..
iii DIKPLHD PROVINSI JAMBI
DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………. i
SURAT PERNYATAAN ……… ii
DAFTAR ISI ...……… iii
DAFTAR TABEL ……… vi
I PENDAHULUAN ……… I-1
1.1 Latar Belakang ………
1.2 Gambaran Umum Provinsi Jambi ……… I-4
1.2.1 Kondisi Geografis, Topografi, Iklim dan Demografi …...… I-4 1.2.2 Kondisi Eksisting Lingkungan Hidup di Provinsi Jambi ..… I-5 1.3 Perumusan Isu Prioritas Daerah ………... I-7 1.4 Maksud dan Tujuan …...……….. I-8 1.5 Ruang Lingkup Penulisan ...……… I-8 II ISU PRIORITAS LINGKUNGAN HIDUP DAERAH ...
2.1 Metode Perumusan …...……… II-1 2.1 Teknik Pelaksanaan Kegiatan Perumusan Isu Prioritas Daerah ... II-1
2.2.1 Penentuan Para Pemangku Kepentingan (Stakeholder)
Terkait ...
II-1
2.2.2 Penyusunan SK Gubernur Jambi Tentang Tim Penyusun DIKPLHD ...…..
II-2
2.2.3 Menentukan Jadwal dan Materi Focus Group Discussion (FGD) ...……….
II-2
III. ANALISIS PRESSURE, STATE DAN RESPONSE ISU LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
III-1
3.1 Isu Prioritas Provinsi Jambi ... III-1 3.2 Analisis Pressure , State dan Respon Isu Prioritas Provinsi Jambi .... III-1 3.2.1 Kerusakan DAS Batanghari ... III-2 3.2.1.1. Pressure Berkurangnya Daerah Tangkapan Air akibat
Perubahan Tutupan Lahan ...
..
iv DIKPLHD PROVINSI JAMBI
DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
3.2.1.2 Pressure Aktivitas PETI di Wilayah DAS ... III-6 3.2.1.3 Pressure Konversi Lahan ... III-9 3.2.1.4 State Banjir dan Longsor ... III-12 3.2.1.5 State Penurunan Kualitas Air ... III-17 3.2.1.6 Respon Pemulihan DAS dan Pengendalian Aktivitas PETI .. III-23 3.2.2 Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan ... III-26 3.2.2.1 Pressure Analisis ... III-26 3.2.2.1.1 Kondisi Tutupan Lahan di Daerah Pasca Kebakaran ... III-26 3.2.2.1.2 Potensi Ancaman Berulang ... III-29 3.2.2.1.3 Over drained dan Konversi Lahan di lahan gambut... III-42 3.2.2.1.4 Budaya masyarakat membakar sisa panen untuk pengganti
pupuk dan pembukaan lahan yang murah ...
III-44
3.2.2.2 State Analisis ... III-44 3.2.2.2.1 Tingkat kerugian akibat kebakaran lahan gambut 2015... III-44 3.2.2.2.2 Indeks Kualitas Udara Tahun 2016... III-58 3.2.2.3 Respon Analisis... III-65 3.2.2.3.1 Strategi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan
dan Lahan di Provinsi Jambi...
III-65
3.2.3 Alih Fungsi Lahan ... III-74 3.2.3.1 Pressure Analisis... III-75 3.2.3.2 State Analisis ... III-75 3.2.3.3 Respon Analisis... III-80 3.3. Hubungan Kausalitas Antara Isu Prioritas Pengelolaan Lingkungan
Hidup Dengan IKLH Provinsi Jambi...
III-83
IV INOVASI DAERAH DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP ...
IV-1
4.1 Inisiatif Peningkatan Kapasitas Lembaga Daerah ... IV-1 4.1.1 Isu Pengelolaan DAS Batanghari ... IV-1 4.1.2 Isu Kebakaran Hutan dan Lahan ... IV-2 4.1.3 Isu Pengendalian Alih Fungsi Lahan ... IV-5
..
v DIKPLHD PROVINSI JAMBI
DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
4.2 Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Bidang Lingkungan Hidup IV-5 4.3 Peningkatan Kapasitas Personil ... IV-6 4.4 Pengembangan Jejaring Kerja ... IV-6 4.5 Peningkatan Transparansi Dan Akuntabilitas Kepada Publik ... IV-10 4.6 Inisiatif Yang Dikembangkan Masyarakat ... IV-11 4.7 Inisiatif Terkait Dengan Isu Perubahan Iklim ... IV-14 4.8 Perbaikan Kualitas Lingkungan ... IV-21 V PENUTUP ... V 5.1 Kesimpulan ... V-1 5.2 Rencana Tindak Lanjut ... V-1 VI DAFTAR PUSTAKA
1 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sumberdaya alam dan lingkungan hidup merupakan sumber penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sumberdaya alam menyediakan sesuatu yang diperoleh dari lingkungan fisik untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, sedangkan lingkungan merupakan tempat dalam arti luas bagi manusia dalam melakukan aktivitasnya. Pengelolaan sumberdaya alam harus mengacu pada aspek konservasi dan pelestarian lingkungan agar dapat berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang sehat tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Provinsi Jambi merupakan wilayah yang memiliki kondisi ekosistem beragam, berupa variasi ketinggian wilayah yang terbagi menjadi dataran tinggi, sedang, dan rendah. Ekosistem yang ada di Provinsi Jambi terdiri atas ekosistem hutan hujan tropis, rawa, pesisir maupun gambut. Penggunaan lahan untuk pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah, sektor swasta, maupun swadaya masyarakat memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar. Kerusakan lingkungan dan pencemaran merupakan resiko dari pembangunan. Upaya untuk memperkecil dari resiko tersebut adalah mempedomani 3 (tiga) pilar pembangunan berkelanjutan yakni: pembangunan yang menguntungkan dari aspek ekonomi, tidak merugikan masyarakat/sosial dan tidak merusak lingkungan/ekologis.
Salah satu faktor kunci untuk memenuhi hak dan kewajiban dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah tersedianya data dan informasi lingkungan bagi seluruh pihak. Agar data dan informasi mengenai lingkungan hidup dapat tersedia dan terakses, pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengembangkan sistem informasi lingkungan hidup (SILH) sebagai pijakan untuk pelaksanaan dan pengembangan kebijakan perlindungan dan
2 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
pengelolaan lingkungan hidup. SILH dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dan wajib dipublikasikan kepada masyarakat.
Setiap tahun, pemerintah pusat melalui kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) dan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) sebagai gambaran kondisi lingkungan hidup Indonesia, tetapi pada tahun 2016 ini Status Lingkungan Hidup diganti menjadi Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pergantian ini bertujuan untuk lebih menekankan bagaimana data informasi tentang kondisi lingkungan hidup dapat lebih dimaknai yaitu melalui upaya-upaya perlindungan dan pengelolaan yang berkelanjutan. Dokumen informasi kinerja pengelolaan lingkungan hidup ini ruh juga pada nilai IKLH.
Struktur IKLH terdiri atas 30% indeks pencemaran udara, 30% indeks pencemaran air dan 40% indeks tutupan lahan. Untuk parameter Udara, yang diukur adalah NO2 dan SO2 dari industri dan transportasi. Untuk parameter air yang diukur adalah Status Mutu air, berdasarkan kriteria mutu air kelas II (PP82/2001) yang terdiri atas DO, COD, TSS, BOD, E Coli, dan Total Coliform, serta tutupan hutan.
Pembangunan di Provinsi Jambi terdiri atas pembangunan pada subsektor kehutanan berupa Hutan Tanaman Industri (HTI), subsektor perkebunan kelapa sawit dan karet, sektor pertambangan, industri dan jasa lainnya. Keberadaan aktivitas usaha tersebut menyebabkan tingginya tekanan terhadap lingkungan yang dapat dilihat dari nilai IKLH.
Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi atau DIKPLHD Provinsi Jambi ini disusun untuk memaparkan bagaimana kinerja Gubernur Jambi dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Peningkatan IKLH merupakan indikator kinerja pemerintah dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. DIKPLHD disusun setiap tahun sesuai dengan format yang telah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. DIKPLHD juga memuat isu prioritas daerah yang dirumuskan secara partisipatif oleh instansi yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang memberikan berbagai masukan dan rekomendasi. Proses perumusan dilakukan beberapa tahap rangkaian pertemuan
3 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
untuk melakukan penajaman isu prioritas daerah melalui mekanisme Focus Group Disscussion (FGD). DIKPLHD memuat 2 buku yaitu buku eksekutif summary dan buku laporan utama tentang kinerja pengelolaan lingkungan hidup daerah.
