2
01
4
BADAN LINGKUNGAN HIDUP
PROVINSI JAWA TIMUR
Laporaran Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
KATA PENGANTAR
Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur kepada publik atas kinerja pencapaian visi dan misinya pada Tahun Anggaran 2014. Selain itu, LAKIP juga merupakan salah satu parameter yang digunakan oleh Badan Lingkungan Hidup untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Penyusunan LAKIP Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah,
Presiden Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, serta Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2014.
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur telah menetapkan visi yaitu “Terwujudnya Lingkungan Hidup Jawa Timur Yang Baik dan Sehat”. Untuk mewujudkan visi tersebut, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur telah menetapkan misi yaitu “Bersama mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya alam di Jawa Timur”. Misi tersebut selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Strategis (RENSTRA) BLH Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2014 dan digunakan sebagai landasan penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (RKT). RKT 2014 berisi indikator-indikator kinerja yang akan dicapai oleh BLH di tahun 2014.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 ini dimaksudkan sebagai media pertanggungjawaban secara periodik yang berisi informasi mengenai kinerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dalam mencapai misi dan tujuan dalam rangka perwujudan kepemerintahan yang baik (good governance). Laporan ini menggambarkan tingkat pencapaian kinerja, keberhasilan dan /atau kegagalan di dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sesuai dengan visi dan misi Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Timur. Diharapkan LAKIP Tahun 2014 ini adanya umpan balik perbaikan kinerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur di masa yang akan datang sehingga semakin mampu memperlihatkan pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi. Dengan demikian pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di Daerah lebih berdaya guna dan berhasil guna. Kami menyadari LAKIP ini belum secara lengkap menggambarkan kinerja yang ideal. Oleh karena itu kami berupaya menyempurnakan terbangunnya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) di Instansi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. Meskipun demikian disadari pula bahwa pengembangan dan penyempurnaan SAKIP ini memang memerlukan waktu yang relatif lama hingga sistem ini berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu masukan dan saran perbaikan dari atasan, lembaga pengawasan dan penilai akuntabilitas sangat kami harapkan untuk penyempurnaan penyusunan laporan di masa yang akan datang. Akhirnya, kami berharap LAKIP ini dapat memberikan masukan berharga dan manfaat untuk peningkatan kinerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur guna mewujudkan “good governance” di lingkungan Pemprov. Jatim. Semoga Allah SWT selalu meridhoi segala upaya kita dalam mengabdi bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
Semoga dokumen ini memberikan manfaat bagi peningkatan kinerja kita semua.
Surabaya, Januari 2015 KEPALA BADAN LINGKUNGAN HIDUP
PROVINSI JAWA TIMUR
Pembina Utama Muda Ir. BAMBANG SADONO, MM NIP. 19570817 198603 1 026
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
Daftar Tabel ... iii
Ikhtisar Eksekutif ... iv
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Landasan Hukum... 2
1.3. Tujuan... 3
1.4. Gambaran Umum Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur... 4
1.4.1. Tugas Pokok... 4
1.4.2. Fungsi... 4
1.4.3. Susunan Organisasi... 4
1.5. Gambaran Kondisi Lingkungan... 9
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KERJA... 15
2.1. Rencana Strategis dan Rencana Kinerja... 16
a. Visi... 16
b. Misi... 16
c. Tujuan... 17
d. sasaran... 18
e. Indikator Kinerja Utama... 18
f. Program dan Kegiatan... 19
2.2. Rencana Kinerja Tahun 2013... 23
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA... 28
3.1. Pengukuran Kinerja... 28
3.2. Evaluasidan Analasis Kinerja Capaian Kinerja…... 31
3.3. Capaian Kinerja ………... 3.4. Capaian Kierja Badan Lingkungan hidup Prov. Jawa Timur dibandingkan dengan Capaian Kinerja BLH DI. Yogyakarta ... 3.5 Telaahan Renstra Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI dan Renstra Provinsi Jawa Timur... 42 55 3.5.1.Arah Kebijakan dan Sasaran Strategis Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI... 60 3.5.2.Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Provinsi Jawa Timur... 65
3.6. Akuntabilitas Keuangan... 72
BAB IV PENUTUP... 73
4.1. Kesimpulan... 73
LAMPIRAN
Matriks Renstra 2010 - 2014 Rencana Kinerja Tahun 2014 Penetapan Kinerja Tahun 2014 Pengukuran Kinerja Tahun 2014
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Matrik Hubungan Visi, Misi dan Tujuan ……… Tabel 2.2 Matrik Hubungan Tujuan dan Sasaran ………. Tabel 2.3 Penetapan Kinerja Tahun 2014 ………. Tabel 3.0 Skala Pengukuran Capaian Sasaran Kinerja ……….. Tabel 3.1 Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis ………. Tabel 3.2 Sasaran Strategis Tahun 2014 ………. Tabel 3.3 Pengukuran Kinerja Indikator Kinerja ……….. Tabel 3.4 Pengukuran Kinerja Indikator Kinerja ……….. Tabel 3.5 Pengukuran Kinerja Indikator Kinerja ……….. Tabel 3.6 Pengukuran Kinerja Indikator Kinerja ……….. Tabel 3.7 Pengukuran Kinerja Indikator Kinerja ……….. Tabel 3.4 Rekapitulasi Serapan Anggaran Tahun 2014………..
18 19 29 32 33 35 36 37 38 40 41 51
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv
IKHTISAR EKSEKUTIF
Dalam rangka penyelenggaraan Negara, Pemerintah Propinsi Jawa Timur telah berusaha untuk mewujudkan asas-asas umum penyelenggaraan negara yang meliputi asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggara negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, dan asas akuntabilitas. Asas akuntabiltas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Pembangunan sistem administrasi modern yang andal, professional, partisipatif serta tanggap terhadap aspirasi masyarakat, merupakan kunci sukses menuju manajemen pemerintahan dan pembangunan yang akuntabel dan terwujudnya Good Governance, sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) harus dibuat dan secara umum dimulai dengan Rencana Strategik yang dijabarkan dalam pelaksanaan kegiatan Dinas/Badan instansi sebagai laporan pertanggungjawaban.
LAKIP merupakan pengendali atau kontrol dalam penyusunan LKPJ Kepala Daerah dengan mengacu kepada Restra yang telah disusun. Indikator kinerja LAKIP meliputi : (a) masukan (inputs), (b) keluaran (ouput), (c) hasil (outcomes), (d) manfaat (benefits), dan (e) dampak (impacts), dengan menggunakan analisa kualitatif maupun kuantitatif.
Mekanisme penyusunan Laporan Akutabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) meliputi uraian keterkaitan pencapaian kinerja
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv kegiatan dengan program dan kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, dan misi serta visi sebagaimana ditetapkan dalam rencana strategis. Dalam penyusunan ini perlu pula dijelaskan perkembangan kondisi pencapaian sasaran dan tujuan secara efisien dan efektif sesuai dengan kebijakan, program, dan kegiatan yang telah ditetapkan. Penyusunan LAKIP dilakukan dengan menggunakan informasi atau data yang diperoleh secara lengkap dan akurat. Selain dipandang dari segi kinerja yang dihasilkan oleh instansi pemerintah, perlu juga dianalisa apakah pengalokasian dan pemanfaatan anggaran tepat sasaran, dilakukan secara transparan dan hasil kinerjanya dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan jumlah anggaran yang tersedia. Dalam penyajian perkembangan anggaran hendaknya dilakukan menurut program atau kegiatan pokok.
Laporan Akutabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 ini, disusun berdasarkan INPRES Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah sesuai INPRES Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi dalam rangka memberikan tuntutan kepada semua instansi pemerintah untuk menyiapkan LAKIP sebagai bagian integral dari siklus Akuntabilitas Kinerja yang utuh dan dituangkan dalam suatu Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah.
