsic elements, novel.

ABSTRAK

Pembelajaran sastra mempunyai banyak manfaat untuk siswa. Pada awalnya, siswa membaca karya sastra untuk mengisi waktu luang atau untuk hiburan saja. Akan tetapi, apabila siswa sudah menyadari, banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui membaca sastra, seperti menambah wawasan dan pengetahuan. Siswa

Article Received: 02 Desember 2018, Review process:19 Desember 2018, Accepted: 05 Januari 2019, Article published: 30 Januari 2019

(2)

sering merasa jenuh karena hanya fokus menganalisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang ada pada sebuah novel saja. Bertitik tolak pada pandangan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dalam mencari bahan ajar membaca novel yang dapat menarik siswa, yaitu dengan melakukan kajian intertekstual Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Setelah dilakukan analisis, diperoleh simpulan bahwa intertekstual tema, intertekstual alur, intertekstual tokoh, intertekstual amanat dari kedua novel memiliki persamaan dan perbedaan. Kajian intertekstual kedua novel pula sudah sesuai dengan kriteria dan dapat dijadikan bahan ajar membaca novel di SMA.

Kata Kunci: Kajian intertekstual, unsur intrinsik, novel. PENDAHULUAN

Karya sastra pada awalnya dinikmati untuk mengisi waktu luang atau untuk hiburan saja. Akan tetapi, apabila kita menyadarinya, banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh melalui kegiatan membaca sastra, seperti menambah wawasan dan pengetahuan atau bahkan dapat menjadi materi untuk pembelajaran.

Pembelajaran sastra di sekolah dapat membawa dampak yang baik bagi siswa. Herfanda (dalam Suherli, 2010: 9) mengemukakan bahwa sastra memiliki potensi yang besar untuk membawa masyarakat kearah perubahan, termasuk perubahan karakter. Pembelajaran sastra dapat terwujud dengan membaca karya-karya sastra, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti pendapat Aminuddin (2010: 36) yang mengemukakan bahwa kegiatan membaca suatu teks sastra secara langsung itu dapat terwujud dalam perilaku membaca, memahami, menikmati, serta mengevaluasi teks sastra, baik yang berupa cerpen, novel, roman, naskah drama, maupun teks sastra yang berupa puisi.

Guru sering mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi di kelas, dengan alasan bahwa siswa sering merasa jenuh karena hanya fokus menganalisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang ada pada sebuah novel saja, tetapi tidak melakukan analisis untuk mengaitkan keterhubungan novel tersebut dengan karya sastra (novel) lain.

Kegiatan mengaitkan keterhubungan karya sastra (novel) akan mampu membuat siswa menjadi lebih kreatif, karena siswa diminta untuk mencari hubungan yang terkandung pada kedua karya sastra (novel) tersebut. Dengan demikian, kegiatan mengaitkan keterhubungan pada karya sastra perlu dilakukan pada siswa kelas XI, karena dapat menambah wawasan dan juga salah satu upaya untuk membentuk karakter.

(3)

Kita ketahui banyak novel Indonesia yang mengangkat cerita percintaan yang dibalut dengan unsur religius di lingkungan masyarakat. Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy merupakan salah satu novel dengan cerita percintaan religius yang diduga memiliki keterhubungan dengan novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani, sehingga perlu dianalisis persamaan dan perbedaan dalam hal tema, alur, tokoh, dan amanat. Setiap karya sastra hadir bukan dari situasi kekosongan semata. Hal tersebut sejalan dengan Teeuw (2003: 120) yang mengemukakan bahwa tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacanya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain.

Bertitik tolak pada pandangan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dalam mencari bahan ajar membaca novel yang dapat menarik siswa, yaitu dengan melakukan kajian intertekstual Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani. Kedua novel tersebut sangat menarik minat penulis untuk diteliti, karena cerita kedua novel tersebut mengandung banyak pembelajaran moral yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa.