Secara umum kondisi lingkungan hidup Provinsi Jambi saat ini dapat dilihat dari nilai IKLH Provinsi Jambi tahun 2016 yaitu sebesar 71,15. Angka ini berdasarkan rentang nilai IKLH menunjukkan bahwa Provinsi Jambi termasuk kategori cukup. Nilai ini di atas nilai IKLH Nasional yaitu 64,84.
IKLH Provinsi Jambi ini diperoleh dari nilai 3 indikator yaitu Indeks Pencemaran Air (IPA) sebesar 66,63, Indeks pencemaran Udara (IPU) sebesar 99,27, dan Indeks Tutupan Lahan (ITH) sebesar 53,47. Nilai IKLH Provinsi Jambi saat ini cukup baik karena sangat baiknya kualitas udara yang dapat dilihat dari nilai IPU 99,27 ini termasuk kategori unggul. Jika dilihat dari IPA maka masih termasuk kategori cukup. Hal ini disebabkan karena cukup tingginya tekanan terhadap sungai seperti dari aktivitas masyarakat yang membuang limbah domestiknya ke sungai. Nilai ITH termasuk kategori sangat kurang. Hal ini memberi sinyal bahwa tekanan terhadap hutan sangat tinggi di Provinsi Jambi.
Berdasarkan kondisi saat ini maka Pemerintah Provinsi Jambi bertekad untuk meningkatkan nilai IKLH ke depan menjadi kategori BAIK (> 74) pada tahun 2021, melalui program-program antara lain:
1. Penurunan beban pencemaran di DAS Batanghari dan sungai-sungai lainnya. Hal ini dilakukan melalui koordinasi skpd terkait untuk melakukan normalisasi sungai dan sosialisasi pemeliharaan sungai kepada masyarakat.
2. Penambahan luasan RTH melalui kegiatan penanaman pohon di sempadan sungai dan danau dan lahan-lahan kritis, serta mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
3. Pencegahan dan pemulihan kerusakan lingkungan.
4. Peningkatan edukasi untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang peduli dan berbudaya lingkungan melalui kegiatan sosialisasi.
4 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
1.2 Gambaran Umum Provinsi Jambi
1.2.1 Kondisi Geografis, Topografi, Iklim dan Demografi
Provinsi Jambi adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 0,45° Lintang Utara, 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10°-104,55° Bujur Timur. Provinsi Jambi berada di bagian tengah Pulau Sumatera dengan topografi wilayah yang bervariasi mulai dari ketinggian 0 meter di atas permukaan laut (mdpl) di bagian timur sampai pada ketinggian di atas 1.000 m dpl, ke arah barat kontur lahannya semakin tinggi dimana di bagian barat merupakan kawasan pegunungan Bukit Barisan yang berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Batas-batas Provinsi Jambi yaitu, sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu, dengan luas wilayah 53.435,92 km2, yang terdiri dari luas daratan 48.989,98 km2 dan luas perairan 4.445,94 km2. Iklim Provinsi Jambi bertipe A (Schmidt and Ferguson) dengan curah hujan rata-rata 1.9003.200 mm/tahun dan rata-rata curah hujan 116–154 hari pertahun dengan suhu maksimum sebesar 310 C seperti disajikan pada Tabel 21 dan 28.
Sebagaimana wilayah timur pulau Sumatera lainnya musim hujan di Provinsi Jambi terjadi pada bulan Oktober sampai dengan April dan musim kemarau dari bulan Mei sampai September. Provinsi Jambi terdiri dari 9 kabupaten 2 kota, 141 kecamatan 1.399 desa serta 164 kelurahan. Jumlah penduduk Provinsi Jambi adalah 3.458.926 dengan laju pertumbuhan penduduk 1,62 % /tahun dan kepadatan penduduk 68,96 jiwa/km2 serta dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 1.035.379 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 2.423.547 jiwa seperti disajikan pada Tabel 24 dan 41.
5 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
1.2.2 Kondisi Eksisting Lingkungan Hidup di Provinsi Jambi 1.2.2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari
Kawasan DAS Provinsi Jambi secara garis besar di bagi menjadi 4 kawasan DAS yakni DAS Batanghari, DAS Mendahara, DAS Betara Pengabuan dan DAS Air Hitam. Daerah aliran Sungai Batanghari Provinsi Jambi termasuk salah satu kawasan aliran sungai yang paling kritis di Indonesia. Berdasarkan rencana tata ruang Provinsi Jambi secara garis besar wilayah DAS dibagi menjadi 3 zona yakni wilayah Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Kabupaten Bungo, sebagian Kabupaten Merangin dan Tebo bagian barat Provinsi Jambi ditetapkan sebagai zona konservasi yang merupakan bagian hulu dari DAS Batanghari. Zona produksi di bagian tengah Provinsi Jambi dan zona distribusi di wilayah timur.
Menurut peta digitasi Pusat Studi DAS Universitas Jambi luas DAS Batanghari adalah 4.382.713 Ha merupakan DAS kedua terbesar di Indonesia setelah DAS Bengawan Solo, yang terbagi dalam 5 (lima) sub DAS, yakni; sub DAS Batang Merangin-Tembesi, Batang Tabir, Batang Tebo, Batanghari Hilir dan sub DAS Batanghari Hulu. DAS Batanghari merupakan DAS terbesar di Pulau Sumatera, berhulu di pegunungan Bukit Barisan memiliki curah hujan yang tinggi sehingga dapat memproduksi air berlimpah yang mengalir kedalam jaringan Sungai Batanghari.
Air Sungai Batanghari adalah kekayaan yang harus dijadikan pilihan energi masa depan yang murah untuk kehidupan dan pembangunan (water for life and development). Sumberdaya air ini mengalir berada di dalam DAS Batanghari dengan panjang sungai utama mencapai 870 km. Lebar sungai bervariasi antara 300-500 m dan kedalaman sungai antara 6-7 m. Potensi ketersediaan air berkisar antara 25-50 milyar m3/tahun, dengan debit maksimum mencapai 13 ribu m3/detik. Wilayah DAS meliputi 10 (sepuluh) kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 4 kabupaten di Provinsi Sumatera Barat, dengan hamparan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mencapai 1,3 juta Ha di wilayah hulu yang mampu menyediakan air sepanjang tahun (Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera, 2015)
Tekanan aktivitas manusia terhadap DAS Batanghari khususnya Sungai Batanghari dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini dapat dilihat dari
6 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Indeks Pencemaran Air yang dibahas pada Bab II. Berbagai aktivitas manusia seperti penambangan tanpa izin seperti mineral emas yang beroperasi di sepanjang sungai, ilegal logging, konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan, kebun masyarakat serta pemukiman menyebabkan semakin berkurangnya daerah tangkapan air (DTA) sehingga jika musim hujan tiba maka bencana banjir melanda sebagian besar daerah di Provinsi Jambi dan sebagian yang lainnya mengalami tanah longsor.
1.2.2.2 Luas Hutan dan Lahan Gambut dan Ancaman terhadap Kebakaran
Luas kawasan hutan (sesuai dengan SK Nomor 863 Tahun 2014) seluas ± 2.098.535 Ha (41,61 %) dan luas areal penggunaan lain (APL) adalah seluas ± 2.977.435 Ha (58,38 %) dimana lahan seluas ± 536.370 Ha merupakan lahan gambut. Sedangkan potensi lahan gambut di Provinsi Jambi ± 900.000 Ha seperti disajikan dalam tabel 1.1.
Tabel 1.1 Sebaran Potensi Lahan Gambut Provinsi Jambi
Sumber : IPB tahun 2015
Tingginya tekanan perkebunan kelapa sawit, HTI dan HPH terjadi hampir setiap tahun termasuk pada lahan gambut. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di tahun 2015 lalu, bahkan menjadi bencana nasional kabut asap yang menutupi sebagian besar wilayah Pulau Sumatera. Sisa kerusakan lahan gambut pasca kebakaran 2015 dapat menjadi ancaman terjadinya kebakaran kembali jika tidak segera dilakukan tindakan antisipasi. Adapun kabupaten yang rawan
No Wilayah Luasan (Ha)
1 Hutan Lindung Gambut 83.630
2 Taman Nasional Berbak 146.000
3 Tahura Sekitar Tanjung 21.000
4 Hutan Produksi (Kab.Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Dan Muaro Jambi)
113.000
5 APL (Kab.Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur)
7 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
kebakaran adalah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Tebo, Sarolangun, Bungo, Merangin dan Kabupaten Batanghari.
