Analysis 1. Kurikulum 2. Siswa 3. Instruksional Design 1. Penyusunan outline 2. Penyusunan sistematika 3. Instrumen Penilaian Development 1. Pra penulisan 2. Penulisan Draft 3. Penyuntingan 4. Revisi 5. Produksi & distribusi
6. Uji coba terbatas
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Penyusunan dan Pengembangan Modul 1. Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian R&D (Research and Development) yaitu penelitian untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektivan produk tersebut (Sugiyono, 2008: 412). Produk yang dihasilkan melalui penelitian ini berbentuk modul pengayaan. Pengembangan modul pengayaan menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation) yang dibatasi hingga tahap Development atau Pengembangan. Untuk memperjelas langkah kegiatan penulisan maka digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Proses penyusunan naskah modul pengayaan dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2017, sedangkan uji coba terbatas dilaksanakan pada bulan Mei 2017 bertempat di SMA Negeri 1 Purworejo.
3. Objek dan Subjek Penelitian
Objek penelitian berupa bahan ajar yang diproduksi yaitu modul pengayaan pertumbuhan dan perkembangan anggrek Rhynchostylis secara in vitro.
Subjek dalam penelitian ini terdiri dari dosen ahli materi, dosen ahli media, guru biologi SMA dan siswa SMA Kelas XII IPA yang lulus KKM pada materi pertumbuhan dan perkembangan sebagai penilai kualitas media yang dibuat.
4. Prosedur Penelitian
Penyusunan modul pengayaan dilakukan melalui langkah pengembangan ADDIE sebagai tindak lanjut pembuatan bahan ajar yaitu:
a. Tahap Analisis (Analysis)
1) Analisis Potensi Hasil Penelitian
Menurut Suhardi (2008: 14) hasil penelitian biologi dapat digunakan sebagai sumber belajar dengan melewati tahap-tahap yaitu:
a) Identifikasi proses dan produk penelitian
b) Seleksi dan modifikasi hasil penelitian sebagai sumber belajar biologi
c) Penerapan dan pengembangan hasil penelitian sebagai sumber belajar biologi
2) Analisis Kurikulum
Analisis kurikulum meliputi analisis berdasarkan Kurikulum 2013 yaitu menganalisis Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
3) Analisis Siswa
Analisis siswa meliputi analisis kebutuhan siswa terkait materi yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian, sehingga produk yang dihasilkan dapat diketahui tingkat kepentingannya.
4) Analisis Instruksional
Analisis instruksional meliputi serta penjabaran Kompetensi Dasar (KD) ke dalam indikator-indikator yang akan dicapai siswa.
b. Tahap Perencanaan (Design)
Tahap ini dilakukan setelah tahap analisis selesai. Dalam tahapan ini meliputi:
1) Penyusunan kerangka dasar (outline) modul pengayaan 2) Penyusunan sistematika dari modul, dan
3) Perencanaan alat evaluasi.
c. Tahap Pengembangan (Development)
Tahap pengembangan dapat diartikan sebagai proses mewujudkan desain yang telah dibuat. Tahap ini meliputi pra penulisan, penyusunan draft, penyuntingan, revisi, produksi dan distribusi.
1) Tahap Pra Penulisan
Tahap pra penulisan, dilakukan dengan cara pengemasan informasi melalui referensi yang akan digunakan sebagai kegiatan modul.
2) Tahap Penyusunan Draft
Tahap penyusunan draft meliputi penentuan kriteria isi modul, teknik penulisan, penulisan materi, dan pengecekan uraian modul dengan tujuan pembelajaran.
3) Tahap Penyuntingan
Tahap penyuntingan merupakan proses penyuntingan berupa validasi draft modul yang berisi penilaian dan masukan dari ahli media, ahli materi dan guru biologi yang yang kompeten sesuai dengan materi modul yang dikembangkan.
4) Tahap Revisi
Tahap revisi merupakan tahap yang dilakukan setelah proses penyuntingan selesai, yaitu berupa hasil validasi draft modul yang berisi masukan dari ahli media dan ahli materi dan guru biologi. Tahap ini bertujuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan bagian-bagian modul sebelum diuji coba terbatas.