Nurgiyantoro (2010: 50) mengemukakan bahwa kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks, yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, gaya bahasa, dan lain-lain, di antara teks-teks yang dikaji. Dapat dikatakan bahwa kajian intertektual berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya atau pada karya-karya yang muncul selanjutnya. Luxemburg (dalam Nurgiyantoro, 2010: 50) juga megemukakan bahwa kita menulis dan membaca dalam suatu ‘interteks’ suatu tradisi budaya, sosial, dan sastra, yang tertuang dalam teks-teks. Setiap teks sebagian bertumpu pada konvensi sastra dan bahasa dan dipengaruhi oleh teks-teks sebelumnya. Jadi kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapanpun karya ditulis, ia tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Ratna (2012: 172) mengemukakan bahwa interteks sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Lebih dari itu, teks itu sendiri secara etimologi (textus, bahasa Latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks, yaitu melalui proses oposisi, permutasi dan, transformasi.

(4)

Penulisan suatu karya tidak mungkin dilepaskna dari unsur kesejarahannya dan pemahaman terhadapnya pun haruslah mempertimbangkan unsur kesejarahannya itu. Karya sastra yang ditulis lebih kemudian, biasanya mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpangi konvensi.

METODOLOGI

Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu satu metode penelitian yang menggambarkan objek penelitian berdasarkan fakta dan data yang terjadi pada saat penelitian berlangsung dengan cara mengumpulkan, menyusun dan menjelaskan data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan data yang ada.

HASIL dan PEMBAHASAN 1. Kajian Intertekstual Tema

Pada Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, tema yang terkandung pada novel tersebut adalah perjuangan dan kesabaran seorang pria alam mengarungi kehidupan untuk mencari kebenaran. Sedangkan, pada Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani tema yang terkandung dalam novel tersebut adalah kisah cinta manusia seorang pria yang dengan keshalihan hati dan kekuatan hidup bersabar menjalani cobaan hidup untuk mendapat cinta dari-Nya.

Berdasarkan hasil kajian terhadap tema kedua novel, Ayat-ayat Cinta dan Ketika Tuhan Jatuh Cinta memperlihatkan adanya persamaan dan perbedaan. Persamaan pada kedua novel terdapat pada cara pandang kedua pengarang yang mengusung cerita religius yang menceritakan tentang seorang yang shalih yang berjuang untuk mendapatkan ridha-Nya. Perbedaan pun tampak pada kedua novel tersebut, yaitu Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy lebih kepada perjuangan seseorang mencari kebenaran dalam hidupnya, sedangkan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani lebih menceritakan tentang ketabahan dan kesabaran seseorang dalam menjalani cobaan yang dihadapinya.

2. Kajian Intertekstual Alur

Alur pada Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yaitu alur campuran. Alur pada novel tersebut dapat dibedakan menjadi delapan bagian. Bagian kesatu dan kedua menerangkan tentang pengenalan tokoh, bagian ketiga tentang pemunculan konflik, pada bagian keempat tentang alur mundur

(5)

menceritakan masa kecil Fahri di desa, bagian kelima merupakan peningkatan konflik, bagian keenam dan ketujuh merupakan klimaks, dan bagian kedelapan merupakan resolusi. Sedangkan, pada Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani pun menggunakan alur campuran. Alur pada novel tersebut dapat juga dibedakan menjadi delapan bagian. Bagian kesatu dan kedua menerangkan tentang pengenalan tokoh, bagian ketiga tentang pemunculan konflik, pada bagian keempat tentang alur mundur cerita ketika Kuliah Praktik Bermasyarakat (KPB), bagian kelima merupakan peningkatan konflik, bagian keenam dan ketujuh merupakan klimaks, dan bagian kedelapan merupakan resolusi.

Berdasarkan hasil kajian terhadap kedua novel, Ayat-ayat Cinta dan Ketika Tuhan Jatuh Cinta memperlihatkan adanya persamaan dan perbedaan. Persamaan pada kedua pengarang yang menggunakan alur campuran (maju-mundur) dalam cerita masing-masing. Pengarang pun membagi ceritanya menjadi delapan bagian, yaitu bagian pertama dan kedua pengenalan tokoh, bagian ketiga pemunculan konflik, bagian keempat alur mundur, bagian kelima peningkatan konflik, bagian keenam dan ketujuh klimaks, dan bagian kedelapan resolusi.