1.2.2.3 Alih Fungsi Lahan
Provinsi Jambi memiliki 4 (empat) taman nasional yakni Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Dari perhitungan yang dilakukan DLH Provinsi Jambi pada tahun 2015, ruang terbuka hijau memiliki jasa lingkungan penyumbang oksigen sebesar 1.279.042.290 kg/hari dan menyerap karbon dioksida sebesar 1.918.563.435 kg/hari.
I.3 Perumusan Isu Prioritas Daerah
Penyusunan isu prioritas daerah dilakukan secara partisipatif melalui pendekatan metode pressure state & response analysis dengan melibatkan stakeholder terkait. Isu prioritas daerah dirumuskan melalui proses Focus Group Discussion (FGD). FGD dilaksanakan sebanyak 2 kali yaitu FGD perumusan isu prioritas dengan mengevaluasi isu prioritas lingkungan hidup pada tahun 2015, dan perumusan isu prioritas lingkungan tahun 2016. FGD ke-2 dilaksanakan dalam rangka penajaman isu priorotas yang telah ditetapkan pada FGD perumusan awal. Hasil FGD perumusan isu prioritas awal yaitu :
a. Menurunnya fungsi ekosistem DAS Batanghari yang di indikasikan dengan kejadian banjir luar biasa, tanah longsor di dataran tinggi, aktivitas PETI yang sulit dikendalikan, meningkatnya sedimentasi dan pencemaran di DAS Batanghari, menurunnya luas Daerah Tangkapan Air (DTA), illegal logging, dan konversi lahan.
b. Ancaman terhadap kebakaran hutan dan lahan hal ini ditandai oleh tingginya ancaman kebakaran berulang pada area bekas kebakaran tahun 2015, kondisi pengelolaan lahan gambut di masyarakat dan pemegang izin konsesi, ancaman musim kemarau yang tidak menentu akibat perubahan iklim.
c. Meningkatnya konflik penggunaan lahan di wilayah-wilayah public goods (jasa lingkungan taman nasional), ancaman terhadap Suku Anak Dalam (SAD), konflik perusahaaan dan masyarakat serta darurat migran.
8 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Isu lingkungan yang telah diidentifikasi tersebut kemudian didiskusikan lebih lanjut di focus group disscussion (FGD) antar stakeholder kemudian dilakukan perumusan penajaman menjadi isu prioritas daerah yang dibahas dalam DKIPLH Provinsi Jambi tahun 2016/2017. Adapun isu prioritas daerah yang diangkat adalah sebagai berikut :
1. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari 2. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan
3. Pengendalian Alih Fungsi Lahan
I.4 Maksud Dan Tujuan I.4.1 Maksud :
Maksud penulisan dokumen ini adalah :
a. Melaporkan kinerja kepala daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Jambi.
b. Menawarkan langkah pengelolaan lingkungan hidup yang belum telaksana pada tahun 2016.
I.4.2 Tujuan :
Penulisan dokumen ini bertujuan :
a. Dapat dimanfaatkan kepala daerah dalam mengambil keputusan terkait pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Jambi.
b. Dapat menjadi standar acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Jambi.
I.5 Ruang Lingkup Penulisan
Dokumen ini disusun berdasarkan kinerja kepala daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup pada tahun 2016. Kegiatan penulisan ini dilaksanakan selama jangka waktu 2 (dua) bulan terhitung dari tanggal 1 Maret s.d. 30 April 2016. Materi dokumen disusun berdasarkan arahan dari Tim Penyusun yang ditetapkan melalui SK Gubernur Jambi Nomor 346/KEPGUB/DLH-1.1/2017 tanggal 20 Maret 2017 tentang Susunan Tim Penyusun Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi.
..
iv DIKPLHD PROVINSI JAMBI
DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Sebaran Potensi Lahan Gambut Provinsi Jambi ………... I-6 Tabel 2.1 Daftar Hadir FGD 2 ……….. II-3 Tabel 2.2 Daftar Usulan Isu Prioritas pada FGD 2 ……… II-4 Tabel 2.3 Sebaran Potensi Lahan Gambut Provinsi Jambi ……… II-7 Tabel 2.4 Daftar Hadir FGD 3 ………... II-8 Tabel 3.1 Isu Prioritas Dan Pressure, State Dan Respon III-1 Tabel 3.2 Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan Tutupan
Lahannya...
III-3
Tabel 3.3 Pelepasan Kawasan Hutan yang dikonversi menurut peruntukan di Provinsi Jambi ...
III-4
Tabel 3.4 Laporan Penanganan Terhadap Kegiatan Ilegal Minning/PETI III-6 Tabel 3.5 Kawasan Aktivitas PETI di Kabupaten Merangin ... III-7 Tabel 3.6 Kawasan Aktivitas PETI di Kabupaten Bungo ... III-7 Tabel 3.7 Parameter Kualitas Air Sungai Batang Hari Yang Tidak
Memenuh Baku Mutu Tahun 2015...
III-18
Tabel 3.8 Anggaran Penertiban PETI di Kabupaten Merangin ... III-23 Tabel 3.9 Realisasi Penghjauan dan Reboisasi ... III-25 Tabel 3.10 Tutupan Lahan Hutan, Perkebunan, dan Pemukiman
Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur ...
III-27
Tabel 3.11 Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Hutan, Perkebunan, dan Pemukiman di Lahan Gambut Kabupaten Muaro Jambi ...
III-28
Tabel 3.12 Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan berdasarkan Kedalaman Gambut di Lahan Gambut Kabupaten Muaro Jambi ...
III-29
..
v DIKPLHD PROVINSI JAMBI
DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
Pemukiman di Lahan Gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat ...
Tabel 3.14 Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Hutan, Perkebunan, dan Pemukiman berdasarkan kedalaman Gambut di Lahan Gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat ...
III-30
Tabel 3.15 Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Hutan, Perkebunan, dan Pemukiman di Lahan Gambut Kabupaten Tanjung Jabung Timur...
III-31
Tabel 3.16 Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Hutan, Perkebunan, dan Pemukiman berdasarkan kedalaman Gambut di Lahan Gambut Kabupaten Tanjung Jabung Timur ...
III-32
Tabl 3.17 Potensi terjadinya Kebakaran di Lahan Gambut di Kabupaten Muaro Jambi ...
III-34
Tabel 3.18 Potensi terjadinya kebakaran di Lahan Gambut di Kabupaten Muaro Jambi ...
III-34
Tabel 3.19 Potensi terjadinya Kebakaran di Lahan Gambut di Tanjung Jabung Barat ...
III-35
Tabel 3.20 Potensi terjadinya Kebakaran di Lahan Gambut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur ...
III-35
Tabel 3.21 Potensi terjadinya Kebakaran pada Kedalaman Gambut <50 – 100 cm di Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur ...
III-37
Tabel 3.22 Volume Kebakaran di Lahan Gambut Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur ...
III-38
Tabel 3.23 Potensi terjadinya Kebakaran di Kedalaman Gambut <50 – 100 cm di Kabupaten Muaro Jambi ...
III-38
Tabel 3.24 Potensi terjadinya Kebakaran di Kedalaman Gambut <50 – 100 cm Tanjung Jabung Barat ...
..
vi DIKPLHD PROVINSI JAMBI
DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
Tabel 3.25 Potensi terjadinya Kebakaran di Kedalaman Gambut <50 – 100 cm di Tanjung Jabung Timur ...
III-40
Tabel 3.26 Rekapitulasi Valuasi Nilai Ekonomi Dampak Kebakaran Gambut Kabupaten Muaro Jambi ...
III-46
Tabel 3.27 Rekapitulasi Nilai Ekonomi Dampak Gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat ...
III-50
Tabel 3.28 Rekapitulasi Valuasi Nilai Ekonomi Dampak Kebakaran Gambut Kabupaten Tanjung Jabung Timur ...
III-55
Tabel 3.29 Dampak Karhutla Tahun 2015-2016 ... III-62 Tabel 3.30 Strategi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan
Lahan di Provinsi Jambi ...
III-64
Tabel 3.31 Operasional Tim Satgas Karhutla Provinsi Jambi ... III-68 Tabel 3.32 Kerusakan Hutan di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ... III-73 Tabel 3.33 Penanganan Kasus Tindak Penegakan Pidana Kehutanaan dari
Tahun 2013 – 2017 ...
III-78
Tabel 3.34 Hasil Analisis Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Kabupaten Muara Jambi dan Tanjung Jabung Timur Berdasarkan Pengamatan Citra Satelit Landsat 8 ...