LAKIP ini menyajikan capaian kinerja Badan Lingkungan Hidup Tahun 2014berkaitan dengan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Capaian kinerja tahun 2014 tersebut diperbandingkan dengan penetapan kinerja sebagai tolok ukur keberhasilan Badan Lingkungan Hidup berkaitan dengan tugas pokok dan fungsinya dalam penyelenggaraan pembangunan di bidang Lingkungan Hidup. Evaluasi kinerja program prioritas Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dilakukan terhadapindikator kinerja utama. Hasil evaluasi tersebut adalah:
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv 1. Konsentrasi BOD di DAS Brantas dari tahun 2010 sampai dengan
2014 telah memenuhi target yang ditetapkan didalam RENSTRA meskipun kualitasnya nya masih lebih rendah dari kelas II. Sesuai dengan RENSTRA dimaksud, konsentrasi BOD di Kali Brantas ditargetkan mengalami penurunan sebesar 8%, 12%, 15%, 18% dan 21% berturut turut dari tahun 2010, 2011, 2012, 2013 dan 2014. Pada tahun 2010, kadar BOD adalah sebesar 5,12 mg/l dan mengalami trend penurunan secara berturut turut sampai dengan 2014 menjadi 4,41 mg/l; 4,33 mg/l; 3.6 mg/l dan 4.27 mg/l. Nilai penurunan ini telah mencapai target dimaksud karena telah mencapai penurunan sebesar 8%; 21,87%; 23,43%; 37,69%; dan 24,68%. Namun demikian, dapat dilihat bahwa kisaran nilai konsentrasi BOD pada tahun tahun tersebut masih lebih tinggi dari baku mutu air sungai untuk kelas II (3 mg/l) yang berarti memiliki level kualitas air yang lebih rendah dari kelas II.
2. Konsentrasi COD di DAS Brantas juga mengalami trend penurunan yang nilainya telah memenuhi target yang ditetapkan dalam RENSTRA BLH Prov. Jatim 2010 - 2014 dan telah memenuhi baku mutu air sungai kelas II. Sebagaimana BOD, penurunan konsentrasi COD di DAS Brantas juga ditargetkan secara berturut turut dari tahun 2010 sampai 2014 sebagai berikut: 8%, 12%, 15%, 18% dan 21%. Konsentrasi COD yang tercapai pada tahun tahun tersebut berturut turut adalah 17,94; 15,45; 13,64; 10,92 dan 12,45 mg/l dengan capaian nilai penurunan sebesar: 85; 21,88%; 31,97%; 47,13%; dan 38,61%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa target RENSTRA dari tahun 2010 sampai dengan 2014 telah terpenuhi dengan kisaran konsentrasi COD memenuhi baku mutu air sungai untuk kelas II namun tidak memenuhi kelas I.
konsentrasi BOD dan COD cenderung menurun dari tahun 2010 sampai tahun 2013 untuk kemudian naik lagi pada tahun 2014. Bila
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv dicermati lebih dalam, dapat disimpulkan bahwa penurunan konsentrasi BOD dan COD pada tahun 2013 tampak sedikit lebih ekstrim jika dibandingkan dengan capaian penurunan di tahun tahun yang lain. Hal ini bisa jadi diakibatkan oleh berbagai aspek seperti kondisi saat itu yang memang lebih ekstrim dari kondisi tahun sebelumnya atau mungkin juga dikarenakan oleh tingkat validitas teknik sampling, metode uji, ataupun pemilihan lokasi, jumlah titik sampling dan frekuensi sampling yang dimasukkan dalam perhitungan.
Dengan demikian, untuk penetapan capaian kinerja ditahun-tahun mendatang. Perlu dilakukann standarisasi teknis pelaksanaan pemantauan dan penetapan titik sampling yang dimasukkan kedalam perhitungan agar didapatkan data yang dapat merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya. Selain itu, data tahun 2013 hendaknya tidak digunakan sebagai base line dalam penetapan target kinerja pada tahun mendatang.
Kondisi kualitas air sungai di DAS Brantas yang masih berada pada kisaran kelas II atau lebih rendah menunjukkan bahwa masih perlu langkah konkrit untuk menurunkan beban pencemaran di DAS tersebut. Mengingat bahwa kontributor beban pencemaran terdiri dari berbagai sektor seperti domestik, industri, pertanian, kegiatan usaha lain dan erosi tanah. Sehingga upaya pengendalian dari berbagai sumber tersebut harusnya dilakukan secara lebih komprehensif.
3. Pada tahun 2013 sebanyak 212 dari 253 perusahaan atau sekitar 84% perusahaan yang telah memnuhi ketaatan terhadap perijinan dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPPL, SPPL, DPL, dll). sedangkan untuk tahun 2014 tingkat ketaatan perusahaan terhadap perijinan dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPPL, SPPL, DPL, dll) tidak mampu memnuhi target sebesar 75%. Capaian kinerja tahun 2014 tidak mampu memenuhi target sebesar 75% dikarenakan : pada tahun
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv 2014 ini disebabkan perusahaan yang menjadi target didalam pemenuhan kelengkapan dokumen AMDAL, UK – UPPL, SPPL, DPL, Dll adalah perusahaan yang belum termasuk kategori taat pada tahun 2013. Serta jumlah perusahaan yang menjadi target mangalami peningkatan yaitu sebanyak 267 perusahaan.
Meningkatnya ketaatan dunia usaha/kegiatan terhadap perijinan dokumen lingkungan merupakan indikator keberhasilan dari BLH Prov. Jawa Timur terutama untuk meningkatkan partisipasi dan kesadaran pelaku industri untuk memenuhi kewajiban mereka didalam pemenuhan kelengkapan dokumen perijinan usaha sebagaimana dimanatkan didalam Pasal 36 UUPPLH.
4. Semakin meningkatnya Desa/Kelurahan yang memperoleh
penghargaan Program BERSERI menggambarkan bahwa tingkat kepedulian dan partisipasi masyarakat di Desa/kelurahan didalam pengelolalaan lingkungan hidup sekitarnya semakin meningkat, sehingga untuk hidup bersih dan sehat sudah menjadi kebiasaan hidup mereka sehari-hari, dengan demikian kemungkinan untuk membuang sampah padat dan limbah domestik kedalam badan air/sungai semakin kecil. Sehingga kualitas lingkungan hidup disekitar kita akan tetap terpelihara dan akanj memberikan manfaat yang optimal bagi kehidupan.Pada tahun 2010 jumlah sekolah ADIWIYATA di jawa timur adalah sebanyak 30 sekolah, pada tahun 2011 mengalami peningkatan menjadi 28 sekolah, pada tahun 2012 kembali mengalami peningkatan menjadi 56 buah sekolah sedangkan pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup siginifikan menjadi 73 sekelah yang memperoleh predikat sekolah ADIWIYATA tingkat Nasional atau sekitar 97,33 % capaian kinerjanya. Sedangkan pada tahun 2014 ini jumlah sekolah adiwiyata adalah 136 sekolah. 88 sekolah masih dalam proses usulan untuk memperoleh predikat sekolah adiwiyata nasional. Dengan prosentase capaian kinerja 90%.
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv 5. Pada tahun 2010 jumlah sekolah ADIWIYATA di jawa timur adalah
sebanyak 30 sekolah, pada tahun 2011 mengalami peningkatan menjadi 28 sekolah, pada tahun 2012 kembali mengalami peningkatan menjadi 56 buah sekolah sedangkan pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup siginifikan menjadi 73 sekelah yang memperoleh predikat sekolah ADIWIYATA tingkat Nasional atau sekitar 97,33 % capaian kinerjanya. Sedangkan pada tahun 2014 ini jumlah sekolah adiwiyata adalah 136 sekolah. 88 sekolah masih dalam proses usulan untuk memperoleh predikat sekolah adiwiyata nasional. Dengan prosentase capaian kinerja 90%.
6. Pada tahun 2010 pengaduan kasus terkait permasalahan lingkungan yang masuk dan merupakan wewenang Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur sebanyak 8 (delapan) pengaduan. Dari 8 (delapan) pengaduan yang masuk seluruhnya telah ditidaklanjuti oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur atau sebesar 100%. Sedangkan pada tahun 2011 pengaduan kasus terkait permasalahan lingkungan yang masuk dan merupakan wewenang Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur sebanyak 21 pengaduan. Dari 21 pengaduan yang masuk seluruhnya telah ditidaklanjuti oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur atau sebesar 100%.