5) Produksi dan Distribusi
Tahap ini merupakan tahap yang dilakukan setelah proses revisi selesai. Modul dicetak dan diperbanyak untuk dilakukan uji coba terbatas kepada siswa kelas XII SMA.
6) Uji coba terbatas
Uji coba modul dilakukan kepada siswa SMA kelas XII dengan memberikan penilaian tanggapan modul dan intrumen soal untuk
mengetahui peningkatan pemahaman siswa setelah menggunakan modul.
5. Teknik Sampling
a. Syarat-syarat atau kriteria sebagai ahli (expert judgement)
1) Ahli Media
Ahli media adalah dosen pendidikan biologi yang berkompeten dalam bidang media pembelajaran biologi dan bahan ajar serta memiliki jenjang pendidikan minimal S2.
2) Ahli Materi
Ahli materi adalah dosen pendidikan biologi yang berkompeten dalam materi pertumbuhan dan perkembangan, memiliki kompetensi dalam bidang kultur in vitro serta memiliki jenjang pendidikan minimal S2. 3) Guru Biologi
Guru biologi memiliki kriteria yaitu harus memiliki pengalaman mengajar kelas XII MIPA minimal selama rentang lima tahun.
b. Syarat-syarat atau kriteria sebagai responden
Responden atau pemberi tanggapan merupakan siswa yang telah tuntas/lulus Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam pembelajaran materi Pertumbuhan dan Perkembangan.
6. Instrumen Penelitian
a. Instrumen Kelayakan Media oleh Ahli (expert judgement)
1) Ahli Materi.
Angket penilaian untuk ahli materi digunakan untuk mengetahui kebenaran konsep/meteri.
2) Ahli Media
Angket penilaian untuk ahli media digunakan untuk mengetahui kelayakan modul pengayaan sebagai bahan ajar.
3) Guru Biologi
Angket penilaian untuk guru biologi digunakan untuk mengetahui kelayakan modul pengayaan sebagai bahan ajar dan mengetahui tanggapan guru terhadap modul pengayaan yang dibuat.
b. Instrumen Tanggapan Siswa.
Angket tanggapan untuk siswa digunakan untuk mengetahui mengetahui tanggapan/respon siswa terhadap modul pengayaan yang dibuat. Angket penilaian menggunakan empat alternatif jawaban, yaitu kategori Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).
c. Instrumen Pengukuran Peningkatan Pemahaman
Instrumen pengukuran untuk mengetahui bagaimana dampak penggunaan modul pengayaan terhadap peningkatan pemahaman materi pertumbuhan perkembangan. Pengukuran peningkatan pemahaman dilakukan dengan melakukan pretest dan posttest. Instrumen ini terdiri dari 30 butir soal tes tertulis dan menggunakan alternatif jawaban pilihan ganda.
7. Validasi Instrumen
Berdasarkan Subali (2010: 41) suatu alat ukur/instrumen dinyatakan valid/sahih apabila alat ukur tersebut benar-banar mampu memberikan informasi empirik sesuai dengan apa yang diukur. Validitas instrumen dapat ditinjau dari berbagai aspek antara lain:
a. Kesahihan isi
Validitas isi dilakukan dengan membandingkan isi instrumen penilaian yang disusun dengan rancangan yang telah ada sebelumnya.
b. Kesahihan dihubungkan dengan kriteria (criterion-related validity) Validitas dilakukan dengan membandingkan alat ukur/instrumen dengan alat ukur yang baku sebagai patokan/kriteria yaitu instrumen yang disusun oleh BSNP.
c. Kesahihan muka
Kesahihan muka ditinjau berdasarkan pandangan orang yang lebih ahli dalam bidang ilmunya. Dalam hal ini validasi muka dilakukan dengan mangkonsultasikan instrumen yang disusun kepada dosen pembimbing, ahli-ahli dan guru biologi yang bertindak sebagai ahli/ expert judgement sehingga meningkatkan kesahihan instrumen.