III-80
Tabel 3.35 Tabel 3.35.Hasil Analisis Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Kabupaten Muara Jambi dan Tanjung Jabung Timur Berdasarkan Pengamatan Citra Satelit Landsat 8 Tanggal 20 Agustus 2015 ...
III-81
Tabel 4.1 Jumlah APBD Program Lingkungan ... IV-5 Tabel 4.2 Kesatuan Hidrologis Gambut Provinsi Jambi ... IV-9 Tabel 4.3 Daftar Nama Hutan Hak Adat di Kabupaten Kerinci ... IV-15
1 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sumberdaya alam dan lingkungan hidup merupakan sumber penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sumberdaya alam menyediakan sesuatu yang diperoleh dari lingkungan fisik untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, sedangkan lingkungan merupakan tempat dalam arti luas bagi manusia dalam melakukan aktivitasnya. Pengelolaan sumberdaya alam harus mengacu pada aspek konservasi dan pelestarian lingkungan agar dapat berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang sehat tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Provinsi Jambi merupakan wilayah yang memiliki kondisi ekosistem beragam, berupa variasi ketinggian wilayah yang terbagi menjadi dataran tinggi, sedang, dan rendah. Ekosistem yang ada di Provinsi Jambi terdiri atas ekosistem hutan hujan tropis, rawa, pesisir maupun gambut. Penggunaan lahan untuk pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah, sektor swasta, maupun swadaya masyarakat memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar. Kerusakan lingkungan dan pencemaran merupakan resiko dari pembangunan. Upaya untuk memperkecil dari resiko tersebut adalah mempedomani 3 (tiga) pilar pembangunan berkelanjutan yakni: pembangunan yang menguntungkan dari aspek ekonomi, tidak merugikan masyarakat/sosial dan tidak merusak lingkungan/ekologis.
Salah satu faktor kunci untuk memenuhi hak dan kewajiban dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah tersedianya data dan informasi lingkungan bagi seluruh pihak. Agar data dan informasi mengenai lingkungan hidup dapat tersedia dan terakses, pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengembangkan sistem informasi lingkungan hidup (SILH) sebagai pijakan untuk pelaksanaan dan pengembangan kebijakan perlindungan dan
2 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
pengelolaan lingkungan hidup. SILH dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dan wajib dipublikasikan kepada masyarakat.
Setiap tahun, pemerintah pusat melalui kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) dan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) sebagai gambaran kondisi lingkungan hidup Indonesia, tetapi pada tahun 2016 ini Status Lingkungan Hidup diganti menjadi Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pergantian ini bertujuan untuk lebih menekankan bagaimana data informasi tentang kondisi lingkungan hidup dapat lebih dimaknai yaitu melalui upaya-upaya perlindungan dan pengelolaan yang berkelanjutan. Dokumen informasi kinerja pengelolaan lingkungan hidup ini ruh juga pada nilai IKLH.
Struktur IKLH terdiri atas 30% indeks pencemaran udara, 30% indeks pencemaran air dan 40% indeks tutupan lahan. Untuk parameter Udara, yang diukur adalah NO2 dan SO2 dari industri dan transportasi. Untuk parameter air yang diukur adalah Status Mutu air, berdasarkan kriteria mutu air kelas II (PP82/2001) yang terdiri atas DO, COD, TSS, BOD, E Coli, dan Total Coliform, serta tutupan hutan.
Pembangunan di Provinsi Jambi terdiri atas pembangunan pada subsektor kehutanan berupa Hutan Tanaman Industri (HTI), subsektor perkebunan kelapa sawit dan karet, sektor pertambangan, industri dan jasa lainnya. Keberadaan aktivitas usaha tersebut menyebabkan tingginya tekanan terhadap lingkungan yang dapat dilihat dari nilai IKLH.
Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi atau DIKPLHD Provinsi Jambi ini disusun untuk memaparkan bagaimana kinerja Gubernur Jambi dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Peningkatan IKLH merupakan indikator kinerja pemerintah dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. DIKPLHD disusun setiap tahun sesuai dengan format yang telah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. DIKPLHD juga memuat isu prioritas daerah yang dirumuskan secara partisipatif oleh instansi yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang memberikan berbagai masukan dan rekomendasi. Proses perumusan dilakukan beberapa tahap rangkaian pertemuan
3 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
untuk melakukan penajaman isu prioritas daerah melalui mekanisme Focus Group Disscussion (FGD). DIKPLHD memuat 2 buku yaitu buku eksekutif summary dan buku laporan utama tentang kinerja pengelolaan lingkungan hidup daerah.
Secara umum kondisi lingkungan hidup Provinsi Jambi saat ini dapat dilihat dari nilai IKLH Provinsi Jambi tahun 2016 yaitu sebesar 71,15. Angka ini berdasarkan rentang nilai IKLH menunjukkan bahwa Provinsi Jambi termasuk kategori cukup. Nilai ini di atas nilai IKLH Nasional yaitu 64,84.
IKLH Provinsi Jambi ini diperoleh dari nilai 3 indikator yaitu Indeks Pencemaran Air (IPA) sebesar 66,63, Indeks pencemaran Udara (IPU) sebesar 99,27, dan Indeks Tutupan Lahan (ITH) sebesar 53,47. Nilai IKLH Provinsi Jambi saat ini cukup baik karena sangat baiknya kualitas udara yang dapat dilihat dari nilai IPU 99,27 ini termasuk kategori unggul. Jika dilihat dari IPA maka masih termasuk kategori cukup. Hal ini disebabkan karena cukup tingginya tekanan terhadap sungai seperti dari aktivitas masyarakat yang membuang limbah domestiknya ke sungai. Nilai ITH termasuk kategori sangat kurang. Hal ini memberi sinyal bahwa tekanan terhadap hutan sangat tinggi di Provinsi Jambi.
Berdasarkan kondisi saat ini maka Pemerintah Provinsi Jambi bertekad untuk meningkatkan nilai IKLH ke depan menjadi kategori BAIK (> 74) pada tahun 2021, melalui program-program antara lain:
1. Penurunan beban pencemaran di DAS Batanghari dan sungai-sungai lainnya. Hal ini dilakukan melalui koordinasi skpd terkait untuk melakukan normalisasi sungai dan sosialisasi pemeliharaan sungai kepada masyarakat.
2. Penambahan luasan RTH melalui kegiatan penanaman pohon di sempadan sungai dan danau dan lahan-lahan kritis, serta mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
3. Pencegahan dan pemulihan kerusakan lingkungan.
4. Peningkatan edukasi untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang peduli dan berbudaya lingkungan melalui kegiatan sosialisasi.
4 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
1.2 Gambaran Umum Provinsi Jambi
1.2.1 Kondisi Geografis, Topografi, Iklim dan Demografi
Provinsi Jambi adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 0,45° Lintang Utara, 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10°-104,55° Bujur Timur. Provinsi Jambi berada di bagian tengah Pulau Sumatera dengan topografi wilayah yang bervariasi mulai dari ketinggian 0 meter di atas permukaan laut (mdpl) di bagian timur sampai pada ketinggian di atas 1.000 m dpl, ke arah barat kontur lahannya semakin tinggi dimana di bagian barat merupakan kawasan pegunungan Bukit Barisan yang berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Batas-batas Provinsi Jambi yaitu, sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu, dengan luas wilayah 53.435,92 km2, yang terdiri dari luas daratan 48.989,98 km2 dan luas perairan 4.445,94 km2. Iklim Provinsi Jambi bertipe A (Schmidt and Ferguson) dengan curah hujan rata-rata 1.9003.200 mm/tahun dan rata-rata curah hujan 116–154 hari pertahun dengan suhu maksimum sebesar 310 C seperti disajikan pada Tabel 21 dan 28.
Sebagaimana wilayah timur pulau Sumatera lainnya musim hujan di Provinsi Jambi terjadi pada bulan Oktober sampai dengan April dan musim kemarau dari bulan Mei sampai September. Provinsi Jambi terdiri dari 9 kabupaten 2 kota, 141 kecamatan 1.399 desa serta 164 kelurahan. Jumlah penduduk Provinsi Jambi adalah 3.458.926 dengan laju pertumbuhan penduduk 1,62 % /tahun dan kepadatan penduduk 68,96 jiwa/km2 serta dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 1.035.379 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 2.423.547 jiwa seperti disajikan pada Tabel 24 dan 41.