Pada tahun 2012 pengaduan kasus terkait permasalahan lingkungan yang masuk dan merupakan wewenang Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur sebanyak 41 pengaduan. Dari 41 pengaduan yang masuk seluruhnya telah ditidaklanjuti oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur atau sebesar 100%.
Sedangkan pada Tahun 2013 pengaduan kasus terkait permasalahan lingkungan yang masuk ke Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur sebanyak 53 (Lima Puluh Tiga) pengaduan. Berdasarkan penelaahan untuk mengklasifikasi jenis pengaduan dan kewenangan
pengaduan, sebanyak 30 (tiga puluh) pengaduan merupakan
kewenangan Kabupaten/ Kota, sebanyak 52 (lima puluh dua) merupakan kewenangan Kabupaten/kota yang diambil alih oleh
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv Provinsi dan 16 (enam belas) pengaduan kewenangan Provinsi yang sudah ditindak lanjuti.
Pada tahun 2014 pengaduan masyarakat mengenai kasus lingkungan yangmasuk ke BLH Prov. Jatim sebanyak 49 pengaduan. Dari 49 pengaduan tersebut, sebnayk 17 pengaduan merupakan kewenangan Kabupaten/kota sehingga penanganannya diserahkan kepada kabupaten/Kota bersangkutan. Sebanyak 19 pengaduan kewenangan kabupaten/kota yang diambil alih oleh BLH Prov. Jatim. Bahkan ada 1 (satu) pengaduan kewenangan Kabupaten/kota yang diambil alih oleh Kementrian Lingkungan Hidup. 1 (satu) pengaduan kewenangan kabupaten/kota dalam proses penyelesaian yang dilakukan oleh BLH. Prov. Jatim.
7. Pada tahun 2010 Kabupaten /kota yang memperoleh penghargaan ADIPURA sebanyak 33 Kabupaten/Kota, pada Tahun 2011 Provinsi Jawa Timur perolehan penghargaan ADIPURA ini mengalami penurunan menjadi 14 Kabupaten/kota, pada tahun 2012 kembali mengalami peningkatan dengan mendapatkan 35 penghargaan. dan pada tahun 2013 ini provinsi Jawa Timur memperoleh penghargaan sebanyak 37 buah dengan rincian penghargaan Adipura kencana sebanyak 4 Kabupaten/Kota, adipura sebanyak 22 Kabupaten/Kota, dan yang memperoleh piagam hanya 1(satu) Kabupaten/kota.
Pada tahun 2014 Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur yang memperoleh penghargaan ADIPURA sebanyak 30 Kabupaten/kota.capaian ini belum memenuhi target tahun 2014 yaitu sebanyak 38 kabupaten/kota dengan capaian kinerja sebesar 78.95% dari target yang ingin dicapai. Walaupun demikian Capaian penghargaan ini adalah yang terbanyak diantara Provinsi lainnya di Indonesia.
Menurunnya perolehan penghargan ADIPURA Tahun Ini dikarenakan adanya perubahan passing grade penilaian yang semula hanya 74 dinaikan menjadi 75 untuk tahun 2014.
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv Pada tahun 2013, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur berhasil meraih beberapa penghargaan tingkat nasional, yaitu;
1. Pada tahun 2013 Provinsi Jawa Timur memperoleh penghargaan dalam penyusunan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dari Bapak Presiden Dr. Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan oleh Bapak Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Prof. DR. Balthasar Kambuaya, M.B.A kepada Bapak Gubernur Jawa Timur Dr. Sukarwo, SH.M.Hum yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Bapak DR. H. Rasiyo di Jakarta pada saat peringatan Hari Lingkungan hidup se Dunia pada tahun 2013.
2. Pada tahun 2013 ini Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Kalpataru telah berhasil mengantarkan 1 (satu) orang kategori Pengabdi Lingkungan dan 2 (dua) kelompok dengan kategori
Penyelamat Lingkungan, dan 5 (lima) Nominasi Penerima
Penghargaan Kalpataru yaitu 5 (lima) kelompok kategori Penyelamat Lingkungan, 3 (tiga) orang kategori Perintis Lingkungan serta 2 (dua) orang kategori Pengabdi Lingkungan dari Bapak Presiden Republik Indonesia. Selain itu BLH sudah membentuk forum komuniasi penerima kalpataru yang berbadan hukum, sehingga para penerima Kalpataru dapat terus melakukan kegiatan pelestarian bahkan dapat ikut berperan pada kegiatan-kegiatan yang ada didaerahnya masing-masing.
3. Pada Hari Lingkungan Hidup tanggal 5 Juni 2013 di Jakarta telah diserahkan penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri oleh Bapak Presiden dan Penghargaan Sekolah Adiwiyata. Untuk tahun 2013 perolehan Adiwiyata Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan yang sangat signifikan, kategori Adiwiyata Mandiri 45 sekolah, sedangkan adiwiyata Nasional adalah sebanyak 73 sekolah. Prestasi ini dimulai pada tahun 2011 Adiwiyata Mandiri hanya 9 (sembilan) meningkat menjadi 44 pada tahun 2012, sedangkan Adiwiyata
LAKIP BLH. PROV. JATIM 2014
Page iv Nasional pada tahun 2011 hanya 22 menjadi 72 pada tahun 2012, hal ini menandakan bahwa tingkat kesadaran dan partisipasi siswa-siswi sekolah untuk hidup bersih dan hijau mengalami peningkatan. 4. Penerimaan Adipura Tahun 2013 Provinsi Jawa Timur mengalami
peningkatan yang sangat signifikan, pada tahun 2013 ini memperoleh 4 penghargaan Adipura kencana, 32 piala Adipura dan 1 (satu) piagam Adipura. capaian penghargaan ini merupakan perolehan terbanyak diantara Provinsi lainnya di Indonesia.
LAKIP adalah sarana penyampaian pertanggung jawaban kinerja kepada pemerintah dan kepada publik, yang merupakan sarana evaluasi atau capaian kinerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dalam melaksanakan visi dan misinya, sebagai upaya untuk memperbaiki kinerja di masa mendatang.
Bab
PENDAHULUAN
I
1.1. LATAR BELAKANG
Terselenggaranya pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa merupakan prasyarat bagi setiap Pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara, sehingga diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggung jawaban yang tepat, jelas dan legitimate agar penyelenggaraan Pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdayaguna, berhasilguna, bersih dan bertanggungjawab, serta bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Sejalan dengan itu, dalam rangka pelaksanaan Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, sebagai tindak lanjut dari peraturan tersebut telah diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa azas-azas umum penyelenggaraan negara meliputi azas kepastian hukum, azas tertib penyelenggaraan negara, azas kepentingan umum, asas keterbukaan, azas proporsionalitas, azas profesionalitas dan azas akuntabilitas. Menurut penjelasan Undang-undang tersebut, azas akuntabilitas adalah azas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 dilaksanakan berdasarkan Instruksi Peresiden Nomor 7 Tahun 1999, Surat Keputusan Kepala Lembaga
Adminitrasi Negara (LAN) Nomor 239/IX/6/8/2003 dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010. Hal ini merupakan bagian dari Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instasi Pemerintah guna mendorong terwujudnya sebuah Kepemerintahan yang baik bersih dan berwibawa (Good Governance and Clean Government ) di Indonesia sebagaimana telah diamanahkan oleh rakyat melalui Tap MPR Nomor IX Tahun 1998.
Dengan disusunnya LAKIP Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur tahun 2014 ini, diharapkan dapat bermanfaat dalam rangka : 1. Mendorong Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur untuk
dapat melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan secara baik dan benar, yang didasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku, kebijakan yang transparan, dan dapat dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat di seluruh Jawa Timur ; 2. Menjadikan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur yang
akuntabel, sehingga dapat berperan secara efisien, efektif dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungan yang tentram, tertib, dan kondusif ;
3. Menjadikan masukan dan umpan balik dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka meningkatkan kinerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur guna membantu pelayanan kepada masyarakat lebih baik ;
4. Terpeliharanya kepercayaan masyarakat di Jawa Timur terhadap Program/kegiatan yang sudah disusun dan dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur.