8. Teknik Pengumpulan Data
Data mengenai kualitas dan kelayakan modul diperoleh dari instrumen yang diberikan kepada subjek penelitian.
a. Data berupa penilaian kelayakan modul serta masukan dan saran dari ahli media, ahli materi dan guru biologi diperoleh dari instrumen yang diberikan kepada dosen ahli media, dosen ahli materi dan guru biologi.
b. Data untuk tanggapan kualitas modul dari siswa diperoleh dari instrumen yang diberikan kepada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Purworejo.
c. Data untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa diperoleh dari instrumen pretest dan pottest yang diberikan kepada siswa uji coba kelas XII SMA Negeri 1 Purworejo.
9. Teknik Analisis Data
Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Data penilaian Kelayakan Media
Data mengenai kualitas modul dianalisis dengan melakukan pengubahan hasil penilaian pada lembar angket dari bentuk kualitatif menjadi bentuk kuantitatif dengan menghitung frekuensi kemunculan setiap kriteria penilaian sesuai dengan alternatif jawaban yang disediakan, misalnya apabila alternatif jawaban menggunakan kriteria Benar (B) dan Salah (S) atau menggunakan alternatif jawaban Sangat Baik (SB), Baik (B), Kurang (K) dan Sangat Kurang (SK). Langkah langkahnya yaitu:
1) Menghitung persentase kemunculan masing-masing penilaian dengan rumus:
Persentase Kriteria = ( )
2) Dari penghitungan persentase melalui rumus di atas maka akan diperoleh persentase masing-masing kriteria penilaian sesuai dengan alternatif jawaban yang disediakan.
3) Karena data penilaian merupakan data ordinal, berdasarkan Sumintono (2014: 54) penghitungan dilakukan dengan menghitung median, modus, persentil, perjenjang dan korelasi Spearman. Dalam penelitian ini kriteria penilaian yang mempunyai frekuensi kemunculan paling banyak (menjadi modus) akan menjadi kesimpulan kualitas modul. Modul yang disusun dapat dikatakan layak apabila hasil kesimpulan penilaian minimal dikatakan Baik.
b. Data Tanggapan Siswa
Data berupa tanggapan siswa diolah sebagai berikut:
1) Pengubahan hasil penilaian tanggapan siswa dari data kualitatif ke data kuantitatif dengan skor tertentu, yaitu:
Hasil tangggapan Skor Sangat Setuju (SS) 4
Setuju (S) 3
Tidak Setuju (TS) 2 Sangat Tidak Setuju (STS) 1
2) Menghitung dan menjumlahkan skor setiap aspek dari data yang terkumpul sehingga diperoleh total skor masing-masing aspek.
3) Menghitung total skor rata-rata setiap aspek dari data tanggapan siswa yang terkumpul dengan rumus:
Persentase skor =
x 100%
4) Mengkonversikan hasil perhitungan data tanggapan siswa ke dalam data kualitatif berdasar pada tabel kriteria kategori penilaian. Berdasarkan Anas Sudjono dalam Pujawati (2013: 78) kriteria kategori penilaian ideal setiap aspek dijelaskan sebagai berikut:
Keterangan:
Mi (mean Ideal): x (skor tertinggi + skor terendah)
Sbi (Simpangan Baku Ideal): x x (skor tertinggi ideal – skor terendah ideal) Skor Tertinggi Ideal = jumlah butir kriteria x skor tertinggi
Skor Terendah Ideal = jumlah butir kriteria x skor terendah
c. Analisis Data Pretest dan Posttest
Analisis data pretest dan posttest dilakukan dengan menggunakan gain score untuk mengetahui besar peningkatan pemahaman konsep, yaitu dengan menggunakan rumus:
1) Menghitung gain ternormalisasi untuk menghitung seberapa besar pemahaman konsep siswa dengan menggunakan rumus:
<g> =
–
Persentase skor Keterangan
x > Mi + 1,5 Sbi Sangat Baik
Mi + 0,5 Sbi < x ≤ Mi + 1,5 Sbi Baik Mi + 1,5 Sbi < x ≤ Mi + 0,5 Sbi Kurang
2) Mengkategorikan skor gain berdasarkan kategori gain oleh Hake dalam A’in (2103 : 99) yaitu:
Skor gain Kategori
(<g>) < 0,3 Rendah 0,3 < (<g>) < 0,7 Sedang (<g>) >0,7 Tinggi