5 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
1.2.2 Kondisi Eksisting Lingkungan Hidup di Provinsi Jambi 1.2.2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari
Kawasan DAS Provinsi Jambi secara garis besar di bagi menjadi 4 kawasan DAS yakni DAS Batanghari, DAS Mendahara, DAS Betara Pengabuan dan DAS Air Hitam. Daerah aliran Sungai Batanghari Provinsi Jambi termasuk salah satu kawasan aliran sungai yang paling kritis di Indonesia. Berdasarkan rencana tata ruang Provinsi Jambi secara garis besar wilayah DAS dibagi menjadi 3 zona yakni wilayah Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Kabupaten Bungo, sebagian Kabupaten Merangin dan Tebo bagian barat Provinsi Jambi ditetapkan sebagai zona konservasi yang merupakan bagian hulu dari DAS Batanghari. Zona produksi di bagian tengah Provinsi Jambi dan zona distribusi di wilayah timur.
Menurut peta digitasi Pusat Studi DAS Universitas Jambi luas DAS Batanghari adalah 4.382.713 Ha merupakan DAS kedua terbesar di Indonesia setelah DAS Bengawan Solo, yang terbagi dalam 5 (lima) sub DAS, yakni; sub DAS Batang Merangin-Tembesi, Batang Tabir, Batang Tebo, Batanghari Hilir dan sub DAS Batanghari Hulu. DAS Batanghari merupakan DAS terbesar di Pulau Sumatera, berhulu di pegunungan Bukit Barisan memiliki curah hujan yang tinggi sehingga dapat memproduksi air berlimpah yang mengalir kedalam jaringan Sungai Batanghari.
Air Sungai Batanghari adalah kekayaan yang harus dijadikan pilihan energi masa depan yang murah untuk kehidupan dan pembangunan (water for life and development). Sumberdaya air ini mengalir berada di dalam DAS Batanghari dengan panjang sungai utama mencapai 870 km. Lebar sungai bervariasi antara 300-500 m dan kedalaman sungai antara 6-7 m. Potensi ketersediaan air berkisar antara 25-50 milyar m3/tahun, dengan debit maksimum mencapai 13 ribu m3/detik. Wilayah DAS meliputi 10 (sepuluh) kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 4 kabupaten di Provinsi Sumatera Barat, dengan hamparan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mencapai 1,3 juta Ha di wilayah hulu yang mampu menyediakan air sepanjang tahun (Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera, 2015)
Tekanan aktivitas manusia terhadap DAS Batanghari khususnya Sungai Batanghari dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini dapat dilihat dari
6 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Indeks Pencemaran Air yang dibahas pada Bab II. Berbagai aktivitas manusia seperti penambangan tanpa izin seperti mineral emas yang beroperasi di sepanjang sungai, ilegal logging, konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan, kebun masyarakat serta pemukiman menyebabkan semakin berkurangnya daerah tangkapan air (DTA) sehingga jika musim hujan tiba maka bencana banjir melanda sebagian besar daerah di Provinsi Jambi dan sebagian yang lainnya mengalami tanah longsor.
1.2.2.2 Luas Hutan dan Lahan Gambut dan Ancaman terhadap Kebakaran
Luas kawasan hutan (sesuai dengan SK Nomor 863 Tahun 2014) seluas ± 2.098.535 Ha (41,61 %) dan luas areal penggunaan lain (APL) adalah seluas ± 2.977.435 Ha (58,38 %) dimana lahan seluas ± 536.370 Ha merupakan lahan gambut. Sedangkan potensi lahan gambut di Provinsi Jambi ± 900.000 Ha seperti disajikan dalam tabel 1.1.
Tabel 1.1 Sebaran Potensi Lahan Gambut Provinsi Jambi
Sumber : IPB tahun 2015
Tingginya tekanan perkebunan kelapa sawit, HTI dan HPH terjadi hampir setiap tahun termasuk pada lahan gambut. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di tahun 2015 lalu, bahkan menjadi bencana nasional kabut asap yang menutupi sebagian besar wilayah Pulau Sumatera. Sisa kerusakan lahan gambut pasca kebakaran 2015 dapat menjadi ancaman terjadinya kebakaran kembali jika tidak segera dilakukan tindakan antisipasi. Adapun kabupaten yang rawan
No Wilayah Luasan (Ha)
1 Hutan Lindung Gambut 83.630
2 Taman Nasional Berbak 146.000
3 Tahura Sekitar Tanjung 21.000
4 Hutan Produksi (Kab.Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Dan Muaro Jambi)
113.000
5 APL (Kab.Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur)
7 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
kebakaran adalah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Tebo, Sarolangun, Bungo, Merangin dan Kabupaten Batanghari.
1.2.2.3 Alih Fungsi Lahan
Provinsi Jambi memiliki 4 (empat) taman nasional yakni Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Dari perhitungan yang dilakukan DLH Provinsi Jambi pada tahun 2015, ruang terbuka hijau memiliki jasa lingkungan penyumbang oksigen sebesar 1.279.042.290 kg/hari dan menyerap karbon dioksida sebesar 1.918.563.435 kg/hari.
I.3 Perumusan Isu Prioritas Daerah
Penyusunan isu prioritas daerah dilakukan secara partisipatif melalui pendekatan metode pressure state & response analysis dengan melibatkan stakeholder terkait. Isu prioritas daerah dirumuskan melalui proses Focus Group Discussion (FGD). FGD dilaksanakan sebanyak 2 kali yaitu FGD perumusan isu prioritas dengan mengevaluasi isu prioritas lingkungan hidup pada tahun 2015, dan perumusan isu prioritas lingkungan tahun 2016. FGD ke-2 dilaksanakan dalam rangka penajaman isu priorotas yang telah ditetapkan pada FGD perumusan awal. Hasil FGD perumusan isu prioritas awal yaitu :
a. Menurunnya fungsi ekosistem DAS Batanghari yang di indikasikan dengan kejadian banjir luar biasa, tanah longsor di dataran tinggi, aktivitas PETI yang sulit dikendalikan, meningkatnya sedimentasi dan pencemaran di DAS Batanghari, menurunnya luas Daerah Tangkapan Air (DTA), illegal logging, dan konversi lahan.
b. Ancaman terhadap kebakaran hutan dan lahan hal ini ditandai oleh tingginya ancaman kebakaran berulang pada area bekas kebakaran tahun 2015, kondisi pengelolaan lahan gambut di masyarakat dan pemegang izin konsesi, ancaman musim kemarau yang tidak menentu akibat perubahan iklim.
c. Meningkatnya konflik penggunaan lahan di wilayah-wilayah public goods (jasa lingkungan taman nasional), ancaman terhadap Suku Anak Dalam (SAD), konflik perusahaaan dan masyarakat serta darurat migran.
8 I - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Isu lingkungan yang telah diidentifikasi tersebut kemudian didiskusikan lebih lanjut di focus group disscussion (FGD) antar stakeholder kemudian dilakukan perumusan penajaman menjadi isu prioritas daerah yang dibahas dalam DKIPLH Provinsi Jambi tahun 2016/2017. Adapun isu prioritas daerah yang diangkat adalah sebagai berikut :
1. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari 2. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan
3. Pengendalian Alih Fungsi Lahan
I.4 Maksud Dan Tujuan I.4.1 Maksud :
Maksud penulisan dokumen ini adalah :
a. Melaporkan kinerja kepala daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Jambi.
b. Menawarkan langkah pengelolaan lingkungan hidup yang belum telaksana pada tahun 2016.
I.4.2 Tujuan :
Penulisan dokumen ini bertujuan :
a. Dapat dimanfaatkan kepala daerah dalam mengambil keputusan terkait pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Jambi.
b. Dapat menjadi standar acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Jambi.
I.5 Ruang Lingkup Penulisan
Dokumen ini disusun berdasarkan kinerja kepala daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup pada tahun 2016. Kegiatan penulisan ini dilaksanakan selama jangka waktu 2 (dua) bulan terhitung dari tanggal 1 Maret s.d. 30 April 2016. Materi dokumen disusun berdasarkan arahan dari Tim Penyusun yang ditetapkan melalui SK Gubernur Jambi Nomor 346/KEPGUB/DLH-1.1/2017 tanggal 20 Maret 2017 tentang Susunan Tim Penyusun Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi.
1 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
BAB II
ISU PRIORITAS LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
2.1 Metode Perumusan
Metode perumusan isu prioritas mengikuti surat edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.156/Setjen/Datin/Set.0/2/2017 tanggal 9 Februari 2017, perihal penyampaian pedoman Nirwasita Tantra. Metode ini menggunakan analisis tekanan (pressure) yang terjadi terhadap lingkungan dan membandingkannya dengan besaran ancaman (state) terhadap keberlangsungan ekologis, sosial dan ekonomi pada suatu wilayah, serta tindakan (response) yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap besarnya pressure dan state tersebut. Metode PSR Analysis digunakan secara kualitatif dan kuantitif dalam menggambarkan isu lingkungan yang akan dirumuskan menjadi isu prioritas daerah dalam penyusunan DIKPLHD Provinsi Jambi.