1.2. Landasan Hukum
a) Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999, tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP)
b) Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan
Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
c) Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Timur
d) Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 94 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat, Bidang, Sub Bagian dan Seksi Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur
e) Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 131 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur.
1.3. Tujuan
Tuntutan dan layanan masyarakat di daerah semakin meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas dalam pelayanan kepada masyarakat. Kondisi tersebut menuntut pola pikir yang terukur untuk dapat memberdayakan fungsi publik agar sesuai dengan tuntutan perkembangan ekonomi, politik dan budaya.
Untuk pencapaian tujuan tersebut diperlukan etos kerja yang berorientasi kepada pencapaian hasil dan pertanggungjawaban berdasarkan nilai-nilai akuntabilitas menuju Good Government yang bersih, berwibawa dan bertanggungjawab.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Instansi Pemerintah mempunyai 2 (dua) fungsi utama, yaitu :
a. Penyusunan LAKIP bertujuan sebagai sarana penyampaian pertanggungjawaban kinerja kepada instansi pemerintah dan kepada publik yang diwakili oleh lembaga legislatif, dan merupakan sarana evaluasi atas pencapaian kinerja Dinas Perikanan dan Kelautan dalam melakukan visi dan misinya sebagai upaya untuk memperbaiki kinerja di masa mendatang.
b. LAKIP sebagai sarana untuk menyampaikan pertanggung jawaban kinerja kepada pimpinan yaitu Gubernur sebagai Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur.
1.4. Gambaran Umum Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Timur maka tugas, fungsi dan susunan organisasi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut :
1.4.1 Tugas Pokok
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan di Bidang Lingkungan Hidup.
1.4.2 Fungsi
Dalam melaksanakan tugas, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijakan teknis di bidang lingkungan hidup;
b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah; c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup
tugasnya;
d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur. 1.4.3 Susunan Organisasi
Didalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Timur, Badan Lingkungan Hidup merupakan unsur pendukung Gubernur, dipimpin oleh seorang kepala, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Yang mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Daerah yang bersifat spesifik yaitu di bidang lingkungan hidup.
Didalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Timur, BAPEDAL berubah nama menjadi Badan Lingkungan Hidup (BLH), dengan demikian Susunan Organisasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut :
a. Kepala Badan
Mempunyai tugas memimpin, melakukan koordinasi, pengawasan dan pengendalian dalam penyelenggaraan kegiatan di Bidang Lingkungan Hkdup.
b. Sekretariat
Mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan administrasi umum, kepegawaian, perlengkapan, penyusunan program dan keuangan. Sekretariat membawahi :
1) Sub Bagian Tata Usaha
2) Sub Bagian Penyusunan Program 3) Sub Bagian Keuangan
c. Bidang Tata Lingkungan
Mempunyai tugas menyusun perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pengembangan standardisasi, pengkajian lingkungan, laboratorium lingkungan, pembinaan teknis AMDAL, dan penataan kawasan berwawasan lingkungan. Bidang Tata Lingkungan membawahi:
1) Sub Bidang Standardisasi dan Pengkajian Dampak Lingkungan 2) Sub Bidang Bina Teknis AMDAL
d. Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan dibidang pengawasan dan pengendalian pencemaran air, Pesisir dan laut, tanah, udara dan kerusakan
lingkungan. Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan membawahi:
1) Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Air dan Laut;
2) Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Tanah dan Udara
e. Bidang Konservasi dan Pemulihan Lingkungan
Mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang konservasi sumber daya alam dan keaneka ragaman hayati, pemulihan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Bidang Konservasi dan Pemulihan Lingkungan membawahi:
1) Sub Bidang Konservasi Lingkungan; 2) Sub Bidang Pemulihan Lingkungan
f. Bidang Komunikasi Lingkungan dan Peningkatan Peran serta Masyarakat
Mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan dibidang komunikasi lingkungan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Susunan organisasi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Peningkatan Peran serta Masyarakat terdiri atas:
1) Sub Bidang Komunikasi Lingkungan;
2) Sub Bidang Peningkatan Peran Serta Masyarakat g. UPT Badan
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Uji Kualitas Air Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur.
h. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok jabatan fungsional sampai saat ini sudah terbentuk. Walaupun hanya dalam bidang perpustakaan, untuk kedepan masih diperlukan jabatan fungsional lainnya untuk menampung personil-personil dengan keahlian khusus antara lain PPNS dan PPLHD.
Ketentuan-ketentuan yang dapat digunakan dalam pembentukan Kelompok Jabatan Fungsional sebagai berikut :
1) Keputusan Presiden No. : 100 Tahun 2004 tentang Tunjangan Jabatan Fungsional ;
2) Keputusan Bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.: 47/KEP/MENPAN/8/2002 tentang Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dan Angka Kreditnya ;
3) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.: 145 Tahun 2004 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dan Angka Kreditnya ;
4) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.: 146 Tahun 2004 tentang Pedoman Kualifikasi Pendidikan Untuk Jabatan Fungsional Pengendali Lingkungan ;
5) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.: 147 Tahun 2004 tentang Kode Etik Profesi Pengendali Dampak Lingkungan ; 6) Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 62 Tahun
2004 tentang Tata Cara Permintaan, Pemberian, dan Penghentian Tunjangan Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan. Struktur organisasi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dapat dilihat padaGambar berikut:
Kepala BLH
Fungsional Sekretaris
Bidang Tata Lingkungan Bidang Wasdal Penc. Lingkungan Bidang Konservasi & Pemilihan Lingkungan Bidang Kom. & Peningk. PSM
Subbag. Sungram Subbag. Keuangan Subbag T.U
Subbid Standarisasi dan PDL
Subbid Bina Teknis AMDAL
Subbid Wasdal Penc. Air dan Laut
Wasdal Penc. Tanah & Udara
Subbid Konservasi Lingungan Subbid Pemilihan Lingungan
Subbid Kom Lingkungan
Subbd Pening PSM
Kepala UPT LAB.
1.5. Gambaran Kondisi Lingkungan
Berdasar kajian kondisi dan situasi Pengelolaan Lingkungan Hidup tahun 2009 – 2014 (Renstra 2009 – 2014), dan potensi maupun
isu strategis yang ada di Provinsi Jawa Timur, dapat dirumuskan ada 5 (lima) isu pokok yang wajib mendapat perhatian bersama, yaitu :
a. Pengelolaan Hutan, Lahan dan Sumber Air
Kerusakan ekosistem hutan telah memberikan dampak pada konservasi lahan maupun kelangkaan sumber air/mata air. Kecenderungan ini telah tampak dari indikator menurunnya kualitas lingkungan hidup karena tekanan penduduk maupun bencana alam, dan pemanfaatan berlebihan sumber daya alam yang melampaui daya dukung lingkungannya. Kasus pembalakan hutan secara liar, erosi dan longsor, rusaknya habitat biota, menurunnya biodiversitas, banjir dan kekeringan, berubahnya iklim, kebakaran hutan, masalah dampak sosial ekonomi akibat eksploitasi dan sebagainya, telah menjadikan masalah laten yang memerlukan pendekatan holistik dan bertahap guna menyelesaikan atau menangani masalah ini.
Keberadaan Taman Hutan Raya (Tahura) ditujukan untuk menjaga pelestarian alam, mengembangkan pendidikan dan wisata, juga berperan dalam pemeliharaan kelangsungan fungsi hidrologis Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, DAS Konto, dan DAS Kromong. Termasuk untuk melestarikan mata air sumber Sungai Brantas di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1992, dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 11190/KPTS-II/2002, di Jawa Timur dibentuk kawasan pelestarian alam yang disebut Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, yang mencakup areal seluas 27.868,30 hektare. Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur melalui Balai Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo mengelola kawasan Tahura R. Soerjo seluas 27.868,30 hektare, dengan rincian Tahura seksi wilayah Malang
(8.928,30 hektare), Tahura seksi wilayah Pasuruan (4.607,30 hektare), dan Tahura seksi wilayah Mojokerto (11.468,10 hektare), dan Tahura seksi wilayah Jombang (2.864,70 hektare).
