• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONEKSI MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI GENDER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONEKSI MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI GENDER"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING ISBN : 978-623-94501-0-6

KONEKSI MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI GENDER

Rizki Ainun Fitri

Pendidikan Matematika UM. Purwokerto

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kemampuan koneksi matematika dalam memecahkan masalah matematika ditinjau gender. Pemilihan subjek laki-laki dan perempuan berdasarkan tingkat kemampuan yang setara dilihat dari tes kemampuan matematika dan wawancara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana data yang diperoleh berupa kata-kata tertulis atau lisan dan perilaku siswa yang dapat diamati. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan pemberian tes pemahaman konsep dan wawancara. Dalam penelitian ini diamati siswa laki-laki dan perempuan SMPN 01 Mandiraja kelas VIII. Peneliti melakukan wawancara pada kedua subjek penelitian. Hasilnya berupa kemampuan koneksi matematika siswa SMP kelas VIII pada materi aljabar dan geometri.

Kata kunci: matematika, koneksi matematis, gender

A. PENDAHULUAN

Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan disetiap jenjang pendidikan. Matematika memberikan nilai yang sangat penting bagi siswa sekolah dasar maupun sekolah menegah pertama, karena memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan intelektual demi menghadapi perubahan yang semakin maju. Selain itu matematika juga merupakan mata pelajaran yang mutlak harus ada di sekolah. Dilihat dari kegunaannya matematika sangatlah penting karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa matematika merupakan dasar dari semua ilmu teknologi di dunia (Hudoyo, 1988). Menurut National Council of Teacher of Mathematics/NCTM (2000:67), terdapat lima kemampuan dasar matematika yang merupakan standar yakni pemecahan masalah (problem solving), penalaran dan bukti (reasoning and proof), komunikasi (comunication), koneksi (connections), dan representasi (representation). Adapun keterkaitan matematika dalam kehidupan sehari-hari yaitu dicontohkan dengan etmomatematika pada penanggala jawa. Masyarakat Jawa mempunyai budaya ramalan dalam penanggalan Jawa. Berdasarkan perhitungan pada penanggalan Jawa yang dipakai dalam kegiatan budaya dan aktivitas sehari-hari, terdapat cara-cara menghitung aritmetika yang perlu diungkap dalam perhitungan menentukan hari dan pasaran, kegiatan mengadakan hajatan atau selamatan memperingati upacara hari kematian dan upacara kelahiran, serta perhitungan menentukan hari dan tanaman yang tepat dalam bercocok tanam sebagai bahan pembelajaran aritmetika sederhana.

Pembelajaran matematika di sekolah erat kaitannya dengan pencapaian kemampuan-kemampuan matematika itu sendiri. Standar kemampuan koneksi dalam pembelajaran matematika yaitu mengenal dan menggunakan hubungan diantara ide-ide matematis, memahami bagaimana ide matematika yang saling berhubungan dan membangun ide satu sama lain untuk menghasilkan keseluruhan yang saling terkait, mengenal dan menerapkan ilmu matematika di luar konteks matematika. Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan koneksi matematis

(2)

PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6

antar konteks eksternal di luar matematika dengan matematika saling keterkaitan satu sama lain. Materi dalam matematika memiliki keterkaitan antara satu unit dengan unit yang lain. Dan yang penting juga prestasi peserta didik. Prestasi belajar matematika yang belum optimal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung. Faktor-faktor ini pada umumnya dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern berhubungan dengan segala sesuatu yang ada pada diri siswa yang menunjang pembelajaran seperti intelegensi, bakat dan kemampuan motorik panca indra. Kemampuan koneksi matematika merupakan bagian penting yang harus mendapatkan penekanan di setiap jenjang pendidikan. Tanpa kemampuan koneksi matematika maka siswa wajib mengingat terlalu banyak konsep dan prosedur matematika yang saling terpisah.