Perbedaan pun tampak pada kedua novel tersebut, yaitu Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy menceritakan tentang seorang mahasiswa Al Azhar yang bertanggung jawab dan shalih bernama Fahri yang difitnah memperkosa gadis bernama Noura dan akhirnya kebenaran terungkap dengan kesaksian Maria dan pengakuan Noura. Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani lebih menceritakan tentang Fikri yang mengkhitbah gadis bernama Leni, tetapi cobaan datang ketika orang tua Leni menjodohkan anaknya dengan pria lain, kemudian diuji kembali dengan meninggalnya orng tua Fikri, dan akhirnya Fikri kembali menemukan semangat hidup dari perempuan bernama Shira.

3. Kajian Intertekstual Penokohan

Tokoh utama Ayat-ayat Cinta adalah Fahri dan Aisha. Karakter Fahri yaitu bertanggung jawab dan shalih. Karakter Aisha adalah ramah dan baik hati. Tokoh lainnya, seperti Maria, Syaikh Utsman, Nurul, Bahadur, Abdur Rauf, Noura, dan Alicia. Mereka adalah peran pembantu yang sengaja dihadirkan pengarang untuk membantu Fahri dan Aisha dalam menghadapi masalah yang ada.

Tokoh utama Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta adalah Ahmad Hizazul Fikri dan Leni Meisari. Karakter Ahmad Hizazul Fikri atau Fikri yaitu shalih, sabar, ikhlas, dan bijaksana. Karakter Leni Meisari yaitu shaliha, sabar, dan pintar. Tokoh lainnya,

(6)

seperti Muhammad Syahrul (Irul), Lidya, Pak Qasim, Bu Fatimah, Humaira, Shira, Pak Aziz, Koh Acung, Kang Arif, Apud, Maya, dan Fatimah. Mereka adalah peran pembantu yang sengaja dihadirkan pengarang untuk membantu Fikri dan Leni dalam menghadapi masalah yang ada.

Berdasarkan hasil kajian terhadap kedua novel, Ayat-ayat Cinta dan Ketika Tuhan Jatuh Cinta memperlihatkan adanya persamaan dan perbedaan. Persamaan pada kedua novel terdapat pada cara pandang kedua pengarang yang menggunakan penokohan seorang pria yang shalih dan wanita yang shaliha dalam cerita masing-masing. Perbedaan pun tampak pada kedua novel tersebut, yaitu Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy mempunyai tokoh antanonis yang memunculkan konflik, yaitu Noura. Sedangkan dalam Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta penyebab konflik muncul bukan karena seorang tokoh, melainkan berupa cobaan dan ujian dari Allah Swt.

4. Kajian Intertekstual Amanat

a. Mengajarkan kita untuk selalu bertawakal.

b. Mengingatkan kita utnuk mencintai Allah harus lebih besar dari pada mencintai makhluk-Nya.

c. Mengingatkan kita untuk selalu mengingat Allah.

d. Mengajarkan kita untuk selalu peduli terhadap sesama.

Berdasarkan hasil kajian amanat terhadap Novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Tuhan Jatuh Cinta memperlihatkan adanya persamaan dan perbedaan. Persamaan amanat pada kedua novel tersebu, yaitu mengajarkan kita untuk selalu bertawakal, mengingatkan kita untuk mencintai Allah harus lebih besar dari pada mencintai makhluk-Nya, mengingatkan kita untuk selalu mengingat Allah, mengajarkan kita untuk selalu peduli terhadap sesama. Perbedaan pun tampak pada kedua novel tersebut, yaitu Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy lebih menekankan amanat tentang sesuatu yang kurang baik pada akhirnya akan kalah oleh suatu kebenaran. Sedangkan dalam Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani lebih menekankan tentang sepahit apapun cobaan yang kita hadapi sesungguhnya Allah Swt menyimpan hikmah manis di dalamnya.