Hasil pantauan Citra Landsat (foto udara), Mei 2003, terhadap Tahura R. Soerjo seluas 27.868,30 hektare, terdapat kawasan berhutan sekitar 13.387 hektare, dan sisanya 14.000 hektare tidak berhutan lagi (gundul). Dari areal gundul yang dikategorikan lahan kritis itu, 1.500 hektare di antaranya tergolong lahan kritis abadi, yaitu sekitar puncak Gunung Welirang, dan Gunung Arjuno. Dengan demikian, tersisa lahan kritis seluas 12.500 hektare. Penanganan lahan kritis berlangsung setiap tahun melalui kegiatan reboisasi, yang rata-rata per tahun sekitar 1.000 hektare. Sampai 2008, sisa lahan yang masih tergolong kritis berkurang menjadi 8.286 hektare.
Kondisi fisik tiga wilayah Tahura (Malang, Pasuruan, Mojokerto) yang cenderung kering, dan berisi jenis tanaman alang-alang, serta semak belukar, membuat kawasan hutan itu rawan bencana kebakaran saat musim kemarau. Sedangkan Tahura di wilayah Jombang, sebagian besar ditumbuhi tanaman basah, seperti pohon pisang, dan bambu, sehingga aman di musim kemarau.
Hampir setiap tahun, di musim kemarau, kawasan hutan selalu mengalami kebakaran. Jenis tanaman yang terbakar adalah tanaman jati muda, rumput, dan alang-alang. Penyebab bencana kebakaran hutan, hampir 90% karena ulah manusia, seperti api unggun yang tidak dimatikan, puntung rokok milik pendaki yang masih menyala, atau sengaja dibakar oleh masyarakat sekitar untuk membuka lahan. Sisanya, karena faktor alam, seperti letusan gunung atau gesekan ranting-ranting yang kering.
Untuk lahan kritis non-Tahura R. Soerjo, terbagi menjadi dua kategori, yakni lahan kritis dalam kawasan, yaitu dalam kawasan hutan lindung (tidak termasuk areal HPH, ex-HPH, areal bekas tebangan, dan areal hutan mangrove). Dan, lahan kritis luar kawasan, yaitu di luar
kawasan hutan (tidak termasuk lahan kritis areal hutan mangrove di luar kawasan hutan).
Luas kawasan hutan dan perairan Provinsi Jawa Timur berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi, Nomor 417/Kpts-II/1999, mencapai 1.357.337,07 hektare. Data Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, menyatakan sampai dengan 2006, luas lahan kritis dalam kawasan mencapai 165.619,53 hektare, sedangkan lahan kritis luar kawasan seluas 502.405,68 hektare. (RPJMD Jatim 2009 – 2014)
b. Permasalahan Wilayah Pesisir dan laut
Luasnya wilayah pesisir dan keanekaan sumberdaya yang ada, maka wilayah pesisir sebagai daerah ekoton yang labil, perlu ditangani dengan kehati-hatian dan menyeluruh, karena ciri khas pantai yang cukup beraneka ragam. Interaksi nelayan dengan perairan pesisir maupun laut, dengan kegiatan utama eksploitasi hayati laut telah berlangsung sejak lama, yang menyangkut kehidupan masyarakat, dalam aspek ekonomi, sosial dan budaya.
Oleh karena itu untuk mengurangi masalah pesisir dan laut dibutuhkan pendekatan kemasyarakatan yang menyeluruh, terencana, melibatkan fihak terkait, serta konsisten dalam pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi. Dengan meningkatnya pembangunan diwilayah pesisir yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan hidup, utamanya didaerah Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya telah menyebabkan kerusakan ekosistem pesisir dan laut. Sebagai contoh ekosistem mengrove di Jawa Timur saat ini tercatat 37.237 Ha, dengan kondisi rusak seluas 11.124 Ha dan tanah kosong yang ideal untuk ditanami mangrove sluas 5.242 Ha, sedangkan luas hutan mangrove idealnya sebesar 45.000 Ha. Kondisi di Jawa Timur masih kurang optimal. Untuk ekosistem terumbu karang di perairan laut Jawa Timur, pada tahun 2004 kondisi kerusakannya bervariasi antara 30 – 80 % yang tersebar antara lain di wilayah pesisir Situbondo, dan beberpa
pulau kecil diantaranya, Pulau Sabunten, Pulau Sesiil, Pulau Bili Raja, Pulau Raas dan Pulau Mamburit.
c. Permasalahan Pencemaran Air, Tanah dan Udara
Pencemaran lingkungan, baik dalam medium air, udara maupun tanah telah menjadikan kualitas lingkungan hidup menurun. Sumber-sumber pencemar dari industri, domestik, maupun yang lain harus dapat diatasi, dalam bentuk pencegahan maupun pengendalian. Dampak pencemaran yang bersifat akut atau kronis perlu diantisipasi, agar sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Masalah pencemaran ini perlu ditangani secara sistemik, terencana, taat asas dan terus menerus. Upaya pemulihan dan pencegahan juga harus dimulai dari perencanaan hingga evaluasi pelaksanaannya, agar prinsip pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan dalam mencegah dan mengendalikan pencemaran lingkungan.
Pada tahun 2003, tercatat pencemaran air dari industri sebanyak 14 kasus, sedangkan tahun 2004 tercatat 5 kasus ditambah dengan kualitas air sungai yang buruk pada masing-masing Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama bagian hilir. Hal ini juga diakibatkan oleh karena penggunaan pestisida yang tidak terpantau. Berdasarkan indikator kualitas air, khususnya BOD (Biologycal Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand), pada tahun 2004 sungai Brantas mencapai BOD : 18, 83 Mg/l, COD : 39,59 Mg/l yang masing-masing diatas ambang batas baku mutu yang ditetapkan yaitu BOD : 6 Mg/l dan COD :10 Mg/l. Hasil penghitungan secara statisik ( metode STORET) untuk menentukan status kualitas air sungai di DAS Brantas menunjukkan bahwa Kali Brantas di daerah hulu dan tengah (mulai dari jembatan pendem kota batu sampai dengan DAM Lengkong) berada pada kondisi tercemar sedang dan di hilir (mulai dari DAM lengkong hingga pecah menjadi Kali surabaya dan Kali Porong sampai ke muara) tercemar berat.
d. Permasalahan Lingkungan Perkotaan
Permasalahan lingkungan yang paling utama di perkotaan adalah masalah pengelolaan sampah, banjir, emisi kendaraan bermotor, limbah cair domestik, minimnya ruang terbuka hijau (RTH), penataan ruang kota dan sebagainya. Sebagai contoh pengelolaan limbah padat, produksi sampah di Surabaya dikumpulkan pada lokasi-lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir), yaitu : TPA Sukolilo dan TPA Benowo, yang telah menimbulkan konflik sosial. Rata-rata produksi sampah di Surabaya sebesar 8.700 M3/hari atau 2.436 ton/hari, sedangkan produksi sampah di Gresik rata-rata 1.580 M3/hari atau 442,45 ton/hari. Hal ini ditambah dengan sistem pengelolaannya yang kurang tepat, yaitu dengan ‘open dumping’ dan bukan ‘sanitary landfil’ sehingga mengakibatkan umur TPA terbatas, pencemaran lindi cair,dan harus menyediakan lahan TPA baru.
e. Permasalahan Sosial Kemasyarakatan
Pendekatan pada komponen utama Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) yaitu ekonomi, ekologi dan sosial perlu diterapkan mulai tahap perencanaan, hingga operasional dan evaluasinya. Oleh karena masalah pengelolaan lingkungan hidup tidak akan lepas dari aspek sosial, ekonomi, budaya dan tingkat pendidikan karena menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar dan kesejahteraan masyarakat. Aspek kemasyarakatan dilihat dari indikator memburuknya kualitas fisik/infrastruktur perkotaan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat perkotaan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat perkotaan, antara lain disebabkan karena keterbatasan pelayanan kebutuhan dasar perkotaan yang lebih banyak dipicu oleh factor daya tarik ekonomi dalam urbanisasi. Masalah kemasyarakatan ini dapat didekati dengan perubahan paradigma yang berfihak pada pengelolaan lingkungan hidup, untuk kemudian diikuti dengan sosialisasi tentang hak dan kewajiban mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan
sehat, dan diikuti dengan perubahan budaya tingkah laku menuju masyarakat yang hidup baik, sehat dan bertanggung jawab.