Kemampuan koneksi matematis adalah kemampuan yang mengharuskan siswa dapat memperlihatkan hubungan matematika secara internal dan eksternal. Dwirahayu dan Firdausi (2016) mengemukakan bahwa koneksi matematis mencakup koneksi secara internal dan koneksi secara eksternal. Koneksi matematis secara internal adalah hubungan antara topik atau pokok bahasan dengan topik atau pokok bahasan lainnya dalam matematika. Koneksi matematis secara eksternal adalah hubungan matematika dengan disiplin ilmu lain dan hubungan matematka dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan koneksi atau mengaitkan antara satu hal dengan yang lainnya jika ia telah dapat melakukan hal-hal berikut: 1) menghubungkan antara topik atau pokok bahasan matematika dengan topik atau pokok bahasan matematika yang lainnya, 2) mengaitkan berbagai topik atau pokok bahasan dalam matematika dengan bidang lain dan atau hal–hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (Muchlis, Komara, Kartiwi, Nurhayati, Hendriana, & Hidayat, 2018; Wahyu, 2014). Demikian Kemampuan Koneksi Matematik ini akan mempermudah siswa dalam menyusun model matematik yang juga menggambarkan hubungan antar konsep dan data atau suatu masalah atau situasi yang diberikan, berdasarkan analisis terhadap beberapa tulisan.

Dalam aktivitas sehari-hari kita akan selalu berhubungan dengan matematika, mulai dari hal yang sering kita lakukan yaitu proses transaksi jual dan beli sampai hal yang kompleks seperti bagaimana seorang arsitek membangun sebuah menara agar berdiri tegak dan kokoh. Matematika merupakan dasar dari semua ilmu teknologi di dunia (Musriliani, Marwan & Ansari, 2015). Dengan perkataan lain, matematika memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan ilmu pengetahuan lainnya yang berfungsi untuk mengatasi persoalan ekonomi, sosial, dan alam. Penelitian mengenai kemampuan koneksi matematis telah dilakukan oleh Lestari, Rohaeti, dan Purwasih (2018) yang mengemukakan bahwa kemampuan koneksi matematis siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang sisi datar memiliki kemampuan yang masih rendah terutama siswa yang memiliki kemampuan dasar yang rendah pula dengan rata-rata 57%. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada variabel yang diteliti. Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari juga seperti halnya yang dilakukan masyarakat dalam aktivitas jual beli, membangun rumah, mengukur atau menimbang, menentuan pola-pola geometri yang serasi (memola), dan sebagainya sering kali sangat berbeda dengan matematika yang dipelajari di sekolah. Dalam pandangan ini, Orey (2000) menegaskan, "mungkin Ethnomathematics ditandai sebagai alat untuk bertindak di dunia" dengan demikian etnomatematika mem-berikan wawasan peran sosial matematika dalam bidang akademik.

(3)

PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6

B. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Peneliti menggunakan penelitian ini karena untuk mengetahui kemampuan koneksi matematis siswa laki-laki maupun perempuan didalam kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 01 Mandiraja. Subjek dalam peneltian ini dengan cara memilih sampel satu kelas VIII A. Proses pemilihan subjek penelitian ini dimulai dengan penetapan kelas subjek dan berkonsultasi dengan guru mata pelajaran dikelas.

Tes tulis dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengerjakan soal. Dan selanjutnya, wawancara dilaksanakan untuk menggali informasi lebih dalam kepada siswa terkait dengan soal yang telah dikerjakan. Peneliti memilih subjek laki-laki dan perempuan berkemampuan tinggi yang relatif sama serta komunikatif dengan maksud kemampuan tinggi telah memiliki konsep dasar yang kuat sehingga mampu untuk dikaitkan dengan ide yang lain maupun dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari atau dengan pelajaran yang lain. Adapun alasan lain karena koneksi matematika dan pemecahan masalah membutuhkan kemampuan yang tinggi, sehingga memudahkan peneliti dalam mendeskripsikan kemampuan koneksi matematika pada kedua subjek penelitian tersebut.