2.2 Teknik Pelaksanaan Kegiatan Perumusan Isu Prioritas Daerah
Teknik pelaksanaan kegiatan perumusan isu prioritas daerah melalui tahapan sebagai berikut :
1. Penentuan para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait.
2. Penyusunan SK Gubernur Jambi Tentang Tim Penyusun DIKPLHD. 3. Menentukan Jadwal dan Materi focus group discussion (FGD).
2.2.1 Penentuan Para Pemangku Kepentingan (Stakeholder) Terkait
Pemangku kepentingan yang dilibatkan dalam kegiatan perumusan isu prioritas daerah adalah stakeholder yang memiliki kegiatan terkait dengan pengelolaaan lingkungan baik dari unsur pemerintahan, perguruan tinggi, serta lembaga swadaya masyarakat. Adapun stakeholder yang berasal dari unsur pemerintahan adalah Dinas Kehutanan, Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dinas Kesehatan, Bappeda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD), Badan Wilayah
2 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Sungai (BWS) Sumatera VI, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Batanghari, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Biro Hukum dan Biro Ekonomi dan Sumber Daya Alam Provinsi Jambi. Unsur perguruan tinggi yang terlibat adalah STIKES Jambi dan Lemlit PPM Universitas Jambi. Serta LSM Pinang Sebatang dan KKI WARSI sebagai perwakilan unsur lembaga swadaya masyarakat.
2.2.2 Penyusunan SK Gubernur Jambi Tentang Tim Penyusun DIKPLHD
Tim penyusun dikuatkan dengan SK Gubernur Jambi Nomor 346/KEPGUB/DLH-1.1/2017 tanggal 20 Maret 2017 tentang Susunan Tim Penyusun Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi. Tim penyusun melaksanakan penyusunan DIKPLHD berdasarkan arahan pedoman Nirwasita Tantra yang pada akhirnya akan dipresentasikan di hadapan Gubernur Jambi sebelum diusulkan menjadi DIKPLHD Provinsi Jambi ke Panitia Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) KLHK Republik Indonesia.
2.2.3 Menentukan Jadwal dan Materi Focus Group Discussion (FGD)
Koordinator Tim menyusun jadwal kerja penentuan isu prioritas daerah dan materi FGD. Adapun FGD yang dilaksanakan adalah:
a. FGD 1 : Arahan Umum Penyusunan DIKPLH b. FGD 2 : Penyaringan Isu Prioritas Hipotetik
c. FGD 3 : Rapat Terbatas dengan Tim Ahli Penyusun DIKPLH d. FGD 4 : Penajaman Isu Prioritas yang Akan Disepakati
e. Penyampaian hasil perumusan isu prioritas daerah kepada Gubernur Jambi dan penandatanganan pernyataan oleh Gubernur Jambi bahwa isu prioritas daerah dirumuskan melalui pelibatan stakeholder terkait.
3 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Adapun detil pelaksanaan FGD adalah sebagai berikut : a. FGD 1: Arahan Umum Penyusunan DIKPLHD
FGD 1 pihak Dinas Lingkungan Hidup mengundang Kepala Pusat Data dan Informasi ( Kapusdatin) dan seluruh tim penyusun DIKPLH Provinsi Jambi dan Kabupaten/kota. Maksud dari FGD 1 adalah untuk menyamakan pola pandang mengenai DIKPLH dan tata cara penyusunan dokumen tersebut. b. FGD 2 ‘Penyaringan Isu Prioritas Hipotetik’
FGD 2 dilaksanakan pada hari Senin, 6 Maret 2017 di Aula DLH Provinsi Jambi, yang dihadiri oleh stakeholder terkait seperti pada tabel 2.1 berikut ini:
Tabel 2.1 : Daftar Hadir FGD 2
No Nama Instansi
1 Dr. Ardi, Sp,M.Si Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi
2 Dyan Anggrainy, S.ST BMKG Provinsi Jambi
3 Nurdiyati Dinas PUPR Provinsi Jambi
4 Amirzah BPBD Provinsi Jambi
5 Ayodhia PT.Pertamina EP Jambi
6 Nasirwan Azri Dinas PUPR Provinsi Jambi 7 Mustafa Kamal Dinas Kehutanan Provinsi Jambi
8 Ahmad Nisywan BPK Daerah
9 Husni Thamrin, SE LSM Pinang Sebatang 10 Abdul Salam Lubis Dinas ESDM Provinsi Jambi
11 Husein Kesbangpol Provinsi Jambi
12 Sukmal Fahri Poltekes Jambi
13 Titi Hadiyati Dinas Kesehatan Provinsi Jambi 14 Ani Dwi Nugraeni, SST BPS Provinsi Jambi
15 Deny adria, SP Balai Pengelolaan DAS Batanghari
16 Pinondang H Biro Hukum
17 Julianto silalahi BWS Sumatera VI
18 Nova handayani, S.Si, MKM Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi
19 Ella Lovianti, S.Hut, MM Dinas Kehutanan Provinsi Jambi 20 Robby Irawan, ST Dinas Lingkungan Hidup Provinsi
4 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Berbagai masukan dan rekomendasi terkait isu prioritas yang akan diangkat, diusulkan oleh stakeholder terkait yang hadir dalam FGD tersebut. Adapun usulan-usulan isu prioritas yang diajukan seperti disajikan pada Tabel 2.2. Tabel 2.2 : Daftar Usulan Isu Prioritas pada FGD 2
No Isu Yang Diusulkan Asal Instansi
1 a. Isu prioritas terdapat di dalam peraturan tentang RTRW Provinsi Jambi Tahun 2013 b. Perambahan Taman Nasional oleh
masyarakat untuk lahan pertanian, konflik lahan
LSM Pinang Sebatang
2 a. Banjir akibat perambahan hutan. Data luasan dan lama genangan air. Kerusakanan lahan pertanian akibat banjir.
b. Pencemaran Lingkungan akibat PETI yang berakibat pada konflik/kerawanan sosial c. Penyakit akibat Lingkungan Kerja
Dr. Sukmal Fachri, SPd, MKM
(Poltekkes)
3 Banjir berdampak kepada sosial ekonomi, BPBD 4 Tahun 2016 curah hujan normal, tidak terjadi El
nino. Curah hujan tinggi di Sarolangun, Merangin, Bungo. Disungai Penuh pada akhir tahun.
BMKG
5 a. Pengelolaan DAS dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.
b. Konflik lahan dan perambahan hutan (hutan lindung dan hutan produksi).
Dinas Kehutanan
6 a. PETI, Ilegal Drilling
b. Pelaksanaan Reklamasi Pasca Tambang c. K3 Lingkungan Pertambangan
Dinas ESDM
7 a. Konflik lahan
b. Pencemaran lingkungan dari RS Baiturahim dan RS. Arafah dan Hotel
Dinas Kesbangpol
8 Flat Control di Danau Sipin tentang pemantauan penanggulangan banjir. Banjir akibat pelanggaran tata ruang. Disarankan menganalisa respon atas isu prioritas tahun 2015.
Dinas PU
9 Banjir terkait dengan tanggul, lereng sungai, kerusakan tutupan hutan
BWS Sumatera VI
10 a. Banjir sebagai indikasi kerusakan DAS b. Tanah Longsor
BPDAS 11 a. Kerusakan jalan akibat angkutan TBS
b. Pertamina memiliki data beban emisi sumber tidak bergerak, dan kendaraan.