Kelima isu tersebut perlu diterjemahkan dalam program dan kegiatan yang mendukung berbagai upaya perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH), dalam rangka menjaga agar pembangunan tetap terlanjutkan, dan sumberdaya alam dan lingkungan dapat lestari guna pemanfaatan yang terkendali, serta membangun sikap ramah dengan lingkungan alam sekitarnya. Pembangunan akan menjadi tak terlanjutkan, apabila para fihak terkait mengabaikan atau meninggalkan wawasan dan kesadaran tentang kelestarian fungsi lingkungan hidup
Bab
PERENCANAAN
DAN PERJANJIAN KINERJA II
Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah , setiap satuan kerja perangkat Daerah, SKPD harus menyusun Rencana Strategis dengan berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Daerah (RPJMD) untuk kurun waktu 5 (lima) tahun.
Sesuai dengan masa jabatan Gubernur Jawa Timur, saat ini telah disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur 2009 – 2014 untuk kurun waktu tahun 2009 – 2014. Dengan demikian maka RENSTRA Badan Lingkungan Hidup harus konsisten dengan RPJMD dimaksud.
RENSTRA Badan Lingkungan Hidup Tahun 2009 – 2014 disusun secara realistis sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan yang ada. Untuk itu dibentuk Tim Penyusun RENSTRA Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2014 dengan Surat Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur tanggal 3 Pebruari 2009 Nomor : 188/40/KPTS/207/2009 Tahun 2009 tentang Tim Penyusun Rencanaan Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 - 2014.
RENSTRA Badan Lingkungan Hidup merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai BLH selama kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhatikan potensi, peluang dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul. RENSTRA BLH Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2014 memuat Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, Kebijakan, Program dan Kegiatan serta ukuran keberhasilan dalam pelaksanaannya.
2.1. Rencana Strategis
RENSTRA BLH Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2014 disusun dengan maksud menyediakan dokumen perencanaan bagi BLH Provinsi Jawa Timur untuk kurun waktu tahun 2009 – 2014.
Sedangkan tujuannya adalah :
1. Sinkronisasi Tujuan, Sasaran, program dan kegiatan BLH dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur.
2. Menyediakan bahan serta pedoman untuk penyusunan Rencana Kinerja (Rencana Kerja Tahunan) BLH Provinsi Jawa Timur dalam kurun waktu tahun 2009 – 2014.
3. Meningkatkan pelaksanaan tugas dan fungsi BLH Provinsi Jawa Timur beserta seluruh unit kerjanya dalam pengendalian dampak lingkungan hidup dengan menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi.
a. Visi
Dalam rangka mewujudkan hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai mana amanah dari Undang Undang Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997 Pasal 5 ayat (1), serta untuk mendukung tujuan pembangunan Jawa Timur saat ini yang pro terhadap wong cilik, maka Visi pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Timur adalah:
”Terwujudnya Lingkungan Hidup Jawa Timur Yang Baik dan Sehat”
b. Misi
Mengingat bahwa permasalahan lingkungan merupakan suatu permasalahan kompleks yang ditimbulkan oleh berbagai aktivitas manusia baik aktifitas yang terorganisir dalam skala besar seperti kegiatan industri dan kegiatan usaha yang lain, maupun permasalahan sosial kemasyarakatan yang tidak terorganisir namun sudah menjadi bagian dari pola hidup masyarakat karena terkait dengan faktor ekonomi dan sosial budaya seperti penebangan hutan secara liar, pembuangan sampah secara sembarangan, emisi kendaraan bermotor dan lain lain, serta lemahnya kontrol dari pihak pemerintah sehingga mengakibatkan adanya pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya maka penyelesaian masalah tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kerja sama dan partisipasi dari semua pihak.
Kualitas lingkungan hidup saat ini relatif masih rendah dan keberadaan sumber daya alam yang mengalami banyak kerusakan maka salah satu cara untuk mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan sehat adalah melalui upaya peningkatan kualitas lingkungan dan pelestarian sumber daya alam. Perumusan Misi Pengelolaan Lingkungan Hidup diarahkan untuk membangun suatu kebersamaan antara pihak pemerintah sebagai regulator, pihak swasta sebagai kontributor pencemaran, pihak akademisi sebagai penghasil teknologi dan solusi ilmiah dan pihak Masyarakat yang sangat diperlukan perannya dalam bentuk perilaku yang berwawasan lingkungan serta sebagai pengendali / pengontrol pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka Misi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur adalah:
”Bersama mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya alam di Jawa Timur”
c. Tujuan
Tujuan Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur telah mengacu kepada RPJMD Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2014 adalah untuk:
“Meningkatkan Kualitas dan Fungsi Lingkungan serta Pengelolaan Sumber Daya Alam”.
d. Matrik Hubungan Visi, Misi dan Tujuan Tabel 2.1
Matrik Hubungan Visi, Misi dan Tujuan
VISI MISI TUJUAN
Terwujudnya
Lingkungan Hidup Jawa Timur Yang Baik dan Sehat Bersama mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya alam di
Jawa Timur
Meningkatkan Kualitas dan Fungsi Lingkungan
serta Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berwawasan Lingkungan
Sumber: BLH Prov. Jatim e. Sasaran
Memperhatikan adanya permasalahan mendasar, potensi, peluang, kebutuhan akan partisipasi semua pihak dan teknologi yang tersedia maka sasaran strategis bidang lingkungan hidup Jawa timur adalah sebagai berikut:
”Meningkatnya Kualitas dan Fungsi Lingkungan serta Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berwawasan Lingkungan”
f. Matrik Hubungan antara Tujuan dan Sasaran Tabel 2.2
Matrik Hubungan Tujuan dan Sasaran
TUJUAN SASARAN
Meningkatkan Kualitas dan Fungsi Lingkungan serta Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berwawasan Lingkungan
1. Meningkatnya Kualitas dan Fungsi Lingkungan melalui pengendalian sumber-sumber pencemar.
2. Meningkatnya Partisipasi dan Peran Serta Masyarakat
didalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
Sumber: BLH Prov. Jatim
g. Indikator Kinerja Utama
Sesuai Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/9/M.PAN/5/2007 tentang pedoman umum penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah, maka Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur menetapkan Indikator Kinerja Utama yang ingin dicapai selama kurun waktu 5 (lima) tahun adalah sebagai berikut :
Tabel 2.3
Tabel Indikator Indikator Utama (IKU) No.