(7)

Tabel Rekapitulasi

Kajian Intertekstual Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani

No Unsur Intrinsik Novel Novel Ayat-ayat Cinta Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta Kajian Intertekstual Persamaan Perbedaan 1. Tema Perjuangan dalam mencari jalan kebenaran. (seorang yang shalih berjuang mencari ridha-Nya) Keshalihan hati dan kekuatan hidup. (seorang yang shalih berjuang mencari ridha-Nya) Persamaan pada kedua novel terdapat pada cara pandang kedua pengarang yang mengusung cerita religius yang menceritakan tentang seorang yang shalih yang berjuang untuk mendapatkan ridha-Nya. Perbedaan pun tampak pada kedua novel tersebut, yaitu Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy lebih kepada perjuangan seseorang mencari kebenaran dalam hidupnya, sedangkan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani lebih menceritakan tentang ketabahan dan kesabaran seseorang dalam menjalani cobaan yang dihadapinya.

2. Alur Campuran Campuran Persamaan pada kedua novel terdapat pada cara pandang kedua pengarang yang menggunaka n alur Perbedaan pun tampak pada kedua novel tersebut, yaitu Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy menceritakan

(8)

campuran (maju-mundur) dalam cerita masing-masing. Pengarang pun membagi ceritanya menjadi delapan bagian, yaitu bagian pertama dan kedua pengenalan tokoh, bagian ketiga pemunculan konflik, bagian keempat alur mundur, bagian kelima peningkatan konflik, bagian keenam dan ketujuh klimaks, dan bagian kedelapan resolusi. tentang seorang mahasiswa Al Azhar yang bertanggung jawab dan shalih bernama Fahri yang difitnah memperkosa gadis bernama Noura dan akhirnya kebenaran terungkap dengan kesaksian Maria dan pengakuan Noura. Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani lebih menceritakan tentang Fikri yang mengkhitbah gadis bernama Leni, tetapi cobaan datang ketika orang tua Leni menjodohkan anaknya dengan pria lain, kemudian diuji kembali dengan meninggalnya orng tua Fikri, dan akhirnya Fikri kembali menemukan semangat hidup dari perempuan bernama Shira. 3. Tokoh protagoni Fahri: - Bertanggun Fikri: - Bekerja Persamaan pada kedua Perbedaan pun tampak

(9)

s Tokoh antagoni s g jawab - Shalih Aisha: - Ramah - Baik hati Noura: - Keji - Suka memfitnah keras - Shalih - Sabar - Ikhlas Leni: - Shaliha - Setia - Patuh terhadap orang tua Antagonisti s novel terdapat pada cara pandang kedua pengarang yang menggunaka n penokohan seorang pria yang shalih dan wanita yang shaliha dalam cerita masing-masing. pada kedua novel tersebut, yaitu Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy mempunyai tokoh antanonis yang memunculkan konflik, yaitu Noura. Sedangkan dalam Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta penyebab konflik muncul bukan karena seorang tokoh, melainkan berupa cobaan dan ujian dari Allah Swt.

5. Kriteria Bahan Ajar

Ada beberapa hal prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.

a. Prinsip Relevansi

Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pemelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Misalkan, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.

Sesuai dengan hasil kajian intertekstual pada Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani, adanya keterkaitan atau adanya hubungan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar yaitu, terdapatnya unsur intrinsik dan ekstrinsik pada kedua novel tersebut sesuai dengan kompetensi dasar, yaitu menganalisis

(10)

unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. Sehingga novel ini relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.

b. Prinsip Konsistensi

Prinsip konsistensi artinya kelanggengan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalkan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis maka materi yang diajarkan juga harus meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Sesuai dengan hasil kajian intertekstual pada Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani, memiliki kelanggengan atau kekonsistenan dengan salah satu karakter bangsa, yaitu religius. Sehingga setelah melakukan kajian intertekstual pada kedua novel ini bisa memberikan semangat atau motivasi kepada siswa untuk selalu bersikap tawakal, mencintai Allah, selalu ingat Allah, dan peduli terhadap sesama. Kedua novel ini pun sangat cocok untuk dibaca oleh siswa SMA.

c. Prinsip Kecukupan

Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

Sesuai hasil kajian intertekstual pada Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani, unsur kecukupan untuk memenuhi kriteria bahan ajar sudah baik. Unsur kecukupan ini dapat dilihat dari unsur intrinsik novel yang sudah sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Di dalam kedua novel pun ada banyak pesan yang disampaikan oleh penulis dengan menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dicerna oleh para siswa.