Selain peneliti sebagai instrumen dalam penelitian ini, peneliti dibantu dengan instrumen pendukung, yaitu (1) instrumen tes kemampuan matematika, (2) instrumen pedoman wawancara. Penentuan subjek penelitian menggunakan TKM. Peneliti menganalisis hasil TKM kemudian mengelompokkan siswa berdasarkan gender, yaitu masing-masing siswa laki-laki dan siswa perempuan. Selanjutnya dianalisis kembali dari siswa laki-laki dan perempuan yang mempunyai kemampuan setara. Data hasil tes pemecahan masalah dan hasil wawancara dianalisis dengan pendekatan kualitatif. C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan koneksi matematika siswa SMP 01 Mandiraja kelas VIII dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari gender. Berikut ini adalah hasil penelitian yang telah peneliti lakukan:

1. Profil Kemampuan Koneksi Matematika Siswa Perempuan dalam Memecahkan Masalah Matematika Pada langkah memahami masalah, kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan antar ide-ide matematika yang diketahui. Adapun indikator ini dideskripsikan bahwa subjek menyebutkan apa yang diketahui dalam soal kemudian menggambar sehingga membentuk segitiga siku-siku dan menuliskan panjang setiap sisi-sisi segitiga sesuai dengan soal. Kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan ide-ide matematika yang diketahui dengan yang ditanya. Adapun indikator ini dideskripsikan bahwa subjek mengemukakan bahwa dengan mengartikan sendiri apa yang ditanyakan pada soal dengan menghubungakan pada gambar yang telah dibuat, dengan pengertian bahwa jarak terdekat itu adalah tinggi dari segitiga siku-siku dengan hipotenusa sebagai alasnya. Penjelasan tersebut didunkung oleh Maccoby dan Jacklyn dalam Amir bahwa perempuan mempunyai kemampuan verbal lebih baik daripada laki-laki.

Pada langkah merencanakan pemecahan masalah, dalam Kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan ide-ide matematika yang dibuat dalam rencana. Pada langkah memeriksa kembali, dalam kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan apakah yang diperoleh sudah sesuai dengan

(4)

PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6

pertanyaan masalah, ide-ide matematika dan strategi. Adapun indikator ini dideskripsikan subjek menghubungkan hasil pengerjaannya sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan dalam soal. Untuk mengecek hasil pekerjaan, subjek mengecek dari langkah awal, termasuk rumus-rumus yang digunakan apakah sudah benar, dan menghubungkan antara pertanyaan dengan hasil ataupun pertanyaan dengan gambar. Penjelasan tersebut didukung oleh Amir yang berpendapat bahwa perempuan unggul dalam aspek ketekunan, ketelitian, dan kecermatan.

Pada langkah melaksanakan pemecahan masalah, Kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan ide-ide matematika dengan rencana yang ia lakukan. Adapun indikator ini dideskripsikan subjek memecahkan soal sesuai dengan menghubungkan ide-ide matematika yang direncanakan sebelumnya. Subjek menjelaskan langkahlangkah dalam menemukan jawaban dengan disertai alasan-alasanya dalam mengaitkan ide-ide matematika.

Langkah selanjutnya mencari nilai variabel yang belum diketahui dengan mengaitkan ide-ide matematika yang sudah dipahami subjek melaui gambar. Subjek menjelaskan bahwa untuk mencari variabel menggunakan rumus phytagoras sehingga didapatkan persamaan kuadrat.

Pada langkah memeriksa kembali, dalam kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan apakah yang diperoleh sudah sesuai dengan pertanyaan masalah, ide-ide matematika dan strategi. Adapun indikator ini dideskripsikan subjek menghubungkan hasil pengerjaannya sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan dalam soal.