5 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
12 Limbah medis menimbulkan pencemaran dan konflik.
Dinas Kesehatan 13 Perlu agenda bulanan untuk memberikan
informasi tentang data yang menjadi isu prioritas
BPS 14 a. Perambahan hutan, PETI
b. Reklamasi pasca tambang c. Longsor
d. Banjir akibat kurangnya RTH
Biro Hukum
Berbagai masukan dan rekomendasi isu prioritas daerah diatas akhirnya dikerucutkan menjadi 3 (tiga) isu prioritas daerah yakni :
1. Bencana banjir, 2. PETI dan 3. Konflik lahan
Kesimpulan FGD 2 merekomendasikan untuk melakukan rapat lanjutan guna merumuskan apakah isu prioritas tersebut merupakan isu lanjutan dari tahun 2015, dan menentukan apakah upaya yang telah dilaksanakan telah efektif untuk dilanjutkan tahun 2016. Data dan isu prioritas yang disampaikan merupakan data riil di lapangan.
c. Rapat Terbatas dengan Tim Ahli Penyusun DIKPLH
Rapat terbatas dengan Tim Ahli Penyusun DIKPLH dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Maret 2017 di Ruang Rapat Kabid Tata Lingkungan DLH Provinsi Jambi, yang dihadiri oleh:
1. Dr.Aswandi 2. Dr.Sukmal Fahri 3. Lindawati, S.Pt, M.Si 4. Winarsih, ST
Rapat tersebut menghasilkan usulan ‘Penajaman Isu Prioritas’ sebagai berikut : 1. Kerusakan DAS Batanghari
2. Kebakaran Lahan Gambut 3. Konflik Lahan
6 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
4. Penambangan Emas Tanpa Izin
5. Tumpang Tindih Kebijakan dan Peraturan Lintas Sektoral
Keunikan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari sebagai anugrah ruang hidup dan ancaman bencana
Kawasan DAS Provinsi Jambi secara garis besar di bagi menjadi 4 kawasan DAS yakni DAS Batanghari, DAS Mendahara, DAS Betara Pengabuan dan DAS Air Hitam. Daerah aliran Sungai Batanghari Provinsi Jambi termasuk salah satu kawasan aliran sungai yang paling kritis di Indonesia. Berdasarkan rencana tata ruang Provinsi Jambi secara garis besar wilayah DAS dibagi menjadi 3 zona yakni wilayah Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Kabupaten Bungo, sebagian Kabupaten Merangin dan Tebo bagian barat Provinsi Jambi ditetapkan sebagai zona konservasi yang merupakan bagian hulu dari DAS Batanghari. Zona produksi di bagian tengah Provinsi Jambi dan zona distribusi di wilayah timur.
Menurut peta digitasi Pusat Studi DAS Universitas Jambi luas DAS Batanghari adalah 4.382.713 Ha merupakan DAS kedua terbesar di Indonesia setelah DAS Bengawan Solo, yang terbagi dalam 5 (lima) sub DAS, yakni; sub DAS Batang Merangin-Tembesi, Batang Tabir, Batang Tebo, Batanghari Hilir dan sub DAS Batanghari Hulu. DAS Batanghari merupakan DAS terbesar di Pulau Sumatera, berhulu di pegunungan Bukit Barisan memiliki curah hujan yang tinggi sehingga dapat memproduksi air berlimpah yang mengalir kedalam jaringan Sungai Batanghari.
Air Sungai Batanghari adalah kekayaan yang harus dijadikan pilihan energi masa depan yang murah untuk kehidupan dan pembangunan (water for life and development). Sumberdaya air ini mengalir berada di dalam DAS Batanghari dengan panjang sungai utama mencapai 870 km. Lebar sungai bervariasi antara 300-500 m dan kedalaman sungai antara 6-7 m. Potensi ketersediaan air berkisar antara 25-50 milyar m3/tahun, dengan debit maksimum mencapai 13 ribu m3/detik. Wilayah DAS meliputi 10 (sepuluh) kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 4 kabupaten di Provinsi Sumatera Barat, dengan hamparan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mencapai 1,3 juta Ha di wilayah hulu yang
7 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
mampu menyediakan air sepanjang tahun (Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera, 2015)
Sayangnya dari tahun ke tahun tekanan aktivitas manusia terhadap DAS Batanghari khususnya Sungai Batanghari semakin meningkat yang dapat dilihat dari Indeks Pencemaran Air yang dibahas pada Bab II. Berbagai aktivitas manusia seperti penambangan tanpa izin seperti mineral emas yang beroperasi di sepanjang sungai, ilegal logging, konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan, kebun masyarakat serta pemukiman menyebabkan semakin berkurangnya daerah tangkapan air (DTA) sehingga jika musim hujan tiba maka bencana banjir melanda sebagian besar daerah di Provinsi Jambi dan sebagian yang lainnya mengalami tanah longsor .
Bagian hilir DAS Bantanghari terdapat kawasan bergambut. Dalam bentuk kawasan hutan lindung maupun Area Penggunaan Lain. Luas kawasan hutan (sesuai dengan SK Nomor 863 Tahun 2014) seluas ± 2.098.535 Ha (41,61 %) dan luas areal penggunaan lain (APL) adalah seluas ± 2.977.435 Ha (58,38 %) dimana lahan seluas ± 536.370 Ha-nya merupakan lahan gambut. Sedangkan potensi lahan gambut di Provinsi Jambi ± 900.000 Ha adalah seperti disajikan dalam Tabel berikut.
Tabel 2.3 : Sebaran Potensi Lahan Gambut Provinsi Jambi
Namun, tingginya tekanan perkebunan kelapa sawit, HTI dan HPH adalah HPH, termasuk lahan gambut yang terjadi hampir setiap tahun. Kebakaran hutan
No Wilayah Luasan (Ha)
1 Hutan Lindung Gambut 83.630
2 Taman Nasional Berbak 146.000
3 Tahura Sekitar Tanjung 21.000
4 Hutan Produksi (Kab.Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Dan Muaro Jambi)
113.000
5 APL (Kab.Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur)
8 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
dan lahan (karhutla) yang terjadi di tahun 2015 lalu, bahkan menjadi bencana nasional kabut asap yang menutupi sebagian besar wilayah Pulau Sumatera. Sisa kerusakan lahan gambut pasca kebakaran 2015 dapat menjadi ancaman terjadinya kebakaran kembali jika tidak segera dilakukan tindakan antisipasi. Adapun kabupaten yang rawan kebakaran adalah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Tebo, Sarolangun, Bungo, Merangin dan Kabupaten Batanghari.
Provinsi Jambi memiliki 4 (empat) taman nasional yakni Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Dari perhitungan yang dilakukan DLH Provinsi Jambi pada tahun 2015, ruang terbuka hijau memiliki jasa lingkungan penyumbang oksigen sebesar 1.279.042.290 kg/hari dan menyerap karbon dioksida sebesar 1.918.563.432 kg/hari.
d. FGD 3 ‘Penajaman Isu Prioritas yang Akan Disepakati ’
FGD 3 dilaksanakan pada hari Jumat, 31 Maret 2017 di Aula DLH Provinsi Jambi, yang dihadiri oleh stakeholder terkait seperti pada tabel 2.3 berikut ini:
Tabel 2.4 : Daftar Hadir FGD 3
No Nama Instansi
1 Dr.Evi Frimawaty, S.Pt, M.Si Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi 2 Lindawati, S.Pt, M.Si Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi 3 Nova Handayani, S.Si, MKM Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi 4 Lailatul Qodri, SKM Dinas Kesehatan Provinsi Jambi
5 Ella Lovianti, S.Hut, MM Dinas Kehutanan Provinsi Jambi 6 Dyan Anggrainy, SST BMKG Provinsi Jambi
7 A.Mustohari Kesbangpol Provinsi Jambi
8 Radiono Dinas PUPR Provinsi Jambi
9 Soni Pratomo Bappeda Provinsi Jambi
9 II - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
11 Diki Kurniawan KKI Warsi
12 Anita Wulandari Dinas ESDM Provinsi Jambi
13 Mariani, S.Pt Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi 14 Niken Aryani Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi 15 Dr.Sukmal Fahri Poltekes Jambi
16 Lusy Handriyani, SE Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi
17 Dr.Aswandi PPLH Universitas Jambi
18 Mukhwizal Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi 19 Winarsih, ST Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi 20 Dafina Puti Rosa, AMKL Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi
Usulan ‘Penajaman Isu Prioritas Daerah’ yang telah dibahas pada rapat terbatas kembali dipaparkan di FGD 2 untuk mendapatkan masukan saran serta rekomendasi perbaikan dari peserta. Adapun hasil final usulan isu prioritas lingkungan hidup daerah adalah sebagai berikut :
1. Kerusakan DAS Batanghari 2. Kebakaran Hutan dan Lahan 3. Alih Fungsi Lahan
1 III - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