Dari beberapa analisis kesesuaian bahan ajar di atas, dapat disimpulkan bahwa kajian intertekstual Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani sudah sesuai dengan kriteria bahan ajar membaca novel di SMA. Standar kompetensi memahami

(11)

berbagai hikayat, novel Indonesia/terjemahan, dan kompetensi dasar menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan.

Tabel Rekapitulasi Kriteria Bahan Ajar

Kajian Intertekstual Kriteria Prinsip Relevansi Prinsip Konsistensi Prinsip Kecukupan S TS S TS S TS 1. Tema: - religius - perjuangan - kesabaran    2. Alur: - Campuran    3. Penokohan: - bertanggung jawab - shalih - kerja keras - sabar - ramah - baik hati - setia

- patuh terhadap orang tua

  

4. Amanat: - tawakal

- peduli terhadap sesama - cinta terhadap Allah Swt - selalu mengingat Allah

Swt

  

Keterangan: S = Sesuai TS = Tidak Sesuai

(12)

6. SIMPULAN

Kajian intertekstual Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani sudah sesuai dengan kriteria dan dapat dijadikan bahan ajar membaca novel di SMA.

Bagi guru bahasa Indonesia ataupun orang yang ingin mengajarkan membaca novel Indonesia/terjemahan di SMA, jika memerlukan bahan ajar tambahan maka kajian intertekstual Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani dapat menjadi pilihan untuk menambahkan bahan ajar, sehingga dengan kajian intertekstual novel, siswa tidak akan merasa jenuh bahkan siswa bisa menjadi lebih kreatif dalam menentukan hubungan antar novel tersebut. Bagi peneliti lain disarankan supaya dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai kajian intertekstual novel, agar bahan ajar untuk membaca novel Indonesia/terjemahan menjadi banyak dan mudah untuk didapatkan. Karena karya sastra akan selalu berkembang setiap waktu, dan peniliti tidak akan kesulitan mendapatkan sumber data.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. Yunus. 2012. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: Refika Aditama

Aminuddin. 2011. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Arikunto. Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Aziez. Furqonul. 2010. Menganalisis Fiksi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Damono. Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa.

Kusmana. Suherli. 2010. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Cerdas dan Kreatif. Jakarta: APBI.

. 2010. Merancang Karya Tulis Ilmiah. Bandung: Rosda. Moleong. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda. Nurgiyantoro. Burhan. 2017. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Pradopo. Rachmat Djoko. 2011. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan

Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kurtha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(13)

Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sugiyono. 2011. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sujani. Wahyu. 2009. Ketika Tuhan Jatuh Cinta. Yohyakarta: Diva Press. Tarigan. Henry Guntur. 2008. Membaca. Bandung: Angkasa.

. 2011. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Teeuw. A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Ban

Gambar

Tabel Rekapitulasi
Tabel Rekapitulasi Kriteria Bahan Ajar

Referensi

Dokumen terkait

Metode Penelitian: Desain penelitian observasional analitik dengan cross sectional dan teknik quasi eksperimental one group pre and post test design. Alat ukur

Bertitik tolak dari uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian guna menyusun skripsi dengan judul: “Peranan Pengendalian Persediaan Bahan Baku

LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN BULANAN PT BANK MESTIKA

Padahal sekretaris adalah pekerjaan yang longtime (terus menerus) dan beban kerjanya bisa dikatakan berat tetapi upah yang diterima oleh sekretaris di Bank Syariah

Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Riwayat Cedera Kepala Pada gambar 3 dapat dilihat bahwa responden penelitian pada kelompok kasus memiliki hasil yang berbeda dengan

SMA Cenderawasih II adalah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan. Untuk pencatatan pembayaran siswa pada tiap bulannya, baik yang sudah terjadwal maupun tidak oleh Bagian

Pada tahap evaluasi penelitian ini, dilakukan beberapa perbandingan hasil temu kembali pada kueri uji berdasarkan metode pembobotan TF- IDF, TF-RIDF dan TF-F1. Kueri yang

Hasil sosialisasi dan pelatihan dapat menambah pengetahuan para kader desa untuk menyampaikan kembali ke masyarakat secara lebih luas baik pembuatan sanitizer