2. Profil Kemampuan Koneksi Matematika Siswa Laki-laki dalam Memecahkan Masalah Matematika Pada langkah memahami masalah, dalam kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan antar ideide matematika yang diketahui. Adapun indikator ini dideskripsikan bahwa subjek menyebutkan jarak-jarak yang sudah diketahui dalam soal kemudian menggambar sehingga membentuk segitiga siku-siku. Sedangkan kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan antar ide-ide matematika yang diketahui dengan yang ditanya. Adapun indikator ini dideskripsikan bahwa subjek membuat gambar terlebih dahulu untuk memudahkan apa yang ditanyakan pada soal itu, kemudian mengartikan bahwa jarak yang ditanyakan itu adalah tinggi segitiga lainnya jika sisi miring sebagai alas segitiga.

Pada langkah merencanakan pemecahan masalah, dalam kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan ide-ide matematika yang dibuat dalam rencana. Adapun indikator ini dideskripsikan bahwa subjek berdasarkan dari konsep yang sudah dikumpulkan subjek menghubungkan dengan konsep lainnya sehingga dapat dibuat sebuah rencana untuk menyelesaikan masalah.

Pada langkah melaksanakan pemecahan masalah, dalam kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan ide-ide matematika dengan rencana yang ia lakukan. Adapun indikator ini dideskripsikan subjek memecahkan soal sesuai dengan menghubungkan ide-ide matematika yang direncanakan sebelumnya. Langkah selanjutnya mencari nilai variabel yang belum diketahui dengan mengaitkan konsep-konsep yang sudah dipahami subjek melaui gambar. Subjek menjelaskan bahwa untuk mencari variabel menggunakan rumus phytagoras sehingga didapatkan persamaan kuadrat. Selanjutnya nilai variabel yang memenuhi persamaan kuadrat tersebut. Untuk mencari nilai variabel yang memenuhi. Subjek menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari bahwa tidak ada nilai jarak

(5)

PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6

yang negatif. Subjek menjelaskan bahwa setelah nilai variabel diketahui, selanjutnya mengsubtitusikan nilai variabel kedalam sisi-sisi segitiga sehingga didapat sisi segitiga tanpa mengunakan variabel.

Pada langkah memeriksa kembali, dalam kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan apakah yang diperoleh sudah sesuai dengan pertanyaan masalah, ide matematika dan strategi. Adapun indikator ini dideskripsikan subjek menghubungkan hasil pengerjaannya sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan dalam soal. Untuk mengecek hasil pekerjaan, subjek mengecek dari langkah awal, termasuk perhitungan-perhitungan yang digunakan apakah sudah benar, dan menghubungkan antara pertanyaan dengan hasil yang didapat. Amir juga menjelaskan bahwa laki-laki itu lebih unggul dalam hal matematika.

D. SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, peneliti membuat simpulan tentang kemampuan koneksi matematika siswa laki-laki dan perempuan dalam menyelesaikan masalah matematika, sebagai berikut: 1. Kemampuan koneksi siswa perempuan SMP dalam memecahkan masalah matematika didapatkan hasil sebagai berikut: (1) Pada langkah memahami masalah, SP menghubungkan antara ide-ide yang diketahui dengan cara menghubungkan apa yang diketahui dalam soal dengan membentuk segitiga siku-siku dan menuliskan panjang setiap sisi-sisi segitiga sesuai dengan soal. SP juga mengubungkan ide-ide yang diketahui dengan yang ditanya bahwa dengan cara menghubungkan sendiri apa yang ditanyakan pada soal dengan gambar yang telah dibuat dan menghubungkan jarak terdekat itu adalah tinggi dari segitiga siku-siku dengan hipotenusa sebagai alasnya. (2) Pada langkah merencanakan pemecahan masalah, SP menghubungkan ide-ide matematika yang dibuat dalam rencana dengan cara menghubungkan ide matematika dengan ide matematika lainnya sehingga dapat dibuat sebuah rencana untuk menyelesaikan masalah. Pertama subjek membuat gambar segitiga siku-siku berdasarkan soal yang ada, kemudian menuliskan sisisisi yang diketahui dengan yang masih menggunakan variabel. (3) Pada langkah melaksanakan pemecahan masalah, subjek memecahkan soal sesuai dengan menghubungkan ide-ide matematika yang direncanakan sebelumnya. Subjek menjelaskan langkah-langkah dalam menemukan jawaban dengan disertai alasanalasanya dalam mengaitkan ide-ide matematika. Langkah selanjutnya mencari nilai variabel yang belum diketahui dengan mengaitkan konsepkonsep yang sudah dipahami subjek melaui gambar. Subjek menjelaskan bahwa untuk mencari variabel menggunakan rumus phytagoras sehingga didapatkan persamaan kuadrat. Selanjutnya nilai variabel yang memenuhi persamaan kuadrat tersebut. Untuk mencari nilai variabel yang memenuhi. Subjek menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari bahwa tidak ada nilai jarak yang negatif. (4) Pada langkah memeriksa kembali, dalam kemampuan koneksi matematika subjek menghubungkan hasil pekerjaan subjek sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan dalam soal. Untuk mengecek hasil pekerjaan, subjek mengecek dari langkah awal, termasuk rumus-rumus yang digunakan apakah sudah benar, dan menghubungkan antara pertanyaan dengan hasil ataupun pertanyaan dengan gambar.