SASARAN STRATEGIS TAHUN DASAR
URAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1
Meningkatkan Kualitas dan Fungsi Lingkungan melalui pengendalian sumber-sumber
pencemar
1 % penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD di Kali Brantas
- 8% 12% 15% 18% 21%
2 % penurunan beban pencemaran parameter kunci COD di Kali Brantas
- 8% 12% 15% 18% 21% 3 Prosentase ketaatan industri ditinjau dari kelengkapan perizinan dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPPL, SPPL, DPL dll) - 15% 30% 45% 60% 75% 2 Meningkatnya Partisipasi dan Peran Serta Masyarakat didalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
1 Jumlah desa / kelurahan yang masuk dalam kriteria desa / kelurahan yang bersih dan lestari (berseri)
- - 38 38 38 38
2 Jumlah sekolah peduli
dan berbudaya (Adiwiyata)
- 10 20 30 75 150
3 Prosentase penanganan tindak lanjut pengaduan masyarakat yang sesuai dengan kewenangan
100% 100% 100% 100% 100% 100%
4 Jumlah Kabupaten / kota yang mendapatkan penghargaan ADIPURA
h. Program
Program adalah Instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, ataukegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. (UU No. 25 Th. 2004 Pasal 1 Ayat (16), PP No. 8 Th. 2008 Pasal 1 Ayat (13)). Dalam RPJMD telah ditetapkan program Prioritas dan Program Penunjang serta arahan kegiatan pokok pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai berikut : PROGRAM PRIORITAS
a. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
Program ini bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah perusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup, baik di darat, perairan tawar, dan laut, maupun udara, sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada:
1. Pengawasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan Industri Hasil Tembakau
2. Penerapan AMDAL bagi Usaha dan Kegiatan Industri Rokok dan Perkebunan Tembakau
3. Penyusunan regulasi pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, pedoman teknis, baku mutu (standar kualitas) lingkungan hidup, dan penyelesaian kasus pencemaran dan perusakan lingkungan secara hukum
4. Pengembangan dan penerapan berbagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup, termasuk tata ruang, kajian dampak lingkungan, dan perijinan
5. Pemantauan Kualitas Udara dan Air Tanah di Perkotaan, Kualitas Air Permukaan, serta Kualitas Air Laut di Kawasan Pesisir
6. Pengawasan Penaatan Baku Mutu Air Limbah, Emisi atau Gas Buang dan Pengelolaan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
7. Peningkatan Kelembagaan Laboratorium Lingkungan, serta Fasilitas Pemantauan Udara (Ambient) di Kota-kota Besar
8. Pengembangan Teknologi yang Berwawasan Lingkungan, termasuk Teknologi Tradisional dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam, Pengelolaan Limbah, dan Teknologi Industri yang Ramah Lingkungan
9. Upaya Konservasi Tanah dan Air pada Budidaya Tanaman Tembakau
10. Sosialisasi tentang Bahaya Pencemaran Udara akibat Merokok pada Masyarakat sejak Dini dan Publikasi Pengelolaan Lingkungan Industri Rokok dan Pendukungnya
11. Pelayanan Pengujian Uji Kualitas Lingkungan
12. Peningkatan Kemampuan Laboratorium Pengawasan Pencemaran Lingkungan oleh Industri Hasil Tembakau dan Pendukungnya. b. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
Program ini bertujuan melindungi sumber daya alam dari kerusakan, dan mengelola kawasan yang sudah ada untuk menjamin kualitas ekosistem agar fungsinya senagai penyangga sistem kehidupan dapat terjaga dengan baik.
Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada:
1. Pengembangan koordinasi kelembagaan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) terpadu.
2. Pengembangan daya dukung dan daya tampung lingkungan
ancaman kepunahan.
4. Pengembangan kemitraan dalam rangka perlindungan dan pelestarian sumber daya alam.
c. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam
Program ini bertujuan Merehabilitasi alam yang telah rusak, dan mempercepat pemulihan cadangan sumber daya alam, sehingga selain berfungsi sebagai penyangga sistem kehidupan, juga memiliki potensi dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada:
1. Rehabilitasi daerah hulu untuk menjamin pasokan air irigasi pertanian, dan mencegah terjadinya erosi dan sedimentasi di wilayah sungai dan pesisir
2. Rehabilitasi ekosistem dan habitat yang rusak di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan, pesisir (terumbu karang dan mangrove) serta pengembangan sistem manajemen pengelolaannya
PROGRAM PENUNJANG
a. Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup melalui tata kelola yang baik
(good environmental governance) berdasarkan prinsip transparansi, partisipasi dan akuntabilitas.
Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada:
1. Penegakan hukum terpadu dan penyelesaian hukum atas kasus perusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
2. Peningkatan pendidikan lingkungan hidup formal dan non formal.
3. Pengembangan program Good Environmental Governance (GEG) secara terpadu
4. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
5. Pendidikan Kemasyarakatan Produktif melalui Peningkatan Sumber Daya Manusia Pengawas Lingkungan
b. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
Program ini bertujuan meningkatkan kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam rangka mendukung perencanaan pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup.
Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada:
1. Peningkatan pelibatan peran masyarakat dalam bidang informasi dan pemantauan kualitas lingkungan hidup
2. Penyebaran dan Peningkatan Akses Informasi kepada Masyarakat, termasuk Informasi Mitigasi Bencana dan Potensi Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
Setelah penetapan program organisasi, maka yang dilalkukan adalah perumusan dan penetapan Kegiatanguna pengukuran masing-masing program sebagai standar keberhasilan yang berorientasi pada hasil yang akan dicapai. Pencapaian kinerja akan dapat diukur dengan baik apabila terdapat satuan pengukuran secara jelas, yang dirumuskan dalam program aksi dan dijabarkan kedalam aktifitas atau kegiatan Instansi Pemerintah yang disusun dengan dimensi waktu tahunan.
2.2. RENCANA KINERJA
Rencana Kinerja Tahunan (RKT) disusun berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Rencana kerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Provinsi Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran Rencana Kinerja Tahun 2014.
Rencana Kinerja tahun 2014 merupakan dokumen yang menyajikan sasaran beserta indikator kinerja dan target yang akan dicapai pada tahun 2013. Rencana kinerja tersebut selanjutnya dituangkan menjadi Penetapan Kinerja yang merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada tahun 2014.
2.2.1. Penetapan Kinerja Tahun 2014
Penetapan Kinerja merupakan tekad dan janji rencana kinerja tahunan yang akan dicapai oleh para pejabat di setiap SKPD, dengan demikian penetapan kinerja ini menjadi kontrak kinerja yang harus diwujudkan oleh para pejabat tersebut sebagai penerima amanah pada akhir tahun nanti akan dijadikan sebagai dasar evaluasi kinerja dan penilaian terhadap pejabat tersebut. Dengan penetapan kinerja ini, diharapkan instansi tidak hanya pandai mendapatkan dan menghabiskan anggaran saja, tetapi juga harus mampu menunjukkan serta mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada pimpinannya dan kepada masyarakat. Penetapan Kinerja sebagai bagian tidak terpisahkan dari sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) ini merupakan upayadalam membangun anajemen pemerintahan yang transparan, partisipatif, akuntabel dan berorientasi hasil, yaitu peningkatan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan rakyat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran Laporan Akuntabilitas Kinerja
Pemerintah Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 ini.
Penetapan kinerja merupakan kesepakatan antara pihak yang menerima tugas dan tanggung jawab kinerja dengan pihak yang memberikan tugas dan tanggungjawab kinerja secara berjenjang dengan mempertimbangkan sumberdaya yang tersedia. Penetapan kinerja ini menjabarkan target kinerja berupa nilai kuantitatif yang dilekatkan pada setiap indikator kinerja, baik pada tingkat sasaran strategis maupun tingkat kegiatan, dan merupakan patokan bagi proses pengukuran keberhasilan organisasi yang dilakukan setiap akhir periode pelaksanaan. Dengan demikian Penetapan Kinerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam waktu 1 (satu) tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumberdaya yang dikelolanya.
Penetapan Kinerja (PK) Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 adalah sebagai berikut:
Tabel 2.3
Penetapan Kinerja Tahun 2014 Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Target Program Anggaran (Rp) Meningkatnya Kualitas dan Fungsi Lingkungan melalui pengendalian sumber-sumber pencemar 1 Prosentase penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD 21% - Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup 23.800.000.000 Prosentase penurunan beban pencemaran parameter kunci COD 21% - Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup
2. Prosentase ketaatan industri ditinjau dari perizinan dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPPL, SPPL, DPl dll) 75% - Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup Meningkatnya Partisipasi dan Peran Serta Masyarakat didalam Pengelolaan Lingkungan Hidup 3. Jumlah desa / kelurahan yang masuk dalam kriteria desa / kelurahan yang bersih dan lestari (berseri) 38 desa / keluraha n - Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam 4. Jumlah sekolah peduli dan berbudaya (Adiwiyata) 75
sekolah - Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan SDA dan LH 5. Prosentase penanganan tindak lanjut pengaduan masyarakat yang sesuai dengan kewenangan 100% - Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan SDA dan LH 6. Jumlah Kabupaten / kota yang mendapatkan penghargaan ADIPURA 38 Kab. /
Kota - Program Pengembangan Kapasitas
Pengelolaan SDA dan LH
Bab
AKUNTABILITAS KINERJA III
Akuntabilitas Kinerja dalam format Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak terlepas dari rangkaian mekanisme fungsi perencanaan yang sudah berjalan mulai dari Perencanaan Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) ataupun Rencana Kinerja Tahunan (RKT), dan Penetapan Kinerja (PK) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pun tidak terlepas dari pelaksanaan pembangunan itu sendiri sebagai fungsi Actuating dari berbagai piranti perencanaan yang sudah dibuat tersebut, hingga kemudian sampailah pada saat pertanggung jawaban pelaksanaan pembangunan yang mengerahkan seluruh sumber daya manajemen pendukungnya.