BAB III
ANALISIS TEKANAN, KONDISI DAN UPAYA TERHADAP ISU LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DAERAH
3.1. Isu Prioritas Provinsi Jambi
Hasil perumusan isu prioritas pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Jambi setelah melalui 3 (kali) FGD maka dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Kerusakan DAS Batanghari
2) Kebakaran Hutan dan Lahan 3) Alih Fungsi Lahan
3.2. Analisis Pressure , State dan Respon Isu Prioritas Provinsi Jambi
Isu prioritas di Provinsi Jambi dirumuskan dari hasil analisis adanya pressure dan state. Analisis ini dikenal dengan Model P-S-R, yaitu Tekanan (Pressure), Status/kondisi (state), dan Tanggapan (Response). Model ini merupakan suatu analisis yang menggunakan konsep hubungan sebab akibat, dimana kegiatan manusia memberikan tekanan (pressure) kepada lingkungan dan menyebabkan perubahan pada sumberdaya alam dan lingkungan, baik secara kualitas maupun kuantitas (state). Selanjutnya pemerintah dan masyarakat/ stakeholders melakukan reaksi terhadap perubahan ini baik melakukan adaptasi maupun mitigasi melalui berbagai kebijakan, program, inovasi, maupun kegiatan (social respons), yang merupakan umpan balik terhadap tekanan melalui kegiatan manusia. Gambaran isu prioritas dan analisis Pressure , State dan Respon dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Isu Prioritas Dan Pressure, State Dan Respon
No Isu Prioritas
Pressure State Respon
1. Kerusakan DAS Batanghari 1. Berkurangnya Daerah Tangkapan Air (DTA) atau terjadinya perubahan tutupan lahan 1. Kejadian banjir, erosi dan sedimentasi 2. Penurunan Kualitas air 1. Pemulihan DAS Batanghari dengan mendirikan Forum DAS bekerja sama Pemprov Jambi dan Badan Pengendali DAS
2 III - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
2. Aktivitas PETI di wilayah DAS 3. Konversi Lahan 2. Pengendalian Akitivitas PETI. 2. Kebakaran Hutan dan lahan 1. Tutupan lahan 2. Potensi Ancaman Kebakaran Berulang 3. Overdrained dan konversi lahan 4. Budaya masyarakat membakar sisa panen untuk pengganti pupuk dan pembukaan lahan yang murah 1. Kerugian akibat kebakaran lahan gambut 2. Penurnan kualitas udara 1. Di terbitkan Perda dan juknis tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2. Melakukan program pencegahan kebakaran sejak dini melalui sistem early warning sistem 3. Alih Fungsi Lahan 1. Perambahan hutan 2. Peladangan berpindah Konflik lahan dan sosial Penegakan hukum
3.2.1.Kerusakan DAS Batanghari
3.2.1.1. Pressure Berkurangnya Daerah Tangkapan Air akibat Perubahan Tutupan Lahan
Pada umumnya penetapan penggunaan lahan didasarkan pada karakteristik lahan dan daya dukung lingkungannya. Bentuk penggunaan lahan yang ada dapat dikaji melalui proses evaluasi sumber daya lahan, sehingga dapat diketahui potensi sumber daya lahan untuk berbagai penggunaannya. Namun, pengkajian yang tidak diikuti dengan pengelolaan yang ramah lingkungan serta penyalahgunaan fungsi lahan yang disebabkan oleh tuntutan pembangunan dan faktor ekonomi menyebabkan terjadinya bencana alam secara signifikan dengan rusaknya sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan yang ditandai dengan munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sebagai dampak positif dari pertambahan penduduk, membawa konsekuensi terjadinya perubahan penggunaan lahan.
3 III - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Gambar 3.1. Penggunaan Lahan di Provinsi Jambi Tahun 2015
Berdasarkan Gambar 3.1. terlihat luasan lahan yang dimanfaatkan sebagai lahan non pertanian seluas 881.912,00Ha (12,42 %), sawah seluas 117.005,00Ha (1,65%), lahan kering seluas 45.740,00Ha (0,64 %), perkebunan seluas 1.551.901,00Ha (21,86%), hutan seluas 4.483.649,31Ha (63,17 %), dan badan air seluas 18.012,66 Ha (0,25 %).
Permasalahan kerusakan DAS di Provinsi Jambi dipicu dengan perubahan tutupan lahan yang semakin signifikan dari tahun ketahun. Berdasarkan tabel 1 luas kawasan lindung berdasarkan RTRW dan tutupan lahannya Provinsi Jambi memiliki luas kawasan hutan lindung sebesar 179.926.00 ha dengan lahan terbuka seluas 37.513.630 ha, kawasan lindung bergambut 79.924,40 dengan rincian tutupan lahan bervegetasi seluas 77.813,52 dan luas tutupan lahan badan air sebesar 83,664 Ha.
Tabel 3.2. Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan Tutupan Lahannya.
No Nama Kawasan Jenis Tutupan Lahan (Ha) Total
Luas (Ha) Vegetasi Area terbgn. Tanah Terbuka Badan air 1. Kawasan Lindung terhadap Kawasan Bawahannya a. Kawasan Hutan Lindung b. Kawasan Bergambut 142.412,47 77.813,52 - - 37.513,63 2.07,24 - 83,644 179.926 79.924,4 Non Pertanian 19% Sawah 2% Kering 1% Perkebunan 33% Hutan 45% Badan Air 0%
4 III - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
2. Kawasan Perlindungan
Setempat - - - - -
3. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya
a. Kawasan Suaka Alam
b. Cagar Alam dan Cagar Laut c. Kawasan Pantai Berhutan Bakau d. Taman Nasional e. Taman Wisata Alam 533.664,47 167 3.918,24 641.368,76 387,690 - 0,06 2,5 82,940 0,130 152.307,90 1,534 85,539 5.514,672 6,800 - 31,96 34,326 267,626 30,876 686.095 200,11 4.041,6 647.234 425,500 4. Kawasan Rawan Bencana
5. Kawasan Lindung Lainnya
6. Kawasan Budidaya 3.723.012,65 83.532,74 325.425,96 18.012,66 4.149.984,00 Sumber : Bappeda Provinsi Jambi (2016)
Lahan di Provinsi Jambi umumnya digunakan sebagai lahan non pertanian berupa tanah terbuka, pemukiman, jalan, perkantoran, sungai, pertambangan, rawa, pelabuhan udara/laut, areal transmigrasi dan belukar rawa. Selain itu, penggunaan lahan untuk lahan pertanian berupa sawah dan areal perkebunan, lahan hutan baik berupa hutan lahan kering, hutan rawa, hutan mangrove maupun hutan tanaman, lahan badan air berupa rawa, tambak, air, danau/waduk/situ dan sungai, dan lahan kering berupa semak belukar, savana, semak dan pertanian lahan kering. Berdasarkan Tabel 3. 2 Pelepasan Kawasan Hutan yang dikonversi menurut peruntukan di Provinsi Jambi tahun (2016) lebih banyak ke pemukiman, perkebunan dan areal penggunaan lainnya.
Tabel 3.3 Pelepasan Kawasan Hutan yang dikonversi menurut peruntukan di Provinsi Jambi
Peruntukan Luas (Ha)
pemukiman 52.880.000,000 pertanian 0,000 perkebunan 36.964.000,000 industri 0,000 pertambangan 0,000 lainnya 71.661.000,000
5 III - DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAMBI
DIKPLHD PROVINSI JAMBI
Jika kegiatan –kegiatan diatas kurang memperhatikan aspek aspek kelestarian lingkungan serta adanya tingkat erosi di daaerah DAS Batanghari menyebabkan meningkatnya lahan kritis di Provinsi Jambi seperti yang terlihat pada grafik dibawah ini.
Lahan kritis adalah lahan yang tidak atau kurang berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukkannya baik sebagai media produksi maupun sebagai pengatur tata air.Berkurangnya fungsi lahan ini disebabkan karena lahan tersebut mengalami pemiskinan unsur hara sebagai akibat dari berbagai kegiatan yang tidak tepat diantaranya kegiatan penggundulan hutan.
Berdasarkan data dari Ditjen Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI luas lahan kritis yang ada di Provinsi Jambi seluas 662503,79 Ha atau 41,67 % dari luasan lahan yang ada di wilayah Provinsi Jambi. Lahan kritis tersebut terdiri dari lahan kritis seluas 467.312,93 Ha dan lahan sangat kritis seluas 195.190,86 Ha. Lahan kritis paling luas terdapat di Kabupaten Tebo seluas 86.916,54Ha atau 13,12 % dari seluruh luasan lahan kritis di Provinsi Jambi. Sementara di Kota Jambi terdapat hanya 0,19 % lahan kritis atau seluas 1.235,02 Ha. Besarnya luasan lahan kritis pada setiap kabupaten/kota di Provinsi Jambi dapat dilihat pada Gambar 3.3.
Grafik 3.3. Luas Lahan Kritis di Dalam dan di Luar Kawasan Hutan di Provinsi Jambi 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000
Luas Lahan Kritis Tahun2015 dan 2016
Kritis (Ha) 2015 Sangat Kritis (Ha) 2015 Kritis (Ha) 2016 Sangat Kritis (Ha) 2016