2. Kemampuan koneksi siswa laki-laki SMP dalam memecahkan masalah matematika didapatkan hasil sebagai berikut: (1) Pada langkah memahami masalah dalam kemampuan koneksi matematika, subjek menghubungkan jarak-jarak yang sudah diketahui dalam soal kemudian menggambar sehingga membentuk segitiga siku-siku. Sedangkan kriteria koneksi matematika dengan indikator menjelaskan hubungan ide-ide matematika yang diketahui dengan yang ditanya. Adapun indikator ini dideskripsikan bahwa subjek membuat gambar terlebih dahulu untuk memudahkan apa yang ditanyakan pada soal itu, kemudian mengartikan bahwa jarak yang ditanyakan itu adalah tinggi segitiga lainnya jika sisi miring sebagai alas segitiga. (2) Pada langkah merencanakan pemecahan masalah dalam kemampuan koneksi matematika, subjek menghubungkan ide matematika dengan dengan ide matematika lainnya

(6)

PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6

sehingga dapat dibuat sebuah rencana untuk menyelesaikan masalah. menyatakan bahwa menjelaskan hubungan ide-ide matematika yang dibuat dalam rencana yaitu mencari nilai variabel terlebih dahulu kemudian mengsubtitusikan nilai variabel ke dalam sisi segitiga siku-siku dan mencari tinggi segitiga lainnya dengan sisi miring sebagai alasnya. Subjek juga menjelaskan hubungan materi yang akan digunakan dalam memecahkan masalah yaitu mencari nilai variabel dengan jarak-jarak yang terletak pada segitiga siku-siku. (3) Pada langkah melaksanakan pemecahan masalah dalam kemampuan koneksi matematika, subjek menghubungkan ide-ide matematika yang direncanakan sebelumnya. Subjek menjelaskan langkah-langkah dalam menemukan jawaban dengan disertai alasanalasanya dalam mengaitkan ide-ide matematika. Langkah pertama yang dilakukan membuat simbol arah mata angin kemudian menggambar segitiga siku-siku sesuai dengan yang diperintahkan oleh soal dan mencari maksud apa yang ditanyakan dengan bantuan gambar. Langkah selanjutnya mencari nilai variabel yang belum diketahui dengan mengaitkan konsepkonsep yang sudah dipahami subjek melaui gambar. Subjek menjelaskan bahwa untuk mencari variabel menggunakan rumus phytagoras sehingga didapatkan persamaan kuadrat. Selanjutnya nilai variabel yang memenuhi persamaan kuadrat tersebut. Untuk mencari nilai variabel yang memenuhi. Subjek menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari bahwa tidak ada nilai jarak yang negatif. Subjek menjelaskan bahwa setelah nilai variabel diketahui, selanjutnya mengsubtitusikan nilai variabel kedalam sisi-sisi segitiga sehingga didapat sisi segitiga tanpa mengunakan variabel. Disini subjek menghubungkan informasi yang baru dengan informasi yang sebelumnya. Setelah itu subjek mencari tinggi segitiga dari bantuan gambar subjek menghubungkan luas segitiga dengan tinggi segitiga yang lainnya sehingga didapat nilai dari tinggi atau yang ditanyakan dalam soal tersebut. (4) Pada langkah memeriksa kembali dalam kemampuan koneksi matematika, subjek menghubungkan hasil pengerjaannya sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan dalam soal. Untuk mengecek hasil pekerjaan, subjek mengecek dari langkah awal, termasuk perhitunganperhitungan yang digunakan apakah sudah benar, dan menghubungkan antara pertanyaan dengan hasil yang didapat