Pertanggungjawaban kinerja pelaksanaan pembangunan sifatnya terukur, terdapat standar pengukuran antara yang diukur dengan piranti pengukurannya. Pertanggung jawaban pengukuran yang diukur adalah kegiatan, program, dan sasaran, yang prosesnya adalah sejauh mana kegiatan, program, dan sasaran dilaksanakan tidak salah arah dengan berbagai piranti perencanaan yang telah dibuat.
3.1 Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi Badan Lingkungan Propinsi Jawa Timur. Pengukuran dimaksud merupakan hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kenerja kegiatan yang berupa indikator-indikator masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak. Penilaian tersebut tidak terlepas dari proses yang merupakan kegiatan mengolah masukan menjadi keluaran atau penilaian dalam proses penyusunan
kebijakan/program/kegiatan yang dianggap penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan yang dilakukan untuk menilai apakah kebijakan yang telah ditempuh selama tahun 2014 dapat mendukung tercapainya tujuan dan sasaran badan dan pada akhirnya memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian tujuan dan pembangunan Provinsi sebagaimana telah diamanatkan dalam RPJMD.
Adapun pengukuran Kinerja dilakukan dengan cara membandingkan target setiap Indokator Kinerja Sasaran dengan realisasinya. Setelah dilakukan penghitungan akan diketahui selisih atau celah Kinerja (performance gap. Selanjutnya berdasarkan selisih Kinerja tersebut dilakukan evaluasi guna mendapatkan strategi yang tepat untuk peningkatan Kinerja dimasa yang akan datang (performance improvement).
Dalam memberikan penilaian tingkat capaian Kinerja setiap sasaran, menggunakan skala pengukuran 4 (empat) katagori sebagai berikut :
Tabel 3.0
Skala Pengukuran Capaian Sasaran Kinerja Tahun 2014
No. Persentase capaian Kategori capaian
1 Lebih dari 100 % Sangat Baik
2 75 % sampai 100 % Baik
3 55 % sampai 75 % Cukup
4 Kurang dari 55 % Kurang
Pengukuran kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara target dengan realisasi masing - masing indikator sasaran. Tingkat capaian kinerja masing - masing indikator disajikan pada tabel pengukuran kinerja sasaran strategis tahun 2014. Pengukuran kinerja ini digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program atau kegiatan pada tahun 2014 sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam
rangka mewujudkan visi dan misi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. Adapun Tabel Pengukuran Kinerja disajikan sebagai berikut :
Tabel 3.1
Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis Tahun 2014
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Tahun. 2013 Target Th. 2014 Realisasi Th. 2014 Capaian Th. 2014 Meningkatnya Kualitas dan Fungsi Lingkungan melalui pengendalian sumber-sumber pencemar 1. % penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD DAS Brantas 3.60 Mg/Lt 21 % (1.07 mg/lt) Dari tahun 2010 (5.12 mg/lt) 4.27 mg/lt Dengan penurunan sebesar 0.85 mg/lt dari tahun 2010 24.68% II % penurunan beban pencemaran parameter kunci COD DAS Brantas 10.92 Mg/Lt 21 % (3.77) (mg/l) dari tahun 2010 (17.94) 12.45 mg/lt. dengan penurunan sebesar 5.49 mg/ltr dari tahun 2010 30.61% III Prosentase ketaatan industri ditinjau dari perizinan dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPPL, SPPL, DPl dll) 212 75% Atau 200 perusahaan dari 267 perusahaan 73 % atau 195 dari 267 perusahaan 97.5 % Meningkatnya Partisipasi dan Peran Serta Masyarakat didalam Pengelolaan Lingkungan Hidup I Jumlah desa / kelurahan yang masuk dalam kriteria desa / kelurahan yang bersih dan lestari (berseri) 80 desa / keluraha n 38 75 197 % II Jumlah sekolah peduli dan berbudaya (Adiwiyata) 73 sekolah 150 205 136,67%
III Prosentase penanganan tindak lanjut pengaduan masyarakat yang sesuai dengan kewenangan 100 100 100 100% IV Jumlah Kabupaten / kota yang mendapatkan penghargaan ADIPURA 37 Kab. / Kota 38 30 78.95%
Sumber : BLH Prov. Jatim
3.2 EVALUASI DAN ANALISIS CAPAIAN KINERJA
Evaluasi kinerja dilakukan terhadap pencapaian setiap indikator kinerja kegiatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan atau kegagalan dalam pelaksanaan suatu program atau kegiatan dengan membandingkan prosentase capaian Indikator Kinerja Utama pada tahun 2014 dengan tahun sebelumnya. Evaluasi bertujuan agar diketahui pencapaian realisasi, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian misi, agar dapat dinilai dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program atau kegiatan di masa yang akan datang.
Pengukuran kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2014 menggunakan metode yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor : 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Hasil pengukuran kinerja beserta evaluasi setiap tujuan dan sasaran Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2014 disajikan sebagai berikut :
Tabel 3.2
Sasaran Strategis Tahun 2014
Sasaran : Meningkatnya Kualitas dan Fungsi Lingkungan melalui
pengendalian sumber-sumber pencemar serta Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berwawasan Lingkungan
Sumber : BLH Prov. Jatim
Keberhasilan dari sasaran strategis ini diukur melalui 2 (dua) indikator kinerja, yaitu:
1. Persentase penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD dan COD DAS Brantas;
2. Prosentase ketaatan industri ditinjau dari perizinan dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPPL, SPPL, DPl dll)
Sedangkan upaya yang dilakukan untuk merealisasikannya didukung oleh 5 (lima) program kegiatan, yaitu:
1. Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup 2. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
3. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam 4. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam
dan Lingkungan Hidup
5. Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup.
Adapun capaian indicator kinerja, target dan realisasinya tahun 2014 selengkapnya dapat dijelaskan dibawah ini:
a) Persentase (%) Penurunan Beban Pencemaran Parameter Kunci BOD dan COD DAS Brantas
BOD dan COD sebagai indikator kunci perubahan kualitas air sungai di DAS Brantas. Kedua parameter ini dipandang dapat mewakili keterukuran cemaran material organik yang dihasilkan oleh berbagai jenis sumber pencemar seperti: domestik, industri, pertanian, dan kegiatan usaha lain. Semakin besar nilai BOD dan COD berarti semakin besar pula
tingkat pencemarannya. Berdasarkan PP 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, mutu air diklasifikasikan dalam empat kelas yaitu kelas I, II, III, dan IV. Baku mutu untuk parameter BOD untuk kelas I sampai dengan IV berturut turut adalah 2, 3, 6, dan 12 mg/l sedangkan untuk COD berturut turut adalah 10, 25, 50, dan 100 mg/l. Dengan demikian, pemantauan terhadap parameter BOD dan COD dilakukan secara periodik di DAS Brantas dari hulu sampai dengan hilir untuk mengetahui tingkat kualitas air sungai dari waktu ke waktu.
Tabel 3.3 dibawah ini akan menggambarkan capaian kinerja BLH Prov. Jatim selama 5 (lima) tahun 2010 – 2014 terhadap target Penurunan Beban Pencemaran Parameter Kunci BOD dan COD DAS Brantas yang sudah ditetapkan dan tertuang didalam RENSTRA BLH Prov. Jatim 2009 – 2010.
Tabel 3.3
Persentase (%) Penurunan Beban Pencemaran Parameter Kunci BOD dan COD DAS Brantas 2010 - 2014 No. Indikator Kinerja
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 1. Persentase penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD DAS Branta Target (%) 8 12 15 18 21 Realisasi (%) 8 21.87 23.43 37.69 24.68 Konsentrasi (mg/lt) 5.12 4.41 4.33 3.6 4.27 2. Persentase penurunan beban pencemaran parameter kunci COD DAS Brantas Target 8 12 15 18 21 Realisasi 8 13.88 23.97 39.13 30.61 Konsentrasi (mg/lt) 17.94 15.45 13.64 10.92 12.45 Sumber : hasil analisa