DAFTAR PUSTAKA

Agustina Leni Ofta, Sunardi, Susanto. 2016. Etnomatematika pada Penanggalan Jawa Terkait Aritmetika di Desa Yosomulyo, Vol.7 No. 1 Tahun 2016. 24.

Hadin, Muhammad Pauji Helmy, Arifin Usman. 2018. Analisis Kemampuan Koneksi Matematik Siswa MTs Ditinjau dari Self-Regulated Learning, Vol.1 No. 4 Tahun 2018. 658.

Mafajatul Aliyah Ita , Yuhana Yuyu, and Anwar Hadi Firdos Santosa Cecep. 2019. Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Ditinjau dari Kemampuan Awal dan Gender, Vol.6 No. 2 Tahun 2019. 162.

Musriliani Cut, Marwan, and B.I. Anshari. 2015. Pengaruh Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) terhadap Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMP Ditinjau dari Gender, Vol.2 No. 2 Tahun 2015. 49-50.

Wahyuni Indah. 2016. Eksplorasi Etnomatematika Masyarakat Pesisir Selatan Kecamatan Puger Kabupaten Jember, Vol.15 No. 2 Tahun 2016. 230.

Wahyuni Rahmi, Halimah. 2020. Pengaruh Model Pembelajaran Gallery Walk Terhadap Kemampuan Koneksi Matematis Siswa pada Materi Operasi Aljabar di Kelas VII SMPN 1 Peusangan, Vol.VIII No.1 Januari 2020. 8

Widyawati Santi. 2016. Pengaruh Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Gaya Belajar pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar Siswa Kelas IX SMP di Kota Metro, Vol.1 No. 1 Tahun 2016. 49.

(7)

PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6

Widyawati Santi. 2016. Pengaruh Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Gaya Belajar pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar Siswa Kelas IX SMP di Kota Metro. Vol.1 No.1 Juni 2016. 50

Referensi

Dokumen terkait

Masih terkait dengan kegiatan pemanfaatan kawasan mangrove, Kelompok Pantai Lestari memiliki peluang untuk mengadakan kerjasama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Keunggulan kegiatan ekonomi dalam pengembangan perkebunan kabupaten Kampar meliputi : a) memiliki akses (kedekatan jarak) dengan kota Pekan baru ibu kota propinsi Riau, Bandara

Dari bentuk trayektori arus terlihat bahwa kondisi arus pada saat pasang maupun surut di perairan Teluk Lasolo dominan berarah tenggara dengan kecepatan arus pada saat

Dalam metode ini kaidah-kaidah dapat disajikan dengan cara perumusan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis, dan perumusan

Implementasi Peraturan Walikota Semarang Nomor 7 Tahun 20103 tentang Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif (Studi di Puskesmas Pegandan Kec. Gajahmungkur Kota

Adapun faktor yang mempengaruhi Lingkungan internal organisasi yaitu (1). Faktor-faktor internal organisasi yang mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi antara

mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan atau prosedur”.Menurut Sutrisno ( 2009 : 90 ), “Disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang

Pada langkah terakhir, permukaan energi potensial minimum diperoleh pada variasi posisi hidrogen molekul pada sistem grafit terinterkalasi atom alkali, dan menunjukkan